
Tanah yang Menelan Ayah
Aku lahir di sebuah perkampungan transmigrasi yang dibangun di tengah hamparan kebun sawit. Di sana, matahari terbit dari balik barisan pohon yang seragam, lalu tenggelam dalam warna merah tembaga di ujung jalan tanah.
Ayahku berasal dari Jawa. Ia datang ke Lampung ketika masih muda, membawa sebuah koper kayu, beberapa helai pakaian, dan keyakinan bahwa tanah baru akan memberinya kehidupan yang lebih baik. Ibuku perempuan Jawa Lampung. Kulitnya kuning kecokelatan, matanya teduh, tetapi pendiriannya keras seperti akar pohon yang mencengkeram tanah.
Mereka bertemu di pasar kecamatan. Ayah menjual pisang hasil kebun, sementara ibu membantu nenek menjajakan ikan asin dan sambal seruit. Dari pertemuan sederhana itulah aku lahir—seorang anak dari dua kebudayaan yang dipertemukan oleh kemiskinan, harapan, dan keberanian untuk memulai hidup dari awal.
Ayah mengelola kebun sawit seluas dua setengah hektare dalam lingkungan Perkebunan Inti Rakyat. Orang-orang menyebutnya PIR. Aku tidak memahami apa arti istilah itu ketika masih kecil. Bagiku, kebun itu hanyalah tempat ayah bekerja sejak matahari belum muncul hingga senja jatuh.
Setiap pagi, aku mendengar suara sepeda motor tua ayah di halaman. Di belakang motornya terikat egrek panjang, jeriken air, dan sebungkus nasi yang disiapkan ibu. Kadang-kadang aku terbangun dan berlari keluar hanya untuk melihatnya pergi. “Ayah pulang sore?” tanyaku.
Ayah selalu tersenyum. “Kalau hujan tidak turun.”
“Kalau hujan turun?”
“Ya, Ayah pulang membawa hujan.”
Aku tidak pernah mengerti maksudnya. Namun setiap kali ia pulang dengan pakaian basah dan lumpur menempel hingga lutut, ia akan mengangkatku tinggi-tinggi sambil tertawa. Bau keringat, tanah, dan buah sawit melekat pada tubuhnya. Bau itulah yang dahulu kusebut sebagai bau rumah.
Kebun kami tidak luas. Hanya dua setengah hektare. Namun bagi ayah, tanah itu lebih besar daripada angka yang tertera dalam surat. Di sanalah ia menanam masa depan kami. Dari hasil sawit, ia membayar cicilan, membeli beras, menyekolahkanku, dan sesekali membawa ibu ke pasar untuk membeli kain baru.
Ayah selalu berkata bahwa tanah tidak pernah mengkhianati manusia. “Tanah hanya meminta dirawat,” katanya. “Kalau manusia berlaku baik kepadanya, tanah akan memberi makan.” Tetapi ayah lupa bahwa tanah tidak pernah berdiri sendiri. Di atasnya selalu ada manusia lain yang merasa lebih berhak. Ada kekuasaan, surat-surat, tanda tangan, dan kepentingan yang tidak pernah kupahami.
Pada tahun 2005, ketika usiaku sepuluh tahun, orang-orang asing mulai datang ke kampung kami. Mereka membawa kendaraan berwarna hitam, mengenakan sepatu bersih, dan berbicara dengan para kepala kampung di rumah-rumah tertutup. Setelah itu, tersebar kabar bahwa perkebunan telah berganti pemilik. Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu siapa pemilik barunya. Namanya hanya disebut dengan suara lirih, seolah-olah ia bukan manusia, melainkan sesuatu yang dapat mendengar percakapan dari jarak jauh.
Petani diminta menunjukkan surat kepemilikan. Patok-patok baru dipasang. Beberapa jalan kebun ditutup. Para pekerja perusahaan datang bersama alat berat dan orang-orang bertubuh besar. Ayah mulai sering pulang malam. Wajahnya tampak lebih tua. Ia duduk di teras tanpa mengganti pakaian, memandang kegelapan kebun seakan-akan sedang menunggu sesuatu keluar dari sana. Ibu beberapa kali memintanya berhenti ikut rapat petani.
“Tanah bisa dicari lagi,” kata ibu.
Ayah menggeleng. “Tanah mungkin bisa dicari. Tetapi harga diri tidak.”
Aku mendengar percakapan itu dari balik pintu kamar. Saat itu aku belum mengerti mengapa dua setengah hektare tanah dapat membuat orang dewasa begitu ketakutan. Bagiku, tanah hanya tempat pohon tumbuh. Aku belum tahu bahwa bagi orang miskin, tanah adalah satu-satunya pagar antara kehidupan dan kehancuran.
Suatu pagi, ayah tidak berangkat sendirian. Beberapa lelaki kampung datang menjemputnya. Mereka membawa spanduk yang dilipat, botol air, dan beberapa lembar kertas. Ayah menghampiriku sebelum pergi. Ia mengusap kepalaku lama sekali.
“Belajar yang rajin.”
Aku tertawa.
“Ayah bicara begitu setiap hari.”
Kali itu ia tidak tertawa. Ia hanya menatapku, seakan-akan sedang berusaha menghafal wajahku. “Jangan mudah takut,” katanya. “Tetapi jangan juga membenci siapa pun.” Itulah kalimat terakhir yang kudengar langsung dari mulutnya.
Menjelang siang, suara gaduh terdengar dari arah jalan utama. Orang-orang berlari. Beberapa perempuan menangis sambil memanggil nama suami mereka. Ibu meninggalkan dapur dan berlari tanpa mengenakan sandal. Aku mengejarnya. Di ujung kampung, sebuah mobil bak terbuka berhenti. Tubuh ayah terbaring di atasnya, ditutupi kain lusuh. Darah telah mengering di sisi kepalanya.
Aku berdiri membeku. Ibu menjerit, lalu jatuh memeluk tubuh ayah. Orang-orang mencoba menariknya, tetapi ia bertahan sekuat tenaga. Tangannya mencengkeram kain penutup itu seperti seseorang yang sedang menahan dunia agar tidak runtuh. Tidak ada yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ada yang berkata para petani bentrok dengan petugas keamanan perusahaan. Ada yang mengatakan ayah terkena benda keras ketika mencoba mempertahankan patok kebunnya. Ada pula yang berbisik bahwa kematiannya bukan kecelakaan. Bertahun-tahun kemudian, aku tetap tidak mengetahui kebenarannya. Yang kutahu hanyalah ayah pergi untuk mempertahankan tanah, lalu pulang sebagai jenazah.
Setelah kematian ayah, kebun kami tidak lagi benar-benar menjadi milik kami. Papan larangan berdiri di jalan masuk. Surat-surat yang disimpan ayah dianggap tidak cukup kuat. Ibu beberapa kali mendatangi kantor kecamatan dan kantor perusahaan. Ia pulang dengan mata sembap dan map plastik yang semakin kusam. Tidak ada yang mendengarkannya. Pada akhirnya, barisan sawit itu tetap tumbuh dan menghasilkan buah. Truk-truk tetap keluar masuk membawa tandan segar. Pabrik tetap mengeluarkan asap. Hanya ayah yang tidak pernah kembali. Aku mulai memahami bahwa kematian seseorang tidak selalu menghentikan dunia. Kadang-kadang dunia bahkan tidak menoleh.
Setelah kehilangan tanah dan suami, tubuh ibu perlahan melemah. Batuknya semakin panjang. Pada malam hari, aku mendengar napasnya berbunyi berat dari kamar sebelah. Ia sering menutup mulut dengan kain. Ketika kain itu dibuka, terdapat bercak merah yang berusaha disembunyikannya dariku. Ibu berkata ia hanya kelelahan.
Namun aku tahu kelelahan tidak membuat seseorang batuk darah. Kami tidak memiliki cukup uang untuk berobat secara teratur. Ibu menjual perhiasan pernikahannya, lalu menjual lemari, sepeda motor ayah, dan beberapa perabot rumah. Satu demi satu benda di rumah menghilang, seolah kehidupan sedang menghapus jejak keluarga kami secara perlahan.
Ketika usiaku dua belas tahun, ibu meninggal karena penyakit paru-paru. Malam sebelum kepergiannya, ia memintaku duduk di samping ranjang. Tubuhnya sangat kurus. Tangannya dingin, tetapi genggamannya masih kuat. “Kamu jangan berhenti sekolah,” katanya.
Aku menangis dan memeluk lengannya. “Aku mau ikut bunda.”
Ibu menggeleng. Air matanya mengalir ke pelipis. “Tidak. Kamu harus hidup lebih panjang daripada kesedihan ini.”
Pagi harinya, napas ibu berhenti. Dalam usia dua belas tahun, aku telah kehilangan dua orang yang paling kucintai. Ayah direnggut oleh tanah yang ia pertahankan. Ibu direnggut oleh penyakit yang tumbuh di dalam tubuhnya bersama kesedihan.
Setelah pemakaman, nenek dari pihak ibu datang menjemputku. Ia tinggal di Jambi bersama kakek. Mereka juga keluarga transmigran. Seperti ayah, kakek mengelola kebun sawit seluas dua setengah hektare. Aku meninggalkan Lampung dengan sebuah tas berisi pakaian, foto orang tuaku, dan buku pelajaran yang ujungnya telah terlipat. Dari dalam bus, aku melihat kampungku menjauh. Pohon-pohon sawit berdiri seperti pasukan yang diam. Tidak satu pun dari mereka melambaikan tangan.
Di Jambi, kakek dan nenek merawatku seperti anak mereka sendiri. Rumah mereka sederhana, berdinding papan dan beratap seng. Jika hujan turun, kami harus berbicara lebih keras karena suara air memukul atap seperti ribuan batu kecil. Nenek menjual kue dan sayur dari kebun belakang. Kakek bekerja di kebun sawit sejak pagi. Tubuhnya semakin bungkuk, tetapi ia tidak pernah mengeluh.
Setiap kali hasil panen turun atau harga sawit merosot, kakek hanya tersenyum. “Selama masih punya tangan, kita belum miskin sepenuhnya.”
Aku belajar dengan cahaya lampu kecil. Buku-buku kudapat dari sekolah atau bekas milik kakak kelas. Tidak ada meja belajar di kamarku. Aku belajar di lantai, menggunakan peti kayu sebagai alas menulis.
Aku tidak pernah menganggap diriku pintar. Aku hanya takut hidupku berakhir seperti orang tuaku—dikalahkan oleh sesuatu yang tidak mereka mengerti dan tidak mampu mereka lawan. Bagiku, sekolah adalah satu-satunya jalan keluar dari kebun yang terus menyimpan bayang-bayang kematian ayah.
Tahun 2012, aku lulus SMA dengan nilai terbaik. Kepala sekolah memanggil namaku di hadapan murid dan para orang tua. Tepuk tangan memenuhi halaman sekolah. Namun dari atas panggung, aku hanya melihat dua wajah tua di barisan belakang. Kakek mengenakan kemeja putih yang kebesaran. Nenek memakai kebaya lama yang biasanya hanya dikenakan saat menghadiri pernikahan. Mereka bertepuk tangan dengan mata basah.
Di sekolahku, hanya aku yang berhasil diterima di perguruan tinggi negeri di Jawa. Kabar itu seharusnya membawa kebahagiaan. Namun malam setelah pengumuman, aku justru menangis. Biaya perjalanan, uang kuliah, tempat tinggal, buku, dan kebutuhan sehari-hari terasa seperti gunung yang tidak mungkin kami daki.
“Aku tidak jadi pergi,” kataku kepada kakek.
Ia sedang duduk di teras, mengasah parang yang akan dibawanya ke kebun esok pagi. “Kenapa?”
“Kita tidak punya uang.”
Kakek menghentikan tangannya. Ia menatapku lama. “Kamu diterima karena kamu mampu.”
“Tetapi kemampuan tidak cukup untuk membayar kuliah.”
Kakek meletakkan parangnya. Ia berdiri perlahan, lalu masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian ia kembali membawa sebuah kotak kaleng tua. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sertifikat kebun, buku tabungan, dan beberapa lembar uang yang telah menguning.
“Ini tidak banyak,” katanya. “Tetapi cukup untuk membuatmu berangkat.”
Aku menggeleng keras. “Itu kebun satu-satunya milik Kakek.”
“Tanah bisa ditanami lagi. Kesempatan tidak selalu datang dua kali.”
Kalimat itu mengingatkanku kepada ayah. Namun ada perbedaan di antara mereka. Ayah mempertahankan tanah karena di sanalah masa depan keluarganya ditanam. Kakek bersedia mempertaruhkan tanah agar masa depanku tidak terkubur di tempat yang sama.
“Aku takut gagal,” kataku.
Kakek tersenyum. Kerutan di wajahnya menjadi semakin dalam. “Tidak apa-apa takut. Pergilah dengan rasa takutmu. Jangan menunggu berani untuk melangkah, karena kadang-kadang keberanian baru lahir setelah kita meninggalkan rumah.”
Malam itu aku membuka jendela kamar. Di kejauhan, kebun sawit membentang dalam gelap. Angin membawa suara serangga dan aroma tanah basah. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa hidup mungkin sedang membukakan sebuah pintu. Aku belum tahu bahwa di balik pintu itu, aku akan menemukan cinta. Dan aku juga belum tahu bahwa cinta itu kelak akan hilang—seperti ayah, seperti ibu, dan seperti tanah yang pernah kami sebut milik sendiri.
Tubuh Tua di Balik Jeruji
Tahun 2013, aku memasuki tahun kedua di universitas. Kehidupan di Jawa tidak pernah benar-benar mudah. Aku tinggal di sebuah kamar indekos sempit di belakang pasar, berbagi kamar mandi dengan delapan penghuni lain. Dindingnya lembap dan atapnya sering bocor ketika hujan turun. Namun tempat itu cukup untuk menyimpan beberapa helai pakaian, setumpuk buku, dan sebuah foto lama kakek serta nenek yang kutempelkan di dekat meja belajar.
Setiap awal bulan, kakek mengirimkan uang dari hasil kebun sawitnya. Jumlahnya tidak pernah banyak. Kadang datang terlambat karena harga buah turun atau panen sedang buruk. Namun di dalam setiap kiriman itu, aku tahu ada tubuh tua yang dipaksa bekerja lebih keras daripada kemampuannya.
Aku berhemat sebisanya. Aku berjalan kaki ke kampus, mengurangi makan, dan menyalin buku dari perpustakaan daripada membelinya. Sesekali aku membantu teman mengetik tugas untuk mendapatkan sedikit uang. Aku tidak ingin setiap kebutuhanku berubah menjadi beban yang harus dipikul kakek di bawah matahari.
Suatu sore, ketika aku sedang duduk di perpustakaan, telepon genggamku bergetar. Nomor yang muncul tidak kukenal. “Apakah ini cucunya Pak Sastro?”
“Iya. Saya cucunya.”
Suara di seberang terdengar ragu. Seperti seseorang yang sedang memilih kata agar kabar buruk tidak jatuh terlalu keras.
“Kakekmu ditahan.”
Dunia seakan berhenti di antara rak-rak buku. Aku tidak langsung memahami kalimat itu. Tanganku dingin. Suara mahasiswa yang berbicara pelan, bunyi lembaran buku yang dibalik, dan derit kursi di lantai tiba-tiba terdengar sangat jauh.
“Ditahan karena apa?”
“Masalah kebun.”
Dua kata itu menghantam bagian paling gelap dalam ingatanku.
Masalah kebun. Dahulu, orang-orang juga menggunakan kata-kata sederhana itu ketika menjelaskan kematian ayah. Mereka menyebutnya sengketa lahan, bentrokan, atau kesalahpahaman. Seolah darah yang tumpah hanyalah akibat dari persoalan administratif yang bisa ditutup dengan selembar berita acara.
Aku segera pulang ke indekos. Uang di dompetku tidak cukup untuk membeli tiket ke Jambi. Aku menelepon beberapa teman, tetapi tidak tahu bagaimana memulai kalimat untuk meminjam uang. Pada akhirnya, aku menjual telepon genggam dan jam tangan peninggalan ibu yang selama ini kusimpan di dalam kotak kecil. Benda itu bukan barang mahal. Harganya bahkan tidak cukup untuk membeli tiket pesawat. Namun setidaknya aku dapat membeli tiket bus dan sedikit bekal selama perjalanan.
Bus berangkat menjelang malam. Aku duduk di dekat jendela, memandang lampu-lampu kota menjauh. Sepanjang perjalanan, aku tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah ayah muncul. Tubuhnya terbaring di atas mobil bak terbuka, ditutupi kain kusam dengan darah yang telah mengering di sisi kepala. Kini sejarah datang lagi dalam bentuk yang berbeda. Ayah pulang sebagai jenazah. Kakek dikurung sebagai penjahat. Sedangkan tanah yang mereka pertahankan tetap diam, seakan tidak mengenal siapa yang telah menanam, merawat, dan menyerahkan hidup kepadanya.
Setelah perjalanan panjang, aku tiba di Jambi dengan tubuh lelah dan kepala berat. Nenek menungguku di rumah. Wajahnya tampak jauh lebih tua daripada ketika terakhir kali aku meninggalkannya. Ia memelukku tanpa berkata-kata. Di meja, tergeletak beberapa lembar surat, fotokopi sertifikat, dan panggilan pemeriksaan. Dari penjelasan nenek dan para tetangga, aku mulai memahami apa yang terjadi.
Sebuah perusahaan mengklaim bahwa sebagian lahan petani berada di dalam wilayah konsesinya. Patok-patok baru dipasang tanpa persetujuan warga. Jalan menuju kebun ditutup. Beberapa petani, termasuk kakek, mencoba mempertahankan lahan yang telah mereka kelola selama puluhan tahun. Terjadi keributan. Pagar perusahaan dirusak. Seorang petugas mengaku terluka. Beberapa petani ditangkap dengan tuduhan melakukan perusakan, penghasutan, dan penyerobotan lahan. Aku hampir tertawa mendengar tuduhan terakhir itu. Kakek dituduh menyerobot tanah yang selama ini memberinya makan. Orang tua yang seluruh hidupnya digunakan untuk menanam pohon kini dianggap sebagai pencuri tanah.
Dua hari kemudian, aku mendapat izin menjenguknya. Penjara itu berdiri di balik tembok tinggi yang warnanya telah kusam. Di ruang tunggu, aku duduk bersama para perempuan yang membawa makanan dalam kantong plastik. Sebagian menggendong anak kecil. Wajah mereka memperlihatkan kesedihan yang serupa: kesedihan orang-orang yang tidak memiliki cukup kuasa untuk melawan keputusan yang dibuat atas hidup mereka.
Ketika namaku dipanggil, kakiku terasa lemas. Kakek datang dengan langkah pelan. Ia mengenakan pakaian tahanan yang terlalu besar untuk tubuhnya. Rambutnya semakin putih. Punggung yang dahulu tegap kini membungkuk lebih dalam. Ada lebam tipis di dekat pelipisnya.
Aku berdiri, tetapi tidak mampu berkata-kata. “Kakek.”
Hanya itu yang keluar dari mulutku. Kakek mencoba tersenyum.
“Kamu pulang?”
Aku mengangguk. Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan. “Kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Supaya kamu tidak mengganggu kuliahmu.”
“Bagaimana aku bisa kuliah kalau Kakek ada di sini?”
Ia menunduk. Tangannya yang kasar terletak di atas meja pembatas. Tangan itulah yang selama bertahun-tahun memegang parang, mengangkat buah sawit, dan menghitung lembar demi lembar uang untuk membiayai pendidikanku.
Kini kedua tangannya gemetar. Aku menyentuhnya. Dingin. Untuk sesaat, aku kembali menjadi anak berusia dua belas tahun yang baru kehilangan ibu. Aku ingin bersembunyi dalam pelukan kakek. Aku ingin percaya bahwa masih ada seseorang yang mampu melindungiku dari dunia. Namun di hadapanku, tubuh tua itu sendiri sedang membutuhkan perlindungan. Siapa lagi tempatku berlindung?
Pertanyaan itu tumbuh di dalam dada, tetapi tidak sanggup kuucapkan. Aku tahu kakek sangat menyayangiku. Karena itulah aku tidak ingin menambah penderitaannya dengan ketakutanku. Aku mengusap air mata.
“Kek, aku akan tetap kuliah.”
Kakek menatapku.
“Aku akan meminta cuti dari kampus. Aku cari kerja dulu. Setelah punya uang, aku lanjut kuliah lagi.”
“Jangan,” katanya pelan.
“Aku tidak akan berhenti. Hanya cuti.”
“Kakek masih bisa mencari jalan.”
Aku memandang tubuhnya yang kurus, pakaian tahanan yang menggantung longgar di bahunya, dan lebam yang berusaha ia sembunyikan dengan senyum.
“Tidak, Kek. Sekarang giliranku mencari jalan.”
Wajah kakek bergetar. Ia bangkit, lalu memelukku melewati batas meja. Tidak ada nasihat. Tidak ada kata-kata penghiburan. Hanya napasnya yang berat dan kedua lengannya yang lemah melingkari tubuhku. Aku menangis di dadanya. Dahulu, ketika aku meninggalkan Jambi untuk kuliah, pelukannya memberiku keberanian untuk pergi. Kini, di balik jeruji, pelukan itu memberiku keberanian untuk bertahan. Kami adalah orang miskin yang terlalu kecil di hadapan kekuasaan.
Ayah meninggal tanpa pernah mendapatkan keadilan. Kebunnya berpindah tangan, sedangkan darahnya hilang bersama waktu. Kakek dipenjarakan karena mempertahankan lahan yang telah puluhan tahun dirawatnya. Surat yang kami simpan dianggap tidak cukup kuat. Kesaksian kami dianggap tidak penting. Kemiskinan membuat suara kami terdengar seperti bisikan di tengah ruangan tempat orang-orang berkuasa berbicara dengan pengeras suara.
Kami tidak memiliki pengacara terkenal. Kami tidak mengenal pejabat. Kami tidak memiliki uang untuk membeli keadilan. Kemiskinan kami tidak berdaya melawan kezaliman negeri ini. Yang kami miliki hanyalah doa—tempat terakhir bagi manusia ketika semua pintu dunia telah ditutup.
Sebelum waktu kunjungan berakhir, kakek menggenggam tanganku. “Jangan membenci negeri ini,” katanya.
Aku menahan napas. “Bagaimana mungkin aku tidak membencinya, Kek?”
“Negeri ini bukan hanya mereka yang mengambil tanah kita. Negeri ini juga kamu. Kalau kamu menyerah, tanah ini benar-benar menjadi milik mereka.”
Aku menatapnya lama. Kakek mungkin tidak pernah membaca buku tentang hukum, keadilan, atau kekuasaan. Ia hanya seorang petani tua yang mengenal musim, harga buah, dan arah angin. Namun dari balik jeruji, ia memberiku pelajaran yang tidak pernah kutemukan di ruang kuliah. Kezaliman tidak selalu menang karena ia lebih kuat. Kadang-kadang ia menang karena orang-orang yang terluka memilih berhenti melawan.
Petugas memberi tanda bahwa waktu kunjungan telah habis. Kakek melepaskan tanganku. Ia berjalan kembali menuju pintu besi. Beberapa kali ia menoleh. Aku berdiri hingga tubuhnya menghilang di balik lorong. Di halaman penjara, matahari Jambi terasa sangat terik. Aku berdiri sendirian sambil memeluk tas. Tidak ada ayah. Tidak ada ibu. Nenek semakin tua. Kakek berada di balik tembok tinggi.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami arti kehilangan tempat berlindung. Namun pada hari itu pula, sesuatu tumbuh dalam diriku. Bukan kemarahan semata. Bukan pula dendam. Melainkan tekad yang dingin dan keras seperti batu di dasar sungai.Aku boleh miskin. Aku boleh sendirian. Aku boleh dipaksa menunda cita-cita. Tetapi aku tidak boleh kalah. Sebab jika aku kalah, pengorbanan ayah akan menjadi sia-sia, air mata ibu akan hilang tanpa makna, dan tubuh tua kakek akan membusuk di dalam penjara hanya karena kami dilahirkan tanpa kuasa.
Aku berjalan meninggalkan halaman penjara dengan kepala tegak. Di dalam hati, aku berjanji akan kembali ke kampus. Aku akan belajar memahami bahasa yang digunakan orang-orang berkuasa, bahasa hukum, uang, dan kekuasaan. Suatu hari nanti, aku tidak ingin lagi berdiri di hadapan ketidakadilan hanya dengan air mata dan doa. Namun untuk sampai ke hari itu, aku harus lebih dahulu bertahan hidup.
Lelaki di Ujung Kelaparan
Tahun 2014 menjadi tahun ketika hidupku kehilangan arah. Aku datang ke Jakarta dengan membawa sebuah tas kecil, beberapa helai pakaian, dan tekad untuk mencari uang. Aku telah mengajukan cuti kuliah. Kepada pihak kampus, aku mengatakan ada persoalan keluarga. Aku tidak menjelaskan bahwa kakekku dipenjara, nenekku tidak memiliki penghasilan tetap, dan kebun yang selama ini membiayai kuliahku telah berubah menjadi sumber malapetaka.
Pada mulanya, aku mencari pekerjaan dengan cara yang wajar. Aku mendatangi toko pakaian, warung makan, rumah makan Padang, salon, minimarket, dan kantor-kantor kecil yang menempelkan pengumuman lowongan di pintu. Aku membawa salinan ijazah dan selembar daftar riwayat hidup yang diketik di tempat penyewaan komputer.
Aku terlalu percaya bahwa nilai terbaik di sekolah dan status sebagai mahasiswa perguruan tinggi negeri akan cukup untuk membuka pintu. Ternyata dunia tidak bekerja sesederhana itu. “Harus punya pengalaman.” “Kami hanya menerima yang belum menikah dan berpenampilan menarik.” “Alamat kamu terlalu jauh.” “Tidak ada tempat tinggal?” “Kalau ada orang dalam, mungkin bisa dibantu.” Kalimat-kalimat itu berulang di setiap tempat.
Uangku semakin menipis. Aku menunggak sewa kamar. Pemilik indekos mulai mengetuk pintu hampir setiap malam. Makanan yang semula tiga kali sehari berkurang menjadi sekali sehari. Kadang-kadang aku hanya minum air putih dan tidur lebih awal agar tidak merasakan lapar. Dalam keadaan seperti itulah aku bertemu seorang perempuan bernama Rina.
Kami berkenalan di sebuah halte. Ia berpakaian rapi, membawa tas bermerek, dan berbicara dengan lembut. Ketika mengetahui aku sedang mencari pekerjaan, ia menawarkanku menjadi pelayan di sebuah tempat hiburan. “Tidak ada yang sulit,” katanya. “Hanya menemani tamu minum dan berbicara. Kamu cantik. Sayang kalau hidup susah begini.”
Aku menolak. Namun malam itu, ketika pemilik indekos mengancam mengeluarkan barang-barangku, kata-kata Rina kembali terngiang. Hanya menemani tamu. Hanya berbicara. Hanya untuk sementara. Manusia sering memasuki jurang bukan karena ingin jatuh, melainkan karena di belakangnya tidak lagi tersedia tempat untuk berdiri.
Aku menghubungi Rina. Dia memberiku uang cukup banyak. “ Itu harga keperawanan kamu. Terimalah..” katanya. Kemudian membawaku ke hotel bertemu dengan pria asing yang tak pernah kukenal. Namun aku serahkan tubuhku untuk uang.”
Seminggu kemudian, Rina ajak aku ke tempat sebuah gedung tanpa jendela. Lampunya berwarna merah kebiruan. Musik berdentum keras, menenggelamkan percakapan dan suara hati. Di lorong belakang terdapat sebuah ruangan tempat kami menunggu. Kami duduk berjajar. Wajah dirias. Rambut ditata. Pakaian dipilihkan. Lalu kami dipanggil satu per satu untuk berdiri di balik kaca. Di situlah untuk pertama kalinya aku memahami arti menjadi barang.
Para pria duduk di seberang, memandang kami tanpa rasa malu. Telunjuk mereka bergerak dari satu tubuh ke tubuh lain. Kadang berhenti padaku, kadang melewatiku. Mereka tidak menanyakan namaku, asal-usulku, atau apakah aku memiliki keluarga. Mereka hanya melihat wajah, tubuh, dan nomor yang disematkan pada pakaianku. Aku diperjualbelikan melalui etalase. Malam demi malam, aku hidup dalam dunia remang-remang. Dunia yang tidak mengenal matahari, karena penghuninya tidur ketika orang lain bekerja dan bangun ketika kota mulai menyembunyikan wajahnya.
Dari satu pria ke pria lain. Ada yang berbicara kasar. Ada yang berpura-pura lembut. Ada yang datang untuk melupakan istrinya. Ada yang datang karena ingin merasa berkuasa. Ada pula yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan kesepiannya. Aku belajar tersenyum ketika ingin menangis. Belajar tertawa ketika tubuhku gemetar. Belajar memisahkan tubuh dari jiwaku sendiri. Setiap malam aku berkata dalam hati bahwa ini hanya sementara. Aku sedang mengumpulkan uang untuk membantu nenek, membayar pengacara kakek, dan kembali kuliah. Aku menjadikan tujuan mulia sebagai pembenaran atas jalan yang perlahan menghancurkanku.
Namun semakin lama aku berada di sana, semakin sulit mengenali diriku sendiri. Aku mulai takut melihat cermin. Wajah perempuan yang muncul di dalamnya bukan lagi anak yang pernah berdiri di panggung sekolah sebagai lulusan terbaik. Bukan pula cucu yang berjanji kepada kakeknya untuk tidak menyerah. Wajah itu adalah wajah seseorang yang hidup, tetapi tidak benar-benar merasa memiliki kehidupan.
Aku jarang menghubungi nenek. Setiap ditempat kerja ada telepon berdering dari Jambi, aku membiarkannya sampai berhenti. Aku takut nenek mendengar musik di belakangku. Aku takut ia bertanya di mana aku bekerja. Lebih dari itu, aku takut nenek mengetahui dari mana uang yang kukirim berasal. Aku hanya telp nenek saat sampai di tempat kos
Setelah itu, kebohongan berikutnya menjadi lebih mudah. Hingga pada suatu pagi di tahun 2015, sebuah nomor dari Jambi meneleponku berkali-kali. Aku baru pulang. Riasan masih menempel di wajah. Bau rokok dan minuman keras melekat pada rambutku. Aku hampir mematikan telepon, tetapi entah mengapa tanganku memilih menjawab.
Suara nenek terdengar pecah. “Kakekmu meninggal.”
Aku tidak langsung menangis. Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai kamar yang kotor. Kata-kata itu masuk ke telingaku, tetapi seperti kehilangan jalan menuju hati.
“Meninggal di mana, Nek?”
“Di dalam.”
Di dalam. Nenek tidak sanggup menyebut kata penjara. Kakek meninggal di balik jeruji, jauh dari kebunnya, jauh dari rumahnya, jauh dari orang-orang yang dicintainya. Tubuh tua yang selama ini bekerja agar aku dapat bersekolah akhirnya berhenti di tempat yang dingin dan asing.
Aku mematikan telepon. Lalu berjalan ke kamar mandi. Di depan cermin, aku melihat wajahku sendiri. Lipstik merah masih menempel. Bulu mata palsu mulai terlepas di salah satu sisi. Gaun pendek yang kukenakan terasa seperti kulit orang lain yang dipaksakan membungkus tubuhku. Aku mencuci wajah dengan kasar. Air mengalir bersama warna hitam dan merah. Namun sekeras apa pun aku menggosok kulitku, aku tidak merasa lebih bersih. Aku teringat pelukan terakhir kakek di ruang kunjungan. Aku teringat suaranya. Jangan menyerah. Aku telah berjanji akan kembali kuliah. Berjanji akan memahami hukum, uang, dan kekuasaan. Berjanji tidak akan membiarkan pengorbanannya sia-sia.
Namun ketika ia meninggal, aku sedang berada dalam pelukan seorang lelaki yang bahkan tidak kuingat namanya. Aku mengutuk diriku sendiri. Mungkin kematian kakek adalah hukuman atas dosa-dosaku. Mungkin ambisiku untuk bertahan hidup telah berubah menjadi keserakahan. Mungkin Tuhan mengambilnya karena aku telah mengkhianati semua yang ia perjuangkan. Aku tahu pikiran itu tidak masuk akal. Namun rasa bersalah tidak membutuhkan logika. Ia hanya membutuhkan luka untuk menetap.
Hari itu aku tidak datang bekerja. Rina menelepon berkali-kali. Pengelola tempat itu mengirim pesan bahwa aku masih memiliki utang pakaian, kamar, dan biaya lain yang tidak pernah kupahami asalnya. Mereka mengatakan aku tidak boleh pergi begitu saja. Namun aku telah memutuskan. Aku tidak ingin kembali.
Malam itu aku memasukkan semua pakaian ke dalam tas. Gaun-gaun yang diberikan tempat kerja kutinggalkan. Sepatu hak tinggi kulepas. Aku mengenakan kemeja longgar, celana hitam, dan sepasang sandal. Sebelum keluar, aku berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya.
“Aku belum mati,” bisikku kepada bayangan sendiri.
Kalimat itu terdengar lemah. Namun cukup untuk membuatku melangkah. Aku meninggalkan dunia remang-remang tanpa mengetahui ke mana harus pergi. Uang yang tersisa hanya cukup untuk makan beberapa hari. Aku berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tidur di musala, terminal, dan kadang di kamar teman lama yang tidak banyak bertanya.
Aku kembali berkeliling Jakarta mencari pekerjaan. Apa saja. Mencuci piring. Membersihkan lantai. Menjaga toko. Mengangkat barang. Apa pun asalkan halal. Aku tidak lagi membawa daftar nilai atau membanggakan kampus tempatku pernah belajar. Aku hanya mengatakan bahwa aku sehat, rajin, dan bersedia bekerja keras.
Namun masa lalu seperti bau yang tidak mudah hilang. Ada beberapa orang yang memandang wajahku terlalu lama, seakan dapat menebak dari mana aku berasal. Ada pula yang menawarkan pekerjaan, tetapi dengan syarat yang membuatku ingin muntah. Hari demi hari berlalu. Aku semakin kurus.
Pada suatu siang, setelah berjalan berjam-jam di bawah matahari, aku berhenti di depan sebuah restoran. Dari dalam, tercium aroma nasi, kuah kaldu, dan daging panggang. Aku berdiri di dekat pintu kaca, memandang orang-orang makan. Seorang anak kecil meninggalkan setengah piring nasi. Pelayan mengangkatnya dan membawanya ke belakang. Untuk sesaat, aku ingin mengejar pelayan itu dan meminta sisa makanan tersebut. Namun rasa malu masih tersisa dalam diriku.
Aku memilih duduk di pinggir trotoar. Tanganku gemetar. Pandanganku mulai kabur. Keringat dingin mengalir dari pelipis meskipun angin terasa panas. Perutku seperti ditusuk dari dalam. Aku mencoba berdiri, tetapi kakiku kehilangan tenaga. Lampu kendaraan berubah menjadi garis-garis panjang. Suara orang-orang menjauh. Lalu semuanya gelap.
Ketika membuka mata, aku melihat langit-langit putih. Bau obat menusuk hidung. Sebuah selang terpasang di tanganku. Aku mendengar suara langkah, bunyi roda troli, dan percakapan pelan dari balik tirai. Aku tidak tahu berada di mana. Aku mencoba mengangkat kepala, tetapi tubuhku terasa sangat lemah. Di samping ranjang duduk seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun. Ia mengenakan kemeja berwarna gelap dan celana panjang sederhana. Rambutnya mulai beruban di bagian pelipis. Wajahnya tenang, tanpa senyum berlebihan atau tatapan yang membuatku ingin menjauh.
Ketika menyadari aku telah sadar, ia berdiri. “Kamu sudah bangun.”
Aku menatapnya dengan waspada. “Ini di mana?”
“Rumah sakit.”
Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Restoran. Trotoar. Rasa sakit di perut. Setelah itu, gelap.
Pria itu menarik kursi lebih dekat, tetapi tetap menjaga jarak.
“Saya menemukan kamu terjatuh di depan restoran tempat saya biasa makan,” katanya. “Saya bawa kamu ke rumah sakit.”
Aku memandang selang infus di tanganku, lalu kembali menatapnya.
“Siapa Bapak?”
Ia tersenyum tipis. “Nama saya B.”
Aku mencoba bangun. “Aku tidak punya uang untuk membayar rumah sakit.”
“Tenang saja.”
“Aku harus pergi.”
“Kamu belum boleh pergi.”
Aku menatapnya dengan curiga. Setelah hidup di dunia yang memperjualbelikan kebaikan, aku tidak lagi percaya bahwa pertolongan datang tanpa harga.
“Apa yang Bapak inginkan?”
Senyumnya menghilang. Wajahnya menjadi lebih serius. “Saya tidak menginginkan apa-apa.”
“Tidak mungkin.”
Ia diam sesaat. Mungkin ia memahami bahwa kecurigaanku tidak lahir tanpa alasan. “Kata dokter, kamu hanya sakit maag, kelelahan, dan kekurangan makan,” ujarnya pelan. “Kamu akan baik-baik saja. Sekarang istirahat dulu.”
Aku memalingkan wajah. Entah mengapa, kalimat sederhana itu justru membuat air mataku jatuh. Kamu akan baik-baik saja. Sudah lama tidak ada seorang pun yang mengucapkan kalimat itu kepadaku. Aku menutup wajah dengan tangan dan menangis. Bukan hanya karena lapar, sakit, atau kematian kakek. Aku menangisi ayah, ibu, kebun yang hilang, kampus yang kutinggalkan, dan tubuhku sendiri yang selama ini kuperlakukan seperti benda asing.
Pria bernama B itu tidak menyentuhku.Ia tidak bertanya tentang masa laluku.
Ia hanya duduk di samping ranjang, membiarkanku menangis sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa.
“ Aku temukan buku notes kamu di dalam nya ada kartu mahasiswa. Kamu mahasiwa PTN ya. Pandai buat puisi, bagus” katanya dengan tersenyum. Saat itu aku belum tahu siapa dirinya. Aku belum tahu mengapa seorang pria asing bersedia membawa perempuan yang jatuh di trotoar ke rumah sakit. Namun entah mengapa meluncur saja cerita sedihku kepada pria itu. Aku yatim piatu. Miskin dan terjerumus di lembah nista.
Aku juga belum tahu bahwa pertemuan itu akan mengubah seluruh perjalanan hidupku. Di tengah Jakarta yang kejam, ketika aku telah kehilangan rumah, keluarga, harga diri, dan harapan, seorang lelaki asing datang bukan dengan janji cinta. Ia hanya memberiku sepiring makanan, biaya rumah sakit, dan keyakinan sederhana bahwa hidupku belum selesai. Namun sering kali cinta memang datang seperti itu. Bukan sebagai api yang langsung membakar hati. Melainkan sebagai tangan yang menolong kita berdiri ketika dunia membiarkan kita jatuh.
Pendidikan untuk Menjadi Bayangan.
Aku keluar dari rumah sakit tiga hari kemudian. Tubuhku masih lemah. Dokter memintaku makan teratur dan tidak terlalu banyak berpikir. Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan, tempat tinggal tetap, dan uang untuk membeli makanan, hidup teratur adalah kemewahan. B datang pada pagi terakhirku di rumah sakit. Bersamanya wanita etnis China. Namanya bu Yuni.
B membawa sebuah kantong berisi pakaian, sepasang sepatu. Tidak ada barang mahal di dalamnya. Semuanya sederhana, tetapi dipilih dengan ukuran yang tepat, seolah ia telah meminta seseorang memperkirakan kebutuhanku.
“Ada tempat untuk pulang?” tanyanya.
Aku menunduk dan menggelengkan kepala.
B menyerahkan sebuah amplop. “Di dalamnya ada alamat tempat tinggal sementara.”
Aku tidak segera menerimanya. “Aku tidak bisa membayar.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa Bapak menolongku?”
Ia memandangku beberapa saat. Tatapannya tenang, tetapi sulit dibaca. “Karena kamu masih ingin hidup.”
“Apa Bapak yakin?”
“Orang yang benar-benar menyerah tidak akan berkeliling kota mencari pekerjaan sampai jatuh kelaparan.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
“Kuliah lah lagi.” Kata B kemudian dengan tetap tersenyum.
Sebelum pergi, ia berkata akan menghubungiku lagi. Aku mengira itu hanya kalimat sopan. Namun seminggu kemudian, Bu Yuni datang ke tempat tinggal sementara yang diberikan kepadaku. Ia berusia sekitar tiga puluh tahun, berpakaian mewah, dan berbicara dengan nada tegas. “Bapak meminta saya mengurus kuliahmu.”
Aku menatapnya curiga. “Kenapa dia melakukan semua ini?”
Bu Yuni tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan beberapa formulir, surat pernyataan, dan dokumen dari dalam map. “Biaya kuliah, tempat tinggal, buku, dan kebutuhan pokokmu akan ditanggung. Kamu harus kembali ke kampus.”
Aku membaca dokumen itu berulang-ulang. Tidak ada perjanjian utang. Tidak ada permintaan bekerja untuk seseorang. Tidak ada syarat yang mencurigakan. Hanya satu ketentuan. Aku harus belajar dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
“Ini beasiswa?”
“Anggap saja begitu.”
“Dari yayasan mana?”
Bu Yuni menatapku datar. “Jangan terlalu banyak bertanya sebelum kamu cukup kuat menerima jawabannya.”
Aku tidak menyukai jawaban itu. Namun pada saat itu, hidup memberiku dua pilihan, menolak karena curiga atau menerima karena ingin kembali menjadi diriku sendiri. Aku memilih menerima. Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke kampus.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana aku melewati masa cuti. Kepada teman-teman, aku mengatakan bekerja di restoran. Kebohongan itu lebih mudah diterima daripada kebenaran. Aku belajar seperti seseorang yang sedang dikejar waktu. Pagi hingga sore, aku mengikuti kuliah. Malam hari, aku membaca hingga tertidur di atas meja. Aku mempelajari ekonomi mikro, makro, statistika, ekonometrika, pasar modal, dan teori pembangunan.
Namun yang paling menarik bagiku bukan sekadar rumus. Aku ingin memahami hubungan antara kekuasaan dan kemiskinan. Mengapa tanah dapat berpindah tangan dengan mudah, sementara orang yang menanamnya justru dituduh menyerobot?
Mengapa perusahaan dapat memiliki pengacara, petugas keamanan, dan akses kepada pejabat, sedangkan petani hanya memiliki sertifikat lusuh dan doa? Mengapa hukum seolah netral di dalam buku, tetapi menjadi sangat berat ketika jatuh di atas kepala orang miskin?
Aku mulai menyadari bahwa ekonomi bukan hanya ilmu tentang uang. Ia adalah ilmu tentang siapa yang boleh memiliki, siapa yang harus menyerahkan, dan siapa yang dipaksa menerima kehilangan sebagai nasib.
Selama kuliah, biaya hidupku selalu tersedia tepat waktu. Tidak pernah berlebihan, tetapi cukup. Jika aku membutuhkan buku, seseorang akan mengirimkannya. Jika ada biaya akademik mendadak, semuanya telah dibayarkan sebelum aku sempat meminta.
Aku tidak pernah bertemu kembali dengan B. Sesekali aku bertanya kepada Bu Yuni via SMS.
“Di mana Bapak?”
“Ada apa kamu tanya?
“Kenapa dia tidak pernah menemuiku?”
“Kamu focus aja selesaikan kuliah dengan cepat.” Jawab tegas yang akhirnya membuat aku tidak mau lagi bertanya.
Aku menyelesaikan kuliah dengan hasil terbaik. Pada hari wisuda, aku berdiri mengenakan toga sambil memegang ijazah. Ketika nama para lulusan terbaik dipanggil, tepuk tangan memenuhi aula.
Namun di antara wajah-wajah orang tua yang bangga, tidak ada ayah, ibu, kakek, atau nenek. Nenek telah meninggal beberapa bulan sebelum aku wisuda. Ia pergi dalam tidur, di rumah kecil dekat kebun yang sudah tidak lagi benar-benar kami miliki.
Aku berdiri di atas panggung sendirian. Meski begitu, aku merasa mereka semua sedang memandangku. Ayah dengan pakaian kebunnya. Ibu dengan batuk yang berusaha ia sembunyikan. Kakek dengan tangan kasar dan punggung bungkuk. Nenek dengan kebaya tuanya.
Setelah wisuda, Yuni minta aku menemuinya. Ia tidak membawa bunga atau hadiah. Ia hanya menyerahkan sebuah tiket pesawat ke Singapura.
“Kamu berangkat pekan depan.”
“Untuk apa?”
“Mengikuti tes.”
“Tes kerja?”
“Belum tentu.”
Aku mengikuti instruksinya. Aku tahu diri. Di Singapura, aku ditempatkan dalam sebuah program intensif ekonomi kuantitatif. Pesertanya datang dari berbagai negara. Sebagian besar merupakan lulusan universitas terkenal, mantan analis bank investasi, pegawai kementerian, atau peneliti lembaga ekonomi. Aku merasa kecil di antara mereka.
Selama tiga bulan, aku mempelajari pemodelan ekonomi, analisis risiko, statistik lanjutan, derivative pricing, simulasi Monte Carlo, teori portofolio, dan analisis krisis. Setiap hari dimulai sebelum matahari terbit dan berakhir lewat tengah malam. Kami tidak hanya diminta menyelesaikan soal. Kami diminta membaca pasar seperti membaca watak manusia. Mencari kebohongan di balik laporan keuangan. Menemukan risiko yang tidak disebutkan dalam prospektus. Memahami bagaimana sebuah negara dapat terlihat sehat di permukaan, tetapi sesungguhnya sedang menuju krisis.
Aku nyaris menyerah pada bulan pertama. Bahasa Inggris akademis, simbol matematis, dan kecepatan berpikir para peserta membuatku merasa tertinggal. Namun setiap kali ingin berhenti, aku teringat jeruji tempat kakek meninggal. Aku tidak boleh kalah. Aku belajar lebih lama daripada peserta lain. Aku mengulang seluruh materi pada malam hari. Aku menulis rumus di dinding kamar. Aku tidur hanya beberapa jam.
Tiga bulan kemudian, aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Aku mengira setelah itu akan ditempatkan di sebuah perusahaan atau lembaga riset. Ternyata Bu Yuni kembali membawa sebuah tiket. Kali ini ke Amerika Serikat. “Kamu diterima di Harvard.”
Aku menatapnya tanpa percaya. “Aku tidak pernah mendaftar.”
“ Kami minta tempat kursus kamu di Singapore daftarkan kamu ke Harvard. Kan kamu lulusan terbaik” kata Yuni.
“Untuk program apa?”
“Ekonomi dan kebijakan kuantitatif.””
Di Harvard, dunia terasa lebih luas sekaligus lebih dingin. Aku bertemu orang-orang yang sejak kecil telah dipersiapkan untuk memimpin perusahaan, negara, lembaga investasi, dan organisasi internasional. Mereka berbicara tentang krisis utang, geopolitik, sistem moneter, dan pasar global dengan percaya diri. Sebagian memiliki keluarga terkenal. Sebagian telah bekerja untuk bank sentral. Sebagian datang dari dinasti politik. Aku datang dari sebuah kebun sawit dua setengah hektare yang dirampas.
Perbedaan itu tidak lagi membuatku malu. Justru di situlah kekuatanku. Mereka mempelajari kemiskinan dari data. Aku mengenalnya dari wajah ayah. Mereka membahas konflik agraria sebagai persoalan kelembagaan. Aku mengenalnya sebagai darah yang mengering di kepala seseorang. Mereka menghitung dampak ketimpangan dengan persamaan. Aku mengingat suara nenek menangis di telepon. Aku belajar dengan satu tujuan, memahami bagaimana dunia bekerja, agar kelak aku tidak lagi menjadi korban yang hanya mampu bertanya mengapa.
Tahun demi tahun berlalu. Aku kembali lulus dengan hasil terbaik. Setelah itu, aku tidak langsung pulang ke Indonesia. Ada orang mengaku wakil dari B menemuiku di Apartement. “ Ini ticket ke Swiss. Kamu ikut training. Semua tempat dan alamatnya serta uang ada di dalam amplop ini. “katanya. Aku tidak lagi bertanya. Aku percaya, bahkan aku ingin berbakti kepada B, dan sampai mati jasanya tidak akan bisa kubayar.
Pelatihan berlangsung di sebuah tempat terpencil di luar kota. Bangunannya tampak seperti vila biasa, tetapi memiliki sistem keamanan yang tidak biasa. Telepon kami disimpan. Komunikasi dibatasi. Setiap peserta menggunakan nama panggilan. Di sana aku baru memahami bahwa seluruh perjalanan pendidikanku bukan kebetulan.Aku tidak sekadar disekolahkan. Aku dipersiapkan.
Program itu dirancang untuk membentuk sebuah tim yang bekerja di balik struktur resmi. Mereka menyebutnya Team Shadow. Tugas mereka bukan tampil di depan publik. Mereka bergerak di belakang pengambilan keputusan, transaksi keuangan, operasi restrukturisasi, investigasi aset, penyelamatan perusahaan, dan negosiasi lintas negara. Mereka harus memahami pasar, hukum, psikologi, teknologi, keamanan, dan geopolitik. Mereka harus mampu hidup dengan identitas berbeda, berpindah yurisdiksi, menyusun skenario, dan mengambil keputusan tanpa meninggalkan jejak. Untuk pertama kalinya, aku mendengar satu nama yang selama ini disembunyikan dariku. Mr. B.
“Siapa dia?” tanyaku kepada salah seorang instruktur. Ia menatapku seperti pertanyaanku terlalu besar untuk dijawab singkat.
“Orang yang melihat nilai pada manusia sebelum manusia itu melihat nilai pada dirinya sendiri.”
Aku segera teringat wajah pria di rumah sakit. Nama itu ternyata hanya nama yang ia gunakan ketika memperkenalkan diri kepadaku. Lelaki yang menemukanku jatuh di trotoar, membawaku ke rumah sakit, dan membiayai seluruh pendidikanku adalah Mr. B. Aku merasa bingung. Mengapa ia memilihku?
Apakah pertolongannya sejak awal memang tulus, atau aku hanya ditemukan sebagai bahan mentah untuk dibentuk? Aku tidak mendapat jawaban. Pelatihan di Swiss jauh lebih keras daripada pendidikan mana pun yang pernah kujalani. Aku diuji dalam pengambilan keputusan, tekanan psikologis, kemampuan membaca risiko, dan ketahanan fisik.
Secara akademis, aku unggul. Namun untuk menjadi anggota Team Shadow, kecerdasan saja tidak cukup. Aku terlalu mudah terbawa emosi ketika menghadapi kasus yang menyerupai konflik agraria. Aku sulit menjaga jarak antara analisis dan luka pribadi. Dalam satu simulasi, aku mengabaikan prosedur karena ingin melindungi seseorang yang kuanggap sebagai korban.
Keputusanku secara moral dapat dipahami. Secara operasi, itu dianggap kegagalan. Aku dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi. Ketika keputusan itu disampaikan, aku merasa seluruh perjuanganku sia-sia.
“Aku gagal?” tanyaku kepada Lastri salah satu instrukturku
“Kamu tidak gagal.”
“Aku tidak diterima.”
“Itu berbeda.”
“Lalu untuk apa semua pendidikan ini?”
Lastri menatapku lama. “Tidak semua orang dilahirkan untuk menjadi team shadow. Ada yang dibutuhkan agar bayangan tetap dapat bekerja.”
Aku akhirnya ditempatkan di London sebagai bagian dari Supporting team di bawah Ale Capital. Pekerjaanku tidak terlihat dramatis. Aku menyusun analisis kuantitatif, membaca laporan keuangan, memeriksa transaksi lintas yurisdiksi, menghitung risiko obligasi, dan menyiapkan skenario pasar. Aku bekerja dari balik layar. Tidak banyak travelling seperti Mbak lastri selalu keliling dunia. Tidak menggunakan identitas palsu. Tidak terlibat langsung dalam operasi.
Namun perlahan aku memahami bahwa angka-angka yang kususun dapat menentukan apakah sebuah transaksi diteruskan, sebuah perusahaan diselamatkan, atau sebuah jaringan dibongkar. Aku mulai menerima bahwa hidup tidak selalu membawa kita ke tempat yang kita inginkan. Kadang-kadang ia membawa kita ke tempat di mana kemampuan kita paling dibutuhkan.
Selama bertahun-tahun di London, aku tidak pernah bertemu dengan Mr. B. Ia hanya hadir melalui instruksi singkat, catatan pada dokumen, atau keputusan yang disampaikan oleh CEO Ale Capital. Tidak pernah ada foto resmi. Tidak ada profil lengkap. Namanya disebut dengan hati-hati. Bagiku, ia tetap menjadi lelaki berusia empat puluhan yang duduk di samping ranjang rumah sakit dan berkata bahwa aku akan baik-baik saja.
Baru pada tahun 2026, kantor London menugaskanku pergi ke Singapura. Aku berangkat bersama sebuah tim kecil untuk menghadiri pertemuan terkait restrukturisasi pembiayaan lintas negara. Kami tiba di sebuah gedung perkantoran di kawasan Marina Bay menjelang sore. Ruang rapat berada di lantai paling atas. Dindingnya terbuat dari kaca, menghadap pelabuhan dan barisan kapal di kejauhan. Di atas meja telah tersedia beberapa dokumen, grafik, dan layar yang menampilkan data pasar.
Aku duduk bersama tim London sambil menunggu. Pintu terbuka.
Beberapa orang masuk. Di antara mereka, berjalan seorang lelaki dengan rambut yang kini lebih banyak beruban. Usianya mungkin telah melewati lima puluh tahun. Langkahnya tenang. Wajahnya tidak banyak berubah, hanya terlihat lebih letih dan lebih sulit dibaca.
Aku langsung mengenalinya. Lelaki di rumah sakit. Mr. B. Seluruh ruangan berdiri. Aku tetap duduk beberapa detik terlalu lama, seakan tubuhku menolak mempercayai apa yang dilihat mata. Ia memandang ke arahku. Tidak ada keterkejutan pada wajahnya. Barangkali sejak awal ia sudah mengetahui aku akan hadir.
Aku akhirnya berdiri. Pandangan kami bertemu. 10 tahun lebih telah berlalu sejak aku terjatuh kelaparan di depan sebuah restoran. Selama itu, ia mengubah seluruh hidupku tanpa sekali pun datang menemuiku. Ia membiayai pendidikanku. Membawaku ke Singapura. Mengirimku ke Harvard. Menguji kemampuanku di Swiss. Menempatkanku di London.
Namun saat berdiri hanya beberapa langkah darinya, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Terima kasih terasa terlalu kecil. Kemarahan terasa tidak pantas. Kerinduan bahkan lebih sulit dijelaskan.
Mr. B menganggukkan kepala kepadaku. “Bagaimana London?” tanyanya.
Itulah kalimat pertama yang diucapkannya setelah bertahun-tahun. “Dingin,” jawabku.
Ia tersenyum tipis.
“Bagus. Udara dingin membuat orang berpikir lebih jernih.”
Orang-orang lain mulai membuka dokumen dan mengambil tempat duduk. Pertemuan akan segera dimulai. Namun bagiku, seluruh ruangan telah kehilangan suara. Aku hanya memandang lelaki yang pernah menyelamatkanku dari kelaparan, lalu menghilang setelah mengubah arah hidupku. Saat itu aku belum tahu apa arti diriku baginya. Seorang murid? Sebuah proyek? Aset yang dipersiapkan? Atau seorang anak yang kebetulan ia temukan di trotoar? Aku juga belum memahami bahwa pertemuan di Singapura itu akan membawa kami semakin dekat.
Dan kedekatan itulah yang kelak membuatku harus menghadapi kehilangan paling besar dalam hidupku. Sebab kehilangan orang tua telah mengajarkanku tentang kesedihan. Kehilangan tanah telah mengajarkanku tentang ketidakadilan. Namun kehilangan cinta akan mengajarkanku bahwa ada luka yang tidak dapat disembuhkan oleh pendidikan, kekuasaan, maupun seluruh uang di dunia.
Kemerdekaan yang Tidak Sampai ke Desa
Usai meeting, bu Mia mengantarku ke lounge hotel “ Suci, kamu iku saya ke Jakarta. “ Katanya. Kamu kan kangen Indonesia?
“ Boleh saya ke jambi?
B monoleh ke Mia. “ Ya kamu dapat cuti seminggu. Nanti dari Jakarta kamu langsung ke London” kata Mia.
Dari Singapura, aku terbang ke Jakarta bersama B dengan Privat Jet. Duh terasa duduk diatas duduk bersamanya, hanya berdua saja di pesawat. Aku pikir kami akan bicara banyak. Aku perhatikan. Ternyata dia sibuk dengan computer Kadang melemun. Setelah pesawat mau landing dia menatapku tersenyum” Kamu cantik pakai jilbab, Suci..” kata B.
Jantungku berdebat kencang. Dia bilang aku cantik. Tetapi setelah itu dia kembali ke komputernya. Saat sampai di terminal bandara. Dia berkata, “ Jaga sholat ya sayang. Doakan kedua orang tua kamu, dan kedua kakek nenek kamu. Berkat doa mereka kamu bisa sehebat ini sekarang.” Katanya. Aku tersentuh dan terjatuh.
***
Lalu aku melanjutkan perjalanan menuju Jambi. Sudah bertahun-tahun aku tidak pulang. Selama ini Jambi hanya hadir sebagai nama di alamat lama, suara dari masa lalu, dan luka yang sengaja kusimpan di sudut paling gelap dalam ingatan.
Pesawat mendarat menjelang siang. Dari balik jendela, kulihat hamparan hijau membentang di bawah langit yang pucat. Barisan sawit tersusun rapi seperti tentara yang tidak pernah tidur. Dari kejauhan, semuanya tampak tenang. Tidak terlihat darah yang pernah tumpah. Tidak terdengar tangis keluarga petani. Tidak tampak pagar, patok, surat gugatan, atau jeruji penjara. Alam selalu terlihat damai dari ketinggian. Hanya manusia yang mengetahui berapa banyak penderitaan dikubur di bawahnya.
Aku menyewa kendaraan menuju kampung. Jalan yang dahulu berlubang kini sebagian telah beraspal. Di beberapa tempat berdiri minimarket, menara telekomunikasi, bengkel, dan rumah-rumah baru dengan pagar besi. Namun semakin jauh kendaraan meninggalkan kota, perubahan itu terasa hanya sebagai lapisan tipis.
Di balik toko-toko baru, kemiskinan tetap tinggal. Anak-anak berjalan tanpa alas kaki. Perempuan tua menjual sayur di tepi jalan. Para lelaki duduk di warung, menunggu pekerjaan harian yang belum tentu datang. Rumah-rumah papan masih berdiri dengan atap seng berkarat. Ketika hujan turun, air tetap masuk dari celah yang sama. Ketika harga sawit jatuh, dapur tetap kehilangan asap. Ketika seseorang sakit, keluarga masih harus memilih antara membeli obat atau membeli beras.
Aku memandang semuanya dari balik kaca kendaraan dengan perasaan asing. Aku lahir dari dunia itu. Namun pakaian, pendidikan, dan perjalanan panjang telah membuatku terlihat seperti orang yang datang dari tempat lain.
Mobil berhenti di depan rumah kakek dan nenek. Rumah itu tampak lebih kecil daripada yang kuingat. Dinding papannya telah menghitam. Beberapa bagian atap ditambal dengan lembaran seng yang berbeda warna. Rumput tumbuh tinggi di halaman. Pohon jambu yang dahulu menjadi tempatku membaca kini tinggal batang tua dengan cabang-cabang kering.
Pintu rumah terkunci. Seorang perempuan dari rumah sebelah datang menghampiriku. Ia menatapku beberapa saat sebelum akhirnya mengenali wajahku.
“Kamu cucunya Bu Siti?”
Aku mengangguk. Perempuan itu memelukku. “Sudah lama sekali kamu tidak pulang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ia kemudian menyerahkan sebuah kunci yang selama ini dititipkan nenek kepadanya. Tangannya gemetar ketika menyebut nama nenek.
“Nenekmu meninggal sendirian di rumah ini.”
Kalimat itu masuk perlahan, lalu menetap seperti duri. Aku sebenarnya telah menerima kabar kematiannya ketika berada di Harvard. Saat itu aku sedang menghadapi ujian akhir. Lastri menyampaikan kabar itu dengan sangat hati-hati. Ia menawarkan tiket agar aku dapat pulang.
Namun aku menolak. Aku berkata nenek pasti ingin aku menyelesaikan ujian. Aku berkata perjalanan pulang tidak akan menghidupkannya kembali. Aku berkata terlalu banyak hal yang terdengar masuk akal. Padahal sesungguhnya aku takut. Aku takut kembali ke rumah dan melihat bahwa satu-satunya manusia yang masih menghubungkanku dengan masa kecil telah pergi. Aku memilih bersembunyi di balik buku, angka, dan ambisi.
Kini, bertahun-tahun kemudian, aku berdiri di depan rumah kosong yang pernah menungguku pulang. Aku membuka pintu. Bau kayu tua, debu, dan kelembapan menyambutku. Ruang tamu hampir tidak berubah. Sebuah meja kecil berdiri di sudut. Tikar pandan telah menggulung di bagian tepinya. Kalender lama masih tergantung di dinding, berhenti pada bulan ketika nenek meninggal.
Di dekat jendela terdapat sebuah kursi kayu. Dahulu nenek sering duduk di sana pada sore hari, membersihkan sayur, menjahit pakaian, atau menunggu kakek pulang dari kebun. Aku menyentuh sandaran kursi itu. Dingin.
Di atas lemari, kutemukan sebuah kotak kaleng tua. Kotak yang dahulu dibuka kakek ketika memutuskan membiayai keberangkatanku ke Jawa. Di dalamnya tidak lagi tersimpan uang atau surat berharga. Hanya ada beberapa lembar foto. Foto ayah mengenakan pakaian kebun. Foto ibu ketika masih sehat. Foto kakek berdiri di antara pohon sawit muda. Dan foto diriku saat lulus SMA. Pada bagian belakang foto wisudaku terdapat tulisan tangan nenek yang tidak rapi, Anak ini harus sekolah tinggi. Jangan sampai hidupnya habis di kebun.
Aku duduk di lantai. Untuk waktu yang lama, aku tidak mampu bergerak. Nenek meninggal dalam kemiskinan. Tidak ada rumah sakit terbaik, tidak ada dokter terkenal, dan tidak ada kamar nyaman seperti yang pernah kuterima ketika ditemukan Mr. B di depan restoran. Ia meninggal di rumah kayu yang bocor, mungkin dengan obat yang tidak cukup dan makanan yang seadanya. Perempuan yang menjual kue agar aku dapat membeli buku itu menutup hidupnya tanpa pernah menikmati hasil dari pendidikan yang ikut ia perjuangkan.
Aku memiliki pekerjaan di London. Aku pernah belajar di Singapura, Amerika Serikat, dan Swiss. Aku mampu membaca neraca perusahaan multinasional, menghitung risiko negara, dan memahami bagaimana modal bergerak melintasi batas negara dalam hitungan detik. Namun aku tidak hadir ketika nenek mengembuskan napas terakhir. Di hadapan kotak kaleng itu, semua gelar dan kecerdasanku terasa tidak berguna.
Sore harinya, aku berjalan menuju makam. Makam kakek dan nenek terletak tidak berjauhan. Tanah di atas pusara mereka ditumbuhi rumput liar. Batu nisannya sederhana. Tidak ada gelar, tidak ada kalimat panjang, hanya nama serta tahun kelahiran dan kematian. Aku membersihkan rumput dengan tangan. Kemudian aku duduk di antara kedua makam itu.
Aku tidak marah kepada nasibku. Aku tidak menyesal lahir di republik ini. Aku tidak membenci tanah yang telah mengambil ayahku, memenjarakan kakekku, dan membiarkan nenekku meninggal dalam kemiskinan. Tanah tidak pernah bersalah. Tanah hanya diam ketika manusia saling merampas hak di atasnya. Yang membuatku sedih adalah kenyataan bahwa puluhan tahun setelah kemerdekaan, rakyat seperti keluargaku masih hidup sebagai orang asing di negeri sendiri.
Kami memiliki kartu tanda penduduk. Kami mengikuti pemilihan umum. Kami mengibarkan bendera setiap bulan Agustus. Kami menyanyikan lagu kebangsaan sejak sekolah dasar. Namun ketika tanah kami dirampas, negara tidak datang sebagai pelindung. Ia datang membawa surat, aparat, dan pasal-pasal yang tidak kami pahami. Kemerdekaan seharusnya membebaskan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan kemiskinan.
Namun di banyak tempat, kemerdekaan hanya mengganti nama penguasa. Dahulu tanah dikuasai perusahaan kolonial. Kini tanah dikuasai korporasi yang pemiliknya tinggal jauh dari kebun. Dahulu kaum pribumi harus menunduk kepada pejabat kolonial dan bangsawan. Kini rakyat kecil harus menunggu berjam-jam di depan kantor pemerintahan, sementara orang kaya masuk melalui pintu samping tanpa antrean.
Dahulu hasil bumi dibawa ke negeri asing. Kini hasil bumi tetap meninggalkan desa, sementara petani yang menanamnya hidup dari utang kepada tengkulak. Sejarah seperti mengganti pakaian tanpa mengubah wataknya. Elite republik jumlahnya tidak lebih besar daripada elite kolonial dahulu. Mereka hidup dalam lingkaran yang sempit, bersekolah di tempat yang sama, menikah di antara keluarga yang sama, berbisnis dengan orang yang sama, dan membagi kekuasaan di meja yang tidak pernah dapat dijangkau rakyat biasa.
Orang kaya di negeri ini pun tidak jauh berbeda dari kaum bangsawan pada masa kolonial. Mereka memiliki rumah besar, kendaraan mewah, akses kepada pejabat, serta kemampuan membuat hukum terasa lunak bagi diri mereka sendiri.
Mereka berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak pernah melihat mata petani yang kehilangan kebun. Mereka mengadakan seminar tentang kemiskinan di hotel berbintang, sementara orang miskin di luar gedung diusir petugas keamanan karena dianggap merusak pemandangan. Mereka menyebut kekayaan sebagai hasil kerja keras. Seolah buruh yang bangun sebelum fajar tidak bekerja keras. Seolah petani yang membungkuk di bawah matahari tidak bekerja keras. Seolah ibuku yang batuk darah sambil tetap memasak bukan manusia yang berjuang.
Di negeri ini, kemiskinan sering dijelaskan sebagai kegagalan orang miskin. Mereka dianggap malas, tidak terdidik, boros, dan tidak mampu memanfaatkan kesempatan. Tidak pernah dijelaskan bahwa banyak orang miskin memang sengaja dijauhkan dari pendidikan yang baik. Sekolah mereka memiliki atap bocor. Guru datang tidak menentu. Buku-buku terlambat. Akses ke universitas dibatasi oleh biaya hidup yang tidak sanggup mereka tanggung. Kemudian, ketika mereka gagal bersaing, negara menyebut mereka tidak memiliki kualitas.
Republik ini tidak selalu mencerdaskan rakyatnya. Kadang-kadang ia justru memelihara kebodohan agar rakyat mudah diarahkan, mudah ditakuti, dan mudah membeli kebohongan yang disampaikan berulang-ulang. Orang miskin diberi bantuan sekadarnya, tetapi tidak diberi alat untuk mengubah nasib. Mereka dibuat sibuk mengantre beras, minyak, dan uang tunai, sehingga tidak sempat bertanya mengapa tanah, tambang, hutan, dan seluruh kekayaan negeri berada di tangan segelintir manusia.
Rakyat diajarkan bersyukur atas remah-remah. Sementara mereka yang mengambil seluruh roti disebut pahlawan pembangunan. Aku menatap nisan kakek. Ia dipenjara karena mempertahankan dua setengah hektare kebun. Di tempat lain, orang-orang dapat menguasai ratusan ribu hektare hanya dengan tanda tangan, pertemuan tertutup, dan kedekatan dengan kekuasaan.
Itulah wajah keadilan di negeri yang katanya merdeka. Keras kepada mereka yang tidak memiliki apa-apa. Lunak kepada mereka yang memiliki segalanya. Namun aku tidak ingin kebencianku tumbuh menjadi racun. Kakek pernah berpesan agar aku tidak membenci negeri ini. Negeri bukan hanya pemerintah, pejabat, polisi, hakim, atau pengusaha besar. Negeri juga adalah petani yang pulang dengan pakaian berlumpur. Ibu yang menghemat lauk agar anaknya dapat sekolah. Guru yang tetap mengajar meskipun gajinya terlambat. Buruh yang mengirim sebagian upah kepada orang tua di kampung.
Negeri ini adalah mereka yang terus bertahan meskipun berkali-kali dikhianati oleh para penguasanya. Aku mencintai republik ini bukan karena ia telah berlaku adil kepada keluargaku. Aku mencintainya karena di dalam penderitaannya terdapat jutaan keluarga seperti keluargaku. Orang-orang yang tidak pernah dicatat dalam buku sejarah, tetapi menjadi fondasi tempat para elite berdiri dan berpidato.
Aku tidak menyesal dilahirkan di sini.Namun cinta kepada negeri bukan berarti harus membenarkan semua kesalahannya. Cinta yang hanya berisi pujian adalah kemunafikan. Cinta yang jujur harus berani menunjukkan luka, menyebut pelaku ketidakadilan, dan menuntut perubahan.
Menjelang magrib, langit berubah merah. Angin berembus dari arah kebun sawit, membawa aroma tanah basah yang pernah begitu kukenal. Aku memejamkan mata. Dalam angin itu, seolah kudengar suara ayah memanggilku pulang. Suara ibu menyuruhku makan. Suara kakek memintaku tidak takut. Dan suara nenek membangunkanku sebelum berangkat sekolah.
Aku menundukkan kepala. “Aku sudah sekolah tinggi, Nek,” bisikku.
Suaraku pecah. “Tetapi aku terlambat pulang.”
Tidak ada jawaban. Hanya daun-daun kering yang bergerak di antara makam. Aku menangis tanpa suara. Bukan tangisan seorang anak yang meminta perlindungan, melainkan tangisan seseorang yang akhirnya memahami bahwa keberhasilan tidak selalu mampu menebus ketidakhadiran. Saat matahari hampir tenggelam, aku berdiri dan membersihkan tanah yang menempel pada pakaian.
Sebelum meninggalkan makam, aku berjanji tidak akan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk membenci hidup. Semua yang terjadi kepada keluargaku harus menjadi alasan bagiku untuk bekerja lebih keras, berpikir lebih jernih, dan tidak pernah menggunakan pengetahuan untuk membantu orang kuat menindas yang lemah.
Aku mungkin tidak berhasil menjadi anggota Team Shadow. Aku hanya bagian dari tim pendukung di London. Namun dari tempat itulah aku dapat membaca arah modal, membongkar struktur kepemilikan, menelusuri aliran uang, serta memahami bagaimana kekuasaan bersembunyi di balik perusahaan, rekening, dan dokumen hukum. Dahulu keluargaku kalah karena kami tidak memahami bahasa kekuasaan. Kini aku telah mempelajari bahasa itu.
Aku berjalan meninggalkan makam ketika azan magrib terdengar dari kejauhan. Di jalan pulang, lampu-lampu rumah mulai menyala. Sebagian redup, sebagian berkedip karena aliran listrik tidak stabil. Di dalam rumah tua, aku kembali membuka kotak kaleng milik nenek. Foto-foto lama kumasukkan ke dalam tas untuk kubawa ke London.
Namun sebelum menutupnya, aku menemukan selembar kertas kecil terselip di bagian dasar. Tulisan di atasnya hampir pudar. Itu adalah catatan utang nenek kepada warung: beras, minyak goreng, gula, obat batuk, dan beberapa bungkus mi instan. Jumlahnya tidak besar. Bahkan lebih kecil daripada biaya makan siangku bersama tim Ale Capital di London. Aku menatap angka itu lama sekali. Nenek meninggal dengan utang sekecil itu. Sementara perusahaan-perusahaan besar dapat berutang triliunan, gagal membayar, lalu diselamatkan atas nama stabilitas ekonomi. Orang miskin menanggung malu karena berutang untuk makan. Orang kaya mendapat penghormatan ketika berutang untuk memperbesar kekuasaan.
Aku melipat kertas itu dan menyimpannya bersama foto nenek. Bukan karena utangnya belum dibayar. Keesokan harinya aku melunasi seluruhnya kepada pemilik warung. Aku menyimpan catatan itu agar tidak lupa dari mana aku berasal.
Di London nanti, aku akan kembali duduk di hadapan layar-layar besar, membaca angka dalam jutaan dolar dan miliaran poundsterling. Aku akan bertemu para bankir, pengacara, dan pengelola dana yang memandang dunia sebagai rangkaian aset serta peluang. Namun di balik setiap angka, aku akan selalu mengingat sebuah utang kecil di warung kampung. Utang seorang perempuan tua yang pernah menjual kue agar cucunya dapat sekolah.
Malam itu, aku tidur di kamar masa kecilku. Hujan turun dan memukul atap seng. Suaranya masih sama seperti dahulu. Aku berbaring dalam gelap sambil memeluk foto keluarga. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sebagai analis Ale Capital, lulusan Harvard, atau seseorang yang pernah dilatih untuk menjadi bayangan. Aku kembali menjadi anak kecil dari keluarga transmigran. Anak yang kehilangan ayah karena tanah. Kehilangan ibu karena penyakit tak mampu berobat. Kehilangan kakek di dalam penjara kehilangan keadilan. Dan kehilangan nenek dalam kemiskinan. Aku mengira itulah seluruh kehilangan yang harus kutanggung dalam hidup.
Aku salah. Sebab ketika kembali ke Singapura, aku akan semakin dekat dengan Mr. B—lelaki yang telah mengubah jalan hidupku tanpa pernah meminta balasan. Dan untuk pertama kalinya, aku akan menyadari bahwa perasaanku kepadanya bukan lagi sekadar rasa terima kasih seorang murid kepada penyelamatnya. Perasaan itu tumbuh dalam diam, di tempat yang seharusnya tidak boleh disentuh. Di antara kekaguman, ketergantungan, dan jarak yang mustahil diseberangi. Aku belum menyebutnya cinta. Namun barangkali cinta memang selalu dimulai dari penyangkalan.

Tinggalkan komentar