
Tahun 2010, setelah mengikuti sebuah seminar di Beijing, saya bersama beberapa teman pergi ke pusat kota. Kami singgah di sebuah kafe yang dipenuhi anak-anak muda dengan komputer di hadapan mereka. Saat itu, QQ sedang populer di Tiongkok. Platform tersebut telah menyediakan fasilitas percakapan, panggilan suara, komunikasi video, blog, serta berbagai ruang komunitas digital. Anak-anak muda dapat bekerja, bertukar informasi, membentuk jaringan, dan mengembangkan gagasan hanya melalui sebuah komputer.
Dai, seorang pengusaha yang membangun usahanya dari nol hingga menjadi perusahaan besar, memandang mereka dengan heran. “Entah apa yang mereka kerjakan,” katanya. “Beda sekali dengan generasi kita. Dulu, ketika masih muda, kita harus bekerja keras dan ke sana kemari hanya untuk mendapatkan akses pekerjaan atau bisnis. Mana ada waktu duduk di kafe pada jam kerja? Mereka malah berada di sini dari pagi sampai malam.”
Pandangan Dai mewakili pengalaman generasi industrialis awal. Mereka tumbuh ketika informasi terbatas, modal sulit diperoleh, jaringan bisnis belum terbentuk, dan akses kepada teknologi masih sangat mahal.
Chai melihatnya dengan cara berbeda. “Kita tidak dapat menyuruh jarum jam berputar mundur. Generasi kita hidup ketika ekosistem bisnis belum terbentuk. Karena itu, kita harus masuk ke semak belukar hanya untuk mencari telur bebek. Kadang bukan telur yang diperoleh, tetapi malah digigit ular atau disengat kalajengking.”
Menurut Chai, generasi sekarang tidak harus mengulangi semua kesulitan generasi sebelumnya. “Yang mereka perlukan bukan penderitaan yang sama seperti kita. Mereka membutuhkan akses kepada teknologi, modal, dan pasar.”
Teng kemudian menambahkan “Tugas kita adalah membantu menyediakan akses itu. Lebih baik memberi mereka ruang untuk berkembang daripada terus menyuruh mereka menjadi seperti kita ketika masih muda. Motivasi tanpa akses itu absurd. Lama-lama anak muda justru semakin skeptis terhadap masa depannya.”
Percakapan tersebut memberi gambaran sederhana tentang perubahan besar dalam strategi pembangunan Tiongkok. Negara itu tidak hanya berusaha meningkatkan jumlah tenaga kerja terdidik. Tiongkok juga membangun suatu sistem yang mempertemukan pendidikan, teknologi, industri, pembiayaan, dan pasar. Salah satu instrumennya adalah makerspace.
Namun, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Pengfei Fu, Lin Li, dan Xuefang Xie yang diterbitkan dalam Humanities and Social Sciences Communications, makerspace di Tiongkok tidak berkembang dengan bentuk yang sama seperti di Amerika Serikat atau Eropa. Tiongkok mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih terstruktur dan lebih dekat kepada agenda pembangunan negara, yaitu Mass Innovation Space, atau MIS.
Dari Makerspace menuju Mass Innovation Space
Makerspace pada mulanya berkembang sebagai ruang informal tempat orang berkumpul untuk membuat sesuatu, mempelajari keterampilan baru, berbagi alat, mengembangkan prototipe, dan melakukan eksperimen. Di dalam tradisi Barat, makerspace sering tumbuh dari komunitas akar rumput. Para anggotanya dapat terdiri atas teknisi, seniman, perancang, programmer, mahasiswa, penghobi, atau orang-orang yang memiliki minat serupa. Budaya ini dekat dengan semangat do it yourself, keterbukaan pengetahuan, kolaborasi horizontal, dan produksi bersama.
Orang berbagi alat, desain, program, dan pengetahuan bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga karena kesenangan menciptakan sesuatu. Dalam literatur, model ini sering dikaitkan dengan commons-based peer production dan bahkan gift economy, yaitu pertukaran pengetahuan tanpa tuntutan imbalan ekonomi secara langsung.
Tiongkok mengadopsi konsep tersebut, tetapi kemudian mengubah orientasinya. Pemerintah Tiongkok tidak membiarkan makerspace berkembang hanya sebagai ruang komunitas, hobi, dan eksperimen terbuka. Makerspace direkonstruksi menjadi Mass Innovation Space yang lebih berorientasi kepada kewirausahaan, inkubasi bisnis, pembiayaan, dan komersialisasi produk.
Penelitian Fu, Li, dan Xie menganalisis pernyataan misi dari 305 MIS di Tiongkok dengan metode semantic network analysis. Hasilnya menunjukkan bahwa tiga kelompok kata yang paling dominan adalah entrepreneurship, innovation, dan incubation. Temuan ini memperlihatkan bahwa MIS di Tiongkok lebih dekat kepada inkubator bisnis daripada makerspace dalam pengertian tradisional. Di dalam MIS, kreativitas tidak hanya dinilai dari kebaruan gagasan. Kreativitas diarahkan agar dapat berubah menjadi produk, perusahaan, kontrak, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi.
Perbedaan Makerspace Barat dan MIS Tiongkok
Perbedaan pertama terletak pada tujuan ruang tersebut. Makerspace Barat umumnya dibangun sebagai tempat orang membuat, belajar, bereksperimen, dan berbagi pengetahuan. Sementara itu, MIS Tiongkok dibangun sebagai ruang bagi wirausahawan, startup, mahasiswa, dan tim pengembang usaha.
Kata-kata yang dominan dalam deskripsi ruang MIS bukan hanya “workshop” atau “laboratory”, tetapi juga incubator, office, base, center, dan park. Artinya, MIS dipahami bukan semata-mata sebagai bengkel produksi, melainkan sebagai lingkungan kerja dan inkubasi usaha.
Perbedaan kedua terletak pada komunitasnya. Dalam makerspace global, anggota biasanya berkumpul berdasarkan minat, nilai, dan kesenangan bersama. Dalam MIS Tiongkok, komunitas lebih diarahkan kepada entrepreneur, startup, mahasiswa, talenta teknik, dan institusi. Dengan demikian, MIS bukan sekadar komunitas orang kreatif. Ia adalah komunitas calon pelaku ekonomi.
Perbedaan ketiga terletak pada sumber daya yang disediakan. Makerspace tradisional sering mengutamakan penyediaan alat seperti printer tiga dimensi, mesin CNC, pemotong laser, perangkat elektronik, atau fasilitas fabrikasi sederhana. MIS Tiongkok justru lebih banyak menonjolkan akses kepada: teknologi; industri; internet; mentor; angel investor; layanan bisnis; pemerintah; jaringan pemasaran; dan sumber pembiayaan. Ini tidak berarti alat produksi tidak penting. Namun di kota-kota seperti Shenzhen, akses kepada mesin, komponen, bengkel, dan rantai pasok sudah relatif tersedia.
Karena itu, masalah terbesar inovator muda bukan selalu ketiadaan alat. Masalahnya adalah bagaimana menghubungkan gagasan dengan industri, modal, pemerintah, dan pasar. Di situlah MIS mengambil fungsi sebagai lembaga perantara.
Makerspace sebagai Lembaga Intermediasi
Kajian tersebut menegaskan bahwa MIS berfungsi sebagai penghubung antara kreativitas akar rumput dan kesempatan ekonomi eksternal. Seorang mahasiswa mungkin mempunyai ide, tetapi tidak mengenal pabrik yang mampu membuat produknya. Seorang teknisi mungkin dapat membuat mesin, tetapi tidak mengetahui bagaimana menghitung kelayakan bisnisnya. Seorang peneliti mungkin memiliki teknologi, tetapi tidak memiliki jaringan distribusi.

Investor mungkin mempunyai modal, tetapi tidak dapat menilai apakah sebuah teknologi benar-benar layak dikembangkan. Industri mungkin membutuhkan inovasi, tetapi tidak mengetahui di mana menemukan talenta yang sesuai. MIS mempertemukan pihak-pihak tersebut. Fungsi utamanya bukan hanya menyediakan ruang, melainkan mengurangi jarak antara ide, teknologi, pembiayaan, produksi, dan pasar.
Karena itu, MIS seharusnya tidak dipahami sebagai proyek properti. Ia bukan sekadar gedung modern dengan internet cepat, meja kerja bersama, dan kafe yang ramai. Ia merupakan infrastruktur sosial dan ekonomi yang mengatur pertemuan antara berbagai aktor inovasi. Dalam pengertian ini, nilai MIS tidak terletak pada gedungnya, melainkan pada kualitas jaringan yang ada di dalamnya.
Kebijakan Mass Entrepreneurship and Mass Innovation
Transformasi makerspace di Tiongkok tidak terjadi secara spontan. Ia merupakan bagian dari kebijakan nasional yang dikenal dengan slogan Mass Entrepreneurship and Mass Innovation. Kebijakan ini memperoleh dorongan kuat pada 2015. Pemerintah Tiongkok melihat kewirausahaan dan inovasi sebagai instrumen untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru, memperluas kesempatan kerja, dan mengubah struktur ekonomi.
Tiongkok menyadari bahwa model pertumbuhan yang terlalu bergantung pada investasi besar, tenaga kerja murah, dan ekspor manufaktur bernilai tambah rendah tidak dapat bertahan selamanya. Kenaikan upah, perubahan demografi, persaingan teknologi, dan perlambatan ekonomi global memaksa Tiongkok bergerak dari Made in China menuju Created in China.
Karena itu, pemerintah mulai mendorong pembentukan inkubator, pusat demonstrasi kewirausahaan, platform crowdsourcing, pembiayaan modal ventura, pusat transfer teknologi, dan MIS di berbagai kota. Tujuan kebijakannya bukan hanya menambah jumlah perusahaan rintisan. Pemerintah ingin mengubah kreativitas masyarakat menjadi kapasitas industri.
Shenzhen Ideology
Salah satu konsep terpenting dalam penelitian tersebut adalah istilah Shenzhen ideology. Penulis membandingkannya dengan Californian ideology, yang banyak memengaruhi Silicon Valley dan maker movement Barat. Californian ideology merupakan gabungan antara individualisme, kebebasan berekspresi, semangat kewirausahaan, dan keyakinan bahwa teknologi dapat menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Dalam model tersebut, tokoh utamanya adalah individu kreatif, programmer, founder, inovator, atau komunitas independen yang menantang institusi lama. Tiongkok mengadopsi sebagian semangat itu, tetapi memasukkannya ke dalam struktur sosial, politik, dan ekonomi yang berbeda.
Shenzhen ideology digambarkan sebagai gabungan antara kemajuan ekonomi; keyakinan kuat kepada teknologi; kolektivisme; kepemimpinan negara; keterbukaan terhadap bisnis; dan konservatisme dalam struktur sosial. Kreativitas tetap didorong, tetapi tidak dilepaskan sepenuhnya kepada individualisme. Inovasi ditempatkan dalam kerangka pembangunan nasional. Teknologi tidak hanya dipandang sebagai alat memperkaya seorang pendiri startup. Teknologi digunakan untuk memperkuat industri, meningkatkan produktivitas, menciptakan pekerjaan, dan membangun kapasitas nasional.
Shenzhen merupakan contoh utama model tersebut. Kota itu berkembang dari pusat industri shanzhai, kemudian menjadi pabrik dunia, dan akhirnya menjadi pusat teknologi, elektronik, kendaraan listrik, telekomunikasi, dan inovasi perangkat keras. Perjalanan Shenzhen menunjukkan bahwa kreativitas tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh karena terhubung dengan pabrik, pemasok, universitas, tenaga teknis, pemerintah, modal, dan pasar global.
Dari Kreativitas Budaya menuju Inovasi Teknologi
Kajian Nature tersebut juga menjelaskan perubahan dalam pengertian industri kreatif di Tiongkok. Dalam pemahaman Barat, industri kreatif sering dikaitkan dengan seni, media, desain, hiburan, musik, film, dan ekspresi individual. Tiongkok memperluas pengertian itu dengan memasukkan teknologi dan manufaktur.
Kreativitas tidak hanya berarti membuat karya budaya. Kreativitas juga berarti merancang mesin, mengembangkan material, menciptakan perangkat elektronik, membangun aplikasi, membuat robot, atau mengembangkan proses produksi baru. Dalam beberapa dokumen kebijakan, istilah “kreativitas” bahkan semakin sering digantikan oleh “inovasi teknologi”.
Perubahan ini penting. Tiongkok tidak menempatkan industri kreatif sebagai sektor yang terpisah dari manufaktur. Justru kreativitas digunakan untuk menaikkan kelas manufaktur. Desain, teknologi digital, kecerdasan buatan, otomasi, dan rekayasa material dipertemukan dengan kapasitas produksi. Hasilnya adalah integrasi antara budaya, teknologi, dan industri.
Karena itu, banyak MIS ditempatkan di kawasan industri kreatif, taman teknologi, pusat penelitian, atau klaster manufaktur. Lokasi tersebut memungkinkan terjadinya spillover: pengetahuan, teknologi, talenta, dan peluang bisnis menyebar dari satu perusahaan atau institusi kepada yang lain.
Belajar melalui Pembuatan dan Komersialisasi
Salah satu kekuatan model Tiongkok adalah hubungan antara pendidikan dan kegiatan produksi nyata. Di dalam MIS, anak muda tidak hanya mengikuti seminar tentang kewirausahaan. Mereka diminta membuat sesuatu. Mereka merancang, membuat prototipe, menghitung biaya, menguji pasar, memperbaiki kesalahan, mencari pemasok, dan berhadapan dengan calon pembeli. Ini merupakan proses learning by doing.
Secara akademis, proses tersebut penting karena banyak pengetahuan teknologi bersifat tacit. Pengetahuan seperti ini tidak cukup dipelajari melalui buku. Seseorang dapat memahami teori mesin, tetapi belum tentu mampu mengatasi masalah suhu, tekanan, getaran, kualitas material, dan kalibrasi ketika mesin benar-benar dijalankan. Seseorang dapat mempelajari pemasaran, tetapi belum tentu mampu memahami keberatan pembeli sebelum menghadapi konsumen secara langsung. Karena itu, inovasi membutuhkan ruang untuk mencoba dan gagal.
Namun MIS Tiongkok tidak berhenti pada tahap eksperimen. Ia mendorong agar kegagalan teknis diperbaiki sampai produk dapat masuk ke pasar. Di sinilah MIS berbeda dari ruang kreativitas yang hanya menghasilkan ide dan prototipe tanpa kelanjutan komersial.
Ilustrasi tentang Pentingnya Akses
Suatu hari saya duduk di sebuah kafe di Central Park. Dari meja di belakang, saya mendengar percakapan sepasang anak muda. Seorang pria meminta maaf karena belum mampu mengembalikan uang yang dipinjam dari kekasihnya. Padahal uang tersebut dibutuhkan untuk membayar kuliah. Ia telah menjual sepeda motor. Uangnya digunakan untuk mengembangkan sebuah mesin. Namun setelah berkeliling ke sejumlah pabrik, tidak ada yang tertarik membeli jasanya.
Saya bertanya mengenai produk yang dibuatnya. Ia memperlihatkan pelat kecil untuk label dan segel mesin. Produk tersebut dibuat menggunakan mesin laser yang ia rakit sendiri dengan menggabungkan sistem pencetakan digital dan teknologi laser. Secara teknis, gagasannya cukup kreatif. Namun biaya produksinya terlalu mahal.
Saya menyarankan agar prosesnya diubah. Sistem desain digital tetap dipertahankan, tetapi pencetakan dilakukan dengan metode moulding bertekanan yang lebih murah. Ia segera mencari mesin yang sesuai melalui telepon genggamnya. Harga satu mesin sekitar 600 dolar AS. Mesin itu dapat dihubungkan dengan sistem digital yang telah dibuatnya. Masalahnya, ia sudah tidak memiliki uang. Masalah berikutnya adalah pasar. Ia tidak mengenal pabrik yang bersedia menggunakan produknya.
Saya memberinya 1.000 dolar AS untuk mengubah desain dan membeli mesin. Setelah mesinnya selesai, saya menghubungkannya dengan empat pabrik. Seminggu kemudian, ia memperoleh kontrak untuk memproduksi 200.000 unit label.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa seorang inovator muda setidaknya menghadapi empat jenis kesenjangan kesenjangan teknologi; kesenjangan pembiayaan; kesenjangan pasar; dan kesenjangan jaringan.
Ia tidak kekurangan semangat. Ia juga tidak kekurangan kreativitas. Yang tidak dimilikinya adalah ekosistem. Dalam sistem yang terbangun dengan baik, fungsi yang saya lakukan secara kebetulan seharusnya dikerjakan secara permanen oleh MIS. Anak muda tidak harus menunggu bertemu seseorang di sebuah kafe untuk memperoleh akses kepada teknologi, pembiayaan, mentor, dan pasar.
Peran Pemerintah dalam Model Tiongkok
Ciri paling penting MIS Tiongkok adalah keterlibatan dan kepemimpinan pemerintah. Pemerintah tidak hanya membuat slogan. Ia menyediakan fasilitas, membentuk pusat inkubasi, menyederhanakan perizinan, menghubungkan universitas dengan industri, memberikan insentif, serta mendorong pembentukan dana investasi. Pemerintah daerah juga memainkan peran besar. Mereka membangun taman teknologi, menyediakan ruang dengan biaya murah, menarik perusahaan, mendirikan laboratorium, dan menghubungkan startup dengan industri lokal. Setiap daerah mengembangkan strategi berbeda.
Beijing mengandalkan universitas, lembaga riset, dan kebijakan. Shanghai mengandalkan keuangan, perusahaan besar, industri modern, dan jaringan internasional. Shenzhen mengandalkan elektronik, perangkat keras, rantai pasok, manufaktur, dan modal ventura. Model ini menunjukkan bahwa makerspace tidak dapat diseragamkan. Ia harus dibangun berdasarkan kekuatan ekonomi setiap wilayah.
Pelajaran bagi Indonesia
Indonesia memiliki banyak anak muda kreatif. Universitas, komunitas teknologi, UMKM, industri, dan lembaga keuangan juga tersedia. Masalahnya, semua unsur itu sering berjalan sendiri-sendiri. Kampus menghasilkan riset, tetapi tidak terhubung dengan pabrik. Anak muda membuat prototipe, tetapi tidak mempunyai akses kepada sertifikasi dan pembiayaan. Industri membutuhkan inovasi, tetapi lebih mudah membeli teknologi dari luar negeri. Perbankan memiliki dana, tetapi meminta jaminan yang tidak dimiliki usaha baru. Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya membangun coworking space.

Makerspace di Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Medan harus dibangun sebagai lembaga intermediasi. Bandung dapat menghubungkan universitas, teknologi digital, desain, tekstil, dan industri kreatif. Semarang dapat berfokus pada manufaktur, logistik, pangan, dan industri pesisir. Surabaya dapat mengembangkan teknologi maritim, mesin, logistik, dan industri berat. Makassar dapat menghubungkan perikanan, pertanian, pelabuhan, dan kebutuhan Indonesia Timur. Medan dapat mengembangkan agroindustri, perkebunan, pengolahan pangan, dan perdagangan regional.
Setiap makerspace setidaknya harus memiliki fasilitas eksperimen dan prototipe; mentor teknologi; mentor bisnis; hubungan dengan universitas dan pendidikan vokasi; akses kepada pembiayaan; koneksi dengan industri; perlindungan hak kekayaan intelektual; dan jaringan pasar.
Keberhasilannya tidak boleh diukur dari jumlah seminar, jumlah pengunjung, atau ramainya kafe.Ukurannya harus jelas: berapa prototipe yang berhasil dibuat; berapa teknologi yang dikomersialisasikan; berapa kontrak industri yang diperoleh; berapa modal yang dihimpun; berapa usaha yang bertahan; dan berapa pekerjaan yang tercipta.
Kesimpulan
Cara Tiongkok mendorong kreativitas anak muda tidak berhenti pada pendidikan dan motivasi. Tiongkok mengambil konsep makerspace dari Barat, lalu merekonstruksinya menjadi Mass Innovation Space yang sesuai dengan struktur ekonomi dan agenda pembangunannya. Jika makerspace Barat menonjolkan komunitas, kebebasan individual, kegiatan membuat, dan budaya berbagi, MIS Tiongkok menambahkan unsur pemerintah, inkubasi, investasi, industri, dan pasar. Model itu berusaha mengubah kreativitas menjadi kapasitas produksi. Inilah inti Shenzhen ideology: keterbukaan terhadap inovasi dan bisnis tetap dipertahankan, tetapi diarahkan kepada kemajuan teknologi, pembangunan industri, dan kepentingan nasional.
Pelajaran terpentingnya bukan bahwa Indonesia harus menyalin Tiongkok secara utuh. Pelajarannya adalah bahwa kreativitas tidak tumbuh hanya karena anak muda diberi ceramah untuk bekerja keras. Kreativitas membutuhkan ekosistem. Anak muda membutuhkan tempat untuk bertemu, mesin untuk membuat prototipe, mentor untuk memperbaiki teknologi, investor untuk menyediakan modal, industri untuk melakukan produksi, dan pasar untuk membeli produknya. Motivasi dapat membangkitkan keberanian untuk bermimpi. Namun hanya akses kepada teknologi, modal, industri, dan pasar yang dapat mengubah mimpi menjadi kekuatan ekonomi.

Tinggalkan komentar