
Sejak meninggalkan Gedung ICC, Yana sudah berbisik agar saya mengantarnya ke apartemen. Saya mengenal nada itu. Antara 2008 dan 2013, sesekali ia pernah menyampaikan ajakan serupa. Saya selalu menemukan cara untuk menolak tanpa mempermalukannya. Ada pekerjaan yang belum selesai, penerbangan pagi, atau janji lain yang harus dipenuhi. Pertemanan kami pun berjalan sebagaimana adanya.
Yana bangga pada pencapaiannya. Ketika mengajak bertemu, ia memilih tempat yang sesuai dengan lingkungan pergaulannya, restoran hotel, lounge, atau café dengan pelayanan yang mewah. Saya biasanya membayar bill. Ia menerimanya dengan wajar, dan saya tidak pernah mempermasalahkannya. Namun, kadang saya menangkap kesan bahwa baginya, itu harga yang saya bayar untuk berteman dengan dia yang cantik dan berkelas.
Ia banyak bercerita. Tentang karier, persaingan di kantor, dan pria-pria yang pernah menjadi kekasihnya. Sebagian besar pengusaha atau CEO perusahaan asing. Sesekali ia membicarakan kehidupan intim mereka dengan keterbukaan yang membuat saya hanya bisa mendengarkan. Menurutnya, semua pria yang pernah jadi kekasihnya punya kehidupan sex yang buruk. Terlalu cepat bergairah namun berakhir nothing.
Tetapi ia hampir tidak pernah bertanya tentang pekerjaan saya. Yang diketahuinya, saya seorang freelance consultant di bidang perdagangan ekspor-impor. Pengetahuan itu tampaknya sudah cukup baginya. Saya pun tidak merasa perlu menambahkan sesuatu agar mendapat tempat yang berbeda dalam pandangannya.
Di balik sikapnya, saya melihat kemampuan yang besar. Ia lulus universitas dengan prestasi terbaik, menguasai bahasa Rusia, Inggris, Jerman, Jepang, bahkan Arab. Ia tajam sebagai analis, cepat membaca pergerakan pasar, dan berani mengambil posisi sebagai trader. Dalam investment strategy, ia mampu menghubungkan informasi yang bagi orang lain tampak terpisah. Ketika bernegosiasi, ia tidak mudah kehilangan ketenangan di hadapan orang yang lebih senior atau mempunyai jabatan lebih tinggi. Kelemahannya terletak pada ambisi dan pride yang kadang mendahului perhitungannya.
Ketika ia resign, saya menduga keputusan itu lebih banyak didorong sikap pride yang berlebihan dan kurang resilience. Selama bekerja, ada nama besar perusahaan di belakangnya. Orang menerima teleponnya, menyediakan waktu, dan membaca proposalnya. Setelah keluar, ia harus membuktikan kembali nilai yang dapat diberikannya tanpa dukungan logo korporat.
Dia yakin akan mudah cari kerja tempat lain. Namun ternyata tidak mudah. Kompetisi di industry jasa keuangan sangat keras, apalagi di Hong Kong. itu lebih berat daripada yang ia bayangkan. Kemampuannya tetap ada. Namun, biaya hidup terus berjalan, sementara pekerjaan baru tak kunjung didapat. Pride membuatnya sulit memperkecil pengeluaran, menerima pekerjaan yang dianggap kurang sepadan, atau mengakui bahwa ia sedang membutuhkan pertolongan.
Saya mengetahui keadaannya ketika Wenny bercerita bahwa Yana datang untuk meminjam uang guna membayar sewa apartemen. “Pinjamkan,” kata saya. “Bicarakan pengembaliannya dengan jelas. Tidak perlu mengatakan bahwa saya tahu.” Saya juga meminta Wenny tidak membuka percakapan tentang hubungan saya dengan Yuan. Saya ingin Yana berubah karena keadaan, Kalau sedikit saja dia turunkan pride nya, tentu dia akan lebih baik.
Belakangan, saya mengetahui persoalannya lebih jauh. Karena kerjaan tak kunjung didapat. Ia beralih ke wirasausaha. Untuk mengawali obsesinya mendirikan boutique investment firm, ia mengambil pinjaman dari private lender Rusia dengan jaminan nyawanya. Tenor pendek dan biaya tinggi menekan ruang geraknya sebelum usahanya mempunyai recurring revenue.
Utang itu segera mengubah urutan prioritasnya. Ia membutuhkan cash flow untuk bertahan dan memenuhi kewajiban. Dalam keadaan tersebut, ia mulai bekerja sebagai sales intermediary untuk produk private credit dari sebuah jaringan shadow banking.
Di sana, kemampuannya menemukan tempat. Ia harus memahami kebutuhan pihak yang mencari pembiayaan, dan menjelaskan struktur transaksi dalam beberapa bahasa. Namun, ia juga harus belajar bahwa closing fee membawa tanggung jawab: memahami produk, memeriksa counterparties, dan memastikan penawaran dilakukan dalam batas kewenangan serta ketentuan yang berlaku.
Jalur shadow banking itu akhirnya mempertemukannya dengan investment holding yang kemudian menjadi strategic partner. Hubungan tersebut berkembang karena ia mampu memberikan keuntungan nyata. Ia membawa peluang, membantu menyusun transaksi, dan menjaga pelaksanaannya sampai selesai. Itu business as usual. Mitranya tetap melakukan due diligence, menetapkan terms, dan mengharapkan return. Yana tetap harus menghasilkan pekerjaan yang layak dibayar.
Saya tahu pencapainya sekarang telah melewati banyak kesulitan, tekanan mental, kelelahan membujuk clients, mengancam dan bernegosiasi dalam setiap phase. Hari hari yang berat dan malam yang terasa Panjang, dan bangun pagi terasa berat namun dipaksa tetap melangkah.
Malam itu, ketika kepalanya bersandar di bahu saya, saya teringat perempuan yang dahulu begitu yakin bahwa jabatan dapat menjelaskan nilai seseorang. Kini ia mulai memeriksa kembali keyakinannya sendiri. Saya membelai rambutnya perlahan. Saya berharap ia baik baik saja.
“Sebaiknya kita tidak langsung ke apartemen kamu,” kata saya ketika kendaraan Yana meninggalkan kawasan ICC. “Saya ingin mampir ke sebuah café di Tsim Sha Tsui East.”
Yana menoleh sebentar “Café teman Rusiamu itu? Mau bernostalgia?”
Saya mengangguk. “Baru pukul sepuluh. Rasanya masih terlalu awal untuk pulang.”
Ia tersenyum tipis. Sejak meninggalkan restoran, Yana lebih banyak diam. Percakapan mengenai Golden Gate masih tertinggal di antara kami, meskipun ia tidak lagi menanyakannya.
Mobil melintasi jalan-jalan Kowloon yang masih ramai. Cahaya papan toko menyapu kaca depan. Di beberapa persimpangan, orang-orang menunggu lampu penyeberangan dengan tas belanja dan wajah lelah. Hong Kong selalu membuat saya merasa waktu berjalan dalam dua kecepatan: tergesa di trotoar, lalu melambat begitu orang duduk di hadapan minumannya.
Café itu berada menghadap laut namun dihalangi jalan, beberapa menit berjalan kaki dari promenade. Dari luar, jendelanya tampak seperti kotak cahaya berwarna madu. Di dekat pintu terdapat papan menu dan pot tanaman yang daunnya bergerak diterpa angin pelabuhan. Kami duduk di sudut dekat kaca. Musik instrumental terdengar pelan. Bau kopi masih tertinggal di udara, bercampur aroma roti panggang dan kayu tua. Yana melepas blazer, menyampirkannya pada sandaran kursi, lalu memandang sekeliling. “Tidak banyak berubah.”
“Pemiliknya mungkin tidak suka mengganti sesuatu yang masih bekerja.”
Ia tersenyum, tetapi senyum itu segera mereda.
“Sejak kita bertemu tahun 2008 sampai sekitar 2014, aku hanya mengenalmu sebagai konsultan,” katanya. “Sesudah itu kamu menghilang. Tahun 2019 baru aku mendengar kamu kembali aktif di Hong Kong. Itu pun lebih sering di Jakarta.”
“Saya masih datang sesekali.”
“Sesekali yang sulit diketahui orang.”
Saya mengambil daftar menu. Yana memperhatikan saya, lalu tertawa kecil. “Kamu selalu bisa bersembunyi di balik jawaban pendek.”
Saya meletakkan menu. “Bagaimana pekerjaanmu?”
Ia menggeleng, seolah sudah menduga saya akan mengalihkan percakapan. Namun, ketika mulai bercerita, suaranya perlahan mendapatkan kembali ketegasannya. “Tahun 2013 aku pernah mengatakan ingin mendirikan boutique investment firm. Kamu ingat?”
“Saya ingat.”
“Aku ingin mempunyai perusahaan kecil dengan tim yang benar-benar memahami transaksi yang kami tangani. Bukan mencoba menjadi investment bank yang mengerjakan semuanya.”
Ia mengusap embun pada gelas air.
“Fokusnya M&A dan capital advisory. Mencari perusahaan yang bisa dikembangkan, menyusun transaction structure, lalu mempertemukannya dengan investor yang sesuai. Kalau ada co-investment, harus melalui struktur dan persetujuan tersendiri. Aku tidak ingin batas antara advisory dan pengelolaan dana menjadi kabur.”
Saya mengangguk. Di situlah arti boutique baginya, layanan khusus, tim terbatas, dan keterlibatan langsung dalam setiap mandat. Ukurannya kecil, tetapi tanggung jawabnya tetap besar.
“Waktu itu aku mulai mencari seed capital,” lanjut Yana. “Tak seorang pun teman yang kukenal bersedia memberikan pinjaman. Bahkan pria-pria yang pernah begitu dekat denganku, yang pernah berbagi tempat tidur denganku, menolak ketika aku datang membawa business plan.”
Ia tersenyum getir.
“Kurang dari sebulan kemudian, datang undangan presentasi ke Moscow. Mereka memeriksa kompetensi, track record, dan network-ku. Proses due diligence hampir tiga bulan.”
Yana terdiam sebentar dan kemudian berkata lirih. “Mereka memberiku pinjaman USD 3 juta. Tetapi terms-nya…” Ia menarik napas. “Itu shark loan, B. Bunga tinggi, kewajiban pembayaran yang berat, dan konsekuensi yang membuatku takut.”
Saya menatapnya tanpa menyela.
“Dalam dokumen ada kewajiban yang harus kupenuhi. Di luar dokumen, ada ancaman yang membuatku merasa nyawaku ikut menjadi jaminan.”
Jemarinya berhenti pada tangkai gelas.
“Setahun berlalu, aku belum mendapatkan client yang menghasilkan fee cukup besar. Uangnya terus keluar untuk membayar bunga, sewa kantor, dan gaji pegawai. Aku masih datang ke kantor dengan pakaian rapi, memimpin meeting, menyuruh tim memperbaiki proposal. Tetapi setiap malam aku menghitung berapa lama lagi semuanya bisa bertahan.”
Yana kembali terdiam seakan berpikir atau membayangkan hal yang menakutnya. “Aku pikir, sebelum mereka datang menagih dengan cara yang kutakuti, lebih baik aku datang sendiri. Aku membawa laporan penggunaan dana, pipeline, dan penjelasan mengapa targetku gagal. Aku tawarkan bekerja untuk mereka. Mencari client dan membantu origination transaksi.”
Yana memandang saya.
“Aku tidak tahu apakah mereka akan menerimanya. Tetapi aku tahu reputasi dan network-ku masih mempunyai nilai bagi mereka. Aku menawarkan cara untuk mengembalikan uangnya melalui pekerjaan yang bisa kulakukan.”
Saya membelai rambutnya dan memberikan tissue untuk ia mengusap airmatanya.
“ Akhirnya kami menyepakati pengaturan pembayaran baru. Sebagian fee dari transaksi yang kubawa digunakan untuk melunasi kewajiban. Sejak itu aku menjadi sales intermediary mereka.”
Ia berhenti ketika pelayan datang menambahkan air. Setelah kami kembali berdua, suaranya terdengar lebih tenang.
“Butuh tiga tahun sampai utang itu lunas. Selama itu pula boutique investment firm-ku mulai berkembang. Aku belajar mencari client yang benar-benar mempunyai kebutuhan, memeriksa apakah sebuah transaksi layak diteruskan, dan memahami kapan sebaiknya menolak mandat.”
Yana terdiam dan menunduk. “ Pelajaran yang mahal, bahkan sangat mahal. Aku seperti keset kaki mereka selama 3 tahun. Apalagi kamu tahu, orang Rusia sangat kasar bicaranya. “
Ia menunduk sebentar, kemudian melanjutkan.
“Tahun 2018, mereka menawarkan kemitraan strategis dengan investment holding tempat mereka mempunyai controlling interest. Prosesnya hampir setahun. Ada review terhadap perusahaanku, struktur kerja sama, pembagian kewenangan, dan mekanisme co-investment. Tahun 2019, kami diterima sebagai investor associate Golden Gate.”
Yana duduk lebih tegak.
“Belakangan aku mengetahui bahwa jaringan private lender Rusia itu menggunakan sebuah corporate vehicle yang terdaftar di Budapest. Struktur grupnya melintasi beberapa yurisdiksi.”
Ia mengamati wajah saya. “Ada nama Mr. B yang beberapa kali disebut dalam pembicaraan.”
Saya tidak merespons. Saya membiarkannya melanjutkan.
“Yang membuatku heran, setiap transaksi melalui investment holding tetap harus melewati compliance review. KYC, AML, beneficial ownership, sanctions screening—semuanya diperiksa.”
“Bagaimana mereka menjelaskan source of funds dan source of wealth?”
“Itu juga menjadi bagian pemeriksaan. Legal dan compliance meminta dokumen pendukung. Kalau ada yang belum jelas, prosesnya ditahan.”
Saya mengangguk pelan. Pemeriksaan itu penting. Itu cara shadow banker bertahan hidup ditengah ruang abu abu.
Di luar jendela, beberapa orang berjalan menuju promenade. Yana mengikuti gerak mereka sesaat sebelum kembali menatap saya.
“Investment portfolio mereka besar. Ada exposure pada perusahaan global, termasuk sejumlah perusahaan Fortune Global 500. Tetapi yang mereka cari dariku justru transaksi yang tidak bisa mereka dapatkan hanya dengan membeli saham di pasar.”
“M&A?”
“Iya. Mempertemukan perusahaan yang punya teknologi dengan perusahaan yang mempunyai distribution network. Atau memperbaiki supply chain melalui akuisisi. Kami harus bisa menunjukkan dari mana synergy akan datang, berapa integration cost-nya, dan siapa yang bertanggung jawab menjalankan post-merger integration.”
Kini suaranya lebih mantap.
“Aku ingin perubahan business model menghasilkan operating improvement. Aku ingin bisa kembali setahun kemudian dan melihat biaya turun, pasar bertambah, atau produksi menjadi lebih baik.”
Saya memperhatikan wajahnya. Pride berlebihan tidak lagi nampak. Yang ada sikap hati hati dan humble. Sikap itu muncul ketika ia membicarakan pekerjaan yang dipahaminya—pekerjaan yang telah memberinya jalan keluar dari ketakutan bertahun-tahun lalu.
“Di situlah nilaimu bagi mereka,” kata saya.
Yana terdiam, lalu mengangguk kecil.
Untuk beberapa saat, ia tidak lagi menyebut Mr. B. Ia mulai bercerita tentang transaksi pertamanya, tentang negosiasi yang hampir gagal, dan malam ketika fee pertama akhirnya masuk ke rekening perusahaan. Saya mendengarkan. Kali ini, yang saya lihat seorang perempuan yang sudah lulus, bukan karena pride tapi karena rendah hati.
“Kamu memang mempunyai kapasitas untuk itu,” kata saya. “Kamu tekun, tegas kepada tim, dan cukup tahan menghadapi proses yang panjang.”
Yana memandang saya.
“Pujianmu selalu terdengar seperti hasil performance review.”
Saya tertawa pelan. “Setidaknya ada dasarnya.”
“B?”
Saya menoleh. Seorang pria berdiri di antara meja, rambutnya mulai memutih di pelipis. Sesaat kami saling memandang, kemudian ia membuka kedua tangan.
“Alex.” Seru saya.
Kami berpelukan. Saya mengenalnya di Moscow pada 2010, dalam masa ketika sebagian besar percakapan kami berlangsung di antara jadwal rapat, perjalanan mobil, dan makan malam yang terlalu larut.

“Teman lama saya,” katanya kepada Yana setelah saya memperkenalkan mereka. “Orang paling pendiam di ruangan. Sampai seseorang menyebut peluang bisnis.”
“Kalau begitu aku mengenal orang yang sama,” kata Yana.
Alex menarik kursi setelah saya mempersilakannya. “Dia bisa mendengar satu jam tanpa mengatakan apa-apa. Lalu satu pertanyaan darinya membuat presentasi harus dimulai kembali.”
Yana tertawa. Ketegangan di wajahnya mulai mencair. “Tetapi aneh,” katanya. “Orang sependiam ini punya banyak teman.”
“Karena dia jarang membuat orang merasa harus kalah agar percakapan selesai,” jawab Alex. “Kami pernah berbeda pendapat cukup keras. Besok paginya dia tetap mengirim data yang saya perlukan.”
Saya senyum aja.
“Tapi dia petarung hebat,” kata Alex. “Saya pernah melihatnya berkelahi di sebuah bar di Saint Petersburg. Tiga pria bertubuh besar dijatuhkannya dalam waktu kurang dari lima menit.”
Yana menoleh kepada saya.
“Yang lucu justru sesudahnya,” lanjut Alex, tersenyum. “Begitu mereka terjatuh, dia berhenti. Lalu dia membayar bill mereka dan memeluk mereka satu per satu. Saya sampai bingung, dia baru selesai berkelahi atau baru mendapat teman.”
Kami tertawa.
Pelayan datang. Alex memesan satu carafe kecil vodka dan makanan pendamping: roti hitam, acar mentimun, serta kentang panggang. Saya meminta air mineral disediakan lebih banyak.
Ketika pelayan pergi, Alex memandang keluar jendela. “Bagaimana kalian membaca ketegangan NATO dan Rusia?” Suaranya berubah. Ada jeda sebelum ia melanjutkan. “Saya punya keluarga dan teman di sana. Belakangan setiap percakapan telepon selalu berakhir dengan pertanyaan yang sama: keadaan akan memburuk atau tidak?”
Yana meletakkan kedua tangan di meja. “Yang membuatku khawatir justru kemungkinan insiden terbatas berubah menjadi bentrokan langsung. Semua orang merasa masih bisa mengendalikan respons.”
“Drone, pesawat, pertahanan udara?” tanya Alex.
Yana mengangguk.
“Semakin sering mereka berinteraksi di sekitar perbatasan, semakin besar kemungkinan salah identifikasi. Lalu ada tekanan untuk menunjukkan bahwa wilayah sendiri bisa dilindungi.”
“Dan penguatan pertahanan satu pihak dibaca sebagai persiapan menyerang oleh pihak lain,” kata saya.
“Security dilemma,” sahut Yana. “Masing-masing menjelaskan langkahnya sebagai tindakan defensif.”
Alex memutar gelas kosong di antara jemarinya.
“Orang yang punya keluarga di kedua sisi tidak mendapat banyak ketenangan dari penjelasan itu.”
Saya memahami kegelisahannya. Di layar berita, negara tampil sebagai satu suara. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang ingin memastikan ibunya mempunyai obat dan anaknya tidak kehilangan sekolah.
“Sabotase dan cyberattack menambah masalah,” lanjut Yana. “Kadang pelakunya belum dapat dipastikan, tetapi publik sudah menuntut respons. Tuduhan, bukti, dan keputusan politik berjalan dengan kecepatan berbeda.”
“Belum lagi nuclear warning,” kata Alex.
“Ancaman itu harus dianggap serius,” jawab saya. “Tetapi kesiagaan dan retorika belum cukup untuk menyimpulkan perang langsung sudah dekat. Kita perlu melihat tindakan, pengerahan, dan jalur komunikasi yang masih bekerja.”
Alex mengangguk perlahan.
“Yang saya takutkan,” katanya, “kedua pihak sama-sama yakin lawannya akan mundur.”
Tidak ada yang segera menjawab.
Pelayan meletakkan minuman. Bunyi carafe menyentuh meja terasa lebih jelas daripada musik di ruangan. Alex menuangkan sedikit vodka, lalu mengangkat gelasnya. “Untuk teman-teman yang masih bisa pulang.”
Kami menyentuhkan gelas.
“Kalau ketegangan meningkat, bagaimana kalian membaca crude oil, gas, dan bond market?” tanya Alex setelah beberapa saat.
Yana meraih selembar tisu, tetapi hanya melipatnya.
“Pertama, risk premium naik. Untuk crude oil, aku ingin tahu berapa supply yang benar-benar hilang. Pengalihan cargo ke pembeli lain belum tentu mengurangi supply global.”
“Jadi, harga bisa naik lebih dahulu karena ketakutan,” kata Alex.
“War premium,” jawabnya. “Tetapi supaya kenaikannya bertahan, biasanya harus ada gangguan yang nyata atau pasar memperkirakan gangguan itu berlangsung lama. Kalau akhirnya pertumbuhan ekonomi melemah, demand juga bisa turun.”
“Gas lebih rumit,” kata saya. “Ada ketergantungan pada pipeline, liquefaction, kapal LNG, dan regasification. Cargo yang tersedia belum tentu bisa langsung menggantikan pasokan di tempat yang membutuhkannya.”
“Dan Eropa bisa bersaing dengan Asia mendapatkan spot cargo,” tambah Yana. “Pergerakan TTF, JKM, dan Henry Hub tidak harus sama. Kapasitas ekspor, transportasi, serta infrastruktur masing-masing membatasi hubungan harganya.”
Alex menyandarkan punggung.
“Teman saya di manufacturing lebih takut lead time daripada harga komoditas.”
“Itu masuk akal,” kata saya. “Harga masih bisa dimasukkan ke perhitungan. Ketidakpastian barang tiba membuat production schedule sulit dipertahankan.”
Yana mengangguk.
“Freight naik, insurance bertambah mahal, rute berubah. Perusahaan lalu menambah safety stock. Inventory membesar, sementara kas tertahan lebih lama.”
“Trade finance juga belum tentu longgar,” sambung saya. “Sanctions screening bisa memperlambat pembayaran. Lender meminta dokumen tambahan, menaikkan spread, atau memperketat collateral.”
“Barang ada, pembeli ada, tetapi uangnya tersangkut,” kata Alex.
“Atau barang belum tiba, sementara kewajiban kepada bank sudah jatuh tempo.”
Saya teringat masa-masa ketika satu shipment yang terlambat cukup untuk mengubah seluruh rencana bulanan. Dalam laporan, nilai barang itu masih tercatat sebagai aset. Di rekening, uangnya sudah tidak tersedia.
“Perusahaan bisa tetap mencatat profit dan mengalami liquidity stress,” kata Yana. “Cash conversion cycle memanjang, tetapi debt service tidak ikut menunggu.”
Alex memandang saya. “Indonesia?”
“Kalau crude oil naik bersamaan dengan penguatan dolar, biaya impor energi dalam rupiah bisa meningkat. Dampaknya akan berbeda menurut sektor. Ada eksportir yang terbantu harga komoditas, ada industri yang marginnya tertekan. Pemerintah juga harus memilih bagaimana menanggung atau meneruskan kenaikan biaya itu.”
“Dan kalau yield SBN ikut naik?” tanya Yana.
“Tekanannya bertambah. Perusahaan menghadapi biaya operasi dan pembiayaan sekaligus.”
Yana menoleh kepada Alex. “Bagaimana kamu membaca sikap Rusia sendiri?”
Alex menatap gelasnya sebelum menjawab. “Saya tidak berbicara mewakili pemerintah. Dari pernyataan yang kita baca, Moskow masih membuka diplomasi sambil mempertahankan tekanan militer.”
“Berunding tanpa menghentikan operasi,” kata Yana.
“Iya. Dan mereka ingin peringatan mengenai Kaliningrad serta akses Baltik dipahami sebagai sesuatu yang serius. Tetapi mendengar penjelasan pemerintah sendiri setiap hari juga tidak berarti saya mengetahui seluruh perhitungannya.”
Ia mengangkat wajah.
“Orang Rusia pun bisa cemas. Kami mempunyai pekerjaan, keluarga, dan tabungan. Kami memikirkan masa depan dengan cara yang tidak selalu sama dengan pidato.”
Yana menatapnya lebih lembut.
“Untuk pasar,” kata saya, “pernyataan damai bisa mengurangi war premium sementara. Supaya penurunannya bertahan, orang perlu melihat keamanan pelayaran, berkurangnya serangan, dan kesepakatan yang benar-benar dijalankan.”
Alex mengangguk. “Jadi, kalian juga tidak membeli ketenangan hanya dari pernyataan.”
“Kami tetap mendengarkan,” jawab saya. “Lalu memeriksa apa yang berubah.”
Alex menggeser kursinya sedikit. “Apakah semua ketidakpastian itu bisa membuat investor keluar dari emerging markets, masuk ke US Treasury, lalu yield Treasury turun?”
“Bisa. Flight to safety atau flight to quality,” jawab saya. “Investor mengurangi aset yang risikonya tidak ingin mereka tanggung. Sebagian dana masuk ke US Treasury atau instrumen dolar yang lebih likuid. Pembelian Treasury menaikkan harganya dan menurunkan yield.”
“Sementara emerging markets kehilangan pembeli,” kata Yana.
“Sebagian investor menjual obligasi atau saham, menukar mata uang lokal menjadi dolar, lalu memindahkan dana. Mata uangnya bisa tertekan. Harga obligasi lokal juga bisa turun sehingga yield naik.”
“Yield Amerika turun, yield negara lain naik,” ujar Alex.
“Iya. Tetapi untuk dollar-denominated bond, kita harus memisahkan benchmark Treasury dan credit spread.”
Saya menarik selembar kertas kecil dari dekat menu, lalu meminjam pena Alex. “Misalnya Treasury turun dari 4,5 persen menjadi 4,2 persen. Sebelumnya spread obligasi perusahaan dua persen. Yield-nya sekitar 6,5 persen.”
Saya menuliskan dua angka lagi. “Kalau spread melebar menjadi 2,8 persen, yield obligasinya menjadi sekitar tujuh persen. Benchmark turun, tetapi total financing cost naik.”
Yana mendekat untuk melihat. “Karena tambahan premi risikonya lebih besar daripada penurunan Treasury.”
“Betul. Itu ilustrasi sederhana. Pricing transaksi sebenarnya masih dipengaruhi tenor dan ketentuan instrumennya.”
Alex membaca angka itu beberapa saat. “Berarti likuiditas bisa terasa semakin mahal bagi kami ketika orang justru membeli keamanan lebih murah di tempat lain.”
“Investor sedang mengubah risiko yang bersedia mereka pegang,” kata saya. “Dana yang meninggalkan satu pasar tidak otomatis kembali hanya karena yield di tempat tujuannya sudah turun.”
“Namun Treasury sendiri belum tentu terus menguat,” tambah Yana. “Kalau gangguan energi menaikkan inflation expectations, yield bisa tertahan atau naik lagi. Pasar juga memperhitungkan fiscal outlook dan supply obligasi.”
Saya mengangguk. “Karena itu, saya lebih suka memakai beberapa skenario daripada satu ramalan.”
Yana kembali duduk tegak. “Untuk SBN, investor domestik bisa menjadi penyangga. Tetapi kapasitasnya juga mempunyai batas. Bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun mempunyai kebutuhan serta kewajiban sendiri.”
“Apalagi kalau pemerintah dan sektor swasta sama-sama membutuhkan dana,” kata saya. “Ada potensi crowding out, meskipun besar-kecilnya harus dilihat dari likuiditas, pertumbuhan kredit, dan perilaku investornya. Jangan langsung menganggap setiap pembelian SBN mengurangi kredit dalam jumlah yang sama.”
Alex tersenyum lelah. “Semakin lama berbicara dengan kalian, semakin sedikit jawaban yang bisa diringkas menjadi ‘naik’ atau ‘turun’.”
“Setidaknya kita tahu apa yang perlu diperhatikan,” kata Yana.
Carafe masih menyisakan minuman ketika jam mendekati tengah malam. Seorang pelayan merapikan meja di dekat pintu. Di luar, angin menggerakkan ujung mantel seorang pejalan kaki. Ponsel Alex menyala. Ia membaca pesan, lalu membalasnya dengan kedua ibu jari.
“Anak saya,” katanya. “Menanyakan kapan saya pulang.”
“Jawab dulu,” kata saya.
Ia mengetik beberapa kalimat lagi. Setelah itu, wajahnya tampak lebih ringan. Yana melihat catatan angka di meja, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam tas. “Boleh kusimpan?”
“Itu hanya contoh.”
“Aku tahu.”
Saya tidak menanyakan alasannya.
Kami berdiri beberapa menit kemudian. Alex mengantar sampai pintu. Ketika berpelukan, ia menepuk punggung saya lebih lama daripada saat menyambut. “Lain kali jangan menunggu bertahun-tahun.”
“Kamu juga bisa menghubungi saya.”
“Dengan jawaban satu kalimat?”
“Kalau pertanyaannya cukup jelas.”
Ia tertawa. Kali ini tawanya tidak terdengar dipaksakan.
Di trotoar, Yana merapatkan blazer. Kami berjalan menuju mobil tanpa terburu-buru. “Malam ini kamu lebih banyak bicara,” katanya.
“Alex mengajukan banyak pertanyaan.”
“Aku juga.”
Saya menoleh. Ia tersenyum kecil.
Di dalam kendaraan. “ Mau kemana kita ?
“ Antar saya ke hotel” kata saya. Ia mengangguk, lalu meminta sopir mengantar saya ke Mandarin Oriental.
Kami duduk berdampingan di kursi belakang. Lampu jalan bergantian menyapu wajah Yana. Beberapa kali ia menoleh kepada saya, seperti sedang menyusun pertanyaan yang sejak tadi belum selesai.
“Di Ale Capital, namamu tidak ada dalam struktur pemegang saham maupun management,” katanya. “Tetapi belakangan aku mendapat kesan bahwa keputusan penting tetap menunggu pendapatmu. Di perusahaan Budapest itu juga begitu. Namamu tidak tercantum, tetapi…”
“Tetapi apa?”
“Victor sering menyebut Mr. B ketika ada keputusan yang perlu dibicarakan lebih lanjut.” Ia berhenti sebentar. “Apakah itu Mr. B yang sama dengan yang disebut orang-orang Ale Capital?”
Saya memandang jalan di balik kaca.
“Kadang orang mendengar nama yang sama di dua ruangan, lalu merasa sudah menemukan seluruh bangunannya.”
“Aku tidak sedang menebak tanpa dasar.”
“Saya tahu kamu terbiasa mencari hubungan. Tetapi hubungan yang terlihat belum tentu menjelaskan siapa memiliki apa.”
Yana terdiam. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.
“Kalau begitu, mungkin modal awal USD 3 juta untuk mendirikan boutique investment firm itu juga berasal darimu secara tidak langsung,” katanya.
Saya menoleh.
“Yana, jangan mengecilkan dirimu sendiri.”
“Aku hanya ingin tahu kepada siapa sebenarnya aku berutang.”
“Kewajiban kepada pihak yang memberikan financing sudah kamu selesaikan, bukan?”
Ia mengangguk.
“Lalu mengapa sekarang kamu mencari utang lain untuk dibawa pulang?”
Yana menatap saya. Matanya mulai berkaca-kaca.
“B, kamu ingat? Selama mengenalmu, mungkin kamu pernah merasa aku arogan. Aku memang pernah memandang rendah dirimu. Saat itu aku manager senior pada Lembaga keuangan international. Dan kamu sebagai konsultan yang tidak jelas.”
Saya membiarkannya melanjutkan.
“Waktu kamu mabuk di café, aku tidak peduli. Kemudian Wenny datang dan memapahmu pulang ke apartemen. Aku malah berpikir, mengapa perempuan sepintar dia mau bersusah payah mengurus seorang pria yang menurutku hanya konsultan.”
Ia menunduk, meremas tisu di tangannya.
“Aku mengira Wenny bodoh karena mau diperlakukan seperti itu. Padahal aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan kalian. Aku hanya melihat jabatanmu, lalu merasa sudah cukup untuk menilai dirimu.”
Cahaya lampu jalan bergerak melintasi wajahnya. Suaranya semakin pelan.
“Sementara ketika aku mabuk, kamu mengantarku ke hotel bintang lima. Aku berendam di bathtub dalam keadaan hampir tidak sadar. Kalau kamu tidak menemukanku dan menolongku malam itu…” Ia berhenti sejenak. “Padahal kita baru bertemu. Bahkan nama masing-masing pun belum tahu.”
Ia mengusap air mata sebelum melanjutkan.
“Kamu membayar bill, membayar kamar, dan jasmu rusak terkena muntahku. Sesudahnya, aku bahkan tidak bertanya berapa yang sudah kamu keluarkan. Aku menerima semuanya seolah-olah itu memang wajar.”
Saya menoleh kepadanya.
“Lalu ketika aku berhenti dari perusahaan sekuritas, tabunganku menipis. Aku tidak sanggup membayar sewa apartemen. Aku datang kepada Wenny untuk meminjam uang tanpa memberitahumu.”
Yana terdiam sejenak.
“Wenny tidak banyak bertanya. Aku mengembalikannya kemudian, dan bagiku urusannya selesai. Aku tidak pernah memikirkan kembali bagaimana aku pernah meremehkan perempuan yang justru memberiku pertolongan.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku tidak sedang mengatakan uang Wenny itu uangmu. Aku tidak tahu. Tetapi sekarang aku malu mengingat betapa mudahnya aku menerima kebaikan kalian, sementara dalam pikiranku aku merasa lebih tinggi.”
Di luar, kendaraan berhenti di lampu merah. Yana memandang kedua tangannya.
“Aku selalu bangga karena bisa membayar utang,” bisiknya. “Ternyata aku terlalu sibuk menghitung uang yang sudah kukembalikan sampai lupa memeriksa sikapku sendiri.”
Saya tidak segera menjawab. Ia belum memerlukan pembelaan ataupun nasihat. Malam itu, untuk pertama kalinya, Yana sedang berusaha memandang masa lalunya tanpa mencari alasan untuk membenarkan diri.
“Kini perusahaanku bernilai ratusan juta USD. Gajiku sebagai CEO lebih dari USD 2 juta setahun. Aku juga mempunyai mitra strategis berkelas dunia.”
Yana berhenti sejenak, lalu menatap saya.
“Aku tahu sudah bekerja keras. Tetapi semakin jauh aku berjalan, semakin kusadari bahwa kerja keras saja tidak menjelaskan semua kesempatan yang kudapat. Ada pintu-pintu yang terbuka ketika aku bahkan belum tahu harus mengetuk ke mana.”
Suaranya melembut.
“Aku merasa ada tangan yang membukakannya. Hanya saja, selama ini aku terlalu bangga pada langkahku sendiri sampai tidak pernah bertanya siapa yang memegang pintu itu.”
“Andaikan pintu itu dibukakan seseorang,” lanjut saya, “apakah kamu mengira seluruh perjalanan sesudahnya menjadi mudah? Kamu tetap melewati due diligence, mempertahankan kepercayaan, membangun tim, dan mengembalikan modal. Tidak semua orang mampu melakukannya. Banyak wanita cantik seperti kamu berakhir jadi selir dan dibuang setelah membosankan.”
“Tetapi tanpa kesempatan pertama itu…”
“Kesempatan pertama tidak menjamin kesempatan kedua. Kamu yang membuat orang bersedia bekerja sama lagi.”
Mobil melambat di sebuah persimpangan. Saya menunggu sampai Yana kembali menatap saya. “Berhentilah mencari seseorang untuk menerima seluruh penghargaan atas hidupmu, Yan. Periksa juga apa yang sudah kamu kerjakan dengan tanganmu sendiri.”
Ia mengusap sudut matanya. “Kamu tetap tidak menjawab.”
“Saya hanya tidak ingin kamu tersesat karena terlalu lama memandang ke luar. Sesekali lihat ke dalam. Di sana ada keberanianmu, ketekunanmu, juga keputusan-keputusan sulit yang tidak bisa diambil siapa pun untuk menggantikanmu.”
Yana menyandarkan punggung. Kali ini ia tidak segera mengajukan pertanyaan lagi. Saya membiarkannya diam. Ada jawaban yang terus dicari seseorang karena ia belum bersedia mempercayai dirinya sendiri.
Dalam perjalanan, saya melihat orang-orang menurunkan pintu toko dan mengangkat peti terakhir dari sebuah kendaraan pengiriman. Pembicaraan kami tentang freight, inventory, dan financing cost tiba-tiba mempunyai bentuk yang sederhana: barang yang harus sampai, upah yang harus dibayar, dan seseorang yang masih bekerja agar esok pagi usahanya dapat dibuka kembali.
Yana merebahkan kepala di bahu saya. Dari music digita di kendaraan terdengar musik pelan. In the silence of the night I dream of you. Your face appears my love so true. My tear fall slowly down my face. My longing for you cannot be restrained. We used always be together. Now you are far away somewhere. I am waiting for you.. Tangisnya mula-mula tertahan, lalu pecah menjadi isakan. Saya membelai rambutnya perlahan. Di balik kaca kendaraan, cahaya kota berlalu tanpa suara.
Saya tidak ingin kedekatan ini membuatnya kehilangan kemandirian. Dalam bahasa bisnis yang paling saya pahami, saya berharap ia tumbuh menjadi asset, seseorang yang mampu menciptakan nilai dan mengambil keputusan dengan kesadaran sendiri. Bukan tumbuh menjadi liabilities yang setiap waktu bergantung kepada saya dan memaksa saya harus menanggung.
Karena itu, saya membiarkan beberapa pertanyaan Yana tetap tanpa jawaban. Pikiran saya kembali pada percakapan dengan Alex: apa sesungguhnya yang dipertaruhkan dalam ketegangan Rusia–NATO? Negara-negara dengan sumber daya besar, lembaga riset, dan persenjataan nuklir tentu memahami akibat eskalasi. Namun, mengetahui risiko tidak selalu membuat manusia mampu mengendalikan keadaan. Ada kepentingan, ketakutan, dan keputusan yang dapat menyeret mereka melewati batas yang semula ingin dijaga.’
“Kadang aku berpikir pasar juga menjadi bagian dari pertarungan ini,” bisik Felix saat bertemu dengan saya di Maladewa. “Ketika orang takut, mereka mencari dolar dan US Treasury. Kalau permintaannya naik, yield bisa turun. Pemerintah AS bisa memperoleh pembiayaan baru dengan biaya lebih rendah.” Tapi saya harus bicara apa kepada orang awam. Bialah mereka menduga duga dalam narasi politik dan militer. Dunia keuangan bukan ranah publik untuk membuat orang tercerahkan. Malam itu, Yana tidak harus segera memahami semuanya. Dan membiarkan saya pergi keluar kendaraan tanpa mengundangnya ke kamar.

Tinggalkan Balasan