Negara gagal : Hukum lemah, Index Korupsi buruk

Saya mengenal Abigail sebelum perang saudara menghancurkan Suriah. Dalam ingatan saya, Aleppo pada masa itu masih memiliki pagi yang sibuk: deretan toko membuka pintu, aroma kopi menguar dari kedai, dan orang-orang berjalan membawa urusan yang tampaknya akan selalu dapat mereka lanjutkan esok hari.

Abigail seorang perempuan Suriah keturunan Armenia. Rambutnya cokelat gelap, sedikit berombak ketika dibiarkan menyentuh bahu. Alisnya tegas, hidungnya berprofil halus, dan matanya cokelat tua, dengan tatapan yang langsung tertuju kepada lawan bicara. Ia cantik tanpa banyak usaha untuk menarik perhatian. Ketika mendengarkan, kepalanya sedikit dimiringkan; ketika menemukan kekeliruan dalam dokumen, dahinya berkerut sebelum ia mengajukan pertanyaan.

Kecantikannya mudah dikenali. Ketelitiannya membuat saya mengingatnya. Waktu itu, ia membantu saya mengurus sejumlah kepentingan bisnis di sana. Ia mengenal lingkungan setempat, teliti dalam bekerja, dan tahu kepada siapa kami harus bertanya ketika suatu urusan menemui jalan buntu.

Perlahan, percakapan kami berubah. Pertanyaan tentang pengiriman barang disusul kabar jalan yang ditutup. Pertemuan ditunda. Nomor yang biasanya segera menjawab mulai lama berdering. Saya masih menyimpan ingatan tentang suaranya yang berusaha terdengar biasa, seolah dengan begitu kehidupan dapat dipertahankan seperti semula.

Ketika perang meluas, kabar darinya semakin jarang. Sampai akhirnya saya mengetahui bahwa keluarganya dibunuh dan ia masih terjebak di wilayah konflik.

Saya menemui Victor di tempat singgah tim. Tirai ditutup meskipun hari belum gelap. Di atas meja ada cangkir kopi yang meninggalkan lingkaran cokelat pada kertas dan beberapa perangkat komunikasi. Suara generator terdengar berat dari luar. Victor mendongak ketika saya masuk, lalu menggeser kursi agar kami dapat berbicara berhadapan. “Kamu jemput Abigail. Atur supaya dia bisa keluar dari wilayah konflik dan mendapat perlindungan di Armenia,” kata saya.

Victor tidak segera menjawab. Ia memahami maksud saya, tetapi keselamatan orang-orang yang akan ditugaskannya juga menjadi tanggung jawabnya.

“Situasinya terus berubah, B. Saya belum bisa memastikan kita dapat membawa dia keluar dengan selamat.”

Saya memahami keberatannya. Di wilayah seperti itu, uang dapat menyediakan perlengkapan, tetapi tidak dapat menjamin seseorang kembali hidup-hidup. Namun, tim tentara bayaran yang bekerja bersama Victor justru menyatakan kesediaan. “B, Anda sudah membayar kami. Tetapi ada satu penugasan Anda sebelumnya yang gagal kami tuntaskan,” kata salah seorang dari mereka. “Kami ingin mengambil tugas ini.”

“Ini bukan soal menebus kegagalan,” jawab saya. “Saya tidak ingin kalian berangkat hanya karena merasa berutang kepada saya.”

Lelaki itu mengangguk, kemudian melanjutkan dengan suara tenang. “Anda begitu peduli kepada Abigail, padahal keyakinan Anda berbeda dengannya. Kami sendiri sama-sama Kristen. Kami merasa harus berbuat sesuatu. Kami bersedia membawanya keluar, meskipun risikonya besar. Tetapi kami membutuhkan dukungan logistik.”

Victor menatap mereka bergantian. Ia tampak terkejut mendengar ketegasan orang-orang yang biasanya membicarakan penugasan dengan bahasa singkat dan pertimbangan dingin.

“Saya menghormati alasan kalian,” kata saya. “Yang ingin kita selamatkan adalah seorang manusia. Saya berharap kalian juga pulang dengan selamat.”

Setelah menilai kembali kemungkinan pelaksanaannya, Victor akhirnya menyetujui misi itu. Saya menyediakan dana untuk kebutuhan perlengkapan, transportasi, dan dukungan lapangan yang mereka ajukan.

Malamnya, saya mendengar mereka rapat. Lampu meja menerangi wajah-wajah lelah. Sesekali seseorang berdiri untuk mengambil air, lalu kembali ke kursinya. Percakapan berhenti ketika informasi belum jelas, diteruskan setelah ada yang memeriksanya. Saya duduk agak jauh, membiarkan mereka bekerja. Dari percakapan yang sampai ke telinga saya, terasa betapa serius mereka mempersiapkan tugas tersebut.

Mereka memeriksa informasi, membahas perubahan keadaan, dan mempertimbangkan kemungkinan yang mengharuskan rencana dibatalkan. Lebih dari tiga bulan berada di wilayah konflik membuat mereka memahami bahwa keadaan dapat berubah dalam hitungan menit. Tidak ada yang membicarakan keberanian dengan nada membanggakan diri. Mereka justru banyak bertanya dan saling mengoreksi.

Saya memperhatikan mereka dari kejauhan. Di balik ketenangan profesional itu, masing-masing memahami bahwa ada kemungkinan mereka tidak kembali. Menjelang subuh, mereka berangkat. Udara di luar masih dingin. Seseorang merapatkan kerah, sementara yang lain memeriksa barang bawaannya untuk terakhir kali. Saya memperhatikan wajah mereka satu per satu, berusaha mengingat orang-orang yang sebentar lagi hanya bisa saya tunggu kabarnya. Saya hanya menyalami mereka satu per satu.

“Bawa dia pulang. Kalian juga.”

Kemudian saya kembali ke Hong Kong, membawa kecemasan yang tidak bisa saya tinggalkan di bandara.

Pagi berikutnya, cahaya pucat masuk melalui jendela tempat saya menginap di Hong Kong. Di bawah, kota telah bergerak. Kendaraan merayap di antara gedung, dan seseorang di koridor mendorong troli dengan roda yang sesekali berdecit. Saya hampir tidak tidur malam itu.

Sebuah pesan masuk melalui Safenet. “Mission accomplished. Abigail is safe in Yerevan.” Di bawah pesan itu ada foto Abigail sedang sarapan di sebuah hotel bersama tim. Wajahnya tampak letih. Ia duduk dengan bahu sedikit membungkuk, kedua tangannya mengelilingi cangkir di hadapannya. Namun, ia hidup. Untuk sementara, ia sudah berada di tempat aman. Saya memperbesar foto itu dan lama menatapnya. Setelah berhari-hari membayangkan kemungkinan terburuk, saya akhirnya bisa menarik napas panjang.

Sejak misi tersebut, hubungan Victor dengan tim itu menjadi semakin erat. Mereka terus bekerja bersamanya dalam sejumlah penugasan yang saya percayakan kepada tim Shadow. Kepercayaan tumbuh melalui tanggung jawab yang dipikul bersama dan kesediaan untuk menjaga satu sama lain.

Tidak lama kemudian, urusan bisnis membawa saya ke Yerevan. Kota itu menyambut saya dengan deretan bangunan batu berwarna merah muda kecokelatan. Menjelang sore, bayangan memanjang di trotoar, dan cahaya pada fasad bangunan perlahan menjadi hangat.

Saya menemuinya di lounge sebuah hotel. Abigail duduk dekat jendela, mengenakan kardigan longgar yang membuat tubuhnya terlihat lebih kecil. Rambutnya diikat seadanya. Ada cekungan tipis di bawah matanya. Ketika melihat saya, ia berdiri terlalu cepat, lalu berhenti seperti tidak tahu apakah harus mengulurkan tangan atau mendekat.

“B,” katanya.

Saya memeluknya. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri kaku, kemudian jemarinya mencengkeram bagian belakang baju saya.

Di kota itulah saya kembali bertemu Abigail. Dahulu kami membicarakan pekerjaan dan rencana usaha. Kini, saya lebih banyak mendengarkan, sementara ia berusaha menemukan kata-kata untuk menceritakan apa yang telah menimpa dirinya.

“B, saya berusaha memaafkan. Tetapi setiap kali mendengar azan, trauma itu datang lagi. Saya melihat mereka menyembelih ayah, ibu, dan kakak saya sambil mengumandangkannya. Setelah selesai, mereka menyebut nama Allah. Saya tidak tahan mengingat orang-orang yang saya cintai begitu tak berdaya, lalu meninggal dengan cara seperti itu.”

Air matanya mengalir. Ia tidak terisak keras. Hanya napasnya yang terputus-putus, sementara pandangannya menetap pada sesuatu yang tidak ada di ruangan itu. Saya menggeser gelas air agar lebih dekat, lalu menggenggam jemarinya. Tangannya dingin. Tidak ada kalimat yang terasa pantas untuk menjawab kesaksian seperti itu. Ketika ia menyandarkan kepala ke dada saya, saya memeluknya tanpa berkata-kata. Dalam tubuhnya yang gemetar, saya merasakan betapa rapuhnya peradaban ketika manusia kehilangan belas kasih, tetapi tetap merasa memiliki pembenaran.

Selama seminggu mengurus bisnis di Yerevan, saya semakin mengenal Abigail secara pribadi. Kami beberapa kali berjalan setelah saya menyelesaikan pertemuan. Ia lebih suka sisi trotoar yang jauh dari lalu lintas. Bila sebuah suara keras terdengar mendadak, langkahnya berhenti dan matanya segera mencari sumbernya. Saya ikut berhenti, menunggu sampai ia siap berjalan lagi.

Ada sore ketika ia menunjuk roti di balik kaca toko dan bercerita tentang ibunya. Ceritanya sederhana, tentang belanja dan kebiasaan memilih makanan. Ia sempat tertawa. Sesudah itu, sepanjang jalan kembali ke hotel, ia hampir tidak berbicara. Ia membawa kehilangan yang sering kali tidak terlihat ketika kami berbicara tentang hal-hal sehari-hari. Kadang ia bisa tersenyum, lalu mendadak terdiam karena sesuatu mengingatkannya pada rumah.

Sore terakhir, kami duduk dekat jendela. Cahaya menyentuh satu sisi wajahnya, memperlihatkan bulu-bulu halus di pelipis dan garis kelelahan yang belum hilang. Di meja, sendoknya terletak melintang pada piring kecil.

“Aku akan meninggalkan Armenia. Jaga dirimu baik-baik,” kata saya. “Rencanaku ke Georgia, singgah di Tbilisi, kemudian terbang ke Beijing.”

Abigail terdiam. Ada sesuatu pada wajahnya yang membuat saya mengerti bahwa perpisahan ini tidak mudah baginya.

“Teman-temanku bercerita tentang masjid di Georgia,” lanjut saya. “Kalau keadaan memungkinkan, suatu hari aku ingin mengajakmu ke sana. Mau?”

Saya ingin menunjukkan bahwa masih ada tempat bagi manusia untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan keyakinan. Namun, setelah mengatakannya, saya menyadari betapa jauh jarak antara maksud baik saya dan luka yang sedang ditanggungnya.

Abigail tidak menjawab.

“Di sana juga ada komunitas Muslim dari etnis Azeri,” tambah saya.

“Apa bedanya?” tanyanya lirih. “Kamu tahu, di Suriah ada orang-orang bersenjata dari Azerbaijan dan Chechnya. Mereka ikut membunuh orang Kristen Armenia. Mereka menyebut diri Muslim, tetapi yang kami dengar bukan cinta atau kasih sayang.”

Ia mengusap air matanya. “Apa mereka tidak punya hati untuk mengasihani manusia? Kami tidak berpolitik. Kami hanya ingin hidup damai.”

Saya terdiam. Ia sedang menceritakan orang-orang yang merenggut keluarganya. Sementara saya terlalu cepat berusaha menjelaskan dunia.

“Aku punya teman Armenia yang nama keluarganya Zeytun-oğlu,” kata saya kemudian. “Nama dengan unsur Turki. Aku pernah berpikir, mungkin keluarganya dahulu memakai nama Zeytunyan. Sejarah membuat manusia berpindah dan saling bercampur.”

Abigail mengangkat bahu. Pandangannya kosong sebelum ia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah. “Bunuhlah kami, tetapi jangan injak martabat kami. Jangan rampas nama kami,” katanya dengan suara tertahan.

Saya mulai memahami bahwa bagi Abigail, nama bukan sekadar panggilan. Di dalamnya ada keluarga, bahasa, dan ingatan tentang tanah yang ditinggalkan. Sesuatu yang saya kemukakan sebagai percampuran sejarah dapat ia rasakan sebagai penghapusan asal-usul. Ingatan tentang pembantaian orang Armenia pada masa Kesultanan Utsmaniyah telah hidup dalam cerita keluarganya. Kekerasan yang ia saksikan di Suriah membuat cerita lama itu seolah terjadi kembali di hadapannya.

Saya melihat jemarinya menegang di pangkuan. Percakapan yang saya kira dapat membuka jalan untuk saling memahami justru membuatnya harus mempertahankan sesuatu yang sudah begitu banyak dirampas darinya.

“Maaf,” kata saya pelan. “Aku terlalu mudah bicara tentang sejarah. Kamu yang menanggung lukanya.”

Ia menurunkan tangannya, lalu menatap saya.

“Sayang, aku percaya agama mengajarkan kasih,” lanjut saya. “Tetapi manusia bisa memakai nama Tuhan untuk membenarkan kekuasaan dan kekejaman. Perang juga mempertemukan banyak kepentingan: perebutan wilayah, uang, senjata, dan pengaruh. Orang-orang yang ingin hidup biasa akhirnya menjadi korban.”

Saya berhenti sejenak.

“Tetapi semua itu tidak mengurangi tanggung jawab mereka yang membunuh keluargamu. Tidak ada kepentingan politik maupun seruan agama yang membuat perbuatan itu dapat dibenarkan.”

Abigail mengangguk perlahan.

“Aku tidak akan memintamu segera sembuh atau memaafkan,” kata saya. “Aku hanya berharap, suatu hari nanti, kamu bisa mendengar sesuatu tanpa harus kembali berada di tempat yang menakutkan itu.”

Ia memandang saya cukup lama. Kemudian, untuk pertama kalinya sore itu, ia tersenyum tipis. “Kamu Muslim,” katanya. “Dan aku merasa aman bersamamu.”

Saya menggenggam tangannya lebih erat. Beberapa saat kemudian, Abigail bertanya, “Jadi, kapan kamu berangkat?”

“Mungkin besok.”

Senyumnya meredup.

Usianya mungkin belum tiga puluh. Saya tidak pernah menanyakannya. Ada begitu banyak hal tentang dirinya yang lebih ingin saya pahami daripada sekadar angka usia.

“Di Suriah aku punya mobil,” katanya tiba-tiba. “Mobilnya bagus, tetapi belakangan aku tidak mampu membeli suku cadang. Orang-orang di sana punya banyak cara untuk mengakalinya supaya kendaraan tetap berjalan.” Ia tersenyum, seolah baru saja menemukan kenangan kecil yang masih utuh.

“Sekarang…”

Abigail memalingkan wajah. Kalimatnya terhenti. Saya menunggu.

“Aku ingin kembali ke Suriah. Di sini aku belum tahu harus melakukan apa,” katanya kemudian, tertunduk. “Dan kamu mungkin besok sudah pergi. Setelah itu, mungkin kamu tidak akan ingat aku lagi.”

“Aku akan tetap menghubungimu.”

Ia mengangguk, meskipun kecemasan belum hilang dari wajahnya. “Kalau keadaan sudah damai, suatu hari aku ingin kembali ke Aleppo.”

Baginya, Aleppo adalah rumah: jalan-jalan yang dikenalnya, tetangga yang saling menyapa, dan kehidupan keluarganya sebelum perang. Ia mengenang masa ketika dirinya masih merasa aman sebagai bagian dari komunitas minoritas. Ketika kelompok-kelompok bersenjata datang membawa ancaman terhadap orang yang berbeda keyakinan, rasa aman itu runtuh bersama kehidupan yang selama ini ia kenal.

Saya tidak menyela kenangannya dengan penjelasan politik. Sore itu, saya mendengarkan seorang perempuan yang ingin pulang, tetapi tidak lagi tahu apakah rumahnya masih menunggu. Ketika akhirnya kami harus berpisah, Abigail memeluk saya.

“Tadinya saya berpikir hidup saya sudah berhenti,” bisiknya. “Setelah bertemu kamu, B, saya mulai punya harapan lagi. Mungkin nanti kamu akan melupakan saya. Tetapi saya tidak akan melupakanmu.”

Ia melepaskan pelukannya sedikit, mencoba menatap wajah saya.

“Cahaya cinta bisa datang dari mana saja. Harapan masih ada, ya, B?”

“Masih,” jawab saya. “Walaupun sekarang mungkin baru sedikit yang bisa kamu lihat.”

Ia mengangguk, kemudian mengusap pipinya.

Beberapa bulan kemudian, seorang sahabat di Moskwa membantu Abigail pindah ke Rusia. Victor ikut mengurus kelanjutan perpindahannya. Untuk sementara, ia tinggal bersama keluarga sahabat saya itu. Dari sana, perlahan-lahan ia mulai menata kembali hidupnya. Pada 2014, ia melanjutkan kuliah di London, kemudian mengikuti pelatihan financial engineering di Swiss. Kelak, ia bergabung dengan tim Ale Capital.

Saya tidak menganggap pekerjaan dan pendidikan telah menghapus traumanya. Ada kehilangan yang tetap tinggal, bahkan ketika seseorang sudah mampu tertawa dan bekerja kembali. Namun, Abigail mulai memiliki kesempatan untuk menentukan hari esok. Ketika mengenangnya di Yerevan, saya selalu ingat tangannya yang gemetar dalam genggaman saya. Saat itu saya tidak mampu menjanjikan bahwa semuanya akan kembali baik. Saya hanya bisa mendengarkan, memastikan ia tidak sendirian, dan menepati janji untuk tetap mengingatnya setelah saya pergi.

Jakarta, 2026.

Abigail saya panggil ke Jakarta untuk mendapat pengarahan sebelum mendampingi tim Shadow dalam urusan bisnis di Amerika Latin. Saya menemuinya di safehouse Jakarta, sebuah apartemen di jantung kota yang berada dalam satu kompleks dengan hotel, office tower, dan mal. Dari lobby yang dingin, lift membawa tamu menjauh dari keramaian lantai bawah. Di dalam apartemen, suara kota tinggal dengung samar di balik kaca.

Ruangan itu tidak menyerupai kantor. Ada sofa berwarna netral, meja makan yang kadang dipakai untuk memeriksa dokumen, dan pantry kecil dengan mesin kopi. Sebuah map tertutup terletak di meja. Dari jendela terlihat fasad gedung yang memantulkan langit sore, sementara kendaraan mulai menyalakan lampu di jalan bawah.

Abigail datang mengenakan blazer abu-abu muda di atas blus gading, dengan celana panjang gelap dan sepatu berhak rendah. Rambutnya ditata sebahu, diselipkan rapi di belakang satu telinga. Anting kecil bergerak ketika ia menoleh. Kini, pada 2026, ia berada di awal usia empat puluhan. Wajahnya masih menyimpan kecantikan yang saya ingat, tetapi gerak-geriknya lebih tenang. Ia meletakkan tas, merapikan ujung blazer, lalu menatap saya sambil tersenyum.

Untuk sesaat, saya masih dapat melihat perempuan di Yerevan itu dalam caranya memegang cangkir dengan kedua tangan.

“Ini pertama kali saya datang ke Jakarta. Juga pertama kali saya mendapat tugas lapangan mendampingi tim Shadow,” kata Abigail.

Sejak bergabung dengan Ale Capital, ia lebih banyak bekerja di kantor sebagai Head of Legal and Compliance. Ia meraih gelar PhD hukum dari salah satu universitas terkemuka di London, kemudian mengikuti pelatihan khusus financial engineering di Swiss.

Dalam pekerjaan, ia terbiasa menelaah struktur transaksi, kewajiban kontraktual, dan compliance risk. Kelembutan suaranya kadang membuat orang keliru mengira bahwa ia mudah diyakinkan. Saya tahu betapa panjang daftar pertanyaannya ketika sebuah penjelasan tidak konsisten.

“Ternyata Jakarta kota yang besar dan kosmopolitan. Kehidupan Muslim di sini juga terasa berbeda dari gambaran yang selama ini saya kenal,” lanjutnya. “Dari perjalanan menuju ke sini, saya melihat orang berpakaian dan menjalani keseharian dengan beragam cara.”

“Apa yang kamu pahami tentang Islam di Timur Tengah dan di Indonesia?” tanya saya.

Abigail berpikir sejenak.

“Dulu, pengalaman buruk membuat saya sulit membedakan agama dari tindakan orang-orang yang mengatasnamakannya. Setelah lama tinggal di London, saya mulai memahami bahwa keyakinan seseorang tidak bisa begitu saja disamakan dengan agenda politik kelompok tertentu.”

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Agama memang dapat memengaruhi pandangan politik. Tetapi ada pula kelompok yang memperalatnya untuk memperoleh kekuasaan. Kepentingannya bahkan melampaui batas negara, bertemu dengan persaingan geopolitik. Karena itu, saya sekarang lebih berhati-hati ketika seseorang mengaku sedang berjuang atas nama Tuhan.”

Saya memperhatikan wajahnya sebelum bertanya lagi.

“Bagaimana dengan Suriah?”

Abigail menurunkan cangkir. Dari luar terdengar bunyi klakson yang pendek dan jauh. Ia mengusap setitik air pada sisi cangkir dengan ibu jari, lalu menjawab. “Menurut saya, kehancuran Suriah tidak bisa dijelaskan hanya dari besar atau kecilnya sumber daya alam. Letak geografisnya memiliki nilai strategis, dekat dengan kawasan penghasil migas dan jalur perdagangan menuju Mediterania. Kalau dikelola dengan baik, posisi itu dapat menjadi sumber kemakmuran.”

“Namun?”

“Pemerintahan yang korup menggerogoti kemampuan negara mengelola potensi tersebut. Kebijakan lebih banyak melayani kepentingan kelompok, sementara kepercayaan masyarakat terus terkikis. Ketika konflik pecah dan kekuatan asing masuk membawa kepentingannya masing-masing, lembaga negara sudah kehilangan banyak kemampuan untuk melindungi rakyat. Perbedaan agama dan identitas pun mudah dipakai untuk memobilisasi permusuhan.”

“Jadi, salah satu sumber masalah utamanya adalah korupsi?”

“Ya. Korupsi tidak berhenti pada menerima suap. Ia bisa masuk ke dalam proses penyusunan kebijakan, sampai aturan negara justru memudahkan elite memperkaya diri dan melindungi kepentingannya.”

Abigail menatap saya.

“Dalam keadaan seperti itu, keputusan yang merugikan masyarakat tetap bisa tampak sah secara administratif. Ada izin, tanda tangan, dan dasar aturannya. Tetapi kalau diperiksa lebih jauh, manfaatnya berputar di lingkungan kekuasaan yang sama.”

“Bahkan dalam keadaan perang?”

“Justru perang memperbesar ruang penyalahgunaan. Pengadaan dan distribusi bantuan dapat menjadi sumber keuntungan ketika pengawasan melemah dan keadaan darurat dipakai untuk menghindari pertanggungjawaban.”

Ia menarik napas pelan.

“Di situlah hukum mulai kehilangan landasan moralnya. Sejumlah unsur aparat yang seharusnya menghentikan kejahatan justru dituduh ikut melindungi dan memfasilitasi jaringan narkoba internasional. Ketika kewenangan negara dipakai untuk menjaga keuntungan ilegal, rakyat kehilangan tempat untuk meminta perlindungan.”

“Coba jelaskan tentang jaringan narkoba internasional itu.”

Abigail meletakkan cangkirnya. Dari balik jendela apartemen, Jakarta terlihat padat oleh gedung dan kendaraan. Samar terdengar suara pintu lift dari koridor, lalu ruangan kembali tenang.

Ia menyebut nama itu dengan suara datar, seperti sedang membacakan temuan dalam sebuah legal memorandum. Namun, telunjuknya berhenti bergerak di atas tatakan. “Captagon, B. Pil stimulan yang menjadi salah satu sumber pendapatan jaringan kekuasaan pada masa Assad, terutama selama perang.”

“Bandar menyuap aparat?”

“Itu salah satu bentuknya. Tetapi persoalannya sudah lebih jauh. Berdasarkan dokumen sanksi internasional yang saya pelajari, sejumlah unsur militer dan intelijen dituduh ikut memfasilitasi bisnisnya. Ada yang memberi perlindungan, membantu pergerakan barang, dan menghubungkan pengusaha dengan jaringan bersenjata.”

Saya menyandarkan punggung ke sofa.

“Jadi aparat ikut menjadi bagian dari rantai bisnis?”

“Ya. Divisi Lapis Baja Keempat yang dipimpin Maher al-Assad, saudara Bashar, termasuk yang disebut dalam penetapan sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sejumlah pengusaha serta kerabat keluarga Assad juga disebut terlibat.”

Abigail berhenti sejenak.

“Tetapi sebagai orang legal, saya harus membedakan dasar penetapan sanksi dengan putusan pengadilan pidana. Kita harus tepat ketika menyebut orang dan tanggung jawabnya.”

Saya mengangguk. Kebiasaan Abigail itu saya kenal baik. Ia selalu berhenti pada batas antara informasi yang dapat dibuktikan dan kesimpulan yang ingin dipercayai orang.

“Lalu bagaimana sistem seperti itu merusak hukum?”

“Ketika aparat menerima keuntungan dari sebuah kejahatan, penyelidikan yang jujur akan mengancam penghasilannya sendiri. Kalau atasannya juga berkepentingan, petugas di bawah menghadapi pilihan yang buruk: mengikuti jaringan itu, diam, atau mempertaruhkan kedudukannya.”

“Berarti hukum kehilangan kemampuan mengoreksi dirinya.”

“Perlahan-lahan, ya. Orang yang seharusnya diperiksa justru mempunyai pengaruh terhadap orang yang memeriksa. Pelaku bisnis mencari perlindungan kepada pemegang senjata. Pemegang senjata membutuhkan uang untuk mempertahankan orang-orangnya. Keduanya saling membutuhkan.”

Ia merapikan ujung lengan blusnya sebelum melanjutkan. “Dalam keadaan perang, hubungan semacam itu semakin sulit dibongkar. Banyak transaksi bisa dibungkus sebagai kebutuhan keamanan. Banyak pertanyaan bisa dihentikan dengan alasan keadaan darurat.”

“Dan rakyat?”

“Rakyat membayar semuanya. Mereka kehilangan rasa aman, kehilangan pekerjaan, lalu harus berhadapan dengan lembaga yang belum tentu melindungi mereka. Orang kecil bisa dihukum karena pelanggaran sederhana, sementara jaringan besar mempunyai pelindung.”

Saya terdiam sebentar.

“Jadi negara masih punya aparat, tetapi kewenangannya sudah diperdagangkan.”

“Sebagian kewenangannya dikuasai oleh kepentingan jaringan itu,” jawab Abigail hati-hati. “Kita tidak bisa mengatakan semua aparat terlibat. Justru mungkin ada orang jujur yang terjebak di dalamnya. Tetapi orang jujur sulit bekerja ketika perintah, promosi, dan keselamatannya bergantung kepada pihak yang seharusnya dia awasi.”

Di luar, lampu kendaraan mulai memanjang di jalan. Abigail menoleh sesaat ke jendela. Cahaya sore telah meninggalkan sofa tempat kami duduk. Pada kaca jendela mulai terlihat pantulan wajah Abigail dan lampu ruangan di belakangnya. Ia menatap pantulan itu sebentar.

“Dulu saya melihat kerusakan Suriah melalui apa yang terjadi kepada keluarga saya,” katanya lebih pelan. “Sesudah belajar hukum dan bekerja di Ale Capital, saya mulai memahami kerusakan yang mendahuluinya. Ada lembaga yang lama kehilangan kemampuan melindungi warga. Ada kekerasan yang dibiarkan karena pelakunya berguna bagi seseorang.”

“Apakah itu mengubah pandanganmu tentang perang?”

“Ya. Saya sekarang lebih berhati-hati terhadap penjelasan yang terlalu mudah. Orang menyebut agama, etnis, atau campur tangan asing seolah satu kata cukup untuk menjelaskan semuanya. Padahal ada keputusan, kepentingan, dan tanggung jawab manusia yang harus diperiksa satu per satu.”

Ia menatap saya.

“Campur tangan asing memang bisa memperburuk keadaan. Tetapi itu tidak menghapus tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya sendiri.”

Saya mengambil cangkir, tetapi tidak segera meminumnya.

“Lalu, apa pelajaran itu untuk tugasmu di Amerika Latin?”

“B, tidak ada negara yang benar-benar bersih. Tidak ada sistem yang sempurna. Di dalamnya ada manusia, kepentingan, dan transaksi yang berlangsung tanpa jeda. Namun, selama pemimpinnya memiliki integrity dan ditopang institusi yang kuat, ketidaksempurnaan itu masih bisa dikelola dan diperbaiki.”

Abigail berhenti sejenak.

“Lihat bagaimana Dubai, Hong Kong, Singapore, dan Swiss membangun posisi sebagai financial center. Dengan kerangka hukum yang berbeda-beda, mereka menyediakan ruang bagi cross-border business, kepastian kontrak, serta mekanisme penyelesaian sengketa. Transnational investor merasa nyaman ketika memahami aturan yang berlaku dan mengetahui bahwa hak mereka dapat dilindungi.”

“Jadi, kepercayaan itu bertumpu pada law enforcement?”

“Ya. Investor tidak tertarik hanya karena tarif pajak rendah. Mereka membutuhkan legal certainty. Mereka perlu tahu bahwa kontrak tidak mudah dikalahkan oleh kepentingan politik. Ketika terjadi distorsi, tersedia mekanisme independent review dan institutional correction. Good governance terus diperbaiki agar sistem semakin solid.”

Ia menatap saya.

“Di sejumlah emerging market, termasuk Amerika Latin, persoalannya adalah hukum yang masih berada di bawah kepentingan politik. Akibatnya, kelemahan sistem terus dipertahankan karena menguntungkan kelompok tertentu. Regulatory reform bisa berhenti ketika mulai mengancam privilege mereka.”

“Sementara elite terus menjanjikan masa depan?”

“Ya. Mereka berpidato tentang pertumbuhan, investment, dan kesejahteraan. Tetapi tanpa law enforcement dan perbaikan governance, janji itu kehilangan fondasinya. Kerusakan berlangsung perlahan, seperti slow motion. Orang masih melihat aktivitas ekonomi berjalan, tetapi institutional capacity dan public trust terus terkikis.”

Saya meletakkan cangkir di meja.

“Apa yang paling kamu perhatikan dari perilaku elite?”

“Apa yang mereka putuskan di ruang tertutup. Apakah mereka membahas cara meningkatkan productivity agar lapangan kerja tercipta? Apakah meritocracy dan competence menjadi dasar pengangkatan pejabat? Apakah government spending dinilai berdasarkan manfaat dan kemampuan revenue untuk membiayainya?”

Abigail merapatkan kedua tangannya. “Kalau pembicaraannya hanya berkisar pada pembagian proyek, political protection, dan cara mempertahankan kekuasaan, saya akan berhati-hati. Budget deficit bisa terus melebar, sementara tambahan debt tidak menghasilkan economic capacity yang cukup untuk menopangnya.”

“Bahkan ketika utang dibayar dengan utang baru?”

“Refinancing merupakan praktik yang lazim, B. Yang harus diperiksa adalah debt sustainability. Kalau debt stock dan interest expense terus meningkat, sementara productivity serta government revenue tertinggal, fiscal space akan menyempit. Pada akhirnya, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur harus bersaing dengan debt service.”

Suaranya merendah. “Keputusan hari ini bisa membatasi pilihan generasi berikutnya. Mereka mewarisi liabilities yang tidak ikut mereka putuskan, sementara productive assets dan manfaat ekonominya belum tentu sebanding. Elite menikmati keuntungan selama masa kekuasaannya, sedangkan biayanya dibayar masyarakat jauh setelah mereka pergi.”

Ia berhenti sejenak.

“Itulah pelajaran untuk tugas saya di Amerika Latin. Saya harus memastikan bahwa return yang ditawarkan lahir dari productive business, cash flow yang dapat diverifikasi, dan governance yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau kelayakan bisnisnya bergantung pada political connection dan perlindungan penguasa, kita sedang menghadapi risiko yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan financial engineering.”

Abigail menarik map dari tasnya. Perubahan kecil terasa dalam sikap duduknya: punggungnya tegak, bahunya lebih mantap. Ia mengenakan kacamata baca, kemudian membuka halaman yang telah diberi penanda. Saya membiarkannya menata kertas sesuai urutannya.

“Saya harus memastikan siapa yang sebenarnya berada di balik pihak yang akan bekerja sama dengan kita. Beneficial owner-nya, source of funds-nya, political exposure-nya, dan apakah bisnisnya bergantung pada perlindungan pejabat tertentu.”

“Kalau semua dokumennya lengkap?”

“Dokumen lengkap tetap harus diuji. Izin membuktikan bahwa sebuah izin diterbitkan. Kita masih perlu memeriksa bagaimana izin itu diperoleh dan kegiatan apa yang sesungguhnya berlangsung.”

Saya tersenyum tipis. “Itu sebabnya saya ingin kamu mendampingi tim di lapangan.”

Ia membuka map, lalu mengeluarkan beberapa lembar catatan. “Di kantor saya terbiasa membaca penjelasan orang lain. Kali ini saya ingin melihat apakah penjelasan itu sesuai dengan kenyataan.”

“Dan kalau tidak sesuai?”

“Saya sampaikan kepada tim. Kalau persoalannya mendasar, saya akan merekomendasikan kita berhenti.”

Saya mengangguk.

“Sekalipun biayanya sudah keluar?”

“Sunk cost tidak boleh menjadi alasan untuk menerima risiko yang sejak awal tidak layak kita ambil.”

Jawabannya tenang. Saya teringat Abigail di Yerevan, duduk membungkuk dengan kedua tangan mengelilingi cangkir. Bertahun-tahun lalu ia begitu cemas ditinggalkan, seolah kepergian seseorang akan menutup kembali seluruh harapannya.

Kini ia duduk di hadapan saya dengan catatan yang rapi dan keberanian untuk menyampaikan keberatan.

Saya menggeser map itu ke tengah meja. “Baik. Kita mulai dari pihak yang akan kalian temui.”

Abigail mengenakan kacamata bacanya. “Yang pertama,” katanya sambil menunjuk sebuah nama, “saya ingin tahu mengapa perusahaan ini begitu sering mengganti pemegang saham, sementara orang yang mengendalikan operasinya tetap sama.”

***

Malamnya, saya mengajak Abigail makan di kawasan Kota Tua, Jakarta. Perjalanan dari pusat kota terasa lambat. Di dalam mobil, ia sesekali memandang keluar, mengikuti perubahan wajah jalan: dari gedung berkaca ke deretan bangunan yang lebih rendah, dari pintu lobby yang terang ke toko-toko yang mulai menutup rolling door.

Sisa hujan membuat sebagian permukaan jalan berkilau. Ketika kami turun, udara hangat membawa bau batu basah dan masakan dari sekitar kawasan. Di kejauhan terdengar tawa pengunjung. Orang-orang berjalan berkelompok, berhenti untuk mengambil foto, lalu melanjutkan langkah melewati bangunan tua.

Kami mendapat meja dekat jendela di sebuah restoran dalam bangunan lama. Daun jendelanya tinggi, dengan bingkai kayu yang catnya mulai menua. Cahaya lampu jatuh lembut pada meja, sementara bagian langit-langit tetap lebih redup. Dari arah pantry terdengar denting piring; seseorang di meja seberang berbicara dengan suara tertahan.

Abigail telah melepas blazer. Blus gadingnya tampak hangat dalam cahaya lampu. Ia merapikan rambut ke belakang telinga, lalu memandang ruangan cukup lama. Dari samping, profil wajahnya terlihat jelas: garis hidung yang halus, bibir yang nyaris tersenyum, dan mata yang terus mengamati detail seolah sedang berusaha mengenali sesuatu.

“Tempat ini seperti sebuah in memoriam,” katanya pelan. “Ikonik, tetapi juga mengingatkan pada masa lalu yang kelam, sementara masa kini masih menyisakan begitu banyak tanda tanya.”

Saya mengikuti arah pandangannya. Sesaat kami membiarkan percakapan berhenti, ditemani denting peralatan makan dari meja lain.

“Sejak Victor membawa saya ke London pada 2014, dia mengatakan saya tidak boleh berkomunikasi denganmu. Baru pada 2019 saya bisa menghubungimu lagi,” katanya kemudian. “Rasanya itu lima tahun terpanjang dalam hidup saya.”

Saya mengingat kembali kabar-kabar singkat mengenai kuliahnya yang dahulu sampai melalui Victor. Pada waktu itu, saya menganggap mengetahui bahwa ia aman sudah cukup. Di hadapan saya malam ini, ternyata ada bagian dari tahun-tahun itu yang belum pernah ia ceritakan.

Abigail menunduk, menyentuh tangkai gelasnya tanpa mengangkatnya. “Sulit melupakan pria yang mengusahakan pembebasan saya dari wilayah konflik. Setelah kehilangan keluarga, diperjualbelikan di pasar gelap, lalu menjalani hari-hari di pengungsian, saya akhirnya mendapat kesempatan memulai hidup lagi di London. Tetapi di tengah semua perubahan itu, saya tidak bisa menanyakan kabarmu.”

Ia mengangkat wajah, menatap saya. “Saya mencintaimu. Biarlah perasaan itu tetap hadir bersama usaha saya berdamai dengan masa lalu. Saya tidak ingin terus hidup dengan kebencian.”

Ia mengatakannya tanpa tergesa, meskipun suaranya menipis pada akhir kalimat. Setelah itu, pandangannya turun ke meja. Di dekat tangannya, cahaya lampu bergetar dalam gelas. Saya tidak segera menjawab. Saya ingin mendengar sampai selesai, tanpa memaksanya menjelaskan lebih banyak daripada yang sanggup ia ucapkan.

Suaranya sedikit bergetar. “Lukanya masih membekas. Tetapi di antara kenangan yang menyakitkan itu, ada ingatan tentang seseorang yang begitu tulus melindungi saya. Kamu tidak seiman dengan saya, tetapi kamu tidak menjadikan perbedaan itu alasan untuk membiarkan saya menderita. Dari situ saya mulai percaya lagi kepada manusia.”

Saya mendengarkannya tanpa menyela.

“Setelah bergabung dengan Ale Capital, saya bertemu Lastri, Suci, Mia, Moni, Carolina, dan Teresia. Perlahan saya tahu, ternyata saya bukan satu-satunya yang pernah menjalani hidup kelam. Keadaan kami berbeda, begitu pula kehilangan yang kami tanggung. Tetapi kami sama-sama mengenal kemiskinan. Sebagian kehilangan orang tua sejak belia; sebagian lain, seperti saya, kehilangan keluarga ketika masih harus membangun kehidupan sendiri.”

Abigail menarik napas panjang.

“Kamu datang ketika kami hampir tidak punya pilihan. Kamu memberi kami kesempatan belajar, bekerja, dan membangun masa depan. Kesempatan itu tetap harus kami jalani sendiri—dengan kerja keras, belajar sungguh-sungguh, dan menjaga integrity.”

Ia terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Itulah sebabnya loyalitas kami begitu dalam. Kami tahu bagaimana rasanya hidup tanpa tempat meminta pertolongan. Lalu seseorang datang, mempercayai kami, bahkan sebelum kami memiliki sesuatu untuk dibanggakan.”

Saya meletakkan tangan di dekat tangannya. Abigail menyambutnya dengan genggaman pelan. “Kadang saya merasa, sampai akhir hidup pun kami tidak akan mampu membalas semuanya,” bisiknya.

Saya menatapnya. “Kamu tidak perlu menjalani hidup untuk melunasi pertolongan, Abigail. Saya ingin kamu punya kehidupan yang bisa kamu jalani dengan merdeka.”

Air matanya jatuh. Ia mengambil serbet dan menekankannya perlahan ke sudut mata, berhati-hati agar tidak menarik perhatian meja sebelah. Saya menggeser gelas air mendekat.

“Minum dulu,” kata saya.

Ia menurut. Setelah beberapa teguk, ia meletakkan gelas dan tersenyum kecil. Wajahnya masih basah, tetapi bahunya mulai mengendur.

Di luar jendela, orang-orang masih berjalan di antara bangunan tua. Seorang anak menarik tangan ibunya agar berhenti di dekat penjual mainan. Sang ibu membungkuk untuk mendengar perkataannya, lalu mereka berjalan lagi.

Abigail mengikuti mereka dengan pandangan sampai hilang dari bingkai jendela. Saya tidak tahu kenangan apa yang datang kepadanya. Kali ini ia tidak menunduk. Ia tetap memandang keluar, membiarkan air mata terakhir mengering di pipinya.

Pelayan mendekat, menanyakan apakah hidangan kami perlu dihangatkan kembali. Abigail menoleh kepada saya. Kami saling memandang sebentar, lalu ia mengangguk kepada pelayan.

“Terima kasih,” katanya.

Genggamannya perlahan mengendur. Saya menarik tangan untuk memberi ruang ketika piring-piring diangkat, dan ia merapikan serbet di pangkuannya. Malam terus berjalan. Untuk sementara, kami masih punya waktu untuk duduk bersama.

Pelayan telah mengangkat piring-piring kami. Abigail kembali memandang ke luar jendela. Sisa hujan berkilau di sela batu jalan, memantulkan lampu bangunan tua. Saya menunggu sampai ia menoleh, lalu mengajukan pertanyaan terakhir malam itu.

“Apa yang kamu pahami tentang law enforcement di Singapore sehingga dipercaya sebagai logistics hub dan financial center?”

Abigail merapikan serbet di pangkuannya.

“Kepercayaan itu dibangun melalui kepastian yang dapat diuji, B. Lokasi strategis dan infrastruktur memang penting. Tetapi orang juga perlu mengetahui apakah barangnya aman, kontraknya dapat ditegakkan, dan sengketanya dapat diselesaikan melalui proses yang kredibel.”

“Coba jelaskan hubungannya dengan logistik.”

“Bayangkan satu pengapalan. Ada pemilik barang, shipping company, freight forwarder, bank, dan insurer. Mereka bisa berasal dari negara berbeda. Ketika barang rusak, pembayaran tertunda, atau muncul sengketa charter party, semua pihak membutuhkan mekanisme untuk menentukan tanggung jawab.”

Ia menggeser gelasnya sedikit.

“Pelabuhan menangani pergerakan barang. Ekosistem maritime services mendukung transaksi di belakangnya: trade finance, marine insurance, shipbroking, legal services, dan arbitration. Singapore mengembangkan semuanya dalam satu lingkungan bisnis.”

“Jadi, kapal yang singgah juga membawa kebutuhan jasa?”

“Ya. Dan jasa-jasa itu membutuhkan trust. Bank harus menilai apakah dokumen transaksi dapat dipercaya. Insurer perlu mengetahui kewajiban para pihak. Pemilik kapal membutuhkan kepastian mengenai kontraknya. Dispute resolution yang kredibel membantu mereka mengelola risiko ketika hubungan bisnis tidak berjalan sesuai rencana.”

Saya mengangguk. “Bagaimana dengan financial center?”

“Prinsip dasarnya serupa. Investor menempatkan uang dengan memperhitungkan return dan risiko. Mereka membutuhkan legal certainty, pengawasan institusi keuangan, serta mekanisme penegakan aturan ketika terjadi misconduct.”

“Bukankah uang besar selalu bisa membeli pengaruh?”

Abigail tersenyum tipis.

“Itulah sebabnya kualitas institusi harus terus diuji. Kita tidak boleh menganggap sebuah financial center kebal terhadap financial crime. Keterbukaan terhadap perdagangan dan capital flow juga membuka kesempatan bagi pelaku money laundering. Itu yang tidak banyak dipahami oleh negara lain yang ingin membangun Financial center dan Kawasan bebas pajak”

“Berarti reputasi tidak cukup?”

“Reputasi harus ditopang pekerjaan yang nyata. Customer due diligence, pemeriksaan beneficial ownership, pelaporan suspicious transactions, dan tindak lanjut oleh regulator serta law enforcement. Ketika ditemukan kelemahan, pengawasannya harus diperbaiki.”

Ia berhenti, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan.

“Saya juga tidak akan mengatakan setiap perkara pasti ditangani sempurna. Yang saya periksa adalah apakah tersedia lembaga, kewenangan, dan kemauan untuk melakukan koreksi. Investor perlu melihat bagaimana sebuah sistem menghadapi pelanggaran, termasuk yang melibatkan institusi penting.”

Dari meja sebelah terdengar tawa singkat. Abigail menunggu suara itu mereda. “Dalam bisnis, kita bisa menerima commercial risk yang telah diperhitungkan,” lanjutnya. “Tetapi sulit membuat perhitungan ketika hasil sengketa bergantung pada siapa yang mengenal pejabat. Financial model tidak bisa memberi kepastian atas political protection yang sewaktu-waktu dicabut.”

“Jadi, law enforcement memengaruhi investment decision?”

“Tentu. Ketidakpastian hukum masuk ke dalam risk assessment. Ia bisa membuat investor meminta return lebih tinggi, membatasi exposure, atau membatalkan transaksi. Contract enforcement yang kredibel membantu mengurangi sebagian ketidakpastian itu.”

Saya memperhatikan wajahnya. Cahaya lampu menyentuh bingkai kacamatanya yang terlipat di meja.

“Dulu kamu belajar hukum untuk apa, Abigail?”

“Kamu yang menugaskanku menempuh S3 hukum di salah satu universitas terbaik di London,” kata Abigail sambil tersenyum.

Saya ikut tersenyum.

“Saya ingat. Maksud saya, apa yang membuatmu bersedia menjalaninya?”

Senyumnya perlahan mereda. Ia menatap gelas di hadapannya sebelum kembali memandang saya. “ Ya karena kamu, my man”

Saya tersenyum.

“Karena waktu itu saya ingin memahami mengapa orang yang tidak bersalah bisa kehilangan segalanya, sementara pelakunya tetap merasa aman. Ketika kamu memberi kesempatan itu, saya merasa ada sesuatu yang masih bisa saya lakukan dengan hidup saya.”

Tangannya bergerak menyentuh kaki gelas.

“Sekarang saya tahu, mempelajari hukum tidak selalu memberi jawaban yang menenangkan. Tetapi pekerjaan ini membuat saya bisa bertanya sebelum sebuah keputusan merugikan orang lain. Saya bisa meminta bukti. Saya bisa menolak memberi persetujuan.”

“Dan dalam tugasmu nanti?”

“Saya akan memastikan tim memahami siapa counterparty kita, bagaimana bisnisnya menghasilkan cash flow, dan apakah hak kita benar-benar enforceable. Kalau ada political connection, saya perlu tahu apakah itu sekadar hubungan yang harus diungkapkan atau justru fondasi seluruh bisnisnya.”

Saya mengangguk perlahan.

Di luar, seorang petugas mulai merapikan kursi. Pengunjung semakin sedikit. Abigail mengenakan kembali blazernya, kemudian memeriksa apakah map dan kacamatanya sudah masuk ke dalam tas.

Ketika kami berdiri, ia menoleh kepada saya. “B, dulu saya membutuhkan seseorang untuk membawa saya ke tempat aman,” katanya. “Sekarang, setidaknya dalam pekerjaan saya, saya ingin ikut menjaga agar orang lain tidak kehilangan perlindungan yang seharusnya mereka miliki.”

Saya membukakan jalan baginya. Kami berjalan keluar melewati pintu kayu yang berat. Udara malam masih lembap. Abigail berhenti sebentar di bawah teritis, merapatkan blazer, lalu melangkah bersama saya menuju mobil.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca