PKI tumbang, Neokolonial bangkit…

Tahun 1996, aku pergi ke Bali bersama Esther dan dua temanku dari Meksiko. Aku mengenalnya pertama kali pada 1993. Ia bekerja di sebuah bank asing di Jakarta, sementara aku menjalankan usaha. Dari pertemuan-pertemuan yang semula biasa, kami menjadi dekat.

Aku sendiri tidak pernah benar-benar mengerti mengapa persahabatan itu tumbuh begitu dalam. Dunia kami berbeda. Hari-harinya diisi angka, laporan, dan rapat; hari-hariku dipenuhi urusan usaha yang sering membawaku pergi. Namun, setiap kembali ke Jakarta, selalu ada waktu yang ingin kuluangkan untuk menemuinya.

Usianya sudah melewati tiga puluh tahun. Sepanjang yang kuketahui, ia tidak mempunyai pacar. Aku menjadi sahabat terdekatnya, tempat ia berbicara ketika lelah dan memilih diam ketika belum sanggup bercerita.

Sore itu kami duduk di tepi Pantai Kuta. Kedua temanku berjalan agak jauh menyusuri pasir. Matahari merendah, meninggalkan cahaya keemasan di permukaan laut. Angin menggerakkan rambut Esther. Ia menyelipkannya ke belakang telinga, lalu menatapku lama.

“Ale, minggu depan aku terbang ke Hong Kong. Aku sudah resmi diterima bekerja di sana.”

Aku menoleh. Selama beberapa detik, suara ombak memenuhi ruang di antara kami. “Minggu depan?” tanyaku.

Ia mengangguk.

Aku tahu ia sedang mengurus kepindahan itu. Namun, selama belum ada tanggal keberangkatan, aku masih merasa kami mempunyai banyak waktu.

Esther menunduk, mengusap pasir yang menempel pada jarinya.

“Ale,” katanya lebih pelan, “kau satu-satunya pria yang pernah menyentuhku.”

Aku diam. Ia mengangkat wajah, dan kali ini tatapannya membuatku sulit mengalihkan mata. “Berjanjilah. Kalau terjadi apa-apa dengan negeri ini, segera bawa keluargamu ke Hong Kong.”

“Ada apa, Kak?” Ia setahun lebih tua dariku. Aku biasa memanggilnya kakak, meskipun ada saat-saat ketika panggilan itu terasa terlalu sederhana untuk kedekatan kami.

“Aku takut negeri ini akan runtuh,” katanya. “Kalau krisis ekonomi datang, keadaan bisa berubah menjadi kekacauan. Akan ada orang yang mencari pihak untuk disalahkan. Dan rakyat kecil yang tidak berdosa bisa kembali menjadi korban.”

Ia mengucapkan kata kembali dengan suara tertahan. Waktu itu aku tidak memahami beban yang dibawanya dalam kata tersebut.

Aku meraih tangannya.

“Aku akan baik-baik saja, Kak.”

Ia memandang tangan kami, lalu kembali menatapku, seolah ingin memastikan bahwa aku sungguh memahami permintaannya.

“Justru aku sedih karena kamu akan pergi,” lanjutku. “Aku sudah terbiasa tahu bahwa kamu ada di Jakarta. Tapi aku ingin kariermu berhasil. Aku akan berdoa untuk itu.”

Esther tersenyum tipis. Ia menggenggam tanganku sedikit lebih erat. “Kalau aku telepon, angkat, ya.”

“Iya, Kak.”

Kami duduk sampai cahaya di laut mulai padam. Orang-orang berkemas meninggalkan pantai. Kedua temanku melambaikan tangan dari kejauhan, tetapi aku belum ingin berdiri. Ada kepergian yang baru terasa nyata ketika seseorang menyebut hari keberangkatannya, dan sore itu aku mulai menghitung waktu yang tersisa bersama Esther. “ Aku berdoa semoga aku bisa belikan kamu rumah di sini, kak, Agar kamu bisa menghabiskan usia dengan tenang.” Kataku. Esther memelukku.

Dua tahun kemudian, krisis moneter melanda. Kekacauan yang dahulu dikhawatirkannya benar-benar terjadi. Rumah dan pertokoan dibakar. Pusat perbelanjaan dijarah. Orang-orang kehilangan nyawa. Perempuan menjadi korban pemerkosaan. Ketakutan masuk ke rumah-rumah, membuat orang mendengarkan setiap suara dari jalan dan memikirkan ke mana harus membawa keluarganya jika keadaan memburuk.

Di tengah hari-hari itu, Esther meneleponku setiap hari dari Hong Kong. “Ale, kamu di mana?”

“Di rumah, Kak.”

“Keluargamu?”

“Di sini. Kami baik-baik saja.”

Ia bertanya lagi keesokan harinya. Kadang pertanyaannya sama, tetapi aku tidak pernah merasa perlu mempersingkat percakapan. Aku mendengar bagaimana napasnya perlahan menjadi lebih tenang setelah kujawab.

“Kamu benar-benar aman?”

“Iya, Kak. Jangan khawatir.”

Namun, ia tetap menelepon.

Setiap kali mendengar suaranya, aku teringat sore di Kuta: rambutnya yang diterbangkan angin, tangannya dalam genggamanku, dan permintaan yang waktu itu kutanggapi dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tahun 2003, aku ke hongkong menemui Esther dan mengatakan aku hijrah bisnis ke China..

***

Januari 2023. Mobil yang membawaku berhenti di depan pagar bambu. Hujan baru reda. Di sepanjang jalan, air masih menetes dari pelepah pisang, dan di halaman sebuah rumah tetangga seorang perempuan berkain memasang dupa. Asapnya naik sebentar, lalu hilang dalam udara lembap.

Esther menungguku di pintu masuk. Rambutnya yang mulai beruban disanggul kecil. Ia mengenakan blus putih dan sandal datar. Sejak pensiun sebagai banker di Hong Kong pada 2020, ia menetap di Bali. Dahulu, ketika masih bekerja, setiap tahun ia datang ke pulau ini untuk berlibur.

Sepuluh tahun sebelumnya, aku meminta Awi membeli rumah dan tanah itu untuknya. Lahan tiga ribu meter persegi, dengan bangunan sekitar tiga ratus meter persegi. Dia berlinang airmata.” Ale, menepati janjinya.” Katanya saat melihat rumah itu kali pertama.

Aku masih ingat terasnya yang lebar dan ruang tamunya yang agak gelap. Sekarang bangunan itu sudah tidak ada.

“Maafkan aku, Ale,” katanya sebelum aku bertanya. “Aku rombak rumah ini tanpa minta persetujuan kamu.”

Ia menunduk. Aku mengenali kecemasannya. Selama bertahun-tahun, ia telah mengenal sifatku. Meski terkadang temperamental, ia selalu menjaga prinsip yang kupegang dalam hubungan kami, saling menghormati dan saling menjaga.

“Ajak aku lihat, Kak.”

Rumah utama kini hanya tujuh puluh delapan meter persegi. Ada ruang tamu, dapur, dan kamar tidur, ringkas seperti apartemennya di Hong Kong. Semua menghadap taman melalui panel bening yang lebar. Dari kursi tamu, orang dapat melihat daun bergoyang dan air hujan mengalir dari ujungnya.

Di kamar tidur tergantung foto kami berdua di Bali pada 1996. Bingkainya bersih. Warna fotonya sedikit pudar, tetapi senyum Esther masih jelas. Aku melihat foto itu lebih lama daripada yang diperlukan.

Di samping rumah terdapat garasi, dengan dua kamar untuk orang yang membantu mengurus rumah di bagian belakang. Selebihnya tanah menjadi taman. Jalan-jalan batu dinaungi bunga rambat, menghubungkan tiga bungalow.

Yang pertama, sekitar seratus lima puluh meter persegi, dipakainya untuk melukis dan menulis. Rak buku menutupi sebagian dinding. Yang kedua, sekitar dua ratus meter persegi, berisi tiga kamar tamu. Dari luar sederhana, tetapi perlengkapan kamarnya sebaik hotel bintang lima. Bungalow terakhir, tujuh puluh dua meter persegi, menjadi tempatnya berolahraga dan yoga.

“Rumah yang dulu terlalu besar untuk kutinggali sendiri,” katanya.

“Enggak apa-apa, Ka.” Aku tersenyum. “Apa pun yang menurut kamu baik dan nyaman, lakukan. Tak perlu minta pendapatku.”

Aku memeluknya. Ia menghela napas, seperti baru saja meletakkan sesuatu yang berat.

“Kapan kamu pulang?”

“Sore ini aku ke Medan. Izinku dari istri mau meninjau kebun sawit di Sumatra Utara.”

Ia diam. Kami berjalan di bawah lorong bunga menuju rumah utama. Sesekali bahuku menyentuh daun yang basah. Sesampainya di ruang tamu, Esther membuka sebuah laci. Ia mengeluarkan buku kusam dengan sampul cokelat. Punggung buku itu ditambal kain. Ada bagian kertas yang menguning lebih gelap daripada halaman lainnya.

“Ale, baca ini.” Air mata mengalir di pipinya.

Ada apa lagi, pikirku. Kami sudah sama-sama tua. Mengapa sebuah kunjungan singkat harus berakhir dengan tangisan? Aku menerima buku itu dengan ketidaksabaran yang kelak membuatku malu. Di dalamnya ada tulisan tangan yang rapi, lalu semakin jauh semakin sulit dibaca. Beberapa lembar berisi ingatan tentang kejadian yang sudah lewat. Pada lembar lain, penulisnya mencatat apa yang dialaminya hari itu. Esther telah menyelipkan potongan kertas sebagai penanda.

“Ini tulisan mama,” katanya.

Aku mulai membaca.

Solo, akhir Oktober 1965

Mas Klaus dicari-cari tentara. Katanya dia aktivis PKI. Aku tidak mengerti. Dia orang Jerman, seorang wartawan. Sehari-hari dia pergi membawa buku catatan dan pulang bercerita tentang orang-orang yang ditemuinya. Aku tidak tahu semua urusannya. Aku hanya tahu apa yang diceritakannya kepadaku. Belum seminggu dia tidak pulang, tentara datang ke rumah dan menangkapku.

Anakku baru tiga tahun. Dia sedang bermain di lantai. Ketika melihat aku ditarik, dia menangis dan memegang kainku. Aku meminta mereka menunggu sebentar. Aku ingin menitipkannya kepada tetangga. Mereka tidak mau mendengar.

Aku diseret keluar.

Aku masih melihat dia berdiri di ambang pintu, menangis, memanggilku. Aku tidak tahu siapa yang kemudian menggendongnya. Aku tidak tahu malam itu dia makan apa dan tidur bersama siapa. Sampai sekarang, kalau aku memejamkan mata, yang datang lebih dahulu adalah wajahnya di pintu itu.

Tentang hari-hari dalam tahanan

Aku ditendang dengan sepatu lars dan didorong masuk ke tempat penahanan. Di sana banyak perempuan. Ada yang lebih tua dariku. Ada yang masih muda. Kami tidak tahu berapa lama akan ditahan.

Mereka menanyakan tempat Mas Klaus bersembunyi.

“Saya tidak tahu, Pak.”

“Kamu guru. Mengapa berbohong?”

Aku menjawab lagi bahwa aku tidak tahu. Ketika aku mengatakan kami belum menikah resmi, mereka menghina aku. Aku disiksa. Mereka menginginkan pengakuan yang tidak bisa kuberikan, sebab aku memang tidak mengetahui jawabannya. Ada malam ketika aku merasa tidak akan sanggup bangun lagi. Tetapi aku teringat anakku. Kalau aku mati, kepada siapa dia akan mencari ibunya? Aku tidak lagi berdoa panjang. Aku hanya meminta umur sampai bisa bertemu dengannya.

Rumah di luar kota

Suatu hari seorang perwira muda datang. Dia mengatakan aku bukan PKI dan akan dibebaskan. Dia mengusap rambutku dan menyuruhku ikut. Aku dibawa dengan jip ke sebuah rumah di luar kota. Aku mengira sesudah beristirahat dia akan mengantarkanku pulang. Ternyata aku disuruh tinggal. Aku mencuci pakaiannya, membersihkan rumah, dan memasak untuknya. Pakaian kotornya sering berantakan di bawah tempat tidur.

Setiap aku bertanya tentang anakku, dia mengatakan nanti akan diurus. Sesudah luka-lukaku mulai sembuh, dia memaksaku melayaninya di kamar. Aku tidak berani menolak. Aku takut dikembalikan ke tahanan. Aku juga masih berharap dia akan menepati janjinya. Aku melakukan apa yang dimintanya. Aku menunggu suasana hatinya baik untuk bertanya lagi tentang anakku. Lalu dia mendapat tugas ke operasi.

Aku disuruh pergi. Janjinya untuk mempertemukan aku dengan anakku tidak dipenuhi. Aku tidak tahu harus mencari ke mana. Aku malu menulis semua ini. Tetapi jika suatu hari anakku membaca, aku ingin dia tahu mengapa aku tidak segera datang menjemputnya. Aku tidak meninggalkanmu, Nak. Aku tidak pernah ingin meninggalkanmu.

Aku menurunkan buku ke pangkuan. Di hadapanku, Esther menahan tangis dengan menempelkan saputangan ke mulut. Cahaya dari taman jatuh pada rambutnya yang beruban. Aku peluk dia untuk menentramkan jiwanya. Baru beberapa menit sebelumnya aku menganggap tangisnya sebagai drama. Sekarang aku tidak berani menatapnya terlalu lama.

Di antara baris-baris yang sederhana itu, seorang ibu berusaha menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan: bahwa ia mencintai anaknya, bahwa ia mencoba pulang, bahwa ketidakhadirannya bukan keputusan yang dibuatnya dengan bebas.

Aku membayangkan ia menulis pada malam sepi. Barangkali berkali-kali ia berhenti pada kata-kata tertentu, lalu kembali menulis karena takut anaknya kelak hanya mendengar cerita dari orang lain. Ia tidak meminta anak itu mengerti politik. Ia ingin anaknya mengerti satu hal: ibunya pernah berjuang untuk tetap hidup demi mencari dia.

“Teruskan, Ale,” bisik Esther.

Aku membuka halaman berikutnya.

Yogyakarta

Aku bekerja di sebuah rumah batik. Sebelum berangkat kerja, aku menjual kue di dekat sekolah. Malam hari aku menjual bandrek di pangkalan becak, barang satu atau dua jam. Upahku sedikit. Aku menyimpan uang sedikit demi sedikit. Kalau ada kue tersisa, itu yang kumakan. Di rumah batik, bau malam menempel di baju sampai malam. Kadang jari-jariku sakit.

Kalau terlalu lelah, aku duduk sebentar dan memikirkan anakku. Sekarang dia pasti bertambah tinggi. Mungkin rambutnya sudah bisa dikepang. Dulu dia tidak suka rambutnya disisir. Dia akan menangis kalau aku menarik terlalu keras, lalu diam jika kuberi cermin. Pagi tadi seorang anak perempuan membeli kue. Umurnya mungkin sebaya anakku. Dia memanggil ibunya untuk meminta uang lagi. Aku ingin mendengar anakku memanggil seperti itu. Aku tidak meminta dia melakukan apa-apa untukku. Aku hanya ingin dia memanggil, lalu aku bisa menjawab.

Kabar dari Mbak Yu Lik

Mbak Yu Lik mengatakan anakku dibawa ke Jakarta oleh seorang perwira. Dia menyebut namanya. Nama itu kutulis agar tidak lupa.

Aku percaya Mbak Yu Lik. Kami berteman sejak muda dan pernah sama-sama kuliah di UGM. Dia tahu tentang Mas Klaus. Dia tahu kami berkenalan ketika aku aktif di GMNI dan Mas Klaus bekerja sebagai wartawan asing di Yogya. Aku akan ke Jakarta kalau uangku cukup. Aku takut anakku tidak mengenaliku lagi. Tetapi aku lebih takut dia mengira tidak ada orang yang datang mencarinya.

Jakarta

Sebulan setelah tiba di Jakarta, aku menemukan rumah perwira itu. Rumahnya besar. Ada penjaga di depan. Aku tidak berani langsung mendekat. Aku berdiri di seberang jalan cukup lama, lalu memberanikan diri bertanya. Penjaga membentakku dan menyuruhku menjauh dari pagar. Aku pulang, tetapi besoknya datang lagi. Aku membawa kue. Kupikir mungkin bisa dititipkan. Mereka tidak mau menerima. Aku tidak melihat anakku.

Catatan pada halaman berikutnya

Hari ini aku datang lagi. Hujan turun sebelum aku sampai. Bajuku basah. Aku menunggu di bawah pohon sampai hujan reda. Dari halaman terdengar suara anak-anak. Aku tidak tahu apakah salah satunya suara anakku. Aku tidak berani memanggil. Aku ingin sekali mendekati pagar. Tetapi penjaga sudah melihatku. Kalau aku bisa menitipkan satu pesan, aku ingin mengatakan: makan yang cukup, Nak. Kalau sakit, bilang kepada orang yang mengurusmu. Jangan menahan sakit karena takut merepotkan.

Di sini ibumu sehat. Ibumu masih mencarimu.

Aku berhenti pada kalimat terakhir. Seorang ibu yang makan dari dagangan tersisa, bekerja dari pagi sampai malam, dan berkali-kali diusir dari pagar masih ingin mengatakan kepada anaknya bahwa ia sehat. Ia menyimpan kesusahannya agar tidak menjadi beban bagi anak yang bahkan belum dapat mendengarnya. Aku teringat tangan Esther ketika menerima tamu, menandatangani dokumen, atau mengangkat gelas di sebuah restoran Hong Kong. Di masa yang sama, ibunya pernah berdiri di jalan Jakarta dengan tangan membawa bungkusan kue yang ditolak.

“Dia datang berkali-kali,” kata Esther. “Aku tinggal di dalam. Aku tidak tahu.”

Suara itu hampir habis pada kata terakhir. Aku tidak menemukan jawaban. Kutaruh tanganku di atas tangannya, lalu membaca lagi.

Sesudah bertahun-tahun

Sudah sekitar sepuluh tahun aku mendatangi rumah itu. Kadang beberapa kali dalam satu bulan. Kadang aku tidak punya ongkos dan harus menunggu. Sekarang mereka pindah. Orang yang kutanya tidak mau memberi alamat. Belakangan aku membaca koran sore. Perwira itu ditugaskan menjadi duta besar di Eropa. Mungkin anakku dibawa. Aku tidak tahu bagaimana pergi ke Eropa. Aku menyimpan potongan koran itu. Setidaknya aku tahu di mana harus membayangkan anakku berada. Di sana tentu dingin. Semoga ada yang mengingatkan dia memakai baju hangat.

Esther mengambil buku itu dari tanganku. Ia membalik beberapa lembar, menemukan penanda lain, lalu menyerahkannya kembali.

“Bagian ini tahun 1979,” katanya.

Jakarta, 1979

Mbak Yu Lik dan suaminya mengantarkanku menemui anakku. Suaminya juga seorang perwira dan punya hubungan dengan kerabat Keraton Solo. Mereka menolongku supaya diizinkan datang. Aku diminta berjanji tidak akan mengatakan siapa aku. Aku tidak boleh menceritakan masa lalu. Aku tidak akan meminta anakku dikembalikan. Aku berjanji.

Sebelum berangkat, aku menyetrika kebayaku. Aku ingin kelihatan rapi. Tanganku gemetar ketika memasang peniti. Anakku sudah remaja. Cantik sekali. Wajahnya seperti Mas Klaus. Aku tahu itu anakku sebelum orang memperkenalkannya. Dia menyalamiku dengan sopan. Aku ingin memeluknya. Tetapi aku ingat janji kepada Mbak Yu Lik. Jadi aku hanya memegang tangannya sebentar.

Dia bertanya apakah aku datang dari jauh. Kujawab, lumayan jauh. Aku ingin mengatakan bahwa aku datang dari bertahun-tahun yang panjang. Tetapi dia tentu tidak akan mengerti. Aku bertanya tentang sekolahnya. Dia menjawab sambil tersenyum. Giginya bagus. Badannya sehat. Aku senang melihatnya. Ketika dia memanggil istri perwira itu “Ibu”, aku menunduk dan berpura-pura membetulkan kain. Aku tidak boleh menangis di sana.

Sebelum pulang, aku berpesan supaya dia rajin belajar dan menjaga kesehatan. Dia mengangguk. Mungkin dia menganggapku cerewet, seperti perempuan tua lain yang datang bertamu. Tidak apa-apa. Aku bahagia sudah melihatnya. Walau revolusi memisahkan aku dan putriku, tetapi revolusi juga yang merawat putriku. Begitu aku mencoba menghibur diri malam ini. Biarlah aku saja yang menelan semua derita. Jangan putriku.

Aku tidak ingin dia malu mempunyai ibu seperti aku. Aku ingin dia berjalan jauh, sekolah tinggi, dan hidup baik. Kalau suatu hari kau tahu, Nak, jangan merasa bersalah karena tidak mengenali aku. Waktu itu kau masih kecil ketika kita dipisahkan. Bukan tugasmu untuk mengingat jalan pulang. Aku yang ingin pulang kepadamu.

Aku menutup buku itu perlahan. Di taman, sisa air hujan jatuh dari ujung daun. Teh yang disuguhkan sejak tadi tidak kami sentuh. Aku membayangkan pertemuan tahun 1979 itu: seorang ibu telah menunggu empat belas tahun, tetapi ketika kesempatan datang, ia harus berhati-hati agar rindunya tidak diketahui. Ia mungkin sudah menyiapkan banyak pertanyaan selama perjalanan. Apakah anaknya bahagia? Apakah ada yang menemaninya jika ia takut? Apakah pernah ia mencari wajah ibunya di antara orang-orang yang lewat?

Namun di ruang tamu itu ia hanya boleh bertanya tentang sekolah dan kesehatan. Ia menahan tangannya ketika ingin memeluk. Ia menundukkan wajah ketika ingin menangis. Bahkan sesudah pulang, ia masih memikirkan cara membebaskan anaknya dari rasa bersalah.

Di dalam buku itu, ia menulis bahwa ia bahagia. Aku percaya ia memang bahagia melihat putrinya sehat. Tetapi kebahagiaan itu harus dibawanya pulang sendirian. Tidak ada anak yang akan menghampirinya malam itu, menyandarkan kepala, dan membiarkannya menjadi ibu.

“Sekarang mama kamu di mana, Ka?”

“Meninggal. TBC. Tahun 1980. Setahun setelah bertemu denganku.”

Esther menarik napas, tetapi napas itu patah sebelum selesai.

“Tahun 1993, setelah ayahku meninggal, aku baru tahu bahwa aku anak angkat. Aku tanyakan kepada ibu. Akhirnya aku dibawa menemui Bude Lik di Semarang. Beliau yang menceritakan semuanya dan memberikan buku ini.”

“Bude Lik masih menyimpannya?”

“Mama menitipkan buku ini kepada beliau.”

Ia memandang sampul yang terbaring di antara kami.

“Waktu membacanya pertama kali, aku mencoba mengingat perempuan yang pernah datang itu. Aku takut kalau wajahnya hilang sama sekali dari kepalaku. Aku ingat kebayanya. Aku ingat tangannya agak dingin. Itu saja, Ale. Mama menunggu bertahun-tahun, dan yang bisa kuingat cuma itu.”

Aku merapatkan genggamanku.

“Kamu tidak bersalah, Ka.”

“Aku tahu. Mama juga menulis begitu. Tapi aku ingin sekali mendapat kesempatan untuk mengatakan bahwa aku tidak malu menjadi anaknya.”

“Tahun 2000 aku menemukan alamat papa di Berlin,” lanjut Esther setelah tangisnya mereda. “Aku temui dia. Namanya Klaus. Dia sudah punya keluarga sendiri.”

“Apa katanya?”

“Dia bilang tidak pernah menikah resmi dengan mama. Dia tidak begitu terkesan ketika tahu aku putrinya.”

Esther mengusap pipi dengan saputangan yang sudah lembap. “Mama menempuh bertahun-tahun untuk melihatku sebentar. Papa bisa bertemu denganku hari itu, tapi dia seperti ingin percakapannya cepat selesai.”

Aku diam.

“Sekarang kamu tahu kenapa aku bersikeras pindah ke Hong Kong pada 1996. Kamu berusaha menahan aku. Aku bilang mau mengembangkan karier. Itu benar, tetapi bukan seluruh alasannya. Aku marah kepada Soeharto. Aku benci karena mama menderita, sementara cerita tentang zamannya selalu disampaikan sebagai kemenangan.”

Di wajah Esther masih tersisa kemarahan. Aku berusaha memahami luka yang membuat suaranya mengeras.

“Ale, aku tidak yakin Soeharto dan barisannya mengganyang PKI demi tujuan mulia seperti yang tertulis dalam Pancasila. Menurutku, Pancasila dijadikan alasan untuk melegitimasi tindakan mereka. Bahkan sebelum kekuasaannya dikukuhkan melalui pemilu, ia sudah menandatangani undang-undang penanaman modal asing yang membuka jalan bagi masuknya Freeport ke Papua. Setelah itu, para pengusaha besar mengantre mendapatkan konsesi minyak dan gas. Bagiku, Orde Baru dan zaman sesudahnya merupakan kelanjutan kolonialisme yang sempat terputus pada masa Orde Lama,” kata Esther.

Aku menyimak tanpa menyela.

“Kamu tahu, Mao dan barisan komunisnya berjuang dengan darah dalam perang saudara melawan kaum nasionalis. Dalam pandangan Mao, lawannya sudah menjauh dari cita-cita tentang Tiongkok yang berdaulat dan terlalu bergantung pada dukungan Amerika Serikat. Setelah menang, cita-cita membangun Tiongkok dengan kekuatannya sendiri menjadi dasar perjuangan mereka.”

Esther berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Mereka memang berangkat dari pemikiran Marx dan Lenin, tetapi mengembangkan tafsir dan jalan revolusinya sendiri, sesuai dengan keadaan Tiongkok. Jalan itu penuh darah, kelaparan, dan kematian. Aku tidak menganggap penderitaan itu sesuatu yang patut dimuliakan. Namun, menurutku, mereka terus berusaha mempertahankan cita-cita tentang bangsa yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Dalam perjalanan waktu, mereka mengubah kebijakan, belajar dari kegagalan, dan terus bergerak maju.

“Tiongkok mengundang penanaman modal asing terutama untuk memperluas industri dan menyerap tenaga kerja, sambil mempertahankan kendali negara atas sumber daya strategis. Investor asing tertarik karena upah yang saat itu murah dan pasar yang besar. Namun, jalan sosialis tidak menghalangi berkembangnya kapitalisme. Mereka mendorong riset dan pengembangan, membangun infrastruktur, serta memperluas penguasaan pasar global. Negara berusaha mengendalikan gerak kapital melalui kebijakan nilai tukar, peredaran uang, dan arah investasi, agar pembangunan tetap melayani kepentingan nasional.

Esther terdiam sejenak.

“Tapi bagaimana dengan kita? Kita mengundang asing untuk mengeksploitasi sumber daya alam, lalu menggantungkan percepatan pembangunan pada utang luar negeri. Ketergantungan itu menjadi kerikil dalam sepatu ketika kita ingin bergerak lebih lincah. Utang terus bertambah, ruang fiskal semakin sempit, sementara banyak penduduk masih hidup miskin atau rentan jatuh miskin. Angka kemiskinan Bank Dunia pun berusaha disangkal dengan hipokrit.

“Bagiku, arah perjalanan ini sudah terlalu jauh bergeser dari semangat dan cita-cita kemerdekaan. Kini kita menghadapi bentuk penjajahan yang menyakitkan, kekayaan negeri dikuasai segelintir orang, sementara sebagian besar rakyat hanya mendapat sisanya. Dan yang melanggengkannya justru anak bangsa sendiri.”

Ia menatapku. Kemarahan di wajahnya belum sepenuhnya reda.

“Itulah yang ingin kupahami, Ale. Ketika rakyat diminta berkorban atas nama bangsa, siapa yang akhirnya menikmati hasil pengorbanan itu?”

“Ka, mungkin memang begitulah takdir bangsa kita,” kataku, berusaha mengajaknya berdamai dengan kenyataan.

“Ini bukan takdir. Ini ulah manusia sendiri. Tuhan pasti tidak menghendaki pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pengikut PKI,” jawab Esther cepat.

“Cara kita beragama terlalu sering dipenuhi keinginan untuk menyalahkan dan menghakimi orang lain. Seolah-olah surga hanya diperuntukkan bagi mereka yang sesuai dengan ukuran kebenaran kita sendiri. Ketika agama diperalat untuk kepentingan politik, ia bisa menjadi mesin pembenaran bagi keserakahan. Semangat untuk berlaku adil pun tersisih, apalagi keberanian memperjuangkan mereka yang tertindas.”

Ia berhenti sejenak, lalu suaranya merendah.

“Kalau semuanya kita sebut takdir, Ale, kapan manusia diminta bertanggung jawab atas perbuatannya?”

“Bukankah generasi kita dan generasi sekarang sedang membayar kesalahan itu?” kataku. “Negara lain bergerak ke depan, sementara kita seperti berjalan di tempat, bahkan kadang mundur.”

Esther menatapku lama.

“Karena kita terlalu mudah menyebut akibat sebagai nasib, Ale.”

Aku terdiam.

“Bangsa tidak menjadi miskin karena ditakdirkan miskin. Negara tidak tertinggal karena Tuhan memilihnya untuk tertinggal. Ada keputusan manusia di belakangnya. Ada institusi yang dibangun, ada kekuasaan yang dipertahankan, ada sumber daya yang dibagikan tidak adil, dan ada kesalahan yang dibiarkan berlangsung terlalu lama.”

Aku mengangguk pelan.

“Tiongkok juga pernah miskin,” lanjutnya. “Korea pernah hancur karena perang. Banyak negara tidak mempunyai sumber daya alam sebesar kita. Yang membedakan adalah bagaimana mereka membangun manusia, teknologi dan institusinya.”

“Jadi menurutmu kita salah sejak awal?”

“Tidak sesederhana itu. Sejarah tidak pernah sesederhana orang baik melawan orang jahat. Tetapi kalau sebuah kesalahan berlangsung puluhan tahun, kita tidak bisa terus menyalahkan sejarah.”

Ia menunjuk ke luar jendela.

“Lihatlah. Kalau orang menjadi kaya karena menciptakan teknologi, generasi muda akan masuk laboratorium. Kalau orang menjadi kaya karena membangun perusahaan produktif, mereka akan menjadi entrepreneur. Tetapi kalau jalan tercepat menuju kekayaan adalah konsesi, sumber daya alam dan kedekatan dengan kekuasaan, manusia juga akan belajar mengejar itu.”

Aku tersenyum pahit.

“Jadi yang salah bukan manusianya?”

“Manusia tetap bertanggung jawab. Tetapi jangan lupa, sistem menentukan perilaku apa yang diberi hadiah.”

Aku teringat percakapan-percakapan panjang tentang ekonomi kelembagaan. Negara dapat mempunyai ribuan sarjana, insinyur dan ekonom. Tetapi jika orang kompeten tidak menentukan keputusan, sementara akses terhadap kekuasaan lebih berharga daripada inovasi, kemampuan manusia itu akhirnya terbuang.

“Berarti generasi sekarang memang sedang membayar keputusan generasi sebelumnya?”

“Sebagian, ya. Tetapi itu bukan alasan untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya.”

Esther kemudian tersenyum tipis.

“Utang bisa diwariskan. Kerusakan institusi bisa diwariskan. Ketimpangan juga bisa diwariskan. Tetapi keberanian memperbaikinya juga bisa diwariskan.”

Aku memandangnya.

“Jadi bukan takdir?”

“Bukan.”

“Lalu apa?”

“Pilihan.”

Ia menatapku dengan wajah sedih.

“Takdir adalah wilayah Tuhan, Ale. Tetapi kebijakan, kekuasaan, keadilan dan cara kita memperlakukan manusia adalah wilayah pertanggungjawaban kita sendiri.”

Aku tidak menjawab. Untuk pertama kalinya aku memahami kemarahannya.

Mungkin persoalan terbesar sebuah bangsa bukan bahwa ia pernah melakukan kesalahan. Semua bangsa pernah melakukannya. Persoalannya adalah ketika kesalahan yang dibuat manusia terus disebut takdir, sehingga tidak seorang pun merasa berkewajiban memperbaikinya.

“ Aku lelah marah. Tapi aku juga takut kalau berhenti marah berarti membiarkan mama dilupakan.”

“Marah karena ketidakadilan dapat membuat kita menjaga ingatan,” kataku. “Yang perlu kamu jaga adalah supaya kemarahan itu tidak membuat kamu menginginkan orang lain mengalami penderitaan yang sama.”

Esther memandangku. “Begitulah politik kebencian bekerja, ya? Orang diberi musuh. Sesudah itu, apa pun yang dilakukan terhadap musuh dianggap pantas.”

“Revolusi memakan anak bangsa,” Lanjut Esther  “Aku membacanya sebagai kalimat besar. Setelah membaca buku mama, aku baru mengerti bahwa yang dimakan juga hari-hari kecil. Kesempatan seorang ibu menyisir rambut anaknya. Kesempatan mengantar sekolah. Kesempatan dipanggil Ibu.”

Aku melihat ke taman sebelum menjawab.

“Dan sesudah kekerasan berhenti, orang-orang yang selamat masih harus hidup dengan apa yang hilang.” Kataku.

“Yang menang bisa meneruskan hidup. Yang kalah harus membuktikan bahwa mereka pantas hidup. Kadang bahkan anak-anak mereka ikut diminta menanggung kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan.”

Esther mengambil buku itu, membukanya kembali pada catatan tahun 1979. “Mama menulis bahwa revolusi juga merawatku. Kamu percaya?”

“Aku percaya dia sedang berusaha bertahan setelah pertemuan itu. Dia melihat kamu sehat dan mendapat pendidikan. Dia mungkin membutuhkan kalimat yang membuatnya sanggup pulang tanpa kamu.”

Ia membaca baris itu lama.

“Aku menyayangi ibu angkatku, Ale. Beliau merawatku. Aku tidak ingin menyangkal kebaikannya.”

“Kamu bisa mengakui kebaikannya dan tetap berduka untuk mama kamu.”

“Aku dulu takut harus memilih.”

Aku menggeleng.

“Kasih sayangmu kepada orang yang membesarkan kamu tidak menghapus hakmu mencintai orang yang melahirkan kamu.”

Esther menutup mata. Untuk beberapa saat wajahnya tenang, meskipun air mata masih turun. “Sekarang aku mencoba memahami ketakutan negara waktu itu, terutama tekanan dari perang dingin antara Barat dan USSR. “ katanya kemudian. “Tentang keselamatan bangsa, konstitusi, pergolakan yang berkali-kali terjadi. Tetapi aku tidak bisa menerima kalau mama harus dianggap sebagai harga yang wajar.”

“Negara memang harus dijaga,” lanjutnya. “Namun kalau kita mengatakan Pancasila dan konstitusi menjadi pegangan, kita harus bisa bertanya bagaimana seorang ibu seperti mama diperlakukan. Bagaimana dengan rakyat awam dipenggal dan mati tanpa belas kasihan. Nilai-nilai itu perlu hadir ketika seseorang tidak punya kekuatan untuk melindungi dirinya.”

“Termasuk orang yang berbeda pandangan dengan penguasa?”

“Termasuk mereka.”

Ia mengangguk kecil. “Aku ingin mencintai Indonesia tanpa harus menyembunyikan buku ini.”

“Simpan, Ka. Ceritakan ketika kamu sanggup.”

“Supaya orang membenci?”

“Supaya orang mengetahui apa yang terjadi pada seorang manusia. Setelah itu, semoga mereka lebih berhati-hati ketika diajak membenci manusia lain.”

Dari arah bungalow, terdengar pintu ditutup pelan. Orang yang membantu mengurus taman membawa alat-alatnya ke tempat teduh. Langit mulai gelap lagi.

“Di ruang lukis ada gambar perempuan membelakangi pintu,” kataku. “Itu mama kamu?”

Esther mengangguk.

“Aku belum ingat wajahnya dengan jelas. Aku mencoba, tapi setiap kulukis rasanya seperti wajah orang lain.”

“Kamu bisa mulai dari yang kamu ingat.”

“Tangannya?”

“Iya.”

Ia memandang tangannya sendiri.

“Kadang aku berpikir, mungkin aku menjabatnya terlalu singkat.”

“Bagi mama kamu, kamu sudah ada di hadapannya hari itu.”

Esther menangis lagi. Kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya.

Menjelang berangkat, ia mengantarku melalui lorong bunga. Air menetes ke batu. Mobil sudah menunggu di dekat pagar bambu.

“Kamu benar-benar tidak marah rumahnya kuubah?”

“Tidak, Ka. Rumah ini milik hidupmu. Kamu berhak membuatnya nyaman.”

Ia menoleh ke rumah kecil dengan dinding bening itu. “Aku ingin punya tempat yang tenang. Aku ingin bisa membaca tulisan mama tanpa harus segera menyimpan bukunya karena ada rapat atau pekerjaan.”

Ia terdiam sebentar.

“Dan kalau melukis, aku ingin bisa berhenti. Duduk saja di dekat lukisan itu. Tidak perlu berpura-pura sudah sembuh.”

Aku memeluknya.

Sebelum melepaskan pelukan, Esther berkata sangat pelan, “Aku berharap mama pernah mendapat satu hari seperti itu.”

Satu hari yang tidak menuntutnya bekerja sampai malam. Satu hari yang tidak membuatnya menunggu di depan pagar. Satu hari ketika anaknya berada dalam jangkauan tangan.

Aku tidak mengatakan bahwa ibunya pasti sudah bahagia di tempat lain. Pagi itu aku baru membaca betapa lama perempuan tersebut hidup dari janji. Aku tidak ingin menambah janji yang tidak dapat kubuktikan. Aku hanya berdiri dan membiarkan Esther menangis sampai ia sendiri melonggarkan pelukannya.

Sore itu aku terbang ke Medan. Di atas awan, aku teringat catatan tentang baju hangat. Seorang ibu yang tidak mampu membeli tiket ke Eropa masih memikirkan apakah anaknya akan kedinginan di sana. Aku menatap tanganku di atas sandaran kursi. Selama hidup, tangan itu telah menandatangani banyak keputusan, menerima banyak keuntungan, dan memegang orang-orang yang kusayangi. Aku baru menyadari betapa seringnya aku menganggap kesempatan memeluk seseorang sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia.

Setelah mendarat, aku mengirim pesan kepada Esther. Aku sudah sampai, Ka. Terima kasih sudah membiarkan aku membaca buku mama.

Jawabannya datang beberapa menit kemudian. Aku sedang di ruang lukis. Malam ini aku mau mencoba menggambar tangannya.

**

Kekerasan politik sering diwariskan kepada generasi berikutnya melalui bahasa yang membuatnya tampak tidak terhindarkan. Pembunuhan disebut pengorbanan, penindasan disebut penertiban, dan penderitaan masyarakat dianggap sebagai harga yang harus dibayar demi keselamatan bangsa. Dalam keadaan demikian, pertanyaan etis yang mendasar ialah bagaimana manusia menerima kenyataan sejarah tanpa menghapus tanggung jawab atas tindakan yang membentuknya.

Bahwa penerimaan terhadap masa lalu perlu dibedakan dari pembenaran terhadap kekerasan. Agama, ideologi, dan kepentingan negara dapat memberikan orientasi moral bagi kehidupan bersama. Namun, ketika digunakan untuk membebaskan kekuasaan dari pemeriksaan, ketiganya dapat menjadi sarana legitimasi bagi tindakan yang bertentangan dengan nilai yang mereka nyatakan.

Kepercayaan kepada takdir dapat membantu manusia menghadapi kehilangan. Akan tetapi, dalam pembahasan kekerasan politik, penjelasan tentang takdir tidak dapat menggantikan penelusuran sebab dan tanggung jawab. Pembunuhan, penyiksaan, dan pengusiran melibatkan keputusan manusia, pelaksanaan oleh individu atau organisasi, serta institusi yang memungkinkan tindakan tersebut berlangsung.

Menganggap seluruh penderitaan sebagai takdir berisiko menutup pertanyaan tentang siapa yang memerintah, siapa yang melaksanakan, dan siapa yang membiarkannya. Penerimaan spiritual terhadap sesuatu yang telah terjadi tetap dapat berjalan bersama tuntutan pertanggungjawaban. Seseorang dapat menerima bahwa masa lalu tidak bisa diubah sambil menuntut agar kebenarannya diketahui dan kekerasannya tidak diulangi.

Persoalan ini berkaitan dengan pemikiran Hannah Arendt mengenai penilaian moral. Dalam Responsibility and Judgment, Arendt membahas kemampuan manusia membedakan baik dan buruk ketika ukuran moral yang diterima masyarakat tidak lagi memadai. Pemikirannya mengingatkan bahwa kebiasaan, kepatuhan, dan penerimaan sosial tidak cukup untuk menentukan apakah suatu tindakan dapat dibenarkan.

Dalam politik kebencian, kemampuan menilai itu melemah ketika manusia direduksi menjadi identitas kelompok. Seseorang tidak lagi dilihat sebagai individu dengan tindakan yang perlu diperiksa, melainkan sebagai bagian dari kategori yang dianggap berbahaya. Cap politik, agama, atau etnis kemudian menggantikan pembuktian. Kesalahan seseorang dapat diperluas kepada keluarga dan kelompoknya, sementara hak untuk membela diri semakin sempit.

Albert Bandura menjelaskan mekanisme psikologis yang memungkinkan kekerasan melalui konsep moral disengagement, yaitu pelepasan kendali moral. Mekanismenya mencakup pembenaran tindakan melalui tujuan yang dianggap mulia, penghalusan bahasa, pemindahan tanggung jawab, pengabaian akibat, serta penyalahkan dan dehumanisasi korban.

Kerangka tersebut membantu menjelaskan mengapa orang yang menganggap dirinya bermoral dapat mendukung tindakan kejam. Kekerasan dibingkai sebagai kewajiban, korban digambarkan sebagai ancaman, dan pelaku menempatkan dirinya sebagai pelaksana kehendak yang lebih besar. Akibatnya, pertanyaan tentang penderitaan manusia tersisih oleh pertanyaan tentang kesetiaan kepada kelompok.

Bahasa mempunyai peran penting dalam proses ini. Istilah seperti pembersihan atau penertiban dapat menyembunyikan kenyataan bahwa manusia dibunuh, disiksa, atau kehilangan tempat tinggal. Tujuan yang dinyatakan mulia tidak otomatis membenarkan sarana yang digunakan. Setiap tindakan tetap perlu dinilai berdasarkan akibatnya, bukti yang mendasarinya, dan perlindungan yang diberikan kepada manusia yang terkena dampaknya.

Hubungan agama dan politik juga perlu diperiksa melalui ukuran tersebut. Tidak tepat menyimpulkan bahwa keterlibatan agama dalam kehidupan publik selalu menghasilkan penindasan. Nilai keagamaan dapat menjadi sumber solidaritas, keberanian membela korban, dan kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Persoalan muncul ketika otoritas agama digunakan untuk mengesahkan kepentingan politik dan menempatkan pihak tertentu di luar pemeriksaan moral.

Klaim kebenaran menjadi berbahaya ketika disertai anggapan bahwa orang yang berbeda tidak berhak memperoleh perlindungan yang sama. Pada titik itu, perbedaan keyakinan berubah menjadi alasan diskriminasi. Kesetiaan kepada kelompok mengambil tempat keadilan, sementara kritik terhadap penguasa diperlakukan sebagai serangan terhadap agama.

Tradisi keagamaan sendiri menyediakan dasar untuk menolak kecenderungan tersebut. Dalam Islam, Surah Al-Ma’idah ayat 8 menegaskan bahwa kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh menghalangi seseorang berlaku adil. Keadilan, dengan demikian, tetap menjadi kewajiban terhadap orang yang tidak disukai. Kedalaman keberagamaan dapat dinilai dari kemampuan mempertahankan kewajiban itu ketika kepentingan kelompok mendorong perlakuan sebaliknya.

Revolusi dan perubahan politik besar menghadirkan persoalan serupa. Janji pembebasan dapat kehilangan dasar moralnya apabila manusia diperlakukan sebagai bahan pengorbanan bagi tujuan sejarah. Ungkapan bahwa revolusi memakan anak bangsa menggambarkan keadaan ketika perjuangan yang mengatasnamakan rakyat justru menghancurkan kehidupan mereka.

Biaya kekerasan tidak terbatas pada jumlah kematian. Ia juga mencakup keluarga yang terpisah, pendidikan yang terputus, penghidupan yang hilang, dan ketakutan yang diwariskan. Sejarah yang hanya mencatat kemenangan politik berisiko mengabaikan kerusakan tersebut. Karena itu, penilaian terhadap perubahan sosial perlu memperhitungkan pengalaman manusia yang menanggung akibatnya, termasuk mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk membentuk narasi resmi.

Kekerasan negara dapat dibahas tanpa menyangkal kebutuhan menjaga keamanan. Ancaman terhadap masyarakat memang memerlukan tindakan. Namun, alasan keamanan harus dapat diperiksa, kesalahan harus dibuktikan secara individual, dan tindakan negara harus dibatasi. Jika setiap pelanggaran dibenarkan atas nama keadaan darurat, perlindungan terhadap warga bergantung sepenuhnya pada kehendak penguasa.

Demikian pula, pengakuan atas penderitaan korban tidak berarti membenarkan seluruh pandangan politik mereka. Hak untuk hidup dan bebas dari penyiksaan tidak bergantung pada kesamaan ideologi. Seseorang dapat menolak suatu ajaran politik sambil menolak kekerasan terhadap penganutnya. Pembedaan ini penting agar keadilan tidak berubah menjadi hadiah yang hanya diberikan kepada pihak yang disetujui.

Rekonsiliasi membutuhkan lebih dari ajakan melupakan. Ia memerlukan pengakuan terhadap penderitaan, ruang bagi kesaksian, pemulihan martabat, dan pemeriksaan tanggung jawab berdasarkan bukti. Korban tidak seharusnya diminta menanggung kewajiban menjaga ketenangan masyarakat dengan menyembunyikan pengalamannya. Pada saat yang sama, pertanggungjawaban harus diarahkan kepada tindakan dan pelakunya, sehingga tidak melahirkan penghukuman kolektif yang baru.

Masyarakat yang dewasa secara moral mampu menghormati agama dan mencintai negara sambil memeriksa tindakan yang dilakukan atas nama keduanya. Kepercayaan kepada takdir tidak menghapus tanggung jawab manusia. Kesetiaan kepada bangsa tidak membebaskan penguasa dari kritik. Kebenaran yang diyakini pun tetap harus diwujudkan melalui perlakuan yang adil terhadap mereka yang berbeda.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca