
Wajah Eropa
Batavia, 1912.
Menjelang pukul sembilan malam, kereta-kereta kuda mulai berhenti di depan Societeit Concordia. Roda besinya menggilas kerikil halaman yang masih menyimpan lembap hujan sore. Dari arah Kali Ciliwung, angin membawa bau lumpur, daun basah, dan air yang tak pernah benar-benar jernih. Namun di bawah serambi gedung itu, Batavia berusaha melupakan bahwa ia dibangun di atas rawa.
Concordia berdiri putih dan angkuh di bawah cahaya lampu gas. Pilar-pilarnya menjulang seperti kaki para dewa yang tak sudi menyentuh tanah jajahan. Di tangga depan, kusir-kusir pribumi menundukkan kepala ketika para tuan turun dari kereta. Jas linen, sepatu kulit, tongkat berkepala perak, dan aroma tembakau impor bergerak melewati mereka menuju pintu-pintu tinggi yang dijaga pelayan berseragam putih.
Di dalam, udara terasa lebih sejuk. Kipas-kipas besar yang digerakkan tali berayun lamban di langit-langit. Cahaya lampu kristal jatuh di atas lantai marmer, gelas-gelas berisi jenever, dan wajah-wajah Eropa yang memerah karena panas tropis. Dari ruang dansa terdengar gesekan biola, disusul denting piano yang memainkan wals dari Wina. Musik itu berusaha terdengar agung, meskipun sesekali tenggelam oleh tawa keras para saudagar, perwira, pejabat, dan pemilik perkebunan yang baru kembali dari pedalaman.
Mereka datang ke Concordia bukan sekadar untuk minum. Di tempat itu, perjanjian dagang dapat lahir di antara dua cerutu. Harga gula dibicarakan sambil tertawa. Konsesi tanah berpindah nasib di atas meja kartu. Seorang pejabat dapat mengeluhkan kaum bumiputra pada petang hari, lalu meminta pelayan bumiputra membawakan mantel ketika malam turun.
Di salah satu sayap gedung terdapat ruang baca yang lebih sunyi. Lemari-lemari kayu jati berdiri sampai ke langit-langit, penuh buku dari Amsterdam, Leiden, London, dan Paris. Surat kabar yang datang berminggu-minggu terlambat tersusun di atas meja panjang: De Locomotief, Het Nieuws van den Dag, The Times, juga jurnal perdagangan yang mencatat harga kopi, gula, karet, timah, serta saham perusahaan pelayaran. Dunia diringkas menjadi angka-angka, lalu diletakkan di bawah pemberat kuningan agar tidak diterbangkan angin kipas.
Namun selepas pukul sepuluh, kebanyakan lelaki tidak datang untuk membaca. Mereka berpindah ke ruang belakang, tempat tirai beludru meredam suara dan perempuan-perempuan muda berjalan dengan kebaya halus, kain batik mahal, atau gaun Eropa yang dijahit sedikit lebih rendah pada bagian dada. Mereka bukan anggota societeit. Nama mereka tidak pernah ditulis dalam daftar tamu. Akan tetapi, tanpa mereka, malam-malam para tuan akan terasa terlalu panjang dan kejantanan kolonial akan kehilangan penontonnya.
Di antara perempuan-perempuan itu, Fientje adalah nama yang paling sering disebut. Setiap kali mendengar nama itu, Brinkman merasa seperti seorang pecundang. Malam itu ia duduk bersama Ivan de Vries di dekat jendela tinggi yang menghadap taman. Di atas meja terdapat sebotol cognac Prancis, dua gelas pendek, dan asbak perak yang telah penuh. Brinkman belum menyentuh minumannya. Ia hanya memutar cerutu di antara jari telunjuk dan ibu jari, seolah-olah benda itu adalah leher seseorang yang ingin dipatahkannya. Di meja seberang, tiga pemilik perkebunan sedang tertawa.
“Fientje tahu cara membuat seorang lelaki lupa bahwa besok pagi ia masih harus memeriksa kebun,” kata seorang di antara mereka.

Yang lain membungkuk, membisikkan sesuatu. Ketiganya meledak dalam tawa yang lebih keras. Brinkman mengenali tawa itu. Sudah berbulan-bulan ia mendengarnya—tawa lelaki yang tidak hanya ingin menikmati seorang perempuan, tetapi juga ingin memastikan lelaki lain mengetahui bahwa ia telah menikmatinya.
Ia meneguk cognac sekaligus. Cairan itu membakar kerongkongannya, tetapi tidak memadamkan apa pun. Ivan mengamatinya sambil tersenyum tipis. “Apa sebenarnya masalahmu?” tanyanya. “Mengapa kau membiarkan dirimu tersiksa oleh seorang perempuan bayaran? Fientje bukan istrimu. Bahkan bukan kekasihmu.”
Brinkman menoleh tajam. “Aku tahu siapa dia.”
“Kalau begitu, jangan bertingkah seolah-olah seseorang telah mencuri milikmu.”
Kata milikmu membuat rahang Brinkman mengeras. Di Batavia, hampir segala sesuatu dapat disebut milik seseorang. Tanah memiliki surat. Rumah memiliki akta. Kuda diberi cap. Buruh terikat kontrak. Bahkan kesetiaan dapat dibeli dengan gaji bulanan. Akan tetapi, Fientje tidak pernah menjadi miliknya, betapapun banyak uang yang telah ia keluarkan.
Fientje berumur sembilan belas tahun. Ibunya perempuan Jawa dari Semarang; ayahnya seorang Eropa yang namanya tak pernah disebut dengan pasti. Dari ayah yang menghilang itu ia memperoleh kulit terang, hidung tegas, dan mata besar berwarna cokelat tua. Dari ibunya ia mewarisi rambut hitam yang panjang dan berombak, juga cara tersenyum yang tidak tergesa-gesa—senyum yang membuat seorang lelaki merasa sedang dipilih, meskipun ia baru saja membayar. Para lelaki menyebutnya bunga Indo. Pengelola rumah hiburan menyebutnya aset. Dalam buku yang tak pernah diperlihatkan kepada tamu, waktu Fientje mempunyai tarif, tubuhnya mempunyai harga, dan kecantikannya dihitung seperti usia produktif seekor kuda pacu.
Kapitalisme kolonial memang mempunyai bahasa yang rapi untuk segala bentuk kelaparan. Karet disebut komoditas. Tanah disebut konsesi. Tubuh perempuan disebut hiburan. “Aku tahu ia menjual dirinya,” kata Brinkman, lebih pelan. “Aku tahu ia menerima siapa saja yang sanggup membayar. Tetapi bukan itu persoalannya.”
“Lalu apa?”
Brinkman mengusap kepalanya. Rambut di pelipisnya telah mulai menipis. Umurnya baru empat puluh tiga, tetapi lima belas tahun perkawinan, dua anak, dan perusahaan impor yang terus membesar telah membuat wajahnya terlihat lebih tua. Ada semburat lelah pada matanya—kelelahan seorang lelaki yang memperoleh hampir semua yang pernah diinginkannya, lalu mendapati kemenangan tidak selalu menghadirkan kegembiraan. “Aku merindukan perempuan berparas Eropa dengan kelembutan perempuan pribumi,” katanya. “Di rumah aku tidak merasa sebagai lelaki seutuhnya.”
Ivan mengangkat alis. “Karena istrimu berani menyanggahmu?”
“Karena ia selalu ingin berdiri sejajar denganku.”
“Bukankah itu yang dibicarakan orang-orang modern sekarang? Kemajuan. Pendidikan perempuan. Kesetaraan.”
“Mudah mengatakannya di ruang baca.” Brinkman menunjuk ke arah lemari buku. “Sulit menjalaninya di dalam rumah sendiri.”
Di luar jendela, seorang pelayan menyalakan lampu taman. Nyala kecil itu bergetar ditiup angin, lalu tegak kembali.
“Aku bekerja,” lanjut Brinkman. “Aku membayar rumah di Rijswijk. Aku membayar pakaian, pesta, sekolah anak-anak, kereta, pelayan, semuanya. Tetapi setiap pulang, aku harus menjelaskan diriku seolah aku pegawai di hadapan seorang kepala kantor. Untuk apa kekuasaan dan uang kalau di dalam rumah aku tetap tidak berdaya di hadapan perempuan yang hidupnya kutanggung?”
Ivan tidak segera menjawab. Ia mengenal istri Brinkman: Helena, perempuan kelahiran Rotterdam yang membaca Multatuli, memainkan piano, dan dapat mematahkan kesombongan seorang lelaki hanya dengan satu kalimat tenang. Helena tidak bergantung kepada suaminya secara batin, dan barangkali itulah yang paling dibenci Brinkman. Ia dapat membayar kehidupan istrinya, tetapi tidak dapat membeli ketundukannya.
“Terutama di tempat tidur,” kata Brinkman, nyaris berbisik. “Kering. Membosankan.”
“Jadi?”
Brinkman memandang dasar gelasnya yang kosong. “Kau ingin tahu apa arti kekuasaan bagi seorang lelaki?” tanyanya.
Ivan bersandar. “Aku mendengarkan.”
“Ketika aku masuk kamar, Fientje menyiapkan air hangat. Ia membasuh kakiku, merapikan kukuku, membersihkan debu dan keringat dari tubuhku. Lalu ia membersihkan dirinya, mengenakan wangi bunga, dan datang tanpa keluhan. Ia tidak sibuk memperdebatkan siapa yang memimpin.”
Ia berhenti. Dari ruang dansa, musik wals berakhir. Tepuk tangan terdengar, disusul tawa perempuan.
“Namun ketika kusentuh,” lanjut Brinkman, “ia tahu bagaimana menuntunku tanpa membuatku merasa dipimpin. Ia membuatku percaya semua itu adalah kehendakku. Wajahnya begitu dekat—wajah Eropa, Ivan. Tetapi sepanjang hidupku, aku tidak pernah menemukan perempuan Eropa seperti dia. Mereka ingin dilayani. Mereka lekas mengeluh. Bahkan di tempat tidur mereka ingin berunding.”
Ivan mengangkat gelas, tetapi tidak meminumnya. Kini ia mengerti bahwa yang dirindukan sahabatnya bukanlah Fientje. Brinkman merindukan sebuah dunia yang tidak pernah benar-benar ada: wajah Eropa yang tunduk seperti bayangannya tentang perempuan pribumi; kecantikan kulit putih tanpa keberanian perempuan putih; tubuh yang melayani tanpa suara, tetapi cukup terampil untuk membaca semua kehendaknya. Fientje telah menyusun khayalan itu dengan sempurna. Dan Brinkman, yang merasa dirinya tuan, tidak menyadari bahwa justru dialah pelanggan yang sedang dimainkan.
“Kau membayar untuk sebuah pertunjukan,” kata Ivan akhirnya.
Brinkman menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Ketundukan yang kau kagumi itu adalah keterampilan kerja. Ia membasuh kakimu karena kau membayar. Ia mendengar keluhanmu karena kau membayar. Ia membuatmu merasa memimpin karena itulah barang yang sebenarnya ia jual.”
“Kau merendahkannya.”
“Tidak. Aku justru mengakui kecerdasannya.” Ivan meletakkan gelas. “Kau yang merendahkannya dengan mengira ia menyerahkan jiwa hanya karena ia menyerahkan pelayanan.”
Brinkman hendak membalas, tetapi pada saat itu pintu dari koridor samping terbuka. Fientje masuk. Percakapan di beberapa meja seketika merendah, seperti angin yang tiba-tiba berhenti di antara pepohonan. Ia mengenakan kebaya putih gading dengan sulaman kecil pada bagian leher, dipadukan dengan kain batik sogan. Rambutnya disanggul longgar; beberapa helai ikal jatuh di dekat telinga. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya sepasang giwang mutiara kecil yang membuat wajahnya tampak lebih terang.
Ia berjalan perlahan, tidak malu dan tidak pula menantang. Ia memahami cara melewati ruangan yang dipenuhi tatapan: jangan terlalu cepat sehingga tampak takut, jangan terlalu lambat sehingga tampak menawarkan diri. Senyumnya diberikan secukupnya kepada setiap meja—cukup untuk menyalakan harapan, tidak cukup untuk menjanjikan apa-apa. Ketika matanya bertemu mata Brinkman, ia berhenti sepersekian detik. Hanya sepersekian detik. Tetapi bagi Brinkman, itu cukup untuk mengubah kebetulan menjadi pertanda. Fientje lalu berpaling kepada seorang lelaki tua di dekat pintu. Lelaki itu berdiri dan menawarkan lengannya. Mereka pergi melewati tirai beludru, diiringi tatapan dan senyum-senyum yang memahami.
Jari Brinkman mencengkeram pinggir meja.
Ivan melihat semuanya.
“Nah,” katanya pelan. “Sekarang katakan lagi bahwa kaulah yang berkuasa.”
Brinkman berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser dan menggores lantai. Beberapa orang menoleh. Ia mengambil topinya, lalu berjalan keluar tanpa berpamitan.
Di serambi Concordia, udara malam Batavia menerpa wajahnya. Hujan telah berhenti, tetapi air masih menetes dari daun-daun asam. Kusir-kusir duduk mengantuk di bangku kereta. Di kejauhan, seorang penjaja makanan mendorong pikulan melewati jalan gelap, tubuhnya membungkuk di bawah beban yang mungkin lebih berat daripada makan malam seluruh anggota societeit malam itu.
Brinkman berdiri di bawah pilar putih, menarik napas panjang, dan merasakan untuk pertama kalinya bahwa gedung megah di belakangnya bukanlah istana kekuasaan, melainkan panggung tempat lelaki-lelaki kesepian saling mempertontonkan kebohongan.
Di dalam, Ivan masih duduk seorang diri. Ia tahu krisis seperti itu biasa datang setelah perkawinan melewati lima belas tahun. Ketika percakapan suami istri berubah menjadi daftar kewajiban; ketika sentuhan menjadi kebiasaan; ketika seorang lelaki mulai menyalahkan rumah karena dunia tidak lagi membuatnya merasa muda.
Ivan tidak berniat mengejar Brinkman. Nasihat jarang dapat masuk ke hati seseorang yang sedang jatuh cinta kepada khayalannya sendiri. Rumah tangga, pikirnya, tidak dibangun dari gairah yang terus menyala. Ia bertahan karena dua manusia perlahan-lahan menjadi saksi bagi hidup satu sama lain—mengetahui kegagalan yang tidak diceritakan kepada orang lain, mengenali batuk di tengah malam, mengerti diam yang berarti marah dan diam yang berarti takut. Persahabatan jiwa tidak semeriah tubuh yang baru dikenal, tetapi hanya itulah kehangatan yang sanggup melintasi usia.
Jika ukuran cinta hanyalah kenikmatan, cinta akan berumur sangat pendek. Sama seperti puncak gairah: beberapa detik yang terasa seperti kemenangan, kemudian sunyi, lelah, dan dua tubuh yang kembali menjadi asing.
Ivan menuangkan sisa cognac ke dalam gelasnya. Di balik tirai beludru, Fientje sedang bekerja. Di jalan menuju Rijswijk, Brinkman sedang meyakinkan dirinya bahwa ia sedang menderita karena cinta. Dan di sebuah rumah besar yang lampunya belum dipadamkan, Helena menunggu suaminya pulang—bukan dengan kelembutan seorang perempuan tak berdaya, melainkan dengan kesabaran seseorang yang telah terlalu lama mengetahui bahwa laki-laki sering menyebut kehilangan kuasa sebagai kehilangan cinta.
Mayat di Pintu Air
Beberapa bulan kemudian, Batavia bangun dengan sebuah mayat. Hujan turun sepanjang malam. Selokan-selokan meluap, jalan tanah berubah menjadi lumpur, dan air keruh dari kampung-kampung di sebelah selatan mengalir membawa daun, pecahan kayu, bangkai tikus, serta segala sesuatu yang tidak sanggup ditelan kota. Menjelang subuh, seorang penjaga pintu air di daerah Senen melihat sebuah karung tersangkut pada jeruji besi.

Mula-mula ia mengira karung beras yang jatuh dari pedati. Ketika galah bambunya menyentuh benda itu, karung berputar perlahan. Sehelai rambut hitam keluar dari sobekan goni, mengambang di permukaan seperti rumput air.
Polisi datang ketika matahari belum tinggi. Mereka mengusir anak-anak, pedagang sayur, kusir sado, dan perempuan-perempuan kampung yang berkerumun di tepi kanal. Akan tetapi, kabar telah lebih dahulu berlari. Sebelum karung itu diangkat ke atas tandu, orang-orang sudah mengatakan bahwa korbannya perempuan muda. Sebelum tubuhnya dibawa pergi, seseorang telah mengenali giwang mutiaranya. Namanya Fientje.
Pagi berikutnya, namanya tercetak di surat kabar. Ivan membaca berita itu di serambi rumahnya di Weltevreden. Udara masih berbau tanah basah. Seorang jongos baru saja meletakkan kopi dan roti ketika Ivan membuka halaman pertama. Huruf-huruf hitam memenuhi dua kolom di bawah judul besar: MAYAT PEREMPUAN DITEMUKAN DALAM KARUNG DI PINTU AIR SENEN.
Berita itu menerangkan bahwa korban berkulit putih, tetapi “dipastikan bukan perempuan Tionghoa”. Kalimat tersebut dicetak seolah warna kulit merupakan alat bukti dan ras adalah bagian pertama yang harus diketahui sebelum seseorang boleh berduka. Korban disebut sebagai perempuan Indo berusia sembilan belas tahun, penghuni sebuah rumah bordil mewah yang melayani kalangan berada di Batavia. Komisaris Besar Polisi Willem Ruempol memimpin penyelidikan.
Ivan membaca berita itu dua kali. Pada bacaan pertama ia melihat fakta. Pada bacaan kedua ia menemukan ketakutan yang disembunyikan di antara kalimat-kalimat resmi. Leher korban memperlihatkan bekas cekikan. Tidak ada perhiasan yang hilang. Tidak ditemukan uang. Polisi menduga kejahatan dilakukan karena cemburu. Kata cemburu membuat tangan Ivan berhenti di atas cangkir. Ia teringat malam terakhir ketika Fientje berjalan melewati ruang belakang Concordia. Ia teringat jari-jari Brinkman mencengkeram meja dan kursi yang tergeser kasar di atas lantai. Ia juga teringat kalimatnya sendiri. Sekarang katakan lagi bahwa kaulah yang berkuasa.
Menjelang siang, Brinkman datang tanpa memberitahu lebih dahulu. Ia mengenakan jas abu-abu muda dan topi panama. Sepatunya bersih meskipun jalanan masih berlumpur. Wajahnya tampak tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang pernah mengaku tidak dapat hidup tanpa ilusi yang dijual Fientje.
Ivan melipat koran dan meletakkannya di atas meja. “Kau sudah membacanya?”
Brinkman duduk. “Seluruh Batavia membacanya.”
“Fientje mati.”
“Aku dapat membaca, Ivan.”
Seorang pelayan datang membawa kopi. Brinkman menunggu sampai lelaki itu pergi, baru kemudian mengambil kotak rokok dari sakunya.
“Sebenarnya tidak ada yang istimewa,” katanya sambil menyalakan rokok. “Fientje hanyalah seorang pelacur. Perempuan seperti dia selalu hidup dekat dengan bahaya. Mengapa polisi harus membuat keributan besar?”
Ivan menatapnya lama. “Beberapa bulan lalu kau hampir berkelahi hanya karena lelaki lain menyebut namanya.”
“Itu beberapa bulan lalu.”
“Kematian rupanya menyembuhkan perasaanmu dengan cepat.”
Brinkman mengembuskan asap ke arah taman. “Pers terlalu mendramatisasi keadaan. Fakta dan fiksi tidak lagi dapat dibedakan. Mereka menjual kematian seperti Fientje menjual tubuhnya.”
“Mungkin,” kata Ivan. “Tetapi berita ini bukan lagi hanya tentang seorang pelacur.”
“Lalu tentang apa?”
“Tentang keadilan yang sudah terlalu lama diragukan orang.”
Brinkman tertawa pendek. “Keadilan? Kau kira rakyat kampung peduli kepada seorang perempuan rumah bordil?”
“Mereka peduli karena mengenali nasibnya.” Ivan membuka kembali koran. “Mereka sudah bosan membaca pemberontakan kaum bumiputra. Selalu berakhir sama, mereka kalah di medan perang, lalu kalah sekali lagi di pengadilan. Mereka bosan dengan berita seks, sensasi, dan kekerasan yang dipakai untuk menutupi pertanyaan paling sederhana—siapa yang boleh memperoleh kebenaran di negeri ini?”
“Kau berbicara seperti redaktur surat kabar pribumi.”
“Mungkin para redaktur itu melihat sesuatu yang tidak ingin kita lihat.”
Brinkman menyandarkan tubuh. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, tetapi matanya tetap dingin. “Batavia tidak dibangun di atas perasaan,” katanya. “Kota ini dibangun di atas ketertiban.”
“Ketertiban bagi siapa?”
“Bagi semua orang.”
“Tidak,” jawab Ivan. “Bagi orang Eropa, hukum adalah pagar yang menjaga rumah. Bagi rakyat kecil, hukum sering menjadi pagar yang mencegah mereka mendekati rumah itu.”
Brinkman mematikan rokok meskipun baru separuh terbakar. “Hati-hati, Ivan. Terlalu sering duduk dengan kaum terpelajar bumiputra dapat membuatmu lupa siapa dirimu.”
Ivan menatap sahabatnya. “Justru karena aku tahu siapa diriku, aku dapat melihat siapa yang selalu diminta menunduk.”
Mereka terdiam. Di halaman, tukang kebun menyapu daun dengan sapu lidi. Ketika melewati serambi, ia menunduk tanpa melihat kedua lelaki itu. Brinkman menunjuknya dengan dagu.
“Lihat. Ia mempunyai pekerjaan, upah, dan tempat tinggal. Pemerintah memberi ketertiban. Apa lagi yang mereka inginkan?”
Ivan mengikuti pandangannya. “Barangkali mereka ingin boleh mengangkat kepala ketika berbicara.”
Brinkman berdiri. “Kau menjadi sentimental.”
“Dan kau menjadi sangat tenang.”
Untuk sesaat, wajah Brinkman kehilangan warnanya. Namun ia segera mengenakan topi. “Aku ada urusan di kantor dagang,” katanya. “Jangan membuang waktu membaca sampah.”
Setelah ia pergi, Ivan melihat cangkir di hadapan kursi Brinkman. Kopinya belum disentuh. Di dalam asbak, rokok yang dipadamkan terlalu cepat masih mengeluarkan asap tipis.
Sore harinya Ivan pergi ke kantor sebuah surat kabar Melayu di Molenvliet. Kantor itu menempati rumah toko sempit di antara percetakan Tionghoa dan pedagang alat tulis. Dari lantai bawah terdengar hentakan mesin cetak. Bau tinta, minyak, kertas lembap, dan keringat memenuhi udara.
Di ruang redaksi, kelas-kelas sosial Batavia duduk mengelilingi satu meja, tetapi tidak pernah benar-benar setara. Rahmat, guru lulusan sekolah pendidikan bumiputra, duduk dekat jendela dengan jas tutup berwarna putih dan peci hitam. Ia sering menulis kolom mengenai pajak, tanah partikelir, dan perlakuan polisi terhadap rakyat kampung. Di sebelahnya duduk Lie Keng Tjoe, pemilik percetakan sekaligus penerbit surat kabar. Kemeja putihnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, dan sebuah sempoa kecil terletak di dekat buku rekening. Di ujung meja ada Pieter van Aken, wartawan Indo yang bekerja untuk harian berbahasa Belanda tetapi diam-diam memberi kabar kepada pers Melayu.
Ketika Ivan masuk, Rahmat mengangkat koran. “Tuan datang karena Fientje?”
“Seluruh kota datang karena Fientje,” jawab Ivan.
Lie tersenyum hambar. “Tidak seluruh kota, Tuan. Hanya mereka yang dapat membaca. Selebihnya mendengar dari mulut tukang cukur, kusir, babu, penjual kopi, dan orang-orang yang berdiri di depan kantor kami menunggu berita dibacakan.”
Pieter menyalakan sigaret. “Polisi tidak menyukai judul kalian.”
“Polisi tidak pernah menyukai huruf yang tidak dapat mereka perintah,” kata Rahmat.
Ivan duduk. Dari lantai bawah, mesin cetak kembali menghentak. Setiap putarannya membuat lantai kayu bergetar halus.
“Ruempol mengatakan tersangka segera ditangkap,” kata Ivan.
Rahmat tertawa tanpa kegembiraan. “Tersangka atau orang yang dipilih untuk menjadi tersangka?”
“Apa bedanya jika ada bukti?”
“Di Batavia, bukti juga mempunyai warna kulit.”
Pieter mengangkat tangan. “Jangan terlalu cepat. Ada centeng bernama Karta yang sering menunggu Fientje di belakang rumah bordil. Ia pernah membuat keributan.”
“Karena itu ia sempurna,” sahut Rahmat. “Pribumi, miskin, mudah marah, dan pernah terlihat mengancam korban. Cerita selesai bahkan sebelum hakim membuka sidang.”
Lie menggeser cangkir tehnya. “Kalau tersangkanya orang Tionghoa, koran Belanda akan menulis tentang kekejaman ras kami. Kalau tersangkanya pribumi, mereka akan menulis tentang tabiat liar orang kampung. Kalau tersangkanya Eropa, mereka akan menulis bahwa penyelidikan masih berlangsung.”
Ivan memandangnya. “Berita pagi tadi bahkan merasa perlu menegaskan bahwa mayat itu bukan orang Tionghoa.”
“Tentu.” Lie tersenyum tipis. “Pemerintah membagi kami sebelum kami lahir. Eropa di atas, Vreemde Oosterlingen di tengah, bumiputra di bawah. Tetapi jangan salah, Tuan Ivan. Kata ‘tengah’ tidak selalu berarti aman. Kami cukup dekat dengan orang Eropa untuk dibenci rakyat miskin, tetapi tetap terlalu jauh untuk dipercaya pemerintah.”
Rahmat menimpali, “Dan orang Indo?”
Pieter mengembuskan asap. “Kami berdiri di ambang pintu. Diakui Eropa ketika pemerintah membutuhkan pegawai murah. Diingatkan darah pribumi kami ketika kami meminta kursi yang lebih tinggi.”
“Sedangkan kami,” kata Rahmat, “adalah pemilik tanah yang harus meminta izin untuk berjalan di atasnya.”
Ruangan mendadak sunyi. Mesin cetak di bawah terus berputar, seperti jantung yang tidak peduli kepada kepahitan manusia.
Ivan membuka koran dan menunjuk berita tentang Karta. “Dikatakan ia mencintai Fientje dan tidak sanggup membaginya dengan lelaki lain.”
“Kalimat yang sangat nyaman,” kata Rahmat. “Seorang centeng pribumi membunuh karena nafsu. Dengan begitu tak perlu ditanyakan siapa tamu terakhir Fientje, kereta siapa yang menjemputnya, atau mengapa penjaga rumah bordil diperintahkan diam.”
Pieter memandang pintu sebelum berkata lebih pelan, “Aku mendengar polisi telah mengetahui kereta itu.”
“Milik siapa?” tanya Ivan.
Pieter tidak langsung menjawab. “Seseorang yang namanya dikenal di Concordia.”
Lie tertawa lirih. “Di kota ini, semakin dikenal nama seseorang, semakin sulit namanya masuk berita.”
Ivan merasakan tengkuknya dingin.
Rahmat mencondongkan tubuh. “Cobalah Tuan pikir,” katanya. “Jika tersangkanya orang Belanda, hukumnya dibuat Belanda, polisinya Belanda, jaksa dan hakimnya juga Belanda—apakah Tuan yakin kebenaran akan dibuka bila kebenaran itu mempermalukan golongan mereka sendiri?”
“Tidak semua pejabat korup,” kata Ivan.
“Saya tidak mengatakan semua.”
“Keadilan memang tidak mungkin memuaskan setiap orang.”
Rahmat menatapnya lurus-lurus. “Itulah kalimat yang sering diucapkan orang yang selalu memperoleh bagian memuaskan.”
Ivan terdiam.
“Masalahnya bukan keadilan gagal menyenangkan semua orang,” lanjut Rahmat. “Masalahnya, yang selalu diminta memahami kegagalan itu adalah rakyat jelata. Penguasa tidak pernah diminta bersabar. Elite tidak pernah disuruh menerima nasib. Hanya orang kecil yang terus dinasihati agar percaya kepada proses.”
Pieter mengetukkan abu rokok ke piring kecil. “Namun jika kita menuduh tanpa bukti, pemerintah akan menutup surat kabar ini.”
“Karena itu kita bertanya,” jawab Rahmat. “Pertanyaan belum menjadi kejahatan, setidaknya sampai pemerintah mengubah ordonansi lagi.”
Lie menyela, “Pertanyaan juga harus mampu membayar ongkos kertas. Kalau surat kabar disita, para pejuang keadilan boleh pulang berpidato. Saya yang menanggung utang percetakan.”
Rahmat tersenyum. “Itulah sebabnya revolusi selalu membutuhkan pedagang.”
“Dan pedagang membutuhkan pelanggan yang masih hidup,” balas Lie.
Untuk pertama kalinya sore itu mereka tertawa. Hanya sebentar. Setelah itu nama Fientje kembali terletak di tengah meja seperti tubuh yang belum dikuburkan.
Di markas polisi, Komisaris Besar Ruempol berdiri di depan jendela kantornya. Di bawah sana, seorang tahanan pribumi digiring menyeberangi halaman dengan kedua tangan terikat. Lelaki itu Karta, centeng berusia dua puluh tujuh tahun yang bekerja menjaga gudang pada siang hari dan pintu belakang rumah bordil pada malam hari.
Di atas meja Ruempol terdapat tiga benda: seutas tali, sebuah kancing jas berwarna gelap, dan catatan kusir sewaan yang mengantar Fientje pada malam kematiannya.
Inspektur muda di hadapannya membuka berkas. “Karta mengakui pernah mengancam korban,” katanya.
“Mengakui membunuh?”
“Belum.”
“Ia akan mengaku.”
“Tetapi, Komisaris, bekas roda di dekat tempat karung dibuang cocok dengan kereta sewaan dari Rijswijk. Kusir mengenali penumpangnya.”
Ruempol menoleh perlahan. “Kusir pribumi dapat keliru.”
“Ia menyebut nama.”
“Nama bukan bukti.”
“Ada pula kancing itu.”
Ruempol mengambil kancing jas di atas meja. Pada permukaan belakangnya terukir tanda penjahit Eropa di Noordwijk.
“Berapa banyak orang memakai jas dari penjahit tersebut?” tanyanya.
“Tidak banyak.”
“Tetapi lebih dari satu.”
Inspektur itu menutup mulut.
Ruempol meletakkan kembali kancing tersebut. Ia bukan polisi yang bodoh. Justru karena ia cerdas, ia memahami bahwa tugasnya bukan selalu menemukan kebenaran. Dalam pemerintahan kolonial, kebenaran yang tidak terkendali dapat lebih berbahaya daripada kejahatan yang tidak dihukum. “Karta memiliki motif,” katanya. “Ia cemburu. Ia pernah mengancam. Ia berada dekat rumah bordil malam itu. Pers akan memperoleh cerita, pengadilan memperoleh terdakwa, dan kota memperoleh ketenangan.”
“Lalu kusir?”
“Cabut izin menarik keretanya. Katakan ia mabuk ketika memberi keterangan.”
“Dan saksi dari rumah bordil?”
“Perempuan-perempuan seperti mereka selalu mengubah cerita.”
Inspektur muda itu masih berdiri.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Ruempol.
“Tidak, Komisaris.”
“Bagus. Belajarlah satu hal: hukum menjaga ketertiban. Kebenaran hanya berguna selama tidak merusaknya.”
Di halaman, Karta berteriak bahwa ia tidak membunuh siapa pun. Seorang polisi memukul belakang lututnya dengan tongkat. Ia jatuh, lalu diseret bangkit. Ruempol menutup jendela.
Menjelang malam, berita penangkapan Karta telah sampai ke kampung-kampung. Di warung kopi dekat Pasar Senen, seorang kusir, pedagang kain Tionghoa, juru tulis bumiputra, dan serdadu KNIL asal Ambon membicarakannya di bawah cahaya lampu minyak. “Polisi bekerja cepat,” kata serdadu itu.
“Cepat menangkap orang kecil,” jawab si juru tulis.
Pedagang kain mengaduk kopinya. “Kalau yang membunuh tuan besar, mereka perlu seribu hari untuk mencari. Kalau yang dituduh orang kampung, satu malam cukup.”
Kusir yang duduk paling ujung menundukkan kepala. Ia mengetahui sesuatu, tetapi istri dan dua anaknya menunggu di rumah. Di Batavia, kebenaran juga harus menghitung berapa mulut yang akan kelaparan bila seseorang terlalu berani berbicara.
“Fientje cuma pelacur,” kata serdadu itu. “Untuk apa kalian ribut?”
Seorang perempuan penjual nasi yang sejak tadi mendengarkan menoleh tajam. “Kalau pelacur dibunuh, apa dia tidak punya nyawa?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Kalian lelaki datang membeli tubuh perempuan, lalu ketika perempuan itu mati kalian bilang ia cuma pelacur.” Perempuan itu menutup panci nasi. “Aneh. Dosanya milik dia seorang, tetapi kesenangannya kalian bagi ramai-ramai.”
Tak seorang pun menjawab.
Di luar warung, hujan mulai turun lagi.
Malam itu Ivan berdiri di depan rumah Brinkman di Rijswijk. Dari balik pagar besi ia melihat cahaya di ruang kerja. Bayangan seorang lelaki bergerak di belakang tirai. Ia membawa satu eksemplar koran sore yang memberitakan penangkapan Karta. Pada kolom paling bawah tercetak pernyataan Ruempol bahwa polisi memiliki bukti kuat dan meminta masyarakat tidak terpengaruh spekulasi.
Ivan seharusnya mengetuk pintu. Namun ia teringat ketenangan Brinkman pagi tadi. Ia teringat kopi yang tidak disentuh, rokok yang dipadamkan sebelum habis, dan ancaman halus agar ia tidak terlalu dekat dengan kaum terpelajar pribumi. Semua itu belum merupakan bukti. Kecurigaan bukan kebenaran. Bahkan seorang sahabat berhak untuk tidak dihukum oleh prasangka.
Lalu pintu samping rumah terbuka. Seorang pelayan keluar membawa bungkusan kecil. Ia berjalan ke tungku pembakaran sampah di belakang taman, membuka bungkus itu, lalu memasukkan sehelai jas gelap ke dalam api. Ivan tidak dapat melihat seluruh jas tersebut. Namun ketika pelayan membaliknya dengan tongkat, cahaya api menyentuh bagian depan pakaian. Satu kancingnya hilang. Ivan berdiri di bawah hujan, tidak bergerak.
Di dalam rumah, Helena memainkan piano. Nadanya lembut dan teratur, seolah kehidupan rumah tangga itu tidak pernah retak. Di belakang tirai ruang kerja, bayangan Brinkman berhenti bergerak.
Untuk sesaat, Ivan merasa sahabatnya sedang berdiri di sana, menghadap jendela, menatap langsung ke tempat ia bersembunyi dalam gelap.
Keesokan harinya, koran-koran akan memuat pengakuan Karta.
Komisaris Ruempol akan dipuji karena bekerja cepat. Para anggota Concordia akan kembali membicarakan harga gula dan perempuan. Pemerintah akan menyebut perkara itu selesai.
Tetapi di kampung-kampung, orang tidak mempercayainya. Mereka mungkin tidak mengenal Fientje. Mereka mungkin tidak pernah melihat wajahnya selain dari gambar kasar di surat kabar. Namun mereka mengenali cara kekuasaan bekerja: mula-mula menentukan siapa yang boleh menjadi korban, kemudian memilih siapa yang cukup lemah untuk dijadikan pelaku.
Di Batavia, manusia dibagi menjadi golongan sebelum hukum memandang perbuatannya. Orang Eropa memiliki nama. Orang Tionghoa memiliki cap. Orang pribumi memiliki tuduhan. Dan perempuan seperti Fientje—yang hidup di antara semua golongan tetapi diterima oleh tidak satu pun—akhirnya hanya memiliki tubuh yang ditemukan dalam karung.
Pengadilan Orang Kulit Putih
Berita koran sore mengejutkan Ivan. Seorang penjaja berlari sepanjang Molenvliet sambil mengangkat lembaran yang tintanya belum benar-benar kering. Suaranya memantul di antara deretan rumah toko, kantor dagang, hotel, dan gudang-gudang yang menghadap kanal.
“Tuan Belanda ditangkap! Pembunuh Fientje ditangkap!”
Orang keluar dari toko. Kusir menghentikan sado. Kuli pelabuhan yang tidak dapat membaca membeli satu lembar untuk dibacakan kawannya. Di depan kedai kopi, lelaki-lelaki berkerumun mengelilingi seorang juru tulis yang mengeja berita keras-keras.
Pada halaman pertama tercetak nama yang tidak pernah Ivan bayangkan akan diletakkan berdampingan dengan kata tersangka: GEMSER BRINKMAN DITANGKAP DALAM PERKARA PEMBUNUHAN FIENTJE DE FENIKS. Di bawahnya terdapat nama Komisaris Besar Willem Ruempol, dicetak hampir sebesar nama tersangka. Surat kabar memujinya sebagai polisi berani yang tidak gentar menghadapi tekanan golongan berada. Seorang Eropa tulen telah ditangkap karena kematian seorang perempuan Indo penghuni rumah bordil. Bagi Batavia, kejadian itu begitu luar biasa sehingga pemerintah segera mengubahnya menjadi pertunjukan moral.
Hukum tidak mengenal warna kulit, tulis tajuk koran Belanda. Ivan membaca kalimat itu dua kali. Ia teringat Karta yang diseret melintasi halaman kantor polisi. Ia teringat jas gelap yang dibakar di belakang rumah Brinkman. Ia juga teringat Ruempol, pejabat yang terlalu lama mengenal perbedaan antara kebenaran dan ketertiban. Penangkapan itu terasa seperti kemenangan. Justru karena itulah Ivan mencurigainya.
Di kantor surat kabar Melayu, Rahmat telah dikelilingi orang ketika Ivan tiba. Mesin cetak bergemuruh dari lantai bawah. Lie Keng Tjoe menghitung berapa ribu lembar tambahan yang harus dicetak, sedangkan Pieter van Aken menyusun kabar terbaru dari markas polisi.
“Bukankah ini yang kalian tuntut?” tanya Ivan sambil meletakkan koran di atas meja. “Orang Eropa ditangkap. Karta dibebaskan. Polisi mengikuti bukti.”
Rahmat tidak tersenyum. “Penangkapan bukan keadilan, Tuan Ivan.”
“Tetapi tanpa penangkapan tidak akan ada pengadilan.”
“Dan tanpa pengadilan yang jujur, penangkapan hanya arak-arakan.”
Lie mengangkat kepala dari buku pesanannya. “Masyarakat menyukai arak-arakan. Pagi tadi Ruempol dicaci sebagai anjing penguasa. Sore ini ia dipuji sebagai singa keadilan.”
Pieter menyerahkan telegram pendek kepada Ivan. “Kabar dari dalam. Penangkapan diperintahkan langsung setelah rapat di kantor gubernur.”
“Mengapa gubernur ikut campur?”
“Karena persoalannya sudah bukan lagi mayat perempuan,” jawab Rahmat. “Ini tentang kepercayaan kepada pemerintah. Jika rakyat tidak percaya polisi, setiap perkara menjadi politik. Jika mereka tidak percaya pengadilan, setiap putusan menjadi api.”
Di luar kantor, orang-orang masih meneriakkan nama Brinkman. Seorang pedagang rokok membagikan kabar itu kepada pembeli seolah Belanda baru kalah perang.
Ivan memandang Rahmat. “Jadi menurutmu penangkapan ini sandiwara?”
“Saya berharap bukan.”
“Namun?”
“Namun pemerintah kolonial sangat pandai memberi satu orang sebagai korban agar seluruh sistem tampak suci.”
Gemser Brinkman bukan sekadar saudagar kaya. Perusahaannya menguasai impor kain, minuman keras, mesin perkebunan, dan pengangkutan barang dari pelabuhan ke gudang-gudang kota. Namanya jarang muncul sebagai pemilik langsung. Ia lebih menyukai perjanjian di balik meja, saham atas nama orang lain, serta komisi yang tidak pernah dicatat lengkap dalam pembukuan. Sebagian pedagang Tionghoa memperoleh lisensi, kredit, dan perlindungan melalui kedekatannya dengan pejabat kolonial. Sebagai imbalannya, Brinkman menerima bagian dari keuntungan mereka. Ia menyebutnya jasa perantara. Mereka menyebutnya harga untuk memperoleh pintu masuk.
Dalam perdagangan candu, pintu itu jauh lebih mahal. Walaupun pemerintah membungkus candu dalam monopoli, izin, gudang, dan penerimaan negara, di lapisan bawahnya tetap bekerja jaringan pengangkut, bandar, rumah isap, pejabat, serta polisi yang tahu kapan harus melihat dan kapan harus berpaling. Brinkman tidak pernah menyentuh pipa candu. Ia juga tidak berdiri di rumah-rumah isap yang gelap. Jasnya terlalu mahal untuk menyerap bau manis yang memuakkan itu. Namun sebagian uang yang membiayai rumahnya di Rijswijk bergerak melalui dunia tersebut.
“Jadi orang Tionghoa kaya karena Brinkman?” tanya seorang wartawan muda kepada Lie ketika mereka membicarakan jaringan usahanya.
Lie menutup buku rekening dengan keras. “Jangan membalik kenyataan,” katanya. “Sebagian pedagang memang memakai koneksinya. Tetapi mengapa mereka membutuhkannya? Karena izin berada di tangan pejabat Eropa. Pemerintah membangun dinding, Brinkman menjual pintu. Lalu kalian menuduh orang yang membayar pintu sebagai pencipta dinding.”
“Namun ia mendapat rente.”
“Tentu. Dalam tata kolonial, kedekatan dengan kekuasaan adalah barang dagangan paling mahal.”
Kekuasaan Brinkman juga menjangkau keraton-keraton di Jawa. Ia menjadi penghubung tidak resmi antara pejabat kolonial dan keluarga bangsawan yang membutuhkan pengakuan, tunjangan, atau bantuan menghadapi pertikaian pewarisan. Kepada pejabat Belanda, Brinkman mengatakan bahwa ia dapat menjaga para pangeran tetap patuh. Kepada keluarga keraton, ia berjanji dapat menaikkan upeti dan tunjangan dari pemerintah. Ia dibayar oleh kedua pihak.
Jika muncul seorang pangeran muda yang berbicara tentang pajak petani, tanah desa, atau ketidakadilan kerja paksa, Brinkman akan membisikkan kepada keraton bahwa pemuda itu hendak merebut takhta. Kepada pemerintah ia mengatakan sang pangeran sedang menabur pemberontakan. Tidak perlu membunuhnya. Cukup jauhkan ia dari pusat kekuasaan, cabut tunjangannya, pindahkan pengikutnya, atau kirim ia ke kota lain dengan alasan pendidikan.
Masalah rumit diselesaikan dengan cara sederhana: candu untuk orang yang lemah, uang untuk orang yang serakah, perempuan untuk orang yang kesepian, dan ketakutan untuk semua yang lain.
Itulah sumber kekayaan Brinkman. Ia tidak membangun barang. Ia membangun ketergantungan.
Penangkapan dilakukan menjelang fajar. Empat polisi datang ke rumah Brinkman ketika kabut masih menggantung di atas taman. Ruempol memimpin sendiri. Helena berdiri di puncak tangga dengan gaun tidur berwarna pucat, wajahnya tenang tetapi kedua tangannya mencengkeram pagar kayu.
Brinkman keluar dari ruang kerja dengan pakaian lengkap, seolah telah menunggu. “Atas dasar apa?” tanyanya.
Ruempol membuka surat perintah. “Dugaan pembunuhan berencana terhadap Fientje de Feniks.”
“Kita dapat membicarakannya di dalam.”
“Tidak lagi.”
Brinkman menatap dua polisi di belakang komisaris. Salah satunya segera menundukkan mata. Brinkman mengenal lelaki itu. Selama bertahun-tahun ia membayar biaya sekolah anaknya.
“Berapa mereka membayarmu untuk melupakan persahabatan?” tanya Brinkman kepada Ruempol.
“Tidak semua hal dapat dibeli.”
“Kalimat yang bagus untuk surat kabar.”
Ruempol mendekat dan berkata cukup pelan agar Helena tidak mendengar, “Kau membeli terlalu banyak orang, Gemser. Akibatnya, ketika keadaan berubah, terlalu banyak pula yang dapat menjualmu.”
Brinkman dibawa melewati gerbang depan. Para wartawan telah menunggu. Kilatan bubuk magnesium menyala dari kamera, meninggalkan asap putih dan bau logam terbakar. Untuk pertama kalinya, ia berjalan di Batavia tanpa mampu menentukan siapa yang boleh memandangnya.
Di tepi jalan, seorang perempuan penjual sayur berbisik, “Ternyata orang Belanda bisa juga diborgol.”
Lelaki di sebelahnya menjawab, “Tunggu sampai tangannya benar-benar diikat.”
Memang tidak ada borgol pada pergelangan Brinkman.
Hari-hari penyidikan membuat Batavia hidup dari desas-desus. Setiap keterangan polisi melahirkan tiga cerita baru. Di rumah makan Eropa dikatakan Brinkman menjadi korban pemerasan. Di kedai Tionghoa beredar kabar ia dikorbankan oleh pejabat yang ingin menutup jaringan candu. Di kampung-kampung orang percaya penangkapannya hanya siasat: ia akan ditahan beberapa minggu, dibebaskan karena kurang bukti, lalu pemerintah menunjuk peristiwa itu sebagai bukti bahwa hukum telah bekerja.
Brinkman sendiri bekerja dari dalam tahanan.
Uang dikirim melalui pengacara, kerabat, pegawai perusahaan, dan seorang pendeta yang merasa sedang menyelamatkan jiwa. Polisi penjaga menerima amplop. Berkas pemeriksaan sempat hilang selama dua hari. Seorang saksi mencabut keterangannya setelah utang rumahnya mendadak lunas. Kusir yang mengenali Brinkman ditemukan di Buitenzorg dengan tiket kapal menuju Semarang di sakunya.
“Berapa banyak polisi telah ia beli?” tanya Ivan kepada Pieter.
“Cukup banyak untuk mengubah bukti menjadi keraguan.”
“Ruempol?”
Pieter menggeleng. “Tidak ada yang tahu apakah Ruempol sedang mengejar Brinkman atau menaikkan harga dirinya sendiri.”
Namun tekanan masyarakat semakin besar. Setiap pagi orang berkumpul di depan kantor polisi. Surat kabar Melayu menerbitkan kolom berjudul Apakah Hukum Memiliki Warna? Pers Tionghoa menuntut daftar tamu terakhir Fientje dibuka. Bahkan beberapa koran Belanda liberal mulai mempertanyakan hilangnya barang bukti. Pemerintah akhirnya mempercepat pelimpahan perkara ke pengadilan.
Pada hari pertama persidangan, halaman Landraad dipenuhi manusia sejak matahari terbit. Pedagang meninggalkan toko. Murid sekolah memanjat pagar. Perempuan kampung membawa bekal nasi dan duduk di bawah pohon. Serdadu menjaga tangga masuk agar kerumunan tidak merangsek ke ruang sidang.
Di bagian depan ruangan tersedia kursi bagi orang Eropa. Golongan Indo dan Tionghoa yang berpakaian baik memperoleh tempat di belakang mereka. Bumiputra berdesakan di sisi ruangan atau berdiri dekat pintu. Bahkan ketika hukum hendak membuktikan kesetaraannya, ruang pengadilan tetap menyusun manusia menurut derajat.
Brinkman datang mengenakan jas putih bersih. Ia berjalan tegak di samping pengacaranya, Mr. Hendrik Hoorweg, ahli hukum ternama dari Batavia yang terkenal mampu mengubah kepastian menjadi keraguan dan keraguan menjadi pembebasan.
Sebelum duduk, Brinkman menoleh ke bangku pengunjung. Beberapa anggota Concordia hadir, tetapi tidak seorang pun membalas anggukannya.
“Mereka akan datang,” bisiknya kepada Hoorweg. “Semua orang di societeit berutang kepadaku.”
Hoorweg membuka berkas. “Utang membuat orang datang ketika kita berkuasa. Ketika kita jatuh, utang membuat mereka bersembunyi.”
Jaksa membacakan dakwaan: Gemser Brinkman dengan sengaja dan setelah perencanaan merampas nyawa Fientje de Feniks. Motifnya adalah kecemburuan. Terdakwa ingin menjadikan korban sebagai njai—gundik yang ditempatkan di sebuah rumah dan tidak lagi menerima lelaki lain. Mucikari Fientje menolak kehilangan perempuan yang menghasilkan banyak uang. Fientje sendiri menolak meninggalkan pekerjaannya. Penolakan itu melukai sesuatu yang lebih besar daripada cinta Brinkman. Ia melukai keyakinannya bahwa segala sesuatu mempunyai harga.
Hoorweg berdiri.
“Tuan Jaksa hendak membuat kisah asmara murahan,” katanya. “Klien saya seorang saudagar terhormat. Apakah masuk akal ia mempertaruhkan nama, keluarga, dan kekayaan karena seorang perempuan rumah bordil?”
Jaksa menatap Brinkman.
“Justru karena terdakwa terbiasa memperoleh segala sesuatu, satu penolakan menjadi tidak tertahankan.”
“Itu tafsir, bukan bukti.”
“Bukti akan berbicara.”
Saksi yang paling ditunggu bernama Raonah. Ia seorang perempuan pribumi berusia sekitar dua puluh lima tahun yang bekerja di rumah bordil yang sama dengan Fientje. Ia memasuki ruang sidang dengan kebaya cokelat sederhana dan kain yang warnanya telah pudar. Di tengah ruangan penuh jas mahal, seragam, dan toga hukum, tubuhnya tampak kecil. Namun langkahnya tidak goyah.
Ketua majelis memandangnya dari atas meja tinggi. “Kau memahami akibat memberikan keterangan palsu?”
“Saya mengerti, Tuan Hakim.”
“Apa pekerjaanmu?”
Raonah menelan ludah. “Saya menerima tamu.”
Terdengar tawa tertahan dari bangku Eropa.
Hakim mengetukkan palu. “Jawab dengan jelas.”
Raonah mengangkat kepala. “Saya pelacur, Tuan Hakim.”
Kini tak ada yang tertawa.
Jaksa mendekatinya.
“Apakah kau mengenal terdakwa?”
Raonah menunjuk Brinkman tanpa ragu. “Mengenal wajahnya. Ia sering datang mencari Fientje.”
“Apa yang kau lihat pada malam korban meninggal?”
Ruangan menjadi senyap. Bahkan kipas besar di langit-langit seolah bergerak lebih lambat.
“Saya dengar mereka bertengkar,” kata Raonah. “Tuan Brinkman meminta Fientje ikut dengannya. Katanya sudah disediakan rumah. Fientje tidak mau.”
“Mengapa?”
“Fientje bilang, kalau ikut seorang lelaki, hidupnya akan menjadi milik lelaki itu. Di rumah kami ia memang menjual tubuh, tetapi uangnya masih dapat ia pegang sendiri.”
Beberapa orang menunduk. Kalimat seorang pelacur mendadak terdengar lebih jernih daripada seluruh pidato mengenai moral.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Tuan Brinkman marah. Fientje masuk ke bilik belakang. Saya melihat dari sela anyaman bambu. Ia memegang leher Fientje.”
Jaksa berhenti di hadapannya. “Memegang atau mencekik?”
Raonah memandang kedua tangannya sendiri, seolah masih melihat kejadian itu menempel di kulitnya.
“Mencekik. Fientje mencoba menarik tangannya. Kakinya menendang meja. Setelah itu ia tidak bergerak.”
Suara gaduh pecah di ruang sidang. Hakim kembali mengetukkan palu.
Hoorweg bangkit untuk pemeriksaan silang.
“Raonah, berapa banyak lelaki yang datang ke tempatmu setiap malam?”
“Saya tidak menghitung semua tamu.”
“Kau minum?”
“Kadang-kadang.”
“Mengisap candu?”
“Tidak.”
“Kau bekerja di rumah pelacuran. Kau hidup dari kebohongan kepada lelaki. Mengapa pengadilan harus mempercayaimu?”
Raonah menatap pengacara itu. Wajahnya memucat, tetapi suaranya tetap utuh. “Karena lelaki datang kepada kami justru untuk meminta kebohongan, Tuan.”
Beberapa orang di belakang menahan napas.
Raonah melanjutkan, “Mereka membayar agar kami berkata mereka tampan, kuat, dan kami senang disentuh. Tetapi malam itu tidak ada yang membayar saya. Karena itu saya berkata benar.”
Hoorweg mengeraskan suara. “Bukankah polisi menjanjikan uang?”
“Tidak.”
“Perlindungan?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang kau peroleh dengan kesaksian ini?”
Raonah memandang ke arah bangku tempat perempuan-perempuan rumah bordil duduk berhimpitan. “Mungkin tidak ada. Tetapi Fientje sudah tidak punya mulut untuk bicara.”
Untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, Brinkman menundukkan wajah.
Kesaksian Raonah tidak berdiri sendiri. Jaksa menghadirkan kusir yang mengantar Brinkman, penjahit yang mengenali kancing jas, dan pelayan rumah yang diperintahkan membakar pakaian. Kemudian polisi membawa Pak Silun, centeng bertubuh besar dengan bekas luka di pipi, bersama dua anak buahnya. Silun menyangkal ikut membunuh. Ia mengaku hanya menerima perintah untuk membungkus dan membuang tubuh Fientje ke Kali Baru.
“Siapa yang memerintah?” tanya jaksa.
Silun melirik Brinkman.
“Saya tidak kenal namanya.”
“Tetapi kau menerima uang darinya?”
“Baru uang muka.”
Tawa pahit terdengar dari ruang sidang.
“Berapa?”
Silun menyebut jumlahnya.
“Kau membuang mayat seorang perempuan demi uang sebanyak itu?”
Silun mengusap wajah. “Saya dijanjikan lebih setelah pekerjaan selesai.”
“Dan kau menyesal karena perempuan itu mati?”
Silun terdiam terlalu lama.
“Saya menyesal menerima pekerjaan.”
“Karena tertangkap?”
Kepala Silun semakin menunduk. “Karena bayarannya belum lunas.”
Kerumunan berteriak marah. Hakim memerintahkan serdadu mengosongkan bagian belakang ruangan.
Hoorweg menggunakan keterangan itu untuk menyusun pembelaan lain. Menurutnya, Silun dan anak buahnyalah yang mungkin membunuh Fientje. Raonah melihat Brinkman bertengkar dengan korban, tetapi tidak mungkin memastikan Fientje telah mati ketika terdakwa meninggalkan bilik. Bisa saja Fientje masih hidup, lalu dibunuh Silun karena persoalan bayaran atau dendam.
“Keraguan,” kata Hoorweg dalam pledoinya, “adalah benteng terakhir yang melindungi manusia dari kesewenang-wenangan negara. Jika satu keraguan yang masuk akal masih ada, terdakwa harus dibebaskan.”
Jaksa berdiri untuk menjawab.
“Benar. Namun keraguan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dapat dibeli orang kaya. Terdakwa membayar polisi, menghilangkan saksi, membakar pakaian, dan menyewa orang untuk membuang tubuh korban. Setelah semua jejak dikaburkan, pembela meminta pengadilan menghormati kabut yang dibuat terdakwa sendiri.”
Ivan melihat Ruempol duduk di barisan pejabat. Komisaris itu tidak menunjukkan perasaan. Surat kabar telah menjadikannya pahlawan. Tak seorang pun di ruang sidang membicarakan rencananya semula untuk mengorbankan Karta. Kekuasaan memiliki kemampuan aneh: ia dapat menghapus kesalahan masa lalu dengan satu tindakan yang tampak berani.
Persidangan berlangsung berbulan-bulan. Nama Brinkman menghilang dari undangan pesta. Rekan-rekannya di Concordia menyatakan hanya mengenalnya dalam urusan dagang. Pejabat yang pernah menerima hadiah darinya tidak dapat mengingat pertemuan mereka. Pedagang yang dahulu menunggu berjam-jam di kantornya kini mengatakan bisnis mereka tidak pernah bergantung kepadanya.
Seseorang yang memiliki banyak kawan ketika berkuasa sering mendapati bahwa ia hanya mempunyai banyak saksi ketika jatuh.
Pada hari putusan, hujan menggantung di langit Batavia tetapi tidak turun. Ruang sidang penuh sesak. Rahmat, Lie, Pieter, dan Ivan berdiri berdekatan di belakang.
Ketua majelis membaca pertimbangan panjang dalam bahasa Belanda, lalu menerjemahkan intinya. Pengadilan mempercayai kesaksian Raonah karena sesuai dengan bukti kancing, keterangan kusir, tindakan membakar jas, serta keterlibatan Silun dalam pembuangan mayat. Gemser Brinkman dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan dengan rencana. Ancaman pidananya adalah hukuman mati. Suara orang menarik napas terdengar bersamaan. Di luar gedung, ketika kabar disampaikan, kerumunan bersorak. Sebagian meneriakkan nama Raonah. Sebagian memuji Ruempol. Sebagian lagi hanya ingin menyaksikan seorang kulit putih merasakan ketakutan yang selama ini menjadi bagian sehari-hari rakyat jajahan.
Brinkman berdiri tanpa bergerak. Hoorweg berbisik bahwa mereka akan mengajukan banding. Brinkman tidak menjawab. Ia menoleh ke arah bangku pengunjung dan menemukan Ivan. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada permintaan maaf di mata Brinkman. Tidak ada penyesalan. Hanya ketidakpercayaan seorang lelaki yang sepanjang hidup dapat membeli jalan keluar, lalu mendapati satu pintu akhirnya tertutup.
Di tangga pengadilan, Rahmat berkata kepada Ivan, “Hari ini pemerintah akan mengatakan hukum telah menang.”
“Bukankah memang begitu?”
Rahmat memandang kerumunan yang bersorak.
“Seorang pembunuh dihukum. Itu benar dan patut. Tetapi satu putusan belum membuat sistem menjadi adil.”
Lie menyelipkan koran ke bawah lengannya. “Setidaknya hari ini orang kecil melihat orang besar dapat jatuh.”
“Ya,” jawab Rahmat. “Namun kita harus bertanya: ia jatuh karena hukum akhirnya menjadi berani, atau karena kekuasaan tidak lagi membutuhkannya?”
Ivan menoleh ke arah Ruempol yang sedang berpose bagi juru foto. Sang komisaris berdiri tegak dengan dada membusung. Besok wajahnya akan menghiasi surat kabar. Polisi hebat. Pembela keadilan. Seorang pejabat yang berani menindak elite Eropa. Tidak akan ada berita tentang Karta. Tidak akan ada pertanyaan mengenai polisi yang menerima uang Brinkman. Tidak akan ada pemeriksaan terhadap pejabat yang menikmati candu, hadiah, dan perempuan dari tangannya. Brinkman akan menanggung kejahatannya sendiri, tetapi seluruh dunia yang membuatnya berkuasa tetap berdiri tanpa terganggu.
Di halaman belakang pengadilan, Raonah keluar melalui pintu kecil tanpa pengawalan. Tidak ada kamera menantinya. Tidak ada pejabat yang menyalami tangannya. Beberapa lelaki memandangnya dengan jijik karena pekerjaannya; beberapa yang lain dengan keinginan yang tidak berani mereka akui. Ivan mengejarnya. “Raonah.”
Perempuan itu berhenti.
“Kesaksianmu menyelamatkan kebenaran,” kata Ivan.
Raonah memandang gedung pengadilan, lalu kepada kerumunan yang masih meneriakkan nama Ruempol. “Tidak, Tuan,” katanya. “Kebenaran tidak perlu diselamatkan. Kebenaran tetap terjadi meskipun semua orang menyangkalnya.”
“Lalu apa yang kau selamatkan?”
Raonah menarik selendangnya menutupi kepala.
“Nama Fientje. Supaya orang ingat dia pernah menjadi manusia sebelum dijadikan berita.” Ia berjalan pergi menuju jalan yang ramai. Di belakangnya, lonceng pengadilan berbunyi. Batavia menyambut putusan itu sebagai bukti bahwa hukum tidak mengenal warna kulit. Namun Ivan kini mengerti: keadilan kolonial sesekali menghukum seorang elite bukan semata-mata karena ia mencintai keadilan, melainkan karena satu tubuh perlu dikorbankan agar kekuasaan yang lebih besar tetap terlihat bersih.
Politik sebagai Panglima
Beberapa minggu setelah putusan pengadilan, Societeit Concordia kembali dipenuhi musik. Tidak ada perubahan pada pilar-pilar putihnya. Lampu kristal tetap menyala, pelayan tetap berjalan tanpa suara, dan para lelaki tetap membicarakan harga gula, kapal yang terlambat dari Rotterdam, serta kebun-kebun yang memerlukan buruh lebih murah. Seolah-olah Gemser Brinkman tidak pernah duduk di ruangan itu. Seolah namanya tidak pernah membuat orang tertawa, berbisik, meminjam uang, atau meminta bantuan.
Di dinding ruang utama masih tergantung lukisan para gubernur dan panglima. Wajah-wajah mereka memandang lurus ke depan dengan ketenangan orang yang yakin sejarah akan ditulis oleh pegawainya sendiri.
Ivan datang selepas pukul sembilan malam. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di Concordia. Ketika melewati ruang belakang, ia teringat Fientje dalam kebaya putih gading, berjalan di antara meja dengan senyum yang dibagikan secukupnya. Tidak ada lagi yang menyebut namanya. Perempuan baru telah menggantikan tempatnya, lebih muda, lebih pendiam, dan belum mempunyai kisah yang dapat mengganggu ketenteraman para anggota.
Di sudut dekat piano, Willem Ruempol duduk seorang diri. Komisaris besar itu mengenakan jas malam hitam dengan rompi kelabu. Segelas cognac berada di tangannya. Seorang pianis perempuan memainkan Clair de Lune; nada-nada lembut Debussy mengalir di atas percakapan para saudagar seperti cahaya bulan yang jatuh di permukaan air kotor tanpa mampu menjernihkannya.
Ivan menghampiri. “Boleh aku duduk?”
Ruempol menunjuk kursi di hadapannya.
Seorang pelayan datang. Ivan memesan minuman, kemudian memandang ke arah ruang yang dahulu dikuasai tawa Brinkman.
“Sangat tragis nasib seorang Brinkman,” katanya. “Kaya, terpandang, terpelajar, dan mempunyai koneksi luas. Akhirnya jatuh terhina hanya karena seorang pelacur.”
Ruempol melirik pemain piano. Ia meneguk cognac, lalu menghela napas. “Bukan seorang pelacur yang menjatuhkannya.”
“Lalu siapa?”
“Dirinya sendiri. Dan zaman yang sedang membutuhkan penjahat.”
Ivan memandangnya. “Kau bicara seolah pengadilan hanya memilih pemeran.”
“Bukankah semua pengadilan besar selalu memiliki panggung?” Ruempol tersenyum, tetapi senyum itu tidak mengandung kegembiraan. Di meja sebelah, dua pejabat muda tertawa ketika seorang perempuan Indo menjatuhkan kipasnya. Salah seorang membungkuk mengambilkannya, terlalu lama menahan tangan perempuan itu ketika mengembalikan kipas.
“Dengan perkara Brinkman,” kata Ruempol, “kita memberikan teater terbaik kepada rakyat Hindia. Selama bertahun-tahun mereka berkata hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Mereka menuduh polisi hanya berani memukul kuli, menangkap petani, dan memenjarakan wartawan. Lalu kita hadirkan seorang Eropa kaya di kursi terdakwa. Kita biarkan seorang pelacur pribumi bersaksi. Kita jatuhkan ancaman hukuman mati.”
Ia mengangkat gelas ke arah ruangan, seolah bersulang kepada penonton yang tidak terlihat. “Satu pertunjukan besar,” lanjutnya, “dan mendadak pemerintah dapat berkata, lihatlah, hukum melindungi siapa saja—bahkan perempuan rumah bordil.”
“Fientje memang berhak memperoleh keadilan.”
“Tentu.”
“Brinkman memang membunuhnya.”
“Benar.”
“Kalau begitu, di mana sandiwaranya?”
Ruempol meletakkan gelas.
“Sandiwaranya bukan terletak pada kesalahan Brinkman. Ia bersalah. Sandiwaranya terletak pada kesimpulan yang kita minta rakyat percayai, karena seorang elite dihukum, maka sistem seluruhnya adil.”
Piano memasuki bagian yang lebih pelan. Jemari pemainnya bergerak ringan di atas tuts, sementara kipas besar di langit-langit mengaduk udara yang berbau tembakau, parfum, dan minuman keras.
“Politik memerlukan drama kolosal,” kata Ruempol. “Tanpa drama, rakyat akan melihat kenyataan terlalu telanjang, mereka sedang dijajah oleh sebuah sistem yang mengambil tanah, tenaga, dan kepatuhan mereka, lalu menyebut semuanya ketertiban.”
Ivan merendahkan suara. “Kau seorang pejabat pemerintah.”
“Justru karena itu aku mengetahuinya.”
“Dan kau masih melayaninya.”
“Mengetahui cara mesin bekerja tidak berarti seseorang mampu keluar dari dalamnya.”
“Itu alasan yang nyaman.”
“Semua orang memerlukan alasan agar dapat tidur.”
Ivan teringat Karta, centeng yang hampir dihukum karena kesalahan orang lain. “Apakah penangkapan Karta juga bagian dari mesin?”
Ruempol tidak segera menjawab.
“Pada awalnya kami membutuhkan perkara cepat selesai,” katanya akhirnya. “Seorang lelaki pribumi yang cemburu adalah cerita yang mudah diterima. Tidak mengganggu siapa pun yang penting.”
“Ia dapat dihukum mati.”
“Ya.”
“Padahal kau tahu ada bukti yang mengarah kepada Brinkman.”
“Aku tahu ada bukti yang dapat menimbulkan kekacauan.”
Ivan mencondongkan tubuh. “Jadi nyawa Karta tidak penting?”
Ruempol memutar gelasnya perlahan. “Dalam pemerintahan, jangan bertanya apakah satu nyawa penting. Tanyakan apakah satu nyawa dapat mengguncang susunan yang menjaga jutaan orang tetap patuh.”
“Itulah bahasa setiap penindas.”
“Dan juga bahasa setiap negara ketika merasa terancam.”
“Kau menyamakan negara dengan penguasa.”
“Karena bagi rakyat jajahan, keduanya memang sengaja dibuat sama.”
Pelayan meletakkan minuman Ivan. Lelaki itu membungkuk, lalu mundur beberapa langkah sebelum berbalik. Ruempol mengikutinya dengan mata.
“Lihat pelayan itu,” katanya. “Ia tidak boleh duduk di kursi kosong meskipun kakinya sakit. Bukan karena ada undang-undang yang menyebutnya. Cukup karena seluruh ruangan memahami tempatnya. Itulah kekuasaan paling sempurna: ketika perintah tidak perlu lagi diucapkan.”
“Lalu hukum?”
“Hukum menjaga susunan kursi.”
“Bukankah seharusnya hukum berdiri di atas politik?”
Ruempol tertawa pelan. “Itu kalimat para profesor. Di negeri jajahan, politik adalah panglima. Hukum berjalan di belakangnya sambil membawa stempel.”
Ivan menatap wajah para anggota Concordia. Di sana terdapat pejabat yang berbicara tentang Politik Etis, pengusaha yang menyumbang sekolah bagi bumiputra, dan pemilik perkebunan yang membayar buruh dengan upah serendah mungkin. Mereka dapat membahas kemajuan Hindia sambil memesan anggur Prancis yang harganya sama dengan penghasilan setahun seorang pekerja kebun.
“Pemerintah sekarang berbicara tentang balas budi,” kata Ivan. “Irigasi, pendidikan, perpindahan penduduk. Bukankah itu tanda politik dapat berubah?”
“Politik selalu dapat berganti pakaian.” Ruempol menunjuk seorang pejabat pendidikan yang sedang berdansa. “Dahulu kita datang membawa senapan dan monopoli. Sekarang kita membawa sekolah dan menyebut diri orang tua yang baik. Tetapi sekolah mana? Untuk siapa? Berapa banyak anak pribumi boleh masuk? Cukup banyak untuk mencetak juru tulis, mantri, dan guru murah. Tidak cukup banyak untuk membiarkan mereka mengambil alih kekuasaan.”
“Pendidikan dapat membuat mereka bertanya.”
“Itulah kesalahan yang mulai kita sadari.”
“Kesalahan?”
“Kita mengajari mereka membaca agar dapat memahami perintah. Mereka memakai kemampuan itu untuk membaca sejarah. Kita mengajari mereka menulis agar dapat mengisi laporan. Mereka menggunakannya untuk menerbitkan surat kabar. Kita mengajari mereka hukum agar dapat membantu administrasi. Sekarang mereka bertanya mengapa hukum yang sama memberikan derajat berbeda berdasarkan ras.”
Ruempol tersenyum hambar.
“Setiap kekuasaan menciptakan alat yang kelak dipakai untuk menentangnya.”
“Kalau begitu perubahan mungkin terjadi.”
“Perubahan selalu terjadi. Keadilan belum tentu.”
Ruempol bersandar. “Andaikan suatu hari bangsa ini merdeka, apakah kau kira drama akan berhenti? Tidak. Selama politik menjadi panglima, kekuasaan akan tetap membutuhkan penjahat, pahlawan, upacara, dan pengorbanan. Nama penguasanya mungkin berubah. Warna kulitnya mungkin sama dengan rakyat. Tetapi kebutuhan mempertahankan legitimasi tidak berubah.”
“Kau terlalu sinis.”
“Aku polisi. Sinisme adalah luka yang telah mengering.”
“Dan apa gunanya kemerdekaan jika semua akan sama?”
“Aku tidak mengatakan semuanya akan sama. Aku mengatakan kemerdekaan tidak otomatis membuat manusia berhenti mencintai kekuasaan.”
Ia mencondongkan badan dan berbicara lebih pelan. “Kekuasaan perlu drama untuk menghapus ingatan bahwa ia pernah menindas dan berbohong. Hari ini Brinkman menjadi drama kita. Kelak orang lain akan memakai cara yang sama. Mereka akan menghukum satu pejabat korup agar seribu pejabat lain tampak bersih. Mereka akan mengadili satu pembunuh agar kekerasan yang dilakukan negara tidak dibicarakan. Mereka akan menyebutnya momentum perubahan.”
“Padahal?”
“Hanya pergantian adegan.”
Ivan memandang piano. Musik telah berhenti. Para tamu bertepuk tangan, lalu meminta lagu lain.
“Brinkman tidak akan naik banding,” katanya.
Ruempol tidak tampak terkejut. “Aku tahu.”
“Ia sudah mati.”
Ruempol mengangkat gelas, tetapi tidak jadi meminumnya. Kabar itu belum dimuat surat kabar. Pagi sebelumnya, seorang penjaga menemukan Brinkman tergantung dengan sobekan kain seprai di dalam sel. Ia menanti pelaksanaan hukuman mati sambil mengajukan permohonan pengampunan, tetapi sebelum pemerintah memutuskan apakah nyawanya perlu diambil secara resmi, ia lebih dahulu mengambilnya sendiri.
“Sangat sesuai,” kata Ruempol.
Ivan menatapnya tajam. “Sesuai?”
“Ia menyelesaikan perkara tanpa memaksa pemerintah melaksanakan eksekusi seorang Eropa di depan rakyat jajahan. Tidak ada banding panjang. Tidak ada pembukaan kembali berkas. Tidak ada pemeriksaan tentang siapa saja yang menerima uangnya.”
“Kau menganggap kematiannya menguntungkan.”
“Aku mengatakan kematiannya menyederhanakan banyak hal.”
“Apakah ia benar-benar bunuh diri?”
Untuk pertama kalinya malam itu, Ruempol menatap Ivan tanpa senyum.
“Apakah jawaban atas pertanyaan itu akan mengubah sesuatu?”
Ivan merasakan dingin yang tidak berasal dari angin malam. “Itu bukan jawaban.”
“Dalam politik, pertanyaan yang berbahaya jarang memperoleh jawaban. Ia hanya memperoleh versi resmi.”
“Apa versi resminya?”
“Seorang pembunuh diliputi penyesalan dan mengakhiri hidupnya.”
“Dan versi yang tidak resmi?”
Ruempol memandang panggung piano yang kini kosong. “Seorang lelaki mengetahui terlalu banyak nama.”
Di meja lain seseorang tertawa keras. Gelas-gelas beradu. Tidak satu pun anggota societeit menoleh ke arah Ivan dan Ruempol. Mereka semua telah menguasai seni paling penting dalam kehidupan kolonial: mendengar tanpa terlihat mendengar.
“Jadi sesama elite saling menghabisi atas nama hukum,” kata Ivan.
“Kadang-kadang.”
“Demi mempertahankan legitimasi di hadapan rakyat.”
“Sering kali.”
“Dan kau menyebutnya ketertiban.”
“Itulah istilah dalam laporan.”
Ivan menghabiskan minumannya. Ia merasa muak kepada Ruempol, tetapi lebih muak lagi karena sebagian penjelasan lelaki itu masuk akal. Kejahatan paling berbahaya bukanlah kebohongan yang mudah dikenali. Kejahatan paling berbahaya adalah kebohongan yang memakai sebagian kebenaran. Brinkman memang membunuh Fientje. Raonah memang mengatakan kebenaran. Pengadilan memang menjatuhkan hukuman kepada orang bersalah.
Namun semua kebenaran itu telah disusun sedemikian rupa agar menghasilkan satu kebohongan yang lebih besar bahwa sistem kolonial sanggup mengoreksi dirinya sendiri.
“Apakah perkara ini tanda perubahan?” tanya Ivan.
Ruempol menggeleng. “Bukan. Hanya drama.”
“Mengapa kau begitu yakin?”
“Karena setelah pertunjukan selesai, kursi-kursi tetap berada di tempat yang sama.”
Seolah hendak membuktikan ucapannya, seorang anggota Eropa menjentikkan jari memanggil pelayan. Lelaki pribumi itu segera datang, membungkuk, menerima perintah, lalu pergi tanpa pernah dipandang wajahnya.
Ivan berdiri. “Kau keliru mengenai satu hal, Ruempol.”
“Apa?”
“Orang yang terlalu lama dipaksa berdiri akhirnya akan bertanya mengapa kursi hanya disediakan untuk orang lain.”
Ruempol tersenyum. “Dan ketika mereka merebut kursi itu?”
“Mereka harus belajar bahwa keadilan bukan sekadar mengganti siapa yang duduk.”
“Itu pelajaran yang tidak pernah disukai pemenang.”
Ivan meninggalkan meja. Di ambang pintu ia menoleh untuk terakhir kali. Ruempol masih duduk di bawah lampu kristal, sendiri bersama cognac dan pengetahuan yang tidak pernah berani ditulisnya dalam laporan.
Keesokan pagi, koran-koran memberitakan kematian Brinkman. Tajuk berbahasa Belanda menyebutnya akhir tragis seorang saudagar yang tersesat oleh nafsu. Koran Melayu menulis bahwa rasa bersalah telah menghukumnya sebelum tiang gantungan. Sebagian pers Tionghoa bertanya mengapa tahanan penting dibiarkan memiliki kain panjang di dalam sel. Nama Ruempol kembali muncul. Ia berjanji melakukan pemeriksaan internal. Tidak ada hasil pemeriksaan yang kelak diumumkan.
Di sebuah warung dekat Senen, orang-orang membicarakan kematian itu selama beberapa hari. Setelah itu harga beras naik. Seorang kuli dipukul mandor. Sebuah kampung digusur untuk memperlebar jalan. Kehidupan menghadirkan ketidakadilan baru dengan kecepatan yang membuat kemarahan lama sulit dipelihara.
Di kantor surat kabar, Rahmat membaca catatan Ivan tentang percakapannya dengan Ruempol. “Ia benar mengenai drama,” kata Rahmat.
“Tetapi?”
“Ia keliru jika menganggap rakyat selalu menjadi penonton.”
Rahmat berdiri di dekat mesin cetak. Di bawah tangannya, lembaran-lembaran koran bergerak keluar satu demi satu. “Mula-mula rakyat menonton,” lanjutnya. “Lalu mereka mulai memahami jalan cerita. Setelah itu mereka mengenali kebohongan para pemain. Pada akhirnya mereka naik ke panggung.”
“Dan mengganti penguasa?”
“Mudah-mudahan bukan hanya itu.”
“Apa yang lebih sulit?”
Rahmat memandang keluar jendela. Di jalan, seorang anak pribumi menjajakan koran sambil berlari di antara kereta orang Eropa. “Mengganti tata panggungnya.”
Ivan teringat ucapan Ruempol, selama politik menjadi panglima, kekuasaan akan selalu memerlukan drama. Mungkin itu benar. Kolonialisme tidak bertahan hanya dengan senapan dan penjara. Ia bertahan dengan cerita—bahwa penjajahan adalah ketertiban, perampasan adalah pembangunan, kepatuhan adalah kedamaian, dan satu putusan adil membuktikan seluruh sistem memiliki hati nurani.
Tetapi setiap cerita mempunyai kelemahan. Ia membutuhkan orang untuk mempercayainya. Dan pagi itu, di antara bunyi mesin cetak dan bau tinta, Ivan melihat semakin banyak orang Batavia mulai kehilangan kepercayaan.

Tinggalkan komentar