Wajah mama…

Janji di Pusara Papa

Namaku Aditia Warman. Nama itu pemberian Papa. Mama pernah berkata bahwa Papa memilihnya dengan hati-hati, seolah melalui nama tersebut ia hendak menitipkan harapan yang kelak tidak sempat disampaikannya sendiri kepadaku.

Papa seorang Tionghoa kelahiran Medan. Ia mengenal Mama ketika kuliah di Jakarta. Mereka datang dari dua dunia yang berbeda. Keluarga Papa tergolong berada, sedangkan Mama lahir dan dibesarkan dalam kemiskinan. Hubungan mereka tidak mendapat restu dari Kakek. Bukan karena Papa kemudian memeluk Islam, melainkan karena Kakek tidak menghendaki putranya menikahi perempuan miskin.
 
Namun Papa memilih Mama. Mereka akhirnya menikah tanpa restu keluarga.

Sejak itu, Kakek menghentikan kiriman biaya kuliah Papa. Karena tidak lagi memiliki uang, Papa terpaksa meninggalkan bangku kuliah. Ia kemudian bekerja sebagai sopir angkot untuk menghidupi kami.

Mama pernah berkata bahwa Papa tidak pernah menyesali pilihannya.
 
“Papamu kehilangan kuliah dan kemewahan keluarganya karena menikahi Mama,” katanya suatu malam. “Tetapi selama hidup bersama kita, dia tidak pernah sekalipun menyalahkan Mama.”
 

Aku tidak tahu apakah itu sepenuhnya benar atau hanya cara Mama menjaga kenanganku tentang Papa. Namun aku ingin mempercayainya. Sebab bagi seorang anak yang kehilangan ayah terlalu dini, kenangan adalah satu-satunya warisan yang tidak dapat dirampas oleh kemiskinan.
 
Papa meninggal karena kanker paru-paru ketika aku masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Aku bahkan belum sempat mengenalnya sebagai seorang lelaki dewasa. Kenanganku tentangnya hanya berupa potongan-potongan kecil: telapak tangannya yang kasar, suara batuknya pada malam hari, dan punggungnya yang perlahan menjauh setiap kali ia berangkat bekerja.

Menjelang akhir hidupnya, keluarga di Medan datang dan membawanya pulang untuk berobat. Mama tidak ikut karena harus tetap bekerja dan menjagaku di Jakarta. Lagi pula, hubungannya dengan keluarga Papa tidak pernah benar-benar membaik. Aku belum memahami semua itu. Aku hanya tahu Papa pergi dalam keadaan sakit dan berjanji akan pulang setelah sembuh. Namun ia tidak pernah kembali.
 


Suatu hari, kabar kematiannya datang melalui telepon. Mama tidak langsung menangis. Ia hanya duduk lama di tepi tempat tidur sambil memegang gagang telepon. Wajahnya pucat, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut mati bersama kabar itu. Setelah meminjam uang untuk perjalanan, Mama membawaku ke Medan.

Kami datang bukan untuk meminta warisan atau menuntut pengakuan. Mama hanya ingin melihat pusara lelaki yang pernah memilihnya dengan mengorbankan seluruh kemudahan hidupnya. Kakek menyambut kami dengan dingin. Ia menatapku lama, mungkin sedang mencari wajah anak lelakinya di wajahku.
  “Tinggalkan anak itu di sini,” katanya kepada Mama. “Dia darah keluarga kami. Kami bisa membesarkannya dengan layak.”

Tangan Mama segera menggenggam tanganku lebih erat. Ia tidak marah. Tidak meninggikan suara. Mama hanya menunduk dan menjawab dengan sangat halus, “Terima kasih. Saya datang hanya untuk membawa Adit melihat pusara papanya. Setelah itu kami akan kembali ke Jakarta.”
 

“Pikirkan masa depannya,” kata Kakek. “Apa yang bisa kamu berikan kepadanya?”
 


Mama terdiam.
 


Pertanyaan itu mungkin melukai bagian paling rapuh dalam dirinya. Ia memang tidak mempunyai rumah, tanah, tabungan, atau pendidikan tinggi. Ia tidak memiliki apa pun yang dapat menandingi kekayaan keluarga Papa. Namun ia tetap menggenggam tanganku.
 
“Saya mungkin tidak bisa memberikan banyak, Pa,” katanya pelan. “Tetapi saya ibunya. Selama saya masih hidup, Adit tidak akan kehilangan kasih sayang.”
 


Aku tidak memahami percakapan itu. Aku hanya merasakan tangan Mama gemetar ketika membawaku pergi. Di pemakaman, Mama berlutut di depan pusara Papa. Ia membersihkan tanah merah yang masih basah, lalu menaburkan bunga dengan kedua tangannya. Tidak ada tangis yang keras. Hanya air mata yang terus mengalir ketika ia berbisik di atas makam.
 
“Aku akan menjaga Adit. Tenanglah, Pa. Aku akan mendidiknya dan menjadikannya sarjana, seperti pesanmu.”

Itulah janji Mama di pusara Papa. Sebelum dibawa kembali ke Medan, Papa memang pernah berpesan agar Mama mendidikku sebaik mungkin dan mengantarkanku sampai ke perguruan tinggi.

Sejak hari itu, ia membesarkanku seorang diri. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Mama sudah bangun. Ia memasak nasi, menyiapkan sarapanku, lalu berangkat ke pabrik tekstil dengan seragam biru yang warnanya semakin pudar.

Sore hari ia pulang membawa bau kapas, debu, dan keringat yang melekat pada tubuhnya. Kadang-kadang kedua tangannya dipenuhi luka kecil akibat benang dan mesin. Namun setiap kali aku bertanya apakah tangannya sakit, ia selalu tersenyum.
 
“Tidak, Nak. Luka begini tidak ada rasanya.”
 
Aku memercayainya ketika masih kecil. Kelak aku mengerti bahwa Mama berbohong. Luka itu terasa sakit. Tubuhnya lelah. Hatinya pun mungkin belum selesai berkabung. Namun orang miskin sering terpaksa menyembunyikan penderitaan dari orang yang dicintainya, sebab mereka tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan selain perasaan aman.
 


Sejak Papa meninggal, Mama menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Ia tidak pernah mampu memberikan kehidupan yang mewah. Namun ia menepati janjinya di depan pusara Papa: menggenggam tanganku, membawaku kembali ke Jakarta, lalu menjaga agar kemiskinan tidak merampas masa depanku.
 
Namun menepati janji itu ternyata tidak mudah.

Ketika duduk di kelas dua SMU, aku mulai melihat betapa berat beban yang dipikulnya seorang diri. Aku berjualan air mineral secara asongan sepulang sekolah. Dengan sepeda tua peninggalan Papa, aku membawa kardus-kardus Aqua ke terminal, perempatan jalan, atau lapangan tempat orang bermain sepak bola. Keuntungannya tidak banyak, tetapi cukup untuk membeli buku dan membayar ongkos sekolah. Setidaknya, uang itu membuat tangan Mama tidak perlu terlalu sering meraba dompet dengan wajah cemas.
 


***

Prahara itu terjadi pada suatu sore. Aku sedang mengayuh sepeda di tepi jalan. Kardus minuman terikat di boncengan. Tiba-tiba sebuah mobil mewah keluar dari halaman pertokoan dan menghantam sisi sepedaku. Tubuhku terpelanting ke aspal. Lutut dan sikuku terluka. Botol-botol air berserakan, sebagian pecah terlindas kendaraan lain.
 


Aku masih terduduk menahan sakit ketika pintu mobil terbuka. Seorang lelaki turun dengan wajah merah karena marah. Hal pertama yang diperiksanya bukan tubuhku, melainkan bagian samping mobilnya.
 
“Kamu kalau naik sepeda pakai mata!” bentaknya.
 


“Saya di pinggir jalan, Pak. Bapak yang keluar mendadak.”
 

Jawabanku membuatnya semakin murka. Ia mendorong bahuku hingga aku kembali jatuh. Kemudian kakinya menendang pahaku. “Sudah merusak mobil orang, masih berani melawan!”
 


Aku berusaha bangkit, tetapi ia kembali menendang. Dalam keadaan takut dan kesakitan, aku menangkis kakinya. Ketika tangannya hendak memukul wajahku, aku membalas satu pukulan. Lelaki itu terhuyung. Orang-orang mulai berkerumun. Namun tidak seorang pun berani membelaku. Mungkin karena pakaianku lusuh dan sepedaku buruk, sementara lelaki itu datang dengan mobil mahal. Di negeri yang tidak adil, penampilan sering kali menjadi saksi pertama—bahkan sebelum kebenaran sempat berbicara.
 


Polisi datang beberapa menit kemudian. Aku dibawa ke kantor polisi bersama lelaki itu. Namun sejak memasuki ruangan pemeriksaan, aku segera tahu siapa yang akan dipercaya. Lelaki itu duduk sambil menelepon seseorang. Polisi berbicara kepadanya dengan sopan, sedangkan kepadaku mereka hanya meminta agar aku mengaku telah merusak mobil dan melakukan penganiayaan.

“Saya yang ditabrak, Pak,” kataku. “Saya juga ditendang lebih dulu.”
 


“Jangan berbelit-belit. Ada orang terluka karena kamu pukul.”

Aku ditahan. Malam itu merupakan malam terpanjang dalam hidupku. Di dalam sel yang lembap, aku tidak terlalu memikirkan diriku. Aku memikirkan Mama. Ia pasti menungguku pulang sambil berkali-kali memanaskan makanan yang tidak pernah kusentuh.
 

Keesokan harinya Mama datang. Begitu melihatnya, seluruh keberanianku runtuh. Aku bersujud di kakinya dan menangis seperti anak kecil. “Ma, Adit tidak berniat memukul. Dia terus menendang Adit ketika Adit masih terduduk. Bukan Adit yang menabrak mobilnya. Dia yang menabrak Adit.”
 


Mama ikut berjongkok. Kedua tangannya memegang wajahku. “Mama percaya, Sayang. Mama mengenal anak Mama. Kamu tidak mungkin menyakiti orang kalau tidak terpaksa.” Ia memelukku erat. Tubuhnya gemetar, tetapi ia berusaha menahan tangis agar aku tidak semakin takut.
 


Di hadapan polisi, Mama berlutut. “Tolong bebaskan anak saya, Pak. Dia masih sekolah. Kalau memang harus mengganti kerusakan mobil itu, saya akan berusaha membayarnya. Saya bisa mencicil dari gaji saya.”
 
Petugas itu tampak tidak nyaman, tetapi ia tidak menyuruh Mama berdiri.

“Kami tidak bisa begitu saja membebaskannya, Bu. Pihak pelapor merasa dirugikan secara fisik dan materi. Laporannya sudah masuk.”
 


Hari itu Mama mendatangi lembaga bantuan hukum. Dari sana ia mengetahui bahwa pelapor bukan orang biasa. Keluarganya dekat dengan salah seorang pejabat tinggi. Para pendamping hukum menjelaskan bahwa perkara itu masih dapat dilawan, tetapi jalannya tidak akan mudah. Apalagi kami tidak memiliki saksi yang berani memberikan keterangan.
 


Setiap hari Mama datang menjengukku. Dalam waktu seminggu, wajahnya seolah menua bertahun-tahun. Matanya cekung karena kurang tidur. Untuk pertama kalinya aku melihat Mama bukan sebagai perempuan perkasa yang mampu mengalahkan seluruh kesulitan, melainkan sebagai manusia biasa yang sedang dihancurkan oleh rasa tidak berdaya. Ia merasa gagal melindungi anak satu-satunya.
 


Jika pengadilan menyatakan aku bersalah, sekolah mungkin akan mengeluarkanku. Semua pengorbanannya akan sia-sia. Harapan yang dipeliharanya sejak Papa meninggal akan berakhir di dalam sel tahanan.
 


Bagi Mama, aku bukan hanya anak. Aku adalah satu-satunya alasan ia masih sanggup bangun setiap pagi. Akulah tongkat yang ia harapkan dapat menopang tubuhnya ketika kelak usia membuat kakinya tidak lagi kuat berjalan. Namun kini, tongkat itu justru sedang dipatahkan di hadapannya. Dan Mama tidak mempunyai apa-apa untuk melawannya selain air mata.


Lelaki di Jalan Thamrin

Seminggu setelah aku ditahan, seorang pengacara datang menemuiku. Ia masih muda dan membawa map berisi salinan pemeriksaan.
 
“Dik Adit,” katanya, “ada lembaga advokasi yang berhasil menghubungi seseorang. Orang itu bersedia membantu menyelesaikan perkara ini. Kami akan mengusahakan perdamaian agar pelapor mencabut laporannya.”
 


Aku tidak mengenal orang yang dimaksud. Aku hanya tahu bahwa selama aku berada di dalam sel, Mama pasti mengetuk setiap pintu yang dapat diketuknya. Ia akan mendatangi siapa pun, memohon kepada siapa pun, bahkan merendahkan dirinya jika itu dapat menyelamatkan masa depanku.
 


Tiga hari kemudian Mama datang dengan mata sembap, tetapi kali ini ada senyum di wajahnya. “Nak, kamu boleh pulang.”
 


Aku menatapnya, tidak yakin telah mendengar dengan benar. “Pelapor sudah bersedia berdamai dan mencabut laporannya,” katanya. “Perkaranya akan diselesaikan. Kamu bebas.”
 


Mama memelukku. Tangis yang berhari-hari ditahannya akhirnya pecah. Aku dapat merasakan detak jantungnya di dadaku—cepat, lemah, tetapi penuh kelegaan.

“Nanti kita temui orang yang membantu kamu,” bisiknya. “Kita harus mengucapkan terima kasih.”
 
Setelah seluruh urusan administrasi selesai, aku dan Mama meninggalkan kantor polisi. Seorang pendamping dari lembaga advokasi membawa kami dengan mobil menuju Jalan Thamrin. Sepanjang perjalanan, aku melihat gedung-gedung tinggi berdiri di balik kaca kendaraan. Rasanya seperti memasuki dunia lain—dunia yang dihuni orang-orang yang tidak pernah harus menghitung harga beras sebelum membeli buku sekolah.
 


Kami berhenti di depan sebuah gedung perkantoran. Aku merasa canggung memasuki lobi berlantai marmer dengan pakaian lusuh dan sepatu sekolah yang kusam. Mama bahkan beberapa kali mengusap sandalnya, seolah takut debu dari kampung kami akan mengotori lantai gedung itu.
 


Kami dibawa ke sebuah kantor di lantai atas. Di sana, seorang lelaki menyambut kami. Wajahnya teduh. Ia tidak memakai dasi, hanya kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Tatapannya tidak membuatku merasa sedang dikasihani.
 

“Kamu Adit?” tanyanya.
 


Aku mengangguk.

Ia menepuk bahuku pelan. “Biasa, laki-laki kadang terpaksa membela diri. Tetapi setelah ini kamu harus lebih berhati-hati. Jangan biarkan kemarahan orang lain menghancurkan masa depanmu. Kamu harus kembali ke sekolah.”.

Belum sempat aku menjawab, Mama menjatuhkan diri dan berlutut di hadapannya. “Terima kasih, Pak,” katanya sambil menangis. “Bapak sudah menyelamatkan anak saya. Saya tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan Bapak.”
 


Lelaki itu segera membungkuk dan membantu Mama berdiri. “Jangan berlutut kepada saya, Bu. Saya bukan Tuhan. Saya hanya kebetulan bisa membantu.”
 


Kemudian ia menoleh kepadaku. Senyumnya hilang. Tatapannya menjadi serius. “Adit, lihat wajah mamamu.”
 


Aku memandang Mama. Wajah itu pucat dan letih. Di bawah matanya terdapat lingkaran gelap. Kerutan yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan kini tampak jelas. Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa setiap penderitaanku meninggalkan luka pada tubuh Mama.
 


“Perhatikan baik-baik wajah itu,” lanjutnya. “Suatu hari nanti kamu mungkin menjadi orang besar. Kamu mungkin mempunyai uang, jabatan, dan banyak orang di sekelilingmu. Tetapi jangan pernah lupa bahwa ketika dunia tidak memercayaimu, perempuan inilah yang tetap berlutut untuk menyelamatkanmu.”
 


Air mataku jatuh.
 


“Kamu harus berjanji kepada dirimu sendiri,” katanya, “bahwa sepanjang hidupmu, kamu akan menjaga ibumu.”
 


Aku mengangguk. “Saya berjanji, Pak.”
 


Ia kembali tersenyum. “Kalau nanti kamu diterima di perguruan tinggi negeri, kabari saya. Saya akan membantu mencarikan beasiswa.”
 


Hari itu aku pulang dengan sepeda yang telah rusak, barang dagangan yang hilang, dan luka yang belum sembuh. Namun aku membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah janji. Aku belum tahu bahwa janji kepada orang yang kita cintai sering kali tidak diuji ketika kita miskin dan tidak berdaya. Janji justru diuji ketika hidup mulai menawarkan dunia—dan meminta kita melupakan siapa yang dahulu berlutut demi menyelamatkan kita.
 

Mama jadi buruh migran

Beberapa bulan sebelum aku naik ke kelas tiga, pabrik tempat Mama bekerja mengurangi jumlah buruh. Pesanan tekstil menurun. Mesin-mesin berhenti satu per satu, dan ratusan pekerja dipanggil bergantian ke ruang personalia. Suatu sore Mama pulang lebih cepat. Ia masih mengenakan seragam pabrik, tetapi tidak membawa kotak makan seperti biasanya. Di tangannya terdapat sebuah amplop cokelat.
 
“Mama kena PHK,” katanya.
 
Ia mengucapkannya sambil tersenyum, seakan hanya sedang memberitahuku bahwa harga cabai naik.

Namun malam itu aku mendengar Mama menangis di kamar. Tangisnya sangat pelan, ditahan di balik bantal agar tidak terdengar olehku.
 
Pesangonnya tidak besar. Jika digunakan untuk biaya hidup, uang itu akan habis dalam beberapa bulan. Setelah berhari-hari mencari pekerjaan dan selalu ditolak karena usia, Mama akhirnya mengambil keputusan untuk bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri.
 


Aku menentangnya. “Biar Adit berhenti sekolah, Ma. Adit bisa bekerja penuh.”
 
Mama menamparku. Itulah satu-satunya tamparan yang pernah kuterima darinya. Setelah itu, ia langsung memelukku dan menciumi pipiku berkali-kali. “Jangan pernah berkata begitu lagi,” katanya sambil terisak. “Mama boleh kehilangan pekerjaan. Mama boleh kehilangan apa saja. Tetapi kamu tidak boleh kehilangan sekolah.”
 


Selama Mama bekerja di luar negeri, aku akan tinggal bersama Tante Rini, adik Mama. Setiap bulan Mama berjanji mengirimkan uang untuk biaya sekolah dan kebutuhan hidupku.
 


Hari keberangkatannya tiba. Di bandara, Mama mengenakan blus terbaik yang dimilikinya. Ia membawa sebuah tas besar berisi pakaian, obat-obatan, sambal, dan beberapa bungkus mi instan. Di lehernya tergantung tas kecil berisi paspor dan dokumen keberangkatan. Ia terlihat gugup, seperti seorang anak yang hendak pergi ke tempat asing tanpa tahu apakah akan menemukan jalan pulang.
 


Ketika pengumuman keberangkatan terdengar, Mama memegang kedua tanganku. “Mama akan mengirim uang setiap bulan. Jangan pikirkan Mama. Belajar yang rajin.”
 


“Adit ikut saja, Ma.”
 


Mama tersenyum dan menggeleng. “Kamu harus tinggal. Tahun depan kamu lulus. Ingat bapak yang pernah membantu kamu? Dia bilang akan mencarikan beasiswa kalau kamu diterima di perguruan tinggi negeri.”
 


Ia merapikan kerah bajuku, sebagaimana yang selalu dilakukannya sejak aku masih kecil. “Jangan tinggalkan salat. Jangan berkelahi. Kalau Tante marah, kamu mengalah. Dan jangan terlalu sering jualan sampai lupa belajar.”
 


Aku mengangguk, meskipun pandanganku sudah kabur oleh air mata. “Mama kerja di mana?”
 


“Di rumah orang. Katanya menjaga orang tua.”
 


“Mereka akan baik kepada Mama?” Pertanyaan itu membuat senyumnya menghilang sesaat. Namun ia segera mengangguk. “Tentu. Mama juga sudah tua. Tidak mungkin mereka menyakiti orang setua Mama.”
 
Aku tahu ia sedang berbohong lagi—bukan karena mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan karena tidak seorang pun dapat menjamin keselamatan perempuan miskin di negeri orang.
 


Sebelum masuk ke ruang keberangkatan, Mama memelukku lama sekali. “Nak,” bisiknya, “Mama tidak punya rumah, tanah, atau uang untuk diwariskan kepadamu. Mama hanya bisa memberimu sekolah. Jangan sia-siakan satu-satunya warisan Mama.”
 


Aku ingin berkata bahwa aku tidak membutuhkan warisan. Aku hanya membutuhkan Mama pulang bersamaku. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Mama melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju pemeriksaan imigrasi.

Beberapa kali ia menoleh dan melambaikan tangan. Aku membalasnya sambil berusaha tersenyum agar ia tidak pergi dengan membawa kecemasan.
 
Di balik dinding kaca, tubuhnya semakin jauh, lalu hilang di antara para penumpang. Aku berdiri lama di sana. Hari itu aku belum memahami bahwa kemiskinan bukan hanya membuat seseorang kekurangan makanan dan tempat tinggal.

Kemiskinan juga memaksa seorang ibu meninggalkan anak yang dicintainya, pergi ke negeri asing, dan menyerahkan keselamatannya kepada orang-orang yang bahkan belum pernah ia jumpai.
 
Mama pergi untuk membeli masa depanku. Dan sejak pesawat itu mengudara, aku mulai hidup dengan satu ketakutan: jangan-jangan harga yang harus dibayar Mama jauh lebih mahal daripada masa depan yang hendak diberikannya kepadaku.
 

Tahun yang Hilang

Aku lulus SMU dengan nilai yang cukup baik. Namun ketika hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri diumumkan, namaku tidak tercantum di mana pun. Aku memeriksanya berkali-kali, berharap mungkin mataku keliru membaca nomor peserta. Namun angka-angka itu tetap sama. Tidak ada namaku. Tidak ada universitas yang menerimaku.
 


Aku pulang dengan langkah berat. Sepanjang perjalanan, yang terbayang bukan kegagalanku, melainkan wajah Mama di bandara. Ia telah pergi ke negeri orang dan bekerja di rumah keluarga yang tidak dikenalnya agar aku dapat bersekolah. Kini aku merasa telah menyia-nyiakan satu-satunya warisan yang sanggup diberikannya.

Malam itu aku menelepon Mama dari warung telepon dekat rumah Tante. Sambungan internasional mahal, sehingga kami terbiasa berbicara singkat.
 


“Ma,” kataku setelah mendengar suaranya, “Adit tidak diterima.”


Di seberang sana Mama terdiam. Aku mendengar suara napasnya, juga suara seseorang berbicara dalam bahasa yang tidak kupahami.
 
“Tidak apa-apa, Nak,” katanya kemudian.
 


“Adit sudah gagal.”
 


“Kamu bukan gagal. Kamu hanya belum diterima tahun ini.”

“Tapi Mama sudah bekerja sejauh itu untuk Adit.”
 


“Justru karena Mama sudah sejauh ini, kamu tidak boleh berhenti.”

Aku menggenggam gagang telepon lebih erat.
 
“Coba lagi tahun depan,” lanjutnya. “Kamu masih muda. Setahun itu tidak panjang. Mama saja sanggup menunggu bertahun-tahun untuk melihat kamu menjadi orang berguna.”
 


Aku tidak menjawab.
 
Mama seolah mengetahui apa yang sedang kurasakan. “Dengar, Nak. Orang miskin boleh lelah, tetapi tidak boleh menyerah. Kalau kita menyerah, tidak ada siapa-siapa lagi yang akan memperjuangkan hidup kita.”
 


Setelah sambungan terputus, aku masih berdiri di dalam bilik telepon. Di luar, kendaraan berlalu-lalang. Orang-orang berjalan tanpa memedulikan seorang anak yang merasa masa depannya baru saja berakhir.
 


Beberapa bulan pertama kulewati dalam kehampaan. Teman-temanku mulai kuliah. Sebagian pulang dengan mengenakan jaket almamater. Percakapan mereka dipenuhi nama dosen, tugas kuliah, dan kehidupan kampus. Aku hanya tersenyum sambil menyembunyikan rasa malu. Aku sempat berpikir untuk bekerja di pabrik agar Mama dapat pulang. Namun setiap kali niat itu muncul, aku teringat pesannya di bandara: Mama tidak punya rumah, tanah, atau uang untuk diwariskan kepadamu. Mama hanya bisa memberimu sekolah.
 
Sejak itu aku memaksa diriku kembali belajar.

Aku tidak mampu mengikuti bimbingan belajar. Buku-buku bekas kubeli dari pasar loak. Sebagian halamannya telah penuh coretan. Ada yang kehilangan sampul, bahkan beberapa halaman awalnya. Namun selama angka dan huruf di dalamnya masih dapat dibaca, bagiku buku itu tetap berharga.
 
Setiap pagi aku membantu Tante membersihkan rumah. Siang hari aku belajar sendiri. Sore hari aku berjualan air mineral dan makanan ringan. Malamnya, setelah semua orang tidur, aku kembali membuka buku di bawah cahaya lampu kecil. Tidak ada guru yang menjelaskan kesalahanku. Tidak ada teman yang membantuku memahami soal-soal sulit. Aku mengoreksi jawaban sendiri, mengulang pelajaran yang sama, lalu menuliskan rumus pada kertas-kertas bekas.

Kadang-kadang rasa putus asa datang tanpa permisi. Pada malam seperti itu, aku membayangkan Mama sedang bekerja di negeri orang. Mungkin ia sedang mengangkat tubuh orang tua yang dijaganya. Mungkin tangannya kembali terluka seperti ketika masih menjadi buruh pabrik. Mungkin ia menangis sendirian, tetapi menahan tangis agar aku tidak mengetahuinya. Bayangan itu membuatku kembali duduk dan belajar.
 


***

Setahun kemudian aku mengikuti ujian sekali lagi. Ketika hasilnya diumumkan, tanganku gemetar saat mencari nomor peserta. Aku membacanya berulang-ulang, takut kebahagiaan membuatku keliru. Nomor itu ada. Aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.
 


Aku berlari ke warung telepon. Sambungan dengan Mama baru tersambung setelah beberapa kali dicoba. Begitu mendengar suaranya, aku tidak mampu segera berbicara.
 


“Ma…”
 


“Iya, Nak. Bagaimana hasilnya?”
 


“Adit diterima.”
 
Mama terdiam.
 


“Adit diterima di perguruan tinggi negeri di Bandung, Ma.”
 


Dari seberang terdengar isak tangis. Untuk pertama kalinya, Mama tidak berusaha menyembunyikannya.
 
“Alhamdulillah,” katanya berkali-kali. “Terima kasih, Tuhan. Terima kasih…”
 


Aku ikut menangis di dalam bilik sempit itu.
 
“Mama bangga kepadamu,” katanya. “Papamu pasti juga bangga.”
 
Kalimat itu membuat dadaku semakin sesak. Sudah lama sekali tidak ada orang yang menyebut Papa. Seolah-olah dari tempat yang jauh, Mama sedang berusaha menghadirkan kembali lelaki yang tidak sempat menyaksikan anaknya tumbuh dewasa.
 

Darah dan Harga Diri

Kebahagiaan karena diterima di universitas hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, kenyataan datang membawa angka-angka: uang pendaftaran ulang, biaya semester pertama, tempat kos, dan biaya hidup di Bandung. Mama tahu jumlahnya tidak sedikit. Aku pun tahu ia tidak mungkin mempunyai uang sebanyak itu.
 
Selama bekerja di luar negeri, hampir separuh gajinya dikirim ke Indonesia untuk biaya hidupku dan membantu Nenek di kampung.

Walaupun aku menumpang di rumah Tante Rini, kehidupan Tante juga miskin. Suaminya hanya pekerja serabutan. Kadang-kadang untuk makan sehari-hari saja mereka harus berutang di warung. Kehadiranku di rumah itu, betapapun Tante tidak pernah mengeluh, tetap menjadi tambahan beban. Aku tidak sampai hati meminta bantuan kepadanya.
 


Tanpa memberi tahu Mama, aku mendatangi keluarga Papa di Bekasi. Lelaki itu kakak kandung Papa. Menurut ukuranku, Om termasuk orang kaya. Rumahnya besar, memiliki pagar tinggi, dan dua mobil terparkir di halaman.
 
Aku pernah dua kali Imlek di rumah itu ketika Papa masih hidup. Setelah Papa meninggal, Mama tidak pernah lagi mengajakku datang. Kini aku mulai mengerti alasannya. Di mata keluarga itu, kemiskinan kami seakan menjadi kesalahan yang harus ditanggung karena Papa dahulu memilih Mama.
 


Aku berdiri lama di depan pagar rumah Om sebelum akhirnya memberanikan diri menekan bel. Seorang pembantu membukakan pintu dan mengantarku ke ruang tamu. Om datang beberapa menit kemudian. Ia masih mengenaliku, tetapi tidak ada kegembiraan di wajahnya. Tatapannya justru berubah masam.

Aku jelaskan bahwa aku diterima di PTN. Mama pergi ke luar negeri jadi TKW. “Mama kamu menjadi TKW, lalu kamu dititipkan di rumah adiknya. Ibu macam apa itu?”
 


Dadaku seperti dihantam sesuatu. Aku ingin marah. Ingin mengatakan bahwa ia tidak berhak menghakimi perempuan yang bekerja begitu keras untuk membesarkan anak adiknya. Namun bagaimanapun, ia adalah kakak kandung Papa. Aku menahan diri dan menunduk.

“Kami miskin, Om,” kataku lirih. “Mama menjadi TKW untuk membiayai hidup dan sekolah saya.”
 


“Miskin bukan alasan meninggalkan anak.”
 


“Mama tidak meninggalkan saya.”
 


“Lalu apa namanya kalau dia pergi ke luar negeri dan kamu dititipkan kepada orang lain?”
 


Aku mengepalkan tangan di atas paha. Kata-kata itu jauh lebih menyakitkan daripada pukulan lelaki yang pernah membuatku masuk tahanan. Setidaknya, lelaki itu adalah orang asing. Sedangkan penghinaan ini datang dari seseorang yang darahnya juga mengalir di tubuhku.
 


Om duduk di hadapanku, kemudian berkata dengan nada tegas, “Dit, kamu itu anak dari Papa kamu. Kamu bagian dari keluarga Papa kamu. Kakekmu di Medan mampu membiayai seluruh kuliahmu, termasuk biaya hidupmu. Bahkan kakek dan om udah berencana kirim kamu ke luar negeri untuk kuliah..”

Aku mengangkat kepala.
 


“ Kamu sekolah sampai tinggi di AS, dan setelah itu kembali ke keluarga papa kamu. Harta kakek mu besar, dia tidak punya cucu laki laki. Anak Om dan tante Leni semua perempuan. Hanya kamu harapan keluarga kakek mu untuk lanjutkan bisnisnya. Lupakan mama kamu. Kan kamu udah dewasa.” Kata Om.

Kalimat terakhir itu membuatku berdiri. Aku datang untuk meminjam pertolongan, bukan untuk menukar ibuku dengan uang kuliah. Aku memang membutuhkan biaya pendidikan, tetapi tidak dengan harga menyangkal perempuan yang telah menghabiskan hidupnya untukku.
 


“Terima kasih, Om,” kataku. “Sebaiknya saya pulang.”
 


“Duduk dulu, Dit. Kita belum selesai bicara.”
 


Aku melangkah menuju pintu.
 


“Dari mana kamu akan mendapatkan uang sebanyak itu?” serunya.
 


Aku tidak menjawab.
 


“Adit!”
 


Om memanggilku berkali-kali. Namun aku terus berjalan, melewati halaman dan keluar dari pagar rumahnya yang besar.

Di luar, kakiku gemetar. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku baru saja meninggalkan satu-satunya keluarga yang mungkin sanggup membiayai kuliahku. Barangkali tindakanku bodoh. Barangkali kemiskinan memang tidak memberi orang sepertiku kemewahan untuk mempertahankan harga diri. Namun bagiku, Mama adalah segala-galanya.
 


Aku tidak mengetahui persoalan sebenarnya antara Mama dan keluarga Papa. Aku tidak tahu siapa yang benar atau salah pada masa lalu. Tetapi aku tidak dapat menerima Mama direndahkan—bahkan oleh keluarga Papa sendiri. Ia mungkin hanya seorang buruh tekstil. Ia mungkin bekerja sebagai pembantu di negeri orang. Namun perempuan itulah yang tetap berdiri ketika semua orang meninggalkan kami.
 


Malamnya aku menelepon Mama dan menceritakan kedatanganku ke rumah Om. Mama lama tidak menjawab. Dari seberang kudengar ia berusaha menahan tangis. “Mengapa kamu pergi ke sana sendiri, Nak?”
 


“Adit pikir Om bisa membantu.”
 


“Lalu mengapa kamu pulang?”
 


“Karena Om menghina Mama.”
 


Tangis Mama akhirnya pecah.

“Kalau Kakek mau membiayai kuliahmu, terima saja,” kata mama di sela isak. “Jangan pikirkan perasaan Mama.”
 


“Adit tidak mau kalau harus meninggalkan Mama.”
 


“Mama tidak akan pernah merasa kamu meninggalkan Mama.”

“Om bilang Adit milik keluarga Papa.”
 


“Kamu memang darah daging keluarga Papa.”
 


“Tapi Adit juga anak Mama.”
 


Mama terdiam.
 


“Adit tidak mau menerima uang dari orang yang merendahkan Mama,” lanjutku. “Kalau Adit harus menunggu setahun lagi, Adit akan menunggu. Kalau harus bekerja dulu, Adit akan bekerja. Tapi Adit tidak mau membeli masa depan dengan menyangkal Mama.”

Di seberang sana, Mama menangis semakin keras. Aku membayangkan ia berdiri di sudut rumah majikannya, berbicara pelan agar tidak terdengar orang lain. “Sabar, Nak,” katanya setelah tangisnya mereda. “Kita memang miskin, tetapi jangan menyimpan dendam kepada keluarga Papa. Bagaimanapun, darah keluarga itu mengalir dalam tubuhmu. Papa kamu juga pasti tidak ingin kalian saling membenci.”
 


“Mama tidak marah kepada mereka?”
 


“Mama sudah terlalu lelah untuk membenci siapa pun. Mama punya Allah sebagai sahabat dan Allah suka manusia yang bersabar tanpa prasangka buruk.”
 


Kalimat itu membuatku terdiam.
 


Padahal aku mengetahui bahwa Mama sedang dilanda kepanikan. Batas pembayaran uang pendaftaran semakin dekat, sedangkan tabungannya tidak cukup. Ia telah meminta pinjaman kepada majikannya. Mama bersedia menerima pemotongan gaji setiap bulan, tetapi permintaannya ditolak.
 


Mungkin malam-malam itu ia tidak dapat tidur. Di satu sisi, anaknya akhirnya diterima di universitas setelah gagal setahun sebelumnya. Di sisi lain, pintu yang telah terbuka itu dapat kembali tertutup hanya karena kami tidak mempunyai uang untuk melangkah masuk. Namun setiap kali meneleponku, Mama menyembunyikan ketakutannya.
 
“Kamu siapkan saja semua dokumennya,” katanya. “Jangan pikirkan uang. Mama akan cari jalan.”
 


Aku tahu Mama belum menemukan jalan apa pun. Ia hanya berusaha membuatku tetap percaya bahwa seorang ibu selalu mempunyai cara menyelamatkan anaknya—meskipun diam-diam ia sedang menangis karena tidak tahu lagi kepada siapa harus meminta pertolongan.
 


Di tengah kecemasan itu, tidak sampai seminggu kemudian Mama menelepon lagi. “Nak, kamu catat alamat ini,” katanya. “Jalan Batu Tulis, Jakarta. Temui seorang bapak bernama Pak Awi.”
 


“Siapa Pak Awi?”
 

“Orang yang mengurus pesan dari bapak yang dahulu membantu kamu.”
 


Lelaki di gedung Jalan Thamrin itu ternyata tidak melupakan janjinya. Setelah mengetahui aku diterima di perguruan tinggi negeri, ia mengirimkan surel kepada Mama. Dalam surel itu, ia meminta agar aku menemui Pak Awi dengan membawa surat penerimaan serta beberapa dokumen lain.
 


Keesokan harinya aku berangkat ke Jalan Batu Tulis. Alamat itu berupa kantor yang tidak terlalu besar. Di sana aku bertemu Pak Awi, seorang lelaki etnis Tionghoa. Dengan suara tenang, ia mempersilahkanku duduk, lalu memeriksa seluruh dokumen yang kubawa.
 


“Jadi kamu Adit,” katanya. “Anak yang dahulu pernah ditahan karena membela diri?”
 


Aku menunduk, sedikit malu. “Iya, Pak.”
 


“Dan sekarang diterima di perguruan tinggi negeri?”
 


Aku mengangguk. Pak Awi tersenyum.
 
“Bagus. Berarti pertolongan waktu itu tidak sia-sia.”
 


Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari dalam map, lalu meletakkannya di hadapanku. “Ini perjanjian beasiswa. Silakan dibaca dahulu. Jangan pernah menandatangani sesuatu yang belum kamu pahami.”
 


Aku membaca dokumen itu perlahan. Beasiswa tersebut menanggung seluruh biaya pendidikanku sampai lulus, uang masuk, uang semester, praktikum, buku wajib, dan berbagai kewajiban akademik lainnya. Namun biaya tempat tinggal, makan, transportasi, serta kebutuhan hidup sehari-hari harus kutanggung sendiri.
 


Aku berhenti membaca dan memandang Pak Awi. “Biaya pendidikan saya benar-benar ditanggung sampai lulus, Pak?”

“Iya, selama kamu menjaga prestasi dan bersungguh-sungguh kuliah.”
 


“Kalau biaya kos dan makan?”
 


“Itu menjadi tanggung jawabmu. Beasiswa ini memastikan kamu tidak berhenti karena tidak mampu membayar kuliah. Tetapi untuk menjalani hidup, kamu tetap harus berjuang.”
 


Aku mengangguk. Dadaku diliputi rasa syukur sekaligus cemas. Biaya pendidikan memang menjadi beban terbesar, tetapi kehidupan di Bandung tetap membutuhkan uang. Mama masih harus bekerja di negeri orang. Aku pun harus mencari cara agar tidak seluruh kebutuhanku bergantung kepadanya.
 


“Bapak yang dahulu saya temui itu ada di mana?” tanyaku.

“Beliau sedang berada di luar negeri.”
 


“Saya ingin mengucapkan terima kasih.”
 


Pak Awi menatapku sejenak. “Kalau kamu benar-benar ingin berterima kasih, selesaikan kuliahmu. Jangan berlama-lama di kampus. Ibumu masih harus bekerja untuk membiayai tempat tinggal dan kehidupanmu. Setiap bulan yang kamu habiskan di sana dibayar dengan tenaga dan usia ibumu.”
 


Kalimat itu menancap dalam dadaku.
 
Pak Awi melanjutkan, “Dan kelak, ketika kamu sudah mampu berdiri sendiri, bantulah seseorang yang mengalami kesulitan seperti yang pernah kamu alami. Kebaikan tidak selalu harus dikembalikan kepada orang yang memberikannya. Kadang-kadang ia harus diteruskan kepada orang lain.”
 


Aku menandatangani perjanjian itu dengan tangan gemetar. Setelah keluar dari kantor, aku berdiri di tepi Jalan Batu Tulis sambil memeluk map berisi perjanjian beasiswa. Aku segera menelepon Mama. “Ma, beasiswanya sudah ditandatangani. Semua biaya pendidikan Adit ditanggung sampai lulus.”


“Alhamdulillah, Nak.”
 
“Tapi beasiswa tidak menanggung biaya hidup dan kos.”
 


Mama terdiam sejenak.
 


“Tidak apa-apa,” katanya kemudian. “Mama masih bisa bekerja.”
 


“Tapi Mama sudah terlalu lama di sana.”
 


“Selama kamu belajar dengan sungguh-sungguh, Mama tidak merasa lama.”
 


” Adit akan cari pekerjaan sambilan.”
 


“Boleh, asal kuliahmu tidak terganggu. Tugasmu yang utama adalah belajar dan cepat lulus. Jangan membuat pengorbanan Mama menjadi lebih panjang daripada yang diperlukan. Dan jangan sampai kita tidak tahu diri dengan orang yang sudah beri kamu beasiswa.”
 


Aku menahan tangis.
 
“Iya, Ma. Adit berjanji.”
 


Hari itu aku memahami bahwa beasiswa dapat membayar ruang kuliah, buku, dan biaya ujian. Namun tidak ada beasiswa yang dapat membayar seluruh pengorbanan seorang ibu. Untuk setiap bulan aku tinggal di Bandung, Mama masih harus menukarkan tenaga, waktu, dan usianya dengan uang. Karena itu aku tidak boleh sekadar menjadi mahasiswa. Aku harus cepat lulus, agar Mama dapat segera pulang.
 

Toga untuk Mama

Tahun pertama kuliah menjadi masa yang berat. Beasiswa memang menanggung seluruh biaya pendidikanku, tetapi untuk kamar kos, makan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari, aku masih bergantung kepada Mama. Setiap awal bulan, ia mengirim uang dari negeri tempatnya bekerja. Jumlahnya tidak banyak, tetapi selalu tiba tepat waktu.
 
Aku tahu uang itu tidak datang dengan mudah. Di balik setiap lembar yang kuterima, ada lantai yang dipel Mama, pakaian yang dicucinya, tubuh renta yang diangkatnya, dan perintah orang lain yang harus diturutinya.

Karena itu aku mencatat setiap pengeluaran. Aku memilih kamar kos sempit, berjalan kaki ke kampus, membeli buku bekas, dan makan sesederhana mungkin. Jika teman-temanku mengajak ke kafe, aku mencari alasan untuk menolak. Bukan karena aku tidak ingin bersama mereka, melainkan karena secangkir kopi dapat berarti satu hari makan bagiku—dan beberapa jam tambahan bagi Mama bekerja di negeri orang.
 


Aku belajar lebih keras daripada kebanyakan mahasiswa. Bukan karena aku paling cerdas, tetapi karena aku tidak mempunyai hak untuk bermalas-malasan. Setiap nilai buruk berarti kemungkinan mengulang mata kuliah. Setiap semester tambahan berarti Mama harus bekerja lebih lama. Di atas meja belajarku kutempelkan selembar kertas bertuliskan: Cepat lulus. Mama menunggu pulang.

Dua tahun setelah aku kuliah, kontrak kerja Mama berakhir. Ia pulang ke Indonesia dengan tubuh yang semakin kurus. Ia tidak memberitahuku tanggal kepulangannya. Suatu sore, ketika aku sedang berada di kamar kos di Bandung, Tante menelepon dan menyuruhku segera datang ke Jakarta.
 
“Ada orang yang menunggu kamu,” katanya.
 


Aku tiba menjelang malam. Dari ujung gang, kulihat seorang perempuan sedang menyapu halaman rumah kontrakan Tante Rini. Tubuhnya lebih kurus daripada yang kuingat. Gerakannya lambat, seperti sedang menahan sakit pada pinggang. Aku mengenalinya sebelum ia menoleh.
 
“Ma!”
 


Sapu itu terlepas dari tangannya. Mama berdiri mematung. Beberapa detik kami hanya saling menatap, seolah jarak bertahun-tahun membuat kami takut mengenali satu sama lain. Kemudian aku berlari dan memeluknya.
 
Tubuh Mama terasa begitu ringan.

“Mama pulang,” katanya.
 


Aku menangis di bahunya. Tidak ada lagi dinding kaca bandara yang memisahkan kami. Tidak ada sambungan telepon internasional yang membatasi percakapan kami. Kini aku dapat menyentuh wajahnya dan memastikan bahwa perempuan itu benar-benar telah kembali.
 


“Mengapa Mama tidak bilang?”
 


“Mama ingin memberi kejutan.”
 


Aku melihat bekas luka tipis di dekat pelipisnya dan warna kehitaman pada salah satu lengannya. “Ini kenapa?”
 
Mama segera menarik lengan bajunya. “Terbentur lemari. Mama sudah tua, sering ceroboh.”
 
Aku tahu ia sedang menyembunyikan sesuatu. Namun seperti biasa, Mama lebih suka menyimpan lukanya sendiri daripada membiarkan luka itu mengganggu pikiranku.
 

“Mama tidak akan pergi lagi, kan?”
 
Ia menggeleng. “Tidak. Cukup sekali Mama meninggalkan kamu.”


Sisa tabungannya digunakan untuk membuka warung kecil di depan rumah kontrakan. Warung itu hanya berupa etalase kayu, beberapa rak, dan meja sempit. Mama menjual kopi, mi instan, rokok, beras, telur, sabun, serta makanan ringan.
 
Dari keuntungan warung itulah Mama melanjutkan biaya hidup dan tempat kosku di Bandung.

Setiap pagi ia bangun sebelum azan Subuh. Ia memasak nasi uduk dan gorengan, kemudian membuka warung ketika langit masih gelap. Malam hari, saat warung-warung lain telah tutup, lampu warung Mama masih menyala.
 


Aku pernah memintanya berhenti mengirim uang. “Biar Adit bekerja sambilan lebih banyak, Ma.”
 


Mama menggeleng. “Kamu boleh bekerja kalau tidak mengganggu kuliah. Tetapi jangan sampai karena mencari uang sedikit, kamu terlambat lulus satu semester. Biaya hidup enam bulan lebih besar daripada uang yang kamu dapat dari bekerja sambilan.”
 


“Tapi Mama terlalu lelah.”
 


“Kalau kamu kasihan kepada Mama, belajarlah lebih keras. Itu cara paling cepat menolong Mama.”
 


Sejak itu, aku berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin mata kuliah tepat waktu. Pada masa libur, aku pulang ke Jakarta dan membantu menjaga warung. Pagi hari aku mengantar nasi uduk. Siang hari aku menyusun barang dagangan. Malamnya aku mencatat utang para pelanggan di sebuah buku kecil.
 
Kadang-kadang Mama tertidur di kursi kayu sambil menunggu pembeli. Kepalanya bersandar pada dinding, tangannya masih menggenggam pensil dan buku catatan. Saat melihatnya seperti itu, aku merasa bersalah karena setiap rupiah biaya hidupku berasal dari tubuh yang kian renta.

Di mata dunia, Mama hanyalah bekas buruh tekstil, mantan pekerja rumah tangga di luar negeri, dan pemilik warung kecil di gang sempit. Namun dari warung sekecil itulah seorang anak dapat bertahan di universitas.
 


***

Tahun 2015, perjuangan itu akhirnya sampai di ujungnya. Aku menyelesaikan kuliah tepat waktu. Ketika menerima kabar kelulusan, orang pertama yang kutelepon adalah Mama.
 
“Ma, Adit lulus.”
 


“Benar-benar sudah lulus?”
 


“Iya, Ma.”
 


“Tidak ada mata kuliah yang tertinggal?”
 


Aku tertawa di tengah tangis. “Tidak ada. Mulai bulan depan, Mama tidak perlu lagi membayar kos Adit.”
 


Di seberang sana Mama terdiam. Kemudian terdengar isaknya. “Mama bukan memikirkan uangnya, Nak.”
 


“Lalu?”
 


“Mama hanya bahagia akhirnya bisa menepati janji kepada Papamu.”
 


Hari wisuda tiba beberapa minggu kemudian. Mama datang ke Bandung dengan bus pagi. Ia mengenakan kebaya sederhana yang dipinjamkan Tante. Rambutnya disanggul kecil. Di tangannya terdapat tas lama yang dibawanya sejak bekerja di luar negeri. Di antara orang tua mahasiswa lain yang datang dengan mobil dan pakaian mahal, Mama tampak sangat sederhana. Namun bagiku, tidak ada seorang pun di aula itu yang lebih terhormat darinya.

Ketika namaku dipanggil, aku berjalan ke atas panggung. Rektor memindahkan tali togaku dan menyerahkan ijazah. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Mataku hanya mencari satu wajah. Mama duduk di deretan belakang. Kedua tangannya menutupi mulut. Air mata mengalir di pipinya. Di atas panggung itu, seluruh perjalanan hidup kami hadir kembali, seragam pabriknya yang pudar, telur yang selalu dibagi dua, sepeda yang rusak, lantai kantor polisi tempat ia pernah berlutut, perpisahan di bandara, kiriman uang dari negeri orang, dan warung kecil yang lampunya menyala hingga larut malam. Ijazah itu memang mencantumkan namaku. Namun setiap huruf di atasnya ditulis oleh keringat Mama.


Setelah acara selesai, aku menghampirinya. Aku melepas toga, lalu berlutut dan mencium kedua kakinya. Mama terkejut.
 
“Nak, jangan begini. Banyak orang melihat.”
 


“Dulu Mama berlutut agar Adit dibebaskan dari tahanan,” kataku.

“Sekarang biarkan Adit berlutut di hadapan orang yang membuat Adit sampai ke sini.”
 


Mama memegang kepalaku. Tangisnya pecah. “Papamu pasti bahagia melihat kamu hari ini,” bisiknya.
 
Aku berdiri, lalu mengenakan toga itu ke pundaknya. Topi wisuda kupasang di atas sanggulnya. “Kita foto, Ma.”
 


“Mama bukan sarjana.”
 


“Ini toga Mama. Adit hanya memakainya sebentar.”
 


Kamera mengabadikan kami dalam satu bingkai. Mama berdiri dengan toga yang terlalu besar untuk tubuhnya, sedangkan aku memeluknya dari samping. Foto itu kemudian kupajang di mana pun aku tinggal. Bukan untuk mengingat hari kelulusanku, melainkan untuk mengingat siapa yang sesungguhnya pantas menerima penghormatan pada hari itu.
 
Setelah kembali ke Jakarta, Mama mengirim surat elektronik kepada lelaki yang dahulu menolongku. Ia mengabarkan bahwa aku telah lulus dan tidak lagi membutuhkan beasiswa pendidikan.

Beberapa hari kemudian, balasan datang. Lelaki itu mengucapkan selamat. Namun di bagian akhir suratnya, ia menawariku kesempatan mengikuti seleksi di sebuah perusahaan multinasional yang memiliki kantor regional di Singapura.
 
Ia menegaskan bahwa aku tidak akan langsung diterima. Aku harus menjalani tes tertulis, wawancara, pemeriksaan kemampuan bahasa Inggris, serta penilaian profesional seperti pelamar lainnya.
Saya hanya membukakan pintu, tulisnya. Kamu sendiri yang harus membuktikan bahwa kamu pantas melewatinya.
 


Aku membaca surat itu berkali-kali. Kesempatan tersebut terasa terlalu besar. Bahasa Inggrisku tidak istimewa. Aku belum pernah pergi ke luar negeri. Bahkan naik pesawat pun belum pernah. Singapura bagiku seperti dunia yang hanya dapat kulihat melalui layar televisi.
 
“Adit takut tidak lulus, Ma.”
 


Mama sedang menyusun barang di warung. Ia berhenti dan menatapku.
“Dahulu kamu juga takut tidak diterima universitas.”

“Ini berbeda.”
 


“Semua pintu terlihat menakutkan sebelum dibuka.”
 


“Kalau Adit gagal?”
 


Mama tersenyum. “Kalau gagal, kamu pulang. Warung ini masih cukup luas untuk kita berdua. Tetapi kalau tidak mencoba, seumur hidup kamu akan bertanya-tanya tentang kehidupan yang seharusnya bisa kamu jalani.”
 


Malam itu aku memandangi Mama yang tertidur di kursi warung. Kepalanya bersandar pada dinding, sementara tangannya masih menggenggam buku catatan utang pelanggan. Aku teringat pesan lelaki itu bertahun-tahun lalu: Lihat dan perhatikan wajah mama kamu.

Aku tidak tahu apakah akan lulus seleksi. Namun untuk pertama kalinya, masa depan tidak lagi tampak seperti pintu yang tertutup. Ia terbuka sedikit demi sedikit—oleh tangan Mama yang kasar, oleh tubuhnya yang semakin renta, dan oleh doa-doa yang tidak pernah kudengar ketika ia menyebut namaku pada malam hari.

Tiket Pertama

Dua minggu setelah mengirimkan lamaran, sebuah surat elektronik masuk ke kotak pesanku. Perusahaan itu memanggilku untuk mengikuti seleksi di Singapura. Tiket pesawat, hotel, dan seluruh akomodasi selama proses seleksi ditanggung oleh mereka.

Aku membaca surat itu berkali-kali. Namaku tercetak pada tiket elektronik dengan tujuan yang selama ini hanya kukenal dari peta dan layar televisi. Bagi orang lain, itu mungkin sekadar perjalanan bisnis. Bagiku, tiket tersebut seperti secarik kertas yang menghubungkan warung kecil Mama dengan dunia yang tidak pernah berani kami bayangkan.

Menjelang keberangkatan, Mama menutup warung lebih awal. Ia membantuku memeriksa pakaian, ijazah, paspor, dan dokumen lamaran. Jas yang kupakai kubeli dari pasar dengan uang tabungan. Ukurannya sedikit kebesaran, tetapi Mama menyetrikanya dengan sangat hati-hati.

“Kalau kamu berdiri tegak, tidak akan kelihatan kebesaran,” katanya.

Pagi itu sebuah taksi berhenti di depan gang. Beberapa tetangga keluar untuk melihat. Mereka tahu anak pemilik warung hendak pergi ke Singapura, meskipun belum seorang pun tahu apakah aku akan kembali membawa pekerjaan atau sekadar kegagalan.

Sebelum aku masuk ke dalam taksi, Mama memegang kedua pundakku. “Doa Mama akan mengiringi setiap langkahmu, Nak. Jangan ragu sedikit pun. Kamu buah kasih sayang Mama dan Papa. Kamu dibesarkan dengan cinta dan doa. Yakinlah, kamu akan baik-baik saja.”

Aku menunduk dan mencium tangannya. “Adit takut mengecewakan Mama.”

“Kamu sudah menjadi insinyur. Sekarang kamu harus percaya bahwa berkah Tuhan itu nyata bagi orang yang sabar.”

“Kalau Adit tidak lulus?”

“Pulanglah. Mama tetap akan membuka pintu rumah ini untukmu.” Ia menunjuk rumah kontrakan kami. “Tetapi jangan pulang sebelum kamu memberikan seluruh kemampuanmu.”

Taksi mulai bergerak. Dari kaca belakang, kulihat Mama berdiri di tepi gang sambil melambaikan tangan. Tubuhnya semakin kecil, lalu lenyap di tikungan. Pemandangan itu mengingatkanku pada hari ketika ia pergi menjadi pekerja rumah tangga di luar negeri. Dahulu aku yang ditinggalkan. Kini akulah yang pergi. Itulah pertama kalinya aku naik pesawat. Sepanjang perjalanan, tanganku menggenggam sabuk pengaman. Aku berusaha terlihat tenang di antara para penumpang lain, tetapi di dalam hati aku merasa seperti anak kecil yang sedang dibawa terlalu jauh dari rumah.

Setibanya di Bandara Changi, aku semakin menyadari betapa asing dunia yang sedang kumasuki. Segala sesuatu tampak rapi, cepat, dan teratur. Orang-orang berjalan seolah mengetahui tujuan mereka, sedangkan aku beberapa kali berhenti hanya untuk membaca petunjuk arah.

Di hotel, aku bertemu para peserta seleksi dari berbagai negara. Bahasa Inggris mereka lancar. Sebagian lulusan universitas ternama. Ada yang pernah mengikuti pertukaran mahasiswa di Eropa dan Amerika. Mereka berbicara tentang pengalaman magang di perusahaan besar, teknologi terbaru, serta perjalanan ke berbagai negara. Aku hanya mendengarkan.

Aku datang dari sebuah rumah kontrakan, membawa bahasa Inggris yang kupelajari dari buku bekas dan keberanian yang dibentuk oleh air mata Mama.

Seleksi berlangsung selama tiga hari. Kami menjalani ujian kemampuan teknis, pemecahan masalah, diskusi kelompok, pemeriksaan bahasa Inggris, dan wawancara. Dalam diskusi kelompok, aku beberapa kali kesulitan mengikuti pembicaraan. Mereka berbicara terlalu cepat. Aku takut salah mengucapkan kata sehingga lebih banyak diam.

Malamnya, aku menelepon Mama. “Bagaimana ujiannya?” tanyanya.

“Peserta lain pintar-pintar, Ma.”

“Lalu kamu tidak pintar?”

“Adit tidak seperti mereka.”

“Memang kamu tidak perlu menjadi seperti mereka. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri.”

“Adit takut bahasa Inggris Adit tidak cukup baik.”

Mama tertawa kecil. “Mama bahkan tidak bisa bahasa Inggris. Tetapi dulu Mama tetap berani pergi bekerja ke luar negeri. Jangan kalah berani dari Mama.” Kalimat itu membuatku malu terhadap ketakutanku sendiri.

Keesokan harinya, dalam diskusi kelompok berikutnya, aku mulai berani berbicara. Bahasaku mungkin tidak sempurna, tetapi aku memahami persoalan teknis yang dibahas. Aku menyampaikan pendapat dengan kalimat sederhana. Beberapa peserta mulai mendengarkan dan mengembangkan gagasanku.

Pada wawancara terakhir, seorang pewawancara bertanya, “Mengapa perusahaan ini harus memilih Anda?”

Aku sempat kehilangan kata-kata. Aku tidak mempunyai pengalaman internasional. Aku tidak dapat menjual nama keluarga atau riwayat pendidikan yang istimewa. “Saya mungkin bukan peserta terbaik di ruangan ini,” jawabku akhirnya. “Tetapi saya terbiasa belajar ketika tidak ada yang mengajari, bertahan ketika tidak ada yang menjamin, dan menyelesaikan pekerjaan karena kegagalan saya selalu dibayar oleh pengorbanan orang lain.”

“Siapa orang lain itu?” tanyanya.

“Ibu saya.”

Pewawancara itu menatapku beberapa saat, lalu menutup map di hadapannya.

Aku pulang ke Jakarta tanpa mengetahui hasil seleksi. Mama tidak bertanya apakah aku yakin akan diterima. Ia hanya menyendokkan nasi ke piringku, kemudian memperhatikan tubuhku dari seberang meja. “Kamu sudah kurus,” katanya. “Dunia ternyata belum bisa membuatmu makan teratur.”

Tiga bulan kami menunggu. Setiap kali ada surat elektronik masuk, jantungku berdegup lebih cepat. Namun hari-hari berlalu tanpa kabar. Aku mulai membantu Mama menjaga warung dan diam-diam mencari pekerjaan lain. Aku takut berharap terlalu tinggi karena orang miskin telah terlalu sering belajar bahwa kabar baik biasanya datang hanya untuk orang lain.

Lalu pada suatu pagi, surat itu tiba. Aku diterima. Aku berlari keluar kamar dan memeluk Mama yang sedang melayani pembeli.

“Ma, Adit diterima!”

Satu bungkus gula terlepas dari tangannya. Mama menatapku, seolah takut tidak mendengar dengan benar.

“Benar?”

Aku mengangguk.

Mama memelukku di depan warung. Ia menangis sambil mengucapkan syukur berkali-kali. Beberapa tetangga ikut memberi selamat.

Namun kegembiraan itu belum menjadi akhir perjuangan. Di bagian bawah surat tercantum satu syarat, aku harus mengikuti pelatihan selama tiga bulan di Shenzhen. Jika gagal memenuhi standar perusahaan, kontrakku akan dibatalkan dan aku harus pulang ke Indonesia. Jadi pintu itu belum sepenuhnya terbuka. Aku baru diberi kesempatan untuk berdiri di ambangnya.

Tiga Bulan di Shenzhen

Kabar kelulusanku membuat Mama bahagia, tetapi syarat pelatihan membuat wajahnya kembali cemas. Ia membaca surat itu perlahan, meskipun tidak memahami seluruh kalimat bahasa Inggrisnya. “Kalau tidak lulus pelatihan, Adit harus pulang,” jelasku.

Mama melipat surat itu dan mengembalikannya kepadaku. “Lalu kenapa wajahmu seperti orang yang sudah kalah?”

“Pesertanya pasti jauh lebih pintar.”

“Dahulu kamu gagal masuk universitas. Kamu mencoba lagi. Ketika ditahan polisi, kamu hampir kehilangan sekolah, tetapi Tuhan mengirimkan jalan. Sekarang jalan itu membawamu ke Shenzhen. Hadapi saja satu langkah demi satu langkah.”

“Mama tidak takut Adit gagal?”

“Mama takut,” katanya jujur. “Tetapi takut bukan alasan untuk berhenti.”

Aku kembali meninggalkan Mama. Bedanya, kali ini aku membawa status sebagai calon karyawan sebuah perusahaan multinasional. Namun status itu belum berarti apa-apa. Selama tiga bulan berikutnya, setiap kemampuan dan ketahanan kami akan diuji.

Shenzhen berbeda dari semua kota yang pernah kulihat. Gedung-gedung tinggi, kawasan industri, laboratorium, dan pabrik elektronik berdiri seperti bagian dari satu mesin raksasa. Di sanalah aku memahami bahwa produk yang tampak sederhana lahir dari ribuan keputusan: desain, bahan baku, mesin, mutu, biaya, logistik, serta disiplin waktu.

Pelatihan berlangsung keras. Kami masuk sebelum pukul delapan pagi dan sering baru kembali ke asrama menjelang malam. Selain materi teknis, kami mempelajari pengendalian mutu, keselamatan kerja, perencanaan produksi, manajemen rantai pasok, serta komunikasi lintas budaya. Setiap pekan ada ujian. Nilai di bawah standar sebanyak dua kali berturut-turut berarti peserta harus pulang.

Pada ujian pertama, nilaiku berada di kelompok terbawah. Aku terpukul. Sepanjang malam aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi lembar hasil ujian. Bayangan untuk pulang sebagai orang yang gagal terasa begitu memalukan. Aku membayangkan wajah Mama dan warung kecilnya. Ia telah mendorongku pergi dengan seluruh keyakinannya, sedangkan aku mulai meragukan diriku sendiri hanya karena satu nilai buruk. Malam itu aku menelepon mama. Aku tidak menceritakan hasil ujianku. Namun seorang ibu selalu mengetahui kegelisahan anaknya dari cara ia menarik napas.

“Ada masalah, Nak?”

“Tidak ada, Ma. Adit hanya lelah.”

“Kalau lelah, istirahat.”

Aku diam.

“Kalau tidak mengerti, belajar,” lanjutnya. “Jangan mencampurkan rasa lelah dengan putus asa.”

“Mama yakin Adit bisa?”

“Kalau Mama tidak yakin, untuk apa sejak dulu Mama bekerja begitu keras?”

Setelah sambungan berakhir, aku kembali membuka catatan. Di atas meja asrama kutempelkan foto wisuda kami: Mama mengenakan toga yang terlalu besar, sedangkan aku berdiri memeluknya dari samping. Aku belajar sampai dini hari. Keesokan harinya aku meminta penjelasan kepada instruktur. Aku menghilangkan rasa malu untuk bertanya kepada peserta lain dan mengulangi setiap simulasi yang belum kukuasai.

Pada ujian kedua, nilaiku meningkat, meskipun masih belum memuaskan. Aku selamat dari pemulangan, tetapi belum aman. Aku terus belajar.

Pada bulan kedua, aku mulai memahami pola kerja perusahaan. Pengalamanku belajar sendiri selama setahun setelah gagal masuk universitas ternyata menjadi kekuatan. Aku tidak mudah menyerah ketika tidak memahami sesuatu. Aku memecah persoalan menjadi bagian-bagian kecil, mempelajarinya, lalu menyusunnya kembali. Perlahan nilaiku naik. Aku masuk kelompok sepuluh besar.

Namun menjelang ujian akhir, seorang peserta yang selama ini menjadi teman sekamarku dinyatakan gagal. Ia hanya diberi waktu sehari untuk mengemas barang dan pulang ke negaranya. Malam itu ranjang di sebelahku kosong. Aku memandangi ranjang tersebut dan menyadari bahwa kegagalan bukan ancaman yang jauh. Ia baru saja mengambil seseorang dari kamar kami.

Pada hari ujian akhir, tanganku dingin. Sebelum memasuki ruangan, aku membuka pesan terakhir dari Mama. Jangan takut, Nak. Mama tidak meminta kamu menjadi yang paling hebat. Mama hanya meminta kamu tidak menyerah sebelum selesai.

Aku mengerjakan ujian dengan tenang. Ketika hasilnya diumumkan, namaku berada dalam kelompok peserta dengan nilai memuaskan. Aku lulus seluruh pelatihan dan resmi diterima sebagai staf internasional perusahaan. Orang-orang bertepuk tangan. Beberapa peserta saling berpelukan. Namun suara pertama yang ingin kudengar tetap suara Mama.

Aku meneleponnya dari halaman pusat pelatihan. “Ma, Adit lulus.”

Di seberang sana ia diam beberapa detik. “Lulus pelatihan?”

“Iya. Adit resmi diterima bekerja.”

Mama mengucapkan syukur berkali-kali. Suaranya bergetar menahan tangis. “Jadi sekarang kamu benar-benar menjadi pegawai perusahaan besar?”

“Iya, Ma. Staf internasional.”

“Berarti warung Mama sekarang punya pelanggan dari luar negeri.”

Aku tertawa, lalu menangis tanpa suara.

Setelah semua jalan yang kami tempuh, Mama masih mampu membuat keberhasilan terasa sederhana. Baginya, aku bukan staf internasional sebuah perusahaan besar. Aku tetap anak kurus yang dahulu pulang membawa sepeda rusak dan botol-botol air yang pecah.

Rumah Kecil di Ho Chi Minh City

Perusahaan menempatkanku di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada unit industri elektronik. Tugasku berkaitan dengan operasi produksi dan rantai pasok untuk kawasan ASEAN. Aku harus bekerja dengan teknisi lokal, pemasok dari berbagai negara, serta kantor regional di Singapura.

Pada bulan-bulan pertama, hidupku hanya terdiri atas pabrik, laporan, dan kamar sewaan. Aku berangkat ketika matahari belum tinggi dan pulang setelah kota dipenuhi lampu.

Setiap malam Minggu aku menelepon Mama. “Sudah makan?” selalu itu pertanyaan pertamanya.

“Sudah.”

“Jangan bohong. Suaramu seperti orang belum makan.”

Aku mulai mengirimkan sebagian gajiku kepada Mama. Gajiku belum besar, tetapi untuk pertama kalinya aku dapat membalas sedikit dari seluruh biaya hidup yang bertahun-tahun dikirimkannya kepadaku.

Namun Mama tetap membuka warung. “Untuk apa Mama masih bekerja? Sekarang Adit sudah punya gaji.”

“Kalau warung ditutup, tetangga mau berutang telur di mana?” jawabnya sambil tertawa.

Aku tahu alasan sebenarnya. Mama telah bekerja sepanjang hidupnya. Berhenti bekerja membuatnya merasa menjadi beban. Padahal bagiku, tidak akan pernah ada jumlah uang yang cukup untuk membayar apa yang telah ia berikan.

Setahun setelah penempatanku, aku mendapat izin tinggal dan menyewa rumah kecil yang lebih layak. Aku pulang ke Jakarta untuk menjemput Mama. “Ikut Adit ke Vietnam,” kataku. “Tidak perlu lagi tinggal sendiri dan menjaga warung sampai malam.”

Mama memandang etalase kayunya lama sekali. Warung itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Dari sanalah ia membiayai kos dan makanku selama kuliah. Di balik rak-rak sederhana itu tersimpan tahun-tahun terakhir tenaganya.

“Kalau Mama pergi, bagaimana Tante Rini?”

“Adit akan tetap membantu Tante. Warung ini bisa diteruskan.”

Mama akhirnya mengangguk.

Hari keberangkatan kami terasa berbeda dari perpisahan-perpisahan sebelumnya. Dahulu Mama pergi sebagai pekerja rumah tangga. Ia membawa paspor, kontrak kerja, dan ketakutan yang tidak berani diperlihatkannya kepadaku. Kini aku membawanya ke luar negeri sebagai ibuku. Mama membelai kepalaku perlahan. Jemarinya yang kasar menyusuri rambutku seperti ketika aku masih kecil.

“Papamu seorang Muslim yang taat,” katanya. “Betapapun keras sikap Kakek kepadanya, betapapun keluarga besarnya merendahkannya karena memilih Mama, dia tidak pernah membalas dengan kebencian. Papamu memilih diam, bersabar, dan tetap mendekap Mama ketika dunia menjauhinya.”

Aku menunduk. Nama Papa selalu menghadirkan ruang kosong di dalam dadaku—ruang yang tidak pernah sempat diisi oleh kenangan.

“Kini kamu telah menjadi lelaki dewasa,” lanjut Mama. “Kamu tumbuh menjadi pria yang sholeh, tahu diri, dan menjadi tongkat  Mama untuk mama bisa berjalan tegak. Barangkali itulah warisan terbaik Papamu. Bukan harta dan bukan nama besar keluarganya, melainkan kesabaran untuk tidak membalas luka dengan luka.”

Air mataku jatuh ke pangkuannya. Mama mengusapnya dengan ujung jarinya, lalu tersenyum. “Kalau Papamu masih hidup, dia pasti sangat bangga kepadamu.”

Aku memeluk pinggang Mama dan menyandarkan kepala di pangkuannya. “Kalau ada sesuatu yang baik dalam diri Adit,” kataku, “itu karena Papa telah memilih Mama—dan Mama tidak pernah menyerah membesarkan Adit.”

Ketika pesawat mendarat di Ho Chi Minh City, ia menggenggam lenganku erat. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Mama melihat kota dari balik jendela kendaraan. Sesekali ia menunjuk bangunan atau sepeda motor yang memenuhi jalan.

Di rumah kecil kami, aku telah menyiapkan sebuah kamar untuknya. Tidak mewah—hanya ranjang, lemari, meja, dan jendela yang menghadap ke jalan. Namun Mama berdiri lama di ambang pintu. “Ini kamar Mama?”

“Iya.”

“Kamar ini khusus untuk Mama?”

Aku mengangguk. Ia masuk perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Telapak tangannya yang kasar mengusap seprai.

“Tidak ada orang yang akan menyuruh Mama bangun malam untuk bekerja?”

Pertanyaan itu diucapkannya sambil tersenyum, tetapi aku mendengar luka lama di dalamnya.

“Tidak ada,” jawabku. “Di rumah ini, Mama tidak bekerja untuk siapa pun.”

Air matanya jatuh.

“Papamu benar,” katanya pelan. “Dia pernah bilang suatu hari nanti kamu akan membawa Mama keluar dari kesulitan.”

Aku berlutut di hadapannya.

“Bukan Adit yang membawa Mama keluar. Sejak kecil, Mama yang terus membawa Adit melewati semuanya.”

Mama memeluk kepalaku. Kami menangis di kamar sederhana itu—di negeri asing yang untuk pertama kalinya tidak meminta Mama datang sebagai pelayan, melainkan menyambutnya sebagai seorang ibu.

Untuk beberapa tahun berikutnya, kami tinggal bersama. Setiap pagi Mama menyiapkan sarapan meskipun aku telah melarangnya. Setiap malam ia menungguku pulang. Jika pekerjaanku membuatku pulang terlalu larut, Mama tertidur di sofa dengan televisi masih menyala. Aku akan membangunkannya perlahan dan membawanya ke kamar.

“Kenapa menunggu?”

“Siapa yang menunggu kamu kalau bukan Mama?”

Rumah yang semula hanya menjadi tempat beristirahat akhirnya mempunyai kehangatan yang selama bertahun-tahun hilang dari hidupku.

Aku mulai naik jabatan. Gajiku bertambah, tanggung jawabku meluas, dan perjalanan dinas semakin sering. Namun di meja kerjaku selalu ada foto Mama mengenakan toga. Foto itu mengingatkanku bahwa keberhasilan dapat membuat seseorang berdiri semakin tinggi, tetapi hanya ingatan yang mencegahnya memandang rendah tempat asalnya.

Lelaki yang Menepati Janji.

Tahun 2026, sebelas tahun setelah kelulusanku, kantor pusat holding di Hong Kong memberiku tugas baru. Aku dipilih menjadi anggota tim inti untuk ekspansi industri petrokimia di Xinjiang, Tiongkok. Tugas itu jauh lebih besar daripada seluruh pekerjaan yang pernah kutangani. Proyek tersebut melibatkan pembangunan kawasan industri, rantai pasok lintas negara, teknologi proses, pembiayaan, dan pasar internasional.

Aku merasa bangga, tetapi juga gentar. Penempatan itu berarti aku akan kembali hidup di lingkungan yang keras dan jauh dari Mama. Usia Mama telah bertambah. Kini 54 tahun. Aku tidak mungkin membawanya berpindah-pindah mengikuti proyek di Xinjiang. Karena itu aku membeli sebuah rumah di Jakarta. Rumah tersebut tidak terlalu besar, tetapi mempunyai kamar yang cukup untuk Mama dan Tante Rini. Ada halaman kecil di depan, dapur yang terang, serta kamar mandi yang tidak membuat Mama takut terpeleset.

Ketika pertama kali kuajak melihat rumah itu, Mama berdiri di depan pagar tanpa bergerak. “Rumah siapa ini?” tanyanya.

“Rumah Mama.”

Ia menatapku, seolah mengira aku sedang bercanda. “Jangan membeli rumah mahal hanya untuk membuat Mama senang.” Kata mama. “Cepatlah cari jodoh. Kenalkan sama Mama. Mama ingin sebelum meninggal bisa peluk cucu” Kata mama.

” Moga tahun depan Adit akan kenalkan wanita itu kepada mama. ” Kataku. Mama memeluku. ” Jangan kawatir, Mama akan sayangi mantu mama sebagaimana mama saya anak mama.”

Mama menatap sekeliling dalam rumah yang sudah lengka perabotannya. “Dahulu Kakek bertanya apa yang bisa Mama berikan kepada Adit,” kataku. “Mama memberikan seluruh hidup Mama. Rumah ini tidak sebanding dengan itu.”

Mama menyentuh dinding ruang tamu, kemudian berjalan memandangi setiap sudutnya. Tidak ada lagi kontrak yang sewaktu-waktu dapat dihentikan pemilik rumah. Tidak ada lagi kekhawatiran tentang uang sewa. Setelah puluhan tahun berpindah dari satu kesempitan ke kesempitan lain, akhirnya Mama memiliki tempat untuk menua dengan tenang.

“Tante Rini tinggal bersama Mama,” kataku. “Jadi kalau Adit pergi ke Xinjiang, Mama tidak sendirian.”

“Kamu akan pergi lama?”

“Mungkin.”

Mama mengangguk, tetapi aku melihat kesedihan yang berusaha disembunyikannya. “Adit akan sering pulang.”

“Jangan janjikan sesuatu yang mungkin tidak bisa kamu tepati,” katanya. “Cukup telepon Mama kalau sedang sempat.”

Kalimat itu sederhana, tetapi membuat dadaku sesak. Setelah memiliki rumah, uang, dan pekerjaan yang baik, ternyata aku masih belum mampu memberinya satu hal yang paling diinginkannya, kehadiranku.

Sebelum berangkat ke Xinjiang, aku dipanggil ke kantor pusat di Hong Kong. Di sanalah aku kembali bertemu lelaki yang dahulu menolongku keluar dari tahanan, membukakan jalan beasiswa, dan memberiku kesempatan mengikuti seleksi perusahaan.

Usianya telah jauh bertambah. Rambutnya sedikit memutih, tetapi wajahnya masih teduh seperti ketika pertama kali kutemui di gedung Jalan Thamrin. Ia berdiri di dekat jendela dengan latar gedung-gedung Hong Kong.

“Aditia Warman,” katanya sambil tersenyum. “Anak penjual Aqua itu akhirnya sampai juga ke sini.”

Aku mendekat dan menjabat tangannya. Namun rasa haru membuatku tidak sanggup segera berkata-kata.

“Bagaimana ibumu?” tanyanya.

“Sudah tinggal di rumahnya sendiri di Jakarta bersama Tante Rini.”

“Kamu menepati janjimu?”

Aku teringat kantor polisi, lantai marmer di Jalan Thamrin, dan wajah Mama yang pucat karena berhari-hari menangis.

“Saya berusaha, Pak.”

Ia menggeleng pelan. “Jangan hanya berusaha. Waktu seorang ibu tidak sepanjang waktu seorang anak. Pekerjaan selalu dapat mencari penggantimu. Ibumu tidak.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada teguran mana pun. Selama bertahun-tahun aku mengira rumah, uang, dan kehidupan yang layak adalah cara terbaik menjaga Mama. Namun lelaki itu mengingatkanku bahwa ada sesuatu yang tidak dapat dikirim melalui rekening bank: kehadiran.

“Mengapa Bapak dahulu menolong saya?” tanyaku. “Bapak bahkan tidak mengenal saya.”

Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya mengarah ke pelabuhan, ke kapal-kapal yang perlahan bergerak di atas air. “ Ada LSM perkenalkan saya dengan ibumu. Ketika saya melihat ibumu berlutut, saya tahu ada anak yang tidak boleh dibiarkan kehilangan masa depan hanya karena ibunya miskin.”

Aku menunduk. Air mataku jatuh. “Saya tidak pernah membalas kebaikan Bapak.”

“Sudah,” katanya. “Kamu menyelesaikan sekolahmu, bekerja dengan jujur, dan menjaga ibumu. Sekarang teruskan kebaikan itu kepada orang lain.”

Pertemuan tersebut tidak berlangsung lama. Sebelum berpisah, ia menepuk bahuku seperti ketika kami bertemu lebih dari dua puluh tahun sebelumnya.

Malamnya, dari kamar hotel di Hong Kong, aku menelepon Mama. “Ma, tadi Adit bertemu bapak yang dahulu membantu kita.”

“Kamu sudah mengucapkan terima kasih?”

“Sudah.”

“Bagus. Jangan pernah lupa kepada orang yang menolong ketika kita tidak mempunyai apa-apa.”

Aku memandang lampu-lampu kota dari balik jendela. “Ma, setelah proyek ini selesai, Adit ingin lebih sering pulang.”

Mama tertawa kecil. “Selesaikan pekerjaanmu. Mama baik-baik saja.”

Itu kalimat yang sama yang selalu diucapkannya sejak aku kecil: Mama baik-baik saja. Dahulu aku memercayainya. Kini aku tahu, kalimat itu sering kali bukan kabar tentang keadaannya. Itu adalah cara seorang ibu membebaskan anaknya dari rasa bersalah.

Beberapa hari kemudian aku berangkat menuju Xinjiang. Di dalam pesawat, aku membuka foto wisuda kami. Wajah Mama di dalam foto masih lebih muda daripada wajahnya sekarang, tetapi matanya tetap sama—mata seorang perempuan yang telah mengorbankan hampir seluruh hidup agar anaknya dapat berjalan lebih jauh.

Aku telah menjadi insinyur, staf internasional, dan anggota tim inti sebuah proyek besar. Aku telah tinggal di berbagai negara dan memasuki ruangan-ruangan yang dahulu bahkan tidak berani kubayangkan. Namun sejauh apa pun hidup membawaku, aku tetaplah anak lelaki yang pernah berdiri di balik pagar kantor polisi, memandang ibunya berlutut demi menyelamatkan masa depannya.

Aku mulai mengerti bahwa keberhasilan bukanlah seberapa jauh aku mampu meninggalkan kemiskinan, melainkan apakah setelah pergi begitu jauh, aku masih mengingat jalan pulang menuju wajah Mama.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca