Kemerdekaan berpikir.

Malam itu hujan turun perlahan. Suaranya mengetuk kaca jendela ruang kerja seperti seseorang yang meminta izin untuk masuk. Saya sedang merapikan beberapa buku ketika putra saya datang membawa sebuah buku tua bersampul kusam.

Ia meletakkannya di atas meja.

“Ayah pernah membaca Madilog?”

Saya memandang buku itu, kemudian menatap wajahnya. “Pernah. Mengapa?”

“Guru sejarah menyebut Tan Malaka seorang komunis. Namun dalam tulisan lain, ia disebut seorang Muslim, guru, pejuang kemerdekaan, bahkan Bapak Republik. Mana yang benar?”

Saya menarik kursi di samping saya.

“Duduklah. Kalau engkau ingin memahami seseorang seperti Tan Malaka, jangan memulainya dengan mencari satu label. Label memudahkan kita mengingat, tetapi sering membuat kita berhenti berpikir.”

Putra saya duduk. Di luar, hujan semakin rapat.

“Jadi Tan Malaka bukan komunis?”

“Ia pernah memimpin PKI dan menjadi bagian dari gerakan komunis internasional. Fakta itu tidak perlu disembunyikan. Namun pemikirannya tidak dapat diringkas hanya dengan satu kata. Ia juga seorang nasionalis revolusioner, pendidik, pemikir Marxis, dan anak Minangkabau yang tumbuh dalam lingkungan Islam. Semua unsur itu hidup dalam dirinya, kadang berdampingan, kadang bertentangan.”

“Bagaimana seseorang dapat mempelajari Marxisme dan tetap beriman?”

“Pertanyaan itulah yang membuat hidup Tan Malaka menarik.”

Saya mengambil buku itu dan membuka beberapa halaman yang telah menguning.

“Nama kecilnya Ibrahim. Ia lahir di Pandam Gadang, kawasan Suliki, Lima Puluh Kota, pada penghujung abad kesembilan belas. Tahun kelahirannya sendiri tidak dicatat secara seragam oleh para penulis sejarah. Ia tumbuh dalam adat Minangkabau, belajar agama, dan kemudian bersekolah di Kweekschool Bukittinggi. Karena kecerdasannya, ia memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan guru di Haarlem, Belanda.”

Putra saya tersenyum. “Berarti sejak muda ia memang luar biasa.”

“Cerdas, tentu. Namun kecerdasan bukan mukjizat yang selesai ketika seseorang dilahirkan. Ia membaca, mengamati, berdebat, dan bekerja keras. Banyak orang mempunyai bakat, tetapi sedikit yang bersedia membayar harga untuk mengembangkannya.”

“Apa harga yang dibayarnya?”

“Kesepian, penyakit, kemiskinan, pengasingan, dan hidup dalam pelarian. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dengan nama samaran. Ia berpindah dari Belanda ke Rusia, Tiongkok, Filipina, Singapura, dan berbagai tempat lain. Ia diburu pemerintah kolonial. Kadang-kadang ia tidak tahu apakah esok masih memiliki tempat tinggal.”

Putra saya memandang potret Tan Malaka pada halaman depan.

“Mengapa ia memilih kehidupan seperti itu?”

“Karena ia percaya pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai alat untuk menaikkan derajat pribadi. Ilmu harus membebaskan manusia dari kebodohan dan penindasan.”

Saya menutup buku sejenak.

“Ketika pulang dari Belanda pada 1919, Tan Malaka bekerja sebagai guru bagi anak-anak buruh perkebunan di Deli. Di sanalah ia melihat perbedaan yang sangat tajam antara kehidupan pemilik modal kolonial dan para pekerja. Anak-anak buruh dilahirkan dalam kemiskinan, seolah-olah masa depan mereka sudah diputuskan sebelum mereka mampu membaca.”

“Lalu ia mengajak mereka melawan?”

“Ia mendidik mereka. Itulah bentuk perlawanannya yang pertama.”

“Mengapa bukan senjata?”

“Karena orang yang tidak terdidik mudah disuruh mengangkat senjata, tetapi belum tentu mengerti untuk siapa ia berperang. Tan Malaka percaya pendidikan harus menumbuhkan keberanian berpikir. Murid bukan wadah kosong yang hanya diisi hafalan. Mereka harus diajak berdialog, menguji pendapat, dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan rakyat.”

Putra saya terdiam. Saya tahu ia sedang mengingat caranya belajar di sekolah.

“Jadi pendidikan itu politik?” tanyanya.

“Dalam arti luas, ya. Pendidikan menentukan apakah seseorang tumbuh sebagai warga yang merdeka atau hanya menjadi tenaga terampil yang patuh. Pemerintah kolonial juga mendirikan sekolah, tetapi terutama untuk memenuhi kebutuhan administrasi penjajahan. Tan Malaka menginginkan sekolah yang membuat anak memahami mengapa bangsanya miskin dan bagaimana mengubahnya.”

“Apakah semua pendidikan harus mengajak murid melawan pemerintah?”

“Tidak. Pendidikan bukan pabrik pembangkangan. Pendidikan harus membuat manusia mampu membedakan kapan pemerintah patut ditaati dan kapan kekuasaan harus dikritik. Ketaatan tanpa akal melahirkan perbudakan. Perlawanan tanpa pengetahuan melahirkan kekacauan.”

Putra saya mengangguk perlahan.

“Di situlah pentingnya akal sehat,” lanjut saya. “Orang yang berpendidikan tidak boleh menelan berita hanya karena berita itu menguntungkan kelompoknya. Ia harus bertanya: siapa yang mengatakannya, apa buktinya, adakah sumber lain, dan bagian mana yang hanya tafsir?”

Ia menunjuk buku di atas meja. “Apakah itu maksud Madilog?”

“Sebagian. Madilog merupakan singkatan dari materialisme, dialektika, dan logika. Tan Malaka menyusunnya pada masa pendudukan Jepang. Ia ingin masyarakat Indonesia meninggalkan cara berpikir yang menyerah kepada takhayul, ketakutan, dan keajaiban tanpa usaha.”

Wajah putra saya berubah serius.

“Bukankah materialisme menolak Tuhan?”

“Materialisme dalam tradisi Marxis memang sering berangkat dari pandangan yang berbeda dengan agama. Namun kita harus hati-hati memahami bagaimana Tan Malaka menggunakannya. Dalam Madilog, ia terutama menawarkan metode untuk memeriksa kenyataan: mencari hubungan sebab-akibat, memahami pertentangan dalam masyarakat, dan menggunakan logika. Itu tidak otomatis berarti semua pembacanya harus kehilangan iman.”

“Tetapi bukankah iman percaya kepada sesuatu yang tidak terlihat?”

“Benar. Iman menjawab pertanyaan tentang makna, tujuan hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Ilmu memeriksa cara alam bekerja melalui bukti. Keduanya dapat bertemu selama kita tidak memaksa ilmu menjawab seluruh persoalan ketuhanan atau menggunakan agama untuk menolak kenyataan yang sudah terbukti.”

Saya menunjuk ke arah jendela.

“Kalau hujan turun, kita boleh meyakini bahwa hujan adalah rahmat Tuhan. Namun untuk mengetahui mengapa awan terbentuk, kita tetap memerlukan ilmu pengetahuan. Menyebutnya rahmat tidak membebaskan kita dari kewajiban membangun drainase. Berdoa tidak berarti boleh mengabaikan sebab-akibat.”

Putra saya tertawa kecil. “Jadi kalau kota banjir, jangan hanya mengatakan itu ujian Tuhan?”

“Benar. Periksa juga apakah salurannya tersumbat, hutan dibabat, tata ruang dilanggar, dan anggarannya dikorupsi. Iman yang menolak akal dapat berubah menjadi kepasrahan. Sebaliknya, akal tanpa iman dan etika dapat menjadi alat yang sangat efisien untuk menindas.”

“Berarti orang pintar belum tentu baik.”

“Banyak kejahatan besar dirancang oleh orang berpendidikan. Karena itu, pendidikan membutuhkan akhlak. Akal menunjukkan apa yang dapat kita lakukan. Nurani menanyakan apakah hal itu patut dilakukan. Iman mengingatkan bahwa tidak semua yang lolos dari pengadilan manusia akan lolos dari pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.”

Putra saya kembali membuka buku.

“Lalu mengapa Tan Malaka masuk PKI?”

“Pada awal abad kedua puluh, komunisme menawarkan analisis yang kuat tentang penindasan kelas dan kolonialisme. Bagi banyak pemuda jajahan, ia tampak sebagai alat perjuangan internasional. Tan Malaka menggunakan Marxisme untuk membaca struktur ekonomi dan kekuasaan. Ia pernah menjadi ketua PKI pada 1921. Akan tetapi, ia bukan pengikut yang selalu patuh. Ketika sebagian pemimpin PKI merencanakan pemberontakan 1926, Tan menolaknya karena menganggap kekuatan rakyat belum siap. Baginya, keberanian tanpa perhitungan hanya akan mengirim rakyat kecil menuju penjara dan kematian.”

“Apakah penolakannya membuat ia dimusuhi kawan sendiri?”

“Ya. Orang yang berpikir merdeka sering tidak sepenuhnya diterima lawan ataupun kelompoknya sendiri. Penguasa kolonial menganggapnya berbahaya. Sebagian kawan seperjuangan menilainya tidak patuh. Ia terlalu komunis bagi kelompok agama tertentu, tetapi terlalu dekat dengan Islam bagi sebagian komunis internasional. Ia terlalu revolusioner bagi kelompok diplomasi, tetapi terlalu rasional bagi orang yang ingin memberontak tanpa persiapan.”

“Berarti ia selalu sendirian.”

“Tidak selalu sendirian secara fisik. Namun orang yang mempertahankan pikirannya sendiri harus siap mengalami kesepian.”

Saya terdiam sebentar, kemudian berkata, “Itulah sebabnya engkau harus berhati-hati ketika mengatakan berani memperjuangkan keyakinan.”

“Mengapa?”

“Karena tidak semua keyakinan benar hanya karena diperjuangkan dengan berani. Seorang fanatik juga berani mati. Yang membedakannya dari pejuang adalah kesediaan menguji keyakinan, mendengar kritik, dan mempertanggungjawabkan akibat tindakannya.”

Putra saya menatap saya.

“Kalau begitu, bagaimana saya tahu suatu keyakinan patut diperjuangkan?”

“Tanyakan setidaknya empat hal. Apakah keyakinan itu berpijak pada kebenaran yang dapat diuji? Apakah ia memuliakan manusia? Apakah cara memperjuangkannya adil? Dan apakah engkau tetap akan melakukannya kalau tidak ada pujian, jabatan, atau keuntungan?”

“Yang terakhir sulit.”

“Memang. Banyak orang mengaku berjuang untuk rakyat, padahal sedang membangun jalan menuju kekuasaan. Banyak orang membawa nama agama, padahal yang dibelanya harga diri sendiri.”

“Bagaimana membedakannya?”

“Perhatikan apa yang dilakukan seseorang ketika kepentingannya tidak terpenuhi. Orang yang berjuang karena Tuhan tidak merasa memiliki kebenaran. Ia merasa berkewajiban mengabdi kepada kebenaran. Karena itu, ia berani dikoreksi. Ia tidak menjadikan Tuhan sebagai pembenaran bagi kebencian.”

Putra saya terdiam cukup lama.

“Apakah Tan Malaka berjuang karena Tuhan?”

Saya tidak segera menjawab.

“Hanya Tuhan yang mengetahui isi hati seseorang. Sebagai pembaca sejarah, kita tidak boleh menghakimi wilayah batin yang tidak dapat kita buktikan. Yang dapat kita katakan, Tan Malaka menulis bahwa pengaruh Islam tetap hidup dalam jiwanya meskipun ia mempelajari berbagai pemikiran Eropa. Ia juga melihat kemungkinan kerja sama antara gerakan Islam dan perjuangan kaum tertindas melawan imperialisme.”

“Jadi ia bukan antiagama?”

“Tidak tepat menyebutnya sederhana sebagai tokoh anti-Tuhan. Namun juga tidak jujur jika kita menghapus Marxisme dari dirinya hanya agar ia mudah diterima. Menghormati tokoh sejarah tidak berarti menyucikannya. Kita menghormatinya dengan membaca secara utuh.”

Saya bangkit, mengambil peta lama Indonesia, lalu membentangkannya di meja.

“Pada 1925, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia—Menuju Republik Indonesia. Itu bukan pledoi yang ia bacakan di pengadilan Den Haag pada 1928 sebagaimana sering ditulis orang. Buku tersebut diterbitkan ketika gagasan tentang republik masih sangat berani. Ia membayangkan Indonesia merdeka sebelum republik itu benar-benar berdiri.”

“Berarti ia mendahului zamannya.”

“Dalam beberapa hal, ya. Namun mendahului zaman bukan berarti selalu benar. Tan Malaka tetap manusia. Ia dapat keliru membaca kekuatan politik, terlalu keras terhadap kompromi, atau tidak cukup memperhitungkan biaya sosial dari revolusi.”

“Bukankah kemerdekaan memang memerlukan sikap keras?”

“Memerlukan keteguhan, tetapi keteguhan tidak sama dengan menutup pikiran.”

Saya menjelaskan bahwa setelah Proklamasi 1945, para pemimpin republik menghadapi pilihan yang sama-sama pahit. Sebagian memilih diplomasi karena kekuatan militer Indonesia terbatas dan pengakuan internasional sangat diperlukan. Tan Malaka bersama Persatuan Perjuangan menuntut kemerdekaan seratus persen dan menolak perundingan yang dianggap terlalu banyak memberi ruang kepada Belanda. Jenderal Soedirman juga mempunyai keberatan kuat terhadap konsesi yang mengurangi wilayah atau martabat republik.

“Siapa yang benar?” tanya putra saya. “Tan Malaka atau Soekarno-Hatta dan Sjahrir?”

“Sejarah tidak selalu menyediakan jawaban sesederhana soal ujian. Diplomasi membantu republik memperoleh pengakuan dan ruang bernapas. Perlawanan bersenjata membuktikan bahwa kemerdekaan bukan hadiah Belanda. Tanpa diplomat, perjuangan dapat kehilangan legitimasi dunia. Tanpa rakyat dan tentara yang bertahan, diplomat tidak mempunyai kekuatan untuk berunding.”

“Berarti mereka saling membutuhkan?”

“Ya, meskipun pada zamannya mereka sering melihat satu sama lain sebagai penghalang.”

Saya kemudian menceritakan bahwa Tan Malaka ditahan pada 1946 dan dipenjara selama lebih dari dua tahun tanpa proses pengadilan yang layak. Setelah dibebaskan pada 1948, ia kembali bergerak di tengah kekacauan perang. Pada Februari 1949, di sekitar Kediri, ia ditangkap dan ditembak mati oleh pasukan republik tanpa pengadilan.

Putra saya mengernyit.

“Ia dibunuh oleh bangsa yang ia perjuangkan?”

“Oleh tentara dari republik yang ikut ia perjuangkan.”

“Mengapa?”

“Revolusi sering memakan anak-anaknya sendiri. Ketika negara berada dalam ketakutan, perbedaan antara lawan politik, pembangkang, dan musuh mudah dihapus. Namun kita juga tidak boleh menyederhanakannya menjadi perintah Sjahrir menjelang Konferensi Meja Bundar. Sjahrir tidak sedang memimpin pemerintahan ketika Tan dibunuh. Rangkaian tanggung jawabnya lebih rumit dan masih dibahas para sejarawan.”

“Kalau begitu, siapa yang harus disalahkan?”

“Orang-orang yang terlibat tentu harus dimintai tanggung jawab. Namun pelajaran yang lebih besar adalah bahayanya kekuasaan tanpa hukum. Negara yang merasa sedang menyelamatkan diri mudah menganggap pengadilan sebagai penghambat. Padahal tanpa pengadilan, senjata dapat mengubah dugaan menjadi hukuman mati.”

Wajah putra saya murung.

“Akhir hidupnya menyedihkan.”

“Ya. Ia menghabiskan hidup untuk republik, tetapi tidak sempat menyaksikan penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949. Ia dibunuh beberapa bulan sebelumnya.”

“Apakah itu berarti perjuangannya gagal?”

“Tidak semua perjuangan dinilai dari apakah pelakunya menikmati hasil. Guru yang baik mungkin meninggal sebelum muridnya berhasil. Penanam pohon mungkin tidak pernah duduk di bawah rindangnya. Yang penting, benih yang ditanamnya tidak menjadi racun bagi generasi berikutnya.”

Putra saya kembali bertanya, “Benih apa yang ditinggalkan Tan Malaka?”

“Keberanian membayangkan republik, keyakinan bahwa pendidikan harus membebaskan, dan tuntutan agar bangsa kita berpikir dengan logika. Namun warisan itu harus kita baca secara kritis, bukan dijadikan kitab yang tidak boleh dibantah.”

“Bagaimana dengan G30S dan jatuhnya Soekarno? Ada yang mengatakan semuanya skenario Amerika.”

Saya menarik napas.

“Keterlibatan dan dukungan kekuatan asing dalam politik Indonesia pada masa Perang Dingin memiliki dasar sejarah yang perlu diteliti. Kita juga mengetahui terjadinya pembunuhan massal serta penahanan terhadap orang-orang yang dituduh komunis. Namun mengatakan seluruh peristiwa G30S merupakan satu skenario tunggal yang sudah terbukti adalah kesimpulan yang melampaui bukti.”

“Mengapa banyak orang percaya?”

“Karena cerita yang mempunyai satu dalang lebih mudah diterima daripada sejarah yang dipenuhi persaingan tentara, partai, kepentingan asing, konflik sosial, keputusan individual, dan keadaan ekonomi. Akal sehat tidak mencari cerita yang paling memuaskan kemarahan. Ia mencari penjelasan yang paling kuat didukung bukti.”

Putra saya menutup Madilog.

“Ayah selalu mengatakan saya harus mempunyai keyakinan. Sekarang Ayah meminta saya terus meragukannya.”

“Aku meminta engkau menguji keyakinan, bukan hidup tanpa keyakinan.”

Saya menggeser kursi mendekatinya.

“Iman yang matang tidak takut kepada pertanyaan. Kalau satu pertanyaan saja dapat menghancurkan keimananmu, mungkin yang engkau miliki bukan iman, melainkan ketakutan yang diberi nama suci.”

“Lalu apa arti bertakwa?”

“Takwa bukan hanya takut dihukum Tuhan. Takwa adalah kesadaran bahwa Tuhan hadir dalam setiap pilihan, termasuk ketika tidak ada manusia yang melihat. Orang bertakwa tidak menjual kebenaran demi jabatan. Ia tidak memfitnah lawan meskipun fitnah itu menguntungkan kelompoknya. Ia tidak mencuri hak rakyat meskipun hukum dapat dibeli.”

“Apakah orang bertakwa harus terjun ke politik?”

“Tidak semua orang harus menjadi politikus. Namun setiap warga perlu memahami politik karena keputusan politik menentukan sekolah, pekerjaan, harga pangan, hukum, bahkan siapa yang boleh berbicara. Menjauhi politik tidak membuat kita bebas dari akibatnya.”

“Tetapi politik kotor.”

“Politik menjadi kotor ketika orang baik menyerahkannya seluruhnya kepada orang yang hanya mengejar kuasa. Namun jangan pula masuk politik dengan kesombongan seolah engkau pasti lebih suci. Kekuasaan tidak hanya menguji orang jahat. Ia juga dapat merusak orang baik yang berhenti mengawasi dirinya.”

Putra saya memandang hujan di balik jendela.

“Kalau suatu hari saya harus melawan sesuatu yang salah, apa yang harus saya lakukan?”

“Belajarlah terlebih dahulu. Pastikan engkau memahami masalahnya, bukan hanya marah terhadapnya. Carilah bukti. Dengarkan orang yang berbeda. Pilih cara yang tidak merendahkan martabat manusia. Setelah itu, kalau engkau yakin jalanmu benar, beranilah menanggung akibatnya.”

“Bagaimana kalau saya sendirian?”

“Kebenaran tidak selalu diukur dari jumlah orang yang berdiri di sampingmu. Namun kesendirian juga bukan bukti bahwa engkau benar. Periksa terus dirimu.”

“Bagaimana kalau saya takut?”

“Keberanian bukan tidak mempunyai rasa takut. Keberanian adalah tetap melakukan yang benar setelah memahami risikonya.”

“Dan kalau saya kalah?”

Saya tersenyum.

“Manusia wajib berusaha, bukan menguasai hasil. Perjuangkan keyakinanmu karena Tuhan semata. Kalau engkau berjuang demi pujian, kekalahan akan menghancurkanmu dan kemenangan akan membuatmu sombong. Kalau engkau berjuang karena Tuhan, kemenangan tidak membuatmu merasa memiliki dunia, sedangkan kekalahan tidak merampas harga dirimu.”

“Apakah itu yang dilakukan Tan Malaka?”

“Kita tidak perlu menjadikan Tan Malaka manusia sempurna untuk belajar darinya. Ambillah keberaniannya membaca dunia, kecintaannya kepada pendidikan, dan kesediaannya hidup bagi kaum tertindas. Pelajari pula kesalahan dan keterbatasannya. Jangan menjadi pengikut Tan Malaka. Jadilah manusia merdeka sebagaimana pendidikan yang ia cita-citakan.”

Putra saya tersenyum kecil.

“Apa bedanya?”

“Pengikut hanya mengulang jawaban gurunya. Manusia merdeka memahami cara gurunya mencari jawaban, lalu berani mengoreksinya kalau bukti menunjukkan hal berbeda.”

Azan Isya terdengar dari masjid di ujung jalan. Saya menutup buku dan berdiri.

“Ayo salat.”

Putra saya ikut bangkit, tetapi sebelum meninggalkan ruangan ia kembali memandang Madilog.

“Ayah.”

“Ya?”

“Apakah belajar juga bagian dari ibadah?”

“Kalau ilmu itu membuatmu semakin rendah hati, semakin adil, dan semakin berguna bagi manusia—ya.”

“Kalau ilmu membuat saya merasa paling benar?”

“Itu bukan cahaya. Itu kesombongan yang memakai pakaian pendidikan.”

Kami berjalan menuju tempat salat. Di belakang kami, buku Tan Malaka tetap terbaring di atas meja. Ia tidak kami sembah dan tidak pula kami takutkan. Ia hanyalah jejak pemikiran seorang manusia yang mencintai kemerdekaan, berusaha memahami dunia, dan membayar keyakinannya dengan hidup yang panjang dalam pelarian.

Seusai salat, putra saya belum juga meninggalkan sajadah.

“Ayah,” katanya perlahan, “sekarang saya mengerti mengapa pendidikan penting.”

“Mengapa?”

“Supaya manusia tidak mudah diperbudak.”

“Oleh siapa?”

Ia berpikir sejenak.

“Oleh penguasa, oleh kebohongan, oleh ketakutan, dan oleh pikirannya sendiri.”

Saya mengangguk.

“Lalu untuk apa iman?”

“Agar setelah bebas berpikir, manusia tidak merasa dirinya Tuhan.”

Saya menepuk pundaknya.

Malam itu saya tidak tahu apakah putra saya akan mengingat seluruh kisah Tan Malaka. Mungkin nama, tahun, dan tempat akan perlahan hilang dari ingatannya. Namun saya berharap dua perkara tetap tinggal dalam dirinya: keberanian menggunakan akal sehat dan kerendahan hati untuk menundukkan keberanian itu kepada Tuhan.

Sebab bangsa tidak hanya memerlukan anak-anak yang pandai menjawab ujian. Bangsa memerlukan manusia yang mampu menguji kekuasaan tanpa kehilangan adab; memperjuangkan keyakinan tanpa membenci sesama; serta berani berdiri untuk kebenaran sekalipun tidak ada tepuk tangan.

Pada akhirnya, pendidikan membebaskan akal dari kebodohan. Iman membebaskan jiwa dari kesombongan. Takwa menjaga agar kekuasaan tidak menguasai hati. Dan keberanian membuat semua nilai itu hadir sebagai perbuatan, bukan berhenti sebagai kata-kata. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca