
Angka yang Tidak Mau Tunduk
Hujan turun sejak sore di San Aurelio. Dari balik jendela Istana Libertad, Presiden Alejandro Robles memandang ibu kota Republik Santa Esperanza yang tenggelam dalam cahaya kelabu. Kendaraan merayap di sepanjang Avenida de la República. Lampu-lampu gedung kementerian menyala lebih awal, seolah para birokrat sedang bekerja keras menyelamatkan negara. Namun Robles tahu, sebagian besar dari mereka hanya sedang menyelamatkan jabatan.
Hampir dua tahun ia menjadi presiden. Sebelumnya, selama sepuluh tahun, Republik Santa Esperanza berada di bawah kekuasaan Gabriel Mendoza—seorang presiden yang mengaku wong cilik tapi menjadikan wong cilik korban rentenir Judol lewat regulasi fintec dan melonggarkan pengawasan judol agar mereka jatuh miskin semakin miskin dan akhirnya tidak punya apa apa lagi untuk kritis kecuali berharap bantuan dari negara.
Sebelum meninggalkan istana, Mendoza mengajukan satu syarat kepada Robles, Diego Mendoza, putranya, harus menjadi calon wakil presiden. “Untuk menjaga kesinambungan,” kata Mendoza waktu itu. Robles tahu yang dimaksud bukan kesinambungan pemerintahan, melainkan kesinambungan kekuasaan. Namun ia menerima syarat tersebut. Walau dia tahu itu adalah beban. Karena Diego Pendidikanpun tidak jelas.
Tanpa sumber daya shadow ekonomi dari jaringan Mendoza, ia tak mungkin bisa membeli petugas Pemilu dan membeli suara dari rakyat. Di Republik Santa Esperanza, tokoh agamapun minta dibayar untuk mempengaruhi rakyat memilih. Tidak ada yang gratis. Popularitas tanpa uang hanya jadi bahan tawa. Semua orang berpikir pragmatis. Itu sudah ia alami dengan tiga kali kalah dalam pemilu. Makanya dukungan Mendoza adalah satu satunya ticket ke istana, yang sudah lama jadi ambisinya.
Kini, belum genap dua tahun berkuasa, janji pemilu mulai menagih bukti. Di atas meja kerja Robles tergeletak sebuah dokumen berwarna merah. Judulnya sederhana: Evaluasi Keberlanjutan Program Mesa para el Pueblo. Program itu sebenarnya idea dari Mendoza yang harus dia implementasikan. Namun itu juga dianggapnya cara mudah mendapatkan sumber daya keuangan untuk mengisi pundi partainya, dan sekaligus membayar loyalitas militer dan polisi. Karena program itu uang mengalir tanpa jejak, dan value nya abstrak. Disamping itu popularitas mendapat tempat karena memberi makan anak anak miskin.
Pintu ruang kerja terbuka. Menteri Ekonomi Tomás Arriaga masuk bersama Menteri Keuangan Lucía Ferrer dan Gubernur Bank Sentral Esteban Salazar. Ketiganya membawa wajah orang yang telah sepakat menyampaikan kabar buruk, tetapi belum sepakat siapa yang harus mengatakannya lebih dahulu.
“Duduklah,” kata Robles.
Mereka mengambil tempat di hadapan meja presiden.
Tomás membuka mapnya. “Tuan Presiden, kami sudah menyelesaikan proyeksi semester kedua.”
“Berapa pertumbuhan ekonomi?”
“Proyeksi resmi masih 5,2 persen.”
“Yang sebenarnya?”
Tomás menoleh kepada Lucía. Menteri Keuangan itu menarik napas. “Kalau indikator terakhir berlanjut, antara 3,8 sampai 4,2 persen.”
Robles tidak menunjukkan keterkejutan. “PMI?”
“Turun selama tiga bulan berturut-turut,” jawab Tomás. “Pesanan baru melemah. Persediaan meningkat. Industri tekstil mulai mengurangi jam kerja. Sektor otomotif menunda ekspansi.”
“Daya beli?”
“Penjualan ritel riil turun. Kredit konsumsi melambat. Tunggakan kartu kredit meningkat.”
Robles beralih kepada Gubernur Bank Sentral. “Capital outflow?”
“Berlanjut”
“Berapa?”
“Dalam enam minggu terakhir, hampir dua miliar dolar keluar dari pasar obligasi dan saham.”
“Cadangan devisa?”
“Masih aman secara statistik,” jawab Salazar. “Tetapi kalau kami terus masuk ke pasar untuk menahan kurs, biaya pertahanannya akan semakin besar.”
Robles mengetukkan jarinya ke meja. “Naikkan suku bunga.”
“Kita sudah menaikkannya 3 kali.”
“Terbitkan lebih banyak surat berharga bank sentral.”
Salazar tidak segera menjawab. “Tuan Presiden, kami dapat menyerap likuiditas dan menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Tetapi itu bukan obat. Itu hanya membuat investor bersedia tinggal sedikit lebih lama. Apalagi kita sudah terjebak dalam fiscal dominance. Itu sangat bahaya terhadap kurs. Karena pasar akan anggap kita cetak uang”
“Bukankah itu tugas bank sentral?”
“Tugas kami menjaga stabilitas, bukan membeli kepercayaan tanpa batas.”
Ruangan menjadi sunyi.
Lucía menggeser dokumen merah ke hadapan Robles. “Masalah terbesar ada pada Mesa para el Pueblo. Sebagian besar program tidak mempunyai mandat undang-undang khusus. Secara konstitusional, program masih dapat dibiayai melalui undang-undang anggaran tahunan. Tetapi karena bukan belanja wajib, parlemen dapat mengurangi, menunda, atau mengubah alokasinya setiap tahun.”
“Anggarannya sudah disetujui.”
“Alokasi telah disetujui,” kata Lucía hati-hati. “Ketersediaan kasnya belum tentu.”
Robles mengangkat wajah. “Apa bedanya?”
“Anggaran memberikan kewenangan untuk membelanjakan. Kas menentukan apakah pemerintah benar-benar mampu membayar ketika tagihan datang.”
Lucía membuka sebuah halaman. “Penerimaan pajak berada di bawah target. Refinancing utang jatuh tempo semakin mahal. Defisit mendekati batas tiga persen. Kalau semua anggaran program dicairkan, kita berisiko melewati batas tersebut.”
“Ubah asumsi.”
“Kita dapat mengubah angka dalam dokumen,” jawab Lucía. “Tetapi tidak dapat mengubah uang di rekening kas.”
Kalimat itu membuat Robles terdiam. Sebagai mantan Pati Milliter selama puluhan tahun ia mempelajari strategi militer. Dalam perang, peta bisa diubah dengan menggeser garis pertahanan. Dalam politik, narasi dapat diubah dengan pidato. Namun dalam fiskal, uang tunai tidak tunduk kepada keberanian seorang presiden.
“Kalau pembayaran ditunda, apa dampaknya?” tanyanya.
“Kontraktor akan mengalami masalah modal kerja. Mereka sudah membeli bahan dan membayar tenaga kerja berdasarkan kontrak pemerintah. Kalau termin tidak cair, sebagian akan meminjam dengan bunga tinggi. Sebagian lagi berhenti bekerja. Yang paling lemah akan bangkrut.”
“Dan program saya?”
“Akan tetap hidup di papan proyek,” kata Lucía, “tetapi mati di lapangan.”
“ Begitu juga dengan program Koperasi Espanza.” Lanjut Lucia
“ Ada apa ? tanya Robles.
“ Anggaran yang digelontorkan habis untuk membangun Gedung koperasi, Sementara modal kerja tidak cukup tersedia. Tanpa modal kerja proyek itu teracam gagal total”
Robles bangkit dan berjalan menuju jendela. Hujan semakin deras. “Jadi, kalian ingin saya membatalkan janji kepada rakyat?”
“Kami ingin janji itu mempunyai dasar yang dapat bertahan melewati satu tahun anggaran,” jawab Lucía. “Kalau program ini benar-benar prioritas nasional, ajukan undang-undang. Tentukan penerima, standar layanan, sumber dana, evaluasi, dan batas kewajiban negara. Jangan membangun hak permanen dengan pembiayaan sementara.”
Tomás menambahkan, “Tanpa itu, program akan menjadi permainan politik setiap tahun. Parlemen akan menukar persetujuan anggaran dengan jabatan, proyek, atau konsesi.”
Robles masih memandang keluar. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa program populis tidak selalu gagal karena idenya buruk. Program dapat gagal karena seorang pemimpin menganggap kehendaknya sudah cukup untuk menjadi hukum. Ambisi telah membuatnya percaya bahwa kemenangan pemilu merupakan mandat untuk melakukan apa saja. Padahal mandat rakyat tetap membutuhkan disiplin institusi.
“ Kita harus kuat seperti China dengan sosialisme nya. Tidak bisa didikte pasar. Negara kita kaya SDA. Terlalu besar untuk tunduk kepada pasar. “ Kata Robles.
“ China kuat karena mereka sudah mempersiapkan fondasi yang kuat sebelum mereka masuk ke pasar. Tabungan besar, disiplin anggaran solid, meritokrasi jalan, dan law enforcement tegak, korupsi dihukum mati”
Salazar berkata lirih. “ Kita berburu dengan waktu. Engga ada waktu lagi bermimpi tentang socialisme. Tentang centralistrik kekuasaan.
“Berapa lama kita punya waktu?” tanyanya.
Salazar menjawab, “Pasar sudah mulai menghitungnya, Tuan Presiden.”
“Berapa lama?”
“Mungkin tiga bulan. Mungkin tiga minggu. Pasar tidak mengirim surat sebelum kehilangan kepercayaan.”
Malam itu, yield obligasi pemerintah Santa Esperanza tenor sepuluh tahun menembus 7,18 persen. Harga obligasi jatuh. Bukan karena negara langsung kehilangan uang pada malam itu. Obligasi lama tetap akan dibayar sesuai kontrak. Namun setiap penurunan harga menjadi sinyal bahwa investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang risiko Santa Esperanza. Ketika pemerintah menerbitkan utang baru atau membiayai kembali utang yang jatuh tempo, bunga yang harus dibayar akan semakin mahal.
Biaya itu akan masuk ke APBN tahun berikutnya. Semakin besar bunga utang, semakin kecil anggaran untuk sekolah, rumah sakit, jalan, pangan, perlindungan social dan dana transfer ke daerah akan berkurang drastic. Pasar tidak sedang menghukum satu lembar obligasi. Pasar sedang mengambil ruang dari masa depan.
Holding yang Memakan Dividen
Dua hari kemudian, Robles memimpin rapat di kantor Esperanza Strategic Holding, perusahaan superholding yang dibentuknya setahun setelah menjadi presiden. Gedungnya berdiri megah di kawasan finansial San Aurelio. Dinding lobi dilapisi marmer hitam. Sebuah layar raksasa menampilkan slogan: MENGUBAH ASET NEGARA MENJADI KEKUATAN MASA DEPAN. Robles membacanya tanpa perasaan.
Pada awal pembentukannya, holding itu dipresentasikan sebagai jalan keluar dari keterbatasan fiskal. Pemerintah tidak perlu membiayai seluruh pembangunan melalui APBN. Perusahaan-perusahaan negara akan dikonsolidasikan, asetnya dioptimalkan, dividennya diputar kembali, dan proyek strategis dibiayai melalui pasar modal. Dengan struktur tersebut, program pemerintah dapat bergerak melalui dua jalur: jalur anggaran dan jalur korporasi.
Di atas kertas, gagasan itu tampak cerdas. Masalahnya, neraca tidak hidup di atas kertas. Direktur Utama Esperanza Strategic Holding, Ricardo Barrera, berdiri di depan layar. “Total aset konsolidasi kita telah melampaui tiga ratus miliar sol,” katanya bangga. “Dengan skala tersebut, kita menjadi institusi ekonomi terbesar di kawasan”
“Berapa laba tunainya?” tanya Robles.
Barrera berhenti. “Secara konsolidasi—”
“Saya tidak bertanya nilai aset. Saya bertanya berapa kas yang dapat digunakan.”
Direktur Keuangan membuka dokumen. “Sebagian besar laba berasal dari penilaian ulang aset, bagian laba perusahaan asosiasi, dan pendapatan yang belum seluruhnya berbentuk kas.”
“Dividen kepada negara?”
“Tahun ini berkurang karena sebagian laba ditahan untuk investasi.”
“Berapa pengurangannya?”
Menteri Keuangan Lucía Ferrer menjawab dari ujung meja. “Dua puluh delapan miliar sol dibandingkan pola setoran sebelum konsolidasi.”
Robles menoleh kepada Barrera. “Jadi, holding ini belum memberi uang kepada negara, tetapi justru mengurangi penerimaan APBN?”
“Kami sedang membangun kapasitas jangka panjang, Tuan Presiden.”
“Dengan uang siapa?”
“Dengan optimalisasi aset dan pembiayaan pasar.”
Lucía membuka halaman lain. “Termasuk global bond untuk menarik dana lewat jaringan 144A dan Patriot Bond untuk menarik dana konglomerat dan jaringan shadow ekonomi Mendoza.”
Barrera tersenyum canggung. “Itu bukti kepercayaan investor.”
“Utang bukan sumbangan,” kata Lucía. “Pokoknya harus dibayar. Bunganya harus dibayar. Dan bila proyek tidak menghasilkan arus kas, pasar akan memperlakukan kewajiban holding sebagai risiko tersirat pemerintah.”
“Tidak ada jaminan negara.”
“Secara hukum mungkin tidak ada,” jawab Lucía. “Namun investor melihat nama negara, aset negara, pengurus yang ditunjuk presiden, dan proyek yang diperintahkan pemerintah. Mereka akan menganggap negara tidak mungkin membiarkannya gagal.”
Robles memahami maksudnya. Utang holding memang tidak selalu dicatat sebagai utang pemerintah. Namun bila terjadi gagal bayar, tekanan politik akan memaksa negara melakukan penyelamatan. Kewajiban korporasi berubah menjadi beban publik melalui pintu belakang. Itulah yang disebut kewajiban kontinjensi, ya belum menjadi utang APBN hari ini, tetapi dapat menjadi tanggungan negara ketika krisis datang.
“Uangnya sudah digunakan ?” tanya Robles.
Barrera menunjuk layar. “Pembangunan kawasan industri, ketahanan pangan, proyek energi hijau, dan program perumahan.”
“Berapa proyek yang sudah menghasilkan kas?”
Tidak ada yang menjawab.
“Berapa?” ulang Robles.
“Belum masih on process ” kata Direktur Keuangan akhirnya.
“Lalu bunga obligasi dibayar dari mana?”
“Dividen perusahaan-perusahaan yang sudah mapan.”
Robles tertawa pendek. Sekarang ia melihat persoalannya dengan jelas. Perusahaan listrik, telekomunikasi, bank, pelabuhan, dan energi yang selama ini menyetor dividen kepada negara telah dimasukkan ke dalam holding. Dividen mereka tidak lagi sepenuhnya mengalir ke APBN. Uang itu dipakai untuk menopang proyek baru yang belum menghasilkan. Pemerintah kehilangan penerimaan hari ini demi membangun harapan akan laba masa depan. Jika proyek berhasil, holding akan dipuji sebagai mesin pembangunan. Jika gagal, rakyat akan membayar utangnya.
Ruangan menjadi sunyi. Di layar, slogan tentang masa depan masih menyala. Robles memandang kalimat itu lama sekali. Ia mulai memahami bahwa sebuah negara dapat menyembunyikan kelemahan fiskalnya dengan banyak cara menunda pembayaran, memindahkan proyek ke BUMN, meminta bank negara memberi kredit, menerbitkan obligasi melalui holding, atau memaksa dana pensiun membeli surat utang. Patriot bond memang cara mudah menarik dana dari shadow ekonomi tetapi ia juga menjadi dasar pasar meragukan trust negara menjaga moral.
Pada akhirnya, semua jalan kembali kepada satu pihak. Rakyat. Mereka membayar melalui pajak, tarif, inflasi, dana pensiun yang berisiko, pelayanan publik yang dikurangi, atau penyelamatan perusahaan yang terlalu politis untuk dibiarkan gagal.
“ Artinya kita berada di corner ,” kata Robles.
Barrera terkejut. “ Kita punya hope dan semua akan baik baik saja. Yakinlah..” Barrera menatap Wakil Presiden Diego Mendoza yang sejak tadi duduk diam. Diego akhirnya bicara. “ Kita masih punya sumber daya besar di luar negeri dari jaringan konglomerat yang loyal kepada kita.”
“ Itu hanya ilusi. Uang ada tapi tidak bisa dipakai sama saja tidak ada. Itu buktinya kurs kita jatuh, artinya justru mereka menjadi biang kerok kerusakan ekonomi“ Cibir Robles.
Wajah Diego mengeras. Untuk beberapa detik, ruangan itu tidak lagi menjadi tempat membicarakan neraca. Ia berubah menjadi arena antara seorang presiden dan bayangan mantan presiden yang duduk di tubuh putranya.
Ketika Pasar Tidak Percaya Pidato
Pada minggu berikutnya, pemerintah mengadakan konferensi ekonomi nasional. Ribuan pendukung memenuhi Palacio del Pueblo. Mereka membawa spanduk bergambar Robles dengan tulisan: EKONOMI KUAT, RAKYAT BERDAULAT. Televisi menyiarkan acara itu secara langsung. Robles berdiri di podium dengan latar bendera republik. Para menteri duduk di barisan depan. Diego Mendoza berada di sebelah kanan panggung. Tepuk tangan bergemuruh ketika Robles mengangkat tangan.
“Republik Santa Esperanza tidak sedang mengalami krisis,” katanya.
Tepuk tangan kembali pecah.
“Ekonomi kita tetap tumbuh di atas lima persen. Cadangan devisa kuat. Perbankan sehat. Program rakyat terus berjalan. Mereka yang mengatakan negara sedang menuju masalah adalah orang-orang yang tidak ingin melihat bangsa ini berdiri di atas kakinya sendiri.”
Para pendukung bersorak.
Robles melanjutkan dengan nada semakin keras. “Ada ekonom yang setiap hari berbicara tentang risiko. Ada pengamat yang hidup dari ketakutan. Mereka tidak membangun satu rumah pun, tetapi merasa paling tahu bagaimana mengelola negara. Sebenarnya mereka antek asing dan menjadi bagian dari konspirasi asing yang ingin membuat kita gagal”
Kamera menyorot para menteri yang bertepuk tangan. Namun di ruang transaksi sebuah bank di pusat San Aurelio, para pedagang obligasi tidak ikut bertepuk tangan. Mereka membaca data. PMI turun. Penjualan ritel melemah. Penerimaan pajak meleset. Utang jatuh tempo meningkat. Defisit mendekati batas. Cadangan devisa berkurang karena intervensi. Holding negara menambah utang valas. Bank sentral menawarkan bunga tinggi untuk mempertahankan modal.
Pidato presiden tidak mengubah satu pun angka itu. Sore harinya, mata uang Santa Esperanza jatuh 1,8 persen. Yield obligasi sepuluh tahun naik menjadi 7,43 persen. Bank sentral masuk ke pasar, membeli mata uang domestik dan menjual cadangan devisa. Bank sentral juga menaikkan imbal hasil surat berharganya untuk menyerap likuiditas dan menahan investor agar tidak membawa uang keluar. Tindakan itu berhasil menenangkan pasar selama beberapa jam. Namun stabilitas yang dibeli dengan bunga tinggi mempunyai harga.
Bank-bank memilih membeli surat berharga daripada memberi kredit kepada industri. Perusahaan harus membayar bunga lebih mahal. Cicilan rumah naik. Usaha kecil menunda ekspansi. Konsumen mengurangi belanja. Pabrik yang tidak mampu menanggung biaya pembiayaan mulai mengurangi pekerja. Ketidakpastian tidak dijawab dengan reformasi. Ia dibayar dengan intervensi moneter yang mahal. Dan tagihannya perlahan dikirim kepada rakyat.
Malam itu, Robles menerima laporan pemutusan hubungan kerja dari kawasan industri Puerto Esperanza. Sebelas pabrik mengurangi tenaga kerja. Enam ribu tujuh ratus orang kehilangan pekerjaan dalam satu minggu. Ia membaca nama-nama perusahaan itu tanpa bicara. Di samping laporan terdapat transkrip pidatonya sendiri beberapa jam sebelumnya. Kita tidak sedang mengalami krisis. Kalimat itu kini terdengar seperti ejekan.
Pintu ruang kerja terbuka. Tomás Arriaga masuk tanpa menunggu izin. “Tuan Presiden, kita harus mengubah komunikasi.”
“Kamu ingin saya mengakui krisis?”
“Saya ingin pemerintah berhenti menyangkal risiko.”
“Kalau saya mengatakan ekonomi bermasalah, pasar akan panik.”
“Pasar sudah panik karena data. Penyangkalan hanya membuat pemerintah kehilangan kredibilitas.”
Robles berdiri. “Kalian para ekonom selalu meminta presiden mengatakan hal yang membuat rakyat takut.”
“Tidak. Kami meminta presiden mengatakan kebenaran agar rakyat dapat bersiap.”
“Politik tidak bekerja seperti ruang kuliah.”
“Ekonomi juga tidak bekerja seperti panggung kampanye.”
Robles menatap Tomás tajam. Menteri itu tidak menunduk. “Ketika bahasa teknokrat menghilang,” lanjut Tomás, “pemerintah mulai berbicara seperti influencer. Semua masalah disebut serangan. Semua kritik disebut kebencian. Semua program disebut bersejarah. Tetapi tidak ada ukuran, evaluasi, atau tanggung jawab.”
“Kamu sedang mengajari saya berpolitik?”
“Saya sedang mengingatkan bahwa reputasi pemerintah tidak runtuh karena kritik. Reputasi runtuh ketika kenyataan membuktikan kritik itu benar.”
Robles berjalan mendekat. “Keluar.”
Tomás tetap berdiri beberapa detik, lalu menutup mapnya. Sebelum meninggalkan ruangan, ia berkata, “Tuan Presiden, rakyat masih bisa memaafkan pemerintah yang gagal. Tetapi mereka sulit memaafkan pemerintah yang membuat mereka merasa bodoh.”
Pintu tertutup.
Robles berdiri sendirian. Di dinding tergantung lukisan dirinya dalam seragam militer. Wajah dalam lukisan itu tampak tegas, percaya diri, dan yakin bahwa setiap persoalan mempunyai musuh yang dapat dikalahkan. Namun ekonomi tidak mempunyai wajah untuk ditembak. Krisis tidak dapat ditangkap polisi. Kepercayaan tidak dapat diperintahkan melalui dekret.
Sahabat yang Menolak Kursi
Javier Montoya datang ke istana menjelang tengah malam. Hujan baru saja berhenti. Batu-batu di halaman Istana Libertad masih basah dan memantulkan cahaya lampu taman. Javier turun dari kendaraan tanpa pengawal. Ia mengenakan mantel hitam yang telah berusia belasan tahun dan membawa sebuah buku tua di tangan kirinya.
Javier adalah sahabat lama Alejandro Robles—seorang filsuf politik yang pernah menjadi teman diskusinya jauh sebelum Robles menjadi presiden. Dahulu, mereka sering bertemu di sebuah kafe kecil dekat Universitas San Aurelio. Robles berbicara tentang negara yang kuat, tentara yang disiplin, ekonomi yang tumbuh, dan pemimpin yang berani mengambil keputusan. Javier selalu berbicara tentang sisi lain yang jarang disukai orang berkuasa, bahwa hukum yang membatasi presiden, lembaga yang tidak boleh tunduk kepada partai, serta rakyat yang berhak mengatakan pemimpinnya salah.
“Negara yang kuat tidak sama dengan presiden yang terlalu kuat,” kata Javier dalam salah satu pertemuan mereka. “Negara justru menjadi kuat ketika ia tetap berjalan meskipun presidennya lemah, keliru, bahkan buruk.”
Robles waktu itu hanya tertawa. Ia belum memahami bahwa kekuasaan yang tidak dibatasi akan selalu menemukan alasan untuk memperluas dirinya.
Ketika memenangkan pemilu, Robles pernah menawarkan jabatan Menteri Keuangan kepada Javier. Sahabatnya itu menolak tanpa meminta waktu untuk mempertimbangkan. “Kalau saya masuk kabinet, saya harus ikut mempertahankan keputusan yang mungkin tidak saya percaya,” katanya. “Lebih baik saya tetap berada di luar agar masih ada seorang sahabat yang berani mengatakan kamu salah.”
Robles sempat kecewa. Ia menganggap Javier tidak bersedia ikut memikul tanggung jawab. Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu alasan yang sebenarnya, Javier tidak takut kehilangan jabatan karena sejak awal ia tidak menginginkannya. Manusia yang tidak menginginkan jabatan merupakan orang paling sulit dikendalikan oleh kekuasaan.
Malam itu mereka duduk berhadapan di perpustakaan pribadi istana. Tidak ada menteri, ajudan, protokol, ataupun kamera. Hanya dua sahabat lama, dua cangkir kopi, dan ribuan buku yang berdiri diam di rak-rak kayu. Javier memperhatikan wajah Robles. Mata presiden itu sembap. Rambutnya mulai dipenuhi uban. Di atas meja terdapat laporan tentang jatuhnya nilai mata uang, kenaikan yield obligasi, penurunan aktivitas industri, serta gelombang pemutusan hubungan kerja.
“Kamu mulai menyerang orang-orang yang mengkritikmu,” kata Javier.
“Mereka memperburuk keadaan.”
“Atau mereka hanya mengatakan sesuatu yang tidak ingin kamu dengar?”
Robles menuangkan kopi ke dalam cangkirnya. “Program saya sedang disabotase parlemen, pasar, birokrasi, dan jaringan Mendoza.”
“Itu benar.”
Robles mengangkat wajah. “Nah, kamu tahu.”
“Tetapi sumber kesalahan terbesarnya tetap berada dalam rancanganmu sendiri.”
Robles meletakkan cangkir dengan keras. Sebagian kopi tumpah ke tatakan. “Saya mengundangmu untuk memberi solusi, bukan untuk menghakimi.”
Javier tidak bereaksi. Ia membuka buku yang dibawanya, kemudian membaca satu kalimat pendek. “Plato mengingatkan bahwa kemenangan pertama dan terbaik adalah kemenangan atas diri sendiri.”
Ia menutup buku itu kembali. “Tidak ada solusi selama kamu masih sibuk mengalahkan pengkritik, tetapi tidak mampu mengalahkan kesombonganmu sendiri.”
Wajah Robles menegang. “Jaga ucapanmu, Javier.”
“Kalau sebagai sahabat saya harus menjaga ucapan hanya karena kamu menjadi presiden, berarti saya sudah kehilangan sahabat dan sedang berbicara dengan seorang raja.”
Keheningan memenuhi perpustakaan. Hanya terdengar detak jam tua di atas perapian. Javier melanjutkan dengan suara lebih lembut. “Akui dahulu bahwa kamu belum berfungsi sebagaimana mestinya sebagai presiden. Dalam sistem presidensial, rakyat memilihmu untuk memimpin pemerintahan. Kamu boleh membangun koalisi, tetapi tidak boleh menyerahkan tanggung jawab konstitusional kepada koalisi.”
“Apa kesalahan saya?” tanya Robles sambil menahan marah. “Semua anggota kabinet adalah perwakilan partai yang berjuang menjadikan saya orang nomor satu. Tentu mereka ingin saya sukses. Kalau pemerintahan berhasil, kekuasaan mereka juga berlanjut.”
Javier tersenyum tipis. “Itulah masalahnya. Kamu mengira karena mereka ingin kekuasaanmu berlanjut, berarti mereka ingin negaramu berhasil.”
“Apa bedanya?”
“Sangat berbeda. Mereka bisa saja menginginkan kamu tetap berkuasa karena selama kamu berkuasa, mereka dapat menunggangimu.”
Robles tersentak.
Javier menyandarkan tubuhnya. “Koalisi memang ada dalam praktik sistem presidensial multipartai. Tetapi koalisi bukan lembaga konstitusional. Ia hanya kesepakatan politik sementara. Ia boleh membantumu memperoleh dukungan parlemen, tetapi tidak boleh mengambil alih hak presiden menentukan arah pemerintahan.”
“Mereka teman seperjuangan saya.”
“Tidak ada persahabatan permanen dalam politik. Yang ada adalah kepentingan yang kebetulan berjalan ke arah yang sama.”
“Itu terlalu sinis.”
“Itu realistis. Mereka tampak baik dan setia karena merasa sedang menikmati perjalanan di atas punggung kekuasaanmu. Selama kamu membawa mereka ke tempat yang diinginkan, mereka akan memujimu. Begitu kamu berbalik arah, mereka akan menyebutmu pengkhianat.”
Javier mengambil cerutunya, tetapi belum menyalakannya. “Machiavelli memahami bahwa orang sering mencintai penguasa selama cinta itu menguntungkan mereka. Namun Marcus Aurelius mengingatkan bahwa nilai seorang manusia ditentukan oleh nilai dari hal-hal yang ia kejar. Pertanyaannya, Alejandro, apa yang sedang kamu kejar? Keberhasilan negara atau kelanjutan kekuasaan?”
Robles tidak menjawab. Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahannya mulai surut. Ia memandang kopi yang tumpah, seolah melihat keadaan pemerintahannya sendiri: wadahnya masih utuh, tetapi isinya perlahan terbuang. Dengan suara lirih ia bertanya, “Apa saranmu, Javier?”
“Perkuat institusi.”
Robles tertawa sinis. “Itu jawaban buku teks.”
“Karena kamu mencari jawaban ajaib. Padahal negara tidak rusak dalam satu malam dan tidak dapat diperbaiki dengan satu program.”
“Konkretnya?”
“Restrukturisasi kabinet.”
Robles menunggu.
“Tidak perlu terlalu banyak kementerian,” lanjut Javier. “Cukup dua puluh. Itu pun mungkin sudah berlebihan. Hapus posisi yang hanya dibentuk untuk membagi kursi kepada partai. Kurangi wakil menteri dan satuan tugas yang pekerjaannya tumpang tindih dengan lembaga permanen.”
“Bukankah semakin banyak kementerian, semakin fokus pekerjaan pemerintah?”
“Fokus tidak ditentukan oleh jumlah jabatan.”
Javier menyalakan cerutunya. Asap tipis naik ke udara. “Bayangkan sebuah kapal. Menambah nahkoda tidak membuat kapal lebih cepat mencapai tujuan. Kapal justru kehilangan arah karena terlalu banyak orang memegang kemudi.”
“Tetapi persoalan negara sangat kompleks.”
“Karena kompleks, kamu membutuhkan pembagian tanggung jawab yang jelas. Bukan penambahan meja, stempel, sopir, gedung, dan anggaran.”
Robles terdiam. Kali ini ia mulai menyimak tanpa berusaha memotong. “Kamu membutuhkan empat menteri koordinator yang benar-benar kuat,” kata Javier. “Koordinator politik, hukum, dan keamanan. Koordinator ekonomi dan fiskal. Koordinator pembangunan sosial. Serta koordinator riset, pendidikan, dan transformasi teknologi.”
“Hanya empat?”
“Empat panglima koordinasi. Di bawah mereka ada menteri teknis yang jumlahnya terbatas dan mempunyai kewenangan jelas.”
Javier mengembuskan asap cerutu. “Pilih empat orang itu melalui proses terbuka. Pastikan reputasi mereka berkelas dunia. Jangan hanya menguji ijazah dan pengalaman, tetapi juga integritas, keberanian mengambil keputusan, konflik kepentingan, serta kemampuan mengatakan tidak kepada presiden.”
Robles mengerutkan kening. “Mengapa saya harus memilih menteri yang berani menolak saya?”
“Karena orang yang selalu mengatakan ya bukan pembantu. Ia adalah cermin yang sengaja memantulkan wajah yang ingin kamu lihat.”
Javier mencondongkan tubuh. “Konfusius mengatakan bahwa memerintah berarti meluruskan. Tetapi bagaimana seorang pemimpin dapat meluruskan negara jika tidak ada seorang pun di sekelilingnya yang berani meluruskan dirinya?”
Robles mengangguk perlahan.
“Empat orang itu akan menjadi panglima perangmu,” lanjut Javier. “Mereka memilih kapten terbaik untuk memimpin kementerian. Para kapten kemudian memilih sersan terbaik untuk memimpin unit pelaksana. Dari atas sampai bawah, dasar pemilihannya harus kemampuan dan integritas, bukan kartu anggota partai.”
“Partai pasti meminta jatah.”
“Berikan mereka ruang menyampaikan calon, tetapi jangan berikan hak menentukan hasil.”
“Itu akan dianggap mengkhianati koalisi.”
“Lebih baik mengkhianati kesepakatan elite daripada mengkhianati sumpah kepada rakyat.”
Javier bangkit dan berjalan mendekati rak buku. Ia mengambil sebuah buku karya Montesquieu, lalu membukanya pada halaman yang telah menguning. “Montesquieu memahami satu tabiat manusia, bahwa setiap orang yang memiliki kekuasaan cenderung menyalahgunakannya sampai ia menemukan batas.”
Ia menyerahkan buku itu kepada Robles. “Karena itu, kekuasaan harus membatasi kekuasaan.”
Robles membaca halaman yang terbuka, kemudian menutupnya kembali.
“Gunakan kewenangan presidensialmu untuk memperkuat lembaga audit negara, mahkamah konstitusi, komisi antikorupsi, badan riset, otoritas pajak, kejaksaan, dan badan pengadaan.”
“Ganti semua orang lama?”
“Jangan melakukan pembersihan hanya karena mereka orang lama. Itu bukan reformasi, melainkan balas dendam yang memakai seragam hukum.”
“Lalu?”
“Periksa kinerja dan integritas mereka. Mereka yang terbukti kompeten dipertahankan. Mereka yang terlibat konflik kepentingan, korupsi, atau penyalahgunaan kekuasaan diganti melalui prosedur hukum.”
“Presiden tidak berwenang mengganti semua pimpinan lembaga itu.”
“Benar. Dan jangan melampaui konstitusi. Untuk jabatan yang menjadi kewenanganmu, lakukan seleksi terbuka. Untuk jabatan yang memerlukan persetujuan parlemen atau lembaga lain, ajukan calon terbaik dan buka seluruh prosesnya kepada publik.”
Javier menatapnya tajam. “Jangan mengulangi kesalahan Mendoza. Ia melemahkan lembaga dengan menempatkan orangnya. Kamu tidak boleh mengaku memperkuat lembaga dengan cara yang sama—hanya mengganti orang Mendoza dengan orang Robles.”
Kalimat itu menampar kesadaran Robles. Ia memang pernah membayangkan mengganti seluruh pejabat lama dengan orang-orang yang loyal kepadanya. Ia menyebutnya reformasi. Padahal, jika dilakukan tanpa sistem terbuka, ia hanya memindahkan kepemilikan negara dari satu jaringan kepada jaringan lain.
“Libatkan masyarakat sipil,” lanjut Javier. “Universitas, organisasi profesi, pers, kelompok antikorupsi, serikat pekerja, dan komunitas usaha. Biarkan mereka mengawasi proses rekrutmen.”
“Mengapa harus melibatkan begitu banyak pihak?”
“Karena institusi yang dibangun diam-diam di dalam istana akan dianggap milik presiden. Institusi yang dibangun di bawah pengawasan publik akan memperoleh legitimasi rakyat.”
“Bagaimana kalau masyarakat sipil juga punya kepentingan?”
“Semua manusia mempunyai kepentingan. Karena itu, jangan percaya kepada satu pihak. Buat mereka saling mengawasi.”
Javier tersenyum. “Demokrasi tidak lahir karena manusia semuanya baik. Demokrasi dibangun karena manusia dapat salah, rakus, dan tergoda. Sistem yang sehat tidak bergantung pada malaikat. Ia membuat para pendosa saling membatasi.”
Robles mengembalikan buku Montesquieu ke meja. “Bagaimana dengan parlemen?”
“Parlemen tetap diperlukan. Demokrasi tidak mungkin berjalan tanpa pengawasan terhadap pemerintah.”
“Mereka selama ini menjadi sumber kompromi yang melemahkan lembaga.”
“Jangan menyalahkan institusinya karena orang-orang di dalamnya buruk. Tugasmu bukan meniadakan parlemen, melainkan membuat transaksi politik mereka terlihat oleh publik.”
Javier duduk kembali. “Selama beberapa dekade, pimpinan lembaga dibagi melalui perundingan tertutup. Satu partai memperoleh kursi di badan audit. Partai lain mendapat posisi di komisi antikorupsi. Kelompok lain menguasai kejaksaan atau badan usaha negara. Negara dibagi seperti meja makan setelah pesta.”
“Semua presiden harus berkompromi.”
“Benar. Tetapi ada perbedaan antara kompromi untuk menjalankan negara dan menyerahkan negara sebagai harga kompromi.”
“Apa batasnya?”
“Kompromi boleh menentukan urutan prioritas. Tidak boleh menentukan siapa yang kebal hukum. Kompromi boleh membagi tanggung jawab politik. Tidak boleh membagi kepemilikan atas lembaga negara.”
Javier mengetuk meja dengan telunjuk. “Berkompromilah mengenai kebijakan pajak, jadwal pembangunan, atau besarnya subsidi. Tetapi jangan berkompromi tentang independensi hakim, kejujuran auditor, dan keberanian penyidik.”
“Kalau saya tidak berkompromi, anggaran dapat ditolak.”
“Kalau semua lembaga kamu serahkan demi memperoleh suara parlemen, untuk apa kamu menjadi presiden?”
Robles terdiam.
“Sekian dekade negara dijalankan dengan cara yang sama,” kata Javier. “Setiap presiden mengeluh bahwa sistem telah rusak. Namun setelah berkuasa, mereka justru memakai kerusakan itu untuk mempertahankan jabatan. Apakah kamu akan mengulangi kesalahan yang sama?”
“Partai akan melawan.”
“Hadapi melalui konstitusi.”
“Saya membutuhkan suara mereka.”
“Kamu lebih membutuhkan kepercayaan rakyat.”
“Diego juga akan menolak,” kata Robles kemudian.
“Bukan Diego yang kamu takutkan.”
Javier menatapnya. “Kamu takut kepada ayahnya.”
Nama Gabriel Mendoza tidak perlu disebut lebih keras. Bayangannya seperti memenuhi seluruh perpustakaan. Mendoza memang tidak lagi duduk di Istana Libertad. Namun jaringannya telah berakar dalam kepolisian, kejaksaan, bea cukai, pemerintahan daerah, perusahaan negara, partai politik, dan dunia usaha. Bisnis ilegal membiayai kekuasaan. Kekuasaan kemudian melegalkan hasil bisnis ilegal. Uang gelap masuk ke perusahaan resmi, membiayai kampanye, membeli aparat, mengendalikan media, lalu kembali memperoleh konsesi negara. Itulah lingkaran state capture.
Demokrasi tetap menyelenggarakan pemilu. Parlemen tetap bersidang. Hakim tetap mengenakan jubah. Polisi tetap memakai seragam. Namun keputusan negara tidak lagi lahir dari kepentingan umum. Ia dibuat untuk melindungi orang-orang yang telah membeli sistem. Secara formal, negara masih berdiri. Secara moral, negara telah disewakan.
“Bagaimana memutus jaringan itu?” tanya Robles.
“Jangan mulai dari mengejar semua orang. Mulailah dengan membuat lembaga tidak lagi dapat dibeli.”
“Apakah itu cukup?”
“Jaringan bayangan tumbuh karena institusi resmi kehilangan kekuatan. Kalau lembaga audit bekerja, arus uang akan terlihat. Kalau otoritas pajak berani, kekayaan tanpa sumber dapat diperiksa. Kalau jaksa independen, perkara tidak dapat dihentikan melalui telepon. Kalau hakim bermartabat, uang kehilangan kemampuan membeli putusan.”
Javier menatap asap cerutunya. “Shadow economy bukan hanya kumpulan bisnis ilegal. Ia adalah bukti bahwa hukum resmi telah kalah dari jaringan kepercayaan pribadi. Orang menyuap polisi karena tidak percaya hukum akan melindunginya. Pengusaha membayar partai karena tidak percaya kompetisi berjalan adil. Pejabat menyimpan uang di luar negeri karena tidak percaya kekuasaan akan berlangsung selamanya.”
“Kalau institusi kuat?”
“Jaringan itu tidak langsung mati, tetapi kehilangan oksigen. Sistem perlahan kembali bertumpu pada hukum, bukan hubungan pribadi.”
Javier memandang Robles. “Santa Esperanza memiliki sumber daya alam besar dan jumlah penduduk yang banyak. Tetapi potensi bukanlah kekuatan. Minyak di dalam tanah, mineral di gunung, dan jutaan manusia hanya menjadi angka jika institusi gagal mengubahnya menjadi produktivitas.”
“Apa yang mengubah potensi menjadi kekuatan?”
“Kepastian hukum, pendidikan, riset, meritokrasi, serta kepercayaan.”
Ia tersenyum kecil. “Negara miskin bukan selalu negara yang kekurangan sumber daya. Sering kali ia hanya negara yang terlalu kaya untuk dikelola oleh institusi yang lemah.”
Robles berdiri dan berjalan perlahan di antara rak-rak buku. “Kalau rencana ini dilaksanakan, keadaan dapat berubah menjadi kacau. Partai mempunyai mesin sampai ke akar rumput. Mereka bisa menggerakkan massa.”
“Massa yang marah tetap rakyatmu. Jangan perlakukan mereka sebagai musuh.”
“Mereka dapat melakukan kekerasan.”
“Hadapi pelanggaran hukum dengan polisi yang profesional. Tentara hanya boleh dikerahkan bila terdapat ancaman bersenjata yang nyata dan sesuai konstitusi. Jangan pernah menggunakan militer untuk membungkam oposisi politik.”
Robles menoleh. “Tetapi saya panglima tertinggi angkatan bersenjata.”
“Itulah alasan kamu harus lebih berhati-hati.”
Javier mematikan cerutunya. “Hannah Arendt membedakan kekuasaan dengan kekerasan. Kekuasaan lahir dari persetujuan manusia untuk bertindak bersama. Kekerasan muncul ketika persetujuan itu hilang dan penguasa tidak lagi mampu meyakinkan.”
Ia mendekati Robles. “Semakin sering tentara digunakan menghadapi rakyat, semakin jelas bahwa pemerintah kehilangan kekuasaan moral.”
“Jadi saya harus membiarkan provokasi?”
“Tidak. Tegakkan hukum. Lindungi penyidik, saksi, kantor pengadilan, infrastruktur penting, dan masyarakat dari kekerasan. Tetapi jangan mengubah tentara menjadi polisi politik.”
“Bagaimana menghadapi propaganda partai?”
“Dengan data, transparansi, dan media yang bebas.”
“Media juga dapat dibeli.”
“Karena itu jangan hanya mengandalkan satu kanal. Buka data pemerintah kepada seluruh media. Biarkan wartawan, akademisi, dan masyarakat memeriksanya.”
Javier menatapnya tajam. “Pers bukan pasukanmu. Ia bukan kekuatan keempat yang harus diperintah menyerang lawan. Media harus tetap bebas, termasuk bebas mengkritikmu. Justru karena bebas, ia dapat membantu membongkar kebohongan partai dan kebohongan pemerintah.”
“Bagaimana jika kritik mereka tidak adil?”
“Jawab dengan bukti, bukan ancaman.”
“Berat.”
“Ya. Karena kamu sedang berusaha menyelamatkan institusi dari kehancuran akibat state capture.”
“Itu membutuhkan waktu.”
“Semua hal yang benar membutuhkan waktu.”
“Rakyat tidak sabar.”
“Rakyat menjadi tidak sabar karena pemimpin selalu menjanjikan hasil cepat. Setiap kampanye mengatakan kemiskinan akan hilang dalam lima tahun, lapangan kerja akan tercipta dalam hitungan bulan, dan korupsi akan selesai melalui satu dekret.”
Javier mengenakan kembali mantelnya. “Padahal membangun institusi seperti menanam pohon. Orang yang menanamnya mungkin tidak sempat duduk di bawah naungannya.”
“Masyarakat akan mengatakan saya gagal.”
“Mungkin.”
“Partai akan meninggalkan saya.”
“Mungkin.”
“Saya bisa kalah dalam pemilu berikutnya.”
“Itu juga mungkin.”
Robles memandang sahabatnya dengan getir. “Lalu apa gunanya semua ini bagi saya?”
Javier tersenyum sedih. “Pertanyaan itulah yang harus kamu buang.”
“Maksudmu?”
“Negara tidak didirikan agar berguna bagi presiden. Presiden dipilih agar berguna bagi negara.”
Keheningan kembali memenuhi perpustakaan. Javier berjalan menuju pintu, tetapi berhenti sebelum membukanya. “Mungkin kamu tidak akan dikenal sebagai presiden yang membangun seribu jembatan, bandara terbesar, istana termegah, atau ibu kota baru. Mungkin tidak ada gedung yang memakai namamu.”
Ia berbalik menghadap Robles. “Tetapi kamu dapat dikenang sebagai presiden yang mengembalikan negara kepada amanah. Presiden yang membuat hukum lebih kuat daripada keluarga, lembaga lebih kuat daripada partai, dan jabatan kembali menjadi alat pengabdian.”
“Sejarah tidak mengingat reformasi administrasi.”
“Sejarah mungkin tidak.”
Javier berjalan mendekat. “Tetapi anak yang dapat bersekolah karena pajak tidak dicuri akan merasakannya. Pengusaha kecil yang tidak perlu menyuap polisi akan merasakannya. Ibu yang memperoleh obat karena anggaran kesehatan tidak bocor akan merasakannya.”
Ia memegang bahu Robles. “Filsafat tidak selalu meminta kita dikenang. Kadang-kadang ia hanya meminta kita melakukan yang benar meskipun tidak seorang pun akan membangun patung untuk kita.”
Robles memandang lukisan dirinya yang tergantung di dinding. Dalam lukisan itu ia mengenakan seragam militer, berdiri tegak dengan dada membusung. Seorang pemimpin yang tampak yakin mempunyai jawaban atas semua persoalan.
“Lord Acton mengatakan kekuasaan cenderung merusak,” kata Javier. “Tetapi kerusakan tidak dimulai ketika seorang penguasa mencuri. Ia dimulai ketika penguasa percaya bahwa niat baiknya membuat ia tidak perlu dibatasi.”
Robles menunduk.
“Jangan terlalu ingin dikenang sejarah, Alejandro. Keinginan untuk abadi itulah yang membuat pemimpin membangun monumen bagi dirinya sendiri dan penjara bagi pengkritiknya.”
“Apa yang harus saya bangun?”
“Bangun sistem yang membuat negara tetap berjalan dengan baik meskipun kelak dipimpin oleh orang yang tidak sebaik dirimu.”
Robles tersenyum getir. “Kamu yakin saya orang baik?”
Javier membuka pintu. “Saya belum tahu.” Ia melangkah keluar, kemudian menoleh untuk terakhir kalinya. “Kebaikan seorang penguasa tidak dibuktikan oleh pidatonya, niatnya, atau banyaknya orang yang memujinya. Kebaikan itu dibuktikan ketika ia bersedia membatasi dirinya pada saat tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk membatasinya.”
***
Pintu perpustakaan tertutup perlahan. Javier telah pergi, meninggalkan Robles seorang diri di antara rak-rak buku dan kesunyian istana. Di luar, hujan kembali jatuh di atas San Aurelio, membasahi jalan-jalan yang pada siang hari dipenuhi pidato, tuntutan, dan janji politik. Untuk pertama kalinya sejak menjadi presiden, Robles tidak memikirkan bagaimana mempertahankan kekuasaan. Ia memikirkan perkara yang jauh lebih sulit: bagaimana menggunakan kekuasaan untuk membangun sebuah sistem yang kelak mampu berjalan tanpa dirinya.
Malam itu ia menyadari bahwa lawan terbesar seorang presiden bukan selalu oposisi, parlemen, pasar, ataupun jaringan gelap mantan penguasa. Lawan yang paling berbahaya justru bersemayam di dalam dirinya sendiri, keyakinan bahwa karena ia merasa benar, seluruh negara wajib tunduk kepada kehendaknya.
Kekuasaan selalu membisikkan godaan yang sama. Ia membuat seorang pemimpin menganggap dirinya identik dengan negara. Kritik lalu dipandang sebagai pengkhianatan, perbedaan dianggap pembangkangan, dan hukum perlahan diubah menjadi alat untuk membenarkan keinginan penguasa. Padahal negara tidak diselamatkan oleh pemimpin yang merasa paling kuat. Negara diselamatkan oleh pemimpin yang cukup kuat untuk membatasi dirinya sendiri. Sebab ukuran tertinggi kekuasaan bukanlah seberapa banyak kehendak yang dapat dipaksakan, melainkan seberapa besar godaan untuk menyalahgunakannya yang mampu ditolak.
Namun Robles juga memahami bahwa kesadaran pribadi seorang presiden tidaklah cukup. Niat baik dapat mati bersama pemiliknya. Hanya institusi yang kuat yang mampu mengubah niat baik menjadi tata kehidupan yang bertahan melampaui pergantian manusia. Reformasi kelembagaan tidak serta-merta mematikan jaringan Mendoza. Literatur tentang state capture mengajarkan bahwa jaringan semacam itu tidak hidup hanya melalui satu tokoh. Ia tumbuh menjadi ekosistem yang dipelihara oleh insentif, ketakutan, pembiayaan politik, hubungan bisnis, perlindungan aparat, serta kebiasaan memperlakukan hukum sebagai sesuatu yang dapat dinegosiasikan.
Mendoza mungkin telah meninggalkan istana, tetapi cara kerjanya masih hidup di dalam negara. Ia hidup pada pejabat yang menukar kewenangan dengan kesetiaan, pengusaha yang membeli peraturan, polisi yang melindungi pemberi upeti, hakim yang memperdagangkan putusan, dan partai yang menganggap jabatan publik sebagai pengembalian modal politik. Karena itu, mengganti pimpinan tanpa memperbaiki proses pengangkatan hanya akan mengganti faksi yang menikmati kekuasaan. Memenjarakan beberapa orang tanpa menutup aliran uang hanya akan menciptakan ruang bagi pemain baru. Mendirikan lembaga baru tanpa kewenangan, anggaran, transparansi, dan perlindungan hukum hanya akan menambah papan nama di gedung pemerintahan.
Robles mulai memahami perbedaan antara mengganti orang dan mengubah sistem. Mengganti orang dapat dilakukan melalui satu keputusan. Mengubah sistem membutuhkan keberanian untuk menghapus aturan yang selama ini menguntungkan kawan sendiri. Di situlah reformasi selalu diuji. Hampir semua orang mendukung pemberantasan korupsi selama yang ditangkap adalah lawan politiknya. Hampir semua partai berbicara tentang meritokrasi selama proses itu tidak menghalangi kadernya memperoleh jabatan. Hampir semua pengusaha meminta kepastian hukum selama hukum tersebut tidak menyentuh keuntungan yang diperoleh dari kedekatan dengan kekuasaan.
Negara tidak menjadi sehat karena satu pidato, satu keputusan presiden, atau satu operasi penangkapan. Negara mulai sembuh ketika kejujuran tidak lagi membutuhkan keberanian luar biasa karena sistem telah menjadikannya perilaku yang normal. Orang tidak perlu menjadi pahlawan hanya untuk menolak suap. Hakim tidak perlu mempertaruhkan keluarganya hanya untuk membuat putusan yang benar. Pegawai negeri tidak perlu kehilangan karier karena menaati peraturan. Itulah hakikat institusi: membuat kebaikan tidak bergantung pada kepahlawanan seseorang dan membuat kejahatan terlalu mahal untuk dilakukan siapa pun.
Namun orang-orang yang selama ini hidup dari penyakit negara tentu tidak menginginkan kesembuhan. Bagi mereka, polisi yang lemah adalah peluang. Hakim yang dapat dibeli adalah aset. Partai berbiaya mahal adalah investasi. Birokrasi yang rumit adalah pasar untuk menjual akses. Kemiskinan rakyat merupakan cadangan suara yang dapat ditukar dengan bantuan sesaat. Sementara presiden yang bergantung kepada koalisi adalah pintu masuk menuju seluruh sumber daya negara.
Robles akhirnya memahami mengapa reformasi selalu melahirkan perlawanan. Bukan karena semua manusia takut kepada perubahan. Sebagian orang melawan karena kekacauan adalah sumber pendapatan mereka. Ketidakpastian memberi mereka kuasa sebagai perantara. Kelemahan hukum membuat kedekatan lebih berharga daripada kemampuan. Kemiskinan membuat suara rakyat lebih mudah dibeli.
Bagi mereka, negara yang sakit bukanlah tragedi. Ia adalah model bisnis. Mereka tidak akan menyerah hanya karena seorang presiden tiba-tiba menemukan hati nuraninya. Mereka akan menggunakan parlemen untuk menghambat anggaran, media untuk merusak reputasi, birokrasi untuk memperlambat perintah, dan keresahan rakyat untuk menciptakan kesan bahwa reformasi adalah sumber kekacauan.
Pada saat itulah niat baik Robles akan diuji. Apakah ia benar-benar ingin membangun institusi, atau hanya ingin mengganti jaringan Mendoza dengan jaringan miliknya sendiri? Apakah ia bersedia menyerahkan kewenangan kepada lembaga yang suatu hari mungkin memeriksanya? Apakah ia tetap menghormati hukum ketika hukum tidak lagi menguntungkannya? Sebab reformasi yang hanya membatasi musuh bukanlah reformasi. Ia hanyalah perebutan kekuasaan yang memakai bahasa moral.
Robles berjalan menuju jendela. Dari sana, ia melihat lampu-lampu San Aurelio berpendar di balik hujan. Jutaan orang hidup di bawah cahaya itu tanpa pernah memasuki istana. Mereka tidak membutuhkan presiden yang selalu merasa benar. Mereka membutuhkan negara yang tetap berlaku adil, bahkan ketika presidennya keliru.
Malam itu Robles memahami tujuan terakhir dari kekuasaan: bukan membuat seorang pemimpin tidak tergantikan, melainkan membangun sistem yang tidak runtuh ketika pemimpin berganti. Ia mungkin dapat memenangi pemilu melalui popularitas. Ia dapat mempertahankan koalisi melalui pembagian jabatan. Ia bahkan dapat menundukkan lawan melalui aparat. Namun hanya dengan membatasi dirinya sendiri, ia dapat mengubah kekuasaan menjadi pengabdian.
Di luar, hujan terus turun. Robles masih berdiri sendirian. Akan tetapi, kesunyian itu tidak lagi terasa sebagai kekosongan. Di dalamnya tumbuh sebuah keputusan yang belum sempurna, tetapi mulai menemukan bentuknya. Besok ia harus memilih: tetap menjadi pusat dari negara yang lemah, atau perlahan membangun negara yang kuat meskipun kekuatannya sendiri menjadi terbatas. Dan Robles tahu, hanya pilihan kedua yang membuat seorang penguasa layak disebut negarawan..

Tinggalkan komentar