Kekuasaan yang tertutup.

Kota yang Dibangun untuk Dipandang

“Pihak kedutaan Korut sangat menghargai adanya rencana bantuan Housing Development program dari Lembaga Filantropi international  “ kata Chang. Kami duduk di sebuah ruang pribadi di lantai dua restoran tua di Beijing. Dari balik jendela, hujan tipis membasahi pepohonan di sepanjang Dongzhimen. Teh melati di hadapan Chang sudah lama kehilangan uap, tetapi ia belum menyentuhnya lagi sejak mengetahui rencana saya.

“ Anda yang minta saya mendapaktan fund itu. Dan saya sudah bekerja. Kini saatnya kita tuntaskan.”

“ Saya sudah baca standar compliance atas Fund itu. “ Kata Chang. “ Terlalu rumit bagi mereka. “ sambung Chang.

“ Kita harus berjuang agar yang rumit itu menjadi mudah bagi mereka. Saya yakin pemerintah korut tahu apa yang terbaik bagi rakyatnya” kata saya.

“ Dan karena itu anda sendiri harus ke Pyong Yang..” Kata Chang mengerutkan kening.

Saya mengangguk.

“ Korea Utara bukan tempat yang bisa didatangi seperti orang pergi ke Shanghai atau Hong Kong,” lanjutnya. “Itu salah satu negara paling tertutup di dunia. Sistem politiknya berpusat pada Partai Buruh Korea dan ideologi Juche yang diwariskan Kim Il-sung. Di sana, apa yang kamu lihat belum tentu kenyataan. Apa yang kamu dengar belum tentu boleh dipercaya.”

“ Biarkan saja tim CWDP yang kerjakan.”  Lanjut Chang terkesan agar saya tidak perlu terlalu paranoid.

“Saya harus tiba sebelum tim CWDP datang.” Kata saya tegas.

Chang menggeleng perlahan. “Justru karena itu kamu seharusnya masuk bersama rombongan resmi. Jadwal, kendaraan, hotel, dan orang-orang yang boleh ditemui sudah diatur. Kalau datang sendirian, setiap langkahmu akan diawasi.”

“Ingat, saya dapat mandate langsung dari lembaga filantropi international. Dan saya harus pastikan program mulia ini tidak masuk ke politik.”

“ Pyongyang setuju dengan bantuan dari Filantropi fund  berkat lobi kami lewat CWDP. Anda harus pahami hubungan kami dengan Pyongyang. “

Saya tersenyum tipis. Peringatan Chang tidak mengubah keputusan saya. Kunjungan itu terlalu penting untuk ditunda. CWDP sedang menyiapkan program pembiayaan perumahan bagi keluarga berpenghasilan rendah. Secara teknis, proyek tersebut tampak sederhana, yaitu membangun rumah, jaringan air, sanitasi, sekolah, dan fasilitas kesehatan dasar. Namun di Korea Utara, tidak ada proyek yang benar-benar sederhana.

Setiap dolar harus dapat dipastikan tidak mengalir kepada militer, perusahaan yang terkena pembatasan, atau kelompok elite yang bersembunyi di balik perusahaan negara. Harus ada rekening penampungan, daftar penerima manfaat, pengawasan konstruksi, audit pengadaan, serta hak bagi pemberi dana untuk menghentikan pencairan apabila terjadi penyimpangan. Bagi lembaga pembiayaan internasional, semua itu merupakan protokol kepatuhan. Bagi Pyongyang, itu dapat dianggap sebagai campur tangan terhadap kedaulatan.

Karena itulah saya harus datang secara informal. Sebelum meja perundingan dipenuhi dokumen, bendera, penerjemah, dan pejabat yang takut mengambil keputusan, saya ingin mengetahui satu hal, apakah mereka benar-benar menginginkan rumah bagi rakyat miskin, atau hanya membutuhkan uang untuk mempertahankan panggung kekuasaan.

“Baiklah,” kata Chang akhirnya. Ia mengembuskan napas panjang, seperti orang yang menyerah menghadapi kepala batu. “Saya akan mengatur jalan masukmu.”

“Saya tahu kamu bisa.”

“Tapi ingat,” katanya sambil menunjuk saya dengan telunjuk, “jangan pernah merasa sendirian hanya karena tidak melihat orang yang mengawasimu.”

Saya tertawa kecil. Chang tidak ikut tertawa. Ia mempunyai hubungan luas dengan pejabat dan elite partai di Pyongyang. Hubungan Korea Utara dengan Cina bukan sekadar hubungan dua negara bertetangga. Cina merupakan jalur perdagangan, pemasok energi, pelindung diplomatik, sekaligus pintu terakhir yang menghubungkan negeri itu dengan dunia luar.

Namun menurut Chang, kekuasaan di Pyongyang tidak sesederhana susunan jabatan yang tercetak dalam buku protokol. “Ada orang-orang yang namanya jarang muncul,” katanya. “Mereka bukan menteri, bukan jenderal yang sering berdiri di podium, tetapi suara mereka menentukan siapa yang mendapat rumah, jabatan, makanan, bahkan kesempatan untuk tetap hidup. Mereka menjaga hubungan dengan Beijing karena mereka tahu bahwa  tanpa Cina, negeri itu akan kehabisan napas.”

“Berarti mereka membutuhkan proyek kita.”

“Membutuhkan uangnya, mungkin. Belum tentu membutuhkan aturannya.”

Kalimat itu terus teringat oleh saya.

***

Pada suatu pagi tahun 2008, saya meninggalkan Beijing menuju Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning di timur laut Cina. Penerbangan berlangsung kurang dari dua jam. Dari udara, daratan di bawah tampak seperti hamparan abu-abu yang sesekali dipotong kawasan industri dan permukiman padat.

Seorang pria berjas gelap menunggu di pintu kedatangan. Tubuhnya kurus, rambutnya disisir rapi ke belakang. Ia memperkenalkan diri hanya sebagai Han. Tidak ada kartu nama. Tidak ada keterangan jabatan. Ia mengatakan bahwa dirinya bekerja untuk perwakilan Korea Utara dan mendapat pesan dari Chang untuk membantu pengurusan dokumen saya.

“Anda tinggal satu malam di Shenyang,” katanya dalam bahasa Mandarin. “Besok pagi kita berangkat ke Pyongyang.”

“Mengapa tidak langsung hari ini?”

Han tersenyum, tetapi matanya tetap dingin. “Di negara kami, bahkan sebuah kedatangan memerlukan persiapan.”

Saya ditempatkan di sebuah hotel tidak jauh dari kawasan konsulat. Paspor saya dibawa oleh Han. Ia berjanji akan mengembalikannya sebelum keberangkatan. Tidak ada tanda terima. Saya juga tidak bertanya.

Malam itu saya tidak banyak tidur.  Dari jendela kamar, saya memandang lampu-lampu kota Shenyang. Di seberang jalan terdapat restoran barbeku yang masih ramai hingga lewat tengah malam. Orang-orang keluar masuk sambil tertawa. Taksi berhenti dan berangkat silih berganti. Musik terdengar dari sebuah bar kecil di sudut jalan. Saya membayangkan bahwa hanya beberapa ratus kilometer dari sana terdapat negeri yang malamnya dikendalikan oleh izin, listrik, dan ketakutan.

Pagi berikutnya, Han datang membawa paspor dan selembar dokumen perjalanan. Dari Shenyang kami menaiki pesawat Air Koryo menuju Pyongyang. Pesawat itu buatan Rusia. Kabinnya tua, kursinya keras, dan suara mesinnya terdengar seperti logam yang dipaksa terus bekerja melewati batas usia. Sebagian besar penumpang adalah pria Korea Utara. Mereka mengenakan setelan jas berwarna gelap dengan pin merah di dada. Pada pin itu terdapat wajah Kim Il-sung.

Mereka duduk tegak dan berbicara dengan suara pelan. Tidak ada yang tertawa keras. Tidak ada penumpang yang melepas jas meskipun udara di dalam kabin terasa hangat. Dari sepatu, jam tangan, dan koper mereka, saya menduga mereka bukan rakyat biasa. Mereka adalah bagian dari lapisan masyarakat yang mendapatkan hak untuk bepergian—hak yang, di negeri mereka, merupakan bentuk kemewahan. Saya menyadari bahwa ketimpangan tidak selalu ditandai oleh mobil mahal atau rumah besar. Dalam negara tertutup, ketimpangan pertama-tama tampak dari siapa yang memiliki izin untuk meninggalkan negerinya.

Penerbangan berlangsung sekitar satu setengah jam. Ketika pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Sunan, langit Pyongyang terlihat pucat. Angin dingin menyambut begitu saya menuruni tangga pesawat. Bandara itu tidak ramai. Para petugas berdiri dalam posisi kaku, seolah setiap orang telah dilatih untuk bergerak dengan kecepatan dan arah yang sama.

Di ruang pemeriksaan, telepon seluler saya diminta. Seorang petugas memeriksa tas, dokumen, buku, dan setiap lembar kertas yang saya bawa. Ia membuka sebuah buku ekonomi berbahasa Inggris, membolak-balik halamannya, kemudian menyerahkannya kepada petugas lain. Mereka berbicara singkat sebelum akhirnya mengembalikannya.

Ketika keluar dari pintu kedatangan, saya melihat seorang wanita memegang papan bertuliskan nama saya. Usianya sekitar akhir dua puluhan. Ia mengenakan blazer abu-abu, rok berwarna gelap, dan sepatu tanpa hak tinggi. Rambutnya diikat rapi. Tidak ada perhiasan selain pin merah di dada. Saya melambaikan tangan. Ia membalas dengan senyum yang terukur.

“Nama saya Myung,” katanya dalam bahasa Inggris yang nyaris tanpa cela. “Saya ditugaskan mendampingi Anda selama berada di Pyongyang. Selamat datang di Republik Demokratik Rakyat Korea.”

“Terima kasih, Nona Myung.”

“Anda boleh memanggil saya Myung.”

Senyumnya ramah, tetapi saya segera memahami bahwa Myung bukan sekadar LO . Ia mengetahui jadwal saya, tujuan kunjungan, nama orang yang akan saya temui, bahkan makanan yang tidak saya sukai. Cara berdirinya terlalu tegak untuk seorang LO. Tatapannya juga terlalu terlatih untuk dianggap polos. Entah ia anggota militer, petugas intelijen, atau kader partai, saya tidak tahu. Barangkali ketiganya tidak perlu dibedakan di negeri itu.

Saya menginap di Hotel Sosan. Menurut ukuran Pyongyang, hotel itu cukup modern. Namun lorongnya panjang dan sunyi. Karpetnya menyimpan bau lembap. Di kamar tersedia televisi dengan beberapa saluran yang seluruhnya menyiarkan pidato, musik patriotik, berita pembangunan, atau film perjuangan. Chang sengaja tidak memilih hotel yang diklaim berbintang lima. “Hotel terlalu mewah dengan tamu terlalu sedikit adalah tempat terbaik untuk memasang telinga,” katanya sebelum saya berangkat.

Pertemuan pertama berlangsung di salah satu ruang konferensi hotel. Hadir tiga pejabat kementerian, dua wakil perusahaan konstruksi negara, seorang pejabat partai, dan beberapa penerjemah. Teh, buah, serta biskuit disusun dengan sangat rapi. Tidak seorang pun menyentuh makanan sebelum pejabat paling senior mengangkat cangkirnya.

Saya menjelaskan skema pembiayaan CWDP. Ini dana filantropi kemanusiaan. Dana tidak akan dicairkan sekaligus. Pembayaran dilakukan berdasarkan kemajuan proyek. Semua kontraktor harus melalui pemeriksaan. Pengadaan semen, baja, alat berat, dan sistem kelistrikan harus dicatat. Rumah yang dibangun harus diberikan kepada penerima yang telah disepakati, bukan kepada pejabat, tentara, atau keluarga elite. Mereka mendengarkan tanpa memotong.

Namun ketika saya menyebut hak auditor asing untuk mengunjungi lokasi, suasana berubah. “Pengawasan dapat dilakukan oleh mitra Cina,” kata seorang pejabat kementerian. “Tidak perlu melibatkan negara lain.”

“CWDP membutuhkan verifikasi independen.”

“Cina adalah pihak independen.”

Saya mengangguk berusaha memahami geopolitik Korut diantara kekuatan Barat dan China.

Penerjemah berhenti sesaat sebelum menerjemahkan kalimat saya. Myung melirik, seolah memperingatkan bahwa saya sedang berjalan terlalu jauh. Pejabat partai yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. “Tidak boleh ada perusahaan asing yang mengendalikan pembangunan. Semua pekerjaan harus dilakukan perusahaan Republik.”

“Kami tidak ingin mengendalikan,” jawab saya. “Kami hanya ingin memastikan rumah itu benar-benar dibangun dan benar-benar ditempati rakyat yang membutuhkan.”

“Pemerintah kami menjamin itu.”

“Pembiayaan internasional dibangun atas dasar standard compliance .”

Ruangan menjadi senyap. Saya dapat mendengar dengung pendingin udara dan bunyi sendok kecil ketika salah seorang penerjemah tanpa sengaja menyentuh pinggir cangkir.

Anehnya, perundingan tidak berlangsung lama. Setelah beberapa kali keluar-masuk ruangan untuk berkonsultasi, mereka menyetujui sebagian besar klausul. Pengawasan boleh dilakukan oleh tim Cina yang disetujui bersama. Dana akan ditempatkan dalam rekening khusus. Pencairan dilakukan bertahap. Bahan bangunan tidak boleh dialihkan kepada proyek militer. Daftar penerima rumah akan diperiksa melalui metode sampling. Mereka kemudian menandatangani pernyataan kepatuhan awal. Semua tampak terlalu mudah.

Ketika para pejabat meninggalkan ruangan, saya berkata kepada Myung, “Mereka menandatanganinya tanpa benar-benar memahami akibatnya.”

Myung merapikan dokumen di atas meja. “Mereka memahami bahwa proyek ini akan membangun rumah.”

“Mereka juga harus memahami bahwa uang bisa dihentikan.”

Ia menatap saya beberapa detik. “Di negara kami, keputusan untuk menghentikan sesuatu hanya dimiliki oleh negara.”

“Itulah masalahnya. Uang itu bukan milik negara Anda.” Untuk pertama kalinya, senyumnya benar-benar hilang.

Keesokan harinya saya dibawa melihat kawasan yang diusulkan sebagai lokasi pembangunan. Tanahnya luas, tidak jauh dari jalur transportasi, tetapi jaringan air dan listriknya belum memadai. Beberapa bangunan lama berdiri dalam keadaan kusam. Anak-anak bermain di antara dinding beton yang retak. Setiap kali saya mengarahkan pandangan terlalu lama kepada penduduk, Myung segera mengajak saya berpindah.

Dalam perjalanan pulang, ia menunjukkan wajah lain Pyongyang. Jalan-jalannya lebar dan bersih. Monumen-monumen berdiri megah. Bangunan pemerintah dirancang untuk membuat manusia yang berdiri di hadapannya merasa kecil. Beberapa gedung tua dicat dengan warna merah muda, hijau pucat, dan biru langit. Dari kejauhan, kota itu tampak seperti sebuah maket besar—rapi, simetris, dan nyaris tanpa kekacauan. Namun keindahan itu terasa ganjil.

Jalan terlalu lebar untuk kendaraan yang begitu sedikit. Trotoar terlalu bersih untuk kota berpenduduk besar. Etalase toko dihias rapi, tetapi hampir tidak ada pembeli. Di sebuah pusat perbelanjaan, para pramuniaga berdiri tegak di belakang meja, menanti orang yang tidak kunjung datang.

Pyongyang bukan sekadar ibu kota. Ia adalah ruang pamer. Negara membangun kota itu bukan hanya untuk ditinggali, melainkan untuk dipandang. Myung membawa saya ke Bukit Mansudae. Pada masa itu, patung perunggu Kim Il-sung berdiri sendiri menjulang di hadapan kami. Myung membeli bunga dan meminta saya meletakkannya di kaki patung.

“Apakah ini wajib?” tanya saya.

“Ini bentuk penghormatan.”

“Penghormatan yang wajib bukan lagi penghormatan.”

Ia menatap saya dengan gelisah. “Tolong jangan mengatakan itu kepada orang lain.”

Saya akhirnya meletakkan bunga. Bukan untuk memuja patung itu, melainkan untuk menghormati Myung yang akan menanggung akibat apabila saya menolak. Di dekat pusat kota, kami melihat Arch of Triumph—monumen yang dibangun untuk mengenang perjuangan Korea melawan pendudukan Jepang. Myung menceritakan sejarahnya dengan kalimat yang sangat lancar. Setiap tahun, nama, dan peristiwa disebutkannya tanpa ragu.

“Apakah kamu menghafalkan semua itu?” tanya saya.

“Kami mempelajarinya sejak kecil.”

“Apakah ada versi sejarah lain?”

Ia terdiam.

“Kebenaran hanya mempunyai satu versi.” Katanya kemudian.

“Biasanya orang yang berkuasa mengatakan demikian.”

Myung tidak menjawab lagi.

Kami kemudian mengunjungi Lapangan Kim Il-sung. Alun-alun itu luas, tetapi siang itu hampir kosong. Saya membayangkan ribuan manusia berbaris membawa bendera, bergerak serempak membentuk simbol dan slogan. Dari layar televisi, pemandangan seperti itu terlihat megah. Namun ketika berdiri di sana dalam kesunyian, saya justru merasakan kehampaan. Kekuasaan sangat menyukai kerumunan yang bergerak seragam. Di dalam keseragaman, manusia kehilangan wajah. Ketika wajah lenyap, penderitaan pun mudah disembunyikan.

Pada hari berikutnya kami menuju Panmunjom dan Joint Security Area di Zona Demiliterisasi. Sepanjang perjalanan, seorang perwira menjelaskan sejarah perang dari sudut pandang negaranya. Di hadapan peta besar, ia menyebut serangan, pengkhianatan, kemenangan, dan keberanian para pemimpin revolusi. Saya mendengarkan tanpa membantah.

DMZ membentang sepanjang semenanjung seperti luka yang sengaja dipelihara agar tidak pernah benar-benar sembuh. Di satu sisi berdiri bangsa Korea yang menyebut dirinya sosialis. Di sisi lain berdiri bangsa Korea yang tumbuh bersama pasar dan demokrasi. Bahasa mereka sama, nenek moyang mereka sama, tetapi sejarah telah mengubah saudara menjadi ancaman.

Saya berdiri di dalam salah satu bangunan pertemuan yang melintasi garis batas. “Jadi, sekarang saya berada di Korea Selatan?” tanya saya ketika melangkah ke sisi lain meja.

Perwira itu tidak tersenyum. “Anda masih berada di bawah perlindungan kami.” Kalimat itu sederhana, tetapi menjelaskan watak kekuasaan di negeri tersebut,  bahkan garis di lantai harus tunduk kepada tafsir negara.

Yang paling mengesankan justru kereta bawah tanah Pyongyang. Stasiunnya dibangun jauh di bawah tanah, dengan pilar-pilar besar, lampu gantung, mosaik perjuangan, dan lukisan rakyat yang menatap masa depan dengan wajah penuh keyakinan. Gerbongnya padat. Para pekerja, pelajar, tentara, dan ibu rumah tangga berdiri berdampingan. Sebagian besar penduduk mengandalkan angkutan umum.

Kendaraan pribadi hanya dimiliki orang yang benar-benar kaya atau dekat dengan pusat kekuasaan. Di trotoar, orang-orang berjalan dengan tenang. Tidak ada langkah tergesa-gesa seperti di Tokyo atau Hong Kong. Pakaian mereka konservatif. Warna-warna gelap mendominasi jalan. Hampir tidak terlihat wanita dengan busana mencolok.

Namun semakin lama saya berada di sana, semakin saya memahami bahwa ketenangan tidak selalu berarti kedamaian. Orang dapat berjalan perlahan karena tidak mempunyai alasan untuk terburu-buru. Mereka tidak sedang mengejar peluang. Mereka hanya sedang menjalankan hari yang telah ditentukan.

Para pejabat berulang kali mengatakan bahwa Pyongyang merupakan bukti keberhasilan pembangunan. Mereka menunjukkan gedung, rumah sakit, taman, pusat hiburan, dan stasiun kereta bawah tanah. Akan tetapi, pusat perbelanjaannya sepi. Tempat wisatanya bersih tetapi nyaris tanpa pengunjung. Restorannya mempunyai banyak meja kosong. Pada malam hari, sebagian kota tenggelam dalam kegelapan.

Gedung-gedung tinggi berdiri seperti dekorasi panggung setelah pertunjukan selesai. Di balik semua kemegahan itu, saya merasakan adanya negeri lain yang tidak diperlihatkan kepada saya, desa-desa yang kekurangan pangan, rumah-rumah tanpa pemanas, anak-anak yang pertumbuhannya terganggu, dan keluarga yang hidup jauh dari kemewahan ibu kota. Mungkin bukan hanya Korut tetapi itu juga penyakit sebagian besar negara berkembang.

Pyongyang adalah teater besar. Para pejabat menjadi pemain. Rakyat menjadi penonton yang diwajibkan bertepuk tangan. Sementara pemimpin berdiri di tengah panggung, dikelilingi cahaya yang begitu terang hingga ia tidak lagi dapat melihat kegelapan di luar lingkaran kekuasaannya.

Menurut Chang, bahaya terbesar sebuah rezim bukan hanya kekejaman pemimpinnya, melainkan sistem yang membuat pemimpin kehilangan hubungan dengan kenyataan.

“Orang-orang di sekelilingnya hanya membawa kabar baik,” kata Chang sebelum saya berangkat. “Buku disaring. Informasi dipotong. Kritik dianggap pengkhianatan. Sejak muda, seorang pewaris kekuasaan diajari bahwa dirinya tidak boleh salah. Lama-kelamaan ia tidak lagi membutuhkan kebenaran. Ia hanya membutuhkan pemujaan.”

Saat itu Kim Jong-il memimpin negeri tersebut. Kim Il-sung, ayahnya yang telah meninggal, tetap hidup di setiap patung, poster, lagu, sekolah, dan ruang publik. Kekuasaan bahkan mencoba mengalahkan kematian dengan menjadikan seseorang abadi di dalam ingatan yang diwajibkan.

Saya mulai memahami bahwa kultus individu bukan semata-mata soal banyaknya gambar seorang pemimpin. Ia adalah sistem ekonomi tersendiri. Negara menghabiskan tenaga, material, dan anggaran untuk memelihara mitos. Rumah, rumah sakit, bantuan pangan, dan fasilitas publik tidak lagi diperlakukan sebagai hak rakyat, melainkan hadiah pemimpin yang harus dibalas dengan kesetiaan. Ketika bantuan sosial berubah menjadi alat pemujaan, rakyat bukan lagi warga negara. Mereka menjadi penerima belas kasihan dari kekuasaan yang seharusnya melayani mereka.

Lima hari berlalu. Pada malam terakhir, saya berdiri di depan jendela kamar Hotel Sosan. Pyongyang terbentang di bawah langit gelap. Hanya beberapa bangunan yang bermandikan cahaya. Di kejauhan, sebuah slogan berwarna merah menyala di sisi gedung. Kota itu ingin terlihat kuat, tetapi kesunyian malam membocorkan kerapuhannya.

Saya teringat semua yang diperlihatkan kepada saya, patung raksasa, jalan lebar, stasiun megah, gedung tinggi, dan wajah pemimpin di setiap sudut. Namun yang paling lama tinggal dalam ingatan saya justru hal-hal kecil—mata seorang pramuniaga yang menunggu pembeli, tangan anak kecil yang menggenggam roti, serta perubahan wajah Myung setiap kali saya mengajukan pertanyaan yang tidak boleh dijawab.

Myung cantik. Kulitnya putih dan wajahnya lembut. Namun bukan kecantikannya yang membuat saya tertarik. Ada kehidupan lain yang sesekali muncul dari balik kedisiplinannya: rasa ingin tahu yang segera ditekan, senyum yang cepat disembunyikan, dan kesedihan yang tidak mempunyai bahasa.

Di bandara, sebelum keberangkatan, ia mengembalikan telepon dan dokumen saya. “Semua sudah lengkap,” katanya.

Saya menyerahkan sebuah amplop kepadanya. Ia menerimanya dengan ragu. Setelah melihat isinya, wajahnya berubah. Di dalam amplop itu terdapat sepuluh ribu yuan. “Seumur hidup, saya mungkin tidak akan dapat menabung sebanyak ini,” katanya lirih.

“Simpanlah.”

Ia segera menutup amplop dan memasukkannya ke dalam tas. Matanya berkaca-kaca. “Kalau mereka mengetahui ini, saya bisa mendapat masalah.”

“Kalau begitu jangan beri tahu siapa pun.”

“Apakah Anda akan kembali?”

Saya memandangnya. Selama lima hari, ia selalu berdiri sebagai LO yang sempurna—sopan, tertib, dan waspada. Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, saya melihat Myung sebagai seorang wanita biasa yang ingin mengetahui apakah perpisahan benar-benar berarti akhir. “Saya tidak tahu.”

Air matanya jatuh.

“Saya akan selalu merindukan Anda,” bisiknya.

Saya ingin menghiburnya. Ingin mengatakan bahwa saya akan kembali, mengirim surat, atau suatu hari membawanya melihat dunia di luar negeri yang dibangun dari larangan. Namun saya tidak ingin memberikan harapan yang tidak mungkin saya tepati. Di negara seperti Korea Utara, janji bukan sekadar kata-kata. Janji dapat menjadi pintu menuju penantian yang tidak pernah selesai.

Saya hanya menggenggam tangannya sebentar. “Jaga dirimu, Myung.”

Panggilan keberangkatan terdengar. Saya melangkah menuju pemeriksaan imigrasi tanpa berani menoleh terlalu cepat. Ketika akhirnya menoleh, ia masih berdiri di tempat yang sama, memeluk tasnya dengan kedua tangan. Saya teringat lagu Teresa Teng, Ni Zenme Shuo—lagu tentang seseorang yang meminta penjelasan setelah janji cinta tidak pernah ditepati. Saya tidak ingin lagu itu menjadi kisah kami. Karena itu saya memilih pergi tanpa berjanji.

Namun sepanjang penerbangan kembali ke Cina, wajah Myung terus terbayang di jendela pesawat. Di bawah sana, Pyongyang perlahan menghilang ditelan awan—sebuah kota yang dibangun untuk dipandang, sebuah negeri yang dipaksa mempercayai panggungnya sendiri, dan seorang wanita yang untuk sesaat berani menangis di luar naskah yang telah ditentukan negara.

Ambisi dan Para Pemangsa

Pesawat mendarat di Beijing menjelang sore. Dari balik jendela, saya melihat deretan lampu landasan yang menyala di bawah langit kelabu. Setelah lima hari berada di negeri yang segala sesuatunya diatur—mulai dari tempat yang boleh saya kunjungi hingga arah pandangan ketika berdiri di depan patung pemimpin—keramaian Bandar Udara Internasional Beijing terasa seperti kebebasan.

Orang-orang berjalan tergesa-gesa sambil menarik koper. Telepon berdering. Anak-anak berlari mendahului orang tuanya. Para penjemput mengangkat papan nama. Suara pengumuman bersahutan dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Kekacauan kecil itu terasa melegakan. Di Pyongyang, ketertiban lahir dari ketakutan. Di Beijing, ketertiban tumbuh di tengah manusia yang sibuk mengejar kepentingannya masing-masing. Keduanya sama-sama dikendalikan negara, tetapi mempunyai napas yang berbeda.

Chang menunggu di dekat pintu kedatangan internasional. Ia mengenakan mantel hitam panjang dengan syal berwarna abu-abu. Ketika melihat saya, ia tersenyum sambil mengangkat tangan.

“Saya dengar misi Anda berhasil.”

Ia menerima koper kecil saya, lalu menyerahkannya kepada seorang pria yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Berhasil mendapatkan tanda tangan,” jawab saya. “Belum tentu berhasil mendapatkan kepatuhan.”

Chang tertawa pelan. “Itulah jawaban orang yang mengerti perundingan. Bagi pejabat, tanda tangan adalah akhir pekerjaan. Bagi orang yang menyediakan uang, tanda tangan justru awal dari masalah.”

Kami berjalan menuju sebuah sedan hitam yang telah menunggu di jalur penjemputan. Sopir membukakan pintu. Chang mempersilakan saya masuk lebih dahulu, kemudian duduk di sebelah saya. Begitu kendaraan meninggalkan bandara, ia menoleh. “Jadi, apa kesan Anda terhadap Pyongyang?”

Saya memandang keluar jendela. Jalan raya menuju pusat Beijing dipenuhi kendaraan. Lampu kota mulai menyala satu demi satu. Billboard perusahaan telekomunikasi, bank, apartemen, dan merek-merek asing berdiri sepanjang jalan. Cina juga negara satu partai, tetapi uang telah memberikan warna berbeda pada wajah sosialismenya.

“Pembangunan fisiknya boleh dikatakan berhasil,” jawab saya. “Jalan lebar, monumen besar, kereta bawah tanah, gedung tinggi. Semuanya dibangun agar terlihat mengesankan. Tetapi kemegahan itu terasa kosong.”

“Kosong dalam arti apa?”

“Mereka membangun kota, tetapi tidak membangun peradaban.”

“ Pendapat anda itu berangkat dari persepsi yang berbeda  tentang politik kekuasaan.” Kata Chang tersenyum.

“Peradaban bukan sekadar beton, baja, dan gedung tinggi. Peradaban lahir ketika manusia bebas bertanya, membaca, mencipta, mengoreksi kekuasaan, dan menentukan masa depannya. Di sana, segala sesuatu sudah mempunyai jawaban sebelum pertanyaan diajukan.” Kata saya beargument.

Saya teringat kepada Myung. Wajahnya muncul sekejap dalam ingatan—terutama tatapannya ketika saya bertanya apakah sejarah mempunyai versi lain.

“Politik isolasi bukan hanya cara menutup negara dari pengaruh asing,” lanjut saya. “Itu cara penguasa memperoleh kekuasaan mutlak atas rakyat. Kalau rakyat tidak mengetahui dunia di luar tembok, mereka tidak mempunyai pembanding. Kalau tidak mempunyai pembanding, kemiskinan dapat disebut pengorbanan. Ketakutan bisa disebut kesetiaan. Kegagalan pemerintah dapat disalahkan kepada musuh asing.”

Chang mengangguk perlahan. “Korut sedang berperang dengan Barat. Di sebelahnya ada proxy AS yang mengancam mereka. Maklumi itu.”

“Saya tidak bicara soal geopolitik. Ini masalah transafaransi dan meritokrasi. China hebat karena itu. Mengapa mereka tidak tiru?

“ Dalam kondisi negara terancam, mereka harus waspada dari segala hal, termasuk dari internal. Informasi yang terbuka terhadap dunia luar bisa jadi perbandingan. Dan perbandingan melahirkan pertanyaan,” sambung Chang.

“Lalu pertanyaan melahirkan perlawanan.”

Chang tersenyum. “Sekarang Anda mengerti mengapa buku lebih ditakuti daripada senjata.”

Kendaraan terus melaju. Hujan tipis turun, meninggalkan garis-garis air pada kaca. Di kejauhan, gedung-gedung Beijing berdiri di balik kabut dan asap.

“Korut sebagaimana negara berkembang lainnya. Mereka terjebak penyakit mental yang sama,” kata Chang kemudian. “Pemimpin dan para elite meracuni anak-anak mereka dengan kemewahan, rasa paling berhak, dan kegilaan untuk dipuji. Anak-anak itu tumbuh tanpa pernah mendengar kata tidak. Kelak mereka melanjutkan kekuasaan dengan cara yang sama. Itulah politik dinasti. Bukan hanya jabatan yang diwariskan, tetapi juga ketakutan, kebohongan, dan musuh-musuh yang diperlukan untuk menjaga keluarga tetap berkuasa.”

“Negara itu tidak akan bergerak ke mana-mana.”

“Mungkin bergerak,” jawab Chang, “tetapi hanya berputar mengelilingi keluarga yang sama.”

Kalimat itu membuat saya tersentak. Bukan karena saya tidak memahami politik dinasti, melainkan karena satu kata yang disebut Chang: ambisi.

Selama ini saya tidak pernah menganggap ambisi sebagai penyakit. Justru ambisilah yang sering menyelamatkan manusia dari nasib buruk. Orang yang lahir miskin dapat bertahan karena mempunyai ambisi untuk mengubah kehidupan. Anak yang tidak mempunyai hubungan dengan elite belajar lebih keras karena ingin membuktikan dirinya. Bangsa yang tertinggal membangun sekolah, laboratorium, industri, dan teknologi karena berambisi mengejar kemajuan.

Ambisi membuat seseorang tidak selalu membutuhkan dorongan dari luar. Ia tidak menunggu keadaan memaksanya bergerak. Ada api di dalam dirinya yang membuat ia terus belajar, bekerja, dan melampaui hambatan. Salah satu hal menakjubkan dari manusia yang memiliki ambisi adalah optimismenya. Ia percaya masa depan dapat diubah. Kepercayaan itu bisa lahir dari pengetahuan, pengalaman, rasa percaya diri, atau keyakinan spiritual bahwa kehidupan tidak boleh disia-siakan.

Namun saya kemudian menyadari bahwa terdapat perbedaan antara manusia yang memiliki ambisi dan manusia yang ambisius. Orang yang memiliki ambisi mengetahui tujuan, memahami batas, dan bersedia membayar keberhasilan dengan kerja keras. Ia membangun kemampuan agar layak mencapai sesuatu. Semakin tinggi ia naik, semakin besar kesadarannya bahwa keberhasilan tidak mungkin dibangun sendirian.

Sebaliknya, orang ambisius hanya mengenal keinginan. Ia tidak bertanya apakah dirinya mempunyai pengetahuan yang cukup. Ia tidak peduli apakah jalannya benar. Ia hanya ingin sampai, lalu mencari siapa pun yang bersedia membenarkan langkahnya. Ia mencintai pujian karena pujian membuatnya merasa mampu tanpa perlu membuktikan kemampuan. Ambisi yang sehat bertanya: Apa yang harus saya pelajari agar layak memimpin? Ambisius bertanya: Siapa yang harus saya singkirkan agar saya tetap memimpin?

Ambisi yang disertai pengetahuan melahirkan pencapaian. Ambisi yang dituntun nilai spiritual melahirkan pengabdian. Namun ambisi tanpa ilmu dan moral hanya melahirkan keserakahan yang diberi nama cita-cita.

Saya menoleh kepada Chang. “Jadi, masalah mereka bukan karena mempunyai ambisi.”

Chang mengangkat alis.

“Masalahnya karena mereka ambisius,” lanjut saya. “Mereka ingin berkuasa, tetapi tidak mau belajar. Ingin dianggap hebat, tetapi sains malah dipunggungi. Kekuasaan harusnya dibangun lewat produktifitas, bukan dengan kekuatan militer dan senjata nuklir.”

Chang tersenyum. Kami bersahabat lama. Tahun 96 world bank mengadakan program short course tentang project financing and development. Peserta kursus dari berbagai negara. Saat itulah kali pertama kami berkenalan dan terus berlanjut sampai sekarang.

Beijing sedang berbenah menjelang Olimpiade. Stadion, jalan raya, bandara, dan jaringan kereta dibangun dengan kecepatan luar biasa. Pemerintah Cina ingin menunjukkan kebangkitan sebuah bangsa yang selama lebih dari satu abad merasa direndahkan kekuatan asing. Di Korea Utara, pemujaan dilakukan terhadap seorang pemimpin. Di Cina, pemujaan diarahkan kepada negara. Bentuknya berbeda, tetapi keduanya memahami fungsi kebanggaan nasional, ia dapat menjadi energi pembangunan, tetapi juga tirai untuk menutupi hak-hak yang dirampas.

“Bukankah Beijing juga memanfaatkan Pyongyang?” tanya saya.

Chang tidak segera menjawab.

“Semua negara memanfaatkan negara lain.”

“Tetapi Korea Utara bergantung kepada Cina untuk pangan, energi, perdagangan, dan perlindungan politik. Para pemimpinnya berbicara tentang kemandirian, sementara hidupnya bergantung pada bantuan Beijing. Bukankah itu kemunafikan?”

“Dalam politik, membungkuk bukan masalah selama dilakukan di ruangan tertutup.”

“Lalu setelah keluar dari ruangan, mereka kembali berdiri tegak di hadapan rakyat.”

“Karena rakyat hanya melihat pertunjukannya.”

Jawaban Chang begitu dingin sehingga saya tidak segera menanggapinya. Saya memandang lelaki yang duduk di sebelah saya. Ia berbicara tentang Korea Utara seolah sedang membicarakan sebuah perusahaan yang terlalu bergantung kepada satu kreditur. Tidak ada rasa iba. Tidak ada kemarahan. Hanya analisis mengenai siapa membutuhkan siapa, siapa melindungi siapa, dan berapa harga yang harus dibayar agar sebuah rezim tetap bertahan.

Saat itulah saya memahami kedudukan Chang yang sebenarnya. Ia bukan sekadar pengusaha yang punya akses kepada pejabat partai. Chang merupakan bagian dari cara Beijing bekerja di kawasan itu. Cina tidak perlu menduduki Korea Utara. Tidak perlu mengganti benderanya atau menempatkan gubernur di Pyongyang. Beijing cukup memastikan bahwa bahan bakar, makanan, perdagangan, dan perlindungan diplomatik mengalir melalui pintu yang dapat dibuka atau ditutupnya.

Kekuasaan paling efektif bukanlah ketika orang lain dipaksa berlutut. Kekuasaan paling efektif adalah ketika orang lain berdiri tegak, mengibarkan benderanya sendiri, menyanyikan lagu kebangsaannya, tetapi tidak dapat mengambil keputusan penting tanpa mempertimbangkan kehendak kita.

Saya melirik Chang. Lelaki di sebelah saya inilah predator yang sesungguhnya. Namun ia bukan predator yang menerkam buruannya dengan gigi terbuka. Ia menyediakan makanan, perlindungan, dan jalan keluar. Setelah ketergantungan terbentuk, ia tidak perlu lagi mengancam. Buruannya akan datang sendiri setiap kali dipanggil.

Seolah mengetahui isi pikiran saya, Chang tersenyum. “Mengapa memandang saya seperti itu?”

“Saya baru menyadari sesuatu.”

“Apa?”

“Para elite Korea Utara hanya tampak menakutkan di hadapan rakyatnya.”

Chang tertawa kecil. “Lalu?”

“Di hadapan Beijing, mereka hanyalah orang-orang yang sedang mempertahankan tunjangan hidup.”

Senyum Chang perlahan menghilang. Ia merapikan syal di lehernya, lalu memandang ke depan. “Anda terlalu keras menilai mereka.”

“Bukankah itu kenyataannya?”

“Mungkin. Tetapi jangan pernah meremehkan orang yang terdesak. Anjing yang diberi makan akan mengikuti pemiliknya. Namun anjing yang takut makanannya dihentikan dapat menggigit tangan yang selama ini memberinya makan.”

“Itu peringatan?”

“Itu pelajaran politik.”

Kami terdiam beberapa saat. Saya teringat kembali kepada proyek perumahan. Para pejabat Pyongyang bersedia menerima pengawasan Cina, tetapi menolak auditor dari negara lain. Semula saya menganggapnya sebagai bentuk kepercayaan ideologis. Kini saya memahami bahwa persoalannya jauh lebih dalam. Mereka tidak memilih Cina karena percaya. Mereka memilih Cina karena telah terbiasa bergantung.

“Jadi, tanda tangan yang saya dapatkan bukan karena mereka menerima standar kita,” kata saya.

“Tentu bukan.”

“Mereka menandatangani karena Cina berada di belakang proyek itu.”

Chang mengangguk.

“Kalau begitu, siapa sebenarnya yang akan mengendalikan proyek tersebut? CWDP, pemerintah Korea Utara, atau Beijing?”

“Bukankah hasil akhirnya sama? Rakyat memperoleh rumah.”

“Tidak selalu. Cara menentukan hasil.”

Chang menoleh kepada saya. “Bagi orang miskin yang kehujanan, ia tidak akan bertanya apakah atap rumahnya dibangun oleh demokrasi, sosialisme, atau kepentingan geopolitik. Ia hanya ingin keluarganya tidak kedinginan.”

“Itu benar. Tetapi kalau rumah diberikan atas nama kemurahan hati pemimpin, rakyat akan dipaksa membayar dengan kesetiaan.”

“Apakah kesetiaan terlalu mahal dibandingkan sebuah rumah?”

“Kalau kesetiaan itu merampas hak mereka untuk berpikir, harganya terlalu mahal.”

Chang kembali tersenyum, kali ini dengan nada hampir mengejek. “Anda selalu membawa moral ke dalam bisnis.”

“Karena uang tanpa moral hanya akan memperpanjang umur penindasan.”

“Dan moral tanpa uang hanya menjadi pidato.”

Saya tidak membantah. Chang benar, tetapi kebenarannya tidak lengkap.Uang memang diperlukan untuk membangun rumah. Namun uang juga dapat membangun penjara yang lebih indah. Ia dapat membeli obat bagi rakyat, sekaligus memperkuat pemerintah yang membuat rakyat bergantung pada obat itu. Ia dapat menjadi alat pembebasan atau rantai, tergantung siapa yang menguasai alirannya.

Karena itulah kepatuhan bukan sekadar urusan dokumen. Audit bukan hanya soal angka. Transparansi bukan sekadar persyaratan lembaga pembiayaan. Semua itu adalah upaya memastikan bahwa uang tidak berubah menjadi makanan bagi kekuasaan yang rakus.

Mobil memasuki pusat kota. Lampu-lampu Beijing memantul pada jalanan yang basah. Chang mengatakan bahwa ia telah menyiapkan kamar untuk saya di sebuah hotel dekat kawasan Chaoyang. “Beristirahatlah malam ini,” katanya. “Besok kita membicarakan struktur pencairan dana.”

“Besok saya ingin melihat daftar perusahaan konstruksi yang mereka ajukan.”

“Itu perusahaan negara.”

“Justru karena itu saya ingin melihat siapa yang mengendalikannya.”

Chang menatap saya cukup lama. “Di Korea Utara, mencari pemilik sebenarnya dari sebuah perusahaan negara sama seperti mencari bayangan di ruangan gelap.”

“Kalau begitu kita nyalakan lampunya.”

“Dan kalau orang di dalam ruangan tidak ingin terlihat?”

“Kita jangan berikan uang.”

Kendaraan berhenti di depan hotel. Petugas segera membuka pintu. Sebelum saya turun, Chang menahan lengan saya. “Ada satu hal lagi.”

Saya kembali duduk. “Perempuan yang mendampingi Anda di Pyongyang,” katanya. “Myung.”

Jantung saya seakan berhenti sesaat. “Kenapa dengannya?”

“Anda memberikan sesuatu kepadanya?”

Saya menatap Chang. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya telah berubah. Saya tidak tahu apakah ia sedang bertanya atau menguji. “Hanya tanda terima kasih.”

“Berapa?”

“Itu urusan pribadi.”

“Di Pyongyang,” kata Chang pelan, “tidak ada urusan pribadi.”

Saya teringat amplop berisi sepuluh ribu yuan. Air mata Myung. Tangannya yang bergetar ketika menyimpan uang itu ke dalam tas.

“Apakah dia mendapat masalah?”

Chang tidak segera menjawab. Ia memandang hujan di luar jendela, seakan sedang mempertimbangkan berapa banyak kebenaran yang layak saya ketahui. “Belum,” katanya akhirnya.

“Belum?”

“Uang dalam jumlah sebesar itu dapat mengubah hidup seseorang. Namun di negara tertutup, perubahan hidup selalu mengundang pertanyaan.”

“Kalau ada risiko, seharusnya kamu memperingatkan saya sejak awal.”

“Saya sudah memperingatkan agar Anda tidak pergi sendirian.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

“Bantu dia,” kata saya.

“Untuk apa?”

“Pastikan dia tidak dihukum.”

Chang menatap saya tanpa ekspresi. “Sekarang Anda meminta predator melindungi rusa kecil yang telah Anda beri makan.”

“Berapa biayanya?”

Ia tersenyum tipis. “Itulah masalah orang seperti Anda. Anda percaya semua hal dapat diselesaikan dengan harga.”

“Dan orang seperti kamu percaya semua orang mempunyai harga.”

“Bukankah Anda baru saja membuktikannya?”

Saya terdiam.

Chang membuka pintu mobil dari sisinya. “Beristirahatlah,” katanya. “Besok kita bicarakan proyek. “

Ia turun lebih dahulu, kemudian berjalan menuju mobil lain yang menunggu di belakang kami. Saya berdiri di bawah kanopi hotel sambil memperhatikan kendaraannya menghilang di antara lalu lintas Beijing. Saat itu saya memahami bahwa kepulangan saya dari Pyongyang tidak mengakhiri apa pun. Saya telah membawa pulang dokumen kepatuhan dan janji pembangunan ribuan rumah. Namun saya mungkin juga meninggalkan seorang wanita dalam bahaya hanya karena ingin menunjukkan kemurahan hati.

Ambisi saya adalah memastikan proyek itu berhasil. Ambisi para elite Pyongyang adalah mempertahankan kekuasaan. Ambisi Beijing adalah menjaga Korea Utara tetap bergantung. Kami semua menyebut tujuan masing-masing sebagai sesuatu yang baik. Barangkali begitulah ambisi mulai berubah menjadi kejahatan, bukan ketika manusia berhenti berbicara tentang kebaikan, melainkan ketika ia memakai nama kebaikan untuk membenarkan segala cara.

Malam itu, di kamar hotel, saya tidak memikirkan proyek, uang, atau tanda tangan para pejabat. Saya hanya memikirkan satu kalimat Chang, Di Pyongyang, tidak ada urusan pribadi.

Jalan Kecil bagi Kemanusiaan

Kesepakatan awal di Pyongyang ternyata hanya pintu masuk. Di atas kertas, para pejabat Korea Utara telah menerima prinsip dasar pembiayaan. Mereka menyetujui rekening khusus, pencairan bertahap, pengawasan material, dan larangan penggunaan dana untuk kepentingan militer. Namun ketika rancangan program yang lebih lengkap diajukan, perundingan kembali menemui jalan buntu.

Bagi CWDP, pembangunan rumah tidak boleh berhenti pada pendirian tembok dan pemasangan atap. Perumahan bagi rakyat miskin harus menjadi bagian dari program yang berkelanjutan. Di dalam kawasan itu harus tersedia air bersih, sanitasi, layanan kesehatan dasar, sekolah, pelatihan keterampilan, dan sarana ekonomi mandiri.

Rumah memang melindungi manusia dari hujan dan dingin. Namun pendidikan melindungi anak-anak dari kebodohan. Kesehatan melindungi keluarga dari kemiskinan yang diwariskan penyakit. Sementara kegiatan ekonomi membuat penerima bantuan tidak selamanya bergantung pada negara atau belas kasihan pemberi dana. Itulah filosofi program yang saya ajukan. Pemerintah Korea Utara justru melihatnya sebagai ancaman.

“Rumah dapat kami terima,” kata Wakil Menteri Pak dalam salah satu pertemuan di Pyongyang. “Tetapi sekolah harus berada di bawah negara. Fasilitas kesehatan juga dikelola negara. Tidak boleh ada kurikulum atau tenaga asing.”

“Kami tidak ingin mengatur kurikulum,” jawab saya. “Kami hanya memastikan gedung sekolah berfungsi dan anak-anak dapat belajar.”

“Itu tanggung jawab pemerintah kami.”

“Kalau demikian, tunjukkan anggarannya.”

Penerjemah di samping saya terdiam. Myung menoleh dengan sorot mata cemas. Saya menyadari kalimat itu terlalu tajam. “Maksud saya,” sambung saya dengan nada lebih lunak, “CWDP perlu memastikan kesinambungan program. Kami tidak ingin membangun sekolah yang setahun kemudian tidak memiliki guru, buku, atau pemanas.”

Wakil Menteri Pak bersandar di kursinya. “Apakah Anda tidak percaya kepada pemerintah kami?”

Pertanyaan seperti itu selalu muncul. Setiap usulan teknis dapat berubah menjadi persoalan kedaulatan. Setiap permintaan data dianggap kecurigaan. Setiap mekanisme pengawasan dipandang sebagai penyusupan asing. Saya dapat saja menjawab bahwa kepercayaan tidak relevan dalam pengelolaan dana. Kepatuhan dibangun bukan karena satu pihak mencurigai pihak lain, melainkan karena uang harus dapat dipertanggungjawabkan. Namun di Korea Utara, kebenaran yang disampaikan tanpa kehati-hatian hanya akan menutup pintu.

“Bukan soal percaya atau tidak percaya,” kata saya. “Justru karena kami ingin bekerja sama dalam jangka panjang, kita membutuhkan aturan yang melindungi kedua pihak. Kalau suatu hari ada tuduhan bahwa dana dialihkan, pemerintah Anda dapat menunjukkan dokumen dan membuktikan bahwa tuduhan itu salah.”

Myung menerjemahkan kalimat saya perlahan. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seolah sedang membawa gelas berisi air melewati lantai yang licin. Wakil Menteri Pak tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, saya melihat sedikit perubahan pada wajahnya. Ia mulai memahami bahwa transparansi tidak selalu diciptakan untuk mempermalukan penerima dana. Transparansi juga dapat menjadi perlindungan terhadap fitnah. Namun satu pemahaman kecil tidak cukup untuk mengubah sistem yang selama puluhan tahun hidup dari kecurigaan.

***

Saya membutuhkan hampir dua tahun untuk meyakinkan mereka. Sejak 2009 hingga awal 2011, saya beberapa kali bolak-balik antara Beijing dan Pyongyang. Kadang perundingan berlangsung tiga hari tanpa menghasilkan satu kalimat yang disepakati.

Kadang kami menghabiskan berjam-jam hanya untuk memperdebatkan istilah. Kata audit mereka anggap sebagai pemeriksaan terhadap negara. Kami menggantinya dengan verifikasi bersama. Istilah penerima manfaat dianggap merendahkan rakyat mereka sebagai objek belas kasihan. Kami mengubahnya menjadi keluarga peserta program. Kata pengawasan dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan. Kami menyebutnya pemantauan teknis bersama.

Saya belajar bahwa dalam diplomasi, dua pihak bisa membicarakan hal yang sama tetapi berperang karena memilih kata yang berbeda. Sering kali perundingan gagal bukan karena tujuan yang bertentangan, melainkan karena salah satu pihak merasa kehilangan kehormatan. Karena itu saya tidak pernah menyangkal sikap paranoid mereka secara terbuka. Saya tidak mengatakan bahwa ketakutan mereka berlebihan, meskipun sering kali memang demikian. Saya mencoba memahami dari mana kecurigaan itu lahir.

Semenanjung Korea pernah diduduki Jepang. Perang kemudian memecah bangsa yang sama menjadi dua negara. Korea Utara hidup di bawah ancaman militer, sanksi, propaganda, dan persaingan geopolitik selama beberapa generasi. Sejarah itu dipakai penguasa untuk memelihara ketakutan, tetapi luka sejarahnya sendiri bukanlah kebohongan. Saya tidak membenarkan paranoia mereka. Saya hanya meluruskannya dengan hati-hati.

“Bantuan asing selalu mempunyai agenda,” kata seorang pejabat partai dalam pertemuan lain.

“Benar,” jawab saya.

Ia tampak terkejut karena saya tidak membantah.

“Lalu mengapa kami harus menerimanya?”

“Karena agenda tidak selalu berarti penjajahan. Agenda kami adalah memastikan anak-anak sehat, keluarga mempunyai rumah, dan masyarakat mampu berdiri dengan penghasilannya sendiri.”

“Mengapa orang asing peduli kepada rakyat kami?”

“Karena kemanusiaan tidak mempunyai kewarganegaraan.”

Pejabat itu tersenyum sinis. “Kalimat yang indah.”

“Kebenaran sering terdengar seperti kalimat indah karena manusia terlalu lama terbiasa dengan kebohongan.”

Myung tidak langsung menerjemahkannya. Ia menatap saya, meminta izin untuk memperhalus kalimat tersebut. Saya mengangguk. Ia kemudian menerjemahkan dengan pilihan kata yang lebih aman. Pejabat itu mendengarkan, lalu mengisap rokoknya dalam-dalam. Saya tidak pernah mengetahui versi apa yang disampaikan Myung. Namun pertemuan tetap berlanjut. Itu berarti ia telah menyelamatkan saya sekali lagi.

Selama proses negosiasi, Myung selalu mendampingi saya. Secara resmi ia bertindak sebagai LO. Namun sesungguhnya perannya jauh lebih besar. Ia mengetahui kalimat mana yang boleh diterjemahkan secara harfiah dan kalimat mana yang harus dilembutkan. Ia dapat membaca perubahan suasana hanya dari cara seorang pejabat meletakkan cangkir. Ia tahu kapan pertemuan sebaiknya dihentikan, kapan saya harus diam, dan kapan sebuah usulan dapat disampaikan kembali dengan nama yang berbeda.

“Di negara Anda, semua istilah harus disamarkan,” kata saya suatu malam setelah perundingan. Kami sedang makan malam di restoran hotel. Di ruangan besar itu hanya terdapat tiga meja yang terisi.

“Bukan disamarkan,” jawab Myung. “Disesuaikan.”

“Apa bedanya?”

“Kalau disamarkan, kita menyembunyikan kebenaran. Kalau disesuaikan, kita membantu orang lain menerima kebenaran tanpa merasa dipermalukan.”

Saya tersenyum. “Sekarang kamu sudah menjadi diplomat.”

“Saya hanya ingin proyek ini berjalan.”

“Mengapa kamu begitu peduli?”

Myung menunduk. Ujung sumpitnya menyentuh nasi tanpa mengambilnya. “Keluarga ibu saya tinggal di utara. Musim dingin sangat berat. Banyak rumah tidak mempunyai pemanas yang cukup. Kalau proyek ini berhasil, mungkin suatu hari program yang sama dapat dibangun di tempat mereka.”

Saya tidak segera menjawab. Di luar restoran, angin malam mengguncang pohon-pohon kecil yang hampir kehilangan seluruh daunnya. Kami keluar dari restoran dan menuju hotel. Depan hotel, Myung menatap saya lama. Dari tatapan Myung, saya tahu dia jatuh cinta kepada saya. Walau cantik, cerdas. Saya harus focus kepada tujuan mulia dari proyek ini. Saya juga berusaha menjaga hubungan kami tetap sebagai persahabatan.

***

Lokasi proyek akhirnya ditetapkan di kawasan Samjiyon, wilayah pegunungan di utara yang mempunyai musim dingin panjang dan keras. Pemerintah mengusulkan kawasan tersebut karena nilainya secara politik dan historis. Bagi kami, lokasinya penting karena masyarakat membutuhkan perumahan layak, layanan kesehatan, serta sumber penghasilan yang mampu bertahan di luar bantuan negara.

Rancangan proyek tidak hanya terdiri atas rumah. Kami memasukkan sistem air bersih, sanitasi komunal, klinik dasar, ruang belajar, fasilitas pengolahan hasil pertanian, rumah kaca sederhana, pelatihan peternakan, dan koperasi produksi. Setiap keluarga peserta program diberi kesempatan terlibat dalam kegiatan ekonomi, bukan sekadar menerima kunci rumah. Saya berkali-kali menegaskan hal itu kepada para pejabat.

“Kami tidak sedang membagikan hadiah,” kata saya. “Kami membangun kemampuan.”

“Rumah itu diberikan oleh negara,” jawab salah seorang pejabat.

“Tanahnya mungkin milik negara. Tetapi kehidupan di dalam rumah itu milik keluarga yang menempatinya.”

Mereka tidak menyukai kalimat tersebut, tetapi kali ini tidak ada yang menghentikan perundingan.

***

Pada awal 2011, proposal akhirnya disetujui. Penandatanganan dilakukan di sebuah ruang pertemuan pemerintah di Pyongyang. Tidak ada pesta besar. Hanya beberapa pidato, tepuk tangan yang teratur, foto bersama, dan pertukaran dokumen. Myung berdiri tidak jauh dari saya. Ketika para pejabat sibuk berbicara, ia mendekat dan berbisik, “Akhirnya mereka setuju.”

“Bukan karena saya.”

“Karena Anda tidak pernah mempermalukan mereka.”

Saya memandang berkas tebal di atas meja. “Ini baru dokumen.”

“Dua tahun lalu, dokumen seperti ini tidak mungkin ada.”

Saya menoleh kepadanya. Ada kebanggaan di wajahnya, tetapi juga kelelahan yang dalam. “Kamu lebih berjasa daripada saya,” kata saya. “Tanpa kamu, mungkin sejak pertemuan kedua saya sudah diusir.”

Myung tidak nampak ceria. Wajahnya murung. “ Mungkin setelah ini anda tidak akan kembali lagi.”

“ Kamu tetap sahabat saya. “

Dia mengangguk.

***

Ketika pembangunan dimulai, saya tidak lagi aktif sebagai relawan. Bisnis menuntut hampir seluruh waktu saya. Saya harus berada di Hong Kong, London, Shanghai, dan beberapa kota lain untuk menyelesaikan transaksi yang tidak dapat ditinggalkan. Pengawasan proyek kemudian diteruskan oleh tim teknis CWDP bersama mitra dari Cina dan pejabat lokal Korea Utara.

Sesekali saya menerima laporan. Pembangunan menghadapi keterlambatan akibat cuaca, kekurangan material, dan kesulitan transportasi. Beberapa kali terdapat usaha mengalihkan bahan bangunan ke proyek lain. Tim pengawas menghentikan pencairan sampai seluruh material dikembalikan. Klinik sempat tidak mempunyai peralatan. Rumah kaca gagal berfungsi karena kesalahan instalasi. Koperasi produksi ditolak karena istilahnya dianggap tidak sesuai dengan struktur ekonomi negara.

Namun perlahan, satu demi satu masalah diselesaikan. Rumah-rumah mulai ditempati. Air bersih mengalir. Klinik dibuka. Anak-anak belajar di ruangan yang memiliki pemanas. Keluarga setempat mengolah hasil pertanian dan peternakan untuk memenuhi kebutuhan kawasan.

Proyek itu tidak sempurna. Tidak semua laporan dapat diverifikasi. Pemerintah tetap membatasi akses. Sebagian penerima rumah dipilih berdasarkan pertimbangan politik. Akan tetapi, program tersebut membuktikan bahwa bantuan kemanusiaan yang terukur dapat masuk tanpa harus sepenuhnya menyerah kepada kehendak rezim.

Setelah proyek Samjiyon selesai, sejumlah yayasan dan jaringan kemanusiaan mulai menggunakan kerangka yang kami rancang. Mereka menyalin struktur programnya: bantuan berbasis komunitas, fasilitas kesehatan, pendidikan, sanitasi, kegiatan ekonomi mandiri, pencairan bertahap, dan pemantauan melalui mitra yang dapat diterima Pyongyang.

Dana tidak langsung mengalir tanpa batas. Korea Utara tetap tertutup dan penuh pembatasan. Namun pintu kecil telah terbuka.

Kadang-kadang kemanusiaan memang tidak masuk melalui gerbang besar. Ia menyelinap melalui celah sempit yang dijaga oleh ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk tidak menyerah kepada prasangka.

Saya bahagia mengetahui program itu menjadi contoh bagi pihak lain. Ribuan orang yang tidak pernah mengenal nama saya mungkin memperoleh air bersih, obat, ruang belajar, atau atap yang lebih hangat. Bagi saya, itu sudah cukup.

***

Saya tidak pernah membayangkan bahwa orang yang membantu membuka pintu tersebut justru akan dihukum oleh negaranya sendiri. Pada pertengahan 2013, saya menerima kabar dari seorang sahabat yang bekerja dalam jaringan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pesannya singkat: Myung telah dipindahkan ke program isolasi kerja pertanian. Sudah lebih dari satu tahun. Kondisinya memburuk. Saya membaca pesan itu berulang kali.

Program isolasi kerja pertanian terdengar seperti penugasan biasa. Namun saya memahami bahasa yang digunakan untuk menyembunyikan hukuman. Myung dikirim ke sebuah kamp pertanian terpencil untuk menjalani kerja berat, indoktrinasi, dan pemeriksaan berulang.

Saya segera menghubungi Chang. Kami bertemu di Beijing dua hari kemudian. Ia membaca catatan yang saya bawa, lalu meletakkannya di meja.

“ Apa hubungan anda dengan Myung?,” katanya mengerutkan kening.” Abaikan saja. Ini masalah internal Korut.”

“Saya tidak datang untuk mendengar kalimat itu.”

“Lalu apa yang Anda inginkan?”

“Keluarkan dia.”

Chang bersandar di kursinya. “Ini Korea Utara, bukan perusahaan tempat Anda dapat mengganti seorang direktur dengan keputusan pemegang saham.”

“Kamu mempunyai akses.”

Ia tersenyum tipis. “Masalah Myung …Ini politik. Saya dapat info, seseorang membutuhkan nama untuk dikorbankan ketika terjadi perubahan kekuasaan setelah kematian Kim Jong-il. Dalam sistem yang dibangun dari kecurigaan, kesalahan tidak perlu dibuktikan. Cukup ada keraguan, lalu manusia dapat dihilangkan dari kehidupan normalnya.”

“ Saya bukan orang politik. Saya hanya orang bisnis dan kebetulan kamu minta saya jadi penghubung dengan pihak international dalam program filantropi proyek kemanusiaan di Korut. “ Kata saya dingin. “ Gunakan pengaruh Beijing. Bebaskan dia.” Lanjut saya. Chang berjanji akan bebaskannya. Proses itu memakan waktu berbulan-bulan.

***

Pada suatu pagi yang dingin, kendaraan saya dan Chang menuju kawasan pertanian di luar Pyongyang. “ Saya yakinkan pihak Pyongyang bahwa Myung telah bekerja dengan baik dan sangat nasionalis. Dia hanya inginkan program itu sukses. Program ini langsung dibawah pengawasan Beijing. Tidak ada politik asing intervensi. Justru Korut harus bangga punya seorang LO sekelas Myung yang bisa memberikan persepsi positif kepada Asing.” Kata Chang berusaha menjelaskan mengapa terlambat membebaskan Myuang.

Jalanan berlumpur dan dikelilingi ladang yang telah kehilangan warna. Bangunan tempat para pekerja tinggal tampak seperti barak tua. Dindingnya kusam, jendelanya kecil, dan asap tipis keluar dari cerobong yang berkarat. Seorang petugas membawa saya ke ruang administrasi. Chang tidak ikut. Ia hanya mengirim seorang penghubung yang duduk diam sepanjang perjalanan.

Saya menandatangani dokumen yang menyatakan Myung akan dipindahkan untuk kebutuhan program kerja sama pembangunan. Tidak ada satu kalimat pun yang menyebut bahwa ia pernah dihukum. Bagi negara, penderitaan Myung selama lebih dari setahun seakan tidak pernah terjadi.

Saya menunggu hampir satu jam. Kemudian pintu terbuka. Seorang wanita kurus berdiri di ambang pintu. Rambutnya dipotong pendek. Kulit wajahnya pucat dan kasar. Pakaian yang dikenakannya terlalu besar untuk tubuhnya. Saya membutuhkan beberapa detik untuk mengenali Myung.

Ia memandang saya seperti orang yang sedang melihat bayangan dari kehidupan lama. Saya berdiri. “Myung.”

Bibirnya bergetar. Ia melangkah perlahan, kemudian berhenti beberapa meter di hadapan saya. Seolah belum yakin bahwa saya benar-benar ada. “Saya tadinya tidak yakin akan bertemu lagi dengan Anda,” katanya. Suaranya lemah. “Ternyata Anda yang menjemput saya dari tempat ini.”

Saya tidak tahu harus menjawab apa. Semua kalimat terasa terlalu kecil dibandingkan penderitaan yang terlihat pada tubuhnya. Myung menutup wajah dengan kedua tangan.  Saya mendekat, tetapi tidak langsung menyentuhnya. Penjaga masih berdiri di dalam ruangan. Kamera mungkin terpasang di suatu tempat. Bahkan dalam pembebasannya, Myung belum sepenuhnya bebas.

“Sekarang kamu pulang,” kata saya.

Ia mengangkat wajah. “Benarkah saya boleh pulang?”

Pertanyaan itu menusuk saya. Di dunia yang normal, pulang bukanlah sesuatu yang memerlukan batas waktu. Namun bagi Myung, bahkan kebebasan harus dicurigai sebagai bentuk lain dari pemeriksaan.

“Tidak ada yang akan membawamu kembali ke sini,” kata saya.

Petugas menyerahkan tas kecil milik Myung. Hanya ada beberapa helai pakaian dan buku catatan. Tidak ada benda lain yang tersisa dari kehidupannya.

Kami berjalan keluar dari barak. Ketika melihat kendaraan yang menunggu, langkahnya berhenti. Ia memandang langit, ladang, lalu jalan yang mengarah keluar dari kawasan itu. Air mata kembali mengalir di wajahnya.

Di dalam mobil, Myung duduk di sebelah saya. Chang duduk disebelah supir. Selama beberapa kilometer pertama, ia hanya memeluk tas kecilnya. Saya memandang wajah Myung. Tubuhnya telah banyak berubah. Pipinya cekung, bibirnya pucat, dan kulit tangannya pecah-pecah karena terlalu lama bekerja dalam udara dingin. Rambut yang dahulu selalu ditata rapi kini dipotong pendek dan tidak beraturan. Pakaian kasarnya menyimpan bau tanah, keringat, dan asap kayu.

Namun di balik semua kehancuran itu, kelembutan matanya masih ada. Mata yang dahulu menatap saya di Bandar Udara Sunan dengan senyum terukur. Mata yang berkali-kali menyelamatkan saya dari kalimat-kalimat yang terlalu berani selama perundingan. Mata yang pernah menangis ketika kami berpisah tanpa janji. Kini mata itu seperti rumah yang telah dibakar, tetapi masih menyisakan satu jendela dengan cahaya di dalamnya.

Dada saya terasa sesak. Ada dorongan kuat untuk menggenggam tangannya, memeluknya, lalu berjanji bahwa mulai hari itu tidak seorang pun boleh menyakitinya lagi. Saya ingin mengganti seluruh hari buruknya dengan ketenangan. Ingin menghapus dingin, lapar, ketakutan, dan malam-malam panjang ketika ia merasa dunia telah melupakannya. Namun saya tahu, tidak semua luka dapat disembuhkan dengan janji.

Saya merangkul pundaknya perlahan. Tubuh Myung mendadak menegang. Ia menunduk, lalu berusaha melepaskan diri. “B, jangan,” katanya dengan suara bergetar. “Baju saya kotor dan bau.” Ia menjauhkan tubuhnya, seakan kotoran yang melekat pada pakaiannya telah membuat dirinya tidak pantas disentuh.

Saya justru mempererat rangkulan.

“B, tolong,” katanya lagi. Air mata mulai mengalir di wajahnya. “Saya bau tanah. Sudah lama saya tidak mandi dengan layak.”

“Saya tidak peduli.”

“Saya bukan Myung yang dulu.”

Kalimat itu membuat hati saya seperti diremas. Saya memegang kedua pundaknya dan menatap matanya. “Dengarkan saya. Kamu tetap Myung yang saya kenal.”

Ia menggeleng berkali-kali. “Tidak..”

“Mereka hanya mengurung raga kamu, tetapi jiwa dan pikiran tetap hidup. Itu value yang harus kamu pertahankan.  Bangsa kamu sedang berproses dengan takdir rakyatnya. Selalu ada hope kecuali kalian menyerah.”

Myung menutup wajah dengan kedua tangan. Tangisnya pecah. Bukan lagi tangis seorang wanita yang baru dibebaskan, melainkan tangis manusia yang terlalu lama dilarang mengakui bahwa dirinya menderita untuk mempertahankan value nya sebagai manusia yang tak terkalahkan.

Saya menariknya kembali ke dalam pelukan. “Kamu sahabat saya,” kata saya. “Dan itu tidak akan pernah berubah. Apa pun keadaanmu. Sekotor apa pun pakaianmu. Sekurus apa pun tubuhmu. Bahkan kalau seluruh dunia membuangmu, bagi saya kamu tetap sahabat yang sama.”

“Saya menunggu setiap hari,” katanya. “Setiap kali mendengar kendaraan datang, saya berlari ke jendela. Saya berharap seseorang menjemput saya. Tetapi kendaraan itu selalu pergi membawa orang lain.”

Saya merasakan air mata menghangat di sudut mata. Saya mempererat pelukan, seolah dengan cara itu saya dapat menyatukan kembali bagian-bagian dirinya yang telah dihancurkan selama lebih dari setahun.

“Maafkan saya,” bisik saya. “Saya datang terlambat.”

Myung perlahan merebahkan kepalanya di dada saya. Air matanya membasahi jas yang saya kenakan. “Yang membuat saya bertahan, karena yakin kamu akan jemput saya” Saya membiarkannya menangis. Tidak peduli bau keringat, tanah, dan asap yang melekat pada tubuhnya. Bau itu bukanlah kehinaan. Itu adalah kesaksian bahwa Myung telah bertahan hidup ketika sebuah sistem berusaha mematahkan jiwanya.

Saya ingin menjadi sahabatnya. Hanya itu. Sebab seorang sahabat tidak menuntut cinta sebagai balasan atas pertolongan. Tidak mencatat pengorbanan sebagai utang budi. Tidak menjadikan luka seseorang sebagai pintu untuk memasuki hatinya. Sahabat hanya datang ketika seluruh dunia pergi. Ia memeluk tanpa merasa jijik, mendengarkan tanpa menghakimi, lalu membantu orang yang disayanginya berdiri kembali dengan kedua kakinya sendiri.

Myung masih menangis di pundak saya. Saya mengusap rambut pendeknya perlahan. “Pulanglah,” kata saya. “Keluargamu menunggu.”

Myung akhirnya menangis sebagai manusia merdeka. Dan saya membiarkannya membasahi pundak saya dengan seluruh kesedihan yang selama ini tidak boleh ia ceritakan.

***

Beberapa bulan kemudian, Myung dikembalikan ke dinas pemerintahan.  Ia bahkan memperoleh jabatan yang lebih baik dalam unit kerja sama pembangunan. Kekuasaan memang pandai mengubah hukuman menjadi penghargaan di dalam dokumen resmi. Negara yang sama yang telah mengurungnya kemudian memasang tanda jabatan di dadanya. Bagaimanapun Proyek Samjiyon membuka jalan kecil bagi kemanusiaan, dan Myung menjadi bagiannya.

Pembebasan Myung mengajarkan sesuatu yang jauh lebih pribadi kepada saya bahwa menyelamatkan manusia tidak selalu berarti menghancurkan sistem yang menindasnya. Terkadang kita hanya mampu menarik satu orang keluar, sementara penjara itu tetap berdiri dan dipenuhi orang lain yang tidak kita kenal. Itulah kemenangan yang terasa seperti kekalahan. Namun jika satu kehidupan dapat diselamatkan, kita tidak boleh meremehkan artinya. Bagi dunia, Myung mungkin hanya seorang penerjemah dari negeri tertutup. Bagi keluarganya, ia adalah dunia yang akhirnya pulang.

Disclaimer : fiction only.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca