Pusat Finansial Internasional Indonesia

Magnet di Tengah Gurun

Hong Kong, 2014. Hujan turun tipis di balik kaca ruang kerjaku ketika sebuah surel dari Anneke masuk. Aku baru selesai membaca laporan pasar obligasi Asia dan sedang memperhatikan pergerakan dolar ketika namanya muncul di layar. Sudah hampir dua tahun kami tidak berkomunikasi.

Anneke bukan bankir, tetapi ia mengenal banyak orang yang membutuhkan bankir. Ia dapat masuk ke lingkungan pengusaha, pejabat, pedagang komoditas, dan pemilik kekayaan yang tidak mudah ditemui melalui jalur resmi. Keahliannya bukan menyusun transaksi, melainkan mempertemukan orang yang mempunyai aset dengan orang yang memahami cara membuat aset itu bekerja.

Aku membuka surelnya. B, saya mendapat mandat dari relasi di Rusia. Mereka mempunyai portofolio aset lintas yurisdiksi. Sebagian berupa dana pada perusahaan investasi, sebagian surat berharga, dan sebagian lagi hak ekonomi atas perusahaan komoditas. Mereka ingin melakukan monetisasi tanpa menjual seluruh aset. Apakah kamu dapat membantu?

Aku membaca pesan itu dua kali. Tahun 2014 bukan tahun biasa bagi pemilik modal Rusia. Krisis Crimea telah mengubah hubungan Rusia dengan Barat. Sanksi mulai diterapkan terhadap individu, perusahaan, serta sektor tertentu. Bank-bank Eropa dan Amerika memperketat pemeriksaan. Setiap nama, perusahaan, dan aliran dana yang mempunyai hubungan dengan Rusia segera mengundang pertanyaan.

Dalam keadaan seperti itu, portofolio yang bernilai besar belum tentu mudah digunakan. Aset dapat terlihat kuat di atas kertas, tetapi tidak mempunyai likuiditas. Nilainya mungkin mencapai miliaran dolar, tetapi tidak dapat diagunkan karena tersebar di banyak negara, dimiliki melalui beberapa perusahaan, dan tunduk pada sistem hukum yang berbeda-beda. Itulah perbedaan antara kekayaan dan likuiditas.

Kekayaan adalah sesuatu yang kita miliki. Likuiditas adalah sesuatu yang dapat kita gunakan ketika dibutuhkan. Banyak orang terlihat kaya, tetapi sesungguhnya miskin dalam kemampuan bertindak karena asetnya terkurung oleh struktur yang tidak efisien.

Aku membalas surel Anneke. Saya dapat mempelajarinya. Namun sebelum berbicara mengenai monetisasi, saya perlu mengetahui pemilik manfaat akhir, sumber kekayaan, yurisdiksi asal aset, status pajak, dan apakah ada pihak yang terkena sanksi. Kalau semuanya bersih, saya menyarankan restrukturisasi dilakukan di Dubai.

Jawabannya datang kurang dari lima menit kemudian. Mengapa Dubai? Aku tersenyum. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya menentukan seluruh bentuk transaksi. Aku meneleponnya melalui saluran terenkripsi. Anneke menjawab setelah dering kedua.

“B, saya membaca balasanmu,” katanya. “Mengapa harus Dubai? Mereka lebih terbiasa dengan London, Zurich, dan Siprus.”

“Itulah masalahnya.”

“Maksudmu?”

“London akan terlalu sensitif terhadap hubungan Rusia. Zurich bagus untuk penyimpanan kekayaan, tetapi transaksi ini membutuhkan lebih dari sekadar kustodian. Siprus terlalu dekat dengan struktur lama mereka. Kalau kita ingin mengubah aset menjadi platform investasi baru, kita memerlukan yurisdiksi yang dapat diterima Asia, Eropa, dan Timur Tengah.”

“Dan Dubai memenuhi semuanya?”

“Bukan seluruhnya. Tidak ada yurisdiksi yang sempurna. Namun Dubai mempunyai posisi yang tidak dimiliki banyak pusat keuangan lain.”

Aku bangkit dan berjalan menuju jendela. Di bawah sana, lampu kapal-kapal di Victoria Harbour berkilau di antara hujan. “Dubai tidak hanya menjual pajak rendah,” kataku. “Ia menjual akses.”

“Akses kepada siapa?”

“Kepada modal Teluk, bank Eropa, investor Asia, pedagang Afrika, dan pengusaha Asia Selatan. Dubai berada di antara mereka. Pagi hari kita dapat berbicara dengan Mumbai dan Singapura. Siang hari dengan Riyadh dan London. Menjelang malam, New York mulai bekerja.”

Anneke terdiam sejenak. “Jadi, hanya karena letaknya?”

“Geografi hanya membuka pintu. Yang membuat modal bersedia masuk adalah hukum.”

Aku menjelaskan kepadanya tentang Dubai International Financial Centre—DIFC. Kawasan itu dibangun sebagai pusat keuangan dengan kerangka hukum komersial berbasis prinsip common law, regulator tersendiri, dan pengadilan yang dirancang untuk menangani sengketa bisnis internasional.

“Di dalam DIFC,” kataku, “investor global tidak merasa masuk ke wilayah hukum yang sama sekali asing. Kontrak dapat menggunakan dokumentasi yang mereka pahami. Pemberi pinjaman dapat menetapkan hak atas jaminan. Pemegang obligasi tahu bagaimana sengketa akan diselesaikan.”

“Dubai tetap bagian dari Uni Emirat Arab.”

“Secara politik, tentu. Namun untuk transaksi keuangan internasional, DIFC menyediakan semacam jembatan hukum. Ia menghubungkan modal global dengan peluang di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan.”

“Bukankah itu berarti kita dapat menyembunyikan identitas pemilik aset?”

“Tidak.” Nada suaraku membuat Anneke diam. “Kalau mereka mencari tempat untuk bersembunyi, jangan bawa mereka kepadaku,” lanjutku. “Struktur lintas yurisdiksi bukan alat untuk menghilangkan pemilik. Kita justru harus memastikan pemilik manfaat akhirnya jelas.”

“B, mereka bukan penjahat.”

“Aku tidak mengatakan mereka penjahat. Namun pada 2014, kebangsaan saja sudah cukup membuat bank mengajukan seratus pertanyaan. Kita harus dapat menjawab semuanya sebelum pertanyaan itu diajukan.”

Anneke menarik napas. “Apa saja yang kamu perlukan?”

“Identitas pemilik manfaat akhir, laporan sumber kekayaan, rekening bank asal, laporan pajak, daftar perusahaan dalam struktur, perjanjian pemegang saham, dan bukti bahwa tidak ada aset yang berasal dari korupsi, kejahatan, atau penghindaran sanksi.”

“Banyak sekali.”

“Karena yang akan kita jual kepada pasar bukan hanya aset. Kita menjual kepercayaan.”

Dalam dunia keuangan, aset dapat dinilai oleh konsultan. Arus kas dapat dihitung oleh analis. Jaminan dapat dicatat oleh pengacara. Namun apabila kepercayaan hilang, semua angka itu berubah menjadi hiasan dalam dokumen. “Apa yang akan kamu lakukan setelah pemeriksaan selesai?” tanya Anneke.

“Kita akan mendirikan struktur induk di DIFC. Bukan untuk menyembunyikan aset, tetapi untuk menyatukan pengendalian dan pelaporannya.”

“Semacam holding company?”

“Lebih tepatnya platform investasi. Di bawahnya kita bentuk beberapa kendaraan khusus sesuai jenis aset dan risikonya. Jangan campurkan properti, surat utang, dan hak ekonomi perusahaan komoditas dalam satu kotak.”

“Kenapa?”

“Karena aset yang berbeda membutuhkan pembiayaan yang berbeda. Jika semuanya dicampur, satu masalah dapat mencemari seluruh portofolio. Portofolio yang memenuhi pemeriksaan akan dipindahkan atau direstrukturisasi secara sah ke dalam perusahaan induk. Sebagian aset yang terlalu rumit akan dijual. Hasilnya tidak dibiarkan sebagai uang menganggur, tetapi dialihkan ke dua kelompok investasi.

Kelompok pertama adalah properti komersial di Dubai—gedung perkantoran, kawasan logistik, hunian dengan tingkat okupansi yang terukur, dan aset perhotelan yang mempunyai arus kas. Kelompok kedua adalah surat utang yang terkait dengan proyek infrastruktur Dubai dan UAE—transportasi, logistik, utilitas, pergudangan, serta proyek lain yang menghasilkan pendapatan jangka panjang.

“Kenapa properti dan surat utang infrastruktur?” tanya Anneke.

“Karena keduanya dapat menghasilkan arus kas yang lebih mudah dibuktikan. Sewa menghasilkan pendapatan periodik. Obligasi memberikan kupon. Pemberi pinjaman lebih menyukai arus kas yang dapat diukur daripada aset yang nilainya hanya bergantung pada penilaian.”

“Lalu bagaimana monetisasinya?”

“Setelah portofolio baru terbentuk dan mempunyai rekam arus kas, aset itu dapat digunakan untuk mendapatkan pembiayaan.”

“Utang?”

“Leverage,” jawabku. “Utang tidak selalu buruk. Ia menjadi buruk apabila digunakan untuk membiayai kesombongan atau menutup kerugian. Namun jika digunakan dengan disiplin, utang dapat mempercepat pertumbuhan tanpa menjual seluruh kepemilikan.”

Aku menjelaskan bahwa properti dapat ditempatkan dalam perusahaan khusus dan dibiayai berdasarkan nilai serta pendapatan sewanya. Surat utang infrastruktur dapat menjadi bagian dari portofolio jaminan untuk fasilitas kredit atau transaksi repo, sepanjang dokumentasi dan kelayakan aset memungkinkan.

Setelah itu, kendaraan pembiayaan dapat menerbitkan surat utang kepada investor profesional lintas yurisdiksi. Dana yang diperoleh tidak dibagikan kepada pemilik sebagai uang konsumsi, tetapi digunakan untuk membeli aset baru atau membiayai proyek yang menghasilkan pendapatan.

“Jadi aset awal menjadi dasar untuk menciptakan kapasitas pembiayaan baru?” tanya Anneke.

“Tepat.”

“Seberapa besar leverage yang bisa diperoleh?”

“Itu pertanyaan yang salah.”

Anneke tertawa kecil. “Mengapa?”

“Karena orang yang pertama kali bertanya berapa banyak utang yang bisa didapat biasanya belum bertanya berapa banyak utang yang sanggup dibayar.”

Aku melanjutkan, “Kita tidak akan memulai dari nilai aset. Kita mulai dari arus kas. Setelah dikurangi biaya operasional, pajak, cadangan, dan kebutuhan investasi, barulah kita menghitung berapa besar kewajiban yang dapat ditanggung dalam keadaan normal maupun ketika pasar memburuk.”

“Kalau nilai properti naik, kita bisa menambah utang.”

“Belum tentu. Harga properti dapat naik karena likuiditas dan spekulasi, lalu jatuh ketika suku bunga berubah. Utang dibayar dengan uang tunai, bukan dengan optimisme.”

Di ujung telepon, Anneke kembali diam. Ia mulai memahami bahwa monetisasi bukan sulap untuk mengubah dokumen menjadi uang. Setiap dolar likuiditas yang diperoleh melahirkan kewajiban, risiko bunga, risiko mata uang, dan tuntutan keterbukaan.

“Kalau begitu, apa keuntungan terbesar menggunakan Dubai?” tanyanya.

“Ekosistem.”

Aku kembali duduk. “Di Dubai kita dapat menemukan bank internasional, firma hukum, auditor, perusahaan asuransi, manajer aset, pedagang komoditas, dan investor dalam satu lingkungan. Properti dan infrastrukturnya tersedia. Jalur penerbangannya menghubungkan banyak pusat ekonomi. Dirhamnya dipatok terhadap dolar. Dan yang terpenting, pemerintahnya memahami bahwa modal membutuhkan kecepatan tanpa kehilangan kepastian.”

“Pajak?”

“Itu keuntungan tambahan, bukan alasan utama. Uang tidak akan menetap hanya karena pajaknya rendah. Uang menetap jika kontraknya terlindungi, transaksinya dapat diselesaikan, dan pemiliknya tahu bagaimana keluar ketika keadaan berubah.”

Anneke tertawa kecil. “Kamu bicara tentang Dubai seperti membicarakan mesin.”

“Memang begitu. Kota itu adalah mesin yang mengubah arus perdagangan menjadi jasa, jasa menjadi pendapatan, dan pendapatan menjadi aset.”

“Sedangkan minyak Abu Dhabi?”

“Itu salah satu bahan bakarnya. Abu Dhabi menghasilkan energi dan mengumpulkan modal. Dubai membangun jaringan untuk mempertemukan dan memutar modal tersebut. Satu menghasilkan kekuatan neraca, yang lain menghasilkan kecepatan transaksi.”

“Apakah kamu yakin struktur ini dapat berjalan?”

“Aku yakin jika asetnya bersih dan pemiliknya bersedia transparan.”

“Kalau mereka tidak bersedia?”

“Berarti kita tidak mempunyai transaksi.”

Jawabanku terdengar keras, tetapi pengalaman mengajariku bahwa keuntungan terbesar sering datang bersama risiko yang sengaja disembunyikan. Seorang arsitek keuangan tidak hanya bertugas membangun struktur yang menghasilkan uang. Ia juga harus mengetahui kapan harus menolak membangun. Bangunan yang didirikan di atas tanah bermasalah mungkin terlihat indah. Namun ketika tanahnya bergerak, arsiteklah yang pertama kali ditanya mengapa fondasinya tidak diperiksa.

“Aku akan menyampaikan persyaratanmu,” kata Anneke.

“Jangan hanya sampaikan. Pastikan mereka memahaminya.”

“Apa bedanya?”

“Orang dapat menyerahkan dokumen karena terpaksa. Tetapi kalau mereka tidak memahami alasan keterbukaan, nanti mereka akan berusaha mencari celah.”

“Kapan kamu bisa ke Dubai?”

“Setelah aku menerima daftar aset dan identitas seluruh pemilik manfaat.”

“Kamu selalu memulai dari dokumen.”

“Karena masalah besar biasanya dimulai ketika orang lebih dahulu tergoda oleh angka.”

Percakapan berakhir.

***

Tiga hari kemudian, sebuah surel baru masuk. Di dalamnya terdapat daftar awal aset yang tersebar di Moskow, Siprus, Luksemburg, Hong Kong, dan Kepulauan Virgin Britania Raya. Nilai indikatifnya sangat besar, tetapi struktur kepemilikannya berlapis-lapis. Aku membaca setiap halaman dengan hati-hati. Di bagian terakhir terdapat surat mandat yang ditandatangani seorang pengusaha Rusia. Namanya tidak muncul dalam daftar sanksi yang kami periksa, tetapi beberapa mitranya mempunyai hubungan dengan perusahaan negara.

Aku menutup dokumen itu. Transaksi tersebut mungkin dapat dilakukan. Namun jalan menuju Dubai tidak akan dimulai dengan pesawat, hotel, atau pertemuan di ruang berpendingin udara. Perjalanan itu harus dimulai dengan membongkar seluruh lapisan yang sengaja dibangun untuk memisahkan kekayaan dari nama pemiliknya.

Sebelum aset dapat diperbesar, asal-usulnya harus dijelaskan. Sebelum modal dapat bergerak bebas, tanggung jawabnya harus dibuat jelas. Sebab struktur keuangan yang sehat bukanlah struktur yang mampu menyembunyikan manusia di balik perusahaan. Struktur yang sehat adalah struktur yang membuat setiap orang berani berdiri di depan asetnya sendiri.

Di luar jendela, hujan masih turun di atas Hong Kong. Aku memandang lampu-lampu kapal yang bergerak perlahan di pelabuhan. Dubai menunggu di tengah gurun—bukan sebagai tempat pelarian bagi uang, melainkan sebagai tempat pengujian: apakah kekayaan itu cukup bersih untuk memasuki sistem, cukup produktif untuk menghasilkan arus kas, dan cukup kuat untuk menanggung utang yang akan diletakkan di atasnya.

Aku membuka surel baru dan menulis satu kalimat kepada Anneke: Siapkan semua dokumen. Kita tidak akan memindahkan uang ke Dubai. Kita akan mengubahnya menjadi kepercayaan. Lalu kukirim pesan itu.

Dalam dunia keuangan, uang memang dapat melintasi batas negara dalam hitungan detik. Namun agar dapat bertahan lama, ia membutuhkan sesuatu yang tidak dapat dikirim melalui jaringan elektronik. Reputasi.

Gedung Tidak Dapat Membeli Kepercayaan

Jakarta, Juli 2026. Anneke datang ke Jakarta tanpa banyak pemberitahuan. Ia hanya mengirim pesan melalui SafeNet pada malam sebelumnya. Besok saya di Jakarta. Kita bertemu. Saya kangen. Aku tersenyum membacanya.Kami memang sering berkomunikasi melalui SafeNet, tetapi jarang bertatap muka. Sejak transaksi restrukturisasi aset Rusia di Dubai selesai, baru empat kali kami bertemu langsung. Artinya, kedatangannya kali ini menjadi pertemuan kelima kami dalam dua belas tahun.

Transaksi Dubai dahulu berjalan sukses. Setelah melewati pemeriksaan sumber kekayaan, identifikasi pemilik manfaat, dan penataan ulang perusahaan lintas yurisdiksi, portofolio itu akhirnya direstrukturisasi menjadi aset properti produktif dan surat utang infrastruktur. Arus kas dari kedua kelompok aset tersebut kemudian menjadi dasar pembiayaan melalui pasar keuangan internasional. Kami tidak sekadar memindahkan kekayaan. Kami mengubah aset yang terpecah-pecah menjadi portofolio yang dapat dinilai, diaudit, dijaminkan, dan dipercaya. Itulah yang membuatnya berhasil.

Anneke menginap di sebuah hotel berbintang di kawasan Sudirman. Ketika aku tiba menjelang malam, ia sudah menungguku di lounge hotel. Ia berdiri, membuka kedua tangannya, lalu memelukku erat.

“Akhirnya kamu datang juga,” katanya.

“Kamu yang datang tanpa rencana.”

“Aku hanya mampir.”

“Mampir dari mana?”

“Besok pagi aku ke Singapura. Ada urusan bisnis.”

Aku tertawa. “Jadi, bukan karena kangen?”

“Bisnis itu alasan untuk bepergian. Kangen itu alasan untuk berhenti.”

Aku baru hendak duduk ketika melihat seorang pria berada di kursi sebelahnya. Usianya sekitar lima puluh tahun. Rambutnya telah memutih di bagian pelipis. Ia mengenakan jas abu-abu tanpa dasi dan kacamata berbingkai tipis.

Anneke memperkenalkan kami. “Ini Bernhard. Mitraku. Dia konsultan ekonomi di Amsterdam dan pernah membantu beberapa pemerintah merancang kawasan keuangan.”

Bernhard berdiri dan menjabat tanganku. “Saya sering mendengar nama Anda,” katanya dalam bahasa inggris yang sempurna.

“Semoga bukan cerita buruk.”

“Anneke tidak pernah membedakan cerita baik dan buruk. Semua diceritakannya dengan semangat yang sama.”

Anneke tertawa paling keras.

Kami memesan makan malam. Dari balik kaca lounge, cahaya gedung-gedung di sepanjang Sudirman berkilau seperti rangkaian angka pada layar perdagangan. Jakarta terlihat besar, sibuk, dan percaya diri. Jalanan dipenuhi kendaraan, sementara menara-menara baru terus tumbuh di antara bangunan lama.

“Apa pendapatmu tentang rencana Indonesia membangun pusat keuangan internasional?” tanya Anneke setelah pelayan menuangkan anggur ke gelasnya.

Aku menatap Bernhard. “ Saya sudah tidak begitu aktif lagi dalam bisnis. Kurang perhatikan issue semacam itu. “ Kata saya. “ Coba saya mau dengar perspektif kalian?

Bernhard tersenyum. Ia membuka tablet, lalu menampilkan sebuah tabel. “Ini Global Financial Centres Index edisi 2025,” katanya. “Sepuluh kota teratas adalah New York, London, Hong Kong, Singapura, San Francisco, Chicago, Los Angeles, Shanghai, Shenzhen, dan Seoul.”

“Dubai?” tanyaku.

“Peringkat sebelas pada edisi September 2025. Setahun berikutnya Dubai sudah masuk sepuluh besar. Namun yang lebih penting bukan peringkatnya. Kita harus memahami mengapa kota-kota itu berada di atas.”

Anneke menyesap anggurnya.

“Karena banyak orang kaya tinggal di sana?” tanya saya.

“Orang kaya dapat tinggal di mana saja,” jawab Bernhard. “Pusat keuangan muncul ketika uang dari berbagai negara dapat bertemu, bergerak, memperoleh perlindungan, dan menemukan jalan keluar.”

Ia menggeser tampilan pada tabletnya. “International Financial Centre bukan sekadar kawasan yang dipenuhi gedung bank. Di dalamnya harus terdapat pasar saham, obligasi, valuta asing, pengelolaan kekayaan, private equity, modal ventura, derivatif, asuransi, reasuransi, arbitrase, teknologi finansial, kustodian, auditor, konsultan, firma hukum, dan lembaga pemeringkat.”

“Jadi, sebuah ekosistem,” kataku.

“Tepat. Kalau hanya ada bank, itu pusat perbankan. Kalau hanya ada gedung mewah, itu kawasan properti. Sebuah pusat keuangan internasional harus membuat modal merasa mempunyai rumah.”

Aku memandang ke luar jendela. Di seberang jalan berdiri beberapa gedung perkantoran baru dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya.

“Indonesia baru saja mengesahkan undang-undangnya,” kata Anneke. “Ada rencana pemberian insentif pajak, penggunaan mata uang asing, otoritas khusus, arbitrase, bahkan pengadilan tersendiri.”

“Undang-undang dapat membangun lembaga,” kataku. “Tetapi belum tentu dapat membangun kepercayaan.”

Bernhard mengangguk. “Itulah masalah utamanya.” Bernhard menampilkan gambar Marina Bay. “Lihat Singapura. Negara itu tidak mempunyai sumber daya alam besar. Tidak mempunyai pasar domestik sebesar Indonesia. Namun ia menjadi pusat keuangan terbesar keempat dunia.”

“Karena pajaknya rendah?” tanya Anneke.

“Pajak hanya satu bagian. Singapura menawarkan kepastian hukum, regulator yang kredibel, peradilan yang dipercaya, stabilitas politik, pelabuhan dan bandara kelas dunia, sistem pembayaran modern, serta tenaga profesional internasional.”

“Dan pemerintahnya disiplin,” kataku.

“Benar. Aturannya mungkin ketat, tetapi dapat diperkirakan. Investor lebih menyukai aturan keras yang konsisten daripada aturan lunak yang berubah setelah kekuasaan berganti.”

Sektor keuangan Singapura telah menjadi salah satu penyangga utama ekonominya. Ratusan ribu orang bekerja di bank, perusahaan asuransi, manajemen aset, fintech, firma hukum, audit, serta jasa profesional lainnya. Uang dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, India, Tiongkok, dan Timur Tengah dikelola dari sana.

“Indonesia sering marah karena kekayaan warganya ditempatkan di Singapura,” kata Bernhard. “Namun kemarahan tidak akan memulangkan uang.”

“Lalu apa yang dapat memulangkannya?” tanya Anneke.

“Kepercayaan yang lebih baik.”

Aku mengangguk. “Modal tidak mempunyai rasa nasionalisme seperti manusia. Ia akan tinggal di tempat yang memberikan keamanan, likuiditas, dan kepastian.”

“Bukankah itu berarti pemilik modal tidak mencintai negaranya?” kata Anneke.

“Bukan begitu,” jawabku. “Seseorang dapat mencintai negaranya, tetapi tetap takut kepada sistemnya. Cinta tidak menghapus risiko.”

Bernhard meletakkan tabletnya. “Singapura memahami bahwa mereka tidak harus memiliki seluruh kekayaan Asia. Mereka cukup menjadi tempat kekayaan itu dikelola. Dari setiap transaksi, mereka mendapatkan biaya kustodian, komisi, pajak, pekerjaan, teknologi, serta reputasi.”

“Jadi, mereka menjual kepercayaan?” Tanya Anneke.

“Mereka mengubah kepercayaan menjadi industri.” Simpul Benhard.

Pelayan datang membawa makanan. Percakapan berhenti sejenak. Setelah meja kembali tenang, Bernhard membuka pembahasan tentang Hong Kong. “Hong Kong tetap berada di peringkat ketiga meskipun menghadapi tekanan geopolitik,” katanya. “Mengapa? Karena ia mempunyai fungsi yang belum mudah digantikan.”

“Gerbang menuju Tiongkok,” jawabku.

“Tepat. Hong Kong menjadi tempat perusahaan Tiongkok menghimpun modal internasional, melakukan IPO, mengelola kekayaan, dan memperdagangkan renminbi di luar daratan.”

Anneke memotong daging di piringnya. “Tetapi bukankah banyak orang mengatakan Hong Kong sudah berakhir?”

“Pusat keuangan tidak mati hanya karena berita politik,” jawab Bernhard. “Selama ia masih mempunyai pasar, likuiditas, jaringan bank, tenaga profesional, serta fungsi ekonomi yang dibutuhkan, modal tetap datang.”

Menurut laporan kekayaan global 2026, Hong Kong bahkan telah melampaui Swiss sebagai pusat pembukuan kekayaan lintas negara terbesar. Sebagian besar kekuatannya berasal dari kedekatannya dengan kekayaan Tiongkok dan kebangkitan kembali pasar penawaran saham.

“Artinya, kedekatan dengan sumber kekayaan sangat penting,” kata Anneke.

“Benar,” jawabku. “Namun kedekatan saja tidak cukup. Indonesia dekat dengan banyak sumber daya, tetapi perdagangan, pembiayaan, dan keuntungan jasanya dapat berlangsung di negara lain.”

Hong Kong tidak menghasilkan seluruh barang yang diperdagangkan melalui sistemnya. Namun kontrak, pembiayaan, pencatatan saham, pengelolaan kekayaan, dan penyelesaian transaksi dilakukan di sana. Kota itu memperoleh keuntungan karena menguasai pintu.

“New York tetap nomor satu,” kata Bernhard. “Bukan karena gedungnya paling tinggi, melainkan karena hampir semua bentuk modal tersedia di sana. NYSE dan Nasdaq menyediakan pasar saham dengan kedalaman luar biasa. Di kota yang sama terdapat bank investasi, manajer aset global, hedge fund, perusahaan private equity, modal ventura, perusahaan fintech, pengacara pasar modal, analis, perusahaan data, dan teknologi perdagangan berbasis kecerdasan buatan.”

“Kalau sebuah perusahaan ingin menghimpun satu miliar dolar,” Lanjut Bernhard, “di New York ia dapat menemukan investor, bank penjamin emisi, pengacara, auditor, analis, dan pasar sekunder dalam satu ekosistem.”

“Pasar sekunder itu penting,” kataku.

Anneke menatapku. “Mengapa?”

“Investor berani masuk jika tahu dapat keluar. Tidak ada orang yang mau masuk ke sebuah ruangan apabila pintu keluarnya dikunci.”

Itulah makna likuiditas. Pasar yang dalam bukan hanya mampu menerima transaksi besar, tetapi juga memungkinkan investor menjual aset tanpa meruntuhkan harga. Indonesia mempunyai banyak perusahaan dan kebutuhan modal yang besar. Namun jika pasar obligasi korporasinya dangkal, jumlah investor institusional terbatas, dan sahamnya tidak cukup likuid, sebuah kawasan khusus tidak otomatis memperbaiki keadaan.

“Indonesia  dapat memberi insentif agar investor masuk,” kata Anneke.

“Masuk itu mudah,” jawab Benhard . “Yang menentukan kepercayaan adalah apakah mereka dapat keluar tanpa aturan baru muncul di tengah perjalanan.”

“London tetap nomor dua meskipun Inggris telah keluar dari Uni Eropa,” kata Bernhard. “Itu membuktikan bahwa pusat keuangan tidak dibangun hanya oleh akses politik.”

London mempunyai pasar valuta asing yang sangat besar, ekosistem asuransi Lloyd’s, pasar eurobond, firma hukum internasional, arbitrase, serta tenaga profesional dari berbagai negara. Zona waktunya juga menghubungkan jam perdagangan Asia dan Amerika.

“Jadi, Brexit tidak menghancurkannya?” tanya Anneke.

“Brexit mengurangi beberapa keunggulan. Tetapi ekosistem yang dibangun selama ratusan tahun tidak hilang hanya karena satu keputusan politik.”

Aku meletakkan garpu. “London mempunyai sesuatu yang sering diremehkan negara berkembang: tradisi kontrak.”

Bernhard mengangguk. “Dalam transaksi internasional, orang tidak hanya bertanya berapa pajaknya. Mereka bertanya hukum apa yang digunakan, di mana sengketa diselesaikan, apakah putusan dapat dieksekusi, dan apakah pemerintah dapat mengubah kesepakatan setelah investasi masuk.”

Anneke tersenyum kepadaku. “Itu alasanmu memilih Dubai untuk aset Rusia dahulu.”

“Benar. Kami tidak memilih Dubai karena gedungnya indah. Kami memilih DIFC karena investor memahami kerangka hukumnya, regulatornya, dokumentasinya, dan mekanisme penyelesaian sengketanya.”

“Lalu apakah Indonesia dapat sukses membangun pusat keuangan internasional?” tanya Anneke.

Aku tidak segera menjawab. Indonesia mempunyai sejumlah modal awal yang sangat kuat: ekonomi terbesar di Asia Tenggara, pasar domestik besar, sumber daya alam, perusahaan negara, kebutuhan infrastruktur, kelas menengah, ekonomi digital, serta posisi di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Semua itu adalah bahan bakar. Namun bahan bakar tidak akan berguna jika mesinnya tidak dipercaya.

“Indonesia dapat membangunnya,” kata Benhard akhirnya. “Tetapi jangan memulai dari ambisi mengalahkan Singapura.”

“Kenapa?” Tanya Anneke.

“Karena pusat keuangan tidak dibangun untuk memenangkan perlombaan simbolik. Ia dibangun untuk menyelesaikan kebutuhan ekonomi. Dan kuncinya adalah penguatan Lembaga, yang memastikan kepastian hukum jalan, daya saing meningkat, indek korupsi membaik, kurs stabil, ekosistem keungan terbangun solid dan inklusif. “ kataku tersenyum. “

” Indonesia harusnya focus membangun suprastruktur nya dulu sebelum bangun infrastrukturnya. Karena saat sekarang semua index international terkait ekonomi, Indonesia tidak qualified sebagai Financial center” Kata Benhard menambahkan. “Indonesia tidak perlu menjadi New York dalam sepuluh tahun. Ia harus menemukan keunggulan yang tidak dapat ditiru dengan mudah.”

“Misalnya?”tanya Anneke.

“Pembiayaan berbasis sumber daya alam yang transparan, pasar karbon tropis, pembiayaan ekonomi biru, sukuk infrastruktur, pengelolaan dana pensiun regional, serta pusat investasi ASEAN.”

Anneke mengangguk pelan. “ Mungkin Indonesia mengharapkan dana local orang kaya untuk masuk ke Financial center yang akan dibangun.” Katanya.” Maklum katanya, bebas pajak, dan ada instrument semacam patriot bond yang mengabaikan asal usul uang dan bebas dari tuntutan hukum dikemudian hari.”

” Orang kaya dari sumber illegal, cenderung  menuntut standar trust lebih tinggi dibandingkan orang kaya dari bisnis legal. “ Kata Benhard tersenyum ” Karena mereka bukan hanya mau tempatkan uangnya, tetapi juga memindahkan uang ke lintas yuridikasi. Apa jadinya kalau sistem kelembagaan masih rapuh, trust rendah. Akan sangat sulit melintasi cross border. ”

” TIdak semudah itu mereka percaya dengan insentif pemerintah Indonesia. Pasti mereka lebih memilih financial center yang sudah terbukti solid seperti swiss , Singapore dengan index korupsi bagus..”Kataku.

“Indonesia mempunyai kewajiban penggunaan rupiah dalam banyak transaksi domestik. Kalau sebuah kawasan memperoleh pengecualian, harus jelas transaksi mana yang boleh memakai dolar, bagaimana penyelesaiannya, siapa yang menyediakan likuiditas, dan bagaimana hubungannya dengan kebijakan Bank Indonesia.” Kataku.

Bernhard mengangguk. “IFC tidak boleh berubah menjadi Kawasan dolar yang terpisah dari ekonomi nasional. “

“ Jika tidak dirancang hati-hati, perusahaan dapat memindahkan transaksi ke dalam kawasan hanya untuk menghindari aturan rupiah, pajak, atau pengawasan. Bukannya memperdalam sistem keuangan nasional, IFC justru dapat menciptakan dua sistem yang saling berlomba mencari celah dan akhirnya dua duanya tidak lagi dipercaya dunia. “ Kata Anneke.

Malam semakin larut. Lounge hotel mulai sepi. Dari jendela, jalan Sudirman masih dipenuhi kendaraan. Bernhard memandang gedung-gedung tinggi di luar. Pemerintah dapat membangun kawasan dalam lima tahun. Namun reputasi hukum mungkin membutuhkan puluhan tahun. Satu kasus besar yang diintervensi dapat merusak kepercayaan yang dibangun selama satu generasi.

“Indonesia siap membangun kawasannya. Belum tentu siap menjadi pusat keuangan internasional.” Kata Benhard.

“Apa perbedaannya?” Tanya Anneke.

“Kawasan dibangun dengan beton dan anggaran. Pusat keuangan dibangun dengan hukum, manusia, pasar, serta reputasi. New York mempunyai kedalaman modal. London mempunyai hukum dan jaringan global. Hong Kong mempunyai Tiongkok. Singapura mempunyai kepastian dan disiplin. Dubai mempunyai konektivitas, modal Teluk, serta keberanian menciptakan sistem yang dapat dipahami dunia.”

“Indonesia mempunyai apa?” tanya Anneke.

Tidak seorang pun segera menjawab. Pertanyaan itu lebih besar daripada rencana kawasan, undang-undang, atau insentif pajak. Ia menyentuh hubungan antara negara dan warganya sendiri. Kepercayaan internasional selalu dimulai dari kepercayaan domestik. Apabila pengusaha lokal takut kepada perubahan peraturan, khawatir terhadap kriminalisasi keputusan bisnis, atau merasa perkara dapat ditentukan oleh kedekatan politik, gedung semegah apa pun tidak akan mengubah persepsi pasar.

Ketika Arus Kas Menjadi Hakim

Anneke memang datang ke Jakarta dari London menjelang akhir pekan. Keesokan harinya, setelah pertemuan kami dengan Bernhard, ia kembali mengirim pesan melalui SafeNet. Masih di Jakarta. Kalau tidak sibuk, kita bertemu lagi. Aku membalas singkat. Malam ini saya undang makan di restoran Jepang, Grand Hyatt.

Menjelang pukul tujuh malam aku tiba di lounge hotel tempat Anneke menginap. Ia sudah menunggu bersama seorang pria berwajah Tionghoa berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong pendek, dan matanya bergerak cepat memperhatikan keadaan sekitar.

Anneke berdiri ketika melihatku. “B, kenalkan. Ini Tan. Mitraku dari Singapura.”

Tan menjabat tanganku. “Saya trader makro,” katanya dalam bahasa Indonesia bercampur logat Singapura. “Saya mengelola portofolio obligasi, mata uang, indeks saham, dan komoditas.”

Aku mengangguk.

Tan tersenyum kecil. “ Saya datang ke Jakarta karena Anneke janjikan akan bertemu dengan Anda” katanya. “ Sekarang saya bisa bertemu dengan anda. Dan itu kesan tersendiri bagi trader muda seperti saya  “ Lanjutnya dalam bahasa inggris sempurna.

Kami pergi ke Restoran Jepang. Seorang pelayan mengantar kami ke room. Lampu dibuat redup, sementara aroma kayu, kecap asin, dan ikan panggang memenuhi ruangan.

Setelah memesan makanan, Anneke langsung membuka percakapan. “Tan mengatakan uang global sedang menghilang.”

Tan mengangkat alis. “Saya tidak pernah mengatakan uang menghilang.” Tan meletakkan telepon di atas meja. Pada layarnya terlihat pergerakan harga obligasi, minyak, mata uang, dan indeks saham global. “Pendanaan global sedang mengetat,” katanya. “Uangnya masih ada. Namun pemilik uang menjadi lebih mahal hati.”

“Mahal hati?” tanya Anneke.

“Mereka meminta yield lebih tinggi, tenor lebih pendek, agunan lebih kuat, serta premi risiko lebih besar. Ketika uang murah, investor mencari alasan untuk masuk. Ketika uang mahal, mereka mencari alasan untuk pergi.”

Tan menunjuk layar.

“Per Juli, yield US Treasury sepuluh tahun sempat naik ke sekitar 4,71 persen. Itu level yang sangat menarik bagi investor global karena mereka bisa mendapatkan imbal hasil tinggi dari aset yang dianggap paling aman dan paling likuid.”

“Harga minyak juga mendekati seratus dolar,” kataku.

“Bahkan sempat menembusnya,” jawab Tan. “Konflik di Timur Tengah membuat pasar kembali mengkhawatirkan gangguan pasokan. Minyak mahal berarti inflasi dapat naik lagi. Kalau inflasi bertahan, bank sentral tidak mempunyai banyak ruang untuk menurunkan bunga. Pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan kembali.”

Anneke menuangkan sake ke dalam cangkir kecilnya. “Fed funds masih 3,50 sampai 3,75 persen, bukan?”

“Benar. Namun pasar tidak hanya melihat suku bunga kebijakan hari ini. Pasar memperdagangkan apa yang mungkin terjadi enam atau dua belas bulan mendatang.”

Tan kemudian memandangku. “BI Rate 5,75 persen. Yield SBN sepuluh tahun sekitar 7,3 persen. Rupiah hampir delapan belas ribu per dolar.”

“JISDOR kemarin Rp17.973,” kataku.

“Dan pelemahannya hampir sepuluh persen dibandingkan setahun sebelumnya,” jawab Tan. “Itulah angka yang lebih penting bagi investor asing.”

Anneke terlihat tidak setuju. “Kalau yield SBN 7,3 persen, bukankah itu sudah tinggi?”

Tan mengambil ipad dan membuka file aplikasi. Ia menulis dua angka dengan pensil khusus.

[
5,75%-3,75%=2,00%
]

“Ini selisih BI Rate terhadap batas atas Fed funds rate,” katanya. “Hanya dua ratus basis poin.”

Kemudian ia menulis

[
7,30%-4,71%=2,59%
]

“Ini selisih yield SBN sepuluh tahun terhadap US Treasury sepuluh tahun. Sekitar 259 basis poin.”

“Lumayan besar,” kata Anneke.

“Besar kalau kamu hidup, makan, dan menghitung kekayaan dalam rupiah,” jawab Tan. “Tetapi manajer dana global menghitung hasil akhirnya dalam dolar.”

Ia kembali menulis

“Misalnya saya membeli SBN dengan yield 7,3 persen. Kalau rupiah melemah 9,9 persen dalam setahun, tanpa memperhitungkan perubahan harga obligasi, hasil saya dalam dolar sudah negatif sekitar 2,6 persen.”

[
7,30%-9,90%=-2,60%
]

Anneke menatap tulisan itu. “Padahal kuponnya tujuh persen lebih.”

“Kupon rupiah,” Tan menegaskan. “Investor asing tidak dapat membayar kewajiban dolar dengan rasa bangga karena memperoleh kupon rupiah.”

Pelayan datang membawa sashimi. Tan berhenti bicara sampai piring-piring selesai diletakkan. Aku mengambil sepotong ikan dengan sumpit.

“Itulah sebabnya pemerintah tidak cukup mengatakan spread bunga kita masih positif,” kata Anneke “Investor tidak membeli kupon saja. Mereka membeli kupon bersama risiko kurs, fiskal, likuiditas, dan kredibilitas.”

Tan mengangguk. “Dalam pasar berkembang, mata uang sering menjadi penilai terakhir. Pemerintah dapat menjelaskan banyak hal, tetapi kurs memperlihatkan apakah modal mempercayainya.”

“Bagaimana kalau investor melakukan lindung nilai?” tanya Anneke.

“Bisa,” jawab Tan. “Tetapi biaya hedging akan mengurangi carry. Kalau seluruh risiko kurs dilindungi dan biayanya mendekati selisih suku bunga, keunggulan yield SBN bisa menghilang.”

“Jadi Indonesia harus menaikkan bunga lagi?”

“Tidak sesederhana itu.”

Tan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Suku bunga lebih tinggi dapat mendukung rupiah dan menarik modal portofolio. Namun bunga tinggi juga menekan kredit, konsumsi, investasi, dan harga obligasi yang sudah beredar. Obat yang menyelamatkan kurs dapat memperlambat ekonomi.”

“BI sudah menaikkan bunga seratus basis poin sejak Mei,” kataku. “Pada rapat 21–22 Juli, mereka memilih menahan BI Rate di 5,75 persen. Mereka mencoba menggunakan insentif aliran modal dan kemudahan lindung nilai agar tidak seluruh beban stabilisasi ditanggung oleh suku bunga.”

Tan tersenyum tipis. “Itu keputusan yang masuk akal jika pasar percaya BI masih mempunyai kebebasan bertindak.”

“Kalau pasar meragukan independensinya?”

“Setiap kebijakan akan dianggap terlambat atau terlalu dipengaruhi kepentingan fiskal.”

Anneke memandang kami bergantian. “Bukankah investor terlalu curiga?”

“Pekerjaan investor bukan mempercayai pidato,” jawab Tan. “Pekerjaan kami adalah memastikan uang klien kembali.”

Setelah hidangan utama tiba, pembicaraan beralih kepada utang pemerintah. “Banyak orang mengira kenaikan yield langsung menaikkan bunga seluruh utang negara,” kataku. “Padahal tidak demikian.”

Tan mengangguk. “Utang lama dengan kupon tetap tidak langsung berubah. Tekanan masuk secara bertahap melalui penerbitan baru, pembiayaan defisit, dan refinancing surat utang yang jatuh tempo.”

Ia kembali menggunakan Ipad nya sebagai papan hitung. “Anggap pemerintah harus membiayai defisit dan me-refinancing utang senilai Rp800 triliun. Kalau rata-rata yield baru naik seratus basis poin, tambahan biaya bunganya setelah seluruh volume itu diterbitkan ulang adalah sekitar delapan triliun rupiah per tahun.”

[
Rp800 T x 1%=Rp8 T]

“Kalau yield naik 150 basis poin?”

[
Rp800 T x 1,5%=Rp12 T 
]

“Sekitar dua belas triliun rupiah per tahun,” jawab Tan. “Dan itu hanya dari satu kelompok pembiayaan. Bebannya akan bertambah jika tingkat bunga tinggi bertahan selama beberapa tahun.”

Anneke mengangkat bahu. “Dibandingkan PDB Indonesia, delapan atau dua belas triliun tidak terlalu besar.”

“Pasar tidak hanya melihat rasio utang terhadap PDB,” kataku. “Pasar juga melihat kemampuan kas negara.”

Aku mengambil pulpen dari tangan Tan dan menulis:

[
bunga utang + utang jatuh tempo } : { penerimaan pajak}
]

“Inilah salah satu ukuran tekanan yang lebih nyata,” kataku. “Negara dapat mempunyai rasio utang terhadap PDB yang terlihat moderat, tetapi tetap mengalami masalah jika penerimaan pajaknya sempit dan kebutuhan refinancing terlalu besar.”

“PDB tidak membayar bunga,” kata Tan. “Penerimaan negara yang membayarnya.”

Kalimat itu membuat Anneke terdiam. PDB adalah ukuran aktivitas ekonomi. Namun pemerintah tidak dapat mengambil seluruh aktivitas tersebut untuk melunasi kewajiban. Negara membutuhkan pajak, royalti, dividen, atau penerimaan lain yang benar-benar masuk ke kas.

“Kalau penerimaan tidak bertambah,” lanjut Tan, “pemerintah harus memilih: mengurangi belanja, menambah utang, menaikkan pajak, menjual aset, atau membiarkan bank sentral menyerap tekanan.”

“Semua pilihan mempunyai biaya politik,” kata Anneke.

“Karena itu pasar obligasi sering menjadi tempat politik bertemu matematika,” jawabku. “Politisi dapat menunda keputusan. Jatuh tempo utang tidak dapat ditunda hanya dengan pidato.”

Anneke menuangkan sake lagi. “Bukankah lelang SBN pemerintah selalu ramai?”

“Ramai belum tentu sehat,” jawab Tan.

Ia menjelaskan bahwa hedge fund tidak hanya melihat jumlah penawaran yang masuk. Mereka memeriksa bid-to-cover ratio, yield yang diminta, komposisi pembeli, distribusi tenor, serta perbedaan antara penawaran masuk dan penawaran yang dimenangkan.

“Misalnya pemerintah menawarkan SBN Rp30 triliun dan penawaran masuk Rp60 triliun,” katanya. “Media dapat menulis bahwa permintaan dua kali lebih besar.”

“Bukankah itu bagus?” Tanya Anneke.

“Belum tentu. Bagaimana kalau sebagian besar investor meminta yield sangat tinggi? Pemerintah mungkin hanya menerima Rp20 triliun karena tidak bersedia membayar harga yang diminta.”

“Berarti kebutuhan pembiayaan belum terpenuhi.”

“Benar. Ia hanya bergeser ke lelang berikutnya.”

“Kalau pemerintah menerima yield tinggi?”

“Target pembiayaan terpenuhi, tetapi biaya dana APBN naik.”

Tan mengambil sepotong daging panggang dan melanjutkan “Jumlah penawaran memberi tahu kita ada orang yang ingin membeli. Yield yang mereka minta memberi tahu kita berapa harga ketidakpercayaan.”

Aku memandangnya. Cara bicaranya dingin, tetapi tepat. “Komposisi pembeli juga penting,” kataku. “Jika permintaan asing berkurang dan semakin banyak SBN diserap bank domestik atau Bank Indonesia, lelang masih dapat berhasil. Namun risiko semakin terkonsentrasi di dalam sistem keuangan nasional.”

Tan mengangguk. “Bank membeli SBN karena likuid, dapat dijadikan agunan, dan secara regulasi dianggap aman. Tetapi kalau terlalu banyak, neraca bank menjadi sensitif terhadap kenaikan yield. Dana yang seharusnya mengalir ke kredit produktif juga dapat lebih banyak tinggal dalam surat utang negara.”

“Kalau investor memegang SBN sampai jatuh tempo, harga pasar tidak penting,” kata Anneke.

“Benar, selama ia tidak perlu menjual dan tidak mempunyai kewajiban mark-to-market,” jawab Tan. “Tetapi hedge fund, bank, dan manajer aset hidup dalam dunia harga harian.”

Ia menulis rumus pendek:

FC2

“Anggap modified duration obligasi sekitar tujuh tahun. Kalau yield naik 50 basis poin, harganya turun kira-kira 3,5 persen.”

[
-7 x 0,50%=-3,5%
]

“Kalau yield naik seratus basis poin, penurunannya sekitar tujuh persen.”

[
-7 x 1,00%=-7%
]

“Belum termasuk convexity,” kataku.

“Ini hanya pendekatan sederhana,” jawab Tan. “Tetapi cukup untuk memperlihatkan risikonya.”

Investor asing dapat mengalami kerugian dari dua arah. Harga obligasinya turun karena yield naik, sementara nilai rupiah melemah terhadap dolar. Kupon tujuh persen dapat habis hanya oleh koreksi harga dan kurs.

“Jadi ketika orang mengatakan SBN memberikan bunga tinggi, mereka hanya melihat satu sisi,” kata Anneke.

“Manusia memang senang melihat pendapatan dan melupakan risiko yang membiayainya,” jawabku.

Setelah meja dibersihkan, Tan membuka pembahasan global bond.

“Untuk obligasi dolar Indonesia, rumus dasarnya lebih mudah,” katanya.

“US Treasury adalah harga dasar uang dolar. Sovereign spread adalah harga risiko Indonesia.”

“Kalau Treasury sepuluh tahun 4,71 persen?” tanya Anneke.

“Misalkan investor meminta spread 120 sampai 170 basis poin. Biaya indikatifnya menjadi sekitar 5,91 sampai 6,41 persen.”

[
4,71%+1,20%=5,91%
]

[
4,71%+1,70%=6,41%
]

“Spread itu hanya ilustrasi,” kataku. “Setiap penerbitan dipengaruhi tenor, struktur, kondisi pasar, dan permintaan investor.”

“Namun prinsipnya jelas,” lanjut Tan. “Sekalipun risiko Indonesia tidak berubah, kenaikan US Treasury otomatis menaikkan titik awal biaya.” Ia membuat simulasi lain. “Anggap pemerintah atau perusahaan negara menerbitkan global bond USD5 miliar dengan yield 6,25 persen. Bunga kas tahunannya sekitar USD312,5 juta. Dengan kurs sekitar Rp18.000 per dolar, itu setara Rp5,63 triliun per tahun.”

“Dan pokok USD5 miliarnya tetap harus dilunasi dalam dolar,” kataku. “Jika rupiah melemah, nilai kewajiban itu dalam laporan rupiah ikut membesar.”

Anneke menatap angka  “Kalau hasil investasi proyeknya juga dolar?”

“Risikonya lebih terkendali,” jawabku. “Utang dolar seharusnya dipasangkan dengan pendapatan dolar atau lindung nilai yang jelas. Masalah muncul ketika negara atau perusahaan meminjam dalam dolar, tetapi arus kasnya rupiah.”

“Itu seperti menerima hujan dalam ember bocor,” kata Anneke.

“Lebih buruk,” jawab Tan. “Karena ukuran lubangnya berubah mengikuti kurs.”

Tan mematikan layar teleponnya. “Pada akhirnya, semua tekanan bertemu di rupiah.”

Dalam kondisi normal, investor dapat menerima yield SBN yang lebih rendah jika inflasi terkendali, fiskal dipercaya, bank sentral independen, cadangan devisa memadai, ekspor kuat, dan kebijakan pemerintah dapat diprediksi. Namun ketika minyak naik, Treasury tinggi, dolar kuat, dan pasar mulai mempertanyakan disiplin fiskal, rupiah menjadi salah satu aset pertama yang dijual.

“Mengapa rupiah?” tanya Anneke.

“Karena mata uang adalah instrumen paling likuid untuk mengekspresikan ketidakpercayaan,” jawab Tan. “Menjual proyek membutuhkan waktu. Menjual perusahaan membutuhkan pembeli. Menjual mata uang dapat dilakukan dalam hitungan detik.”

BI kemudian menghadapi tiga pilihan yang seluruhnya mempunyai biaya. “Pertama, menaikkan suku bunga,” kataku. “Itu dapat memperkuat rupiah, tetapi menekan kredit, pertumbuhan, serta harga obligasi.

“ Kedua, intervensi pasar valas,” lanjut Tan. “Berguna untuk meredam volatilitas, tetapi menggunakan cadangan devisa. Intervensi dapat membeli waktu, bukan menghapus penyebab.”

“Ketiga, membiarkan rupiah melemah,” kataku. “Likuiditas domestik lebih terjaga, tetapi imported inflation naik. Subsidi energi, bahan baku impor, utang valas, dan biaya hidup ikut tertekan.”

Anneke menatap kami. “Jadi tidak ada pilihan yang baik?”

“Dalam ekonomi, pilihan terbaik sering hanya pilihan dengan kerusakan paling kecil,” jawab Tan.

Aku menambahkan, “Karena itu kredibilitas sangat berharga. Kalau pasar percaya kepada kebijakan, pemerintah dan bank sentral tidak perlu menggunakan dosis obat yang terlalu besar.”

Percakapan terhenti ketika teh hijau dan makanan penutup datang. Di luar restoran, hotel tetap sibuk oleh tamu-tamu yang berjalan menuju lobi dan pusat perbelanjaan.

Anneke menatap sisa sake di cangkirnya. “Kalian berbicara tentang yield, kurs, dan spread. Tetapi siapa yang akhirnya membayar semua ini?”

“Rakyat,” jawabku.

Tan memandangku, tetapi tidak membantah. “Ketika bunga utang naik,” lanjutku, “ruang APBN untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan perlindungan sosial menyempit. Ketika rupiah melemah, bahan baku impor dan energi menjadi mahal. Ketika BI menaikkan bunga, cicilan rumah, kredit kendaraan, dan modal kerja usaha ikut tertekan.”

“Pasar hanya menyampaikan harga,” kata Tan.

“Benar. Pasar bukan lembaga moral. Ia tidak bertugas menciptakan keadilan.”

“Lalu siapa yang bertugas?”

“Negara.”

Aku meletakkan cangkir teh. “Negara harus memastikan bahwa kebijakan fiskal tidak dibangun untuk kepentingan jangka pendek elite, lalu biayanya dibebankan kepada rakyat melalui inflasi, pajak, pengurangan layanan, dan hilangnya pekerjaan.”

Tan mengangguk pelan. “Karena hedge fund tidak akan menunggu pemerintah memperbaiki keadaan,” katanya. “Kalau risikonya naik, kami menjual. Itu bukan cinta atau benci. Itu mandat.”

“Apakah kalian tidak merasa bersalah ketika menjual mata uang sebuah negara?” tanya Anneke melirik ke aku dan Tan.

Tan tersenyum hambar. “Apakah dokter harus merasa bersalah karena hasil laboratorium pasiennya buruk? Kami tidak menciptakan seluruh penyakitnya. Kami hanya membaca gejalanya lebih cepat.”

“Kadang-kadang trader juga memperparah keadaan.” Kata Anneke.

“Benar,” jawab Tan. “Pasar dapat berlebihan. Harga dapat bergerak melampaui fundamental. Namun spekulasi hanya mudah menyerang sistem yang kehilangan kredibilitas. Benteng yang kuat tidak roboh hanya karena diteriaki dari luar.”

Kami berjalan keluar dari restoran hampir pukul sebelas malam. Di lobi Grand Hyatt, suara piano terdengar pelan. Anneke berhenti di dekat deretan kursi, seolah belum ingin mengakhiri percakapan.

“Apakah kondisi ini akan menjadi krisis Indonesia?” tanyanya.

Tan memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Belum tentu. Indonesia mempunyai ekonomi besar, pasar domestik, cadangan devisa, ekspor komoditas, dan sistem perbankan yang lebih kuat dibandingkan masa lalu.”

“Jadi aman?”

“Saya tidak mengatakan aman. Saya mengatakan krisis bukan kepastian asal Pemerintah sadar resiko di depan dan segera melakukan pemotongan anggaran terutama anggaran populis yang return nya tidak jelas.”

Ia memandang Anneke dengan tajam. “Likuiditas global yang ketat tidak otomatis menimbulkan krisis. Namun ia menghilangkan ruang bagi kesalahan kebijakan.”

Ketika US Treasury memberikan yield sekitar 4,7 persen, investor tidak harus pergi jauh untuk memperoleh imbal hasil. Agar bersedia mengambil risiko Indonesia, mereka meminta salah satu dari dua hal: premi yield lebih tinggi atau kredibilitas kebijakan lebih kuat.

Jika pemerintah ingin menahan yield, tetapi pada saat yang sama memperbesar belanja, mengurangi penyangga fiskal, menambah kewajiban negara, atau menimbulkan keraguan terhadap independensi bank sentral, pasar akan menagih penyesuaian. Tagihannya datang melalui rupiah yang lebih lemah, yield SBN yang lebih tinggi, atau keduanya.

Anneke menoleh kepadaku. “ Tan, kalau kamu menjadi penasihat pemerintah, apa yang kamu lakukan?”

Pertama, jaga independensi BI. Kedua, buka seluruh kewajiban fiskal dan kontinjensi secara transparan. Ketiga, prioritaskan belanja produktif. Keempat, perkuat penerimaan pajak tanpa mematikan kegiatan usaha. Kelima, atur jatuh tempo utang agar tidak menumpuk pada periode yang sama.”

“Dan untuk rupiah?”tanya Anneke.

“Jangan hanya mempertahankan kurs dengan bunga dan cadangan devisa. Perkuat sumber dolar melalui ekspor bernilai tambah, investasi produktif, pariwisata, dan repatriasi hasil ekspor. Mata uang yang kuat membutuhkan kemampuan menghasilkan devisa, bukan sekadar kemampuan melakukan intervensi.” Kataku.

Tan tersenyum. “Itu jawaban seorang arsitek.”

“Apa jawaban seorang trader?” tanya Anneke.

Ia terdiam sebentar, kemudian berkata, “Kurangi posisi ketika pemerintah mulai mengganti angka dengan narasi.”

Anneke tertawa. “Sinis sekali.”

“Pasar membayar saya untuk meragukan.”

Aku menatap Tan. “Tetapi negara tidak dapat dibangun hanya oleh orang-orang yang meragukan.”

“Benar,” jawabnya. “Negara dibangun oleh orang yang mempunyai keyakinan. Namun keyakinan tanpa disiplin hanya menghasilkan utang.”

Kami berdiri dalam keheningan singkat. Dari balik kaca hotel, Jakarta masih menyala. Kota itu tampak seperti tidak pernah kehabisan tenaga. Namun di balik cahaya gedung dan ramainya kendaraan, jutaan orang sedang menghitung harga beras, cicilan rumah, biaya sekolah, serta ongkos menuju tempat kerja. Mereka mungkin tidak memahami modified duration, sovereign spread, atau biaya lindung nilai. Namun merekalah yang pertama merasakan akibat ketika teori-teori itu berubah menjadi harga kehidupan.

Sebelum berpisah, Tan berkata, “Dalam bahasa trader, ada satu kalimat sederhana.”

“Apa itu?” tanya Anneke.

“Saat likuiditas global longgar, narasi dapat membeli waktu. Saat likuiditas mengetat, arus kas, penerimaan pajak, jadwal jatuh tempo, dan kredibilitas menjadi hakimnya.”

Aku mengangguk. Uang memang tidak menghilang. Ia hanya menjadi lebih pemilih. Ia meninggalkan tempat yang terlalu banyak menjanjikan dan mendatangi tempat yang mampu membuktikan. Itulah sifat modal. Ia tidak mempunyai kesetiaan, tetapi mempunyai ingatan. Ia mengingat negara yang pernah mengubah aturan, perusahaan yang pernah menyembunyikan utang, dan pemimpin yang pernah menganggap pasar dapat diyakinkan hanya dengan pidato.

Malam itu aku memahami bahwa krisis jarang dimulai ketika uang benar-benar habis. Krisis dimulai ketika kepercayaan menyusut dan setiap pemilik uang secara bersamaan meminta pintu keluar. Dalam keadaan seperti itu, negara tidak dapat lagi hidup dari citra. Ia harus hidup dari arus kas, disiplin, dan kejujuran.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca