
Batavia, 1779. Hujan turun sejak petang. Air mengalir dari atap gudang, melewati tembok kota, lalu bercampur dengan lumpur, kotoran kuda, dan darah para kuli yang terluka ketika menurunkan peti-peti teh dari kapal.
Dari jendela lantai dua Kastel Batavia, Hendrik van Leeuwen memandang pelabuhan Sunda Kelapa yang diselimuti kabut. Kapal-kapal VOC berbaris seperti raksasa tua yang kelelahan. Layarnya kusam. Lambungnya dipenuhi lumut. Beberapa kapal menunggu perbaikan selama berbulan-bulan karena kas perusahaan tidak lagi cukup untuk membeli kayu dan membayar tukang. Namun di dalam laporan yang akan dikirim ke Amsterdam, semua kapal itu masih dicatat sebagai aset produktif.
Hendrik adalah akuntan muda yang dikirim dari Rotterdam tiga tahun sebelumnya. Ketika menerima penugasan ke Batavia, ia merasa telah menjadi bagian dari perusahaan terbesar di dunia. VOC mempunyai armada, benteng, tentara, gudang, mata uang, serta wilayah yang lebih luas daripada beberapa kerajaan di Eropa.
Ayahnya pernah berkata sebelum ia berlayar, “Negara dapat jatuh ketika rajanya mati. Namun perusahaan akan hidup selama masih menghasilkan keuntungan.”
Kini Hendrik mulai meragukan perkataan itu. Di atas mejanya tergeletak dua buku besar. Buku pertama berisi laporan resmi yang akan dikirim kepada Heeren XVII, dewan direksi VOC di Belanda. Angka-angkanya rapi. Pendapatan masih tinggi. Persediaan teh, kopi, pala, dan gula terlihat cukup. Piutang dicatat sebagai aset. Kapal yang rusak tetap diberi nilai seolah-olah masih mampu berlayar. Buku kedua tidak mempunyai sampul. Angka-angka di dalamnya ditulis menggunakan sandi. Buku itulah yang menggambarkan keadaan sebenarnya.
Kas Batavia menipis. Biaya tentara meningkat. Perbaikan kapal tertunda. Banyak pejabat melakukan perdagangan pribadi dengan memakai gudang, awak, dan kapal perusahaan. Komoditas terbaik tidak lagi masuk ke dalam pembukuan VOC, melainkan dikirim melalui pedagang perantara. Kerugian perusahaan menjadi keuntungan pegawainya.
Pintu ruangan terbuka. Cornelis de Witt, direktur perdagangan Batavia, masuk bersama seorang pelayan pribumi yang membawa anggur. Tubuh Cornelis gemuk. Wajahnya selalu kemerahan. Tiga cincin menghiasi jari-jarinya.
“Masih bekerja, Van Leeuwen?”
“Saya sedang memeriksa laporan pengiriman ke Amsterdam.”
Cornelis menuangkan anggur ke dalam gelas.
“Tidak perlu terlalu teliti. Direksi hanya ingin mengetahui bahwa dividen mereka aman.”
“Namun kas kita tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban.”
“Kas selalu dapat dicari.”
“Dengan utang baru?”
Cornelis tersenyum. “Utang adalah kepercayaan terhadap masa depan.”
“Bagaimana kalau masa depan tidak menghasilkan cukup uang?”
“Kalau begitu, kita pinjam dari masa depan yang lebih jauh.”
Hendrik menutup buku resmi.
“Biaya administrasi naik hampir dua kali lipat. Banyak kapal perusahaan mengangkut barang milik pribadi. Persediaan di gudang juga tidak sesuai laporan.”
Cornelis menatapnya. “Kau masih muda, Van Leeuwen. Karena itu kau mengira angka diciptakan untuk menjelaskan kenyataan.”
“Bukankah begitu?”
“Tidak. Angka diciptakan agar orang percaya kepada kenyataan yang kita perlukan.”
Cornelis berjalan menuju jendela. “Amsterdam memerlukan keuntungan. Para pemegang saham memerlukan dividen. Para pegawai di Batavia memerlukan tambahan pendapatan karena gaji mereka tidak cukup. Para penguasa lokal memerlukan hadiah agar tetap setia. Semua orang mendapatkan sesuatu. Mengapa kau ingin merusak keseimbangan itu?”
“Karena perusahaan sedang kehilangan uang.”
“Perusahaan tidak pernah kehilangan uang. Uang hanya berpindah tangan.”
“Dari perusahaan ke tangan siapa?”
Cornelis berbalik dan tersenyum. “Itu bukan pertanyaan seorang akuntan yang ingin pulang ke Belanda dalam keadaan hidup.”
Malam semakin larut ketika Cornelis meninggalkan ruangan. Hendrik membuka kembali buku kedua. Di salah satu halaman terdapat nama seorang pedagang besar di Batavia: Tan Kwee Liong. Pedagang itu memiliki jaringan kapal kecil yang berlayar menuju Makassar, Malaka, Benggala, dan Manila. Secara resmi ia menjadi pemasok VOC. Namun laporan rahasia menunjukkan bahwa kapal-kapalnya juga mengangkut barang milik pejabat Kompeni.
Tan Kwee membeli kopi dengan harga yang telah ditekan VOC. Kopi terbaik kemudian dikirim melalui jaringan pribadi. Hanya barang berkualitas lebih rendah yang diserahkan kepada gudang perusahaan. Sebagai gantinya, para pejabat memberikan izin, perlindungan, dan informasi mengenai pergerakan kapal.
Hendrik baru hendak menutup buku ketika terdengar ketukan tiga kali. Seorang laki-laki pribumi memasuki ruangan. Namanya Jayeng, juru tulis yang telah bekerja selama dua puluh tahun di kantor perdagangan. Jayeng meletakkan sebuah bundel dokumen di atas meja. “Daftar muatan kapal De Goede Hoop, Tuan.”
Hendrik membacanya. “Menurut laporan ini, kapal membawa seribu dua ratus peti teh.”
“Benar, Tuan.”
“Namun gudang hanya menerima delapan ratus.”
Jayeng diam.
“Di mana empat ratus peti lainnya?”
“Saya tidak tahu.”
Hendrik menatapnya. “Kau mengetahui setiap barang yang masuk ke pelabuhan.”
Jayeng tetap menunduk.
“Bicaralah. Aku tidak akan menghukummu.”
Perlahan Jayeng mengangkat kepala. “Empat ratus peti dipindahkan pada malam hari ke kapal milik Tuan Tan Kwee.”
“Perintah siapa?”
“Tuan Cornelis.”
“Apakah ini sudah sering terjadi?”
“Sejak sebelum Tuan datang ke Batavia.”
Hendrik merasa tengkuknya dingin. “Kenapa tidak pernah dilaporkan?”
Jayeng tersenyum pahit. “Kepada siapa kami harus melapor? Orang yang menerima laporan adalah orang yang memberi perintah.”
Kalimat itu membuat Hendrik terdiam. Jayeng menunjuk buku besar di atas meja. “Tuan Belanda percaya negeri ini dikuasai dengan meriam. Tidak sepenuhnya benar. Negeri ini dikuasai oleh buku seperti itu.”
“Apa maksudmu?”
“Tanah dirampas melalui perjanjian. Pajak ditentukan melalui catatan. Utang petani bertambah melalui angka. Hasil bumi berpindah tangan melalui kuitansi. Meriam hanya dipakai apabila orang-orang menolak percaya kepada kertas.”
Hendrik memandang juru tulis itu. “Dan sekarang buku yang sama sedang menghancurkan VOC,” lanjut Jayeng. “Tuan-tuan menulis keuntungan yang tidak pernah ada dan menyembunyikan kerugian yang tidak ingin diketahui.”
“Dari mana kau memahami semua ini?”
“Saya sudah dua puluh tahun menyalin kebohongan.”
Jayeng membungkuk, lalu meninggalkan ruangan. Hendrik kembali memandang pelabuhan. Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa VOC tidak sedang dihancurkan oleh musuh dari luar. Perusahaan itu sedang dimakan oleh orang-orang yang hidup di dalam tubuhnya sendiri. Namun di Amsterdam, para pemegang saham masih menunggu dividen. Dan selama dividen dibayar, tidak seorang pun ingin mendengar bahwa kapal terbesar di dunia telah mulai bocor.
Pedagang yang Membeli Pejabat
Rumah Tan Kwee Liong berdiri di luar tembok kota, dikelilingi gudang, kandang kuda, dan taman yang ditata menyerupai halaman bangsawan Tiongkok. Pada malam tertentu, pejabat VOC datang melalui pintu depan. Pada malam lain, mereka masuk diam-diam lewat gerbang belakang. Mereka datang membawa peraturan. Mereka pulang membawa uang. Tan Kwee tidak pernah menganggap dirinya koruptor. Menurutnya, korupsi hanyalah sebutan yang digunakan orang miskin terhadap cara orang kaya menyelesaikan urusan.
“Pemerintah membuat pintu,” katanya kepada putranya, Liang. “Pedagang hanya membayar orang yang memegang kunci.”
Malam itu Cornelis duduk di ruang makan bersama dua pejabat pelabuhan dan seorang kapten kapal. Di atas meja terhidang bebek panggang, ikan, buah-buahan, serta anggur dari Eropa. Tan Kwee mengeluarkan peta pelayaran. “Saya membutuhkan ruang untuk tiga ratus peti teh di kapal Amsterdam.”
Kapten menggeleng. “Kapal itu milik Kompeni.”
“Saya tahu.”
“Semua ruang muatan sudah tercatat.”
“Catatan dapat diperbaiki.”
Pejabat pelabuhan tertawa. Cornelis mengangkat gelas. “Apa yang kami dapatkan?”
“Dua puluh persen dari keuntungan bersih.”
“Tiga puluh.”
“Dua puluh lima.”
“Ditambah biaya bagi petugas pemeriksa.”
Tan Kwee berpikir sejenak. “Sepakat.”
Tidak ada kontrak. Tidak ada tanda tangan. Dalam perdagangan ilegal, kepercayaan dibangun oleh kesadaran bahwa semua pihak sama-sama bersalah.
Setelah perjamuan, Cornelis berjalan bersama Tan Kwee di taman.
“Akuntan muda itu mulai terlalu banyak bertanya,” kata Cornelis.
“Hendrik van Leeuwen?”
“Kau mengenalnya?”
“Saya mengenal semua orang yang dapat mengubah biaya perdagangan saya.”
“Dia menemukan selisih muatan.”
Tan Kwee berhenti di depan kolam. “Beli dia.”
“Kalau dia tidak dapat dibeli?”
“Semua orang dapat dibeli. Hanya mata uangnya yang berbeda. Ada yang menginginkan emas. Ada yang menginginkan perempuan. Ada yang menginginkan jabatan. Orang yang mengaku jujur biasanya meminta harga yang lebih mahal: kehormatan.”
Cornelis menatapnya. “Kalau kehormatan itu tidak dapat kita berikan?”
“Beri dia rasa takut.”
***
Pada malam yang sama, Hendrik meninggalkan kantor lebih lambat daripada biasanya. Ia tidak ingin pulang ke rumah. Kamar tidurnya terlalu sunyi, sedangkan kepalanya dipenuhi angka-angka yang tidak bersedia diam. Empat ratus peti teh yang hilang, kapal rusak yang masih dicatat sebagai aset, utang jangka pendek, serta biaya militer yang terus membesar berputar-putar dalam pikirannya.
Batavia telah tertidur setengah sadar. Di sepanjang kanal, lampu minyak bergoyang tertiup angin. Air yang hitam memantulkan cahaya rumah-rumah besar, tetapi tidak mampu menyembunyikan bau busuk dari lumpur dan limbah. Kereta pejabat melintas menuju kawasan selatan, sementara budak dan kuli berjalan di sisi jalan dengan kepala menunduk.
Hendrik menyuruh kusir berhenti di Tijgersgracht. Di tepi kanal berdiri sebuah herberg bernama De Vergulde Tijger—Harimau Bersepuh Emas. Lambangnya berupa seekor harimau Jawa berwarna keemasan yang dilukis pada papan kayu di atas pintu. Tempat itu dikenal para pelaut, pedagang, pejabat rendahan, serta orang-orang Eropa yang tidak ingin diketahui sedang mencari hiburan. Di lantai bawah terdapat kedai minum. Di lantai atas tersedia kamar-kamar dengan jendela menghadap kanal.
Musik biola terdengar dari dalam. Begitu Hendrik masuk, bau arak, tembakau, keringat, dan minyak wangi menyambutnya. Pelaut tertawa keras di sudut ruangan. Dua pegawai pelabuhan bermain kartu. Seorang kapten Denmark tidur dengan kepala tergeletak di atas meja, sementara gelasnya masih berada dalam genggaman.
Hendrik memilih meja di bagian belakang.
“Jenever,” katanya kepada pelayan. “Bawa botolnya.”
Ia meneguk gelas pertama terlalu cepat. Pada gelas kedua, angka-angka di kepalanya mulai kehilangan bentuk. Pada gelas ketiga, ia tidak lagi melihat laporan keuangan, melainkan wajah Cornelis ketika mengatakan bahwa angka diciptakan agar manusia percaya kepada kenyataan yang diperlukan.
“Kalau diminum secepat itu, Tuan tidak akan melupakan masalah.” Suara perempuan terdengar dari samping. Hendrik menoleh. Seorang perempuan muda berdiri sambil membawa nampan. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Kulitnya kuning langsat. Matanya sedikit menyipit, tetapi sorotnya lembut dan tajam sekaligus. Rambut hitamnya disanggul rendah, dihiasi tusuk konde dari perak. Ia mengenakan kebaya hijau gelap dan kain batik pesisir. Wajahnya mempertemukan dua garis keturunan. Mungkin Ibunya seorang pribumi dari daerah pegunungan di selatan Batavia. Ayahnya pasti keturunan Tionghoa.

Di De Vergulde Tijger, ia dikenal dengan nama Mei Sari. Beberapa tamu memanggilnya Sari. Pedagang Tionghoa memanggilnya Mei. Laki-laki Belanda yang merasa kesulitan mengucapkan kedua nama itu menyebutnya Maria.
“Dari mana kau tahu aku mempunyai masalah?” tanya Hendrik.
Mei Sari menunjuk botol di atas meja. “Orang yang datang untuk bersenang-senang memperhatikan perempuan dan musik. Tuan sejak tadi hanya memperhatikan dasar gelas.”
Hendrik tersenyum tipis. “Duduklah.”
“Duduk saya mempunyai harga.”
“Semua yang ada di Batavia rupanya mempunyai harga.”
Mei Sari menarik kursi, lalu duduk di hadapannya. “Tidak semuanya, Tuan. Ada yang tidak dapat dibeli, tetapi tetap dapat dirampas.”
Jawaban itu membuat Hendrik memperhatikannya lebih lama. “Kau selalu berbicara seperti ini kepada tamu?”
“Tidak. Saya biasanya mengatakan apa yang ingin mereka dengar.”
“Lalu mengapa tidak kepadaku?”
“Karena Tuan belum mengetahui apa yang ingin Tuan dengar.”
Hendrik menuangkan jenever ke dalam gelas lain dan mendorongnya kepada Mei Sari. Perempuan itu menolak dengan gerakan halus. “Saya bekerja dengan kepala tetap sadar.”
“Sedangkan tamumu?”
“Sebagian besar datang kemari untuk membayar agar boleh kehilangan kesadaran.”
Hendrik tertawa kecil. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit ringan. Namun tawa itu segera menghilang. “Aku bekerja sebagai akuntan VOC.”
“Saya tahu.”
Hendrik mengerutkan kening. “Bagaimana kau tahu?”
“Tangan Tuan bersih, tetapi ujung jari terkena tinta. Pakaian Tuan terlalu baik untuk seorang juru tulis, tetapi tidak cukup mewah untuk seorang saudagar. Tuan datang sendirian dan terlihat takut kepada pikiran sendiri. Berarti Tuan bekerja di kantor Kompeni.”
Hendrik memandang tangannya.
“Kau terlalu cerdas untuk bekerja di tempat seperti ini.”
Mei Sari tersenyum. “Tempat seseorang bekerja tidak selalu menunjukkan kecerdasannya, Tuan. Sering kali hanya menunjukkan pilihan yang tersedia baginya.”
Hendrik teringat perkataan Jayeng: rakyat menjual tenaga, tanah, dan kadang-kadang anak mereka. “Apakah kau memilih pekerjaan ini?”
“Apakah Tuan memilih lahir sebagai orang Belanda?”
“Tentu tidak.”
“Begitu pula saya tidak memilih dilahirkan sebagai perempuan peranakan tanpa nama keluarga yang dapat melindungi saya.”
Jawaban itu memutus keinginan Hendrik untuk bertanya lebih jauh. Ia menuangkan minuman lagi. “Aku menemukan pencurian dalam pembukuan VOC,” katanya. “Muatan kapal dialihkan. Gudang dipakai untuk barang pribadi. Pejabat menerima uang dari pedagang. Kapten menyewakan ruang kapal perusahaan. Semua orang mengetahui, tetapi tidak seorang pun merasa sedang melakukan kejahatan.”
“Karena mereka melakukannya bersama-sama.”
“Itu tidak membuatnya benar.”
“Tidak. Namun kesalahan yang dilakukan sendirian disebut kejahatan. Kesalahan yang dilakukan bersama-sama sering berubah nama menjadi kebiasaan.”
Hendrik menatap perempuan itu. “Aku datang ke Batavia untuk menjaga pembukuan perusahaan. Namun semakin dalam aku memeriksa, semakin sulit membedakan uang perusahaan, uang pejabat, dan uang pedagang.”
Mei Sari memandang ke arah meja tempat dua pegawai pelabuhan bermain kartu. “Itulah masalah Kompeni.”
“Apa maksudmu?”
“VOC mengaku sebagai perusahaan ketika sedang mencari keuntungan. Namun ia bertindak sebagai negara ketika membutuhkan kepatuhan.”
Hendrik terdiam.
Mei Sari melanjutkan, “Ia membuat peraturan, lalu ikut berdagang di bawah peraturan yang dibuatnya sendiri. Ia menentukan harga, memungut pajak, memberikan izin, memiliki tentara, menghukum pesaing, dan menandatangani perjanjian dengan raja-raja. Kalau mengalami kerugian, ia meminta perlindungan negara Belanda. Kalau memperoleh keuntungan, uangnya dibagikan kepada pemegang saham dan pejabatnya.”
“VOC mendapat kewenangan itu secara sah.”
“Sah menurut siapa?”
“Kerajaan Belanda.”
“Apakah petani Jawa ikut memberikan kewenangan?”
Hendrik tidak menjawab.
“Kompeni adalah negara bayangan,” kata Mei Sari. “Ia mempunyai kekuasaan negara, tetapi tidak memikul seluruh tanggung jawab negara. Ia mencari laba seperti pedagang, tetapi dapat memenjarakan orang seperti penguasa.”
“VOC memerlukan kekuasaan untuk menjaga perdagangan.”
“Masalahnya bukan apakah kekuasaan itu diperlukan. Masalahnya, siapa yang mengawasi kekuasaan tersebut.”
Mei Sari mendekatkan tubuhnya ke meja. “Batas antara birokrasi, peraturan, dan bisnis tidak lagi terlihat. Orang yang menulis izin juga mempunyai kepentingan dalam kapal yang menerima izin. Orang yang memeriksa barang mendapat bagian dari barang selundupan. Orang yang menentukan harga membeli hasil bumi dengan harga tersebut. Lalu orang yang seharusnya menghukum mereka makan di meja yang sama.”
Hendrik memutar gelas di tangannya. “Dari mana kau memahami semua itu?”
“Ayah saya dahulu juru buku.”
“Untuk siapa?”
“Rumah dagang Tionghoa yang menjadi pemasok VOC. Ia sering membuat dua catatan. Satu untuk Kompeni, satu lagi untuk pemilik usaha.”
“Seperti buku yang kutemukan.”
Mei Sari menatapnya. “Tuan menemukan dua pembukuan?”
Hendrik tersadar bahwa ia telah berbicara terlalu jauh. “Lupakan.”
“Saya tidak dibayar untuk mengingat rahasia tamu.”
“Apakah ayahmu menjadi kaya?”
“Tidak. Ia menemukan angka yang seharusnya tidak ditemukan.”
“Apa yang terjadi?”
“Suatu pagi ia ditemukan di kanal.”
Suara biola masih terdengar, tetapi bagi Hendrik ruangan itu mendadak terasa sunyi. “Maafkan aku.”
“Permintaan maaf tidak menghidupkan orang mati.”
Mei Sari memandang nyala lilin di antara mereka. “Kerakusan terjadi di mana saja, Tuan. Di Eropa, di Batavia, di istana raja, di rumah saudagar, bahkan di tempat ibadah. Namun kerakusan menjadi racun peradaban ketika bertemu kekuasaan yang tidak terbatas.”
“Menurutmu VOC akan runtuh karena korupsi?”
“Tidak hanya karena korupsi.”
“Lalu karena apa?”
“Karena kemunafikan.”
Hendrik mengangkat wajah.
“Kompeni ingin disebut perusahaan ketika ditanya tentang tanggung jawabnya. Ia ingin disebut pemerintah ketika kepentingannya dilawan. Ia berbicara tentang disiplin kepada pegawai kecil, tetapi direkturnya memperkaya diri. Ia menghukum pedagang yang melanggar monopoli, tetapi pejabatnya sendiri melakukan perdagangan gelap. Ia menyebut rakyat pribumi malas, padahal hasil kerja rakyat itulah yang membayar pesta mereka.”
Mei Sari mengambil botol jenever dan menjauhkannya dari Hendrik. “Organisasi seperti itu mungkin tidak langsung runtuh. Ia bahkan dapat terlihat semakin besar. Namun kebesarannya hanya kulit. Di dalamnya, semua orang sibuk mengambil sesuatu sebelum orang lain mengambil lebih dahulu.”
Hendrik bersandar. “Cornelis mengatakan perusahaan tidak pernah kehilangan uang. Uang hanya berpindah tangan.”
“Dia benar.”
“Benar?”
“Uang VOC berpindah ke tangan pejabat, pedagang, kapten, dan pemegang saham. Yang tertinggal di dalam perusahaan hanya utang dan kewajiban.”
Hendrik menatapnya lama. “Kalau semua orang sudah korup, apa gunanya aku mempertahankan kejujuran?”
Mei Sari tersenyum tipis. “Kejujuran tidak selalu menyelamatkan sebuah lembaga. Kadang-kadang ia hanya menyelamatkan satu manusia agar tidak ikut menjadi bagian dari kebusukan.”
“Lalu kalau kejujuran itu membuatku terbunuh?”
“Setidaknya Tuan mati sebagai diri sendiri.”
“Itu penghiburan yang buruk.”
“Saya pramuria, bukan pendeta.”
Hendrik tertawa. Mei Sari pun tersenyum. Untuk beberapa saat mereka duduk tanpa berbicara. Dari luar terdengar roda kereta melewati jalan berbatu. Seorang pelaut menyanyikan lagu dalam bahasa yang tidak dimengerti Hendrik.
“Ayahmu dibunuh karena pembukuan,” kata Hendrik. “Namun kau tetap bekerja di tengah para pejabat dan pedagang.”
“Di sinilah saya belajar.”
“Belajar apa?”
“Bahwa laki-laki lebih banyak membuka rahasia ketika ingin terlihat berkuasa. Mereka datang membawa tubuh yang harum dan pakaian mahal, lalu setelah minum beberapa gelas mulai menceritakan siapa yang mereka suap, kapal siapa yang akan berlayar, dan pejabat mana yang dapat dibeli.”
“Lalu kau apakan semua informasi itu?”
“Saya simpan.”
“Untuk apa?”
“Informasi adalah satu-satunya kekayaan yang tidak dapat mereka lihat pada tubuh saya.”
Hendrik mulai memahami bahwa kecantikan perempuan di hadapannya hanyalah bagian paling luar dari cara bertahan hidup. Di balik kebaya, senyum, dan tata krama seorang pramuria, Mei Sari membangun ruang kecil yang tidak dapat dikuasai tamunya. Seperti Jayeng, ia hidup di bawah kekuasaan VOC, tetapi diam-diam mempelajari cara kerja kekuasaan tersebut.
“Apakah kau mengenal Tan Kwee Liong?” tanya Hendrik.
Mei Sari tidak segera menjawab. “Hampir semua pedagang besar pernah datang ke tempat ini.”
“Apakah dia korup?”
“Pedagang tidak menciptakan pejabat yang dapat dibeli. Mereka hanya menemukan harga pejabat tersebut.”
“Berarti kau membelanya?”
“Tidak. Pembeli dan penjual sama-sama bertanggung jawab. Namun jangan hanya menyalahkan orang yang membawa uang. Tanyakan juga mengapa orang yang membuat aturan mempunyai kewenangan menjual pengecualian.”
Hendrik menghabiskan minuman terakhirnya. “Aku harus pergi.”
Mei Sari berdiri. “Pulanglah sebelum Tuan mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali.”
Hendrik mengeluarkan beberapa keping uang dan meletakkannya di meja. Mei Sari mengambil satu keping saja. “Bukankah kau berkata dudukmu mempunyai harga?”
“Yang lain untuk mendengarkan.”
“Aku harus membayar lebih karena telah banyak bicara.”
“Tidak. Malam ini Tuan sudah membayar dengan ketakutan.”
Saat Hendrik melangkah menuju pintu, Mei Sari memanggilnya.
“Tuan Hendrik.”
Ia berbalik.
“Kalau Tuan ingin mengetahui apakah sebuah perusahaan masih dapat diselamatkan, jangan lihat gedung, kapal, atau harga sahamnya.”
“Lalu lihat apa?”
“Lihat orang-orang di dalamnya. Jika orang jujur mulai disingkirkan dan pencuri mulai saling melindungi, perusahaan itu sudah bangkrut secara moral. Kebangkrutan keuangan hanya menunggu waktu.”
Hendrik berdiri beberapa saat, kemudian mengangguk. Di luar, angin malam menyusuri Tijgersgracht. Hendrik menaiki kereta dengan kepala yang lebih jernih, meskipun hatinya semakin berat.
Setibanya di rumah, sebuah amplop telah menunggu di bawah pintu. Di dalamnya terdapat undangan makan malam dari Tan Kwee Liong. Hendrik membaca nama pedagang itu, lalu teringat ucapan Mei Sari: Pedagang tidak menciptakan pejabat yang dapat dibeli. Mereka hanya menemukan harganya.
Keesokan malam, Hendrik datang memenuhi undangan tersebut.
Tan Kwee menyambutnya dengan ramah. “Saya dengar Tuan sangat pandai membaca angka.”
“Saya hanya menjalankan tugas.”
“Itulah kalimat paling berbahaya dalam sebuah pemerintahan.”
Mereka duduk berhadapan. Tan Kwee mendorong sebuah kotak kayu ke arah Hendrik. Di dalamnya terdapat emas.
Hendrik menatap keras kepada Tan Twee dan mendorong kembali kotak kayu itu kepada Tan Kwee. “ Jangan beli saya.” Katanya dengan datar namun tegas “ Mungkin saya dianggap gila menolak ini dan tentu tidak akan ada pengaruh apapun dengan bisnis kamu kalau saya menolak dibeli.Tapi saya harus pastikan cara kamu salah..” lanjutnya dan berlalu. Dia sadar seperti kata Mei Sari, dia ingin mati sebagai dirinya sendiri…
Dividen dari Uang Pinjaman
Amsterdam, awal 1780. Salju menutupi atap Oost-Indisch Huis ketika para anggota Heeren XVII berkumpul. Di ruang rapat, kayu terbakar di perapian dan anggur disajikan dalam gelas kristal. Laporan dari Batavia tergeletak di atas meja. Salah satu direktur, Jacob Meerman, membaca ringkasannya. “Pendapatan dari teh meningkat. Pengiriman kopi stabil. Persediaan rempah cukup. Dewan mengusulkan pembayaran dividen seperti tahun sebelumnya.”
Seorang anggota bernama Pieter de Vries mengangkat tangan. “Arus kas kita menurun.”
“Penurunan sementara.”
“Utang jangka pendek meningkat.”
“Kapal dari Asia belum tiba.”
“Beberapa kapal tidak pernah tiba.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pieter membuka laporan lain. “Biaya militer naik. Biaya administrasi di Asia membengkak. Kita membayar dividen lebih besar daripada keuntungan yang tersedia.”
Jacob tersenyum dingin. “Kalau dividen dikurangi, pasar akan menganggap VOC sedang kesulitan.”
“VOC memang sedang kesulitan.”
“Pasar tidak perlu mengetahui semua kenyataan.”
“Lalu dividen akan dibayar dari mana?”
“Kita terbitkan pinjaman baru.”
“Jadi kita berutang untuk mempertahankan harga saham?”
“Kita berutang untuk menjaga kepercayaan.”
Pieter berdiri. “Kepercayaan yang dibangun dengan utang adalah kebohongan.”
Ketua rapat mengetukkan palu. “Cukup. VOC telah bertahan hampir dua abad. Perusahaan tidak akan runtuh hanya karena beberapa kapal terlambat dan sejumlah pegawai mencuri.”
Pieter memandang wajah-wajah di sekeliling meja. Sebagian besar mempunyai saham VOC. Mereka tidak hanya bertindak sebagai pengurus perusahaan, tetapi juga sebagai penerima dividen. Jika dividen dikurangi, merekalah yang pertama kehilangan pendapatan. Konflik kepentingan itu tidak pernah ditulis dalam laporan. Pemungutan suara dilakukan. Mayoritas menyetujui pembayaran dividen. Hari itu VOC mempertahankan kehormatannya di hadapan pasar dengan mengorbankan kesehatannya sendiri. Ia membagikan uang yang tidak sungguh-sungguh dihasilkannya.
Di luar gedung, salju terus turun. Para pedagang menerima kabar bahwa dividen aman. Harga kepercayaan pun bertahan. Tidak seorang pun melihat lubang yang semakin besar di dasar kapal.
Perang yang Memutus Nadi
Berita perang tiba di Batavia beberapa bulan kemudian. Pemerintah Belanda berperang dengan Inggris. Kapal-kapal Inggris mulai memburu armada VOC. Jalur pelayaran terganggu. Kapal dagang yang dahulu membawa teh, kopi, gula, dan rempah harus berlayar dengan pengawalan militer—jika pengawalan masih tersedia. Tiga kapal VOC dirampas dalam waktu kurang dari dua bulan. Dua kapal lain tidak pernah tiba. Sebuah kapal yang membawa teh dari Tiongkok dilaporkan tenggelam, tetapi tidak seorang pun dapat memastikan apakah kapal itu benar-benar karam atau sengaja menghilang untuk mengganti bendera dan nama. Kas Batavia semakin menipis.
Namun Cornelis memerintahkan para juru tulis mengubah cara pencatatan. Kapal yang belum tiba tidak boleh dicatat sebagai kerugian, melainkan sebagai muatan dalam perjalanan. Piutang yang hampir mustahil ditagih tetap dimasukkan sebagai aset. Biaya perang dipindahkan ke pos pengamanan perdagangan agar laporan tidak terlihat terlalu buruk. Kerugian tidak diselesaikan. Ia hanya diganti namanya.
Malam setelah membaca laporan itu, Hendrik kembali mendatangi De Vergulde Tijger di tepi Tijgersgracht. Kedai itu lebih sepi dibandingkan kunjungannya yang pertama. Beberapa pelaut berbicara dengan suara pelan mengenai kapal-kapal Inggris yang berkeliaran di Laut Hindia. Seorang kapten tua duduk di dekat pintu sambil memandangi peta pelayaran. Tidak ada lagi tawa keras. Perang telah mengubah setiap pelaut menjadi manusia yang mulai menghitung kemungkinan kematiannya sendiri.
Hendrik duduk di meja yang sama. Ia tidak memesan sebotol jenever seperti sebelumnya. Hanya satu gelas anggur merah yang tidak disentuhnya sejak diletakkan pelayan. Mei Sari melihatnya dari balik meja panjang. Malam itu ia mengenakan kebaya berwarna merah tua. Rambutnya disanggul sederhana dengan tusuk konde perak. Wajahnya masih menyimpan kecantikan yang sama, tetapi matanya segera menangkap kegelisahan pada diri Hendrik.
Ia berjalan mendekat. “Tuan datang untuk minum atau memandangi gelas?”
“Duduklah.”
“Apakah kali ini saya harus dibayar untuk mendengarkan?”
“Barangkali aku yang seharusnya membayarmu untuk berbicara.”
Mei Sari menarik kursi. “Apa yang terjadi?”
“Perang.”
“Perang selalu terjadi. Yang berubah hanya orang yang diminta membayarnya.”
“Kapal-kapal kita dirampas Inggris. Jalur perdagangan terganggu. Kas hampir kosong.”
“Lalu apa yang dilakukan para penguasa Kompeni?”
“Mengubah laporan.”
Mei Sari tersenyum kecil. Bukan karena geli, melainkan karena telah menduga jawabannya. “Mereka mengganti nama kerugian?”
Hendrik menatapnya. “Bagaimana kau tahu?”
“Karena orang berkuasa tidak suka menyelesaikan masalah yang memperlihatkan kesalahannya. Mereka lebih suka mengganti nama masalah agar terlihat seperti keberhasilan.”
“Kapal yang hilang dicatat sebagai muatan dalam perjalanan. Piutang yang tidak mungkin ditagih tetap dianggap aset.”
“Dan biaya perang?”
“Dimasukkan sebagai biaya pengamanan perdagangan.”
“Jadi dalam buku mereka, Kompeni tidak sedang kalah perang. Kompeni hanya sedang meningkatkan keamanan.”
Hendrik akhirnya meneguk anggurnya. “Kau seharusnya menjadi akuntan.”
“Saya lebih memilih menjadi pramuria. Seorang akuntan dapat dipenjara karena menemukan angka yang salah. Seorang pramuria cukup tersenyum seolah-olah tidak memahami apa-apa.”
Hendrik meletakkan gelas. “Aku sudah berusaha memperingatkan Cornelis. Dia mengatakan kita hanya perlu bertahan sampai perang selesai.”
“Dengan uang siapa?”
“Pinjaman baru.”
“Untuk memperbaiki usaha?”
“Untuk membayar tentara, menutup biaya pelayaran, dan melunasi kewajiban yang sudah jatuh tempo.”
“Jadi mereka membuat utang baru untuk menutup utang lama.”
“Katanya hanya sementara.”
Mei Sari memandang nyala lilin. “Tidak ada sesuatu yang lebih abadi daripada kebijakan sementara yang menguntungkan orang berkuasa.”
Hendrik tertawa pendek, tetapi kegelisahan tidak menghilang dari wajahnya. “Direksi di Amsterdam tetap ingin membayar dividen. Kalau dividen dikurangi, mereka khawatir kepercayaan pemegang saham runtuh.”
“Apakah perusahaannya masih menghasilkan keuntungan?”
“Tidak cukup.”
“Lalu yang mereka pertahankan bukan perusahaan. Mereka sedang mempertahankan penampilan.”
Hendrik mengangguk. “Mereka percaya utang dapat membeli waktu.”
“Utang memang dapat membeli waktu,” jawab Mei Sari. “Namun waktu yang dibeli dengan utang bukanlah hadiah. Ia hanya penundaan sebelum penagih datang.”
“Tanpa pinjaman, VOC dapat berhenti beroperasi.”
“Dengan pinjaman itu, VOC mungkin beroperasi lebih lama. Namun kalau cara kerjanya tidak berubah, perusahaan hanya mendapat waktu lebih panjang untuk menggali kuburnya sendiri.”
Hendrik menatap perempuan itu. “Semua orang di sekelilingku mengetahui ada yang salah. Namun tidak seorang pun berani mengatakannya.”
“Karena orang berkuasa mudah tersinggung ketika diingatkan kepada kesalahannya.”
“Bukankah kritik diperlukan untuk memperbaiki keadaan?”
“Bagi orang yang masih menginginkan perbaikan, benar. Namun bagi orang yang hanya ingin mempertahankan kekuasaan, kritik dianggap ancaman.”
Mei Sari menunjuk beberapa meja di sekitar mereka. “Lihat para pejabat kecil itu. Mereka tidak mendengarkan isi perkataan seseorang. Mereka hanya bertanya, orang ini berada di pihak siapa? Jika laporan menguntungkan mereka, laporan itu disebut benar. Jika laporan menunjukkan kesalahan mereka, orang yang membawanya akan dicurigai.”
“Itulah yang terjadi kepadaku.”
“Tuan mulai dianggap berbahaya?”
“Cornelis menanyakan siapa yang menyuruhku memeriksa pembukuan. Seolah-olah menemukan pencurian lebih mencurigakan daripada melakukan pencurian.”
“Sebentar lagi dia tidak akan membantah angkamu. Dia akan menyerang kesetiaanmu.”
Hendrik terdiam. “Dari mana kau tahu?”
“Begitulah cara kekuasaan melindungi dirinya. Kalau tidak mampu membantah kebenaran, ia meragukan niat orang yang menyampaikannya. Tuan akan dituduh bekerja untuk Inggris, membantu pesaing, membocorkan rahasia, atau merencanakan pemberontakan.”
“Aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan.”
“Kompeni tidak ingin diselamatkan dengan cara yang mengharuskannya mengakui kesalahan.”
Musik biola mulai dimainkan. Nadanya lambat, hampir menyerupai ratapan. Hendrik melihat beberapa pegawai pelabuhan tertawa bersama perempuan-perempuan muda. Perang sedang berlangsung. Kapal dirampas. Kas menipis. Namun anggur tetap dituangkan dan kartu tetap dibagikan.
“VOC sedang bergerak menuju jurang,” kata Hendrik.
“Semua orang mengetahuinya.”
“Lalu mengapa tidak ada yang menghentikan?”
“Karena setiap orang masih sibuk mengambil sesuatu dari kereta sebelum kereta itu jatuh.”
Mei Sari menatapnya dalam-dalam. “Pegawai mengambil barang dari gudang. Kapten menyewakan ruang kapal. Pedagang membeli izin. Direksi mempertahankan dividen. Pemegang saham menuntut keuntungan. Mereka semua tahu Kompeni sedang menuju jurang, tetapi masing-masing berharap sempat melompat dengan membawa hasil rampasan.”
“Bagaimana dengan rakyat?”
“Rakyat tidak diberi tempat di dalam kereta. Namun ketika kereta jatuh, merekalah yang akan diminta mendorongnya kembali.”
Hendrik meremas jarinya. “Cornelis memerintahkan peningkatan penyerahan kopi. Pajak pelabuhan akan dinaikkan. Para petani dipaksa menutup kerugian akibat perang yang tidak pernah mereka mulai.”
“Apakah orang-orang di Amsterdam mengetahui keadaan mereka?”
“Mungkin.”
“Apakah mereka peduli?”
Hendrik tidak menjawab.
Mei Sari tersenyum pahit. “Ketika kekuasaan terlalu jauh dari penderitaan, manusia berubah menjadi angka. Seribu petani kelaparan hanya akan disebut penurunan tenaga produksi. Desa yang kehilangan anak-anak karena penyakit dicatat sebagai gangguan pasokan. Rakyat miskin hanya terlihat ketika pajaknya terlambat.”
“Kompeni mengaku membawa ketertiban.”
“Ketertiban untuk siapa?”
“Bagi perdagangan.”
“Berarti yang dijaga bukan kehidupan manusia. Yang dijaga adalah arus barang dan uang.”
Hendrik memandang keluar jendela. Lampu-lampu rumah besar berkilau di atas kanal yang berbau busuk. “Kau benar. VOC bukan lagi perusahaan.”
“VOC juga bukan negara.”
“Lalu apa?”
Mei Sari berpikir sejenak. “Monster.”
Hendrik mengangkat wajah. “Monster?”
“Perusahaan mempunyai tujuan mencari keuntungan. Negara mempunyai kewajiban melindungi rakyat. VOC mengambil kekuasaan negara untuk mencari keuntungan perusahaan, tetapi menolak tanggung jawab keduanya ketika mengalami kerugian.”
Mei Sari melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Sekarang ia menjadi monster bagi kerajaan Belanda sendiri. Dahulu negara menciptakan VOC untuk membawa kekayaan dari Asia. Kelak negara harus memberi makan VOC agar monster itu tidak mati.”
“Dengan menjamin utangnya?”
“Dengan mengambil alih utang, pasukan, wilayah, dan seluruh kebusukan yang ditinggalkannya.”
Hendrik bersandar di kursi. “Kalau itu terjadi, para pejabat yang memperkaya diri mungkin sudah pensiun. Pemegang saham telah menerima dividen. Pedagang telah menyimpan emas. Lalu negara mengambil alih kerugian.”
“Dan siapa yang membiayai negara?”
“Rakyat.”
“Jadi keuntungan dibagi kepada orang-orang yang dekat dengan kekuasaan. Kerugian dibagikan kepada semua orang.”
Hendrik mengangguk pelan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi merangkum seluruh pembukuan VOC yang selama ini diperiksanya. “Apakah kerajaan Belanda akan membiarkan itu terjadi?” tanyanya.
“Kerajaan tidak mempunyai banyak pilihan. VOC telah dibuat terlalu besar untuk dibiarkan mati, tetapi terlalu busuk untuk diselamatkan tanpa mengorbankan rakyat.”
Hendrik tersenyum pahit. “Kau berbicara seolah-olah telah melihat masa depan.”
“Saya hanya melihat sifat manusia. Masa depan biasanya dibangun dari kerakusan yang tidak diselesaikan pada masa kini.”
Musik berhenti menjelang tengah malam. Beberapa tamu meninggalkan kedai. Hujan mulai turun, mengetuk jendela dan atap genting De Vergulde Tijger. Hendrik tidak segera bangkit. “Aku takut,” katanya.
Mei Sari memandangnya. “Takut mati?”
“Takut menjadi seperti mereka.”
“Kalau Tuan masih takut menjadi seperti mereka, berarti Tuan belum sepenuhnya berubah.”
“Aku juga takut menyeretmu ke dalam masalah.”
“Saya sudah hidup di dalam masalah jauh sebelum mengenal Tuan.”
***
Setelah itu hubungan dengan Mei dan Hendrik semakin akrab. Suatu saat, Hendrik mengulurkan tangan, lalu berhenti sebelum menyentuhnya. “Bolehkah aku memegang tanganmu?”
Pertanyaan itu membuat wajah Mei Sari melunak. Di tempat tersebut, lelaki biasanya memegang perempuan lebih dahulu, baru menanyakan harganya kemudian. Mei Sari meletakkan tangannya di atas tangan Hendrik. “Kali ini Tuan tidak perlu membayar saya untuk duduk.”
Jari-jari mereka bertaut. Tidak ada gairah yang tergesa-gesa. Hanya dua manusia kesepian yang untuk beberapa saat ingin mempercayai bahwa dunia masih menyediakan tempat aman.
Hendrik menatap matanya. “Aku tidak ingin sendirian malam ini.”
Mei Sari tidak langsung menjawab. Telah 3 bulan dia mengenal Hendrik. Tiga bulan selalu datang dalam galau. Kini Hendrik berkata tidak ingin sendirian.. Di luar, hujan semakin lebat. Cahaya lampu memantul di permukaan kanal, pecah oleh ribuan titik air. “Ada kamar di lantai atas,” katanya akhirnya.
Hendrik mengeluarkan uang, tetapi Mei Sari menahan tangannya.
“Bayar pemilik penginapan untuk kamarnya.”
“Lalu untukmu?”
“Saya naik bukan karena Tuan membeli saya.”
Hendrik menatapnya. “Lalu karena apa?”
“Terlalu naif kalau saya kasih tahu alasannya. ” Jawab Mei sambil melangkah ” Apakah Tuan masih harus mematung sampai dapat jawaban jujur dari seorang pramuria?
Mereka menaiki tangga kayu yang sempit. Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi lirih. Di ujung lorong, seorang pelayan membuka sebuah kamar, menyalakan lampu minyak, lalu pergi setelah menerima uang dari Hendrik. Kamar itu sederhana. Ada ranjang kayu, meja kecil, baskom, dan jendela menghadap Tijgersgracht.
Mei Sari berdiri di depan jendela. Hendrik mendekat, tetapi tidak segera menyentuhnya. Bayangan mereka bertemu pada kaca—dua manusia dari dunia berbeda yang disatukan oleh ketakutan terhadap kekuasaan yang sama. “Apakah Tuan akan menyesal?” tanya Mei Sari.
“Barangkali.”
“Lalu mengapa tetap di sini?”
“Karena tidak semua yang mungkin kita sesali harus kita hindari.”
Mei Sari berbalik. Hendrik mengusap air mata yang tertahan di sudut matanya. Perempuan itu kemudian menyandarkan kepala di dada Hendrik, mendengarkan detak jantung yang lebih jujur daripada semua laporan keuangan yang pernah dibacanya. Hendrik mencium keningnya. Ciuman itu turun perlahan, seperti hujan pertama yang menyentuh tanah setelah kemarau panjang. Tidak menuntut. Tidak menaklukkan. Hanya meminta izin untuk tinggal sejenak.
Mei Sari memadamkan lampu. Kegelapan menyelimuti kamar, tetapi tidak menakutkan.
Dari jendela, cahaya bulan yang samar jatuh ke ranjang dan membentuk garis perak di antara mereka. Malam itu mereka tidak berbicara tentang harga. Tidak ada kontrak, tidak ada kuitansi, dan tidak ada janji yang harus dicatat dalam buku besar. Pakaian yang selama ini menjadi batas antara kedudukan dan pekerjaan dilepaskan bersama keraguan yang mereka bawa dari dunia di luar kamar.
Mereka saling mendekat seperti dua negeri yang selama ini dipisahkan lautan, kemudian menemukan bahwa jarak dapat hilang ketika keduanya berhenti membawa senjata.
Hendrik tidak memperlakukan Mei Sari sebagai perempuan yang tersedia untuk dibeli. Ia menyentuhnya seperti seseorang menyentuh halaman terakhir sebuah surat—perlahan, takut merusak makna yang belum selesai dibaca. Mei Sari menerima Hendrik bukan sebagai pejabat Kompeni, melainkan sebagai lelaki yang sedang kehilangan kepercayaan kepada dunia yang membesarkannya.
Di luar, hujan terus mengguyur Batavia. Air memenuhi kanal, membersihkan debu dari jalan, tetapi tidak sanggup mencuci dosa yang telah mengendap berabad-abad di dalam kota itu. Di dalam kamar, dua tubuh saling memberi kehangatan tanpa berusaha saling memiliki. Mereka bertemu bukan sebagai penjajah dan yang dijajah, bukan sebagai tamu dan pramuria, melainkan sebagai dua manusia yang sama-sama mengetahui bahwa pagi dapat memisahkan mereka.
Ketika gelombang terakhir gairah mereda, Mei Sari berbaring dalam pelukan Hendrik. Napas mereka perlahan menemukan irama yang sama. “Apakah ini juga kemunafikan?” tanya Hendrik.
“Apa?”
“Kita berbicara tentang kehancuran VOC, sementara di luar sana orang-orang sedang menderita. Namun kita bersembunyi di kamar ini.”
Mei Sari mengangkat wajah. “Tidak semua kebahagiaan adalah pengkhianatan terhadap penderitaan. Kadang-kadang manusia membutuhkan satu malam yang lembut agar masih memiliki keberanian menghadapi kekejaman esok hari.”
Hendrik mencium rambutnya. “Apa yang harus kulakukan besok?”
“Katakan kebenaran sekali lagi.”
“Mereka tidak akan mendengar.”
“Kebenaran tidak selalu disampaikan karena orang lain bersedia mendengar. Kadang-kadang ia harus diucapkan agar kebohongan tidak menjadi satu-satunya suara.”
“Aku mungkin ditangkap.”
“Ya.”
“Mungkin dibunuh.”
“Ya.”
Hendrik tertawa kecil. “Kau buruk dalam menghibur orang.”
“Saya sudah pernah mengatakan bahwa saya bukan pendeta.”
Mereka tertawa pelan.
Menjelang fajar, hujan berhenti. Cahaya pucat menyusup melalui celah jendela. Batavia perlahan terbangun. Pedati mulai bergerak. Peluit kapal terdengar dari pelabuhan. Para buruh kembali memanggul komoditas yang nilainya tidak pernah mereka nikmati.
Mei Sari mengenakan kebayanya. Sebelum pergi, ia menyentuh wajah Hendrik. “Jangan datang lagi untuk sementara.”
“Karena berbahaya?”
“Cornelis mempunyai orang di banyak tempat. Kalau dia mulai mencurigai Tuan, dia akan mencari siapa pun yang pernah Tuan percaya.”
Hendrik menggenggam tangannya. “Aku akan melindungimu.”
“Jangan menjanjikan sesuatu yang belum tentu dapat Tuan lakukan.” Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah. Mei Sari hanya terlalu lama hidup di antara lelaki yang menggunakan janji untuk membeli ketenangan perempuan.
“Aku akan berusaha,” kata Hendrik.
“Itu lebih jujur.”
Mei Sari membuka pintu, lalu berhenti. “Tuan Hendrik.”
“Ya?”
“Monster tidak mati karena diberi makan. Ia hanya tumbuh semakin besar.”
Setelah itu ia pergi. Hendrik berdiri sendirian di tengah kamar. Kehangatan Mei Sari masih tertinggal di ranjang, tetapi perkataannya telah berubah menjadi keberanian yang dingin di dalam dadanya.
***
Pagi itu ia kembali ke kantor. Cornelis telah menunggu dengan laporan kerugian perang di atas meja. “Tiga kapal dirampas Inggris,” katanya.
Hendrik mengambil dokumen tersebut. “Muatan diasuransikan?”
“Sebagian.”
“Bagaimana dengan kapal dari Benggala?”
“Belum ada kabar.”
“Kas kita hanya cukup untuk membayar tentara selama dua bulan.”
Cornelis berjalan mondar-mandir. “Kirim perintah kepada daerah. Tingkatkan penyerahan kopi. Naikkan pajak pelabuhan. Minta pinjaman dari saudagar.”
“Rakyat sudah dibebani terlalu berat.”
“VOC sedang berperang.”
“Perang di Eropa, tetapi petani Jawa yang harus membayarnya?”
Cornelis menatap tajam. “Jangan mulai berbicara seperti pemberontak.”
Namun Hendrik tidak lagi menunduk. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut. Keberanian adalah membawa rasa takut itu masuk ke ruangan penguasa, lalu tetap mengatakan apa yang tidak ingin mereka dengar.
Perusahaan yang Memakan Dirinya Sendiri
Perang berakhir, tetapi luka VOC tidak sembuh. Armada berkurang. Jalur perdagangan direbut pesaing. Gudang dipenuhi barang yang sulit dijual. Utang terus bertambah. Uang baru dipinjam untuk membayar utang lama. Di Batavia, para pegawai tetap mengadakan pesta. Di Amsterdam, para direktur tetap mempertahankan penampilan. VOC hidup seperti bangsawan tua yang telah menjual perabot rumahnya, tetapi masih menjamu tamu dengan piring berlapis emas agar tidak seorang pun mengetahui bahwa dapurnya telah kosong.
Hendrik ditahan di sebuah kamar sempit di dalam Kastel Batavia. Tidak pernah ada tuduhan resmi yang dibacakan kepadanya. Cornelis hanya mengatakan bahwa ia sedang diperiksa karena diduga membocorkan rahasia perusahaan. Namun Hendrik mengerti, penahanan tanpa tuduhan jauh lebih berbahaya daripada pengadilan. Di pengadilan, seseorang masih dapat membela diri. Di dalam kamar tanpa jendela itu, nasibnya hanya bergantung pada kehendak orang-orang yang berkuasa.
Tiga bulan berlalu. Pada suatu malam, ketika suara langkah penjaga mulai jarang terdengar, pintu selnya terbuka. Tan Kwee masuk seorang diri. “Bagaimana Anda bisa masuk?” tanya Hendrik.
“Saya membeli penjaga.”
Hendrik tertawa kecil. “Tentu saja.”
Tan Kwee menarik bangku dan duduk di hadapannya. “Buku itu sudah berlayar menuju Belanda.”
“Dengan kapal siapa?”
“Kapal dagang Denmark. Kaptennya tidak mengetahui isi peti yang dibawanya.”
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih terlalu cepat. Saya membuat salinannya.”
“Untuk memeras para pejabat?”
“Untuk melindungi diri.”
Hendrik menggeleng. “Anda tidak pernah melakukan sesuatu tanpa keuntungan.”
“Orang yang tidak mencari keuntungan akan dijadikan keuntungan oleh orang lain.”
Tan Kwee mengeluarkan selembar surat dari balik jubahnya, lalu menyerahkannya kepada Hendrik. Itu adalah surat pembebasan. Pada bagian bawahnya tertera tanda tangan Cornelis. “Bagaimana Anda mendapatkannya?”
“Cornelis juga dapat dibeli.”
“Dengan apa?”
“Dengan janji bahwa salinan buku itu tidak akan dikirim kepada istrinya.”
Hendrik menatap Tan Kwee beberapa saat, lalu tertawa. Itulah tawa pertamanya selama berminggu-minggu. Di Batavia, rupanya kehormatan seorang pejabat tidak runtuh karena kejahatannya diketahui negara, melainkan karena istrinya mengetahui perempuan-perempuan yang dibiayainya dengan uang perusahaan.
Mereka meninggalkan sel melalui pintu samping. Seorang penjaga membuka lorong sempit yang berujung pada pintu kecil di sisi timur kastel. Dari sana, mereka melewati gudang mesiu dan halaman belakang yang hampir tidak mendapat penerangan. Tan Kwee berjalan cepat. “Jangan merasa sudah bebas,” katanya. “Sebelum melewati gerbang, nyawa Tuan masih menjadi milik orang-orang yang bertugas malam ini.”
“Bukankah Anda sudah membeli mereka?”
“Saya membeli kesetiaan mereka sampai pergantian jaga. Sesudah itu, harga kesetiaan dapat berubah.”
Pintu terakhir terbuka. Udara malam menyambut Hendrik. Ia berhenti sejenak dan menghirup napas panjang, seperti seseorang yang baru kembali dari dasar laut. Di luar kastel, sebuah kereta telah menunggu. Jayeng duduk di kursi kusir sambil memegang tali kekang. Dua lentera tergantung di sisi kereta, menerangi jalan berlumpur dan sebagian tembok kastel.
Namun bukan kereta itu yang pertama kali dilihat Hendrik. Di bawah pohon asam, beberapa langkah dari sana, berdiri seorang perempuan. Mei Sari mengenakan kebaya biru gelap dan kain batik sederhana. Rambutnya disanggul tanpa perhiasan. Tidak ada minyak wangi, bedak, ataupun senyum yang biasa dikenakannya untuk menyambut tamu di De Vergulde Tijger.
Ketika melihat Hendrik keluar dari gerbang, senyum perlahan tumbuh di wajahnya. Bukan senyum seorang pramuria. Bukan pula senyum yang dipelajarinya agar laki-laki merasa berkuasa. Itu adalah senyum seorang perempuan yang baru saja melihat seseorang kembali dari kemungkinan kematian.

Hendrik berdiri terpaku. “Mei…”
Perempuan itu tidak bergerak. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia berusaha mempertahankan senyum. Selama ditahan, Hendrik telah mempersiapkan diri menghadapi interogasi, pembuangan, bahkan kematian. Ia membayangkan berbagai kemungkinan buruk, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa seseorang akan menunggunya di luar tembok kastel.
Tiba-tiba ia berlari. Tan Kwee dan Jayeng saling berpandangan. Hendrik melintasi jalan berlumpur, lalu memeluk Mei Sari sekuat-kuatnya. Perempuan itu terhuyung satu langkah sebelum membalas pelukannya.
Untuk beberapa saat, tidak ada kata-kata. Hendrik membenamkan wajah pada rambut Mei Sari. Kehangatan tubuh perempuan itu meyakinkannya bahwa ia benar-benar telah bebas. Bukan tanda tangan Cornelis. Bukan pintu penjara yang terbuka. Pelukan itulah yang membuatnya percaya bahwa hidupnya telah dikembalikan.
“Aku mengira tidak akan melihatmu lagi,” bisik Hendrik.
Mei Sari memejamkan mata. “Aku juga.”
“Mengapa kau datang?”
“Karena akulah yang meminta Tuan Tan Kwee menolongmu.”
Hendrik perlahan melepaskan pelukannya. “Apa maksudmu?”
Mei Sari menunduk. Selama tiga bulan, diam-diam ia mengumpulkan kabar dari para pelayan, serdadu, dan pegawai perusahaan yang datang ke De Vergulde Tijger. Dari percakapan mereka, ia mengetahui jadwal pergantian penjaga, pintu mana yang jarang diperiksa, dan kelemahan Cornelis yang paling ingin disembunyikannya. Semua informasi itu dibawanya kepada Tan Kwee.
“Aku tidak mempunyai uang untuk membelimu keluar,” kata Mei Sari. “Aku hanya mempunyai rahasia orang-orang yang memenjarakanmu.”
Tan Kwee menyela dari kejauhan, “Nona Mei datang ke rumah saya hampir setiap malam. Ia tidak berhenti sampai saya bersedia mengambil risiko.”
“Karena Tuan Tan Kwee orang baik?” tanya Hendrik.
Tan Kwee tersenyum tipis. “Jangan merusak nama baik saya.”
Hendrik kembali menatap Mei Sari. Baru saat itu ia memahami bahwa kebebasannya bukan semata-mata hasil kecerdikan Tan Kwee. Perempuan yang selama ini dianggap sekadar penghias meja minum ternyata telah menggerakkan orang, membeli informasi, dan mempertaruhkan keselamatannya untuk membebaskan dirinya.
Ia memegang kedua bahu Mei Sari. “Kau tidak seharusnya berada di sini. Jika Cornelis mengetahui hubungan kita—”
“Cornelis sudah mengetahui terlalu banyak tentang hidup orang lain,” potong Mei Sari lembut. “Malam ini, biarlah untuk pertama kalinya ia tidak mengetahui ke mana kita akan pergi.”
“ Aku mencintaimu” Kata Hendrik dengan lirih.
Senyum Mei Sari menghilang. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. “Jangan mengatakan sesuatu hanya karena baru keluar dari penjara.”
“Aku memikirkannya di dalam sana.”
“Orang yang terkurung sering mencintai apa pun yang mengingatkannya kepada kebebasan.”
“Kalau begitu, engkaulah kebebasan itu.”
Mei Sari mengalihkan wajah. Ia tidak ingin Hendrik melihat betapa dalam kalimat tersebut menyentuh luka yang selama ini disembunyikannya. Hendrik menggenggam tangannya. “Ikut denganku ke Amsterdam.”
Mei Sari menatapnya kembali. “Apa?”
“Ikut denganku ke Amsterdam.”
Tan Kwee yang berdiri dekat kereta mengembuskan napas panjang. “Van Leeuwen,” katanya, “kita belum melewati penjagaan kedua. Kalau Tuan ingin melamar perempuan, lakukan setelah kita berada di tempat aman.”
Namun Hendrik tidak memedulikannya. “Aku serius,” katanya kepada Mei Sari. “Ketika semua ini selesai, kita berlayar ke Amsterdam. Aku akan meninggalkan VOC. Kita mulai kehidupan baru.”
Mei Sari menarik tangannya perlahan. “Di Amsterdam, saya akan menjadi apa?”
“Perempuan yang hidup bersamaku. Sejak tamat Universitas aku tidak punya kekasih dan pergi ke Batavia tanpa istri..”
Mei terdiam
“Aku akan menikahimu.” Hendrik memegang bahu Mei.
Mei Sari memandangnya seolah Hendrik baru saja mengucapkan sesuatu yang lebih mustahil daripada menyelamatkan VOC.
“Tuan tahu siapa saya?”
“Mei Sari.”
“Saya pramuria.”
“Tidak bagiku.”
“Ayah saya Tionghoa. Ibu saya Sunda. Saya tidak mempunyai nama keluarga yang dihormati orang Belanda.”
“Aku tidak membutuhkan nama keluargamu.”
“Namun masyarakat Tuan membutuhkannya. Mereka akan melihat kulit saya sebelum mendengar perkataan saya. Mereka akan bertanya dari mana Tuan memungut saya. Mereka mungkin menerima rempah-rempah, teh, gula, dan kekayaan dari negeri ini, tetapi belum tentu menerima seorang perempuan dari negeri yang mereka jajah.”
“Aku tidak hidup untuk memperoleh persetujuan mereka.”
Mei Sari tersenyum sedih. “Semua orang berkata begitu sebelum pintu masyarakat ditutup di hadapan mereka.”
“Aku akan membuka pintu lain.”
“Dengan apa?”
“Dengan kedua tanganku, kalau perlu.”
Mei Sari menatap tangan Hendrik. Tangan seorang akuntan yang terbiasa memegang pena, bukan mendobrak pintu. Namun ia mengetahui bahwa keberanian tidak selalu terletak pada kekuatan tangan. Kadang-kadang ia terletak pada kesediaan kehilangan segala sesuatu yang selama ini memberikan kedudukan.
“Aku tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh. Mungkin ketika kau mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan bersama-sama sering berubah nama menjadi kebiasaan. Mungkin ketika kau menyebut VOC sebagai monster. Atau mungkin ketika kau menungguku di luar penjara malam ini.”
Mei tertunduk.
“Aku mencintaimu karena di tengah kota yang dipenuhi kepalsuan, hanya bersamamu aku tidak perlu berpura-pura.”
Mei Sari menunduk. Seumur hidupnya, ia telah disentuh banyak laki-laki. Sebagian memuji kecantikannya. Sebagian menjanjikan perhiasan. Ada pula yang menawarkan rumah kecil asalkan ia bersedia menjadi perempuan simpanan. Namun baru kali itu seseorang memintanya ikut pergi bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk dibawa pulang.
“Kalau saya ikut, saya tidak mau menjadi pelayanmu,” katanya.
“Tidak.”
“Saya tidak mau menjadi perempuan yang kau sembunyikan ketika tamu datang.”
“Tidak akan.”
“Saya juga tidak mau dibawa karena kau merasa berutang karena pembebasanmu.”
“Aku mengajakmu karena ingin berbagi hidup, bukan membayar utang.”
Hendrik kembali memeluknya, kali ini dengan lebih lembut. Mei Sari menyandarkan kepala di dadanya. “Apa itu berarti kau bersedia?” tanyanya.
Mei Sari belum sempat menjawab ketika Tan Kwee berdeham keras. “Maaf mengganggu kisah cinta kalian, tetapi penjaga yang saya bayar hanya setia sampai lonceng berikutnya berbunyi.”
Jayeng turun dari kursi kusir dan membuka pintu kereta. “Kita harus pergi.”
Hendrik menggandeng Mei Sari menuju kereta. Tan Kwee memperhatikan mereka dengan wajah tidak sabar. “Van Leeuwen, saya mulai mengerti mengapa Tuan memilih perempuan ini. Dia lebih sulit dibeli daripada Anda.”
Mereka menaiki kereta. Jayeng mencambuk kuda perlahan. Roda bergerak melewati jalan berlumpur, meninggalkan Rumah penjara yang temboknya menjulang dalam kegelapan.
Di dalam kereta, Hendrik tidak melepaskan tangan Mei Sari. “Ke mana kita pergi?” tanyanya kepada Tan Kwee.
“Keluar dari Batavia,” jawab Tan Kwee itu. “Kota ini sedang menunggu wabah berikutnya atau kebangkrutan, mana yang datang lebih dahulu.”
Hendrik memandang Mei Sari. “Setelah itu Amsterdam.”
Mei Sari menggeleng pelan. “Belum.”
Hendrik mengerutkan kening. “Kau tidak bersedia?”
“Saya tidak mengatakan tidak.”
“Lalu?”
Mei Sari memandang keluar jendela kereta. Tembok kastel perlahan menghilang. Di kejauhan tampak gudang, rumah-rumah penduduk, serta pelabuhan tempat kapal-kapal membawa kekayaan Nusantara menuju Eropa. “Selama buku itu belum dibuka dan kebenaran belum diketahui, kau tidak akan tenang di Amsterdam,” katanya. “Kita selesaikan dahulu apa yang sudah kau mulai.”
“Itu berbahaya.”
“Kau mengajak saya membagi hidup. Berarti saya juga harus membagi bahayanya.”
Hendrik memandangnya lama. “Setelah semua selesai?”
“Kalau kita masih hidup,” jawab Mei Sari, “saya akan ikut.”
Hendrik mencium punggung tangannya. “Ke Amsterdam?”
Mei Sari tersenyum. “Ke mana pun kita dapat hidup tanpa harus membeli atau menjual martabat.”
Buku yang Tidak Ikut Tenggelam
Amsterdam, 31 Desember 1799. Salju turun sejak pagi. Atap-atap rumah di sepanjang kanal memutih. Permukaan air membeku tipis di beberapa bagian. Kereta kuda bergerak perlahan melewati jalan berbatu, sementara lonceng gereja berdentang menandai berakhirnya satu tahun—sekaligus berakhirnya sebuah kekuasaan yang selama hampir dua abad menguasai perdagangan, pelabuhan, tanah, dan kehidupan jutaan manusia.
Hari itu piagam VOC tidak diperpanjang. Kompeni resmi dibubarkan. Tidak ada upacara besar. Tidak ada dentuman meriam. Tidak ada iring-iringan untuk mengantar kematian salah satu korporasi terbesar yang pernah diciptakan manusia.
Gedung Oost-Indisch Huis masih berdiri. Lambang VOC masih terpahat di atas pintu. Para pegawai masih datang membawa dokumen. Namun perusahaan itu tidak lagi mempunyai masa depan. Asetnya diambil alih negara. Wilayah kekuasaannya diwariskan kepada pemerintah. Utangnya dibebankan kepada Republik Batavia. Keuntungan selama masa kejayaan telah dibagikan kepada pemegang saham, pejabat, kapten kapal, dan pedagang. Namun ketika kerugian datang, negara mengambil alih semuanya. Pada akhirnya, rakyat yang tidak pernah menerima dividen harus membayar kebangkrutan perusahaan.
Hendrik van Leeuwen berdiri di depan jendela sebuah rumah sederhana di Prinsengracht. Rambutnya telah memutih di pelipis. Tubuhnya tidak lagi tegap seperti ketika pertama kali tiba di Batavia. Namun kebiasaan seorang akuntan tidak pernah meninggalkannya. Di tangannya terdapat surat kabar yang memberitakan pembubaran VOC. Ia membaca berita itu berulang kali. Bukan karena tidak memahami isinya, melainkan karena sulit mempercayai bahwa perusahaan yang dahulu tampak lebih kuat daripada kerajaan akhirnya mati hanya melalui keputusan administratif.
Dari ruang belakang terdengar bunyi cangkir diletakkan di atas meja. Mei Sari muncul membawa dua gelas teh. Usianya hampir setengah abad, tetapi kecantikannya belum hilang. Wajahnya kini menyimpan garis-garis halus yang dibentuk musim dingin, pengalaman, dan berbagai penghinaan yang telah dilewatinya. Rambutnya disanggul sederhana. Ia mengenakan gaun Eropa berwarna gelap, tetapi sehelai kain batik tetap melingkari bahunya.
Selama hampir dua puluh tahun tinggal di Amsterdam, Mei Sari belajar mengenakan pakaian Eropa tanpa bersedia meninggalkan dirinya.
Ia meletakkan teh di dekat Hendrik. “Jadi, monster itu akhirnya mati?” tanyanya.
Hendrik menyerahkan surat kabar. “Piagamnya berakhir hari ini.”
Mei Sari membaca beberapa baris, kemudian mengembalikannya.
“Itu bukan jawaban.”
“Apa maksudmu?”
“Apakah monsternya benar-benar mati?”
Hendrik memandang keluar jendela. “Perusahaannya dibubarkan.”
“Wilayahnya?”
“Diambil alih negara.”
“Pasukannya?”
“Juga.”
“Utangnya?”
“Negara yang menanggung.”
Mei Sari tersenyum pahit. “Berarti monsternya tidak mati. Ia hanya berganti pemilik.”
Hendrik tidak membantah.
Di jalan, seorang penjual koran berteriak mengabarkan berakhirnya VOC. Sebagian orang menyambut berita itu dengan kesedihan. Bagi mereka, VOC adalah lambang kejayaan Belanda—perusahaan yang membawa teh, kopi, gula, pala, cengkih, porselen, dan kekayaan dari negeri-negeri jauh. Mereka tidak pernah melihat petani yang dipaksa menyerahkan hasil bumi. Mereka tidak pernah mencium bau gudang Batavia. Mereka tidak pernah menyaksikan orang dipukul karena melanggar monopoli. Bagi mereka, VOC adalah kapal-kapal besar dan dividen. Bagi Mei Sari, VOC adalah tubuh ayahnya yang ditemukan di kanal karena membaca angka yang seharusnya tidak dibaca.
“Apakah kau bahagia?” tanya Mei Sari.
“Karena VOC runtuh?”
Mei Sari mengangguk.
Hendrik menarik napas. “Dahulu aku mengira keruntuhannya akan membuatku lega. Namun sekarang aku hanya merasa kosong.”
“Karena kebenaranmu terlambat?”
“Karena buku itu tidak mengubah apa-apa.”
Buku rahasia dari Batavia memang telah sampai di Amsterdam. Pieter de Vries membacanya dan membawa isinya ke hadapan dewan direksi. Ia menunjukkan perdagangan pribadi para pejabat, muatan yang hilang, biaya palsu, kapal rusak yang masih dianggap produktif, serta perbedaan besar antara keuntungan yang diumumkan dan kas yang sebenarnya tersedia.
Namun direksi tidak memeriksa pencurian tersebut secara terbuka. Mereka justru mempertanyakan asal buku itu. Mereka menuduh pembawanya hendak merusak kepercayaan pasar. Beberapa orang mengatakan laporan tersebut dibuat oleh pesaing Inggris. Yang lain menganggapnya sebagai upaya menjatuhkan pejabat tertentu. Tidak seorang pun membantah seluruh angkanya. Namun hampir semua orang mencurigai orang yang membawanya.
Kebenaran tidak dikalahkan melalui perdebatan. Ia dikunci di dalam lemari dan diberi cap rahasia. Hendrik akhirnya memahami perkataan Mei Sari, orang berkuasa tidak selalu membenci kebohongan. Mereka hanya membenci kebenaran yang mengganggu kedudukan.
“Apa yang kau harapkan terjadi?” tanya Mei Sari.
“Mereka seharusnya melakukan pembaruan. Menghentikan perdagangan pribadi, mengurangi dividen, membuka pembukuan, dan memisahkan pejabat pemerintah dari kepentingan bisnis.”
“Lalu?”
“Mungkin VOC masih dapat diselamatkan.”
“Untuk apa?”
Hendrik menatapnya. “Untuk tetap berdagang.”
“Atau untuk tetap menguasai negeri orang lain?”
Pertanyaan itu membuat Hendrik terdiam.
Mei Sari duduk di dekat perapian. “Kau masih melihat VOC sebagai perusahaan yang gagal diselamatkan,” katanya. “Bagi kami, VOC adalah kekuasaan yang terlalu lama diselamatkan.”
“Aku tidak pernah membenarkan kekerasannya.”
“Namun dahulu kau ingin menjaga perusahaannya.”
“Aku masih muda.”
“Tidak. Kau hanya melihat dunia dari sisi pembukuan.”
Hendrik melipat surat kabar. “Dan sekarang?”
“Sekarang kau tahu bahwa laporan keuangan yang sehat tidak membuat penindasan menjadi benar.”
Hendrik duduk di sampingnya. “Apakah kau menyesal ikut denganku ke Amsterdam?”
Mei Sari memandang api. Pertanyaan itu telah beberapa kali diajukan Hendrik selama pernikahan mereka. Jawabannya tidak pernah sederhana. Hari-hari pertama di Amsterdam sangat berat. Orang-orang memandang Mei Sari terlalu lama ketika ia berjalan di pasar. Sebagian mengira ia pelayan Hendrik. Ada pula yang bertanya berapa harga yang dibayar Hendrik untuk membawanya dari Batavia.
Ketika Hendrik memperkenalkannya sebagai calon istri, keluarganya menolak. Ibunya menangis. Kakaknya mengatakan Hendrik telah mempermalukan nama keluarga. Pendeta yang pertama mereka datangi menanyakan apakah Mei Sari telah dibaptis dan benar-benar memahami arti perkawinan Kristen. Seolah-olah perempuan dari Asia tidak mampu memahami kesetiaan.
Hendrik tetap menikahinya. Hanya sedikit orang menghadiri upacara itu. Pieter de Vries menjadi saksi. Seorang bekas pelaut VOC datang membawa bunga. Di luar gereja, salju turun untuk pertama kalinya dalam kehidupan Mei Sari. Setelah menikah, mereka membuka kedai kecil di dekat kanal. Mei Sari memberinya nama De Vrije Tijger—Harimau yang Merdeka.
Di tempat itu mereka menjual kopi, teh, dan makanan sederhana. Namun kedai tersebut perlahan menjadi tempat berkumpul para pelaut, juru tulis, mahasiswa, pedagang kecil, serta orang-orang yang ingin mendengar cerita tentang keadaan sebenarnya di Asia.
Mei Sari belajar bahasa Belanda dengan baik. Ia juga belajar membaca pembukuan seperti yang pernah dijanjikannya ketika meninggalkan Batavia.
Hendrik mengajarkan debit dan kredit. Mei Sari mengajarinya bahwa tidak semua kehilangan dapat dicatat sebagai kerugian dan tidak semua keuntungan mempunyai nilai moral.
“Apakah saya menyesal?” Mei Sari mengulangi pertanyaan Hendrik. Ia kemudian menatap suaminya. “Tidak.”
Hendrik tersenyum kecil.
“Tetapi saya juga tidak ingin mengatakan bahwa Amsterdam menyelamatkan saya,” lanjut Mei Sari. “Saya tidak datang kemari untuk diselamatkan.”
“Aku tahu.”
“Saya datang karena memilih hidup bersamamu.”
Hendrik menggenggam tangannya.
“Dan setiap pagi,” kata Mei Sari, “saya memilihnya kembali.”
Mereka tidak mempunyai anak. Pada tahun-tahun pertama, Mei Sari beberapa kali mengandung, tetapi selalu kehilangan kandungannya sebelum waktunya. Setelah keguguran ketiga, ia tidak pernah lagi membicarakan keinginannya menjadi ibu.
Menjelang petang, seseorang mengetuk pintu kedai. Seorang petugas pos menyerahkan paket yang baru tiba dari Batavia. Pada bagian depan tertulis nama Hendrik dengan tulisan tangan yang telah dikenalnya. Jayeng. Hendrik membuka paket itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat, sebuah buku tipis, dan kain batik yang dibungkus rapi. Mei Sari duduk di sebelahnya. Hendrik mulai membaca.
Tuan Hendrik dan Nyonya Mei Sari,
Kabar pembubaran VOC telah tiba di Batavia. Sebagian orang mengira keadaan akan berubah. Namun para petugas mengatakan seluruh milik Kompeni sekarang menjadi milik pemerintah. Gudang tetap dijaga. Pajak tetap dipungut. Penyerahan hasil bumi tetap berjalan. Hanya cap pada dokumen yang berganti.
Tan Kwee Liong masih hidup, meskipun tidak lagi sekuat dahulu. Sebagian kapalnya disita dan beberapa konsesinya diambil pemerintah. Dia sering mengatakan bahwa dirinya tidak bangkrut, hanya sedang mengalami perubahan pemilik kekuasaan. Kebiasaan seorang pedagang memang sulit mati.
Sekolah kecil yang dahulu saya mulai sekarang mempunyai tiga puluh dua murid. Mereka belajar membaca, menulis, dan berhitung. Saya mengajari mereka memeriksa utang sebelum membubuhkan cap jempol. Mungkin itulah satu-satunya cara menghentikan Kompeni lahir kembali, membuat rakyat mampu membaca buku yang digunakan untuk menguasai mereka.
Mei Sari menutup mulut, menahan haru.
Hendrik melanjutkan membaca. Saya tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi. Namun buku salinan yang dahulu diberikan Tuan Tan Kwee masih saya simpan. Kalau buku asli di Amsterdam dikunci oleh penguasa, salinan di Batavia akan tetap menjadi saksi. Kekuasaan dapat menyembunyikan dokumen, tetapi tidak dapat menghapus ingatan semua orang.
Sahabat kalian, Jayeng.
Di bawah tanda tangan terdapat tulisan lain, barangkali dibuat oleh salah seorang muridnya: Kami belajar agar tidak diwarisi utang tanpa mengetahui siapa yang lebih dahulu menikmati uangnya. Hendrik membaca kalimat itu dua kali. “Buku rahasia itu ternyata masih ada,” katanya.
Mei Sari mengangguk. “Kebenaran rupanya lebih pandai membuat salinan daripada kebohongan.”
Kekuasaan tanpa Akuntabilitas
Buku yang diselamatkan Hendrik akhirnya tiba di Belanda. Isinya bukan sekadar catatan perdagangan, daftar utang, atau nama pejabat yang menerima suap. Buku itu merekam bagaimana sebuah perusahaan perlahan-lahan memakan dirinya sendiri. Di atas kertas, VOC masih tampak perkasa. Kapal-kapalnya berlayar melintasi samudra. Gudang-gudangnya penuh dengan rempah. Bentengnya berdiri dari Tanjung Harapan hingga kepulauan Nusantara. Para direkturnya duduk di ruangan mewah di Amsterdam, membicarakan laba, dividen, dan perluasan perdagangan.
Namun, jauh dari ruang rapat itu, para pegawai memperdagangkan kepentingan perusahaan untuk keuntungan pribadi. Jabatan dapat dibeli. Laporan dapat diubah. Kerugian disembunyikan. Utang baru digunakan untuk menutup kewajiban lama. Mereka yang menyampaikan kebenaran dianggap pengkhianat, sedangkan mereka yang pandai menyenangkan atasan justru memperoleh kedudukan.
VOC tidak kekurangan orang pintar. Ia kekurangan orang yang berani mengatakan bahwa perusahaan sedang berjalan menuju jurang. Hendrik memahami bahwa lembaga besar jarang runtuh dalam satu malam. Keruntuhan dimulai ketika kesalahan tidak lagi boleh dipersoalkan. Setelah itu, laporan hanya dibuat untuk menyenangkan penguasa. Angka-angka kehilangan kejujurannya. Utang dianggap pendapatan. Kekuasaan dianggap kemampuan. Kritik dicurigai sebagai permusuhan.
Pada akhirnya, kenyataan selalu datang menagih. VOC dibubarkan pada 1799. Kekayaan dan wilayah kekuasaannya diambil alih negara, demikian pula utangnya. Para pemimpinnya telah lama menikmati keuntungan, tetapi rakyat dan pemerintah Belanda harus menanggung warisan kerugiannya. Sebuah perusahaan yang pernah bertindak seperti negara akhirnya diselamatkan oleh negara yang dahulu memberinya kekuasaan.
Berabad-abad kemudian, Indonesia membentuk Danantara untuk mengelola dan mengoptimalkan investasi pemerintah serta aset BUMN. Danantara bukan VOC. Namun, menolak seluruh perbandingan juga dapat membuat kita kehilangan pelajaran yang berharga. Keduanya memang berbeda dalam tujuan, kewenangan, dan zaman. Akan tetapi, keduanya memperlihatkan satu persoalan yang sama, besarnya risiko ketika kekuasaan ekonomi, aset, dan keputusan investasi terkonsentrasi dalam satu lembaga.
Publik berhak mempertanyakan beberapa issue penting. Apakah investasi dipilih berdasarkan kelayakan ekonomi atau kedekatan politik? Apakah risiko dan kewajiban tersembunyi diungkapkan secara jujur? Apakah aset negara dinilai secara wajar sebelum dialihkan atau dijadikan jaminan? Apakah proyek yang gagal akan menjadi tanggung jawab pengambil keputusan, atau akhirnya dibebankan kepada APBN? Apakah laporan keuangannya dapat diperiksa secara independen dan dipahami oleh publik? Dan yang paling penting: apakah lembaga itu cukup terbuka untuk menerima kritik sebelum kesalahan berubah menjadi kerugian besar?
Transparansi bukan sekadar menerbitkan laporan setelah keputusan dibuat. Transparansi berarti membuka dasar keputusan, mengungkapkan konflik kepentingan, menjelaskan sumber pendanaan, memperlihatkan risiko, dan menetapkan siapa yang bertanggung jawab apabila investasi gagal.
Pengawasan juga tidak boleh berhenti pada keberadaan dewan atau komite. Pengawas harus mempunyai keahlian, keberanian, dan kemandirian. Sebab, lembaga sebesar apa pun akan kehilangan arah apabila semua orang di dalamnya hanya mengatakan apa yang ingin didengar oleh pemimpin.
Karena itu, keberhasilan Danantara tidak cukup diukur dari besarnya aset yang dikelola, banyaknya proyek yang diumumkan, atau jumlah utang dan investasi yang berhasil dihimpun. Keberhasilannya harus dinilai dari mutu keputusan di balik semua angka itu.
Itulah pelajaran yang ditinggalkan Hendrik. Ia tidak menentang perusahaan. Ia menentang perusahaan yang merasa dirinya terlalu besar untuk diperiksa. Ia tidak membenci kekuasaan. Ia hanya memahami bahwa kekuasaan yang tidak diawasi akan menciptakan ilusi bahwa setiap keputusan pasti benar.
Tan Kwee menyelamatkan buku itu karena mengetahui bahwa dokumen dapat menjadi perlindungan. Mei Sari menyelamatkan Hendrik karena memahami bahwa kebenaran membutuhkan seseorang yang berani mengambil risiko. Namun, sejarah tidak selalu mempunyai Hendrik, Tan Kwee, atau Mei Sari. Karena itu, negara modern tidak boleh menggantungkan keselamatannya kepada keberanian beberapa orang. Kebenaran harus dilindungi oleh sistem.
Audit harus kuat. Pengawasan harus independen. Pengadaan harus terbuka. Keputusan investasi harus dapat diuji. Pelapor pelanggaran harus dilindungi. Tidak boleh ada seorang pun yang terlalu berkuasa untuk diperiksa, dan tidak boleh ada lembaga yang terlalu besar untuk dimintai pertanggungjawaban.
Danantara tidak ditakdirkan menjadi VOC. Akan tetapi, sejarah VOC tetap perlu dibaca sebagai peringatan. Bukan karena setiap perusahaan negara pasti akan runtuh, melainkan karena kekuasaan ekonomi selalu membawa godaan yang sama, menyembunyikan kesalahan, membungkam kritik, memprivatisasi keuntungan, lalu menyerahkan kerugian kepada negara.
Lembaga besar tidak runtuh karena terlalu banyak memiliki aset. Lembaga besar runtuh ketika akuntabilitas tidak tumbuh secepat kekuasaan yang dimilikinya. Dan pada akhirnya, sebagaimana Hendrik pernah menulis di dalam bukunya, kekayaan dapat membuat sebuah lembaga tampak berkuasa, tetapi hanya kejujuran yang membuatnya bertahan melampaui zaman.

Tinggalkan komentar