
Panggung Revolusi
Yogyakarta, 1963.
“Di mana mimik wajah yang sudah kuajarkan, Sobari?” Bentakan Darno mengguncang dinding gedung kesenian yang separuh lapuk itu. Suaranya memantul di antara tiang-tiang kayu, layar panggung yang kusam, dan bangku-bangku kosong yang berdebu. Sobari berdiri di tengah panggung dengan tombak kayu di tangan. Di sampingnya, Anti masih membeku dalam pakaian Rara Pembayun. Perempuan itu menundukkan kepala, seolah belum dapat membedakan apakah kemarahan Darno merupakan bagian dari latihan atau pertunjukan lain yang harus mereka mainkan di luar naskah.
Darno naik ke atas panggung. Langkahnya keras, seperti seorang komandan yang baru menemukan pasukannya kehilangan keberanian. “Kamu juga, Anti!” bentaknya. “Kalian berdua harus tahu siapa yang sedang kalian perankan.”
Ia merebut tombak dari tangan Sobari, lalu menghentakkan pangkalnya ke lantai. “Itu Mangir Wanabaya. Pemimpin tanah perdikan. Dia menolak tunduk kepada Senopati yang ingin menjadikan seluruh tanah Jawa berada di bawah kekuasaannya. Mangir bukan pengemis yang datang meminta belas kasihan. Dia pemimpin yang berdiri di atas tanahnya sendiri. Gagah, berani, dan tidak bersedia membungkuk kepada kekuasaan yang sewenang-wenang.”
Darno menatap Sobari, kemudian beralih kepada Anti. “Lakon sebesar ini kalian bawakan tanpa hati. Seperti dua pegawai kelurahan yang sedang membaca pengumuman kehilangan kambing. Jangan-jangan hati kalian sudah membeku—atau darah kalian sudah bercampur dengan darah tikus!”
Beberapa pemain yang duduk di tepi panggung menahan napas. Tidak seorang pun tertawa. Mereka mengenal Darno sebagai sutradara, tetapi juga sebagai wakil partai yang bertugas memastikan kesenian tidak kehilangan arah perjuangannya. Di tangannya, naskah bukan hanya cerita. Naskah adalah alat untuk membentuk kesadaran.
Sobari meletakkan kedua tangannya di pinggang. Keringat membasahi kemeja lusuhnya. “Maaf, Kawan Darno,” katanya hati-hati. “Saya ini sarjana ekonomi. Sejak kuliah saya diajarkan memahami hubungan sebab dan akibat. Produksi, distribusi, pemilikan tanah, dan kekuasaan. Saya tidak pandai mengubah semua itu menjadi gerakan tangan dan mimik muka.”
“Itulah sebabnya kamu harus belajar!”
“Saya sedang belajar. Tetapi saya tetap merasa alur lakon ini terlalu disederhanakan.”
Mata Darno menyipit. “Apa yang disederhanakan?”
“Mangir kita jadikan sepenuhnya suci. Senopati kita jadikan sepenuhnya jahat. Padahal, bukankah keduanya sama-sama pemimpin yang mempertahankan wilayah dan kekuasaan masing-masing?”
Ruangan mendadak sunyi.
Anti mengangkat wajah. Ia memandang Sobari dengan cemas. Kalimat semacam itu mudah dianggap bukan sebagai kritik terhadap naskah, melainkan keraguan terhadap garis perjuangan.
Sobari menyadarinya. Namun perkataan yang terlanjur keluar tidak dapat ditarik kembali.
“Saya hanya berpikir,” lanjutnya, “rakyat akan lebih memahami ketidakadilan kalau kita menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja. Bukan sekadar mengatakan bahwa yang satu pahlawan dan yang lain penindas.”
Darno mendekatinya. “Kamu mau mengganti lakon ini?”
“Mungkin kita dapat memilih cerita lain.”
“Cerita apa?”
“Cerita petani yang kehilangan tanah. Buruh pabrik yang upahnya tidak cukup membeli beras. Atau pedagang kecil yang tercekik utang. Konfliknya lebih dekat dengan kehidupan rakyat sekarang.”
“Diganti?” suara Darno kembali menggelegar. “Diganti dengan lakon borjuis tentang cinta, keluarga, dan kesedihan pribadi?”
“Penderitaan pribadi juga dapat lahir dari struktur sosial.”
Darno tertawa pendek, tanpa kegembiraan. “Kita ini pejuang, Kawan Sobari. Bukan penghibur orang kenyang. Teater harus menunjukkan siapa yang menguasai dan siapa yang dikuasai. Apa kata kawan-kawan partai kalau pertunjukan kita lembek?”
Ia menunjuk tombak kayu di lantai. “Karena itu aku memilih Mangir. Ia simbol perlawanan. Tanahnya hendak ditundukkan, kebebasannya hendak dirampas, lalu cinta digunakan sebagai jalan untuk menjebaknya. Apa lagi yang kurang jelas?”
Sobari hendak menjawab, tetapi Anti lebih dahulu mengambil tombak itu. Ia menyerahkannya kembali kepada Sobari, seakan meminta agar perdebatan dihentikan sebelum berubah menjadi perkara yang lebih besar.
Darno berbalik ke tengah panggung. “Sekarang ulangi dari saat Mangir mengetahui siapa sebenarnya Pembayun.” Ia memandang Anti tajam. “Dan kau, Anti, kalau masih bermain seperti orang kehilangan tenaga, aku akan menggantimu. Paham?”
Anti mengangguk. “Paham, Kawan Darno.” Jawabannya pelan, tetapi sesuatu di dalam dadanya terasa patah. Sejak bergabung dengan kelompok teater itu, ia selalu mendengar bahwa kesenian harus membebaskan manusia dari rasa takut. Namun di hadapan Darno, ia justru semakin takut melakukan kesalahan.
Sobari pun merasakan sesak yang sama. Ia bukan orang yang datang ke teater untuk mencari tepuk tangan. Setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi, ia menolak kesempatan menjadi pegawai negeri. Ayahnya marah besar. Ibunya menangis berhari-hari. Menurut keluarganya, gelar sarjana adalah jalan keluar dari kemiskinan, bukan tiket untuk berkeliling desa membawa panggung, cat merah, dan tombak kayu.
Namun Sobari memilih teater rakyat. Ia percaya panggung dapat menjadi sekolah bagi mereka yang tidak pernah memasuki ruang kelas. Melalui dialog, para petani dapat memahami mengapa harga hasil panen mereka rendah. Para buruh dapat mengerti mengapa upah tidak pernah tumbuh secepat keuntungan pemilik modal. Rakyat kecil dapat belajar bahwa kemiskinan bukan selalu kesalahan pribadi, melainkan dapat lahir dari susunan kekuasaan yang tidak adil.
Setidaknya, itulah yang dahulu diyakininya. Belakangan, keyakinan itu mulai diganggu oleh sebuah pertanyaan: apakah teater mereka benar-benar mengajarkan rakyat berpikir, atau hanya mengganti satu kepatuhan dengan kepatuhan yang lain?
“Mulai!” perintah Darno.
Anti berdiri di hadapan Sobari. Ia harus memerankan Pembayun, putri Panembahan Senopati yang dikirim menyamar untuk memikat Mangir. Dalam cerita yang mereka bawakan, perempuan itu jatuh cinta kepada lelaki yang seharusnya dijebaknya. Cinta menjadi jalan menuju perdamaian, tetapi sekaligus pintu menuju kematian.
Sobari mengangkat tombak. “Jadi, seluruh kasih yang kau berikan kepadaku hanyalah siasat Mataram?”
Anti menatapnya. Kali ini matanya benar-benar basah. “Pada mulanya mungkin demikian,” jawabnya sebagai Pembayun.
“Tetapi hati tidak selalu tunduk kepada perintah kekuasaan.”
Darno mengangkat tangannya. “Berhenti!”
Anti tersentak.
“Kalimatmu benar,” kata Darno, “tetapi matamu masih meminta maaf. Pembayun bukan perempuan lemah. Ia sedang berdiri di antara ayahnya dan suaminya, antara kekuasaan dan cinta. Tunjukkan pertentangan itu.”
Anti menarik napas, lalu mengulang dialognya. “Hati tidak selalu tunduk kepada perintah kekuasaan.” Kali ini suaranya lebih tegas. Sobari menatapnya lebih lama dari yang ditentukan naskah. Untuk sesaat ia tidak melihat Anti sebagai Pembayun. Ia melihat seorang perempuan muda yang dipaksa memainkan keberanian di atas panggung, sementara di luar panggung ia bahkan tidak bebas mempertanyakan perintah sutradaranya. Bukankah itu ironi revolusi? Mereka berbicara tentang pembebasan manusia, tetapi semakin lama semakin takut kepada pikiran yang berbeda.
“Lanjutkan!” seru Darno.
Sobari menurunkan tombaknya. “Jika kekuasaan dapat memerintah seseorang mencintai,” katanya sebagai Mangir, “maka kelak kekuasaan juga akan memerintah seseorang membenci.”
Kalimat itu tidak terdapat dalam naskah. Anti menoleh kepada Darno. Para pemain di tepi panggung saling berpandangan. Darno berjalan mendekat. “Siapa yang menyuruhmu mengubah dialog?”
“Tidak ada.”
“Kalau begitu, ikuti naskah.”
“Tetapi kalimat itu sesuai dengan watak Mangir.”
“Bukan kamu yang menentukan wataknya.”
“Bukankah saya yang memerankannya?”
“Dan aku sutradaranya.”
Sobari tersenyum tipis. “Jadi, Mangir boleh melawan Senopati, tetapi saya tidak boleh berbeda pendapat dengan sutradara?”
Wajah Darno menegang. Untuk beberapa detik, satu-satunya suara di ruangan itu adalah kipas bambu yang berputar lamban di langit-langit. Di luar gedung, terdengar pedagang mendorong gerobak dan lonceng sepeda melintas di jalan.
Tahun 1963 adalah masa ketika hampir segala sesuatu memiliki nama politik. Harga beras, pembagian tanah, lagu, lukisan, puisi, bahkan cara orang mencintai dapat ditafsirkan sebagai keberpihakan kelas. Republik yang masih muda sedang mencari bentuknya di tengah pergulatan ideologi, kesulitan ekonomi, dan pidato-pidato revolusi yang membakar massa.
Di berbagai kota, seniman turun ke desa dan kawasan buruh. Mereka percaya kebudayaan tidak boleh hanya menjadi milik kaum terpelajar. Panggung didirikan di halaman sekolah, balai desa, pabrik, bahkan di atas tanah lapang selepas panen. Seni hendak didekatkan kepada kehidupan rakyat. Cita-cita itu mulia.
Namun, ketika kesenian terlalu dekat dengan kekuasaan politik, sebuah pertanyaan selalu muncul, apakah seniman masih membantu rakyat menemukan suaranya, atau justru meminjam mulut rakyat untuk menyuarakan kepentingan partai?
Darno menarik napas panjang. “Kita istirahat sepuluh menit.”
Para pemain segera meninggalkan panggung. Beberapa menuju halaman untuk merokok. Yang lain mengambil air minum dari kendi di sudut ruangan. Tidak seorang pun berani membicarakan pertengkaran yang baru terjadi.
Sobari duduk di tepi panggung. Tombak kayu terbaring di sampingnya. Anti menghampiri dan duduk dengan jarak satu lengan. “Kau terlalu berani,” katanya.
“Di atas panggung aku memerankan seorang pemberani.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Anti menatap bangku-bangku kosong di hadapan mereka. “Darno dapat melaporkanmu kepada partai.”
“Saya tidak menghina partai.”
“Dalam keadaan seperti sekarang, keraguan dapat dianggap penghinaan.”
Sobari terdiam. Sejak kecil ia sering mendengar bahwa Indonesia dijajah Belanda selama tiga ratus lima puluh tahun. Kalimat itu diulang di sekolah dan pidato-pidato seolah seluruh kepulauan Nusantara ditaklukkan pada hari yang sama. Kenyataannya jauh lebih rumit. Kekuasaan kolonial tumbuh secara bertahap, berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain. Belanda tidak memerintah hanya dengan senapan. Mereka memanfaatkan kerajaan, bangsawan, kepala daerah, pemungut pajak, dan jaringan patronase yang telah ada.
Di Jawa, pemerintahan kolonial mempertahankan sebagian elite lokal sebagai perantara. Rakyat membayar pajak, menyerahkan hasil bumi, dan memberikan tenaga melalui lapisan kekuasaan yang berjenjang. Dengan cara itulah penjajahan menjadi lebih murah dan perlawanan lebih mudah dipatahkan. Penguasa asing tidak harus berdiri di setiap desa apabila ketakutan telah dipelihara oleh penguasa setempat.
Namun Sobari tidak setuju jika seluruh kebudayaan dan agama dituduh sebagai sumber kepasrahan. Agama pernah dipakai untuk membenarkan kekuasaan, tetapi juga menggerakkan perlawanan. Tradisi dapat menciptakan kepatuhan, tetapi juga menyimpan bahasa pembangkangan. Masalahnya bukan pada iman atau kebudayaan semata, melainkan pada siapa yang menafsirkannya dan untuk kepentingan siapa.
Feodalisme bertahan bukan hanya karena rakyat takut menatap wajah bangsawan. Ia bertahan karena tanah, jabatan, pendidikan, dan keselamatan bergantung pada hubungan dengan orang yang berkuasa. Ketundukan bukan selalu tanda kebodohan. Bagi banyak orang miskin, tunduk adalah cara untuk tetap hidup.
Itulah yang tidak pernah cukup dijelaskan Darno di atas panggung. Baginya, sejarah adalah pertarungan dua kelas, yang menindas dan yang tertindas. Yang satu harus mengganyang yang lain agar masyarakat tanpa kelas dapat dilahirkan. Revolusi membutuhkan garis yang tegas. Tidak boleh ada keraguan, sebab keraguan dianggap memberi waktu kepada kaum borjuis untuk mempertahankan kekuasaan.
Sobari memahami logika itu. Sebagai sarjana ekonomi, ia tahu bahwa kepemilikan menentukan pembagian hasil. Orang yang menguasai tanah, modal, dan alat produksi memiliki kemampuan mengatur kehidupan orang lain. Kebebasan politik kehilangan makna apabila perut rakyat tetap kosong. Namun ia juga mengetahui sesuatu yang jarang dibicarakan dalam rapat partai: setelah kelas lama dihancurkan, siapa yang akan mengawasi kelas baru yang menguasai negara?
Jika kekuasaan lama disebut feodal karena menuntut kepatuhan mutlak, apakah kekuasaan revolusioner tidak akan menjadi feodal baru apabila kritik dibungkam atas nama perjuangan?
“Anti,” katanya pelan, “menurutmu Mangir mati karena terlalu berani atau karena terlalu percaya?”
Anti memandangnya. “Mungkin keduanya.”
“Dan Pembayun?”
“Ia hidup dengan hukuman yang lebih panjang. Ia harus mencintai ayah yang merencanakan kematian suaminya.”
Sobari mengangguk. “Itulah cerita yang sebenarnya. Bukan hanya perlawanan kelas, tetapi tentang manusia yang dijadikan alat oleh kekuasaan.”
Dari belakang panggung, Darno memanggil mereka. “Waktu istirahat habis! Semua kembali ke tempat!”
Anti berdiri lebih dahulu. Sebelum melangkah, ia menoleh kepada Sobari.
“Jangan tambahkan dialog lagi.”
Sobari mengambil tombak kayu itu. “Aku akan mengikuti naskah.”
Namun ketika kembali berdiri di tengah panggung, ia menyadari bahwa pikirannya tidak lagi dapat diperintah oleh naskah. Darno mungkin mampu mengatur langkahnya, mengubah mimik wajahnya, dan menentukan kata-kata yang harus keluar dari mulutnya. Partai bahkan mungkin dapat memutuskan tokoh mana yang harus disebut pahlawan dan siapa yang harus dianggap musuh rakyat. Tetapi di dalam dirinya, sebuah pertanyaan telah lahir. Dan sebagaimana revolusi, pertanyaan yang telah menemukan kesadarannya sendiri tidak mudah diperintah untuk berhenti.
Cinta, Revolusi, dan Republik
Anti yang dikenal Sobari memang cantik. Ayahnya seorang Tionghoa peranakan, sedangkan ibunya perempuan Jawa dari Solo. Dari ayahnya ia mewarisi mata yang tajam dan kulit terang. Dari ibunya ia mendapatkan kelembutan gerak serta bahasa Jawa yang halus. Namun kecantikan Anti tidak terletak pada wajahnya saja. Ketika berbicara tentang ketidakadilan, wajah itu seperti memperoleh cahaya dari dalam.
Sobari mengenalnya sejak bergabung dengan kelompok teater pimpinan Darno. Kelompok itu bernaung di bawah jaringan kebudayaan Lekra—sebuah organisasi kebudayaan yang pada masa itu dekat dengan gerakan kiri dan menjadikan seni sebagai bagian dari perjuangan rakyat.
Di sana, teater tidak dipahami sebagai hiburan. Seni harus turun ke bawah, mengenal kehidupan buruh dan petani, lalu menyuarakan penderitaan mereka. Panggung harus menjadi alat pendidikan politik. Tokoh-tokohnya tidak cukup hanya hidup di dalam cerita; mereka harus mewakili pertarungan kelas. Sobari dan Anti sering mendapat peran sebagai sepasang kekasih. Mungkin karena mereka tampak serasi. Mungkin pula karena Darno melihat sesuatu yang tidak berani mereka akui.
Di atas panggung, cinta mudah diciptakan. Cahaya diredupkan, musik dimainkan, lalu dua manusia diminta saling menatap seolah dunia hanya menyisakan mereka. Kata-kata yang sulit diucapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat dilafalkan atas nama tokoh. Namun setelah layar ditutup, segala sesuatu kembali kepada kenyataan. Di luar panggung, Anti lebih dekat kepada Darno.
Sobari tidak pernah mengetahui apakah Anti tertarik kepada idealisme Darno, kecerdasannya, atau wajahnya yang tampan. Darno memang memiliki penampilan yang membuat orang mudah mempercayainya. Tubuhnya tegap, suaranya penuh keyakinan, dan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar seperti kesimpulan sejarah. Ia tidak pernah tampak ragu.
Dibandingkan Darno, Sobari merasa dirinya kalah dalam hampir segala hal. Tubuhnya tidak setegap Darno. Wajahnya biasa saja. Ia terlalu banyak bertanya dan terlalu sedikit memberikan kepastian. Bahkan ketika berbicara tentang revolusi, kalimatnya masih dipenuhi kata mungkin, apabila, dan tetapi.
Padahal orang yang sedang mencari keyakinan tidak menyukai kata tetapi. Mereka membutuhkan seseorang seperti Darno—lelaki yang dapat menunjuk musuh dengan jelas, menjanjikan masa depan, lalu mengatakan bahwa sejarah berada di pihak mereka.
Sobari hanya memiliki cinta. Cinta yang tidak berani ia nyatakan dan tidak tahu bagaimana harus diperjuangkan. Ia tidak ingin merebut Anti dari siapa pun. Ia hanya ingin menjaganya, meskipun perempuan itu mungkin tidak pernah membutuhkan penjagaannya.
Baru empat bulan bergabung, Sobari memutuskan meninggalkan kelompok teater. Ia menerima pekerjaan sebagai wartawan di sebuah surat kabar kecil. Darno menyebutnya pelarian kaum intelektual. “Kau tidak tahan hidup bersama rakyat,” katanya.
“Saya justru ingin melihat rakyat tanpa naskah,” jawab Sobari. Ia tidak nyaman berada di lingkungan yang terlalu utopis. Benar, ia mencintai wong cilik. Benar, ia ingin memperjuangkan mereka. Namun ia mulai meragukan anggapan bahwa kebudayaan tunduk dan mentalitas korban dapat diubah hanya melalui teater dan propaganda.
Bagi Sobari, ketundukan rakyat tidak lahir semata-mata karena mereka kurang mendengar pidato revolusi. Ketundukan tumbuh dari kemiskinan, ketergantungan, rasa takut kehilangan pekerjaan, sempitnya pendidikan, serta hubungan patronase yang membuat keselamatan orang kecil bergantung pada kemurahan hati orang berkuasa. Menyuruh orang miskin agar berani melawan jauh lebih mudah daripada menanggung kelaparan keluarganya ketika perlawanan itu gagal.
Sobari juga khawatir propaganda yang terus-menerus membagi dunia ke dalam dua kelompok—kawan dan lawan, rakyat dan borjuis, revolusioner dan pengkhianat—tidak sungguh-sungguh membebaskan manusia. Ia takut kesadaran politik justru berubah menjadi kebencian. Rakyat diajarkan mengutuk kehidupan, tetapi tidak dibekali pengetahuan untuk memperbaikinya.
Ia menginginkan jalan yang lebih elegan. Pendidikan yang membuat manusia berani berpikir. Informasi yang membuat rakyat mampu membedakan kebenaran dari hasutan. Perjuangan yang merebut hati dengan cinta, bukan menaklukkannya dengan ketakutan. Jalan itu mungkin lambat. Tidak semegah revolusi yang diteriakkan dari atas panggung. Namun bagi Sobari, sesuatu yang tumbuh melalui kesadaran akan lebih kuat daripada sesuatu yang dipaksakan melalui kemarahan.
Di tempat kerjanya yang baru, Sobari berkenalan dengan Sumiati. Sumiati adalah wartawan muda yang anggun dan cerdas. Ia tidak berbicara dengan suara keras, tetapi selalu mampu menemukan pertanyaan yang membuat narasumber berhenti mengucapkan kalimat-kalimat hafalan. Ketika wartawan lain sibuk mencatat pidato pejabat, Sumiati memperhatikan wajah pedagang, buruh, dan perempuan-perempuan yang berdiri di belakang kerumunan.
Pertemuan mereka bermula dari peliputan pemogokan buruh pabrik gula. Sobari bertugas mewawancarai pemimpin serikat pekerja, sedangkan Sumiati mencari keluarga buruh yang sudah beberapa minggu kehilangan penghasilan. “Pidato pemimpin serikat tentu penting,” kata Sumiati. “Tetapi orang perlu tahu apa yang dimakan anak-anak buruh selama ayah mereka mogok.” Kalimat sederhana itu membuat Sobari tertarik. Sumiati tidak meremehkan perjuangan kelas, tetapi tidak membiarkan manusia hilang di balik slogan.
Mereka semakin sering meliput bersama. Hubungan itu tumbuh di antara suara mesin tik, bau tinta, tumpukan kertas koreksi, dan perjalanan dengan sepeda melewati jalan-jalan kota. Dari diskusi tentang berita, mereka beralih membicarakan buku, keluarga, agama, dan masa depan. Lama-kelamaan, kedekatan itu berubah menjadi cinta.
Bersama Sumiati, Sobari tidak perlu berpura-pura menjadi pahlawan revolusi. Mereka dapat berdebat tanpa saling menuduh. Mereka dapat tertawa setelah mempertahankan pendapat masing-masing. Dalam pertemuan-pertemuan yang jauh dari keramaian, Sobari dapat menggenggam tangannya, mengecup keningnya, dan menikmati kemesraan tanpa harus meminjam dialog dari panggung.
Namun wajah Anti belum benar-benar pergi. Sesekali perempuan itu hadir dalam mimpinya—berdiri sebagai Pembayun dengan mata berkaca-kaca, meminta Sobari menyelesaikan dialog yang dahulu terputus. Andaikan hidup hanya berbicara tentang cinta tanpa kepemilikan, Sobari ingin mencintai Sumiati dan tetap menyimpan Anti di dalam hatinya. Namun bukankah itu juga utopia? Sebuah keinginan untuk memperoleh dua kebahagiaan tanpa menanggung luka yang mungkin ditimbulkannya. Sobari mulai menyadari bahwa manusia sering mengecam utopia dalam politik, tetapi diam-diam memeliharanya dalam cinta.
Suatu sore, Sobari mengajak Sumiati mengunjungi rumah Anti. Rumah itu berada di sebuah gang sempit tidak jauh dari Pasar Gede. Ayah Anti memiliki toko kelontong, sedangkan ibunya menerima pesanan kebaya dan kain jahitan. Anti menyambut mereka di ruang depan. Ia mengenakan kebaya hijau muda dan kain batik Solo. Rambutnya disanggul sederhana. Di dinding tergantung foto keluarganya, gambar Presiden Soekarno, serta poster pertunjukan Mangir yang pernah mereka mainkan.
Anti menyuguhkan teh dan pisang goreng. Mula-mula mereka membicarakan teater. Setelah itu, sebagaimana hampir setiap percakapan pada tahun-tahun tersebut, pembicaraan bergeser kepada revolusi dan masa depan Republik. “Kesalahan terbesar kita,” kata Anti, “adalah membiarkan Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan pemimpin lain berunding dengan Belanda setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.”
Sumiati yang sedang mengangkat cangkir menghentikan tangannya. “Mengapa berunding dianggap kesalahan?”
“Karena kemerdekaan sudah diproklamasikan. Kita sudah merdeka secara de facto. Mengapa masih meminta pengakuan dari negara yang menjajah kita?”
“Proklamasi menyatakan kehendak bangsa,” jawab Sumiati. “Tetapi saat itu Belanda datang kembali bersama Sekutu. Republik belum menguasai seluruh wilayah, belum memiliki hubungan diplomatik yang kuat, dan sedang menghadapi perang. Bukankah diplomasi juga cara mempertahankan kemerdekaan?”
Anti menggeleng. “Dengan menerima Linggarjati, Renville, Roem–Royen, Konferensi Inter-Indonesia, sampai Konferensi Meja Bundar, para pemimpin kita memberi kesempatan kepada Belanda untuk menentukan bentuk negara kita. Revolusi yang dibayar dengan darah rakyat akhirnya diselesaikan di atas meja oleh kaum terpelajar.”
Sobari memandangnya. Semangat Anti tidak berubah sejak mereka masih satu panggung. “Linggarjati memang mengandung kompromi yang berat,” kata Sobari. “Belanda hanya mengakui kekuasaan Republik secara de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatra. Kesepakatan itu juga membuka jalan menuju negara federal dan Uni Indonesia–Belanda.”
“Nah, itu maksudku,” sahut Anti. “Proklamasi berbicara tentang kemerdekaan seluruh bangsa. Linggarjati justru mempersempit wilayah Republik.”
“Tetapi Linggarjati tidak otomatis menghapus UUD 1945,” kata Sumiati. “Kesepakatan diplomatik dan berlakunya konstitusi bukan perkara yang sama.”
Anti menatapnya. Ia tampak kurang menyukai sanggahan itu. Sobari kemudian menjelaskan dengan hati-hati, seolah sedang menyusun laporan untuk pembaca yang tidak boleh disesatkan oleh semangat mereka sendiri. “Naskah Linggarjati disepakati pada November 1946 dan ditandatangani secara resmi pada 25 Maret 1947. Setelah itu Belanda tetap menjalankan politik federal dan melancarkan agresi. Perjanjian Renville ditandatangani 17 Januari 1948. Hasilnya bahkan lebih merugikan Republik karena wilayah yang dikuasai semakin menyempit.”
“Karena setiap kompromi hanya membuat penjajah menuntut lebih banyak,” potong Anti.
“Bisa dibaca begitu,” jawab Sobari. “Tetapi Republik juga sedang terdesak secara militer.”
Anti tidak menjawab. Sobari melanjutkan. “Pernyataan Roem–Royen disepakati 7 Mei 1949. Perjanjian itu membuka jalan bagi kembalinya pemerintahan Republik ke Yogyakarta dan penyelenggaraan Konferensi Meja Bundar. Dalam KMB, Belanda menyetujui penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949, kecuali persoalan Irian Barat yang ditunda. “
” Namun kita harus menanggung utang warisan VOC. Itu tidak adil karena kita menerima kejahatan kolonial selama ini menjadi kesalahan kolektif kita sebagai bangsa. ” Kata Anti sinis. “Dan kita dipaksa menjadi negara serikat, Serta masuk ke dalam Uni Indonesia–Belanda yang mengakui Ratu Belanda sebagai kepala simbolis uni. Apakah itu kemerdekaan?”
“Itu kemerdekaan yang belum selesai,” jawab Sumiati. “Tetapi RIS hanya bertahan singkat. Pada Agustus 1950 kita kembali menjadi negara kesatuan.”
Anti tersenyum tipis. “Karena rakyat menolaknya.”
“Benar. Itu membuktikan kompromi tidak selalu mematikan revolusi. Kadang-kadang kompromi hanya memberi waktu agar perjuangan dapat dilanjutkan dengan cara lain.”
Anti bersandar. “Kau membela para diplomat?”
“Saya mencoba memahami keadaan mereka.”
“Itulah kelemahan kaum terpelajar,” kata Anti. “Terlalu sibuk memahami semua pihak sampai lupa memilih pihak.”
Ruangan mendadak terasa sempit. Sumiati tidak tersinggung. Ia meletakkan cangkirnya dengan tenang. “Memilih pihak tidak berarti menolak kenyataan. Rakyat yang gugur harus dihormati. Tetapi kita juga tidak boleh menjadikan kematian mereka sebagai alasan untuk mengirim lebih banyak orang menuju kematian apabila masih ada jalan lain.”
Anti menatap Sobari, seakan meminta dukungan. Sobari menarik napas. “Anti benar dalam satu hal. Diplomasi memang menggeser sebagian makna kemerdekaan dari tindakan revolusioner menjadi perkara pengakuan internasional.”
” Akibatnya, peranan rakyat kecil mudah dilupakan. Sejarah kemudian lebih banyak mengingat orang-orang yang duduk di meja perundingan daripada mereka yang mengangkut makanan, menyembunyikan pejuang, kehilangan rumah, atau mati tanpa pernah dicatat namanya.” Kata Anti sinis. ” Rakyat jelata hanya menjadi pelengkap berdirinya negara. Setelah negara berdiri, hubungan emosional penguasa dengan mereka menghilang. Yang tumbuh justru hubungan antara penguasa dan kaum borjuis.”
Anti memalingkan wajah ke jendela. Saat itulah Sobari menyadari perbedaan mereka tidak hanya terletak pada politik. Anti mencintai kepastian. Ia membutuhkan dunia yang terbagi jelas antara pahlawan dan pengkhianat, rakyat dan borjuis, revolusi dan kompromi. Karena itulah ia mencintai Darno. Lelaki itu memberinya jawaban tanpa keraguan. Sobari hanya memberinya pertanyaan.
Sumiati berbeda. Ia tidak memiliki semangat berapi-api seperti Anti. Baginya, ketidakadilan bukan panggung untuk mempertontonkan kemarahan, melainkan kenyataan yang harus dipahami sebelum diperbaiki. Ia tampak naif di mata Anti karena tidak gemar mengutuk. Namun Sobari melihat kekuatan lain dalam dirinya: keberanian untuk tetap manusiawi ketika semua orang berlomba menjadi paling revolusioner.
Dalam perjalanan pulang, Sumiati berjalan beberapa langkah di depannya. Sore telah turun di atas Kota Solo. Bayangan pohon memanjang di jalan dan suara radio dari rumah-rumah menyiarkan pidato tentang revolusi.
“Kau masih mencintainya?” tanya Sumiati tanpa menoleh.
Sobari terdiam.
“Aku melihat caramu memandang Anti.”
“Itu cerita lama.”
“Cerita lama tidak selalu berarti sudah selesai.”
Sobari mempercepat langkah hingga berjalan di sampingnya. “Di atas panggung, aku pernah mencintainya sebagai Mangir mencintai Pembayun. Mungkin sebagian perasaan itu terbawa turun.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku mencintaimu di dunia nyata.”
Sumiati tersenyum kecil. “Dunia nyata lebih sulit daripada panggung.”
“Karena tidak ada sutradara?”
“Karena setiap orang ingin menjadi sutradara bagi hidup orang lain.”
Sobari menggenggam tangannya. Sumiati tidak menolak. Di belakang mereka, dari rumah Anti, samar-samar terdengar suara Darno. Lelaki itu rupanya datang tidak lama setelah mereka pergi. Suaranya penuh keyakinan, membicarakan revolusi yang sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Sobari menoleh sekali, kemudian meneruskan langkah.
Ia belum mengetahui bahwa dalam waktu dua tahun, panggung, cinta, dan revolusi akan bertemu dalam sebuah tragedi yang tidak menyediakan kesempatan bagi siapa pun untuk mengulang adegan.
Ketika Kebenaran Berganti Seragam
Jakarta, 1965.
Kekuasaan selalu datang dengan janji memperbaiki keadaan. Tidak ada penguasa yang berdiri di hadapan rakyat dan mengaku hendak menindas mereka. Semua berbicara tentang keselamatan, ketertiban, keadilan, dan masa depan. Namun, setelah kekuasaan diperoleh, niat baik sering berubah menjadi hak untuk menentukan siapa yang boleh hidup di dalam kebenaran. Mereka yang berbeda tidak lagi dianggap lawan berpikir, melainkan ancaman yang harus disingkirkan. Dendam pribadi memperoleh seragam. Ketakutan diberi dasar hukum. Kekerasan disebut penyelamatan negara. Pada saat itulah penguasa tidak lagi merasa perlu membuktikan dirinya benar. Kekuasaannya telah menjadi kebenaran itu sendiri.
Pagi 1 Oktober 1965, suara radio membuat Sobari menghentikan mesin tiknya. Sebuah gerakan yang menamakan diri Gerakan 30 September mengumumkan telah mengambil tindakan terhadap sejumlah jenderal yang disebut-sebut tergabung dalam Dewan Jenderal. Letnan Kolonel Untung, perwira Cakrabirawa, menyatakan tindakan itu dilakukan untuk menggagalkan rencana perebutan kekuasaan terhadap Presiden Soekarno.
Ruang redaksi mendadak gempar. Beberapa wartawan berkerumun di sekitar radio. Tidak ada yang benar-benar memahami apa yang terjadi. Berita datang terputus-putus. Nama-nama disebut tanpa penjelasan. Pasukan berada di sekitar Lapangan Merdeka. Siaran radio berubah. Telepon sulit dihubungi. Orang-orang berbicara dengan suara pelan, seolah dinding kantor telah menumbuhkan telinga.
“Ini kudeta,” kata seorang redaktur.
“Kudeta terhadap siapa?” tanya yang lain.
Tidak ada jawaban. Menjelang malam, keadaan berbalik. Pasukan di bawah Mayor Jenderal Soeharto menguasai kembali pusat-pusat penting di Jakarta. Hari-hari berikutnya, versi mengenai peristiwa itu berubah cepat. Dewan Jenderal yang semula dituduh hendak mengambil alih kekuasaan menghilang dari pemberitaan. PKI kemudian dituduh sebagai dalang pembunuhan para jenderal.
Surat kabar yang masih diizinkan terbit mulai menggunakan bahasa yang sama. Gerakan itu disebut pengkhianatan. Orang-orang yang kemarin masih berpidato di mimbar resmi tiba-tiba menghilang. Kantor organisasi kiri digeledah. Buku, poster, naskah drama, dan daftar anggota disita.
Aksi demonstrasi meluas. Tuntutan pembubaran PKI semakin keras. Pembakaran kantor dan penangkapan terjadi di berbagai tempat. Bahkan sebelum PKI dilarang secara resmi pada Maret 1966, perburuan terhadap anggota, simpatisan, serta siapa pun yang pernah dianggap dekat dengan organisasi kiri telah berlangsung. Tuduhan tidak lagi membutuhkan pengadilan. Pernah menghadiri rapat dapat menjadi kesalahan. Memiliki buku tertentu dapat menjadi bukti. Bermain dalam teater yang bernaung di bawah Lekra dapat mengubah seorang seniman menjadi musuh negara.
Sobari teringat Anti. Perempuan itu telah pindah dari Solo ke Jakarta beberapa bulan sebelumnya untuk membantu kegiatan kebudayaan. Ia tinggal bersama kerabat ayahnya di kawasan Sentiong. Pada siang hari rumah itu tampak seperti rumah keluarga biasa. Namun pada malam tertentu, Darno dan kawan-kawannya berkumpul di sana untuk membahas pementasan, politik, serta kegiatan organisasi.
Menjelang tengah malam, Sobari berangkat ke rumah itu. Jakarta terasa seperti kota yang menahan napas. Pos pemeriksaan berdiri di beberapa persimpangan. Truk militer melintas dengan lampu redup. Warung-warung menutup pintu lebih awal. Orang-orang yang masih berada di jalan berjalan cepat tanpa berani terlalu lama menatap satu sama lain.
Ketika Sobari tiba, pintu rumah Anti tidak terkunci. Darno berada di ruang tengah bersama lima orang anggota kelompok teater. Anti duduk di sudut ruangan. Asap rokok menggantung tebal di bawah lampu. Puntung-puntung menggunung di dalam asbak, sedangkan cangkir kopi dibiarkan dingin di atas meja.
“Keadaan gawat,” kata Darno. Suaranya berusaha terdengar tegas, tetapi Sobari menangkap getaran yang tidak pernah didengarnya di atas panggung. “Tentara dan kapitalis birokrat sudah menguasai Jakarta. Lambat atau cepat, mereka akan merangsek sampai ke tempat ini.”
Ia berhenti, lalu mengisap rokoknya dalam-dalam. “Untuk sementara, kegiatan teater kita bekukan. Tidak ada latihan, tidak ada rapat, dan jangan membawa dokumen organisasi. Kita menunggu keadaan normal kembali.”
Mereka saling memandang. Tidak seorang pun berani bertanya apakah keadaan normal masih mungkin kembali. “Apa yang harus kita lakukan, Kawan Darno?” tanya seorang pemuda. “Bagaimana kalau kita meninggalkan Jakarta untuk sementara?”
“Lari?” Darno membentak. “Sejak kapan partai mendidik kita menjadi pengecut?”
“Bukan lari. Itu hanya taktik. Kita tidak ingin ditangkap atau mati sia-sia.”
“Mati sia-sia?” Darno berdiri. “Kau pikir selama ini kita tidak memperjuangkan apa-apa? Setiap detik kita memikirkan rakyat. Jiwa kita adalah rakyat. Darah kita adalah rakyat. Napas kita adalah rakyat. Dua puluh empat jam bahkan tidak cukup untuk memikirkan penderitaan mereka.”
Ruangan menjadi senyap. Detak jam dinding terdengar semakin keras. Sobari memperhatikan wajah orang-orang di sekelilingnya. Darno berbicara tentang keberanian, tetapi tangannya terus bergerak gelisah. Pemuda yang mengusulkan melarikan diri menunduk. Seorang pemain perempuan menggigit bibir agar tidak menangis.
Anti memandang Darno tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang pemimpin yang mengetahui semua jawaban. Ia melihat seorang lelaki yang takut kehilangan dunia tempat dirinya selama ini merasa paling berarti.
Darno berjalan mondar-mandir. “Perjuangan kita mulai menunjukkan hasil,” katanya. “Lewat seni, kita membuat petani dan buruh mempunyai keberanian. Dulu mata mereka kosong. Sekarang mereka berani menatap tuan tanah yang hendak merampas tanah mereka. Buruh tidak lagi membungkuk di hadapan juragan yang memeras tenaganya.”
Sobari menyela, “Justru karena itu mereka sekarang mudah dikenali.”
Darno berhenti.
“Daftar pemain, peserta rapat, petani yang datang menonton, buruh yang membantu mendirikan panggung—semuanya dapat dicari,” lanjut Sobari. “Kalian harus pergi sebelum rumah ini digeledah.”
“Kau datang untuk menakut-nakuti kami?”
“Saya datang karena keadaan memang menakutkan.”
“Kami tidak memerlukan nasihat seorang wartawan yang meninggalkan perjuangan.”
“Ini bukan soal siapa yang paling revolusioner. Ini soal menyelamatkan orang.”
Darno mendekati Sobari. “Kaum intelektual sepertimu selalu berbicara tentang menyelamatkan manusia, tetapi takut mengubah dunia.”
“Dan orang sepertimu terlalu sibuk mengubah dunia sampai lupa bahwa dunia berisi manusia.”
Mata mereka bertemu. Beberapa bulan lalu perdebatan semacam itu hanya dapat membuat Sobari dikeluarkan dari latihan. Sekarang, sebuah kalimat yang salah dapat menentukan siapa yang akan ditangkap lebih dahulu.
Darno memalingkan wajah. “Kita berpencar,” katanya kepada anggota kelompok. “Jangan pulang ke tempat tinggal masing-masing. Cari rumah kawan yang aman. Tunggu instruksi.”
“Instruksi dari siapa?” tanya Sobari.
Darno tidak menjawab. Satu demi satu mereka meninggalkan rumah melalui pintu belakang. Darno pergi paling akhir tanpa menatap Anti. Ia hanya berpesan agar seluruh naskah dan dokumen dibakar sebelum fajar. Tidak ada pelukan. Tidak ada janji untuk kembali.
Tinggallah Anti dan Sobari di dalam rumah yang mendadak terasa terlalu besar.
“Kamu tidak apa-apa, Ti?” tanya Sobari.
Anti tersenyum getir. “Menurutmu, apakah aku terlihat baik-baik saja?”
Sobari tidak sanggup menjawab.
“Besok pagi aku akan mencari jalan agar kamu dapat meninggalkan Jakarta,” katanya. “Mungkin ke rumah keluargamu di Solo. Jangan pergi ke stasiun sendiri. Semua tempat pasti diawasi.”
Ia berbalik menuju pintu. Anti menahan lengannya. “Sobari.”
Lelaki itu menoleh. Anti berdiri dekat sekali di hadapannya. Pada wajah Sobari, ia melihat kecemasan yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Darno. Sobari tidak berbicara tentang rakyat, partai, atau sejarah. Ia hanya mengkhawatirkan nasib seorang perempuan bernama Anti. Anti baru menyadari bahwa Darno mungkin mencintai revolusi, tetapi tidak pernah belajar mencintai manusia satu per satu. Bagi Darno, manusia memperoleh arti setelah menjadi bagian dari massa. Cinta pun harus tunduk kepada garis perjuangan. Sementara Sobari mencintainya justru ketika ia tidak sedang menjadi lambang apa pun.
“Apakah kamu takut?” tanya Anti.
“Iya.”
“Aku juga.”
Anti menyandarkan kepalanya ke dada Sobari. Lelaki itu diam beberapa saat sebelum memeluknya. Tidak ada kemenangan dalam pelukan tersebut. Mereka hanyalah dua manusia yang ketakutan, berusaha menemukan sedikit kehangatan ketika dunia di luar sedang menyiapkan kebencian.
Anti mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu. “Aku tidak tahu apakah besok kita masih hidup,” bisiknya.
Sobari menyentuh pipinya. “Jangan berkata begitu.”
“Kalau begitu, jangan tinggalkan aku malam ini.”
Anti mengecupnya lebih dahulu. Pintu kamar ditutup. Lampu dipadamkan. Di luar, truk-truk militer masih melintas di jalan. Di dalam kamar, dua tubuh saling mencari perlindungan. Mereka melepaskan ketakutan bersama pakaian yang jatuh satu demi satu ke lantai. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada janji mengenai masa depan. Hanya napas yang menyatu, jemari yang bergetar, dan keinginan sederhana untuk merasa hidup sebelum fajar menentukan nasib mereka.
Ketika gelombang kehangatan itu mereda, Anti menyibak gorden. Bulan menggantung bulat dan pucat, terperangkap di dalam bingkai jendela. Sobari tertidur di sampingnya. Anti memandangi wajah lelaki itu dan merasakan sebuah kesedihan yang tidak dapat dijelaskan. Malam itu ia telah mengkhianati Darno, tetapi sekaligus menemukan bahwa selama ini kesetiaannya kepada Darno mungkin bukan cinta. Ia hanya terpesona kepada seseorang yang selalu tampak yakin. Manusia sering salah mengira kepastian sebagai kebenaran.
Sobari meninggalkan rumah sebelum matahari terbit. Ia berjanji akan kembali membawa jalan keluar. Namun keadaan memburuk jauh lebih cepat daripada yang dibayangkannya. Hari-hari seperti membeku. Angin seakan mati. Orang-orang menghilang tanpa kabar. Nama mereka tidak tercatat di kantor polisi, rumah tahanan, ataupun rumah sakit. Para tetangga memilih diam karena menanyakan orang yang hilang dapat membuat seseorang ikut dicurigai.
Anti membakar naskah, poster, dan surat-surat organisasi di halaman belakang. Api memakan lakon Mangir yang dahulu mereka banggakan. Wajah-wajah para tokoh berubah menjadi abu. Mangir, Pembayun, dan Senopati akhirnya menerima nasib yang sama: lenyap di dalam api yang tidak peduli siapa pahlawan dan siapa pengkhianat. Darno tidak kembali.
Pada malam ketiga, pintu rumah diketuk. Anti berdiri cukup lama sebelum membukanya. Dalam cahaya lampu yang pucat, ia melihat Sobari dengan kemeja kusut dan wajah kelelahan.
“Ti, kita harus pergi sekarang.”
“Ke mana?”
“Aku sudah mendapatkan kendaraan. Ada orang yang dapat membawa kita sampai Cirebon. Dari sana kita mencari jalan ke Solo.”
“Di mana Mas Darno?”
Sobari terdiam.
“Di mana dia?”
“Darno tertembak tadi malam.”
Anti menggenggam daun pintu agar tidak jatuh. “Tertembak di mana?”
“Mereka bilang dia mencoba melarikan diri ketika hendak ditangkap.”
“Mereka bilang?”
“Aku tidak melihatnya sendiri.”
Anti menutup mulutnya. Air mata mengalir tanpa suara. Ia tidak tahu apakah harus berduka sebagai kekasih, murid, atau kawan seperjuangan. Dalam beberapa hari, semua sebutan kehilangan makna. Seseorang dapat mati hanya sebagai nama yang disebut dalam bisikan.
Sobari memegang bahunya. “Kawan-kawan teater sudah ditangkap. Kita harus pergi sebelum—”
Pintu depan didobrak. Beberapa laki-laki berseragam dan berpakaian sipil menyerbu masuk. Lemari dibuka, kasur dibalik, buku-buku dilemparkan ke lantai. Seorang petugas menemukan sisa poster Lekra yang belum habis terbakar.
“Ini buktinya,” katanya.
“Bukti apa?” Sobari bertanya.
Sebuah pukulan mendarat di perutnya. Anti dan Sobari digelandang keluar. Mata mereka ditutup dengan kain, lalu tubuh mereka didorong ke dalam jip. Kendaraan melaju cepat. Mereka tidak mengetahui ke mana dibawa. Anti mencoba mencari tangan Sobari dalam kegelapan, tetapi seorang penjaga memisahkan mereka. “Jangan bergerak!”
Itulah terakhir kalinya jari-jari mereka hampir bersentuhan.
“Turun!”
Sobari ditarik dari jip. Kakinya menginjak lantai yang dingin. Setelah kain penutup matanya dibuka, ia mendapati dirinya berada di sebuah bangunan tua dengan dinding lembap dan koridor panjang. Dua orang menyeretnya menuju ruang pemeriksaan. Di ujung koridor, seorang perempuan berjalan bersama perwira berseragam. Sobari mengenali langkah dan bentuk tubuhnya sebelum melihat wajahnya.
“Sumi?”
Perempuan itu berhenti sesaat.
“Sumiati?”
Sumiati menoleh. Tidak ada kehangatan pada wajah yang dahulu menemaninya menyusuri jalan-jalan kota. Ia menatap Sobari seperti melihat seorang asing, lalu meneruskan langkah. Namun Sobari sempat melihat map di tangannya. Pada sampulnya tertulis nama Darno dan beberapa anggota kelompok teater. Namanya serta nama Anti berada di antara daftar tersebut.
Saat itulah ia memahami bahwa pekerjaan Sumiati sebagai wartawan mungkin hanya sebagian dari kehidupannya. Selama ini ia juga mengumpulkan nama, percakapan, dan hubungan orang-orang yang dianggap dekat dengan organisasi kiri. Senyum tipis Sumiati pada pertemuan terakhir mereka kembali terbayang. Mungkin ia sungguh pernah mencintai Sobari. Mungkin pula seluruh kedekatan mereka hanyalah pekerjaan. Yang paling menyakitkan adalah Sobari tidak lagi dapat membedakan keduanya.
Di ruang interogasi, seorang petugas melemparkan beberapa foto ke atas meja. “Kau mengenal Darno?”
Sobari diam.
“Kau pernah menjadi anggota teater Lekra?”
“Saya pernah bermain teater. Saya bukan anggota PKI.”
“Kau mengenal Anti?”
Sobari belum sempat menjawab ketika gagang pistol menghantam pelipisnya. Kursinya roboh. Darah hangat mengalir di sisi wajah.
“Ayo jawab!”
“Saya mengenalnya.”
“Di mana dokumen partai disembunyikan?”
“Saya tidak tahu.”
Popor senapan menghantam punggungnya. Pertanyaan yang sama diulang berkali-kali. Mereka tidak sedang mencari jawaban. Mereka sedang memaksanya membenarkan kesimpulan yang sudah dibuat sebelum ia memasuki ruangan. Itulah cara kekuasaan bekerja ketika merasa dirinya selalu benar.
Pemeriksaan tidak dilakukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk membuat kenyataan tunduk kepada tuduhan. Jika Sobari menyangkal, penyangkalannya disebut bukti bahwa ia terlatih menyembunyikan kejahatan. Jika mengaku, pengakuannya menjadi pembenaran untuk menangkap orang lain. Dalam logika semacam itu, tidak tersedia jalan menuju kebebasan.
Setelah para pemeriksa lelah, Sobari diseret ke sebuah sel yang penuh sesak. Lantainya basah dan berbau tinja. Tidak ada tempat untuk berbaring. Para tahanan duduk berhimpitan dengan tubuh penuh luka. Sebagian tidak mengetahui alasan penangkapan mereka. Ada guru, buruh, pemain ketoprak, pegawai kantor, dan orang-orang yang kebetulan memiliki nama sama dengan seseorang dalam daftar.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tidak ada pengadilan. Sobari tidak mengetahui nasib Anti. Setiap ada tahanan baru, ia menanyakan namanya. Jawaban yang diperoleh selalu sama: para perempuan dipisahkan dan dipindahkan ke tempat lain.
Beberapa tahun kemudian, beredar kabar bahwa tahanan laki-laki kategori tertentu akan dibuang ke Pulau Buru. Pemindahan besar itu baru dilakukan sejak 1969. Ribuan lelaki dikirim tanpa pernah dibuktikan bersalah melalui pengadilan. Para tahanan perempuan menempuh penderitaan berbeda; sebagian akhirnya dibawa ke kamp khusus seperti Plantungan di Jawa Tengah. Nama Anti tidak pernah muncul dalam daftar yang dapat dilihat Sobari. Namun ia bertahan hidup dengan menyimpan harapan yang semakin tipis. Ia ingin percaya bahwa Anti masih hidup di suatu tempat, mungkin menatap bulan yang sama melalui jendela berterali.
Di dalam sel, Sobari akhirnya memahami pelajaran yang dahulu gagal dimengertinya di atas panggung. Darno pernah percaya bahwa kekuasaan revolusioner pasti benar karena berpihak kepada rakyat. Para penangkap mereka kini percaya bahwa kekuasaan militer pasti benar karena sedang menyelamatkan negara. Keduanya memulai dari dalih yang dianggap mulia. Keduanya kemudian membagi manusia menjadi kawan dan musuh. Perbedaannya hanya terletak pada siapa yang sedang memegang senjata.
Kekuasaan tidak menjadi jahat semata-mata karena berada di tangan orang jahat. Kekuasaan menjadi berbahaya ketika orang baik percaya bahwa niat baiknya memberinya hak untuk melakukan apa saja. Dari sanalah kekerasan memperoleh pembenaran. Hukuman berubah menjadi balas dendam, dan balas dendam disebut pengabdian.
Sobari tidak lagi bermimpi menjadi pahlawan. Ia hanya ingin tetap hidup. Bukan untuk membalas mereka yang menyiksanya, melainkan untuk menemukan Anti. Jika perempuan itu telah tiada, ia ingin setidaknya menjaga namanya agar tidak dihapus dari sejarah. Sebab kemenangan terbesar kekuasaan bukanlah ketika berhasil memenjarakan tubuh manusia. Kemenangan terbesar kekuasaan terjadi ketika korban mulai percaya bahwa dirinya memang tidak berhak dikenang.
Akhirnya Indah..
1977. Setelah upacara pelepasan tahanan politik. Pintu besi markas militer itu terbuka menjelang siang. Sobari melangkah keluar dengan membawa sebuah tas kain berisi dua helai pakaian, buku catatan kusam, dan surat pembebasan yang tidak pernah menjelaskan kesalahan apa yang telah dilakukannya. Tubuhnya jauh lebih kurus. Rambutnya memutih sebelum waktunya. Punggungnya sedikit membungkuk akibat bertahun-tahun bekerja dan tidur di tempat yang tidak layak. Tidak ada petugas yang menjabat tangannya. Tidak ada permintaan maaf. Setelah lebih dari satu dasawarsa kebebasannya dirampas tanpa pengadilan, ia dilepaskan seperti barang yang tidak lagi diperlukan.

Di luar pagar, matahari terasa menyilaukan. Sobari berhenti dan memejamkan mata. Ia lupa bagaimana rasanya berdiri di jalan tanpa diperintah ke mana harus melangkah. Ketika membuka mata kembali, ia melihat seorang perempuan berdiri di bawah pohon. Anti. Sobari tidak segera mengenalinya. Perempuan yang tersimpan di dalam ingatannya masih berusia dua puluhan, mengenakan kebaya krem dengan rambut tersanggul rapi. Perempuan di hadapannya tampak jauh lebih tua. Tubuhnya kurus, kulit wajahnya menggelap.
Namun matanya tetap sama. Mata itulah yang dahulu memandangnya di atas panggung. Mata yang menemaninya pada malam terakhir sebelum mereka ditangkap. Mata yang selama bertahun-tahun hanya dapat ditemuinya di dalam mimpi.
“Anti?”
Perempuan itu tersenyum, tetapi air matanya lebih dahulu jatuh.
“Mas Sobari.”
Tas kain terlepas dari tangan Sobari. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di hadapan Anti. Tangannya terangkat, tetapi ragu menyentuhnya. Ia takut perempuan itu hanya bayangan yang diciptakan oleh kerinduan.
Anti meraih tangannya dan menempelkannya ke pipi. “Aku masih hidup, Mas.”
Sobari tidak sanggup menjawab. Ia memeluk Anti dengan tubuh gemetar. Pelukan itu tidak seperti pertemuan dua kekasih yang lama berpisah. Mereka berpelukan sebagai dua manusia yang sedang mencari kembali bagian diri yang dirampas oleh sejarah.
“Aku mencari namamu di setiap daftar tahanan,” bisik Sobari. “Tidak pernah ada.”
“Aku juga menanyakanmu kepada setiap orang yang datang dari Buru.”
“Aku mengira kau sudah—”
“Jangan katakan.”
Mereka saling melepaskan pelukan. Barulah Sobari melihat seorang anak laki-laki berdiri di samping Anti. Usianya sekitar sepuluh tahun. Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong pendek, dan ia mengenakan kemeja putih yang sedikit kebesaran. Sejak tadi anak itu menatap Sobari dengan rasa ingin tahu sekaligus takut. Anti mengusap kepala anak itu. “Budiman,” katanya lembut, “itu ayahmu.”
Anak itu segera menunduk. Kedua tangannya memegang kain Anti, lalu tubuhnya berusaha berlindung di balik kaki ibunya.
Sobari terpaku. “Ayah?”
Kata itu keluar seperti bisikan dari mulut yang telah lupa cara mengucapkannya. Ia memandang Anti, kemudian kembali melihat anak tersebut. Dahi, bentuk mata, dan garis rahangnya seperti menghadirkan wajahnya sendiri ketika masih kecil.
“Dia… anak kita?”
Anti mengangguk. Air matanya kembali mengalir. “Budiman lahir di dalam penjara, Mas.”
Sobari merasa tanah di bawah kakinya menghilang. Anti berjongkok dan membujuk anak itu agar maju. Budiman merentangkan kedua tanganya. Anak itu bergerak lambat mendekati Sobari. Dia segera peluk anak itu . ” Ayah akan selalu ada untuk mu nak. Tidak akan pergi lagi..”
Anak itu tidak menjawab. Sobari tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakannya. Ia ingin meminta maaf karena tidak berada di samping Anti ketika anak itu lahir. Ia ingin meminta maaf karena tidak menggendongnya, tidak mendengar tangis pertamanya, tidak menyaksikan langkah pertamanya, dan tidak mengetahui makanan kesukaannya.
“Budiman lahir beberapa bulan setelah kita ditangkap,” kata Anti. “Aku merawatnya di dalam tahanan. Ketika usianya hampir satu tahun, keluargaku datang menjemputnya. Aku menyerahkannya melalui pintu besi sebelum dipindahkan ke penjara di Semarang.”
Suara Anti pecah. “Dia menangis dan terus mengulurkan tangannya kepadaku. Aku masih mendengar tangisnya sampai sekarang.”
Sobari menundukkan kepala. “Setelah itu aku hanya bisa melihatnya sesekali,” lanjut Anti. “Kadang beberapa bulan sekali. Kadang lebih dari setahun. Dia tumbuh bersama keluarga ibuku. Mereka mengatakan kepadanya bahwa ayah dan ibunya sedang bekerja jauh.”
Budiman mengangkat wajah. “Ibu bilang Ayah menulis buku,” katanya pelan.
Sobari menahan tangis. “Ayah memang menulis.”
“Kenapa Ayah tidak pernah pulang?”
“Maafkan Ayah,” bisiknya.
Anti membantu Sobari berdiri. “Aku dibebaskan tahun lalu,” katanya. “Sejak itu aku menunggumu.”
“Bagaimana kau tahu aku dibebaskan hari ini?”
“Aku datang setiap kali mendengar ada tahanan yang dipulangkan.”
“Berapa kali?”
Anti tidak menjawab. Sobari memahami bahwa perempuan itu mungkin telah berulang kali berdiri di tempat yang sama, menyaksikan orang lain keluar, lalu pulang tanpa dirinya.
Mereka meninggalkan markas itu bertiga. Anti berjalan di tengah. Tangan kanannya menggenggam tangan Budiman, sedangkan tangan kirinya memegang tangan Sobari. Anti dengan airmata berlinang. ” Dua pria yang kucintai dengan pengorbanan. Pada akhirnya indah ..” Anti memblelai kepala Budiman dan meneluk lengan Sobari.
Sobari dan Anti akhirnya menikah. Tidak ada pesta, foto keluarga besar, atau pidato mengenai kesetiaan. Tidak banyak orang berani menghadiri pernikahan dua bekas tahanan politik. Hanya beberapa sahabat lama yang datang, duduk di ruang tamu sempit, lalu makan bersama dari piring-piring yang tidak seragam. Budiman berdiri di antara keduanya.
Ketika penghulu meminta Sobari mengucapkan akad, suaranya sempat bergetar. Bukan karena ragu, melainkan karena baru kali itu negara hadir untuk mengakui sesuatu dalam hidupnya, bukan merampasnya.
Setelah semua selesai, Anti menyandarkan kepala pada bahu Sobari. “Kita tidak mempunyai foto pernikahan,” bisiknya.
Sobari menggenggam tangannya. “Tidak apa-apa. Kita mempunyai saksi yang lebih kuat.”
“Siapa?”
Sobari memandang Budiman. “Anak yang lahir ketika dunia berusaha memisahkan kita.”
Mereka memang telah kehilangan sebagian besar masa muda. Namun dari balik tembok penjara, kehidupan diam-diam meninggalkan seorang anak sebagai bukti bahwa kekuasaan tidak pernah mampu menguasai seluruh masa depan manusia.
Untuk menghidupi keluarga, Sobari menulis novel dan cerita pendek dengan nama samaran. Namanya sendiri tidak mungkin dicetak. Identitasnya sebagai bekas tahanan politik membuat banyak pintu tertutup. Bahkan untuk mengurus surat keterangan, ia harus menjawab pertanyaan mengenai peristiwa yang tidak pernah diadili terhadap dirinya.
Siluet Bulan di Bingkai Jendela
Jakarta, 1997
Bulan perak sebesar semangka masih terjebak di dalam bingkai jendela. Pemandangan itu selalu membawa Anti kembali kepada malam terakhirnya bersama Sobari pada 1965—malam ketika Jakarta diliputi ketakutan dan mereka belum mengetahui apakah masih akan melihat matahari berikutnya.
Tiga puluh dua tahun telah berlalu. Anti kini seorang perempuan paruh baya. Rambutnya mulai memutih, tetapi masih disanggul dengan cara yang sama seperti ketika ia memerankan Pembayun. Kedua tangannya memegang kisi-kisi jendela. Sobari berdiri di belakangnya, lalu mendekap tubuhnya yang semakin kurus.
Mereka akhirnya menua bersama. Namun, jalan menuju rumah kecil itu terlalu panjang untuk disebut sebagai akhir yang bahagia. Sobari menjalani penahanan tanpa pengadilan sebelum dibuang ke Pulau Buru pada 1969. Anti mendekam di beberapa tempat penahanan dan akhirnya dipindahkan ke kamp perempuan. Bertahun-tahun mereka tidak mengetahui apakah yang lain masih hidup.
Dari radio terdengar berita tentang nilai rupiah yang terus tertekan. Para pejabat meyakinkan masyarakat bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat. Pertumbuhan masih tinggi. Cadangan devisa dianggap cukup. Pemerintah mengatakan gejolak hanya bersifat sementara.
Anti memandang Sobari melalui bayangan pada kaca jendela. “Apakah kau percaya keadaan akan segera membaik?”
Sobari melepaskan pelukannya, lalu duduk di kursi kayu. “Kalau benar kuat, mereka tidak perlu mengulanginya setiap hari.”
Anti ikut duduk di hadapannya. “Tetapi pembangunan memang terlihat di mana-mana. Jalan tol bertambah. Gedung tinggi bermunculan. Pabrik dibuka. Listrik masuk desa. Sekolah dan puskesmas dibangun.”
“Itu benar,” kata Sobari. “Kita tidak boleh membohongi sejarah hanya karena pernah menjadi korban penguasa.”
Selama tiga dasawarsa Orde Baru, ekonomi Indonesia tumbuh cepat. Produksi pangan meningkat, industri berkembang, infrastruktur meluas, dan angka kemiskinan resmi turun tajam. Jutaan orang memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan yang sebelumnya tidak tersedia. Namun, keberhasilan itu mempunyai sisi lain yang jarang dibicarakan secara terbuka.
“Masalahnya bukan apakah pembangunan terjadi,” kata Sobari. “Masalahnya adalah siapa yang memperoleh jalan paling lebar menuju hasil pembangunan.”
“Maksudmu?”
“Rakyat mendapat sekolah dasar, jalan desa, dan puskesmas. Itu baik. Tetapi keluarga penguasa dan orang-orang dekatnya memperoleh konsesi hutan, bank, proyek jalan, pabrik, lisensi impor, serta kredit dari bank negara. Rakyat menerima tetesan. Segelintir orang diberi sumber airnya.”
Anti tersenyum tipis. “Bukankah itu yang mereka sebut trickle-down effect?”
“Ya. Kekayaan dikumpulkan lebih dahulu di atas, dengan harapan sebagian akan menetes ke bawah.”
“Apakah menetes?”
“Menetes. Tetapi sering kali setelah air yang paling jernih diminum oleh mereka yang berada dekat dengan kekuasaan.”
Sobari mengambil koran dari meja. Di halaman ekonomi terdapat foto sebuah gedung pencakar langit, iklan mobil mewah, dan berita mengenai peresmian proyek besar. Pada halaman lain, buruh menuntut kenaikan upah.
“Pertumbuhan memang menciptakan kelas menengah,” lanjutnya. “Kemiskinan juga berkurang. Itu fakta. Tetapi terlalu banyak orang hidup hanya sedikit di atas garis kemiskinan. Mereka tampak tidak miskin dalam statistik, padahal satu kali sakit, kehilangan pekerjaan, atau kenaikan harga beras dapat menjatuhkan mereka kembali.”
“Jadi pembangunan itu gagal?”
“Tidak seluruhnya. Pembangunan yang berhasil membangun jalan tetapi gagal membangun keadilan bukan kegagalan total. Ia hanya keberhasilan yang tidak lengkap. Dan keberhasilan yang tidak lengkap menjadi berbahaya ketika pemerintah melarang orang membicarakan kekurangannya.”
Anti memandang bulan di luar jendela. “Dahulu Darno mengatakan revolusi akan menghapus kaum borjuis.”
“Yang terjadi justru lahir borjuis baru.”
“Orang-orang yang dekat dengan istana?”
“Bukan hanya istana. Dari pusat sampai daerah, kekuasaan menciptakan lingkarannya sendiri. Untuk memperoleh proyek, orang mencari keluarga pejabat. Untuk mendapatkan izin, orang mencari pensiunan tentara. Untuk memenangkan tender, orang menyiapkan komisi. Nepotisme, korupsi, dan kolusi tidak lagi dianggap penyimpangan. Semuanya tumbuh menjadi kebiasaan baru.”
“Budaya baru?”
“Ya. Pada masa kolonial, orang mencari perlindungan pejabat Belanda atau bangsawan setempat. Sekarang mereka mencari jenderal, menteri, anak presiden, atau ketua organisasi. Seragamnya berubah, tetapi hubungan kekuasaannya tetap sama.”
Anti menghela napas. “Jadi revolusi hanya mengganti nama para tuan?”
“Tidak selalu. Namun kemerdekaan kehilangan makna apabila rakyat hanya bebas memilih kepada siapa mereka harus membungkuk.”
Radio kembali menyiarkan pernyataan seorang pejabat. Indonesia, katanya, tidak perlu cemas. Utang luar negeri digunakan untuk membiayai pembangunan produktif. Selama ekonomi tumbuh, kewajiban itu dapat dibayar.
Sobari mengecilkan volume radio. “Sekarang utang luar negeri telah menjadi mantra pembangunan,” katanya.
“Mantra?”
“Seolah-olah sebuah hadis baru, berutanglah agar pembangunan berhasil; bangunlah proyek agar ekonomi tumbuh; setelah ekonomi tumbuh, utang akan membayar dirinya sendiri.”
“Bukankah utang memang dapat mempercepat pembangunan?”
“Tentu. Utang bukan dosa. Kalau digunakan untuk membangun kemampuan produksi, menghasilkan devisa, dan meningkatkan pendapatan, utang dapat menjadi jembatan menuju kemajuan.”
“Lalu apa yang salah?”
“Jembatan itu dibangun dengan dolar, tetapi banyak orang yang melewatinya memperoleh penghasilan dalam rupiah.”
Sobari mengambil pensil, lalu menulis di tepi koran: Utang dolar + pendapatan rupiah = risiko kurs.
“Perusahaan swasta berutang ke luar negeri karena bunganya tampak murah,” jelasnya. “Bank meminjam dolar, lalu menyalurkan kredit kepada proyek dalam negeri. Selama rupiah stabil, semua terlihat aman. Tetapi jika rupiah jatuh, nilai utang mereka dalam rupiah membengkak.”
“Bukankah itu utang swasta? Mengapa Soeharto harus kesulitan?”
“Karena batas antara swasta dan negara tidak jelas. Banyak perusahaan dimiliki orang-orang yang dekat dengan kekuasaan. Bank memberi pinjaman bukan karena proyeknya sehat, melainkan karena pemiliknya mempunyai hubungan. Kalau mereka gagal, pemerintah akan dipaksa menyelamatkan bank dan perusahaannya. Keuntungan mereka nikmati sendiri. Kerugiannya dipindahkan kepada negara.”
Anti mengangguk perlahan. “Seperti dahulu. Penguasa berkata pembangunan untuk rakyat. Namun ketika berhasil, kekayaan menjadi milik keluarga dan kroni. Ketika gagal, rakyat diminta menanggung kerugiannya.”
“Itulah kapitalisme perkoncoan,” kata Sobari. “Pasar hanya diberlakukan kepada orang kecil. Bagi mereka yang dekat dengan kekuasaan, selalu tersedia perlindungan.”
“Berarti kapitalisme memang buruk?”
Sobari menggeleng. “Tidak ada yang salah hanya karena namanya ideologi. Yang salah adalah ketika ideologi dijalankan tanpa disiplin, kehilangan akal sehat, lalu dipakai untuk membenarkan kepentingan orang yang berkuasa.”
“Bagaimana dengan sosialisme yang dahulu diperjuangkan Darno?”
“Sosialisme mempunyai cita-cita yang baik. Negara diberi peranan besar agar tanah, modal, dan sumber daya strategis tidak dikuasai segelintir orang. Namun jika negara menguasai hampir seluruh kegiatan ekonomi, negara juga harus memastikan sumber daya didistribusikan secara adil kepada rakyat tanpa membedakan kelas, suku, agama, ataupun kedekatan politik.”
Anti kembali memandang bulan. “Bukankah harga juga dapat dikendalikan negara agar rakyat miskin terlindungi?”
“Bisa, terutama untuk kebutuhan dasar dan dalam keadaan tertentu. Namun pengendalian harga harus didukung data, produksi yang cukup, serta distribusi yang efisien. Kalau harga ditetapkan hanya melalui perintah, sedangkan barangnya tidak tersedia, yang lahir bukan keadilan. Yang lahir adalah kelangkaan, pasar gelap, dan penyelundupan.”
“Lalu para pejabat membagi izin kepada orang-orang dekatnya.”
“Benar. Karena itu, pengendalian negara tidak boleh melahirkan monopoli, rente, dan kolusi. Jika hanya pejabat yang menentukan siapa boleh memproduksi, mengimpor, atau menjual, kekuasaan ekonomi berpindah dari pemilik modal kepada pemilik stempel. Rakyat tetap menjadi korban.”
“Jadi sosialisme dapat berubah menjadi kapitalisme negara ?”
Sobari tersenyum tipis. “Bisa. Negara mengaku memiliki segala sesuatu atas nama rakyat, tetapi yang menikmati kekuasaan atasnya hanya birokrat dan keluarga penguasa. Negara menjadi sangat kaya, sementara rakyat hanya memperoleh perintah untuk bersabar.”
Anti terdiam sejenak. “Bagaimana dengan kapitalisme?”
“Kapitalisme juga dapat menghasilkan kemajuan apabila dijalankan dengan disiplin. Pasar memberi ruang kepada manusia untuk berusaha, menciptakan barang, mengambil risiko, dan menemukan teknologi baru. Namun pasar membutuhkan aturan yang jelas. Pemerintah tidak boleh mengintervensi hanya untuk memenangkan perusahaan tertentu, tetapi tetap wajib menjaga persaingan, mencegah kartel, melindungi konsumen, dan memperbaiki kegagalan pasar.”
“Berarti pasar juga tidak dapat dibiarkan sepenuhnya?”
“Pasar bukan Tuhan,” jawab Sobari. “Ia hanyalah mekanisme untuk mempertemukan kepentingan. Pasar dapat mendorong efisiensi, tetapi tidak mempunyai hati untuk memikirkan mereka yang sakit, hidup dengan disabilitas, telah tua, atau lahir tanpa kesempatan. Karena itu, negara tetap diperlukan—bukan untuk menentukan siapa yang harus kaya, melainkan memastikan tidak seorang pun menjadi terlalu kuat untuk menguasai pasar.”
Sobari mengambil dua gelas air, lalu menyerahkan satu kepada Anti. “Dalam kapitalisme yang sehat, tidak boleh ada monopoli, kartel, atau perlindungan bagi pengusaha karena hubungan keluarga. Pajak progresif juga harus dijalankan secara konsisten. Orang yang memperoleh manfaat paling besar dari pertumbuhan ekonomi harus memberikan kontribusi lebih besar kepada negara.”
“Untuk dibagikan kepada rakyat miskin?”
“Bukan sekadar dibagikan sebagai bantuan. Pajak harus dikembalikan dalam bentuk pendidikan, kesehatan, transportasi, perlindungan sosial, serta kesempatan memperoleh modal. Keadilan bukan berarti membuat semua orang menerima jumlah yang sama. Keadilan adalah memastikan tempat kelahiran tidak menentukan seluruh masa depan seseorang.”
Anti tersenyum. “Kau masih seorang sosialis rupanya.”
“Saya tidak tahu,” jawab Sobari. “Mungkin saya hanya lelah melihat manusia bertengkar karena nama ideologi, sementara pelaksanaannya selalu tunduk kepada kepentingan penguasa.”
“Darno pasti akan mengatakan kau tidak mempunyai ketegasan kelas.”
“Dan para kapitalis akan mengatakan saya terlalu banyak meminta negara campur tangan.”
“Lalu kau berdiri di mana?”
“Pada akal sehat.”
Anti tertawa kecil. “Akal sehat bukan ideologi.”
“Justru karena itu ia sering lebih berguna.”
Sobari memandang koran yang masih terbuka di atas meja. “Baik sosialisme maupun kapitalisme harus bertumpu pada sains, bukan pada perasaan suka atau tidak suka. Kebijakan tidak boleh dibuat hanya karena penguasa menyukai seseorang, membenci suatu kelompok, atau ingin menyenangkan massa. Setiap keputusan harus diuji dengan data, pengetahuan, dan akibat yang dapat diukur.”
“Apakah sains selalu memberikan jawaban yang benar?”
“Tidak. Sains tidak menjanjikan bahwa manusia tidak pernah salah. Sains hanya mengajarkan agar kesalahan dapat ditemukan, diakui, lalu diperbaiki. Kekuasaan justru selalu ingin terlihat tidak pernah salah.”
Anti kembali menatap Sobari. “Karena itu penguasa tidak menyukai orang terpelajar?”
“Penguasa menyukai orang pintar selama kepintarannya digunakan untuk membenarkan keputusan. Yang ditakutinya adalah orang terdidik yang berani bertanya.”
“Jadi pendidikan lebih penting daripada ideologi?”
“Jauh lebih penting. Ideologi memberi arah, tetapi pendidikan memberi kemampuan untuk menguji apakah arah itu masih benar. Tanpa pendidikan, sosialisme dapat berubah menjadi pemerataan kemiskinan. Kapitalisme dapat berubah menjadi penjarahan oleh mereka yang paling kuat.”
Sobari bangkit, lalu berdiri di samping jendela. “Kalau sebuah bangsa ingin membangun peradaban untuk semua, pendidikan harus ditempatkan di atas segala-galanya. Bukan hanya membangun gedung sekolah, tetapi membentuk manusia yang berani berpikir, mencipta, meneliti, dan berbeda pendapat. Negara yang kaya sumber daya dapat tetap miskin. Namun negara yang kaya pengetahuan selalu mempunyai jalan untuk bangkit.”
Anti menyandarkan kepala pada bahu Sobari. “Dahulu kita percaya teater dapat mengubah rakyat.”
“Teater dapat membuka mata. Namun setelah mata terbuka, manusia membutuhkan pendidikan agar tahu ke mana harus melangkah.”
“Dan cinta?”
Sobari menggenggam tangannya. “Cinta menjaga agar ilmu pengetahuan tidak kehilangan tujuan kemanusiaannya.”
Beberapa saat mereka berdiri dalam diam. Di luar jendela, bulan masih menggantung. Di dalam rumah, dua orang yang pernah menjadi korban pertarungan ideologi akhirnya memahami bahwa masa depan tidak akan dibangun oleh kemenangan satu ideologi atas ideologi lain. Masa depan hanya dapat dibangun ketika kekuasaan tunduk kepada pengetahuan, pasar tunduk kepada keadilan, dan negara tunduk kepada kepentingan manusia.
Sobari kembali duduk. “Soeharto mungkin masih terlihat kuat,” katanya. “Namun kekuasaannya semakin berat memikul utang, korupsi, dan kepentingan keluarga. Selama uang asing terus masuk, semua kelemahan itu dapat ditutupi. Begitu kepercayaan hilang dan modal keluar, kita akan mengetahui gedung mana yang dibangun di atas tanah dan mana yang berdiri di atas utang.”
“Apakah Soeharto tahu?”
“Seorang penguasa yang terlalu lama berkuasa akhirnya hanya mendengar kabar yang menyenangkan dirinya. Bawahannya takut menyampaikan masalah. Para pengusaha memuji kebijakannya karena membutuhkan izin. Anak-anak dan kroninya mengatakan semua usaha mereka berhasil karena kecakapan, bukan karena fasilitas negara.”
“Jadi dia terjebak?”
“Terjebak di dalam sistem yang dibangunnya sendiri.”
Telepon berdering. Sobari mengangkatnya. Ia tidak banyak berbicara. Wajahnya perlahan berubah. Setelah menutup telepon, ia berdiri cukup lama dengan tangan masih menggenggam gagang. “Ti,” katanya pelan. “Sumiati meninggal dunia.”
Anti tidak langsung menjawab. Wajah Sumiati hadir kembali dalam ingatannya—perempuan muda yang duduk di ruang depan rumahnya, mempertanyakan pandangan mereka tentang Linggarjati, revolusi, dan arti kemerdekaan. Kemudian muncul wajah lain: Sumiati di koridor rumah tahanan, membawa map berisi nama-nama orang yang kelak kehilangan kebebasan.
“Apa kau ingin datang?” tanya Sobari.
Anti menarik napas panjang. “Ya.”
“Kau tidak harus memaksakan diri.”
“Aku tidak datang untuk masa lalunya. Aku datang karena kematiannya.”
Ia mengambil baju hangat. Mereka keluar rumah dan menuju kediaman Sumiati di kawasan Menteng. Rumah itu besar, tetapi terasa sepi. Karangan bunga memenuhi halaman. Kendaraan para pejabat dan perwira terparkir di sepanjang jalan. Para pelayat berbicara pelan di bawah tenda.
Kedatangan Sobari dan Anti membuat beberapa orang tertegun. Ada yang mengenali mereka. Ada pula yang segera berbisik kepada orang di sebelahnya. Stigma sebagai bekas tahanan politik belum pernah benar-benar hilang. Selama puluhan tahun, hak-hak politik mereka dibatasi dan nama mereka tetap dikaitkan dengan istilah “bahaya laten”.
Seorang lelaki tua menyambut mereka. Ia adalah suami Sumiati, seorang purnawirawan tentara. “Sobari?” tanyanya.
Sobari mengangguk. “Kami datang untuk menyampaikan belasungkawa.”
Lelaki itu menatap Anti, kemudian mempersilakan mereka masuk. Di ruang tengah, seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun duduk ditemani pengasuh. Ia adalah putri Sumiati yang hidup dengan disabilitas intelektual dan membutuhkan pendampingan sepanjang hidupnya. Anak laki-laki Sumiati telah meninggal beberapa tahun sebelumnya akibat narkotika.
Anti memandang perempuan itu cukup lama. Baru sekarang ia dapat membayangkan betapa berat kehidupan yang dijalani Sumiati. Seorang anak pergi karena narkotika, sementara seorang lainnya membutuhkan perhatian tanpa henti. Tidak ada ibu yang dapat menyaksikan penderitaan kedua buah hatinya tanpa merasa sebagian dirinya ikut terluka.
Selama ini Anti mengira Sumiati menjalani kehidupan yang sempurna, menikah dengan seorang perwira, tinggal di rumah besar, memiliki harta, kedudukan, dan perlindungan kekuasaan. Namun kemewahan ternyata hanya mampu menutupi dinding rumah, bukan menyembuhkan luka penghuninya.
Mungkin hari-hari yang dilewati Sumiati jauh lebih sunyi daripada yang dapat dibayangkan siapa pun. Anti dan Sobari pernah dipenjara oleh kekuasaan—Sobari dibuang ke Pulau Buru, sedangkan Anti berpindah dari satu tempat penahanan ke tempat lainnya. Mereka mengetahui siapa yang merampas kebebasan mereka dan mempunyai alasan untuk berharap suatu hari pintu penjara akan dibuka. Sumiati menghadapi penjara yang berbeda. Tidak ada tembok, jeruji, ataupun penjaga. Penjaranya adalah rasa bersalah, kehilangan seorang anak, dan kecemasan terhadap anak lain yang harus ditinggalkannya kelak.
Anti akhirnya memahami bahwa penderitaan tidak patut diperlombakan. Penjara mengajarinya bahwa luka dapat dilihat dan diberi nama. Kehidupan Sumiati mengajarinya bahwa ada pula luka yang tersembunyi di balik rumah besar, pakaian bagus, dan senyum seorang istri pejabat. Kemewahan dapat membuat seseorang tampak beruntung di mata dunia. Namun tidak ada kekuasaan yang sanggup menyuap takdir, dan tidak ada kekayaan yang mampu melindungi manusia dari seluruh kesedihan.
Kemewahan rumah itu tidak berhasil menyembunyikan luka penghuninya. Di depan peti jenazah yang terbuka, Anti menatap wajah Sumiati. Wajah itu masih bulat—seperti bulan sebesar semangka yang terjebak di dalam bingkai jendela kamarnya. Sobari menggenggam jemari Anti. Air mata mengalir di pipi perempuan itu. “Sum,” bisiknya, “akhirnya kita sama-sama kalah oleh waktu.”
Dalam ingatannya, Sumiati kembali menjadi wartawan muda yang anggun. Mereka pernah duduk bersama dan memperdebatkan kemerdekaan. Anti menuduhnya terlalu naif. Sumiati menganggap Anti terlalu mudah menjadikan kemarahan sebagai kebenaran. Kini seluruh perdebatan itu berakhir di hadapan kematian.
Suami Sumiati berdiri beberapa langkah di belakang mereka. “Sebelum meninggal,” katanya, “Sumi sering menyebut nama kalian.”
Sobari menoleh.
“Dia menyimpan banyak penyesalan. Katanya, pada masa itu dia percaya sedang menyelamatkan negara.”
“Setiap orang yang bekerja untuk kekuasaan percaya demikian,” jawab Sobari.
“Apakah kalian membencinya?”
Anti mengusap air matanya. “Saya pernah membencinya,” katanya jujur. “Tetapi kalau kebencian itu saya bawa sampai mati, berarti penjara masih menguasai hidup saya.”
Lelaki itu menunduk. “Sumi tidak pernah damai setelah mengetahui apa yang terjadi kepada orang-orang dalam laporannya.”
“Penyesalan tidak mengembalikan masa muda kami,” kata Sobari. “Namun tanpa penyesalan, manusia kehilangan kesempatan terakhir untuk kembali menjadi manusia.”
Anti menatap wajah Sumiati sekali lagi. Ia tidak lagi melihat seorang pengkhianat. Ia melihat manusia yang pernah membuat pilihan, menikmati perlindungan kekuasaan, kemudian hidup cukup lama untuk menyaksikan harga dari pilihannya sendiri.
Tidak semua hukuman datang dalam bentuk penjara. Ada orang yang dikurung oleh rasa bersalah. Ada yang mempunyai rumah besar, kendaraan, dan kedudukan, tetapi tidak pernah memperoleh ketenangan. Kekayaan dapat membeli penjaga, dokter, dan penghormatan para pelayat. Namun kekayaan tidak dapat memerintahkan hati agar berhenti mengingat.
Anti merapatkan kedua telapak tangannya dan berdoa agar Sumiati memperoleh kedamaian di sisi Tuhan. Saat itulah kehangatan perlahan mengalir di rongga dadanya. Tidak ada lagi dendam. Baginya, ini bukan semata-mata persoalan pribadi. Ini adalah tragedi politik ketika manusia dipaksa memilih pihak, lalu menganggap orang di seberang sebagai sesuatu yang tidak lagi perlu dicintai.
Sebelum meninggalkan rumah duka, Anti berkata kepada Sobari, “Dahulu kita bertanya apakah kemerdekaan diperjuangkan untuk wong cilik atau kaum borjuis.”
“Sekarang kau sudah menemukan jawabannya?”
Anti menggeleng. “Belum. Mungkin setiap generasi harus menjawabnya sendiri.”
Mereka berjalan menuju halaman. Dari sebuah radio di pos keamanan terdengar lagi berita mengenai rupiah, utang luar negeri, dan keyakinan pemerintah bahwa ekonomi tetap terkendali.
Sobari berhenti sejenak. “Penguasa selalu ingin sejarah mengingat gedung yang dibangunnya,” katanya. “Namun sejarah sering kali justru mengingat orang-orang yang disingkirkan untuk memberi tempat kepada gedung itu.”
Reformasi yang Tidak Selesai
Jakarta, 2005
Soeharto telah jatuh. Namun, kejatuhan kekuasaan yang dibangun selama lebih dari tiga puluh tahun itu meninggalkan luka. Krisis ekonomi menghancurkan pekerjaan, tabungan, dan usaha jutaan orang. Kerusuhan Mei 1998 menelan korban jiwa. Rumah, toko, dan kendaraan dibakar. Perempuan mengalami kekerasan, sementara warga keturunan Tionghoa kembali dijadikan sasaran kemarahan.
Anti merasa sejarah sedang mengulangi kekejamannya. Pada 1965, orang-orang yang dituduh komunis diburu, dan di sejumlah tempat warga Tionghoa turut menjadi korban karena identitas mereka dikaitkan dengan komunisme. Pada 1998, ketika ekonomi runtuh dan kekuasaan kehilangan kendali, kelompok yang sama kembali dijadikan kambing hitam.
“Setiap kali penguasa gagal,” kata Anti, “selalu ada kelompok lemah yang dikorbankan agar rakyat tidak melihat siapa yang sebenarnya bertanggung jawab.”
Sobari mengangguk. “Kemarahan rakyat diarahkan kepada wajah yang paling mudah dikenali, bukan kepada sistem yang paling sulit dilawan.”
“Seolah-olah membakar toko orang Tionghoa dapat mengembalikan nilai rupiah.”
“Ketika pendidikan politik gagal, kemarahan mudah berubah menjadi kebencian rasial. Orang miskin menyerang orang yang dianggap kaya, padahal kekayaan negara tetap dikuasai oleh jaringan kekuasaan yang jauh dari jangkauan mereka.”
Perubahan 1998 berbau amis darah. Namun, tidak pernah terjadi revolusi seperti yang dahulu dibayangkan Darno. Istana tidak diserbu untuk mendirikan tatanan baru. Struktur negara tidak diruntuhkan seluruhnya. Banyak pejabat lama tetap berada di dalam pemerintahan, militer, partai politik, dan dunia usaha. Yang lahir adalah sebuah kompromi bernama Reformasi.
“Apakah kau kecewa karena tidak terjadi revolusi?” tanya Anti.
Sobari menggeleng. “Revolusi tidak selalu melahirkan keadilan. Ia sering hanya mengganti orang yang memegang senjata. Reformasi memang lambat dan penuh kompromi, tetapi setidaknya memberi ruang agar kekuasaan dapat dikoreksi tanpa seluruh negara harus dibakar.”
“Namun orang-orang lama masih berkuasa.”
“Benar. Karena rezim dapat jatuh dalam satu hari, tetapi jaringan kepentingan tidak. Mereka mempunyai uang, organisasi, hubungan, dan pengalaman. Ketika pintu demokrasi dibuka, mereka ikut masuk melalui pintu yang sama.”
Anti tetap menyimpan harapan. Partai yang membawa nama wong cilik tampil di panggung politik dan memenangkan suara terbanyak dalam Pemilu 1999. Megawati kemudian menjadi presiden. Bagi Anti, kemunculan partai itu terasa seperti kembalinya sebuah janji lama, bahwa rakyat kecil akhirnya mempunyai tempat dalam kekuasaan.
“Setidaknya wong cilik sekarang mempunyai partai, Disana ada ruh Soekarno..” katanya.
Sobari tersenyum tipis. “Mempunyai partai belum tentu mempunyai kekuasaan.”
“Bukankah partai itu berbicara atas nama mereka?”
“Semua partai berbicara atas nama rakyat ketika membutuhkan suara. Pertanyaannya adalah apakah mereka masih mendengar rakyat setelah memperoleh kursi.”
Pemilu telah menjadi lebih terbuka. Pers memperoleh kebebasan. Presiden dan wakil presiden akhirnya dipilih langsung oleh rakyat pada 2004. Kekuasaan tidak lagi dapat dengan mudah menguasai seluruh pemberitaan. Namun korupsi belum hilang. Nepotisme hanya berganti bentuk. Para pengusaha mulai membiayai partai, sedangkan elite lama membangun kendaraan politik baru.
“Dahulu pengusaha mendekati istana,” kata Sobari. “Sekarang mereka dapat membeli pengaruh melalui banyak partai.”
“Bukankah itu kemajuan?”
“Lebih baik memiliki banyak pintu daripada hanya satu pintu. Tetapi kalau semua pintu dijaga oleh orang yang sama, rakyat tetap harus membayar untuk masuk.”
Budiman menyelesaikan pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri Berkat prestasinya, ia memperoleh beasiswa dari sebuah lembaga internasional untuk melanjutkan pendidikan di sebuah universitas di Jerman. Setelah menyelesaikan pendidikan dan penelitian, ia diterima bekerja di sebuah pusat riset di Prancis.
Pada suatu malam, Anti meletakkan surat anak mereka di atas meja. “Budiman tidak mau pulang,” katanya.
“Bukan tidak mau,” jawab Sobari. “Dia tahu diri.”
Anti mengerutkan kening. “Apa maksudmu? Apakah dia merasa tidak pantas kembali ke negerinya sendiri?”
“Bukan begitu. Dia memahami kemampuan dirinya dan keadaan yang akan dihadapinya. Di sana, dia dinilai dari penelitian, disiplin, dan hasil kerjanya. Di sini, belum tentu laboratoriumnya tersedia. Anggaran riset mudah berubah mengikuti kepentingan politik. Jabatan dapat ditentukan oleh kedekatan, bukan pengetahuan.”
“Tetapi negeri ini membiayai pendidikan dasarnya.”
“Karena itu dia tetap mencintai Indonesia. Namun cinta kepada tanah air tidak berarti harus mengubur kemampuan di dalam sistem yang belum menghargainya.”
“Kalau semua orang pintar pergi, siapa yang akan membangun negeri ini?”
“Itu bukan kesalahan orang-orang pintar. Negara harus bertanya mengapa mereka merasa lebih berguna di negeri orang.”
Anti membaca kembali surat putranya. Di dalamnya, sang anak bercerita tentang laboratorium, penelitian, dan tim yang anggotanya berasal dari berbagai negara. “Dia pernah menulis,” kata Anti, “di laboratorium tidak ada yang bertanya siapa ayahnya.”
“Itulah sebabnya dia bertahan di sana.”
“ Aku tahu hamil setelah 2 bulan ditangkap. Berat sekali kehidupan penjara. Karena janin berkah cinta kita berdua, aku bertahan dari segala derita. Setelah Budiman diambil keluargaku, aku terus bertahan di dalam penjara. Aku berharap bisa mengantarkan Budiman kepada ayahnya…” Kata Anti.
Mereka pernah kehilangan masa muda karena negara menilai manusia berdasarkan hubungan politiknya. Kini anak mereka meninggalkan tanah air karena negara belum sepenuhnya mampu menilai manusia berdasarkan kemampuannya. Zaman berubah, tetapi persoalannya belum benar-benar selesai.
Anti berdiri di depan jendela. Bulan yang sama kembali terjebak di dalam bingkainya. Sobari mendekapnya dari belakang, seperti yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun.
“Apakah Reformasi akan gagal?” tanya Anti.
“Belum,” jawab Sobari.
“Belum gagal atau belum berhasil?”
“Keduanya. Reformasi bukan tujuan akhir. Ia hanya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tanpa harus kembali menumpahkan darah.”
“Lalu siapa yang menentukan hasilnya?”
“Setiap generasi.”
Setiap generasi memang bebas menentukan pilihannya. Namun kebebasan tidak pernah membebaskan manusia dari akibat pilihannya. Ketika sebuah bangsa membangun kemajuan di atas utang, ketakutan, kebencian rasial, dan kedekatan dengan kekuasaan, cepat atau lambat sejarah akan datang membawa tagihan.
Ideologi boleh memberikan arah. Pasar boleh menciptakan kemakmuran. Negara boleh mengendalikan sumber daya. Namun semuanya akan kehilangan makna apabila tidak dijalankan dengan disiplin, ilmu pengetahuan, dan rasa keadilan. Sebab peradaban tidak dibangun oleh kemenangan sosialisme atas kapitalisme ataupun kapitalisme atas sosialisme.
Peradaban dibangun ketika kekuasaan bersedia dikoreksi, ilmu pengetahuan dihormati, pendidikan ditempatkan di atas kepentingan politik, dan setiap manusia memperoleh kesempatan untuk tumbuh tanpa harus menjadi keluarga atau sahabat orang yang berkuasa.
Reformasi telah membuka pintu. Namun, apakah pintu itu akan membawa rakyat menuju keadilan atau sekadar memberi jalan kepada elite baru untuk memasuki ruang kekuasaan, bergantung pada keberanian generasi berikutnya untuk menjaga akal sehat.
Sobari memandang bulan di luar jendela. “Dahulu kita ingin mengubah dunia melalui panggung,” katanya.
Anti menyandarkan kepala pada bahunya. “Sekarang?”
“Sekarang kita hanya berharap generasi setelah kita tidak perlu berbohong agar dapat hidup di dalamnya.”

Tinggalkan komentar