Janji yang dikhianati…

Darti

Darti lahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara di sebuah desa kecil di Jawa Timur. Desa itu dikelilingi perkebunan tebu dan tembakau, tetapi tidak seorang pun di keluarganya memiliki sejengkal tanah. Rumah mereka berdiri di pinggir kebun milik Lim Thong—saudagar kaya yang menguasai gudang tembakau, penggilingan, puluhan pedati, serta ratusan bau tanah yang tersebar di beberapa desa. Atap rumah itu terbuat dari rumbia. Dindingnya anyaman bambu yang telah berlubang di sana-sini. Jika angin timur bertiup terlalu keras, seluruh rumah berderit seperti sedang menahan tangis.

Pada musim hujan, air menetes dari atap ke lantai tanah. Ibu Darti meletakkan periuk, mangkuk, dan tempayan di bawah titik-titik kebocoran. Malam hari, keluarga itu tidur berhimpitan sambil mendengarkan bunyi air jatuh. Suara itu menyerupai hitungan panjang menuju kemiskinan yang tidak pernah selesai.

Ayah Darti bernama Karto. Sejak muda ia menggarap tanah milik Lim Thong dengan sistem bagi hasil. Bibit dipinjam dari pemilik tanah. Pupuk dibeli melalui mandor. Kerbau disewa. Bahkan biaya mengangkut hasil panen ke gudang juga dicatat sebagai utang. Ketika panen berhasil, sebagian terbesar hasilnya diserahkan kepada pemilik lahan. Sisanya dipotong untuk membayar bibit, sewa kerbau, pupuk, dan bunga pinjaman. Karto hanya membawa pulang sedikit uang, kadang-kadang tidak membawa apa-apa. Jika panen gagal, seluruh biaya tetap menjadi utang.

Karto bekerja dari sebelum matahari terbit hingga langit menjadi gelap. Telapak tangannya keras, punggungnya membungkuk, dan kulitnya terbakar matahari. Namun semakin rajin ia bekerja, semakin panjang angka yang ditulis juru buku Tuan Lim Thong. Utang itu seperti sumur tanpa dasar. Semua keringat keluarga Karto jatuh ke dalamnya, tetapi tidak pernah cukup untuk membuatnya penuh.

Darti mempunyai dua kakak dan dua adik. Kakak sulungnya, Wiryo, bekerja sebagai buruh angkut di gudang tembakau. Upahnya dibayar tidak selalu dengan uang, kadang-kadang hanya dengan beras dan potongan utang keluarga. Kakak keduanya, Samin, pergi menjadi kuli di Surabaya dan jarang mengirim kabar. Adiknya, Lasmi, baru berumur sembilan tahun. Adik bungsunya, Joko, masih berusia enam tahun dan sering sakit.

Mereka tidak selalu makan tiga kali sehari. Pada masa paceklik, ibu Darti memasak bubur sangat encer agar segenggam beras dapat memenuhi lima mangkuk. Singkong direbus tanpa garam. Daun pepaya dan batang pisang muda dimasak untuk menahan lapar. Jika makanan tidak cukup, ibunya selalu berkata, “Ibu sudah makan tadi.” Darti tahu itu dusta.

Pada malam hari, ketika anak-anak lain telah tidur, ia sering melihat ibunya duduk di dekat tungku yang padam sambil menekan perut dengan kedua tangan. Perempuan itu menahan lapar agar anak-anaknya dapat hidup satu hari lagi.

Kemiskinan telah mengajari mereka cara membagi makanan, tetapi juga mengajari mereka cara menyembunyikan penderitaan.

Darti membantu ibunya sejak kecil. Pagi-pagi ia mencari ranting kering, mengambil air dari sumur, dan mengantar makanan kepada ayahnya di kebun. Jika musim panen tiba, ia ikut memilah daun tembakau di gudang. Tangannya cekatan, sehingga mandor sering memilihnya bekerja di bagian dalam, jauh dari panas matahari.

Ketika Darti berumur delapan belas tahun, kecantikannya mulai menjadi bahan pembicaraan. Kulitnya kuning langsat, matanya teduh, dan rambutnya panjang melewati punggung. Tubuhnya ramping karena terlalu sering menahan lapar, tetapi justru membuat wajahnya terlihat semakin lembut. Jika tersenyum, lesung kecil muncul di pipi kirinya. Ibunya sering memandangnya dengan campuran bangga dan cemas.

Di dalam keluarga miskin, kecantikan seorang anak perempuan tidak selalu dianggap sebagai anugerah. Kadang-kadang ia justru menjadi harta terakhir yang akan diperhitungkan ketika semua milik keluarga telah habis. “Kalau ada orang menatapmu terlalu lama, pulanglah,” pesan ibunya.

“Mengapa, Bu?”

“Karena kita tidak punya kekuasaan untuk melawan keinginan orang kaya.”

Darti belum sepenuhnya memahami nasihat itu. Namun ia selalu menurut. Sampai kemudian ia bertemu Baskoro. Pertemuan pertama mereka terjadi di bawah pohon asam dekat sungai. Darti sedang membawa bakul berisi singkong ketika tali sandalnya putus. Ia berjongkok dan mencoba menyambungnya dengan serat pisang. Seorang pemuda berhenti di depannya. “Kalau diikat begitu, sebentar lagi akan putus kembali.”

Darti mendongak.

Pemuda itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Sebuah tas kain tersampir di bahunya. Usianya mungkin dua puluh lima tahun. Wajahnya kurus, tetapi sorot matanya terang. Tanpa menunggu izin, ia duduk di tanah dan mengeluarkan seutas tali dari tasnya.

“Boleh saya perbaiki?”

Darti menyerahkan sandal itu dengan malu-malu. Pemuda tersebut bekerja dengan teliti, seolah sandal murah itu merupakan benda berharga. Setelah selesai, ia menarik simpulnya beberapa kali untuk memastikan tali tersebut kuat.

“Sudah.”

“Terima kasih, Mas.”

“Namamu siapa?”

Darti ragu sebelum menjawab, “Darti.”

“Saya Baskoro.”

Nama itu sebenarnya telah beberapa kali didengar Darti. Para buruh membicarakannya dengan suara pelan. Menurut kabar yang sengaja beredar, Baskoro pernah menjadi guru sekolah rakyat, lalu diberhentikan karena mengajarkan sejarah yang tidak disukai pemerintah kolonial. Sejak itu ia berkeliling mengajar orang membaca dan berbicara tentang kemerdekaan. Bagi mandor perkebunan, Baskoro adalah penghasut. Bagi para petani, ia adalah orang pertama yang menjelaskan mengapa mereka tetap miskin meskipun bekerja sepanjang hidup. Tidak seorang pun mengetahui bahwa riwayat tersebut telah disusun begitu rapi untuk membuatnya mudah dipercaya.

Setelah pertemuan itu, Darti beberapa kali melihatnya di rumah kepala dusun, surau, dan warung dekat jalan besar. Baskoro mengajari para buruh mengenali huruf. Ia memperlihatkan bagaimana juru buku dapat mengubah jumlah utang hanya dengan menambahkan satu angka.

“Orang yang tidak bisa membaca mudah ditipu,” katanya dalam sebuah pertemuan. “Namun orang terpelajar pun dapat menjadi penipu apabila ilmunya hanya dipakai melayani kekuasaan.”

Darti berdiri di belakang pintu sambil mendengarkan. Untuk pertama kalinya, ia mengetahui bahwa kemiskinan keluarganya bukan semata-mata karena ayahnya kurang rajin. Ada tata niaga, kepemilikan tanah, bunga utang, pajak, dan kekuasaan kolonial yang membuat petani tidak pernah mempunyai kesempatan keluar dari ketergantungan.

“Kalau begitu, mengapa Bapak tetap bekerja di tanah Tuan Lim?” tanya Darti ketika mereka bertemu di tepi sungai.

“Karena keluargamu harus makan,” jawab Baskoro. “Orang miskin sering tahu dirinya diperlakukan tidak adil. Masalahnya, pengetahuan tidak selalu memberinya pilihan.”

“Apakah kemerdekaan akan membuat kami punya tanah?”

Baskoro terdiam sejenak. “Kemerdekaan akan memberi kita hak untuk memperjuangkannya.”

“Jadi belum tentu?”

“Tidak ada yang pasti, Darti. Bahkan setelah merdeka, orang kaya dapat tetap menindas orang miskin kalau kekuasaan hanya berpindah tangan.”

Darti menyukai kejujuran itu. Baskoro tidak menjanjikan bahwa kemerdekaan akan segera menghapus lapar. Ia hanya mengatakan bahwa tanpa kebebasan, rakyat bahkan tidak mempunyai hak menentukan mengapa mereka lapar.

Hubungan mereka tumbuh perlahan. Baskoro sering meminjamkan buku, meskipun Darti belum lancar membaca. Mereka bertemu diam-diam di dekat sungai atau di belakang surau. Kadang-kadang mereka hanya berbicara. Pada kesempatan lain, Baskoro mengajarinya mengeja kalimat-kalimat pendek. Suatu sore ia menulis sebuah kata di tanah dengan ranting. Merdeka.

“Artinya bebas dari Belanda?” tanya Darti.

“Lebih luas dari itu.”

“Lalu apa?”

“Bebas menjadi manusia.”

Darti mengerutkan dahi.

Baskoro menunjuk kata tersebut. “Manusia merdeka manusia yang bebas berpikir. Pikirannya tidak boleh dirantai. Dan hidupnya tidak boleh ditentukan hanya karena ia dilahirkan miskin.”

Darti tersenyum. “Kalau begitu, saya ingin merdeka.”

“Semua manusia berhak menginginkannya.” Baskoro kemudian menggenggam tangannya. Itulah pertama kalinya seorang lelaki menyentuh Darti tanpa membuatnya merasa sebagai barang yang sedang dinilai.

Di bawah pohon asam, di antara suara air sungai dan daun-daun kering, mereka mulai menyusun mimpi yang terlalu besar bagi dua orang miskin. Baskoro ingin mendirikan sekolah rakyat. Darti ingin mengajar anak-anak perempuan membaca. Mereka bahkan membicarakan sebuah rumah kecil dengan halaman tempat menanam cabai dan bunga melati.

Darti tidak meminta rumah besar. Ia hanya menginginkan rumah yang tanahnya tidak dapat diambil orang lain. Namun kemiskinan selalu mempunyai cara untuk mendahului mimpi.

Musim itu hujan datang terlambat. Tanah retak. Daun tembakau tumbuh kecil dan menguning sebelum waktunya. Banyak tanaman mati, tetapi utang untuk bibit, pupuk, dan sewa lahan tetap harus dibayar. Kemudian Karto jatuh sakit. Mula-mula hanya batuk. Namun beberapa minggu kemudian tubuhnya demam dan darah keluar dari mulutnya. Ia tidak lagi kuat berdiri di kebun. Wiryo menggantikan pekerjaan ayahnya, tetapi upah seorang buruh tidak cukup menghidupi seluruh keluarga.

Joko juga kembali sakit. Perutnya membesar, sementara tangan dan kakinya semakin kurus. Setiap malam anak itu menangis meminta nasi.

“Bu, Joko lapar.”

“Tidurlah. Besok Ibu masak.”

“Tapi perut Joko sakit.”

Ibunya memeluk tubuh kecil itu. Tidak ada beras untuk dimasak keesokan hari. Darti duduk di sudut rumah, menahan tangis. Ia berharap Baskoro datang dan membawa jawaban. Namun pemuda itu sedang pergi ke Surabaya untuk menemui jaringan pergerakan.

Malam berikutnya, seorang juru tagih datang bersama dua centeng. Ia membawa buku besar milik Tuan Lim Thong. “Utang Karto sudah lewat jatuh tempo.”

Ibu Darti mempersilakan mereka duduk, tetapi kedua lelaki itu tetap berdiri. “Panen kami gagal,” kata Karto dari atas balai-balai. “Berikan waktu sampai musim berikutnya.”

“Musim berikutnya memerlukan bibit baru. Itu berarti utang baru.”

“Saya akan bekerja lebih keras.”

Juru tagih memandang tubuh Karto yang kurus dan demam. “Dengan badan seperti itu?”

Karto mencoba bangkit, tetapi batuk membuat tubuhnya terguncang. Darah menodai kain yang menutup mulutnya. Juru tagih membuka buku.

“Pokok utang, bunga, biaya pengobatan, bibit, sewa kerbau, dan tunggakan bagi hasil. Semua ini tidak akan lunas sekalipun kau bekerja lima tahun.”

Ibu Darti berlutut. “Jangan ambil rumah kami.”

“Rumah ini berdiri di atas tanah Tuan Lim. Sejak awal bukan milik kalian.” Kalimat itu membuat seluruh ruangan terasa hening. Mereka tinggal di sana sejak sebelum Darti lahir. Ayahnya memperbaiki dinding. Ibunya menanam pohon pisang. Lima anak dilahirkan dan dibesarkan di dalamnya. Namun satu kalimat dalam buku milik tuan tanah cukup untuk menghapus semua kenangan itu.

Sebelum pergi, juru tagih memandang Darti. Tatapannya bergerak dari wajah sampai ke kaki, seperti sedang menilai barang di pasar. “Tuan Lim sebenarnya bersedia memberikan penyelesaian lain.”

Karto langsung memahami maksudnya. “Tidak,” katanya.

Juru tagih tersenyum. “Saya belum mengatakan apa-apa.”

“Saya tahu.”

“Kalau begitu, pikirkanlah. Tiga hari lagi kami kembali.”

Setelah mereka pergi, Karto memukul lantai dengan tinjunya. “Bapak tidak akan menyerahkanmu.”

Darti duduk di samping ayahnya. “Mereka meminta apa?”

Tidak seorang pun menjawab. Namun dari tangisan ibunya, Darti mengetahui jawabannya.

Keesokan hari mereka tidak mempunyai makanan. Hari berikutnya, Joko pingsan karena demam dan lapar. Ibu Darti berjalan ke rumah tetangga untuk meminjam beras, tetapi pulang hanya membawa segenggam jagung. Para tetangga juga hidup dalam kekurangan.

Pada malam ketiga, hujan turun sangat deras. Atap bocor di berbagai tempat. Karto berbaring sambil menggigil. Joko menangis dalam pelukan ibunya. Lasmi duduk memandangi periuk kosong.

Darti berdiri di depan pintu dan memandang kegelapan. “Berapa utang kita?” tanyanya.

Karto tidak menjawab. “Berapa, Pak?”

“Bukan urusanmu.”

“Kalau saya pergi ke rumah Tuan Lim, apakah utang itu selesai?”

Ibunya segera memeluknya. “Tidak. Kau tidak boleh pergi.”

Darti memandang adik bungsunya yang bernapas lemah. “Kalau saya tidak pergi, apakah Joko bisa dibawa berobat?”

Ibunya menangis semakin keras. Karto membalikkan wajah ke dinding. Bahunya berguncang. Untuk pertama kalinya, Darti melihat ayahnya menangis. Seorang ayah seharusnya menjadi dinding bagi keluarganya. Namun kemiskinan telah merobohkan dinding itu batu demi batu, sampai yang tersisa hanya rasa bersalah.

“Bapak sudah gagal,” katanya lirih.

Darti mendekati balai-balai dan menggenggam tangan ayahnya. “Bapak tidak gagal.”

“Bapak menjadikanmu pembayaran utang.”

“Bukan Bapak yang menciptakan utang ini.”

“Kau baru delapan belas tahun.”

“Karena itu saya masih kuat.”

“Darti…”

“Saya bisa bekerja.”

Karto menatapnya. Mereka sama-sama mengetahui bahwa yang diminta Tuan Lim bukan sekadar tenaga kerja.

“Baskoro akan membawamu pergi,” kata ayahnya. “Tunggulah dia pulang.”

Darti menunduk. Ia teringat kata yang pernah ditulis Baskoro di atas tanah. Merdeka. Namun bagaimana mungkin ia berbicara tentang kebebasan ketika adiknya kelaparan? Apa arti masa depan jika keluarganya tidak dapat melewati malam ini? Mimpi adalah kemewahan bagi orang yang masih memiliki waktu. Orang miskin sering dipaksa menukar hari esok agar dapat bertahan sampai pagi.

“Saya tidak bisa menunggu,” katanya.

Menjelang siang, juru tagih kembali. Darti telah mengenakan kebaya terbaik milik ibunya. Warnanya telah pudar, tetapi dicuci sampai bersih. Rambutnya disisir dan dikepang. Di dalam buntalan kecil, ia membawa dua helai pakaian dan buku tipis pemberian Baskoro. Juru tagih menyerahkan sebuah kantong uang kepada Karto, disusul surat penghapusan utang.

“Mulai hari ini, Darti bekerja di rumah Tuan Lim.”

Karto tidak mengambil kantong tersebut. Uang itu jatuh ke lantai dan mengeluarkan bunyi gemerincing. Darti memandang keping-keping uang yang berserakan. Begitulah harga kebebasannya dihitung—bukan menurut mimpinya, bukan menurut cinta keluarganya, melainkan menurut angka yang ditulis seorang juru buku. Ibunya memeluk Darti erat-erat.

“Maafkan Ibu.” Darti berusaha tersenyum. “Jangan menangis, Bu. Sekarang Bapak bisa berobat. Joko juga bisa makan.”

“Kalau kau tidak sanggup, pulanglah.”

Darti memandang rumah bambu itu, kemudian tanah di sekelilingnya. “Pulang ke mana, Bu? Rumah ini milik Tuan Lim.”

Ibunya terdiam. Karto turun dari balai-balai dan merangkak menghampiri putrinya. Dengan sisa tenaganya, ia memegang kedua kaki Darti. “Bapak berdosa kepadamu.”

Darti segera berlutut dan mengangkat tubuh ayahnya. “Bapak tidak menjual saya,” bisiknya. “Saya yang memilih pergi.”

Itu bukan sepenuhnya kebenaran. Namun Darti ingin memberikan kebohongan tersebut sebagai belas kasih terakhir kepada ayahnya. Ia tidak ingin Karto meninggal dengan keyakinan bahwa dirinya telah menukar anak perempuan dengan segenggam uang.

Darti mencium tangan ayah dan ibunya. Ia memeluk Lasmi, lalu mengusap kepala Joko yang masih demam.

Ketika hendak melangkah keluar, suara seseorang terdengar dari halaman. “Darti!”

Baskoro berdiri di bawah pohon pisang. Napasnya terengah-engah. Kemejanya basah oleh keringat dan lumpur menempel di celananya. Ia rupanya baru kembali dari Surabaya dan langsung berlari setelah mendengar kabar.

“Kau mau dibawa ke mana?”

Darti tidak sanggup menjawab. Baskoro melihat juru tagih, dua centeng, lalu kantong uang di lantai. Wajahnya seketika berubah.

“Kembalikan uang itu!” katanya.

Juru tagih tertawa. “Utangnya telah diselesaikan.”

“Manusia bukan pembayaran utang.”

“Bicaralah kepada hukum kalau kau keberatan. Tanah ini milik Tuan Lim. Rumahnya milik Tuan Lim. Bibit dan hasil panen juga milik Tuan Lim. Keluarga ini hanya memiliki utang.”

Baskoro melangkah maju, tetapi dua centeng menghadangnya. “Bawa aku pergi,” katanya kepada Darti. “Kita tinggalkan desa ini.

”Darti menatap ayahnya yang sakit, ibunya yang menangis, dan kedua adiknya yang belum makan.

“Kalau saya pergi, mereka akan diusir.”

“Kita dapat mencari pertolongan.”

“Dari siapa?”

Baskoro terdiam.

Jaringan yang didekatinya dapat mencetak pamflet dan menyebarkan gagasan kemerdekaan. Namun hari itu, jaringan tersebut tidak mempunyai uang untuk membeli beras bagi satu keluarga.

“Saya akan kembali membawa bantuan,” katanya.

“Kapan?”

“Secepatnya.”

“Besok Joko harus makan.”

Baskoro mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya, kata-kata tidak memberinya kekuatan. Darti mendekat. Ia mengeluarkan buku tipis dari buntalannya dan menyerahkannya kepada Baskoro. “Simpan ini.”

“Kau membutuhkannya untuk belajar membaca.”

Darti menggeleng. “Saya takut mereka mengambilnya.”

Baskoro menggenggam buku itu. “Tunggulah saya,” katanya. “Saya akan menjemputmu.”

Darti tersenyum di antara air mata. “Kalau saya masih menjadi diri saya sendiri, saya akan menunggu.” Ia kemudian berjalan mengikuti juru tagih. Baskoro berdiri di tengah halaman, tidak mengejar. Di mata Darti, ia sedang melindungi jaringan pergerakan agar penyamarannya tidak terbongkar. Darti belum mengetahui bahwa pemuda itu sesungguhnya sedang menjaga tugas rahasianya sendiri.

Darti tidak menoleh lagi. Ia takut satu pandangan terakhir akan menghancurkan keberaniannya. Di belakangnya, tangis ibunya bercampur dengan suara batuk ayah. Di depannya, kereta milik Tuan Lim Thong telah menunggu. Ketika pintunya ditutup, Darti memandang desa melalui celah kecil. Rumahnya semakin jauh, kemudian menghilang di balik perkebunan.

Pada usia delapan belas tahun, ia memahami ironi paling kejam dalam hidupnya. Baskoro mengajarinya bahwa manusia dilahirkan merdeka. Namun kemiskinan mengajarkan bahwa kebebasan dapat dirampas tanpa rantai dan tanpa senapan. Cukup dengan sebidang tanah yang bukan milik sendiri, panen yang gagal, seorang adik yang kelaparan, serta utang yang terus bertambah.

Hari itu, Darti tidak dibawa sebagai tawanan. Tidak ada tali yang mengikat tangannya. Tidak ada prajurit yang menodongkan senjata. Ia naik ke kereta dengan kakinya sendiri. Namun justru itulah bentuk penjajahan yang paling sempurna: ketika seseorang dipaksa menyerahkan dirinya, lalu dunia menyebutnya sebuah pilihan.

Sekolah Kepatuhan

Kereta berhenti di depan sebuah rumah besar menjelang senja. Darti turun dengan membawa buntalan kecil di dada. Setelah perjalanan berjam-jam, tubuhnya terasa lelah, tetapi ia tidak berani mengeluh. Seorang centeng menyuruhnya berjalan melewati gerbang besi yang dijaga dua lelaki bersenjata.

Rumah Tuan Lim Thong berdiri di tengah halaman luas. Bangunannya memadukan bentuk rumah peranakan Tionghoa dengan kemegahan rumah saudagar Eropa. Pilar-pilar tinggi menyangga beranda. Dua patung singa batu menjaga tangga masuk. Di bagian belakang terdapat gudang tembakau, kandang kuda, rumah para pelayan, serta bedeng panjang beratap seng.

Puluhan orang bekerja di tempat itu. Namun tidak seorang pun berbicara lebih keras daripada yang diperlukan. Semua berjalan dengan kepala menunduk. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun menunggu Darti di beranda belakang. Tubuhnya kurus, rambutnya disanggul rapi, dan kebayanya tampak lebih baik daripada pakaian perempuan desa pada umumnya.

“Namaku Mbok Rukmi,” katanya. “Aku yang mengurus perempuan-perempuan di rumah ini.”

Darti menunduk. “Saya Darti.”

“Aku tahu.”

Mbok Rukmi memandangnya dari kepala sampai kaki. Bukan dengan pandangan penuh nafsu seperti juru tagih, melainkan dengan ketelitian seorang pedagang yang sedang memeriksa barang kiriman. “Delapan belas tahun?”

Darti mengangguk.

“Masih perawan?”

Darti terdiam.

Mbok Rukmi mendekat. “Kalau ditanya, jawablah.”

“Iya.”

“Bukan begitu.”

Darti mengangkat wajah.

“Jawab, ‘Benar, Nyai.’ Jangan memakai ‘iya’ di rumah ini. Jangan pula memandang wajah orang yang kedudukannya lebih tinggi darimu terlalu lama.”

“Benar, Nyai.”

Mbok Rukmi mengangguk kecil. “Itu pelajaran pertamamu.”

Darti dibawa ke sebuah kamar di bagian belakang rumah utama. Kamar itu jauh lebih baik daripada rumah keluarganya. Lantainya terbuat dari ubin dingin. Ada ranjang kayu, lemari, cermin, dan baskom porselen bermotif bunga. Namun jendelanya dipasangi terali.

Malam pertama, Darti tidak dapat tidur. Ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk lutut. Dari kejauhan terdengar suara para buruh membongkar muatan di gudang. Sesekali terdengar cambuk mandor dan bentakan dalam bahasa yang tidak seluruhnya ia pahami. Darti membuka buntalan. Ia mengeluarkan pakaian pemberian ibunya, lalu teringat bahwa buku dari Baskoro telah ditinggalkannya. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa dari pemuda itu, kecuali satu kata yang masih tersimpan dalam ingatannya: Merdeka. Ironisnya, kata itu justru terasa paling hidup ketika Darti berada di balik jendela berterali.

Keesokan paginya, Mbok Rukmi datang membawa beberapa helai kebaya, kain batik, minyak rambut, dan seperangkat perhiasan sederhana. “Mulai hari ini, kau tidak lagi berpakaian seperti anak petani,” katanya.

“Saya harus bekerja apa, Nyai?”

Mbok Rukmi tidak langsung menjawab. Ia menyuruh Darti berdiri di depan cermin, kemudian memasangkan kebaya ke tubuhnya. “Kau akan tinggal di rumah utama.”

“Menjadi pelayan?”

“Lebih tinggi daripada pelayan.”

Darti menatap bayangannya sendiri. “Lalu menjadi apa?”

“Selir Tuan Lim.”

Darti menahan napas. Selama perjalanan, ia telah menduga hal itu. Namun mendengar kata tersebut diucapkan secara langsung tetap membuat lututnya lemas.

Mbok Rukmi melihat perubahan wajahnya. “Jangan menangis.”

Darti menggigit bibir.

“Air mata tidak akan memulangkanmu,” lanjut Mbok Rukmi. “Ia hanya membuat mata bengkak. Tuan Lim tidak menyukai perempuan bermata bengkak.”

“Apakah saya boleh menolak?”

Untuk pertama kalinya, wajah Mbok Rukmi kehilangan ketegasannya. Ia memandang Darti seperti melihat dirinya sendiri bertahun-tahun silam. “Kalau kau menolak, utang keluargamu dihidupkan kembali. Mereka akan diusir dari rumah dan tanah garapan akan diberikan kepada orang lain.”

Darti menatap lantai. “Kalau saya menurut?”

“Ayahmu dibawa berobat. Keluargamu mendapat beras setiap bulan. Adikmu dapat obat.”

“Apakah Tuan Lim akan memenuhi janjinya?”

“Selama kau tidak membuatnya kecewa.”

Jadi, utang itu belum benar-benar lunas. Ia hanya berubah bentuk. Dahulu tercatat di dalam buku. Kini utang tersebut melekat pada tubuh dan kepatuhan Darti.

Mbok Rukmi menggenggam bahunya. “Dengarkan aku. Di rumah ini, kau tidak akan selamat dengan keberanian. Kau harus belajar membaca kehendak tuan sebelum perintah selesai diucapkan.”

Sejak hari itu, pendidikan Darti dimulai. Bukan pendidikan membaca dan menulis seperti yang diberikan Baskoro, melainkan pendidikan untuk menghapus kehendak dirinya sendiri. Mbok Rukmi mengajarkan cara berjalan tanpa menimbulkan suara. Darti harus melangkah pendek, menjaga punggung tetap tegak, dan tidak mengayunkan tangan terlalu lebar. Ia diajari duduk bersimpuh, menuangkan teh, menyuguhkan makanan, membersihkan pipa tembakau, serta berdiri pada jarak yang dianggap sopan.

“Jangan terlalu dekat sebelum dipanggil,” kata Mbok Rukmi.  “Jangan terlalu jauh sehingga Tuan harus mengulang perintah.”

Darti juga harus mempelajari tingkatan bahasa Jawa. Ia berasal dari keluarga petani yang menggunakan bahasa sehari-hari. Di rumah Tuan Lim, setiap kata menunjukkan kedudukan. Kepada pelayan lain, ia masih boleh berbicara biasa. Kepada tamu, ia harus menggunakan bahasa halus. Kepada Tuan Lim, ia wajib berbicara dengan suara rendah, kalimat pendek, dan kepala sedikit tertunduk.

“Kalau Tuan bertanya, jawablah hanya yang ditanyakan,” kata Mbok Rukmi.

“Kalau saya tidak mengerti?”

“Jangan katakan tidak mengerti. Katakan, ‘Mohon petunjuk, Tuan.’”

“Kalau perintahnya salah?”

Mbok Rukmi menatapnya lama. “Di rumah ini, perintah Tuan tidak pernah salah.”

Darti diajari cara menerima hadiah tanpa terlihat terlalu gembira. Ia juga diajari meminta maaf sekalipun tidak melakukan kesalahan.

“Perempuan seperti kita tidak dinilai dari kebenaran,” kata Mbok Rukmi. “Kita dinilai dari kemampuan menjaga perasaan laki-laki yang berkuasa.”

Darti mencoba menghafal semua pelajaran. Ia belajar cepat karena keselamatan keluarganya bergantung pada itu. Namun setiap malam, sebelum tidur, ia mengulangi namanya sendiri di dalam hati. Aku Darti, anak Karto. Ia takut suatu hari nanti nama itu hilang, digantikan sepenuhnya oleh sebutan yang diberikan orang lain: pelayan, selir, perempuan bedeng, atau milik Tuan Lim.

Dalam pelajaran terakhir, Mbok Rukmi membawa sebuah baskom berisi air hangat.

“Seorang selir harus tahu bagaimana menenangkan tuannya setelah bekerja.” Ia mengajari Darti membasuh tangan dan kaki, menyiapkan pakaian, serta merapikan tempat tidur. Semua harus dilakukan tanpa wajah murung. Seorang selir tidak hanya dituntut melayani, tetapi juga berpura-pura bahwa pelayanan itu diberikan dengan sukarela.

“Ingat,” kata Mbok Rukmi, “laki-laki berkuasa tidak suka melihat akibat dari kekuasaannya. Mereka ingin kepatuhanmu tampak seperti cinta.” Kalimat itu menancap dalam pikiran Darti. Dahulu Baskoro mengajarinya bahwa penjajahan memaksa rakyat tunduk dengan hukum, senjata, dan kemiskinan. Di rumah Tuan Lim, Darti menemukan bentuk penjajahan yang lebih pribadi: orang tertindas tidak hanya diperintah menyerahkan tubuhnya, tetapi juga diwajibkan tersenyum agar penindasnya tidak merasa bersalah.

Tuan Lim Thong pertama kali memanggil Darti pada malam kedelapan. Ia sedang duduk di ruang tengah dengan jubah sutra gelap. Usianya hampir lima puluh tahun. Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi perutnya menonjol sebagai tanda kemakmuran. Cincin batu giok melingkar di salah satu jarinya.

Darti masuk membawa teh. “Sini,” kata Tuan Lim.

Darti mendekat, lalu bersimpuh sesuai pelajaran Mbok Rukmi.

Tuan Lim mengangkat dagunya. “Cantik.”

Darti menahan napas.

“Kau tahu mengapa dibawa ke sini?”

“Untuk melayani Tuan.”

“Bagus. Rukmi mengajarimu dengan baik.”

Ia menyuruh Darti berdiri, kemudian memperhatikannya seperti memeriksa kain mahal. Darti tetap menunduk. Ia tidak melawan, tetapi di dalam hati mengulang nama ayah, ibu, dan adik-adiknya.

Malam itu ia memahami bahwa seseorang dapat bertahan dengan memisahkan tubuh dari pikirannya. Tubuhnya berada di rumah Tuan Lim. Namun pikirannya kembali ke desa, duduk di dekat tungku bersama ibunya dan mendengarkan Joko meminta makan.

Ia menanggung semuanya dengan keyakinan bahwa setiap kepatuhannya akan berubah menjadi beras di rumah.

Beberapa hari kemudian, Mbok Rukmi membawa kabar. “Ayahmu sudah diperiksa tabib. Adikmu mendapat obat. Beras juga telah dikirim.”

Darti tidak mengatakan apa-apa. Ia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu menangis sampai tubuhnya gemetar. Tangis itu bukan hanya kesedihan. Ada kelegaan karena keluarganya dapat makan. Ada rasa bersalah karena ia bersyukur atas keselamatan yang dibayar dengan kehilangan dirinya sendiri. Ada pula kebencian kepada dunia yang memaksanya memilih antara martabat dan nyawa orang-orang yang dicintainya.

Begitulah tiga bulan berlalu. Pada bulan pertama, Tuan Lim sering memanggil Darti. Ia menyukai wajah mudanya, kepatuhannya, dan caranya belajar dengan cepat. Darti diberi kebaya baru serta gelang emas tipis yang tidak pernah dianggap sebagai miliknya.

“Pakai kalau Tuan memanggil,” pesan Mbok Rukmi. “Setelah itu simpan kembali. Semua barang di rumah ini tetap milik Tuan.”

Bahkan hadiah tidak pernah sungguh-sungguh menjadi milik penerimanya. Memasuki bulan kedua, panggilan itu mulai berkurang. Tuan Lim sibuk dengan perdagangan tembakau dan beberapa kali pergi ke Surabaya. Ia juga menerima perempuan lain yang dibawa dari daerah pesisir.

Pada bulan ketiga, Darti lebih sering menunggu daripada dipanggil. Menunggu adalah pekerjaan paling melelahkan bagi seorang selir. Ia harus selalu siap, tetapi tidak mempunyai hak mengetahui apakah dirinya masih diinginkan. Ia tidak boleh bekerja terlalu jauh, tidak boleh pergi, dan tidak boleh menyusun masa depan.

Suatu pagi, Mbok Rukmi masuk ke kamarnya. “Kemasi pakaianmu.”

Darti menatapnya. “Saya akan dipulangkan?”

Mbok Rukmi menghindari tatapannya. “Tidak.”

“Lalu ke mana?”

“Ke bedeng belakang.”

Darti memandang kebaya dan perhiasan yang tersusun di atas meja. “Tuan tidak menginginkan saya lagi?”

“Jangan bertanya tentang keinginan tuan.”

Darti mengerti. Tuan Lim telah bosan. Bagi Tuan Lim, tiga bulan mungkin hanya pergantian selera. Bagi Darti, tiga bulan itu telah memisahkan seluruh hidupnya menjadi dua: sebelum dan sesudah dirinya dijual.

Ia mengembalikan kebaya, gelang, dan minyak wangi. Pakaian desanya sudah terlalu usang untuk dikenakan. Mbok Rukmi memberinya dua kebaya sederhana dan sehelai kain.

Sebelum meninggalkan kamar, Darti menatap cermin untuk terakhir kalinya. Perempuan yang terlihat di sana masih berusia delapan belas tahun. Namun sorot matanya telah berubah. Ia tidak lagi menyerupai gadis yang berdiri di tepi sungai bersama Baskoro.

“Apakah kiriman untuk keluarga saya akan dihentikan?” tanyanya.

Mbok Rukmi terdiam.

“Jawab saya, Nyai.”

“Mulai bulan depan, hanya setengah.”

“Ayah saya masih sakit.”

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Bukankah saya sudah memenuhi kewajiban?”

Mbok Rukmi memandangnya dengan sedih. “Dalam hubungan antara orang miskin dan orang berkuasa, kewajiban orang miskin tidak pernah dianggap lunas.”

Bedeng itu terletak di belakang gudang tembakau. Bangunannya panjang dan rendah, dibagi menjadi kamar-kamar sempit. Atap seng membuat udara siang terasa menyengat. Ketika hujan, suaranya begitu keras sehingga orang harus berteriak untuk berbicara. Di sana tinggal para buruh, janda, bekas selir, dan perempuan yang tidak lagi ditempatkan di rumah utama. Sebagian bekerja memilah tembakau. Sebagian memasak. Sebagian lagi dipanggil ketika Tuan Lim menerima tamu yang ingin dihibur. Darti mendapat kamar dekat ujung bedeng. Hanya ada tikar, lampu minyak, dan peti kecil untuk menyimpan pakaian.

Ia kembali bekerja dengan tangannya. Pagi sampai sore ia memilah daun tembakau. Malam hari ia membantu menumbuk bumbu atau mencuci pakaian. Anehnya, hidup di bedeng memberinya sedikit kebebasan yang tidak dimilikinya di rumah utama. Tidak ada cermin besar. Tidak ada gelang emas. Tidak ada kebaya mahal. Namun ia dapat berbicara dengan perempuan lain dan berjalan ke sumur tanpa menunggu perintah.

Di sana ia mendengar berbagai kisah. Ada perempuan yang diserahkan karena pajak. Ada yang dibawa setelah suaminya meninggal. Ada pula yang datang karena dijanjikan pekerjaan, lalu tidak pernah diperbolehkan pulang. Darti mulai memahami bahwa penderitaannya bukan kisah pribadi. Ia merupakan bagian dari tata kehidupan yang membuat kemiskinan menjadi alat untuk memindahkan tubuh manusia dari tangan satu penguasa ke tangan penguasa lain.

Beberapa bulan setelah tinggal di bedeng, ia kembali mendengar nama Baskoro. “Katanya ada guru keliling yang mengajari buruh membaca,” bisik seorang perempuan.

“Namanya siapa?”

“Baskoro.”

Jantung Darti berdebar. Malam berikutnya, secarik kertas ditemukan terselip di bawah pintunya. Darti mengenali tulisan besar yang dahulu pernah digoreskan di tanah: Aku belum melupakanmu. Di bawahnya terdapat satu kata: Bertahanlah. Darti memeluk kertas itu di dada. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa, ia menangis bukan karena merasa kalah, melainkan karena mengetahui masih ada seseorang di dunia yang mengingatnya sebagai manusia.

Pada masa itulah Tuan Lim mulai menerima Henky di rumahnya. Henky adalah pejabat kolonial yang sedang naik daun. Ia memiliki hubungan dekat dengan pejabat tinggi di Batavia serta kewenangan mengurus izin gudang, kuota tembakau, dan jalur pengiriman ke Singapura. Tuan Lim membutuhkan tanda tangannya.

Pada perjamuan pertama, Tuan Lim menyuguhkan makanan mahal dan arak terbaik. Ia membicarakan perdagangan, keamanan pelabuhan, serta perlunya pemerintah mendukung saudagar yang setia kepada Belanda. Henky mendengarkan sambil tersenyum. Namun permohonan tambahan kuota tidak langsung disetujuinya.

“Batavia sedang memperketat pengiriman,” katanya. “Saya tidak dapat menjanjikan apa-apa.”

Tuan Lim memahami bahasa itu. Dalam urusan kekuasaan, penolakan jarang berarti tidak. Penolakan sering hanya berarti tawarannya belum cukup menarik.

Malam berikutnya diadakan perjamuan lain. Ketika Henky berjalan melewati halaman belakang, ia melihat Darti membawa baskom dari sumur. Langkahnya terhenti. “Siapa perempuan itu?”

Tuan Lim mengikuti arah pandangannya.

“Darti. Bekas pelayan di rumah saya.”

“Pribumi dari mana?”

“Dari desa di Jawa Timur.”

Henky memperhatikan wajah Darti yang menunduk ketika melewati mereka. “Panggil dia.”

Tuan Lim tersenyum tipis. Darti dibawa ke ruang tamu. Ia telah mengenakan kebaya bersih dan menyanggul rambutnya seperti yang dahulu diajarkan Mbok Rukmi.

“Namamu Darti?” tanya Henky.

“Benar, Tuan.”

“Tatap aku.”

Darti mengangkat wajah. Henky menemukan sesuatu yang berbeda dalam mata perempuan itu. Ada kepatuhan, tetapi bukan kekaguman. Ada ketakutan, tetapi juga ketenangan yang tidak mampu dijelaskannya.

“Kau pandai melayani tamu?” tanya Tuan Lim.

“Saya akan mengikuti perintah.”

Henky tersenyum. Jawaban itu memuaskannya. Malam tersebut, Darti diminta menyuguhkan minuman, menyiapkan makanan, dan membasuh tangan Henky setelah makan. Semua pelajaran dari Mbok Rukmi kembali bekerja dalam tubuhnya: cara berjalan, jarak berdiri, intonasi suara, dan cara menerima perintah tanpa menunjukkan penolakan. Henky terus memperhatikannya. Ketika perjamuan berakhir, ia berkata kepada Tuan Lim, “Perempuan ini akan melayaniku jika aku datang lagi.”

Bukan pertanyaan. Sebuah keputusan. Tuan Lim menundukkan kepala. “Tentu.”

Beberapa hari kemudian, permohonan kuota tembakau memperoleh rekomendasi Henky. Tidak ada perjanjian tertulis yang menyebut nama Darti. Tidak ada pasal yang menyatakan tubuh seorang perempuan menjadi bagian dari transaksi. Dokumen resmi hanya memuat jumlah tembakau, izin gudang, pelabuhan tujuan, serta pajak yang harus dibayar. Namun semua orang memahami apa yang sebenarnya dipertukarkan.

Sejak malam itu, Darti menjadi selir Henky. Di hadapan hukum kolonial, ia tidak memiliki kedudukan. Di hadapan Tuan Lim, ia adalah bagian dari biaya memperoleh akses kekuasaan. Di hadapan Henky, ia menjadi kepuasan yang dapat dipanggil kapan saja.  Hanya di dalam secarik kertas dari Baskoro, Darti masih memiliki nama dan kehendak.

Setiap kali Henky datang, Darti menyambutnya dengan tata krama yang telah dipelajarinya. Ia menyiapkan air hangat, membasuh kaki, melayani makan, dan menunggu perintah berikutnya. Henky mengira ketenangan itu adalah kepasrahan. Ia tidak mengetahui bahwa setelah lampu dipadamkan, Darti menyimpan pesan-pesan gerakan di bawah tikar. Ia tidak mengetahui bahwa perempuan yang dianggapnya telah menyerahkan seluruh diri itu perlahan belajar membaca dari pamflet yang diselundupkan Baskoro. Henky memperoleh tubuh Darti melalui kekuasaan. Namun pikiran perempuan itu diam-diam sedang belajar menjadi merdeka.

Selir Mener Henky

Henky pada mulanya adalah seorang insinyur. Ia terbiasa menilai dunia melalui fakta, ukuran, dan hubungan sebab-akibat. Namun karier politik mengubah jalan pikirannya. Di bawah bimbingan Coorvaben, perwira tinggi Belanda yang kemudian menjadi mertuanya, Henky belajar bahwa kekuasaan kolonial tidak hanya dipertahankan dengan senjata. Ia dipelihara dengan rasa takut, utang, izin usaha, serta kemampuan membuat orang-orang terjajah saling bergantung kepada penguasa.

Perkawinannya dengan Anneke, putri Coorvaben, membukakan pintu menuju jabatan. Namun perkawinan itu tidak memberinya kehangatan. Di hadapan Anneke dan pejabat Belanda, Henky selalu berusaha membuktikan bahwa dirinya pantas berada di lingkungan mereka. Di hadapan perempuan pribumi, ia melakukan kebalikannya: ia ingin melihat orang lain merendah agar dapat merasa berkuasa. Karena itulah, pertemuannya dengan Darti segera berubah menjadi kebutuhan yang tidak mampu diterangkannya sendiri.

Bagi Henky, Darti berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah mendampinginya. Darti tinggal di bedeng milik Tuan Lim Thong, saudagar tembakau yang mempunyai gudang, tenaga angkut, dan jaringan dagang sampai ke Singapura. Ia tidak memiliki kecakapan Marry dalam membicarakan politik atau perdagangan. Ia bahkan sering menunduk ketika diajak berbicara.

Namun Darti mempunyai sesuatu yang tidak Henky temukan pada perempuan lain: kepasrahan yang nyaris sempurna. Setiap kali Henky datang ke pesanggrahan, Darti telah menunggu dengan baskom berisi air hangat. Ia berlutut, membersihkan kaki Henky, kemudian memijatnya perlahan. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada tuntutan. Bahkan hampir tidak pernah ada tatapan mata.

Bagi Henky, pelayanan itu bukan semata-mata tentang tubuh. Ia menikmati perasaan berkuasa atas manusia lain. Ia senang melihat Darti merendahkan diri, seolah perempuan itu telah menerima bahwa hidupnya memang diciptakan untuk melayani kehendak seorang tuan. Kadang-kadang Henky sengaja mengucapkan perintah yang tidak masuk akal, hanya untuk melihat apakah Darti akan menolak. Darti tidak pernah menolak.

Kepatuhan itu menenteramkan sekaligus membangkitkan sisi paling gelap dalam dirinya. Di hadapan Darti, Henky merasa semua ajaran Coorvaben menemukan bentuknya, penguasa tidak harus selalu menggunakan kekerasan. Kekuasaan dianggap sempurna ketika orang yang ditindas kehilangan keberanian untuk mengatakan tidak.

Tuan Lim Thong mengetahui kelemahan tersebut. Di sela-sela percakapan mereka, ia berulang kali membisikkan permintaan tentang kuota tembakau yang hendak dikapalkan ke Singapura. Tuan Lim Thong membutuhkan izin tambahan, akses gudang, dan rekomendasi dari pejabat di Batavia. Dengan kedudukan Henky dan hubungannya dengan keluarga Coorvaben, urusan itu sebenarnya tidak sulit.

“Akan banyak tenaga kerja yang tertolong apabila kuota itu diberikan kepada kami,” kata Tuan Lim Thong. Henky tahu kata-kata itu hanya bungkus. Di baliknya ada keuntungan besar yang akan dibagi kepada sejumlah pejabat. Namun ia tetap mengabulkan permintaan tersebut.

Pada saat hampir bersamaan, Oey Tan mengajukan permohonan serupa. Ia membutuhkan tambahan kuota untuk jaringan perdagangannya. Akan tetapi, Henky menolaknya dengan berbagai alasan, kapasitas gudang terbatas, hasil panen menurun, pemeriksaan dokumen diperketat, dan pemerintah kolonial sedang mengevaluasi jalur pelayaran. Oey Tan paham bahwa semua alasan itu dusta. Namun ia tidak dapat memprotes. Di dalam sistem kolonial, peraturan bukan pagar yang berlaku sama bagi setiap orang. Peraturan adalah pintu yang hanya dibuka bagi mereka yang mampu menyenangkan penjaganya.

Henky juga tidak khawatir apabila Oey Tan menjauhkan Marry darinya. Ia merasa dapat memperoleh perempuan lain di De Club atau tempat-tempat hiburan yang biasa didatangi pejabat dan saudagar. Uang, menurut keyakinannya, dapat menggantikan hampir segala sesuatu. Sebelum mengenal Darti, Henky memang telah terbiasa memperlakukan perempuan pribumi sebagai barang yang dapat dipanggil, dipakai, lalu dibuang.

Setiap kali melihat perempuan yang menarik perhatiannya, ia cukup menyuruh centeng mencari tahu asal-usulnya. Ada perempuan dari Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Manado, Aceh, bahkan Batavia. Sebagian datang karena takut. Sebagian karena keluarganya berutang. Sebagian lagi tidak memahami bahwa menolak seorang pejabat dapat membawa malapetaka bagi seluruh keluarganya.

Henky tidak pernah bertanya apa yang terjadi kepada mereka sesudah meninggalkan pesanggrahan. Dalam pikirannya, penduduk pribumi tidak memiliki perasaan sedalam orang-orang dari golongannya. Mereka hanya bagian dari pemandangan tanah jajahan—seperti perkebunan, gudang, pelabuhan, dan tenaga kerja yang dapat digunakan selama masih menghasilkan manfaat.

Namun Darti berbeda. Pada mulanya Henky mengira perbedaannya terletak pada kepatuhan perempuan itu. Lambat laun ia sadar bahwa bukan itu penyebabnya. Ada sesuatu di dalam ketenangan Darti yang tidak dapat diterangkannya. Perempuan itu tampak kalah, tetapi tidak sepenuhnya hancur. Ia menuruti setiap perintah, namun jauh di kedalaman matanya tersimpan ruang yang tidak berhasil dimasuki Henky. Ruang itulah yang mengganggunya.

Suatu malam, ketika hujan mengguyur atap pesanggrahan, Henky terbangun dan mendapati Darti duduk di dekat jendela. Perempuan itu memandang kegelapan di luar, seolah sedang menunggu sesuatu yang tidak mungkin datang.

“Sedang apa kau?” tanya Henky.

Darti segera berdiri. “Tidak apa-apa, Tuan.”

“Kalau tidak apa-apa, mengapa belum tidur?”

Darti menunduk. “Saya teringat rumah.”

“Rumahmu di mana?”

“Di desa, Tuan.”

“Desa mana?”

Darti terdiam sesaat, seperti sedang menimbang apakah pertanyaan itu sungguh membutuhkan jawaban. “Desa yang tanahnya sekarang menjadi kebun tembakau Tuan Lim Thong.”

Henky menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Darti sebagai perempuan yang sedang melayaninya. Ia melihat seseorang yang pernah memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan sebelum kekuasaan merampas semuanya. Namun kesadaran itu hanya berlangsung sebentar.

“Kembalilah tidur,” perintahnya.

Darti menurut. Akan tetapi, sejak malam itu Henky mulai merasa tidak nyaman setiap kali perempuan itu menunduk di hadapannya. Kepatuhan yang dahulu memberinya kenikmatan perlahan berubah menjadi cermin. Di dalamnya ia melihat wajahnya sendiri—wajah seorang insinyur yang pernah percaya kepada fakta, tetapi kemudian membangun hidupnya di atas kebohongan.

Henky dapat membeli tubuh Darti. Ia dapat menekan Tuan Lim Thong, mengatur kuota tembakau, dan memerintahkan centeng menangkap siapa pun yang menghalanginya. Namun ia tidak dapat menguasai ruang sunyi di dalam diri perempuan itu. Dan justru karena itulah, untuk pertama kalinya, Henky mulai takut kehilangan Darti.

Surat dari Batavia

Pagi itu langit Surabaya sangat cerah. Matahari baru naik di atas atap gudang dan deretan bangunan tua, tetapi udara sudah membawa bau asin dari laut, bercampur aroma tembakau, minyak mesin, dan tanah yang mulai dipanaskan matahari. Henky tiba di kantor lebih awal daripada biasanya. Ia turun dari mobil dinas dengan langkah lebar dan dada sedikit dibusungkan. Tongkat pendek berlapis perak berayun di tangan kanannya, lebih sebagai lambang kedudukan daripada alat bantu berjalan. Beberapa pegawai yang berdiri di beranda segera menundukkan kepala.

“Selamat pagi, Tuan.”

Henky hanya mengangguk. Ia berjalan menuju ruang kerjanya dengan gaya yang sengaja dibuat gagah. Bahkan seorang juru tulis mengaku mendengarnya menggumamkan lagu mars Belanda ketika melewati lorong panjang kantor pemerintahan.

Pagi itu ia mempunyai alasan untuk merasa gembira. Permohonan tambahan kuota tembakau Tuan Lim Thong telah disetujui Batavia. Anneke, istrinya juga tidak banyak mengeluh ketika ia pulang larut malam. Namun yang paling menyenangkan pikirannya adalah Darti. Perempuan itu mulai menempati ruang yang tidak pernah diberikan Henky kepada perempuan lain.

Semalam Darti kembali membasuh kakinya dengan air hangat. Akan tetapi, berbeda dari malam-malam sebelumnya, Henky tidak segera menyuruhnya pergi setelah selesai melayani. Ia membiarkan perempuan itu duduk di tepi ranjang sampai mereka tertidur. Bagi Henky, hal kecil itu terasa seperti kemenangan.

Keriangan tersebut lenyap begitu ia memasuki ruang kerja. Di atas meja telah tergeletak sebuah amplop cokelat dengan segel Pemerintah Hindia Belanda. Pada sudut kiri tertulis tanda yang membuatnya berhenti melangkah: Geheim. Uitsluitend voor geadresseerde.
Rahasia. Hanya untuk penerima. Henky menutup pintu. Ia meletakkan tongkatnya, duduk, kemudian membuka amplop itu dengan pisau surat. Isinya hanya dua lembar. Namun dua lembar tersebut cukup untuk mengubah seluruh pagi.

Berdasarkan laporan dinas intelijen, saudagar Lim Thong diduga menjadi penyandang dana jaringan bawah tanah yang menentang Pemerintah Hindia Belanda. Jaringan tersebut melakukan pertemuan rahasia, menyebarkan propaganda, dan membangun hubungan dengan kelompok radikal di luar negeri.

Pada bagian bawah terdapat perintah singkat: Putus jaringan pendanaan. Amankan dokumen dan para penghubung. Bereskan Saudagar Lim Thong sebelum penyelidikan ini diketahui pihak lain. Tidak ada penjelasan mengenai arti kata bereskan. Dalam bahasa kekuasaan, perintah yang sengaja dibuat kabur justru sering menjadi perintah paling berbahaya. Jika Tuan Lim Thong ditangkap, Henky telah melaksanakan tugas. Jika saudagar itu ditemukan mati ketika mencoba melarikan diri, pemerintah juga tidak akan mengajukan terlalu banyak pertanyaan.

Henky membaca surat itu sekali lagi. Nama Tuan Lim Thong seolah membesar di atas kertas. Pikirannya segera tertuju kepada Darti. Bukan kepada kuota tembakau, gudang, kapal menuju Singapura, atau uang yang pernah diterimanya. Hanya kepada perempuan yang tinggal di bedeng saudagar tersebut.

Ketukan terdengar dari pintu.

“Masuk.”

Herman melangkah ke dalam sambil membawa map hitam. Ia adalah staf intelijen yang ditempatkan di bawah kewenangan Henky. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan rambutnya selalu disisir licin ke belakang. Ia berbicara pelan, tetapi setiap perkataannya dapat mengirim seseorang ke penjara.

“Ini, Tuan.” Ia meletakkan map itu di atas meja.

Henky tidak segera menyentuhnya. “Apa isinya?”

“Laporan dari orang-orang kita yang menyusup ke jaringan bawah tanah.”

Herman membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat nama, tanggal, peta, salinan surat, serta sejumlah foto buram. Beberapa nama diberi lingkaran merah. “Mereka menggunakan rumah selir Tuan Lim Thong sebagai tempat pertemuan,” kata Herman. “Rumah itu berada di belakang gudang lama, jauh dari kediaman utama. Tidak banyak orang keluar-masuk pada siang hari. Pertemuan biasanya berlangsung lewat tengah malam.”

“Siapa yang hadir?”

“Guru sekolah rakyat, bekas pegawai jawatan kereta api, buruh pelabuhan, dua wartawan pribumi, dan beberapa orang yang diduga mempunyai hubungan dengan jaringan komunis internasional.”

Henky membalik halaman demi halaman. “Apa yang mereka rencanakan?”

“Pemogokan buruh pelabuhan, sabotase jalur distribusi, serta penyebaran pamflet kepada tentara pribumi. Mereka juga membicarakan pembentukan persatuan antarkelompok. Islam, nasionalis, sosialis, dan komunis hendak mereka dudukkan dalam satu barisan.”

Herman menunjuk sebuah denah. “Kalau dibiarkan, jaringan ini akan menjadi bola salju.”

Henky mengangkat wajah. “Mereka hanya segelintir orang.”

“Semua pemberontakan bermula dari segelintir orang.”

Herman berdiri tegak, seperti seorang dosen yang hendak memberikan pelajaran sejarah. “Perang Diponegoro tidak meledak dalam satu malam. Perlawanan Siti Manggopoh di Minangkabau juga tumbuh dari kemarahan yang lama dipendam. Begitu pula kerusuhan antara kelasi pribumi dan perwira Belanda di kapal perang Lucas Roemeltje, di Laut Jawa, tidak jauh dari Surabaya. Sebelum kekerasan terjadi, selalu ada bisikan. Ada orang terpelajar yang menyusun kemarahan rakyat menjadi gagasan.”

Ia mencondongkan tubuh. “Jumlah mereka memang sedikit, Tuan. Namun mereka mampu memberi bahasa kepada penderitaan orang banyak. Itulah yang membuat mereka berbahaya.”

Henky terdiam. Sebagian dari dirinya mengakui bahwa Herman benar. Seorang petani yang kehilangan tanah mungkin hanya dapat mengeluh. Seorang buruh yang dipukul mandor mungkin hanya dapat menyimpan dendam. Namun apabila ada orang terpelajar yang menjelaskan bahwa penderitaan mereka berasal dari sistem yang sama, keluhan pribadi dapat berubah menjadi kemarahan bersama.

Dan kemarahan bersama adalah musuh setiap kekuasaan kolonial.

“Siapa yang membiayai mereka?” tanya Henky.

“Semua jalur mengarah kepada Tuan Lim Thong.”

“Buktinya?”

“Dana berpindah melalui pembayaran fiktif pembelian tembakau. Sebagian digunakan untuk mencetak pamflet. Sebagian lagi membayar perjalanan penghubung ke Batavia dan Singapura.”

Herman mengeluarkan selembar catatan pembukuan. “Tetapi ada hal lain yang perlu Tuan ketahui.”

“Apa?”

“Laporan pertama mengenai jaringan ini datang dari orang dekat Oey Tan. Setelah itu, keterangan tersebut dikuatkan oleh penyusup kita yang sudah lama berada di tengah jaringan.”

Henky perlahan bersandar. Nama itu membuat susunan persoalan menjadi lebih jelas. “Jadi ini bukan hanya soal pemberontakan,” katanya.

“Tidak pernah hanya soal pemberontakan, Tuan.”

Herman berjalan ke dekat jendela. Dari sana terlihat para pegawai pribumi bergegas membawa berkas, sementara seorang pengawas Belanda berdiri mengawasi mereka.

“Para saudagar Tionghoa itu saling berebut akses kepada pemerintah kolonial,” lanjut Herman. “Mereka menginginkan kuota, pelabuhan, gudang, dan hak distribusi. Ketika tidak mampu menyingkirkan pesaing melalui perdagangan, mereka memakai tangan pemerintah.”

“Menurutmu, Oey Tan sedang menggunakan kita untuk menghancurkan Tuan Lim Thong?”

“Menurut saya, Tuan Lim Thong memang mendanai gerakan itu. Penyusup kita telah menemukan jalur dananya. Namun Oey Tan sengaja memastikan Batavia mengetahuinya pada saat yang paling menguntungkan bagi usahanya.”

Henky mengetukkan jari ke meja. “Kalau begitu, keduanya sedang memperalat kita.”

Herman tersenyum tipis. “Semua orang memperalat semua orang, Tuan. Hanya rakyat kecil yang tidak mempunyai siapa pun untuk diperalat.”

Ia kembali ke meja dan menutup sebagian dokumen. “Para pedagang menyediakan uang. Kaum terpelajar menyediakan gagasan. Para bangsawan menyediakan nama besar. Kemudian rakyat jelata menyediakan darah. Mereka mengira sedang berjuang untuk kebebasan, padahal sering kali hanya menjadi bidak dalam persaingan orang-orang yang ingin menguasai sumber daya.”

Herman berhenti sejenak.

“Para pangeran diadu dengan pangeran. Bangsawan dilawan dengan bangsawan. Pedagang menggunakan pemberontak untuk menekan pemerintah, lalu pemerintah memakai pemberontakan sebagai alasan memperluas pengawasan. Pada akhirnya, siapa pun yang menang, rakyat tetap kehilangan sawah, rumah, dan anak-anak mereka.”

Henky menatap Herman. Ucapan itu terdengar seperti pembelaan terhadap pemerintah kolonial, tetapi juga seperti pengakuan bahwa pemerintah merupakan bagian dari permainan yang sama.

“Belanda tetap akan menang,” kata Henky.

“Dalam setiap pertempuran, mungkin,” jawab Herman. “Tetapi tidak selamanya dalam sejarah.”

Ruangan mendadak sunyi. Henky menajamkan pandangan. “Hati-hati dengan kata-katamu.”

Herman segera menunduk. “Saya hanya menyampaikan perhitungan intelijen, Tuan.”

Perhitungan. Kata itu mengusik Henky. Dahulu ia menghitung tekanan, beban, dan kekuatan material. Sekarang ia menghitung ketakutan manusia. Namun tidak seperti jembatan, manusia tidak selalu runtuh ketika menerima tekanan. Kadang-kadang tekanan justru membuat mereka menjadi lebih keras.

Henky membuka kembali laporan tersebut. Di antara tumpukan kertas terdapat sebuah foto rumah sederhana. Seorang perempuan berdiri di serambi. Wajahnya tidak terlihat jelas karena gambar diambil dari kejauhan. “Ini rumah selir Tuan Lim Thong?” tanyanya.

“Benar.”

“Siapa perempuan itu?”

“Namanya Sarinah. Orang-orang memanggilnya Nyai Rara. Dia dipercaya mengatur pertemuan ketika Tuan Lim Thong tidak hadir.”

Henky mengembuskan napas lega tanpa sengaja. Bukan Darti. Namun kelegaan itu segera disusul kecurigaan lain. “Bagaimana dengan bedeng tempat para pekerjanya tinggal?”

“Belum kami periksa. Penggerebekan besar dapat membuat jaringan lain melarikan diri.”

Henky menatap foto tersebut lebih lama. “Apakah Tuan Lim Thong tahu kita mengawasinya?”

“Sejauh ini belum.”

“Oey Tan?”

“Sulit dipastikan. Namun besar kemungkinan dia menunggu pemerintah bertindak.”

Henky bangkit dan berjalan menuju jendela. Di luar, Surabaya tampak bergerak seperti biasa. Pedati mengangkut barang menuju gudang. Buruh memanggul karung. Kereta melintas di kejauhan. Tidak seorang pun mengetahui bahwa selembar surat dari Batavia baru saja menentukan nasib banyak orang.

Perintahnya jelas: bereskan Tuan Lim Thong. Jika ia melaksanakannya, Oey Tan akan memperoleh keuntungan terbesar. Tuan Lim Thong tersingkir, kuota tembakaunya dapat dialihkan, dan jalur perdagangan ke Singapura akan jatuh ke tangan pesaingnya. Henky sendiri juga akan memperoleh keuntungan. Ia dapat tampil sebagai pejabat yang berhasil menggagalkan rencana pemberontakan. Batavia mungkin memberinya penghargaan. Coorvaben akan semakin mempercayainya. Jabatan lebih tinggi bukan hal mustahil.

Namun ada Darti di tengah semua perhitungan itu. Apabila Tuan Lim Thong ditangkap, seluruh rumah, gudang, dan bedeng miliknya akan digeledah. Para pekerja akan diperiksa. Sebagian mungkin ditahan hanya karena pernah mengantar makanan atau membawa pesan tanpa mengetahui isinya. Darti dapat ikut terseret.

“Tuan ingin kami bergerak malam ini?” tanya Herman.

Henky belum menjawab. Ia teringat Anneke, yang terus menuntut gaun, perhiasan, pesta, serta perjalanan ke Batavia. Ia juga teringat Marry, yang menyukai anggur mahal, ruangan berpendingin, dan meja terbaik di societeit. Kedua perempuan itu memperlakukannya dengan hormat karena ia mempunyai jabatan dan uang.

Namun penghormatan tersebut mempunyai harga. Uang untuk mempertahankan kehidupan itu sebagian datang dari Oey Tan—melalui hadiah, pembagian keuntungan, dan amplop yang tidak pernah dicatat. Tanpa uang, keramahan Oey Tan akan berakhir. Tanpa kekuasaan, Anneke mungkin akan memandangnya sebagai lelaki pribumi yang tidak layak masuk ke dalam keluarganya. Marry pun belum tentu bersedia duduk semeja dengannya.

Darti berbeda. Ia tidak menuntut gaun, perhiasan, atau kedudukan. Henky tidak perlu membeli penghormatannya karena yang dicari Henky dari Darti memang bukan penghormatan. Ia menginginkan kepasrahan. Dari Anneke, Henky ingin merasa diterima sebagai bagian dari kelas penguasa. Dari Darti, ia ingin merasa menjadi penguasa itu sendiri. Dua kebutuhan tersebut tampak berbeda, tetapi berasal dari ketakutan yang sama: Henky tidak pernah benar-benar yakin bahwa dirinya sederajat dengan orang-orang Belanda yang memberinya kekuasaan. Di hadapan mereka, ia selalu berusaha terlihat terhormat. Di hadapan Darti, ia melampiaskan penghinaan yang diam-diam diterimanya.

“Belum,” kata Henky akhirnya.

Herman mengerutkan kening. “Perintah Batavia meminta tindakan segera.”

“Kita tidak akan menangkap ikan kecil dan membiarkan jaringnya hilang. Awasi Tuan Lim Thong. Catat siapa yang datang dan pergi. Jangan lakukan penangkapan sebelum aku memberi perintah.”

“Kalau mereka mengetahui operasi ini?”

“Pastikan mereka tidak tahu.”

Herman memasukkan kembali dokumen ke dalam map. Namun sebelum pergi, ia berhenti di depan pintu. “Ada satu hal lagi, Tuan.”

“Apa?”

“Semalam seseorang dari rumah Tuan Lim Thong mengirim pesan ke kelompok di Batavia. Kurirnya perempuan muda.”

Henky merasakan sesuatu mengencang di dadanya. “Namanya?”

“Belum diketahui.”

“Ciri-cirinya?”

“Pribumi. Usianya sekitar dua puluh tahun. Tubuh kecil. Rambut panjang. Berangkat dari bedeng pekerja menjelang malam.”

Henky tidak bergerak. Ciri-ciri itu dapat menunjuk kepada puluhan perempuan. Namun pikirannya hanya menemukan satu nama. Darti.

“Temukan perempuan itu,” perintah Henky.

“Ditangkap?”

Henky menatap Herman dengan wajah yang kembali dingin. “Bawa dia kepadaku dalam keadaan hidup. Jangan seorang pun menyentuhnya.”

Herman mengangguk, lalu meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Henky berdiri sendirian di hadapan jendela. Lagu yang tadi digumamkannya telah menghilang dari ingatan. Matahari masih bersinar terang, tetapi ruang kerjanya terasa semakin gelap. Untuk pertama kalinya, perintah dari Batavia tidak hanya mengancam kepentingannya. Perintah itu telah memasuki tempat tidur, menyusup ke dalam hasrat, dan berdiri di antara dirinya dengan perempuan yang selama ini dianggap tidak mempunyai pilihan.

Henky dahulu percaya Darti tidak mungkin menolak apa pun yang diperintahkannya. Kini muncul pertanyaan yang jauh lebih menakutkan: Bagaimana jika selama ini Darti bukan perempuan yang telah menyerah? Bagaimana jika kepatuhannya hanyalah cara untuk bersembunyi—sementara diam-diam ia sedang menunggu saat yang tepat untuk melawan?

Harga Sebuah Kepatuhan

Malam sebelum operasi penangkapan dilaksanakan, Henky meninggalkan rumah dinas tanpa pengawal resmi. Kepada Anneke, ia mengatakan ada rapat mendadak mengenai keamanan pelabuhan. Kepada Herman, ia berpesan agar penyerbuan ditunda sampai perintah terakhir diberikan. Namun kepada dirinya sendiri, Henky tidak sanggup menjelaskan mengapa mobilnya justru bergerak menuju rumah tempat Darti menunggu.

Mungkin karena malam itu ia harus mengambil keputusan. Jika menaati Batavia, Henky akan mempertahankan jabatan, kehormatan, dan jalan menuju kekuasaan yang lebih tinggi. Oey Tan akan terus menyediakan uang. Anneke akan tetap mendampinginya dalam pesta resmi, membuatnya diterima di lingkungan elite kolonial. Namun apabila Tuan Lim Thong ditangkap, Darti mungkin ikut terseret. Perempuan itu dapat dipenjara, dibuang, atau dibunuh tanpa pernah diadili.

Henky harus memilih antara kehormatan dan kepuasan. Kehormatan diperolehnya melalui uang dan kekuasaan. Kepuasan ia temukan dalam sesuatu yang jauh lebih tersembunyi, keyakinan bahwa ada seorang manusia yang bersedia menyerahkan diri kepadanya tanpa syarat.

Akan tetapi, semakin dekat mobilnya ke rumah Darti, semakin ia menyadari bahwa persoalan tersebut tidak sesederhana itu. Kehormatan dan kepuasan sama-sama hanya perasaan. Keduanya tumbuh dari kekosongan yang sama di dalam dirinya—ketakutan bahwa tanpa jabatan dan kepatuhan orang lain, dirinya bukanlah siapa-siapa.

Henky memang setia kepada Ratu Belanda. Kesetiaan itu tidak pernah diragukannya. Namun Hindia Belanda bukanlah Ratu. Negeri jajahan itu dikendalikan oleh persekutuan pejabat, perwira, tuan tanah, pemilik modal, dan saudagar yang saling menggunakan kekuasaan demi memperoleh keuntungan. Ratu hanyalah lambang. Di belakang lambang itu, modal dan kepentinganlah yang memerintah.

Ketika Henky tiba, Darti telah berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna pucat. Rambutnya disanggul seadanya. Seperti biasa, ia menyambut Henky dengan senyum kecil—senyum seekor hewan buruan yang telah melihat pemangsa, tetapi tidak lagi berusaha melarikan diri.

“Selamat malam, Tuan.”

Henky masuk tanpa menjawab. Darti menutup pintu, kemudian berjalan mengambil baskom. Namun sebelum ia menuangkan air hangat, Henky berkata dengan suara datar, “Duduk.”

Darti menurut. Henky berdiri di hadapannya. Ia ingin terlihat tegas, tetapi kedua tangannya terasa dingin. “Besok malam pasukan akan menangkap Tuan Lim Thong dan semua orang yang terlibat dalam gerakan bawah tanah.”

Darti menunduk. Tidak ada keterkejutan pada wajahnya. Henky mengamati perempuan itu, lalu mengucapkan kembali ajaran yang selama ini dipakai untuk menenangkan hati nuraninya.

“Kaum inlander akan sangat berbahaya apabila dibiarkan di luar kendali. Mereka mudah diadu, mudah diprovokasi, dan mudah menyalahgunakan kekuasaan. Jika suatu hari mereka memerintah tanpa disiplin, negeri ini akan dipenuhi korupsi. Setelah itu datang kekacauan. Pada akhirnya mereka akan saling menghancurkan.”

Darti tidak menjawab.

“Aku tahu rumah ini dipakai sebagai jalur penghubung,” lanjut Henky. “Aku juga tahu seorang perempuan dari bedeng membawa pesan ke Batavia. Kaum pergerakan.”

Darti tetap diam. “Perempuan itu kau?”

Tidak ada jawaban.

Henky melangkah mendekat. “Tatap aku.”

Perlahan Darti mengangkat wajah. Henky mencari ketakutan di dalam matanya, tetapi yang ditemukan justru ketenangan yang sulit dipahami.

“Aku dapat memerintahkan agar Tuan Lim Thong dibunuh,” katanya. “Aku juga dapat membunuhmu. Kalian akan lenyap tanpa sidang, tanpa makam, dan tanpa seorang pun berani mengajukan pertanyaan.”

Darti memandangnya beberapa saat, lalu kembali menunduk. “Silakan, Tuan. Lakukan apa saja yang Tuan kehendaki.”

Jawaban itu membuat Henky marah. Ia datang dengan harapan melihat Darti memohon. Ia ingin perempuan itu menangis, memeluk kakinya, dan mengakui bahwa hidupnya bergantung kepada kemurahan hati Henky. Namun Darti tidak meminta keselamatan bagi dirinya.

“Tapi…” katanya pelan.

“Tapi apa?”

“Jangan bunuh Tuan Lim Thong.”

Henky menghantam meja dengan telapak tangan. “Mengapa?”

Darti terkejut, tetapi tidak bergeser..

“Jawab!”

“Karena dia telah membeli hidup saya melalui orang tua saya.”

Henky mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Ketika panen gagal, keluarga saya berutang. Bapak sakit. Adik-adik saya tidak mempunyai makanan. Tuan Lim Thong melunasi utang itu dan memberi orang tua saya tanah untuk digarap.”

Darti menarik napas, berusaha menahan tangis. “Sebagai gantinya, saya diserahkan kepadanya.”

Henky memandangnya tanpa berkata-kata.

“Saya harus menaati orang tua saya,” lanjut Darti. “Mereka menjual saya bukan karena tidak menyayangi saya. Mereka hanya tidak memiliki sesuatu yang lain untuk dijual.”

“Dan kau menerima semua itu?”

Darti mengangkat wajah. Air mata telah membasahi pipinya. “Apa arti menerima bagi orang yang tidak diberi pilihan, Tuan?”

Pertanyaan itu diucapkan dengan begitu lembut. Justru karena kelembutannya, Henky merasa seperti ditampar.

“Tuan Lim Thong membeli tubuh saya,” kata Darti. “Tetapi dengan uang itu, keluarga saya tetap hidup. Selama mereka masih memiliki tanah dan makanan, saya harus memenuhi bagian saya.”

Air matanya jatuh ke punggung tangan.

“Kalau Tuan hendak membunuh saya, lakukanlah. Namun biarkan Tuan Lim Thong hidup. Kalau dia mati, keluarganya akan mengambil kembali tanah orang tua saya. Adik-adik saya akan kembali kelaparan.”

Henky terdiam.

Semula ia mengira kepasrahan Darti lahir dari kebodohan. Kini ia memahami bahwa di balik setiap ketundukan perempuan itu terdapat perhitungan yang sangat jernih. Darti bukan tidak mengetahui harga dirinya. Ia justru memahami harga yang harus dibayar agar keluarganya dapat bertahan hidup.

Kemiskinan tidak memberinya tanah, pendidikan, atau modal. Kemiskinan hanya menyisakan tubuhnya sebagai alat tukar. Dalam dunia yang dibangun oleh kuota, utang, kontrak, dan konsesi, Darti menjalani transaksi paling menyakitkan: menukar kemerdekaan dirinya dengan keselamatan orang-orang yang dicintainya. Bukan Tuan Lim Thong yang sepenuhnya memiliki Darti. Kemiskinanlah yang memilikinya.

“Jangan ragu, Tuan,” kata Darti.

Ia berdiri, kemudian berjalan menuju tempat tidur. Di sana ia merebahkan diri dengan kedua tangan di samping tubuhnya. “Kalau Tuan ingin saya minum racun, saya akan meminumnya. Kalau Tuan menghendaki saya mati tanpa suara, saya tidak akan berteriak.”

Darti memejamkan mata.

“Lakukanlah. Setelah itu, katakan kepada keluarga saya bahwa saya tidak meninggalkan mereka.”

Henky berdiri kaku. Cahaya lampu minyak jatuh ke tubuh Darti, membentuk lingkaran kekuningan di sekelilingnya. Dalam pandangan Henky, perempuan itu tidak lagi tampak seperti budak yang menyerahkan diri. Ia justru terlihat seperti seseorang yang telah melampaui rasa takut. Henky datang membawa ancaman kematian, tetapi mendadak merasa sebagai pihak yang kalah. Ia terduduk di kursi.

Darti membuka mata. Setelah menyadari Henky tidak bergerak, ia bangkit dan mengambil baskom. Ia menuangkan air hangat, berlutut, lalu mulai membersihkan kaki Henky seperti malam-malam sebelumnya. Namun kali ini Henky tidak merasakan kenikmatan. Setiap sentuhan Darti berubah menjadi tuduhan. Perempuan itu melepaskan sepatunya, membasuh debu dari telapak kakinya, kemudian mengeringkannya dengan kain. Ia melakukan semuanya dengan tenang, seolah ancaman kematian yang baru saja didengarnya hanya bagian lain dari kewajiban hidupnya.

Henky menatap kepala Darti yang tertunduk. Selama ini ia mengira telah menaklukkan perempuan itu. Padahal Darti tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Tubuhnya mungkin dapat diperintah, tetapi alasan yang membuatnya bertahan berada jauh di luar jangkauan Henky.

“Apakah kau mengenal Baskoro?” tanya Henky tiba-tiba.

Gerakan tangan Darti terhenti. Nama itu seperti petir yang menyambar ruangan. Darti perlahan mengangkat kepala. “Dari mana Tuan mengenal nama itu?”

“Jawab pertanyaanku.”

Darti menelan ludah. “Dia pernah mengajar saya membaca.”

“Hanya itu?”

Darti tidak menjawab. Henky bangkit, lalu menarik tangannya. “Berdiri.”

“Tuan…”

“Ikut aku. Ada seseorang yang harus kau temui.”

Sebelum datang menemui Darti, Henky telah memerintahkan penyusup terakhir di dalam jaringan itu membawa daftar nama dan laporan penutup operasi. Ia sengaja menahannya di ruang tengah. Malam itu Henky tidak hanya ingin mematahkan keberanian Darti. Ia ingin menghancurkan satu-satunya kepercayaan yang masih membuat perempuan itu bertahan.

Henky membawa Darti menuju ruang tengah. Langkah perempuan itu gemetar. Pintu ruangan tersebut semula tertutup. Ketika Henky membukanya, cahaya dari lampu minyak memanjang di atas lantai. Seorang lelaki duduk di kursi dekat jendela. Kemejanya putih. Rambutnya tersisir rapi. Tas kain yang dahulu selalu dibawanya telah diganti dengan jas berwarna gelap.

Darti berhenti melangkah. Napasnya seolah terputus. “Baskoro…”

Lelaki itu bangkit. Senyum kecil muncul di wajahnya. Namun senyum tersebut tidak lagi memiliki kehangatan yang dahulu membuat Darti percaya kepada masa depan. Senyum itu kini tampak seperti seringai seseorang yang telah selesai menjalankan pekerjaannya.

Darti memandang Henky, lalu kembali menatap Baskoro. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Baskoro tidak menjawab.

Henky berdiri di sampingnya. “Baskoro adalah orang kami,” katanya. “Sudah lama ia menyusup ke dalam jaringan Tuan Lim Thong.”

Darti tidak bergerak. Ruangan seperti berputar di sekelilingnya. Ia teringat pohon asam, sandal yang diperbaiki, pelajaran membaca, serta sebuah kata yang pernah ditulis Baskoro di atas tanah. Merdeka. Ia juga teringat janji yang diucapkan pemuda itu ketika dirinya dibawa pergi: Aku akan menjemputmu. Ternyata semua itu hanya pintu untuk memasuki keluarganya, para buruh, dan jaringan orang-orang yang percaya kepadanya.

“Tidak,” bisik Darti. “Baskoro bukan mata-mata.”

Henky tertawa pendek. “Kau masih ingin mempercayainya?”

Darti menatap Baskoro. “Katakan dia berbohong.”

Baskoro tetap diam.

“Baskoro, katakan!”

Lelaki itu mengalihkan pandangan. Diamnya menjadi jawaban yang lebih kejam daripada pengakuan. Tubuh Darti melemah. Ia berpegangan pada ujung meja agar tidak jatuh.

“Jadi, selama ini…” Suaranya pecah. “Kau mendekati aku hanya untuk mengetahui kegiatan Tuan Lim Thong?”

“Aku melaksanakan tugas,” jawab Baskoro akhirnya.

“Tugas?”

“Pemerintah harus mengetahui siapa yang membiayai pemberontakan.”

“Lalu kata-katamu tentang kemerdekaan?”

Baskoro menarik napas. “Itu bahasa yang perlu digunakan agar mereka mempercayaiku.”

“Mereka?” Darti menatapnya dengan mata berlinang. “Aku juga bagian dari mereka?”

Baskoro tidak menjawab.

“Ketika kau menggenggam tanganku, itu juga tugas?”

Wajah Baskoro menegang.

“Ketika kau berjanji akan menjemputku, itu juga perintah pemerintah?”

“Darti, keadaan tidak sesederhana yang kau pikirkan.”

Darti tertawa kecil di antara tangisnya. Tawa itu begitu pilu hingga terdengar lebih menyakitkan daripada ratapan. “Benar. Bagi orang seperti saya, tidak ada sesuatu pun yang sederhana. Bahkan cinta harus mempunyai kepentingan.”

Henky mendekatinya. “Sekarang kau mengerti?”

Darti tidak memandangnya.

“Kau bukan hanya murah,” kata Henky. “Kau juga rendah. Tubuhmu dibeli Tuan Lim Thong, lalu pikiranmu dibeli Baskoro dengan kata-kata manis.”

Suara Henky meninggi.

“Kau percaya sedang melawan kami demi pembebasan dari kolonialisme. Padahal siapa yang menjajah kalian? Belanda memang memerintah negeri ini, tetapi kaum kalian sendirilah yang saling menjual. Ayahmu menyerahkanmu karena utang. Tuan Lim Thong memakai tubuhmu untuk memperoleh akses. Baskoro menggunakan cintamu untuk mendapatkan informasi.”

Henky menunjuk ke arah Baskoro. “Orang-orang terpelajar seperti dia berbicara tentang kemerdekaan, martabat, dan penderitaan rakyat. Namun pada akhirnya mereka juga mengorbankan orang miskin demi uang, jabatan, dan kehidupan yang lebih tinggi.”

Darti menatap Henky. Kemudian ia memandang Baskoro yang masih berdiri membisu. Untuk sesaat, seluruh hidupnya terbentang sebagai rangkaian pengkhianatan. Ayahnya menyerahkan dirinya untuk menyelamatkan keluarga. Tuan Lim Thong menukarnya demi kuota perdagangan. Henky menjadikannya tempat pelampiasan kekuasaan. Baskoro—satu-satunya orang yang membuatnya percaya bahwa dirinya masih mempunyai martabat—ternyata menggunakan kepercayaan itu sebagai jalan menuju orang-orang yang diburu pemerintah.

Namun ada perbedaan yang tidak dipahami Henky. Ayahnya menyerahkan Darti sambil menangis dan menghukum dirinya sendiri dengan rasa bersalah. Tuan Lim Thong membeli tubuhnya secara terbuka. Henky menguasainya melalui jabatan. Akan tetapi, Baskoro mengambil sesuatu yang jauh lebih berharga, harapan.

Darti berjalan perlahan mendekati Baskoro. “Tatap saya.”

Baskoro tidak bergerak.

“Dulu kau mengajari saya agar berani menatap orang yang merasa lebih tinggi. Sekarang tatap saya.”

Akhirnya Baskoro mengangkat wajah. Darti menamparnya. Bunyi tamparan itu memecah keheningan. “Tubuh saya telah dijual oleh kemiskinan,” kata Darti. “Tetapi kau menjual kepercayaan saya dengan kesadaran penuh. Di antara semua orang yang pernah membeli dan memakai saya, kaulah yang paling hina.”

Baskoro memegang pipinya. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya rasa malu yang terlambat datang. Henky memperhatikan Darti. Ia berharap perempuan itu runtuh, memohon perlindungan, lalu kembali menyerahkan hidup kepadanya. Namun Darti justru berdiri semakin tegak. Air matanya masih mengalir, tetapi tatapannya telah berubah.

“Sekarang kau mengerti bahwa tidak ada yang dapat dipercaya?” tanya Henky. “Tuan Lim Thong memperdagangkanmu. Baskoro menipumu. Hanya aku yang masih dapat menyelamatkanmu.”

Darti menatapnya lama. “Tidak, Tuan.”

Henky mengerutkan kening.

“Justru malam ini saya mengerti bahwa keselamatan yang bergantung kepada belas kasihan seorang penguasa bukanlah keselamatan.”

“Kau dapat mati.”

“Sejak dijual oleh orang tua saya, sebagian dari diri saya sudah mati.”

Darti menghapus air matanya. “Namun ternyata masih ada sesuatu yang hidup. Sesuatu yang tidak dapat dibeli Tuan Lim Thong, tidak dapat diperdaya Baskoro, dan tidak dapat diperintah oleh Tuan.”

“Apa itu?”

“Hak saya untuk mengetahui siapa diri saya.”

Henky tertawa sinis. “Dan siapa dirimu?”

Darti menatap kedua lelaki di hadapannya. “Saya bukan milik siapa pun.”

Ruangan kembali sunyi. Di luar, angin malam menggoyangkan daun-daun. Dari kejauhan terdengar peluit kereta, panjang dan melankolis, seperti suara dunia yang sedang memanggil orang-orang untuk meninggalkan hidup lama mereka.

Darti berlutut di hadapan Baskoro. Bukan untuk menyembah, melainkan mengambil secarik kertas yang jatuh dari saku jasnya.

Di atas kertas itu terdapat daftar nama. Tuan Lim Thong. Para buruh. Guru sekolah rakyat. Pedagang kecil. Pengurus surau. Beberapa perempuan dari bedeng. Di bagian bawah terdapat tanda tangan Baskoro dan cap dinas intelijen kolonial.

Darti membaca nama-nama itu perlahan. Ia belum pandai, tetapi cukup mampu memahami bahwa setiap nama adalah kehidupan yang akan dihancurkan. Ia melipat kertas tersebut dan menggenggamnya.

“Kembalikan,” perintah Henky.

Darti menggeleng.

“Berikan kepadaku.”

“Tidak.”

Henky melangkah mendekat. Namun sebelum tangannya menjangkau Darti, perempuan itu membawa kertas tersebut ke nyala lampu minyak. Api menyambar ujungnya. Baskoro terperanjat. “Darti, jangan!” Darti tidak melepaskannya sampai nama terakhir berubah menjadi abu. Henky menampar wajahnya. Darti jatuh ke lantai. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi ia tidak menangis. Ia justru tersenyum. Senyum itu bukan lagi senyum hewan buruan yang pasrah di hadapan pemangsa. Itu adalah senyum seseorang yang akhirnya menemukan satu pilihan yang benar-benar menjadi miliknya.

“Kau pikir membakar satu daftar dapat menyelamatkan mereka?” bentak Henky.

“Tidak.”

“Lalu mengapa kau melakukannya?”

Darti bangkit perlahan. “Karena malam ini saya ingin melakukan sesuatu bukan karena diperintah, dibeli, ditipu, atau dipaksa.”

Henky menatapnya tanpa mampu berkata-kata. Selama ini ia percaya kekuasaan berarti kemampuan membuat orang lain patuh. Namun di hadapannya berdiri seorang perempuan miskin yang tidak mempunyai senjata, uang, pendidikan, atau perlindungan hukum—dan untuk pertama kalinya perempuan itu berkata tidak.

Saat itulah Henky melihat sesuatu yang tidak pernah diajarkan Coorvaben kepadanya. Kolonialisme tidak akan runtuh hanya karena senapan penjajah kalah jumlah. Ia akan runtuh ketika orang-orang yang selama ini dianggap rendah tidak lagi mempercayai bahwa mereka dilahirkan untuk tunduk. Darti kehilangan tanah, keluarga, tubuh, dan cinta. Namun dari semua kehilangan itu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah dimiliki Henky meskipun mempunyai jabatan dan kekuasaan, yaitu kebebasan untuk memilih harga dirinya sendiri.

Racun yang Tidak Ikut Pergi

Bertahun-tahun kemudian, bendera Belanda akhirnya diturunkan. Lambang kerajaan dicopot dari gedung-gedung pemerintahan. Nama jalan diganti. Lagu kebangsaan berkumandang di lapangan, sekolah, dan kantor-kantor. Rakyat berpelukan sambil menangis. Setelah melewati penjara, pembuangan, kelaparan, dan pertumpahan darah, negeri itu akhirnya bernama Indonesia.

Namun kemerdekaan ternyata tidak serta-merta menghapus watak penjajahan. Serdadu asing memang telah pergi, tetapi nafsu untuk menguasai manusia lain tetap tinggal. Dahulu rakyat diperintah atas nama Ratu Belanda. Setelah merdeka, mereka diperintah atas nama bangsa, pembangunan, stabilitas, bahkan kesejahteraan. Bahasanya berubah. Caranya semakin halus. Namun korbannya sering kali tetap sama: rakyat kecil yang tidak mempunyai tanah, pengetahuan, modal, dan akses kepada kekuasaan.

Darti tidak hidup cukup lama untuk menyaksikan seluruh perjalanan bangsa itu. Namanya tidak pernah tertulis dalam buku sejarah. Tidak ada jalan, sekolah, atau monumen yang memakai namanya. Sejarah hanya mengenal tokoh yang berpidato di mimbar, memimpin pasukan, menandatangani perjanjian, dan berdiri di hadapan kamera. Padahal kemerdekaan juga dibangun oleh orang-orang seperti Darti—mereka yang menyembunyikan pesan, melindungi pelarian, mengorbankan tubuh, menahan lapar, dan memilih diam agar orang lain tetap hidup.

Nama mereka hilang, tetapi penderitaan mereka menjadi tanah tempat republik berdiri. Baskoro juga menghilang dari kehidupan Darti. Tidak seorang pun mengetahui apakah ia memperoleh penghargaan dari pemerintah kolonial atau justru dibuang setelah dianggap tidak lagi berguna. Seorang pengkhianat selalu merasa dirinya istimewa ketika masih menyimpan rahasia. Namun setelah semua rahasia diserahkan, ia tinggal sebagai manusia yang tidak dipercaya oleh kedua pihak.

Pemerintah yang membelinya tidak akan pernah menghormatinya. Orang-orang yang dikhianatinya tidak mungkin menerimanya kembali. Itulah hukuman seorang pengkhianat: ia mungkin memperoleh uang, jabatan, dan keselamatan, tetapi kehilangan tempat untuk pulang.

Dari Baskoro, Darti memahami bahwa kesetiaan bukanlah soal kepada siapa seseorang mengabdi. Kesetiaan harus terlebih dahulu diuji oleh nilai yang dibelanya. Sebab orang dapat setia kepada pemerintah yang zalim. Tentara dapat setia kepada perintah yang salah. Pejabat dapat setia kepada partainya sambil mengkhianati rakyat. Seorang terpelajar bahkan dapat setia kepada kekuasaan sambil menjual pengetahuan dan hati nuraninya.

Kesetiaan tanpa kebenaran hanya melahirkan kepatuhan. Kepatuhan tanpa nurani akan berubah menjadi alat penindasan. Namun pengkhianatan lebih berbahaya daripada kekerasan. Kekerasan melukai tubuh dan memperlihatkan siapa musuh kita. Pengkhianatan menghancurkan kepercayaan dari dalam, sering kali dilakukan oleh orang yang telah diberi amanah, dipanggil sahabat, atau dipercaya sebagai pemimpin. Luka akibat kekerasan dapat terlihat dan diobati. Luka akibat pengkhianatan membuat manusia takut untuk kembali percaya.

Peradaban tidak runtuh hanya karena kekurangan uang, pangan, atau senjata. Ia mulai runtuh ketika kepercayaan kehilangan makna. Janji tidak lagi dianggap sebagai utang moral. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah. Hukum dijadikan alat transaksi. Pengetahuan dipakai untuk menutupi kebohongan. Kesetiaan dibeli dengan proyek, sedangkan pengkhianatan dibenarkan sebagai kecerdikan politik. Racun itulah yang tetap hidup setelah kemerdekaan.

Para penguasa datang kepada rakyat pada musim pemilihan. Mereka berbicara tentang kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. Mereka mencium tangan orang tua, menggendong anak-anak miskin, makan di warung sederhana, lalu berjanji akan menjaga kekayaan negeri untuk generasi mendatang.

Setelah kekuasaan diperoleh, sebagian melupakan jalan yang membawa mereka ke istana. Tanah, hutan, tambang, laut, dan sumber energi diserahkan melalui perjanjian yang tidak dipahami rakyat. Perusahaan asing dipersilakan datang bukan sekadar membawa modal dan teknologi, melainkan juga menguasai rantai nilai. Kekayaan diangkut keluar sebagai bahan mentah, sementara rakyat di sekitar sumber daya tetap hidup tanpa sekolah yang baik, rumah sakit yang layak, air bersih, dan pekerjaan bermartabat.

Asing bukanlah sumber segala kesalahan. Modal asing dapat membantu pembangunan jika negara mempunyai strategi, hukum yang tegas, transfer teknologi, dan kemampuan menguasai nilai tambah. Pengkhianatan terjadi ketika penguasa menyerahkan kepentingan jangka panjang bangsa demi komisi, bagian keuntungan, atau keselamatan politiknya sendiri. Mereka memperoleh fee. Negara memperoleh penerimaan sesaat. Namun rakyat kehilangan kekayaan yang seharusnya menjadi dasar kemandirian beberapa generasi.

Hasil penjualan sumber daya itu kemudian masuk ke dalam anggaran negara. Seharusnya ia menjadi modal untuk membangun industri, riset, sekolah, rumah sakit, irigasi, dan kemampuan produksi nasional. Namun anggaran yang besar mudah berubah menjadi pesta ketika politik kehilangan disiplin. Uang dibagikan untuk membeli kegembiraan sesaat. Program populis dibuat agar penguasa terlihat murah hati. Bantuan diberi nama seolah berasal dari kantong pribadi pejabat, padahal semuanya berasal dari pajak, utang, dan kekayaan rakyat sendiri. Negara tidak lagi mendidik warga agar mampu berdiri. Negara membuat mereka menunggu.

Dari satu pemilihan ke pemilihan berikutnya, ketergantungan dipelihara sebagai sumber suara. Politik populis tidak selalu salah. Rakyat lapar memang harus ditolong. Orang sakit harus dirawat. Anak miskin harus diberi kesempatan. Namun bantuan menjadi racun ketika tidak disertai jalan menuju kemandirian. Ia berubah menjadi alat kekuasaan ketika kemiskinan sengaja dipelihara agar rakyat terus mengharapkan kedatangan penyelamat. Penguasa yang jujur membantu rakyat keluar dari ketergantungan. Penguasa yang licik menjadikan ketergantungan sebagai modal politik.

Ketika anggaran semakin sempit, pendidikan sering menjadi korban yang paling mudah disembunyikan. Dampaknya tidak langsung terlihat. Jembatan yang tidak dibangun dapat diprotes. Bantuan yang dihentikan segera memancing kemarahan. Namun ruang kelas yang rusak, guru yang tidak sejahtera, perpustakaan yang kosong, dan penelitian yang diabaikan baru menunjukkan akibatnya bertahun-tahun kemudian. Karena itu, pendidikan mudah dikorbankan.

Padahal bangsa yang mengurangi pendidikan sedang menggadaikan masa depannya. Anak-anak tumbuh tanpa kemampuan membaca persoalan, memeriksa janji, dan membedakan pemimpin dari penipu. Mereka mudah diprovokasi oleh identitas, ditakut-takuti oleh kebohongan, lalu dibuat bergantung kepada bantuan yang seharusnya hanya bersifat sementara.

Kebodohan bukan lagi sekadar akibat kemiskinan. Ia dapat dipelihara menjadi alat kekuasaan. Rakyat yang terdidik akan bertanya ke mana hasil tambang mengalir. Mereka akan menuntut isi kontrak dibuka. Mereka ingin mengetahui mengapa negara kaya sumber daya terus berutang. Mereka akan membandingkan anggaran pendidikan dengan biaya mempertahankan kekuasaan. Mereka tidak mudah percaya kepada pidato karena mampu membaca angka di balik kata-kata.

Itulah sebabnya pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah benteng kemerdekaan. Tanpa pendidikan, kemerdekaan hanya mengganti warna bendera. Tanpa kemandirian ekonomi, kedaulatan hanya menjadi kalimat dalam pidato. Tanpa integritas, jabatan publik berubah menjadi izin resmi untuk memperdagangkan masa depan bangsa.

Dahulu Karto kehilangan tanah karena tidak mampu membaca buku utang milik Tuan Lim Thong. Setelah merdeka, sebuah bangsa dapat kehilangan hutan, tambang, pelabuhan, dan sumber energinya karena rakyat tidak diberi kesempatan membaca perjanjian yang dibuat atas nama mereka. Bentuk dokumennya berbeda, tetapi cara kerjanya sama. Angka ditulis oleh pihak yang berkuasa. Risiko ditanggung rakyat. Keuntungan mengalir kepada mereka yang duduk paling dekat dengan meja perundingan.

Kisah Darti karena itu bukan hanya kisah seorang perempuan yang dijual untuk melunasi utang keluarganya. Ia adalah gambaran sebuah bangsa yang dapat dijual sedikit demi sedikit oleh orang-orang yang diberi amanah menjaganya. Tubuh Darti dahulu menjadi alat tukar untuk menyelamatkan keluarganya. Sumber daya bangsa kemudian dapat menjadi alat tukar untuk menyelamatkan kekuasaan. Keduanya dipaksa melalui keadaan. Keduanya disebut keputusan yang sah. Keduanya dibenarkan dengan alasan kebutuhan. Dan dalam kedua peristiwa itu, mereka yang menerima manfaat selalu meminta korban untuk memahami keadaan.

Padahal kemerdekaan tidak lahir agar rakyat terus memahami pengkhianatan penguasanya. Kemerdekaan lahir agar tidak seorang pun dapat memperdagangkan manusia dan masa depan bangsa tanpa pertanggungjawaban. Kesetiaan kepada negara bukan berarti membela pemerintah dalam segala keadaan. Pemerintah dapat berganti. Presiden dapat berakhir masa jabatannya. Partai dapat runtuh. Bahkan sebuah rezim yang terlihat kuat dapat hilang dalam satu generasi. Negara jauh lebih panjang daripada usia kekuasaan.

Karena itu, kesetiaan tertinggi bukan kepada orang yang sedang memerintah, melainkan kepada nilai yang membuat republik layak dipertahankan: keadilan, kebenaran, martabat manusia, hukum yang setara, dan kesempatan bagi setiap anak untuk mengembangkan pikirannya.

Pejabat yang menolak perintah curang lebih setia kepada negara daripada bawahan yang patuh kepada kejahatan. Guru yang mengajarkan murid berpikir lebih berjasa daripada politisi yang membagikan uang sambil meminta dipuja. Rakyat yang berani mengkritik penyimpangan lebih mencintai negerinya daripada penjilat yang selalu memuji penguasa. Sebab cinta kepada bangsa tidak diukur dari kerasnya seseorang berteriak tentang nasionalisme. Ia diukur dari apa yang tidak bersedia dijualnya, sekalipun dihadapkan pada uang dan kekuasaan.

Pada malam ketika Darti membakar daftar nama, ia tidak menghentikan seluruh operasi kolonial. Pemerintah masih mempunyai pasukan, penjara, dan salinan laporan lain. Tindakannya mungkin tampak kecil dan sia-sia. Namun sejarah sering berubah bukan ketika manusia lemah berhasil mengalahkan kekuasaan dalam satu malam. Sejarah mulai berubah ketika manusia yang selama ini dipaksa tunduk menemukan keberanian untuk berkata tidak.

Darti telah dikhianati oleh lelaki yang mengajarinya arti kemerdekaan. Namun pengkhianatan itu tidak membuatnya membenci kemerdekaan. Ia justru memahami bahwa kebebasan tidak boleh dititipkan sepenuhnya kepada siapa pun—bukan kepada kekasih, pemimpin, partai, ataupun pemerintah. Kebebasan harus dijaga oleh kesadaran. Martabat harus dipertahankan oleh keberanian. Kemerdekaan harus dirawat dengan pendidikan, keadilan, dan kekuasaan yang bersedia membatasi dirinya sendiri.

Jika tidak, penjajah tidak perlu datang kembali dari negeri jauh. Ia akan lahir dari antara kita—berwajah seperti kita, berbicara dalam bahasa kita, menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, tetapi memperdagangkan masa depan rakyat demi harta dan kekuasaan. Bendera mungkin tetap berkibar. Upacara mungkin tetap dilaksanakan. Pidato tentang kemerdekaan mungkin tetap terdengar setiap tahun. Namun selama kekayaan bangsa dijual tanpa amanah, pendidikan dikorbankan, dan kemiskinan dipelihara sebagai alat politik, kolonialisme hanya berganti pelaku.

Sebab pengkhianatan terbesar bukanlah ketika seseorang berpihak kepada bangsa asing. Pengkhianatan terbesar adalah ketika seseorang memperoleh kekuasaan dari rakyat, bersumpah akan menjaga masa depan mereka, lalu menjual amanah itu demi kepentingannya sendiri. Dan kemerdekaan sejati baru dimulai ketika rakyat cukup terdidik untuk mengenali pengkhianatan itu—serta cukup berani untuk menghentikannya.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca