
Anak Lelaki yang Soleh
Hampir setiap sore aku duduk di teras rumah. Bukan karena tidak ada pekerjaan. Aku membantu Ibu menyiapkan sayuran untuk dijual di pasar. Namun menjelang sore, setelah pekerjaan rumah selesai, aku ingin melihat orang-orang berlalu-lalang di depan rumah. Dari teras kecil itulah aku merasa masih menjadi bagian dari dunia. Ayah sudah lama meninggal. Sejak itu, Ibu membesarkanku seorang diri dari hasil berdagang sayur. Hidup kami tidak pernah benar-benar cukup, tetapi Ibu selalu berusaha agar aku berpakaian rapi.
Aku pandai merias wajah. Dengan bedak murah dan lipstik tipis, orang-orang mengatakan aku terlihat cantik. Mereka tidak tahu bahwa kadang-kadang aku bersolek bukan untuk menarik perhatian laki-laki. Aku hanya ingin menutupi kemiskinan agar tidak terlalu terlihat di wajahku.
Setiap sore, seorang anak lelaki melewati rumahku menuju masjid. Namanya Ale. Kulitnya gelap terbakar matahari. Rambutnya pendek dan tubuhnya mulai terlihat kekar. Namun sifatnya sangat pemalu. Setiap kali melewati teras, ia selalu menundukkan kepala.
“Ale, jangan lupa doakan Mbak, ya,” tegurku. Ia hanya mengangguk, lalu mempercepat langkah. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
Entah mengapa, aku percaya doa anak seperti Ale lebih dekat kepada Tuhan. Ia tidak banyak bicara, tidak suka menatap perempuan, dan tidak pernah ikut menggoda seperti anak-anak lelaki lain di kampung. Saat itu aku sendiri tidak tahu apa yang harus didoakannya untukku. Mungkin aku ingin keluar dari kemiskinan. Mungkin ingin mempunyai rumah yang lebih baik untuk Ibu. Atau mungkin aku hanya ingin percaya bahwa di suatu tempat terdapat kehidupan yang lebih baik daripada yang kulihat dari teras rumah.
***
Ketika Ale duduk di kelas satu SMA, aku menikah. Lelaki itu datang dari Jakarta. Pakaiannya rapi, bicaranya halus, dan uangnya terlihat banyak. Ia berkata ingin membawaku hidup di ibu kota. Ia berjanji akan menyewa rumah, mencarikanku pekerjaan, dan membantu Ibu setiap bulan. Bagi perempuan miskin sepertiku, Jakarta terdengar seperti pintu menuju kehidupan lain. Ibu sempat ragu. Namun lelaki itu pandai meyakinkan. Ia datang bersama beberapa orang yang mengaku keluarganya. Ia bersikap sopan kepada tetangga dan tidak pernah lupa membawa buah tangan. Aku pun percaya.
Setelah menikah, aku dibawanya ke Jakarta. Sebulan pertama terasa seperti bulan madu. Kami tinggal di sebuah kamar sewaan yang cukup bagus. Ia membelikanku pakaian, mengajakku makan di restoran, dan memperkenalkanku kepada beberapa temannya. Aku mengira doa-doaku telah dikabulkan. Kemudian, perlahan, sikapnya berubah.
Suatu malam ia membawaku ke sebuah tempat hiburan. Katanya, aku hanya perlu menemani tamu berbicara dan minum. Aku menolak. Ia memukulku untuk pertama kali malam itu. “Jangan bodoh,” katanya. “Kamu pikir semua yang kamu nikmati datang tanpa biaya?”
Aku belum mengerti maksudnya sampai seorang lelaki lain membawaku masuk ke sebuah kamar. Aku berteriak, menangis, dan mencoba melawan. Namun tidak ada yang menolong. Orang-orang di tempat itu memanggil suamiku sebagai orang yang menyerahkanku kepada mereka. Di sanalah aku memahami bahwa aku tidak dibawa ke Jakarta sebagai istri. Aku dibawa sebagai barang dagangan.
Hari-hari berikutnya menjadi bagian hidup yang ingin kulupakan. Setiap kali menolak, aku dipukul. Uang yang diberikan tamu tidak pernah sampai ke tanganku. Suamiku mengambil semuanya, kemudian datang membawa pakaian atau makanan seolah-olah sedang memeliharaku. Aku kehilangan kebebasan, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kehilangan nama. Di tempat itu, orang-orang memanggilku dengan nama lain. Diah seakan telah mati. Yang tersisa hanya tubuh perempuan yang dapat disewakan kepada siapa saja.
Aku bertahan sambil menunggu kesempatan. Suatu malam, ketika pengawasan lengah, aku melarikan diri. Aku tidak membawa pakaian dan tidak mengambil uang. Aku hanya membawa alamat rumah yang masih kuingat dan sedikit keberanian yang tersisa. Aku pulang ke Tanjungkarang.
***
Aku kembali duduk di teras rumah. Kursinya masih sama. Gangnya tidak berubah. Ibu masih berangkat ke pasar sebelum matahari terbit. Namun perempuan yang pulang dari Jakarta bukan lagi perempuan yang dahulu meninggalkan rumah dengan pakaian pengantin. Tetangga bertanya mengapa aku pulang sendirian. Aku mengatakan sudah bercerai. Mereka bertanya di mana harta yang kubawa dari Jakarta. Aku hanya tersenyum.
Sebagian orang menganggap aku gagal mempertahankan suami. Sebagian lagi mungkin menduga aku telah berbuat buruk. Tidak ada yang bertanya apakah aku pernah disakiti. Tidak ada yang ingin mengetahui mengapa seorang perempuan pulang tanpa membawa apa-apa.
Suatu sore, Ale kembali melintas menuju masjid. Tubuhnya semakin tinggi. Wajahnya terlihat lebih dewasa, tetapi kebiasaannya masih sama: selalu menundukkan kepala.
“Ale,” panggilku. “Sekarang sudah besar.” kataku dengan tersenyum. Ia menunduk semakin dalam. Melihatnya, aku merasa seolah-olah kehidupan lamaku belum sepenuhnya hilang. Masih ada orang yang memandangku tanpa nafsu, tanpa tuntutan, dan tanpa mengetahui bagian hidup yang ingin kusembunyikan. Hampir setiap malam aku berpapasan dengannya ketika ia pulang dari masjid. Aku tersenyum, tetapi ia segera menunduk. Aku tidak tersinggung. Justru sikapnya membuatku merasa aman.
Namun hidup di rumah Ibu tidak semudah yang kubayangkan. Aku tidak memiliki ijazah tinggi ataupun keterampilan yang dicari orang. Ketika mengetahui aku seorang janda yang baru pulang dari Jakarta, sebagian laki-laki menganggap mereka berhak menawarkan pekerjaan yang sama seperti yang kutinggalkan.
Akhirnya aku bekerja di sebuah kafe dan bar. Aku tahu tempat itu berbahaya. Namun aku membutuhkan uang. Ibu semakin tua, sedangkan penghasilan dari berjualan sayur tidak cukup. Aku berjanji kepada diri sendiri hanya akan menemani tamu minum. Tidak lebih dari itu. Di sana aku bertemu seorang pria yang kemudian mengaku sebagai pacarku. Pada awalnya, ia melindungiku dari tamu yang kasar. Setelah aku mulai mempercayainya, ia berubah. Ia mengambil sebagian penghasilanku dan mengatur dengan siapa aku boleh pergi. Aku kembali terperangkap. Bukan oleh suami kali ini, melainkan oleh lelaki lain yang menggunakan cinta sebagai tali pengikat.
***
Suatu malam, pacarku memintaku melayani bosnya. Aku menolak. “Aku tidak mau kembali menjalani hidup seperti itu,” kataku. Ia menamparku. Aku melawan, lalu ia memukul kening dan bibirku. Setelah itu, ia menaikkanku ke sepeda motor dan membawa pulang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia menurunkanku dekat gang.
Ketika motornya pergi, kulihat Ale berjalan pulang sambil membawa barang dagangannya. Aku berdiri menunggu. Entah mengapa, aku ingin berjalan bersamanya. Barangkali aku hanya ingin berada di dekat seseorang yang tidak akan menyakitiku.
“Ale, Mbak ikut masuk gang, ya.”
Ia mengangguk.
Kami berjalan berdampingan. Aku berusaha menutupi wajah, tetapi cahaya lampu jalan memperlihatkan lebam di bibir dan keningku. Ale berhenti. “Ada apa, Mbak? Kenapa wajah Mbak?”
Aku tidak mampu lagi menyembunyikannya. “Pacarku ingin menyerahkan Mbak kepada bosnya. Mbak menolak, lalu dia memukul Mbak.”
“Memangnya Mbak bekerja di mana?”
“Di kafe dan bar.”
“Oh…”
Aku mendengar kebingungan dalam suaranya. Ia masih terlalu muda untuk memahami kehidupan seperti itu. Namun malam itu aku ingin seseorang mengetahui kebenaran. Jika sesuatu terjadi kepadaku, setidaknya ada seorang manusia yang tahu bahwa aku pernah mencoba melarikan diri.
“Ale, dulu Mbak menikah dan dibawa ke Jakarta,” kataku. “Sebulan pertama, dia baik. Mbak pikir kami sedang berbulan madu.”
Air mataku jatuh. “Setelah itu, dia menyerahkan Mbak kepada orang lain. Mbak dipaksa melayani laki-laki. Kalau menolak, Mbak dipukul.”
Ale menghentikan langkah. “Jadi selama ini…”
“Iya. Mbak bukan menjadi orang kaya di Jakarta. Mbak dijual oleh suami sendiri.”
Ia tidak menghakimiku. Tidak bertanya berapa banyak laki-laki yang pernah kulayani. Tidak pula mengatakan aku perempuan kotor.
Ale hanya diam. Anehnya, diamnya terasa lebih menenangkan daripada semua nasihat yang pernah kudengar.
***
Beberapa hari kemudian, aku mendapat pekerjaan di Bioskop Merdeka. Tugasku menjual karcis di loket. Gajinya tidak besar, tetapi pekerjaan itu membuatku merasa kembali memiliki nama. Aku bukan lagi perempuan yang menemani tamu minum. Aku adalah penjaga loket.
Malam Minggu itu, dalam perjalanan menuju bioskop, aku melihat Ale berdagang di pojok Jalan Pemuda. Barang dagangannya ditata rapi di atas meja kecil. Ia duduk di kursi kayu tanpa sandaran.
Aku berhenti. “Ramai dagangannya, Ale?”
“Lumayan, Mbak. Malam Minggu.”
“Mbak sudah mendapat pekerjaan.”
“Di mana?”
“Di Bioskop Merdeka. Menjual karcis.”
“Alhamdulillah.”
Aku tersenyum. Sudah lama aku tidak merasa bangga ketika menceritakan pekerjaanku.
“Mudah-mudahan Mbak bisa meninggalkan pekerjaan lama.”
“Insyaallah bisa, Mbak,” jawabnya.
Aku memandang wajahnya yang terus menunduk.
“Ale, doakan Mbak terus, ya. Ale anak saleh.”
“Iya, Mbak. Saya doakan.”
Belum sempat aku melanjutkan perjalanan, sebuah sepeda motor berhenti di depan lapaknya. Dua pria turun. Salah satunya adalah pacarku. Ia langsung mencengkeram lenganku. “Ayo ikut!”
“Aku tidak mau!”
Ia menarikku lebih keras. Lenganku terasa seperti hendak terlepas. Aku menjerit. Tiba-tiba Ale bergerak. Ia mendorong pria itu sampai pegangannya terlepas. Pacarku menatapnya dengan marah. “Jangan ikut campur, Lu!”
Temannya mencoba menyerang Ale. Namun sebelum sempat naik ke trotoar, kaki Ale menghantam dadanya. Pria itu terjatuh ke jalan. Pacarku mengayunkan pukulan. Ale menangkis, memutar tubuh, lalu menyapu kakinya. Tubuh pacarku terhempas di atas trotoar. Aku terpaku. Ale yang kukenal selalu berjalan dengan kepala tertunduk. Ia jarang berbicara dan tidak pernah mencari masalah. Namun malam itu gerakannya cepat, tenang, dan terukur. Ia tidak memukul untuk menunjukkan kehebatan. Setelah kedua pria itu jatuh, ia berhenti.
Mereka bangkit dan pergi. Aku menatap lenganku yang memerah karena cengkeraman. “Itu pacar Mbak,” kataku. “Dia preman.”
Kemarahan segera berubah menjadi ketakutan. Aku mengenalnya. Ia tidak akan menerima penghinaan itu begitu saja. “Ale, bagaimana kalau dia kembali membawa teman-temannya? Kamu masih akan berdagang di sini?”
“Tidak apa-apa, Mbak. Saya tetap berdagang.”
“Mereka bisa mencelakaimu.”
Ale tersenyum. “Sebaiknya Mbak pulang sekarang.”
“Tapi aku harus bekerja, Ale.”
Ia tidak menjawab.
Aku tahu ia ingin melindungiku, tetapi ia juga tidak mempunyai kuasa mengubah hidupku. Ia hanya anak SMA yang berdagang untuk menyambung kehidupannya sendiri. Aku akhirnya berjalan menuju bioskop. Sepanjang perjalanan, perasaanku tidak tenang. Beberapa kali aku menoleh ke belakang. Ale masih berdiri di dekat lapaknya, seorang diri.
***
Seminggu setelah kejadian itu, aku memutuskan pergi ke Jakarta. Ibu menangis ketika mendengarnya. “Kamu baru saja berhasil pulang dari sana.”
“Aku tahu, Bu.”
“Lalu mengapa kembali?”
“Karena kalau tetap di sini, mereka akan terus mengejar. Ale juga bisa disakiti.”
Aku tidak mempunyai rencana yang jelas. Hanya ada alamat seorang teman yang pernah kukenal. Ia mengatakan mungkin dapat membantuku mencari pekerjaan.
Jakarta pernah menghancurkan hidupku. Namun kota sebesar itu juga memberiku kemungkinan untuk menghilang. Di Tanjungkarang, semua orang mengenal wajah dan masa laluku. Di Jakarta, aku dapat menjadi siapa saja—atau tidak menjadi siapa-siapa.
Pagi sebelum berangkat, aku duduk untuk terakhir kalinya di teras rumah. Aku berharap Ale lewat menuju masjid. Aku ingin berterima kasih. Ingin meminta maaf karena telah menyeretnya ke dalam masalah. Namun sampai aku meninggalkan rumah, ia tidak muncul. Mungkin sedang sekolah. Mungkin sedang berdagang. Atau mungkin Tuhan sengaja tidak mempertemukan kami agar perpisahan itu tidak menjadi lebih berat.
Setahun kemudian, aku mendengar Ale juga merantau ke Jakarta. Kota itu sangat besar. Jutaan orang datang setiap tahun membawa doa, ambisi, luka, dan ketakutannya masing-masing. Kemungkinan kami bertemu kembali seharusnya sangat kecil. Namun aku tetap percaya Tuhan menyimpan jalan yang tidak dapat dilihat manusia. Dahulu, setiap sore aku meminta seorang anak lelaki mendoakanku. Aku tidak pernah tahu apa yang ia ucapkan di dalam doanya. Barangkali ia hanya menyebut namaku sekilas. Barangkali ia bahkan lupa setelah sampai di masjid. Namun ketika hidupku hampir direnggut untuk kedua kalinya, anak lelaki yang selalu menunduk itu berdiri di hadapanku.
Sejak saat itu aku memahami bahwa doa tidak selalu turun dari langit dalam bentuk keajaiban. Kadang-kadang ia datang melalui keberanian seseorang yang tidak banyak bicara—seorang anak SMA, sebuah kursi kayu, dan satu malam di pojok Jalan Pemuda.
Lelaki di Hotel Indonesia
Tahun 1985, aku bertemu kembali dengan Ale di Hotel Indonesia. Malam itu aku berada di Barito Room bersama seorang lelaki setengah baya. Orang-orang memanggilnya Bapak. Dari cara para pelayan membungkuk dan cara orang-orang menyalaminya, aku tahu ia bukan orang biasa. Ia seorang pejabat. Aku tidak datang karena mencintainya. Bahkan tidak benar-benar mengenalnya. Seorang perantara memintaku menemaninya minum dan membuat suasana hatinya baik. Selebihnya, aku tidak perlu bertanya.
Di tempat seperti itu, perempuan dibayar bukan untuk mengetahui terlalu banyak. Kami hanya perlu tersenyum, mendengarkan, dan berpura-pura kagum pada cerita laki-laki mengenai kekuasaan mereka. Dari meja tempatku duduk, aku melihat seorang pemuda masuk bersama beberapa relasi bisnis. Pakaiannya rapi. Cara berjalannya tenang. Ia tidak lagi terlihat seperti anak SMA yang berdagang kaki lima di pojok Jalan Pemuda. Namun aku langsung mengenalinya. Ale.
Ia telah tumbuh menjadi pengusaha muda. Beberapa orang yang bersamanya terlihat lebih tua, tetapi mereka mendengarkan ketika ia berbicara. Sesekali seorang pelayan datang membungkuk dan menanyakan kebutuhannya. Aku tersenyum kecil. Anak lelaki yang dahulu selalu menunduk ketika melewati teras rumahku kini duduk di hotel paling terkenal di Jakarta, berbicara dengan orang-orang yang mungkin hanya mengenal bahasa uang dan kekuasaan.
Mata kami bertemu. Ale terlihat terkejut. Aku tahu ia mengenaliku. Tatapannya hanya bertahan sesaat sebelum ia memalingkan wajah. Aku tidak menegurnya. Bukan karena lupa. Justru karena terlalu ingat. Ia pernah melihatku ketika masih menjadi gadis yang duduk di teras rumah. Ia juga pernah melihat lebam pada wajahku, mendengar pengakuanku, dan hampir kehilangan nyawa ketika melindungiku dari para preman.
Aku tidak ingin ia kembali melihatku sebagai perempuan yang harus diselamatkan. Lagi pula, malam itu aku sedang bersama seorang pejabat. Mendekati Ale hanya akan mempermalukannya di depan relasinya. Aku tersenyum sekali lagi, kemudian kembali mendengarkan lelaki di sampingku membicarakan proyek, anggaran, dan orang-orang yang dapat dibelinya. Di hotel itu, semua orang terlihat terhormat. Hanya cara mereka menjual diri yang berbeda.
***
Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke Barito Room seorang diri. Sebenarnya aku tidak mempunyai janji dengan siapa pun. Sejak pagi aku berusaha menghubungi beberapa orang, tetapi tidak ada yang membutuhkan jasaku. Seorang perempuan dalam pekerjaanku bisa dianggap sangat penting pada suatu malam, lalu menjadi tidak terlihat pada malam berikutnya.
Aku duduk di sudut ruangan sambil memesan minuman termurah. Uangku hampir habis. Rumah tempatku tinggal di Kalibata sudah bukan milikku lagi. Aku bahkan tidak tahu akan tidur di mana malam itu.
Kemudian kulihat Ale. Ia duduk bersama beberapa relasi di sebuah meja besar. Kali ini ia melihatku lebih dahulu. Ia segera berdiri dan menghampiriku. “Mbak Diah?”
Aku tersenyum. “Ale.”
“Mbak sendirian?”
Aku mengangguk.
“Bergabunglah di meja saya.”
Aku sempat menolak. Aku tidak ingin relasinya mengira aku perempuan yang dibawanya untuk menghibur mereka. Namun Ale menarik sebuah kursi dan mempersilakanku duduk di sampingnya. Ia memperkenalkanku sebagai teman lama dari Tanjungkarang. Tidak lebih.
Sepanjang malam ia berbicara mengenai bisnis, pengiriman barang, dan sebuah kontrak dengan perusahaan negara. Aku tidak memahami seluruhnya. Namun dari cara ia berunding, aku tahu Ale bukan lagi pemuda miskin yang berdagang di trotoar.
Anehnya, ia tetap tidak banyak menatapku. Setelah relasinya pergi, Ale bertanya, “Mbak pulang ke mana?”
“Tidak perlu diantar.”
“Sudah malam.”
“Mbak bisa pulang sendiri.”
“Ke mana?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku akhirnya berkata, “Mbak sudah tidak tinggal di Kalibata.”
Ale tidak bertanya mengapa. Ia hanya memanggil sopir dan membukakan pintu mobil. Aku masih menolak, tetapi ia memaksaku masuk. “Setidaknya saya antar ke tempat yang aman.”
Aku tertawa kecil. “Ale, di Jakarta, tempat aman itu mahal.”
Kami duduk bersebelahan di kursi belakang. Mobil bergerak meninggalkan halaman Hotel Indonesia dan masuk ke jalan raya yang dipenuhi cahaya. “Ya, sabar saja, Mbak,” katanya. Kalimat itu sederhana. Namun dari mulut Ale, ia terdengar seperti doa yang dahulu sering kuminta dari teras rumah.
“Ale,” kataku, “Mbak dahulu dijadikan umpan oleh rekanan pemerintah untuk menghibur pejabat.”
Ia menoleh.
“Mungkin karena kulit Mbak putih dan mata Mbak sedikit sipit, mereka menyukai Mbak. Salah seorang pejabat kemudian menempatkan Mbak di sebuah rumah di Kalibata. Katanya, Mbak tidak perlu lagi menemani orang lain.”
“Lalu?”
“Tiga bulan kemudian dia bosan.”
Aku menatap lampu-lampu kota dari balik jendela. “Ajudannya datang. Dia meminta Mbak mengosongkan rumah hari itu juga. Tidak ada penjelasan. Tidak ada uang pesangon. Pakaian Mbak dimasukkan ke dalam koper, lalu Mbak diturunkan di jalan.”
Ale diam.
Aku sudah terbiasa dengan diamnya. Namun kali ini aku dapat merasakan kemarahan yang disembunyikannya. “Ale jangan marah,” kataku. “Begitulah kehidupan perempuan piaraan. Kami diberi rumah, tetapi tidak pernah memiliki alamat. Kami diberi perhiasan, tetapi tidak memiliki kepastian. Selama dibutuhkan, kami dipanggil sayang. Setelah membosankan, kami disuruh pergi melalui ajudan.”
Malam itu aku mengenakan tank top dengan jaket tipis. Ketika mobil berhenti sebentar karena lalu lintas, aku melihat mata Ale bergerak ke arah tubuhku. Ia segera menunduk. Aku hampir tertawa. Setelah bertahun-tahun, ia masih anak lelaki yang sama—pemalu, canggung, dan selalu merasa berdosa hanya karena matanya sempat singgah pada tubuh perempuan.
“Ale ingin melihat tubuh Mbak?” tanyaku.
Ia terkejut. Wajah kami sangat dekat. Aku menatapnya tanpa tersenyum. “Kalau mau, kita menginap saja di hotel. Hari ini Mbak tidak mendapat tamu.” Aku mengatakannya dengan datar. Tidak menggoda dan tidak pula berharap. Aku hanya menawarkan sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai satu-satunya nilai yang masih kumiliki.
Ale segera menundukkan kepala. “Tidak, Mbak.”
“Kenapa?”
“Saya tidak pernah membeli perempuan untuk seks.”
Kalimat itu seharusnya membuatku lega. Namun entah mengapa, dadaku justru terasa sakit. Aku sadar bahwa selama ini terlalu banyak laki-laki memperlakukanku sebagai barang sampai aku sendiri mulai menawarkan diri seperti barang.
Ale membuka tas tangannya. Ia mengeluarkan uang pecahan Rp. 10.000 satu ikat seal bank, lalu meletakkannya di telapak tanganku. Aku terpaku. Itu Rp 1 juta. Pada masa itu, uang sebanyak itu cukup untuk membiayai hidupku selama 6 bulan jika digunakan dengan hemat.
“Ale, mengapa memberi Mbak sebanyak ini?”
“Untuk kebutuhan Mbak.”
“Kamu bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih cantik dengan uang ini.”
“Saya tidak sedang membeli siapa pun.”
Aku menggenggam uang itu, tetapi rasanya seperti memegang sesuatu yang terlalu berat. “Ale, mengapa kamu selalu baik kepada Mbak?”
Ia tidak menjawab.
“Dulu di Tanjungkarang, kamu melindungi Mbak meskipun bisa terbunuh. Sekarang sikapmu masih sama. Mengapa?”
Ale menatap ke depan. “Mau menjawab apa, Mbak? Itu udah nature saya.”
Aku menahan air mata. Tidak banyak orang memberikan sesuatu tanpa diam-diam meminta hak atas tubuhku. Bahkan orang yang pernah menyebut dirinya suami menyerahkanku kepada lelaki lain untuk mendapatkan uang. Namun Ale memberikan uang sambil menjauhkan pandangannya. Seolah-olah ia ingin menolongku tanpa mengambil sedikit pun harga diriku.
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kalau begitu, cepatlah menikah. Kamu sudah berhasil dan mempunyai uang. Mengapa belum juga berkeluarga?”
“Ada pacar,” jawabnya. “Tetapi dia tidak mau saya nikahi. Entah mengapa selalu menolak kalau diajak menikah.”
“Ale orang baik. Pasti akan mendapat jodoh yang baik.”
Ia hanya tersenyum kecil. Aku sebenarnya ingin berhenti sampai di sana. Namun ada sesuatu yang menggangguku sejak melihatnya di Hotel Indonesia. Aku mengenal beberapa perempuan yang pernah dipanggil untuk menemani pejabat dalam pertemuan bisnis. Sebagian berada di bawah pengelolaan Papisan—seorang agen model yang menyediakan perempuan bagi pengusaha dan pejabat. Nama Ale pernah disebut.
“Aku tahu tentang Papisan,” kataku.
Tubuh Ale menegang.
“Kamu sering meminta anak asuhnya menemani pejabat.”
Ale menoleh cepat. Dari wajahnya, aku tahu kabar itu benar. “Ale,” kataku pelan, “kamu memang tidak membeli tubuh Mbak malam ini. Tetapi kamu pernah menggunakan tubuh perempuan lain sebagai alat bisnis.”
Ia tidak membantah. Aku tersenyum getir. “ kamu sama dengan Mbak. Kita dari keluarga miskin dan kita terpaksa menjual moralitas demi bertahan hidup. Karena keinginan agar bisa bebas dari kemiskina. Padahal banyak orang miskin tetap terhormat tanpa mengorbankan akhlak.”
Ale menunduk. “Ya mbak.. Saya salah.”
“Kamu punya kecerdasan bisnis. Tahu cari peluang bisnis. Tahu membujuk pejabat dapatkan kontrak. Sementara aku cantik dan pandai bicara untuk porotin uang pejabat dan orang kaya. Kita pelacur Ale.. tetap pelacur walau status beda..”
Mobil terus bergerak menuju Sarinah. Cahaya toko dan papan reklame berkelebat di jendela. “Aku juga dengar kamu pernah menggunakan perempuan dari Filipina untuk mendekati pejabat perusahaan minyak negara agar dapat kerjaan jasa angkutan”
Ia tetap diam. Aku tahu kata-kataku melukainya. Namun seseorang harus mengatakannya. Ale masih mempunyai kesempatan yang dahulu tidak pernah kumiliki. Ia belum sepenuhnya tenggelam. “Ale tidak pantas menjalankan bisnis seperti itu.”
Ia menatapku.
“Hidup Mbak sudah melewati terlalu banyak batas,” lanjutku. “Mbak tidak tahu apakah masih bisa kembali menjadi perempuan biasa. Namun kamu masih mempunyai kekuatan untuk berhenti.”
Aku menarik napas. “Jangan terlalu larut dalam pergaulan dengan pejabat yang menjual kekuasaan. Mereka bicara tentang negara, tetapi menggadaikan jabatan untuk kesenangan pribadi. Mereka pulang kepada keluarga seolah-olah tetap menjadi suami dan ayah terhormat.”
Ale memandangku tanpa berkata-kata.
“Orang menyebut Mbak pelacur karena Mbak menjual tubuh,” kataku. “Tetapi sebagian dari mereka menjual kepercayaan rakyat. Tubuh ini milik Mbak. Jabatan mereka milik negara.”
Air mataku jatuh, tetapi segera kuhapus. “Kalau harus dibandingkan, pengkhianatan mereka lebih besar. Mbak sering menjual tubuh karena dipaksa keadaan. Mereka menjual negara karena sifat rakus.”
Mobil berhenti di lampu merah dekat Sarinah. Aku menatap uang di tanganku, lalu memandang Ale. Ia sedang termenung. Mungkin baru malam itu ia melihat dirinya dari tempat aku berdiri. Aku memahami dunia bisnisnya. Untuk memperoleh kontrak, pengusaha harus mendekati pejabat. Mereka menyediakan makan malam, hadiah, perjalanan, bahkan perempuan. Semua disebut biaya pergaulan, biaya pemasaran, atau biaya menjaga hubungan. Bahasanya sopan. Akibatnya tidak.
Aku meraih gagang pintu. “Mbak turun di sini saja.”
Ale terkejut. “Saya antar sampai tempat Mbak tinggal.”
“Aku belum tahu akan tinggal di mana.”
“Kalau begitu, saya carikan hotel.”
Aku menggeleng. “Cukup sampai di sini, Ale.”
Lampu masih merah. Aku membuka pintu dan turun. Ale hendak ikut keluar, tetapi aku memberi isyarat agar ia tetap di dalam.
“Terima kasih,” kataku.
“Mbak, uangnya cukup?”
Aku mengangguk. “Cukup untuk hidup setengah tahun tanpa kerja. Mungkin juga cukup untuk mencari jalan lain.” Aku menutup pintu, kemudian berdiri di tepi jalan. Sebelum mobil bergerak, aku melambaikan tangan dan tersenyum. Di balik kaca, Ale masih memandangku. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, ia tidak menundukkan kepala.
Aku berjalan menyusuri kawasan Sarinah tanpa mengetahui tujuan. Di dalam tas hanya ada beberapa helai pakaian. Di tanganku ada uang dari Ale—uang pertama dalam waktu lama yang diberikan seorang laki-laki tanpa meminta tubuhku sebagai gantinya. Malam itu aku teringat teras rumah di Tanjungkarang. Dahulu aku selalu berkata, “Ale, jangan lupa doakan Mbak.” Aku mengira dirikulah yang membutuhkan doa. Aku merasa Ale lebih bersih, lebih dekat kepada Tuhan, dan tidak mungkin tersesat seperti aku.
Namun Jakarta telah mengajarkanku bahwa orang baik pun dapat tersesat. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi jahat, melainkan karena keburukan datang dengan nama yang masuk akal: pergaulan, strategi, jaringan, hadiah, dan biaya memperoleh kontrak. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku berdoa untuk Ale. Aku meminta Tuhan menghentikannya sebelum uang mengubahnya menjadi seperti para lelaki yang selama ini membeli dan menjual hidupku.
Setelah malam di Sarinah, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencoba mencari kehidupan yang tidak mengharuskanku menjual tubuh. Tidak mudah. Masa lalu selalu menemukan cara untuk mengikuti. Beberapa bulan kemudian, aku mendengar dari teman bahwa Ale tidak lagi meminta perempuan untuk menjamu pejabat. Aku berdoa kepada Tuhan agar Ale dapat jodoh yang akan menjaganya dalam perjalanan.
Mungkin bagi Ale, aku kemudian menghilang seperti ditelan bumi. Namun aku tidak benar-benar hilang. Aku hanya sedang berusaha mendapatkan kembali nama yang pernah dirampas dariku. Diah. Bukan istri yang dijual suaminya. Bukan perempuan piaraan pejabat. Bukan umpan untuk mendapatkan proyek. Hanya Diah—perempuan yang pernah duduk di teras rumah, meminta seorang anak lelaki mendoakannya. Dan pada suatu malam tahun 1985, di lampu merah Sarinah, perempuan itu akhirnya membalas doa tersebut.
Doa yang Pulang
Tahun 2023
Setelah suamiku meninggal. Belakangan ini, nama Ale semakin sering muncul dalam ingatanku. Bukan karena aku mulai pikun. Aku masih dapat membedakan kenangan dan kenyataan. Aku masih ingat nama orang, jalan pulang, juga rasa pahit obat yang harus kutelan setiap malam. Namun usia tidak lagi memberiku kemewahan untuk menunda sesuatu. Ada ucapan terima kasih yang hampir empat puluh tahun tertahan di tenggorokanku. Ada seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku, tetapi mungkin tidak pernah tahu bahwa pertolongannya tidak sia-sia. Ia menghilang bersama waktu, sementara aku menjalani kehidupan yang panjang tanpa mengetahui di mana ia berada.
Aku bahkan tidak tahu dimana Ale kini. Setiap kali nama itu muncul, aku kembali melihat seorang anak lelaki kurus berjalan menuju masjid. Ia selalu menunduk ketika melewati teras rumahku, seolah-olah wajah seorang perempuan adalah godaan yang harus dijauhinya.
“Ale, jangan lupa doakan Mbak, ya,” tegurku dahulu. Ia tidak pernah menjawab. Hanya menunduk, lalu mempercepat langkah. Namun entah mengapa, aku selalu percaya anak itu mendengar.
Suatu hari, Andi pulang membawa foto seorang pengusaha. Katanya, lelaki itu merupakan salah seorang pemilik kelompok usaha tempatnya bekerja. Foto tersebut diambil dalam sebuah pertemuan bisnis. Orang-orang di dalamnya mengenakan pakaian resmi dan berdiri dengan wajah penuh wibawa.
Ketika melihat salah seorang dari mereka, dadaku bergetar. Tanganku gemetar saat menyentuh foto itu. Wajah lelaki tersebut memang telah menua. Sebagian rambutnya telah memutih. Namanya pun kini lebih panjang daripada nama yang kukenal dahulu. Namun sorot matanya tidak berubah. Aku mengenali keteduhan itu. Aku mengenali mata anak lelaki yang dahulu selalu menunduk setiap kali berbicara denganku.
“Itu Ale,” kataku lirih.
Andi memandangku, kemudian memandang foto itu kembali. “Mama yakin?”
Aku mengusap wajah dalam foto tersebut dengan ujung jariku. “Seorang perempuan mungkin lupa wajah laki-laki yang pernah menginginkan tubuhnya,” jawabku. “Tetapi dia tidak akan melupakan wajah laki-laki yang pernah menghormati kemanusiaannya.”
Andi terdiam. Mungkin untuk pertama kalinya ia memahami bahwa nama yang sering kusebut bukan sekadar nama dari masa lalu. Ale adalah saksi bahwa di tengah hidupku yang pernah hancur, masih ada seorang lelaki yang memandangku sebagai manusia.
Andi kemudian kirim email kepada seorang pimpinan perusahaan bernama Lina. Dari Lina, surat tersebut diteruskan kepada Pak Awi. Aku tidak memahami hubungan di antara orang-orang itu. Dunia mereka terlalu besar bagiku. Yang kutahu, Andi bekerja di bagian perdagangan LNG dan komoditas pada kantor Bu Aling di Jalan Kartini. Ia diterima setelah mengikuti seleksi di Singapura.
Beberapa hari kemudian, Andi meneleponku. Suaranya terdengar terburu-buru. “Ma.”
“Iya, Ndi?”
“Tadi Andi dipanggil pimpinan.”
Jantungku berdegup lebih cepat. “Lalu?”
“Beliau membawa Andi bertemu Pak Ale.”
Aku tidak langsung menjawab. Dunia di sekelilingku terasa berhenti bergerak. “Dia… sehat ?” tanyaku.
“Masih, Ma. Sehat.”
Aku menutup mulut dengan tangan. Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.
“Dia mengaku mengenal Mama,” lanjut Andi. “Pak Ale meminta Mama datang menemuinya di Burgundy, Grand Hyatt.”
Aku tidak tahu apakah aku sedang menangis atau tersenyum. Selama hampir empat puluh tahun, hidup telah mengajariku untuk menerima kehilangan tanpa penjelasan. Namun sore itu, sesuatu yang kukira telah hilang untuk selamanya tiba-tiba mengetuk kembali pintu hidupku. Ale masih hidup. Dan ia masih mengingatku.
Sore itu, menantuk perempuanku, Lisa menuntunku memasuki Burgundy. Kakiku tidak lagi sekuat dahulu. Setiap langkah harus kuatur dengan hati-hati. Akan tetapi, bukan usia yang membuat tubuhku gemetar. Kenanganlah yang menjadikan napasku terasa berat. Sebelum Andi sempat menunjukkan meja tempat mereka duduk, aku sudah melihatnya. Ale berdiri begitu melihatku.
Hampir empat puluh tahun memisahkan kami. Anak lelaki kurus yang dahulu berdagang kaki lima di pojok Jalan Pemuda kini berdiri dalam pakaian rapi di sebuah hotel mewah. Sebagian rambutnya telah memutih. Di wajahnya terdapat garis-garis umur dan perjalanan panjang yang tidak kuketahui. Namun ketenangan itu masih ada. Tatapan itu masih sama. Aku melepaskan tangan menantuku. Dengan langkah tertatih, aku berjalan mendekatinya.
“Ale?”
Ia tersenyum. Senyum yang sama seperti ketika ia menyuruhku pulang setelah menghadapi preman yang hendak menyeretku. “Iya, Mbak.” Hanya dua kata. Namun dua kata itu meruntuhkan seluruh jarak yang dibangun waktu. Tangannya menyambut tanganku. Lama sekali aku menggenggamnya. Aku meraba jemarinya seakan ingin memastikan bahwa lelaki di hadapanku bukan bayangan yang diciptakan kerinduan seorang perempuan tua.
“Kok kamu enggak berubah, Ale?” Suaraku pecah. Aku memeluknya. Air mataku tumpah di dadanya seperti air mata perempuan muda yang dahulu pulang dengan bibir lebam dan hidup yang tidak lagi mempunyai arah.
Tentu saja Ale telah berubah. Aku pun telah berubah. Tubuhku tidak lagi indah. Kulit putih yang dahulu membuat banyak lelaki menginginkanku kini telah keriput. Rambutku memutih dan kakiku tidak lagi sanggup berjalan jauh. Namun ada sesuatu dalam diri Ale yang tidak disentuh waktu, kebaikan yang tidak menuntut balasan. Dahulu, sifat itulah yang membuatnya berdiri menghadapi para preman demi melindungiku. Sifat itu pula yang membuatnya memberikan uang kepadaku tanpa meminta tubuhku sebagai pembayaran.
Usia kami terpaut 3 tahun. Namun di hadapannya, aku kembali menjadi Mbak Diah yang duduk di teras rumah—menunggu seorang anak SMA berjalan menuju masjid dan berharap doanya dapat mengubah nasibku.
“Nah, Ma,” kata Lisa menantuku sambil tersenyum. Matanya ikut berkaca-kaca. “Sekarang Mama sudah bertemu sahabat Mama. Ternyata beliau salah seorang pemilik kelompok usaha tempat Bang Andi bekerja.”
Aku memandang Andi, lalu kembali menatap menantuku. “Tahun 1985, Ale memberi Mama uang satu juta rupiah,” kataku kepada menantuku. “Pada masa itu, jumlahnya sangat besar.”
“ Jadi Pak Ale, dari muda udah kaya ya mah.” Kata menantuku. Aku mengangguk. Aku termenung. Aku masih mengingat malam itu. Di dalam mobil, aku menawarkan tubuhku kepadanya karena hanya itu yang kupikir masih kumiliki. Namun Ale menolak. Ia justru menyerahkan segepok uang kepadaku, lalu membiarkanku pergi dengan kehormatan yang selama bertahun-tahun dirampas orang lain.
“Mungkin Ale mengira uang itu akan Mama gunakan untuk bertahan hidup dengan buka usaha kecil kecilan” lanjutku.
Ale hanya tersenyum kecil. Seperti dahulu, ia memilih diam.
“Uang itu tidak Mama habiskan. Mama menjadikannya modal untuk berjualan gado-gado di depan rumah kontrakan dan terus berkembang jadi restoran.”
Pada awalnya, aku hanya mempunyai meja kayu, beberapa bangku, cobek batu, dan etalase kecil. Setiap hari aku pergi ke pasar sebelum matahari terbit. Aku membeli sayuran, merebusnya sendiri, lalu mengulek bumbu kacang sampai kedua tanganku pegal. Pelanggan tidak langsung datang. Kadang-kadang, sampai sore hanya beberapa piring yang terjual. Ada hari ketika aku harus memakan sendiri dagangan yang tersisa agar tidak terbuang. Namun setiap pagi aku kembali membuka warung. Sebab, untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang membayar sesuatu yang kubuat dengan tanganku—bukan sesuatu yang mereka ambil dari tubuhku.
Setiap lembar uang yang kuterima dari pembeli terasa berbeda. Uang itu tidak membawa rasa jijik. Tidak ada bau minuman keras, kamar hotel, ataupun tangan lelaki yang membeli hak untuk merendahkanku. Uang itu berbau sayuran rebus, arang, keringat, dan bumbu kacang. Anehnya, justru uang itulah yang terasa paling bersih.
Dari berjualan gado-gado, aku mulai menjual nasi rames. Kemudian aku dapat menyewa warung kecil. Di warung itulah aku bertemu dengan lelaki yang kelak menjadi ayah Andi. Ia tidak datang sebagai pahlawan. Aku sudah terlalu sering terluka oleh lelaki yang mengaku ingin menyelamatkanku. Ia datang sebagai pelanggan yang menyukai masakanku. Setelah itu, ia membantu mengangkat barang, menjaga warung, dan bekerja bersamaku.
Sedikit demi sedikit, kami membangun rumah makan. Dari hasil rumah makan itulah kami membesarkan dan menyekolahkan Andi sampai menjadi sarjana. Anak yang lahir dari kehidupanku yang baru itu akhirnya bekerja dalam kelompok usaha milik orang yang dahulu memberiku kesempatan untuk memulai hidup kembali.
Aku menggenggam tangan Ale semakin erat. “Begitulah cara Tuhan menyampaikan rasa terima kasih Mama kepada Ale,” kataku. Menantuku dan anakku Andi pergi ke table lain. Seakan memberi kesempatanku kangenan dengan Ale.
Ale menggeleng perlahan. “Mbak tidak berutang apa-apa kepada saya.”
“Bagi kamu mungkin tidak,” jawabku. “Karena memberi memang sudah menjadi sifatmu. Tetapi bagi orang yang menerima, pertolongan tidak pernah sesederhana itu.”
Aku memandang tangannya. Tangan itu kini mungkin terbiasa menandatangani kontrak bernilai jutaan dolar. Mungkin satu tanda tangannya dapat menggerakkan kapal, komoditas, dan perusahaan di berbagai negara. Namun bagiku, nilai tangan itu berasal dari satu malam pada tahun 1985—ketika ia memberiku satu juta rupiah tanpa berusaha menyentuh tubuhku.
“Kamu tidak sekadar memberi Mbak modal, Ale,” kataku. “Kamu mengembalikan sesuatu yang sudah lama dirampas dari Mbak.”
“Apa itu, Mbak?”
“Harga diri.”
Ale menunduk.
“Kamu mengajarkan bahwa masih ada kehormatan dan kemanusiaan, bahkan bagi perempuan seperti Mbak. Kamu membuat Mbak percaya bahwa hidup ini masih dapat dimulai kembali.”
Ale menarik napas panjang. Ketika mengangkat wajah, matanya telah basah. “Mbak juga menyelamatkan saya.”
Aku menatapnya tidak mengerti.
“Mbak yang menyadarkan saya untuk keluar dari bisnis yang mengharuskan saya menyuap pejabat dan memanjakan mereka dengan perempuan,” katanya. “Malam itu, Mbak membuat saya malu kepada diri sendiri. Kalau tidak bertemu Mbak, mungkin saya akan terus berjalan semakin jauh.”
Aku terdiam.
Selama hampir empat puluh tahun, aku merasa hanya menjadi orang yang menerima pertolongan. Aku tidak pernah menyangka bahwa perempuan sehancur diriku ternyata pernah menyelamatkan seseorang. Jadi begitulah Tuhan bekerja. Ia mempertemukan dua manusia yang sama-sama terluka, lalu membuat mereka saling menyelamatkan tanpa menyadarinya.
Untuk sesaat, di hadapanku bukan lagi seorang pengusaha besar. Aku kembali melihat anak lelaki dari Kaliawi—anak yang pandai berkelahi, tetapi selalu kalah menghadapi air mata seorang perempuan.
“Ale,” kataku, “dulu setiap kamu pergi ke masjid, Mbak selalu meminta kamu mendoakan Mbak.”
Ale mengangguk.
“Tapi kamu tidak pernah menjawab. Mbak sampai mengira kamu tidak pernah benar-benar mendoakan Mbak.”
Ia menatapku. Air mata menggenang di matanya. “Saya selalu mendoakan Mbak.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu. “Setiap kali ke masjid?”
“Iya, Mbak.”
“Bahkan setelah kita tidak pernah bertemu lagi?”
Ia tersenyum kecil. “Bahkan setelah itu.”
Aku kembali memeluknya. Ternyata selama aku merasa dibuang dunia, masih ada seseorang yang membawa namaku dalam doanya. Ketika aku berdiri di pinggir jalan menunggu lelaki yang akan membeli tubuhku, mungkin Ale sedang menyebut namaku di hadapan Tuhan. Ketika aku mengulek bumbu kacang sambil menahan lapar, mungkin doanya sedang menjagaku agar tidak menyerah.
Dan ketika aku membesarkan Andi, menyekolahkannya, lalu melihatnya menjadi seorang sarjana, mungkin itu bukan hanya hasil kerja kerasku. Mungkin di dalam semua itu terdapat doa seorang anak lelaki yang dahulu selalu menunduk setiap kali melewati teras rumahku.
Di balik jendela hotel, Jakarta terbentang sebagai kota yang pernah menelan sekaligus melahirkan kami. Kota itu pernah menjadikanku barang dagangan. Namun di kota yang sama, Tuhan mempertemukanku kembali dengan satu-satunya lelaki yang tidak pernah memandangku sebagai barang.
Satu juta rupiah itu telah lama habis menjadi sayuran, kacang tanah, beras, cobek, meja kayu, dan sewa warung. Namun kehormatan yang menyertai uang tersebut tidak pernah habis. Ia tumbuh menjadi rumah makan. Ia menjelma menjadi pendidikan seorang anak. Ia berubah menjadi masa depan sebuah keluarga. Dan puluhan tahun kemudian, anakku bekerja bersama orang yang telah menolong ibunya. Bukan untuk membayar utang, sebab kebaikan yang tulus tidak pernah menerbitkan tagihan. Tuhan hanya ingin memperlihatkan kepadaku bahwa tidak ada perbuatan baik yang benar-benar hilang.
Kebaikan mungkin tenggelam di dalam waktu, tetapi ia tidak pernah mati. Ia berjalan diam-diam melewati tahun-tahun yang panjang, berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain, lalu pulang melalui jalan yang tidak pernah dapat direncanakan manusia.
Dahulu, aku meminta seorang anak lelaki mendoakanku. Hampir empat puluh tahun kemudian, Tuhan mempertemukan kami kembali agar aku dapat melihat sendiri jawaban atas doa itu. Jawabannya bukan kekayaan. Bukan rumah makan. Bukan pula keberhasilan Andi. Jawaban sesungguhnya adalah kenyataan bahwa setelah semua yang pernah dilakukan dunia terhadapku, aku masih dapat duduk di sana sebagai seorang ibu, menatap anakku dengan bangga, dan memeluk seorang sahabat tanpa lagi merasa hina. Aku akhirnya diselamatkan. Bukan hanya dari kemiskinan, melainkan dari keyakinan bahwa hidupku tidak lagi pantas diperjuangkan.
Tahu Diri, Tahu Batas
Semua manusia lahir dalam keadaan telanjang. Tidak seorang pun keluar dari rahim ibunya dengan membawa rumah, kekayaan, gelar, ataupun jabatan. Kita datang hanya dengan tubuh yang rapuh, tangisan pertama, dan kehidupan yang belum ditulisi apa-apa. Setelah itulah dunia membagikan bekal yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh di dalam keluarga kaya dan terdidik. Sejak kecil, mereka mengenal buku, memperoleh pendidikan terbaik, dan mempunyai orang tua yang sanggup membukakan banyak pintu. Ketika gagal, selalu tersedia tempat untuk pulang dan kesempatan untuk mencoba kembali. Ada pula yang dilahirkan di rumah sempit. Mereka tumbuh tanpa jaminan pendidikan, tanpa modal, dan tanpa orang tua yang memiliki hubungan untuk membukakan jalan. Bahkan sebelum sempat memikirkan cita-cita, mereka sudah harus belajar mempertahankan hidup.
Lingkungan keluarga memang sangat memengaruhi masa depan seseorang. Namun pengaruh bukanlah keputusan terakhir. Banyak anak yang lahir dalam kemiskinan berhasil mengubah kehidupannya. Sebaliknya, tidak sedikit anak dari keluarga kaya yang kehilangan arah, menyia-nyiakan kesempatan, lalu gagal menjaga segala sesuatu yang diwarisinya. Perbedaannya bukan karena rintangan mereka sama. Jalan orang kaya dan terdidik biasanya lebih lapang. Mereka mempunyai pengetahuan, modal, jaringan, dan perlindungan ketika terjatuh. Sebuah batu kecil bagi mereka mungkin merupakan dinding yang sangat tinggi bagi orang miskin dan kurang terdidik.
Karena itu, manusia tidak dapat dinilai hanya dari seberapa jauh ia telah berjalan. Kita juga harus melihat dari mana ia memulai, seberapa berat beban yang dipikulnya, dan berapa kali ia harus bangkit setelah dijatuhkan kehidupan.
Lantas, apakah bekal terbesar manusia? Bukan kekayaan. Bukan pula kepintaran. Bekal terbesar itu adalah kesadaran akan nilai. Kesadaran akan nilai membentuk sikap manusia ketika menghadapi kehidupan yang tidak selalu ramah. Ia menentukan apakah penderitaan akan membuat seseorang lebih kuat atau justru lebih kejam. Ia juga menentukan apakah kekayaan akan menjadikannya lebih bermanfaat atau semakin rakus.
Tanpa nilai, kepintaran hanya membantu manusia menemukan cara yang lebih canggih untuk menipu. Kekuasaan hanya memberinya kesempatan lebih luas untuk menindas. Kekayaan pun tidak membuatnya merasa cukup, tetapi justru memperbesar rasa lapar yang tidak berkesudahan. Sebaliknya, orang yang memiliki kesadaran dapat menjadikan penderitaan sebagai sekolah dan keberhasilan sebagai ujian kerendahan hati.
Banyak orang terlihat baik-baik saja hanya karena kehidupannya belum pernah diguncang. Mereka tampak kuat selama segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya. Namun ketika badai datang, mereka mudah terjatuh. Sebagian terus tenggelam karena tidak pernah belajar berdiri tanpa kenyamanan. Ada pula orang yang kehidupannya tampak tidak baik-baik saja. Jalannya berliku, tubuhnya penuh luka, dan masa lalunya menyimpan kisah yang ingin dilupakannya. Namun di dalam dirinya hidup daya tahan yang membuatnya terus bertumbuh. Ia tidak menyangkal luka, tetapi tidak pula menjadikan luka sebagai alasan untuk menyerah. Itulah resiliensi.
Resiliensi bukan kehidupan tanpa air mata, melainkan kemampuan untuk tetap bertumbuh setelah menangis. Bukan keberanian untuk tidak pernah jatuh, melainkan kesediaan untuk kembali berdiri tanpa kehilangan hati nurani. Dari sinilah kita memahami bahwa kemiskinan bukanlah keputusan terakhir Tuhan atas kehidupan seseorang. Kemiskinan harta dan keterbatasan pengetahuan memang dapat diwariskan oleh keadaan. Namun manusia tidak harus menerima warisan itu sebagai batas masa depannya.
Takdir manusia yang paling mendasar adalah dilahirkan dengan misi ketuhanan, menggunakan akal, menjaga nurani, mengembangkan kehidupan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Kita beriman kepada Tuhan, tetapi kita juga harus memahami sunatullah. Benih tidak menjadi pohon tanpa tumbuh. Ilmu tidak datang tanpa belajar. Kemampuan tidak berkembang tanpa latihan. Masa depan pun tidak berubah hanya dengan menunggu. Tidak ada keberhasilan tanpa ikhtiar. Tidak ada kematangan tanpa proses. Tidak ada kebangkitan tanpa keberanian menghadapi rasa sakit.
Pada akhirnya, cara seseorang menjalani kehidupan sangat dipengaruhi oleh sikap mentalnya. Ia harus memilih, menjadi nakhoda bagi jiwanya atau menjadi budak bagi ketakutan dan hawa nafsunya.
Ale dan Diah memulai kehidupan dari tempat yang sama-sama sulit, tetapi menempuh jalan yang berbeda. Ale lahir dalam kemiskinan. Sepulang sekolah, ia harus berdagang kaki lima. Pada usia ketika anak-anak lain masih bebas bermain dan bermimpi, ia sudah belajar menghadapi kerasnya kehidupan. Kemiskinan dapat saja membuatnya marah kepada dunia. Ia bisa menggunakan kekurangan sebagai alasan untuk membenci orang-orang yang lebih beruntung. Namun Ale memilih bekerja, belajar, mendengar, dan memperluas pikirannya.
Pilihan itu tidak serta-merta membuat perjalanannya lurus. Ketika bisnis membawanya mendekati kekuasaan, ia sempat tergoda oleh jalan pintas. Ia menyuap pejabat dan memperalat perempuan untuk memperoleh kontrak. Keuntungan membuatnya hampir lupa bahwa tidak semua yang menghasilkan uang pantas dilakukan. Namun kesadarannya belum mati. Ketika Diah menegurnya, Ale masih mampu mendengar. Ia tidak mempertahankan kesalahan hanya demi gengsi. Ia tidak membungkus perbuatan buruk dengan alasan bahwa semua pengusaha melakukan hal yang sama. Ia berani berpindah haluan setelah menyadari bahwa keuntungan tersebut perlahan menjauhkannya dari Tuhan dan dari dirinya sendiri.
Diah menempuh jalan yang lebih menyakitkan. Ia dikhianati suaminya, diperdagangkan, dipukul, diperalat, kemudian dibuang oleh orang-orang yang pernah menjanjikan perlindungan. Kehidupan berkali-kali merampas tubuh dan harga dirinya. Ia dapat saja menyerah dan menerima bahwa dirinya hanya sebuah barang dagangan. Namun di balik seluruh luka itu masih hidup suatu keinginan kecil untuk kembali menjadi manusia yang menentukan nasibnya sendiri.
Ketika Ale memberinya uang, Diah tidak menghabiskannya untuk melupakan penderitaan sesaat. Ia membeli sayuran, kacang tanah, beras, cobek, dan sebuah meja sederhana. Dari benda-benda kecil itulah ia mulai membangun kembali martabat yang pernah dihancurkan orang lain. Setiap piring gado-gado yang terjual menjadi pembuktian bahwa tubuhnya bukan satu-satunya yang dapat menghasilkan uang. Tangannya dapat memasak. Pikirannya dapat mengatur usaha. Ketekunannya dapat membangun masa depan. Sedikit demi sedikit, warung itu berkembang menjadi rumah makan. Dari rumah makan itulah Diah membesarkan dan menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana.
Ale menolong Diah dengan pemberian. Diah menolong Ale dengan nasihat. Ale memberi Diah kesempatan untuk membangun kehidupan baru. Diah mengingatkan Ale agar meninggalkan bisnis yang mengharuskannya menyuap pejabat dan memperalat perempuan. Yang satu menyelamatkan masa depan. Yang lain menyelamatkan hati nurani. Mereka tidak sempurna. Mereka pernah terluka, keliru, dan tersesat. Namun keduanya mempunyai sesuatu yang lebih penting daripada kesempurnaan, kesadaran untuk menerima kebaikan dan keberanian untuk berubah.
Kesadaran akan nilai terlihat dalam sikap seseorang. Ia tidak mudah berputus asa. Ia gemar belajar, bersedia mendengar, dan tidak merasa dirinya selalu benar. Ia memahami bahwa kehidupan tidak hanya diatur oleh untung dan rugi, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual yang menjaga manusia agar tidak kehilangan dirinya sendiri. Kesadaran juga membuat seseorang mudah diperingatkan. Ketika keliru, ia tidak sibuk membela kesalahannya. Ketika tersesat, ia tidak malu mencari jalan pulang. Ia memahami bahwa berpindah dari jalan yang salah menuju kebenaran bukanlah kekalahan. Itulah keberanian terbesar dalam kehidupan.
Tidak semua orang mempunyai kekuatan semacam itu. Banyak manusia lebih rela kehilangan masa depan daripada melepaskan harga diri palsu. Mereka terus berjalan ke arah yang salah karena merasa telah terlalu jauh untuk kembali. Padahal, sejauh apa pun seseorang tersesat, selama hatinya masih dapat disentuh, jalan pulang belum tertutup. Jalan Tuhan sering kali ditemukan melalui kesediaan memberi atas dasar cinta. Pemberian itu tidak selalu berupa uang. Ia dapat hadir sebagai pertolongan, kesempatan, penghormatan, nasihat, atau doa yang diam-diam dipanjatkan untuk seseorang.
Ale memberi uang kepada Diah, tetapi sesungguhnya ia sedang memberikan kepercayaan bahwa kehidupan masih dapat dimulai kembali. Diah memberi nasihat kepada Ale, tetapi sesungguhnya ia sedang mengembalikan arah hidup yang hampir hilang. Kebaikan bekerja dengan cara yang tidak selalu terlihat. Kadang-kadang, orang yang kita tolong hari ini akan menyelamatkan kita pada hari yang lain. Kadang-kadang pula, pemberian kecil yang telah kita lupakan tumbuh diam-diam menjadi masa depan sebuah keluarga.
Jalan Tuhan juga ditemukan ketika manusia bersabar dalam kesulitan dan bersyukur dalam kelapangan. Bersyukur bukan sekadar mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Bersyukur berarti tetap rendah hati ketika berhasil, tahu diri ketika berkuasa, dan tahu batas ketika mempunyai kesempatan untuk mengambil lebih banyak.
Orang yang miskin harta belum tentu miskin jiwa. Orang yang kaya harta pun belum tentu telah menemukan kelimpahan. Kemiskinan jiwa dimulai ketika manusia kehilangan harapan, menolak belajar, tidak mau mendengar, dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Sebaliknya, kekayaan batin tumbuh ketika seseorang mampu berkata cukup, tetap memberi ketika memiliki, dan tidak kehilangan iman ketika kehidupan mengambil sesuatu darinya.
Tuhan tidak selalu menunjukkan jalan terbaik dalam bentuk jalan yang paling mudah. Kadang-kadang jalan itu mendaki, berliku, dan dipenuhi luka. Ada saatnya manusia harus kehilangan sesuatu agar dapat melihat dirinya dengan lebih jernih. Ada pula saatnya ia harus tersesat terlebih dahulu untuk memahami arti pulang. Namun jalan Tuhan selalu mengarah kepada perbaikan. Ia membuat manusia semakin sadar, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesamanya.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat menjadi kaya, paling tinggi kedudukannya, atau paling banyak memiliki. Kehidupan adalah perjalanan menemukan nilai yang membuat semua pencapaian itu pantas dimiliki. Ale menemukannya ketika ia berani memberi. Diah menemukannya ketika ia berani bangkit. Keduanya menemukannya ketika bersedia saling mengingatkan.
Manusia mungkin dilahirkan tanpa membawa apa-apa. Namun ia tidak harus kembali kepada Tuhan dalam keadaan yang sama. Ia dapat pulang membawa kesabaran yang ditempa penderitaan, kerendahan hati yang lahir dari keberhasilan, serta kebaikan yang pernah ditanamnya di dalam kehidupan orang lain. Itulah kekayaan yang tidak dapat dirampas oleh keadaan. Itulah keberhasilan yang tidak dapat dihitung dengan uang. Itulah jalan yang tercerahkan. Jalan seorang manusia yang telah menjadi nakhoda bagi jiwanya sendiri—dan memilih mengarahkannya menuju Tuhan…

Tinggalkan komentar