Ini soal pilihan, soal sikap…

Tahun 2011, ketika business trip ke Zürich, saya sempatkan mampir ke Amsterdam. Kebetulan Anneke sedang berada di Swiss. Dia menawarkan diri mengantar saya. Sekalian pulang ke rumah orang tuanya. Kami mengendarai BMW miliknya. Anneke yang menyetir. Saya duduk manis di sebelahnya.

“Mau ngapain weekend ke Amsterdam?” tanyanya sambil tersenyum. “Kamu kan bukan tipe pria yang doyan belanja seks.”

Saya menoleh ke luar jendela. “Saya mau ke kawasan Lange Leidsedwarsstraat.”

Anneke mengerutkan kening. “Di sana banyak restoran Italia enak. Nanti aku traktir.”

Saya tersenyum. “Boleh.”

“Di Amsterdam enggak berlaku AMEX Centurion Card kamu.” Dia mengatakannya cepat. Seolah ingin menegaskan bahwa kali ini saya adalah tamunya. Amsterdam adalah kota kelahirannya.

Menjelang pukul empat sore kami sampai. “Kita langsung ke Lange Leidsedwarsstraat, ya,” kata saya.

Anneke melirik. “Ada apa sih? Dari tadi pengin banget ke sana. Kamu punya kenangan dengan nona Belanda?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Nanti saya ceritakan.”

“Okay. Aku selalu senang dengar kamu bercerita.”

Kami menyusuri kawasan tua itu. Saya lama termenung menatap dari jendela kendaraan.

“Dulu kawasan ini elite,” kata Anneke. “Sekarang menjadi bagian kota lama. Tapi tetap dijaga.” Dia memarkir kendaraan. Kami berjalan menuju sebuah restoran. Udara November mulai dingin. Saya memesan kopi. Anneke duduk di hadapan saya. “Sekarang ceritalah,” katanya.

“Dulu, pada masa kolonial Belanda,” kata saya membuka cerita, “di kawasan sekitar sini ada tempat-tempat berkumpul pemuda Eropa beraliran sosialis. Mereka berdiskusi tentang banyak hal. Kapitalisme. Kolonialisme. Keadilan sosial. Negara. Kebebasan.”

Anneke mengangguk.

“Di antara mereka ada mahasiswa Indonesia. Hatta, Sjahrir, dan banyak anak muda lain yang kemudian ikut membentuk sejarah negeri kami.”

Saya menyeruput kopi. “Saya ingin cerita tentang Sjahrir.”

“Mengapa dia?”

“Karena kami sama-sama orang Minang.”

“Oh.”

“Dan karena kisah hidupnya bukan hanya tentang politik.”

“Lalu?”

“Tentang cinta dan kenyataan.”

Anneke tersenyum. “Sekarang aku tertarik.”

Sjahrir lahir pada 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Dia berasal dari keluarga yang memiliki akses kepada pendidikan. Ayahnya jaksa di Medan. Pada masa kolonial, kesempatan seperti itu hampir mustahil diperoleh kebanyakan pribumi. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di Bandung, Sjahrir melanjutkan studi ke Belanda. Di sana dia bergaul dengan kaum intelektual, aktivis buruh, sosialis, dan kaum demokrat Eropa.

“Dia menjadi komunis?” tanya Anneke.

“Tidak.”

“Sosialis?”

“Ya. Tapi jangan buru-buru memasukkan manusia ke dalam kotak.”

Anneke tersenyum. “Kamu memang paling benci kotak.”

Saya tertawa. “Karena manusia selalu lebih rumit daripada ideologi.” Kata saya, kemudian lanjutkan cerita. “ Di Belanda, Sjahrir bersahabat dengan Salomon Tas, seorang aktivis sosialis Yahudi. Ketika tidak memiliki tempat tinggal, dia sempat tinggal bersama keluarga Tas. Di rumah itu tinggal Maria Johanna Duchateau, istri Tas, dua anak mereka, dan seorang sahabat Maria bernama Judith van Wamel. Rumah itu sudah sesak. Tetapi persahabatan membuat orang selalu bisa menyediakan sedikit ruang.

Anneke tersenyum. “Lalu?”

“Kamu tahu sendiri. Cinta tidak pernah bertanya apakah rumah sedang sesak.”

Anneke tertawa. “Teruskan.”

Sjahrir diam-diam jatuh cinta kepada Maria. Tetapi dia menjaga sikap. Dia tahu diri. Menumpang di rumah sahabatnya. Sebagai orang Minang, dia dibesarkan dengan satu nilai sederhana: jangan membuat malu diri sendiri di rumah orang. Tas sering tidak berada di rumah karena kesibukannya sebagai aktivis. Maria kesepian. Sjahrir menjadi teman bicara. Mereka menyukai teater. Kadang pergi bersama ke Stadsschouwburg. Lambat laun, hubungan mereka menjadi cinta.

“Dan Tas?”

“Akhirnya tahu.”

“Marah?”

“Tidak seperti dalam sinetron.” Saya tersenyum. “Tas merelakan Maria. Lagi pula, dia sendiri ternyata jatuh cinta kepada Judith.”

Anneke tertawa. “Rumit sekali.”

“Cinta selalu sederhana ketika terjadi kepada orang lain.”

Anneke berhenti tertawa. “Dan sangat rumit ketika terjadi kepada diri sendiri?”

Saya mengangguk. Saya melanjutkan cerita. Pada akhir 1931, Hatta meminta Sjahrir pulang ke Hindia Belanda. Hatta belum selesai dengan studinya. Dia membutuhkan Sjahrir membantu gerakan politik di tanah air. Sjahrir mengajak Maria ikut. Tetapi Maria belum bisa berangkat. Urusan perceraiannya belum selesai. Empat bulan kemudian, Maria menyusul ke Hindia Belanda. Mereka menikah secara Islam di Medan pada 10 April 1932.

“Romantis,” kata Anneke.

“Belum selesai.” Kata saya. Lanjut cerita. Masyarakat kolonial tidak menerimanya. Seorang wanita Belanda menikah dengan pria pribumi dianggap sesuatu yang memalukan. Maria mengenakan kebaya. Memakai kain. Menikah secara Islam. Tetapi bagi masyarakat kolonial, Sjahrir tetap seorang inlander. Pribumi. Kelas dua. Berita pernikahan mereka menjadi perhatian. Polisi melakukan pemeriksaan dan menemukan bahwa secara administratif perceraian Maria belum selesai. Pernikahan itu dianggap tidak sah. Maria dipulangkan ke Belanda. Saat itu dia sedang hamil.

Saya berhenti.

Anneke menatap saya. “Bayinya?”

“Meninggal ketika dilahirkan.”

Anneke terdiam.

Lanjut cerita. Sjahrir ingin kembali ke Belanda. Dia rindu kepada Maria. Tetapi sebelum sempat berangkat, dia ditangkap pemerintah kolonial. Dia dibuang. Boven Digul. Kemudian Banda Neira. Masa depannya hilang begitu saja. Maria ingin datang. Tetapi tidak punya cukup uang. Sjahrir meminta keluarganya membantu. Sampai tahun 1940, ratusan surat dikirimnya kepada Maria. Sebagian surat itu kemudian diterbitkan dalam buku Indonesische Overpeinzingen. Di dalam salah satu surat itu, Sjahrir mengungkapkan sesuatu yang sangat manusiawi. Bahwa apa yang tidak ditemukannya dalam studi dan filsafat, dia temukan pada Maria.

Anneke menatap saya lama. “Jadi dia tetap mencintainya?”

“Ya.”

“Berapa lama mereka tidak bertemu?”

“Hampir lima belas tahun.” Jawab saya. “ Mereka akhirnya bertemu kembali pada 1947 di New Delhi. Ketika itu Sjahrir bukan lagi mahasiswa miskin. Dia telah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia yang baru lahir. Pertemuan mereka dibantu oleh Jawaharlal Nehru. Maria datang dari Belanda. Di bandara, Sjahrir memeluknya. Tetapi tidak seperti dalam mimpi. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada pelukan panjang. Hanya kecanggungan. Dua manusia yang pernah saling mencintai ternyata telah hidup terlalu lama di dunia yang berbeda.

“Waktu mengubah perasaan,” kata Anneke.

“Kadang bukan waktu.”

“Lalu?”

“Realitas.” Jawabku. “ Maria seorang komunis. Sjahrir seorang sosialis demokrat.”

“Tapi bukankah keduanya hampir sama?” tanya Anneke.

“Tidak.” Saya menggeleng. “Di meja kopi mungkin terlihat sama. Tetapi ketika masuk ke soal kekuasaan, kebebasan individu, dan cara negara memperlakukan manusia, perbedaannya bisa sangat jauh. Waktu memaksa Sjahrir memilih. Hubungan mereka berakhir. Pada Agustus 1948, mereka bercerai. Tetapi persahabatan tetap ada. Maria kemudian menikah dengan Sutan Sjahsam, adik Sjahrir. Sjahrir sendiri menikah dengan Poppy, sekretarisnya. Mereka menjalani hidup masing-masing.

“Happy ending?” tanya Anneke.

“Tidak semua kehidupan perlu disebut happy atau sad ending.”

“Lalu?”

“Kadang manusia hanya harus berdamai dengan jalan hidupnya.”

Anneke bersandar.“Sekarang aku mengerti mengapa kamu datang ke sini.”

Saya tersenyum. Dia kemudian bertanya sesuatu yang tidak saya duga. “Kalau begitu, apa orientasi politik kamu?”

Saya menatapnya.

“Sosialis?” Kejarnya.

Saya diam.

“Kapitalis?”

Saya masih diam.

“Atau agama?”

Saya tertawa kecil. “Anneke, perjalanan hidup mengajarkan saya satu hal.”

“Apa?”

“Jangan biarkan hidup kita dikuasai narasi ideologi dan agama.”

Wajahnya berubah. “Keras sekali.”

“Karena kalau manusia berhenti berpikir dan hanya hidup dari narasi, dia mudah menjadi korban predator.”

“Jelaskan.”

Saya menyeruput kopi. “Kita punya konstitusi yang bicara tentang keadilan sosial. Hampir semua ideologi menjanjikan itu. Hampir semua agama mengajarkan itu.”

Anneke mengangguk.

“Tapi lihat kenyataannya.” Saya menatap jalan di luar restoran. “Negeri kami kaya sumber daya alam. Penduduk besar. Tetapi ketimpangan tinggi. Kekayaan terkonsentrasi. Banyak rakyat sulit mendapatkan pendidikan bermutu, kesehatan, modal, dan kesempatan.”

Saya menatap Anneke.

“Kalau sebuah ideologi hanya indah dalam pidato tetapi tidak mengubah struktur kesempatan, apa gunanya?”

“Jadi ideologi tidak penting?”

“Penting.”

Saya segera menjawab. “Tapi bukan yang paling substansial.”

“Lalu apa?”

“Mindset manusia.”

Saya mengangkat satu jari. “Pertama, rasa malu.”

“Malu?”

“Malu kaya dengan cara tidak jujur. Malu korupsi. Malu hidup dari kekuasaan tanpa kompetensi. Malu terus meminta.”

Jari kedua. “Mandiri.”

“Dalam arti ekonomi?”

“Dalam arti luas.” Saya tersenyum. “Kalau seseorang punya kompetensi, dia tidak memelas pekerjaan. Dunia membutuhkan dia.”

Anneke diam.

“Kalau seseorang kreatif, dia selalu mencari jalan hidup. Besar kecil hasilnya relatif. Tapi dia tidak menyerahkan nasib kepada slogan.”

Saya melanjutkan. “Sjahrir pernah menulis bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan.”

Anneke memandang saya. “Jadi menurut kamu bangsa besar dibangun oleh orang-orang mandiri?”

“Ya.”

“Bukan oleh ideologi?”

“Ideologi bisa membantu.”

“Agama?”

“Bisa membantu.”

“Negara?”

“Bisa membantu.”

Saya tersenyum. “Tapi tidak ada sistem yang mampu menyelamatkan manusia yang menolak berpikir.”

Anneke memutar cangkir kopinya. “Kalau begitu, mengapa negara bisa gagal?”

Saya diam sesaat. “Karena negara juga bisa kehilangan kemampuan berpikir.”

“Maksudnya?”

“Negara bisa mabuk oleh narasi seperti manusia.”

“Contohnya?”

Saya mengambil pulpen. Di atas tisu restoran saya menulis satu kata: Argentina.

Anneke mengangkat alis. “Kenapa Argentina?”

“Karena itu contoh negara yang terlalu lama percaya kepada cerita yang dibuatnya sendiri.”

“ Pada 1991, “ Kata saya. “ Argentina membuat sistem convertibility. Satu peso dijaga setara dengan satu dolar Amerika Serikat. Tujuannya berhasil pada awalnya. Inflasi yang sebelumnya menghancurkan ekonomi berhasil ditekan. Kepercayaan kembali. Modal asing masuk.”

“Bukankah itu bagus?” tanya Anneke.

“Sangat bagus.”

“Lalu salahnya di mana?”

“Tidak semua kebijakan yang berhasil pada awalnya akan tetap benar selamanya.”

Saya menulis: 1 peso = US$1 “Angka ini memberi rasa aman.”

Anneke mengangguk.

“Tapi pertanyaan seorang ekonom bukan hanya apakah kurs stabil.”

“Lalu?”

“Dari mana dolar datang?”

“Ekspor.”

“Kalau ekspor tidak cukup?”

“Investasi.”

“Kalau tidak cukup?”

Anneke berhenti.

Saya tersenyum. “Utang.”

Saya menulis:

“Masalah Argentina bukan sekadar utangnya,” kata saya.

“Lalu?”

“Ketergantungan.”

Saya menunjuk tulisan itu. “Negara boleh berutang. Perusahaan boleh berutang. Saya juga berutang dalam bisnis.”

Anneke tertawa.

“Kamu?”

“Tentu.”

“Padahal uang kamu banyak.”

“Justru orang punya uang harus tahu cara menggunakan utang.”

“Bedanya?”

Saya menulis:

“Yang pertama membangun jalan keluar.”

“Yang kedua?”

“Menjual masa depan untuk membayar hari ini.”

Anneke menatap tisu itu. “Pelajaran untuk Indonesia?”

“Jangan bertanya apakah utang besar atau kecil.”

“Lalu?”

“Tanyakan utang itu menciptakan apa.” Saya menatapnya. “Kalau utang membangun pabrik, pelabuhan, teknologi, energi, atau jaringan produksi yang menghasilkan cash flow dan devisa, masih ada logikanya.”

“Kalau tidak?”

“Kalau hanya membiayai konsumsi, proyek simbolik, dan kewajiban lama…”

Saya berhenti sejenak.

“Negara sedang mempersempit jalan keluar. Itulah salah satu pelajaran penting dari krisis Argentina. Dalam evaluasinya terhadap krisis tersebut, IMF kemudian mengakui bahwa masalah yang semula diperlakukan sebagai kekurangan likuiditas telah berkembang menjadi persoalan solvabilitas dan struktur ekonomi.” Lanjut saya.

“Lalu apa kesalahan kedua Argentina?” tanya Anneke.

“Currency mismatch.”

Saya menulis: Pendapatan = peso. Utang = dolar

Anneke langsung mengerti. “Kalau peso jatuh…”

“Utang melonjak dalam mata uang domestik.”

“Padahal nilai dolarnya tetap.”

“Ya.”

Saya tersenyum. “Itulah sebabnya saya tidak pernah membaca utang hanya dari angka total.”

“Lalu apa yang kamu baca?”

“Currency composition. Tenor. Bunga. Siapa kreditor. Dari mana cash flow pembayaran.”

Anneke tersenyum dan berkata  “Dalam literatur akademis, itu disebut original sin. Negara berkembang sering sulit membiayai dirinya di pasar internasional dengan mata uang sendiri.” Anneke mengangguk. “Jadi masalahnya bukan hanya punya utang.”

“Benar.” Jawab saya cepat.

“Masalahnya punya kewajiban dalam mata uang yang tidak bisa diciptakan sendiri.”

Saya tersenyum. “Sekarang kamu mulai paham jalan pikiran saya secara personal.”

“Aku kan sudah lama bekerja dengan kamu, yang membantumu memberikan advice hukum. Semua aspek personal kamu aku pelajari diam diam.”

“Ya kamu asset saya, alat leverage saya untuk income dimasa depan.”

Anneke tertawa.

“Indonesia berbeda dengan Argentina,” kata Anneke melanjutkan pembicaraan.

“Tentu.”

“Rupiah tidak dipatok satu banding satu terhadap dolar.”

“Benar.”

“Jadi  aman.”

Saya tertawa. “Ada penyakit yang sama di banyak negara berkembang.”

“Apa?”

“Begitu tahu dirinya berbeda dari negara yang bangkrut, langsung merasa aman.”

Anneke ikut tertawa.

Saya melanjutkan. “Indonesia tidak harus menjadi persis seperti Argentina untuk mengalami logika krisis yang sama.”

“Apa logikanya?”

Saya menghitung dengan jari. “Kalau kewajiban tumbuh lebih cepat daripada kemampuan menghasilkan pendapatan.”

Jari kedua. “Kalau kebutuhan dolar tumbuh lebih cepat daripada kemampuan sektor produktif menghasilkan dolar.”

Jari ketiga. “Kalau utang baru semakin banyak dipakai membayar utang lama.”

Jari keempat. “Kalau aset produktif dijual untuk menutup kebutuhan rutin.”

Jari kelima. “Kalau akhirnya rakyat yang tidak pernah menikmati pesta diminta membayar tagihan.”

Saya berhenti.

“Jalan ke sana bisa berbeda. Tetapi akhirnya sama.” Lanjut saya.

Anneke terdiam.

“Argentina juga melakukan privatisasi besar-besaran.” Katanya kemudian.

“Ya.”

“Bukankah itu menghasilkan dolar?”

“Ya. Menghasilkan.”

“Lalu mengapa tidak menyelamatkan mereka?”

Saya tersenyum. “Karena orang bodoh menghitung transaksi hanya pada hari deal ditandatangani.”

“Dan orang pintar?”

“Menghitung sepanjang umur transaksi.”

Saya menulis:

Anneke melihat tisu itu. “Sekali aset atau saham BUMN di lepas lewat IPO ..setelah itu capital outflow terus terjadi lewat deviden..

“Ya. Sekarang kamu mengerti.”

Anneke mengangguk. ” Joseph Halevi dalam analisisnya tentang krisis Argentina menekankan bahwa arus modal masuk tidak boleh dilihat terpisah dari kewajiban pembayaran bunga, dividen, dan keuntungan ke luar negeri. Sebuah negara bisa menerima dolar besar hari ini, tetapi menciptakan kewajiban devisa yang jauh lebih panjang pada masa depan. ” Katanya. “Jadi kamu anti investasi asing?” Tanyanya.

Saya tertawa. “Jangan jadi nasionalis bodoh.”

Anneke ikut tertawa.

“Negara berkembang butuh modal. Butuh teknologi. Butuh pasar.” Kata saya.

“Lalu?”

“Yang penting bukan asing atau domestik.” Kemudian saya menatapnya. “Yang penting struktur kontraknya.”

Saya menulis dua skema.

“Keduanya disebut investasi,” kata saya.

“Tapi dampaknya terhadap neraca pembayaran berbeda.” Anneke mengagguk.

“Jauh berbeda.” Saya bersandar. “Makanya saya tidak pernah terlalu terpesona dengan angka investasi.”

“Kenapa?”

“Karena yang saya lihat bukan berapa dolar masuk ketika pabrik dibangun.”

“Lalu?”

“Berapa dolar bersih yang dihasilkan negara setelah impor bahan baku, pembayaran utang, royalti, dan dividen.”

Anneke tersenyum. “Kamu selalu melihat cash flow.”

“Karena dunia nyata dibayar dengan cash flow. Bukan pidato.”

“Pelajaran berikutnya?” tanyanya.

“Jangan tertipu oleh cadangan devisa.”

Anneke langsung memprotes. “Cadangan devisa penting.”

“Sangat penting.”

“Lalu?”

“Cadangan devisa bukan pajangan.”

Saya menulis:

“Negara tidak harus menunggu cadangan devisanya nol untuk masuk krisis.”

“Lalu kapan?”

“Ketika pasar percaya kebutuhan dolar di masa depan lebih besar daripada kemampuan negara menyediakannya tanpa menghancurkan ekonomi.”

Anneke terdiam. “Jadi negara kaya devisa belum tentu berdaulat secara devisa.”

Saya tersenyum. “Itu kalimat bagus.”

“Lalu apa arti kedaulatan devisa?”

“Bukan berapa dolar yang kamu simpan hari ini.” Saya menatapnya. “Berapa dolar yang bisa terus kamu hasilkan besok tanpa menjual masa depan.”

Malam mulai turun di Amsterdam. Lampu-lampu kota menyala. Anneke memesan kopi kedua. “Kalau negara menghadapi masalah utang, bukankah solusinya austerity?”

“Kadang.”

“Kadang?”

“Pisau bedah berguna.” Saya tersenyum. “Tapi jangan gunakan pisau sebelum tahu penyakit pasien.”

Saya menulis:

Anneke melihatnya. “Bisa begitu?”

“Bisa. Krisis Argentina memperlihatkan bagaimana kontraksi fiskal dalam ekonomi yang sudah melemah dapat memperburuk basis pendapatan negara. Halevi menyebut proses itu sebagai hyperdeflation, bukan sekadar harga turun, tetapi pendapatan, produksi, permintaan, dan kemampuan membayar utang ikut runtuh.”

“Jadi penghematan bisa memperburuk utang?” Anneke mengerutkan kening.

“Dalam kondisi tertentu.”

“Lalu apa yang dipotong?”

“Belanja yang tidak menambah kemampuan ekonomi.”

“Contohnya?”

“Proyek tanpa cash flow. Program simbolik. Subsidi salah sasaran. Birokrasi yang hanya hidup untuk dirinya sendiri.”

“Dan yang tidak boleh dipotong?”

“Pendidikan. Kesehatan dasar. Infrastruktur produktif. Riset. Teknologi.”

Anneke mengangguk. “Karena itu menciptakan pendapatan masa depan.”

“Benar.”

“Jadi disiplin fiskal tidak berarti sekadar defisit kecil?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Belanja yang menghasilkan nilai lebih besar daripada biaya modalnya.”

Anneke menatap saya. “Itu seperti perusahaan.”

“Negara memang bukan perusahaan.” Saya tersenyum. “Tapi negara yang mengabaikan cash flow akhirnya akan bertemu kreditur.”

Kami terdiam. Orang-orang berlalu-lalang di luar restoran.

“Pelajaran terakhir dari Argentina?” tanya Anneke.

“Jangan biarkan negara bergantung kepada mood investor.”

Anneke tertawa. “Kamu hidup dari mood investor.”

“Makanya saya tahu bahayanya.”

Saya menulis di atas tisu: Capital inflow bukan hak. Ia tamu.

“Dia datang.” Saya membuat tanda panah masuk. “Dia pergi.”

Saya membuat tanda panah keluar. “Kalau seluruh stabilitas ekonomi bergantung kepada dia tetap tinggal, negara sudah kehilangan sebagian kedaulatannya.”

Anneke menatap saya. “Karena dana domestik sendiri tidak cukup kuat?”

“Bukan tidak ada,” jawab saya. “Ada dana pensiun, asuransi, tabungan jangka panjang, dan likuiditas perbankan. Tetapi kalau terlalu banyak terserap untuk membiayai surat utang negara, terjadilah crowding out. Dana yang seharusnya menjadi modal jangka panjang bagi sektor produktif justru terkunci di instrumen pemerintah.”

Anneke mengangguk pelan. “Lalu ketika investor asing pergi, pemerintah berharap bank sentral membeli surat utang?”

Saya tertawa. “Nah. Sekarang kamu benar-benar mengerti saya.”

“Jadi masalahnya bukan hanya capital outflow?”

“Bukan.” Saya menatapnya. “Masalah yang lebih dalam adalah ketika negara terlalu bergantung kepada tamu, sementara uang milik keluarganya sendiri sudah habis dipakai membiayai rumah.”

Anneke tersenyum. “Dan ketika kas mulai kosong, bank sentral disuruh menjadi anggota keluarga terakhir yang membayar semua tagihan.”

Saya tertawa lagi. “Sekarang kamu mulai berbahaya.”

Kami meninggalkan restoran ketika malam sudah turun. Dalam perjalanan menuju hotel, Anneke masih diam. Kemudian dia bertanya. “Jadi apa pelajaran terbesar dari Argentina untuk Indonesia?”

Saya memandang lampu kota dari balik jendela. “Jangan melihat krisis pada hari mata uang jatuh.”

“Lalu?”

“Lihat sepuluh tahun sebelumnya.”

“Saat ekonomi masih tumbuh?”

“Ya.”

“Saat investor masih datang?”

“Ya.”

“Saat bank masih menawarkan utang?”

“Ya.”

“Saat pemerintah masih bangga dengan pembangunan?”

Saya tersenyum. “Justru saat itulah seorang ekonom harus paling banyak bertanya.”

“Apa?”

Saya menoleh kepadanya. “Apakah kita benar-benar semakin kaya…” Saya berhenti. “…atau hanya semakin pandai meminjam masa depan?”

Anneke terdiam. Di depan lobi, dia masih belum turun dari kendaraan.

“B…”

“Ya?”

“Sekarang aku paham mengapa kamu suka cerita Sjahrir.”

“Mengapa?”

“Karena Sjahrir, Argentina, dan kehidupan kamu sebenarnya punya satu tema yang sama.”

Saya mengerutkan kening. “Apa?”

“Manusia, cinta, dan negara sama-sama bisa hancur ketika terlalu lama mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak cocok dengan kenyataan.”

Saya terdiam.

Anneke tersenyum. “Hebat enggak analisisku?”

“Lumayan.”

“Cuma lumayan?”

“Untuk orang Belanda.”

Dia memukul lengan saya. Kemudian memandang saya lama. “Pastilah Sjahrir pria cerdas.”

“Ya.”

“Wanita Belanda memang suka pria cerdas.”

“Oh ya?”

“Ya.”

Dia mendekat. “Buktinya wanita yang ada di hadapan kamu ini.”

Sebelum sempat saya menghindar, dia mencium saya.

“Kamu aset saya, bukan liabilities. Alat leverage saya untuk income di masa depan. Saya harus disiplin kelola itu. ” Kata saya tersenyum.

” Kalau diizinkan,” bisiknya, “aku menginap saja di hotel kamu.”

Saya tersenyum. “Anneke…”

“Ya?”

“Saya tidak pernah menentukan pilihan dan membuat keputusan hanya karena mood.”

Dia tertawa keras. “Kamu pikir aku capital inflow?”

Saya membuka pintu kendaraan. “Justru itu yang saya takutkan.”

“Apa?”

“Datang malam ini…” Saya menoleh kepadanya. “…lalu besok capital outflow.” Kata saya. Anneke tertawa sampai wajahnya memerah. ” Sementara karyawan saya , keluarga saya, tidak tahu apa yang sebenarnya yang saya kerjakan. Mereka hanya tahu saya harus delivery kewajiban saya untuk mensejahterakan mereka. Apa jadinya karena saya tidak disiplin, membuat mereka menderita. Hanya karena saya menentukan pilihan, antara akal sehat dan perasaan.” Sambung saya.

” Itu disiplin yang terpaku dalam intelektual dan spiritual yang hebat. ” Kata Anneke tersenyum tanpa tersinggung.” dan karena itu aku yakin banyak wanita yang kecewa sepertiku dan tetap tidak bisa menjauh dari kamu. Tetap mencintaimu.”

Malam itu Amsterdam terasa lebih hangat. Di kota tempat anak-anak muda Indonesia dahulu belajar tentang sosialisme, kolonialisme, cinta, dan kemerdekaan, saya kembali belajar satu hal sederhana. Manusia maupun negara tidak hancur semata-mata karena kekurangan uang. Sering kali mereka hancur karena terlalu lama mempertahankan kebohongan bahwa semuanya masih baik-baik saja. Dan ketika akhirnya kenyataan datang menagih— mereka sudah tidak punya pilihan.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca