
Malam itu hujan turun deras di ibu kota Republik Santa Esperanza. Di lantai paling atas Hotel Libertador, sebelas orang berkumpul dalam sebuah ruang privat. Tirai ditutup. Telepon diletakkan di luar. Di atas meja hanya ada kopi, anggur, dan wajah-wajah yang sudah terlalu lama mengenal cara sebuah negara bekerja. Esteban Valdés duduk di ujung meja.
Ketua partai terbesar itu berbicara lirih. “Negara sudah masuk primary deficit. Untuk membayar bunga dan cicilan utang, kita harus berutang lagi. Bahkan untuk belanja rutin, kita mulai bergantung kepada pembiayaan baru.”
Tidak ada yang menyela.
“Negara sebesar ini, dengan subsidi energi yang besar, ketimpangan yang dalam, dan sebagian besar rakyat hidup dari ekonomi informal, tidak mudah menjaga stabilitas.”
Valdés menatap jendela.
“Siapa yang berani memimpin setelah ini?”
Dia seperti berbicara kepada dirinya sendiri, walaupun di hadapannya duduk orang-orang yang datang membawa kepentingan. Wajahnya tampak letih. Dia tahu mengapa mereka datang. Bukan untuk menyelamatkan negara. Mereka datang karena negara mulai kehilangan kemampuan menyelamatkan mereka. Mereka ingin partainya tampil sebagai wajah baru. Sebagai corong perjuangan rakyat miskin. Sebagai penyelamat. Padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah pengalihan.
Keuangan negara sedang sakit. Perbaikannya membutuhkan pengorbanan. Pajak harus dinaikkan. Subsidi harus dipilih. Belanja harus dipotong. Proyek harus dibatalkan. Tidak ada satu pun yang populer. Maka dibutuhkan sebuah narasi. Dalam politik, ketika kenyataan terlalu pahit untuk dijual, harapan selalu bisa dikemas sebagai produk.
Rodrigo Salazar, politisi Partai Pekerja, membuka suara. Mereka berbeda partai, tetapi sudah bersahabat terlalu lama untuk berpura-pura menjadi musuh. “Ini kehendak sejarah,” katanya.
Valdés menatapnya.
“Partai Anda harus tampil sebagai penyelamat bangsa. Tidak ada partai lain yang memiliki simbol perjuangan rakyat tertindas sekuat partai Anda.”
Valdés tetap diam.
“Jangan ragu,” lanjut Salazar. “Ambil kesempatan ini. Kami semua akan memberi jalan.”
“Jalan?”
“Untuk kemenangan.”
Salazar memandang Jenderal Tomás Barrera. “Teman kita, General Barrera, meyakinkan saya bahwa elite militer dan kepolisian akan membantu menjaga pemilu tetap stabil.”
Barrera tidak tersenyum. Dia hanya mengangguk.
Salazar melanjutkan. “Partai Anda menang. Negara kembali punya pemerintahan. Kita semua selamat dari kekacauan.”
Valdés masih diam. Dia telah terlalu lama hidup dalam politik untuk percaya kepada kalimat tentang sejarah. Sejarah tidak punya kehendak. Manusia yang punya kehendak. Dan orang yang menguasai negara selalu berusaha menyebut kepentingannya sebagai kehendak sejarah.
Di Republik Santa Esperanza, para elite selalu bertengkar ketika ekonomi sedang tumbuh. Mereka berebut proyek. Konsesi. Jabatan. Kredit bank. Akses. Tetapi ketika ekonomi berada di tepi jurang, mereka mendadak menjadi dewasa. Mereka berdamai. Tidak saling menghina. Tidak saling membuka dosa. Karena mereka tahu, kemarahan rakyat tidak mengenal perbedaan antara partai pemerintah dan oposisi.
Bagi rakyat lapar, semua orang yang hidup nyaman di sekitar kekuasaan terlihat sama. Valdés memahami hukum sederhana itu. Krisis membuat elite kembali mengingat bahwa mereka berada di kapal yang sama. Mereka boleh berebut kamar. Tetapi tidak boleh membiarkan kapal tenggelam.
Santa Esperanza kaya sumber daya alam. Kalau politik kembali stabil, kekayaan itu bisa di-leverage. Negara besar bisa didekati. Pasar keuangan bisa dibuka lagi. Obligasi baru bisa diterbitkan. Utang lama bisa direfinance. Rezim bisa berjalan. Dan pesta dapat dimulai lagi. Dalam filsafat kekuasaan, negara sering disebut sebagai penjaga kepentingan umum. Namun dalam kenyataan, negara juga bisa menjadi mesin yang mengubah masa depan rakyat menjadi collateral bagi kenyamanan elite hari ini.
“Soal dana kampanye,” kata Salazar, “tidak ada masalah.” Dia melirik Mateo Cárdenas. Pengusaha besar itu mewakili asosiasi bisnis minyak, pertanian, tambang, dan konstruksi. “Mateo dan teman-temannya siap membiayai semuanya.” Cárdenas tersenyum tipis. Salazar lalu memandang Javier Montoya, pemilik jaringan televisi dan media massa. “Javier akan menggerakkan seluruh media.” Montoya mengangkat gelasnya. “Bukan menggerakkan,” katanya.
“Lalu?”
“Mengarahkan perhatian.”
Dia tersenyum. “Itu lebih elegan.”
Salazar tertawa. Kemudian dia menunjuk Alejandro Fuentes. “Dan Alejandro mempunyai hubungan kuat dengan pihak luar negeri. Kalau pemilu selesai dengan baik, dia akan melobi negara-negara besar agar membantu membuka kembali akses pembiayaan APBN.”
Valdés memandang mereka satu per satu. Uang. Media. Aparat. Akses internasional. Semua unsur kekuasaan hadir di ruangan itu. Yang belum ada hanya rakyat. Tetapi dalam politik modern, rakyat sering menjadi satu-satunya pihak yang paling sering disebut justru ketika mereka tidak hadir.
Valdés memahami ekosistem itu. Partai membutuhkan pengusaha untuk hidup. Pengusaha tidak memberi uang secara cuma-cuma. Ada pertukaran. Partai membutuhkan biaya politik. Pengusaha membutuhkan izin. Konsesi. Lahan. Kontrak pemerintah. Perlindungan. Aparat membutuhkan biaya yang tidak selalu tersedia dalam anggaran. Kepala daerah membutuhkan sumber pembiayaan. Birokrat membutuhkan bagian. Dari situlah terbentuk ekosistem. Tidak ada seorang pun yang merasa sepenuhnya bersalah karena semua orang menerima sedikit. Dan ketika kesalahan dibagi kepada terlalu banyak orang, dosa kehilangan wajah. Itulah rahasia sistem yang bertahan lama.
Tidak ada satu penjahat besar. Hanya terlalu banyak orang yang mempunyai alasan untuk diam. Ekosistem seperti itulah yang membuat negeri itu tidak pernah benar-benar keluar dari defisit. Tidak pernah menyelesaikan kerentanan fiskal. Tidak pernah membangun fondasi moneter yang kuat. Fundamental ekonomi selalu dibungkus dengan statistik. Angka pertumbuhan. Rasio. Indeks. Survei. Semua disusun agar kenyataan yang buruk tampak bisa dikendalikan. Pihak asing tahu. Civil society tahu. Akademisi tahu.
Tetapi lebih dari enam puluh persen rakyat hanya menamatkan pendidikan dasar dan menengah rendah. Mereka tidak memahami primary deficit. Tidak memahami refinancing risk. Tidak memahami current account. Mereka hanya tahu beras semakin mahal. Obat sulit dibeli. Anak mereka sulit mendapat pekerjaan. Dan dalam politik, rasa sakit yang tidak memahami penyebabnya adalah bahan paling mudah untuk diarahkan.
“Siapa yang siap menjadi presiden?” tanya Valdés.
Semua diam.Tidak seorang pun mau mengambil risiko memimpin negara yang sudah berada di tepi jurang. Di luar jendela, lampu kota tampak seperti ribuan bintang kecil. Santa Esperanza adalah negeri yang kaya. Di utara terdapat minyak. Di pegunungan terdapat emas, tembaga, dan lithium. Di selatan terdapat hutan. Di pantai timur terdapat cadangan gas. Namun sebagian besar rakyat hidup dari sektor informal. Anak muda menganggur. Sekolah rusak. Rumah sakit kekurangan obat. Setiap lima tahun jalanan penuh poster. Keadilan. Kedaulatan. Rakyat Berkuasa.
Salazar berdiri. “Kita membutuhkan seseorang yang cukup populer untuk dicintai rakyat.”
Dia berjalan perlahan mengelilingi meja. “Cukup sederhana untuk percaya bahwa semua gagasan besar berasal dari dirinya.”
Dia berhenti di belakang kursi Mateo Cárdenas. “Cukup ambisius untuk ingin dikenang sejarah.”
Berjalan lagi. “Cukup insecure untuk membutuhkan pujian.”
Lalu berhenti. “Dan cukup bergantung kepada kita untuk tetap berkuasa.”
Jenderal Barrera tertawa kecil. “Itu sulit.”
“Tidak,” kata Salazar.
“Orang seperti itu banyak. Yang sulit adalah menemukan orang yang mempunyai semua kelemahan itu sekaligus, tetapi terlihat sebagai kekuatan di mata rakyat.”
Valdés akhirnya bicara. “Namanya?”
Dia memandang Javier Montoya. Pemilik televisi itu tersenyum. Kemudian mengeluarkan sebuah foto dari tasnya. Foto seorang gubernur provinsi. Gabriel Mendoza. Wajah sederhana. Sering memeluk rakyat. Suka memarahi pejabat di depan kamera. Tidak memahami ekonomi. Tetapi sangat memahami emosi.
“Dia?” tanya Cárdenas.
Montoya mengangguk. “Rating tertinggi.”
“Pengalaman?”
“Tidak penting.”
“Pendidikan?”
“Tidak penting. Bisa kita bentuk narasinya.”
“Jaringan internasional?”
“Bisa kita siapkan.”
“Kebijakan ekonomi?”
Valdés tersenyum. “Kita yang siapkan.”
Sebastián Ortega sejak tadi hanya diam. Usianya empat puluh tiga tahun. Seorang ekonom. Pernah bekerja di bank investasi di New York sebelum pulang ke Santa Esperanza. Dia menatap foto Mendoza cukup lama. “Dan kalau suatu hari dia merasa benar-benar berkuasa?”
Ruangan tiba-tiba hening.
Valdés mengambil foto Gabriel Mendoza. Dia tersenyum. “Tidak akan.”
“Kenapa begitu yakin?”
Montoya menaruh foto itu di tengah meja. “Karena tidak ada presiden yang hebat sendirian.”
Dia memandang mereka. “Dia hebat karena ada partai.” Menoleh kepada Mateo. “Karena ada uang.” Kepada Javier. “Karena ada media.” Kepada Jenderal Barrera. “Karena ada aparat.” Kemudian kepada Alejandro. “Karena ada akses kepada dunia luar.”
Lalu dia menatap Sebastián. “Dan karena selalu ada ekonom yang bersedia membuat angka agar kebohongan terlihat ilmiah.”
Sebastián tidak menjawab. Dia tahu kalimat itu kejam. Tetapi tidak sepenuhnya salah. Dalam sejarah kekuasaan, angka sering kali tidak dipakai untuk mencari kebenaran. Angka dipakai untuk membuat keputusan politik terlihat seolah-olah tidak mempunyai pilihan lain.
Di luar hotel, hujan semakin deras. Malam itu mereka belum mempunyai presiden. Tetapi mereka sudah mempunyai sebuah sistem. Dan sistem selalu lebih berbahaya daripada seorang manusia. Karena manusia bisa mati. Sistem bisa mencari pengganti. Sistem itulah yang kelak akan membuat hampir semua orang kaya— kecuali negara.
***
Beberapa minggu kemudian, Gabriel Mendoza dan Javier Montoya menemui Valdés. Mendoza duduk dengan sikap sopan.
“Lalu apa yang kita jual kepada rakyat?” tanya Valdés.
Montoya menatapnya. “Populisme.”
“Nasionalisme?”
“Bisa.”
“Agama?”
“Kalau diperlukan.”
“Anti-asing?”
“Kalau rating-nya bagus.”
Valdés tersenyum masam.
Mendoza masih tampak lugu.
“Rakyat tidak perlu memahami struktur fiskal,” kata Montoya. “ Tidak perlu memahami siapa pemilik konsesi tambang. Tidak perlu tahu bagaimana utang dibentuk.”
“Lalu apa yang harus mereka tahu?”
“Bahwa kita berada di pihak mereka.”
“Bagaimana caranya?”
“Bangun sesuatu yang besar.”
“Seperti?”
“Jalan tol. Bandara. Pelabuhan. Kereta cepat.”
“Kenapa?”
Montoya mengangkat satu jari. “Pertama, rakyat bisa melihatnya.” Jari kedua. “Kedua, mudah dibiayai dengan utang.” Jari ketiga. “Ketiga, cukup besar agar semua orang mendapat bagian.”
Mendoza terdiam. Dia belum memahami bahwa proyek besar selalu mempunyai dua fungsi. Fungsi ekonomi. Dan fungsi politik. Dalam teori pembangunan, infrastruktur dibangun untuk menurunkan biaya transaksi. Dalam praktik kekuasaan, infrastruktur juga bisa dibangun untuk memperluas jaringan orang yang berkepentingan mempertahankan rezim.
Sebastián akhirnya bicara. “Kalau utangnya terlalu besar?”
Montoya menjawab. “Kita refinance.”
“Kalau pasar tidak mau?”
“Kita naikkan bunga.”
“Kalau bunga terlalu tinggi?”
“Kita pinjam ke lembaga multilateral.”
“Kalau mereka meminta reformasi?”
“Kita sebut itu intervensi asing.”
“Dan kalau akhirnya ekonomi berhenti tumbuh?”
Montoya tersenyum. “Ekonom berpikir lima belas tahun.” Dia menepuk bahu Sebastián. “Politikus berpikir lima tahun.” Kemudian tertawa. “Kadang hanya sampai polling berikutnya.”
Sebastián tidak tersenyum. “Masalahnya sederhana. Kalau utang dipakai membangun aset produktif, masih depan jadi return growth dan kemakmuran. Tapi kalau dipakai untuk konsumtif, bansos maka ini mengubah masa depan menjadi kewajiban.”
Montoya memandang Sebastian. Kemudian menggeleng. “Tidak ada rakyat yang memilih grafik. Memang. Tapi grafik tidak peduli siapa yang menang pemilu.”
Ruangan hening.
Valdés akhirnya menatap Mendoza. “Siapkan dirimu menjadi presiden.” Mendoza terdiam. “Kerja saja.”
“Bagaimana dengan politik?”
“Fokus kepada agenda nasional.” Valdés mendekat. “Amankan ekonomi. Kendalikan teknokrat. Pastikan mereka bekerja berdasarkan data dan sains. Perbaiki kredibilitas APBN. Pulihkan kepercayaan pasar. Naikkan rating surat utang menjadi investment grade.”
Mendoza mengangguk.
“Dan politik?” Valdés menatapnya lama. “Itu urusan partai.” Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan “Jangan pernah masuk ke wilayah abu-abu politik.”
Mendoza mengangguk lagi. Dia percaya. Javier Montoya tersenyum kecil. Dia tahu keputusan sudah dibuat. Gabriel Mendoza akan menjadi presiden. Valdés akan menjadi pengemudi kekuasaan. Salazar akan menjadi wakil presiden. Montoya akan mengendalikan narasi. Pengusaha akan menyediakan uang. Aparat menjaga stabilitas. Teknokrat menjaga angka. Semua tampak sempurna.
Mereka hanya belum memahami satu hukum tua tentang kekuasaan. Kekuasaan tidak pernah puas menjadi alat. Begitu ia tinggal terlalu lama di tangan seseorang, ia mulai membentuk kehendaknya sendiri. Dan orang yang hari ini diciptakan untuk menjadi boneka— besok bisa belajar melihat tali yang menggerakkannya.
***
Pada awal kekuasaannya, Gabriel Mendoza terlihat seperti presiden yang bisa dikendalikan. Dia tersenyum kepada ketua partai. Memeluk pengusaha. Mendengarkan nasihat jenderal. Menerima daftar nama menteri. Menandatangani proyek. Membuka konsesi. Menghadiri makan malam yang tidak pernah tercatat dalam agenda resmi. Para elite yang dahulu memilihnya merasa puas. Mereka benar.
Gabriel Mendoza memang bukan orang hebat. Tetapi mereka melakukan satu kesalahan. Mereka menganggap orang sederhana tidak bisa belajar. Pada tahun kedua kekuasaannya, Mendoza mulai memahami sesuatu. Partai mempunyai uang. Pengusaha mempunyai bisnis. Militer mempunyai senjata. Media mempunyai kemampuan membentuk opini. Sedangkan dirinya? Dia hanya mempunyai jabatan. Dan jabatan akan berakhir. Itu yang membuatnya takut.
Suatu malam, dia memanggil Kepala Polisi Nasional, Comisario General Rafael Ibarra, ke kediaman presiden. Pertemuan itu tidak tercatat. Tidak ada menteri. Tidak ada ajudan politik. Hanya Mendoza dan Ibarra.
“Rafael,” kata Mendoza, “siapa yang paling banyak tahu tentang sebuah negara?”
“Presiden?”
Mendoza tertawa. “Bukan.”
“Intelijen?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Polisi.”
Ibarra diam.
Mendoza melanjutkan. “Polisi tahu siapa bandar judi.”
“Ya.”
“Siapa pengedar narkoba.”
“Ya.”
“Siapa penambang liar.”
“Ya.”
“Siapa penyelundup.”
“Ya.”
“Siapa kepala daerah yang menerima uang.”
Ibarra mulai mengerti. “Ya.”
Mendoza tersenyum. “Polisi tahu semuanya.” Dia mendekat. “Masalahnya hanya satu.”
“Apa, Señor Presidente?”
“Mereka terlalu miskin untuk menguasai apa yang mereka tahu.”
Sejak malam itu, sesuatu mulai tumbuh. Pelan. Tidak terlihat. Di dalam organisasi kepolisian dibentuk sel-sel loyalitas. Bukan struktur resmi. Tidak ada keputusan presiden. Tidak ada surat perintah. Tidak ada anggaran negara. Yang ada hanya jaringan. Seorang kepala kepolisian daerah mendapat perlindungan atas perjudian. Seorang perwira senior menguasai jalur penyelundupan. Jaringan lain melindungi penambangan emas ilegal. Yang lain masuk ke illegal logging. Sebagian bermain dalam pelabuhan gelap. Sebagian lagi mengatur pasar narkotika. Semua usaha itu sudah ada jauh sebelum Mendoza menjadi presiden.
Mendoza tidak menciptakannya. Dia hanya mendiamkan. Itulah perbedaannya. Rafael Ibarra pernah bertanya kepadanya. “Apakah Presiden tidak takut jaringan ini terlalu besar?”
Mendoza menjawab tenang. “Saya justru takut kalau tidak besar.”
“Kenapa?”
“Karena uang resmi dikendalikan pengusaha.” Dia mengangkat satu jari. “Partai dikendalikan elite.” Jari kedua. “Militer punya struktur sendiri.” Jari ketiga. “Saya membutuhkan kekuatan yang tidak bergantung kepada mereka.”
Ibarra menatapnya. “Shadow state?”
Mendoza tersenyum. “Jangan gunakan nama yang membuat saya terdengar jahat.”
“Lalu apa namanya?”
“Cadangan politik.”
Dalam waktu lima tahun, jaringan shadow economy menghasilkan uang lebih besar daripada kelompok bisnis formal yang membiayai partai. Tidak ada laporan keuangan. Tidak ada audit. Tidak ada pajak. Tetapi ada cash flow. Uang bergerak dari judi online ilegal. tambang liar. illegal logging, white collar crime, penyelundupan. Pemerasan kasus. Sebagian untuk para pejabat lokal. Sebagian untuk perwira. Sebagian untuk biaya operasi politik. Sebagian masuk ke sebuah jaringan rekening yang tidak memiliki hubungan langsung dengan istana. Semua orang mendapatkan bagian.
Mendoza akhirnya memahami kalimat Esteban Valdés bertahun-tahun sebelumnya: stabilitas dibangun karena terlalu banyak orang berkepentingan agar sistem tidak berubah. Hanya saja sekarang, sistem itu milik Mendoza. Bukan milik Valdés. Pada saat yang sama, Mendoza mulai mengubah lembaga antikorupsi. Di depan publik, dia berkata: “Kita perlu reformasi agar pemberantasan korupsi tidak menjadi alat politik.”
Rakyat bertepuk tangan. Partai menyetujui. Undang-undang diubah. Wewenang dipersempit. Pimpinan lama diganti. Orang-orang yang dianggap terlalu independen disingkirkan. Sebagai gantinya dipilih figur yang disebut profesional. Berpendidikan. Berpengalaman. Tetapi loyal. Bukan kepada undang-undang. Kepada siapa yang mengangkatnya.
Sebastián Ortega, ekonom yang dahulu ikut rapat di Hotel Libertador, membaca perubahan itu dari jauh. Dia kini menjadi Menteri Perencanaan. Suatu sore, dia berkata kepada Mendoza: “Señor Presidente, lembaga yang terlalu loyal kepada kekuasaan akan kehilangan fungsi.”
Mendoza tersenyum. “Sebastián, semua lembaga loyal kepada seseorang.”
“Seharusnya kepada konstitusi.”
Mendoza tertawa kecil. “Itu kalimat seminar.”
Sebastián menatapnya. “Dan korupsi?”
“Apa?”
“Bagaimana kita mengendalikannya?”
Mendoza duduk lebih dekat. “Kita kendalikan siapa yang boleh ditangkap.”
Sebastián terdiam.
“Bukankah itu lebih efisien?”
Hubungan Mendoza dengan militer lebih rumit. Dia tetap mendekati mereka. Menghadiri upacara. Menaikkan anggaran pertahanan. Memberikan proyek strategis. Tetapi tidak pernah memberi militer kemewahan yang dinikmati jaringan kepolisian. Beberapa jenderal mulai marah. Mereka merasa polisi berubah menjadi kekuatan ekonomi. Sementara tentara hanya diminta menjaga stabilitas.
Dalam sebuah pertemuan tertutup, Jenderal Barrera berkata “Presiden sedang menciptakan monster.”
Valdés menatapnya. “Shadow state ?”
“Ya.”
“Bukankah polisi selalu dekat dengan kekuasaan?”
“Tidak seperti ini.”
Barrera menyalakan cerutu. “Mereka punya uang sendiri.”
“Dan?”
“Orang bersenjata yang punya uang sendiri tidak lagi menjadi alat. Dia menjadi kekuatan politik.”
Mendoza tahu para jenderal mulai gelisah. Maka dia memainkan kartu yang cerdik. Dalam sebuah pertemuan dengan petinggi militer, dia berkata, “Saya paham mengapa kalian kecewa.”
Para jenderal diam.
“Partai selama puluhan tahun mengembosi ruang ekonomi kalian.”
Mereka mulai mendengarkan. “Dulu militer punya perusahaan.”
Mendoza melanjutkan. “Punya yayasan. Punya akses bisnis. Lalu semuanya diambil.”
Seorang jenderal berkata “Dengan alasan reformasi.”
Mendoza mengangguk. “Dan siapa yang menikmati?”
Tak ada yang menjawab.
Dia tersenyum. “Pengusaha yang membiayai partai.”
Mendoza tidak memberi militer seluruh yang mereka inginkan. Dia hanya memberi mereka satu hal yang lebih penting. Musuh bersama.
Di permukaan, Mendoza tetap setia kepada oligarki formal. Konsesi tambang berjalan. Izin hutan diperpanjang. Proyek infrastruktur meningkat. Utang tumbuh. Bank-bank mendapat bunga. Kontraktor mendapat proyek. Partai mendapat dana. Semua terlihat seperti dulu. Mendoza bahkan membiarkan biaya pembangunan membengkak. Sebastián pernah menunjukkan angka kepadanya.
“ICOR kita naik.” Mendoza menatap grafik.
“Artinya, untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan, kita membutuhkan semakin banyak investasi.” Kata Sebastian.
“Jadi?” Tanya Mandoza
“Efisiensi modal memburuk.”
Mendoza mengangkat bahu. “Pertumbuhan tetap ada?”
“Ada.”
“Proyek tetap berjalan?”
“Ya.”
“Pengangguran turun?”
“Sedikit.”
“Lalu?”
Sebastián menghela napas. “Biaya menjadi terlalu besar.”
Mendoza tersenyum. “Biaya untuk siapa?”
Itulah inti persoalannya. Bagi Sebastián, APBN adalah sumber daya publik. Bagi Mendoza, APBN adalah mesin stabilitas. Selama proyek berjalan, ada kontraktor. Ada bank. Ada kepala daerah. Ada lapangan kerja. Ada media yang bisa memotret peresmian. Ada partai yang menerima dana. Ada pengusaha yang tetap loyal. Dan selama pasar masih mau memberi utang, semuanya bisa diteruskan. Utang domestik. Utang luar negeri. Pinjaman bilateral. Obligasi. Pembiayaan proyek. Mendoza tidak peduli dari mana uang datang. Yang dia butuhkan hanya satu: waktu.
***
Masuk periode kedua, sesuatu berubah. Esteban Valdés mulai merasa tidak nyaman. Presiden yang dahulu mereka pilih tidak lagi datang meminta nasihat. Menteri-menteri mulai loyal langsung kepada istana. Kepala daerah tidak lagi hanya mendengar partai. Polisi mulai mempunyai kekuatan sendiri. Media mulai menerima uang dari jalur yang tidak mereka pahami.
Valdés akhirnya berkata dalam sebuah rapat kecil “Kita telah dibohongi.”
Mateo Cárdenas tertawa. “Oleh siapa?”
“Oleh orang yang kita anggap bodoh.”
Jenderal Barrera tersenyum pahit. “Kesalahan paling mahal dalam politik adalah meremehkan orang yang belajar sambil berkuasa.”
Para elite mulai bergerak. Awalnya pelan. Mereka membatasi ruang perubahan konstitusi. Menolak perpanjangan masa jabatan. Mencegah referendum. Mendorong tokoh-tokoh masyarakat bicara tentang demokrasi. Media mulai mempertanyakan. APAKAH MENDOZA INGIN BERKUASA SELAMANYA?
Lalu muncul laporan lain. Tentang tambang ilegal. Tentang Perjudian. Tentang polisi. Tentang narkotika. Tentang rekening gelap. Tidak ada satu pun bukti yang langsung menyentuh Mendoza. Tetapi semuanya mengarah ke jaringan yang dibangun selama bertahun-tahun. Kasus demi kasus mulai menjadi isu nasional.
Dalam sebuah rapat di istana, Ibarra melempar map ke meja. “Mereka sedang membuka semuanya.”
Mendoza tenang. “Bukan semuanya.”
“Cukup untuk merusak kita.”
“Tidak.”
Mendoza menatapnya. “Cukup untuk mengingatkan saya bahwa mereka masih punya kekuatan.”
Ibarra mendekat. “Kita lawan?”
Mendoza diam. Dia tahu bila memaksa memperpanjang kekuasaan, semua elite formal akan bersatu melawannya. Partai. Pengusaha. Militer. Media. Lembaga asing. Pasar. Untuk pertama kali, Mendoza memahami bahwa kekuasaan bawah tanah bisa membuat seseorang kuat. Tetapi tidak cukup untuk membuatnya abadi. Akhirnya dia menyerah. Di depan televisi nasional, Mendoza berkata “Saya menghormati konstitusi. Kekuasaan saya akan berakhir sesuai jadwal.”
Para elite merasa menang. Pasar naik. Media memuji kedewasaan demokrasi. Militer tenang. Partai lega. Tetapi Esteban Valdés tidak ikut tersenyum. Dia mengenal Mendoza terlalu lama. “Dia menyerah terlalu mudah,” katanya.
Barrera mengangguk. “Dia sedang menyiapkan sesuatu.”
Mendoza memang tidak berniat tinggal di istana. Dia hanya ingin memastikan istana tetap menjadi miliknya. Dia memilih teman lamanya, yang juga menteri di kabinetnya, Alejandro Robles. Ketua salah satu partai besar. Ambisius. Populer. Punya basis massa. Tetapi juga mempunyai terlalu banyak kelemahan. Mendoza tahu semuanya. Kasus bisnis. Kesalahan keluarga. Pembiayaan politik. Hubungan dengan pengusaha. Keputusan-keputusan lama yang bisa menjadi perkara kapan saja.
Dalam pertemuan privat, Mendoza berkata “Saya dukung kamu menjadi presiden.”
Robles terkejut. “Apa syaratnya?”
Mendoza tersenyum. “Anak saya menjadi pasanganmu.”
Ruangan hening.
Robles langsung memahami. “Untuk melindungi jaringanmu?”
Mendoza tidak menjawab. “Untuk menjaga warisan.”
Nama putra Mendoza adalah Diego Mendoza. Masih muda. Belum memiliki pengalaman besar. Tetapi memiliki satu keuntungan. Nama ayahnya. Gabriel Mendoza tahu pemilu tidak cukup dimenangkan dengan popularitas. Perlu uang. Dan sekarang dia mempunyai sesuatu yang dulu tidak dimiliki ketika pertama kali menjadi calon presiden. Jaringan pembiayaan sendiri. Uang dari bisnis bawah tanah mulai bergerak. Tidak langsung ke kampanye. Terlalu bodoh. Uang masuk melalui pelonggaran aturan yang dibuat sendiri, yang tentu dibantu team ahli keuangannya yang loyal.
Esteban Valdés akhirnya memahami permainan itu. “Dia menggunakan uang yang kita tidak bisa lacak.”
Mateo Cárdenas menatapnya. “Lebih besar dari uang kita?”
Valdes tersenyum.
“Lalu kenapa berbahaya?”
Valdés tersenyum pahit. “Karena uang kita butuh kontrak.”
“Dan uang dia?”
“Tidak butuh.”
Ruangan hening. Barrera berkata “Jadi selama ini kita pikir Mendoza bergantung kepada kita.”
Valdés mengangguk. “Ternyata dia membangun cara agar tidak pernah lagi bergantung.”
Sebastián Ortega melihat kampanye itu dari jauh. Di layar televisi, Alejandro Robles berdiri di panggung bersama Diego Mendoza. Ribuan orang bersorak. Mereka berjanji melanjutkan pembangunan. Menjaga stabilitas. Melindungi rakyat. Membela kedaulatan. Sebastián mematikan televisi. Dia teringat malam bertahun-tahun sebelumnya di Hotel Libertador. Saat Valdés berkata mereka membutuhkan presiden yang bisa dipakai. Kini dia sadar. Mereka memang mendapatkan presiden seperti itu. Hanya saja mereka terlambat memahami satu hal. Presiden yang bisa dipakai— juga bisa belajar memakai orang lain. Dan Gabriel Mendoza sudah belajar dengan sangat baik.
***
Alejandro Robles bukan orang bodoh seperti yang dibayangkan Gabriel Mendoza. Tiga kali dia mencalonkan diri sebagai presiden. Tiga kali kalah. Namun kekalahan tidak selalu membuat manusia lemah. Pada orang tertentu, kekalahan justru mengajarkan hal yang tidak bisa diberikan kemenangan: kesabaran.
Robles adalah pemimpin salah satu partai terbesar di Republik Santa Esperanza. Mantan perwira militer. Berasal dari keluarga bangsawan lama. Berpendidikan tinggi. Mengerti sejarah, strategi, dan cara kerja institusi. Dia tahu satu hal yang tidak pernah benar-benar dipahami Mendoza bahwa kekuasaan bukan hanya kemampuan memerintah. Kekuasaan adalah kemampuan mengetahui siapa yang akan tetap hidup ketika perintah tidak lagi ditaati.
Namun di hadapan Mendoza, Robles memainkan watak lain. Sebagai mantan Menteri dan bawahan yang loyal. Dia selalu tersenyum. Selalu memuji. Selalu meminta nasihat. Selalu menyebut Mendoza sebagai negarawan besar. Ketika Mendoza bicara, Robles mendengarkan dengan wajah hormat. Ketika Mendoza bercerita tentang sejarah, Robles mengangguk. Ketika Mendoza memberi perintah, Robles berkata, “Como usted diga.” Seperti yang Anda kehendaki. Mendoza menyukai itu. Manusia yang terlalu lama berkuasa selalu mempunyai kelemahan yang sama. Mereka mulai sulit membedakan loyalitas dengan kemampuan orang lain membaca kesombongan mereka.
Namun di belakang Mendoza, Robles membangun tim kecil. Tidak ada nama resmi. Tidak ada surat keputusan. Tidak ada kantor. Mereka terdiri dari mantan bankir, perwira intelijen, ahli fiskal, pengacara korporasi, dan orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan negara. Tugas mereka hanya satu: memetakan shadow state milik Mendoza.
Suatu malam, di sebuah rumah tua di pinggir ibu kota, salah seorang anggota tim membuka layar besar. “Señor Robles,” katanya, “shadow state Mendoza tidak hidup di lorong gelap, shadow economy.”
Robles memandangnya. “Lalu?”
“Justru berlindung di balik institusi formal.”
Dia memperbesar peta jaringan. “Uang ilegal tidak bisa bergerak sendiri.”
Robles diam.
“Tidak akan ada triliunan uang gelap kalau tidak ada bank besar yang memfasilitasi transaksi.”
Layar berubah.
“Tidak akan ada legitimasi tanpa underlying.”
“Underlying apa?”
“Kontrak.”
“Kontrak siapa?”
“Perusahaan negara.”
Ruangan sunyi.
Orang itu melanjutkan. “Perusahaan negara menyediakan proyek. Bank menyediakan settlement. Perusahaan swasta menyediakan invoice. Kepala daerah menyediakan izin. Aparat menyediakan perlindungan. Politik menyediakan impunitas.”
Dia berhenti sejenak dan melanjutkan. “Shadow state tidak berada di luar negara.”
Robles menatap layar. “Dia hidup di dalam tubuh negara.”
“Benar.”
Robles berjalan ke dekat jendela. “Nah,” katanya pelan, “berarti kita tidak perlu menangkap semua orang.”
Timnya menunggu.
“Kita hanya perlu menguasai pembuluh darahnya.”
Salah seorang anggota tim tersenyum. “Itu juga kesimpulan kami.”
“Bagaimana caranya?”
“Kuasai seluruh perusahaan negara.”
Robles menoleh. “Semua?”
“Semua yang strategis.” Tim itu menjelaskan. Perusahaan energi. Bank. Tambang. Logistik. Infrastruktur.Telekomunikasi. Pangan. Semua harus dikumpulkan di bawah satu struktur holding. Satu komando. Satu pusat keputusan. Satu kendali yang akhirnya kembali kepada presiden.
Robles mengerti. “Dengan begitu,” katanya, “uang shadow economy kehilangan kanal.”
“Ya.”
“Tidak ada lagi kontrak tanpa persetujuan kita.”
“Ya.”
“Tidak ada lagi kemitraan tanpa kita tahu.”
“Ya.”
“Tidak ada lagi rekening penampung yang hidup dari cash flow perusahaan negara.”
“Ya.”
Robles tersenyum. “Lalu mereka akan datang.”
Timnya mengangguk. “Bukan karena kita lebih kuat.”
“Lalu?”
“Karena mereka membutuhkan pintu.”
Robles duduk kembali. “Dan saat itulah Mendoza harus menyerahkan jaringan itu kepada kita.
“Bukan menyerahkan orangnya.”
“Lalu?”
“Arus uangnya.”
Robles tersenyum. “Untuk apa?”
Timnya menjawab tenang. “Untuk menjaga negara tetap hidup.”
Ruangan kembali sunyi.
Republik Santa Esperanza sedang menghadapi primary deficit. Untuk membayar bunga dan cicilan utang lama, negara harus berutang lagi. Kurs tertekan. Defisit fiskal terancam melebar. Yield obligasi mulai naik. Lembaga pemeringkat mulai berbicara tentang kemungkinan downgrade.
Robles menatap laporan fiskal. “Kita berpacu dengan waktu.”
Tidak ada yang menjawab.
“Berapa lama Mendoza bisa bertahan?” tanyanya.
Salah satu anggota tim menjawab, “Lebih lama daripada yang kita harapkan.”
“Kenapa?”
“Karena jaringannya bukan hanya uang.”
Mendoza masih menguasai banyak okunum perwira polisi. Tidak semua. Tetapi cukup banyak. Mereka solid. Mereka telah tumbuh bersama jaringan itu selama bertahun-tahun. Di bawahnya ada kepala daerah. Di bawah kepala daerah ada birokrasi. Di bawah birokrasi ada jaringan desa. Di banyak tempat, negara formal hanya berupa papan nama. Yang benar-benar bekerja adalah hubungan pribadi. Siapa mengenal siapa. Siapa melindungi siapa. Siapa memberi proyek. Siapa menyediakan uang. Siapa menyelamatkan ketika hukum datang. Itulah sebabnya shadow state sulit dibunuh. Ia bukan organisasi. Ia adalah kebiasaan. Dan kebiasaan politik sering lebih kuat daripada undang-undang.
“Jadi bagaimana langkah konkretnya?” tanya Robles.
Timnya membuka dokumen berikutnya. “Pertama, kita gembosi jaringan daerah dan desa.”
“Caranya?”
“Bangun koperasi nasional.”
Robles mengerutkan kening. “Koperasi?”
“Ya.”
“Untuk ekonomi rakyat?”
Anggota tim itu tersenyum. “Di permukaan.”
Robles mulai tertarik. “Lanjutkan.”
“Koperasi dibentuk secara terpusat.”
“Dananya?”
“APBN.”
“Lagi?”
“Dana desa.”
“Lalu?”
“Distribusi barang, kredit, gudang, pupuk, pangan, dan bantuan masyarakat perlahan masuk ke sistem baru.”
Robles diam dan akhirnya bertanya. “Jadi kita memindahkan fungsi ekonomi desa.”
“Ya.”
“Dari jaringan kepala daerah… Ke sistem yang bergantung kepada pusat.”
Robles tersenyum. “Populisme yang menghasilkan sentralisasi.”
“Persis.”
“Langkah kedua?”
“Gembosi dana daerah.”
“Bagaimana?”
“Alihkan sebagian transfer menjadi program populis memberikan makan rakyat”
“Diputuskan pusat?”
“Ya.”
“Dikelola pusat?”
“Ya.”
“Diberi nama program rakyat?”
“Harus.”
Robles tertawa kecil. “Cukup dua itu?”
“Cukup untuk dua tahun pertama.”
“Serius?”
“Señor Robles, partai hidup dari jaringan.” Timnya menunjuk peta. “Kalau uang desa pindah…” satu garis menghilang. “Kalau dana daerah berkurang…” garis kedua menghilang. “Kalau perusahaan negara dipusatkan…” garis ketiga menghilang. “Pada akhirnya partai, kepala daerah, dan jaringan Mendoza masih ada.”
Dia berhenti sejenak. “Tapi mereka tidak punya cash flow.”
Robles tersenyum. “Dan dalam politik, loyalitas tanpa cash flow hanya bertahan selama pidato.”
Robles berdiri. “Setelah dua tahun?”
Timnya menampilkan dokumen terakhir. “Kita buka jalan damai.”
“Apa itu?”
“Patriot Bond.”
Robles menatapnya lama. “Untuk siapa?”
“Untuk semua.”
“Termasuk uang yang tidak bisa dijelaskan asalnya?”
Timnya tidak langsung menjawab. “Kita jangan mengundang perang dengan shadow state.”
“Lalu?”
“Kita beri mereka jalan keluar.”
Robles duduk kembali. “Jelaskan.”
“Mereka masuk melalui instrumen negara.”
“Dana mereka?”
“Dikunci.”
“Berapa lama?”
“Cukup lama.”
“Imbal hasil?”
“Rendah.”
“Likuid?”
“Terbatas.”
“Dan mereka?”
“Cukup menjadi bondholder.”
Robles tertawa pelan. “Dari pemain politik menjadi penonton.”
“Ya.”
Robles menatap dokumen itu. “Kalian sedang mengubah uang kotor menjadi pembiayaan negara.”
Timnya terdiam.
“Itu cara membacanya?”
“Bisa.”
“Cara lain?”
“Kita mengubah kekuatan politik menjadi klaim finansial.”
Robles tersenyum. Itulah beda antara moral dan kekuasaan. Moral bertanya, siapa yang bersalah? Kekuasaan bertanya, bagaimana membuat yang bersalah tidak lagi berbahaya?
“Kalau mereka tidak mau?”
Timnya sudah menunggu pertanyaan itu. “Kita gunakan pilihan terakhir.”
“Apa?”
“Biarkan polisi dan militer saling mengukur kekuatan.”
Robles langsung menatap tajam. “Perang?”
“Tidak.”
“Kudeta?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Intrik terkendali.”
Ruangan hening.
“Sebagian elite militer merasa selama ini dipinggirkan Mendoza.”
Robles mengangguk.
“Sebagian polisi merasa terlalu lama menanggung risiko untuk jaringan yang keuntungannya tidak lagi merata.”
“Lalu?”
“Kita dorong friksi.”
“Berbahaya.”
“Karena itu harus tetap dalam kendali institusi.”
“Tujuannya?”
“Membuat orang-orang di dalam jaringan Mendoza mulai mencari pelindung baru.”
Robles terdiam. “Dan ketika mereka datang?”
“Kita minta satu hal.”
“Apa?”
“Buka kotak pandora.”
***
Namun rencana yang terlihat sempurna di ruang rapat mulai bertabrakan dengan kenyataan. Mendoza memang akhirnya mau berdamai. Dia tidak lagi punya cukup kekuatan untuk melawan semua orang. Partai mulai menjauh. Daerah mulai kehilangan uang. Perusahaan negara perlahan diambil dari jaringan lamanya. Sebagian polisi mulai menunggu arah angin.
Mendoza tahu permainan hampir selesai. Tetapi ada masalah yang bahkan dia sendiri tidak bisa selesaikan. Sebagian besar uang shadow state sudah berada di luar negeri. New York.Miami. Panama. Karibia. Swiss. Singapura. Dubai. Rekening langsung. Trust. Private fund. Trade structure. Insurance wrapper. Semua dibangun selama bertahun-tahun. Dan kini uang itu tidak bisa begitu saja dipulangkan.
Seorang pengacara internasional datang menemui Mendoza. “Kita punya masalah.”
“Apa?”
“Dana berada dalam sistem dolar.”
“Lalu?”
“Setelah bertahun-tahun keluar melalui berbagai struktur, sebagian transaksi sudah ditandai.”
“Oleh siapa?”
“Bank koresponden. Compliance unit. Financial intelligence agencies.”
Mendoza mulai gelisah. “Kita pindahkan.”
“Tidak semudah itu.”
“Kenapa?”
“Karena begitu menyentuh sistem dolar, kita masuk ke yurisdiksi keuangan yang dipengaruhi arsitektur anti-money laundering Amerika Serikat.”
“Patriot Act?”
“Termasuk kerangka yang berkembang sesudahnya.”
Mendoza diam. “Jadi uang saya disita?”
“Belum tentu.”
“Lalu?”
“Lebih buruk.”
Mendoza menatapnya.
“Uangnya ada.”
“Ya.”
“Tapi tidak bisa dipakai.” Pengacara itu mengangguk.
Itulah bentuk kekuasaan yang paling kejam. Bukan mengambil harta seseorang. Tetapi membiarkan dia tahu hartanya masih ada— dan dia tidak bisa menyentuhnya. Mendoza mulai memahami sesuatu yang dahulu tidak pernah dipikirkannya. Dia menguasai oknum polisi. Dia menguasai kepala daerah. Dia menguasai tambang ilegal. Dia menguasai jaringan desa. Tetapi uangnya bergantung kepada sistem yang tidak pernah dia kuasai. Dalam dunia modern, kekuasaan nasional berakhir di tempat dolar mulai bekerja.
Masalah lain muncul. Lembaga keuangan internasional mulai membaca perubahan politik Santa Esperanza. Mereka tahu tentang shadow state didukung shadow economy. Tidak seluruh detailnya. Tetapi cukup banyak. Mereka tahu konflik di dalam elite. Tahu kondisi fiskal. Tahu tekanan kurs. Tahu bahwa sebagian perusahaan negara selama ini menjadi kanal transaksi yang tidak transparan. Mereka mulai mengurangi risiko. Pelan-pelan. Tidak dengan pengumuman. Tidak dengan konferensi pers. Mereka hanya memindahkan uang.Sedikit demi sedikit. Keluar.
***
Robles menerima laporan baru.
“Foreign lenders menurunkan exposure.”
“Berapa?”
“Belum besar.”
“Lalu kenapa panik?”
“Karena pola pergerakannya konsisten.”
“Capital flight?”
“Belum.”
“Lalu?”
“Preparation.”
Robles terdiam.
Dalam politik, orang selalu menunggu ledakan. Dalam keuangan, yang lebih penting justru suara kecil sebelum ledakan. Bank mengurangi limit. Investor memperpendek tenor. Kreditur meminta collateral tambahan. Trader membeli dolar. Perusahaan mempercepat pembayaran luar negeri. Semua terlihat kecil. Sampai suatu hari semua orang sadar bahwa pintu keluar terlalu sempit.
Robles meminta diplomasi dijalankan. Utusan dikirim ke Washington. Bankir dikirim ke New York. Pengacara dikirim ke London. Lobi dilakukan. Argumen disiapkan. Bahwa dana itu akan digunakan untuk Patriot Bond. Untuk stabilisasi fiskal. Untuk pembangunan. Untuk menyelamatkan negara. Amerika Serikat tidak tertarik. Bagi sistem keuangan global, niat baik hari ini tidak menghapus asal uang kemarin. Semua terhenti. Mendoza bingung. Robles lebih bingung.
***
Mereka akhirnya duduk berdua. Untuk pertama kali tanpa senyum. Tanpa pujian. Tanpa penghormatan palsu. Mendoza berkata “Saya punya uang.”
Robles menatapnya. “Tidak.”
Mendoza tersinggung. “Saya punya.”
“Tidak.”
“Berani kamu bilang begitu?”
Robles bersandar. “Uang yang tidak bisa dipindahkan bukan uang.”
Mendoza diam.
“Uang yang tidak bisa dipakai bukan kekuasaan.”
Mendoza mengepalkan tangan.
Robles melanjutkan. “Selama ini kamu pikir membangun shadow state berarti membangun kedaulatan.” Dia menunjuk ke arah jendela. “Padahal kamu hanya memindahkan ketergantungan.”
“Dari siapa?”
“Dari partai… Matanya tajam kepada Mendoza “…kepada bank asing.” Lanjut Robles.
Mendoza terdiam namun dia sadar kesalahannya tidak belajar dari kesalahan rezim sebelumnya yang akhirnya uang shadow economy dikuasai asing tanpa bisa pulang. Sementara Robles harus menata ulang programnya. Menghadapi realitas yang tidak mudah. Korporasi melemah daya produksinya. Daya beli drop. Kurs melemah. Index bursa. Outlook negatif dari lembaga rating international. Twin defisit Neraca dagang defisit. Neraca pembayaran juga defisit. Yield obligasi naik dan mendapatkan utang tidak mudah lagi. Uang yang diharapkan dari jaringan Mendoza hampa akhirnya. Mungkin saatnya dia harus bertemu dengan para elite partai. Duduk bersama menyelesaikan masalah bangsa. Karena apa yang terjadi hari ini tak lepas dari dosa kolektif para elite..
***
Pada akhirnya, Republik Santa Esperanza tidak hampir runtuh karena kekurangan orang pintar. Negeri itu mempunyai ekonom. Jenderal. Bankir. Pengusaha. Teknokrat. Ahli hukum. Politikus. Strategi mereka banyak. Uang mereka besar. Jaringan mereka luas. Yang kurang hanya satu: cinta.
Bukan cinta sentimental yang hidup dalam pidato. Bukan cinta kepada bangsa yang hanya diteriakkan ketika pemilu datang. Bukan cinta kepada rakyat yang dicetak di baliho. Tetapi cinta dalam pengertian yang paling sulit, yaitu kemampuan untuk membatasi diri ketika mempunyai kekuasaan. Kemampuan untuk tidak mengambil ketika mempunyai kesempatan. Kemampuan untuk tidak membalas ketika mempunyai kekuatan. Kemampuan untuk berkata cukup ketika semua orang masih ingin menambah. Dan kemampuan untuk mengorbankan kepentingan diri sendiri agar orang lain mempunyai masa depan. Itulah yang tidak dimiliki Santa Esperanza.
Dua belas tahun sebelumnya, sebelas orang berkumpul di Hotel Libertador. Mereka takut negara tenggelam. Namun sesungguhnya mereka lebih takut kehilangan tempat di atas kapal. Mereka kemudian menciptakan Gabriel Mendoza. Mereka memberinya partai. Uang. Media. Aparat. Teknokrat. Dan akhirnya kekuasaan. Mereka mengira sedang menciptakan seorang presiden yang bisa mereka kendalikan. Tetapi mereka lupa bahwa kekuasaan mempunyai sifat seperti api. Pada awalnya manusia merasa memegangnya. Lama-kelamaan, api itu membakar tangan yang menggenggamnya.
Mendoza masuk ke istana sebagai orang sederhana. Lalu dia mulai takut kehilangan jabatan. Dari rasa takut itu lahir keinginan untuk menguasai. Dari keinginan menguasai lahir kebutuhan akan loyalitas. Dari kebutuhan akan loyalitas lahir uang gelap. Dari uang gelap lahir jaringan. Dari jaringan lahir negara bayangan. Begitulah kekuasaan bekerja ketika tidak dijaga oleh jiwa. Ia selalu bisa menemukan alasan untuk membenarkan dirinya. Semua dilakukan atas nama stabilitas. Atas nama rakyat. Atas nama negara. Atas nama keadaan darurat. Sampai manusia tidak lagi mampu membedakan apakah dia sedang menyelamatkan negara atau sedang menyelamatkan dirinya sendiri.
Mendoza bukan manusia pertama yang melakukan kesalahan itu. Dan mungkin bukan yang terakhir. Karena manusia selalu lebih mudah menaklukkan orang lain daripada menaklukkan dirinya sendiri. Dia bisa memerintah polisi. Tetapi tidak bisa memerintah ketakutannya. Dia bisa menundukkan kepala daerah. Tetapi tidak bisa menundukkan kesombongannya. Dia bisa mengendalikan orang lain. Tetapi tidak pernah benar-benar mengendalikan dirinya sendiri. Di situlah letak tragedi kekuasaan.
Orang yang paling berbahaya bukan selalu orang yang membenci. Kadang-kadang dia adalah orang yang takut. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan kekayaan. Takut kehilangan penghormatan. Takut menjadi manusia biasa kembali. Karena rasa takut yang mendapat kekuasaan akan selalu mencari musuh. Lalu musuh menciptakan alasan untuk memperbesar kekuasaan. Dan kekuasaan yang terus membesar akhirnya membutuhkan ketakutan baru agar tetap hidup. Mendoza berpikir dia sedang membangun keamanan. Padahal dia sedang membangun penjara bagi dirinya sendiri. Alejandro Robles memahami kesalahan Mendoza.
Tetapi Robles menghadapi godaan yang tidak berbeda. Dia ingin menyelamatkan negara. Untuk itu dia ingin menguasai perusahaan negara. Memotong aliran uang lawan. Melemahkan daerah. Mengambil alih jaringan desa. Mengendalikan arus pembiayaan. Mengubah kekuatan politik menjadi klaim finansial. Semua masuk akal. Semua dapat dijelaskan. Semua dapat dibenarkan. Namun sejarah mempunyai pertanyaan yang lebih dalam daripada strategi, Apakah cara yang salah bisa melahirkan tujuan yang benar?.
Robles ingin menghancurkan shadow state. Tetapi bagaimana kalau untuk menghancurkannya dia harus membangun kekuasaan yang lebih besar? Bagaimana kalau untuk mengalahkan ketergantungan dia menciptakan ketergantungan baru? Bagaimana kalau untuk menyelamatkan negara dia akhirnya merasa bahwa hanya dirinya yang boleh menguasai negara? Itulah perangkap terbesar seorang penyelamat. Dia mulai dengan niat mengubah keadaan. Lalu perlahan-lahan percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang mampu mengubah keadaan. Dari situlah ego menemukan pakaian paling indah: pengabdian.
Kekuatan sejati tidak selalu terlihat ketika seseorang berhasil mengalahkan lawannya. Kadang kekuatan justru terlihat ketika seseorang mempunyai kemampuan menghancurkan lawan, tetapi memilih tidak melakukannya. Itulah jenis kekuasaan yang tidak dipahami Mendoza. Dan belum sepenuhnya dipahami Robles.
Kekuatan bukan sekadar kemampuan memaksa. Kekuatan juga kemampuan menahan diri. Bukan sekadar keberanian maju. Tetapi keberanian berhenti. Bukan sekadar kemampuan membuat orang takut. Tetapi kemampuan membuat orang lain tidak perlu takut. Bukan sekadar kemenangan atas musuh. Tetapi kemenangan atas kebencian terhadap musuh.
Mahatma Gandhi memahami sesuatu yang jarang dipahami oleh penguasa. Bahwa seseorang tidak menjadi kuat karena berhasil membuat orang lain berlutut. Seseorang menjadi kuat ketika dia tidak lagi membutuhkan orang lain berlutut untuk merasa besar. Dia melawan kekuasaan besar tanpa membangun dirinya menjadi tiran baru. Dia memahami bahwa kebencian mungkin dapat mengalahkan seseorang. Tetapi hanya cinta yang dapat menghentikan lahirnya musuh berikutnya. Itulah sebabnya cinta, dalam politik, bukan kelemahan. Cinta adalah bentuk keberanian tertinggi. Karena untuk mencintai, seseorang harus mampu melepaskan sebagian dari dirinya. Egonya. Keinginannya untuk menang. Haknya untuk membalas. Hasratnya untuk dihormati. Dan kadang-kadang, kenyamanannya sendiri.
Santa Esperanza tidak kekurangan orang yang bersedia mati demi kekuasaan. Yang langka adalah orang yang bersedia kehilangan kekuasaan demi kebenaran. Tidak kekurangan orang yang berani menyuruh rakyat berkorban. Yang langka adalah pemimpin yang lebih dahulu mengorbankan dirinya. Tidak kekurangan pidato tentang cinta kepada bangsa. Yang langka adalah orang yang mencintai bangsa lebih besar daripada mencintai namanya sendiri.
Barangkali itulah perbedaan antara orang yang ingin menjadi penguasa dan orang yang benar-benar ingin melayani. Penguasa bertanya, Apa yang bisa saya kendalikan? Pelayan bertanya, Apa yang bisa saya perbaiki? Penguasa bertanya, Siapa yang harus tunduk? Pelayan bertanya, Siapa yang harus dilindungi? Penguasa takut dilupakan. Pelayan tidak peduli siapa yang mendapat pujian selama penderitaan berkurang. Penguasa ingin meninggalkan monumen. Pelayan ingin meninggalkan manusia yang lebih merdeka.
Mendoza akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh para pengusaha, jenderal, ataupun politisi yang dahulu mengangkatnya. Dia mempunyai uang. Tetapi tidak mempunyai kebebasan. Dia mempunyai jaringan. Tetapi tidak mempunyai kedamaian. Dia mempunyai kekuasaan. Tetapi tidak pernah merasa aman. Miliaran uangnya tersimpan di luar negeri. Namun tidak bisa dipindahkan. Tidak bisa digunakan. Tidak bisa dibawa pulang. Dia menguasai orang-orang bersenjata. Tetapi di hadapan sistem keuangan global, dia hanyalah sebuah nama dalam berkas kepatuhan.
Begitulah hidup mempermainkan manusia. Kita mengejar sesuatu sepanjang hidup. Lalu setelah mendapatkannya, baru sadar bahwa yang kita kejar bukanlah yang sebenarnya kita butuhkan. Mendoza mengejar kekuasaan karena ingin merasa aman. Tetapi semakin berkuasa, semakin besar ketakutannya. Dia mengejar kekayaan agar merasa bebas. Tetapi kekayaannya justru membuat dirinya semakin terikat. Dia membangun orang-orang loyal agar tidak kesepian. Tetapi pada akhirnya dia tidak tahu siapa yang benar-benar mencintainya. Di situlah seluruh kerajaan dunia menjadi sangat kecil. Pada akhir hidup, manusia tidak bertanya berapa orang yang pernah takut kepadanya. Dia bertanya, Adakah seorang manusia yang mencintaiku tanpa membutuhkan sesuatu dariku?
Robles pun mulai memahami bahwa negara tidak bisa diselamatkan hanya dengan mengganti siapa yang memegang kekuasaan. Karena persoalan Santa Esperanza bukan hanya Mendoza. Bukan shadow state. Bukan polisi. Bukan oligarki. Bukan partai. Masalahnya lebih dalam. Negeri itu telah terlalu lama mengajarkan bahwa keberhasilan adalah kemampuan berada di atas orang lain. Orang miskin ingin menjadi kaya agar tidak lagi dihina. Orang kaya ingin lebih kaya agar tidak bisa dikalahkan. Politikus ingin berkuasa agar tidak bisa disingkirkan. Aparat ingin mempunyai uang agar tidak bergantung kepada negara. Daerah ingin menguasai pusat. Pusat ingin mengendalikan daerah. Semua orang ingin menang. Tidak ada yang bertanya. Kalau semua orang ingin menang, siapa yang akan merawat kebersamaan?
Negara tidak akan pernah menjadi damai selama kekuasaan dipahami sebagai hak untuk berdiri lebih tinggi. Karena selalu akan ada orang lain yang ingin menjatuhkan. Perdamaian baru mungkin lahir ketika kekuasaan dipahami sebagai tanggung jawab untuk membungkuk lebih rendah. Merawat yang lemah. Mendengar yang tidak mempunyai suara. Menjaga mereka yang tidak bisa membalas jasa. Itulah spiritualitas kekuasaan. Bukan membawa agama ke podium. Bukan memenuhi pidato dengan nama Tuhan. Tetapi menyadari bahwa setiap kuasa hanyalah titipan. Dan semua titipan pada akhirnya akan diminta kembali.
Spiritualitas tidak meminta manusia meninggalkan dunia. Ia meminta manusia tidak diperbudak oleh dunia. Bukan meninggalkan kekuasaan. Tetapi tidak membiarkan kekuasaan masuk terlalu dalam ke dalam jiwa. Bukan menolak kekayaan. Tetapi tidak menjadikan kekayaan sebagai ukuran harga diri. Bukan berhenti berjuang. Tetapi memastikan perjuangan tidak mengubah manusia menjadi sesuatu yang dahulu dia lawan. Gandhi pernah menunjukkan bahwa kekuatan moral tidak lahir dari kemampuan menyakiti. Ia lahir dari kemampuan menanggung penderitaan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Negara pada akhirnya bukan hanya institusi. Negara adalah hubungan moral antarmanusia. Kesepakatan bahwa yang kuat tidak akan memakan yang lemah. Bahwa yang kaya tidak akan membeli seluruh hukum. Bahwa yang bersenjata tidak akan menjadikan ketakutan sebagai bahasa. Bahwa yang memimpin tidak akan menganggap rakyat sebagai miliknya. Bahwa generasi hari ini tidak akan menghabiskan masa depan anak-anak yang belum lahir.
Bendera bisa tetap berkibar ketika semua itu hilang. Presiden masih bisa berpidato. Parlemen masih bisa bersidang. Tentara masih bisa berbaris. Bank masih bisa membuka pintu. Tetapi sebuah bangsa sesungguhnya mulai mati ketika manusia tidak lagi merasa bertanggung jawab terhadap manusia lain. Karena negara bukan tanah. Tanah tidak mengenal keadilan. Negara bukan gedung. Gedung tidak mengenal kasih. Negara adalah manusia yang bersedia hidup bersama manusia lain. Dan tidak ada kehidupan bersama yang bisa bertahan tanpa kepercayaan. Tidak ada kepercayaan tanpa pengorbanan. Tidak ada pengorbanan tanpa cinta.

Tinggalkan komentar