Berubah dan bertumbuh…

Aku mengundang Lin dan Lastri makan sop buntut kesukaanku di Hotel Borobudur. Mereka baru tiba di Jakarta sehari sebelumnya. Lin dari Beijing dan Lastri dari London. Tidak ada rapat. Tidak ada laporan keuangan. Tidak ada pembicaraan tentang posisi Lin sebagai CEO Yuan Agro Industry. Tidak pula tentang pekerjaan Lastri di Team Shadow Ale Capital. Hari itu mereka bukan eksekutif. Mereka sahabatku. Sambil makan, seperti biasa, pembicaraan ringan perlahan berubah serius. Aku yang memulainya.

“Orang sosialis mencibir kapitalisme sebagai sumber ketidakadilan. Orang kapitalis mencibir sosialisme sebagai sistem yang tidak rasional dan terlalu utopis. Di antara keduanya ada agama. Kadang ikut mencibir ke kiri dan ke kanan. Tapi faktanya sederhana. Sosialisme punya catatan kegagalan. Kapitalisme juga. Pemerintahan yang mengatasnamakan agama pun tidak selalu berhasil menciptakan keadilan. Di titik itulah selalu muncul keinginan untuk berubah. Pertanyaannya, mengapa perubahan yang dimulai dengan cita-cita baik hampir tidak pernah berakhir persis seperti yang diinginkan?”

Lin tidak langsung menjawab. Ia memotong daging dari tulang sop buntutnya, lalu menatapku. “Mungkin karena manusia selalu mengira bahwa perubahan cukup dimulai dari gagasan dengan pidato. “

Lastri mengangguk. “Padahal gagasan hanya memberi arah. Yang menentukan hasil akhirnya adalah siapa yang menjalankan, institusi apa yang menopang, dan kondisi seperti apa yang memaksa orang berubah.”

Aku tersenyum. “Nah. Mulai berat.”

Lastri tertawa kecil. “ Bapak melatih dan mendidik kami jadi seperti itu.  “ Ia mengambil tisu. “Dalam ilmu politik ada persoalan yang sederhana, tapi sering diabaikan. Sebuah sistem tidak bekerja hanya karena konstitusinya bagus.”

Aku menatapnya. “Lalu?”

“Harus ada tiga kekuatan yang saling menahan dan saling menguatkan.” Ia menghitung dengan jarinya. “Politik. Dunia usaha. Institusi.”

Aku menyimak. Lastri melanjutkan. “Politik menghasilkan legitimasi dan konsensus. Dunia usaha menghasilkan produksi, pekerjaan, pajak, dan inovasi. Institusi menjaga agar politik dan dunia usaha tidak saling memangsa.”

Aku mengangguk.

“ Seperti tesis dari Douglas North.” Kata Lin.”  Bagi North, institusi adalah rules of the game, aturan formal dan informal yang membentuk perilaku manusia. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan modal dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas aturan yang mengatur insentif.”

“ Ya kemudian persoalan dikembangkan lebih jauh oleh Daron Acemoglu dan James Robinson. “ Tambah lastri.” Mereka membedakan institusi yang membuka partisipasi luas dengan institusi ekstraktif yang memusatkan kekuasaan dan manfaat pada kelompok sempit.”

“Kalau salah satunya rusak?” tanyaku.

Lastri menjawab cepat. “Kalau politik lepas dari institusi, konsensus berubah menjadi transaksi. Kalau dunia usaha lepas dari institusi? Bisnis berubah menjadi perburuan rente. Kalau institusinya sendiri rusak?”

Lin tersenyum tipis. “Negara berubah menjadi panggung teater. Politikus berpura-pura mewakili rakyat. Pengusaha berpura-pura berkompetisi. Birokrat berpura-pura melayani.”

Aku tertawa kecil. “Pedas.” Aku menoleh kepada Lin. Ia meletakkan sendok. “Masalah itu tidak hanya ada dalam kapitalisme. Dalam negara sosialis, birokrasi dan partai bisa menguasai sumber daya. Dalam kapitalisme, modal besar bisa menguasai negara. Dalam negara yang membawa legitimasi agama, otoritas moral bisa dipakai untuk menutup kritik.”

Ia berhenti sebentar.

“Nama sistemnya berbeda. Tapi penyakitnya bisa sama.”

Aku menatapnya. “Apa nama penyakit itu?”

 “State capture.” Kata Lastri. “ Istilah itu banyak dibahas dalam literatur Bank Dunia dan karya Joel Hellman, Geraint Jones, serta Daniel Kaufmann. Mereka membedakan korupsi biasa dengan state capture. Korupsi biasa terjadi ketika seseorang membayar agar aturan dilanggar. Dalam state capture, yang dibeli justru proses pembentukan aturannya. Undang-undang. Lisensi. Pajak. Monopoli. Hak konsesi. Akses kredit. Semua bisa dibentuk untuk kepentingan mereka yang punya kekuasaan.

“Jadi yang dicuri bukan uang negara?” tanyaku.

Lin menggeleng. “Lebih besar.”

“Apa?”

“Aturan main.”

Aku terdiam.

Lin melanjutkan. “Karena kalau anda menguasai aturan main, anda tidak perlu mencuri secara kasar. Anda bisa membuat hasil pencurian terlihat legal.”

Aku menatap Lastri. Ia tersenyum. “Makanya institusi penting.”

“Law enforcement?”

“Bukan hanya law enforcement. Yang penting adalah apakah hukum berlaku juga terhadap mereka yang bisa memengaruhi hukum.”

Lin tersenyum. “ Banyak negara punya polisi. Punya jaksa. Punya pengadilan. Punya konstitusi. Tapi pertanyaan sebenarnya bukan apakah hukum tersedia. Pertanyaannya,  apakah hukum mampu bekerja ketika yang dihadapi adalah orang kuat?

Aku kembali makan. “Kalau begitu,” kataku, “masalah utama akhirnya kembali kepada manusia.”

Lastri menatapku.

Aku melanjutkan. “Siapa yang menjalankan politik? Manusia. Siapa yang menjalankan bisnis? Manusia. Siapa yang menjalankan institusi? Manusia.” Aku meletakkan sendok. “Berarti pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana mengubah manusianya.”

Lin tersenyum. “Tidak sesederhana itu.”

“Lho, tadi kalian bilang institusi dibuat manusia.”

“Benar.”

“Berarti manusia yang diubah.”

Lastri tertawa. “B ingin memperbaiki satu miliar orang seperti meng-upgrade operating system.”

Aku tertawa. “Bukankah memang begitu?”

Lin menjawab. “Manusia bukan komputer. Jadi tidak bisa diprogram? Bisa berubah. “ Ia membetulkan kalimatku. “Tapi bukan dalam arti dikendalikan sesuka hati.”

Aku menatapnya.

Lin melanjutkan. “Dalam psikologi modern, manusia dipahami sebagai makhluk yang bisa belajar, mengadaptasi perilaku, dan membentuk kembali kebiasaan.”

Lin menatap Lastri. “Bandura?”

 “Ya Social learning.”   Kata Lastri. “ Albert Bandura menunjukkan bahwa manusia tidak belajar hanya melalui instruksi langsung. Kita belajar dengan mengamati. Anak melihat orang tuanya. Murid melihat gurunya. Pegawai melihat atasannya. Rakyat melihat pemimpinnya. Perilaku yang diberi penghargaan akan ditiru. Perilaku yang dibiarkan tanpa hukuman akan dianggap normal.”

Aku tertawa kecil. “Berarti pidato tidak terlalu penting?”

“Jauh lebih lemah daripada contoh,” jawab Lin.

Lastri menambahkan, “Kalau pemimpin bicara disiplin tetapi hidupnya seenaknya?, masyarakat belajar dari hidupnya, bukan dari pidatonya. Kalau sekolah mengajarkan kejujuran tetapi anak melihat koruptor hidup terhormat?. Program sosialnya rusak. Kalau negara menyuruh orang bekerja keras, tapi promosi ditentukan koneksi?. Meritoraksi rusak. Kalau pemerintah bicara inovasi dan kreatif, tapi orang yang kritis dianggap pembangkang?. Lebih rusak lagi.”

Aku bersandar. “Berarti social engineering sebenarnya terjadi setiap hari.”

“Ya, dilakukan secara luas ” jawab Lin. “Di rumah, sekolah, kantor, pengadilan, televisi, media social, pasar.”

Lastri menyambung. “Bahkan melalui apa yang tidak dihukum.”

Aku menoleh kepadanya. “Maksudmu?”

“ Seperti yang tulis oleh Cristina Bicchieri dalam social norms.” Kata Lin menambahkan.Bicchieri menunjukkan bahwa manusia bertindak bukan hanya berdasarkan apa yang dianggap benar secara pribadi, tetapi juga berdasarkan apa yang ia percaya dilakukan dan diharapkan oleh orang lain. Karena itu norma sosial tidak berubah hanya dengan slogan. Ia berubah ketika ekspektasi bersama berubah.”

Aku berkata, “Jadi kalau semua orang menganggap menyuap itu normal, satu orang jujur justru dianggap bodoh.”

“Benar,” kata Lastri.

“Dan kalau masyarakat mulai percaya bahwa orang lain juga ingin berubah?”

Lin menyambung, “Barulah norma lama mulai retak.”

Aku tersenyum. “Ini menarik.”

Lastri menatapku. “Makanya perubahan besar jarang lahir dari seorang manusia.”

“Lalu dari apa?”

“Dari kesadaran kolektif.”

Aku diam. Lin meneruskan. “Ketika banyak orang secara terpisah mengalami masalah yang sama. Awalnya masing-masing menganggap itu nasib pribadi.”

Aku mengangguk. “Lalu?”

“Lalu mereka mulai sadar bahwa masalahnya bukan hanya pada diri mereka.”

Lastri menyambung. “Itulah perubahan dari personal grievance menjadi collective grievance.”

Aku menatapnya. “Bahasa Indonesianya?”

“Dalam sosiologi gerakan sosial, perubahan semacam itu penting. ” Jawab singkat Lin.

” Ted Robert Gurr menulis tentang relative deprivation, bahwa manusia tidak selalu bergerak hanya karena miskin. Mereka bisa bergerak ketika jarak antara apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rasakan menjadi terlalu besar.” Lastri menjelaskan.

“ Charles Tilly melihat aksi kolektif lahir ketika kepentingan bersama bertemu dengan organisasi, kesempatan politik, dan kemampuan bertindak.” Kata Lin menambahkan. “ Sementara Mancur Olson justru mengingatkan bahwa kepentingan bersama tidak otomatis melahirkan tindakan bersama. Orang bisa memilih diam dan berharap orang lain yang menanggung biaya perjuangan.

Aku berkata, “Jadi penderitaan saja tidak cukup.”

“Tidak,” jawab Lastri. “ Harus ada kesadaran.”

Lin menambahkan, “Dan harus ada keyakinan bahwa tindakan bersama mungkin mengubah keadaan.”

Aku mengangguk. “Berarti orang bisa miskin selama puluhan tahun tanpa revolusi.”

“Bisa,” jawab Lin. “ Kalau mereka menganggap kemiskinan itu takdir.

“ Dan orang bisa marah walaupun tidak paling miskin?” Kataku.

“Bisa,” jawab Lastri. “Kalau harapan naik lebih cepat daripada kenyataan.”

Aku tersenyum. “Itulah mengapa kelas menengah sering berbahaya.”

Lastri tertawa. “Bukan berbahaya.”

“Lalu?”

“Sadar.”

Lin mengangkat cangkir tehnya. “Perubahan juga sering lahir dari survival.”

Aku menatapnya. “Jelaskan.”

“Manusia  lama bertahan sendiri.” Ia berkata. “Selama masih bisa hidup, ia akan menyesuaikan. Menurunkan kebutuhan. Mengubah harapan. Menahan marah. Tapi ada titik ketika cara lama tidak lagi cukup.”

Aku diam.

Lin melanjutkan. “Petani bisa terus menjual murah selama masih bisa makan. Pekerja bisa menerima upah rendah selama anaknya masih bisa sekolah. Pengusaha bisa menerima aturan buruk selama usahanya masih berjalan. Tapi ketika survival mulai terancam…”

Lastri menyambung, “Kesadaran berubah.”

Aku menatap mereka bergantian. “Dari aku?”

“Menjadi kita,” jawab Lin.

“ Hh ya.. how ?

Lin tersenyum. “ Dalam The Great Transformation, Karl Polanyi menjelaskan bahwa masyarakat akan bereaksi ketika mekanisme ekonomi mengancam fondasi sosial kehidupan mereka. Ia menyebutnya sebagai double movement. Pasar mendorong perluasan. Masyarakat kemudian mencari perlindungan. Tidak selalu melalui revolusi. Bisa melalui serikat. Koperasi. Reformasi. Gerakan politik. Bahkan nasionalisme.”

Aku berkata, “Jadi masyarakat punya mekanisme pertahanan diri.”

Lastri mengangguk. “Survival kolektif.”

Aku menatap Lin. “Seperti petani di desamu dulu?”

Lin tersenyum. “Ya.” Mereka tidak membentuk koperasi karena membaca teori.”

Lastri ikut tertawa.

Lin melanjutkan. “Mereka membentuk koperasi karena sendiri-sendiri mereka terlalu lemah. Tidak punya gudang. Tidak punya akses bank. Tidak punya pasar. Tidak punya posisi tawar.”

Aku mengangguk. “Jadi koperasi adalah revolusi?”

“Bukan revolusi dalam arti menggulingkan negara.” Lin menjawab. “Tapi revolusi dalam hubungan kekuasaan.”

Lastri langsung masuk. “Dari price taker menjadi pelaku yang punya bargaining position.”

Aku tersenyum. “Nah. Itu saya suka.”

Aku kembali ke pertanyaan awal. “Kalau perubahan lahir dari kesadaran kolektif, apakah ia bisa dirancang?”

Lastri diam. Lin berpikir. Akhirnya Lastri menjawab. “Bisa dipersiapkan.”

“Tapi?” Aku tersenyum.

“Tidak bisa dipesan.” Lastri melanjutkan. “ Kita bisa membangun pendidikan. Membangun institusi. Membuka informasi. Membuat ruang berpikir. Tapi kita tidak bisa memerintahkan jutaan orang untuk sadar pada waktu yang sama.”

Lin mengangguk. “Kesadaran punya waktunya sendiri.”

Lastri menyambung. “ Ingat deh cerita soal Lafayette. Ia datang ke Amerika bukan karena Raja Prancis menyuruhnya. Ia datang karena sebuah gagasan dari tempat lain menemukan tempat di dalam dirinya. Kemudian gagasan itu ikut pulang ke Prancis. Tetapi Revolusi Prancis tidak menjadi fotokopi Revolusi Amerika. Mengapa? Karena gagasan bisa menjalar. Kondisi tidak. Amerika punya sejarah sendiri. Prancis punya luka sendiri. Rusia punya struktur sendiri. China punya desa, petani, perang, dan geografi sendiri. Karena itu Mao tidak bisa menjadi Lenin. Castro tidak bisa menjadi Mao. Khomeini tidak bisa menjadi Castro. Dan Tahrir tidak bisa menjadi Teheran.”

Aku berkata, “Jadi revolusi tak bisa difotokopi.”

Lin mengangguk. “Tidak.”

“Tidak bisa dipesan?”

“Tidak.”

Lastri melanjutkan. “Tapi bisa menjalar.”

Aku tersenyum. “Sebagai apa?”

Lastri menjawab, “Sebagai kesadaran bahwa keadaan yang dianggap normal sebenarnya bisa diubah.”

Kami terdiam.

Aku melanjutkan. “Lalu mengapa banyak revolusi akhirnya menyimpang?”

Lin tersenyum pahit. “Karena kesadaran kolektif biasanya dimulai dengan kata kita. Kita tertindas. Kita ingin hidup. Kita ingin adil.”

Lastri melanjutkan. “Lalu setelah menang, muncul kata kami. Kami yang berjuang. Kami yang paling berjasa. Kami yang paling memahami rakyat.”

Lin menambahkan, “Setelah ada kami, lahirlah mereka.”

Aku mengangguk.

“ Di situlah persoalan revolusi menjadi gelap.” Lanjut Lin. “ Yang universal mulai menyempit. Kebebasan. Keadilan. Harga diri. Semula milik kita. Kemudian berubah menjadi milik kelompok yang menang. Hannah Arendt pernah membedakan kekuasaan dengan kekerasan. Kekuasaan lahir ketika manusia bertindak bersama. Tetapi ketika kebersamaan itu hilang, kekerasan sering dipakai untuk menggantikan legitimasi yang melemah.”

Aku berkata, “Jadi kekuasaan lahir dari kita.”

Lastri mengangguk. “Tapi bisa mati ketika kita berubah menjadi kami.”

Lin menatapku. “Itulah mungkin penyakit semua revolusi.”

Sop buntut kami hampir habis. Aku memandang keduanya. “Kesimpulan?”

Lastri tersenyum. “Tidak ada ideologi yang secara otomatis menyelamatkan manusia.”

Lin menambahkan, “Tidak ada sistem yang kebal terhadap pembusukan.”

Aku mengangguk. “Lalu apa yang menyelamatkan?”

Lastri menjawab, “Kemampuan masyarakat mengoreksi diri.”

Lin melanjutkan, “Dan kemampuan manusia memprogram ulang dirinya ketika cara lama tidak lagi bekerja.”

Aku tersenyum. “Jadi akhirnya kembali ke survival?”

“Ya,” jawab Lastri. “ Tapi bukan survival binatang.”

Aku mengangkat alis. “Lalu?”

“Survival yang disertai kesadaran.”

Lin menambahkan, “Manusia tidak hanya ingin hidup. Ia ingin hidup dengan martabat.”

Kami diam. Di luar, Jakarta mulai gelap. Aku memandang mereka berdua. Aku puas. Dua perempuan yang selama bertahun-tahun dididik mahal oleh korporasi. Bukan hanya untuk mengerti laporan keuangan. Bukan hanya untuk menjadi eksekutif. Mereka dilatih membaca realitas dengan ilmu. Menguji sejarah dengan logika. Dan tidak mudah terpesona oleh slogan.

“Kalian tahu sesuatu?” Aku tersenyu.

Lastri dan Lin menatapku. “Yuan punya produksi berlian.”

Lastri tersenyum. “Saya tahu. “Bukan berlian yang digali dari bumi.”

Lin mengangguk. “Lab-grown diamond.”

Aku bersandar. “Tidak ada lubang tambang besar. Tidak ada gunung yang dikupas. Tidak ada tanah yang dihancurkan hanya untuk mencari sepotong kristal.”

Aku berhenti.

“Berlian itu lahir di laboratorium.” lanjutku.

Lastri menatapku. “Dari karbon.”

“Benar.”

Aku melanjutkan. “Dan sumber karbonnya bisa datang dari bahan yang sangat biasa. Metana. Gas yang bisa berasal dari gas alam. Bisa juga dari biogas yang dimurnikan.”

Lin menyela. “Lalu hidrogen.”

Aku mengangguk. “Hidrogen bisa diproduksi dari air melalui elektrolisis. Bisa pula diperoleh dari gas alam melalui proses industri.”

Aku memandang keduanya. “Coba bayangkan. Metana. Hidrogen. Listrik. Bahan yang tidak terlihat mewah. Tapi dari sana lahir berlian.”

Aku mengambil gelas.

“Dalam proses CVD, chemical vapor deposition, campuran gas dimasukkan ke dalam reaktor.”

Lin langsung menambahkan, “Biasanya hidrogen menjadi gas utama, sementara metana hanya dalam proporsi kecil.”

Aku mengangguk. “Kurang lebih begitu. Di dalam reaktor, energi tinggi mengubah campuran gas menjadi plasma.”

Aku menggerakkan tangan seolah memperlihatkan sesuatu yang tidak terlihat. “Metana terurai. Atom karbon dilepaskan. Lalu satu demi satu tumbuh di atas diamond seed. Seperti menumbuhkan kristal. Bukan dicetak. Bukan dilelehkan. “ Aku tersenyum. “Dibuat tumbuh. Lapisan demi lapisan. Atom demi atom.”

Aku terdiam dan tetap tersenyum menatap mereka berdua. “Itulah yang membuat saya kagum. Alam membutuhkan tekanan, suhu, dan waktu geologis. Manusia mempelajari hukumnya. Lalu menciptakan kondisi agar proses yang sama terjadi secara terkendali.”

Aku diam sejenak dan tersenyum. “Nah. Ini yang menarik. Mengapa harus ada hidrogen? Kalau karbon dibiarkan begitu saja, ia tidak otomatis menjadi berlian. Karbon bisa membentuk struktur lain. Grafit. Seperti isi pensil.”

“Hidrogen membantu menekan pembentukan karbon non-diamond dan menjaga permukaan pertumbuhan kristal.” Kata lin seraya mengangguk.

Aku menunjuknya. “Persis. Jadi bahannya sama-sama karbon. Tapi susunan atomnya berbeda.”

Aku berhenti. “Yang satu menjadi grafit. Yang satu menjadi berlian.”

Lastri tersenyum. Aku menatapnya. “Itulah peradaban.”

“Maksud B?”

“Bahan yang sama. Nasibnya berbeda. Karena struktur.” Jawabku.

Lin tersenyum kecil. “Seperti manusia?”

Aku tertawa. “Kamu mulai memahami saya.”

Aku melanjutkan. “Banyak negara merasa kaya karena punya gas. Punya tambang. Punya mineral. Punya air.”

Aku menggeleng. “Itu belum kekayaan.”

Lastri menatapku. “Masih bahan baku.”

“Ya.”

Aku berkata, “Bahan baku hanya potensi. Kekayaan baru lahir ketika manusia menguasai pengetahuan untuk mengubahnya.”

Aku mulai menghitung dengan jari. “ Reaktor plasma. Pengendalian kemurnian gas. Tekanan. Suhu. Stabilitas energi. Kontrol pertumbuhan kristal. Pemotongan. Pemolesan. Pengujian kualitas.”

Lin menambahkan, “Characterization.”

Aku mengangguk. “Spektroskopi. Defect analysis. Traceability. Konsistensi.”

Aku memandang mereka. “Di situlah uang sebenarnya berada.”

Lastri berkata, “Jadi nilai tambahnya bukan karena bahan bakunya mahal.”

“Bukan.” Aku menjawab. “ Nilai tambah lahir karena pengetahuannya mahal. Presisinya mahal. Disiplinnya mahal. Kegagalannya mahal. Risetnya mahal. Manusianya mahal.”

Kami diam.

Aku melanjutkan. “Metana murah. Hidrogen bisa diproduksi. Listrik tersedia. Tapi coba serahkan semua itu kepada orang yang tidak punya ilmu.”

Aku tersenyum. “Apa yang dihasilkan?”

Lastri menjawab, “Gas tetap gas.”

Aku mengangguk. “Benar.” Kataku seraya acungkan jempol “Beri kepada orang yang punya ilmu, teknologi, dan disiplin…”

Lin menyambung, “Bisa menjadi material bernilai tinggi.”

Aku tersenyum. “Berlian.”

Aku bersandar. “Inilah yang sering tidak dipahami orang ketika bicara hilirisasi.”

Lastri menatapku. Aku melanjutkan. “Hilirisasi bukan sekadar membangun pabrik dekat tambang. Bukan sekadar melarang ekspor bahan mentah. Bukan sekadar mengganti bijih menjadi barang setengah jadi.”

Aku menggeleng. “Itu masih tahap awal.”

“Lalu apa tahap sebenarnya?” tanya Lastri.

“Knowledge upgrading.” Jawabku cepat.

Lin langsung mengangguk. Aku melanjutkan. “Naik dari bahan baku ke proses. Dari proses ke teknologi. Dari teknologi ke material maju. Dari material maju ke produk yang dibutuhkan industri dunia.”

Aku berhenti sejenak dan tetap tersenyum. “Semakin tinggi pengetahuan yang tertanam di dalam produk, semakin kecil ketergantungan kita kepada banyaknya sumber daya yang digali.”

Lin berkata, “Itu sebabnya berlian sintetis tidak hanya untuk perhiasan.”

“Ya.” Aku mengangguk. “Perhiasan hanya bagian yang paling mudah dilihat. Berlian industri bisa dipakai untuk cutting tools. Thermal management. Optics. Electronics. Beberapa aplikasi medis. Dan riset material maju.”

Lastri memandangku. “Jadi simbol kemewahan berubah menjadi platform teknologi.”

Aku tersenyum. “Tepat.”

Aku memandang keduanya. “Karena itu Yuan berinvestasi sangat mahal pada manusia. Bukan hanya pada mesin. Mesin bisa dibeli. Reaktor bisa dipesan. Gedung bisa dibangun.”

Aku berhenti sejenak dan lanjutkan. “Tapi manusia yang mampu memahami proses, mengoreksi kegagalan, lalu memperbaiki desain—itu tidak bisa dibeli dalam semalam.”

Lin mengangguk.

Aku melanjutkan. “Yuan membiayai pendidikan. Riset. Eksperimen. Kesalahan. Kegagalan. Karena transformasi tidak pernah lahir dari orang yang takut gagal.”

Lastri tersenyum. “Ini kembali ke pembicaraan kita tadi.”

“Ya.” Aku menjawab. “Manusia harus bisa memprogram ulang dirinya. Perusahaan juga. Negara juga. Dan itu harus berbasis sains dan data.”

Aku mengambil sendok lagi. “ Kalau dunia berubah, kita tidak bisa terus hidup dari cara lama. Kalau sumber daya menipis, kita harus mencari cara baru. Kalau tambang merusak lingkungan, kita harus menemukan material melalui jalan lain. Kalau teknologi lama tidak lagi efisien, kita harus menciptakan teknologi baru.”

Aku menatap mereka berdua. “Itulah fungsi sains. Bukan sekadar menemukan rumus. Tapi memperluas pilihan manusia.”

Lin mengangguk.

Lastri diam.

Aku melanjutkan. “Manusia dulu mengira berlian hanya bisa ditemukan di dalam bumi. Sekarang manusia bisa menumbuhkannya. Dulu kita mengira kekayaan datang dari apa yang tersimpan di bawah tanah.” Aku menggeleng. “Tidak. Kekayaan terbesar justru ada di atas tanah.”

Lastri tersenyum. “Manusia.”

“Ya.”

Aku menjawab. “Manusia yang berpikir. Manusia yang belajar. Manusia yang disiplin. Manusia yang berani mengoreksi dirinya.”

Aku menatap sisa kuah sop buntut. “Tanpa itu, negara kaya sumber daya hanya akan menjadi pemasok bahan mentah. Tapi dengan itu…” Aku mengangkat wajah. “Gas bisa menjadi berlian.”

Kami diam.

Lin menghela napas panjang. Matanya mulai basah. “Aku pernah punya ambisi yang menurutku mulia.”

Aku menatapnya.

“Membela petani agar mereka mandiri.”

Lastri ikut diam.

Lin melanjutkan.“Aku berhasil. Petani punya posisi tawar. Mereka punya pasar. Mereka punya pengolahan. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada orang lain.”

Ia tersenyum pahit. “Tapi setelah itu aku tersingkir. Aku dikalahkan oleh ketidak adilan.” Suaranya mulai bergetar. “Aku jatuh. Jauh. Ke tempat yang bahkan tidak pernah kubayangkan.”

Air matanya jatuh. “Aku pikir hidupku selesai.”

Lastri langsung menggenggam tangannya. Lin menatapku. “Tapi B mengambilku.”

Aku menggeleng pelan.

Lin tetap melanjutkan. “B tidak hanya memberiku pekerjaan. B mendidikku. Memasukkanku ke dalam ekosistem yang menjaga transparansi. Meritokrasi. Disiplin. Sains. Dan tanggung jawab.”

Ia menarik napas. “Aku berubah.” Air matanya semakin deras. “Dulu aku hanya perempuan desa yang ingin membantu petani. Kemudian aku jatuh. Hancur. Lalu dibentuk lagi.”

Lin tersenyum di antara air matanya. “Sekarang aku menjadi CEO agroindustri berkelas dunia.”

Lastri memeluknya. “Aku juga, Kak Lin.”

Lin menoleh. “Kita senasib.”

Suara Lastri ikut bergetar. “Kita sama-sama pernah merasa tidak punya tempat. Tapi kita berubah karena visi seorang B.”

Aku langsung menatapnya. “Jangan mulai memuja saya.”

Lastri tersenyum sambil tetap memeluk Lin. “Bukan memuja.”

“Lalu?”

“Mengakui.”

Aku diam. Lastri melanjutkan. “B mengelola kami. Mendidik kami. Memberi kami ruang. Tapi yang paling penting, B memanusiakan kami.”

Aku menunduk.

“Kita tidak dijadikan alat. Tidak dijadikan pengikut. Tidak dibuat tergantung.” Lastri menatapku. “Kita dibentuk supaya bisa berdiri sendiri.”

Lin mengangguk. “Dan setelah itu…” Ia menatapku lama. “Menjadi something else.”

Aku tersenyum.

Lalu berkata pelan, “Bukan.”

Mereka menatapku. “Kalian bukan hanya sesuatu yang lain.”

Aku berhenti. “Kalian adalah diri kalian sendiri.”

Aku mengambil gelas. “Hanya saja dulu dunia belum selesai memproses kalian.”

Lin menangis lagi. Lastri memeluknya lebih erat. Aku menatap keduanya. Lalu tersenyum. “Sekarang kalian mengerti.”

“Apa?” tanya Lastri.

Aku menunjuk mereka. “Yuan ternyata tidak hanya memproduksi berlian di laboratorium.”

Mereka diam.

Aku melanjutkan. “Yuan juga menghasilkan berlian dari manusia.”

Lin menutup wajahnya. Lastri tersenyum sambil menangis.

Aku berkata, “Bukan karena bahan awalnya sempurna. Bukan karena hidup kalian mudah. Bukan pula karena kalian selalu menang.”

Aku berhenti sejenak.

“Justru karena kalian pernah ditekan.” Lanjutku.” Dihantam. Jatuh. Lalu masuk ke dalam lingkungan yang tepat. Diberi ilmu. Diberi disiplin. Diuji. Dikoreksi. Dan diberi ruang untuk tumbuh.”

Aku tersenyum. “Karbon yang sama bisa menjadi grafit. Atau berlian. Yang membedakan adalah struktur.”

Aku menatap keduanya. “Dan kini kalian adalah produk berlian Yuan Holding.”

“ Come hug me.” Kataku rentangkan kedua tangan. Mereka berdua memeluk ku secara bersamaan. Mereka asset aku dan aku pernah bertaruh berinvestasi terhadap mereka hanya atas pertimbangan visi …

Kami diam. Di luar, Jakarta sudah sepenuhnya gelap. Tetapi di meja kecil itu, aku melihat dua perempuan yang pernah kalah oleh keadaan. Kini keduanya berdiri jauh lebih tinggi daripada masa lalu yang pernah menghancurkan mereka. Mungkin memang begitu manusia berubah. Bukan dengan pidato. Bukan dengan belas kasihan. Tetapi dengan ekosistem yang benar. Disiplin. Ilmu. Kepercayaan. Dan kesempatan untuk tumbuh.

Sebab manusia, seperti karbon, tidak selalu membutuhkan bahan baru. Kadang ia hanya membutuhkan— tekanan yang tepat, lingkungan yang tepat, dan seseorang yang percaya bahwa di dalam dirinya ada berlian yang belum terbentuk. Inilah yang tidak dipahami pemerintah saat Pendidikan dipunggungi demi memberi makan. Padahal manusia bisa memberi makan dirinya sendiri bila otak berisi dan attitude nya bersinar ditengah lingkungan yang menjamin transfaransi, meritokrasi dan dilaksanakan dengan disiplin.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca