Dia menyentuhku namun tak bisa kuraih..

Aku masih ingat malam pertama itu. Caracas sedang gerimis. Hujan turun pelan, seolah langit pun takut membuat kota itu semakin rapuh. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, bergetar di antara genangan kecil dan retakan jalan yang mulai dimakan waktu. Venezuela saat itu belum sepenuhnya runtuh. Gedung-gedung masih berdiri. Musik masih terdengar dari bar-bar kecil. Orang-orang masih tertawa, masih berdansa, masih berpura-pura bahwa besok akan baik-baik saja.

Tetapi bagi orang-orang yang hidup dengan angka seperti aku, kehancuran tidak pernah datang tiba-tiba. Ia selalu meninggalkan tanda. Defisit yang melebar. Cadangan devisa yang menipis. Utang yang disembunyikan dalam bahasa politik. Subsidi yang dibungkus sebagai cinta kepada rakyat. Dan inflasi yang perlahan mencuri martabat dari dapur orang miskin.

Aku memahami semua itu bukan dari buku semata. Aku bekerja di sebuah kantor konsultan sebagai analis. Tugasku membaca retakan sebelum gedung benar-benar ambruk. Membaca angka sebelum ia berubah menjadi antrean roti, obat yang menghilang, dan mata uang yang tidak lagi dipercaya rakyatnya sendiri.

Malam itu aku masuk ke sebuah bar kecil dekat Chacao. Tujuanku sederhana. Membaca laporan fiskal sambil menghindari berita politik yang semakin hari semakin membuat dada terasa sempit. Aku memilih meja di sudut ruangan, memesan anggur merah, lalu membuka map berisi angka-angka yang bagi kebanyakan orang terlalu kering untuk dibawa ke malam yang basah dan sunyi.

Lalu seorang pria berdiri di samping mejaku. “Tidak banyak perempuan yang membawa laporan ekonomi ke bar.”

Aku mengangkat kepala. Pria itu tersenyum. Wajahnya Asia, tetapi kulitnya seperti menyimpan matahari Amerika Latin. Senyumnya tenang. Percaya diri. Tetapi tidak sombong. Ada sesuatu pada caranya berdiri, pada tatapan matanya, pada diam di sela kata-katanya. Ia seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat dunia dari balik pintu tertutup.

“Dan tidak banyak pria,” jawabku, “yang bisa mengenali laporan fiskal dari jarak dua meter.”

Ia mendekat sedikit. Entah mengapa, jantungku bergetar hanya karena tatapannya. “Apa boleh saya duduk di sini?” katanya lembut. “Atau mungkin kalau Anda sedang menanti seseorang, izinkan saya menemani Anda barang sebentar.”

Aku mengangguk.

Ia duduk di hadapanku. “B,” katanya, memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.

“Maria,” jawabku, tersenyum.

Percakapan kami bermula dari hal-hal remeh. Tentang asal masing-masing. Tentang cuaca. Tentang kota-kota yang pernah kami singgahi. Tentang hujan yang selalu membuat manusia sedikit lebih jujur daripada biasanya. Lalu, tanpa kusadari, aku mulai merasa nyaman. Ia tertawa kecil. Bukan tawa untuk merayu. Bukan juga tawa untuk memenangkan percakapan. Tawa itu seperti pintu yang terbuka perlahan.

Aku tidak tahu siapa dia. Aku hanya tahu satu hal, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku bertemu seseorang yang bisa membuat percakapan terasa lebih berbahaya daripada sentuhan.

Beberapa pria mengagumi wajahku. Beberapa mengagumi tubuhku. Beberapa datang membawa pujian seperti membawa bunga yang akan layu sebelum pagi. Tetapi B berbeda. Ia mengagumi pikiranku. Dan justru di situlah letak kelemahanku.

Ia tidak buru-buru menyentuh tanganku. Tidak memaksakan kedekatan. Tidak menatapku seperti lelaki yang sedang menimbang keindahan. Ia bertanya. Ia mendengar. Ia membiarkan kalimatku selesai sebelum menaruh pikirannya sendiri di atas meja. Ia bertanya tentang ekonomi. Tentang geopolitik. Tentang masa depan Venezuela. Tentang mengapa negeri yang begitu kaya minyak justru berjalan pelan menuju jurang.

Dan ketika aku menjawab, ia mendengarkan dengan cara yang langka. Sungguh mendengarkan. Bukan seperti kebanyakan pria yang hanya diam karena menunggu giliran berbicara. Di hadapannya, aku tidak merasa sedang diuji. Aku merasa dikenali. Sebagai perempuan. Sebagai intelektual. Sebagai manusia.

***

Sejak pertemuan pertama itu, ada sesuatu yang aneh di antara kami. Rasanya walau baru berjumpa, tetapi hati sudah menyimpan ingatan yang lebih tua daripada waktu. Sejak itu kami sering bertemu. Setiap kali ia melakukan perjalanan bisnis ke Caracas, ia selalu menyempatkan diri makan malam denganku.

Suatu malam, kami kembali duduk di bar yang sama. Hujan turun di luar jendela. Di dalam ruangan, musik tua Amerika Latin mengalun rendah, seperti kenangan yang enggan pergi. Kami berbicara tentang populisme. Aku berkata kepadanya bahwa populisme tidak selalu lahir dari niat jahat. Kadang ia lahir dari luka rakyat yang nyata. Dari kemarahan kepada elite yang terlalu lama hidup di atas penderitaan orang banyak. Dari rasa lapar yang tidak pernah dijelaskan dengan jujur. Dari janji-janji pembangunan yang hanya berhenti di pidato.

Tetapi bahaya dimulai ketika semua persoalan negara disederhanakan menjadi pertarungan antara rakyat dan musuh. Rakyat melawan asing. Rakyat melawan pasar. Rakyat melawan pengkhianat. Rakyat melawan siapa pun yang tidak sepakat dengan penguasa. Saat itu terjadi, ekonomi berhenti menjadi ilmu. Ia berubah menjadi panggung propaganda. Angka tidak lagi dibaca untuk memahami kenyataan. Angka dipelintir untuk menjaga ilusi.

“Venezuela tidak miskin karena kekurangan minyak,” kataku pelan.

B menatapku tanpa berkedip.

“Venezuela menjadi miskin karena terlalu lama percaya bahwa minyak bisa menggantikan institusi.”

B terdiam sebentar. Lalu ia berkata, hampir seperti berbisik, “Populisme itu seperti cinta yang membakar akal sehat.”

Aku terkejut. Kalimat itu terlalu puitis untuk keluar dari seorang pria yang sepanjang malam berbicara dengan ketenangan seorang banker. Aku menatapnya, berharap ia melanjutkan kata-katanya.

Di luar, hujan mengetuk kaca.

“Dalam politik,” lanjut B, “tidak ada gagasan yang lebih mudah memikat rakyat bodoh dan miskin daripada populisme. Ia datang membawa harapan. Membawa bahasa keadilan. Membawa janji bahwa negara akan hadir, memeluk semua luka, menyelesaikan semua derita.”

Ia berhenti sejenak. Matanya memandang gelas anggur di depannya, seolah di sana ada peta sebuah negara yang sedang kehilangan arah.

“Di atas kertas, populisme sering tampak mulia. Bantuan tunai, subsidi besar, program sosial, janji kesejahteraan untuk semua. Tetapi ekonomi tidak hidup dari niat baik saja. Ekonomi hidup dari sumber daya yang terbatas, dari produktivitas, dari disiplin, dari institusi yang tidak boleh kalah oleh tepuk tangan massa.”

Aku diam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sisi lain dari B. Bukan hanya pendengar yang baik, tetapi seorang pria yang menyimpan kedalaman.

“Secara filosofis,” katanya lagi, “populisme berangkat dari keyakinan bahwa negara bisa menjadi alat redistribusi untuk memperbaiki ketimpangan. Dan itu tidak salah. Negara memang harus melindungi yang lemah. Tetapi persoalan dimulai ketika politik menjanjikan lebih banyak daripada kemampuan ekonomi membiayainya.”

Ia menatapku.

“Pada tahap awal, populisme terasa seperti obat. Konsumsi naik. Rakyat merasa diperhatikan. Pertumbuhan tampak membaik. Politisi dipuja karena manfaatnya langsung terasa. Tetapi sering kali semua itu dibayar dengan defisit, utang, subsidi yang membengkak, dan pengorbanan investasi produktif jangka panjang.”

Aku tahu apa yang ia maksud. Aku melihatnya setiap hari dalam angka-angka yang kubaca.

B melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Di situlah paradoksnya. Program yang dirancang untuk menolong rakyat hari ini bisa menjadi beban bagi rakyat yang sama di masa depan. Ketika belanja negara tumbuh lebih cepat daripada penerimaan, pemerintah hanya punya tiga jalan: menaikkan pajak, menambah utang, atau mencetak uang secara langsung maupun tidak langsung. Tidak ada satu pun yang gratis. Pajak menekan investasi. Utang menambah beban bunga. Uang yang dicetak tanpa fondasi produktif akan kembali sebagai inflasi.”

Aku menunduk. Kata-katanya seperti pisau yang tidak berkilat, tetapi tajam.

“Argentina mengalaminya,” katanya. “Bertahun-tahun kebijakan populis dijalankan dengan alasan melindungi rakyat. Tetapi ketika pasar kehilangan kepercayaan, mata uang jatuh, inflasi menjadi penyakit kronis, dan rakyat justru membayar harga yang jauh lebih mahal.”

Ia menarik napas pelan.

“Kesejahteraan tidak bisa didistribusikan sebelum terlebih dahulu diciptakan. Negara dapat membagikan pendapatan. Tetapi negara tidak dapat membagikan kemakmuran yang belum ada. Kemakmuran lahir dari investasi, produktivitas, inovasi, pendidikan, kepastian hukum, dan sektor riil yang tumbuh. Tanpa itu, populisme hanya menjadi cara halus memindahkan beban dari masa depan ke hari ini.”

Aku menatapnya lama. Di balik wajah tenangnya, ada ketegasan yang tidak perlu berteriak.

“Karena itu,” katanya, “populisme sering tampak seperti idealisme yang indah. Ia menawarkan dunia yang lebih adil, lebih setara, lebih manusiawi. Tetapi tanpa disiplin fiskal dan realitas ekonomi, ia berubah menjadi utopia. Indah untuk dibayangkan, mustahil untuk ditinggali.”

Hening turun di antara kami. Hanya musik tua yang mengalun pelan. Hanya hujan yang terus mengetuk kaca.

“Negara yang berhasil,” kata B, “bukan negara yang paling banyak menjanjikan. Negara yang berhasil adalah negara yang mampu menjaga keseimbangan antara empati sosial dan disiplin ekonomi. Antara membantu manusia hari ini dan memastikan generasi berikutnya tidak mewarisi reruntuhan. Politik boleh menjual harapan, Maria. Tetapi ekonomi selalu menagih biayanya. Dan ketika tagihan itu datang, rakyatlah yang pertama kali mengetahuinya.”

Aku terhenyak. Diamnya selama ini ternyata bukan kosong. Diamnya adalah kedalaman yang menunggu saat tepat untuk muncul.

***

Namun pernah suatu malam, B mengajakku makan malam di sebuah hotel mewah di jantung Caracas. Hotel itu berdiri seperti pulau kecil yang tidak tersentuh oleh keruntuhan di luar pagar besinya. Di jalanan, orang-orang mulai belajar menghemat listrik, menukar mata uang secara diam-diam, dan mengukur harga roti seperti membaca nasib. Tetapi di dalam hotel itu, dunia seolah masih baik-baik saja.

Mobil-mobil hitam berhenti bergantian di depan lobi. Pintu dibukakan oleh petugas bersarung tangan putih. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga segar dari vas-vas besar di sudut ruangan. Lampu kristal menggantung tinggi dari langit-langit, memecah cahaya menjadi kilau-kilau kecil yang jatuh di atas lantai marmer. Setiap langkah di sana terdengar lembut, seolah kemewahan pun diajari untuk tidak berisik. Lantai marmernya memantulkan wajah orang-orang berkuasa.

Para tamu datang dengan jas gelap, gaun mahal, jam tangan Swiss, dan senyum yang terlalu terlatih untuk disebut ramah. Mereka bukan sekadar orang kaya. Mereka adalah kalangan yang hidup dari kedekatan dengan kekuasaan: banker, kontraktor negara, pemilik izin impor, perantara proyek, penasihat politik, keluarga lama yang selalu tahu ke mana angin kekuasaan bertiup.

Di luar, rakyat mulai kehilangan harapan. Di dalam, para komprador masih memesan anggur tua, berbicara pelan tentang kontrak, konsesi, pelabuhan, kuota, utang, dan peluang baru yang selalu muncul dari krisis orang lain. Aku duduk di sana dengan gaun hitam sederhana, mencoba menyesuaikan diri dengan keanggunan ruangan yang terasa dingin. Di atas meja, lilin kecil menyala di antara gelas kristal dan piring porselen putih. Musik klasik mengalun pelan, cukup lembut untuk tidak mengganggu percakapan, tetapi cukup hadir untuk menutupi rahasia.

Di tempat seperti itu, kekuasaan tidak perlu berteriak. Ia cukup tersenyum. Ia cukup berjabat tangan. Ia cukup mengangkat gelas. Malam itu, aku melihat sesuatu yang membuat rasa penasaranku berubah menjadi kegelisahan. Seorang pejabat tinggi negara memasuki ruang makan. Semua orang seolah tetap sibuk dengan percakapan masing-masing, tetapi aku dapat merasakan perubahan halus di udara. Beberapa kepala menoleh sebentar. Beberapa senyum muncul lebih cepat. Beberapa tubuh mendadak menjadi lebih tegak.

Pejabat itu melihat B. Wajahnya langsung berubah akrab. B berdiri dengan tenang, menjabat tangannya, lalu berbicara sebentar dalam nada rendah dan terkendali. Tidak ada tawa berlebihan. Tidak ada gestur yang mencolok. Tetapi justru karena itu, percakapan mereka terasa lebih penting. Seolah yang mereka bicarakan bukan sekadar makan malam, melainkan sesuatu yang sudah lama memiliki jalur tersendiri di balik pintu-pintu negara.

B tidak memperkenalkanku. Aku hanya duduk, tersenyum sopan, sambil mendengar potongan percakapan yang tidak utuh. Beberapa kata melintas: pengiriman, izin, stabilitas, pihak luar, pembayaran, dan waktu yang tepat. Cukup sedikit untuk tidak kupahami sepenuhnya, tetapi cukup banyak untuk membuatku mengerti bahwa B bergerak di wilayah yang jauh lebih dalam daripada yang selama ini ia perlihatkan kepadaku.

Malam itu, di antara cahaya kristal, lantai marmer, dan wajah-wajah tenang para komprador yang makan dari meja kekuasaan, aku menyadari satu hal. B bukan pria biasa. Dan mungkin, sejak awal, aku memang hanya melihat bagian dirinya yang ia izinkan untuk kulihat.

Sejak malam itu, aku mulai mencari tahu siapa dirinya melalui jaringanku. Bukan karena aku tidak percaya kepadanya. Tetapi karena ada jenis lelaki yang tidak bisa dicintai tanpa terlebih dahulu dipahami bahayanya.

Sejak malam pertama mengenal B, sebenarnya aku sudah punya pirasat tentang B, bahwa dia bukan pria biasa. Tetapi saat itu aku belum memahami seberapa jauh dunianya berbeda dari duniaku. Aku belum tahu bahwa di balik senyumnya yang tenang, ada jaringan, risiko, rahasia, dan keputusan-keputusan yang tidak pernah muncul di halaman depan surat kabar.

Aku hanya tahu, di sebuah bar kecil dekat Chacao, pada malam Caracas yang gerimis, seorang pria bernama B duduk di hadapanku. Dan untuk pertama kalinya, runtuhnya sebuah negara terasa lebih mudah dibicarakan daripada runtuhnya pertahanan hatiku sendiri.

**

Ada satu hal tentang B yang sejak awal membuatku penasaran. Aku tahu basis utamanya berada di Hong Kong. Tetapi aku tidak pernah benar-benar memahami apa yang ia lakukan di sana. Kadang ia menerima telepon dari London saat sarapan. Beberapa jam kemudian, ia berbicara dengan seseorang di Dubai. Malam harinya, ketika Caracas sudah mulai tenggelam dalam lampu-lampu kuning dan suara musik dari kejauhan, ia berdiskusi dengan orang lain di New York. Seolah dunia tidak memiliki zona waktu baginya.

Seolah pagi, siang, dan malam hanyalah kesepakatan orang-orang biasa. Aku pernah bertanya kepadanya. “Kau sebenarnya bekerja untuk siapa?” B hanya tersenyum. Senyum yang selalu membuatku merasa ia sedang menyimpan lebih banyak jawaban daripada yang sanggup ia ucapkan.

“Aku bekerja untuk pasar,” katanya. Jawaban itu terdengar sederhana. Terlalu sederhana. Tetapi justru karena itulah ia terasa berbahaya. Sebagai analis ekonomi, aku terbiasa membaca pola. Aku tahu bahwa di balik setiap angka selalu ada kecenderungan. Di balik setiap kecenderungan selalu ada kepentingan. Dan di balik setiap kepentingan, hampir selalu ada manusia yang tidak ingin namanya disebutkan. Pola di sekitar B selalu menarik.

Ia mengenal banker investasi di London. Mengenal trader komoditas di Jenewa. Mengenal pengelola dana di New York. Mengenal keluarga bisnis lama di Hong Kong. Mengenal pengusaha dan pejabat di Timur Tengah. Tetapi anehnya, ia tidak pernah terlihat berusaha menunjukkan pengaruhnya. Ia tidak menyebut nama orang penting untuk membuat dirinya terdengar penting. Ia tidak mengangkat telepon dengan suara keras agar orang di sekitarnya tahu siapa yang sedang berbicara dengannya. Ia tidak pernah menjadikan akses sebagai perhiasan. Semakin besar kekuasaan yang kurasakan ada di sekelilingnya, semakin sedikit ia membicarakannya.

Dan justru diam itulah yang membuatnya semakin sulit dibaca. Saat itu aku masih melihatnya dengan kagum. Bukan karena uangnya. Bukan karena hotel-hotel tempat ia menginap, jam tangan yang ia kenakan, atau mobil yang kadang menjemputnya tanpa pernah ia minta terlihat mencolok.

Aku mengaguminya karena cara ia memahami dunia. B dapat menjelaskan bagaimana keputusan di Beijing memengaruhi harga pangan di Afrika. Bagaimana konflik di Timur Tengah mengguncang mata uang Amerika Latin. Bagaimana keputusan bank sentral di Washington menentukan nasib jutaan orang yang bahkan tidak pernah melihat Washington di peta.

Ia berbicara tentang pasar bukan seperti orang yang mengejar keuntungan semata. Ia berbicara seperti seseorang yang memahami bahwa di balik grafik dan pergerakan mata uang, ada dapur-dapur kecil yang kehilangan harga diri, ada pekerja yang upahnya menguap dimakan inflasi, ada negara yang dijual perlahan melalui utang yang dulu dianggap penyelamat.

Bagiku, B seperti seseorang yang melihat dunia dari ketinggian yang tidak dapat dijangkau orang biasa. Dari ketinggian itu, batas negara tampak seperti garis tipis di atas kertas. Ideologi tampak seperti bahasa yang dipakai kekuasaan untuk menenangkan massa. Dan pasar tampak seperti laut luas yang tidak pernah benar-benar tunduk kepada siapa pun.

Namun yang paling membuatku takut sekaligus tertarik adalah kenyataan bahwa B tidak pernah terlihat terpesona oleh dunia yang ia pahami. Ia tidak mabuk oleh akses. Tidak mabuk oleh uang. Tidak mabuk oleh kedekatan dengan kekuasaan. Seolah semua itu baginya hanyalah alat. Bukan tujuan. Mungkin karena itu aku jatuh cinta. Bukan kepada kemewahan yang mengelilinginya. Bukan kepada rahasia yang ia simpan.

Tetapi kepada pikirannya. Kepada cara ia menyusun dunia yang kacau menjadi kalimat yang jernih. Kepada caranya memandang krisis bukan sebagai berita, melainkan sebagai gejala dari kesalahan manusia yang berulang. Kepada caranya mendengarkan aku, seolah di antara semua suara dari London, Dubai, Hong Kong, Jenewa, dan New York, pendapatku tetap punya tempat di telinganya.

Aku mengagumi kecerdasannya jauh sebelum aku memahami kekuasaannya. Dan kelak, ketika aku mulai mengerti siapa B sebenarnya, aku sadar bahwa jatuh cinta kepada pria seperti dia bukan hanya soal menyerahkan hati. Itu juga berarti perlahan-lahan masuk ke dalam dunia yang pintunya tidak pernah terbuka bagi orang biasa. Dunia yang indah dari kejauhan. Tetapi gelap di balik kaca-kaca hotel mewah, meja-meja perundingan tertutup, dan telepon-telepon singkat yang bisa mengubah nasib banyak orang sebelum fajar tiba.

***

Tak terasa 3 tahun perkenalanku dengan B. Keadaan Venezuela semakin memburuk. Inflasi meningkat seperti api yang tidak lagi dapat dikendalikan. Investasi menghilang. Toko-toko yang dulu terang mulai menutup tirainya lebih cepat. Orang-orang berbicara lebih pelan di restoran, bukan karena mereka tidak punya pendapat, tetapi karena mereka mulai takut pada dinding.

Orang-orang terbaik mulai pergi. Teman-temanku yang dulu menjadi dosen, insinyur, dokter, analis keuangan, satu per satu meninggalkan negeri ini. Ada yang pindah ke Miami. Ada yang mencari hidup baru di Madrid. Ada yang diterima di Toronto. Ada yang memulai dari nol di New York.

Venezuela perlahan kehilangan otaknya. Bukan hanya kehilangan uang. Bukan hanya kehilangan cadangan devisa. Tetapi kehilangan manusia-manusia yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depannya.

Suatu malam, setelah makan malam yang panjang dan sepi, B mengatakan sesuatu yang membuatku marah.

“Maria, Kau harus keluar dari Venezuela.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku tidak akan meninggalkan negaraku.”

B tidak terkejut. Ia hanya menatapku dengan ketenangan yang justru membuatku semakin tersinggung.

“Itu jawaban yang romantis,” katanya.

“Dan salah?”

“Bukan salah,” jawabnya. “Itu jawaban seseorang yang masih punya harapan.”

Aku membencinya malam itu. Bukan karena kalimatnya kejam.

Tetapi karena aku tahu, jauh di dalam diriku, ia mungkin benar.

Sebagai analis ekonomi, aku mulai melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada inflasi. Aku melihat negara perlahan ditangkap oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Institusi masih berdiri. Kementerian masih ada. Parlemen masih bersidang. Pemilu masih diselenggarakan. Bendera masih berkibar di depan gedung-gedung pemerintahan.

Tetapi semakin banyak keputusan dibuat bukan untuk kepentingan masyarakat luas, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan. Negara masih hidup di atas kertas, tetapi jiwanya perlahan menghilang. Hukum tetap ditulis. Pidato tetap dibacakan. Angka-angka tetap diumumkan. Namun semua itu semakin terasa seperti dekorasi dari sebuah rumah yang pondasinya sudah lama retak.

Dan ketika itu terjadi, harapan mulai mati. Bukan karena orang lapar. Bukan semata karena harga naik. Bukan hanya karena uang kehilangan nilainya. Tetapi karena manusia berhenti percaya bahwa masa depan bisa lebih baik daripada hari ini. Itulah yang paling menyakitkan. Bukan kemiskinan. Bukan inflasi. Melainkan kehilangan harapan.

Sebab manusia masih sanggup menanggung lapar jika ia percaya besok ada roti. Ia masih sanggup berjalan dalam gelap jika ia percaya di ujung jalan ada cahaya. Tetapi ketika keyakinan itu mati, yang tersisa bukan lagi perjuangan. Yang tersisa hanya bertahan.

***

Lalu aku menemukan kenyataan tentang B. Tidak sekaligus. Tidak seperti pintu yang dibuka lebar. Melainkan sedikit demi sedikit. Seperti cahaya tipis yang masuk dari celah tirai. Potongan informasi. Nama perusahaan. Nama holding. Jejak perdagangan internasional. Dokumen yang muncul di tempat yang tidak kusangka. Percakapan yang terputus begitu aku mendekat. Nama-nama orang yang pernah menyapanya dengan terlalu akrab untuk disebut kebetulan.

Aku akhirnya memahami bahwa dunia yang selama ini mengelilinginya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan. B bukan hanya investor. Bukan hanya trader. Bukan hanya pengusaha. Ia berada di pusat jaringan perdagangan global yang bergerak di antara geopolitik, energi, keuangan, dan kepentingan negara. Dunia yang bekerja tidak dengan pidato, tetapi dengan kontrak. Tidak dengan slogan, tetapi dengan akses. Tidak dengan tepuk tangan publik, tetapi dengan kesepakatan sunyi di ruangan tertutup.

Aku tidak pernah melihatnya melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Tidak pernah. Tetapi justru di situlah kegelisahanku dimulai. Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, bukankah jaringan-jaringan seperti itu ikut memberi ruang bagi elite untuk mempertahankan pesta mereka? Bukankah sistem yang selalu menemukan jalan keluar untuk kekuasaan akhirnya membuat reformasi semakin tertunda? Bukankah ketika institusi runtuh, orang-orang seperti B menjadi jembatan bagi mereka yang seharusnya dipaksa menghadapi akibat dari kesalahannya sendiri?

Malam ketika aku menyadari semua itu, aku menangis. Bukan karena takut. Tetapi karena kecewa. Karena aku mencintainya. Dan aku tahu, sejak saat itu, aku tidak akan pernah bisa hidup sepenuhnya di dunia yang sama dengannya. Aku percaya perubahan harus lahir dari institusi yang kuat. Dari hukum yang tegak. Dari negara yang dapat dipercaya. Dari demokrasi yang tidak hanya menjadi upacara, tetapi menjadi mekanisme koreksi.

Sedangkan B hidup di dunia yang mengajarkannya satu hal lain: ketika institusi gagal, jaringan informal akan mengambil alih perannya. Ketika hukum terlambat, kontrak bergerak lebih cepat. Ketika negara lumpuh, pasar mencari jalannya sendiri. Ketika birokrasi membusuk, orang-orang yang punya akses menjadi pintu keluar. Aku tidak bisa membantah logikanya. Tetapi aku juga tidak bisa menerimanya sebagai rumah bagi nuraniku.

Sejak malam itu, aku mulai menjaga jarak. B memahami. Ia tidak marah. Tidak memaksa. Tidak membela diri. Tidak mengucapkan kalimat panjang untuk membersihkan namanya di hadapanku.Ia hanya menerima. Mungkin karena ia tahu aku sedang berperang dengan diriku sendiri. Antara cinta dan keyakinan. Antara perempuan yang ingin tetap berada di dekatnya dan analis yang tahu bahwa dunia B terlalu licin untuk ditempati oleh idealisme.

***

Lalu Venezuela semakin runtuh. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kalah. Benar-benar kalah. Suatu malam, listrik padam. Aku duduk sendirian di apartemenku. Gelap. Sunyi. Panas. Kota di luar jendela tampak seperti tubuh besar yang kehabisan napas. Tidak ada suara mesin pendingin. Tidak ada cahaya dari gedung seberang. Hanya bunyi jauh dari kendaraan, anjing yang menggonggong, dan manusia-manusia yang belajar hidup di negeri yang perlahan memadamkan dirinya sendiri.

Aku duduk lama dalam gelap. Laporan-laporan ekonomi yang dulu kubaca dengan keyakinan kini terasa seperti nisan. Semua angka benar. Semua peringatan tepat. Semua analisis masuk akal. Tetapi apa gunanya memahami kehancuran jika kau tetap tidak mampu menghentikannya?

Malam itu aku sadar sesuatu. Aku tidak lagi memperjuangkan masa depan. Aku hanya bertahan hidup. Dan ada perbedaan besar antara keduanya. Malam itu aku menelepon B. Tidak untuk meminta bantuan. Tidak untuk mengaku kalah. Hanya untuk mendengar suara seseorang yang pernah membuat dunia terasa dapat dimengerti.

Tetapi ia langsung tahu. Seperti biasa, B selalu mendengar hal-hal yang tidak kuucapkan.

“Sudah waktunya pergi, dear ” katanya pelan. Untuk pertama kalinya, aku tidak membantah.

**

Beberapa bulan kemudian, aku berada di New York. Kota itu menyambutku bukan dengan kelembutan, tetapi dengan kecepatan. Gedung-gedung menjulang seperti ambisi yang dibekukan dalam kaca. Orang-orang berjalan seolah waktu adalah utang yang harus segera dibayar. Di Manhattan, kesedihan tidak diberi tempat terlalu lama. Ia harus bergerak bersama tubuhmu, bersama langkahmu, bersama jadwal kereta bawah tanah yang tidak peduli pada sejarah luka siapa pun.

Aku baru mengetahui kemudian bahwa hampir semua hal telah diatur oleh B. Pekerjaan pertamaku. Visa kerjaku. Apartemenku. Bahkan pengacara imigrasi yang membantuku mendapatkan permanent resident. Ia tidak pernah menceritakannya. Tidak pernah meminta terima kasih. Tidak pernah menagih kedekatan sebagai balasan. Aku mengetahuinya dari orang lain.

Seperti biasa, B bekerja dalam diam. Ia tidak hadir sebagai pahlawan yang mengetuk pintu dengan bunga dan pengakuan. Ia hadir seperti tangan yang tidak terlihat, memindahkan batu dari jalan seseorang sebelum orang itu tersandung. Dan justru karena itulah, aku semakin sulit membencinya.

***

Kadang aku masih bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku mencintainya? Jawabannya ya. Mungkin selalu ya. Tetapi ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk dimiliki. Hanya untuk dikenang. Ada cinta yang datang bukan untuk tinggal, melainkan untuk membuka pintu. Ada cinta yang tidak menjadi rumah, tetapi menjadi jembatan. Ada cinta yang tidak berakhir dengan pelukan, melainkan dengan keselamatan yang diam-diam disiapkan dari jauh.

Dulu aku menolak dunia yang ia jalani. Aku menganggapnya terlalu gelap, terlalu sunyi, terlalu jauh dari cita-cita yang pernah kupercaya. Aku percaya pada institusi, pada hukum, pada reformasi, pada negara yang seharusnya mampu berdiri tegak di atas kepentingan semua orang. Aku percaya bahwa peradaban hanya mungkin diselamatkan oleh sistem yang benar, bukan oleh jaringan informal yang bergerak di balik pintu tertutup.

Tetapi hidup, ternyata, tidak selalu memberi kita kemewahan untuk tinggal di dalam keyakinan yang bersih. Kini aku bekerja di sebuah perusahaan yang, dengan cara yang tidak pernah sepenuhnya dijelaskan kepadaku, juga menjadi bagian dari jaringan bisnis B. Dunia yang dulu kutolak, kini menjadi tempatku mencari nafkah. Dunia yang dulu membuatku kecewa kepadanya, perlahan kupahami sebagai kenyataan yang jauh lebih rumit daripada batas antara benar dan salah.
 
Sebab setelah Venezuela jatuh, ada banyak orang yang kehilangan rumah, pekerjaan, tabungan, dan masa depan. Tetapi ada pula dunia lain yang justru menemukan peluang dari reruntuhan itu. Dunia yang bergerak lewat shadow banking, counter trade, pembayaran yang diputar melalui yurisdiksi gelap, kontrak yang tidak pernah muncul di koran, dan jaringan bisnis sunyi yang menghubungkan Teheran, Moskow, Beijing, Hong Kong, dan kota-kota lain yang namanya hanya terdengar dalam percakapan tertutup.
 
Di permukaan, semua tampak legal. Ada kontrak. Ada invoice. Ada pengiriman barang. Ada perusahaan perantara. Ada konsultan. Ada pembiayaan. Tetapi di balik semua itu, aku melihat sesuatu yang lebih pahit, bahwa keruntuhan sebuah negara dapat menjadi ladang keuntungan bagi mereka yang cukup cepat membaca celahnya. Venezuela kehilangan institusi. Pasar menemukan jalan. Rakyat kehilangan mata uang. Jaringan informal menemukan mekanisme pembayaran. Negara kehilangan kendali. Para perantara menemukan komisi. Dan di sana, pada ruang abu-abu antara hukum yang tertinggal dan kebutuhan yang mendesak, jaringan B bekerja dengan sangat rapi.
 
Aku tidak bisa lagi membenci dunia itu dengan kemurnian yang sama seperti dulu. Mungkin karena kini aku berada di dalamnya. Mungkin karena aku tahu, tanpa jaringan seperti itu, sebagian barang tidak akan pernah sampai, sebagian pembayaran tidak akan pernah selesai, sebagian hidup mungkin akan lebih cepat runtuh.
 
Tetapi pemahaman tidak selalu berarti penerimaan. Kadang ia hanya membuat luka menjadi lebih dalam. Karena aku akhirnya mengerti, dunia B bukan dunia yang diciptakan oleh moralitas. Ia lahir dari kegagalan negara, dari hukum yang lumpuh, dari institusi yang tidak lagi dipercaya, dari pasar yang tetap harus bergerak meskipun bendera, parlemen, dan pidato kehilangan maknanya.
 
Dan mungkin di situlah tragedinya. Aku dulu percaya bahwa negara yang runtuh harus diselamatkan oleh reformasi. B percaya bahwa sebelum reformasi datang, manusia tetap harus makan, kapal tetap harus berlayar, pembayaran tetap harus diselesaikan, dan pasar tidak pernah menunggu moralitas menemukan bentuknya

Mungkin manusia memang tidak pernah benar-benar hidup dalam dunia ideal. Mungkin utopia hanya indah selama ia belum diuji oleh lapar, ketakutan, listrik yang padam, mata uang yang runtuh, dan negara yang gagal melindungi rakyatnya sendiri.  

Namun setiap kali aku berjalan di Manhattan dan melihat matahari terbit di antara gedung-gedung kaca, aku selalu mengingat satu hal. Ketika negaraku runtuh. Ketika harapan hampir habis. Ketika semua orang pergi. Ada satu orang yang diam-diam memastikan aku masih memiliki masa depan.

Untuk itu, meskipun cintaku telah lama kukubur di tempat yang tidak pernah kukunjungi lagi, aku akan selalu berterima kasih kepada B. Bukan hanya karena ia menyelamatkan masa depanku. Tetapi karena bersamanya, untuk pertama kalinya, aku merasa utuh sebagai perempuan. Ia adalah pria pertama yang menyentuhku bukan dengan nafsu yang tergesa-gesa, melainkan dengan cinta yang membuatku merasa dihormati. Dan setelah dirinya, tidak pernah ada lagi pria lain. Bukan karena aku menutup hidupku dari kemungkinan baru, tetapi karena ada bagian dari diriku yang telah selesai pada malam-malam yang hanya kami berdua mengerti. Aku tidak menyesalinya.

Cinta itu tidak menjadi rumah bagiku. Tidak menjadi pernikahan. Tidak menjadi nama yang bisa kutulis di samping namaku. Tetapi ia pernah menjadi cahaya, ketika seluruh negeriku padam. Karena terkadang seseorang tidak datang ke dalam hidup kita untuk menjadi pasangan. Terkadang ia datang untuk menyelamatkan kita. Lalu pergi, membawa sebagian hati kita yang tidak pernah benar-benar kembali.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca