Tiang Negara digergaji dari dalam…

Aku mengenal Dina ketika usiaku tiga puluh tahun. Ia 10 tahun lebih tua dariku. Pada usia itu aku masih menyimpan keyakinan anak muda, bahwa kerja keras bisa menaklukkan nasib, bahwa bisnis hanyalah perkara barang, kontrak, dokumen, pembayaran, dan keberanian mengambil risiko.

Aku mengelola usaha ekspor-impor dengan cara yang menurutku lurus. Barang harus jelas. Harga harus jelas. Dokumen harus bersih. Pembayaran harus sampai. Dunia bagiku masih sederhana: kepercayaan adalah mata uang, efisiensi adalah senjata, dan jaringan adalah jembatan.

Lalu Dina datang.

Dari Dina aku belajar bahwa di negeri ini bisnis tidak pernah berdiri di atas kakinya sendiri. Di bawah meja bisnis selalu ada kaki politik. Di balik pintu politik selalu ada lorong uang. Dan di ujung lorong uang selalu berdiri ambisi, memakai jas rapi, tersenyum, dan tahu kapan harus bertepuk tangan.

Dina bukan perempuan biasa. Dia kader Partai. Terpelajar. Ia tidak pernah bicara keras. Tetapi setiap kalimatnya seperti paku kecil yang ditancapkan pelan ke meja kayu, tidak berisik, tetapi sulit dicabut. Ia bisa duduk tenang di lobi hotel, menyeruput kopi, lalu menyebut nama menteri, jenderal, pemilik bank, pengusaha besar, dan ketua partai seolah sedang menyebut nama tetangga kompleks.

Walau dia Jomblo, ia tidak genit. Namun liar di tempat tidur. Tidak pula suka memamerkan pengaruh. Tetapi aku tahu, banyak pintu yang tertutup bagi orang lain akan terbuka hanya karena Dina mengangkat telepon.

***

Suatu sore di awal tahun 1997, Dina datang ke kantorku. Ia mengenakan blazer gelap. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang seperti orang yang sudah lebih dulu membaca bab terakhir dari sebuah buku, sementara orang lain masih sibuk memuji halaman pertama.

Aku sedang memeriksa dokumen ekspor ketika ia duduk di depanku tanpa basa-basi.

“Ale, kamu bisa bantu teman-temanku untuk placement uang di bank asing?”

Aku mengangkat kepala.

“Kenapa? Untuk apa?”

Dina menatapku sejenak.

“Banyak di antara mereka mau memindahkan uang ke luar negeri.”

“Karena apa?”

“Karena politik sudah tidak kondusif lagi.”

Aku tertawa kecil. “Politik tidak kondusif? Kurs Rupiah masih sekitar Rp2.300 per dolar. Ekonomi dipuji IMF. Bank Dunia juga masih bilang Indonesia kuat. Bursa masih ramai. Properti masih naik. Bank-bank masih ekspansi. Dari mana kamu bilang tidak kondusif?”

Dina tidak ikut tertawa. Ia hanya menatapku, seperti seorang guru melihat murid yang terlalu percaya kepada papan tulis.

“Ale,” katanya pelan, “orang kaya tidak membaca masa lalu. Mereka juga tidak terlalu peduli dengan pidato pemerintah. Mereka membaca masa depan dengan alat ukurnya sendiri.”

Aku diam.

“Data hari ini hanya memotret apa yang sudah lewat. Orang kaya tidak menunggu badai berdiri di depan pintu. Mereka mencium perubahan angin. Mereka bergerak sebelum orang lain sadar bahwa langit mulai gelap.”

Kalimat itu membuatku terdiam lebih lama dari biasanya. Aku masih muda. Idealis. Aku percaya angka resmi. Aku percaya stabilitas. Aku percaya selama pemerintah terlihat kuat, ekonomi akan baik-baik saja. Aku lupa bahwa kekuasaan yang terlalu lama berdiri sering kali tidak lagi ditopang oleh keyakinan, melainkan oleh ketakutan orang-orang yang paling dekat dengannya.

“Siapa teman-temanmu itu?” tanyaku.

Dina tersenyum tipis.

“Orang-orang yang selama ini ikut menikmati stabilitas.”

Aku mengerti. Tetapi justru karena itu aku semakin bingung.

“Kalau mereka dekat dengan kekuasaan, kenapa mereka takut?”

Dina menyilangkan kaki.

“Karena yang paling tahu rumah akan terbakar adalah orang yang tidur di dalam rumah itu.”

Aku tidak membantah.

Beberapa hari kemudian aku menghubungi banker yang kukenal di Singapura. Aku menjelaskan bahwa ada sejumlah klien Indonesia yang ingin membuka rekening offshore dan melakukan penempatan dana di bank asing. Awalnya mereka berhati-hati. Tetapi setelah beberapa kali pembicaraan, mereka setuju. Bank asing itu sudah punya jaringan di Jakarta. Infrastruktur tersedia. Yang mereka butuhkan hanya orang lokal yang bisa membawa klien, menjelaskan proses, dan memastikan dokumen ditandatangani.

Aku menyewa ruang kerja kecil di business center sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Letaknya strategis. Tidak terlalu mencolok, tetapi cukup mewah untuk membuat orang kaya merasa aman. Dari jendela ruangan itu terlihat jalan utama yang ramai, mobil-mobil mewah, sopir menunggu, ajudan berdiri, dan sesekali wajah-wajah yang kukenal dari halaman ekonomi surat kabar.

Sejak itu Dina hampir setiap hari membawa tamu. Mereka datang dengan wajah tenang, tetapi mata mereka gelisah. Ada pengusaha properti. Ada pemilik pabrik tekstil. Ada pemilik bank kecil. Ada trader komoditas. Ada keluarga pejabat. Ada orang yang selama ini rajin bicara nasionalisme di televisi, tetapi di ruang kecil itu bertanya dengan suara pelan, “Berapa cepat dana bisa ditempatkan di luar?”

Aku tidak banyak bertanya. Tugasanku hanya menjelaskan proses pembukaan rekening, dokumen identitas, sumber dana, dan instruksi penempatan. Mereka mengisi formulir. Menandatangani dokumen. Setelah itu hubungan mereka diambil alih oleh banker asing.Dalam beberapa menit, mereka merasa telah memiliki pintu keluar.

Pada masa itu, aturan belum seketat sekarang. Perpindahan dana antar-rekening domestik dan rekening luar negeri masih bisa dilakukan melalui jaringan bank asing dengan rapi. Tidak ada kepanikan. Tidak ada antrean. Tidak ada koper uang. Semua berlangsung tenang, berpendingin udara, ditemani kopi hotel, map kulit, pena mahal, dan senyum banker yang terlatih.

Dina mendapat success fee dari setiap penempatan dana. Kecil secara persentase, tetapi besar secara nominal. Aku menolak uang pemberian darinya. Aku hanya membantu. Entah karena idealisme, entah karena kebodohan, entah karena aku belum mengerti bahwa dalam dunia seperti itu, menolak uang bukan berarti bebas dari dosa.

Aku baru sadar bahwa uang dalam jumlah besar tidak pernah bergerak dengan suara berisik. Ia tidak berlari seperti massa di jalan. Ia tidak berteriak seperti demonstran. Ia bergerak diam-diam, lewat instruksi pendek, tanda tangan tenang, kode transfer, dan senyum orang-orang yang sudah biasa melihat angka lebih besar daripada rasa bersalah.

Dina selalu duduk di sudut ruangan. Ia jarang bicara. Ia hanya memperkenalkan tamu, lalu membiarkan aku bekerja. Kadang, setelah tamu pergi, ia menyalakan rokok dan memandang jendela.

“Kamu lihat, Ale?” katanya suatu kali.

“Apa?”

“Ini bukan sekadar uang pindah tempat. Ini suara kepercayaan yang pergi.”

Aku menatapnya.

“Negara masih kuat,” kataku.

Dina tersenyum.

“Negara kelihatan kuat sampai orang-orang yang menopangnya mulai memindahkan uang.”

Selama tiga bulan berikutnya, Jakarta masih tampak normal. Restoran penuh. Hotel ramai. Bursa masih bergerak. Para pejabat masih bicara tentang pertumbuhan. Surat kabar masih memuat berita keberhasilan pembangunan. Tidak ada tanda-tanda bahwa fondasi sedang retak.

Tetapi di ruang business center itu, aku melihat pemandangan lain. Aku melihat orang-orang kaya bergerak lebih cepat daripada berita. Mereka tidak menunggu pengumuman resmi. Tidak menunggu krisis diberi nama. Tidak menunggu Rupiah jatuh. Mereka keluar ketika pintu masih terbuka, ketika penjaga masih tersenyum, ketika rakyat masih percaya bahwa rumah itu kokoh.

***

Lalu badai datang dari Thailand.

Baht diserang. Investor global menjual. Hedge fund masuk seperti angin gurun yang tahu di mana celah dinding. Asia Tenggara yang selama ini dipuji sebagai keajaiban ekonomi tiba-tiba terlihat seperti rumah kaca: mengilap dari luar, retak dari dalam.

Dari Bangkok, ketakutan menyebar ke Kuala Lumpur, Manila, Jakarta, Seoul. Mata uang yang selama ini tampak tenang mulai diuji satu per satu, seperti pintu-pintu rumah yang diketuk maling untuk mencari mana yang engselnya longgar.

Rupiah awalnya bertahan. Bank Indonesia melakukan intervensi. Pejabat menenangkan pasar. Pemerintah berkata fundamental kuat. Tetapi pasar sudah telanjur mencium darah. Pasar tidak lagi percaya kepada kalimat. Pasar meminta bukti. Dan bukti itu tidak cukup. Kurs mulai bergerak liar.

Para pengusaha yang dulu datang ke ruang business center itu menghubungi Dina lagi. Kali ini bukan untuk bertanya cara membuka rekening. Mereka sudah punya rekening. Mereka hanya ingin mempercepat instruksi. Beberapa meminta tambahan fasilitas. Beberapa meminta banker datang langsung ke rumah. Beberapa datang dengan wajah pucat, tidak lagi tenang seperti bulan-bulan sebelumnya.

Dina melihat semua itu tanpa ekspresi.

“Badai sudah masuk,” katanya.

Aku merasa ada sesuatu yang dingin merayap di punggungku.

Pada September 1997, pemerintah akhirnya memanggil IMF. Di televisi, para menteri masih berusaha terlihat yakin. Tetapi bahasa tubuh mereka berbeda. Senyum mereka kehilangan tenaga. Kata “fundamental kuat” mulai terdengar seperti doa orang sakit, bukan analisis orang sehat.

Rupiah terus jatuh. Bisnis mulai tersendat. Importir kelimpungan. Perusahaan yang punya utang dolar mulai limbung. Bank kehilangan likuiditas. Orang kaya sudah menyelamatkan sebagian hartanya. Kelas menengah mulai panik. Rakyat kecil belum paham apa yang terjadi, tetapi mereka merasakan harga naik, pekerjaan hilang, dan masa depan mendadak menjadi lorong gelap.

Dina sering meneleponku malam-malam. Katanya ia sulit tidur. Uang success fee yang ia terima jumlahnya besar. Tetapi setiap kali ia memperlihatkan saldo itu, aku tidak merasakan kemenangan. Aku merasa seperti berdiri di pinggir kapal yang sedang tenggelam, sementara sekoci yang kubantu siapkan telah dipakai orang-orang kaya lebih dulu.

***

Suatu malam, aku bertemu Dina di sebuah apartemen. Jakarta gelap di luar jendela. Televisi menyala tanpa suara. Gambar kerusuhan, antrean, rapat kabinet, wajah pejabat, wajah mahasiswa, dan wajah rakyat yang letih muncul bergantian seperti potongan mimpi buruk.

“Ale,” kata Dina, “kamu terlalu banyak berpikir.”

“Kita jahat ya, Din?”

Dina menoleh.

“Jahat?”

Aku menunjuk televisi.

“Mereka di luar sana kehilangan pekerjaan. Rupiah jatuh. Harga naik. Bank kacau. Kita membantu orang-orang besar keluar sebelum semuanya runtuh.”

Dina menyalakan rokok. Tangannya tidak bergetar.

“Kalau bukan kita, mereka tetap keluar. Lewat orang lain. Lewat bank lain. Lewat jalur lain.”

“Tapi kita ikut mempercepat.”

Dina mengembuskan asap.

“Yang mempercepat krisis bukan orang yang melihat rumah terbakar dan keluar lebih dulu. Yang mempercepat krisis adalah orang yang membangun rumah dari kayu kering, menyimpan bensin di dapur, lalu melarang siapa pun bicara tentang api.”

Aku menatapnya tajam.

“Kamu selalu bisa membenarkan apa saja.”

“Aku tidak membenarkan,” jawab Dina. “Aku hanya tidak mau pura-pura.”

Di layar televisi, wajah Soeharto muncul. Negeri yang dulu tampak tak tergoyahkan kini seperti pohon tua yang akarnya diam-diam dimakan rayap.

“Kalau Rupiah tidak jatuh, Soeharto mungkin tidak jatuh,” kataku.

Dina tertawa pendek.

“Kalau Rupiah tidak jatuh, kebusukan itu tetap ditutup karpet. Orang-orang tetap memuji stabilitas. Pengusaha tetap makan dari konsesi. Pejabat tetap minta bagian. Bank tetap memberi kredit kepada grup sendiri. Semua orang tetap berkata ekonomi kuat.”

“Tapi rakyat yang membayar.”

“Rakyat selalu membayar,” kata Dina dingin. “Di masa stabil, rakyat membayar lewat harga yang dimonopoli. Di masa krisis, rakyat membayar lewat inflasi dan PHK. Bedanya hanya bentuk penderitaannya.”

Aku tidak suka jawabannya. Tetapi aku tidak bisa sepenuhnya membantah.

***

Beberapa bulan kemudian, keadaan kian memburuk. Negeri seperti kapal besar yang lambungnya bocor, tetapi para nakhoda masih sibuk berpidato tentang arah angin. Bantuan likuiditas mengalir deras, bukan seperti obat, melainkan seperti air keruh yang dituangkan ke lantai rumah yang sudah retak. Bank-bank diselamatkan satu per satu, seolah negara sedang memunguti tubuh-tubuh yang jatuh dari medan perang yang dulu mereka sebut pasar bebas.

Pengusaha yang dulu memuja pasar kini mengetuk pintu negara dengan wajah pucat. Mereka yang dahulu menyimpan laba di luar negeri kini datang meminta perlindungan dari kas publik. Mereka yang bertahun-tahun hidup dari kedekatan dengan istana mulai menjaga jarak, seakan-akan tidak pernah mengenal lorong-lorong kekuasaan itu. Mereka yang dulu memuji presiden dengan suara paling lantang, kini mulai menyebut kata reformasi dengan bibir yang tiba-tiba suci.

Aku melihat pelajaran paling pahit dari krisis itu: kekuasaan jarang runtuh hanya karena musuh berteriak di jalan. Kekuasaan runtuh ketika orang-orang yang dulu menjadi tiang penyangganya mulai menghitung bahwa rumah itu sudah tidak aman lagi untuk dihuni..

***

Suatu siang, kami menonton televisi bersama di Café Hotel Mandarin Jakarta. Soeharto mengumumkan pengunduran diri. Suaranya datar. Wajahnya tua. Sejarah bergerak tanpa tepuk tangan. Aku duduk lama tanpa bicara.

“Berita mengatakan ini ulah George Soros,” kata Dina. “Katanya dia melakukan serangan lewat hedge fund.”

“Bukan,” jawabku tegas, seraya mematikan rokok di asbak. “Soros bukan penyebab, Din. Dia hanya pencuri yang datang ketika rumah sudah retak. Pintu rumah itu rapuh karena dibangun dari utang, rente, dan keserakahan. Pagarnya dibukakan bukan oleh musuh, tetapi oleh penjaga rumah sendiri: banker, pejabat, konglomerat, dan orang-orang yang selama ini hidup dari kekuasaan. Mereka lebih dulu membawa perhiasan keluar. Setelah itu, baru rakyat tahu rumahnya sedang terbakar.”

Dina menatapku. Di televisi, wajah Soeharto sudah berganti dengan tayangan kerumunan mahasiswa di jalan. Suara penyiar terdengar seperti datang dari ruang yang jauh.

“Aku tahu kamu cukup paham moneter,” kata Dina. “Yang ingin aku tanya, bagaimana teknisnya orang seperti Soros menjatuhkan Rupiah?”

Aku menyandarkan tubuh ke kursi. Asap rokok menipis di udara, seperti sisa-sisa keyakinan yang belum sepenuhnya hilang. “Dia tidak menjatuhkan Rupiah dengan palu, Din. Dia menjatuhkannya dengan membaca kelemahannya.”

“Maksudmu?”

“Begini,” kataku. “Sebuah mata uang itu seperti bendungan. Selama orang percaya airnya cukup dan dindingnya kuat, bendungan terlihat aman. Tetapi begitu orang tahu ada retak di dinding, semua akan datang menguji. Hedge fund tidak perlu membangun retak itu dari awal. Mereka cukup menekan titik yang sudah rapuh.”

Dina diam.

“Retak kita apa?” tanyanya kemudian.

Aku menghitung dengan jari.

“Pertama, utang swasta dalam dolar. Banyak perusahaan Indonesia berutang dolar karena bunganya lebih murah. Tapi pendapatannya Rupiah. Selama kurs stabil, mereka merasa pintar. Begitu Rupiah melemah, utang mereka membengkak seperti penyakit yang lama disembunyikan lalu tiba-tiba pecah di tubuh.”

Aku mengangkat jari kedua.

“Kedua, bank kita rapuh. Banyak bank memberi kredit kepada grup sendiri. Agunan dinilai tinggi. Proyek dibiayai bukan karena sehat, tetapi karena pemiliknya dekat dengan kekuasaan. Perbankan terlihat seperti gedung marmer, tetapi pilar-pilarnya dari kardus basah.”

Jari ketiga.

“Ketiga, rezim terlalu lama menjaga kurs seolah-olah Rupiah tidak mungkin jatuh. Karena kurs terlalu lama stabil, semua orang merasa tidak perlu hedging. Mereka percaya negara akan selalu menjaga Rupiah, seperti anak kecil percaya ayahnya selalu bisa menahan hujan.”

Dina mulai mengerti.

“Jadi hedge fund melihat semua itu?”

“Bukan hanya melihat. Mereka menghitung,” jawabku. “Mereka tahu cadangan devisa terbatas. Mereka tahu bank sentral tidak mungkin terus menjual dolar tanpa batas. Mereka tahu kalau tekanan cukup besar, pasar akan panik. Begitu panik muncul, orang lokal ikut membeli dolar. Nah, saat orang lokal ikut lari, serangan asing berubah menjadi krisis nasional.”

Dina menatapku.

“Tapi bagaimana serangannya dilakukan?”

“Mereka masuk melalui pasar valas dan instrumen derivatif. Mereka mengambil posisi seolah-olah Rupiah akan melemah. Bisa lewat forward, swap, option. Intinya, mereka menjual Rupiah yang mereka pinjam atau janjikan, lalu membeli dolar.”

“Menjual Rupiah yang dipinjam?” Dina mengerutkan kening.

“Ya. Bayangkan begini. Mereka pinjam Rupiah, lalu menukarnya menjadi dolar. Kalau nanti Rupiah jatuh, mereka bisa membeli kembali Rupiah dengan dolar yang sama dalam jumlah lebih besar. Mereka mengembalikan kewajiban Rupiah, sisanya menjadi keuntungan.”

“Contohnya?”

Aku mengambil kertas kecil dari meja.

“Misalnya hari ini satu dolar Rp2.500. Mereka mengambil posisi besar bahwa Rupiah akan jatuh. Mereka jual Rupiah, beli dolar. Kalau nanti satu dolar menjadi Rp5.000, maka dolar yang mereka pegang bisa membeli Rupiah dua kali lebih banyak. Mereka bayar kembali kewajiban Rupiah, sisanya keuntungan.”

Dina menatap kertas itu lama.

“Jadi mereka mendapat untung dari kehancuran kurs?”

“Dari perubahan harga,” jawabku datar. “Pasar tidak punya moral. Pasar hanya punya posisi.”

Dina diam. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya seperti kehilangan warna.

“Tapi BI bisa melawan, kan?” tanyanya.

“Bisa. BI bisa menjual cadangan dolar untuk membeli Rupiah. Tujuannya menahan kurs. Tapi kalau pasar percaya BI tidak punya peluru cukup, intervensi itu justru menjadi makanan spekulan.”

“Makanan?”

“Ya,” kataku. “Saat BI menjual dolar, hedge fund mendapat kesempatan membeli dolar dari pasar dengan harga yang masih ditahan. Semakin BI mempertahankan level tertentu, semakin pasar tahu di titik mana bank sentral akan bertahan. Mereka tekan terus. Kalau cadangan devisa menyusut, kepercayaan makin turun.”

Dina terdiam.

“Jadi intervensi bisa gagal?” tanyanya lagi.

“Kalau fondasi kuat, intervensi bisa berhasil. Tapi kalau pasar tahu fondasinya rapuh, intervensi hanya membeli waktu. Seperti menahan banjir dengan karung pasir, sementara bendungan utama sudah retak.”

Aku menunjuk televisi.

“Pemerintah berkata fundamental kuat. Tetapi pengusaha besar sudah membeli dolar. Konglomerat sudah memindahkan dana. Bank-bank sudah kekurangan kepercayaan. Utang valas swasta menumpuk. Jadi ketika hedge fund menekan Rupiah, yang terjadi bukan hanya serangan dari luar. Orang dalam ikut membuka pintu.”

Dina memandangku.

“Pagar dibukakan penjaga rumah,” kataku pelan.

Dina mengangguk.

“Betul. Soros dan hedge fund lain hanya berdiri di luar pagar sambil membawa linggis. Tapi penjaganya sendiri sudah takut rumah itu terbakar. Maka sebelum pencuri masuk, penjaga sudah membawa perhiasan keluar.”

“So, kesimpulannya?” tanya Dina.

“Kesimpulannya, krisis itu lahir dari pertemuan banyak retak: utang dolar, bank rapuh, kroni kapitalisme, cadangan devisa terbatas, kepercayaan elite yang hilang, dan serangan pasar. Kalau hanya Soros, tidak cukup. Kalau hanya oposisi, tidak cukup. Kalau hanya mahasiswa, tidak cukup. Tetapi ketika semua retak bertemu pada waktu yang sama, kurs menjadi pintu runtuhnya kekuasaan.”

Aku menunduk.

“Dan kita bagian dari retak itu?”

Dina tidak langsung menjawab. Ia menyalakan rokok baru, tetapi kali ini tidak segera mengisapnya.

“Kita bukan pembuat retak pertama,” katanya pelan. “Tapi kita melihat retak itu lebih dulu. Lalu kita membantu orang-orang keluar sebelum rakyat tahu rumahnya akan runtuh.”

Aku menatapnya.

“Itu tetap dosa, Din.”

Dina tersenyum pahit.

“Dalam politik, dosa sering dicatat sebagai strategi. Dalam bisnis, dosa sering dicatat sebagai risk management. Tapi dalam hati manusia, namanya tetap dosa.”

Itu pertama kalinya Dina kalah oleh kalimatnya sendiri.

Aku diam lama.

Di luar, Jakarta terus bergerak. Tetapi sejak hari itu, aku tidak lagi melihat kurs sebagai angka. Kurs adalah suara kepercayaan. Kurs adalah pengadilan tanpa hakim, tetapi punya vonis. Dan ketika vonis itu dijatuhkan, tidak ada pidato yang sanggup menahannya.

***

Aku dan Dina bertemu lagi di sebuah hotel kecil di kawasan Cempaka Putih. Aku menatap layar televisi yang menampilkan kerumunan mahasiswa. Dalam politik, jalan raya dan gedung parlemen hanya beda panggung.  Ada yang melawan dengan spanduk. Ada yang melawan dengan uang. Ada yang melawan dengan diam dalam doa. Ada yang melawan dengan memindahkan modal.

“Yang kuat bertahan. Yang cepat selamat. Yang lambat menjadi korban,” kata Dina, seraya melirik layar televisi.

Aku membenci kalimat itu. Tetapi sebagian diriku tahu, dunia yang kulihat beberapa bulan terakhir memang bekerja dengan hukum sekejam itu.

“Apa rencanamu dengan fee yang kamu terima?” tanyaku.

Dina tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan ke jendela, memandang Jakarta yang masih berasap oleh sejarah.

“Aku mau mundur dari panggung politik.”

Aku terkejut.

“Kamu?”

“Ya.”

“Kupikir kamu justru akan naik.”

Dina tersenyum lelah.

“Aku sudah terlalu lama melihat perut kekuasaan. Tidak ada yang indah di sana. Orang datang membawa idealisme, lalu pulang membawa rekening. Orang bicara rakyat, tetapi menghitung kurs. Orang bicara bangsa, tetapi menyiapkan exit plan.”

Aku mendekatinya.

“Kamu menyesal?”

“Tidak,” jawabnya cepat.

Lalu setelah beberapa detik, suaranya melemah.

“Mungkin sedikit.”

Itu pertama kalinya aku melihat Dina seperti manusia biasa.

“Dan kamu, Ale?” tanyanya. “Apa rencanamu?”

Aku memandang kota yang dulu membuatku percaya bahwa kerja keras cukup untuk menang.

“Aku mau hijrah bisnis ke luar negeri.”

Dina menoleh.

“Kenapa?”

“Karena aku baru paham. Di sini bisnis bukan hanya soal produk, pasar, dan modal. Bisnis adalah bagian dari struktur kekuasaan. Kalau aku tetap di sini tanpa mengerti permainan itu, aku akan dimakan. Kalau aku ikut bermain terlalu jauh, aku akan kehilangan diriku.”

Dina menatapku lama.

“Kamu masih idealis.”

“Mungkin.”

“Dunia akan mengikis idealismemu.”

“Mungkin,” kataku. “Tapi aku ingin memilih di mana aku dikikis.”

Dina tertawa pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, tawanya tidak sinis.

***

Beberapa minggu kemudian, Dina benar-benar menghilang dari panggung politik. Namanya tidak lagi terdengar di lingkaran yang dulu ia kuasai. Ada yang bilang ia pindah ke Eropa. Ada yang bilang ia tinggal di Singapura. Ada yang bilang ia menikah dengan pengusaha asing. Aku tidak pernah tahu mana yang benar.

Aku sendiri baru benar-benar hijrah ke luar negeri tahun 2003. Aku pergi membawa bekal pahit dari tahun 1997: uang selalu lebih cepat daripada pidato, orang kaya selalu keluar sebelum krisis diumumkan, dan kekuasaan tidak pernah runtuh sendirian. Ia runtuh karena orang-orang yang dulu menopangnya mulai berhenti percaya.

Bertahun-tahun kemudian, setiap kali aku mendengar pejabat berkata “fundamental kuat” sementara kurs melemah, pasar jatuh, dan orang-orang kaya membeli dolar, aku selalu teringat Dina. Ia pernah berkata, “Negara kelihatan kuat sampai orang-orang yang menopangnya mulai memindahkan uang.”…Dulu aku mengira itu sinisme. Sekarang aku tahu, itu adalah pelajaran pertama tentang kekuasaan.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca