Mengapa Prabowo ke Paris?

Pendahuluan,

Prancis adalah salah satu bangsa yang membentuk wajah dunia modern. Dari negeri ini lahir revolusi politik, pemikiran filsafat, tradisi republik, sekularisme, dan gagasan hak asasi manusia yang kemudian menjadi rujukan banyak negara. Revolusi Prancis 1789 bukan hanya peristiwa domestik, melainkan titik balik sejarah dunia. Ia mengguncang tatanan monarki absolut, memperkenalkan prinsip kedaulatan rakyat, dan menempatkan warga negara sebagai subjek utama dalam politik modern.

Secara kebudayaan, Prancis juga memiliki posisi istimewa. Paris lama dikenal sebagai pusat seni, sastra, filsafat, mode, arsitektur, kuliner, dan diplomasi. Nama-nama besar dalam sejarah pemikiran dunia lahir atau tumbuh dalam tradisi intelektual Prancis. Dari Pencerahan, eksistensialisme, strukturalisme, hingga teori sosial modern, Prancis selalu hadir sebagai laboratorium gagasan. Karena itu, dalam imajinasi global, Prancis bukan hanya negara, tetapi simbol peradaban: elegan, rasional, kritis, dan berbudaya tinggi.

Namun sejarah Prancis tidak hanya berisi revolusi, seni, dan filsafat. Prancis juga adalah negara kolonial besar. Kekuasaan kolonialnya pernah membentang dari Afrika Barat, Afrika Tengah, Afrika Utara, Indochina, Karibia, Samudra Hindia, hingga Pasifik. Wilayah seperti Aljazair, Tunisia, Maroko, Senegal, Mali, Pantai Gading, Niger, Chad, Gabon, Kamerun, Madagaskar, Vietnam, Laos, Kamboja, Suriah, Lebanon, Haiti, dan sejumlah wilayah Pasifik pernah berada dalam spektrum kekuasaan kolonial Prancis, baik sebagai koloni langsung, protektorat, mandat, maupun wilayah administrasi seberang laut.

Warisan kolonial itu membentuk posisi Prancis dalam dunia modern. Prancis tidak hanya membawa pengaruh budaya, bahasa, dan diplomasi, tetapi juga membangun jaringan ekonomi, politik, dan finansial yang panjang. Hubungan historis dengan Afrika francophone, Timur Tengah, Karibia, dan Pasifik membuat Prancis tetap memiliki pengaruh geopolitik yang melampaui ukuran geografisnya di Eropa. Dalam banyak hal, Prancis modern berdiri di atas kombinasi antara republik, kebudayaan tinggi, kekuatan kolonial lama, dan jaringan global yang terus dipertahankan melalui diplomasi, bisnis, militer, dan keuangan.

Pada era modern, Prancis berkembang menjadi salah satu ekonomi terbesar Eropa. Ia memiliki perusahaan transnasional besar dalam berbagai sektor: energi, pertahanan, penerbangan, otomotif, farmasi, ritel, luxury goods, transportasi, konstruksi, asuransi, dan perbankan.  Tetapi kekuatan korporasi global itu tidak otomatis membuat ekonomi Prancis bebas dari masalah struktural. Dalam beberapa dekade terakhir, ekonomi Prancis semakin bergeser ke arah jasa, keuangan, konsumsi, dan belanja negara. Basis manufaktur tidak lagi menjadi tulang punggung dominan seperti masa kejayaan industri Eropa pascaperang.

Globalisasi memindahkan banyak rantai produksi ke Asia. China tumbuh menjadi mesin manufaktur dunia. Amerika Serikat menguasai teknologi digital, platform global, dolar, pasar modal, dan ekosistem venture capital. Di tengah dua kekuatan besar itu, Prancis menghadapi tekanan dari dua arah: kalah efisien dari China dalam produksi massal, dan kalah dominan dari Amerika dalam teknologi digital dan finansial global.

Sektor keuangan Prancis memang sangat besar. Bank-bank besar Prancis memiliki jaringan internasional yang luas, beroperasi di banyak negara, dan menjadi bagian penting dari sistem keuangan Eropa.  Namun justru di sinilah paradoks Prancis terlihat. Negara ini memiliki bank besar, asuransi besar, dana investasi besar, dan jaringan keuangan global yang kuat.

Akan tetapi, kekuatan finansial tersebut tidak cukup efektif menjadi mesin pertumbuhan ekonomi riil. Modal besar tidak selalu mengalir ke industrial upgrading, teknologi produksi, ekspor, manufaktur maju, riset terapan, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Sebagian besar uang berputar di kredit konsumsi, properti, treasury, obligasi negara, instrumen pasar modal, derivatif, refinancing, dan aset keuangan lainnya.

Dengan kata lain, sektor keuangan tumbuh besar, tetapi tidak selalu menciptakan produktivitas baru. Ia mampu menjaga likuiditas, mengelola aset, membiayai negara, dan memperluas transaksi internasional. Namun jika hubungan antara sektor keuangan dan sektor riil melemah, maka sistem finansial hanya menjadi ruang sirkulasi uang, bukan mesin transformasi ekonomi. Ini menjelaskan mengapa negara dengan jaringan finansial besar seperti Prancis tetap menghadapi pertumbuhan rendah, defisit fiskal besar, utang publik tinggi, dan pengangguran muda yang sulit ditekan.

Karena itu, pembahasan mengenai Prancis penting bukan hanya sebagai studi tentang satu negara Eropa. Prancis adalah contoh dari dilema negara maju yang kaya, bersejarah, berbudaya tinggi, dan memiliki jaringan finansial global, tetapi mulai kehilangan daya dorong ekonomi riil. Ia menunjukkan bahwa besarnya sektor keuangan tidak otomatis menciptakan pertumbuhan. Banyaknya bank besar tidak otomatis melahirkan industrialisasi baru. Tingginya aset asuransi dan dana investasi tidak otomatis menciptakan teknologi, ekspor, dan pekerjaan berkualitas.

Prancis modern berada dalam persimpangan sejarah. Di satu sisi, ia masih membawa warisan besar revolusi, republik, kebudayaan, kolonialisme, dan jaringan global. Di sisi lain, ia menghadapi tekanan abad ke-21: China dengan kekuatan manufaktur dan supply chain, Amerika Serikat dengan dominasi teknologi dan finansial, serta beban domestik berupa utang tinggi, defisit fiskal, welfare state yang mahal, dan produktivitas yang tidak cukup cepat.

Dengan demikian, pertanyaan utama bukan lagi apakah Prancis adalah negara besar. Pertanyaannya adalah apakah kebesaran historis, budaya, kolonial, korporasi, dan finansial itu masih mampu menjadi sumber pembaruan ekonomi. Jika jaringan keuangan global tidak terhubung kuat dengan sektor riil, maka Prancis akan terus menjadi negara kaya yang hidup dari kejayaan lama, tetapi semakin sulit membangun mesin pertumbuhan baru.

Pendahuluan ini menempatkan Prancis sebagai contoh paradoks negara maju: besar secara budaya, kuat secara finansial, berpengaruh secara geopolitik, tetapi tertekan oleh stagnasi ekonomi, utang publik, dan melemahnya kapasitas produktif. Dari sini, pembahasan selanjutnya perlu melihat bagaimana sektor keuangan, TNC, warisan kolonial, negara kesejahteraan, dan tekanan global membentuk arah ekonomi Prancis hari ini.

Sektor keuangan.

Banque de France mencatat enam grup bank besar Prancis memiliki aset konsolidasi sekitar €8,073 triliun pada akhir 2021 dan foreign claims sekitar €3,764 triliun. Pada periode tersebut, sistem perbankan Prancis berada di peringkat keempat dunia berdasarkan besarnya foreign claims, dengan pangsa sekitar 11% dari total foreign exposures bank global. Ini menunjukkan bahwa perbankan Prancis sangat internasional dan sangat terhubung dengan sistem keuangan dunia.

Dalam data terbaru, ukuran sistem keuangan Prancis sangat besar. Webstat Banque de France/ACPR mencatat total balance sheet sektor perbankan Prancis pada 2024 sekitar €9,536.72 miliar, sementara total aset sektor asuransi mencapai sekitar €2,972.00 miliar. Banque de France juga mencatat outstanding financial investments yang dikelola insurers dan pension funds mencapai €2,721 miliar pada akhir Desember 2024. Sementara itu, dana investasi Prancis juga besar: money market funds memiliki net asset value sekitar €434 miliar dan non-money market funds sekitar €1,679 miliar pada Desember 2024.

Namun harus dipahami bahwa dibalik kekuatan financial itu ada pengendali dari sekumpulan old money, shadow banker. Mereka sangat konservatif menyalurkan dana. Mereka punya standar sendiri yang siapapun termasuk negara Perancis sendiri harus patuh. Ya sama seperti AS, Inggris. Punya financial resource besar tetapi tidak membuat mereka financial fredome. Bahkan terjebak hutang dan pertumbuhan rendah.

Standar pembiayaan dari Prancis umumnya ketat, terutama bila pembiayaan datang dari lembaga seperti AFD, Proparco, Bpifrance, atau bank besar Prancis seperti BNP Paribas, Crédit Agricole, Société Générale, dan BPCE. Ketatnya bukan hanya soal bunga dan jaminan, tetapi juga soal governance, ESG, anti-korupsi, iklim, lingkungan, sosial, procurement, dan kepatuhan internasional.

1. Tidak hanya menilai proyek, tetapi menilai tata kelola

Lembaga pembiayaan Prancis biasanya tidak cukup hanya melihat apakah proyek menghasilkan cash flow. Mereka juga melihat siapa pemilik proyek, siapa kontraktornya, bagaimana proses pengadaan dilakukan, apakah ada konflik kepentingan, apakah ada risiko korupsi, dan apakah struktur proyek transparan.

AFD, misalnya, menempatkan manajemen risiko lingkungan dan sosial sebagai bagian dari proses pembiayaan. Pembiayaan dapat dibuat bersyarat pada pelaksanaan Environmental and Social Commitment Plan atau Environmental and Social Action Plan bila ada celah antara standar proyek dan standar AFD.  Artinya, proyek yang secara finansial layak belum tentu otomatis dibiayai. Kalau governance lemah, dokumen lingkungan tidak lengkap, pembebasan lahan bermasalah, atau ada risiko sosial besar, prosesnya bisa tertahan.

2. Standar lingkungan dan sosial sangat dominan

Pembiayaan Prancis sangat sensitif terhadap isu lingkungan, hak masyarakat terdampak, tenaga kerja, keselamatan kerja, biodiversitas, iklim, dan emisi karbon. Dalam kontrak yang dibiayai AFD, penerima proyek dan kontraktor diwajibkan mematuhi standar environmental, social, health and safety yang diakui internasional.

Untuk proyek infrastruktur, energi, transportasi, air, pelabuhan, atau perkotaan, biasanya akan diminta studi AMDAL/ESIA yang kredibel, rencana mitigasi dampak lingkungan, rencana konsultasi publik, mekanisme pengaduan masyarakat, standar keselamatan kerja, rencana resettlement bila ada relokasi, dan bukti bahwa proyek tidak merusak kawasan sensitif.

Ini membuat pembiayaan Prancis sering lebih lambat dibanding pembiayaan komersial biasa atau pembiayaan dari negara yang lebih longgar. Tetapi kelebihannya, proyek lebih bankable di mata investor institusional dan lebih mudah masuk kerangka green finance atau sustainability finance.

3. Anti-korupsi, AML, dan sanksi sangat ketat

Lembaga Prancis sangat memperhatikan anti-money laundering, counter-terrorist financing, anti-corruption, sanctions compliance, dan beneficial ownership. Proparco menyebut mekanisme keamanan finansial dan anti-korupsinya diterapkan sejak tahap appraisal dan terus dipantau sepanjang siklus proyek. Dalam praktiknya, mereka akan memeriksa pemilik manfaat akhir atau beneficial owner, rekam jejak sponsor, daftar sanksi internasional, hubungan politik atau politically exposed persons, reputasi kontraktor, struktur offshore, transaksi pihak berelasi, dan potensi fraud dalam procurement.

Untuk Indonesia, ini penting. Banyak proyek gagal masuk pembiayaan Eropa bukan karena proyeknya tidak menarik, tetapi karena struktur hukumnya terlalu rumit, beneficial ownership tidak bersih, lahan belum clear, atau procurement dianggap tidak cukup transparan.

4. Procurement harus kompetitif dan terdokumentasi

Pembiayaan Prancis, terutama melalui AFD, umumnya meminta proses pengadaan yang transparan, kompetitif, dan terdokumentasi. AFD menyediakan procurement guidelines dan standar dokumen pengadaan untuk pekerjaan, barang, plant, dan jasa konsultansi. Penerima pembiayaan juga diminta memastikan bidder, konsultan, dan subkontraktor memenuhi standar integritas dan ESHS. 

Konsekuensinya, proyek tidak mudah diarahkan begitu saja kepada kontraktor tertentu tanpa kompetisi. Penunjukan langsung, mark-up, vendor titipan, atau perubahan desain yang tidak transparan akan menjadi red flag. Ini berbeda dengan model pembiayaan yang lebih politis, di mana dana datang bersama kontraktor, EPC, vendor, dan paket teknologi yang sudah ditentukan sejak awal.

5. Bank Prancis banyak memakai standar Equator Principles.

Bank besar Prancis umumnya memakai kerangka Equator Principles untuk project finance. Crédit Agricole CIB menjelaskan bahwa Equator Principles adalah komitmen untuk melakukan analisis rinci terhadap aspek lingkungan dan sosial dalam pembiayaan proyek, serta mensyaratkan proyek dikembangkan dan dioperasikan sesuai standar lingkungan dan sosial IFC.

Société Générale juga menyebut kerangka E&S mereka mencakup Equator Principles, termasuk EP4 yang berlaku sejak 2020.  Artinya, untuk proyek besar seperti energi, pelabuhan, jalan tol, smelter, air, transportasi massal, atau kawasan industri, bank Prancis akan menilai bukan hanya DSCR dan IRR, tetapi juga risiko sosial-lingkungan, reputasi, iklim, dan dampak terhadap masyarakat.

6. Climate alignment makin menentukan.

Pembiayaan Prancis sekarang sangat dipengaruhi agenda iklim dan transisi energi. AFD dan Proparco sering mengaitkan pembiayaan dengan Sustainable Development Goals, Paris Agreement, climate finance, biodiversity, dan transisi rendah karbon. Proparco juga menyatakan perannya sebagai development finance institution adalah mendorong standar ESG tertinggi pada perusahaan yang dibiayai.

Karena itu, proyek berbasis batubara, energi fosil, deforestasi, atau industri dengan emisi tinggi akan jauh lebih sulit mendapatkan pembiayaan Prancis, kecuali ada rencana transisi yang sangat kuat dan terukur.

Untuk Indonesia, ini berarti proyek nikel, smelter, kawasan industri, listrik, pelabuhan, atau hilirisasi harus bisa menjawab pertanyaan,  dari mana listriknya, bagaimana emisinya, bagaimana tailing dikelola, bagaimana air dan limbah dikontrol, bagaimana hak masyarakat lokal dijaga, dan apakah proyek itu compatible dengan transisi hijau.

7. Tidak semua pembiayaan Prancis murah dan mudah

Ada kesalahpahaman bahwa pembiayaan Prancis selalu murah karena sering dikaitkan dengan development finance. Faktanya, pembiayaan dari AFD/Proparco bisa kompetitif, tetapi biasanya disertai syarat panjang. Bank komersial Prancis akan tetap menghitung risiko negara, risiko proyek, mata uang, tenor, jaminan, off-taker, dan kepastian cash flow. Jadi, murahnya dana sering dibayar dengan ketatnya disiplin dokumen. Bagi proyek yang governance-nya baik, ini menguntungkan. Tetapi bagi proyek yang masih abu-abu, ini terasa lambat dan menyulitkan.

Dengan 7 hal diatas, memang standar pembiayaan Prancis ketat karena mereka tidak hanya membeli cerita proyek apalagi terkait politik. Bahkan untuk dalam negeri Perancis saja sulit dapatkan pembiayaan proyek. Mereka membeli kepastian tata kelola. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi hambatan bila proyek disiapkan secara politis. Tetapi bisa menjadi nilai tambah bila proyek disiapkan secara profesional, transparan, dan produktif. Jadi, kemitraan dengan Prancis layak dikejar, tetapi harus diposisikan sebagai quality financing, bukan sekadar sumber utang.

Corporasi berskala global (TNC)

Prancis sering dibayangkan sebagai negeri filsafat, seni, mode, republik, dan negara kesejahteraan. Tetapi di balik wajah humanis itu, Prancis juga adalah rumah bagi sebagian transnational corporations terbesar di dunia. Mereka bergerak dalam energi, pertahanan, penerbangan, otomotif, farmasi, barang mewah, ritel, konstruksi, material bangunan, asuransi, dan perbankan global.

Inilah paradoks Prancis modern. Di dalam negeri, negara tampil sebagai pelindung rakyat melalui welfare state, subsidi, pensiun, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan buruh. Tetapi di luar negeri, korporasi Prancis bergerak sebagai aktor kapitalisme global yang keras: mencari pasar, menguasai rantai pasok, membeli aset strategis, mengejar margin, memperluas konsesi, dan memaksimalkan nilai bagi pemegang saham.

TotalEnergies adalah contoh paling jelas. Ia bukan sekadar perusahaan energi Prancis, tetapi raksasa energi global. Operasinya mencakup minyak, gas, LNG, petrokimia, trading energi, listrik, dan energi terbarukan. Dalam ekonomi geopolitik, perusahaan seperti TotalEnergies tidak hanya menjual energi. Ia mengelola akses terhadap sumber daya, kontrak jangka panjang, infrastruktur, pelabuhan, tanker, kilang, dan hubungan dengan negara produsen. Di banyak negara berkembang, kehadiran perusahaan energi seperti ini sering lebih kuat daripada kedutaan besar.

Di sektor penerbangan dan pertahanan, Prancis memiliki Airbus, Safran, Thales, dan Dassault Aviation. Airbus adalah simbol kapitalisme industri Eropa yang berhasil menantang dominasi Boeing. Safran menguasai teknologi mesin pesawat, avionik, landing gear, dan sistem aerospace. Thales bergerak dalam pertahanan, keamanan, digital identity, radar, satelit, dan sistem militer. Dassault menjual Rafale, jet tempur yang bukan hanya produk industri, tetapi juga instrumen diplomasi strategis Prancis.

Dalam bisnis pertahanan, kapitalisme tidak pernah netral. Ia selalu terkait dengan negara, diplomasi, perang, aliansi, dan pengaruh geopolitik. Ketika Dassault menjual Rafale, yang bergerak bukan hanya perusahaan. Yang bergerak adalah jaringan negara, pembiayaan ekspor, pelatihan militer, transfer teknologi terbatas, diplomasi pertahanan, dan hubungan jangka panjang dengan pembeli. Karena itu TNC pertahanan Prancis adalah bagian dari proyeksi kekuasaan nasional.

Di sektor otomotif, Renault dan Stellantis menunjukkan bagaimana industri Prancis berusaha bertahan dalam tekanan global. Mereka menghadapi kompetisi berat dari China dalam kendaraan listrik, dari Jepang dan Korea dalam efisiensi produksi, serta dari Amerika dalam software, baterai, dan platform mobilitas baru. Renault masih menjadi ikon industri Prancis, tetapi pasarnya harus terus menyesuaikan diri dengan elektrifikasi, regulasi emisi, dan persaingan harga. Stellantis, yang menggabungkan merek Eropa dan Amerika, memperlihatkan bahwa kapitalisme otomotif hari ini tidak lagi nasional murni. Ia adalah jaringan produksi global lintas negara.

Sanofi memperlihatkan kekuatan Prancis dalam farmasi dan bioteknologi. Dalam dunia pascapandemi, farmasi bukan sekadar bisnis obat. Ia adalah bisnis riset, paten, data klinis, rantai pasok bahan aktif, regulasi kesehatan, dan kekuatan pasar global. Negara yang punya perusahaan farmasi besar memiliki posisi tawar strategis, karena kesehatan publik dan keamanan biologis semakin menjadi bagian dari keamanan nasional.

Di sektor barang mewah, LVMH dan Kering adalah wajah paling glamor dari kapitalisme Prancis. Mereka menjual Louis Vuitton, Dior, Moët Hennessy, Bulgari, Sephora, Gucci, Saint Laurent, Bottega Veneta, dan banyak merek lain. Barang mewah Prancis bukan hanya produk. Ia adalah komodifikasi budaya. Sejarah, aristokrasi, seni, mode, dan citra Paris diubah menjadi margin laba global. Inilah kapitalisme simbolik: menjual status, identitas, dan mimpi kepada kelas kaya dunia.

Danone dan Carrefour bergerak di sektor konsumsi massal. Danone menjual nutrisi, air minum, produk susu, dan makanan kesehatan. Carrefour mengoperasikan jaringan ritel di banyak negara. Keduanya memperlihatkan sisi lain kapitalisme Prancis: bukan hanya barang mewah untuk elite global, tetapi juga konsumsi harian masyarakat luas. Melalui makanan, air, susu, dan ritel, TNC masuk ke ruang paling dasar kehidupan sehari-hari.

Vinci dan Saint-Gobain adalah contoh kapitalisme infrastruktur dan material. Vinci mengelola konstruksi, konsesi jalan tol, bandara, energi, dan proyek infrastruktur. Saint-Gobain bergerak dalam material bangunan, kaca, konstruksi, dan solusi industri. Mereka tumbuh bukan hanya dari proyek domestik, tetapi juga dari urbanisasi global, pembangunan infrastruktur negara berkembang, renovasi energi, dan ekspansi ke pasar Asia, Amerika, Timur Tengah, dan Afrika.

Sementara itu, AXA, BNP Paribas, Crédit Agricole, Société Générale, dan Groupe BPCE menunjukkan kekuatan kapitalisme finansial Prancis. Mereka bukan sekadar bank dan asuransi domestik. Mereka adalah jaringan global yang terhubung dengan pasar modal, obligasi, project finance, trade finance, wealth management, insurance, asset management, corporate banking, dan investment banking. Mereka mengalirkan modal lintas negara, membiayai korporasi, membeli surat utang, mengelola risiko, dan menjadi bagian dari arsitektur keuangan global.

Dari sini terlihat bahwa Prancis bukan negara anti-kapitalis. Prancis adalah negara kapitalis besar dengan wajah sosial di dalam negeri. Negara melindungi rakyatnya, tetapi korporasinya bergerak sangat agresif di luar negeri. Negara berbicara tentang hak sosial, tetapi TNC-nya mengejar konsesi, laba, ekspansi pasar, merger, akuisisi, efisiensi tenaga kerja, dan return on capital.

Makanya kekuatan TNC tidak otomatis membuat ekonomi domestik Prancis menjadi kuat. Banyak perusahaan besar Prancis justru memperoleh pertumbuhan dari luar negeri. Vinci, misalnya, semakin besar dari bisnis internasional. LVMH bergantung pada konsumen kaya global. TotalEnergies bergantung pada harga energi dan aset luar negeri. Airbus bergantung pada pesanan maskapai dunia. AXA dan bank-bank besar Prancis memiliki eksposur lintas negara. Artinya, laba korporasi bisa global, tetapi masalah domestik tetap lokal: utang publik, defisit fiskal, pengangguran muda, biaya sosial tinggi, dan produktivitas yang melambat.

Di sinilah paradoksnya. TNC Prancis sangat kuat secara global, tetapi tidak cukup menjadi mesin penyembuh bagi ekonomi Prancis sendiri. Mereka mencetak laba, membayar dividen, memperluas aset, dan memperbesar pengaruh global. Tetapi dampaknya terhadap reindustrialisasi domestik tidak selalu sebanding. Banyak rantai produksi, pasar, bahan baku, tenaga kerja, dan keuntungan berada di luar Prancis. Sementara di dalam negeri, negara tetap harus membiayai welfare state yang mahal.

Negara kesejahteraan.

Pertumbuhan ekonomi Prancis tidak lagi bergerak cepat. Setelah pemulihan pascapandemi, momentum ekonomi melemah. Pada 2025, pertumbuhan hanya sekitar 0,9%. Memasuki kuartal pertama 2026, PDB riil Prancis bahkan kembali turun tipis secara kuartalan. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Prancis bukan sedang meledak, tetapi bergerak lambat di tengah tekanan konsumsi, investasi, energi, dan ketidakpastian global.

Masalah fiskal lebih serius. Defisit publik Prancis pada 2025 masih berada di sekitar 5,1% dari PDB. Angka itu memang lebih baik daripada 2024, tetapi tetap jauh di atas batas disiplin fiskal Uni Eropa sebesar 3%. Artinya, negara masih membelanjakan jauh lebih besar daripada pendapatannya. Beban itu tidak kecil karena Prancis harus membiayai pensiun, kesehatan, pendidikan, subsidi, birokrasi, pertahanan, transisi energi, dan perlindungan sosial.

Rasio utang publik juga sudah jauh di atas PDB. Pada 2025, utang publik Prancis berada di sekitar 115,6% dari PDB. Dengan kata lain, total kewajiban negara telah melampaui nilai output ekonomi tahunannya. Ini bukan berarti Prancis akan segera bangkrut. Negara maju dengan mata uang kuat dan pasar obligasi dalam masih bisa bertahan lama dengan utang tinggi. Namun ruang fiskalnya menyempit. Setiap kenaikan bunga, tekanan energi, atau perlambatan ekonomi akan langsung memperberat APBN.

Inilah sisi gelap negara kesejahteraan yang matang. Welfare state Prancis pernah menjadi prestasi besar abad ke-20. Negara hadir untuk melindungi rakyat: pendidikan, kesehatan, pensiun, subsidi sosial, hak buruh, dan jaminan hidup. Model ini menciptakan stabilitas sosial dan kelas menengah kuat setelah Perang Dunia II. Tetapi pada abad ke-21, beban itu semakin mahal. Penduduk menua. Biaya kesehatan naik. Pensiun membesar. Produktivitas tidak tumbuh cukup cepat.

Di sisi tenaga kerja, pengangguran tetap menjadi luka lama. Pada awal 2026, tingkat pengangguran Prancis naik ke sekitar 8,1%. Yang lebih mengkhawatirkan adalah pengangguran muda. Kelompok usia 15–24 tahun tetap jauh lebih rentan dibanding kelompok usia produktif lain. Ini menunjukkan bahwa ekonomi tidak cukup cepat menyerap generasi baru ke dalam pekerjaan berkualitas. Bagi negara kesejahteraan, ini berbahaya. Jika generasi muda kehilangan harapan, maka tekanan sosial dan politik akan meningkat.

Masalahnya bukan hanya ekonomi. Ini juga krisis legitimasi sosial. Dulu, negara kesejahteraan menjanjikan mobilitas sosial: sekolah baik, pekerjaan stabil, rumah terjangkau, pensiun aman. Sekarang generasi muda menghadapi biaya hidup tinggi, harga rumah mahal, pajak berat, pasar kerja kompetitif, dan mobilitas sosial yang melambat. Akibatnya, politik menjadi semakin keras. Kanan populis menguat. Kiri radikal kembali mendapat ruang. Demonstrasi menjadi rutinitas. Reformasi fiskal, pensiun, dan tenaga kerja sulit dilakukan tanpa gejolak.

Di tengah semua itu, sektor keuangan Prancis sangat besar dan sangat internasional. Bank, asuransi, manajemen aset, dan lembaga keuangan Prancis terhubung dengan New York, London, Frankfurt, Afrika, Asia, Timur Tengah, dan pasar global lainnya. Tetapi kekuatan finansial ini tidak selalu berubah menjadi mesin ekonomi riil. Banyak modal berputar di obligasi, treasury, pasar modal, instrumen derivatif, refinancing, properti, dan produk investasi. Uang bergerak, tetapi tidak selalu menjadi pabrik baru, teknologi baru, ekspor baru, atau pekerjaan baru.

Kasus H2O Asset Management dan Casino Group memperlihatkan sisi gelap dari ekonomi yang terlalu finansial. H2O menunjukkan bagaimana dana investor dapat masuk ke instrumen tidak likuid yang dibungkus sebagai produk investasi canggih. Ketika kepercayaan hilang, investor tidak bisa keluar dengan mudah dan sebagian dana harus terperangkap dalam struktur side-pocket. Ini menunjukkan bahwa likuiditas dalam dunia keuangan kadang hanya ilusi.

Casino Group menunjukkan wajah lain dari masalah yang sama. Perusahaan ritel besar yang tertekan utang dapat tergoda mengelola persepsi pasar melalui narasi, komunikasi, rumor, dan hubungan media. Ketika harga saham jatuh dan pasar meragukan kemampuan perusahaan membayar utang, narasi berubah menjadi alat bertahan hidup. Dalam ekonomi riil yang sehat, perusahaan bertahan karena produktivitas, efisiensi, arus kas, dan daya saing.  Dalam ekonomi yang terlalu finansial, perusahaan sering bertahan melalui refinancing, valuasi, dan persuasi investor.

Dua kasus itu memperlihatkan bahwa masalah Prancis bukan kekurangan uang. Masalahnya adalah kualitas alokasi modal dan tata kelola. Jika uang lebih sibuk mempertahankan struktur finansial daripada membangun produktivitas, maka sektor keuangan menjadi ruang sirkulasi risiko, bukan mesin pertumbuhan.

Pada akhirnya, Prancis menghadapi dilema besar. Ia memiliki korporasi global yang kuat, tetapi negara domestiknya dibebani welfare state yang mahal. Ia memiliki bank dan lembaga keuangan besar, tetapi pertumbuhan ekonominya lambat. Ia memiliki sejarah industri dan teknologi, tetapi supply chain global banyak dikuasai Asia. Ia memiliki elite intelektual dan birokrasi kuat, tetapi reformasi sering terhambat oleh resistensi sosial.

Pelajaran dari Prancis sangat penting. Negara kaya pun bisa terjebak dalam stagnasi bila modal tidak lagi efektif menciptakan produktivitas. Korporasi global bisa tumbuh, tetapi rakyat tetap menghadapi pengangguran. Bank bisa besar, tetapi industri domestik belum tentu kuat. Negara bisa memiliki welfare state, tetapi tanpa pertumbuhan produktif, welfare state berubah menjadi beban fiskal yang semakin sulit dibiayai.

Itulah paradoks Prancis hari ini,  besar secara korporasi, kuat secara finansial, kaya secara sejarah, tetapi tertekan secara fiskal dan sosial. Ia adalah contoh negara maju yang masih memiliki kemewahan kapitalisme global, tetapi mulai kesulitan membiayai janji sosial abad ke-20 dalam realitas ekonomi abad ke-21.

Kompetisi global.

Dalam dua dekade terakhir, ekonomi Prancis semakin terdesak oleh dua kekuatan besar, yaitu kemajuan China dan kepentingan Amerika Serikat. China menekan Prancis dari sisi industri, biaya produksi, rantai pasok, teknologi manufaktur, dan skala pasar. Amerika Serikat menekan Prancis dari sisi teknologi digital, keuangan global, geopolitik, energi, pertahanan, dan dominasi platform. Prancis berada di tengah dua raksasa yang sama-sama tidak netral. China datang dengan kekuatan produksi murah dan cepat. Amerika Serikat datang dengan kekuatan modal, teknologi, dolar, pasar finansial, dan aturan geopolitik.

Inilah dilema Prancis,  ia negara besar, tetapi tidak sebesar Amerika. Ia negara industri, tetapi tidak seefisien China. Ia punya bank dan asuransi besar, tetapi sektor finansial tidak cukup kuat mengubah modal menjadi lompatan produktivitas. Ia punya negara kesejahteraan yang kuat, tetapi biaya sosialnya tinggi. Ia punya ambisi strategis, tetapi ruang fiskalnya makin sempit.

Tekanan pertama datang dari China. Selama puluhan tahun, China membangun fondasi industri dengan cara yang sangat berbeda dari Eropa. China tidak hanya membuat produk. China membangun ekosistem produksi. Dari bahan baku, komponen, pabrik, logistik, pelabuhan, tenaga kerja teknis, pembiayaan murah, subsidi, vendor, sampai pasar domestik raksasa, semuanya terintegrasi dalam satu mesin industrialisasi besar.

Karena itu, ketika China masuk ke pasar global, ia tidak hanya menjual barang murah. Ia membawa kekuatan rantai pasok. Inilah yang membuat produk China sulit dilawan. Harga bisa rendah, pasokan bisa cepat, volume bisa besar, dan kemampuan adaptasi industrinya sangat fleksibel. Dalam ekonomi modern, yang menang bukan hanya yang punya teknologi, tetapi yang mampu membuat teknologi itu murah, massal, reliable, dan diterima pasar.

Prancis memiliki teknologi. Tetapi teknologi tanpa supply chain yang efisien akan kalah dalam pasar global. Mobil listrik, panel surya, baterai, elektronik, mesin industri, komponen otomotif, obat generik, tekstil teknis, hingga alat kesehatan kini semakin dipengaruhi oleh skala produksi China. Eropa bisa punya standar tinggi, tetapi China punya kombinasi skala, biaya, kecepatan, dan subsidi industri.

Di sinilah industri Prancis terjepit. Jika melawan China dengan proteksi, harga barang di Eropa bisa naik. Jika membuka pasar terlalu lebar, industri lokal tertekan. Jika ingin membangun ulang manufaktur domestik, biaya tenaga kerja, energi, regulasi, dan birokrasi menjadi hambatan. Jika tidak membangun ulang, ketergantungan pada China makin dalam.

Tekanan kedua datang dari Amerika Serikat. Amerika tidak menekan Prancis melalui barang murah seperti China. Amerika menekan melalui dominasi teknologi, dolar, pasar modal, platform digital, dan kebijakan industri yang sangat agresif. Raksasa teknologi Amerika menguasai cloud, artificial intelligence, sistem operasi, media sosial, digital advertising, semikonduktor desain, software enterprise, dan ekosistem venture capital global.

Akibatnya, perusahaan Eropa, termasuk Prancis, sering hanya menjadi pengguna teknologi, bukan penguasa platform. Data mengalir ke ekosistem digital Amerika. Perusahaan membayar lisensi, cloud, software, dan layanan teknologi kepada korporasi Amerika. Dalam ekonomi lama, negara kehilangan nilai tambah ketika pabrik pindah. Dalam ekonomi digital, negara kehilangan nilai tambah ketika data, platform, algoritma, dan infrastruktur komputasi dikuasai pihak luar.

Amerika juga menggunakan kebijakan industri secara keras. Dengan subsidi, insentif pajak, pembatasan ekspor teknologi, kontrol semikonduktor, dan aturan keamanan nasional, Washington membangun ulang basis industrinya sendiri. Ini memaksa Eropa berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, Eropa adalah sekutu Amerika dalam NATO dan tatanan geopolitik Barat. Di sisi lain, Amerika adalah pesaing ekonomi yang tidak segan menarik investasi, talenta, dan industri Eropa ke wilayahnya sendiri.

Bagi Prancis, ini sangat sensitif. Prancis selalu punya tradisi strategic autonomy. Ia tidak ingin sepenuhnya tunduk pada Amerika. Ia ingin Eropa punya kedaulatan teknologi, pertahanan, energi, pangan, dan industri. Tetapi membangun kedaulatan itu mahal. Sementara defisit fiskal Prancis masih besar, utang publik tinggi, dan pertumbuhan ekonomi rendah. Ambisi strategis besar, tetapi ruang anggaran terbatas.

Macron memahami dilema ini. Karena itu muncul agenda reindustrialisasi, France 2030, transisi hijau, teknologi strategis, energi nuklir, baterai, hidrogen, semikonduktor, artificial intelligence, dan industri pertahanan. Tetapi kebijakan industri tidak cukup dengan dana dan slogan. Ia membutuhkan eksekusi panjang: energi murah, pendidikan vokasi, riset yang terhubung ke pabrik, modal jangka panjang, birokrasi cepat, dan pasar tenaga kerja yang adaptif.

Masalah Prancis adalah struktur ekonominya sudah lama nyaman dalam model lama. Negara kesejahteraan melindungi rakyat, tetapi juga menciptakan biaya fiskal tinggi. Regulasi tenaga kerja menjaga hak pekerja, tetapi mengurangi fleksibilitas perusahaan. Sektor keuangan besar menjaga likuiditas, tetapi tidak selalu mengalirkan modal ke investasi produktif. Industri masih kuat di sektor tertentu, tetapi tidak cukup luas untuk menjadi mesin pertumbuhan baru.

Dalam konteks inilah Prancis terdesak. Dari China, ia menghadapi tekanan harga dan skala. Dari Amerika, ia menghadapi tekanan teknologi dan geopolitik. Dari dalam negeri, ia menghadapi stagnasi produktivitas, biaya sosial tinggi, utang besar, dan ketidakpuasan politik. Maka ekonomi Prancis bukan sedang runtuh, tetapi sedang kehilangan ruang gerak.

China membuat Prancis sadar bahwa industri tanpa efisiensi akan kalah. Amerika membuat Prancis sadar bahwa teknologi tanpa kedaulatan platform akan bergantung. Pasar global membuat Prancis sadar bahwa reputasi lama tidak cukup. Negara kesejahteraan membuat Prancis sadar bahwa perlindungan sosial hanya bisa bertahan jika produktivitas terus naik.

Reformasi

Prancis hari ini berada dalam ujian sejarah. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan status sebagai negara kaya, melainkan mengubah kekuatan lama menjadi kekuatan baru. Paris tidak cukup hanya menjadi pusat budaya, keuangan, dan diplomasi. Ia harus mampu menjadi pusat teknologi, industri maju, inovasi, dan produktivitas.

Pertanyaannya sederhana, tetapi sulit dijawab. Bisakah bank-bank besar Prancis membiayai industrial upgrading, bukan sekadar menjaga neraca? Bisakah negara kesejahteraan tetap hidup tanpa membunuh daya saing? Bisakah Eropa menjaga otonomi strategis tanpa sepenuhnya bergantung kepada Amerika Serikat dan tanpa terlalu terbuka terhadap tekanan industri China?

Jawabannya tidak mudah. Jika Prancis terlalu dekat dengan Amerika, ia berisiko kehilangan otonomi strategis. Jika terlalu membuka diri kepada China, industri domestiknya makin tertekan oleh produk murah, skala produksi besar, dan supply chain yang lebih efisien. Jika terlalu proteksionis, ekonomi kehilangan efisiensi dan konsumen menanggung harga tinggi. Jika terlalu liberal, industri lokal melemah. Jika terlalu banyak subsidi, defisit fiskal membesar. Tetapi jika terlalu keras melakukan penghematan, daya beli turun dan stabilitas sosial terganggu.

Itulah sebabnya Prancis terjepit bukan karena miskin, melainkan karena kaya dengan struktur lama. Kekayaan lama kadang menjadi beban. Ia membuat masyarakat terbiasa dengan proteksi. Ia membuat elite nyaman dengan sektor finansial. Ia membuat negara sulit melakukan reformasi karena setiap perubahan dianggap ancaman terhadap hak yang sudah mapan.

Reformasi di Prancis selalu berhadapan dengan tembok besar: birokrasi tua, serikat pekerja yang kuat, politik identitas, dan budaya negara kesejahteraan yang sudah terlalu besar untuk dikurangi. Negara ini seperti aristokrat tua. Masih elegan, masih intelektual, masih dihormati, tetapi mulai lambat bergerak ketika dunia berubah brutal.

Ironinya, Prancis tetap menjadi pusat seni, filsafat, mode, diplomasi, dan gagasan global. Tetapi kekuatan budaya tidak selalu cukup untuk mempertahankan dominasi ekonomi. Dunia modern tidak hanya bergerak dengan ide. Ia bergerak dengan teknologi, produktivitas, energi murah, supply chain yang efisien, dan kecepatan adaptasi.

Di sinilah negara-negara demokrasi tua mulai menghadapi tantangan besar. Demokrasi liberal Barat dibangun untuk dunia industri abad ke-20. Namun abad ke-21 bergerak jauh lebih cepat. Artificial intelligence, perang teknologi, geopolitik energi, kompetisi semikonduktor, kapitalisme digital, dan perang supply chain tidak memberi banyak waktu untuk kompromi panjang. Sementara demokrasi tua seperti Prancis sering bergerak lambat karena terlalu banyak prosedur, terlalu banyak veto politik, dan terlalu berat membawa beban sejarah.

China dan Amerika tidak menunggu Prancis selesai berdebat. China terus memperbesar kapasitas produksi, memperkuat ekspor, dan membangun rantai pasok global. Amerika terus memperkuat teknologi, dolar, pertahanan, pasar modal, cloud, artificial intelligence, dan platform digital. Sementara itu, Prancis harus mengambil keputusan sulit: tetap menjadi negara kaya yang mempertahankan model lama, atau menjadi negara produktif yang berani membangun ulang fondasi industrinya.

Globalisasi telah mengubah permainan. Industri bergerak ke Asia. Manufaktur Eropa kehilangan sebagian daya saing. Energi menjadi mahal. Utang publik meningkat. Penduduk menua. Produktivitas melambat. Di saat yang sama, negara tetap harus membiayai pensiun, subsidi, kesehatan, pendidikan, dan birokrasi besar.

Akibatnya ekonomi Prancis mulai bergerak lambat. GDP stagnan. Utang meningkat. Defisit fiskal melebar. Pengangguran muda tetap tinggi. Masyarakat mulai kehilangan optimisme. Generasi muda hidup dalam realitas yang berbeda dari generasi orang tua mereka. Dulu, pekerjaan stabil lebih mudah diperoleh. Rumah relatif lebih terjangkau. Energi lebih murah. Kelas menengah tumbuh.  Sekarang biaya hidup naik, harga rumah mahal, pajak tinggi, mobilitas sosial melambat, dan pekerjaan berkualitas semakin kompetitif. Maka kemarahan politik meningkat. Kanan populis tumbuh. Kiri radikal kembali mendapat ruang. Demonstrasi menjadi rutinitas nasional. Pemerintah semakin sulit membuat reformasi tanpa menghadapi gejolak sosial.

Kemitraan dengan Indonesia.

Dukungan politik pemerintah Emmanuel Macron terhadap Presiden Prabowo tidak otomatis berarti Indonesia akan memperoleh dukungan teknologi, investasi, dan pembiayaan murah dari Prancis. Dalam sistem kapitalisme Barat, hubungan politik hanya membuka pintu. Yang menentukan apakah proyek dibiayai atau tidak tetaplah standar lembaga keuangan, bank, investor institusional, asuransi, dan elite finansial global yang menguasai sumber daya modal.

Di sinilah banyak negara berkembang sering salah membaca. Mereka mengira kedekatan diplomatik otomatis berubah menjadi aliran dana. Padahal financial resource di Prancis tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Ia berada dalam ekosistem yang terdiri dari bank besar, asuransi, asset manager, development finance institution, private equity, export credit agency, lembaga rating, regulator, dan investor institusional. Mereka punya kalkulasi sendiri. Mereka tunduk pada standar risiko, ESG, kepatuhan hukum, anti-korupsi, climate risk, reputasi, dan kelayakan komersial.

Politik dapat memberi sinyal. Tetapi uang tetap bergerak berdasarkan disiplin risiko. Bahkan di dalam negeri, Prancis sendiri sedang menghadapi keterbatasan fiskal. Utang publik sudah berada di atas PDB. Defisit fiskal tetap besar. Belanja sosial, pensiun, kesehatan, pendidikan, dan subsidi terus menekan anggaran. Pemerintah Prancis tidak punya ruang tak terbatas untuk membiayai ekspansi domestik, apalagi dengan mudah membiayai ambisi pembangunan negara lain.

Karena itu, jika Indonesia berharap Prancis menjadi sumber pembiayaan besar, harapan itu harus ditempatkan secara realistis. Prancis bisa menjadi mitra, tetapi bukan kasir politik. Prancis bisa membawa teknologi, standar, dan akses jaringan Eropa. Namun modalnya tidak akan turun hanya karena hubungan presiden baik, kunjungan kenegaraan hangat, atau pernyataan diplomatik terdengar bersahabat.

Apalagi pembiayaan dari Prancis biasanya datang dengan standar ketat. Proyek harus jelas secara tata kelola, transparan dalam procurement, bebas dari konflik kepentingan, memiliki studi lingkungan dan sosial yang kredibel, memenuhi standar ESG, memiliki struktur pendapatan yang layak, serta dapat melewati uji kepatuhan anti-korupsi dan anti-money laundering.

Bank dan lembaga pembiayaan Prancis tidak mudah masuk ke proyek yang lahannya belum beres, offtake belum pasti, struktur sponsornya kabur, atau dampak lingkungan dan sosialnya tidak dikelola dengan baik. Dengan kata lain, Indonesia tidak cukup datang membawa proposal politik. Indonesia harus datang membawa proyek yang bankable, clean, transparent, dan produktif.

Jika Indonesia ingin memanfaatkan financial resource dari Prancis, maka reformasi ekonomi harus diarahkan pada peningkatan standar. ESG tidak boleh hanya menjadi slogan presentasi. Ia harus masuk ke tata kelola proyek: pembebasan lahan yang adil, perlindungan lingkungan, kepatuhan tenaga kerja, transparansi pengadaan, pengungkapan beneficial ownership, audit independen, pengelolaan limbah, rencana transisi energi, serta perlindungan masyarakat terdampak.

Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi produk Prancis, bukan mitra dalam industrial upgrading. Kita bisa membeli pesawat, sistem pertahanan, teknologi air, transportasi, energi, atau konsultan Eropa. Tetapi pembelian produk tidak sama dengan transformasi ekonomi. Yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar impor teknologi, melainkan transfer kemampuan, local content, riset bersama, pelatihan SDM, dan keterlibatan industri nasional dalam rantai pasok.

Di sinilah posisi tawar harus dibangun. Indonesia harus berani mengatakan,  setiap kerja sama dengan Prancis harus meningkatkan produktivitas domestik. Setiap pembiayaan harus menciptakan nilai tambah di Indonesia. Setiap proyek harus membuka ruang bagi industri nasional. Setiap teknologi harus disertai transfer pengetahuan. Jika tidak, kerja sama hanya akan memperbesar utang dan impor, sementara kemampuan produksi nasional tetap lemah.

Maka kesimpulannya jelas. Dukungan Macron kepada Prabowo penting secara diplomatik, tetapi tidak cukup secara ekonomi. Politik membuka pintu. Standar finansial menentukan isi ruangan. Jika Indonesia ingin masuk ke ruang modal Prancis, Indonesia harus menyiapkan dirinya sesuai standar global: tata kelola bersih, ESG ketat, proyek bankable, dan orientasi produktivitas.

Prancis bukan sumber uang mudah. Ia adalah sumber pembiayaan berkualitas tinggi, dengan syarat yang juga tinggi. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi hambatan jika proyek disiapkan secara politis. Tetapi bisa menjadi peluang besar jika proyek disiapkan secara profesional. Karena pada akhirnya, modal global tidak percaya pada pidato. Modal global percaya pada disiplin.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca