Perang Sunyi Para Pemegang Saham

Restoran itu berada di lantai atas sebuah bangunan di Tsim Sha Tsui. Dari jendelanya terlihat potongan Nathan Road, papan nama toko, dan bus tingkat yang sesekali berhenti di bawah. Hujan baru reda. Orang-orang melipat payung di depan pertokoan, meninggalkan jejak air pada trotoar. Di dalam, aroma bawang goreng bercampur dengan kopi. Seorang pelayan meletakkan sepiring gado-gado di hadapan saya, lalu semangkuk kecil sambal petai di sebelahnya.

Wenny menunggu sampai saya selesai mengaduk bumbu kacang.

“Baru kali ini saya melihat kamu betul-betul menikmati makan siang.”

Saya mengambil potongan lontong. “Memangnya ada yang aneh?”

“Aneh sekali.” Ia menyandarkan punggung. “Lebih dari sepuluh tahun saya bekerja denganmu. Baru sekarang kamu mengundang saya makan siang dengan menu Indonesia. Menu kesukaanmu pula.”

“Tahu dari mana?”

“Esther cerita. Yuni juga.”

Saya tersenyum dan mengambil sedikit sambal. Wenny memperhatikan saya beberapa saat sebelum menyentuh makanannya. Ia mengenakan setelan abu-abu gelap dengan blus putih. Rambutnya diikat rendah. Ponselnya diletakkan menghadap meja, tetapi dua kali ia melirik ketika perangkat itu bergetar.

“Ada apa sampai kamu mengundang saya makan siang seprivat ini?” tanyanya.

“Ada masalah dengan Tommy, CEO perusahaan tambang emas kita ?

Wenny menurunkan sendok. “Tommy semakin sulit saya pahami.”

“Dia masih make money untuk kita?”

“Masih. Tetapi—”

“Ya sudah.”

Saya kembali makan. Wenny menatap saya dengan ekspresi yang selama bertahun-tahun telah saya kenal, ia sedang memilih antara menahan diri dan membantah. Akhirnya ia membuka tas. “Bro, ini bukan sesuatu yang bisa selesai hanya karena EBITDA masih bagus.”

Ia mengeluarkan selembar cap table yang telah diberi beberapa tanda. Saya menggeser mangkuk sambal agar kertasnya tidak terkena minyak. “Ceritakan.”

Wenny memutar kertas itu ke arah saya. “Kelompok kita memiliki delapan belas persen saham perusahaan tambang itu. Enam pemegang saham lain menguasai total empat puluh persen. Sisanya, empat puluh dua persen, merupakan public float.”

Nama-nama mereka tersusun dalam beberapa baris. Sebagian saya kenal sejak transaksi awal. Ada family investment company, perusahaan perdagangan, dan dua investment vehicle yang memakai nama netral.

“Selama ini mereka tidak kompak,” lanjut Wenny. “Sekarang saya mendengar mereka sedang membicarakan voting agreement menjelang RUPS.”

“Untuk?”

“Mengubah susunan board, lalu menempatkan management yang mengikuti kepentingan mereka. Posisi Tommy juga masuk dalam pembicaraan.”

Saya melihat kembali daftar itu. “Tommy tahu?”

“Saya menduga dia tahu lebih banyak daripada yang disampaikan kepada board.”

Di meja sebelah, dua orang berbicara dalam bahasa Kanton. Pelayan datang menuangkan air, lalu menjauh. Wenny menunggu sampai kami kembali sendiri. “Saya ingin meningkatkan posisi menjadi dua puluh lima persen. Kita beli melalui market.”

“Sudah dihitung market depth-nya?”

“Tim sudah membuat estimasi.”

“Dengan asumsi harga tidak bergerak?”

Ia tidak segera menjawab. Saya meletakkan sendok. “Wen, begitu orang membaca pola pembelian kita, harga penawarannya berubah. Order kita sendiri bisa membuat acquisition cost membengkak.”

“Kita membutuhkan posisi yang lebih kuat.”

“Dua puluh lima persen tetap harus dilihat bersama shareholder agreement, voting threshold, dan siapa yang hadir dalam RUPS. Jangan membayar control premium sebelum tahu control apa yang benar-benar kita peroleh.”

Wenny menarik kertas itu kembali. Ia membaca catatannya, meskipun saya tahu seluruh angka tersebut sudah dihafalnya.

“Lalu apa rencanamu?”

“Untuk sekarang, jangan masuk market.”

“Kita menunggu mereka bergerak?”

“Biarin saja. Kita lihat nanti.”

Ia menatap saya lama. Saya mengambil potongan kentang terakhir. Bumbu kacangnya mulai dingin.

***

Usai makan siang kami berpisah di depan restoran. Mobil Wenny sudah menunggu. Sebelum masuk, ia kembali menoleh. “Saya akan kirim report lengkap malam ini.”

“Kirim ke Ale Capital juga.”

Ia mengangguk, lalu masuk ke mobil. Saya memilih berjalan sebentar. Udara masih lembap. Dari sebuah toko terdengar musik pelan, tertutup suara mesin kendaraan ketika lampu lalu lintas berubah hijau. Di apartemen, saya membuka jendela sedikit. Angin dari arah pelabuhan menggerakkan ujung tirai. Saya baru selesai membuat teh ketika Mia dari Ale Capital mengirim pesan, menanyakan bagian mana dari report Wenny yang perlu segera ditelaah.

Saya meneleponnya. “Mulai dari dokumen publik. Shareholding changes, disclosed pledges, funding announcements, dan hubungan para pihak. Cari tahu semuanya. Saya ingin detailnya.”

“Tommy?”

“Masukkan dalam review. Jangan ganggu kegiatan operasional.”

“Apakah Wenny sudah tahu?”

“Dia tahu posisi kita sedang ditantang. Saya belum punya kesimpulan untuk disampaikan.”

Mia terdiam sebentar. “Scope-nya?”

“Independent review. Pakai external counsel untuk pertanyaan yang memerlukan legal opinion. Saya ingin tahu exposure kita sebelum bicara tentang langkah berikutnya.”

Setelah telepon ditutup, saya membuka report Wenny. Laporannya rapi. Ia memisahkan operating performance dari shareholder risk. Ada catatan tentang pertemuan Tommy dengan dua pemegang saham yang tidak tercantum dalam agenda resmi, tetapi ia belum menuduh adanya pelanggaran. Saya menghargai kehati-hatian itu.

Di halaman terakhir, ia menulis, Delay may reduce our strategic options. Saya membaca kalimat tersebut dua kali. Wenny terbiasa bekerja dengan keputusan yang jelas. Lima tahun saya menjauh dari pekerjaan sehari-hari membuatnya kehilangan kebiasaan menunggu saya. Mungkin ia mengira usia telah membuat saya enggan menghadapi pertarungan. Saya menutup report, lalu membalas singkat. Received. Keep monitoring. No market purchases.

***

Sebulan kemudian, Wenny meminta bertemu di Jakarta. Ia tiba di safehouse menjelang sore. Hujan turun di luar kaca apartemen, mengaburkan deretan gedung di seberang. Sepatunya masih sedikit basah ketika ia masuk. “Tommy membuat masalah.”

Saya mempersilakannya duduk. “Masalah apa?”

“Dari enam pemegang saham itu, dua pihak yang menguasai total lima belas persen sekarang bekerja sama dengan Tommy. Mereka membawa investor dari Arab. Sebuah asset manager sudah ditunjuk untuk mengurus rencana pembelian tambahan saham.”

“Berapa?”

“Target awal delapan persen dari public float. Rencananya, pembelian itu memperkuat blok suara mereka.”

Saya membuka botol air dan menuangkannya ke gelas. “Kalau target itu tercapai, blok awalnya menjadi dua puluh tiga persen. Itu belum mayoritas.”

“Benar. Tetapi empat pemegang saham lainnya bisa ikut mendukung. Mereka juga sedang mengumpulkan proxy. Gabungan itulah yang bisa mengubah hasil RUPS.”

Wenny meletakkan tablet di meja. Ada diagram hubungan antarentitas, lengkap dengan anak panah dan tanggal pertemuan.

“Sudah ada pengungkapan resmi atau usulan mereka kepada board?”

“Belum. Semuanya berjalan melalui komunikasi terbatas.”

“Funding commitment-nya?”

“Katanya sudah tersedia.”

“Katanya siapa?”

“Tommy.”

Saya mengangguk.

Wenny menarik napas, kemudian menyampaikan nama investor tersebut. Saya mengenalnya. Beberapa tahun sebelumnya, kelompok kami memenangkan akuisisi yang juga diincarnya. Negosiasinya keras. Ia menganggap kami mengambil sesuatu yang sudah hampir berada di tangannya.

“Dia musuhmu, Bro.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Tommy sendiri yang cerita.”

Saya memandang Wenny. “Dia ingin kamu menyampaikan itu kepada saya.”

“Dan saya memang menyampaikannya.”

Ada kelelahan dalam jawabannya. Saya membiarkannya minum sebelum melanjutkan. “Jangan menanggapi ancaman personal. Minta seluruh proposal masuk melalui jalur resmi. Kalau ada transaksi yang membutuhkan persetujuan board, prosedurnya harus dipenuhi.”

“Sepertinya kamu masih belum menganggap ini serius.”

“Saya mendengarkan.”

“Tetapi saya membutuhkan keputusan.”

“Keputusannya tetap. Jangan mengejar saham di market.”

***

Dua minggu berikutnya, saham perusahaan naik. Report harian memperlihatkan trading volume yang membesar. Beberapa commentary menyebut kemungkinan strategic investment. Nama investor baru mulai beredar dalam percakapan broker, meskipun perusahaan belum mengumumkan definitive agreement.

Wenny menelepon saat saya baru selesai makan malam. “Harga naik lagi.”

“Saya lihat.”

“Kalau kita perlu membeli nanti, cost-nya semakin mahal.”

Saya membuka layar di meja kerja. Grafik itu bergerak tajam dibandingkan rata-rata beberapa bulan sebelumnya.

“Pembelian sahamnya sudah settled?”

“Belum.”

“Ada execution report atau konfirmasi tertulis mengenai saham yang sudah mereka peroleh?”

“Belum saya terima. Yang ada baru target pembelian dan kabar funding commitment.”

“Berarti yang bergerak lebih dulu adalah ekspektasi.”

Wenny terdiam.

“Kamu terlalu tenang.”

Saya mendengarkannya tanpa menyela.

“Lima tahun pensiun membuatmu berbeda,” lanjutnya. “Dulu kamu selalu punya langkah. Sekarang saya hanya mendengar kita harus menunggu.”

Saya menatap cangkir di samping laptop. Lebih dari sepuluh tahun saya menghadapi perebutan kendali perusahaan. Saya pernah salah menghitung, kehilangan uang, dan harus memperbaiki keputusan dalam keadaan terdesak. Kenaikan harga belum cukup menjadi alasan untuk meninggalkan perhitungan. Saya membiarkan Wenny menyelesaikan kegelisahannya.

“Wen, kamu ingin saya membeli saham untuk menenangkan perasaan kita?”

“Saya ingin tahu kita masih memegang keadaan,” kata Wenny. “Lawan kita itu serigala bursa. Dari langkah mereka, saya belum melihat rencana untuk memperbaiki fundamental perusahaan. Kalau mereka memperoleh control dan mengubah arah management, kepentingan kita bisa tersisih. Kita mungkin harus memilih antara bertahan dengan risiko governance yang lebih besar atau keluar.”

“Kita belum memegang semua informasi.”

“Please. Saya ingin kamu seperti sebelum pensiun.”

Ada sesuatu yang getir dalam permintaannya. Ia tidak sedang menantang saya. Ia takut memikul kegagalan yang menurutnya masih dapat dicegah.

“Saya mengerti,” jawab saya.

Sesudah panggilan itu, saya membaca pesan Mia. Review awal menunjukkan bahwa sebagian dari enam pemegang saham telah menambah posisi dengan borrowed funds sambil menunggu pendanaan jangka lebih panjang. Pembelian itu berbeda dari target delapan persen yang dikaitkan dengan investor baru. Ada indikasi share-backed financing, tetapi detail kontraknya belum tersedia. Saya meminta Mia tidak menyimpulkan lebih jauh sebelum dokumen dapat diperiksa secara sah. Di luar, Jakarta masih terang. Saya duduk cukup lama tanpa menyentuh teh.

***

Dua bulan sebelum RUPS, telepon Wenny masuk lebih pagi daripada biasanya. “Entah bagaimana saya harus mengabarkan ini.”

“Bicara saja.”

“Pendanaan dari investor itu dihentikan. Mereka sudah menyampaikan pengunduran diri.”

Saya duduk di tepi tempat tidur. “Ada pemberitahuan tertulis?”

“Sudah. Ada persoalan dalam compliance review, lalu asset manager-nya diperiksa otoritas terkait dugaan informasi yang menyesatkan. Funding commitment yang mereka andalkan tidak dapat dicairkan.”

Saya meminta Wenny mengirim dokumen. Beberapa menit kemudian, surat itu masuk. Bahasanya disusun hati-hati. Ada penundaan, persyaratan yang belum terpenuhi, dan hak untuk menghentikan proses.

“Tommy bagaimana?”

“Dia bilang ini hanya technical delay.”

“Dia punya bukti?”

“Belum.” Wenny terdengar sedang berjalan. Saya mendengar pintu tertutup sebelum suaranya kembali jelas. “Enam pemegang saham ingin bertemu.”

“Sekarang?”

“Mereka minta secepatnya.”

“Untuk membicarakan apa?”

“Mereka mau melepas saham.”

Saya menunggu.

“Sebagian pembelian terakhir mereka memakai financing jangka pendek. Mereka memperhitungkan dukungan investor Arab akan membuka refinancing melalui bank. Sekarang kewajiban yang sudah berjalan harus diselesaikan tanpa pendanaan pengganti.”

Harga sebenarnya telah mulai terkoreksi sebelum kabar pengunduran diri itu. Setelah rencana pendanaan berhenti, tekanan jual semakin besar. Saya tidak mengikuti setiap pergerakan harga. Mia mengirim ringkasan berkala, sementara external counsel mulai memeriksa konsekuensi terhadap perusahaan.

***

Menjelang petang, Wenny menelepon lagi. “Kali ini mereka benar-benar panik.” Di belakang suaranya terdengar seseorang meminta waktu pertemuan tambahan. Saya mengenali perubahan itu. Orang-orang yang sebelumnya memilih kapan akan menjawab kini takut terlambat mendapat jawaban.

Report berikutnya menguraikan peran Mr. Shih dalam pembiayaan para pemegang saham itu. Saya mengenalnya sejak bertahun-tahun sebelumnya. ” Ia memiliki jaringan pembiayaan privat dan reputasi yang membuat orang lebih suka menyelesaikan kewajiban sebelum jatuh tempo. Cerita tentang hubungannya beredar luas, tetapi saya selalu memisahkan rumor dari sesuatu yang dapat dibuktikan. ” Kata Wenny.

Kami bertemu di sebuah café kecil di Wan Chai, Hong Kong. Meja kami berada di dekat jendela yang menghadap jalan sempit. Di luar, kendaraan pengantar barang berhenti bergantian di depan pertokoan. Wenny datang membawa dokumen tambahan. “Mereka masuk melalui financing vehicle yang terkait dengan Shih.”

Saya membaca ringkasan external counsel. “Apa yang sudah verified?”

“Outstanding principal, pledged shares, dan beberapa notice dari lender. Counsel masih memeriksa enforceability serta kewajiban pengungkapannya.”

“Bagus. Lanjutkan.”

Wenny menunjuk satu bagian. “Penurunan collateral value memicu permintaan top-up sesuai perjanjian. Mereka menambah pledged shares untuk memenuhi collateral coverage. Sekarang porsi saham yang terikat jauh lebih besar daripada saat fasilitas dibuka.”

“Semua enam pihak memakai struktur yang sama?”

“Tidak persis. Outstanding debt dan collateral-nya berbeda. Ada cross-exposure di antara sebagian pihak, sehingga kesulitan satu posisi memengaruhi posisi lainnya.”

Saya menggeser gelas agar ia memiliki ruang untuk membuka dokumen.

“Kita jangan memperlakukan enam posisi itu sebagai satu paket sebelum legal review selesai.”

“Mereka meminta kita membeli.”

“Dengan harga yang mereka tentukan?”

“Mereka ingin utangnya selesai.”

Saya mengangguk.

Wenny menatap saya. “Ini kesempatan kita.”

“Mungkin.”

“Bro.”

Saya meletakkan dokumen. “Kalau kita mengambil alih distressed exposure, kita harus tahu hak yang diperoleh. Membeli piutang dan security interest belum berarti memiliki saham yang dijaminkan. Recovery-nya bisa berupa pembayaran, settlement, atau perpindahan saham melalui proses yang sah.”

Wenny merapikan kertasnya. Untuk pertama kali sejak makan siang di Kowloon, ia berhenti mendesak. Ia mulai memahami bahwa ketenangan saya mempunyai pekerjaan di belakangnya, meskipun saya belum memperlihatkan seluruh hasilnya.

“Biarin saja?” tanyanya.

Saya tersenyum. “Kita lihat nanti.”

Kali ini ia tidak tersenyum kembali.

***

Sebulan sebelum RUPS, saya mengundang Wenny ke Shenzhen. Hotel itu berada di kawasan yang sibuk, tetapi private spa di lantai atas terasa jauh dari jalan. Koridornya redup. Udara beraroma kayu dan minyak esensial. Seorang attendant mengantarkan Wenny ke ruang ganti, lalu meninggalkan kami setelah memastikan semuanya tersedia.

Saya sudah berada di kolam ketika ia masuk tanpa busana dan membawa handuk. “Undanganmu semakin sulit ditebak,” katanya. Ia menuruni anak tangga kecil dan masuk perlahan. Air hangat bergerak menyentuh dinding batu. Setelah beberapa saat, ketegangan di bahunya mulai berkurang. Kami tidak segera berbicara tentang bisnis. Wenny bertanya tentang kesehatan saya. Saya menanyakan keluarganya. Percakapan sederhana itu terasa canggung setelah berminggu-minggu kami hanya bertukar report dan kekhawatiran.

“Wen,” kata saya kemudian, “waktu saya remaja, ibu pernah mengingatkan saya agar berhati-hati ketika mulai terlalu yakin kepada diri sendiri. Kita sering pandai mencari alasan untuk membenarkan keinginan sendiri. Ibu juga berpesan, jangan bersembunyi di balik selembar daun.”

Ia menoleh. “Kenapa?”

“Karena rasa percaya diri yang berlebihan bisa membuat saya berhenti mengukur kemampuan sendiri. Begitu pula alasan yang tipis, saya bisa memakainya untuk menutupi kelemahan yang sebenarnya sudah saya ketahui.”

Wenny menggerakkan tangannya di permukaan air. “Kamu sedang membicarakan mereka?”

“Saya sedang mengingatkan diri sendiri.”

Ia diam.

“Saya juga sempat ingin membeli berapa pun harganya,” katanya akhirnya. “Saya tidak tahan melihat orang membawa perusahaan ke arah yang tidak kita kehendaki.”

“Saya tahu.”

“Dan kamu membiarkan saya marah.”

“Saya tidak selalu pandai menjelaskan sesuatu yang belum selesai.”

Wenny memandang saya lebih lama. Di ruangan itu, tanpa tablet dan telepon di antara kami, rasa kesalnya terdengar lebih jujur. Kami kemudian pindah ke ruang sauna dengan tubuh berbalut handuk. Bangku kayunya masih hangat. Kami duduk berjauhan, membiarkan percakapan terhenti sebentar.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Mia muncul bersama Mr. Shih, Peter, dan seorang lawyer. Mereka juga mengenakan balutan handuk. Pertemuan singkat itu telah diatur di area privat. Seluruh dokumen tetap berada di ruang pertemuan yang bersebelahan.

“Bro…” Wenny menoleh kepada saya. Tatapannya berpindah kepada Mia, lalu kembali kepada saya. Saya mempersilakan mereka duduk. Ia mengenali Peter sebagai banker yang sebelumnya berkaitan dengan rencana pendanaan investor. Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain sebelum berhenti pada saya.

“Ada apa?”

Mia tersenyum. “Kita sudah menandatangani definitive agreement untuk mengambil alih sisa kepentingan di financing vehicle yang memegang sebagian besar exposure kepada para pemegang saham itu. Closing masih bergantung pada conditions precedent.”

Wenny menegakkan punggung. “Sejak kapan?”

“Prosesnya dimulai setelah independent review menunjukkan adanya pemegang kepentingan di vehicle tersebut yang sedang mencari exit,” jawab Mia. “Struktur kepemilikan dan seluruh potensi conflict tercantum dalam disclosure pack. Nanti kita periksa bersama di meeting room.”

Peter menjelaskan secara singkat bahwa banknya menyediakan acquisition financing berdasarkan credit approval tersendiri. Lawyer mengingatkan bahwa posisi setiap fasilitas berbeda. Sebagian dapat diselesaikan melalui negotiated settlement; sebagian lain memerlukan persetujuan dan pemeriksaan transfer restrictions, termasuk langkah berdasarkan hukum yang berlaku. “Kita belum boleh menyebut seluruh pledged shares sudah menjadi milik kita,” katanya. “Ada beberapa conditions precedent yang harus dipenuhi.”

Saya melihat Wenny mulai memahami. Harga untuk mengambil alih kepentingan dalam vehicle itu mencerminkan diskon atas nilai portofolio piutangnya. Besarnya outstanding claim tidak menjamin recovery yang sama. Biaya, sengketa, dan hasil settlement masih harus diperhitungkan.

“Nah, Wen,” kata saya, “kamu pimpin koordinasi dengan legal team. Pastikan kita memperoleh hak yang benar-benar dapat dijalankan.”

Ia mengangkat wajah. “Jadi selama ini kamu bekerja?”

Mia menahan senyum. Saya memejamkan mata, menikmati udara hangat beberapa saat lagi. Setelah berganti pakaian, mereka melanjutkan pembahasan di private meeting room. Wenny ikut bersama mereka untuk memeriksa dokumen.

Saya menjalani perawatan telinga dan face massage yang telah dipesan, kemudian menunggu di lounge. Musik mengalun pelan. Di hadapan saya, segelas wine dibiarkan hampir tidak tersentuh. Sesekali seorang tamu melintas menuju lift.

Pertemuan berlangsung hampir dua jam. Setelah Mia dan para tamu meninggalkan ruangan, saya masuk. Wenny masih duduk di depan meja. Map terbuka di hadapannya. Ia membalik satu halaman, lalu mengembalikannya.

“Kamu tahu mereka akan jatuh?”

“Saya melihat leverage mereka membesar.”

“Dan kamu menunggu.”

“Saya menunggu sampai ada transaksi yang dapat kita nilai.”

Wenny menatap saya. “Apakah kamu ikut membuat investor itu mundur?”

Saya tidak segera menjawab.

“Jawab, B.”

“Saya tidak memerintahkan mereka mundur.”

Wenny tetap menatap saya. Jawaban itu terlalu sempit untuk pertanyaannya.

“Lalu investigasi oleh otoritas terhadap  asset manager?” tanyanya.

“Kita tidak mengendalikan otoritas. Mia menyimpan record pekerjaan tim. Kamu boleh memeriksanya bersama independent counsel.”

“Itu belum menjelaskan peranmu, B.”

“Saya meminta agar exposure yang sebenarnya disampaikan melalui jalur yang dapat dipertanggungjawabkan. Urutannya ada dalam record Mia. Kamu perlu memeriksanya sebelum memutuskan.”

Wenny menahan pandangannya pada saya beberapa saat, lalu kembali membuka map. “Peter pernah terlibat dengan mereka. Sekarang dia membiayai kita. Saya ingin tahu apakah ada conflict yang belum diungkapkan.”

“Periksa,” jawab saya. “Termasuk apa yang diketahui credit team-nya dan kapan informasi itu diterima.”

“Dan reputasi Shih?”

“Masukkan dalam enhanced due diligence. Kalau ada hal material yang membuat transaksi ini tidak layak diteruskan, bawa ke investment committee.”

Wenny menutup map.

Kelegaan tampak pada wajahnya, tetapi ia belum mengendurkan sikap. Selama ini ia menginginkan saya kembali bertarung. Setelah melihat bentuk pertarungan itu, ia ingin memastikan kami masih memegang batas yang sama.

“Saya perlu ruang untuk memeriksa transaksi ini secara utuh,” katanya. “Legal process-nya harus benar-benar menentukan apakah kita boleh melanjutkan.”

“Saya meminta kamu memastikan keputusan itu layak diselesaikan.”

Ia menarik napas panjang. “Baik. Semua komunikasi Tommy, lender, banker, dan arahanmu kepada tim harus masuk review. Tidak ada pengecualian.”

Saya mengangguk. Wenny akhirnya mengambil tehnya. Sudah dingin, tetapi ia meminumnya juga.

***

Dalam minggu-minggu berikutnya, Wenny bekerja bersama legal team dan independent counsel. Mereka memeriksa disclosure, conflict of interest, funding, serta hak atas collateral. Setelah conditions precedent terpenuhi, acquisition mencapai closing. Penyelesaian dengan para debitur kemudian berjalan berdasarkan posisi masing-masing.

RUPS berlangsung di ballroom sebuah hotel. Pendingin ruangan terasa dingin meskipun matahari sudah tinggi di luar. Botol air dan perangkat penerjemah tertata di meja para peserta. Di luar ruang rapat, staf memeriksa identitas, proxy, dan hak suara. Percakapan terdengar dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Wenny tiba lebih awal dengan legal team, membawa versi terakhir dokumen yang telah diperiksa malam sebelumnya.

Proses recovery berjalan lebih lambat daripada harapan awal. Sebagian kewajiban dilunasi, sebagian dinegosiasikan ulang, dan sebagian diselesaikan melalui perpindahan saham dengan persetujuan serta pengungkapan yang diperlukan. Pada saat RUPS, hanya saham yang perpindahan dan hak suaranya telah sah yang diperhitungkan. Tambahan posisi kelompok kami, bersama dukungan pemegang saham lain, cukup untuk menghasilkan susunan board yang baru.

Tommy diminta memberikan penjelasan mengenai keterlibatannya. Evaluasi atas tindakannya diteruskan melalui proses perusahaan. Saya mengikuti pembaruan dari Jakarta melalui sambungan SafeNet. Tim mengirim hasil setiap agenda setelah diverifikasi oleh counsel.

Malam setelah rapat, Wenny menelepon. “Selesai.”

“Semua voting record aman?”

“Sudah diperiksa counsel.”

“Bagus. Istirahat.”

Ia tidak langsung menutup telepon.

“Bro, nanti kalau kamu ke Hong Kong, aku akan membuat gado-gado. Bumbunya kupesan dari Jakarta. Aku juga sedang belajar membuat peanut sauce dari YouTube. Kita makan di apartemenku saja.”

“Okay.”

“Tapi jangan terlalu sering membuatku kaget. Banyak langkahmu yang belum kupahami. Ajari aku membaca keadaan seperti itu. Aku kan CEO Yuan Holding.”

Saya tersenyum mendengar kesungguhan suaranya. “Sebagai CEO, kamu memikul tanggung jawab yang luas, Wen. Fokusmu tetap management: orang, operasi, capital allocation, dan governance. Untuk keputusan di market, kamu punya tim yang bisa dimintai analisis. Kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian.”

“Aku tetap ingin mengerti.”

“Baik. Nanti kita bahas prosesnya. Termasuk keputusan saya yang sempat membuatmu kesal.”

Ia tertawa kecil sebelum menutup telepon.

***

Beberapa hari kemudian, saya datang ke apartemen Wenny di Hong Kong. Dari jendelanya terlihat deretan lampu gedung dan sebagian pelabuhan. Meja makan telah ditata untuk dua orang. Sepiring sayuran, lontong, tahu, dan telur berada di tengah, bersama semangkuk peanut sauce serta sambal petai.

Wenny keluar dari pantry sambil membawa dua gelas air. Ia mengenakan blus sederhana dengan lengan digulung. Rambutnya dijepit seadanya. “Coba dulu. Kalau terlalu kental, masih ada air hangat.”

Saya menuangkan sauce dan mengambil suapan pertama. Wenny belum duduk. Ia memperhatikan wajah saya dengan ketegangan yang mengingatkan saya pada saat kami menunggu hasil voting.

Saya tersenyum. Barulah ia menarik kursi.

“Apa?” tanya saya.

“Sekarang saya tahu kenapa kamu bisa makan dengan begitu lahap.”

Saya mengambil sedikit sambal. “Karena masakannya enak.”

Wenny menatap saya lama. Cangkir di hadapannya belum disentuh.

“Ada apa lagi, Wen?”

“Sejak kita kenal pada 2003 sampai sekarang, ada yang tidak berubah darimu. Kamu selalu tenang. Ditekan seperti apa pun, kamu jarang terlihat panik. Kadang terkesan dingin.”

Saya menyandarkan punggung.

“Waktu muda, saya empat kali bangkrut. Tahun-tahun yang seharusnya menjadi golden age justru banyak saya lewati dengan kegagalan. Mungkin pengalaman itu membuat saya tidak lagi terlalu cemas menghadapi kemungkinan gagal. Saya fokus melangkah ke depan. Kalau ada peluang, sekecil apa pun, saya pelajari dan usahakan dengan serius.”

Wenny mengangguk perlahan.

“Seperti petarung yang sudah melewati banyak pertempuran. Berkali-kali hampir kehilangan semuanya, tetapi masih bisa melanjutkan hidup. Kesempatan itu sendiri sudah menjadi berkah yang harus disyukuri.”

Saya tersenyum mendengar kesimpulannya.

Ia menggeser kursi sedikit mendekat. “Lalu bagaimana kamu membujuk Peter menggagalkan pinjaman mereka?”

“Saya tidak meminta Peter membatalkan pinjaman yang sudah menjadi kewajiban bank. Saya meminta agar credit team-nya menerima gambaran exposure mereka secara lengkap.”

“Dari Shih?”

Saya mengangguk. “Pembelian saham mereka dibiayai melalui fasilitas dari Shih. Itu private credit dengan bunga tinggi dan tenor pendek. Rencananya, mereka akan melakukan refinancing melalui bank, dengan dukungan cash collateral dari investor Arab.”

“Berarti mereka mengandalkan pendanaan yang belum tersedia?”

“Ya. Kewajiban kepada Shih sudah berjalan, sementara refinancing masih bergantung pada persyaratan yang belum terpenuhi. Ketika harga mulai terkoreksi, collateral coverage menurun. Kita tidak masuk market, sehingga mereka juga tidak memperoleh tambahan demand dari pembelian kita. Tetapi keputusan kita bukan satu-satunya faktor yang menggerakkan harga.”

Wenny memperhatikan saya tanpa menyela.

“Mereka kemudian meminta tambahan fasilitas. Shih menolak karena credit limit sudah tercapai. Tanpa tambahan liquidity, mereka semakin sulit mempertahankan posisi.”

“Bagaimana pihak Arab akhirnya mundur?”

Saya diam sejenak. Wenny menunggu.

“Saya meminta Shih menagih kewajiban yang memang sudah jatuh tempo. Melalui jalur resmi dan sesuai consent yang tersedia, rincian outstanding debt serta posisi collateral disampaikan kepada pihak investor yang sedang menyiapkan refinancing.”

“Jadi mereka melihat kewajiban yang sebenarnya?”

“Ya. Angka yang harus mereka tanggung ternyata tidak sesederhana proposal awal.”

Wenny menunduk, mengingat kembali dokumen yang telah dibacanya. “Lalu informasi itu masuk ke compliance review. Muncul pertanyaan mengenai source of funds, beneficial ownership, dan tujuan transaksinya.”

“Termasuk ketidaksesuaian informasi yang disampaikan asset manager,” jawab saya.

“Dan akhirnya ada pemeriksaan otoritas.”

Saya mengangguk lambat.

“Dugaan money laundering itu harus dibuktikan melalui pemeriksaan. Tetapi bank sudah memiliki alasan untuk menahan refinancing selama pertanyaan materialnya belum terjawab. Funding commitment saja tidak cukup untuk melewati compliance review.”

Wenny menarik napas panjang.

“Masih ada satu hal. Mengapa kamu begitu yakin Shih tidak akan menambah liquidity? Dia bisa saja tergoda oleh bunga yang lebih tinggi.”

“Karena ada limit yang mengikat. Tambahan exposure membutuhkan persetujuan pemegang saham dan credit committee.”

“Dan siapa pemegang sahamnya?”

Saya menatapnya.

“Investment vehicle yang terkait dengan tim Shadow Ale Capital sudah memiliki kepentingan di financing company itu.”

Wenny terdiam.

“Dalam dokumen Mia memang tercantum minority interest yang terkait dengan Ale,” katanya. Ia mengingat kembali disclosure pack yang telah diperiksanya. “Tetapi mengapa Shih begitu segan kepadamu? Kepemilikan minoritas saja rasanya tidak cukup untuk menjelaskan sikapnya.”

“Kepemilikannya sudah ada sebelum persoalan ini.”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Ia mengatakannya dengan tenang. Tatapannya tetap tertuju kepada saya. “Hubungan lengkap antara fasilitas Shih dan posisi para pemegang saham itu baru saya pahami setelah membaca review Mia. Dari situ saya menilai risikonya. Tetapi kamu tampaknya sudah memahami sesuatu yang tidak tertulis dalam report.”

Saya tidak menjawab. Wenny membiarkan keheningan itu berlangsung sebentar.

“Lalu acquisition yang kita selesaikan setelah pertemuan di Shenzhen?”

“Pengambilalihan sisa kepentingan dan penataan kembali hak atas portofolionya. Sebelumnya, hak kita terbatas pada minority interest beserta kewenangan pengawasan yang melekat padanya. Kita tidak bisa mengambil keputusan sepihak.”

“Itu menjelaskan struktur transaksinya, B. Saya sedang bertanya tentang pengaruhmu.”

Saya meletakkan cangkir.

Wenny menyandarkan punggung, lalu melirik tas kerjanya di dekat sofa. “Dan pertemuan di private spa itu,” lanjutnya. “Kamu memilih tempat yang membatasi kemungkinan pertemuanmu dengan Peter dan Shih terlihat oleh orang luar. Tidak ada CCTV. Setelah itu, kamu memperkenalkan saya agar saya masuk secara formal dan memimpin proses berikutnya.”

Saya mendengarkan sampai ia selesai.

“Bagian yang menjadi tanggung jawabmu tetap harus melalui proses formal,” jawab saya. “Kamu berhak memeriksa dokumen, meminta penjelasan, dan menolak kalau ada sesuatu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.”

Wenny mengangguk kecil, tetapi wajahnya belum sepenuhnya tenang.

“Sekarang urutannya lebih jelas,” katanya. “Pantas kamu tidak terburu-buru membeli saham di market. Kamu sedang menunggu mereka masuk semakin dalam ke dalam trap.”

Wenny menatap saya lama.

“Kamulah predator bursa yang sebenarnya. Mereka terlalu percaya diri, sampai lupa mengukur kelemahan sendiri dan mencari tahu siapa yang berada di balik Yuan.”

Ia tersenyum tipis.

“Sekarang saya mengerti nasihat ibumu tentang jangan bersembunyi di balik selembar daun. Mereka merasa terlindungi oleh funding commitment dan nama besar investor, tanpa memeriksa seberapa kuat perlindungan itu.”

Ia kembali menatap saya.

“Tetapi saya masih belum mendapat jawaban mengapa Shih begitu memperhitungkanmu.”

Saya meraih cangkir dan meminumnya perlahan. Wenny menunggu beberapa saat, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia tahu saya mendengar pertanyaannya.

“Saya ingin tahu dulu berapa lama mereka sanggup membiayai posisinya.”

Ia mengangkat wajah.

“Ternyata persiapannya sudah sejauh itu. Dan timmu bekerja tanpa banyak suara.”

“Mia yang mengoordinasikan review. Tim legal memeriksa hak kita. Credit team menghitung risikonya. Saya menerima hasil kerja banyak orang.”

“Mereka sangat loyal kepadamu.”

Saya mengangguk.

“Dan mereka cukup berani untuk menyampaikan kalau perhitungan saya keliru.”

“Lain kali, beri saya gambaran lebih awal,” kata Wenny.

Saya melihat kelelahan yang selama ini disembunyikannya di balik desakan dan pertanyaan.

“Saya memahami posisimu sebagai CEO Yuan Holding. Yuan memiliki kepentingan sebagai shareholder di perusahaan tambang emas itu, dan kamu bertanggung jawab menjaganya.”

Saya berhenti sejenak.

“Tetapi Ale Capital adalah controlling shareholder Yuan Holding. Dari pola langkah mereka, saya melihat sasaran akhirnya adalah posisi Ale. Karena itu, saya mengambil lead untuk menangani pertarungan di tingkat shareholder, sementara management Yuan tetap fokus menjaga operasi dan kinerja bisnis.”

Wenny mendengarkan tanpa menyela.

“Tanggung jawab saya melindungi kepentingan Yuan di setiap unit bisnisnya.”

“Tetapi seharusnya kamu tetap memberiku gambaran sejak awal. Aku perlu memahami risiko yang kita hadapi agar bisa menjalankan tanggung jawab dengan tenang.”

Saya mengangguk perlahan.

“Saya mengerti, Wen. Pertarungan ini banyak menguras mental dan emosi. Kamu terbiasa menghadapi persoalan management dengan informasi yang bisa diperiksa dan tanggung jawab yang jelas. Di sini, kita bahkan belum mengetahui siapa saja yang berada di belakang langkah Tommy.”

Wenny merapatkan kedua tangannya di meja.

“Belum lagi setiap langkah saya berada dalam pengawasan otoritas,” lanjut saya. “Kita harus menjaga confidentiality sekaligus memastikan seluruh keputusan dapat dipertanggungjawabkan. Kalau strategi beredar terlalu luas di management Yuan, informasi itu bisa sampai kepada Tommy sebelum kita siap.”

“Jadi kamu menjalankannya dengan sangat rahasia?”

“Saya membatasi akses berdasarkan need-to-know. Mia, legal team, dan pihak yang mengambil keputusan menerima informasi sesuai tanggung jawabnya. Record tetap disimpan untuk review.”

“Dan aku?”

Saya menatapnya.

“Kalau terjadi apa apa biarlah resiko ada pada saya. Kamu tidak boleh tersangkut apapun. “

Wenny mengangguk dan segera memeluk saya. “ Terimakasih untuk selalu ada untuk ku”

Lalu ia mendekatkan piringnya. Saya mengambil sendok dan menambahkan sedikit peanut sauce.

“Setelah semua yang kita kejar, Wen, ada rezeki Tuhan yang bisa kita nikmati saat ini juga,  makanan yang kita sukai, tubuh yang masih sehat, dan hati yang cukup lapang untuk menikmatinya.”

Wenny tertawa. Ia mulai makan sebelum saya menghabiskan setengah piring. Sesekali ia masih bertanya apakah sauce buatannya terlalu manis. Saya menggeleng, lalu menuangkan sedikit lagi ke piring. Melihat itu, wajahnya semakin cerah.

Di meja kecil dekat sofa, tas kerjanya tetap tertutup. Untuk sekali ini, percakapan panjang tentang transaksi tidak membuat kami mengeluarkan dokumen. Malam itu kami makan perlahan. Wenny bercerita tentang percobaan pertamanya membuat bumbu kacang, sementara lampu-lampu di seberang pelabuhan mulai mengabur oleh hujan.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca