
Beijing, musim dingin 2006. Pintu kaca hotel menutup di belakang saya. Baru beberapa langkah meninggalkan lobi, angin menyusup melalui celah kerah dan membuat bahu saya terangkat dengan sendirinya. Udara di luar terasa kering dan tajam. Di sepanjang jalan, pohon-pohon berdiri telanjang; rantingnya yang hitam tampak seperti garis tinta di bawah langit pucat.
Saya merapatkan ritsleting jaket Armani sampai ke leher, lalu mengeluarkan tudung yang terlipat di balik kerah. Masih dingin. Jari-jari saya mulai kaku meskipun kedua tangan sudah disembunyikan di dalam saku.
Di seberang hotel terdapat deretan toko pakaian musim dingin. Jaket tebal tergantung di balik kaca, berdampingan dengan syal, sarung tangan, dan pakaian dalam termal. Saya menunggu celah di antara kendaraan, lalu menyeberang dengan langkah cepat.
Siang itu saya harus menghadiri pertemuan dengan mengenakan jas. Saya membutuhkan lapisan hangat yang bisa dipakai di dalam kemeja, agar tidak terus bergantung pada mantel panjang ketika berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.
Lonceng kecil berbunyi ketika saya membuka pintu toko. Udara hangat menyentuh wajah. Ruangannya sempit, dengan rak-rak yang hampir memenuhi dinding dan aroma kain baru yang bercampur udara pemanas. Saya memilih tiga set pakaian dalam termal, memeriksa ukurannya, lalu menuju kasir.
Di depan saya berdiri seorang perempuan muda. Usianya tampaknya belum lebih dari dua puluh tahun. Rambutnya diikat sederhana. Ia mengenakan sweter yang bagian sikunya mulai menipis, sementara sebuah jaket musim dingin terletak di meja kasir.
Ia sedang menghitung uang. Beberapa lembar uang kecil diratakannya dengan telapak tangan, lalu disusul keping-keping yang dikeluarkan dari dompet. Setelah dihitung, ia memeriksa kantongnya lagi. Gerakannya semakin terburu-buru setiap kali kasir melirik ke arah saya. Ia menoleh. Ada permintaan maaf di wajahnya sebelum bibirnya sempat bergerak. Saya mengangkat tangan sedikit dan tersenyum, memberi isyarat agar ia melanjutkan. Tidak apa-apa. Saya bisa menunggu.
Ia kembali menunduk. Uang itu dihitungnya sekali lagi, seolah ketekunan dapat menambah jumlahnya. Kasir mengatakan sesuatu. Saya tidak menangkap seluruh kalimatnya, tetapi saya melihat perubahan pada wajah perempuan itu. Tangannya berhenti. Ia menatap jaket di meja, kemudian mengumpulkan uangnya perlahan. Kali ini ia tidak mencoba menghitung lagi. Ia mundur dari kasir. Jaket tersebut ditarik kembali ke belakang meja.
“Mengapa dia tidak jadi membeli?” tanya saya.
“Uangnya tidak cukup,” jawab kasir sambil merapikan barang saya. Nadanya datar, seperti sedang menjelaskan ukuran pakaian yang tidak tersedia.
“Berapa harga jaket itu?”
“Tujuh ratus yuan.”
Saya melihat ke arah pintu. Perempuan itu sudah keluar.
“Masukkan sekalian dengan belanjaan saya.”
Jumlah seluruhnya seribu dua ratus yuan. Saya membayar, menerima dua kantong belanja, lalu segera menyusul ke luar. Ia berdiri di tepi trotoar dengan kedua lengan bersilang di depan dada. Angin menggerakkan ujung rambutnya. Tanpa jaket, sweter yang dipakainya tampak terlalu tipis untuk pagi itu. Saya mendekat dan mengulurkan bungkusan tersebut. Ia memandang saya, kemudian kantong di tangan saya. Sesaat wajahnya seperti kehilangan kemampuan untuk memahami.
“Názhe,” kata saya. Ambillah.

Ia tidak segera mengulurkan tangan. Saya meletakkan pegangan kantong itu ke dalam jemarinya yang dingin, lalu mengangguk. Perempuan itu membungkuk dalam-dalam. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Saya berlalu sebelum ia merasa harus mengatakan sesuatu. Ada pertolongan yang sebaiknya diberikan dengan singkat, supaya orang yang menerimanya tidak perlu terlalu lama berdiri di hadapan rasa malunya sendiri.
Saya kembali ke hotel, mandi air hangat, lalu mengenakan pakaian untuk pertemuan. Kesibukan segera mengambil alih pikiran saya, dokumen yang harus dibawa, beberapa angka yang perlu diingat, dan pembicaraan yang mungkin berlangsung lebih sulit daripada rencana semula.
Pukul setengah dua belas saya turun. Mobil sudah menunggu di bawah kanopi lobi. Petugas hotel membuka pintu belakang, dan saya masuk sambil memeriksa map di pangkuan. Ketika mobil mulai bergerak menuju gerbang, saya melihat perempuan tadi. Ia berdiri agak jauh dari pintu masuk, dekat pembatas jalan. Jaket yang saya belikan sudah dikenakannya. Kedua tangannya memeluk sebuah bungkusan.
Saya menoleh sekali lagi untuk memastikan. Sudah lebih dari satu jam sejak pertemuan di toko itu. Saya tidak tahu apakah ia menunggu selama itu atau sempat pergi lalu kembali.
“Berhenti sebentar,” kata saya kepada sopir. “Tolong tanyakan, apakah dia mencari saya.”
Sopir turun. Dari balik kaca saya melihat perempuan itu berbicara cepat sambil menunjuk bungkusan yang dibawanya. Ia beberapa kali menoleh ke arah mobil.
Sopir kembali dengan senyum kecil. “Dia ingin memberikan arak kepada Bapak. Buatan keluarganya sendiri. Dia berjualan beberapa blok dari sini.”
Saya menutup map dan keluar. Perempuan itu segera mendekat. Ia menyerahkan botol yang dibalut kertas dengan kedua tangan. Ada sesuatu yang sungguh-sungguh dalam caranya menyerahkan barang itu, seperti seorang pedagang yang sedang memperkenalkan hasil terbaik pekerjaannya. Saya menerima dengan kedua tangan pula, lalu sedikit membungkuk.
“Xièxie.”
Air matanya jatuh.
Saya sempat kebingungan. Ia justru mencoba tersenyum, mengusap pipinya dengan punggung tangan, lalu menjelaskan sesuatu kepada sopir. Saya hanya menangkap beberapa kata. Barangkali ia lega karena pemberiannya diterima. Barangkali ada hal lain yang tidak sanggup saya pahami pagi itu. Saya tidak bertanya. Saya hanya mengangguk dan memegang botol tersebut dengan lebih hati-hati. Sebelum berangkat, kami bertukar nomor telepon dengan bantuan sopir. Namanya Xiaowe.
Begitulah saya mengenalnya, di antara dingin Beijing, sebuah jaket, dan sebotol arak yang dibungkus kertas. Sejak itu, setiap kali datang ke Beijing dan memiliki waktu luang, saya meneleponnya. Kadang kami bertemu sebentar di kedai makan; kadang saya mampir ke tempat ia berjualan.
Dari percakapan-percakapan itulah saya mengetahui kehidupannya. Setelah tamat SMA, ia memilih mencari penghasilan sendiri. Sejak kecil ia terbiasa membantu keluarganya membuat arak, membersihkan wadah, menyiapkan bahan, mengangkat barang, dan memperhatikan orang-orang tua bekerja.
Keluarganya selama ini menjual hasil produksi kepada pedagang perantara. Xiaowe mencoba cara lain. Ia membawa sebagian produk itu ke Beijing dan menjualnya langsung kepada pelanggan, meskipun tempat berjualannya masih sederhana, di kaki lima.
“Kalau menjual sendiri, saya tahu siapa yang membeli dan apa keluhannya,” katanya suatu kali. “Kalau hanya mengirim kepada pedagang, kami cuma tahu barang sudah diambil.”
Saya menyukai cara berpikirnya. Ia belum memakai istilah pemasaran yang rumit, tetapi sudah memahami pentingnya mengenal pembeli.
Pada pertemuan lain, saya mengajaknya membicarakan baijiu berbahan lima biji-bijian: sorgum, beras, beras ketan, gandum, dan jagung. “Campuran bahannya bisa dipelajari,” kata saya. “Tetapi jangan mengira bahan yang sama pasti menghasilkan mutu yang sama.”
Ia membuka buku catatan kecil.
“Lalu apa yang harus saya perhatikan?”
“Cari orang produksi yang benar-benar mengerti fermentasi dan penyulingan. Periksa kebersihan, keamanan produk, dan konsistensi setiap batch. Kalau mau menjual dengan harga premium, pelanggan harus bisa percaya bahwa botol berikutnya memiliki mutu yang sama dengan botol sebelumnya.”
Saya menjelaskan bahwa karakter minuman juga dibentuk oleh starter fermentasi, lingkungan mikroba, keterampilan penyulingan, pematangan, serta pencampuran hasil produksi. Ia perlu membangun pencatatan dan pengujian mutu, bukan hanya mengandalkan ingatan pembuatnya.
“Dan urus izin usahanya,” tambah saya. “Usaha yang ingin tumbuh harus punya legitimasi formal.”
Ia menulis dengan tekun. Sesekali ia berhenti untuk memastikan arti sebuah istilah. Saya tidak tahu berapa banyak dari pembicaraan itu yang kelak akan dipakainya. Waktu itu saya hanya melihat seorang perempuan muda yang ingin membawa pekerjaannya melampaui batas yang selama ini dikenal keluarganya.
Tahun 2013, kami bertemu kembali di Canton Fair, Guangzhou. Hampir lima tahun hubungan kami terputus. Pekerjaan saya telah bergeser dari bisnis maklon ke private equity. Nomor telepon berganti, perjalanan semakin padat, dan banyak perkenalan lama perlahan tertutup oleh urusan baru.
Di kompleks pameran Pazhou, orang-orang bergerak di antara lorong panjang dengan tas katalog di bahu. Suara percakapan dalam berbagai bahasa bertumpuk di bawah langit-langit tinggi. Lampu stan memantul pada botol-botol kaca dan permukaan meja yang mengilap.
“B?”
Saya berhenti.
Seorang perempuan berblazer berdiri beberapa langkah dari saya. Di dadanya tergantung tanda peserta. Saya memerlukan beberapa detik sebelum mengenali matanya.
“Xiaowe?”
Ia tertawa, kemudian menggenggam tangan saya dengan kedua tangannya. Bahasa Inggrisnya sudah lancar. Ia berbicara dengan keyakinan yang dahulu belum terlihat ketika menghitung uang di depan kasir.
“Masih ingat saranmu tentang produk premium?” tanyanya. “Saya mencobanya.”
Ia bercerita tentang percobaan produksi yang gagal, mutu yang belum stabil, dan pelanggan yang menolak harga baru. Ada masa ketika biaya kemasan meningkat sementara penjualan belum bergerak. Ia harus belajar menerima bahwa kerja keras tidak selalu segera menghasilkan jawaban.
“Tetapi pelan-pelan kami mendapat pelanggan tetap,” katanya. “Sekarang sudah punya fasilitas produksi dan ruang pencicipan sendiri. Produk kami juga masuk ke beberapa toko minuman serta tempat makan kelas atas.”
Wajahnya terang ketika berbicara. Saya ikut senang, terutama karena ia mengingat kesulitannya dengan jelas. Keberhasilan belum membuatnya menghapus bagian hidup yang tidak nyaman untuk diceritakan.
Ia lalu mengajak saya ke stan wine Selandia Baru. “Sekarang saya ingin masuk ke wine anggur juga,” katanya.
Di meja terdapat beberapa botol dengan label kebun anggur. Ia menunjuk salah satunya, lalu mengeluarkan sebuah map dari tas.
“Pemiliknya membuka pembicaraan untuk melepas saham pengendali. Termasuk winery dan kebun anggurnya. Menurutmu, apakah saya mungkin mengakuisisinya?”
Saya membuka map itu. Rencana bisnisnya sederhana, tetapi ada data penjualan, perkiraan kebutuhan modal, saluran distribusi, dan beberapa pertanyaan yang sudah diberinya tanda. Ia rupanya tidak baru mendapat gagasan pagi itu.
“Baijiu dan wine anggur berbeda,” kata saya. “Kamu akan masuk ke usaha yang dipengaruhi musim panen, kondisi kebun, dan persediaan yang lama tertahan sebelum bisa dijual. Jaringan distribusinya pun harus dipelajari lagi.”
“Saya tahu saya belum mengerti semuanya.” Ia menatap saya. “Itu sebabnya saya membawa ini.”
Saya menutup map.
“Baik. Kita pelajari.”
Prosesnya memakan waktu sekitar setahun. Kami pergi ke Selandia Baru untuk melihat kebun dan fasilitas produksinya. Di sana, jauh dari riuh pameran, rencana akuisisi mendapatkan bentuk yang lebih nyata, barisan tanaman, gudang persediaan, tangki fermentasi, tong kayu, pekerja, dan biaya yang tetap berjalan meskipun penjualan belum terjadi.
Xiaowe banyak bertanya. Ia ingin mengetahui bagaimana mutu buah ditentukan, bagaimana keputusan panen dibuat, dan berapa lama modal akan tertahan dalam persediaan. Sesekali ia meminta penjelasan diulang. Ia tidak malu terlihat belum tahu.
Tim Yuan menelaah laporan keuangan, hak atas aset, kewajiban perusahaan, kondisi kebun, kebutuhan modal kerja, serta persyaratan persetujuan investasi. Kami menguji kembali asumsi penjualan yang pada mulanya terlalu optimistis.
Saya membantu menyusun struktur pendanaan dan akuisisinya. Sebuah perusahaan tujuan khusus didirikan di Hong Kong, dengan Yuan dan perusahaan Xiaowe sebagai pemegang saham. Melalui kendaraan investasi itulah kami akhirnya mengambil alih enam puluh persen saham perusahaan target, setelah persyaratan transaksi dipenuhi.
Sejak awal, kami memisahkan tanggung jawab pengelolaan, keputusan yang memerlukan persetujuan pemegang saham, dan penggunaan dana perusahaan. Xiaowe perlu memahami bahwa memiliki saham pengendali tidak berarti seluruh kas boleh diperlakukan sebagai uang pribadi.
Tahun 2019, kelompok usahanya berhasil mencatatkan saham di Bursa Shanghai setelah restrukturisasi dan proses persetujuan yang diperlukan. Pada masa itu saya sudah kembali aktif dalam urusan perusahaan. Saya melihat fotonya dari sebuah acara perusahaan. Ia berdiri tegak, tersenyum di antara orang-orang yang dahulu mungkin hanya bisa ditemuinya sebagai penjual kecil. Saya teringat kedua tangannya yang gemetar di depan kasir.
***
2026. Bulan lalu, Xiaowe datang ke Jakarta untuk membicarakan rencana ekspansi. Saya menemuinya di ruang duduk suite hotelnya. Menjelang sore, cahaya jatuh miring melalui jendela tinggi. Jalan di bawah mulai dipenuhi lampu kendaraan. Dari dalam ruangan, kemacetan tampak tenang, hanya garis-garis merah dan putih yang bergerak perlahan di antara gedung.
Di meja tersedia teh dan beberapa map. Ia sudah menyiapkan bahan pembicaraan seperti biasa. Usianya kini sekitar empat puluh tahun. Ada ketenangan dalam cara ia duduk dan mendengarkan, tetapi saya juga melihat kelelahan tipis di sekitar matanya. Kematangan sering datang bersama urusan yang tidak tercantum dalam riwayat jabatan.
Setelah membahas pekerjaan, saya meletakkan cangkir.
“Dua puluh tahun lalu, kita bertemu karena jaket tujuh ratus yuan,” kata saya. “Sekarang kamu membicarakan ekspansi bernilai jauh lebih besar.”
Ia tertawa, lalu menunduk. Wajahnya sedikit memerah.
“Jangan ingatkan saya soal menghitung uang itu.”
“Mengapa? Itu bagian yang paling saya ingat.”
Ia menggeleng sambil tersenyum.
“Kalau tidak bertemu B, yang punya akses ke sumber pembiayaan, mungkin saya masih berjualan di kaki lima.”
“Akses modal memang membantu,” jawab saya. “Tetapi kamu sudah membangun usahamu sebelum kita bertemu lagi di Guangzhou. Kamu yang memperbaiki produk, mencari pelanggan, dan menanggung kegagalannya.”
Ia diam.
“Saya hanya membantu pada satu persimpangan. Jalan sebelum dan sesudahnya tetap kamu tempuh sendiri.”
Xiaowe memutar cangkirnya sedikit.
“Tetapi lingkungan juga menentukan, bukan?”
“Tentu. Kerja keras membutuhkan tempat untuk tumbuh. Infrastruktur, pemasok, tenaga terampil, akses pasar, pembiayaan, dan kebijakan yang cukup konsisten. Semua itu membantu pengusaha mengubah usaha kecil menjadi perusahaan. Bukan berarti setiap kebijakan selalu benar atau setiap orang mendapat kesempatan yang sama.”
Ia mengangguk, lalu bersandar.
“Dari sudut pandangmu sebagai orang yang menyusun pembiayaan, bagaimana hubungan kebijakan uang dengan produksi?”
Saya menatapnya sejurus.
“Waktu pertama kali kita bertemu, satu yuan masih sekitar seribu rupiah. Sekarang sudah dua ribu tujuh ratus rupiah,” kata saya. “Dan perempuan yang kini berpenghasilan puluhan juta yuan setahun ini, waktu itu bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli jaket musim dingin seharga tujuh ratus yuan,” sambung saya sambil tersenyum. Dia memang cantik saat tersenyum. Lesung pipinya itu indah. Apalagi dengan wajahnya merona.
“ Bagaimana bisa begitu. Jauh sekali perbedaan kurs antara Yuan dan Rupiah”
“Uang fiat tercatat sebagai kewajiban bank sentral,” kata saya. “Tetapi uang itu semacam surat utang tapi bukan surat utang yang bisa kita bawa ke pemerintah lalu meminta pelunasan dengan emas. Secara ekonomi, nilainya bergantung pada kepercayaan bahwa kita tetap bisa menukarnya dengan barang dan jasa.”
“Jadi kepercayaan itu harus dijaga dengan produksi?”
“Dengan produksi, stabilitas, dan kebijakan yang dipercaya. Kalau kemampuan membeli uang terus merosot, masyarakat menanggungnya lewat harga yang naik. Kalau mata uang melemah, barang impor juga bisa menjadi lebih mahal. Orang bergaji tetap terpotong income nya secara tidak langsung.”
Saya berhenti sebentar.
“Potongan pendapatan itu tidak muncul sebagai satu baris pengurangan di slip gaji. Tetapi ketika belanja, mereka tahu ada bagian hidup yang sudah tidak terbeli.”
Xiaowe menatap saya tanpa menyela.
“Lalu M0 dan M2 yang sering dibicarakan itu?”
“M0 adalah uang dasar, secara sederhana, uang kartal yang beredar dan saldo bank di bank sentral. M2 mencakup uang tunai di tangan masyarakat serta simpanan mereka dalam sistem perbankan, seperti giro, tabungan, dan deposito.”
Saya menarik selembar kertas kosong.
“Misalnya bank memberikan kredit seratus juta yuan kepada perusahaanmu, lalu mencatatnya di rekening perusahaan. Kredit itu menciptakan saldo simpanan baru, sehingga menambah uang beredar luas. Bank sentral tidak harus mencetak uang kertas seratus juta yuan untuk pinjaman itu. Itu system mata uang fiat bekerja secara rasional”
“Ketika saya membayar pemasok?”
“Saldo berpindah. Kalau pemasok menggunakan bank lain, kedua bank menyelesaikan kewajibannya melalui saldo di bank sentral. Itulah salah satu peran uang primer atau M0”
Ia memperhatikan dua lingkaran yang saya gambar.
“Kalau M0 tumbuh lebih cepat daripada M2, berarti ada masalah?”
“Belum tentu. Bisa karena kebutuhan uang tunai, perubahan aturan cadangan, atau penambahan likuiditas bank. Yang pasti, rasio M2 terhadap M0 turun. Kita harus tahu pasti penyebabnya”
“Kapan harus khawatir?”
“Kalau M0, likuiditas terus ditambah, tetapi usaha tetap kekurangan pesanan, kredit produktif lemah, dan investasi tidak bergerak. Dalam keadaan itu, pelonggaran likuiditas sama seperti uang tercipta dari udara”
“Sebaliknya, kalau M2 tumbuh lebih cepat, berarti sehat?”
“Sehat atau tidak, kita harus tahu ke mana uang itu mengalir. Kalau masuk ke sektor keuangan melalui transaksi berleverage di bursa hingga menciptakan gelembung harga saham, sementara sektor produksi tidak tumbuh signifikan, berarti ada ketimpangan yang perlu dicermati. Kejatuhan Bursa Shanghai yang menghapus kapitalisasi pasar hingga triliunan yuan bisa menjadi bagian dari koreksi pasar yang sehat, selama berlangsung secara tertib dan transparan. Sebaliknya, kenaikan bursa pun wajar apabila ditopang kinerja serta prospek usaha.”
“ Jadi, persoalannya bukan sekadar pasar naik atau turun, melainkan apakah harga terbentuk secara wajar, tanpa manipulasi, dengan aturan yang ditegakkan secara konsisten dan intervensi pemerintah yang tidak mendistorsi mekanisme pasar.”
Xiaowe tersenyum tipis. “Jadi harus melihat uang itu membiayai apa.”
“Dan siapa yang akhirnya menanggung risikonya.”
Ia memandang ke luar jendela, kemudian kembali kepada saya. “Mengapa bank sentral menambah likuiditas kalau belum tentu dipakai?”
“Karena ekonomi itu berhadapan dengan ketidak pastian situasi dan kondisi. Jadi perlu menigngkatan cadangan, walau uang itu berasal dari udara. Itu untuk mencegah kekurangan likuiditas memperburuk keadaan, menjaga pembayaran tetap berjalan, atau membantu menurunkan biaya pembiayaan. Kadang ekonomi perlu ditolong agar tidak berhenti mendadak. Itu biasa aja. Yang jadi masalah, bla itu menjadi kebiasaan. Itu trouble. Tapi selagi strategi peningkatan uang primer bisa dibayar dari peningkatan produksi dan economy growth itu bagus, seperti cara China melakukan stimulus.”
“Seperti obat penguat. Viagra”
Saya senyum aja.
Tapi Xiaowe tertawa “ B, tidak perlukan Viagra “ Ia tertawa sampai harus meletakkan cangkir. “ Kamu membuat tubuhku pegal..”
“ Tapi dulu kamu engga keluhkan itu “
Saya kibaskan tangan.
“Tetapi,” lanjut saya setelah tawanya reda, “tambahan stamina tidak menjamin ada tambahan orang kerja dan produksi. Kalau masalahnya pasar hilang, neraca perusahaan rusak, atau kebijakan membuat orang ragu, uang murah saja tidak menyelesaikan semuanya.”
“Dan bisa masuk ke spekulasi?”
“Bisa. Harga aset dapat naik sementara produksi tertinggal. Tetapi jangan langsung menyamakan kenaikan harga saham dengan inflasi barang kebutuhan. Jalurnya berbeda. Yang jelas peningkatan M0, dibawah peningkatan M2, akan membuat resiko atas mata uang lebih besar, meningkatkan Yield obligasi meningkat, kurs melemah “
Ia mengangguk perlahan.
“Jadi ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa banyak uang ditambahkan.”
“Ya. Kita perlu melihat apakah orang mendapat pekerjaan, apakah pendapatan riil membaik, apakah perusahaan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan, dan apakah utangnya sanggup dibayar.”
Saya menggeser kertas itu ke arahnya.
“Pada akhirnya, angka uang harus kembali kepada kehidupan orang yang menggunakannya.”
Percakapan mereda. Xiaowe minta izin ke Toilet.
“Oh ya, waktu kamu menikah tahun 2015, saya tidak bisa datang. Ketika itu saya sedang tidak aktif di Yuan dan SIDC. Maaf.” Kata saya saat dia keluar dari Toilet.
Senyumnya tertahan.
“Tidak apa-apa.” Ia merapikan roknya.
Wajahnya tampa sedih saat kembali duduk di sofa. “Pernikahannya berakhir,” katanya. “Setelah lima tahun.”
Saya menunggu sebelum bertanya.
“Apa yang terjadi?”
Xiaowe menarik napas panjang.
“Dia ingin bekerja di perusahaan saya. Saya bilang harus ada kebutuhan jabatan, proses penilaian, dan persetujuan sesuai aturan. Dia menganggap saya mempersulit suami sendiri.”
Ia berhenti, mencari kata-kata yang tidak terlalu pahit.
“Lalu dia ingin menjadi pemasok. Saya bilang perusahaan tidak bisa menjanjikan pesanan hanya karena hubungan keluarga. Harus ada proses pengadaan dan pengungkapan benturan kepentingan. Dia semakin marah.”
Di luar, warna langit mulai gelap. Pantulan wajahnya tampak samar pada kaca.
“Setelah itu dia meninggalkan pekerjaan lamanya. Lebih banyak tinggal di rumah. Saya menanggung kebutuhan kami. Awalnya saya pikir itu sementara. Orang bisa kehilangan arah, dan pasangan seharusnya membantu.”
Saya mengangguk.
“Tetapi lama-lama tuntutannya bertambah. Keluarganya ikut meminta. Setiap kali saya menolak sesuatu, saya dianggap berubah karena kaya.”
Suara Xiaowe tetap tenang, tetapi kedua tangannya sudah saling menggenggam di pangkuan. “Mereka melihat jabatan CEO dan mengira saya bisa mengeluarkan uang kapan saja. Bisa memberi kontrak kepada siapa saja. Padahal uang perusahaan bukan seluruhnya uang saya.”
Ia menatap saya, seolah masih perlu menjelaskan pembelaan yang dahulu tidak pernah selesai didengar.
“Ada investor. Ada kreditur. Ada karyawan. Perusahaan terikat kebijakan grup Yuan holding, dan setelah tercatat di bursa, kewajibannya bertambah lagi. Saya tidak bisa membawa urusan rumah tangga ke meja pengadaan lalu meminta semua orang pura-pura tidak melihat.”
“Kamu benar menjaga batas itu,” kata saya.
Matanya mulai basah, tetapi ia tidak menangis.
“Yang melelahkan, B, saya harus terus membuktikan bahwa batas itu bukan berarti saya tidak sayang kepada keluarga. Sementara saya dibayangi ketulusan kamu membesarkan saya. Saya takut berkhianat dengan kamu”
Saya diam. Ada kalimat yang tidak memerlukan tanggapan segera.
“Saya tumbuh dengan melihat keluarga bekerja keras dan berhati-hati memakai uang,” lanjutnya. “Saya ingin rumah tangga yang bisa dibangun bersama. Tetapi saya semakin merasa sendirian mengurus semuanya.”
Ia mengusap sudut matanya dengan tisu.
“Akhirnya saya memutuskan berpisah. Keputusan itu juga tidak mudah. Saya lama bertahan karena takut telah gagal.” Dia menangis. Saya rentangkan tangan. Dia masuk dalam dekapan saya. “ Nyaman sekali berada dalam dekapan kamu, setelah bertahun tahun dalam kelelahan berusaha agar dicintai oleh pria yang saya nikahi dengan resmi.” Bisiknya.

“Punya anak?” kata saya saat melepaskan pelukannya.
“Satu. Perempuan. Sekarang sekolah di Beijing.”
Wajahnya melunak ketika menyebut anaknya. Ia mengambil telepon dan menunjukkan foto seorang anak berseragam sekolah yang berdiri di dekat pohon. Saya melihat foto itu beberapa saat, lalu mengembalikan teleponnya.
“Dan sekarang?” tanya saya pelan.
Xiaowe memahami maksud saya.
“Saya tidak berniat menikah lagi. Cukup sekali jatuh cinta, lalu selesai.” Ia mengatakannya tegas, tetapi setelah itu pandangannya turun ke layar telepon yang sudah gelap.
“Sekarang saya ingin membesarkan anak saya dengan baik.”
Saya tidak mencoba membujuknya mengubah keputusan. Ada luka yang membutuhkan ruang sebelum orang lain boleh menaruh harapan di dekatnya. “Jalani yang membuatmu tenang,” kata saya.
Ia menatap saya, kemudian tersenyum kecil. Kami duduk dalam keheningan yang nyaman. Teh di cangkir mulai kehilangan hangatnya.
Saya bangkit dan melangkah ke jendela. Di balik kaca, lampu-lampu Jakarta berpendar di antara gedung yang perlahan tenggelam dalam malam. Xiaowe menyusul, lalu memeluk saya dari belakang. Saya merasakan pipinya bersandar di punggung saya.
“Masih ingat tahun 2013, ketika kamu mengajak saya ke London dan Selandia Baru?” tanyanya pelan. “Dalam perjalanan itu, saya melihat betapa serius dan fokusnya kamu bekerja. Saya sadar, kepercayaan yang kamu berikan membawa tanggung jawab besar. Sejak saat itu, saya bertekad bekerja lebih sungguh-sungguh agar kamu tidak menyesal telah mempercayai saya.
Dan saat mantan Suami saya berusaha mencuri paten Wine saya, Team Yuan bergerak cepat melindungi saya. Hanya hitungan hari, bisa diselesaikan. Perusahaan sebagai sponsor mantan Suami saya, harus bayar denda besar. Dan mantan suami saya masuk penjara karena kejahatan ekonomi. Wenny berkata kepa saya. B sudah pensiun dari SIDC dan Yuan, tapi dia minta saya jaga kamu”
Saya teringat perempuan muda yang dahulu menghitung uang receh di Beijing. Selama bertahun-tahun, saya mengingat peristiwa itu sebagai permulaan keberhasilannya. Sore itu, saya melihat bagian lain yang tidak tampak dalam laporan perusahaan: harga yang dibayarnya untuk mempertahankan batas, kelelahan yang dibawanya pulang, dan seorang anak yang menjadi pusat kehidupannya.

Tinggalkan Balasan