
Lampu kabin diredupkan setelah pesawat meninggalkan London. Di luar jendela, sayapnya sesekali muncul dalam kilatan lampu navigasi, lalu kembali ditelan gelap. George duduk di seberang saya. CEO Ale Capital itu sudah melepas dasinya. Di meja kecil di antara kami terdapat dua cangkir kopi dan sebuah map berwarna biru tua.
“Profil Argentina,” katanya. “Carolina meminta bagian risiko diperbarui sebelum kita tiba.”
Saya mengenakan kacamata.
Halaman pertama memperlihatkan negara yang memanjang dari kawasan subtropis di utara hingga Patagonia di selatan. Penduduknya sekitar 46 juta jiwa. Sebagian besar tinggal di perkotaan, dengan Buenos Aires dan kawasan sekitarnya sebagai pusat kegiatan ekonomi. Di luar kota-kotanya, dataran luas menghasilkan kedelai, jagung, gandum, dan daging untuk pasar dunia.
Saya membalik halaman. Argentina merdeka pada 1816. Perdagangan hasil pertanian pernah membawanya menjadi salah satu negara makmur pada awal abad kedua puluh. Imigrasi membentuk wajah kota dan kehidupan budayanya. Kemudian datang pergantian pemerintahan sipil dan militer, pertarungan kepentingan ekonomi, inflasi, serta krisis utang yang berulang.
Pada bagian politik, nama Perón muncul bersama pembahasan tentang buruh, perlindungan sosial, dan peran negara.
“Sulit memahami Argentina hanya melalui satu presiden,” kata George.
“Sama seperti kebanyakan negara. Yang sering terlalu sederhana justru penjelasan orang luar.”
Dalam map itu, populisme dijelaskan sebagai cara membangun dukungan dengan mempertentangkan rakyat dan elite yang dianggap gagal. Kebijakannya bisa berbeda. Ada yang menjanjikan perlindungan melalui negara; ada yang menawarkan pembebasan dari campur tangan negara. Keduanya dapat tumbuh dari kekecewaan yang sama.
Saya menandai sebuah kalimat dengan pensil.
Janji perubahan perlu dinilai dari kemampuan institusi menjalankannya.
Bagian ekonomi memuat gambaran pemulihan setelah kontraksi, upaya menurunkan inflasi, serta kebutuhan menjaga keseimbangan fiskal. Di bawahnya terdapat catatan tentang kewajiban valuta asing dan kebutuhan pembiayaan kembali.

Argentina mengajarkan bahwa negara dapat memperbaiki neraca anggarannya ketika kehidupan sebagian masyarakat masih tertekan. Surplus fiskal dan kesulitan rumah tangga dapat hadir bersamaan. Karena itu, menilai keberhasilan pemerintah hanya dari saldo anggaran akan memberi gambaran yang tidak lengkap.
Disiplin fiskal tetap diperlukan. Pemerintah tidak dapat terus memperbesar kewajiban tanpa memperkuat kemampuan membayarnya. Subsidi yang salah sasaran, birokrasi yang berlapis, dan proyek yang tidak produktif menghabiskan sumber daya yang seharusnya dapat dipakai untuk pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur. Namun, pemotongan pengeluaran baru layak disebut efisiensi apabila manfaat yang dipertahankan atau dihasilkan sepadan dengan biayanya.
Menurut saya, persoalan terpenting terletak pada kemampuan membedakan pemborosan dan kebutuhan. Memotong anggaran lebih mudah daripada memperbaiki cara anggaran disusun. Pemerintah dapat menghentikan pemeliharaan, menunda pembayaran, atau mengurangi layanan dan segera menunjukkan penghematan. Tagihannya baru terlihat kemudian: aset lebih cepat rusak, pemasok kesulitan kas, dan masyarakat harus membayar layanan yang sebelumnya tersedia.
Ada pula penghematan yang sebenarnya merupakan pemindahan beban. Ketika subsidi dikurangi, neraca pemerintah dapat membaik, sementara pengeluaran keluarga bertambah. Kebijakan itu mungkin diperlukan, terutama jika subsidi lebih banyak dinikmati kelompok mampu. Tetapi pemerintah harus mengetahui siapa yang kehilangan manfaat, seberapa besar kemampuan mereka menanggungnya, dan bagaimana melindungi kelompok yang rentan.
Di sinilah kualitas tata kelola diuji. Pemerintah membutuhkan data yang baik, keberanian mengungkap akibat kebijakan, serta kesediaan memperbaiki keputusan. Kalau keberhasilan sudah ditetapkan sebelum evaluasi dilakukan, angka hanya akan dipilih untuk membenarkan kebijakan.
Saya menganggap besarnya kabinet bukan sebagai satu-satunya ukuran pemborosan. Organisasi yang lebih ramping dapat mengurangi tumpang tindih. Namun, penggabungan lembaga tidak banyak membantu apabila fungsi yang sama tetap dikerjakan melalui badan baru, staf khusus, atau perusahaan pelaksana yang lebih sulit diawasi. Yang perlu diperiksa ialah keseluruhan biaya dan hasil pekerjaannya.
Demikian pula dengan utang. Surplus anggaran tahunan belum tentu membuat kebutuhan pembiayaan hilang. Pokok utang tetap jatuh tempo. Risiko kurs dan bunga tetap perlu dikelola. Negara harus memperkuat sumber penerimaan yang bertahan, terutama melalui kegiatan ekonomi produktif. Menambah pajak pada basis ekonomi yang melemah dapat memberi penerimaan sementara sekaligus mempersempit kemampuan membayar pada masa depan.
Karena itu, saya lebih tertarik pada pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah pengetatan. Apakah perusahaan memperoleh kepastian untuk berinvestasi? Apakah pekerja dapat meningkatkan keterampilan? Apakah pengiriman barang lebih murah dan andal? Apakah penghematan memberi ruang bagi pekerjaan yang memperbesar kemampuan produksi?
Tanpa arah tersebut, pengetatan berisiko menjadi siklus: belanja dipotong, kegiatan ekonomi melemah, penerimaan tidak memenuhi harapan, lalu pemerintah kembali mencari utang atau melakukan pemotongan berikutnya. Sebaliknya, membiarkan pemborosan dengan alasan menjaga pertumbuhan juga dapat memperbesar persoalan yang sama. Pemerintah perlu memilih belanja dengan lebih cermat dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Bagi Indonesia, pelajaran yang penting adalah konsistensi perlakuan. Masyarakat akan sulit menerima pengurangan layanan jika pada saat bersamaan melihat proyek istimewa tetap memperoleh anggaran tanpa pengujian yang memadai. Pegawai akan sulit diminta berhemat jika pengadaan mahal dan transaksi yang terhubung dengan kekuasaan tidak disentuh. Ketidakadilan dalam pembagian beban dapat merusak dukungan terhadap reformasi yang sebenarnya diperlukan.
Pemimpin pembaru harus bersedia mengganggu kenyamanan pendukungnya sendiri. Ia perlu menghentikan proyek yang tidak layak, meskipun proyek itu mempunyai nilai politik. Ia harus menerima hasil audit yang tidak menyenangkan dan menjelaskan perubahan keputusan tanpa selalu mencari pihak untuk disalahkan. Keberanian memang diperlukan untuk memulai reformasi; ketelitian dan kerendahan hati diperlukan untuk menjaganya tetap masuk akal.
Saya tidak melihat Argentina sebagai resep yang dapat disalin begitu saja. Setiap negara mempunyai struktur ekonomi, kelembagaan, dan kerentanan berbeda. Namun, pengalaman penyesuaian di mana pun mengingatkan bahwa kesehatan keuangan negara harus dibangun bersama kemampuan masyarakat menghasilkan pendapatan.
Anggaran yang sehat memberi negara ruang bertindak. Tata kelola yang sehat memastikan ruang itu digunakan untuk memperkuat kehidupan masyarakat. Penghematan akan kehilangan tujuan apabila pemerintah berhasil mengurangi pengeluaran, tetapi membiarkan kemampuan produksi, layanan dasar, dan kepercayaan publik ikut menyusut.
“Bagaimana perkembangan Yuan Trading?” tanya saya.
“Volume meningkat. Pasar China tetap penting, tetapi pembeli dari negara lain juga bertambah.”
“Pemasoknya?”
“Perusahaan pemasok dan eksportir. Yuan Trading menjadi aggregator. Kita tidak bertransaksi langsung dengan petani.”
Saya mengangguk.
“Dan kebutuhan modal kerjanya tumbuh mengikuti volume.”
“Ya. Ada selang waktu antara pembayaran kepada pemasok dan penerimaan dari pembeli. Ale Capital perlu menyediakan dukungan pembiayaan yang lebih besar, dengan pengendalian yang sesuai.”
Saya menutup map.
“Pastikan pertumbuhan penjualan tidak menyembunyikan kebutuhan kas.”
George mengambil tabletnya.
“Itu salah satu agenda utama Carolina.”
Ketika kami tiba di Bandara Ezeiza, langit Buenos Aires berwarna kelabu pucat. Udara musim semi terasa dingin setelah berjam-jam berada dalam kabin. Carolina menunggu di luar pintu kedatangan. Kepala operasi Amerika Latin itu mengenakan mantel ringan, rambutnya diikat rendah. Ia memeluk saya sebentar, kemudian menyalami George “Selamat datang. Perjalanannya nyaman?”
“Punggung saya punya pendapat berbeda.”
Ia tertawa sambil mengambil salah satu tas.
“Kita langsung ke hotel. Kantor bisa menunggu sampai besok.”
Di dalam mobil, saya duduk di belakang bersama George. Carolina di depan, sesekali menoleh ketika menjelaskan perkembangan pekerjaan. Jalan dari bandara membawa kami melewati gudang, bangunan rendah, dan papan iklan. Mendekati pusat kota, kendaraan semakin rapat. Seorang pengendara sepeda motor berhenti di samping mobil, membetulkan sarung tangannya sebelum lampu lalu lintas berganti.
“Kantor lama sudah tidak cukup,” kata Carolina. “Tim dokumentasi dan penyelesaian transaksi bergantian memakai ruang rapat. Kami juga menambah orang untuk mengawasi pengiriman.”
“Apa yang paling banyak menyita waktu?”
“Mencocokkan pelaksanaan dengan kontrak. Mutu barang, jadwal kapal, dokumen pengapalan, dan pembayaran. Kalau satu bagian terlambat, bagian lain ikut bergeser.”
“Bagaimana peran Yuan Trading dalam rantai itu?”
“Kami menghimpun pasokan dari perusahaan pemasok dan eksportir, mencocokkannya dengan kebutuhan pembeli, lalu mengoordinasikan kontrak serta pengiriman ke China dan pasar lain. Pembagian kewajiban logistik mengikuti syarat masing-masing transaksi.”
George membuka catatannya.
“Ale Capital menyediakan sumber pembiayaan untuk mendukung siklus tersebut. Tetapi fasilitasnya harus mengikuti kebutuhan yang dapat diverifikasi. Kontrak pembelian, kontrak penjualan, dokumen barang, dan sumber pelunasannya harus saling cocok.”
“Pastikan hak atas barang jelas,” kata saya. “Jangan sampai kita membiayai barang yang ternyata sudah dijaminkan kepada pihak lain.”
“Sudah masuk pemeriksaan,” jawab Carolina.
“Dan jangan menganggap pembeli besar pasti membayar tepat waktu.”
Ia menoleh dan tersenyum.
“Kami punya daftar keterlambatannya, B.”
Mobil memasuki kawasan Recoleta. Bangunan tua berdiri dengan balkon besi dan pintu tinggi. Di trotoar, orang berjalan membawa anjing. Seorang pelayan mengelap meja di depan kafe, lalu menegakkan kursi yang tadi disandarkan. Buenos Aires tampak tenang dari balik kaca mobil. Saya tahu ketenangan sebuah jalan tidak selalu menggambarkan keadaan orang yang tinggal di sekitarnya.
***
Malamnya, kami makan di ruang privat hotel bersama Tomás Aguirre, seorang pejabat bidang pembiayaan publik. Usianya sekitar lima puluh tahun. Jasnya rapi, tetapi ada kelelahan pada matanya. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan hati-hati, seperti orang yang terbiasa memikirkan bagaimana sebuah kalimat dapat ditafsirkan. Percakapan dimulai dari perdagangan, pengapalan, dan kebutuhan pembiayaan ekspor. “Jadi, Yuan akan memperluas pembelian komoditas Argentina?” tanyanya.
“Kami melihat peluang memperbesar perdagangan melalui pemasok dan eksportir,” jawab George. “Yuan Trading menghubungkan pasokan dengan pembeli di China serta negara lain. Ale Capital mendukung kebutuhan pembiayaannya.”
“Dukungan seperti itu penting bagi kami.”
“Bagi kami juga,” kata saya. “Selama barang, kontrak, dan arus pembayarannya dapat dipertanggungjawabkan.”
Tomás mengangguk. Ketika hidangan utama tiba, ia mulai membicarakan keadaan politik.
“Milei memperoleh dukungan karena datang melawan status quo,” katanya. “Dia menawarkan perubahan yang tegas dan pendekatan pro pasar. Banyak orang merasa cara lama telah membawa Argentina kembali kepada utang.”
Saya meletakkan pisau dan garpu.
“Negara bisa terus menambah utang karena selalu ada pihak yang bersedia memberi pinjaman.”
Tomás menunggu saya melanjutkan.
“Pemerintah mempunyai alasan untuk menerima. Ada kewajiban jatuh tempo, tekanan kurs, kebutuhan belanja, dan harapan bahwa keadaan akan membaik sebelum tagihan berikutnya datang. Menurut World bank, DSR udah diatas 38%. Artinya setiap US$100 penerimaan negara, US$38 habis untuk anggaran pembayaran bunga dan cicilan utang”
“Ya karena itu, sering kali pilihan kami memang terbatas.”
“Saya mengerti. Tetapi masa jabatan empat tahun dapat mendorong pertimbangan yang berbeda dari umur kewajiban negara. Keputusan hari ini bisa menghasilkan biaya yang harus dibayar beberapa pemerintahan berikutnya.”
Tomás menyentuh pangkal gelasnya.
“Apakah Anda menganggap demokrasi menjadi penyebabnya?”
“Tidak. Saya mempertanyakan pengawasan yang menjaga keputusan hari ini tetap bertanggung jawab terhadap masa depan. Pergantian pemerintahan tidak seharusnya menghapus kewajiban menjelaskan hasil kebijakan sebelumnya.”
George menyeka bibir dengan serbet.
“Dalam pembiayaan, kami tidak cukup menerima penjelasan bahwa pendapatan akan tumbuh. Kami perlu mengetahui sumber pertumbuhan itu dan kemampuan membayar jika hasilnya lebih rendah.”
“Negara tidak bisa dikelola persis seperti perusahaan,” jawab Tomás. “Ada warga yang harus tetap makan ketika penerimaan turun.”
“Saya setuju,” kata saya. “Itu membuat tanggung jawabnya lebih berat. Negara tidak dapat meninggalkan penduduk yang dianggap tidak produktif.”
Carolina, yang sejak tadi mendengarkan, meletakkan garpunya.
“Dalam bisnis kami pun, perubahan kebijakan cepat terasa pada transaksi. Pemasok mengubah masa berlaku penawaran. Pembeli meminta kepastian tambahan. Biaya angkut bergerak. Kadang kontrak masih sama, tetapi perhitungan ekonominya sudah berbeda.”
“Dan ketidakpastian itu masuk ke harga,” kata George.
Tomás mengangguk perlahan.
“Namun, pemerintah juga harus bergerak. Menunggu semua pihak setuju bisa berarti tidak melakukan apa-apa.”
“Benar,” jawab saya. “Karena itu, keputusan perlu mempunyai dasar, batas risiko, dan mekanisme koreksi. Keberanian diperlukan. Kemampuan mengakui kesalahan juga.”
Pelayan mengganti piring. Kami terdiam sampai pintu kembali tertutup.
“Kalau dukungan IMF masuk dan harga obligasi naik, bukankah itu menunjukkan kepercayaan?” tanya Tomás.
“Menunjukkan perubahan penilaian investor,” jawab George. “Kita perlu melihat apa yang mereka perhitungkan.”
“Apa bedanya?”
“Investor yang membeli obligasi pada harga rendah dapat memperoleh keuntungan ketika peluang pembayaran membaik. Dia tidak harus menunggu seluruh ekonomi pulih.”
Saya mengambil gelas air.
“Pemerintah bisa mengatakan pasar kembali percaya, sementara keluarga masih mengurangi belanja kebutuhan pokok. Kedua keadaan itu dapat berlangsung bersamaan.”
“Tanpa kepercayaan pasar, pembiayaan kami semakin sulit.”
“Tentu. Tetapi kenaikan harga aset tidak cukup untuk menilai seluruh hasil kebijakan.”
Tomás memandang saya lebih lama.
“Anda melihat kemungkinan Argentina terus mengulang keadaan yang sama?”
“Kalau pembiayaan baru hanya digunakan untuk menunda pengakuan atas masalah lama, risikonya besar. Tetapi saya tidak percaya sebuah negara ditakdirkan terjebak selamanya.”
“Apa yang menentukan jalan keluarnya?”
“Apakah waktu yang diperoleh dari pinjaman dipakai untuk memperkuat kemampuan menghasilkan pendapatan dan devisa. Apakah proyek dinilai dari hasilnya. Apakah pengeluaran yang gagal dapat dihentikan, meskipun menyangkut kepentingan orang berpengaruh.”
Carolina menyandarkan punggung.
“Berarti persoalannya juga siapa yang menanggung penyesuaian.”
“Ya,” kata saya. “Jika kesalahan selalu dibayar masyarakat, sementara pengambil keputusan tidak pernah kehilangan apa pun, insentifnya tidak berubah.”
Tomás mengembuskan napas pendek.
“Setiap kelompok mengatakan pengorbanan seharusnya dimulai dari kelompok lain.”
“Itu sebabnya keterbukaan diperlukan. Orang perlu mengetahui dasar pembagian bebannya.”
Saya berhenti sebentar.
“Rakyat yang kecewa dapat memilih pemimpin yang menjanjikan pemutusan dengan masa lalu. Tetapi seorang pemimpin juga bisa terjebak dalam caranya sendiri. Ketika kritik dianggap serangan dan setiap keraguan disebut penghalang perubahan, siapa yang masih berani mengoreksi?”
Tomás tidak segera menjawab. Ia merapikan serbet di pangkuannya.
“Sulit menjaga dukungan sambil menyampaikan kabar buruk.”
“Sama sulitnya di perusahaan,” kata George. “Tetapi laporan yang menyenangkan tidak membuat kas bertambah.”
Tomás tertawa. Ketegangan di meja sedikit mengendur. Kopi dihidangkan menjelang akhir pertemuan.
“Kalau demikian, mengapa Ale Capital tetap memperbesar kehadirannya di sini?” tanya Tomás.
“Karena ada kegiatan perdagangan yang layak dibiayai,” jawab saya. “Ada barang, pemasok, pembeli, dan kebutuhan pengiriman yang nyata.”
“Meski Anda melihat begitu banyak risiko?”
“Kami datang untuk memahaminya. Kalau cukup percaya pada presentasi, saya tidak perlu terbang dari London.”
Carolina tersenyum.
George melanjutkan, “Kami menilai transaksi satu per satu, kemudian melihat hubungan risikonya. Kontrak yang tampak baik tetap bisa bermasalah jika semua pembeli bergantung pada pasar yang sama atau seluruh pengiriman tertahan pada jalur yang sama.”
“Jadi, Anda tetap berhati-hati.”
“Harus,” jawab saya. “Pertumbuhan Yuan Trading akan meminta dukungan modal yang lebih besar. Kami perlu memastikan modal itu berputar melalui perdagangan dan kembali sesuai perjanjian.”
“Dan jika ada keterlambatan?”
“Kami ingin mengetahuinya lebih awal, bukan setelah perusahaan membutuhkan pinjaman baru untuk menutupi transaksi lama.”
Tomás menatap cangkirnya, kemudian mengangguk.
“Saya kira kalimat itu juga berlaku bagi negara.”
Saya membiarkannya menyelesaikan pikirannya sendiri.
Seusai makan malam, Tomás menjabat tangan kami di depan lift. Ia meminta Carolina mengirimkan beberapa hal yang tadi dibicarakan tentang kendala perdagangan. Ketika pintu lift tertutup, George melonggarkan kerahnya. “Percakapan yang panjang.”
“Dia cukup terbuka,” kata Carolina. “Tetapi besok dia kembali menghadapi orang-orang yang mempunyai kepentingan berbeda.”
“Kita juga,” jawab saya.
Carolina menoleh.
“Besok jangan hanya tunjukkan kantor baru. Saya ingin melihat transaksi yang terlambat, klaim yang belum selesai, dan permohonan pembiayaan yang ditolak.”
“Sudah saya siapkan.”
“Bagus. Saya ingin mendengar penjelasan orang yang menolaknya.”
Pintu lift terbuka di lantai kamar saya.
Di dalam kamar, saya membuka tirai. Lampu masih menyala pada beberapa jendela di seberang. Sebuah bus berhenti di bawah, menurunkan dua penumpang, lalu bergerak lagi meninggalkan garis cahaya di jalan basah. Saya duduk di meja dan membuka kembali map dari pesawat. Di bawah ringkasan sejarah utang Argentina, saya menulis catatan untuk rapat besok: Jangan mengukur keberhasilan dari besarnya fasilitas yang dapat kita sediakan. Periksa apakah transaksi mampu melunasinya. Kemudian saya menutup map.
***
Pagi itu, cahaya masuk melalui jendela tinggi ruang sarapan. Di luar, Buenos Aires mulai sibuk. Seorang perempuan berjalan cepat sambil menggandeng anak berseragam sekolah. Di persimpangan, bus berhenti dan menutup sesaat pandangan ke deretan bangunan tua di seberang hotel.
Saya sedang menuangkan kopi ketika seseorang menyebut nama saya.
“ B.”
Lucía Ferrer berdiri di samping meja. Rambutnya yang dahulu selalu tergerai kini dipotong sebahu. Ia mengenakan blazer kelabu dan membawa buku catatan kecil dengan sudut-sudut yang mulai aus. Kami berkenalan bertahun-tahun lalu di Boston, ketika ia bekerja pada sebuah trading house. Saat itu, tugasnya membaca hubungan antara perubahan kebijakan, pasokan komoditas, dan risiko negara. Sekarang ia menjadi konsultan peneliti geostrategis.
“Kamu masih minum kopi sebelum makan?” tanyanya.
“Dan kamu masih mengingat kebiasaan orang yang tidak penting.”
“Itu bagian dari pekerjaan.”
Ia tertawa, lalu duduk. George sedang menerima telepon di luar ruang makan. Carolina akan menyusul setelah menyelesaikan urusan kantor.
“Kudengar makan malammu kemarin cukup serius,” kata Lucía.
“Tomás mengadu?”
“Tidak. Dia bilang kamu mengajukan pertanyaan yang biasanya dihindari orang setelah hidangan utama.”
Saya tersenyum.
“Aku ingin mendengar pertanyaanmu,” lanjutnya.
“Bagaimana kamu membaca perubahan politik Argentina? Mengapa janji pembaruan begitu sering berakhir dengan kekecewaan?”
Lucía meletakkan tas di kursi sebelah.
“Pertama, kita perlu membedakan pemimpin yang menawarkan pembaruan dan pemimpin yang mampu membangunnya. Menolak pemerintahan lama dapat memenangkan pemilu. Menjalankan perubahan memerlukan organisasi, kompetensi, dan kesepakatan yang bertahan setelah kampanye selesai.”
“Rakyat tidak bisa melihat perbedaan itu?”
“Kadang bisa. Tetapi pilihan mereka dibentuk oleh keadaan yang sedang dihadapi. Orang yang kehilangan pekerjaan mempunyai pertimbangan berbeda dari pemilik perusahaan yang sulit memperoleh devisa. Keduanya dapat memilih calon yang sama dengan harapan yang berbeda.”
Pelayan datang menawarkan sarapan. Lucía meminta telur, roti panggang, dan kopi hitam. Setelah pelayan pergi, ia kembali menatap saya.
“Aku berhati-hati terhadap kesimpulan bahwa rakyat Argentina selalu salah memilih. Itu membuat kegagalan institusi seolah-olah menjadi cacat watak masyarakat.”
“Namun, kebiasaan masyarakat tentu berpengaruh.”
“Sangat berpengaruh. Hanya saja, kebiasaan itu mempunyai sejarah.”
Ia menunjuk gelas air di hadapannya.
“Bayangkan seseorang berkali-kali melihat nilai tabungannya tergerus. Dia belajar segera membeli dolar atau barang yang dianggap menyimpan nilai. Ketika kebijakan berubah, dia mencari jalan melindungi keluarganya. Dari sudut pribadinya, itu masuk akal.”
“Tetapi kalau dilakukan bersama-sama, tekanan terhadap mata uang bertambah.”
“Ya. Tindakan yang rasional bagi individu dapat memperberat persoalan kolektif. Untuk mengubahnya, pemerintah harus memberi alasan yang dapat dipercaya agar orang bersedia bertindak berbeda.”
“Pidato tidak cukup.”
“Apalagi kalau masyarakat sudah berkali-kali diminta menunggu.”
Saya mengoleskan sedikit mentega pada roti.
“Jadi, orientasi jangka pendek bukan semata-mata kemalasan berpikir.”
“Ketidakpastian membuat masa depan terasa sulit diperhitungkan,” jawab Lucía. “Orang cenderung memberi nilai lebih besar pada manfaat yang dapat diperoleh sekarang. Seorang politisi kemudian menawarkan perlindungan segera. Politisi lain menawarkan perubahan radikal. Keduanya dapat memperoleh dukungan dari kelelahan yang sama.”
“Dan ketika hasilnya tidak segera datang, pendukungnya kecewa.”
“Terutama kalau selama kampanye biaya perubahan dikecilkan.”
George kembali dan menyapa Lucía. Mereka pernah bertemu dalam sebuah konferensi perdagangan. Setelah memesan sarapan, ia duduk di samping saya.
“Kami sedang membicarakan mengapa pembaruan sulit bertahan,” kata saya.
“Karena orang ingin hasil cepat?” tanyanya.
“Itu salah satunya,” jawab Lucía. “Tetapi kelompok yang sudah terorganisasi juga mempunyai kemampuan lebih besar mempertahankan manfaat. Mereka tahu siapa yang harus ditemui, aturan mana yang dapat diperdebatkan, dan bagaimana menunda keputusan. Sementara orang yang mungkin memperoleh manfaat dari reformasi belum tentu saling mengenal.”
“Manfaatnya tersebar, kerugiannya terkonsentrasi,” kata George.
“Persis. Perusahaan yang akan kehilangan fasilitas dapat menghitung kerugiannya sejak hari pertama. Masyarakat yang kelak mendapat harga lebih wajar belum tentu menyadari kepentingannya.”
Saya menatap Lucía.
“Bagaimana dengan nasionalisme? Mengapa bantuan IMF mudah dianggap sebagai serangan terhadap kedaulatan?”
Ia tidak segera menjawab. Dari meja sebelah terdengar bunyi sendok jatuh, disusul permintaan maaf pelan.
“Tidak semua orang menganggapnya begitu,” katanya. “Tetapi bagi sebagian masyarakat, IMF terhubung dengan pengalaman pengetatan, kehilangan pekerjaan, dan penurunan kesejahteraan. Ingatan itu nyata, meskipun penjelasan tentang penyebab krisis sering diperdebatkan.”
“Bukankah pemerintah sendiri yang meminta bantuan?”
“Benar. Namun, secara politik lebih mudah mengatakan bahwa kebijakan pahit dipaksakan pihak luar daripada mengakui kesalahan yang membuat bantuan diperlukan.”
“Lalu IMF dijadikan kambing hitam.” George mengerutkan kening.
“Bisa demikian. Kritik terhadap IMF antara lain muncul ketika penekanan pada stabilisasi, efisiensi, produktivitas, dan pembenahan institusi tidak cukup memperhitungkan kemampuan masyarakat menanggung penyesuaian. Kebijakan yang masuk akal secara ekonomi belum tentu dapat diterima secara sosial dan politik, terutama jika bebannya tidak terbagi secara adil. Bagaimanapun, yang menggerakkan ekonomi adalah manusia, dengan kebutuhan, ketakutan, dan harapan yang tidak seluruhnya tertangkap oleh angka.”
George mengangguk.
“Jadi, bantuan IMF tidak menjamin mesin ekonomi segera bergerak?”
“Ya. Pembiayaan dapat memberi ruang untuk menstabilkan keadaan, tetapi pemulihan memerlukan investasi, produksi, dan kepercayaan. Semuanya membutuhkan waktu. Apalagi jika pelaksanaan kebijakan masih harus melalui kompromi politik.”
“Berarti jadwal program bisa berbeda dari kecepatan perubahan di lapangan?”
“Betul. Karena itu, target harus realistis dan pelaksanaannya perlu dievaluasi. Kalau penyesuaian dipaksakan terlalu cepat tanpa perlindungan yang memadai, dukungan masyarakat bisa melemah sebelum manfaatnya terasa.”
Saya meletakkan pisau.
“Yang mengganggu saya, nasionalisme sering sangat keras dalam ucapan, tetapi lemah dalam membangun kemampuan produksi.”
Lucía menarik buku catatannya mendekat.
“Itu pertanyaan yang lebih berguna. Kalau menolak pembiayaan luar, bagaimana kebutuhan devisa dipenuhi? Kalau melindungi industri, bagaimana produktivitasnya ditingkatkan? Kalau mempertahankan subsidi, siapa penerimanya dan bagaimana membiayainya?”
“Perlindungan bisa diperlukan.”
“Tentu. Industri baru dapat membutuhkan waktu untuk belajar. Tetapi perlindungan perlu mempunyai ukuran hasil dan batas evaluasi. Jika setiap kegagalan selalu dijawab dengan tambahan fasilitas, perusahaan belajar mempertahankan fasilitasnya.”
“Bukan memperbaiki produknya,” sambung George.
Lucía mengangguk.
“Dan masyarakat membayar melalui harga, pajak, atau layanan publik yang dikurangi untuk menutup biayanya.”
Carolina datang ketika kopi kedua saya dihidangkan. Ia meminta maaf karena terlambat, lalu duduk sambil meletakkan telepon menghadap ke bawah.
“Kami baru saja membicarakan nasionalisme dan produktivitas,” kata saya.
“Di kantor, kami membicarakan dokumen pengiriman yang harus selesai sebelum tengah hari,” jawabnya.
Lucía tersenyum.
“Itu hubungan yang tepat.”
Carolina memandangnya, belum mengerti.
“Kepercayaan terhadap sebuah negara juga dibentuk oleh pekerjaan sehari-hari,” lanjut Lucía. “Apakah barang sesuai mutu, kontrak dipenuhi, pelabuhan bekerja, dan perubahan aturan disampaikan dengan jelas. Kedaulatan ekonomi memerlukan kemampuan melakukan hal-hal itu secara konsisten.”
Saya mengangguk.
“Semakin kuat kemampuan menghasilkan dan memperdagangkan barang, semakin besar pilihan pembiayaannya.”
“Dan semakin baik posisi tawarnya,” kata Lucía. “Tetapi kita harus menghitung nilai yang benar-benar tinggal di dalam negeri: produktivitas, keterampilan, penerimaan, dan hubungan dengan pemasok lokal. Volume ekspor saja belum menjawab semuanya.”
George menutup botol air mineralnya.
“Bagaimana seorang pemimpin pembaru dapat bertahan dalam keadaan seperti itu?”
“Dengan menjelaskan urutan pekerjaannya,” jawab Lucía. “Mana yang harus segera dilakukan, mana yang memerlukan waktu, siapa yang paling terdampak, dan perlindungan apa yang disediakan selama peralihan.”
“Bukankah penjelasan seperti itu terlalu rumit untuk kampanye?”
“Memang lebih sulit daripada menjanjikan kemenangan atas musuh bersama. Tetapi kerumitan yang disembunyikan selama kampanye akan muncul sebagai kekecewaan ketika memerintah.”
Saya memperhatikan wajahnya. Bertahun-tahun lalu di Boston, ia pernah mengatakan hal serupa tentang sebuah kontrak komoditas: kewajiban yang sengaja dibuat kabur tidak menghilang ketika tiba waktunya membayar.
“Jadi, masyarakat juga perlu belajar menerima bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi bersamaan,” kata saya.
“Ya. Dan pemimpin harus menunjukkan bahwa pengorbanan berlaku secara adil. Orang akan sulit menerima pengurangan manfaat jika pada saat yang sama melihat kelompok dekat kekuasaan tetap memperoleh pengecualian.”
“Di situlah kepercayaan rusak.”
“Sering kali begitu. Masyarakat kemudian menilai seluruh reformasi sebagai cara kelompok lain mengambil keuntungan.”
Di luar, cahaya semakin terang. Seorang petugas hotel membuka pintu untuk tamu yang tergesa-gesa menuju taksi.
Saya memandang Lucía.
“Kalau kamu diminta memberi satu ukuran untuk menilai pembaruan, apa yang kamu pilih?”
Ia berpikir cukup lama.
“Aku ingin mengetahui apakah setelah beberapa tahun, lebih banyak orang dan perusahaan mampu hidup dari pekerjaan yang produktif, dengan ketergantungan lebih kecil pada perlakuan istimewa.”
“Bukan sekadar pemerintah berganti.”
“Pergantian memberi kesempatan. Hasilnya harus dikerjakan.”
Carolina melihat jam, lalu memberi isyarat bahwa mobil sudah siap. Saya meminta tagihan tambahan kopi. Lucía menutup buku catatannya, tetapi saya belum beranjak. “Kamu tahu,” kata saya, “sering kali kita terlalu sibuk menilai apakah rakyat memilih pemimpin yang tepat. Padahal, kita juga perlu bertanya apakah sistem memberi ruang untuk mengoreksi pemimpin setelah dia terpilih.”
Lucía mengangguk.
“Pemilih bisa keliru. Pemimpin bisa gagal. Institusi yang sehat memungkinkan keduanya belajar tanpa harus menunggu krisis berikutnya.”
Kami berdiri. Di dekat pintu, Carolina kembali menerima pesan tentang dokumen pengiriman. Ia membacanya, mengetik jawaban singkat, lalu menyimpan telepon.
Pagi itu kami meninggalkan meja dengan pembicaraan besar tentang negara. Di kantor, beberapa orang sedang menunggu keputusan yang jauh lebih kecil: sebuah dokumen, satu pengiriman, dan pembayaran yang harus dipastikan tepat waktu. Saya ingin melihat bagaimana kami mengurus bagian yang memang berada dalam tanggung jawab kami.

Setelah seharian rapat, saya kembali ke hotel dalam keadaan lelah. Saya mandi, mengganti pakaian, lalu berbaring. Namun, pikiran masih bergerak dari satu persoalan ke persoalan lain. Kantuk tidak juga datang. Saya akhirnya turun ke bar. George masih berbicara dengan tim London, sementara Carolina sudah pulang. Saya memilih kursi dekat jendela, memesan air mineral, lalu memandangi kendaraan yang melintasi jalan basah.
Seorang perempuan duduk dua kursi dari saya. Usianya belum tiga puluh tahun. Rambutnya pirang kecokelatan, terjatuh sampai bahu. Ia mengenakan tank top, sementara mantelnya dilipat di sandaran kursi. Di hadapannya terdapat segelas anggur yang tinggal separuh dan telepon dengan layar menghadap meja.
“Perjalanan bisnis?” tanyanya dalam bahasa Inggris.
Saya menoleh.
“Ya. Baru tiba kemarin.”
“Dari mana?”
“London. Tetapi saya orang Indonesia.”
“Bagi saya, yang penting Anda dari Asia,” katanya sambil tersenyum. “Sepertinya cahaya sedang terang di sana, sementara di sini meredup.”
“Asia juga punya bagian yang gelap.”
“Tentu. Tetapi dari tempat saya duduk, cahayanya terlihat menarik.”
Saya tertawa kecil. Ia memperkenalkan diri sebagai Valeria, pegawai administrasi sebuah perusahaan. “Saya sedang menunggu teman.”
“Sudah lama?”
“Belum tentu orangnya sudah saya kenal.” Ia menatap saya dengan senyum yang lebih terus terang. “Teman untuk beberapa jam.”
Saya mulai memahami maksudnya. “Apakah saya termasuk calon teman itu?”
“Mungkin. Anda kelihatan baik.”
“Kelihatan bisa menipu.”
“Karena itu kita perlu bicara dahulu.”
Nada suaranya ringan. Kami bercanda tentang perjalanan, usia, dan betapa sulitnya tidur setelah penerbangan panjang. Namun, ketika percakapan beralih kepada politik, senyumnya perlahan menghilang.
“Pemerintah mengatakan keadaan membaik,” katanya. “Saya juga merasakan harga tidak berubah secepat dahulu. Setidaknya sebagian pengeluaran lebih mudah diperkirakan.”
“Tetapi?”
“Gaji saya sudah kehilangan banyak daya beli sebelum keadaan lebih tenang. Sekarang, sekitar tanggal lima belas, uangnya sudah habis.”
Saya mengangguk. “Jadi, kenaikan harga melambat, tetapi jarak antara penghasilan dan kebutuhan masih jauh”
“Persis. Orang mengatakan inflasi turun seolah-olah tagihan saya ikut turun.”
Ia mengambil telepon, membuka sesuatu, lalu meletakkannya kembali.
“Dulu waktu saya masih kerja sebagai staf di perusahaaan Pharmasi, Setiap awal bulan saya membagi uang untuk sewa, transportasi, makanan, dan kebutuhan ibu. Setelah itu baru melihat apa yang tersisa. Kadang tidak ada.”
“Ibu tinggal bersama Anda?”
“Tidak. Tetapi saya membantu membeli obatnya.”
“Apa yang beliau katakan tentang pemerintah?”
Valeria menghela napas. “Dia marah. Katanya, setelah bekerja begitu lama, masa tua seharusnya tidak dihabiskan untuk memilih obat mana yang bisa ditunda.”
“Dan pendapat Anda?”
“Saya memahami kemarahannya. Tetapi saya juga tahu pemerintah sebelumnya tidak meninggalkan keadaan yang baik.”
“Berarti Anda masih memberi waktu kepada Milei?”
“Saya memilihnya.”
Ia mengatakannya tanpa kebanggaan, tetapi juga tanpa keinginan menyangkal. “Saya ingin perubahan. Waktu itu rasanya setiap bulan kami mengulang percakapan yang sama. Gaji masuk, harga bergerak, tabungan kehilangan nilai. Saya lelah.”
“Sekarang?”
“Sekarang saya ingin tahu berapa lama lagi harus menunggu.”
Pelayan mendekat. Valeria menolak tambahan anggur dan meminta air putih.
“Teman saya seorang guru,” lanjutnya. “Dia mengajar di beberapa tempat. Berangkat pagi, pulang malam. Tetap aja terjebak utang pinjol dan credit card .”
Ia merapatkan kedua tangan di atas meja.
“Di laporan statistik, ada perbaikan. Tetapi saya masih kesulitan membiayai hidup sederhana. Dahulu saya merasa termasuk kelas menengah. Sekarang saya bahkan tidak tahu ukuran itu masih berarti apa.”
“Apa yang paling sulit?”
“Menjadi orang dewasa yang bekerja, lalu harus menelepon orang tua untuk meminta uang makan.”
Ia mengalihkan pandangan ke jendela.
“Kami tidak meminta hidup mewah. Kami hanya ingin pekerjaan kami cukup untuk membiayai hidup secara sederhana”
Saya membiarkan keheningan berlangsung sebentar. “Apakah Anda juga mempunyai utang?”
Valeria mengangguk.
“Kartu kredit dan pinjaman melalui aplikasi. Awalnya untuk keadaan darurat. Setelah itu, keadaan darurat datang setiap bulan.”
“Untuk kebutuhan sehari-hari?”
“Belanja, tagihan, obat. Saya selalu berniat melunasi setelah menerima gaji. Tetapi ketika gaji datang, kebutuhan berikutnya sudah menunggu.”
Ia mengusap sisi gelas yang berembun.
“Saya memikirkannya sebelum tidur. Pagi-pagi, bahkan sebelum benar-benar bangun, saya sudah ingat ada pembayaran yang harus dilakukan.”
“Sudah mencoba meminta penjadwalan ulang?”
Valeria menatap saya. Untuk beberapa saat, ia seperti kehilangan kata-kata. Saya mengeluarkan uang cash dari saku celana, mengambil l0 lembar uang seratus dolar, lalu meletakkannya di dekat tangannya. “Untuk membantu kebutuhanmu dan obat ibu,” kata saya.
Ia memandangi uang itu tanpa menyentuhnya.
“seribu dolar?”
Saya mengangguk.
“Itu lebih dari dari pendapatan saya sebulan.”
Tangannya bergerak perlahan, merapikan lembaran yang sebenarnya sudah tersusun. “Anda mengeluarkannya begitu mudah,” katanya. “Saya sampai tidak tahu harus merasa lega atau sedih.”
Saya menunggu.
“Bagi saya, uang sebanyak ini berarti sewa, makanan, obat. Berhari-hari saya memikirkan cara mendapatkannya. Anda mengambilnya dari dompet dalam beberapa detik.”
Saya menunduk sebentar.
“Mengapa anda tidak tanya berapa tarif saya .” Ia mengatakannya pelan. Saya tidak menemukan jawaban yang pantas. Valeria akhirnya memasukkan uang itu ke tasnya. Matanya mulai basah.
“Terima kasih,” katanya. “Ibu saya bisa membeli obat.”
Saya tersenyum.
“Saya tidak tahu bagaimana melewati besok,” katanya akhirnya. “Memikirkan masa depan terasa terlalu jauh.”
Saya diam saja.
“Menurut Anda, kami terlalu tidak sabar?” tanyanya.
“Tidak. Setiap orang mempunyai kemampuan bertahan yang berbeda.”
“Para elite mengatakan perubahan membutuhkan pengorbanan.”
“Bisa demikian. Tetapi mereka harus menjelaskan bagaimana pengorbanan itu dibagi.”
“Saya tidak keberatan berhemat. Saya sudah melakukannya. Tetapi apakah semua orang juga diminta melakukan hal yang sama?”
“Itu pertanyaan yang wajar.”
Valeria tersenyum tipis. “Saya hanya kesal ketika orang menyuruh kami sabar dari tempat yang sangat nyaman.”
Saya ikut tersenyum. “Saya bisa memahami kekesalan itu.”
Di luar, sebuah taksi berhenti. Seorang tamu turun sambil melindungi kepala dengan map. Petugas membukakan pintu, dan cahaya lobi memantul sebentar pada trotoar.
“Apakah Anda menyesal memilih Miles?” tanya saya.
Valeria berpikir cukup lama. “Saya menyesal karena dahulu berharap terlalu cepat. Tetapi saya juga tidak ingin kembali kepada orang-orang yang sudah mengecewakan kami.”
“Pilihan berikutnya menjadi sulit.”
“Ya. Kadang kami merasa harus menyangkal kesulitan sendiri supaya tidak dianggap meninggalkan harapan.”
“Anda berhak mengakui keadaan yang Anda alami. Pemerintah perlu mendengarnya.”
“Apakah mereka mendengar?”
Saya memandangi gelas di tangan. “Di negara saya, saya juga mendengar keluhan seperti itu. Tetapi pengalaman yang sama bisa dibaca secara berbeda. Orang yang memperoleh manfaat dari suatu kebijakan mungkin merasa keadaan sudah membaik. Orang yang kehilangan penghasilan akan mempertanyakan perbaikan yang dimaksud.”
“Lalu mereka saling menyalahkan?”
“ Sering kali begitu. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Di mana pun, manusia berhadapan dengan harapan, kehilangan, dan ketidakpastian. Keadaannya berbeda, sementara cara memaknai dan menjalaninya dibentuk oleh pengalaman serta sikap batinnya.”
“Apakah semuanya kembali kepada cara berpikir?”
“Cara berpikir memengaruhi bagaimana kita menghadapi keadaan. Kesulitan materi tetap nyata; tagihan tidak hilang hanya karena kita berpikir positif. Namun, sikap itu dapat menjaga harapan dan membantu kita mencari jalan, meskipun keadaan belum berubah.”
Valeria mengangguk pelan.
“Tetapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir ketika hidup dipenuhi ketidakpastian?”
“Ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan. Kekhawatiran datang ketika pikiran berusaha memperoleh kepastian yang belum dapat diberikan oleh waktu. Kita tidak selalu mampu mencegahnya datang, tetapi dapat belajar agar ia tidak menentukan seluruh langkah kita.”
“Tetapi ketidakpastian menimbulkan begitu banyak rasa sakit.”
“Rasa sakit perlu diakui. Yang dapat kita usahakan ialah tidak terus melukainya dengan bayangan tentang segala kemungkinan buruk yang belum terjadi.”
“Lalu mengapa orang baik juga menderita?”
“Kebaikan tidak membuat manusia kebal terhadap kehilangan. Saya pun tidak mengetahui alasan di balik setiap penderitaan. Namun, saya percaya bahwa dalam keadaan sulit sekalipun, manusia masih dapat menemukan kasih, pertolongan, dan makna.”
“Apakah pengalaman pahit merupakan proses untuk menjadi sempurna?”
“Mungkin lebih tepat menjadi lebih memahami. Waktu tidak menjamin seseorang menjadi bijaksana. Kita perlu merenungkan pengalaman, mengakui kekeliruan, dan bersedia mengubah diri.”
“Jadi, pengalaman adalah guru terbaik?”
“Pengalaman sering memberikan ujian sebelum kita memahami pelajarannya. Sekolah biasanya memberi pelajaran sebelum ujian. Keduanya berguna selama kita bersedia belajar.”
“Mengapa kita harus menghadapi semua masalah itu? Mengapa tidak hidup bebas darinya?”
“Karena hidup mempertemukan keinginan kita dengan kenyataan yang tidak seluruhnya dapat kita atur. Pertemuan itu memperlihatkan kemampuan sekaligus keterbatasan kita. Ada persoalan yang meminta keberanian bertindak, ada pula yang mengajarkan keberanian menerima.”
“Sejujurnya, saya tidak tahu harus melangkah ke mana.”
“Perhatikan keadaan di luar dirimu, lalu dengarkan apa yang sungguh penting di dalam dirimu. Pengetahuan membantu kita membaca jalan; nilai yang kita pegang membantu menentukan arah.”
“Kadang kegagalan membuat saya merasa tidak berharga.”
“Kegagalan menerangkan hasil suatu usaha, bukan seluruh nilai dirimu. Kamu boleh mengevaluasi keputusan tanpa menjadikan dirimu sendiri sebagai terdakwa seumur hidup.”
“Bagaimana Anda menjaga arah?”
“Sebagai muslim saya menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman. Saya berusaha memahami jalan yang ditempuh, menjaga kejujuran, dan tidak mengorbankan orang lain demi tujuan saya. Keyakinan itu juga mengingatkan bahwa saya dapat keliru dan memerlukan nasihat.”
“Bagaimana saya tetap bersemangat di tengah kesulitan?”
“Sesekali pandanglah jarak yang sudah kamu tempuh. Hargai apa yang masih terpelihara dalam dirimu, kemampuan bekerja, kepedulian kepada ibu, dan keberanian meminta pertolongan. Bersyukur tidak mengharuskanmu menyangkal luka.”
“Lalu bagaimana saya memperoleh yang terbaik dalam hidup?”
“Hadapi masa lalu dengan kejujuran, jalani hari ini dengan kesungguhan, dan siapkan masa depan dengan harapan. Kerjakan bagian yang berada dalam kuasamu. Selebihnya, serahkan kepada Tuhan tanpa berhenti melangkah.”
“Anda selalu bicara tentang Tuhan,” katanya dengan mata berlinang.
“Saya tidak ingin mengecilkan beratnya hidupmu. Saya hanya percaya bahwa pertolongan Tuhan bisa hadir melalui banyak jalan, keluarga yang membantu, sahabat yang mendengarkan, atau bantuan sosial yang membuat seseorang mampu bertahan. Kesulitanmu tetap nyata, tetapi semoga di tengah semuanya, kamu masih bisa merasakan bahwa kamu tidak sepenuhnya sendirian.”
“Termasuk kehadiran anda kini disaat saya tidak ada pilihan untuk bertahan hidup, anda memberi saya uang”
“ Tidak ada pilihan adalah pilihan itu sendiri. Yang pasti kamu tidak merugikan siapapan. Tidak ada paksaan dalam deal. Itu hanya antara kamu dan Tuhan. Dan Tuhan maha bijaksana. Manusia tidak berhak menghakimi kamu. Saya memberi kaerna Tuhan. Kamu tidak berutang apa pun kepada saya. Soal pemberian ini, biarlah menjadi urusan saya dengan Tuhan.”
Ia menatap saya langsung. Senyum yang menghiasi wajahnya pada awal percakapan sudah hilang. “Maafkan saya karena terlalu banyak bertanya. “
“ Kita bertemu karena Tuhan..”
“ Walau saya seorang pelacur ?
“Profesi hanyalah salah satu kenyataan dalam hidupmu, bukan gambaran utuh tentang dirimu. Karena itu, saya tidak berhak merendahkan kamu karena pekerjaanmu, dan bahkan kepada penguasapun saya tidak perlu memujinya berlebihan.
Valeria menarik mantelnya dari sandaran, lalu meletakkannya di pangkuan. Jemarinya meremas ujung kain itu.
“Sejak PHK, saya berusaha untuk keluar dari kehidupan seperti ini.”
Saya diam.
“ Bahkan untuk pelacur pun tetap tidak bisa menyelesaikan masalah biaya hidup. Karena kompetisi sangat keras di Industri ini” katanya.”
“ Kamu lulusan apa ?
“ Sarjana Agro Industri.”
“ Mau kerja ? tanya saya datar.
“ Kalau ada lowongan, pasti saya mau.” Katanya tegas
Saya tulis alamat di kertas tissue “ Kamu hubungi Carolina. Coba kamu ikut test seleksi. Kalau diterima, itu awal yang bagus. Ini PMA.”
Ia menunduk, kemudian mengangguk.
Di antara kami, percakapan berhenti. Bartender merapikan botol di rak. Suara musik terdengar lebih jelas ketika tidak ada lagi yang berusaha mengisi keheningan. Saya berpamit setelah bayar bill. Saya peluk dia. “ Power of patience. Even amid hardship, there will always be moments of relief. Keep your spirits up.” Bisik saya.
“Why won’t you let me come to your room with you?” tanyanya.
“ You don’t owe me anything. Whatever I give you, I give for God’s sake. Remember, even when it feels like no one cares, trust that God is always with you. He will always watch over you.”
“ Thank for everthing”
Saya memikirkan betapa mudahnya menyebut seseorang pemenang atau pecundang dari tempat yang aman. Di hadapan saya, Valeria mengingatkan pada kelas menengah yang perlahan kehilangan pijakan. Mereka masih bekerja, berpakaian rapi, dan menjalani rutinitas, tetapi penghasilannya tidak lagi cukup sampai akhir bulan. Mula-mula kekurangan ditutup dengan tabungan. Ketika tabungan habis, utang mengambil tempatnya. Dari luar, kehidupan tampak berjalan seperti biasa. Di dalamnya, setiap bulan menjadi usaha untuk menunda jatuh.
Dalam bahasa ekonomi, inflasi mengikis pendapatan riil, jumlah barang dan jasa yang dapat dibeli dari penghasilan. Gaji nominal mungkin tetap, tetapi nilainya menyusut ketika harga naik lebih cepat daripada pendapatan.
Pelemahan kurs dapat memperberat tekanan melalui biaya impor dan produksi. Beban itu tidak terbagi merata. Pekerja yang sulit menegosiasikan upah dan pensiunan dengan penghasilan tetap mempunyai ruang penyesuaian lebih sempit. Sebaliknya, pihak yang mampu menaikkan harga jual atau memiliki pendapatan valuta asing mungkin lebih terlindungi. Perubahan harga sekaligus mengubah pembagian daya beli di masyarakat.
Secara filosofis, yang menyusut bukan hanya kemampuan berbelanja, melainkan kebebasan menentukan hidup. Tabungan yang semula menjadi bekal pendidikan berubah menjadi biaya makan. Penghasilan yang seharusnya membuka masa depan habis untuk mempertahankan hari ini. Seseorang tetap bekerja sepanjang bulan, tetapi semakin sedikit hasil kerjanya yang dapat ia tentukan sendiri.
Secara politik, persoalannya terletak pada siapa yang menanggung penyesuaian. Pemerintah dapat menyampaikan perbaikan indikator makro, sementara rumah tangga masih kehilangan daya beli. Inflasi memang sering disebut “pajak tersembunyi”. Peningkatan uang beredar melalui berbagai kebijakan dapat menimbulkan tekanan inflasi ketika pertumbuhan permintaan melampaui kemampuan produksi. Artinya? Masyarakat kehilangan kemampuan membeli tanpa keputusan pemotongan penghasilan yang terlihat.
Gajinya tetap tercetak utuh, tetapi kuasanya atas kehidupan perlahan berkurang. Di situlah persoalan ekonomi berubah menjadi pertanyaan keadilan politik: siapa yang masih memiliki pilihan, dan siapa yang harus terus mengurangi kebutuhannya agar dapat bertahan?

Tinggalkan Balasan