Manipulasi, penggelapan dan cuci uang di balik Emiten

Albert Tan akhirnya berhasil membuat saya datang ke Singapura. Bukan proposal pembangkit listrik tenaga suryanya yang membawa saya ke sana. Proposal itu telah melewati pemeriksaan Ale Capital dan ditolak. Sesudahnya, beredar cerita bahwa proyek tersebut gagal karena saya menarik komitmen pembiayaan.

Saya tidak merasa perlu menjawab setiap cerita yang memakai nama saya. Namun, dalam perkara ini ada Mei. Ia terlibat dalam pengaturan dana talangan yang telah dikeluarkan sebelum pembiayaan utama diperoleh. Sebagian dana itu berasal dari kliennya, dan kini pengembaliannya bermasalah.

Saya mengenal Mei sebelum mengenal persoalan ini. Pertemuan pertama kami berlangsung di New York pada 2012. Ia bekerja di sebuah perusahaan konsultansi dan memegang kualifikasi CPA. Dalam rapat, ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Tetapi ketika menemukan angka yang tidak cocok, ia akan menghentikan pembahasan dan meminta orang menjelaskan asalnya.

Seusai rapat di kantornya, saya mengajaknya makan siang. Ia menerima dengan senang hati. Tubuhnya tinggi, sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, dengan wajah yang mudah menarik perhatian. Namun, yang membuat percakapan kami bertahan adalah caranya membedakan sesuatu yang sudah diketahui dari sesuatu yang baru diasumsikan. Ayahnya berasal dari Korea, ibunya dari Tiongkok. Ia tumbuh dengan tuntutan untuk bekerja baik dan tidak mempermalukan keluarga.

Persahabatan kami berkembang melalui pekerjaan. Dalam sejumlah transaksi leveraged buyout, ia membantu saya memahami keadaan perusahaan, mutu pembukuan, dan kepentingan orang-orang di belakang meja perundingan. Pada 2014, ia mendirikan boutique investment di New York bersama seorang mitra dari Eropa.

Albert pun bukan orang yang kurang pengetahuan. Ia memahami cara mempertemukan pemilik proyek, pemegang izin, kontraktor, dan sumber modal. Ia pandai membuat orang merasa bahwa sebuah kesempatan akan hilang jika keputusan tidak segera diambil. Keduanya cerdas. Keduanya juga mempunyai ambisi besar. Dan sejak mereka punya perusahaan sendiri, saya tidak pernah deal dengan mereka. Mengapa ?

Dalam beberapa urusan terdahulu, saya melihat bagaimana besarnya imbalan dapat mengubah cara mereka menjelaskan risiko kepada klien. Biaya pengaturan transaksi dibicarakan dengan jelas; kemungkinan transaksi tidak pernah mencapai penutupan pembiayaan sering disampaikan lebih singkat.

Kantor Albert berada di kawasan Raffles Place. Ketika saya tiba, hujan tipis meninggalkan garis-garis air pada kaca ruang rapat. Gedung di seberang tampak pucat, sementara jauh di bawah kendaraan bergerak perlahan. Mei sudah duduk bersama seorang lelaki berjas biru tua. Di hadapannya terdapat map tebal dan sebuah buku catatan yang belum dibuka.

Albert berdiri menyambut saya. “Terima kasih sudah datang, B.” Saya menjabat tangannya, lalu menyalami Mei. Lelaki di sebelahnya diperkenalkan sebagai pemilik perusahaan proyek yang memperoleh kesempatan mengembangkan PLTS berkapasitas sekitar 1,4 gigawatt. Menurut Albert, listriknya akan dijual dengan skema pembayaran berdasarkan energi yang disalurkan dan diterima pembeli.

Saya duduk. Seorang staf meletakkan air mineral, kemudian keluar dan menutup pintu.

Albert langsung membuka pembicaraan. “Kami sudah melakukan semua yang diminta Ale Capital. Biaya yang keluar mencapai lima puluh juta dolar. Untuk pemasok, kontraktor, pengaturan penjualan listrik, lahan, dan pekerjaan pengembangan lainnya.”

Ia merapatkan kedua tangannya di atas meja. “Tetapi pada akhirnya Ale Capital menolak. Kami kehilangan banyak uang.”

“Sebagian dana talangan itu berasal dari klien saya,” kata Mei, menunjuk lelaki di sebelahnya. “Ia mengeluarkan dana karena proses pembiayaan dianggap sudah berjalan.”

Saya memandang mereka bergantian. “Proses DD memang berjalan,” jawab saya. “Tetapi itu berbeda dengan persetujuan pencairan.”

Albert hendak menyela. Saya mengangkat tangan sebentar, lalu membuka iPad. “Biar kita melihat dokumennya. Sesudah itu, silakan kalian membantah jika ada yang keliru.”

Saya menampilkan ringkasan persyaratan pembiayaan.

“Pertama, kita perlu membedakan kontrak pengadaan panel dari kepastian proyek dapat diselesaikan.”

Saya membuka dokumen pemasok.

“Untuk skala sebesar ini, kami perlu mengetahui kapasitas produksi yang tersedia, jadwal pengiriman, mutu modul, jaminan produk, serta kemampuan pemasok memenuhi kewajibannya. Rantai hulunya juga harus dapat ditelusuri.”

Saya berhenti pada halaman lampiran.

“Polysilicon, wafer, sel, dan modul merupakan tahapan yang berbeda. Proyek kalian membeli modul. Jadi yang harus dibuktikan adalah kemampuan pemasok menyerahkan modul sesuai spesifikasi, bukan sekadar menunjukkan bahwa mereka mengenal produsen atau memiliki surat penawaran.”

Albert menggeser kursinya.

“Pemasoknya sudah menyatakan sanggup.”

“Kesanggupan itu harus dapat diperiksa.”

Saya memutar layar agar mereka dapat melihat bagian yang saya tunjuk. “Tidak ada jaminan pelaksanaan yang memenuhi persyaratan kami. Jadwal belum terikat pada tonggak pekerjaan yang jelas. Ketentuan penggantian pemasok dan tanggung jawab atas keterlambatan juga belum memadai.”

“Uang muka memang belum dibayar,” katanya. “Kami menunggu pembiayaan.”

“Itu dapat dimengerti. Tidak adanya uang muka sendiri bukan berarti kontraknya tidak sah. Tetapi jangan menyebut pasokan sudah diamankan apabila kapasitas produksi belum dicadangkan secara mengikat dan pengaman pelaksanaannya belum disepakati.”

Lelaki berjas biru mulai membuka buku catatan.

Saya beralih ke laporan teknis. “Masalah berikutnya adalah perkiraan produksi listrik.”

Albert melihat layar tanpa berkata-kata.

“Panel menghasilkan listrik mengikuti penyinaran. Kapasitas terpasang tidak sama dengan daya yang tersedia setiap jam. Karena itu, kami perlu menilai data cuaca jangka panjang, mutu pengukuran di lokasi, kehilangan sistem, dan ketidakpastian perkiraan produksinya.”

Saya membuka tabel yang telah diberi catatan oleh tim teknis. “Laporan kalian belum cukup menjelaskan dasar perkiraan energi dan rentang risikonya. Kami belum dapat menilai seberapa kuat pendapatan proyek bertahan jika produksi lebih rendah daripada proyeksi.”

“Konsultannya berpengalaman,” kata Mei.

“Saya tidak sedang menilai daftar pengalaman mereka. Saya sedang menilai laporan yang diserahkan.”

Mei menunduk sebentar.

Saya melanjutkan. “Kita juga harus melihat kapan listrik dihasilkan dan kapan pembeli membutuhkannya. Kalau ada kewajiban memasok pada jam tertentu, harus jelas bagaimana kewajiban itu dipenuhi. Apakah menggunakan baterai, sumber lain, atau pengaturan pasokan melalui jaringan. Semua mempunyai biaya.”

“Jadi panelnya tidak cukup?” tanya pemilik proyek.

“Panel perlu. Tetapi kelayakan pembangkit juga bergantung pada jaringan, lokasi, kontrak penjualan, biaya, dan pelaksanaannya.”

Saya membuka dokumen penjualan listrik. “Ini yang paling mendasar.” Di bagian atas halaman tercetak judul nota kesepahaman. “Dalam proposal kalian disebut sudah ada kontrak penjualan listrik. Dokumen yang diterima Ale Capital masih berupa MOU.”

Albert menarik napas. “Kesepakatannya sudah ada.”

“Mungkin ada kesepahaman untuk melanjutkan pembicaraan. Tetapi hak dan kewajiban pembayaran yang diperlukan untuk membiayai proyek belum lengkap di sini.”

Saya menunjuk beberapa bagian. “Belum jelas kapan pembeli wajib menerima listrik, bagaimana penyelesaian jika jaringan membatasi produksi, dan apa perlindungan proyek ketika pembayaran terlambat.”

“Kami bisa melengkapinya,” katanya.

“Itulah yang diminta tim sejak awal.”

Mei mengangkat wajah. “Ale Capital juga meminta cadangan pembayaran.”

“Ya. Dalam usulan struktur ini, kami meminta pengamanan likuiditas setara tiga bulan kewajiban pembayaran, atau bentuk perlindungan lain yang dapat diterima. Itu persyaratan kredit kami untuk risiko yang sedang dinilai, bukan ketentuan yang otomatis berlaku pada semua proyek PLTS.”

Saya menutup halaman tersebut. “Kalau pendapatan terlambat sementara biaya operasi dan cicilan tetap jatuh tempo, proyek memerlukan penyangga. Proyeksi laba tidak dapat menggantikan uang yang belum masuk.”

Pemilik proyek memandang Albert. Untuk pertama kalinya, ia tampak menunggu penjelasan dari orang yang duduk di sampingnya.

Dokumen berikutnya adalah rancangan kontrak EPC. “Kontraktor EPC tidak wajib menjadi investor,” kata saya. “Tetapi proyek harus mempunyai pembagian tanggung jawab yang jelas.”

Saya menggeser layar. “Di sini, kepastian harga, penyelesaian pekerjaan, jaminan kinerja, dan tanggung jawab atas pembengkakan biaya belum membentuk perlindungan yang cukup. Cadangan biayanya juga harus diperiksa kembali.”

Albert mengetukkan jari ke meja. “Risiko selalu ada dalam proyek.”

“Benar. Karena itu, harus diketahui siapa yang menanggungnya.”

“Tidak semua risiko dapat dihilangkan.”

“Saya tidak meminta risiko hilang. Saya meminta agar risiko tidak disembunyikan dalam angka yang tampak pasti.”

Ruangan menjadi sunyi. Pendingin udara berdengung di atas kepala kami.

“Mr. B, mengapa produksi polysilicon Tiongkok turun? Apakah karena PLTS tidak layak secara ekonomi?” tanya sponsor proyek.

Saya meletakkan iPad di atas meja.

“Belum tentu. Penurunan produksi bahan baku tidak dapat langsung dipakai untuk menyimpulkan bahwa pembangkitnya tidak layak.”

Ia mengerutkan kening. “Tetapi kalau permintaan tumbuh, mengapa produksinya dikurangi?”

“Karena kapasitas pabrik bisa bertambah lebih cepat daripada kebutuhan. Menurut IEA PVPS, pemasangan PLTS baru secara global pada 2025 justru meningkat sekitar lima belas persen, menjadi sekitar enam ratus sembilan puluh gigawatt. Namun, kapasitas manufakturnya masih berlebih.”

Saya menarik selembar kertas dan membuat dua kolom: pabrik polysilicon dan pembangkit listrik. “Pada tahun-tahun sebelumnya, harga yang menarik mendorong banyak perusahaan memperbesar pabrik. Ketika tambahan kapasitas itu mulai beroperasi, pasokan melampaui kemampuan pasar menyerapnya.”

“Lalu harga jatuh?”

Saya mengangguk. “Dan ketika harga jual tidak lagi menutup biaya dengan baik, memproduksi lebih banyak justru dapat memperbesar kerugian. Tongwei dan Daqo, misalnya, mengumumkan pengurangan produksi pada akhir 2024.”

“Berarti persoalannya kelebihan pabrik?”

“Itu salah satu penyebab penting. Ada pula perubahan teknologi. Wafer semakin tipis, kehilangan material berkurang, dan sel semakin efisien. Jadi, untuk menghasilkan kapasitas panel yang sama, kebutuhan silikonnya dapat lebih sedikit.”

Lelaki itu menatap kedua kolom di atas kertas. “Dengan kata lain, pertumbuhan panel tidak harus diikuti pertumbuhan bahan baku dengan persentase yang sama?”

“Benar.”

Saya mengetuk kolom pertama dengan ujung pena. “Produsen polysilicon ingin menjual bahan dengan harga yang memberikan keuntungan.”

Kemudian saya menunjuk kolom kedua. “Pengembang PLTS ingin membeli peralatan bermutu dengan biaya yang memungkinkan listriknya dijual secara menguntungkan. Ketika harga panel turun, sebagian produsen tertekan, sementara pengembang pembangkit dapat memperoleh manfaat.”

“Kalau begitu, seharusnya proyek kami semakin layak.”

“Biaya panel yang lebih rendah membantu,” jawab saya. “Tetapi saya belum mengatakan proyek ini layak.”

Saya melirik dokumen teknis di hadapannya. “Kalau dukungan domestic rendah karena tidak adanya ekosistem industry, maka  maintenance akan sangat mahal dan itu harus impor.  Lebih buruk lagi, pembangkit dapat berhenti lebih lama ketika suatu komponen rusak. Penghematan saat membeli peralatan bisa habis karena kehilangan produksi.”

“Dan kalau panel menghasilkan sesuai perkiraan?”

“Masih harus dipastikan listriknya dapat disalurkan dan dibayar. Misalnya, produksi tinggi pada tengah hari, tetapi jaringan tidak mampu menyerap seluruhnya. Sebagian produksi mungkin harus dibatasi. Dampaknya terhadap pendapatan bergantung pada ketentuan kontrak.”

Ia menunduk, membaca kembali catatannya. “Jadi kami harus memeriksa seluruh sistem.”

“Ya. PLTS membutuhkan ekosistem industri yang padat teknologi. Tantangannya tidak berhenti ketika pembangunan selesai. Kita harus memastikan pembangkit tetap beroperasi dengan andal, terawat, dan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menopang kelangsungan usahanya.”

Ruangan hening sesaat. Mei menggeser dokumen penjualan listrik ke tengah meja.

Albert menyandarkan punggung. “B, kami bergerak karena menerima term sheet dari Ale Capital.”

Saya membuka dokumen terakhir. “Dan karena itu kita harus membaca isinya sampai selesai.”

Pada halaman tersebut tercantum bahwa pembiayaan yang diusulkan masih bergantung pada pemeriksaan, persetujuan internal, dan pemenuhan persyaratan. “Term sheet ini tidak memberikan komitmen pencairan,” kata saya. “Ada bagian yang dapat mengikat, seperti kerahasiaan atau biaya tertentu. Tetapi komitmen pembiayaan harus dilihat dari ketentuan yang secara khusus mengaturnya.”

Saya membiarkan mereka membaca.

“Kalau ada surat atau janji lain dari pihak Ale Capital yang bertentangan dengan dokumen ini, tunjukkan. Akan saya minta tim memeriksanya.”

Tidak seorang pun mengambil dokumen tambahan.

Mei menutup mapnya perlahan. “Klien saya memahami proses ini sebagai sesuatu yang hampir pasti. Makanya berani keluar uang USD 50 juta pada tahap awal” katanya.

Saya memandang map di hadapan pemilik proyek.

Mei merapatkan kedua tangannya di atas meja. “B, setidaknya Anda mempunyai tanggung jawab moral. Sponsor proyek percaya kepada kami karena mereka tahu kami sudah lama mengenal Anda.”

Saya menatapnya. Selama beberapa detik, yang terdengar hanya dengung pendingin udara. Kalimat itu mengubah arah pertemuan. Kedekatan pribadi sedang ditawarkan sebagai pengganti komitmen yang tidak pernah diberikan. Jika saya menerimanya, langkah berikutnya mudah ditebak: saya diminta menyediakan jalan keluar, sementara risiko pengeluaran mereka dipindahkan kepada Ale Capital.

“Dengar, Tan. Mei.” Suara saya tetap datar. Saya membuka folder lain di iPad, lalu menampilkan sebuah rangkaian dokumen. “Berdasarkan dokumen yang diperiksa tim kami, dana lima puluh juta dolar itu dibayarkan kepada SPC di yurisdiksi offshore. Dalam perjanjian, perusahaan tersebut disebut sebagai konsultan pembiayaan.”

Saya menggeser layar ke halaman berikutnya.

“Dari rekening penerima, dana kemudian dialirkan kepada tiga perusahaan offshore lainnya. Sampai pemeriksaan terakhir, kami belum memperoleh bukti pekerjaan atau hubungan transaksi ketiganya dengan proyek PLTS ini.”

Mei menarik tangannya dari meja.

Saya berhenti agar mereka dapat membaca nama perusahaan dan tanggal transaksi.

“Dana awal berasal dari rekening perusahaan pemilik proyek yang tercatat di bursa,” lanjut saya. “Jadi, yang perlu dijelaskan bukan hanya mengapa pembiayaan Ale Capital tidak diperoleh. Kalian perlu menjelaskan dasar pembayaran jasa, penerima manfaat akhirnya, persetujuan yang diberikan perusahaan, dan pekerjaan apa yang benar-benar diserahkan.”

Sponsor proyek mencondongkan tubuh. Pandangannya bergerak dari layar kepada Albert. “Bukankah uang itu untuk pengembangan proyek?” tanyanya.

“Lima puluh juta dolar itu perlu ditelusuri secara terpisah,” kata saya. “Berapa untuk tanah, berapa untuk pekerjaan yang sudah dilaksanakan, berapa untuk jasa, dan berapa yang masih dapat dipulihkan. Pengeluaran sebesar itu tdak ada kaitannya dengan Ale capital. Itu masalah kalian.”

Tidak ada yang segera menjawab.

Saya mendorong iPad ke tengah meja.

“Term sheet Ale Capital dicantumkan sebagai bagian dari dasar pengajuan biaya konsultansi. Padahal dokumen itu menyatakan pembiayaan masih bergantung pada pemeriksaan dan persetujuan. Kalau digunakan untuk memberi kesan bahwa pencairan sudah pasti, itu penyajian yang menyesatkan.”

Albert mengerutkan kening. “Dari mana Anda mendapatkan semua ini?”

“Sumber dan dasar pemeriksaannya tercatat. Kalau ada dokumen yang keliru, tunjukkan bagian yang keliru.”

Ia kembali menatap layar. “B, transaksi offshore itu tidak sesederhana—”

“Saya tahu,” potong saya. “Offshore sendiri bukan persoalannya. Yang saya tanyakan adalah pekerjaan, aliran dana, dan kewenangan pembayarannya.”

Wajah Mei menegang. Ia membuka mapnya, membalik beberapa lembar, lalu berhenti.

Saya memandang keduanya.

“Temuan ini belum dengan sendirinya menetapkan adanya tindak pidana. Tetapi  kalau kalian masih bicara moral untuk menekan saya, maka File ini akan saya kirim kepada otoritas. Selanjutnya akan ada audit independen..”

Albert mengalihkan pandangan ke jendela. Hujan masih meninggalkan garis tipis pada kaca.

“Saya bekerja di industri keuangan sejak kalian masih mahasiswa,” kata saya. “Saya mengenal perbedaan antara transaksi yang belum selesai dan transaksi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jangan meminta saya mengabaikannya.”

Sponsor proyek menarik iPad lebih dekat. Untuk beberapa saat, ia membaca tanpa mengangkat wajah.

Saya membiarkannya.

Ketika ia selesai, saya mengambil kembali perangkat itu dan mematikan layarnya. “Ale Capital tidak dapat diminta pertanggungan jawab apapun. Sampai kini kami tidak terima uang sama sekali dari kalian. Justru kalian membuang waktu kami selama 3 bulan untuk pelajari dokumen kalian.

Saya menatap mereka satu persatu. “ Meeting cukup sampai disini” Kata saya berdiri. Mereka serentak ikut berdiri. Saya menyalami mereka satu persatu. Saya tahu senyum mereka dipaksa.

***

Hujan mulai reda ketika kendaraan kami meninggalkan Raffles Place menuju Bandara Changi. Kaca jendela masih menyimpan butiran air. Di sela gedung, cahaya sore jatuh pada jalan yang basah, lalu hilang ketika mobil berbelok. Moni duduk di samping saya. Ia datang khusus dari London untuk mendampingi pertemuan itu, tetapi saya memintanya menunggu di luar ruang rapat. Saya ingin mendengar sendiri bagaimana Albert dan Mei menjelaskan keputusan mereka.

“Bagaimana pertemuannya?” tanyanya.

“Saya akhirnya mengerti mengapa mereka begitu ingin bertemu.”

Moni menunggu. Saya belum melanjutkan.

Ia merapikan map di pangkuannya.

“Tim sempat khawatir Anda akan marah karena proposal mereka kami tolak.”

Saya menoleh.

“Marah karena apa?”

“Albert dan Mei sahabat lama Anda.”

“Kalian saya bayar mahal untuk mengelola Ale Capital. Saya sendiri yang merekrut kalian. Pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang dibangun juga tidak murah.”

Moni mendengarkan.

“Kalau setelah semua itu keputusan kalian masih bergantung pada siapa teman saya, apa gunanya ada kalian?”

Ia tersenyum tipis.

“Justru keberanian menolak proyek dari sahabat saya menunjukkan bahwa kalian menjalankan tanggung jawab. Saya perlu orang yang dapat menjelaskan mengapa sebuah transaksi harus ditolak, termasuk ketika penolakannya membuat saya tidak nyaman.”

Kendaraan memasuki jalan yang lebih lengang. Pepohonan di tepi jalan bergerak melewati kaca.

“Apa yang Anda temukan?” tanya Moni.

“Ada pengeluaran yang belum dapat mereka jelaskan manfaatnya bagi perusahaan proyek. Mereka datang membawa cerita kerugian. Ketika ditanya aliran dananya, pembicaraan berubah menjadi tanggung jawab moral saya.”

Moni menunduk pada mapnya.

“Karena hubungan pribadi dianggap cukup untuk menggantikan komitmen tertulis?”

“Ya. Lalu saya diminta menyediakan jalan keluar.”

Saya memandangnya.

“Apa yang kau pahami tentang transaksi emiten yang dokumennya lengkap, tetapi dicurigai sebagai sarana penyelewengan dana perusahaan?”

Moni berpikir sebentar.

“Kelengkapan dokumen belum membuktikan bahwa perusahaan menerima manfaat yang sepadan.”

“Contohnya?”

“Pembayaran konsultansi. Kita perlu mengetahui siapa yang bekerja, hasil yang diserahkan, dasar penetapan harga, dan hubungan penerima pembayaran dengan orang yang menyetujuinya.”

“Kalau proyeknya gagal?”

“Kegagalan proyek tidak otomatis berarti jasanya fiktif. Konsultan dapat bekerja sungguh-sungguh dan proyek tetap tidak memperoleh pembiayaan.”

Saya mengangguk.

“Lalu apa yang membuatnya patut dipertanyakan?”

“Ketika bukti pekerjaan tidak sebanding dengan tagihan. Ketika penerima dana tidak mempunyai kapasitas yang sesuai. Atau ketika hubungan kepentingan tidak dijelaskan kepada pihak yang menyetujui pembayaran.”

Mobil melambat sesaat. Di depan, lampu rem menyala berurutan.

“Uang muka pengadaan?” tanya saya.

“Harus dicocokkan dengan kemampuan pemasok dan kemajuan pekerjaan. Jangan merasa aman hanya karena uang yang sudah keluar masih tercatat sebagai aset.”

“Pinjaman kepada afiliasi?”

“Tujuan bisnis, kemampuan membayar, persyaratan, dan persetujuannya harus diperiksa. Piutang tidak menjadi bernilai hanya karena setiap tahun diperpanjang.”

Saya menyandarkan punggung.

“Bagus. Tetapi jangan berhenti pada apa yang tertulis di buku besar. Periksa barang, pekerjaan, dan orang yang akhirnya menikmati manfaatnya.”

Moni membuka map, mencatat satu kalimat.

Di terminal penerbangan pribadi Changi, pembicaraan kami terputus oleh pemeriksaan keberangkatan. Saya menerima secangkir kopi, tetapi hanya meminumnya sedikit. Moni menjawab pesan dari London sambil berdiri di dekat jendela. Di apron, pesawat telah menunggu. Seorang petugas berjalan memeriksa bagian luarnya sebelum kami dipersilakan naik.

Kami baru melanjutkan percakapan setelah pesawat mengudara. Sabuk pengaman masih melingkari pinggang saya. Di luar jendela, garis pantai Singapura perlahan tertutup lapisan awan. Moni duduk berhadapan dengan saya. Ia meletakkan laptop di meja kecil, tetapi belum membukanya.

“Bagaimana dengan akuisisi emiten?” tanyanya. “Apakah transaksi itu juga dapat dipakai untuk pencucian uang?”

“Dapat disalahgunakan. Tetapi membeli perusahaan tercatat sendiri merupakan kegiatan investasi yang sah. Kita harus memeriksa keadaan transaksinya.”

“Apa yang paling penting?”

“Identitas pengendali sebenarnya, asal dana, alasan ekonominya, kewajaran harga, dan apa yang terjadi pada perusahaan sesudah diambil alih.”

Moni mengangguk.

“Karena legalitas badan usaha tidak menjawab asal uang yang digunakan membelinya.”

“Benar. Sebuah emiten mempunyai nama, rekening, laporan keuangan, dan akses ke pasar modal. Semua itu berguna bagi usaha yang sah. Tetapi jika kendalinya jatuh kepada pihak yang hendak menyamarkan hasil kejahatan, bentuk perusahaan dapat dipakai untuk memberi penampilan bisnis pada transaksi yang sebenarnya perlu dicurigai.”

Saya berhenti ketika awak kabin datang meletakkan air minum.

“Jangan bayangkan setiap pencucian uang selalu dimulai dengan uang tunai dalam koper,” lanjut saya setelah ia menjauh. “Dalam pemeriksaan transaksi pasar modal, pertanyaannya sering muncul pada hubungan antarpihak, perpindahan nilai, dan alasan bisnis yang tidak masuk akal.”

“Misalnya akuisisi yang harganya sulit dijelaskan?”

“Itu salah satu tanda yang perlu diperiksa. Tetapi harga tinggi sendiri belum membuktikan kejahatan. Bisa ada aset, teknologi, atau prospek yang belum terlihat dari laporan singkat. Karena itu, kita memerlukan bukti, bukan sekadar rasa curiga.”

Moni akhirnya membuka laptop.

“Bagaimana dengan market maker dan liquidity provider?”

“Pertama, bedakan fungsi mereka yang sah dari pihak yang hanya memakai sebutan itu. Dalam pasar yang mengaturnya, market maker dapat menyediakan kuotasi beli dan jual. Liquidity provider membantu tersedianya kesempatan bertransaksi. Mandat serta kewajibannya bergantung pada pasar dan instrumennya.”

“Jadi keberadaan mereka bukan tanda manipulasi.”

“Bukan. Mereka dapat menjalankan fungsi penting. Persoalan muncul jika layanan, rekening, atau hubungan mereka disalahgunakan untuk menciptakan gambaran perdagangan yang menyesatkan, memfasilitasi perpindahan nilai yang tidak mempunyai alasan ekonomi wajar, atau mengabaikan tanda-tanda dana bermasalah.”

Moni mengangkat wajah.

“Apakah market maker harus mengetahui bahwa dananya berasal dari kejahatan?”

“Kita tidak boleh menyamaratakan. Ada pihak yang mungkin terlibat secara sadar. Ada yang diperalat. Ada pula yang gagal mengenali atau menindaklanjuti tanda bahaya. Kedudukan dan tanggung jawabnya harus diperiksa berdasarkan fakta.”

Suara mesin mengisi jeda percakapan. Pesawat sedikit bergetar ketika melewati awan.

“Lalu bagaimana kita membedakan manipulasi pasar dari pencucian uang?” tanyanya.

“Manipulasi berkaitan dengan pembentukan harga atau aktivitas pasar yang menyesatkan. Pencucian uang berkaitan dengan penyamaran asal atau penguasaan hasil kejahatan. Keduanya dapat berhubungan, tetapi satu tidak otomatis membuktikan yang lain.”

“Artinya transaksi saham yang menghasilkan keuntungan belum tentu menjelaskan sumber kekayaannya.”

“Ya. Bukti penjualan saham menunjukkan ada penjualan. Itu belum menjawab dari mana dana pembeliannya berasal, siapa yang mengendalikan pihak-pihak dalam transaksi, dan apakah keuntungan tersebut terbentuk secara wajar.”

Moni mengetik sebentar.

“Jadi akuisisi emiten bisa menjadi bagian dari rangkaian yang lebih luas.”

“Bisa. Tetapi kita harus membaca rangkaiannya tanpa mengarang hubungan yang belum terbukti.”

Saya mengambil gelas.

“Perusahaan yang baru diakuisisi mungkin mengumumkan perubahan usaha, membeli aset, menerima pinjaman, atau menunjuk penyedia jasa. Masing-masing transaksi dapat sah. Pemeriksa perlu melihat apakah keseluruhannya mempunyai tujuan bisnis yang dapat dijelaskan, atau justru meninggalkan perusahaan dengan kas yang berkurang dan manfaat yang tidak jelas.”

“Dan kalau sahamnya tampak likuid?”

“Likuiditas bukan sertifikat kebersihan dana. Harga yang bergerak aktif juga tidak menggantikan pemeriksaan pemilik manfaat dan substansi transaksi.”

Moni menutup laptop setengah.

“Kadang orang menganggap transaksi aman karena dilakukan melalui lembaga berizin.”

“Lembaga berizin tetap harus menjalankan pemeriksaan. Izin tidak membuat setiap transaksi nasabahnya otomatis benar.”

“Dan reputasi pihak yang memperkenalkan?”

Saya menatapnya.

“Itulah sebabnya saya tidak ingin nama saya dipakai sebagai pengganti pemeriksaan.”

Moni tersenyum kecil. Ia memahami bahwa percakapan kami telah kembali kepada pertemuan di Raffles Place.

“Bila tim menemukan tanda seperti itu, kami perlu memperdalam pemeriksaan dan melibatkan fungsi kepatuhan.”

“Ya. Simpan dasar temuan, pisahkan fakta dari dugaan, dan jalankan kewajiban yang berlaku. Jangan mengambil kesimpulan hanya karena struktur offshore, transaksi besar, atau hubungan afiliasi. Tetapi jangan pula membiarkan pertanyaan berhenti karena pihaknya terkenal.”

Di luar jendela, awan mulai menipis. Laut terlihat dalam petak-petak gelap.

“Lalu hubungan pribadi ditempatkan di mana?” tanya Moni.

Saya memutar gelas perlahan di atas tatakannya.

“Hubungan pribadi dapat membuat kita bersedia mendengarkan lebih lama. Keputusan investasi tetap harus mempunyai dasar.”

Tidak lama kemudian, awak kabin memberi tahu bahwa pesawat mulai bersiap menuju Jakarta. Moni merapikan meja dan memasukkan laptop ke tas.

“Saya akan menyampaikan pembicaraan ini kepada tim.”

“Sampaikan juga bahwa penolakan pembiayaan dan pemeriksaan dugaan penyalahgunaan dana adalah dua pekerjaan berbeda. Jangan mencampurkannya.”

“Baik.”

Saya melihat lampu-lampu daratan mulai muncul di kejauhan.

“B…”

Saya menoleh. Moni belum beranjak dari kursinya, meskipun laptop dan seluruh catatannya telah disimpan. Matanya tampak basah dalam cahaya kabin yang mulai diredupkan.

“Ada apa?”

“Saya, Mia, Abigail, Carolina, Teresia, Suci, dan Lastri menganggap Anda ayah kami.”

Saya diam, membiarkannya melanjutkan.

“Kami kehilangan orang tua sejak kecil. Kami pernah hidup miskin, tanpa banyak pilihan. Saat anda menemukan kami, belum ada sesuatu yang membuat orang merasa perlu memperhatikan kami.”

Ia mengusap sudut matanya, lalu menarik napas.

“B memberi kami kesempatan belajar. Mendidik kami, menegur ketika kami salah, lalu mempercayakan pekerjaan yang bahkan belum berani kami bayangkan.”

“Dan kalian bekerja keras untuk sampai ke sana,” kata saya.

Moni mengangguk, tetapi air matanya kembali jatuh.

“Memang kami dibayar mahal. Tetapi uang bukan satu-satunya alasan kami bertahan. Ada kesetiaan dan rasa terima kasih yang rasanya tidak akan pernah cukup kami balas.”

Saya tersenyum pelan.

“Moni, kalian tidak berutang hidup kepada saya.”

Ia menatap saya.

“Kesempatan itu saya berikan. Tetapi kalian sendiri yang belajar, bekerja, dan menanggung sulitnya. Jangan kecilkan semua yang telah kalian lakukan.”

Bibirnya bergetar ketika berusaha tersenyum.

“Kalau kalian menganggap saya ayah, jangan jadikan hubungan itu beban. Kalian tetap boleh berbeda pendapat, menegur saya, dan memilih jalan hidup sendiri.”

Saya meletakkan kacamata baca di atas meja. Setelah pesawat kembali terbang tenang, saya melepaskan sabuk pengaman dan merentangkan tangan.

“Mari.”

Moni mendekat, lalu memeluk saya. Bahunya bergetar beberapa kali. Saya menepuk punggungnya perlahan dan membiarkannya menangis.

“Jaga kesehatan, B,” bisiknya. “Kami masih ingin lama bersama Anda.”

Saya mengangguk.

“Kalian juga. Jangan sampai terlalu sibuk mengurus perusahaan lalu lupa mengurus diri sendiri.”

Ketika ia melepaskan pelukan, saya menyodorkan tisu. Moni menerimanya sambil tertawa kecil, malu melihat bekas air mata pada bahu kaus saya.

“Maaf, B.”

“Tidak apa-apa.”

Ia kembali duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Di luar jendela, lampu-lampu Jakarta mulai terlihat. Beberapa saat kemudian, Moni menunjuk gelas air yang sejak tadi belum saya sentuh.

“Diminum dulu, B.”

Saya mengambil gelas itu. Kali ini, saya menurut. ” Kamu engga nginep di Jakarta? tanya saya.

” Tidak ” Jawab Moni. ” Sore hari ini dari Jakarta saya terbang ke Beijing. Dampingi bu Risa Chairman SIDC meeting dengan pemegang saham SIDC. “

” Itu 9 jam penerbangan. “

” Dengan private jet saya bisa tidur dan terus bekerja tanpa terganggu.” Kata Moni.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca