
Dua Karung Kopi. Batavia, 1922. Bau kopi telah mendahului kedatangan Raja Ahmad Zainuddin. Di halaman belakang sebuah rumah dagang di kawasan Glodok, karung-karung diturunkan dari pedati. Debu naik setiap kali muatan menyentuh lantai. Para pengangkut mengenakan pakaian yang telah menggelap oleh keringat; seorang di antaranya berhenti untuk membetulkan kain pelapis bahu sebelum kembali membungkuk.
Zainuddin berdiri di bawah emper. Hujan semalam meninggalkan air di sela batu halaman, tetapi menjelang siang panas telah kembali menekan atap genting. Dari jalan terdengar roda, derap kuda, dan panggilan penjual makanan dalam bahasa Melayu yang bercampur bunyi percakapan lain.

Ia berusia tiga puluh tahun, bertubuh ramping, dengan kulit yang menggelap oleh perjalanan laut. Jari telunjuk kanannya memiliki bekas luka tali kapal. Pendidikannya lebih panjang daripada kebanyakan pengumpul kopi yang berurusan dengannya: pelajaran mengaji dan tulisan Jawi di rumah, sekolah berbahasa Belanda yang dimungkinkan hubungan keluarga, kemudian pembukuan serta bahasa Inggris dari pekerjaan bersama saudagar di Singapura.
Gelar Raja di depan namanya berasal dari lingkungan keluarga Melayu-Minang Riau. Ia bukan putra sultan. Ayahnya, Raja Mahmud, telah lama berdagang; ibunya, Raja Halimah, mempunyai kerabat di Penyengat. Zainuddin tumbuh di antara cerita tentang balairung dan percakapan tentang harga muatan. Sesudah kekuasaan kesultanan berakhir, perdagangan menjadi penyangga keluarganya yang paling nyata.
“Muatan Abang bertambah lagi.” Seorang perempuan berdiri di samping timbangan. Kebayanya berwarna pucat, lengannya disingsingkan sedikit. Di tangan kirinya terdapat buku hitam; di tangan kanan, pensil yang telah pendek.

Tan Sioe Nio berusia dua puluh tahun. Ia lahir di Batavia dari seorang ayah pendatang Hokkien dan ibu peranakan yang keluarganya telah menetap lebih lama di Jawa. Bahasa Melayu adalah bahasa percakapannya sehari-hari. Ia memahami Hokkien dari ayahnya, mengenal sejumlah huruf Tionghoa, dan membaca surat dagang Belanda dengan bantuan kamus serta kesabaran yang sering melebihi kesabaran kedua kakak lelakinya.
“Kalau gudangmu tidak cukup,” kata Zainuddin, “ayahmu harus membeli rumah sebelah.”
“Untuk kopi Abang?”
“Untuk keuntungan kalian.”
Sioe Nio tersenyum, lalu menunjuk dua karung. “Pisahkan itu. Jangan rapatkan ke dinding. Besok dibuka.”
“Ada apa?” tanya Zainuddin.
Ia berjongkok, menyentuh bagian bawah sebuah karung, kemudian menunjukkan jarinya. “Lembap. Mungkin terkena air waktu dipindahkan dari kapal.”
Zainuddin ikut meraba. Ia tidak menyadarinya tadi. “Kau sekarang kepala gudang?”
“Kalau barang rusak, orang mencari aku. Kalau untung, mereka mencari Babah.”
Dari ruang depan terdengar suara lelaki menyahut, “Karena Babah yang membayar kerugiannya.”
Tan Eng Hwat muncul dengan kacamata bertengger rendah di hidung. Usianya menjelang enam puluh. Rambutnya menipis, tetapi langkahnya masih cepat. Di tangan kiri ia membawa sempoa; pada kukunya tampak noda tinta.
“Barang dibicarakan dulu,” katanya. “Sesudah itu kalian boleh menghitung jasa masing-masing.”
Sedikitnya tiga kali setahun Zainuddin datang ke Batavia. Kopinya dihimpun dari pemasok di Sumatra, sebagian berasal dari jaringan pengumpul di pedalaman Minangkabau, lalu dikirim melalui pelabuhan dan perantara antarpulau. Tempat asal komoditas itu tidak sama dengan tanah kelahirannya, dan tidak seluruh daerah penghasilnya pernah berada di bawah satu kesultanan.
Di Tanjung Priok, muatan melewati pemeriksaan, bongkar, dan pengangkutan ke gudang. Eng Hwat membeli kopi itu; Zainuddin membeli kain, benang, serta beberapa mesin jahit dari persediaan rumah dagang. Nilainya diperhitungkan dalam rekening. Selisih dibayar atau dibawa sebagai saldo ke pengiriman berikutnya.
Kain datang melalui beberapa pelabuhan, termasuk jaringan saudagar di Tiongkok dan Singapura. Pada badan mesin jahit masih tertera merek pabrik Eropa atau Amerika. Eng Hwat menjual barang yang dapat diperolehnya dengan mutu dan harga yang sesuai; asal-usul pembuatnya tidak selalu sama dengan asal-usul penjualnya.
Ketika angka-angka selesai diperiksa, Sioe Nio bertanya, “Apa rahasianya usaha Abang makin besar?”
“Menjaga hubungan. Dengan orang pelabuhan, saudagar, pejabat. Orang yang merasa mendapat bagian biasanya lebih mudah diajak bekerja.”
“Bagian karena bekerja atau karena dapat menahan pekerjaan orang?”
Zainuddin memandangnya.
Eng Hwat menutup buku besar. “Hati-hati menjawab. Anak ini suka mengingat perkataan orang.”
Meja yang Terang. Setelah sering bertemu dan saling berbicara perasaan salibg suka ada diantara Zainuddin dan Sioe Nio. Saat Zainuddin menawarkan mengajaknya makan malam, Sioe Nio tidak menolak. Bahkan menyambutnya dengan ceria. Malam itu Eng Hwat mengizinkan putrinya makan bersama Zainuddin di Hotel Des Indes. Seorang perempuan kerabat yang membantu rumah tangga ikut dalam perjalanan dan menunggu di bagian lain bersama kenalannya. Kepercayaan telah tumbuh dari hubungan dagang, tetapi keluarga itu masih menjaga kepantasan menurut ukuran mereka sendiri.
Sado bergerak ke selatan. Lampu memantul pada air Molenvliet yang gelap. Bau kanal sesekali naik bersama angin, bercampur asap masakan dan kotoran kuda. Mobil lewat meninggalkan dengung yang sebentar menenggelamkan bunyi tapal. Sioe Nio mengenakan kebaya gading dan kain batik. Sebuah tusuk rambut milik ibunya menahan sanggulnya. Zainuddin memakai jas putih yang membuatnya terus membetulkan kerah. “Tidak nyaman?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Tetapi tetap dipakai.”
“Supaya pantas.”
Sioe Nio melihat mansetnya, lalu menahan senyum.

Di ruang makan Des Indes, kain meja menutupi bekas-bekas penggunaan yang tidak boleh terlihat tamu. Peralatan makan berkilat. Para pelayan bergerak cepat, berhenti ketika dipanggil, dan menunggu ketika percakapan tamu belum selesai. Seorang saudagar Eropa mendekatkan gelas wiski ke bibir sambil mendengarkan kawannya.
Zainuddin telah beberapa kali makan di sana. Kemampuan berbahasa Belanda, pakaian, dan perkenalannya membuat pintu itu lebih mudah terbuka baginya. Ia mengetahui bahwa orang lain dengan warna kulit serupa belum tentu memperoleh sambutan yang sama.
“Tadi kau menanyakan bagian,” katanya setelah memesan makanan.
“Aku masih ingin tahu.”
“Ada ongkos resmi. Ada komisi. Ada hadiah untuk menjaga hubungan.”
“Kalau hadiahnya tidak ada?”
“Kadang barang menjadi lama keluar.”
“Walaupun semua surat lengkap?”
Zainuddin mengangguk.
Sioe Nio merapikan ujung kain di pangkuan. “Orang yang punya uang membeli waktu. Orang yang tidak punya uang menunggu.”
“Aku berdagang di dalam keadaan yang sudah ada.”
“Aku tahu. Babah juga begitu.”
“Kau menyalahkan ayahmu?”
“Aku menyayanginya. Karena itu aku tidak ingin semua yang ia lakukan harus aku sebut benar.”
Zainuddin memandangnya lebih sungguh-sungguh. “Ayahmu mengajari kau bicara seperti itu?”
“Ia mengajari aku memeriksa rekening. Rupanya kebiasaan itu terbawa.”
Ketika hidangan datang, mereka berhenti bicara. Di dekat pintu, seorang pelayan muda menahan baki terlalu lama sehingga lengannya bergetar. Sioe Nio menunggunya meletakkan piring sebelum kembali berbicara.
“Babah pernah berutang ongkos kapal,” katanya. “Waktu pertama meninggalkan kampung dekat Amoy.”
Eng Hwat tidak datang dengan peti penuh perak. Ia menumpang melalui jaringan kerabat dan perantara, bekerja untuk melunasi ongkos, kemudian menjadi pembantu toko sebelum membuka usaha kecil. Dalam ingatannya, laut selalu mempunyai dua wajah: jalan mencari hidup dan jalan yang dapat menjauhkan seseorang dari segala pertolongan.
“Tidak semua yang pergi dari Tiongkok dibawa dengan cara yang sama,” kata Sioe Nio. “Ada pedagang. Ada anak yang menyusul ayahnya. Ada orang yang ditipu perekrut. Babah mengenal lelaki yang dikirim ke kebun Deli dengan janji yang lain dari pekerjaan sesudah tiba.”
“Buruh kontrak.”
“Namanya begitu.”
Ia menatap kain meja. “Kalau kontraknya dibacakan setengah, utangnya bertambah, dan ia ditangkap ketika hendak pergi, seberapa jauh orang itu memilih?”
Zainuddin teringat istilah yang pernah dibacanya, poenale sanctie. Pelanggaran tertentu terhadap kontrak kerja dapat dibawa ke dalam hukuman pidana. Kata-kata di surat menjadi lebih kuat ketika di belakangnya berdiri polisi dan pemerintah.
“Mereka tentu tahu diperlakukan tidak adil,” katanya.
“Mengetahui belum tentu membuat orang sanggup melawan. Ada anak yang harus makan besok.”
Zainuddin mengangkat cangkir, tetapi tidak meminumnya. “Aku selalu mengira pangkalnya pendidikan.”
“Pendidikan perlu.”
“Agar orang dapat membaca perjanjian.”
“Orang yang menyusun perjanjian itu juga dapat membaca, Bang.”
Ia meletakkan kembali cangkirnya.
Sioe Nio tidak tersenyum. Ia sedang memikirkan cerita ayahnya tentang seseorang yang namanya tidak lagi diketahui, hanya asal kampung dan pekerjaannya. “Mereka perlu pengetahuan,” katanya. “Dan seseorang yang bersedia mendengar ketika pengetahuan itu membuat mereka berani mengadu.”
Malam itu, sepulang dari hotel, Zainuddin meminta Eng Hwat membuka rekening pengangkutannya sekali lagi. Ketika sampai pada sebuah baris bertuliskan ongkos lain-lain, ia berhenti.
“Ini dibayar kepada siapa, Bah?”
Eng Hwat menggeser lampu mendekat.
Serambi Penyengat. Kepulauan Riau, akhir 1922. Rumah Raja Abdullah menghadap halaman yang menurun ke arah jalan kecil. Hujan baru berhenti. Pada ujung tangga, air menetes dari daun pisang ke tempayan pecah yang dipakai menanam bunga. Paman Zainuddin itu duduk dengan baju Teluk Belanga dan kain yang lipatannya terjaga. Sebuah kitab berada di meja rendah, di samping tempat sirih kuningan. Ia pernah membantu pekerjaan administrasi lingkungan kerajaan. Sesudah sultan dimakzulkan dan pemerintahan langsung Belanda ditegakkan, ia mempertahankan tata cara menerima tamu, cara berpakaian, dan ketepatan bahasa sebagai bagian kehidupan yang masih dapat dijaganya.
Bagi Abdullah, kesultanan hidup dalam ingatan yang mempunyai suara: bacaan syair, langkah orang di serambi, dan pembicaraan yang mendadak merendah ketika seorang tua lewat.
Zainuddin mencium tangannya sebelum duduk. “Tiga puluh tahun usia kau,” kata Abdullah. “Berapa lama lagi kami harus menjawab pertanyaan keluarga Encik Hamid?”
“Aku belum berjanji kepada siapa pun, Paman.”
“Karena itu kami bertanya. Kau mampu. Jangan sampai mencari nafkah membuat kau terus menunda berumah tangga.”
Di rumah itu, paman mempunyai kewibawaan besar karena usia, pengetahuan, dan kedudukannya dalam keluarga. Hal tersebut tidak menjadikannya pemegang tunggal hak memilih jodoh menurut seluruh adat Melayu. Namun, keputusan yang berlawanan dengannya hampir selalu dianggap telah melukai kehormatan keluarga sebelum alasan keputusan itu sempat didengar.
“Perjalanan aku sering panjang,” jawab Zainuddin.
“Saudagar lain juga berlayar.”
Abdullah berhenti, lalu memandang ke arah laut yang hanya terlihat sedikit di sela rumah. “Aku dengar kau akrab dengan pegawai Belanda.”
“Aku berurusan dengan perusahaan dan pemerintah pelabuhan.”
“Sebelas tahun lalu mereka menurunkan sultan. Sekarang kau makan bersama mereka.”
Zainuddin merasakan ketegangan masuk ke tengkuknya. “Menolak makan bersama tidak membebaskan muatan aku dari bea mereka.”
“Jangan samakan kehormatan dengan ongkos kapal.”
“Aku tidak bermaksud begitu.”
Ia berhenti. Ia tahu bagaimana paman itu menerima kabar tahun 1911, bagaimana beberapa kerabat kemudian menyeberang ke Singapura, dan bagaimana keluarga mereka tak pernah lagi menyebut kepulangan dengan kepastian yang sama.
“Tetapi kita juga harus memeriksa kesalahan sendiri,” katanya. “Perselisihan para pembesar membuat campur tangan orang luar lebih mudah. Sebagian keluarga terus memelihara kebesaran hidup ketika penghasilan menyusut.”
Wajah Abdullah mengeras. “Kau hendak mengatakan istana hanya berisi orang rakus?”
“Tidak.”
“Di Penyengat ada guru, pengarang, orang yang mencetak buku. Ada yang menolak tunduk. Sultan terakhir justru kehilangan kedudukan karena tidak bersedia menerima seluruh kehendak Belanda.”
Zainuddin terdiam.
“Dari mana bahasa dalam surat dagangmu itu datang?” lanjut pamannya. “Dari mana kitab dan tulisan yang mengajarimu memeriksa benar dan salah?”
Ia teringat halaman Jawi yang dituntunnya dengan jari semasa kecil. Tradisi ilmu Riau bukan sesuatu di luar dirinya. Keberanian untuk menggugat pun tumbuh dari pelajaran yang diwariskan dunia itu.
“Paman benar. Aku tidak patut menyamaratakan.”
Abdullah mengendurkan tangannya.
“Tetapi,” lanjut Zainuddin, “kalau orang berkuasa hidup berlebihan, apakah menyebutnya tetap dianggap menghina agama?”
“Tidak, kalau yang kau persoalkan perbuatannya.”
“Itu yang aku maksud. Kita diajari kesederhanaan Rasulullah dan tanggung jawab para khalifah. Aku ingin pelajaran itu berlaku juga bagi orang besar.”
Pamannya memandangnya lama. “Jagalah cara kau berkata. Ada orang menegur karena hendak memperbaiki. Ada pula yang hanya hendak menang.”
Zainuddin menunduk. Ia mengenali kemungkinan yang kedua dalam dirinya.
Kemudian mereka berbicara tentang Sarekat Islam.
“Orang-orang berhimpun,” kata Abdullah. “Pedagang kecil tidak lagi berdiri sendiri. Agama membuat orang berbeda kampung merasa wajib saling membantu.”
“Aku khawatir orang miskin hanya memperbesar suara saudagar yang memimpin mereka.”
“Sebagian pemimpin dapat mementingkan diri. Tetapi gerakannya sudah lebih luas daripada pedagang batik. Ada orang kecil yang memperoleh keberanian karena mempunyai kawan.”
“Lalu bagaimana memastikan suara mereka tetap didengar?”
“Dengan ikut menjaganya. Bukan dengan menganggap semuanya pasti akan berkhianat.”
Abdullah mengambil teh yang mulai dingin. “Kau sendiri saudagar. Siapa yang menjaga orang-orangmu dari kesewenang-wenanganmu?”
Pertanyaan itu tidak disampaikan keras. Justru karena itu Zainuddin tidak dapat menghindarinya.
Beberapa minggu sesudah pertemuan tersebut, ia mulai membayar seorang guru untuk memberi pelajaran membaca kepada beberapa pekerja gudangnya. Jam belajar diambil dari waktu kerja, tanpa potongan upah. Murid pertama datang dengan pakaian terbaiknya, seakan pelajaran malam itu sebuah undangan ke rumah orang besar. Zainuddin merasa malu melihat kegembiraan yang seharusnya sejak lama dapat ia usahakan.
Surat-Surat yang Disimpan. Batavia dan Kepulauan Riau, 1923–1927. Kedekatan mereka tumbuh tanpa pernyataan yang langsung dapat diberi tanggal. Zainuddin mulai mengingat buku yang belum selesai dibaca Sioe Nio. Sioe Nio menyisihkan berita pelayaran untuk diperlihatkan ketika ia datang. Dalam rekening ada catatan yang memang mengenai barang; pada kertas lain ada pertanyaan tentang hujan, kesehatan, dan apakah seseorang telah cukup tidur.
Surat-surat itu disimpan Sioe Nio dalam kotak jahit ibunya. Oei Kim Nio, ibunya, meninggal ketika ia masih belasan tahun. Dari perempuan itu ia menerima bahasa Melayu yang lembut, cara memilih kain, serta kebiasaan menyiapkan teh pada pagi peringatan kematian orang tua. Di rumah mereka, penghormatan leluhur, doa, dan kebiasaan keluarga hadir bersama tanpa selalu dipisahkan menurut nama-nama agama yang tegas. Eng Hwat menyebut kampung leluhurnya dengan kerinduan. Sioe Nio merindukan halaman rumah tempat ia sendiri dibesarkan. Keduanya sama-sama Tionghoa, tetapi tanah yang muncul dalam ingatan mereka tidak sepenuhnya sama.
Suatu petang, hujan menahan mereka di kedai dekat Molenvliet. Meja berada agak jauh dari pintu; Sioe Nio tetap dapat melihat siapa yang masuk.
“Ada yang mengganggumu?” tanya Zainuddin.
Ia membuka lipatan saputangan. “Seorang pembeli mengatakan orang Tionghoa kepanjangan tangan Belanda.”
“Di depan ayahmu?”
“Babah bertanya kain mana yang hendak dibelinya.”
Di Hindia, asal-usul bukan hanya perkara nama keluarga. Pemerintah membedakan penduduk dalam kategori hukum dan administrasi. Kedekatan dengan penguasa membuka kesempatan tertentu, sementara pembatasan dan prasangka juga mengikuti orang-orang yang ditempatkan dalam kategori itu. Keuntungan seorang pemegang hak atau perantara kaya mudah terlihat; kehidupan pembantu toko dan buruh Tionghoa lebih jarang dipakai orang untuk membayangkan seluruh kelompoknya.
“Ada pengusaha yang memperoleh hak istimewa,” kata Zainuddin. “Tetapi rumah dagang ayahmu tidak dapat disamakan dengan semuanya.”
“Dan bukan berarti semua yang berdagang dengan baik pasti bersih.”
“Aku tahu.”
“Aku ingin Abang membela kami dengan benar. Jangan karena menyukai aku lalu menganggap orang kami tidak pernah bersalah.”
Zainuddin memandang air hujan di kaca. “Aku juga sedang belajar membedakan sebab kemarahan dan sasaran kemarahan. Orang dapat benar ketika menentang penindasan, lalu berbuat salah ketika menghukum orang lain karena keturunannya.”
Sioe Nio mengangguk. Setelah itu ia bertanya tentang calon istri yang disiapkan keluarga Zainuddin. “Mereka masih menunggu,” jawabnya.
“Lalu aku sedang menunggu apa?”
Pertanyaan itu membuatnya menoleh.
Sioe Nio merapatkan tangan di pangkuan. “Aku sudah mendengar bagaimana sebagian orang menyebut kepercayaan keluarga kami. Mereka mengatakan kami tidak beragama.”
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Tetapi keluargamu?”
Zainuddin tidak segera menjawab.
Keberatan itu sungguh ada. Dalam pemahaman Islam yang dipegang keluarganya, kepercayaan Sioe Nio tidak termasuk kategori Ahli Kitab yang dibicarakan dalam ketentuan perkawinan. Persoalannya tidak dapat diterangkan hanya dengan daftar nabi yang dikenal anak-anak sewaktu mengaji. Namun, percakapan sehari-hari sering menyederhanakannya sampai keyakinan orang lain dianggap sama sekali tidak ada.
“Mereka mempunyai keberatan agama,” katanya akhirnya.
“Kalau demikian, bicarakan keberatan itu. Jangan hapus kehidupan ibu aku untuk memudahkannya.”
Ia menunduk.
“Aku akan bicara dengan ayahmu.”
“Dan dengan aku.”
“Ya.”
“Bukan hanya tentang bagaimana aku diterima keluargamu. Tentang rumah seperti apa yang dapat kita bangun.”
Pertanyaan Seorang Ayah. Eng Hwat menerima Zainuddin sesudah toko ditutup. Di bawah lampu, noda tinta pada meja tampak seperti pulau-pulau kecil. Dari belakang terdengar para pekerja merapikan peti. Lelaki tua itu menunggu tanpa mengulurkan pertanyaan.
“Aku mencintai Sioe Nio,” kata Zainuddin. “Aku ingin menikahinya.”
Eng Hwat melepas kacamata. “Apa yang sudah kaujanjikan?”
“Aku ingin datang dengan baik.”
“Itu niatmu. Apa yang dapat kau lakukan?”
Zainuddin menggenggam topinya. “Aku mempunyai penghasilan. Tempat tinggal dapat aku sediakan.”
“Aku tidak sedang mencari orang yang dapat membayar makan anakku.”
Lelaki itu memandang pintu. Ia membiarkan putrinya mengurus rekening ketika beberapa kerabat menganggap anak perempuan cukup mengetahui pekerjaan rumah. Kedua putranya tetap ia harapkan meneruskan nama keluarga, tetapi dari tahun ke tahun justru Sioe Nio yang paling memahami perputaran usahanya. Ia belum dapat melepaskan seluruh ukuran lama, meskipun pekerjaannya sendiri terus membuktikan bahwa ukuran itu tidak cukup.
“Di keluargaku, perkawinan sering dibicarakan orang tua dahulu,” katanya. “Di keluargamu juga begitu?”
“Paman aku sangat menentukan.”
“Dan kau hendak melawannya.”
“Aku hendak memilih.”
Eng Hwat memandangnya tajam. “Pastikan kau memang memilih anakku. Jangan hanya menikmati perasaan menjadi lelaki yang berani menentang keluarga.”
Zainuddin menahan jawaban yang hampir keluar.
“Bagaimana kalau ibumu menangis?” lanjut Eng Hwat. “Bagaimana kalau pelanggan dari kerabatmu berhenti membeli? Bagaimana kalau nanti mereka menawarkan perempuan lain dan mengatakan semua akan damai jika kau menerima?”
“Aku tidak berniat meninggalkannya.”
“Aku ingin kau tahu keadaan yang dapat membuat niat berubah.”
Lelaki tua itu meletakkan kacamatanya di atas buku. “Jangan suatu hari kau berkata kepada Sioe Nio bahwa ia harus mengalah karena ia lebih mengerti dirimu. Jangan memakai kebaikannya untuk memintanya menanggung segala kerugian.”
Zainuddin menatap bekas tinta pada tangannya sendiri. “Apa yang Babah minta?”
“Bicaralah dengan keluargamu. Selesaikan pertanyaan agama bersama anakku, tanpa menjadikan ucapannya harga untuk memperoleh perkawinan. Dan beri dia kesempatan menolak.”
“Kalau setelah semua itu ia menolak?”
Eng Hwat mengangkat wajah. “Dengarkan.”
Rumah yang Menahan Napas. Penyengat, 1928. Ibunya belum menyentuh kain pemberian Zainuddin ketika ia selesai menyampaikan rencananya. Raja Halimah duduk di dekat jendela. Usianya telah melewati lima puluh. Ia menyimpan kepandaiannya dalam pekerjaan yang jarang disebut pengetahuan: mengatur belanja ketika penghasilan turun, mengetahui pertengkaran sebelum suara meninggi, mengingat siapa yang tidak boleh ditempatkan bersebelahan dalam jamuan.
“Mengapa perempuan Tionghoa?” tanyanya. “Tidak adakah perempuan Melayu?”
“Aku memilih Sioe Nio, Bunda.”
“Itu yang Bunda takutkan. Kau sudah memilih sebelum meminta kami memikirkan.”
Zainuddin menunduk.
“Jangan sampai ayahmu mendengar dari orang lain. Ia harus berhadapan dengan pamanmu. Orang akan mengatakan kami tidak mampu mendidik anak.”
“Mengapa kehidupan aku harus menjadi jawaban atas semua perkataan orang?”
“Karena kau dibesarkan bersama mereka.”
Di luar, daun kelapa bergerak dalam angin. Halimah menarik ujung selendang ke bahu.
“Aku menghormati keluarga,” kata Zainuddin. “Tetapi aku juga harus menggunakan akal aku. Agama meminta manusia berpikir.”
“Berpikirlah. Jangan mengira setiap keinginanmu sudah menjadi ijtihad.”
Ia mengangkat wajah, lalu menunduk lagi. “Aku tidak mengaku mampu menetapkan semua hukum.”
“Bagaimana kalian akan menikah?”
Zainuddin menarik napas. “Sioe Nio sudah beberapa waktu belajar Islam. Bukan hanya kepada aku. Ia berbicara dengan seorang perempuan yang mengajarinya membaca dan memahami dasar-dasarnya. Aku tidak menjanjikan bahwa sesudah itu keluarga akan menerimanya.”
Halimah memandangnya lebih sungguh-sungguh. “Apakah dia percaya atau takut kehilangan kau?”
“Itu pertanyaan yang juga aku ajukan kepadanya.”
“Dan jawabannya?”
“Ia meminta aku tidak menjawab atas namanya.”
Halimah terdiam.
Beberapa bulan sebelumnya, Sioe Nio mengatakan bahwa ia hendak mempelajari agama Zainuddin dengan lebih teratur. Ia telah bertahun-tahun melihat ibadah dan mendengar pembicaraan tentangnya melalui teman serta kenalan dagang. Kedekatannya dengan Zainuddin membuat pertanyaan itu mendesak, tetapi ia tidak ingin belajar hanya untuk menghafal syarat menjadi istri.
“Kalau kita tidak jadi menikah,” pernah ditanyakannya kepada perempuan yang mengajarinya, “bagaimana aku mengetahui bahwa pilihan aku sungguh pilihan sendiri?” Perempuan itu menyuruhnya memberi waktu kepada dirinya. Pertanyaan tentang Tuhan tidak perlu diselesaikan mengikuti jadwal kapal seorang saudagar.
Sioe Nio menjalani waktu itu dengan tenang pada beberapa hari dan dengan tangis pada hari lain. Ia memikirkan ibunya, rumah sembahyang, serta apa yang kelak dapat dan tidak dapat dilakukannya. Zainuddin belajar mendengar tanpa segera mengubah kegelisahan perempuan itu menjadi kabar baik bagi rencana mereka.
Kini, di hadapan ibunya sendiri, ia mulai memahami bahwa bahkan persoalan agama yang dijalani dengan sungguh-sungguh belum tentu menghapus keberatan tentang darah dan martabat.
“Andaikan ia sudah menjadi Muslim,” tanyanya, “apakah Bunda dapat menerimanya?”
Halimah memandang kain di dalam peti. “Cara hidupnya berbeda.”
“Dapat kami pelajari.”
“Keluarganya berbeda.”
“Aku ingin mengenal mereka.”
“Kau membuat semuanya terdengar mudah.”
“Aku justru datang karena tahu ini sukar.”
Halimah mengangkat sehelai kain, lalu meletakkannya kembali. Air matanya jatuh tanpa isak. Zainuddin berpindah duduk dan menyentuh tangan ibunya. Ia tidak memperoleh restu sore itu.
Sebelum Orang Mengucapkan Ikrar. Tanjungpinang, Oktober 1928. Di kedai dekat pelabuhan, Hasan dan Idris membentangkan surat perjalanan. Keduanya lebih muda daripada Zainuddin. Mereka hendak datang sebagai pengunjung kongres pemuda di Batavia, bukan sebagai orang yang telah mengetahui hasilnya.
Angin mengangkat ujung kertas. Hasan menindihnya dengan gelas. “Perkumpulan dari banyak daerah akan bertemu,” katanya. “Kita tidak dapat terus menyebut kepentingan kampung sendiri.”
“Aku setuju,” jawab Zainuddin.
“Tetapi?”
Ia tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.
““Aku ingin tahu apakah kita sanggup menerima orang yang berbeda setelah pulang dari rapat. Apakah kita mampu bekerja sama dengan orang asing atas dasar kemanusiaan, tanpa lebih dahulu mencurigai asal-usulnya?
Bukankah kebangsaan adalah gagasan politik yang kita bangun untuk mengatur kehidupan bersama? Sementara manusia dilahirkan sebelum ia mengenal batas negeri, bendera, atau golongan. Di mana pun ia hidup, martabatnya sama di hadapan Tuhan.
Yang perlu kita periksa ialah cara berpikir kita sendiri. Apakah pengetahuan membuat kita semakin adil, atau hanya semakin pandai membenarkan kepentingan golongan? Orang yang tercerahkan seharusnya mampu melihat penderitaan manusia, sekalipun manusia itu datang dari negeri yang berbeda.”
Hasan menatapnya. Ia telah mendengar tentang Sioe Nio. “Pengalamanmu penting. Tetapi jangan menjadikan semua perjuangan bersalah karena keluargamu menolak perkawinan.”
“Aku sedang mencoba memeriksa diri juga.”
Di dermaga, buruh memindahkan peti. Salah seorang berseru agar temannya tidak menarik tali terlalu cepat. “Kalau kita bersatu hanya karena mempunyai musuh yang sama,” kata Zainuddin, “apa yang akan menjaga kita setelah musuh itu pergi?”
“Kehendak menjadi bangsa,” jawab Idris.
“Dan apakah kehendak itu menyediakan tempat bagi orang yang tidak serupa dengan kita?”
“Harus.”
“Bagaimana memastikan kata harus itu berlaku ketika kita sendiri tidak nyaman?”
Hasan melipat selembar surat. “Dengan hukum. Dengan pendidikan. Dengan kebiasaan berunding. Kita perlu mengusahakan semuanya.”
Zainuddin mengangguk. “Aku takut orang terlalu percaya pergantian pemerintahan akan mengubah nasib dengan sendirinya.”
“Pemerintahan memang menentukan nasib,” jawab Hasan. “Siapa boleh bersekolah, bagaimana pajak dipungut, siapa mendapat perlindungan. Kita tidak dapat menyuruh orang yang ditindas hanya memperbaiki hati.”
“Benar. Tetapi aku juga takut kita membawa kebiasaan istana ke pemerintahan yang baru. Orang berkuasa menganggap bantahan sebagai penghinaan. Lambang yang seharusnya menyatukan kemudian dipakai menyuruh orang diam.”
Idris memandangnya. “Jadi apa yang harus kami katakan di sana?”
“Katakan yang kalian percayai. Dengarkan yang belum kalian pahami.”
Hasan mendorong catatan ongkos ke hadapannya. “Dan kau bantu kami membeli tiket.”
Zainuddin tertawa. Ia membaca perincian itu sebelum mengambil pensil.
Beberapa minggu kemudian, kabar tentang putusan kongres tiba melalui surat dan surat kabar. Para pemuda telah mengakui satu tanah air dan satu bangsa, serta menjunjung bahasa persatuan. Zainuddin membacanya perlahan, lalu menyisihkan lembar itu untuk dibawa kepada Sioe Nio.
“Maukah kau menikah denganku dan hijrah ke Singapura?” tanya Zainuddin.
Sioe Nio menunduk lama sebelum akhirnya menatapnya. “Abang, aku dibesarkan dalam tradisi keluarga yang mengajarkan bahwa seorang perempuan harus setia kepada suaminya, mendampinginya dalam keadaan apa pun, dan mengikutinya ke mana ia pergi.”
Ia berhenti sejenak. “Tetapi mengapa kita harus hijrah ke Singapura?”
Zainuddin terdiam. Perempuan di hadapannya cerdas dan berani bertanya. Ia tidak ingin menjawab hanya dengan meminta kepercayaan.
“Berkeluarga berarti memikirkan masa depan, termasuk kehidupan anak-anak kita kelak. Aku tidak ingin anak dan cucuku tumbuh dalam tradisi yang membatasi kesempatan mereka untuk berkembang. Singapura memang masih koloni Inggris. Di sana pun ada ketidakadilan dan perbedaan kedudukan. Tetapi berbagai kaum hidup dan berdagang di sana. Aku melihat kesempatan bagi kita untuk membangun kehidupan melalui kecakapan, kepercayaan, dan kerja keras, tanpa terlalu bergantung pada nama keluarga.”
“Abang tahu hidup di sana akan keras dan penuh persaingan?”
“Ya. Aku sadar. Aku ingin kita belajar menghadapinya dan membesarkan anak-anak yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.”
Sioe Nio mengangguk.
“Tetapi aku tidak ingin hanya menjadi tanggungan Abang. Kalau Abang pergi berdagang ke Batavia, aku akan tetap bekerja dan mengurus usaha kita. Aku ingin ikut membangun kehidupan ini, bukan sekadar menanti Abang pulang.”
“Tentu,” jawab Zainuddin. “Aku ingin kau menjadi teman hidupku, ikut menentukan arah rumah tangga kita. Kelak, kita besarkan anak-anak yang berani berpikir dan memilih, tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain.”
Ia ingin percaya bahwa suatu hari anak-anak mereka tidak perlu meninggalkan rumah hanya agar nama ayah dan ibunya dapat disebut dalam satu kalimat tanpa membuat orang lain gelisah.
***
Keberangkatan. Batavia dan Penyengat, akhir 1928. Singapura telah dibicarakan sejak lama. Di sana Zainuddin mengenal beberapa pemasok; Eng Hwat mempunyai kenalan yang dapat memberi alamat rumah sewa. Kota pelabuhan itu menawarkan jaringan kerja dan jarak dari tekanan kerabat.
Namun mereka tidak menganggapnya tanah tanpa penguasa. Bendera Inggris berkibar di sana. Ada hukum, perbedaan kedudukan, kemiskinan, dan kepentingan perusahaan. Mereka akan berpindah dari satu wilayah kolonial ke wilayah kolonial lain.
Suatu petang, Sioe Nio berkata, “Aku sudah memutuskan keyakinan aku.”
Zainuddin menatapnya.
“Jangan mengatakan terima kasih,” lanjutnya cepat. “Aku tidak ingin kepercayaan aku menjadi hadiah untuk Abang.”
Ia mengangguk.
Keputusan Sioe Nio untuk memeluk Islam ditempuh sesudah masa belajar dan pertimbangan yang panjang. Ia tidak menganggap seluruh pertanyaannya selesai. Ia tetap memakai nama yang diberikan orang tuanya, dan menolak anggapan bahwa menjadi Muslim harus berarti mengingkari keturunan atau berhenti menyayangi ayahnya.
Mereka kemudian meminta keterangan tentang perkawinan kepada orang yang memahami urusan agama dan pencatatannya. Perpindahan ke Singapura tidak mereka perlakukan sebagai cara menghapus syarat-syarat itu. Mereka menyiapkan pernikahan Muslim. Tetapi keluarga Zainuddin tetap menolak. Raja Mahmud tidak berteriak. Ia duduk di ruang depan dan menyuruh putranya mengulang rencana itu sampai selesai. “Ayah sudah menyediakan jalan yang baik untuk kau.”
“Aku tahu.”
“Dan kau memilih jalan ini.”
“Ya, Ayah.”
Keheningan berikutnya terasa panjang.
“Kalau diteruskan, jangan membawa nama keluarga untuk meminta pertolongan. Urusan dagangmu harus kaupisahkan dari kami.”
Zainuddin menunduk. Ia telah menyiapkan diri menghadapi kemarahan; nada datar itu justru membuatnya sukar bernapas. “Aku tetap anak Ayah.”
Raja Mahmud memandang ke luar. “Kau sudah cukup dewasa menentukan hidup sendiri.”
Mereka menyelesaikan pemisahan rekening dan barang dengan ketelitian yang menyakitkan. Setiap angka terasa seperti bagian dari hubungan yang harus diberi batas baru. Zainuddin membawa modal yang menjadi haknya sendiri, tabungan, dan piutang yang masih dapat ditagih. Ia tidak membawa seluruh kemakmuran yang selama ini dilekatkan orang pada namanya.
Sebelum berangkat meninggalkan Riau, ia menemui ibunya. Halimah menyerahkan bungkusan kain. Di dalamnya ada sarung dan sajadah yang pernah diperbaikinya pada bagian tepi.
“Bunda tidak dapat datang,” katanya. Zainuddin sadar. Ibunya sama dengan wanita melayu lainnya. Patuh kepada suami. Walau dia sangat ingin menghadiri pernikahan putranya, dia harus pendam keinginan itu.
“Aku mengerti.”
“Jangan katakan kau mengerti semuanya.”
Zainuddin terdiam, lalu mencium tangannya lebih lama daripada biasa. Saat ia bangkit, ibunya merapikan kerah bajunya. Gerakan itu telah dilakukan sejak ia kecil. Kali ini Halimah mengulanginya dua kali, seolah ada sesuatu yang terus tidak pada tempatnya.
“Kalau sakit, berkabar,” katanya.
Zainuddin mengangguk, tidak percaya suaranya sendiri.
Di perahu menuju Tanjungpinang, ia memandang Penyengat sampai rumah-rumah melebur dengan pepohonan. Ia dapat membayangkan halaman ibunya tanpa perlu melihatnya: bangku rendah, tempayan, dan bayang daun pada dinding sore hari. Ia telah memilih pergi. Tubuhnya tetap condong ke arah pulau.
Di Batavia, Sioe Nio merapikan meja pembukuan untuk terakhir kali. Ia memberi tanda pada surat yang belum dijawab dan mengajari kakak sulungnya letak pesanan yang harus didahulukan.
“Jangan ditaruh dekat jendela,” katanya sambil memindahkan buku. “Kalau hujan dari utara, air masuk.”
Kakaknya mengangguk tanpa menggoda seperti biasa.
Malam terakhir, Eng Hwat memanggilnya. Sebuah alamat dan sempoa kecil terletak di meja.
“Kenalan kita di Telok Ayer,” katanya. “Ia tahu tempat sewa. Bayar sendiri kalau mampu. Jangan datang dengan menganggap hubungan ayahmu berarti semuanya boleh diminta.”
Sioe Nio mengangguk. “Babah marah?”
Eng Hwat memandang sempoa itu. “Aku belum tahu bagaimana menyebutnya.”
Ia dibesarkan untuk percaya bahwa putra meneruskan keluarga dan putri akhirnya mengikuti rumah lain. Dua putranya masih ada. Rumah dagang akan tetap berjalan. Berkali-kali ia memakai pemikiran itu untuk menenteramkan diri. Namun ia telah memindahkan sebuah buku ke meja Sioe Nio sore tadi, lupa bahwa sebentar lagi tidak ada orang yang membukanya di sana.
“Babah mau datang?”
Lelaki itu menggeleng setelah menunggu terlalu lama.
Sioe Nio menunduk. Ia tidak memaksanya.
“Aku tetap akan menulis surat.”
“Tulis alamat yang jelas.”
Eng Hwat mendorong sempoa kecil ke hadapannya.
“Bawa ini. Yang besar terlalu berat.”
Sioe Nio menerimanya dengan kedua tangan.
Ayahnya bangkit dan masuk ke kamar. Ketika kembali, ia membawa sebuah kotak kecil, lalu meletakkannya di atas meja. “Bawalah. Ini uangmu.”
Sioe Nio mundur selangkah.
“Ayah…”
“Ini bukan pemberian,” kata Eng Hwat. “Ini upahmu selama membantu di rumah dagang.”
Sioe Nio memandang kotak itu, tetapi belum menyentuhnya.
“Gunakan untuk bertahan hidup di Singapura,” lanjut ayahnya. “Pegang sendiri. Kalau ada kesulitan, kau tidak perlu menunggu orang lain menolongmu.”
“Aku membantu karena ini rumah kita, Ayah.”
Eng Hwat menunduk, membetulkan letak kotak yang sebenarnya sudah lurus. “Dan selama ini, kau juga bekerja.”
Sioe Nio mengulurkan tangan. Ketika jemarinya menyentuh kotak itu, air matanya jatuh.
“Terima kasih, Ayah.”
Eng Hwat mengangguk tanpa menatapnya. “Simpan baik-baik. Jangan sampai tertinggal.”
***
Pagi keberangkatan, Eng Hwat tidak ikut ke pelabuhan. Ia berdiri di balik pintu ketika putrinya memeluknya. Tangannya terangkat lambat, kemudian menetap di punggung anak itu. “Jaga badan,” katanya. Sioe Nio menunggu kalimat lain. Ketika tidak ada, ia melepaskan pelukan dan membungkuk.
Di Tanjung Priok, Zainuddin telah menunggu bersama peti barang. Surat terakhir ayahnya berada di saku dalam jas. Ia telah membacanya berkali-kali dan tidak memperoleh arti yang lebih ringan. Sioe Nio memandang wajahnya. “Masih boleh sedih,” katanya. Zainuddin menoleh. “Aku kira aku harus membuatmu merasa berani.”
“Aku lebih takut kalau Abang berpura-pura tidak kehilangan apa-apa.”
Ia mengambil pegangan peti yang lebih berat. Zainuddin membantunya dari sisi lain.
Sesudah kapal meninggalkan dermaga, Sioe Nio berdiri memegang pagar. Gudang dan tiang-tiang perlahan menjauh. Ia teringat suara ayahnya memanggil dari ruang depan, bau teh ibunya, dan kursi yang akan kosong di samping meja besar. Zainuddin berdiri tidak jauh, memberi tempat bagi kesedihan yang tidak dapat ia ringankan dengan janji. Ketika angin mulai dingin, ia menyampirkan selendang ke bahu Sioe Nio. “Besok kita periksa lagi daftar barang,” katanya pelan.
Perempuan itu mengangguk sambil mengusap pipi.
“Dua peti kain jangan sampai tertukar.”
“Tidak akan.”
Mereka tetap di geladak sampai daratan tidak lagi dapat dibedakan dari warna petang. Sesudahnya, Sioe Nio melipat selendang lebih rapat dan berjalan ke tangga lebih dahulu.
Kedai di Telok Ayer. Singapura, awal 1929. Secara administratif, Singapura merupakan bagian dari Straits Settlements (Negeri-Negeri Selat), koloni Inggris yang juga mencakup Penang dan Malaka. Di pelabuhan, derek bergerak di atas muatan, kapal kecil membawa orang dan barang, dan teriakan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain. Bau arang menempel pada udara asin. Zainuddin mengenali kesibukan yang pernah dikunjunginya sebagai saudagar, tetapi kali ini ia tidak membawa kepastian tanggal pulang.
Mereka mula-mula tinggal terpisah di tempat kenalan sambil menyelesaikan keperluan pernikahan dan rumah sewa. Sioe Nio ditemani seorang perempuan tua yang mengenal Eng Hwat; Zainuddin menumpang di ruang atas kedai pemasok.
Pernikahan berlangsung sederhana, dengan pertolongan orang yang berwenang menangani akad, pengaturan wali yang sesuai bagi keadaan Sioe Nio, saksi, dan mahar yang telah disepakati. Persetujuannya ditanyakan langsung. Tidak ada keluarga Zainuddin di ruangan itu. Eng Hwat tidak hadir. Ketika namanya disebut, Sioe Nio menjawab jelas. Sesudah selesai, ia memandang kursi-kursi yang ditempati orang baik yang baru dikenalnya. Ia bersyukur kepada mereka, dan kesyukuran itu tidak mengurangi rindunya kepada ayah.
Di tempat tinggal mereka, Zainuddin meletakkan segelas air di sampingnya. Sioe Nio masih mengenakan pakaian pernikahan ketika mulai menangis. “Ada yang kau sesali?” tanyanya hati-hati.
Ia menggeleng.
“Aku ingin Babah melihat aku tadi.”
Zainuddin duduk di dekatnya. Di luar, roda kereta barang melintas. Ia teringat tangan ibunya pada kerah baju. Mereka membiarkan sore berlalu tanpa memaksa kesedihan itu menjadi pelajaran.
Rumah toko yang mereka sewa berada di sebuah jalan dekat Telok Ayer. Bagian bawahnya memanjang ke belakang, dengan pintu kayu berlipat dan ruang terbuka kecil untuk cahaya. Tangga menuju lantai atas berderit pada anak ketiga. Ketika hujan deras, sebuah baskom harus diletakkan dekat dinding belakang.
Telok Ayer telah berubah dari tepian air masa awal permukiman; reklamasi menjauhkan garis pantai dari jalan lama. Namun jaringan saudagar dan rumah ibadah tetap memberi kawasan itu wataknya. Di antara kegiatan dagang, orang datang ke kelenteng, masjid, dan tempat ibadah lain dengan keperluan yang tidak semuanya dapat dibaca orang yang berpapasan dengannya.
Sioe Nio sesekali berhenti mendengar Hokkien yang melintas dari toko sebelah. Zainuddin mencari kabar kapal dari Riau. Mereka mulai mengetahui pedagang mana yang mengirim barang tepat waktu, penjual makanan mana yang bersih, dan tetangga mana yang bersedia menerima titipan surat.
Di meja, gulden peninggalan urusan Hindia dipisahkan dari dolar Selat yang dipakai membayar sewa dan membeli kebutuhan setempat. Zainuddin memeriksa nilai tukar sebelum menutup rekening. Perpindahan rumah juga berarti belajar berhitung dalam kebiasaan baru.
Mereka menjual kopi, kain, benang, dan perlengkapan jahit. Persediaan belum banyak. Zainuddin mengurus pemasok dan pengangkutan; Sioe Nio memegang buku serta menumbuhkan pelanggannya sendiri.
Pada hari ketiga, seorang pembeli terus bertanya kepada Zainuddin meskipun Sioe Nio telah membuka kain di hadapannya.
“Untuk pesanan ini, bicaralah dengan istri aku,” katanya.
Sioe Nio menyebut harga dan menjelaskan perbedaan mutu. Setelah pembeli pergi, ia memeriksa catatan sekali lagi. “Apa ada yang salah?” tanya Zainuddin.
“Tidak. Aku hanya senang dipercaya.”
Malam hari, mereka menghitung penerimaan di meja makan. Sewa, pengangkutan, makan, dan cadangan barang menghabiskan bagian besar uang. Keuntungan pertama lebih kecil daripada satu jamuan yang dahulu pernah dibayar Zainuddin di Batavia. Ia menatap jumlahnya agak lama.
“Cukup untuk mulai,” kata Sioe Nio.
Di samping buku kas terletak dua surat. Sioe Nio menulis kepada ayahnya bahwa atap mereka bocor sedikit, tetapi pemilik rumah sudah dipanggil. Ia tidak hendak membuat lelaki tua itu cemas; ia juga tidak ingin mengarang kehidupan yang selalu menyenangkan.
Zainuddin menulis kepada ibunya. Bunda, kami sudah membuka kedai. Sarung pemberian Bunda aku pakai ketika sembahyang. Sioe Nio menitip salam. Aku berharap Bunda sehat. Ia membaca nama istrinya, lalu membiarkannya tetap di sana.
Dari bawah terdengar ketukan pada daun pintu yang belum ditutup seluruhnya. Sioe Nio bangkit. Pada anak tangga ketiga, kayu berderit seperti biasa. Ia menyalakan lampu di dekat timbangan dan menggeser sebuah karung agar jalan masuk lebih lapang.
“Masih buka?” tanya seseorang dari lorong. Ia melihat ke atas. Zainuddin sedang menuruni tangga dengan buku pesanan di tangan.
“Masih,” jawabnya.
Rumah yang Mereka Bangun. Pada musim hujan kedua sejak mereka menetap di Singapura, atap rumah toko itu kembali bocor. Air menetes ke dalam baskom di dekat tangga. Sioe Nio memindahkan sebuah peti kain, lalu menyelipkan gulungan kertas minyak di bawah kaki lemari yang mulai lembap. Dari lantai bawah terdengar suara Zainuddin menutup daun pintu. Hari sudah malam, tetapi lorong masih menyimpan bunyi roda dan percakapan orang yang pulang bekerja.
Di dalam buaian, anak lelaki mereka terbangun. Sioe Nio mengangkatnya sebelum tangisnya membesar. Bayi itu mencari kehangatan di dekat leher ibunya, lalu diam setelah beberapa kali ditepuk perlahan.
Zainuddin muncul di kepala tangga membawa lampu.
“Bocor lagi?”
“Di tempat yang sama.”
“Besok kupanggil tukangnya.”
“Besok kau harus menemui pemasok.”
“Sesudahnya.”
Sioe Nio memandang suaminya. Ada keletihan di sekitar mata lelaki itu, juga noda tinta pada ujung jarinya. Jas putih yang dahulu dikenakannya di Des Indes kini tersimpan di lemari, dibungkus kain agar tidak berjamur. Sehari-hari ia bekerja dengan kemeja yang lengannya digulung.
“Kau sudah makan?” tanyanya.
“Belum.”
“Nasimu di bawah tudung.”
Zainuddin mendekat, menyentuh pipi anak mereka dengan punggung jari. “Dia membuatmu tidak sempat makan juga?”
“Dia belum mengenal jam dagang.”
Zainuddin tertawa pelan.
Di luar, hujan bertambah deras. Mereka berdiri berdekatan di bawah atap yang belum sanggup mereka perbaiki dengan baik, memandangi seorang anak yang belum mengetahui betapa banyak hal telah dipertaruhkan agar ia dapat lahir di rumah itu. Mereka menamainya Yusuf.
Ketika nama itu pertama kali ditulis dalam surat kepada keluarga, Zainuddin berhenti lama sebelum meneruskan kalimat berikutnya. Ia ingin ibunya mengetahui bahwa anak itu sehat, bahwa Sioe Nio selamat melewati persalinan, bahwa mereka sedang belajar tidur dalam potongan-potongan waktu.
Ia menulis semuanya dengan cermat. Kemudian ia menambahkan:
Kalau kelak Bunda bersedia datang, kami akan menjemput. Surat itu berangkat bersama surat untuk Eng Hwat. Sioe Nio menulis lebih panjang. Ia menceritakan rambut Yusuf, tangannya yang selalu mengepal, dan kebiasaannya terbangun tepat ketika ibunya hendak duduk makan. Pada bagian akhir, tintanya mengabur sedikit.
Ayah, aku ingin sekali memperlihatkan anakku kepadamu. Ia tidak menyalin ulang surat tersebut.
Balasan dari Riau tiba lebih dahulu. Tulisan Raja Halimah tampak lebih besar daripada yang diingat Zainuddin. Beberapa kata berhimpitan di ujung baris, seolah ibunya mempunyai terlalu banyak hal untuk disampaikan pada kertas yang terbatas. Ia menanyakan kesehatan bayi, mengingatkan Sioe Nio agar cukup makan, dan meminta agar Yusuf tidak dibawa keluar ketika hujan.
Zainuddin membaca bagian itu dua kali.
Sioe Nio duduk di seberangnya, menunggu.
“Apa kata Bunda?”
Zainuddin menyerahkan surat itu. Sioe Nio membacanya perlahan. Ketika sampai pada namanya sendiri, ibu jarinya menetap di tepi kertas. Tidak ada pernyataan bahwa penolakan dahulu telah dibatalkan. Tidak ada permintaan maaf. Namun, untuk pertama kalinya, Raja Halimah berbicara kepadanya sebagai seseorang yang kesehatannya perlu dijaga. Di dalam bungkusan terdapat sehelai baju bayi yang dijahit tangan. Sioe Nio membentangkannya di atas lutut.
“Bunda yang membuat ini?”
Zainuddin mengangguk. “Jahitannya masih sama.”
Ia menyentuh bagian ketiak baju, tempat benang dirapikan dengan simpul kecil. Sewaktu kanak-kanak, ia sering merasakan simpul serupa pada bajunya sendiri.
Sioe Nio melipat pakaian itu dengan hati-hati. “Malam ini kita pakaikan kepada Yusuf.”
Zainuddin menunduk. Ia tidak ingin istrinya melihat betapa sulit ia menahan air mata.
***
Eng Hwat datang tanpa memberi tanggal yang pasti. Pagi itu Sioe Nio sedang menjelaskan mutu kain kepada seorang pembeli ketika sebuah suara terdengar dari pintu. “Buku piutang jangan dekat jendela. Kalau hujan masuk, kau akan kehilangan lebih banyak daripada harga kertas.”
Tangannya berhenti di atas kain.
Eng Hwat berdiri dengan tas kulit tua di tangan. Rambutnya lebih putih. Bahunya tampak sedikit turun, tetapi matanya masih bergerak cepat, memeriksa susunan barang, letak timbangan, dan pintu belakang.
“Ayah…” Sioe Nio keluar dari balik meja.
Ia telah membayangkan pertemuan itu berkali-kali. Dalam bayangannya selalu ada banyak perkataan. Ketika akhirnya ayahnya berdiri di hadapan, ia hanya dapat memegang lengannya.
Eng Hwat menepuk tangannya.
“Pelangganmu menunggu.”
Pembeli itu tersenyum dan mengatakan akan kembali kemudian. Setelah orang tersebut pergi, Sioe Nio memeluk ayahnya. Tas kulit terhimpit di antara tubuh mereka. Eng Hwat membiarkannya tetap di sana beberapa saat sebelum meletakkannya di lantai.
“Kau kurus,” katanya.
“Ayah juga.”
“Aku tua.”
“Aku sibuk.”
Eng Hwat mendengus pelan. Suara yang sangat dikenalnya itu membuat Sioe Nio menangis. Zainuddin turun dari lantai atas dengan Yusuf dalam gendongan. Ia berhenti di anak tangga terakhir. “Bah.”
Eng Hwat menatapnya, lalu melihat bayi yang bergerak dalam pelukannya. “Ini anaknya?”
Zainuddin mengangguk.
Ia mendekat. Eng Hwat mengulurkan kedua tangan dengan kecanggungan yang tidak pernah tampak ketika ia memegang barang dagangan paling mahal sekalipun. Yusuf membuka mata sebentar, mengernyit, kemudian menggenggam ujung jari kakeknya.
Lelaki tua itu diam.

Sioe Nio melihat bibir ayahnya bergerak, tetapi tidak mendengar apa yang dikatakannya. “Namanya Yusuf, Ayah.”
Eng Hwat mengangguk. “Nama yang baik.”
Ia mengamati wajah cucunya, dari alis yang masih tipis sampai bibir kecil yang sesekali bergerak. Kemudian ia menatap Zainuddin.
“Bolehkah dia juga mempunyai nama Tionghoa?”
Sioe Nio memandang ayahnya. “Babah ingin memberinya nama?”
“Kalau kalian mengizinkan.”
Eng Hwat mengusap punggung tangan cucunya. “Aku ingin ada marga Tan dalam namanya. Supaya kelak ia tahu dari keluarga mana ibunya berasal.”
Zainuddin menarik kursi agar lelaki tua itu dapat duduk. “Tentu boleh, Bah. Ia juga cucu Babah.”
Eng Hwat duduk perlahan, menjaga kepala Yusuf pada lekuk lengannya. “Dalam adat keluarga, anak biasanya mengikuti marga ayahnya,” katanya. “Aku tahu aku meminta sesuatu yang berbeda. Aku tidak hendak mengambilnya dari keluargamu.”
“Aku mengerti. Ia tetap Yusuf. Tetapi ia juga boleh mempunyai nama Tionghoa dari keluarga ibunya. Apa yang Babah pikirkan?”
“Tan Eng An.” Lelaki itu menyebutnya perlahan. “Aku berharap hidupnya tenteram.”
Sioe Nio mengulang nama tersebut dengan suara lirih, seolah hendak mengenali bunyinya sebelum menyimpannya dalam ingatan. Zainuddin mengangguk.
“Yusuf. Tan Eng An. Kelak kita ajari dia menjawab ketika dipanggil dengan keduanya.”
Eng Hwat menunduk kepada cucunya. Yusuf menggerakkan bibir dalam tidurnya, lalu merapatkan genggaman. “Eng An,” bisik lelaki tua itu. Sioe Nio mengusap sudut matanya. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Batavia, ia mendengar ayahnya menyebut masa depan tanpa nada khawatir.
Malam itu mereka makan di meja yang biasa dipakai menghitung penerimaan. Eng Hwat mengeluhkan atap bocor, memeriksa engsel jendela, dan mengatakan bahwa tempat menyimpan kain harus diberi jarak lebih lebar dari dinding. Zainuddin mendengarkan tanpa merasa sedang diuji.
Sesudah Sioe Nio membawa Yusuf tidur, lelaki tua itu mengeluarkan sebuah buku kecil dari tas. “Catatan beberapa pemasok,” katanya. “Kau boleh menghubungi mereka. Jangan bilang semua pesanan kujamin.”
“Aku mengerti, Bah.”
“Aku datang untuk melihat anak dan cucuku. Bukan mengambil alih kedaimu.”
Zainuddin tersenyum. “Keadaannya bagaimana menurut Babah?”
Eng Hwat memandang meja, lalu tangga tempat putrinya tadi menghilang. “Dia masih dapat membantahmu?”
“Sering.”
“Bagus.”
Zainuddin tertawa kecil. Eng Hwat tidak ikut tertawa, tetapi wajahnya melunak. “Dahulu aku mengira selama ada lelaki yang menjaganya, anak perempuanku akan baik-baik saja,” katanya. “Sekarang aku melihat dia juga menjaga rumah ini.”
“Sejak awal begitu, Bah.”
Eng Hwat mengangguk perlahan. Ia meraih cangkirnya dan meminum teh yang telah dingin.
Beberapa hari kemudian, setelah Eng Hwat pulang ke Batavia, Zainuddin menemukan Sioe Nio duduk di depan kotak uang pemberian ayahnya. Kotak itu masih disimpan di lemari pakaiannya. Sebagian isinya pernah dipakai ketika persediaan terlambat tiba dan uang sewa harus dibayar. Sesudah usaha membaik, ia mengembalikannya sedikit demi sedikit.
“Sudah lengkap lagi?” tanya Zainuddin.
Sioe Nio mengangguk. “Aku tidak hendak mengembalikannya kepada Babah.”
“Memang uangmu.”
“Aku tahu.”
Ia menutup kotak. “Aku hanya ingin selalu mempunyai sesuatu yang dapat kuputuskan sendiri.”
Zainuddin duduk di dekatnya. “Walaupun kita suami istri?”
Sioe Nio menoleh. “Terutama karena kita suami istri. Aku ingin tinggal bersamamu karena aku memilihnya setiap hari.”
Zainuddin memandang wajah perempuan itu. Ia teringat Sioe Nio di samping timbangan, dengan buku hitam dan pensil pendek. Sejak awal, perempuan itu tidak pernah meminta hidup yang dapat dijalani tanpa berpikir. Ia menyentuh tangannya. “Aku akan berusaha tetap layak dipilih.”
Sioe Nio tersenyum, kemudian menyandarkan kepala pada bahunya.
Pada suatu sore yang tenang, mereka membawa Yusuf berjalan di sekitar kedai. Hujan telah berhenti. Air masih menggantung pada ujung atap. Orang-orang menghindari genangan sambil membawa belanja, menuntun anak, atau memikul barang. Beberapa bahasa terdengar dalam jarak yang berdekatan.
Yusuf tertidur dalam gendongan Zainuddin. “Apakah dia akan merasa ini tanah kelahirannya?” tanya Sioe Nio.
“Memang ini tanah kelahirannya.”
“Dan rumah kita yang dahulu?”
“Akan kita ceritakan.”
“Batavia?”
“Ya.”
“Penyengat?”
“Ya.”
Sioe Nio merapikan kain yang menutupi kaki anaknya. “Ceritakan juga bahwa kita menyayangi orang-orang yang tidak menyetujui kita.”
Zainuddin mengangguk. “Jangan sampai dia tumbuh dengan mengira keberanian harus selalu disertai kebencian.”
Mereka berhenti di depan kedai. Dari luar, rumah itu tampak sempit dan biasa saja. Papan namanya mulai pudar pada salah satu sudut. Di lantai atas tergantung baju kecil kiriman Raja Halimah, bergerak perlahan ditiup angin. Sioe Nio membuka pintu. Zainuddin masuk sambil menjaga kepala Yusuf agar tidak menyentuh kusen.
Malam nanti masih ada rekening yang harus diperiksa, surat yang perlu dibalas, dan baskom yang harus dipindahkan jika hujan kembali turun. Ia juga ingin menulis kepada ayahnya, meskipun surat terakhirnya belum memperoleh jawaban.
Di meja dekat jendela, sempoa kecil Eng Hwat terletak di samping buku kas. Sioe Nio menyalakan lampu. Zainuddin meletakkan anak mereka dalam buaian. “Tidurlah, Yusuf,” bisiknya. Sioe Nio membetulkan selimutnya. “Tidurlah, Eng An.”
Bayi itu menggeliat mendengar suara mereka. Tangan kecilnya terbuka, mencari sesuatu, lalu menggenggam jari ibunya. Di rumah itu, kedua namanya diucapkan dengan kasih yang sama.
Berpuluh tahun kemudian, pada 9 Agustus 1965, Singapura berpisah dari Federasi Malaysia dan menjadi negara merdeka. Perselisihan politik, kepentingan ekonomi, serta ketegangan antarkaum telah meretakkan persatuan yang belum lama dibangun. Perpisahan itu tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai perbedaan budaya Melayu dengan kehidupan kosmopolitan Singapura.
Namun, jauh sebelum para pemimpin memperdebatkan bagaimana masyarakat yang berbeda dapat hidup bersama, Zainuddin dan Sioe Nio telah menjalani pertanyaan itu di rumah kecil mereka. Jawabannya tumbuh melalui pekerjaan sehari-hari: berbagi tanggung jawab, memberi ruang bagi keyakinan, dan menjaga hubungan dengan keluarga yang belum sepenuhnya menerima dan tidak puritan bermitra dengan pedagang dari india, Tiongkok, Eropa dan AS. Dan menjadikan Pendidikan sebagai asset kini dan besok..
Yusuf, yang juga dipanggil Tan Eng An, tumbuh mendengar kisah Penyengat dan Batavia. Dalam ingatannya, kedua tempat itu hadir melalui suara ayah dan ibunya. Ia tidak perlu memilih salah satunya untuk dapat menyayangi yang lain.

Tinggalkan Balasan