
Hong Kong, 2003. Sebelum saya mengenal suara Hong Kong dari ruang rapat dan lantai perdagangan, saya mengenalnya dari bunyi keranjang ikan yang diseret di bawah jendela. Setiap subuh, bunyi itu datang lebih dahulu daripada cahaya. Disusul suara pedagang, dentang pintu besi, dan air yang disiramkan ke lantai pasar. Bau ikan bercampur sayuran basah merambat ke apartemen melalui jendela yang tidak pernah bisa tertutup rapat. Apartement saya ada di lokasi itu. Sewa tempat itu tiga ribu dolar Hong Kong sebulan.
Pada hari pertama saya masuk, ruangan itu kosong. Saya berdiri cukup lama di ambang pintu sambil memegang tas. Tidak ada ranjang untuk merebahkan tubuh setelah perjalanan. Tidak ada kursi. Dindingnya menyimpan bekas paku dan jejak persegi panjang yang warnanya lebih terang, mungkin tempat penghuni sebelumnya menggantung kalender. Saya meletakkan tas di lantai. “Baik,” kata saya pelan.
Saat itu usia saya empat puluh tahun. Masa yang dahulu saya bayangkan sebagai puncak kemapanan justru mempertemukan saya dengan kebangkrutan. Selama dua puluh tahun berbisnis di Indonesia, empat kali saya mengalami kegagalan. Kini saya harus memulai lagi di negeri orang, meninggalkan keluarga dan dua anak yang sedang tumbuh. Berat rasanya pergi ketika mereka masih membutuhkan kehadiran saya. Namun kebutuhan hidup terus berjalan, dan saya harus mencari jalan untuk bangkit.
Saya menetapkan satu keputusan, terus melangkah. Pikiran untuk pulang harus saya singkirkan agar saya dapat memusatkan tenaga pada pekerjaan di hadapan saya. Saya tidak datang membawa modal besar ataupun jaringan koneksi. Bekal saya hanyalah keterampilan pemasaran dan pengetahuan produk yang telah saya tekuni selama lebih dari sepuluh tahun. Dengan bekal itulah saya harus mencari pelanggan, membangun kepercayaan, dan mengusahakan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
Beberapa hari kemudian, saya membeli lembaran triplek, alat potong, dan mesin paku. Saya membuat ranjang rendah serta meja yang ukurannya disesuaikan dengan sisa ruangan. Potongannya tidak seluruhnya lurus. Salah satu kaki meja bergoyang sehingga harus saya ganjal dengan lipatan karton. Di meja itulah saya meletakkan komputer. Di sudut lainnya, rice cooker dan mesin kopi menjadi perlengkapan rumah tangga saya yang paling penting.
Malam pertama setelah semuanya selesai, saya duduk di tepi ranjang buatan sendiri. Telapak tangan saya terasa perih. Ada serpihan kayu kecil tertanam di dekat ibu jari. Saya mencabutnya dengan ujung penjepit, lalu memandangi ruangan. Belum pantas disebut kantor. Tetapi besok pagi, dari tempat itu, saya akan mulai menawarkan sesuatu kepada dunia.
Uang yang sedikit membuat orang terus berhitung, bahkan ketika sedang makan. Berapa harga kentang. Berapa lembar roti yang masih tersisa. Berapa ongkos perjalanan ke Shenzhen. Berapa hari lagi sebelum sewa jatuh tempo. Sarapan saya biasanya kentang rebus dengan saus dan roti. Siang hari, saya membeli penganan berisi kacang merah. Kadang saya menyisakan sebagian untuk malam. Ada hari ketika makanan itu terasa cukup. Ada hari ketika saya menghabiskannya dengan cepat, kemudian tetap duduk di depan bungkus kosong.
Saya tidak pernah menganggap kekurangan sebagai pengalaman yang indah. Perut lapar membuat pikiran pendek. Tagihan membuat tidur dangkal. Bahkan dering telepon dapat menimbulkan kecemasan ketika kita khawatir seseorang menelepon untuk menagih.
Di tengah kegalauan itu, suara istri dari Jakarta melalui Skype menjadi penghiburan saya. Ia hampir tidak pernah menceritakan kesulitan di rumah. Padahal saya tahu, mengurus dua anak tanpa kehadiran saya tentu melelahkan. Ada persoalan yang harus diputuskannya sendiri, ada kebutuhan yang harus dicukupkan, dan ada rasa cemas yang mungkin baru berani ia rasakan setelah anak-anak tertidur.
“Papa kerja saja. Enggak usah terlalu memikirkan kami. Mama tunggu Papa pulang. Kalau gagal, enggak apa-apa,” katanya.
Saya terdiam. Seharian saya berusaha meyakinkan orang lain bahwa saya mampu. Kepada istri, saya bahkan tidak perlu menyembunyikan kemungkinan gagal. Ingin saya tanyakan apakah uang belanja masih cukup, apakah anak-anak sehat, apakah ia sendiri bisa tidur dengan tenang. Namun tenggorokan saya terasa penuh. Saya hanya sanggup mengatakan, “Jaga kesehatan, Ma.”
Setelah percakapan berakhir, saya tetap duduk menghadap layar. Ruangan itu kembali sunyi, tetapi kecemasan saya sedikit mereda. Jauh di Jakarta, ada seseorang yang mengetahui keadaan saya dan tetap menunggu saya pulang.
Untuk menutup kebutuhan, saya mencari barang yang dapat dijual kembali. Dalam beberapa perjalanan dari Shenzhen, saya membawa wiski yang kemudian saya tawarkan kepada kenalan pengelola tempat hiburan. Keuntungan beberapa botol membantu saya bertahan selama beberapa hari berikutnya. Saya menuliskan setiap pengeluaran. Bukan karena saya teratur sejak lahir. Saya hanya tidak mampu membayar akibat dari kecerobohan.
Pagi sampai sore, saya mencari calon pembeli melalui internet. Saya menulis surat penawaran dalam bahasa Inggris, memperbaiki kalimatnya, lalu membacanya lagi sebelum menekan tombol kirim. Sebagian besar tidak mendapat jawaban. Pada mulanya, setiap bunyi pemberitahuan membuat saya segera mendekati komputer. Beberapa minggu kemudian, saya mulai mengenal bermacam-macam bentuk kekecewaan, pesan iklan, alamat yang tidak ditemukan, permintaan penawaran yang berhenti setelah harga dikirim.
Suatu malam saya membaca kembali sebuah surat email yang telah saya kirim kepada ribuan perusahaan. Terlalu banyak kalimat tentang diri sendiri. Saya menulis bahwa saya bisa mencari produk, bisa mengatur produksi, bisa membantu pengiriman. Tetapi hampir tidak ada penjelasan mengenai persoalan yang sedang dihadapi calon pembeli. Saya menghapus sebagian besar isinya. Lalu mulai lagi.
Malam hari, saya mendatangi kafe dan lounge hotel. Sebelum berangkat, saya menyetrika kemeja sendiri. Saya memeriksa kerah, ujung lengan, serta sepatu. Setelah itu saya menghitung uang yang boleh dibelanjakan untuk secangkir kopi dan perjalanan pulang. Di dalam ruangan yang sejuk, saya mengamati orang-orang tanpa ingin terlihat sedang mengamati. Ada tamu yang sibuk dan tidak ingin diganggu. Ada yang bersedia berbicara, tetapi hanya sampai urusan cuaca. Ada pula yang bertanya apa pekerjaan saya.
“I help buyers source products and manage production in China.”
“Do you own a factory?”
“No.”
Jawaban itu sering membuat percakapan kehilangan tenaga. Pada awalnya saya merasa perlu segera menjelaskan banyak hal. Lama-kelamaan saya belajar membiarkan jawaban itu berdiri, lalu menambahkan seperlunya. “I work with factories based on each product’s requirements. I handle specifications, costs, quality inspections, and shipping.”
Sebagian orang mengangguk. Sebagian kembali melihat jam. Saya memahami keraguan mereka. Di hadapan mereka berdiri seorang lelaki yang tidak mereka kenal, menawarkan pekerjaan yang pelaksanaannya akan berlangsung jauh dari pengawasan mereka. Mereka berhak berhati-hati. Saya pun harus memberi alasan yang cukup agar kehati-hatian itu suatu hari berubah menjadi kepercayaan.
Sering saya pulang tanpa hasil. Pasar di bawah apartemen sudah gelap. Di beberapa tempat, air masih menggenang dan memantulkan lampu jalan. Saya masuk apartement lalu menyalakan komputer. Kadang saya membiarkan tangan diam di atas papan ketik. Ada kesepian yang terasa lebih berat setelah seharian kita berbicara kepada banyak orang.
Memasuki tahun 2004, hampir setahun telah berlalu. Saya mulai hafal retakan kecil di langit-langit kamar. Saya mengenali pedagang di bawah dari suaranya. Hidup yang dahulu saya anggap sementara diam-diam telah menjadi rutinitas.
Pada suatu malam, saya membuka catatan uang. Saya menghitung dua kali, berharap ada kesalahan yang menguntungkan. Tidak ada. Pikiran untuk pulang muncul dengan tenang. Justru ketenangannya membuat saya takut. Tidak ada perdebatan besar dalam kepala. Hanya bayangan tentang berhenti menyewa, membereskan barang, dan meninggalkan meja triplek itu.
Saya berdiri depan pintu Gedung Apartement. Saya lihat seorang pedagang tua sedang mengangkat peti bersama lelaki yang lebih muda. Mereka berhenti sebentar, mengubah posisi tangan, kemudian mengangkatnya lagi. Saya memperhatikan sampai peti itu masuk ke kendaraan. Besok saya harus mengubah sesuatu. Barangkali penawaran saya. Barangkali jenis pelanggan yang saya cari. Barangkali cara saya menghitung biaya. Saya boleh bertahan, tetapi pekerjaan saya tidak boleh sekadar mengulangi hari sebelumnya.
***
Setahun kemudian setelah ribuan email dikirim dan tak terbilang orang yagn saya temui di café. Semua tanpa hasil. Akhirnya peluang itu datang di sebuah kafe di kawasan IFC. Seorang lelaki Eropa duduk di seberang saya. Percakapan kami berawal dari perjalanan dan pekerjaan, kemudian beralih kepada barang konsumsi. Ia mengeluarkan sebuah kacamata.
“Bisakah kamu membuat produk dengan kualitas seperti ini?”
Saya menerima kacamata itu dengan kedua tangan. Saya memperhatikan engsel, sambungan, berat, dan permukaan logamnya. Sebuah merek mewah tertera pada bagian dalam tangkai. “Kamu ingin produk dengan merek sendiri?” tanya saya.
“Ya. Ini acuan kualitas dan penampilan. Desain kami akan berbeda.”
“Berapa target harga belinya?”
“Seratus dolar Amerika per unit.”
Saya kembali memperhatikan kacamata itu. Harga tersebut cukup untuk membuka kemungkinan. Belum cukup untuk membuat janji.
“Beri saya dua hari,” kata saya.
Ia meletakkan cangkirnya. “Untuk penawaran?”
“Untuk jawaban yang bisa kamu periksa. Pilihan material, perkiraan biaya, dan contoh pengerjaan.”
Ia tersenyum tipis. “Dua hari?”
Saya mengangguk. “Kalau terlambat karena saya, tambahan biaya hotelmu menjadi tanggungan saya.” Sesudah kalimat itu keluar, saya langsung menghitung akibatnya. Ia memandangi saya beberapa saat. “Baik. Dua hari.”
Perjalanan ke Dongguan saya lalui dengan catatan di pangkuan. Di luar jendela, bangunan industri muncul di antara jalan yang berdebu. Truk mengantre di gerbang pabrik. Sepeda dan sepeda motor bergerak di sisi jalan bersama orang-orang yang mengenakan seragam kerja. Di sebuah pabrik kacamata, saya duduk berhadapan dengan direktur produksi. Percakapan kami dibantu seorang staf yang bisa berbahasa Inggris.
Direktur itu memeriksa barang contoh di bawah lampu. “Kalau mengikuti bahan dan penyelesaiannya, biayanya tinggi.”
“Saya tidak harus mengikuti semua bahannya.”
Ia mengangkat wajah.
Saya membuka buku catatan. “Kita perlu menjaga kenyamanan, kekuatan, dan mutu penampilannya. Bisa memakai poliamida untuk bagian tertentu? TR-90, misalnya?”
Ia berpikir, kemudian memanggil seorang teknisi. Kami memisahkan persoalan itu menjadi bagian-bagian kecil. Bentuk bingkai. Konstruksi engsel. Pilihan lensa. Komponen logam. Warna. Cara perakitan. Untuk bagian logam berwarna emas, saya menanyakan kemungkinan menggunakan stainless steel dengan lapisan PVD.
“Kami tidak punya mesin coating,” kata direktur itu.
“Bagian tersebut bisa dikerjakan pemasok lain.”
Pembicaraan mulai berubah. Mereka mengambil contoh komponen, membuka katalog material, dan menunjukkan barang yang pernah dikerjakan. Menjelang sore, meja dipenuhi potongan tangkai dan bingkai. Kami sepakat membuat contoh awal menggunakan komponen yang tersedia. Sampel itu belum layak menjadi patokan produksi massal, tetapi cukup untuk menunjukkan arah pengerjaan. Saya pergi mencari penyedia pelapisan, lalu kembali dengan rincian biaya dan waktu.
Malam itu saya menghitung di penginapan sederhana. Angka untuk bingkai dan pelapisan tampak menarik. Namun saya menambahkan lensa, engsel, perakitan, pengujian, kemasan, barang cacat, serta biaya pengiriman. Saya membuat ruang bagi kesalahan. Saya sudah terlalu dekat dengan kehabisan uang untuk berpura-pura bahwa segala sesuatu akan berjalan sempurna.
Keesokan harinya, saya kembali ke Hong Kong. Lelaki Eropa itu menerima sampel saya. Ia mengenakannya, melepasnya, lalu memeriksa bagian sambungan. “Kamu benar-benar kembali.”
“Sesuai janji.”
Ia mencoba membuka dan menutup tangkainya beberapa kali. “Ini menarik.”
Saya menyerahkan catatan singkat. “Ini contoh awal. Sebelum produksi, kita perlu menyelesaikan desain, pengujian, dan sampel persetujuan.”
Ia membaca. “Saya harus membawanya ke Paris.”
“Tentu.”
Kami berjabat tangan. Setelah ia pergi, saya tetap duduk beberapa menit. Secangkir kopi telah dingin di hadapan saya. Belum ada pesanan. Tetapi untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, seseorang membawa hasil pekerjaan saya pulang untuk dibicarakan dengan perusahaannya.
Sebulan kemudian, undangan itu datang. Saya membacanya di meja triplek. Mereka meminta saya ke Paris. Saya memeriksa alamat pengirim, membaca lampiran, lalu kembali ke awal surat. Setelah yakin, saya keluar dari Gedung apartement. Saya menarik napas.. Pasar sedang ramai. Seorang perempuan menawar harga sayur dengan suara keras. Di lapak sebelah, seorang lelaki sedang menimbang ikan. Saya ingin mengatakan sesuatu kepada seseorang. Tetapi saya belum tahu harus mulai dari mana.
Di Paris, pembicaraan berlangsung di sebuah ruang rapat dengan jendela tinggi. Mereka menyiapkan hasil pemeriksaan sampel dan beberapa perubahan yang diinginkan. Saya mencatat semuanya. Setelah urusan mutu dan penyerahan dibicarakan, lelaki yang pertama saya temui di Hong Kong itu menyodorkan rencana pembelian.
“Untuk tahap awal, dua ratus ribu unit.”
Ujung pena saya berhenti. Dengan harga seratus dolar per unit, nilai pesanannya dua puluh juta dolar. Saya menatap dokumen di hadapan saya sambil berusaha menjaga napas tetap teratur. Kemudian muncul pertanyaan yang jauh lebih besar daripada kegembiraan saya. Dengan uang apa saya akan memproduksinya? Di rekening, uang yang tersisa hanya sekitar lima ribu dolar.
***
Sekembalinya ke Hong Kong, saya menemui Wenny. Ia bekerja di investment bankir Perusahaan jepang di Hong Kong. Ia mendengarkan penjelasan saya tanpa memotong. Saya meletakkan kontrak, rincian biaya, serta dokumen pembayaran di hadapannya. Ia membaca cukup lama.
“Kamu kelihatan seperti orang yang mendapat hadiah sekaligus tagihan,” katanya.
Saya tertawa pendek. “Kurang lebih begitu.”
Ia menanyakan perusahaan pembeli, bank penerbit letter of credit, jadwal produksi, dan syarat penyerahan. Beberapa pertanyaan bisa saya jawab segera. Beberapa harus saya periksa kembali. “Pesanan ini bisa menjadi dasar pengajuan pembiayaan,” katanya akhirnya. “Tetapi dokumennya harus benar. Jangan hanya melihat jumlahnya.”
Ia membantu saya memahami jalurnya: pembiayaan melalui lembaga pemberi kredit dengan dukungan penjaminan ekspor, pembayaran kepada pemasok, serta pelunasan dari hasil transaksi. Saya menyiapkan dokumen satu per satu.
Ketika persetujuan prinsip datang, saya merasa sebuah pintu terbuka. Sesudah itu, saya menemukan pintu lainnya. Ada biaya konsolidasi, pemeriksaan, dan pemuatan yang belum tertutup fasilitas tersebut. Saya kembali menghitung. Masih kurang.
Wenny menemui saya setelah pulang dari pekerjaannya di perusahaan sekuritas Jepang. Ia melihat rincian yang saya bawa. Sesekali ia bertanya, kemudian menulis angka pada kertas kosong.
“Berapa yang masih kamu butuhkan?”
“ USD 60 ribu dolar.”
Ia diam.
Saya mengenal besarnya angka itu. Saya juga mengenal arti uang tabungan bagi seseorang yang mendapatkannya dengan bekerja.
“Aku punya,” katanya.
Saya tidak langsung menjawab.
“Itu tabunganmu, Wen.”
“Iya.”
“Kalau pengirimannya bermasalah, pengembaliannya bisa terlambat.”
Ia menarik dokumen lebih dekat. “Karena itu kita periksa lagi.”
Kami menghabiskan malam dengan meneliti jadwal, kewajiban, dan kemungkinan yang buruk. Ia tidak meminta saya menjamin sesuatu yang berada di luar kendali saya. Namun ia meminta saya berterus terang. “Kalau ada masalah, beri tahu sejak awal,” katanya. “Jangan menunggu sampai kamu tidak bisa berbuat apa-apa.”
Saya mengangguk.
Ketika kemudian uang itu tersedia, saya merasa lega sekaligus terbebani. Kini ada jerih payah orang lain yang ikut berada di dalam pekerjaan saya.
Bulan produksi menjadi bulan yang panjang. Saya berpindah dari pabrik ke tempat pemeriksaan, dari meja administrasi ke gudang. Ada warna komponen yang perlu diperbaiki. Ada sambungan yang belum seragam. Ada kemasan yang harus ditata ulang. Setiap perubahan kecil memakan waktu.
Suatu sore, seorang pemasok mengatakan bahwa beberapa unit yang bermasalah masih bisa ikut dikirim.
“Tidak terlalu kelihatan.”
Saya mengambil salah satunya dan memeriksa bagian engsel. “Pisahkan.”
“Jumlah pengiriman bisa berkurang.”
“Kita perbaiki sekarang. Saya akan bicara mengenai jadwalnya.”
Sesudah itu saya keluar dari ruangan dan berdiri sebentar di dekat tangga. Saya takut terlambat. Takut biaya bertambah. Takut pembeli kecewa. Tetapi saya lebih takut memulai hubungan dagang dengan membiarkan barang yang sudah saya ketahui cacat masuk ke dalam peti.
Pada hari pemuatan, saya berada di gudang sebelum truk datang.
Saya memeriksa daftar kemasan, tanda pada karton, dan dokumen bersama petugas. Ketika pintu kontainer ditutup, bunyi besinya membuat saya terdiam. Saya mengikuti kendaraan itu dengan mata sampai hilang di balik gerbang. Pekerjaan belum selesai. Masih ada perjalanan barang dan pemeriksaan dokumen pembayaran.
Tujuh hari setelah dokumen dinyatakan sesuai, pembayaran masuk. Saya duduk di depan komputer, memandangi angka pada rekening perusahaan. Dua puluh juta dolar. Saya membacanya beberapa kali. Kemudian saya mengambil daftar kewajiban. Pembiayaan produksi. Tagihan pemasok. Pengangkutan. Biaya lainnya. Angka besar itu harus melewati nama-nama yang telah membuat pengiriman menjadi mungkin sebelum USD 16 juta sebagai milik perusahaan.
Saya menghubungi Wenny setelah pengembaliannya diproses.
“Sudah saya lunasi.”
Ia menghela napas, lalu tertawa kecil. “Sekarang tidur.”
Malam itu saya membeli makanan hangat. Saya membawanya pulang ke apartemen yang sama dan meletakkannya di meja triplek. Salah satu kaki meja masih diganjal karton. Dari bawah jendela, suara pasar terdengar seperti biasanya. Saya makan perlahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya tidak menghitung berapa suapan yang perlu disisakan untuk esok.
Pesanan berikutnya datang bersama persoalan yang berbeda. Saya harus belajar mengurus pekerjaan yang semakin banyak, memilih pemasok, menolak permintaan yang tidak masuk akal, dan memastikan janji yang dibuat bagian pemasaran dapat dilaksanakan bagian produksi. Setelah enam kali ekspor, saya pindah ke Shenzhen. Apartemen baru itu sekaligus menjadi kantor. Saya memilihnya karena lebih dekat dengan kegiatan usaha. Perjalanan ke pabrik menjadi lebih singkat. Pemeriksaan lebih mudah diatur.
Ketika meninggalkan tempat lama di Hong Kong, saya membersihkan meja triplek sebelum menyerahkan kunci. Pada permukaannya ada bekas lingkaran cangkir dan guratan pena. Saya menyentuh salah satu sudutnya yang kasar. Dari meja itu, saya pernah menawarkan kemampuan kepada orang-orang yang tidak mengetahui nama saya. Di sana pula saya belajar menerima penolakan tanpa selalu menganggapnya sebagai penghinaan. Saya menutup jendela. Suara pasar mengecil, tetapi masih terdengar.
***
Pada 2005, Wenny tidak lagi dapat membantu saya. Selama dua tahun sebelumnya, dialah yang mendampingi saya merintis bisnis maklon di China. Tanpa dirinya, mungkin saya tidak akan pernah mampu menembus dunia usaha di negeri itu. Ketika datang ke China, saya tidak bisa berbahasa Mandarin. Saya tidak mempunyai teman, apalagi jaringan bisnis.
Wenny yang memperkenalkan saya kepada para pemasok, pemilik pabrik, dan calon mitra. Ia mendampingi saya dari satu pertemuan ke pertemuan lain, menerjemahkan percakapan, menjelaskan kebiasaan bisnis setempat, serta membantu saya memperoleh kepercayaan.
Perlahan-lahan, bisnis maklon itu berkembang. Setelah saya mampu menggaji beberapa orang untuk menangani pekerjaan yang selama ini dikerjakan Wenny, ia pindah ke Shanghai karena menikah. Kami kemudian menjalani kehidupan masing-masing.
Menjelang akhir 2006, Wenny menelepon saya. Saat itu saya sedang berada di Bangkok. Suaranya terdengar pelan dan bergetar. Setelah beberapa kali menarik napas, ia mengajukan pertanyaan yang membuat tubuh saya membeku.
“Apakah kamu mengenal orang yang mau membeli ginjal?”
Beberapa detik saya tidak dapat berkata apa-apa. Wenny lalu bercerita bahwa dirinya terjerat utang kepada rentenir. Sejak menikah, ia berhenti bekerja dan tidak lagi mempunyai penghasilan. Suaminya telah menceraikannya. Ia harus menghidupi anak laki-lakinya, sementara bunga utang terus bertambah. Dalam keputusasaan, menjual ginjal terasa seperti satu-satunya jalan yang masih terbuka.
Saya menutup telepon dengan tangan gemetar. Malam itu juga saya memesan tiket ke Shanghai. Setibanya di sana, saya langsung menuju alamat yang diberikannya. Taksi menurunkan saya di ujung sebuah jalan sempit. Dari sana saya harus berjalan hampir satu blok melewati deretan pedagang kaki lima. Uap makanan mengepul ke udara musim dingin. Bau minyak panas, kuah rebusan, dan asap kendaraan bercampur di antara orang-orang yang berjalan tergesa-gesa.
Ketika hampir sampai di alamat apartemennya, langkah saya mendadak terhenti. Di bawah cahaya lampu jalan yang pucat, saya melihat seorang perempuan berjualan fish ball dari sebuah gerobak sederhana. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki kecil, mengenakan pakaian tebal yang tampak kebesaran. Perempuan itu adalah Wenny.
Saya berdiri cukup lama dari kejauhan. Rasanya hati saya hancur. Ingatan saya kembali kepada pertemuan pertama kami. Wennylah yang mengenalkan saya kepada para pemasok dan pemilik pabrik. Berkali-kali saya mencoba memberinya uang, tetapi selalu ditolaknya. Suatu ketika saya bahkan pernah kehabisan modal untuk menyelesaikan pengiriman pertama. Tanpa minta collateral, ia memecahkan tabungannya dan menyerahkan uang itu kepada saya. Berkat uang tersebut, pengiriman pertama saya dapat dilakukan. Dari situlah bisnis saya mulai tumbuh. Setelah itu, kapan pun saya menelepon, Wenny selalu menjawab. Tidak pernah sekali pun ia menolak ketika saya meminta pertolongan.
Kini bisnis maklon yang kami rintis telah menghasilkan transaksi jutaan dolar. Namun perempuan yang dahulu membuka pintu China untuk saya justru berdiri di pinggir jalan, menjual fish ball demi mempertahankan hidupnya dan anaknya.
Saya berjalan mendekatinya. “Wen…”
Wenny mengangkat wajah. Begitu mengenali saya, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Bahunya berguncang menahan tangis. Saya memeluknya. Tubuhnya terasa begitu ringan dan ringkih. Ia jauh lebih kurus daripada terakhir kali kami bertemu. Saya tidak mampu berkata banyak. Semua kalimat terasa terlalu kecil untuk keadaan yang sedang saya lihat.
Saya kemudian menggendong putranya. “Besok kita ke Hong Kong,” kata saya. “Malam ini kamu dan anakmu pindah ke hotel.”
Wenny menggeleng pelan. Air mata masih membasahi pipinya. “Saya masih punya utang,” katanya tersengguk.
“Telepon orangnya. Saya bayar sekarang.”
Ia menatap saya, seolah tidak yakin telah mendengar dengan benar. “Telepon,” desak saya.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil telepon. Tidak lama kemudian, seorang pria datang ke kedainya. “Utangnya 1,2 juta yuan,” kata pria itu.
“Mana suratnya?”
Ia mengeluarkan dokumen utang dan memperlihatkannya kepada saya. Saya membacanya sekilas, lalu menatap pria itu. “Kamu ikut saya ke hotel. Saya bayar di sana.”
Saya berpaling kepada Wenny. “Wen, kembali ke apartemen. Kemasi pakaianmu dan pakaian anakmu. Bawa juga ibumu. Mulai malam ini, kamu tidak tinggal di sana lagi. Kamu pindah ke Hong Kong.” Saya meninggalkannya bersama gerobak fish ball itu, lalu naik taksi bersama si penagih utang.
Setibanya di hotel, saya meminta pihak hotel menyiapkan uang tunai sebesar 1,2 juta yuan dan membebankannya ke kartu American Express Centurion saya. Setelah uang diserahkan, pria itu menandatangani bukti pelunasan dan mengembalikan surat utang Wenny. Selesai.
Tidak lama kemudian, Wenny tiba di hotel bersama putranya dan ibunya. Mereka membawa beberapa koper serta tas yang tampaknya dikemas dengan tergesa-gesa. Saya menyerahkan kunci kamar kepada Wenny. “Beristirahatlah. Besok pagi kita terbang ke Hong Kong.” Kemudian saya memberikan surat utang yang telah dilunasi itu kepadanya. Wenny memandang dokumen tersebut cukup lama. Setelah itu, ia memeluk saya erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Saya membiarkannya menangis di bahu saya.
Pada saat itu saya tidak merasa sedang menyelamatkan Wenny. Saya hanya sedang mengembalikan sesuatu yang dahulu pernah ia berikan kepada saya, kesempatan untuk bangkit ketika semua pintu tampak tertutup. Utang kepada rentenir dapat dilunasi dengan uang. Namun utang kepada seseorang yang pernah mempercayai kita ketika kita belum menjadi siapa-siapa tidak pernah benar-benar tercatat dalam pembukuan.
Desember 2006, tidak lama setelah kami tiba di Hong Kong, saya mendirikan Sinotex Capital dan meminta Wenny memimpinnya sebagai CEO. Perusahaan itu beroperasi sebagai shadow banker: menyusun pembiayaan perdagangan, membuka akses kredit, menghubungkan pabrik dengan pemasok dan pembeli, serta membangun struktur transaksi bagi perusahaan yang belum terjangkau perbankan konvensional.
Saya tidak memberikan jabatan itu karena merasa kasihan. Saya telah melihat sendiri kemampuan, kesetiaan, dan keberanian Wenny sejak masa ketika kami belum mempunyai apa-apa. Perempuan yang pernah memecahkan tabungannya agar pengiriman pertama saya dapat berangkat itu memahami bahwa bisnis tidak hanya dibangun dengan uang, tetapi juga dengan kepercayaan.
Beberapa tahun kemudian, Sinotex Capital berkembang, berganti nama menjadi Yuan, dan didaftarkan di London. Jaringannya meluas melampaui bisnis maklon, masuk ke pembiayaan, perdagangan, investasi, dan pembangunan industri lintas negara.
Perjalanan itu bermula bukan dari gedung tinggi atau ruang rapat mewah. Ia bermula dari sebuah gerobak fish ball di jalan sempit Shanghai, dari seorang perempuan yang pernah kehilangan hampir segalanya, dan dari keputusan sederhana bahwa orang yang pernah menolong kita berdiri tidak boleh dibiarkan jatuh sendirian.
Malam ketika saya menemukan Wenny di pinggir jalan bukanlah akhir dari keterpurukannya. Malam itu justru menjadi awal kelahiran Yuan. Utang rentenir sebesar 1,2 juta yuan telah selesai dibayar. Namun utang kepercayaan di antara kami tidak pernah kami lunasi. Kami mengubahnya menjadi perusahaan, pekerjaan, industri, dan kesempatan bagi orang lain. Barangkali begitulah utang budi seharusnya dibayar: bukan dengan mengembalikan jumlah yang pernah diberikan, melainkan dengan memperbesar kebaikan itu agar dapat menghidupi lebih banyak manusia.
**
Tahun 2008, istri dan anak-anak datang ke Hong Kong. Saya ingin menjemput mereka di Jakarta, tetapi istri menolak. “Papa fokus saja sama pekerjaan. Mama bisa berangkat sendiri dengan anak-anak.”
Saya membayangkan ia harus melewati bandara, mengurus dokumen perjalanan, dan membawa dua anak ke negeri yang belum dikenalnya. Ia tidak pernah kuliah dan tidak bisa berbahasa Inggris. Selama ini, kesehariannya lebih banyak dihabiskan untuk mengurus rumah dan keluarga.
Melalui Skype, saya menjelaskan urutan perjalanan dengan terperinci: melapor di konter maskapai, melewati pemeriksaan imigrasi, mencari pintu keberangkatan, hingga mengambil bagasi setelah tiba di Hong Kong. Sesekali saya mengulangi penjelasan, khawatir ada yang terlupakan.
“Tenang saja, Pa,” katanya santai.
“Kalau bingung, telepon Papa.”
“Iya.”
“Ya sudah. Nanti Papa tunggu di pintu kedatangan Hong Kong International Airport.”
Pada hari kedatangan mereka, saya berdiri di balik pembatas sambil memperhatikan setiap orang yang keluar. Ketika akhirnya melihat istri, saya tertegun. Ia berjalan sambil tersenyum, dengan putra dan putri kami di kiri kanannya. Anak-anak melambaikan tangan begitu melihat saya. Segala kekhawatiran yang sejak pagi memenuhi kepala saya mendadak terasa berlebihan. Saya memeluk mereka bergantian. Ketika meraih tas istri, saya memperhatikan wajahnya. Ada kelelahan setelah perjalanan, tetapi ia tampak lega.
“Tuh, sampai juga,” katanya. Saya tertawa dan menggenggam tangannya. Namun, bahkan setelah tiba, ia masih berusaha memastikan kehadiran mereka tidak mengganggu pekerjaan saya.
“Papa fokus saja kerja. Biar Mama yang ajak anak-anak jalan.”
Sehari kemudian, saya harus berangkat ke Seoul. Berat rasanya meninggalkan mereka setelah sekian lama menantikan kebersamaan itu.
“Kalau perlu, Papa ubah jadwal,” kata saya.
Ia menggeleng.
“Sudah, berangkat saja. Kami baik-baik di sini.”
Saya menatapnya, mencari tanda keberatan yang mungkin ia sembunyikan. Namun ia justru mulai membicarakan tempat yang ingin dikunjungi bersama anak-anak.
Tiga hari kemudian, ketika saya masih di Seoul, ia menelepon. Mereka sudah harus kembali ke Jakarta. “Jangan langsung pulang,” kata saya. “Mampir ke Singapura. Papa siapkan hotel. Kita bertemu di sana.”
Dari Seoul, saya terbang ke Singapura. Setibanya di hotel, saya langsung menuju kamar mereka tanpa sempat mengganti pakaian. Saya masih mengenakan setelan jas ketika istri membuka pintu. Ia memandangi saya beberapa saat. Senyumnya muncul perlahan, lalu matanya berkaca-kaca. “Kenapa, Ma?” Ia menggeleng kecil dan mengusap sudut matanya. Saya mendekat, memeluknya, lalu membiarkannya bersandar tanpa mendesak jawaban.
Pagi berikutnya, kami sarapan di ruang makan khusus bagi tamu lantai eksekutif. Kami menginap di presidential suite, dan untuk sekali ini saya ingin menikmati waktu bersama keluarga tanpa terburu-buru memikirkan perjalanan berikutnya. Cahaya pagi masuk melalui jendela tinggi. Bunyi cangkir dan sendok terdengar pelan di antara percakapan para tamu. Anak-anak sibuk memilih makanan, sementara istri duduk di samping saya, sesekali memperhatikan sekeliling.
Beberapa tamu mengenakan setelan rapi. Ada yang membaca koran, ada yang berbicara sambil membuka dokumen. Ia mendekatkan wajahnya kepada saya. “Mereka ini pasti orang hebat,” bisiknya. Saya tersenyum. Namun kemudian ia menatap saya dengan sungguh-sungguh. “Papa enggak malu membawa Mama ke restoran semewah ini?”
Saya meletakkan cangkir.
Di hadapan saya duduk perempuan yang bertahun-tahun mengurus rumah ketika saya pergi. Ia yang mendampingi anak-anak tumbuh, menyimpan kecemasannya agar saya dapat bekerja dengan tenang, dan selalu mengatakan bahwa saya boleh pulang meskipun gagal. Kini, justru ia yang bertanya apakah kehadirannya membuat saya malu.
Saya merangkul bahunya. “Mengapa harus malu, Ma?”
Ia menunduk sambil tersenyum kecil.
“Kita memang tidak sedarah dan punya masa kecil yang berbeda,” lanjut saya. “Tetapi Mama orang yang Papa pilih untuk menjalani hidup bersama. Papa bersyukur Allah mempertemukan kita.”
Saya menggenggam tangannya di bawah meja. “Tanpa Mama yang menjaga rumah dan anak-anak, belum tentu Papa bisa sampai di sini.”
Ia diam beberapa saat, lalu melirik sekeliling lagi. “Tapi tempat ini pasti mahal sekali. Kenapa enggak di hotel biasa saja?”
Saya mengeluarkan kartu Centurion dari dompet dan memperlihatkannya kepadanya. “Kartu ini menghapus semua hambatan,” kata saya sambil tertawa kecil. “Waktu menerima reservasi, mereka tidak bertanya Papa lulusan mana atau rumah mewah engga. Mobil mewah engga. Perusahaan besar engga.”
Ia ikut tertawa. Ia tahu betul saya hanya tamatan SMA. Ia juga mengenal lelaki dengan uang pas-pasan yang dahulu menikahinya, jauh sebelum ada perjalanan bisnis, hotel mewah, dan kartu berwarna hitam itu.
Saya menyimpan kembali kartu tersebut. “Tapi Mama tidak perlu kartu apa pun untuk pantas duduk di sini. “ Kata saya. “ Saat pria tidak berharga, hanya istri yang menghargai. Makanya saat suami punya nilai, orang tahu, itu berkat istri hebat dibelakangnya. “ Kata saya. “ Many ordinary men become extraordinary because they have wise wives. Yet many wealthy men go broke because their wives care only about shopping and being pampered.” Lanjut saya.
“ Apa artinya ? tanyanya.
Saya senyum aja.
“Makan dulu, Pa,” katanya pelan. “Nanti dingin.”
Saya mengambilkan makanan ke piringnya. Untuk pagi itu, saya ingin ia berhenti memastikan bahwa semua orang sudah cukup, lalu memberi dirinya sendiri kesempatan untuk menikmati apa yang telah kami lalui bersama.
***
Sepuluh tahun kemudian, pekerjaan itu telah berkembang jauh melampaui perdagangan awal. Kami masuk ke berbagai produk, membangun organisasi, lalu belajar mengelola investasi dan perusahaan. Wenny memimpin Yuan sejak 2006. Pengalamannya tumbuh bersama tanggung jawab yang dipikulnya. Tahun 2014 saya pensiun dari Investment holding SIDC yang saya dirikan tahun 2005. Selanjutnya management di Kelola oleh professional.
Kini, apabila mengingat Hong Kong, saya sering teringat hal-hal yang kecil. Uap kentang rebus. Tangan yang perih karena membuat ranjang. Bunyi pemberitahuan email yang ternyata tidak membawa kabar baik. Kemeja yang saya setrika sebelum berangkat mencari calon pelanggan.
Saya juga mengingat betapa mudahnya, pada masa itu, menilai diri sendiri dari isi rekening. Seolah-olah uang yang sedikit berarti pengetahuan saya tidak berguna. Seolah-olah penolakan hari itu sudah cukup untuk menjelaskan seluruh masa depan. Padahal saya masih harus belajar. Masih harus menemui orang. Masih harus membetulkan cara bekerja. Saya tidak mengetahui bahwa semuanya akan berhasil. Orang yang kemudian selamat sering lupa betapa gelap jalan yang dilaluinya ketika belum tahu akhir ceritanya. Saya tidak ingin lupa.
Karena itu, ketika seorang anak muda datang dan duduk dengan gelisah di hadapan saya, saya berusaha mendengarkannya sampai selesai. Mungkin rencananya belum matang. Mungkin perhitungannya perlu diperbaiki. Saya akan mengatakan itu kepadanya. Tetapi saya tidak ingin membuatnya merasa kecil hanya karena hari ini ia belum mempunyai banyak hal.
Dahulu, seseorang pernah memberi saya waktu dua hari. Seseorang membaca kontrak saya dengan sabar. Seseorang menyerahkan tabungannya setelah kami memeriksa risiko bersama. istri yang mengikhlaskan kepergian suaminya dengan menjaga amanah jaga rumah saat suami pergi. Saya masih mengingat itu semua. Dan di tengah semua perubahan yang kemudian terjadi dalam hidup saya, ingatan itulah yang menjaga agar kaki saya tetap menyentuh tanah. Engga ada kebanggaan. Kecuali bersyukur kepada Allah dengan menjalani hidup sederhana. Karena semua titipan Allah, semua Allah memberi semudah itu juga Allah mengambil.
***
Ketika Tuhan membukakan jalan menuju keberhasilan, boleh jadi Dia mengizinkanmu lebih dahulu melewati kesulitan, kekhawatiran, kekurangan, dan rasa takut. Kesulitan membuat setiap langkah terasa berat dan tujuan seolah terlalu jauh. Kekhawatiran membuatmu menatap masa depan dengan pertanyaan yang belum terjawab. Kekurangan memaksamu memulai dengan uang terbatas, pengetahuan yang belum cukup, dan jaringan yang harus dibangun dari awal. Rasa takut tumbuh ketika orang mulai meragukan kemampuanmu, mengabaikan kehadiranmu, dan menganggap usahamu tidak berarti.
Namun, apabila kamu tetap bertahan, belajar, dan memperbaiki langkah, perlahan kamu akan memahami betapa banyak pertolongan yang menyertai perjalananmu. Ada kesempatan yang dibukakan, ada orang yang bersedia percaya, dan ada kekuatan yang datang ketika kamu merasa hampir menyerah.
Kelak, ketika keberhasilan itu tiba, ingatan tentang semua itulah yang membuatmu bersyukur dan menjaga kerendahan hati. Kamu tahu bagaimana rasanya berada di bawah. Karena itu, saat mampu berdiri lebih tinggi, kamu tidak akan mudah merendahkan mereka yang masih berjuang. Tidak pelit berbagi pengetahuan. “Ultimately, life is not about what we receive, but what we give. Not what we learn, but what we teach. Not the luxury we display, but the humility we embody.

Tinggalkan Balasan