
Lounge spa itu tenang. Lampunya redup, dengan aroma serai yang samar. Musik instrumental terdengar pelan, sesekali tenggelam oleh suara air dari taman kecil di balik kaca. Saya sedang menunggu giliran ketika pandangan saya bertemu dengan seorang perempuan di seberang ruangan. Sesaat kami saling menatap. Belum sempat saya menyapa, ia sudah berdiri dan bergegas menghampiri.
“Ale!”
Ia memeluk saya. “Kangen,” bisiknya.
Saya sempat tertegun, lalu membalas pelukannya. “Kamu sehat, Jes?”
“Sehatlah.” Jessica melepaskan pelukannya, tetapi senyumnya tetap lebar. Ia memperhatikan wajah saya seperti sedang mencocokkannya dengan seseorang yang selama ini disimpan dalam ingatan. “Kamu member di spa ini?” tanyanya.
“Teman saya yang member. Saya hanya ikut menggunakan fasilitasnya.”
Kami duduk di sofa. Jessica meletakkan tas di sampingnya, lalu menyandarkan punggung. Sesekali ia masih menoleh kepada saya sambil tersenyum.
“Sekarang kamu kerja apa?” tanya saya.
“Aku punya perusahaan appraisal. Khusus batu mulia dan barang antik.”
“Masih dekat dengan pekerjaan kamu dulu.”
“Iya. Sekarang aku menilai batu permata, keramik, perabot tua, dan macam-macam benda koleksi. Ada barang kecil yang harganya lebih mahal daripada sebuah rumah.”
Saya mengangguk. Jessi memang terbiasa memperhatikan sesuatu yang bagi orang lain cukup dilihat sepintas.
“Kamu enggak usah cerita tentang dirimu,” katanya kemudian. “Aku sudah tahu.”
Saya menoleh.
“Aku terus mengikuti perkembangan kamu. Jangan tanya dari mana aku tahu. Jangan pula tanya kenapa aku masih mengikuti kabarmu.” Ia tersenyum, lalu menambahkan, “Termasuk waktu kamu tidak aktif berbisnis, tahun 2014 sampai 2018.”
Saya membalas senyumnya dan mengangguk. Ada nada dalam ucapannya yang membuat saya memilih untuk tidak buru-buru bertanya. Seorang pelayan datang membawa teh. Jessi menunggu sampai cangkir diletakkan di meja sebelum melanjutkan percakapan.
“Aku mau tanya. MSCI itu sebenarnya apa? Belakangan namanya sering muncul kalau orang membicarakan bursa.”
“Perusahaan penyedia indeks, data, dan alat analisis investasi.”
Ia tersenyum kecil. “Jawabanmu membuat aku perlu bertanya lagi.”
Saya tertawa.
“Baik. Kita mulai dari pekerjaanmu. Kalau seseorang mau membeli keramik tua, apa yang perlu dia ketahui?”
“Asal-usul barang, keaslian, kondisi, dan pembanding harga.”
“Karena pembeli tidak mungkin mengenal semua barang berharga di dunia?”
“Bahkan ahli pun punya bidang masing-masing. Orang yang paham keramik belum tentu bisa menilai batu permata.”
“Nah, di pasar saham juga begitu. Ada ribuan perusahaan di banyak negara. Investor membutuhkan acuan untuk membaca pasar. MSCI menyusun indeks, yaitu kumpulan saham yang dipilih dan diberi bobot menurut aturan tertentu. Indeks itu bisa dipakai untuk mengukur kinerja pasar atau menjadi acuan membentuk portofolio.”
Jessi mengangkat cangkirnya. “Bobot itu maksudnya apa?”
“Porsi masing-masing saham dalam indeks. Bayangkan sebuah koleksi. Isinya bisa seratus barang, tetapi nilai setiap barang berbeda. Satu benda yang sangat mahal bisa menyumbang bagian besar dari nilai keseluruhan koleksi.”
“Jadi indeks bukan sekadar daftar nama perusahaan?”
“Betul. Ada aturan tentang saham mana yang memenuhi syarat dan seberapa besar porsinya.”
“Lalu MSCI yang membeli saham-saham itu?”
“Pengelola dana yang membeli. MSCI menyusun dan menghitung indeks. Mereka tidak mengelola uang ETF yang memakai indeksnya.”
Saya menggeser cangkir agar pelayan bisa meletakkan handuk hangat. “Bayangkan ada perusahaan yang menerbitkan panduan koleksi keramik. Kemudian sebuah pengelola investasi menawarkan kepada pelanggan: kami akan membentuk koleksi dengan mengikuti susunan panduan ini. Penerbit panduan menyusun acuannya. Pengelola investasi mengurus pembeliannya.”
“MSCI dapat uang dari menjual panduan?”
“Antara lain dari lisensi penggunaan indeks dan layanan data. Sebagian pendapatannya juga berasal dari biaya yang dikaitkan dengan besarnya aset produk investasi yang menggunakan indeksnya.”
“Jadi semakin banyak dana memakai indeks mereka, pendapatan dari bagian itu bisa bertambah?”
“Ya, sesuai perjanjian lisensinya.”
Jessi mengangguk, kemudian bertanya, “Siapa pemilik MSCI?”
“MSCI sendiri perusahaan terbuka. Sahamnya diperdagangkan di Bursa New York dengan kode MSCI. Pemiliknya para pemegang saham. Dalam laporan proksi 2026, pemegang saham besar yang dicantumkan antara lain Vanguard, sekitar 12,82 persen, dan BlackRock, sekitar 8,13 persen. Angka itu mengikuti tanggal serta dasar pelaporan dalam dokumen tersebut. Kepemilikannya bisa berubah.”
“Berarti milik dua perusahaan itu?”
“Mereka pemegang saham besar, tetapi masih ada pemegang saham lainnya. Kepemilikan yang dilaporkan manajer aset seperti itu juga banyak berkaitan dengan dana yang mereka kelola untuk investor. Jadi jangan dibayangkan semuanya uang pribadi pemilik perusahaan.”
Ia memandang teh di cangkirnya, lalu kembali menatap saya. “Baik. Sekarang ETF. Itu apa?”
“ETF itu singkatan dari exchange-traded fund. Produk investasi yang unitnya bisa diperjualbelikan di bursa. Untuk ETF saham, bayangkan sebuah keranjang berisi banyak saham. Investor membeli unit keranjangnya, sehingga tidak perlu membeli dan mengurus setiap saham sendiri.”
“Seperti membeli bagian dari satu koleksi?”
“Ya. Kamu memiliki unit produknya. Pengelola mengurus portofolio di dalamnya.”
“Terus hubungannya dengan MSCI?”
“Banyak ETF mengikuti indeks. Sebagian memilih indeks MSCI sebagai acuan. Tujuannya mengikuti kinerja indeks tersebut sedekat mungkin.”
“Dan semuanya berjalan pakai algoritma?”
“Pengelola bisa memakai algoritma dan sistem otomatis untuk menghitung kebutuhan transaksi, memantau selisih dengan indeks, serta membantu pelaksanaannya. Tetapi tetap ada orang yang mengelola dan mengawasi. Aturan produk, biaya transaksi, dan kondisi pasar juga harus diperhitungkan.”
Jessi mengangguk perlahan. “Berarti kalau mengikuti indeks MSCI, isi keranjangnya mengikuti daftar MSCI?”
“Kurang lebih begitu. Kalau komposisi atau bobot indeks berubah, pengelola ETF pasif akan menyesuaikan portofolionya agar tetap mengikuti acuan. Cara menirunya bisa berbeda. Ada yang membeli seluruh saham dalam indeks, ada yang memakai sampel yang dianggap mewakili.”
“Kalau ETF aktif?”
“Pengelolanya punya keleluasaan memilih investasi sesuai strategi dan mandat produk. Jadi keputusan membeli atau menjual tidak harus mengikuti perubahan sebuah indeks.”
Ia terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Sekarang aku mulai mengerti. MSCI menyusun acuannya. Pengelola ETF mengurus keranjangnya. Investor membeli unit keranjang itu.”
“Ya.”
“Dan kualitas acuan itu penting karena dipakai untuk menempatkan uang.”
Saya mengangguk.
Jessi meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Kalau begitu, pekerjaan mereka juga bergantung pada kepercayaan.”
“Seperti pekerjaan kamu.”
Ia tersenyum. “Bedanya, kalau aku salah menilai satu guci, klienku langsung menelepon.”
“Kalau acuan investasi bermasalah,” kata saya, “yang bertanya bisa datang dari banyak negara sekaligus.”
“Sekarang aku mengerti kenapa orang memperhatikan MSCI. Daftarnya bisa memengaruhi ke mana uang mengalir.”
“Ya. Pengaruhnya besar karena banyak dana memakai acuan yang sama.”
Jesi terdiam sebentar. “Lalu celah bagi bandar ada di mana?”
Saya menatapnya. “Dalam pekerjaanmu, pernah menemukan barang dengan riwayat transaksi yang kelihatannya meyakinkan, tetapi setelah ditelusuri ternyata pembeli dan penjualnya masih berkaitan?”
“Pernah. Di atas kertas sudah berpindah tangan beberapa kali. Seolah-olah banyak peminat.”
“Padahal?”
“Bisa saja barang itu masih berputar di lingkungan orang yang sama.”
Saya mengangguk. “Itulah perumpamaan yang membantu memahami risikonya. Di bursa, kita perlu tahu berapa banyak saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan, siapa pemiliknya, dan apakah transaksi mencerminkan permintaan yang wajar.”
“Yang disebut free float itu?”
“Ya. Secara sederhana, saham yang tersedia bagi investor publik. Penilaiannya lebih rumit daripada sekadar menghitung jumlah nama pemegang saham. MSCI punya metodologi untuk menilai saham yang tersedia bagi investor internasional, termasuk memperhitungkan kepemilikan strategis dan pembatasan investasi asing.”
“Kalau nama pemegangnya banyak, tetapi ternyata saling terhubung?”
“Itu bisa membuat gambaran kepemilikan menyesatkan apabila hubungan tersebut tidak terungkap. Begitu juga kalau perdagangan terlihat ramai, tetapi kualitas transaksinya dipertanyakan. Karena itu data kepemilikan dan pengawasan perdagangan penting.”
Ia mencondongkan tubuh. “Lalu ETF bisa membeli berdasarkan gambaran yang keliru?”
“Risiko itu ada apabila data dan proses penyaringannya gagal menangkap keadaan sebenarnya. Tetapi masuk indeks juga melalui persyaratan. Kita tidak bisa mengatakan setiap saham yang naik atau setiap saham yang dibeli ETF pasti permainan bandar. Tapi selama ini suspect cenderung begitu atau istilahnya. Pump and dump”
Jessi tersenyum. “Sama seperti barang antik mahal belum tentu hasil permainan lelang.”
“Tepat.”
Dari lorong terdengar langkah pelan seorang terapis. Jessi melirik, lalu kembali kepada saya. “Coba jelaskan memakai angka.”
“Misalnya sebuah ETF mengelola seratus juta dolar. Anggap indeks acuannya memberi bobot dua persen kepada saham Indonesia. Berarti eksposurnya sekitar dua juta dolar. Ini contoh hitungan, bukan bobot Indonesia yang berlaku untuk semua indeks.”
“Dua juta tetap besar.”
“Besar bagi kita. Tetapi hanya dua persen dari keranjang itu. Kalau bagian tersebut rugi dua puluh persen, dampaknya sekitar nol koma empat persen terhadap seluruh portofolio, dengan asumsi bagian lain tidak berubah.”
Ia menghitung sebentar. “Empat ratus ribu dolar.”
“Ya. Kalau bagian lain untung besar, investor masih bisa melihat total investasinya tumbuh. Kerugian pada bagian kecil menjadi kurang menonjol.”
“Seperti orang punya black card, lalu tidak memeriksa transaksi kecil?”
“Sebagai gambaran perhatian orang terhadap uangnya, bisa. Tetapi ada batas analoginya. ETF membeli saham sesuai mandat bukan berarti rekening investor dibobol. Investor memang memilih produk dengan aturan investasi tertentu.”
“Jadi masalahnya bukan uang keluar tanpa izin.”
“Masalahnya apakah uang itu dibelanjakan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.”
Jesi mengangguk perlahan. “Seperti kolektor memberi mandat membeli keramik. Pembeliannya sah. Tetapi kalau keterangan asal-usulnya keliru atau harga pembandingnya direkayasa, dia bisa membayar terlalu mahal.”
“Persis.”
Ia mengambil cangkirnya, tetapi urung minum. “Kalau begitu bandar bisa memanfaatkan dana yang mengikuti indeks?”
“Secara umum, arus pembelian yang dapat diperkirakan bisa dimanfaatkan pelaku pasar. Namun kita harus membedakan orang yang memperkirakan perubahan indeks dan berdagang secara sah, dengan orang yang memanipulasi harga, transaksi, atau informasi kepemilikan. Yang kedua perlu dibuktikan lewat pemeriksaan.”
“Dan tidak otomatis berarti MSCI bekerja sama dengan mereka?”
“Tidak otomatis. Tuduhan kerja sama itu terlalu idiot. MSCI jualan kepercayaan data dan informasi. Terlalu beresiko kalau mereka ikut main. Apalagi bobot Indonesia hanya 2%. Terlalu kecil dibandingkan dengan resiko kehilangan trust. Yang bisa kita pertanyakan adalah bagaimana otoritas bekerja mengawasinya dan menutup celah pelanggaran. “
Jessi mengusap sedikit embun pada dinding cangkir. “Di dunia barang antik, reputasi penilai bisa hancur karena satu benda. Bukan selalu karena dia menerima uang. Bisa juga karena dia terlalu percaya kepada dokumen.”
“Dan setelah namanya dipercaya, orang lain berhenti memeriksa.”
“Betul,” katanya. “Nama ahli kadang membuat pembeli merasa pemeriksaan sudah selesai.”
Saya mengangguk. “Di situlah tanggung jawabnya menjadi besar. Indeks membantu investor mengambil keputusan, tetapi nama besar tidak menghapus risiko. Pengelola dana tetap bertanggung jawab menjalankan mandatnya. Bursa dan regulator bertanggung jawab atas keterbukaan serta ketertiban pasar. Penyedia indeks perlu menjaga mutu acuannya.”
“Kalau ada investor yang meminta pemeriksaan lebih jauh?”
“Itu wajar. Dia berhak bertanya, saham apa yang dibeli, mengapa bobotnya sebesar itu, siapa yang sebenarnya memiliki sahamnya, dan apakah dia bisa menjualnya kembali dalam pasar yang wajar.”
“Walaupun alokasinya hanya kecil?”
“Uang kecil tetap uang miliknya.”
Jessi tersenyum. Kali ini ia menghabiskan tehnya. “Berarti pekerjaan kita punya kesamaan.”
“Apa?”
“Aku memeriksa apakah cerita di belakang sebuah benda pantas dipercaya. Kamu memeriksa apakah cerita di belakang sebuah harga pantas dibayar.”
Saya tertawa pelan. “Dan kita sama-sama tahu, cerita yang paling meyakinkan kadang justru yang perlu diperiksa paling sabar.”
Terapis datang memanggil namanya. Jesi bangkit, merapikan tas, lalu menunjuk cangkir kosongnya. “Jangan pergi dulu. Aku masih kangen.”
Jessi mengikuti program terapi yang jadwalnya lebih panjang. Saya hanya sauna, membersihkan telinga, lalu pijat batu panas. Setelah percakapan di lounge itu, kami berpisah menuju ruang masing-masing.
Saya berbaring tengkurap. Ruangan terasa hangat, dengan aroma minyak pijat dan suara musik yang pelan. Terapis meletakkan batu panas di punggung saya. Hangatnya meresap perlahan, membuat otot yang tegang mulai mengendur. Dalam keadaan seperti itu, pikiran justru berjalan jauh.
***
Saya teringat Hong Kong, tahun 2003. Usia saya empat puluh. Saya baru merintis bisnis maklon, mencari pembeli di luar negeri dan mempertemukan kebutuhan mereka dengan kemampuan produksi pabrik di China. Kedengarannya sederhana. Kenyataannya, berbulan-bulan bisa habis hanya untuk mengirim penawaran, membicarakan spesifikasi, mengurus contoh barang, lalu menunggu jawaban yang belum tentu datang.
Pengalaman sebagai sales internasional memang membantu saya membuka percakapan. Tetapi pengalaman tidak serta-merta membuat orang mau menyerahkan pesanan. Saya harus membangun kepercayaan dari awal, sementara uang terus berkurang. Hong Kong tidak peduli apakah seseorang sedang merintis usaha atau sudah menjadi pengusaha besar. Sewa tetap jatuh tempo. Makan tetap harus dibayar. Setiap perjalanan menemui calon pelanggan menghabiskan ongkos, sekalipun pertemuan berakhir dengan kalimat, “Nanti kami kabari.”
Saya menyewa apartemen seluas sekitar dua puluh satu meter persegi dengan harga tiga ribu dolar Hong Kong sebulan. Di sanalah saya tinggal sekaligus bekerja. Meja komputer menempel ke dinding. Tempat tidur hanya beberapa langkah dari kursi kerja. Sampel barang, kertas penawaran, dan tas pakaian harus berbagi ruang. Kalau ada orang datang, saya perlu membereskan beberapa benda lebih dahulu agar tersedia tempat duduk. Dari ruangan kecil itulah saya mencoba menjangkau dunia.
Jessi mengenal saya ketika hidup saya masih sesempit itu. Kami bertemu secara kebetulan di sebuah kafe. Percakapan ringan yang semula hanya mengisi waktu kemudian menjadi pertemanan. Sesekali kami bertemu selepas pekerjaannya atau saat saya sedang menunggu jadwal pertemuan. Waktu itu usianya dua puluh delapan tahun. Ia bekerja di kantor perwakilan perusahaan asuransi dari Eropa yang menangani batu mulia. Pekerjaannya membuat ia terbiasa dengan benda bernilai tinggi, dokumen yang harus teliti, dan orang-orang yang sangat berhati-hati terhadap risiko. Barangkali karena itu ia heran melihat cara saya menjalani hidup.
Suatu kali ia melihat saya membawa tiga botol wiski Ballantine’s yang saya beli di toko bebas bea di perbatasan Shenzhen. “Buat siapa sebanyak itu?” tanyanya.
“Buat dijual.”
Ia memandang saya, memastikan saya tidak sedang bercanda. “ Kamu sekarang jualan wiski?”
“Kalau ada yang mau beli, kenapa enggak?”
Saya menjualnya kepada kenalan di sebuah KTV private club di Hong Kong. Barang itu tidak saya tawarkan di toko umum. Selisih hasil penjualannya cukup untuk membantu biaya hidup saya selama seminggu. Jessi tertawa ketika mendengarnya. Tetapi setelah melihat saya menghitung uang dan menyimpannya dengan hati-hati, tawanya mereda. “Cukup buat seminggu?”
“Kalau hemat.”
Ia memandang saya beberapa saat. Saya tahu, mungkin sulit baginya membayangkan seseorang datang ke kota semahal Hong Kong dengan perhitungan hidup yang hanya berjarak satu minggu.
Bagi saya, satu minggu sangat berarti. Dalam satu minggu saya bisa mengirim lebih banyak penawaran. Bisa mengejar jawaban calon pembeli. Bisa memperbaiki sampel yang ditolak. Bisa mendapat kesempatan yang minggu sebelumnya belum tersedia. Saya belum memperoleh pesanan ekspor perdana. Selama itu pula, saya harus mencari cara agar tetap berada di sana.
Beberapa waktu kemudian, Jessi datang ke tempat saya. Saya menyebutnya kantor. Setelah masuk, ia segera mengetahui bahwa kantor itu juga kamar tidur, tempat makan, dan gudang kecil saya.
Ia berdiri di dekat pintu, melihat sekeliling, lalu tertawa. “Ale, berani banget kamu merantau ke Hong Kong. Uang terbatas. Tanpa koneksi. Cuma modal pengalaman sebagai sales internasional.”
Saya menggeser tumpukan kertas dari kursi. “Duduk dulu. Kalau berdiri di situ, pintunya enggak bisa ditutup.”
Ia masih tertawa ketika duduk.
Komputer saya terus menyala. Jendela percakapan memenuhi layar. Sesekali terdengar bunyi pesan masuk dari orang-orang di berbagai negara. Perbedaan waktu membuat jam kerja saya tidak pernah benar-benar teratur. Ketika satu wilayah selesai bekerja, wilayah lain baru memulai hari.
Jessi memperhatikan saya mengetik balasan. “Ramai juga kantor kamu.”
“Yang ramai percakapannya. Pesanannya belum.”
Ia tertawa lagi. Saya ikut tersenyum, walau sebenarnya ada rasa lelah yang sedang saya sembunyikan. Di layar, seseorang bertanya apakah harga masih bisa diturunkan. Yang lain meminta perubahan kemasan. Ada calon pembeli yang sudah tiga kali meminta penawaran, tetapi belum juga memberi kepastian.
Jessi menunggu sampai saya selesai membalas. “Kamu enggak takut kehabisan uang?”
Saya melepaskan tangan dari papan ketik. “Takut.”
“Terus?”
“Makanya saya kerja.”
Ia diam. Dari luar terdengar dengung pendingin udara dan suara kendaraan yang samar. Saya mengambil air minum untuknya, lalu duduk kembali. Saya tidak punya jawaban yang lebih gagah daripada itu. Memang takut. Kadang saya terbangun malam dan menghitung berapa lama lagi uang yang tersisa bisa bertahan. Kadang saya membaca ulang percakapan dengan calon pembeli, mencari tanda apakah mereka sungguh berminat atau sekadar bersikap sopan.
Pada usia empat puluh, kegagalan terasa berbeda. Saya sudah cukup tua untuk memahami akibatnya, tetapi masih harus memulai lagi seperti orang yang baru belajar berdagang. Jessi melihat semua itu dari jarak dekat. Ia melihat saya membahas pesanan dengan calon pelanggan di luar negeri, lalu turun mencari makanan yang paling murah. Ia melihat saya menegosiasikan nilai transaksi yang besar, sementara kehidupan sehari-hari saya bergantung pada penghematan kecil.
Mungkin dari sanalah pertemanan kami bertahan. Ia mengenal saya sebelum ada hasil yang bisa diperlihatkan. “Kalau nanti dapat pesanan pertama, kamu mau apa?” tanyanya.
“Selesaikan pesanannya dengan benar.”
“Bukan pindah kantor?”
“Kalau pesanan pertama berantakan, buat apa kantor besar?”
Jessi mengangguk. Matanya kembali ke layar komputer yang berbunyi. “Balas dulu,” katanya. “Siapa tahu yang ini jadi.”
***
“Panasnya cukup, Pak?” Suara terapis membuat lamunan saya buyar, membawa saya kembali ke ruangan.
“Cukup,” jawab saya.
Sebuah batu diangkat dari punggung, diganti dengan yang lebih hangat. Saya menarik napas panjang. Jessi masih berada di ruang terapi lain. Perempuan yang tadi bertanya tentang MSCI itu pernah duduk di kantor kecil saya, menyaksikan pesan-pesan masuk dari berbagai negara, dan mendengar pengakuan bahwa saya takut kehabisan uang.
Saya tersenyum sendiri. Nanti, kalau bertemu lagi di lounge, saya ingin bertanya apakah ia masih ingat tiga botol wiski itu. Barangkali baginya hanya kenangan lucu tentang seorang teman yang nekat merantau. Saya masih ingat uang hasil penjualannya, dan betapa lega rasanya mengetahui bahwa untuk seminggu berikutnya, saya masih bisa bertahan.
***
Seusai terapi, saya kembali duduk di lounge. Badan terasa ringan, tetapi pikiran masih tertinggal di Hong Kong tahun 2003. Saya sedang menghabiskan air hangat ketika Jessi keluar dari ruang terapi. Rambutnya telah dirapikan. Ia menghampiri saya sambil membetulkan tali tas di bahunya.
“Kita ke Burgundy saja,” ajak saya. “Santai di sana, lihat keramaian Bundaran HI.”
Jessi mengangguk. “Ayo. Aku juga belum pengin pulang.”
Dari tempat duduk kami, lampu kendaraan tampak mengalir mengitari Bundaran HI. Jakarta masih sibuk, sementara di dalam lounge orang-orang berbicara pelan di bawah cahaya temaram. Jessi duduk di samping saya. Beberapa saat ia memperhatikan wajah saya, seperti sedang mempertimbangkan apakah sebuah pertanyaan pantas dikeluarkan.
“Ale, aku dari tadi ingat Hong Kong.”
“Saya juga.”
“Tahun 2003 itu aku sering ke apartemen kamu, kan?”
Saya mengangguk.
“Kenapa kamu enggak pernah berusaha merayuku?” Ia tersenyum, tetapi matanya menunggu jawaban. “Padahal aku pengin banget.”
Saya membalas senyumnya.
“Kenapa?” kejarnya. “Jangan cuma senyum.”
Saya memandang ke luar sebentar. Di kaca, bayangan kami bertumpuk dengan lampu kota. “Saat itu saya sedang berjuang, Jes. Masalah sudah banyak. Saya meninggalkan keluarga di Jakarta. Anak-anak masih butuh biaya. Si sulung sedang kuliah, sementara jalan usaha saya belum jelas.”
Jessi mendengarkan tanpa menyela.
“Saya senang kamu datang. Apartemen itu jadi enggak terlalu sepi. Tetapi kalau kedekatan kita berkembang lebih jauh, saya takut kehilangan fokus. Ada perasaan yang harus diurus, ada waktu dan pikiran yang harus dibagi. Sementara saya belum tentu bisa bayar sewa beberapa bulan ke depan.”
“ Aku enggak minta komitmen apa-apa, Ale. Just have fun saja.”
“Saya tahu.” Saya tersenyum. “Tapi saya enggak terbiasa begitu. Belum tentu setelahnya saya bisa menganggap semua tetap sederhana.”
Ia memutar gelasnya perlahan. “Kamu takut sama aku ?”
“Takut sama diri sendiri.”
Jessi menoleh.
“Saya sedang kesepian. Jauh dari rumah. Dalam keadaan begitu, perhatian sedikit saja bisa terasa besar sekali. Saya harus tahu batas saya. Usia saya tidak muda lagi. Usia saya 40 , usia golden age sudah lewat dibelakang.”
Senyumnya mereda. Ia menunduk sejenak, lalu memandang saya lagi. “Aku dulu pikir kamu enggak tertarik.”
“Saya punya cukup banyak alasan untuk menahan diri. Bukan berarti saya enggak bisa melihat kamu cantik.”
Ia tertawa dan menyentuh lengan saya. “Nah. Baru sekarang keluar pengakuannya.”
“Sudah lewat dua puluh tahun lebih. Kamu baru menagih sekarang.”
“Karena sekarang aku berani tanya.”
Saya ikut tertawa. Ada hal-hal yang rupanya perlu menjadi kenangan dahulu sebelum bisa dibicarakan tanpa membuat orang salah tingkah. “Yang paling saya takutkan waktu itu pulang dalam keadaan gagal,” lanjut saya. “Membayangkan anak-anak menunggu, sementara saya pulang membawa alasan. Itu mimpi buruk buat saya.”
Jessi mengangguk pelan. “Sekarang aku ngerti.”
Kami terdiam sebentar. Pelayan datang meletakkan pesanan, lalu meninggalkan kami dengan suara musik dan percakapan dari meja lain.
“Kamu pernah mengenalkan aku sama perempuan China,” kata Jessi kemudian. “Cantik. Seumuran gua. Kalau enggak salah namanya Wenny?”
“Iya. Wenny.”
“Dia di mana sekarang?”
“Jadi CEO Yuan Holding.”
Jessi berhenti mengangkat gelasnya. “Wenny yang itu?”
Saya mengangguk. Jessica menatap saya sejenak, lalu meletakkan cangkirnya. “Kamu pernah tidur dengan Wenny?”
Saya menoleh. Pertanyaannya begitu mendadak, tetapi wajahnya tenang. “Never. Not even once.”
“Aku percaya.”
“Kenapa?”
Ia tersenyum kecil. “Karena dulu aku sering datang ke apartemenmu. Aku tahu bagaimana kamu menjaga jarak, bahkan ketika aku berharap kamu mendekat.”
“Wenny teman seperjuangan saya, Jes. Banyak hal kami lewati bersama.”
“Aku tahu.” Ia menyentuh lengan saya. “Dekat sekali dengan seseorang memang bisa membuat orang lain membayangkan macam-macam.”
“Kamu juga?”
“Makanya aku tanya.”
Kami tertawa pelan. Setelah itu Jessi kembali mengangkat cangkirnya, tampak puas dengan jawaban singkat yang sejak tadi ingin ia dengar.
Ia menyandarkan punggung, lalu mengembuskan napas sambil tersenyum. “Dulu kita ketemu biasa saja. Aku enggak pernah membayangkan sejauh itu.”
“Waktu itu aku juga masih mengerjakan apa yang ada di depan mata.”
Jessi menatap saya agak lama. “Terus tahun 2010 lue sudah punya perusahaan private equity. Sebelum itu aku sudah pulang ke Indonesia. Mulai usaha sendiri, khusus appraisal batu mulia dan barang antik.”
“Dari mengurus pertanggungan barang berharga jadi menentukan nilainya.”
“Masih berdekatan. Cuma sekarang kalau aku salah menilai, nama aku sendiri yang kena.”
Saya tersenyum jahil. “Sebenarnya kamu memberi jalan orang kaya Indonesia cuci uang.”
Jessi langsung memukul pelan pundak saya. “Ale, ternyata kamu tahu banyak tentang aku. Tahu dari mana?
Saya tertawa. “Saya hedge fund player. Setiap orang kaya pasti saya tahu, dan saya lacak profile bisnisnya. Kalau clean, pasti saya lobi..seperti sales maklon”
“Tapi aku tetap aja penuh standar kepatuhan sistem perbankan. Kalau client boong soal asal usul dana , bukan urusanku..”
“Tapi orang mau pakai jasa kamu karena kamu punya bank network untuk placement repurchase asset dan layering asset ”
Dia tersenyum. Setelah itu ia bergeser sedikit dan menyandarkan kepalanya di pundak saya. Gerakannya ringan, seperti seseorang yang akhirnya merasa tak perlu menjaga sikap di depan teman lama.
“Kamu punya rumah mewah di PIK,” sambung saya, “mobil mewah sampai selusin. Boleh dong teman lama curiga sedikit.”
Ia mengangkat kepala dan menatap saya. “ Itu rezeki anak soleh. Aku engga korup dan engga rekayasa harga saham. Engga buat investasi bodong. Engga ada utang bank. Tiap tahun bayar pajak.”
Tawa saya pecah. Jessi kembali memukul pundak saya, lalu ikut tertawa. Di luar, kendaraan masih mengitari bundaran. Saya membiarkan tawa itu reda tanpa buru-buru mengisi percakapan. Dahulu ia datang ke apartemen sempit saya dan duduk di antara sampel barang serta tumpukan penawaran. Malam ini kami duduk menghadap lampu Jakarta, membicarakan perasaan yang dulu sengaja tidak saya sentuh.
“Jes,” kata saya.
“Hm?”
“Terima kasih dulu sering datang.”
Ia diam sebentar.
“Aku senang di sana, Ale. Walaupun kamu ebih sering melihat komputer daripada melihat aku, wanita cantik dan mulus.”
Saya menoleh kepadanya. “Sekarang komputernya enggak ada.”
Jessi tersenyum, lalu kembali menyandarkan kepalanya di pundak saya. “Ya sudah. Kali ini jangan buru-buru pulang.”
“ Gimana kalau kita makan sushi di sebelah. “ kata saya.
“ Okay..” teriak riangnya. “ Gua yang traktir ya.” Katanya memeluk lengan saya.
***
Kami memilih ruang privat di restoran Jepang agar bisa berbicara leluasa. Setelah pelayan mencatat pesanan dan menggeser pintu hingga tertutup, Jessi meletakkan tasnya di bangku.
“Ale, kenapa orang ramai bilang MSCI mengancam Indonesia? Malah dituduh sebagai biang bursa jatuh.”
Saya menuangkan teh ke cangkirnya.
“Karena orang sering mencampur persoalan pasar dengan perasaan kebangsaan. Akhirnya, masalah tata kelola bergeser menjadi retorika tentang asing melawan Indonesia. Padahal yang dipertanyakan adalah keterbukaan kepemilikan, saham yang benar-benar tersedia bagi publik, dan kewajaran pembentukan harga.”
“Tapi pasti ada penjelasan yang masuk akal untuk orang awam, kan?”
“Ada. Hanya saja, kita harus membedakan harga yang bergejolak dengan harga yang dimanipulasi. High volatility berarti perubahan harga yang besar atau cepat. Penyebabnya bisa berita perusahaan, kondisi ekonomi, perubahan likuiditas, atau kepanikan investor. Sementara pump and dump adalah praktik mendongkrak harga dengan cara menyesatkan, kemudian menjual saham kepada pembeli yang masuk belakangan.”
“Dari luar bisa kelihatan sama?”
“Bisa. Sama-sama naik tinggi, lalu jatuh. Tetapi pola harga saja belum cukup membuktikan manipulasi. Perlu diperiksa transaksi, hubungan antarpihak, informasi yang disebarkan, dan siapa yang memperoleh keuntungan.”
Jessi mengangguk.
“Saya belajar trading sejak 1996,” lanjut saya. “Tetapi baru berani masuk ketika punya dana yang memang bisa saya tanggung kalau hilang. Uang kebutuhan keluarga dan tabungan untuk masa depan tidak saya pertaruhkan.”
“Mengapa sampai begitu?”
“Karena memahami perusahaan belum tentu membuat kita memahami perilaku harga sahamnya. Perusahaannya bisa bagus, tetapi harga belinya terlalu mahal. Bisa juga harga sahamnya naik ketika bisnisnya sedang melemah.”
Saya mengambil cangkir, lalu melanjutkan. “Selain itu, tujuan orang membawa perusahaan ke bursa juga berbeda-beda.”
“Misalnya?”
“Menghimpun modal untuk ekspansi, memberi kesempatan pemegang saham lama menjual sebagian kepemilikannya, atau membangun akses pendanaan yang lebih luas.”
“Jelaskan satu per satu.”
“Kalau perusahaan menerbitkan saham baru, hasil penjualannya masuk ke perusahaan. Dana itu bisa dipakai membangun pabrik, menambah modal kerja, melakukan akuisisi, atau membayar utang sesuai rencana penggunaan dana.”
“Kalau pemilik lama yang menjual?”
“Uangnya masuk kepada pemilik yang menjual. Itu bisa menjadi jalan exit, sebagian atau seluruhnya. Ia mencairkan investasinya sekaligus mengurangi konsentrasi risiko pada satu usaha.”
“Lalu peningkatan nilai perusahaan?”
“Menjadi perusahaan terbuka membuat kepemilikannya memiliki harga pasar yang bisa diamati. Kalau bisnis tumbuh dan dipercaya investor, valuasinya bisa meningkat. Tetapi kenaikan kapitalisasi pasar tidak otomatis menambah uang kas perusahaan.”
Jessi meletakkan sumpitnya. “Jadi kalau harga saham naik dua kali lipat, uang perusahaan belum tentu bertambah?”
“Betul. Perusahaan baru menerima dana kalau ada transaksi pendanaan yang menghasilkan uang untuknya, misalnya menerbitkan saham baru. Perdagangan saham antarinvestor di bursa umumnya memindahkan uang dari pembeli kepada penjual.”
“Bagaimana dengan leverage?”
“Status sebagai perusahaan terbuka bisa membantu akses pendanaan. Tetapi bank dan pembeli obligasi tetap perlu menilai arus kas, aset, kemampuan membayar, dan tata kelolanya. Kapitalisasi pasar yang besar bukan jaminan utangnya aman.”
“Kalau repo saham?”
“Pemegang saham bisa memperoleh pembiayaan dengan transaksi repo atas sahamnya. Tetapi harus jelas siapa yang berutang. Kalau pemilik mengagunkan saham pribadinya, dana itu tidak otomatis menjadi uang perusahaan.”
Jessi mengangguk perlahan. “Berarti kenaikan harga saham bisa menguntungkan pihak yang berbeda-beda.”
“Ya. Trader bisa mendapat keuntungan dari selisih harga. Pemegang saham memperoleh kenaikan nilai kepemilikan, tetapi keuntungan itu belum terealisasi sebelum dijual. Sementara perusahaan memperoleh laba dari kegiatan usahanya. Dana pinjaman tetap kewajiban yang harus dibayar.”
“Jadi perusahaan yang sahamnya ramai belum tentu bisnisnya menghasilkan banyak uang?”
“Itulah sebabnya kita harus membaca laporan keuangan, bukan hanya melihat layar harga.”
Jessi mengambil sepotong makanan, lalu bertanya lagi. “Lalu mengapa saham dengan HSC bisa dikeluarkan dari indeks?”
“HSC itu High Shareholding Concentration, konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi. Kalau sebagian besar saham terkumpul pada sedikit pihak, saham yang sungguh tersedia untuk diperdagangkan bisa terbatas.”
“Berarti manipulasi?”
“Belum tentu. Konsentrasi kepemilikan adalah kondisi yang perlu dinilai, bukan vonis pelanggaran. Persoalannya bagi penyedia indeks adalah apakah saham itu cukup tersedia dan bisa diperdagangkan secara wajar oleh dana yang mengikuti indeks.”
Saya meletakkan cangkir. “Dan kita perlu membedakan pengelola bursa dengan penyedia indeks. Keluar dari indeks MSCI bukan berarti sahamnya dihapus dari pencatatan BEI. Keputusan indeks mengikuti metodologi penyedia indeks; pengawasan dan penindakan perdagangan menjadi urusan otoritas pasar.”
“Apa dampaknya bagi emiten yang sahamnya dikeluarkan dari indeks?”
“Dana yang mengikuti indeks tersebut perlu menyesuaikan portofolionya. Penjualan mereka bisa menekan harga dan mengurangi permintaan terhadap saham itu. Besarnya dampak bergantung pada jumlah dana yang mengikuti indeks, likuiditas saham, dan seberapa jauh pasar sudah mengantisipasinya.”
“Uang perusahaan ikut hilang?”
“Kas perusahaan tidak otomatis berkurang karena investor menjual saham di pasar sekunder. Tetapi dampak lanjutannya bisa terasa. Kalau harga dan kepercayaan turun, penerbitan saham baru bisa menjadi lebih mahal bagi pemilik lama karena perlu melepas porsi kepemilikan lebih besar untuk memperoleh dana yang sama.”
“Kalau sahamnya dipakai untuk pembiayaan?”
“Pihak yang menjaminkannya bisa diminta menambah agunan atau mengurangi pinjaman, tergantung perjanjiannya. Jadi tekanan harga bisa merembet ke pembiayaan. Tetapi sekali lagi, harus dilihat apakah kewajiban itu milik perusahaan atau pemegang sahamnya.”
Jessi terdiam sejenak. “Berarti keluar dari indeks bukan otomatis perusahaan bangkrut.”
“Betul. Perusahaan dengan usaha sehat masih bisa berjalan. Namun kalau selama ini strategi pendanaannya terlalu bergantung pada harga saham yang terus tinggi, penurunan harga akan menguji ketahanannya.”
Ia memandang saya sambil mengangguk. “Sekarang aku paham. Yang harus diperiksa bukan cuma kenapa sahamnya dikeluarkan, tetapi juga bagaimana perusahaan itu selama ini membiayai usahanya.”
“Ya,” jawab saya. “Dan apakah bisnisnya menghasilkan cukup uang untuk memenuhi kewajibannya ketika harga saham tidak lagi menolong.”
Jessi tersenyum penuh arti. Ia meletakkan sumpitnya, lalu menatap saya agak lama.
“Ada apa?” tanya saya, mengerutkan kening.
“Kata banker gua di Singapura, lue penyedia jasa shadow banking buat mendukung trading di Indonesia.”
Saya menunggu ia melanjutkan.
“Katanya kamu ini ghost trader. Enggak kelihatan, tetapi orang menduga ada. Mereka juga enggak jelas, kamu yang menyusun strategi atau cuma menyediakan instrumen pembiayaan dan leverage.”
“Kamu percaya?”
Jessi tidak langsung menjawab. Ia justru bangkit, membawa gelasnya, lalu pindah duduk ke sebelah saya. Bangku itu cukup panjang untuk kami berdua, meskipun setelah ia duduk, bahu kami bersentuhan. “Gua cuma tahu lue my shadow love.”
Saya tertawa kecil. Ia merebahkan kepalanya di bahu saya. Dari balik pintu ruang privat terdengar langkah pelayan, kemudian menjauh. “Ale, sekarang gua lima puluh tahun,” katanya pelan. “Belum pernah menikah.”
Saya menoleh sedikit, tetapi dari posisi itu hanya bisa melihat rambut dan sebagian pipinya. “Kamu akan baik-baik saja, Jes. Jalani saja hidup.”
“ Aku tahu.” Ia menghela napas. “Aku juga enggak merasa hidup aku gagal.”
“Iya.”
“Cuma kadang ada hal yang enggak selesai di dalam kepala.”
Saya membiarkannya bicara.
“Sejak pulang ke Indonesia tahun 2006, aku sibuk membangun bisnis. Cari klien, bangun nama, belajar menghadapi orang. Begitu usaha mulai jalan, kesibukannya malah tambah banyak.”
Tangannya merapikan ujung serbet di meja. “ Aku senang sama pekerjaanku. Sampai sekarang juga masih senang. Tetapi kadang pulang malam, masuk rumah, semuanya sudah rapi, semuanya sudah tersedia… terus aku duduk sendiri.”
Saya mendengarkan. Nada bicaranya tenang, tanpa keinginan membuat kesendiriannya terdengar menyedihkan.
“Dalam keadaan begitu, kadang aku ingat kamu.”
“Kenapa enggak telepon?”
“Itu.” Ia mengangkat kepala dan memandang saya. “ Aku takut telepon. Takut kirim email. Kamu tahu kenapa?”
“Kenapa?”
“Aku takut setelah mendengar suara kamu, aku malah mulai berharap lagi.”
Saya diam.
“Dulu aku sudah tahu kamu punya keluarga. Aku juga tahu kamu enggak pernah menjanjikan apa-apa. Jadi kalau aku sedih, aku mau menyalahkan siapa?”
Ia tersenyum tipis. “Ujung-ujungnya aku menyalahkan diri sendiri. Kok masih ingat? Kok belum selesai juga? Padahal mungkin buat kamu, aku cuma teman yang sesekali datang ke apartemen.”
“Saya ingat kamu, Jes.”
“Iya. Tapi dulu aku enggak tahu.”
Saya menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, saya merasa perlu berhati-hati memilih kalimat. Ada pengakuan yang tampak ringan ketika diucapkan sambil tersenyum, padahal orang sudah bertahun-tahun menyiapkan keberanian untuk mengatakannya.
“Dulu kehadiran kamu berarti buat saya,” kata saya. “Saya sedang susah. Kamu datang tanpa membuat saya merasa harus terlihat berhasil.”
Matanya bergerak ke wajah saya, seperti ingin memastikan saya tidak sekadar menghiburnya. “Saya senang waktu kamu datang,” lanjut saya. “Walaupun sering masih sibuk membalas pesan di komputer.”
“Sering?” Ia tertawa pendek. “Hampir sepanjang waktu.”
Saya ikut tersenyum. “Maaf.”
Ia kembali bersandar di bahu saya. “Setelah dua puluh tahun lebih, akhirnya kita ketemu begini. Bisa makan, ngobrol, ketawa. Aku bisa bilang terus terang tanpa merasa harus mendapatkan sesuatu dari lue.”
Saya menunduk sedikit untuk mendengar suaranya. “Rasanya lega, Ale. Aku bisa berdamai sama diri sendiri.”
Saya mengusap pelan punggung tangannya. Beberapa saat kami diam. Makanan di meja mulai kehilangan hangatnya. Saya hendak mengambil teko teh ketika Jessi berkata lagi, hampir berbisik, “Ternyata selama ini aku cuma perlu berani ketemu lue.”
Saya meliriknya, lalu tersenyum jahil. “Atau karena kamu sudah menopause.”
Ia langsung mengangkat kepala. “Ale!”
Telapak tangannya mendarat di lengan saya. Belum sempat saya mengelak, ia mencubit perut saya.
“Aduh, Jes. Sakit.”
“Biar. Orang lagi ngomong serius!”
Saya tertawa sambil berusaha melepaskan tangannya. Ia mencoba mempertahankan wajah kesal, tetapi akhirnya ikut tertawa.
“Mulut lue enggak berubah,” katanya.
Saya masih mengusap perut. “Iya. Tadi saya merusak momen.”
“Banget.”
“Ulang dari mana?”
Jessi menggeleng, senyumnya belum hilang. Ia mengambil tangan saya dan meletakkannya kembali di dekat tangannya.
“Enggak usah diulang.”
Lalu ia menyandarkan kepala lagi di bahu saya. “Duduk saja dulu.”
Hening.
Ale, menurut kamu bagaimana pemerintahan Prabowo?”
Saya diam. Rasanya malas membicarakan politik malam itu. Saya mengambil cangkir dan menyesap teh yang mulai dingin.
“Ale, jawablah.”
Saya menghela napas.
“Kalau saya, menilai presiden dari tata kelola dan penegakan hukum. Apakah pemerintahannya membuat negara semakin tertib, kebijakan semakin bisa diperkirakan, dan hukum semakin bisa dipercaya.”
Jessi menyandarkan punggung, menunggu saya melanjutkan. “Setiap pemerintahan mewarisi pekerjaan pendahulunya. Ada yang perlu diteruskan, diperbaiki, atau dihentikan. Tetapi keputusan itu harus berdasarkan evaluasi. Jangan setiap berganti presiden, negara seolah harus dimulai dari nol.”
“Contohnya?”
“Kalau saya membaca perjalanan kita, pembangunan pertanian pada masa Pak Harto menjadi salah satu penopang menuju industrialisasi. Tentu ada kelemahan besar dalam pemerintahan beliau, terutama kekuasaan yang terlalu terpusat. Tetapi fondasi produksi pangan dan pembangunan ekonomi tetap perlu dipelajari.”
Saya meletakkan cangkir.
“Habibie menghadapi kebutuhan mendesak untuk membuka sistem politik dan memperbaiki kelembagaan setelah krisis. Gus Dur berusaha memperkuat kehidupan kebangsaan yang lebih terbuka, termasuk hubungan antarkelompok yang lama dibatasi.”
“Lalu Megawati?”
“Masa Megawati penting dalam pembangunan kelembagaan pemberantasan korupsi dan landasan sistem jaminan sosial. Pada masa SBY, sebagian fondasi itu dilanjutkan, termasuk pembentukan OJK dan BPJS. Independensi BI sendiri sudah memiliki dasar hukum sejak masa Habibie; tugas pemerintahan berikutnya menjaga agar independensi itu bekerja.”
Jessi mengangguk. “Kalau Jokowi?”
“Penekanannya pada infrastruktur dan penyederhanaan hambatan investasi. Hasil, biaya, dan tata kelolanya tetap harus dievaluasi. Infrastruktur baru berguna kalau meningkatkan produktivitas dan manfaat ekonominya sepadan dengan beban pembiayaannya.”
“Berarti tugas Prabowo melanjutkan semuanya?”
“Melanjutkan yang terbukti bermanfaat dan memperbaiki yang bermasalah. Pertanian harus semakin produktif. Industri harus tumbuh. Jaminan sosial harus berkelanjutan. Lembaga pengawas harus semakin berani. Infrastruktur yang sudah dibangun harus menghasilkan kegiatan ekonomi.”
“Dan menurut kamu?”
Saya terdiam sebentar.
“Menurut saya, arah pemerintahannya justru berisiko melemahkan fondasi itu kalau keputusan semakin terpusat, ruang kritik menyempit, dan program besar berjalan tanpa disiplin anggaran serta pengawasan yang kuat.”
Jessi menatap saya. “Itu yang kamu maksud merusak warisan pemerintahan sebelumnya?”
“Ya. Warisan kelembagaan bisa rusak meskipun nama lembaganya masih ada. Pengawas tetap punya kantor, retorika masih bombamdis tetapi takut menindak. Aturan tetap tertulis, tetapi penerapannya bergantung pada siapa yang diperiksa. Anggaran terus membesar, tetapi hasilnya sulit diukur.”
“Jadi ukuranmu bukan banyaknya program?”
“Program perlu. Tetapi saya ingin tahu siapa yang bertanggung jawab, bagaimana keberhasilannya diukur, dan apa yang dilakukan kalau gagal. Contoh sampai sekarang Danantara belum juga keluarkan laporan keuangan. BI dimasuki oleh keluarga presiden. Itu sudah melanggar kode etik prinsip maritokrasi yang sangat diperlukan oleh Bank central”
Saya mengambil teko, menuangkan sedikit teh ke cangkir kami. “Presiden punya kekuasaan besar, Jes. Justru karena itu, dia perlu memastikan negara tetap bisa bekerja dengan benar tanpa harus menunggu kehendaknya dalam setiap perkara.”
Jessi terdiam, lalu tersenyum tipis. “Katanya malas bicara politik.”
Saya tertawa kecil. “Makanya jangan dipancing.”
Usia mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati terhadap perasaan orang lain. Perhatian bisa menumbuhkan harapan, sementara kita belum tentu sanggup memenuhi harapan itu. Karena itu, kehangatan perlu disertai kejujuran, termasuk keberanian mengatakan kapan harus pulang.
Malam itu saya senang bertemu Jessi. Saya juga bersyukur kami akhirnya bisa membicarakan masa lalu tanpa saling menuntut. Ada kenangan yang tetap berharga meskipun tidak pernah menjadi kehidupan yang kita jalani. Kami meninggalkan restoran dengan langkah pelan. Di depan pintu, saya menunggunya memastikan kendaraan sudah tiba. Setelah ia melambaikan tangan dari balik kaca, saya berjalan menuju mobil saya.
Saya pulang. Di rumah ada seorang perempuan yang setia menanti. Bertahun-tahun ia menghabiskan masa mudanya mendampingi saya, termasuk ketika mendampingi berarti tinggal sendiri, mengurus anak-anak, dan menunggu kepulangan saya selama berminggu-minggu.
Dulu saya merasa sedang melakukan semuanya untuk keluarga. Itu benar, tetapi ada bagian yang lama luput saya pahami, selama saya berjuang mencari penghidupan, ia menjaga agar saya tetap mempunyai rumah untuk pulang. Ia pun lelah dan kesepian, meski sering memilih tidak mengatakannya.
Kini saya punya lebih banyak waktu. Sudah sepantasnya waktu itu saya berikan kepadanya—untuk duduk mendengarkan ceritanya, menemaninya makan, atau sekadar berada di rumah tanpa terus memikirkan urusan lain. Saya tidak bisa mengembalikan masa mudanya atau mengganti malam-malam yang ia lewatkan sendiri. Tetapi saya masih bisa memastikan bahwa pada usia kami sekarang, ia tidak perlu lagi terlalu sering menunggu. Malam itu saya ingin segera sampai di rumah. Saya ingin duduk di sisinya dan bertanya bagaimana harinya, lalu mendengarkan jawabannya sampai selesai.

Tinggalkan Balasan