China dulu gelap kini terang…

Republik dalam Sebuah Rumah. Shanghai, musim gugur 1948. Di rumah keluarga Chen, potret Sun Yat-sen tergantung di atas lemari rendah. Bingkainya pernah pecah ketika mereka mengungsi selama perang melawan Jepang. Guangyuan merekatkan sudutnya sendiri. Setiap kali membersihkan kaca, ia menopangnya dengan tangan kiri, seolah tokoh di dalam potret itu dapat jatuh jika ia lengah.

Wenqing belum mengerti mengapa ayahnya menghormati seorang lelaki yang sudah meninggal jauh sebelum ia lahir.

“Dia ingin kita menjadi warga negara,” kata Guangyuan suatu malam.

“Bukankah kita memang warga negara?”

Ayahnya sedang menjahit kancing mantel. Ia menarik benang sampai kancing itu rapat. “Itu yang tertulis. Yang dijalani orang kadang berbeda.”

Rumah mereka berada di sebuah gang dengan pintu-pintu berdampingan. Pagi hari terdengar air dituangkan ke baskom, penjual sarapan memanggil pelanggan, dan sepeda melewati batu yang lembap. Shanghai telah keluar dari pendudukan Jepang, tetapi perang tidak selesai ketika tentara Jepang menyerah. Ia berganti arah, berganti nama, lalu masuk kembali ke rumah-rumah melalui harga beras dan berita kematian.

Shuyun membawa kantong kain ke pasar. Ia pulang dengan barang lebih sedikit daripada yang direncanakan. Seorang pedagang menolak menahan harga sampai sore. Di rumah, ia menyelipkan uang di bawah alas keranjang, kemudian menghitungnya lagi. Angka-angka pada kertas membesar; kemampuan kertas itu membeli makanan mengecil.

“Mengapa tidak dicetak lebih banyak saja?” tanya Wenqing.

Shuyun menatap anaknya, lalu tersenyum tanpa kegembiraan.

“Karena beras tidak tumbuh di percetakan.”

Guangyuan bekerja dalam administrasi pasokan untuk satuan Nasionalis. Suatu hari ia menemukan dua jumlah berbeda untuk kiriman yang sama. Dokumen menunjukkan sepatu telah diserahkan. Gudang mencatat sebagian belum pernah masuk. Seorang atasan menyuruhnya memperbaiki angka agar berkas dapat ditutup.

“Tentara di depan membutuhkan kepastian,” kata orang itu.

Guangyuan memandangi kolom kosong. Ia membayangkan kepastian yang diterima seorang prajurit ketika membuka peti dan tidak menemukan sepatu.

Di trem menuju rumah, ia berdiri di antara tubuh-tubuh yang letih. Orang membicarakan harga, penarikan pasukan, keluarga yang hendak pergi. Di sebuah persimpangan terlihat anak menjual rokok satuan dengan seragam sekolah yang terlalu besar.

Malam itu Guangyuan tidak membersihkan potret Sun. Ia duduk lama setelah makan, sementara Shuyun mengumpulkan butir nasi yang tercecer di meja. Ia pernah mengira republik berarti berakhirnya jarak antara penguasa dan rakyat. Kini jarak itu memiliki bentuk baru, meja pejabat, cap kantor, rekening perantara. Kekuasaan tidak memerlukan mahkota untuk membuat seseorang berhenti mendengar.

“Ada masalah?” tanya Shuyun.

Guangyuan menggeleng. Sesudah beberapa saat, ia berkata, “Kita terlalu sering meminta orang kecil berkorban untuk menutupi perbuatan orang besar.”

Shuyun tidak menjawab. Ia menyimpan semangkuk nasi untuk sarapan anak mereka.

Kapal yang Membawa Separuh Keluarga. Shanghai, Mei 1949. Guangyuan pulang menjelang petang membawa dua tiket kapal dan sebuah tas kanvas. Di ujung gang, seorang pedagang sedang menurunkan papan tokonya. Suara trem terdengar dari jalan besar, bercampur dengan derak roda gerobak dan percakapan orang-orang yang semakin sering menyebut nama kota tujuan: Hong Kong, Taipei, tempat mana pun yang masih dapat dicapai sebelum keadaan berubah.

Ia menutup pintu, lalu meletakkan tiket di meja dengan hati-hati, seperti benda yang dapat melukai jika disentuh terlalu cepat. Shuyun sedang memilah beras. Jemarinya berhenti di antara butiran putih dan serpihan sekam. Ia memandangi kedua lembar kertas itu sebelum mengangkat wajah kepada suaminya.

Mereka berasal dari keluarga terpelajar, meskipun tidak kaya. Ayah Guangyuan pernah mengajar di sekolah menengah dan percaya bahwa pendidikan akan memberi Tiongkok sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh pergantian penguasa saja, manusia yang mampu berpikir dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Di rumah masa kecilnya, buku diperlakukan dengan hormat. Tidak seorang pun boleh meletakkan mangkuk di atasnya, bahkan ketika meja makan telah penuh.

Guangyuan mempelajari pembukuan dan administrasi. Ia menyukai angka karena angka, setidaknya dalam pekerjaan yang dijalankan dengan benar, tidak memerlukan pujian atau ancaman untuk mengatakan sesuatu. Ketika bekerja mengurus catatan pasokan bagi pemerintahan Nasionalis, ia membawa keyakinan itu bersamanya. Bertahun-tahun kemudian, ia mengetahui bahwa angka pun dapat dipaksa berbohong apabila orang yang memegang cap lebih berkuasa daripada orang yang memeriksa barang.

Shuyun tumbuh di rumah seorang guru bahasa dan sastra. Ia memperoleh pendidikan di sekolah perempuan, membaca puisi klasik, dan pernah membantu mengajar anak-anak sebelum menikah. Ibunya mengajarkan tata krama keluarga, mengurus rumah, serta kewajiban merawat orang tua. Dari ayahnya, ia belajar bahwa kalimat yang halus tidak selalu berarti pikiran yang lemah.

Perkawinan mereka diperantarai keluarga. Pada pertemuan pertama, Guangyuan lebih banyak berbicara kepada ayah Shuyun tentang pekerjaan daripada memandang perempuan yang kelak menjadi istrinya. Namun, sebelum ia pulang, Shuyun bertanya buku apa yang sedang dibacanya. Pertanyaan sederhana itu membuat Guangyuan berhenti merapikan lengan bajunya.

Sesudah menikah, kasih sayang tumbuh melalui kebiasaan-kebiasaan kecil. Shuyun menunggu suaminya makan meskipun hidangan telah dingin. Guangyuan menyisihkan uang untuk membeli buku yang disebut istrinya sepintas. Pada malam ketika listrik padam, mereka membaca bergantian di dekat lampu minyak, sampai Shuyun mengingatkan bahwa minyak harus disimpan untuk esok.

Ketika Wenqing lahir pada 1937, perang mempersempit kehidupan mereka. Buku-buku dibungkus agar mudah dibawa. Perabot dijual. Mereka belajar menilai barang dari kegunaannya, bukan dari kenangan yang melekat padanya. Namun, Shuyun tetap menyimpan dua mangkuk porselen pemberian ibunya pada hari pernikahan. Salah satunya telah retak. Ia masih menggunakannya untuk dirinya sendiri.

Kini, setelah dua belas tahun membesarkan seorang anak di antara perang dan ketidakpastian, mereka kembali dihadapkan pada keputusan yang tidak pernah disediakan jawabannya oleh pendidikan.

“Mengapa kita harus pergi?” tanya Shuyun. “Ini negeri tempat leluhur kita.”

Guangyuan menarik kursi. Ia tidak langsung duduk. “Tentara komunis semakin dekat. Pemerintahan kita kehilangan kendali. Aku tidak melihat bagaimana kita dapat bertahan.”

“Bertahan sebagai keluarga, atau sebagai orang Nasionalis?”

Pertanyaan itu membuatnya memandang istrinya.

“Keduanya,” jawabnya setelah beberapa saat. “Aku pernah bekerja untuk pemerintah. Kita tidak tahu bagaimana mereka akan memperlakukan orang sepertiku.”

Dari kamar belakang terdengar batuk panjang. Ibu Shuyun terbaring dengan napas pendek. Beberapa minggu terakhir, perempuan tua itu tidak mampu berjalan ke jamban tanpa ditopang. Shuyun menoleh, menunggu sampai batuknya mereda.

“Yang datang membawa kemarahan buruh dan petani,” lanjut Guangyuan. “Dan sebagian orang yang sekarang bergegas mendukung mereka dahulu juga memuji pemerintah kita. Mereka hanya mencari tempat yang aman di dekat kekuasaan.”

Ia mengucapkannya dengan getir. Di kantor, ia telah melihat orang yang paling lantang menuntut kesetiaan menjadi orang pertama yang menghilang. Ada yang membawa keluarga dan hartanya lebih dahulu. Ada pula yang mulai berbicara tentang pemerintahan baru seolah selama ini telah menantikannya.

Shuyun mengumpulkan beras ke dalam mangkuk.

“Sejak zaman dinasti sampai republik, orang selalu punya alasan untuk berkuasa,” katanya. “Yang lama mengatakan mereka menjaga ketertiban. Yang baru mengatakan mereka membebaskan rakyat. Tetapi mengapa setiap kali mereka berganti, keluarga seperti kita yang harus meninggalkan rumah?”

Guangyuan duduk.

“Aku tidak sedang membela mereka.”

“Aku tahu.”

“Dan aku tidak bisa menjamin kita selamat kalau tinggal.”

Shuyun menatap tiket itu kembali.

“Kita warga negeri ini, suamiku. Bukan barang yang dapat dipindahkan setiap kali seseorang menang perang.”

“Aku harus menyelamatkan masa depan anak kita.” Suara Guangyuan meninggi, lalu segera merendah. Ia memandang pintu kamar belakang, khawatir telah membangunkan ibu mertuanya.

Shuyun tidak membalas dengan kemarahan. Ia memahami ketakutan suaminya. Namun, ia juga mengetahui bahwa ketakutan dapat membuat seseorang menganggap pilihannya sebagai satu-satunya jalan yang masuk akal. Dalam keluarga tempat ia dibesarkan, seorang istri diajarkan menghormati keputusan suami. Shuyun memegang ajaran itu dengan sungguh-sungguh. Ia menjaga nama suaminya di hadapan orang lain, tidak mempermalukannya ketika berbeda pendapat, dan berusaha mempertahankan ketenteraman rumah.

Tetapi di dalam rumah, ketika mereka hanya berdua, ia tetap menyampaikan pikirannya. Perkawinan bagi Shuyun mengandung kewajiban mendampingi, termasuk ketika pendampingan itu memerlukan keberanian untuk bertanya.

Ia melihat kedua tiket di meja. “Kamu pergi dengan Wenqing,” katanya.

Guangyuan mengangkat wajah. “Shuyun…”

“Aku tinggal bersama Ibu.”

Ia mengatakannya tanpa sikap menantang. Justru ketenangan itu membuat Guangyuan tidak menemukan cara untuk membantah.

“Keberangkatan berikutnya belum tentu tersedia.”

Shuyun mendengarkan sampai selesai. Di halaman sempit, seseorang sedang mengangkat jemuran. Bayangan pakaian bergerak pada kaca jendela.

“Siapa yang akan mengangkat Ibu kalau aku ikut?”

Guangyuan menunduk.

Ketaatan yang diharapkannya dari istrinya berhadapan dengan kewajiban lain yang sama tuanya. Shuyun adalah seorang istri, tetapi ia juga seorang anak. Ia tidak dapat menghormati tradisi dengan meninggalkan perempuan yang telah mengajarkan tradisi itu kepadanya.

Tidak ada jawaban yang dapat membuat keputusan tersebut baik.

Guangyuan mengatakan ia akan mencari cara menjemput mereka. Ia menyebut nama kenalan di Taiwan, seorang kerabat yang memiliki hubungan dagang, dan orang yang mungkin dapat membantu mengurus perjalanan.

Shuyun mendengarkan daftar itu dengan wajah tenang. “Carilah tempat tinggal dahulu,” katanya. “Pastikan Wenqing bisa sekolah.”

“Kamu percaya aku akan kembali?”

Shuyun memandangi suaminya. Wajah yang dahulu tampak begitu hati-hati ketika datang melamar kini terlihat letih dan lebih tua daripada usianya.

“Aku percaya kamu ingin kembali.”

Guangyuan tidak sanggup menjanjikan lebih dari itu.

Malam sebelum berangkat, Shuyun memeriksa pakaian anaknya satu per satu. Ia memperkuat kancing, melipat celana, lalu menyelipkan saputangan bersih ke dalam saku. Wenqing duduk di sisi tempat tidur sementara ibunya menjahit namanya di bagian dalam baju.

“Untuk apa?”

“Supaya kalau bajumu tertinggal, orang tahu harus mengembalikannya kepada siapa.”

Wenqing tertawa. “Aku bukan koper, Bu.”

Shuyun ikut tersenyum. Tangan yang memegang kain berhenti sesaat. Ia ingin mengatakan bahwa nama itu juga untuk dirinya: sesuatu yang dapat dijahit dengan rapi ketika begitu banyak hal lain mulai terlepas. Ia tidak mengatakannya.

“Jangan bertengkar dengan Ayah,” pesannya. “Kalau ada yang kamu inginkan, katakan baik-baik.”

“Ibu tidak ikut?”

“Ibu menunggu Nenek lebih kuat.”

Wenqing menoleh kepada kamar belakang. Ia masih percaya sakit mempunyai akhir dan orang dewasa mengetahui kapan akhir itu datang.

Sebelum tidur, Shuyun menyiapkan air hangat untuk ibunya. Perempuan tua itu menggenggam pergelangan tangannya. “Kamu seharusnya ikut.”

Shuyun membetulkan selimut.

“Ibu tidur saja.”

“Kamu akan menyesal.”

Ia menunduk, menyeka sudut mulut ibunya dengan kain. “Mungkin,” katanya. “Tetapi kalau aku pergi, siapa yang akan duduk di sini?”

Perempuan tua itu memalingkan wajah. Shuyun tetap memegang tangannya sampai napasnya lebih teratur.

Keesokan paginya, pelabuhan dipenuhi orang yang membawa terlalu banyak barang dan terlalu sedikit kepastian. Udara mengandung bau bahan bakar, air sungai yang keruh, serta pakaian yang lama tidak diganti. Peti diseret melintasi papan. Anak-anak menangis. Seorang perempuan memanggil nama suaminya berulang kali tanpa mengetahui apakah lelaki itu masih berada dalam antrean yang sama.

Guangyuan memegang tiket di satu tangan dan menggenggam Wenqing dengan tangan lainnya. Shuyun mengenakan qipao katun berwarna gelap dengan mantel tipis. Rambutnya disanggul seperti biasa. Ia ingin anaknya mengingat dirinya dalam keadaan rapi. Di sela kerumunan, ia merapikan kerah Wenqing dan menyentuh pipinya sebentar. “Dengarkan Ayah.”

“Ibu kapan menyusul?”

“Sesudah Nenek lebih baik.”

Guangyuan memandang istrinya. Mereka mempunyai banyak hal yang belum selesai dibicarakan, tetapi petugas telah meminta penumpang bergerak.

Shuyun membetulkan tali tas di bahu suaminya. “Jangan biarkan dia tidur dengan baju basah,” katanya.

Guangyuan mengangguk.

“Dan kalau dia diam terlalu lama, tanyakan apa yang dipikirkannya. Dia sering tidak mau mengatakan kalau sedang takut.”

Guangyuan ingin memeluknya. Orang-orang mendorong dari belakang. Ia hanya sempat memegang tangan istrinya, lalu melepaskannya agar dapat membawa Wenqing menaiki tangga.

Dari geladak, anak itu masih mencari ibunya. Ketika kapal mulai bergerak dan jarak di antara mereka melebar, barulah ia memahami bahwa ibunya benar-benar tertinggal.

Ia berlari ke sisi kapal. “Ibu!”

Shuyun mengangkat tangan. Bibirnya bergerak, tetapi suaranya tenggelam dalam deru mesin dan teriakan orang-orang. Guangyuan menyusul dan memegang bahunya.

“Kita turun,” kata Wenqing.

Ayahnya tidak menjawab.

“Ayah, kita turun.”

Pegangan Guangyuan semakin kuat. Wenqing memukul tangannya. Ia menangis dengan marah, yakin bahwa satu-satunya orang yang menghalanginya menemui ibu adalah ayahnya sendiri.

Guangyuan membiarkannya memukul. Ia tidak mampu menjelaskan keputusan yang bahkan belum dapat diterimanya dengan utuh.

Di darat, Shuyun terus mengangkat tangan. Ia bertahan di tempatnya meskipun kapal telah terlalu jauh untuk memperlihatkan wajah anaknya. Kemudian seseorang memintanya bergeser agar penumpang lain dapat lewat. Ia menurunkan tangan.

Di atas kapal, Wenqing kehilangan wajah ibunya lebih dahulu. Sesudah itu warna pakaiannya, tangannya, dan akhirnya tempat ia berdiri menjadi bagian dari kerumunan yang tidak dapat dibedakan.

Guangyuan berlutut di samping anaknya. Ia merapikan baju yang kusut akibat tangis dan perlawanan. Pada bagian dalamnya, jahitan nama Wenqing menyentuh ujung jarinya. Ia menunduk lebih lama daripada yang diperlukan.

Tas mereka berisi dua stel pakaian, beberapa dokumen, sebuah buku, dan uang yang tidak diketahui akan berlaku sampai kapan. Rumah, ibu, dan kehidupan yang mereka tinggalkan masih terasa dekat, seolah dapat diambil kembali setelah perjalanan selesai. Jauh di belakang kapal, Shuyun berjalan pulang seorang diri. Sebelum memasuki gang, ia membeli obat untuk ibunya.

Kota Tempat Menunggu. Taipei, 1950–1957. Pada musim hujan pertama mereka di Taipei, Wenqing mulai mengenali bunyi yang tidak pernah diperhatikannya ketika masih tinggal bersama ibu: tetesan air dari sambungan jendela, gesekan sandal ayahnya pada lantai, dan kertas yang dibuka kembali pada malam hari.

Kamar mereka berada di lantai atas sebuah rumah dekat kawasan perdagangan Dadaocheng. Di bawah, karung-karung barang ditumpuk di depan toko. Bau teh, kain lembap, dan obat tradisional terbawa naik melalui tangga kayu. Jika hujan deras, Guangyuan menaruh baskom di bawah jendela. Ia menggesernya beberapa kali sampai air tidak lagi mengenai kaki tempat tidur.

Wenqing sering terbangun dan melihat ayahnya duduk di dekat lampu. Di hadapannya terdapat dokumen yang sama: surat keterangan pekerjaan dari Shanghai, bukti perjalanan, serta beberapa lembar catatan yang semakin kusut pada bagian lipatan.

Sebelum memperoleh kamar itu, mereka berpindah-pindah tempat menumpang. Pada minggu-minggu pertama setelah tiba di Taiwan, Guangyuan masih mengenakan pakaian yang dibawanya dari Shanghai, seolah kerapian dapat membantu orang lain mengenali siapa dirinya dahulu.

Namun, di kantor-kantor yang didatanginya, masa lalu harus dibuktikan dengan kertas. Petugas menanyakan asal, pekerjaan, hubungan keluarga, dan siapa yang dapat menguatkan keterangannya. Guangyuan menjawab dengan tertib. Ketika ia menyebut pernah bekerja dalam administrasi pasokan pemerintah Nasionalis, beberapa pertanyaan justru menjadi lebih panjang.

Di tengah perpindahan besar dari daratan dan suasana darurat militer, seseorang dapat sekaligus dianggap sebagai orang yang perlu ditolong dan orang yang perlu diperiksa.

“Siapa penanggung jawab Anda di sini?” tanya seorang petugas.

Guangyuan menyebut nama atasannya dahulu.

“Dia sudah berada di Taiwan?”

“Saya belum mendapat kabar.”

Petugas mengembalikan berkasnya.

“Lengkapi dahulu.”

Di luar kantor, Wenqing menunggu sambil memegang tas. Ia telah belajar membaca hasil pertemuan dari cara ayahnya keluar, langkah yang lebih lambat, berkas yang dimasukkan tanpa dirapikan, atau senyum singkat yang terlalu cepat muncul. “Kita boleh tinggal?” tanyanya.

“Masih ada yang harus diurus.”

“Mereka akan menyuruh kita pergi?”

Guangyuan berjongkok untuk membetulkan tali sepatu anaknya, meskipun tali itu tidak lepas. “Ayah sedang mengurusnya.”

Ia tidak mengetahui ke mana mereka dapat pergi jika urusan itu gagal. Daratan berada di seberang laut, tetapi rumah mereka tidak lagi terasa sebagai tempat yang dapat didatangi begitu saja. Taiwan telah mereka capai, namun kedatangan belum berarti diterima.

Untuk menyelesaikan pencatatan tempat tinggal dan dokumen mereka, Guangyuan harus menemukan orang yang mengenal dirinya. Ia mendatangi bekas kantor, bertanya kepada pedagang, dan menitipkan pesan kepada sesama pendatang dari Shanghai. Sebagian nama tidak ditemukan. Sebagian orang telah pindah. Ada pula kenalan yang menerima pesannya, tetapi tidak membalas.

Uang mereka menipis. Guangyuan mulai mengurangi makan siang. Ia mengatakan kepada Wenqing bahwa ia telah makan ketika keluar mencari pekerjaan. Anak itu mempercayainya sampai suatu malam melihat ayahnya meminum air hangat, lalu merendam sisa nasi yang mengering di dasar panci.

Wenqing tidak bertanya. Keesokan harinya ia meninggalkan sebagian makanannya.

“Tidak habis?” tanya Guangyuan.

“Sudah kenyang.”

Ayahnya memandangi mangkuk itu. Mereka saling mengetahui kebohongan masing-masing dan membiarkannya berlalu.

Pertolongan datang melalui sebuah nama yang disebut seorang bekas rekan kerja: Liu Chengming. Guangyuan mengenal nama itu jauh sebelum perang membuat mereka berpencar. Chengming pernah menjadi muridnya dalam kelas malam pembukuan di Shanghai. Di luar pekerjaan kantor, Guangyuan dahulu mengajar beberapa pemuda yang ingin memperoleh keterampilan untuk bekerja. Chengming datang setelah seharian membantu usaha keluarganya. Ia sering terlambat, tetapi selalu membawa buku yang penuh catatan.

Guangyuan pernah meminjamkan buku kepadanya dan membebaskannya dari biaya belajar selama beberapa bulan. Ia hampir melupakan hal itu. Baginya, ketika itu, seorang anak yang ingin belajar tidak seharusnya berhenti hanya karena penghasilannya habis untuk membantu orang tua.

Chengming kemudian mendapat pekerjaan administrasi dan masuk ke lingkungan pemerintahan Nasionalis. Ia lebih dahulu menyeberang ke Taiwan bersama rombongan pejabat dan staf yang mengikuti perpindahan pusat kekuasaan Kuomintang.

Alamatnya kini berada di sebuah kantor yang dijaga. Guangyuan datang dengan berkas di bawah lengan. Di depan pintu, ia diminta menunggu. Ia duduk pada ujung bangku, memperhatikan orang-orang masuk dengan langkah yang tidak perlu ragu.

Saat Chengming muncul, Guangyuan hampir tidak mengenalinya. Pemuda yang dahulu datang dengan lengan baju kusut kini memakai pakaian rapi dan membawa map kulit. Tetapi ketika melihat Guangyuan, ia berhenti.

“Guru Chen?”

Guangyuan berdiri. Chengming menghampiri dan memegang kedua tangannya.

“Mengapa tidak mencari saya sejak datang?”

“Saya baru mendapat alamatmu.”

“Sudah berapa lama?”

Guangyuan menyebut waktunya. Chengming tidak segera menjawab. Pandangannya turun kepada sepatu bekas gurunya, lalu kepada berkas yang telah lunak karena terlalu sering dibawa.

Ia mempersilakan Guangyuan masuk. Di dalam ruangan, Guangyuan menjelaskan persoalan mereka dengan hati-hati. Ia berusaha menyampaikan fakta tanpa terdengar mengeluh. Namun, ketika menyebut Wenqing belum memperoleh kepastian untuk bersekolah dan istrinya masih berada di Shanghai, suaranya kehilangan ketegasan.

Chengming menutup mapnya. “Anak Guru ada di mana?”

“Menunggu di tempat kami menumpang.”

“Dan Ibu Guru?”

Guangyuan memandang meja. “Merawat ibunya.”

Chengming terdiam. Dahulu ia beberapa kali datang ke rumah mereka untuk mengembalikan buku. Ia ingat Shuyun membawakan teh dan menyuruhnya makan sebelum pulang.

Hari itu, sebelum berpisah, Chengming meminta Guangyuan menyerahkan salinan dokumen. Ia akan membantu menemukan kantor yang menangani urusan mereka, memberi keterangan bahwa ia mengenal keluarga Chen, serta menjelaskan riwayat pekerjaan Guangyuan.

“Ada pemeriksaan yang tetap harus dijalani,” katanya. “Saya tidak bisa menjanjikan semuanya selesai besok.”

Guangyuan mengangguk. Itulah kalimat pertama yang membuatnya merasa ditolong tanpa dibohongi.

Dalam beberapa minggu berikutnya, Chengming mendampingi proses yang sebelumnya tidak dapat ditembus Guangyuan. Ia memberi rujukan, menghubungkan bekas gurunya dengan orang yang dapat memeriksa dokumen, dan membantu mencari pemilik rumah yang bersedia menyediakan alamat tinggal yang jelas.

Tidak semua urusan menjadi mudah. Guangyuan masih harus datang, menjawab pertanyaan, dan menunggu. Tetapi kini berkasnya tidak lagi kembali kepadanya tanpa penjelasan. Ada seseorang yang dapat ditanya; ada langkah berikutnya yang diketahui.

Ketika pencatatan dan dokumen tinggal mereka akhirnya beres, Guangyuan menerima lembar pengesahan itu tanpa segera bergerak. Petugas menunjuk bagian yang harus ditandatangani. Tangannya gemetar ketika menulis nama.

Di luar, ia membuka kertas itu sekali lagi. Wenqing berdiri di sampingnya. “Kita boleh tinggal?”

Guangyuan mengangguk.

“Dan sekolah?”

“Ayah akan mengurus sekolahmu.”

Wenqing memeluk pinggangnya. Guangyuan menahan tubuh anak itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap menggenggam dokumen. Ia memandang ke arah jalan agar Wenqing tidak melihat air matanya.

Sore itu Chengming mengantar mereka ke rumah sewaan di Dadaocheng. Kamarnya kecil. Ada noda air pada dinding dan satu jendela yang menghadap atap-atap bangunan. Wenqing langsung berdiri di dekat kaca. Ia ingin mengetahui apakah dari sana laut dapat terlihat. Guangyuan memeriksa pintu, lantai, dan tempat tidur. “Cukup,” katanya.

Chengming hendak menyerahkan sejumlah uang, tetapi Guangyuan menolak. Setelah didesak, ia menerima pinjaman secukupnya untuk membayar kebutuhan awal.

“Nanti saya kembalikan.”

Chengming tersenyum. “Guru pernah mengatakan itu juga tidak perlu ketika saya tidak mampu membayar kelas.”

“Itu berbeda.”

“Bagi saya tidak.”

Guangyuan menunduk. Ia yang dahulu mengajari pemuda itu menghitung kini tidak dapat menemukan ukuran bagi pertolongan yang diterimanya.

Berkat perkenalan Chengming, ia memperoleh pekerjaan pembukuan di sebuah perusahaan dagang kecil. Gajinya tidak besar, tetapi datang dengan teratur. Ia mengganti mantel kantor dengan baju yang lengannya digulung. Di meja kerjanya tidak ada lagi catatan pasokan tentara, hanya faktur kain, tagihan pemasok, dan pembayaran yang terlambat.

Ia bekerja dengan cermat. Setiap jumlah diperiksanya kembali. Ketika pemilik perusahaan menyuruhnya menunda pencatatan sebuah pengeluaran agar laporan tampak lebih baik, Guangyuan mengatakan bahwa pengeluaran itu tetap harus dicatat pada waktunya. Ia menyampaikan keberatan itu dengan sopan, tetapi tidak mengubah angkanya.

Pada malam pertama menerima gaji, ia membeli ikan kecil dan sebuah buku tulis untuk Wenqing. Anaknya mengira ikan itu tanda perayaan. Guangyuan membiarkannya berpikir demikian. Sesudah makan, Wenqing menulis alamat rumah mereka berulang kali. Huruf-hurufnya dibuat besar dan rapi.

“Untuk apa sebanyak itu?” tanya ayahnya.

“Supaya Ibu mudah membacanya.”

Guangyuan duduk di sampingnya. Ia membetulkan satu huruf, lalu berhenti ketika menyadari anaknya telah menulis alamat itu pada hampir seluruh halaman.

Di sekolah, peta daratan terbentang besar. Pulau tempat mereka tinggal tampak kecil di sampingnya. Guru berbicara tentang negeri yang harus direbut kembali. Wenqing mendengarkan dengan seluruh tubuh. Bagi anak-anak lain, kata kembali mungkin berarti kemenangan. Baginya, kata itu berarti ibunya akan memasak, neneknya akan duduk dekat jendela, dan ayahnya tidak lagi membuka berkas dengan wajah tegang pada malam hari. Janji politik memberinya sesuatu yang belum dapat diberikan Guangyuan: arah yang pasti untuk pulang. Suatu hari ia bertanya kapan mereka akan kembali ke Shanghai.

“Ayah tidak tahu.”

“Guru bilang kita akan kembali.”

Guangyuan memandangi anaknya. Ia ingin percaya. Ia juga mengetahui bahwa harapan seorang anak dapat dipinjam oleh kekuasaan tanpa pernah dikembalikan.

“Sekarang kamu belajar dahulu,” katanya.

Wenqing kecewa. Ia menganggap ayahnya terlalu cepat menerima kehidupan kecil di kamar sewaan.

Tahun-tahun berlalu. Hujan datang kembali. Baskom yang sama tetap dipakai di bawah jendela. Guangyuan membayar pinjamannya kepada Chengming sedikit demi sedikit dan tetap mengunjunginya, meskipun setiap pertemuan kini lebih singkat. Kesibukan serta kedudukan membuat muridnya semakin sukar ditemui.

Lalu, pada suatu sore, penghuni kamar sebelah tidak pulang. Istrinya turun mencari pemilik rumah, kemudian naik dengan wajah berubah. Malam itu Guangyuan mendengar anak perempuan mereka menangis di balik dinding. Keesokan harinya, seseorang berbisik bahwa lelaki itu dibawa untuk diperiksa. Selama beberapa hari, orang-orang berbicara lebih pelan di tangga. Guangyuan menyuruh Wenqing menutup pintu sebelum mengerjakan pelajaran.

“Apa dia komunis?” tanya anaknya.

“Kita tidak tahu.”

“Kalau bukan, mengapa dia dibawa?”

Guangyuan menggeser buku tulis di meja.

“Ada pertanyaan yang jangan kamu ulangi di sekolah.”

Wenqing menatap ayahnya dengan kecewa. Ia ingin jawaban yang sejelas jawaban guru. Ketidakpastian tampak seperti kelemahan.

Beberapa hari kemudian, Guangyuan menemui Chengming. Ia menanyakan tetangganya tanpa nada menuduh. Chengming memandang pintu ruangan, lalu merendahkan suara. “Saya akan mencoba mencari tahu.”

“Apakah keluarganya boleh mengirim pakaian?”

“Saya belum tahu.”

Guangyuan mengenali kehati-hatian dalam wajah bekas muridnya. Lelaki yang dapat membantunya mendapat tempat tinggal itu pun tidak bebas menanyakan segala sesuatu. Ia tidak mendesak lebih jauh.

Dalam perjalanan pulang, Guangyuan membawa sekantong beras untuk istri tetangganya. Perempuan itu menerima dengan kedua tangan dan tidak mampu mengucapkan terima kasih. Di kamar, Wenqing bertanya apakah ayahnya mengetahui sesuatu.

“Belum.”

“Bukankah Paman Liu orang penting?”

Guangyuan meletakkan payung di dekat pintu.

“Orang penting pun bisa takut.”

Wenqing tidak menyukai jawaban itu.

Guangyuan mulai memahami sesuatu yang tidak ingin diterimanya: rasa takut dapat hidup di bawah bendera yang dicintai seseorang. Ia tetap percaya kepada cita-cita republik. Namun, pengalaman di kantor pencatatan, pertolongan Chengming, dan hilangnya tetangga membuatnya melihat betapa hidup seseorang dapat bergantung kepada siapa yang mengenalnya, siapa yang bersedia berbicara untuknya, dan siapa yang memutuskan diam. Ia bersyukur telah ditolong. Justru karena itu, ia sering memikirkan orang-orang yang tidak mempunyai bekas murid di dekat kekuasaan.

Sementara itu, Wenqing tumbuh semakin keras. Ia mengumpulkan guntingan koran dan menempelkan berita daratan di sebuah buku. Setiap keburukan pemerintah komunis memberinya keyakinan bahwa kepergian mereka benar. Ia membutuhkan keyakinan itu. Jika keputusan meninggalkan Shanghai ternyata mengandung kekeliruan, bagaimana ia harus memahami wajah ibu yang semakin kecil dari geladak kapal?

Pada suatu malam, Guangyuan melihat buku guntingan tersebut. Wenqing telah menambahkan garis di bawah beberapa kalimat.

“Baca juga yang lain,” katanya.

“Yang lain apa?”

“Kisah orang yang hidup di sana.”

“Untuk apa?”

Guangyuan duduk di tepi tempat tidur. “Karena ibumu hidup di sana.”

Wenqing memandangi bukunya. Sesudah beberapa saat, ia menutupnya. Ia mengira ayahnya mulai kehilangan semangat. Guangyuan tidak membantah. Ia bangkit untuk menggeser baskom yang sudah hampir penuh. Di luar, hujan membasahi atap-atap Dadaocheng. Di meja, alamat rumah mereka masih tertulis pada selembar kertas yang disiapkan Wenqing untuk ibunya. Guangyuan merapikan kertas itu agar tidak terkena air. Kemudian ia mematikan lampu.

Surat yang Tidak Menyelamatkan Siapa Pun. Taipei, akhir 1950-an–1960-an. Surat itu tiba pada sore ketika hujan baru berhenti. Pemilik rumah menyerahkannya kepada Guangyuan di kaki tangga. Amplop luarnya dikirim dari Hong Kong, dengan tulisan seseorang yang tidak dikenalnya. Di dalamnya terdapat amplop lain, lebih tipis, serta dua lembar kertas yang telah dilipat beberapa kali.

Guangyuan mengenali tulisan istrinya sebelum membaca namanya. Huruf-huruf Shuyun masih rapi, tetapi lebih kecil daripada dahulu, merapat ke tepi kertas seperti takut mengambil ruang terlalu banyak. Pada beberapa bagian, tekanan penanya melemah. Guangyuan mendekatkan surat itu ke jendela.

Wenqing berdiri di belakang bahunya. “Dari Ibu?”

Ayahnya mengangguk. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi hanya mampu menarik kursi. Mereka duduk berdampingan.

Guangyuan,

Aku menerima kabar bahwa kalian sudah mempunyai tempat tinggal dan Wenqing dapat bersekolah. Terima kasih kepada orang yang telah menolong kalian. Kalau ada kesempatan, sampaikan salamku. Aku masih ingat murid-murid yang dahulu datang ke rumah. Mudah-mudahan mereka sehat. Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir.

Guangyuan berhenti pada kalimat terakhir. Ia mengenali kebiasaan istrinya: mendahulukan ketenangan orang lain sebelum menceritakan kesulitannya sendiri.

Di luar jendela, air menetes dari ujung atap. Wenqing meminta ayahnya melanjutkan.

Ibu meninggal pada akhir musim dingin. Napasnya semakin pendek beberapa hari sebelumnya. Aku duduk di sampingnya ketika ia pergi. Ia tidak sendirian. Maaf aku baru dapat menyampaikan kabar ini. Tidak mudah menemukan orang yang dapat meneruskan surat. Aku sudah mengurus pemakamannya dengan bantuan kerabat dan tetangga. Jangan merasa bersalah karena tidak berada di sini.

Menjelang akhir, ia menanyakan Wenqing. Kukatakan cucunya sudah besar dan sedang belajar. Ia mengangguk. Aku tidak tahu apakah ia mendengar semua yang kukatakan, tetapi tangannya masih menggenggam tanganku.

Guangyuan meletakkan surat di meja. Wenqing memandangi tulisan itu. Ia mencoba mengingat wajah neneknya, tetapi yang muncul justru suara batuk dari kamar belakang, sebuah selimut, dan baskom air hangat yang dibawa ibunya. Sejak meninggalkan Shanghai, ia selalu membayangkan nenek akan sembuh. Setelah itu ibu akan menyusul. Kini nenek telah meninggal, tetapi ibu tetap berada di seberang laut. Ia ingin bertanya mengapa. Namun, ayahnya sedang menunduk, dan untuk pertama kalinya Wenqing melihat bahwa pertanyaan dapat membuat seseorang semakin tidak berdaya.

Guangyuan mengangkat surat kembali.

Sekarang aku bekerja di sebuah pabrik baja. Aku membantu mencatat bahan yang masuk dan keluar, tetapi ketika diperlukan, aku juga ikut membersihkan tempat kerja dan memindahkan barang yang sanggup kuangkat. Pada mulanya tubuhku sulit menyesuaikan diri. Udara di sekitar tempat produksi panas. Debunya masuk ke lipatan pakaian. Kalau pulang, aku mencuci muka sebelum menyentuh barang-barang di rumah.

Jangan cemas. Pekerja perempuan lain mengajariku. Ada yang dahulu bekerja di rumah, ada yang berasal dari desa, ada pula yang lebih muda dariku. Mereka tahu cara menghemat tenaga. Sekarang tanganku sudah lebih kuat.

Guangyuan memandangi jemarinya sendiri. Ia ingat tangan Shuyun memegang buku, mengoreksi tulisan anak, dan menuangkan teh untuk murid-murid kelas malamnya. Ia tidak pernah melihat tangan itu mengangkat barang di lingkungan pabrik. Bayangan tersebut terasa asing, lalu membuatnya malu. Selama ini ia membayangkan istrinya menunggu dalam rumah yang ditinggalkannya, seakan waktu di Shanghai berhenti ketika kapal mereka berangkat.

Tetapi Shuyun harus makan. Ia harus memperoleh penghasilan, menjaga tempat tinggal, dan menghadapi pagi berikutnya tanpa seseorang yang dapat dimintai bantuan setiap kali lelah.

Di tempat kerja kami sering mengikuti pertemuan. Dikatakan bahwa Tiongkok sedang membetulkan pengertian tentang kebangsaan. Mencintai negeri, kata mereka, harus terlihat dalam pekerjaan: menghasilkan barang, menanam pangan, dan mengurangi ketergantungan kepada bangsa lain.

Kaum pekerja dan petani disebut sebagai dasar negara yang baru. Kami diminta belajar dari mereka. Orang yang mampu bekerja diharapkan ikut bekerja; tidak cukup hidup dari kedudukan keluarga atau pendidikan yang pernah diperoleh. Di sini, pekerjaan juga berkaitan dengan penghasilan dan jatah kebutuhan. Karena itu aku tidak dapat terus tinggal di rumah.

Ada sesuatu yang dapat kupahami dari ajakan untuk mandiri. Kita memang terlalu lama merasa lemah ketika berhadapan dengan bangsa lain. Banyak orang ingin melihat negeri ini mampu berdiri dengan tenaganya sendiri. Namun, Guangyuan, tenaga manusia mempunyai batas. Kadang-kadang aku berharap orang yang menetapkan pekerjaan dapat berdiri bersama kami sampai akhir giliran, agar mengetahui bagaimana tubuh terasa ketika hari selesai.

Guangyuan membaca paragraf itu dua kali. Shuyun tidak menuliskan tuduhan. Ia hanya meminta para pengambil keputusan mengenali kelelahan. Namun, bagi Guangyuan, kalimat tersebut lebih menyakitkan daripada kemarahan yang terang-terangan. Ia mengetahui betapa hati-hati istrinya memilih kata.

Orang terpelajar sekarang harus lebih berhati-hati. Pendidikan masih diperlukan untuk banyak pekerjaan, tetapi asal keluarga dan sikap seseorang juga sering ditanyakan. Orang yang terlalu mudah berpendapat dapat dianggap belum memahami kehidupan pekerja dan petani.

Aku tidak banyak berbicara tentang masa lalu. Di kantor, aku mengerjakan catatan sebaik mungkin. Kalau ada hal yang tidak kupahami, aku bertanya tentang pekerjaannya saja. Aku masih membaca kalau tidak terlalu lelah. Buku-buku yang dapat kusimpan kubungkus agar tidak terkena debu.

Jangan mengira aku selalu sedih. Ada teman yang baik. Seorang perempuan bernama Wu sering menungguku ketika kami pulang. Ia tidak banyak sekolah, tetapi tahu kapan seseorang membutuhkan bantuan tanpa harus diminta. Suatu hari tanganku terluka sedikit. Ia membalutnya dan memarahiku karena bekerja terlalu terburu-buru. Aku teringat caramu menegur Wenqing.

Di bagian itu, Guangyuan tersenyum sebentar. Senyum yang segera hilang ketika ia membaca baris berikutnya.

Tentang makanan, beberapa barang tidak mudah diperoleh. Aku menyesuaikan dengan yang ada. Jangan mengirim sesuatu dengan cara yang menyulitkan kalian atau orang yang membawanya. Aku masih dapat mengurus diriku.

Ia mengetahui kalimat itu belum tentu berarti istrinya cukup makan. Tetapi surat hanya memberinya kata-kata, sementara jarak membuatnya tidak dapat memeriksa wajah, tubuh, atau isi dapur Shuyun.

Bagian terakhir ditulis untuk anak mereka.

Wenqing, anakku,

Ayah mengatakan kamu sudah semakin tinggi. Ibu mencoba membayangkanmu, tetapi dalam ingatan Ibu kamu masih berdiri dekat pintu dengan tas sekolah yang terlalu besar. Rajinlah belajar. Jangan malu bertanya kalau ada pelajaran yang belum kamu mengerti. Ilmu yang sungguh-sungguh kamu pahami akan membantu ketika hidup berubah dan kamu harus mencari jalan sendiri.

Makanlah cukup. Kalau tersedia ikan, makan ikannya juga, jangan hanya kuahnya. Kamu dahulu suka mengatakan sudah kenyang sebelum nasi habis. Tubuhmu masih tumbuh. Kamu perlu sehat agar dapat belajar dengan baik dan berpikir jernih.

Patuhlah kepada Ayah. Ia juga lelah, meskipun mungkin tidak mengatakannya. Jangan meninggikan suara kepadanya. Kalau kalian berbeda pendapat, bicaralah setelah sama-sama tenang. Bantu Ayah mengurus rumah. Lipat bajumu sendiri. Kalau ia pulang terlambat, sisakan makanan dan tutupi agar tidak dingin. Ibu baik-baik saja. Kamu tidak perlu bersedih setiap hari untuk membuktikan bahwa kamu merindukan Ibu. Belajarlah, makanlah, dan hiduplah dengan baik. Kalau menulis, ceritakan hal-hal kecil juga. Apa yang kamu pelajari, siapa temanmu, apakah sepatu masih muat. Ibu ingin mengetahui kehidupanmu.

Wenqing mengambil surat itu dari tangan ayahnya. Ia membaca namanya, lalu kalimat tentang ikan. Selama bertahun-tahun ia membayangkan ibunya akan menjelaskan segala sesuatu: mengapa tidak datang, siapa yang melarang, dan kapan mereka dapat bertemu. Namun, ibunya lebih banyak menanyakan makanan, pelajaran, serta sepatu.

Ia membaca bagian itu kembali. Perhatian yang dahulu hadir setiap hari kini harus menyeberangi laut dalam beberapa baris tulisan. Ibunya tidak dapat menyentuh dahinya untuk mengetahui apakah ia demam. Ia hanya dapat menyuruhnya makan dan berharap seseorang melakukannya.

Malam itu Guangyuan memasak nasi sedikit lebih banyak. Ia membeli tahu dan seekor ikan kecil. Wenqing menghabiskan makanannya tanpa diminta. Sesudah makan, ayahnya keluar berjalan seorang diri. Jalan-jalan di Dadaocheng masih basah. Guangyuan berhenti di depan sebuah toko yang telah tutup. Ia memikirkan ibu mertuanya, yang dahulu memandangnya dengan teliti sebelum menyetujui perkawinan mereka. Ia memikirkan Shuyun duduk sendirian di sisi tempat tidur perempuan tua itu.

Ketika orang meninggal, keluarga biasanya berkumpul untuk mengurus tubuh, menerima tamu, dan saling mengingatkan makan. Shuyun menjalani bagian itu tanpa suaminya. Guangyuan baru mengetahuinya setelah pekerjaan duka selesai. Ia berdiri lama sebelum kembali.

Kabar berikutnya datang tidak teratur. Ada alamat perantara yang berubah, kerabat yang pindah, dan orang yang tidak lagi bersedia membawa surat. Beberapa amplop tiba setelah berbulan-bulan. Guangyuan tidak dapat mengetahui apakah keadaan yang ditulis Shuyun masih sama ketika surat itu dibacanya.

Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, cerita tentang kekurangan pangan dan kelaparan sampai melalui kabar yang terputus-putus.

Surat Shuyun semakin pendek.

Aku masih bekerja. Kami diminta menghemat. Banyak orang sedang mengalami kesulitan. Jangan khawatir berlebihan tentangku.

Dalam surat lain, ia menulis bahwa seorang kerabat dari desa menginap di rumahnya selama dua malam.

Ia sedang kurang sehat. Aku membuatkan makanan yang mudah ditelan. Setelah beristirahat, ia melanjutkan perjalanan.

Ia tidak menceritakan pipi kerabat itu yang cekung, cara lelaki tersebut memandangi mangkuk sebelum makan, atau bagaimana ia sendiri mengurangi bagiannya dan mengatakan perutnya sedang tidak enak. Guangyuan membaca kata kurang sehat dengan perasaan yang semakin berat. Ia ingin bertanya secara langsung apakah istrinya lapar, tetapi takut pertanyaannya justru mempersulit surat balasan.

Wenqing tidak mempunyai kesabaran yang sama. Ia menyusun berita dan surat itu menjadi satu kesimpulan: komunisme telah mengambil rumah mereka dan kini menghancurkan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Ketika ibunya menulis tentang semangat pekerja dan petani, ia menganggap Shuyun terpaksa menggunakan bahasa pemerintah. Ketika ibunya mengatakan seorang teman kerja baik kepadanya, ia melewati bagian itu dan mencari tanda kesulitan.

Guangyuan memperhatikannya. “Baca semuanya,” katanya.

“Aku sudah.”

“Kamu membaca bagian yang membuatmu marah lebih lama daripada bagian yang lain.”

Wenqing meletakkan surat di meja. “Apakah Ayah percaya Ibu benar-benar baik-baik saja?”

Guangyuan tidak segera menjawab. “Aku percaya dia sedang berusaha membuat kita tidak terlalu takut.”

“Itu berarti dia berbohong.”

“Itu berarti dia masih mengurus kita dari tempat yang tidak dapat kita datangi.”

Wenqing memalingkan wajah.

Pada masa Revolusi Kebudayaan, kabar semakin sukar diperoleh. Hubungan dengan keluarga di luar daratan dapat mendatangkan kecurigaan. Di Shanghai, Shuyun membuka kotak yang selama ini disimpan di bawah pakaian. Di dalamnya ada foto Guangyuan, surat-surat lama, serta foto Wenqing ketika masih kecil. Ia duduk di lantai. Dari luar terdengar langkah orang dan suara percakapan yang meninggi.

Foto Guangyuan dalam pakaian dinas dipisahkannya. Ia memandang wajah suaminya sebelum mendekatkannya kepada api. Kertas melengkung. Bagian wajah menghitam lebih dahulu. Shuyun tidak menangis saat itu. Ia menunggu sampai abu dapat disentuh, lalu membersihkannya dengan teliti.

Foto Wenqing diselipkan di balik lapisan kotak jahit. Beberapa bulan kemudian, sebuah pesan pendek akhirnya sampai melalui perantara.

Aku menerima surat kalian. Jangan terlalu sering mengirim dahulu. Simpan kabar kalian, nanti ceritakan kepadaku kalau keadaan memungkinkan. Aku masih baik. Wenqing, Ibu harap kamu tetap belajar dengan sungguh-sungguh. Apa pun yang sedang kamu dengar tentang negeri ini, jangan berhenti menjadi orang yang teliti dan berbelas kasih.

Tidak ada penjelasan tentang foto yang dibakar. Tidak ada cerita tentang ketakutan ketika pintu diketuk.

Di Taipei, Wenqing mendengar kabar penggeledahan dan penghinaan terhadap guru. Ia mengatakannya kepada siapa pun yang mau mendengar. Kemarahannya semakin fasih. Ia dapat menjelaskan kesalahan sebuah pemerintahan dengan suara tegas, tetapi semakin jarang mengetahui bagaimana memulai surat kepada ibunya.

Pada suatu malam, Guangyuan membiarkannya berbicara sampai selesai. Kemudian ia bertanya pelan, “Kamu sudah menulis kepada ibumu bulan ini?”

Wenqing terdiam.

Di meja terdapat buku guntingan koran. Di bawahnya, kertas surat yang belum dipakai. Guangyuan mengambil selembar dan meletakkannya di depan anaknya.

“Ceritakan bahwa kamu sehat,” katanya. “Dia meminta itu.”

Wenqing membuka tutup pena. Lama ia memandangi kertas sebelum menulis. Ibu, sepatuku sudah tidak muat. Ayah membelikanku yang baru.

Ia berhenti. Tenggorokannya terasa sempit.

Lalu ia menambahkan, Aku masih suka makan ikan. Sekarang aku menghabiskan nasiku.

Guangyuan berdiri di belakangnya tanpa membaca lebih jauh. Ia beranjak ke jendela dan menggeser baskom yang menampung air.

Di meja, Wenqing melanjutkan suratnya. Untuk malam itu, ia membiarkan ibunya mengetahui kehidupan yang selama ini terlalu sering tertutup oleh kemarahannya.

Salju Pertama di Vancouver. Kanada, 1977–1985. Sesudah kabar kematian Shuyun tiba pada 1976, Guangyuan semakin jarang membuka laci tempat ia menyimpan dokumen perjalanan. Buku catatan dari Hong Kong tetap berada di sana, bersama alamat perantara, kuitansi penginapan, dan uang yang dahulu disisihkannya untuk menjemput istrinya. Ia tidak membuang apa pun. Tetapi ia berhenti menambahkan nama.

Pada suatu malam, Wenqing menyampaikan rencana pindah ke Kanada. Seorang kenalan di Vancouver telah memberinya informasi tentang pekerjaan dan proses imigrasi. Meizhen membantu menyiapkan dokumen, mengumpulkan bukti pendidikan, pengalaman kerja, serta surat-surat keluarga. Mereka mengerjakannya setelah anak-anak tidur. Daniel, putra sulung mereka, lahir pada 1972. Adrian menyusul pada 1976, beberapa bulan sebelum kabar kematian neneknya sampai.

Guangyuan mendengarkan rencana itu sambil memandangi Adrian yang tertidur di pangkuan Meizhen.

“Terlalu jauh,” katanya.

Wenqing meletakkan berkas di meja. “Di sana mungkin ada kesempatan yang lebih baik.”

“Di sini kalian juga mempunyai pekerjaan.”

“Kami ingin anak-anak tumbuh tanpa merasa hidup mereka hanya menunggu sesuatu.”

Guangyuan mengangkat wajah. Wenqing segera menyesali cara ia mengucapkannya. Penantian ayahnya bukan kebiasaan yang dapat ditinggalkan begitu saja; di dalamnya terdapat sebuah perkawinan yang tidak pernah memperoleh kesempatan untuk diselesaikan.

“Aku tidak sedang menyalahkan Ayah.”

“Aku tahu.”

Namun, Guangyuan belum bersedia menyerahkan dokumennya. Selama beberapa hari, ia mengatakan dirinya terlalu tua untuk memulai kehidupan lain. Ia khawatir akan menjadi beban. Ia juga menyebut jarak, cuaca, dan bahasa yang tidak dipahaminya. Meizhen tidak membantah. Ia hanya mengatakan bahwa mereka tidak ingin meninggalkannya.

Pada suatu sore, Daniel membawa buku bergambar dan meminta kakeknya membacakan cerita. Guangyuan membuka halaman demi halaman. Anak itu menunjuk gambar sebuah rumah dengan cerobong. “Rumah kita nanti seperti ini?”

“Kakek belum tahu.”

“Kalau ada salju, Kakek ikut keluar?”

Guangyuan memandangi cucunya. Ia teringat Wenqing pada usia yang sama, bertanya kapan ibunya akan menyusul.

Keesokan paginya, ia meletakkan dokumen yang diminta di meja.

Di atasnya terdapat sebuah amplop kecil berisi foto Shuyun. “Ini jangan dimasukkan ke bagasi,” katanya kepada Wenqing.

Mereka tiba di Vancouver pada musim gugur 1977. Hujan membasahi jalan, kaca kendaraan, dan ujung pakaian orang-orang yang bergegas keluar dari bandara. Wenqing mengira Kanada akan terasa putih, tetapi hari-hari pertamanya berwarna abu-abu.

Keluarga itu menempati tempat tinggal sewaan yang sederhana. Pemanas mengeluarkan bunyi yang belum mereka kenali. Meizhen memeriksa jendela beberapa kali untuk memastikan udara dingin tidak masuk. Guangyuan duduk dengan mantel masih dikenakan, meskipun Wenqing mengatakan ruangan telah cukup hangat.

Daniel bertanya kapan mereka pulang. “Sekarang kita tinggal di sini,” jawab ayahnya.

Anak itu tidak menangis. Ia hanya memandangi koper-koper yang belum dibuka. Wenqing melihat kebingungan tersebut dan mendadak teringat dirinya di Taipei.

Ia berjongkok di hadapan Daniel. “Barang-barangmu akan kita keluarkan. Besok kita cari tempat untuk buku.” Ia tidak menjanjikan sesuatu yang tidak diketahuinya. Untuk pertama kalinya, ia memahami betapa berat pekerjaan seorang ayah ketika harus membuat tempat asing terasa aman.

Mencari pekerjaan tidak semudah yang dibayangkannya. Wenqing datang membawa pengalaman, surat rekomendasi, dan kemampuan membaca gambar teknik. Namun, dalam beberapa wawancara, pembicaraan berhenti pada pertanyaan tentang pengalaman kerja di Kanada. Ia belajar memperkenalkan dirinya dengan kalimat yang lebih pendek. Ia berlatih menjawab bersama Meizhen di meja dapur, sementara Guangyuan membawa anak-anak ke kamar agar mereka dapat berkonsentrasi.

Pada akhirnya, sebuah perusahaan pemasok komponen industri menerimanya sebagai staf teknis. Pekerjaannya mencakup pemeriksaan spesifikasi, perhitungan kebutuhan barang, dan penyesuaian gambar untuk pelanggan. Di kantor, ia mulai menggunakan nama William. Seorang rekan mengatakan nama itu akan lebih mudah diingat pelanggan. Wenqing tersenyum dan mencoba menerimanya sebagai urusan praktis. Namun, ketika pertama kali dipanggil William dari ujung ruangan, ia terlambat menoleh.

Malam itu Meizhen memanggilnya dari dapur. “Wenqing, makan dulu.”

Ia berhenti melepas sepatu. Nama itu terdengar begitu akrab sehingga dadanya terasa longgar. Ia tidak mengatakan apa-apa kepada istrinya. Ia hanya masuk ke dapur dan membantu membawa mangkuk. Meizhen juga memakai nama Margaret ketika memperkenalkan diri kepada beberapa tetangga dan di tempat kerja. Tetapi di rumah, Guangyuan tetap memanggilnya Meizhen. Nama-nama lama bertahan di antara meja makan, pakaian yang dijemur, dan suara orang membangunkan anak.

Pada rapat pertamanya dengan seorang pelanggan, William menjelaskan mengapa komponen yang diminta tidak dapat langsung diganti dengan ukuran lain. Pelanggan itu mendengarkan sebentar, kemudian mengarahkan pertanyaan kepada rekan William yang lebih muda. Rekan tersebut memeriksa gambar, lalu menoleh. “William yang menghitungnya. Dia bisa menjelaskan.” William mengulangi jawabannya. Kali ini pelanggan mendengarkan sampai selesai.

Dalam perjalanan pulang, ia masih mengingat percakapan itu. Ia tidak dapat memastikan apakah persoalannya aksen, kebiasaan, atau prasangka. Ketidakpastian tersebut justru membuatnya semakin letih. Ia harus tetap bekerja, tanpa selalu mengetahui bagian mana dari dirinya yang sedang dinilai. Tidak semua orang memperlakukannya demikian.

Atasannya mulai mempercayakan pesanan yang rumit kepadanya. Seorang rekan mengajarinya istilah yang biasa dipakai pelanggan tanpa membuatnya merasa bodoh. Ketika Meizhen sakit, tetangga mengantar sup dan menawarkan bantuan menjaga anak-anak. William menerima kebaikan itu dengan rasa terima kasih yang kadang sulit diucapkan. Ia menyimpan ingatan tentangnya, sebagaimana ia menyimpan ingatan tentang pertemuan yang membuatnya merasa kecil. Tetapi ia tetap memeriksa pekerjaannya dua kali. Kesalahan terasa lebih berbahaya ketika seseorang khawatir akan dianggap mewakili seluruh orang yang berwajah seperti dirinya.

Guangyuan menghabiskan pagi dengan membaca koran berbahasa Mandarin. Setelah itu ia membantu pekerjaan rumah, mengantar Daniel berjalan, dan menjaga Adrian ketika Meizhen harus keluar.

Di luar rumah, ia sering diam. Di dalam rumah, ia kembali menjadi orang yang mempunyai pengetahuan.

Ia mengajari cucu-cucunya menyebut benda-benda dalam bahasa Mandarin: meja, air, tangan, pintu. Daniel kadang menjawab dalam bahasa Inggris. Guangyuan mengulang dengan sabar.

“Ini bahasa yang dipakai nenekmu,” katanya.

Daniel memandang foto Shuyun.

“Dia tidak pernah datang ke sini?”

“Tidak.”

“Dia tahu aku?”

Guangyuan terdiam sesaat.

“Dia tahu kamu lahir. Kakek mengirim kabar.”

Sesudah anak itu pergi bermain, Guangyuan mengambil foto istrinya dan membersihkan kaca bingkainya. Ia membayangkan Shuyun mendengar suara cucu-cucu mereka. Bayangan itu tidak lagi disertai rencana perjalanan. Karena itulah ia terasa lebih sepi.

Salju pertama yang cukup tebal turun pada suatu pagi musim dingin. Daniel berlari ke jendela dan memanggil semua orang. William mengenakan mantel anak-anak, membetulkan sarung tangan, lalu membawa mereka keluar. Adrian berjalan dengan langkah pendek di atas halaman yang memutih. Daniel menangkap serpih salju di telapak tangannya. Ia tertawa ketika serpih itu hilang. Guangyuan mengamati dari pintu dengan mantel pinjaman.

“Tidak seperti di Shanghai,” katanya.

William menoleh. Ayahnya jarang menyebut kota itu tanpa didahului nama Shuyun.

“Di Shanghai juga pernah dingin sekali.”

Guangyuan mengangguk.

“Ibumu selalu khawatir tanganmu pecah-pecah.”

William memandangi sarung tangan Daniel. Ia membetulkan bagian pergelangannya, meskipun sudah rapat. Meizhen keluar membawa syal untuk mertuanya. Guangyuan semula menolak, lalu membiarkannya melilitkan kain itu dengan hati-hati.  Di halaman, kedua anak mereka mulai berebut siapa yang lebih dahulu dapat membuat bola salju. Guangyuan tersenyum. Untuk sesaat, ia tidak sedang menunggu.

Beberapa tahun kemudian, setelah tabungan mencukupi, mereka pindah ke rumah kecil dengan halaman sempit. William memeriksa atap dan saluran air sebelum memikirkan warna dinding. Meizhen menanam sesuatu dekat jendela dapur. Di ruang tengah, foto keluarga dipasang di atas lemari. Guangyuan meletakkan foto Shuyun di antara foto anak dan cucunya. Ia tidak meminta tempat tersendiri. Baginya, perempuan itu tetap bagian dari rumah, meskipun rumah tersebut berada di negeri yang tidak pernah dikenalnya.

Pada malam-malam tertentu, Daniel meminta kisah tentang kapal.

William menceritakan Shanghai, perang saudara, dan keberangkatan mereka ke Taiwan. Ia mengatakan mereka melarikan diri dari komunisme. Cerita itu mempunyai pihak yang kalah, pihak yang menang, serta keputusan yang terdengar jelas.

Ia tidak menceritakan bagaimana ibunya mempertanyakan kepergian mereka. Ia juga tidak menceritakan bagaimana ia pernah memukul tangan Guangyuan dan memintanya turun.

Suatu malam, Daniel bertanya, “Mengapa Nenek tidak ikut?”

William hendak menjawab ketika Guangyuan, yang duduk dekat jendela, berkata pelan, “Karena ibunya sakit. Dia tinggal untuk merawatnya.”

Daniel memikirkan jawaban itu. “Jadi Nenek berani?”

Guangyuan mengangguk.

“Sangat berani. Dia mengatasi ketakutannya berpisah dengan Kakek dan ayahmu demi merawat ibunya. Meski tidak bersama kita, dia selalu mendoakan kita. Di hatinya, kita tidak pernah jauh.”

Ia terdiam sejenak.

“Dia meninggal tanpa kita di sisinya. Tetapi sepanjang hidupnya, dia tetap mencintai leluhurnya dan negeri yang memberinya kehidupan—tempat dia bertemu dengan Kakek dan melahirkan ayahmu.”

William menatap ayahnya. Dalam cerita yang selama ini disampaikannya, keberanian selalu berada di atas kapal, pada orang-orang yang pergi menghadapi masa depan. Kini anaknya mendengar bahwa keberanian juga dapat tinggal di rumah, mengangkat tubuh seorang ibu yang sakit, dan menghadapi hari berikutnya tanpa mengetahui kapan keluarga akan kembali.

Sesudah Daniel tidur, William berdiri di depan foto Shuyun. Di luar, salju mulai turun lagi. Ia mendengar Meizhen menutup jendela kamar anak-anak dan Guangyuan batuk pelan dari ruang sebelah.

William mematikan lampu ruang tengah, lalu berhenti sejenak sebelum beranjak.

Ia sedang belajar membangun sebuah rumah tanpa harus membuat masa lalu menjadi lebih sederhana daripada yang sebenarnya.

Warisan yang Tidak Tercantum dalam Wasiat. Vancouver, 1979. Guangyuan meninggal pada pagi ketika hujan berhenti sebentar. Dari jendela rumah sakit, langit tampak pucat di atas pepohonan yang basah. William datang terlambat beberapa menit.

Margaret berdiri di sisi tempat tidur, memegang tangan lelaki tua itu yang mulai dingin. Ketika melihat suaminya masuk, ia tidak segera berbicara. Ia hanya bergeser, memberikan tempat.

William mendekat. Selimut menutupi tubuh ayahnya sampai dada. Wajah itu tampak lebih tenang daripada beberapa malam terakhir, ketika napasnya pendek dan ia kerap terbangun untuk menanyakan waktu.

“Ayah.” Ia mengucapkannya pelan, lalu sekali lagi, seperti panggilan dari kamar sebelah. Margaret menyentuh punggungnya. William tetap berdiri, memandangi tangan yang dahulu menggenggamnya di pelabuhan Shanghai. Tangan yang pernah dipukulnya karena tidak bersedia membawa mereka turun dari kapal. Kini ia dapat memegangnya tanpa perlawanan. Justru itulah yang membuatnya tidak sanggup.

Sesudah pemakaman, William membuka koper ayahnya. Koper itu telah mengikuti Guangyuan dari Taiwan ke Kanada. Sudutnya aus, pengaitnya harus ditekan sebelum dapat dibuka. Dari dalam keluar bau kapur barus, bercampur dengan aroma kain yang lama disimpan. Ada beberapa potong pakaian, dokumen, foto Shuyun, dan sebuah buku kecil bersampul cokelat. William duduk di lantai. Di halaman awal terdapat catatan persediaan tahun 1948. Angka-angka ditulis rapi, beberapa nama diberi tanda. Ia mengenali tulisan ayahnya sebelum memahami isinya: huruf yang tegak, jarak yang teratur, dan kebiasaan menggarisbawahi sesuatu hanya sekali.

Halaman-halaman berikutnya memuat alamat, ongkos perjalanan, serta nama orang yang pernah dihubungi untuk membantu menjemput Shuyun. Sebagian dicoret. Di samping beberapa nama tertulis singkat: tidak ada kabar.

Kemudian catatan itu berubah.

Tidak lagi ada angka.

Shuyun,

Aku tidak tahu bagaimana menghitung waktu sejak segala upayaku gagal membawamu pulang. Hari tetap berganti. Aku bekerja, makan, dan berbicara dengan orang. Tetapi ada bagian hidupku yang tidak bergerak sejak kita berpisah.

Ketika kabar kematianmu sampai, aku ingin waktuku sendiri segera selesai. Aku membayangkan dapat menemuimu di suatu tempat yang tidak memerlukan izin perjalanan, surat pengantar, atau orang yang bersedia menjamin bahwa aku layak datang.

William menahan halaman itu dengan telapak tangan. Ia teringat malam ketika ayahnya duduk di meja dengan selembar kertas bertuliskan nama Shuyun. Saat itu ia mengira Guangyuan hanya tidak mengetahui bagaimana memulai surat. Kini ia memahami bahwa ayahnya sedang berbicara kepada seseorang yang tidak lagi dapat menjawab.

Beberapa halaman kemudian, tulisan semakin kecil.

Aku ingat malam pertama kita. Kau duduk di tepi tempat tidur, melepas hiasan rambut satu per satu. Aku begitu ingin membuatmu percaya bahwa kau tidak akan menyesal menikah denganku. Aku mengatakan akan melakukan apa saja agar kita tetap bersama. Andaikan langit runtuh, kataku, aku akan menopangnya agar tidak menimpamu.

Kau menutup mulutku dengan ujung jarimu. “Tidurlah,” katamu. “Kita akan selalu baik-baik saja.”

Aku masih mengingat caramu mengatakannya. Kau tidak meminta janji yang lebih besar. Kau hanya memintaku berbaring di sampingmu.

William berhenti membaca.

Di luar kamar, terdengar Margaret membereskan piring. Bunyi porselen menyentuh porselen terasa terlalu jelas dalam keheningan. Selama ini William menempatkan ayahnya di sisi orang yang benar, lelaki yang membawa anaknya keluar dari bahaya, bekerja keras di negeri asing, dan berusaha membangun kehidupan dari apa yang tersisa.

Buku itu memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah masuk sepenuhnya ke dalam cerita tersebut. Seorang suami pernah berjanji akan melindungi istrinya. Ketika dunia mereka runtuh, ia pergi membawa anak, sementara perempuan itu tetap tinggal.

William memandang foto ibunya di dalam koper. Ia ingin menuduh. Tetapi semakin lama memandangi wajah itu, semakin ia mengingat keadaan yang dahulu membuat keputusan mereka tidak mempunyai jalan keluar yang bersih: nenek yang sakit, kapal yang akan berangkat, dan seorang anak yang harus diselamatkan.

Ibunya memilih tinggal. Ayahnya memilih pergi. Sesudah itu, keduanya menanggung akibat yang tidak pernah mereka maksudkan.

William kembali membaca.

Aku sering mengingat tanganmu ketika membetulkan tali tas di bahuku. Kau tidak memintaku menjadi pahlawan. Kau menyuruhku menjaga agar Wenqing tidak tidur dengan baju basah. Aku menjaga anak kita. Aku ingin percaya bahwa itu juga berarti aku menjaga sesuatu yang kau percayakan kepadaku.

Tetapi setiap kali orang mengatakan aku telah melakukan yang terbaik, aku teringat bahwa kau harus pulang dari pelabuhan seorang diri.

Ada bekas noda pada bagian bawah halaman. William tidak mengetahui apakah itu air, teh, atau sesuatu yang lain. Ia mengusapnya dengan ibu jari, meskipun noda tersebut telah lama mengering.

Di halaman berikutnya, Guangyuan menulis:

Aku takut kalau mereka mengetahui betapa aku merindukanmu, mereka akan merasa harus menghiburku setiap hari. Wenqing sudah mempunyai istri dan anak-anak. Aku tidak ingin kesedihanku menjadi kewajiban mereka. Karena itu, di depan mereka, aku sering mengatakan bahwa aku lelah. Lebih mudah membicarakan tubuh yang menua daripada sebuah kehidupan yang tidak sempat kita jalani bersama.

William menutup buku. Ia berdiri, melipat kembali pakaian ayahnya, lalu membukanya lagi karena lipatan itu tidak lurus. Ia merapikan dokumen, memindahkan foto, dan mengembalikan semuanya tanpa urutan yang jelas. Ada pekerjaan kecil yang dapat dilakukan ketika pikiran tidak sanggup menerima sesuatu.

Margaret masuk membawa teh.

“Ada sesuatu?”

William memandangi buku di tangannya.

“Catatan Ayah,” jawabnya. “Ada tentang pekerjaannya.”

Margaret meletakkan cangkir di meja. Ia melihat foto Shuyun di lantai, tetapi tidak meminta penjelasan.

“Kalau kamu ingin ditemani, aku di luar.”

William mengangguk.

Ia belum sanggup menunjukkan halaman-halaman itu. Ia khawatir memperlihatkannya akan membuat ayahnya tampak lemah. Namun, setelah Margaret keluar, ia mulai menyadari bahwa yang paling ingin dilindunginya mungkin bukan kehormatan Guangyuan, melainkan gambaran tentang ayah yang selama ini membantunya memahami hidup sendiri.

Jika ayahnya dapat ragu, menyesal, dan merasa gagal, cerita tentang kepergian mereka pun tidak lagi dapat disampaikan dengan kepastian yang sama. William membuka buku itu kembali. Pada salah satu halaman terakhir yang dibacanya malam itu, tertulis:

Shuyun, aku pernah mengira bahwa menyelamatkan keluarga berarti membawa mereka keluar dari bahaya. Kemudian aku mengetahui bahwa sebuah keluarga dapat selamat dan tetap terpisah.

Aku tidak tahu apakah kau akan memaafkan semua yang tidak berhasil kulakukan. Tetapi jika kelak aku dapat menemuimu, aku ingin mendengarkan lebih dahulu. Selama ini terlalu banyak hal tentang hidupmu yang hanya dapat kubayangkan.

William menunduk.

Ayahnya telah meninggalkan catatan yang tidak dimaksudkan untuk membela diri. Tidak ada daftar pengorbanan yang harus dihargai anaknya. Tidak ada tuntutan agar kegagalannya dipahami. Yang ada hanya seorang lelaki yang terus berbicara kepada istrinya, bahkan setelah kesempatan bertemu telah berakhir.

William meletakkan buku itu di laci paling bawah. Bertahun-tahun kemudian, ia masih akan membukanya, membaca dua atau tiga halaman, lalu menutupnya sebelum mencapai akhir. Setiap kali, ia merasa sedikit lebih dekat kepada ayahnya. Dan sedikit lebih sulit menceritakan masa lalu dengan cara yang lama.

Negeri yang Mulai Membuka Pintu. Vancouver, 1980-an–1992. Pada suatu malam di penghujung 1992, Daniel membawa brosur universitas dan beberapa lembar gambar mesin ke meja makan. Hujan membasahi jendela dapur. Margaret baru mengangkat sup dari kompor, sementara William memindahkan koran agar putranya mempunyai tempat untuk membuka gambar.

Daniel sedang belajar teknik mesin. Ia berbicara tentang rancangan, ketahanan bahan, serta biaya produksi. Menurutnya, sebuah komponen yang bekerja dengan baik di ruang pengujian belum tentu dapat dibuat dalam jumlah besar dengan harga yang masuk akal.

“Kalau terlalu mahal, perusahaan tidak akan menggunakannya,” katanya. “Kalau terlalu sulit dibuat, hasilnya juga belum tentu konsisten.”

William mendengarkan dengan bangga. Ia mengenali ketelitian yang dahulu membantunya memperoleh kepercayaan di kantor. Sesekali ia menunjuk gambar dan mengajukan pertanyaan. Daniel menjawab dengan bersemangat, lalu mengakui bagian yang belum dipahaminya.

Percakapan terasa ringan sampai Daniel menyebut perubahan industri di Tiongkok.

“Mereka membutuhkan banyak insinyur.”

William meletakkan sumpit.

“Mereka membutuhkan banyak hal karena terlalu lama merusak negeri sendiri.”

Daniel menatap ayahnya. Ia telah mengenal nada itu sejak kecil: suara yang berubah lebih tegas setiap kali nama Tiongkok disebut.

“Aku sedang membicarakan pekerjaan, Pa.”

“Pekerjaan tidak terpisah dari pemerintahan yang mengaturnya.”

“Aku tahu. Tetapi apakah semua kesempatan di sana harus ditolak karena pemerintahnya?”

William menyandarkan tubuh pada kursi. “Kamu belum pernah hidup di sana.”

Daniel menunduk sebentar kepada gambar di meja. “Ayah juga sudah lama tidak hidup di sana.”

Margaret mengangkat mangkuk sup. Sendok menyentuh porselen. Tidak seorang pun segera melanjutkan makan.

William memandangi putranya. Jawaban itu terasa kurang ajar, meskipun diucapkan tanpa suara tinggi. Ia ingin mengatakan bahwa pengalaman tidak menjadi tidak berlaku hanya karena telah lama berlalu. Ia ingin mengingatkan tentang Shanghai, ibunya, dan kapal yang membawa mereka pergi. Tetapi Daniel telah mendengar semua itu. Persoalannya justru bahwa anaknya mendengar, lalu mengambil kesimpulan sendiri.

Sepanjang 1980-an, perubahan Tiongkok memasuki rumah mereka melalui koran, televisi, dan percakapan para kenalan. Berita tentang perusahaan baru, investasi, perdagangan, serta orang-orang yang mulai menjalankan usaha memenuhi halaman yang dahulu lebih sering dibaca William untuk mencari kabar buruk. Ia mengikuti perubahan tersebut dengan perasaan yang tidak sederhana.

Ketika kebijakan lama ditinggalkan, ia merasa keyakinannya dibenarkan. Ketika usaha swasta diberi ruang dan perdagangan dengan dunia luar berkembang, ia mengatakan pemerintah akhirnya mengakui sesuatu yang seharusnya dipahami sejak awal.

Daniel mendengar komentar itu sejak remaja. Namun, semakin banyak ia belajar, semakin tertarik ia kepada pertanyaan yang berbeda, bagaimana sebuah negeri mengubah gagasan menjadi jalan, mesin, pabrik, dan pekerjaan?

Ia membaca laporan industri. Ia memperhatikan kebutuhan tenaga terampil, kemampuan pemasok, serta kesulitan meningkatkan mutu produksi. Baginya, pembangunan tidak selesai ketika pemerintah mengumumkan kebijakan. Ada ribuan keputusan kecil yang harus dibuat oleh orang-orang yang mengetahui pekerjaannya.

William melihat angka-angka dalam laporan itu dan teringat bahwa angka juga pernah dipakai untuk membenarkan kebijakan yang menghancurkan kehidupan manusia. Daniel melihat angka yang sama dan mencoba membayangkan apa yang dapat dikerjakannya.

Pada Juni 1989, mereka duduk bersama di depan televisi ketika berita penindakan terhadap demonstrasi di Beijing ditayangkan.

Daniel masih berusia tujuh belas tahun. Ia tidak banyak berbicara. Sesudah berita selesai, ia tetap duduk dengan kedua tangan di antara lutut.

William memperhatikannya.

“Sekarang kamu mengerti,” katanya pelan.

Daniel mengangkat wajah.

“Aku mengerti bahwa ini mengerikan.”

William hendak melanjutkan, tetapi Margaret menyentuh lengannya.

Malam itu Daniel sulit tidur. Ia mengikuti berita berikutnya, membaca pendapat yang berbeda, dan membicarakannya dengan teman-teman di sekolah. Ia tidak mencari alasan untuk membenarkan kekerasan. William merasakan kedekatan yang sudah lama diinginkannya. Untuk beberapa waktu, mereka dapat berbicara tentang Tiongkok tanpa saling mempertahankan diri. Namun, ketika Daniel kemudian kembali membaca laporan industri dan membicarakan perubahan ekonomi, ayahnya menganggap kemarahan itu telah berlalu terlalu cepat.

“Kamu sudah lupa?”

Daniel menutup koran.

“Tidak.”

“Lalu mengapa kamu masih tertarik?”

“Karena orang-orang yang bekerja dan hidup di sana tetap ada, Pa.”

William tidak menjawab. Baginya, pernyataan itu terdengar seperti cara menghindari pertanyaan moral. Bagi Daniel, ayahnya sedang meminta sebuah negeri berhenti memiliki masa depan karena pemerintahnya telah melakukan kekerasan. Mereka belum mempunyai bahasa untuk menjembatani perbedaan tersebut.

Pada malam di penghujung 1992 itu, Margaret meletakkan kembali mangkuk sup di meja. “Dengarkan dahulu apa yang ingin dia katakan,” ujarnya kepada William.

Daniel merapikan gambar mesin yang sudah tertutup ujung taplak.

“Aku tidak menganggap apa yang terjadi pada 1989 boleh dilupakan,” katanya. “Aku juga tahu ada kelaparan besar, ada orang yang kehilangan keluarga, ada kehidupan yang dihancurkan oleh kebijakan.”

William memandangnya dengan tajam. “Lalu semua itu kamu anggap harga pembangunan?”

“Tidak.”

Daniel menjawab lebih cepat kali ini. “Aku tidak punya hak mengatakan kematian orang lain adalah harga yang pantas dibayar.”

Keheningan berubah. William tetap tidak menyukai arah percakapan, tetapi ia mendengarkan.

“Yang ingin kupahami,” lanjut Daniel, “adalah bagaimana orang-orang yang melewati semua itu tetap mencoba membangun hidup. Ada kebijakan yang berubah, ada kesalahan yang mulai ditinggalkan, meskipun belum semuanya diakui. Sekarang mereka membuka hubungan dengan dunia, menerima teknologi, berdagang, dan belajar bersaing.”

“Karena mereka gagal hidup sendiri.”

“Bisa jadi karena mereka belajar bahwa mandiri tidak berarti mengerjakan semuanya sendirian.”

William memandangi koran yang terlipat di samping piring.

Daniel melanjutkan dengan lebih hati-hati. “Di teknik juga begitu, Pa. Kita memakai pengetahuan yang dikembangkan orang lain. Tetapi kita harus memahami cara kerjanya, bisa memperbaikinya, dan tahu kapan rancangan itu tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Kalau hanya membeli tanpa belajar, kita bergantung. Kalau menolak semuanya, kita bisa tertinggal.”

William mengenali masuk akalnya penjelasan itu. Justru karena itu ia merasa semakin sulit menerima bahwa penjelasan tersebut digunakan untuk negeri yang selama ini dicurigainya. Ia telah mengajarkan Daniel agar tidak menilai sesuatu hanya dari nama besar. Ia menyuruhnya memeriksa bukti, memahami persoalan, dan tidak takut berbeda pendapat. Kini putranya menggunakan pelajaran itu untuk menguji pendapatnya sendiri.

“Ayah…”

Daniel menunggu sampai William mengangkat wajah. “Kalau suatu hari aku pergi ke Tiongkok, aku ingin bekerja sebagai insinyur. Aku ingin mengetahui apakah keahlianku berguna di sana. Aku tidak pergi untuk membenarkan pemerintahnya.”

William menatap gambar di meja. Garis-garis yang tadi dibicarakan dengan bangga kini terasa mengarah ke tempat yang tidak dapat diikutinya. “Apa yang kurang di sini?”

Pertanyaan itu keluar lebih pelan daripada yang diperkirakan Daniel. “Tidak ada yang kurang dari apa yang Ayah dan Ibu berikan.”

“Lalu mengapa harus pergi?”

“Aku belum mengatakan harus. Aku ingin mempertimbangkannya.”

William menggeleng kecil. Baginya, keinginan itu sendiri sudah menyerupai awal perpisahan. Daniel memandang foto Shuyun di ruang tengah. Dari tempat duduknya, hanya sebagian bingkai terlihat.

“Aku juga ingin mengenal negeri tempat Nenek hidup,” katanya. “Selama ini aku hanya mengenalnya melalui cerita tentang kehilangan.”

William mengikuti arah pandang putranya.

“Aku ingin menjadi bagian dari kemajuannya,” lanjut Daniel. “Agar kehidupan Nenek tidak berakhir hanya sebagai cerita tentang penderitaan.”

Ia berhenti, lalu menambahkan, “Agar Nenek tidak mati sia-sia.”

William mengangkat wajah. “Jangan katakan begitu.”

Daniel terdiam.

“Ibumu—nenekmu—tidak perlu menunggu sebuah negeri menjadi maju supaya hidupnya mempunyai arti.”

Margaret menunduk. William jarang berbicara tentang Shuyun dengan suara seperti itu. “Ia merawat ibunya,” lanjutnya. “Ia bekerja. Ia menjaga kita dengan surat-suratnya. Semua itu sudah berarti, sekalipun tidak ada gedung baru atau pabrik yang berhasil dibangun.”

Daniel memandangi ayahnya. Ia menyadari bahwa kalimat yang dimaksudkannya sebagai penghormatan telah menyentuh sesuatu yang lain.

“Maaf, Yah. Bukan itu maksudku.”

William diam.

“Aku ingin mengenalnya lebih jauh,” kata Daniel. “Dan kalau ada sesuatu yang bisa kukerjakan di negeri tempat dia hidup, aku ingin mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.”

Hujan semakin rapat di kaca. Margaret menuangkan sup yang mulai dingin ke mangkuk suaminya.

William menarik gambar mesin lebih dekat.

“Bagian ini,” katanya setelah beberapa saat, menunjuk sebuah sambungan, “kalau dibuat di pabrik yang mesinnya sudah tua, apakah ukurannya masih bisa dijaga?”

Daniel menunduk untuk melihat.

“Mungkin perlu rancangan penjepit yang berbeda.”

“Mungkin?”

“Aku harus melihat mesinnya dahulu.”

William mengangguk kecil.

Percakapan kembali kepada sesuatu yang dapat mereka periksa bersama. Tetapi tidak ada yang benar-benar kembali seperti sebelumnya.

Sesudah makan, Daniel membawa gambar-gambarnya ke kamar. William tetap duduk sementara Margaret mengumpulkan piring. “Dia sedang mencari jalannya,” kata istrinya.

William memandang tempat duduk yang baru ditinggalkan putranya. “Aku tahu.”

Ia teringat Guangyuan, yang dahulu mendengarkan keinginannya pindah ke Kanada dengan kecemasan yang tidak sepenuhnya dipahaminya. Dulu ia mengira seorang ayah harus belajar melepaskan karena anak membutuhkan masa depan. Kini ia mulai merasakan bagian yang tidak pernah diceritakan ayahnya: betapa sulit membiarkan masa depan itu tumbuh di tempat yang bertentangan dengan seluruh ingatannya.

Di ruang tengah, foto Shuyun tetap berada di antara foto-foto keluarga. William berdiri di depannya sebentar. Kemudian ia mematikan lampu dan membiarkan pintu kamar Daniel tetap terbuka.

Tiket ke Shanghai. Vancouver, 1993. Daniel membawa surat penawaran kerja pada hari Minggu. William sedang memperbaiki engsel lemari dapur. Ia memeriksa angka gaji lebih dahulu, kemudian jabatan dan lokasi. Shanghai. Obeng diletakkannya di meja.

“Kamu sudah menerimanya?”

“Aku ingin membicarakannya dengan Ayah dan Ibu.”

William membaca surat sampai selesai. Daniel akan bekerja dalam tim teknik sebuah perusahaan manufaktur patungan. Tanggung jawabnya mencakup proses produksi dan pengembangan pemasok. Paket gajinya tidak membuatnya kaya. Pekerjaannya memberi kesempatan yang belum diperolehnya di Kanada.

“Di sini kamu aman.”

“Aku tahu.”

“Pekerjaanmu juga baik.”

“Baik, tetapi ruangnya kecil.”

William mengangkat wajah. “Apa semua yang kami berikan terasa kecil?”

Daniel menarik napas. Ia melihat bagaimana satu kata tentang pekerjaan berubah menjadi penilaian terhadap seluruh pengorbanan orang tuanya. “Aku bicara tentang jabatan, Pa.”

“Kakekmu kehilangan segalanya di negeri itu.”

“Aku tidak meminta Ayah melupakan Kakek.”

“Dengan pergi ke sana, kamu melakukan itu.”

Margaret yang sejak tadi berdiri dekat kompor mematikan api. Ia tidak menyuruh siapa pun tenang. Ia tahu kemarahan William menyimpan rasa takut yang belum mampu diucapkannya.

Daniel melipat suratnya. “Ayah selalu bilang aku harus bisa mengambil keputusan dan menanggung akibatnya.”

“Keputusan juga bisa salah.”

“Karena itu aku ingin Ayah tetap mau bicara denganku kalau ternyata salah.”

William tidak menjawab.

Di bandara, beberapa minggu kemudian, ia membantu mendorong koper anaknya. Mereka berbicara tentang berat bagasi dan dokumen. Semua yang praktis dapat dibicarakan. Yang penting tertahan. Sebelum Daniel melewati pemeriksaan, William berkata, “Jangan tanda tangan sesuatu yang tidak kamu pahami.”

Daniel mengangguk. Ia memeluk ayahnya. William menepuk punggungnya sekali, kemudian sekali lagi, seolah ingin memperbaiki tepukan pertama yang terlalu singkat.

Ketika pesawat yang membawa Daniel lepas landas, William berdiri di balik kaca terminal, mengikuti tubuh pesawat itu sampai mengecil di antara awan. “Dulu ayahku membawaku keluar dari Tiongkok karena takut akan masa depan,” katanya pelan. “Sekarang putraku pergi ke sana karena berharap mendapat masa depan yang lebih baik.”

Ia mengusap air matanya. “Tiongkok memang sudah berubah. Itu kenyataan yang harus aku terima.”

Margaret merangkulnya. Untuk beberapa saat, mereka tetap memandang langit yang sama. “Dia dibesarkan di negeri demokrasi,” bisiknya. “Kita mengajarinya berpikir dan memilih. Sekarang dia sudah menentukan pilihannya. Kita doakan saja.”

William mengangguk. Di hadapan keberangkatan itu, ia mulai memahami bahwa memberi anak kebebasan juga berarti bersedia menerima keputusan yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Beberapa tahun kemudian, adik-adik Daniel menyusul ke Tiongkok setelah menamatkan universitas. Mereka membawa ijazah, keahlian, dan harapan masing-masing. Rumah yang dahulu dipenuhi suara anak-anak perlahan menjadi sunyi. Tinggal William dan Margaret, dua orang yang semakin hafal bunyi langkah satu sama lain.

Kehidupan keluarga mereka semakin makmur. Anak-anak memperoleh pekerjaan yang baik, membangun rumah tangga, dan membantu orang tua menikmati masa tua yang lebih nyaman. Namun, kemakmuran tidak dapat mengisi kursi-kursi kosong di meja makan.

Menjelang Tahun Baru Imlek, Margaret mulai menghitung berapa orang yang akan datang. William memeriksa kamar, membetulkan sesuatu yang sebenarnya belum rusak, dan membeli makanan kesukaan cucu-cucunya. Kini mereka menunggu pesawat dari Tiongkok dengan perasaan yang berbeda. Dahulu negeri itu berarti perpisahan. Sekarang, dari sanalah anak-anak dan cucu-cucu mereka berkarya hari esok yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Cina pantas mendapatkan masa kini yang gemilang karena itu tidak didapat dengan mudah dan murah…


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca