
Saya tiba di lounge hotel sebelum Awi. Masih ada waktu menuju salat Ashar. Dari jendela setinggi dinding, Jalan Thamrin terlihat seperti sungai yang terlalu penuh untuk mengalir. Mobil-mobil berhenti, bergerak sejengkal, lalu berhenti lagi. Di dalam lounge, seorang pemain piano mengulang melodi yang lembut. Di luar, orang-orang menghitung waktu dengan klakson.
Di meja sebelah, seorang wanita duduk sendirian. Sebuah kartu kecil bertuliskan reserved berdiri di samping vas anggrek. Ia tersenyum ketika saya lewat, dan saya membalasnya. Wajahnya tenang, cantikk, bajunya sederhana tetapi mahal. Saya langsung berpikir ia wanita baik-baik. Pikiran itu membuat saya malu beberapa saat kemudian, ternyata saya telah mengangkat kartu reservasi menjadi sertifikat akhlak.
“Are you Mr. Danil?” Ia berdiri dan lebih dahulu mengulurkan tangan.
“No. You’ve got the wrong person.”
“Maaf.” Bahasa Indonesianya lancar. “Saya kira Anda orang yang saya tunggu.”
“Saya juga sedang menunggu teman.”
“Kalau begitu, silakan duduk. Menunggu bersama mungkin lebih singkat daripada menunggu sendirian.”
Saya sempat curiga. Jangan-jangan ia istri seorang konglomerat yang sedang menyelidiki suaminya. Atau selir teman saya. Anehnya, dua dugaan itu muncul lebih cepat daripada pertanyaan yang paling wajar: siapa namanya? Saya duduk dengan jarak secukupnya.
Saya memperhatikan jalan Thamrin bundaran HI yang macet pada sore hari. “ kamu sedang memikirkan sesuatu ? katanya seakan memperhatikan saya sedari tadi tanpa ada niat berbicara dengannya.
“Saya melihat kemacetan itu,” kata saya menunjuk ke luar jendeal. “Mungkin isi kepala setiap orang di dalam kendaraan berbeda-beda. Ada yang kesal karena terlambat. Ada yang tidak peduli dan berpikir, jalani saja, memang begini adanya.”
“Ya,” jawabnya. “Di sana mungkin ada orang yang uangnya berlebih, tetapi tetap merasa kekurangan waktu. Ia ingin segera sampai, sehingga kemacetan membuatnya stres. Ada juga orang yang sama kayanya, tetapi tidak perlu terburu-buru. Seolah waktu bisa menyesuaikan diri dengan kehendaknya.”
Ia memandang deretan kendaraan yang nyaris tidak bergerak.
“Ada pula yang terlihat kaya, padahal setiap bulan gajinya terkuras oleh cicilan KPR dan pinjaman daring. Mungkin lebih dari separuh penghasilannya habis untuk membayar utang. Sebaliknya, ada orang yang tampak miskin dan memang hidup serba kurang. Ia bahkan tidak punya akses untuk berutang. Namun ia tidak gelisah memikirkan kapan akan sampai, sebab tak ada janji penting yang menunggunya di tujuan.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan, “Mungkin kalau gempa megathrust mengguncang kota ini, ia pun hanya akan menarik napas dan berkata, ‘Bencana apa lagi yang harus saya lewati?’”
“Kamu sedang bicara tentang cara orang menilai tekanan hidupnya—cognitive appraisal,” kata saya. “Tapi hidup bukan melodrama yang bisa kita pahami hanya dari apa yang terlihat. Kita melihat seseorang terjebak macet, lalu mengarang sendiri isi kepalanya. Setelah itu kita putuskan ia bahagia atau menderita, seolah hidup cuma hitam dan putih.”
“Termasuk ketika kita menyalahkan politik yang manipulatif dan korup sebagai penyebab semua penderitaan?” sahutnya cepat. Ia tersenyum, seakan sedang menguji apakah saya berani mengikuti pikiran saya sendiri sampai ke ujungnya.
“Kritik itu mungkin benar. Tapi tidak setiap kesulitan seseorang bisa dijelaskan oleh satu sebab.”
Saya tersenyum.
“Dan tidak setiap orang yang mengaku membela kebenaran sungguh mencarinya,” lanjut saya. “Ada yang berangkat dari kebencian, ada yang sekadar ingin menjadi oposisi. Tetapi kalau kebenaran harus menunggu pengakuan orang lain, apa yang tersisa darinya? Pengakuan sering punya kepentingan. Sesuatu dianggap benar ketika menguntungkan kelompok sendiri, lalu dianggap salah ketika diucapkan lawan.”
“Berarti kebenarannya absurd?”
“Bukan kebenarannya,” kata saya setelah berpikir sejenak. “Cara kita memperlakukannya. Fakta tidak berubah hanya karena tidak disukai. Yang berubah adalah keberanian kita untuk mengakuinya ketika fakta itu merugikan diri sendiri.”
“Termasuk cara pemerintah menanggapi pertanyaan yang lahir dari akal sehat tentang program MBG,” katanya. “Bagaimana makanan bergizi disediakan dari anggaran lima belas ribu rupiah per porsi, jika benar tujuh ribu rupiahnya habis untuk operasional? Mengapa disebut gratis, seolah uangnya berasal dari kantong pribadi presiden, padahal program itu dibiayai pajak rakyat?”
Saya terhenyak. Wanita ini cerdas, jelas terpelajar. Pertanyaannya juga lahir dari kepekaan terhadap keadilan. Saya teringat beberapa tokoh agama yang lebih cepat membela program itu daripada menanyakan bagaimana pelaksanaannya. Namun saya pun sadar, dari sebuah pernyataan di layar televisi, saya belum tahu apa yang sungguh mereka pikirkan.
“Sebaliknya, sikap kamu yang terlalu mudah berdamai dengan alasan kekuasaan bisa membuka jalan bagi state capture,” lanjutnya. “Ketika kebijakan dikuasai kepentingan segelintir orang, seruan pemerintah tentang moral terdengar seperti nasihat dari seseorang yang masih berbuih bir di bibirnya.”
“Korupsi jelas salah. Tidak perlu kita tawar lagi,” jawab saya. “Dalam demokrasi, kekuasaan harus bisa diperiksa dan penggunaan uang publik harus transparan. Tetapi saya ingin menguji argumenmu. Bagaimana dengan monarki absolut? Kekayaan keluarga raja dipertontonkan sebagai hak dinasti, sementara hukum korupsi bisa dijatuhkan dengan keras kepada pejabat yang tidak setia. Jika penguasa sekaligus menentukan batas antara milik negara dan milik keluarganya, siapa yang berhak menyebut sesuatu sebagai korupsi?”
Dia terdiam sejenak.
“Bagaimanapun, saya benci tiran,” katanya ketus. “Tidak peduli ia memerintah republik atau kerajaan. Di tangan tiran, kekuasaan menentukan sendiri apa yang boleh disebut benar. Dialektika pun mati.”
“Bagaimana kalau kekuasaan itu mengatasnamakan agama?” tanya saya.
Ia terdiam. Jemarinya berhenti di gagang cangkir.
“Itu juga tirani,” jawabnya akhirnya. “Apalagi jika orang yang berbeda pendapat dianggap melawan Tuhan, sehingga penguasa tak perlu lagi menjawab kritiknya.”
“Jadi yang kamu persoalkan bukan agamanya?”
“Bukan. Saya mempersoalkan manusia yang memakai nama Tuhan untuk membuat dirinya tak boleh dikritik dan disalahkan.”
Saya melihat percakapan kami mulai membuatnya kesal. Saya justru tersenyum, ingin menguji pendapatnya lebih jauh.
“Korupsi sudah lama menjadi penyakit dalam kehidupan manusia, begitu pula pelacuran,” kata saya. “Keduanya tidak pernah benar-benar hilang. Cara kerjanya berubah, bahkan bisa semakin rumit dan besar. Padahal agama juga telah lama hadir untuk mengajarkan manusia tentang batas dan tanggung jawab.”
“Kamu tidak bisa menyamakan pelacuran dengan korupsi,” potongnya. “Yang satu privatisasi personal. Yang lain privatisasi publik. Akibatnya pun berbeda.”
“Kamu benar,” kata saya. “Tetapi privatisasi personal pun menjadi ranah publik. Ada pembeli, perantara, kebutuhan ekonomi, juga cara publik memberi stigma. Kalau masyarakat hanya menghukum orang yang terlihat menjual, tetapi membiarkan mereka yang membeli dan mengambil keuntungan, barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya orang itu. Mungkin cara kita menghakiminya juga sedang sakit. Ingat itu.”
“ Yang saya ingat, privatisasi personal yang berdampak kepada penyakit social, itu akibat politik kekuasaan yang selalu absen di tengah ketidak adilan social dan ekonomi. “ Katanya denga wajah miris. “ Berapa banyak perempuan menjual jasa seksual setelah suaminya terkena PHK? Berapa banyak keluarga kehilangan penghasilan karena panen gagal, sewa lahan naik, atau pupuk sulit diperoleh dan harganya semakin mahal? Belum lagi konflik agraria yang memiskinkan warga, lulusan sekolah dan sarjana yang sulit mendapat pekerjaan ketika industri melemah, serta anak-anak terlantar yang tidak mendapat perlindungan negara. Sebelum menyuruh seseorang menanggung penilaian publik, ingatlah keadaan yang mempersempit pilihannya.”
“ Karena itu saya berempati,” jawab saya. “Namun kekuasaan tidak muncul dari ruang hampa. Pemimpin itu cermin dari mayoritas rakyatnya. Ia tumbuh dalam kebudayaan yang juga kita bentuk seperti kebiasaan memaklumi penyalahgunaan wewenang, menyanjung orang kaya tanpa bertanya dari mana hartanya, dan memakai agama untuk menghakimi yang lemah sambil memberi tempat terhormat kepada yang kuat. Kalau kita hanya mengutuk akibatnya, kita tidak akan menyentuh kebiasaan yang terus melahirkannya.”
Ia menatap saya. “Jangan sampai kalimat ‘kekuasaan cermin rakyat’ menjadi alasan untuk membebaskan penguasa.”
“Tidak begitu,” kata saya. “China yang tidak menjadikan agama sebagai alat negara, bisa mengangkat 800 juta rakyatnya dari kubangan kemiskinan. Sementara kita dimana agama sebagai alat negara, justru lebih separuh rakyat miskin dan rentan miskin setidaknya menurut world bank. Artinya, kekuasaan itu soal kebudayaan. Dan kita punya nilai spiritual untuk mengubahnya, punya kebudayaan untuk mengikatnya. Seharusnya kita lebih baik dari China dalam membangun peradaban”
Saya terdiam sejenak dan tersenyum.
” Apa yang kamu maksud dengan kebudayaan?
“Orang Indonesia itu unik,” kata saya. “Di warung, sebelum menyuap makanan, kita sering menawarkan kepada orang di sebelah, ‘Mari, ikut makan.’ Padahal namanya pun belum tentu kita tahu.”
Ia tersenyum.
“Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak pantas tidur kenyang sementara tetangga kelaparan. Ada yang mengatakannya lebih keras: Tuhan akan menegur kita sepanjang malam. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau kita tidak sempat bangun lagi untuk memperbaikinya?”
Saya memandang cangkir di hadapan saya.
“Itulah budaya yang saya kenal. Ada kehangatan yang kadang tidak muat dalam aturan tertulis. Mungkin itu pula sebabnya kita suka tidur dengan bantal guling. Bahkan ketika sendirian, kita ingin merasa ada yang dekat.”
Ia tertawa kecil. “Analogi yang aneh.”
“Tapi kamu mengerti maksud saya.”
“Ya,” katanya. “Hanya saja, menawarkan makan di warung itu basa basi namanya. Itu kadang udah jadi kebiasaan hipokrit. Yang lebih sulit adalah memastikan tetangga kita benar-benar punya makanan ketika kita sudah pulang dan menutup pintu.”
Saya memanggil pelayan ke meja kami dan mempersilakan wanita itu memesan.
“Tagihannya saya yang bayar,” kata saya.
Ia tersenyum, lalu memesan teh.
“Bagaimana mengubah semua itu?” tanyanya setelah pelayan pergi. “Pertanyaannya rumit. Mungkin sama rumitnya dengan mengatasi akibat yang sudah telanjur terjadi.”
“Sederhana saja,” kata saya sambil tersenyum. “Bantu rakyat mengenali politik uang, apa pun bentuk pemberiannya, agar mereka tidak memilih calon presiden atau anggota DPR karena menerima imbalan saat pemilu. Bantu mereka menguji janji populis dan menolak anggapan bahwa jabatan atau nama keluarga membuat seseorang lebih berhak didengar.”
“Kedengarannya sederhana.” Senyumnya berubah getir. “Tetapi bagaimana orang bisa menilai semua itu kalau lebih separuh populasi negeri ini tidak tamat SMA. Index literasi termasuk terendah didunia. Sebagian besar rakyat lebih suka menonton dan mendengar daripada membaca. Kemiskinan membatasi pendidikan, lalu pendidikan yang terbatas membuat orang lebih sulit menuntut perubahan. Lingkaran itu sudah berlangsung lama. Kadang saya bertanya apakah kekuasaan memang membiarkannya tetap begitu.”
“Jangan samakan pendidikan formal yang terbatas dengan kebodohan,” jawab saya. “Orang yang tidak tamat SMA tetap punya akal, pengalaman, dan nurani. Seorang petani mungkin tidak memakai istilah patronisme, tetapi ia tahu ketika bantuan hanya diberikan kepada pendukung seseorang. Yang diperlukan adalah percakapan politik yang menjelaskan hak warga dengan bahasa yang terang dan memberi ruang bagi mereka untuk bertanya.”
Ia terdiam, tetapi saya tahu ia belum sepenuhnya puas dengan jawaban saya.
“Masalahnya lebih dalam daripada cara orang memilih,” katanya. “Ada oligarki, ada kleptokrasi. Batas antara pengusaha dan penguasa semakin kabur, sebab sebagian elite memainkan kedua peran sekaligus. Dahulu orang membayangkan korupsi sebagai uang yang langsung diambil dari anggaran. Sekarang keuntungan bisa disembunyikan dalam komisi, konsesi, fasilitas kredit, stimulus program, kompensasi, atau insentif yang dirancang untuk pihak tertentu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap saya.
“Ketika kewenangan publik menjadi jalan menuju kekayaan pribadi, bagaimana rakyat bisa percaya bahwa suaranya masih menentukan? Bahkan setelah pemungutan suara selesai, mereka masih harus yakin bahwa setiap suara dihitung dengan jujur. Kalau penyelenggara pemilu dapat dibeli, kotak suara hanya menjadi properti panggung demokrasi.”
“Itu tuduhan yang berat,” kata saya.
“Memang. Karena itu harus dibuktikan, bukan sekadar diteriakkan. Tetapi kepercayaan rakyat juga tidak bisa diminta begitu saja. Mereka perlu melihat proses yang terbuka dan bisa diperiksa.”
“Supaya mereka tidak bergantung pada influencer?”
“Supaya mereka dapat mendengar siapa pun, termasuk influencer, tanpa menyerahkan penilaian kepadanya. Pada akhirnya, setiap orang harus bisa menjadi kapten atas jiwanya sendiri.” Katanya.
Saya tersenyum.
“ Dulu, di Taiwan, partai oposisi yang lahir ketika Kuomintang masih mendominasi akhirnya bisa memenangkan pemilihan presiden,” kata saya. “Tahun 2000, Chen Shui-bian dari Partai Progresif Demokratik mengalahkan calon resmi Kuomintang.
“ itu karena sebagian besar rakyat mengancam tidak akan datang ke TPS. “
“ Ya, dan akhirnya aturan pemilu diubah. Karena itu lebih dari delapan puluh persen pemilih menggunakan hak suaranya. Suara kubu yang sebelumnya berkuasa juga terpecah antara calon Kuomintang dan seorang calon independen.”
Saya berhenti sejenak.
“Pergantian kekuasaan itu bersejarah. Tetapi kemenangan oposisi tidak otomatis membuat orang yang terpilih kebal dari godaan kekuasaan. Chen kemudian tersandung perkara korupsi. Rupanya mengganti penghuni istana lebih mudah daripada memastikan orang yang baru masuk tidak menganggap istana itu miliknya.”
Wanita itu menatap saya sejuruh, seperti ada sesuatu yang aneh. “ siapa kamu sebenarnya.” Katanya mengerutkan kening. “ Pengusaha? Bagian dari kekuasaan? Rakyat jelata?
“ Yang pasti saya bukan pihak yang mengutuk pengusaha dan penguasa. Karena saya tidak mau dicap sebagai pihak yang kalah. Saya bisa jadi pengusaha, tanpa harus mengutuki kekuasaan yang membuat rente ekonomi. Saya bersaing dengan cara saya. Saya bisa saja bagian dari elite kekuasaan, karena saya bergaul dengan mereka, namun bukan bearti saya memuja kekuasaan, tentu tidak perlu memujanya. “
Saya diam sejenak.
“ Hidup ini bukan antara kita dengan manusia, tetapi antara kita dengan Tuhan. Proses hidup bukan materialism, tetapi membangun kesadaran nilai. Esensi kita bukan raga tetapi jiwa. Pada akhirnya semua orang akan mati dan selesai. “ Kata saya kemudian.
Alert datangnya waktu sholat bergetar di hape saya. “Saya salat dulu,” kata saya.
“Silakan.”
20 menit kemudian saya kembali ke table.
“ Kamu orang yang humanis. Tidak menilai manusia secara personal tetapi karena perbuatannya namun tidak ingin menjadi hakim. Makanya kamu bisa bergaul dengan siapapun “ Katanya.
Saya senyum aja, itu penilaian pribadinya. Engga penting bagi saya untuk ditanggapi.
“ Termasuk kepada pelacur sekalipun? Tanyanya.
Saya mengangguk.” Ya walaupun saya tidak happy dengan transaksi sex”
Tak berapa lama Awi keliatan masuk ke dalam café.
“Ini Pak Danil, orang yang saya tunggu,” katanya, memperkenalkan Awi dengan nama yang asing bagi saya. “Teman Bapak juga sudah datang?”tanyanya.
“Kebetulan teman kita sama.” Kata saya mengangguk.
“Wah. Kebetulan yang luar biasa.”
Saya memberi isyarat kepada Awi untuk berbicara di meja lain. Ia meminta izin kepada wanita itu. Begitu kami cukup jauh, saya langsung bertanya.
“Siapa wanita itu?”
“Untuk Simon Ang,” jawab Awi. “Partner gua di bisnis crude.”
“Escort?”
“Iya. Premium class.”
“Dari mana lu kenal?”
“Albert.”
Saya menggeleng dengan senyum masam.
“Kenapa? Lu sempat ngobrol?” tanya Awi.
“Panjang. Soal korupsi, kemiskinan, agama, dan cara orang membuat dosa sendiri terdengar terhormat.”
Awi tertawa kecil. Saya menatapnya. “Kenapa nama lu jadi Danil?”
“Dia pemain, Ale. Dalam dunia remang-remang, identitas memang lebih baik tidak terlalu jelas. Kan lu yang ngajarin gua.” Awi menepuk lengan saya. “Lagi pula Simon pemain lama crude di Singapura. Dia punya akses ke elite politik untuk urusan ekspor-impor. Kita enggak main di depan. Jalurnya lewat Singapura.”
Saya memandang Awi. Ia menyebut pekerjaan wanita itu dengan terus terang, tetapi memakai nama lain untuk dirinya sendiri. Di meja yang sama, satu orang diberi label; yang lain diberi hak menyembunyikan nama.
“Lu marah?” tanyanya.
“Enggak. Gua sedang menghitung siapa saja di ruangan ini yang boleh menjaga reputasinya.”
“Kenapa lu ngomong begitu?”
“Karena kita semua anjing, Wi. Selalu menjulurkan lidah setiap kali mencium sesuatu yang kita inginkan. Bedanya, sebagian dari kita punya uang untuk menamai nafsu itu sebagai bisnis.”
Tawa Awi berhenti.
Kami kembali ke meja. Wanita itu menatap kami bergantian. Ia tentu mengenali bentuk percakapan yang baru saja terjadi: dua pria menjauh, lalu kembali membawa penilaian yang tidak mereka ucapkan di hadapannya.
“Kamu tadi belum menyebut nama,” kata saya.
“Praditia.”
“Ale.”
Kami berjabat tangan lagi. Nama itu tidak membuat saya mengetahui hidupnya. Setidaknya sekarang saya bisa menyapanya tanpa memakai label yang diberikan Awi.
Beberapa menit kemudian, Simon Ang datang. Jasnya gelap, senyumnya terlatih. Ia meminta maaf karena terlambat. Katanya, ia baru selesai menyerahkan donasi kepada sebuah organisasi masyarakat, lalu menjamu beberapa orang dari kalangan politik.
“Berkah berbagi,” katanya sambil duduk. “Kalau bisnis kita jalan, makin banyak yang bisa dibantu.”
Awi membuka pembicaraan tentang kargo, izin, dan orang-orang yang perlu ditemui. Simon menyebut facilitation dan relationship management. Ada pula sejumlah biaya yang, menurutnya, tidak perlu dicantumkan dalam dokumen.
“Biaya itu untuk apa?” tanya saya.
Simon menatap Awi sebelum menjawab. “Pak Ale, kita semua ingin hasil yang baik. Jangan terlalu kaku pada proses.”
“Ya,” kata saya sambil tersenyum. “Tadi saya bilang kepada Awi, kita semua anjing. Bedanya, anjing yang satu bisa membeli reputasi dari hasil menyuap, lalu menyebutnya berkah berbagi.”
Senyum Simon menipis. Di samping saya, Awi menunduk memeriksa telepon, seolah pesan yang sangat penting baru saja masuk.
“Saya bertanya sekali lagi,” kata saya. “Biaya yang tidak ditulis itu untuk apa?”
Simon merapatkan map di hadapannya. “Saya kira kita bahas lain kali.”
“Tentu.” Saya berdiri. “Setelah angkanya jelas.”
Pertemuan berakhir lebih cepat daripada rencana Awi. Saya tidak tahu apakah Simon akan mencari partner lain atau apakah Awi akan menganggap saya telah merusak sebuah kesempatan. Saya juga tidak tahu apa yang akan Praditia lakukan setelah meninggalkan lounge. Satu-satunya keputusan yang dapat saya pertanggungjawabkan sore itu adalah keputusan saya sendiri.
Di dekat pintu lounge, Praditia menyusul saya.
“Pak Ale,” katanya, “apa mungkin kita berteman?”
“Tentu.”
Saya mengambil beberapa lembar dolar dari dompet dan mengulurkannya. Ia memandang uang itu, lalu menatap saya. Matanya menggenang, tetapi ia belum mengangkat tangan.
“Kalau Bapak bilang saya punya pilihan,” katanya pelan, “apa Bapak keberatan kalau saya menolak melayani Simon?”
“Tidak.”
“Lalu uang itu untuk apa?”
“Supaya kebutuhan uang malam ini tidak memaksamu mengatakan ya,” jawab saya. “Tetapi kalau pemberian ini justru terasa seperti tekanan dari saya, jangan ambil. Kamu tidak berutang keputusan apa pun kepada saya.”
Praditia mengusap sudut matanya. Setelah beberapa saat, ia menerima uang itu.
“Saya perlu mengatakan tidak kepada Awi,” katanya. “Sisanya saya urus sendiri.”
Saya mengangguk dan mengacungkan jempol.
“Dulu kamu kuliah apa?”
“Farmasi. S1.” Suaranya sedikit bergetar. “Boleh saya minta nomor telepon Bapak?”
Saya menyebutkan nomor saya, lalu ia menyimpannya di ponsel.
“Hubungi saya kalau ada hal konkret yang ingin kamu kerjakan,” kata saya. “Kalau saya bisa membantu, kita bicarakan. Kamu yang menentukan jalannya.”
Ia menarik napas panjang sebelum kembali ke arah meja. Dari tempat saya berdiri, saya melihat ia berbicara kepada Awi. Saya tidak mendekat. Keputusan itu miliknya, begitu pula alasan yang mungkin ingin ia simpan sendiri.
Di luar hotel, jalan masih padat. Pengendara motor yang tadi kami lihat telah pergi, digantikan orang-orang lain dengan urusan yang tak terbaca dari balik kaca.
Malam itu saya pulang dengan ingatan tentang uang yang saya berikan. Saya berharap uang itu memberinya sedikit ruang untuk memilih. Namun saya tidak tahu apakah bantuan saya cukup, atau apakah jalan setelah malam ini akan lebih mudah baginya. Gelar farmasi yang ia miliki pun tidak menghapus kesulitan yang membawanya ke lounge tersebut. Saya hanya belajar satu hal bahwa membantu seseorang bukan berarti berhak mengarahkan hidupnya. Kebaikan baru memberi ruang ketika orang yang menerimanya tetap bebas berkata tidak—kepada Simon, kepada Awi, bahkan kepada saya.

Tinggalkan komentar