Dari tanah menjadi harapan cerah..

Ketika saya keluar dari area kedatangan Bandara Shenzhen, Xiaulin sudah menunggu di balik pagar pembatas. Ia melambaikan tangan begitu melihat saya. Celana panjangnya berwarna kuning, kausnya putih, dan rambutnya diikat seadanya. Penampilannya santai, cocok untuk perjalanan pada musim panas yang membuat udara Shenzhen terasa lengket bahkan di dalam bandara.

Tahun itu 2013. Xiaulin berusia dua puluh enam tahun. Sebelum saya mengajaknya bekerja dalam bisnis, ia bernyanyi di kafe sebuah hotel bintang lima di Hong Kong. Saya masih ingat suaranya, juga caranya menyapa tamu setelah turun dari panggung: ramah, tetapi selalu ingin tahu pekerjaan orang yang diajaknya bicara.

“Sudah makan?” tanyanya sambil mengambil satu sisi pegangan koper saya.

“Belum. Kamu?”

“Saya menunggu Bapak. Kalau makan dulu, nanti Bapak bilang saya meninggalkan tamu.”

Saya tertawa. Kami berjalan menuju konter keberangkatan untuk penerbangan ke Haikou. Di sepanjang lorong, roda koper beradu dengan sambungan lantai yang mengilap. Pengumuman penerbangan terdengar bergantian dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Xiaulin berjalan cepat, sesekali menoleh untuk memastikan saya mengikutinya.

Perjalanan ke Hainan adalah idenya. Beberapa hari sebelumnya, ia bercerita tentang seorang teman yang melihat peluang membangun kawasan industri obat tradisional yang diolah dengan metode modern. Saya mula-mula mendengarkannya sambil lalu. Namun Xiaulin terus bertanya: jika tanaman obat tersedia, mengapa tempat pengujian, pengolahan, dan pemasarannya tidak dibangun berdekatan? Pertanyaan itu membuat saya ingin melihat sendiri kawasan yang sudah berkembang di sana.

Dari jendela pesawat, laut tampak hampir menyatu dengan langit yang pucat. Ketika kami mendarat di Haikou, cahaya sore masih terang. Begitu pintu bandara terbuka, udara hangat dan lembap menyentuh wajah saya. Di luar, pohon-pohon palem berdiri di antara jalur kendaraan. Sopir taksi memanggil calon penumpang, sementara beberapa keluarga mendorong troli penuh koper dan kardus.

Dalam perjalanan ke hotel, Xiaulin menunjuk keluar jendela. Ia pernah datang ke Hainan untuk bernyanyi dalam sebuah acara, katanya, tetapi waktu itu hanya melihat ballroom hotel dan pantai dari kejauhan. Kali ini ia memperhatikan gudang, truk pengangkut barang, dan ruas-ruas jalan yang membawa kami meninggalkan bandara.

“Teman saya bilang, besok kita bisa melihat kawasan industri yang sudah berjalan,” katanya. “Jadi Bapak bisa menilai idenya setelah melihat tempatnya.”

Hotel kami berada di Haikou. Di lobi, lantai batu yang dingin memberi kelegaan setelah perjalanan. Aroma teh dari sudut ruang duduk bercampur dengan wangi samar bunga yang diletakkan di meja resepsionis. Kami baru selesai check-in ketika seorang pria berdiri dari sofa dan menghampiri Xiaulin.

“Lin!”

Xiaulin memperkenalkannya sebagai temannya, Liang. Ia membawa tas kerja tipis dan beberapa lembar peta yang dilipat. Setelah berjabat tangan, ia tidak langsung membuka pembicaraan bisnis. Ia bertanya apakah penerbangan kami lancar dan menawarkan waktu untuk beristirahat.

“Saya ingin melihat kawasannya sebelum gelap,” kata saya.

Liang memandang jam di pergelangan tangannya, lalu tersenyum. “Kita masih sempat melihat jalan utama dan beberapa fasilitas dari luar. Besok pagi kita masuk lebih jauh.”

Kami menitipkan koper di kamar dan turun lagi. Mobil Liang bergerak melewati jalan-jalan Haikou yang dinaungi pepohonan. Sepeda motor melintas di sisi kendaraan; di depan deretan toko, orang-orang duduk menghindari matahari sore. Semakin jauh dari pusat kota, jarak antargedung semakin renggang. Sebuah truk berpendingin melaju di depan kami, lalu berbelok ke jalan menuju kawasan industri.

Liang mengurangi kecepatan mobil. Di satu sisi jalan berdiri bangunan produksi dengan nama perusahaan pada gerbangnya. Di sisi lain terlihat gedung kantor, halaman parkir, dan kendaraan pengangkut barang yang menunggu giliran masuk. Tidak semua bangunan serupa. Ada yang tampak baru, ada pula yang cat dindingnya telah memudar oleh panas dan hujan.

“Ini yang ingin saya perlihatkan,” kata Liang. “Perusahaan datang pada waktu yang berbeda. Kawasan ini tumbuh bertahap.”

Saya meminta ia berhenti sebentar. Dari tepi jalan, saya melihat seorang pekerja memeriksa dokumen yang dibawa sopir truk sebelum palang gerbang diangkat. Beberapa karyawan keluar dari gedung di seberangnya, berbicara sambil membuka kancing paling atas seragam mereka. Pekerjaan hari itu mungkin hampir selesai, tetapi arus barang belum berhenti.

Xiaulin berdiri di samping saya. Angin sore menggerakkan ujung rambutnya yang terlepas dari ikatan. “Waktu saya cerita tentang obat tradisional, Bapak mengira saya hanya sedang membawa proposal teman, ya?” tanyanya.

“Memang begitu.”

“Sekarang?”

Saya memandang Liang yang sedang berbicara dengan petugas keamanan, lalu kembali melihat bangunan-bangunan di hadapan kami. Tanaman obat yang tumbuh di suatu wilayah bisa menjadi awal sebuah usaha. Tetapi untuk menghasilkan produk yang dipercaya orang, seseorang harus memastikan asal bahan, memeriksa mutunya, membiayai penelitian, membangun pabrik, dan menemukan pembeli. Masing-masing pekerjaan itu memerlukan orang dengan keahlian berbeda.

“Sekarang saya ingin tahu siapa yang menanggung pekerjaan di antara kebun dan produk jadi,” jawab saya.

Xiaulin tersenyum kecil. Ia tidak meminta saya menjelaskan lebih jauh. Liang kembali dan mengatakan bahwa besok ia akan mempertemukan kami dengan orang yang mengelola salah satu fasilitas di kawasan itu.

Kami masuk lagi ke mobil. Di kaca spion, gerbang pabrik mengecil perlahan. Langit di atas Haikou mulai berubah warna, sementara lampu-lampu di sepanjang jalan menyala satu per satu. Saya datang karena cerita Xiaulin tentang peluang bisnis. Setelah melihat kawasan itu dari dekat, saya ingin mendengar cerita orang-orang yang membuatnya bekerja setiap hari.

Kunjungan ke Medicine Valley

Keesokan paginya, Liang menjemput kami ketika matahari baru mencapai puncak gedung di seberang hotel. Xiaulin sudah menunggu di lobi dengan buku catatan kecil di tangan. Ia mengenakan kemeja tipis berwarna biru muda. Semalam ia bilang ingin ikut mendengar penjelasan teknis, meskipun mungkin tidak akan memahami semuanya.

“Saya juga belum tentu paham,” kata saya sambil mengambil sebotol air dari meja sarapan. “Kalau bingung, kita tanya.”

Di luar, sisa hujan malam masih menempel pada daun-daun pohon. Liang membawa kami ke kawasan industri farmasi di Haikou yang disebutnya Medicine Valley. Jalan menuju ke sana semakin ramai oleh truk kecil, bus karyawan, dan kendaraan pemasok. Kami melewati toko sarapan yang kursinya telah penuh. Dari pintunya yang terbuka, saya melihat seorang perempuan mengangkat kukusan besar sementara pelanggan menunggu dengan mangkuk di tangan.

Liang menunjuk deretan bangunan di kejauhan. “Orang sering membayangkan industri obat hanya sebagai laboratorium. Padahal setiap pagi, sebelum peneliti mulai bekerja, orang lain sudah memastikan bahan datang, mesin siap, dan air memenuhi syarat.”

Kami berhenti di depan sebuah gedung produksi. Gerbangnya dijaga dua petugas. Setelah Liang menyerahkan identitas kami, seorang perempuan bernama Mei menyambut di ruang tamu. Ia bekerja di bagian pengembangan usaha perusahaan itu. Di belakangnya, papan informasi menampilkan denah fasilitas, alur pengunjung, dan beberapa foto kegiatan produksi.

Mei lebih dulu meminta kami mengenakan penutup sepatu. Ketika Xiaulin berusaha merapikan rambutnya di depan kaca, Mei menyerahkan sebuah penutup kepala. “Di sini, rambut lebih penting daripada penampilan,” katanya. Xiaulin tertawa, lalu memasangnya.

Kami memasuki koridor panjang dengan jendela kaca di satu sisinya. Dari sana kami dapat melihat pekerja berseragam memasukkan wadah bahan ke ruang penerimaan. Setiap wadah memiliki label. Mei menunjukkan tempat bahan dicatat dan diperiksa sebelum boleh bergerak ke proses berikutnya.

“Kalau bahan datang dari petani, apakah langsung masuk ke pabrik?” tanya saya.

“Tidak,” jawab Mei. “Kami harus tahu siapa pemasoknya, bagaimana bahan disimpan, dan apakah mutunya sesuai. Bahan yang kelihatannya sama belum tentu memiliki kondisi yang sama.”

Saya teringat gudang hasil bumi yang pernah saya lihat di Indonesia. Singkong ditumpuk di lantai, karung jahe ditinggalkan dekat pintu yang terbuka saat hujan, rempah dibeli berdasarkan taksiran cepat seorang tengkulak. Petani telah bekerja berbulan-bulan, tetapi nilai panennya bisa turun hanya karena tidak ada tempat mengeringkan atau menyimpan dengan baik.

Di ujung koridor, kami berhenti di depan jendela yang menghadap ruang pengolahan. Pipa-pipa baja tersusun di atas peralatan tertutup. Cahaya lampu putih jatuh pada lantai yang bersih. Seorang pekerja membaca angka pada panel, mencatatnya, lalu memeriksa sambungan di sisi mesin.

Mei tidak membiarkan kami masuk. “Jalur pengunjung berhenti di sini,” katanya. “Orang yang bekerja di dalam mengikuti prosedur yang berbeda.”

Dari balik kaca, pekerjaan itu tampak tenang. Saya tahu ketenangan tersebut memerlukan banyak pemeriksaan yang tidak terlihat. Produk yang akan digunakan orang saat sakit tidak boleh bergantung pada perkiraan atau ingatan seseorang.

Xiaulin menempelkan buku catatannya ke dada. “Berarti kalau kami ingin membangun kawasan seperti ini, mendirikan gedung hanya permulaannya?”

Mei mengangguk. “Gedung bisa selesai dalam waktu tertentu. Membangun kebiasaan kerja yang dapat dipercaya memerlukan waktu lebih lama.”

Setelah melihat area produksi, kami diajak ke ruang pertemuan kecil. Di atas meja telah tersedia teh dan potongan buah. Seorang kepala laboratorium bergabung dengan kami. Namanya Dr. Wu. Ia berbicara pelan, berhenti setiap kali Liang menerjemahkan bagian yang terlalu cepat bagi saya.

Dr. Wu menggambar tiga kolom pada selembar kertas: bahan, proses, dan produk. “Untuk obat tradisional yang dikembangkan menjadi produk modern,” katanya, “kita perlu memahami tanaman yang dipakai, menjaga mutu bahan, lalu menguji apa yang dihasilkan dari proses pengolahan. Cerita bahwa suatu tanaman telah digunakan lama adalah alasan untuk menelitinya. Itu belum cukup sebagai hasil penelitian.”

Saya menyukai ketegasannya. Ia tidak meremehkan pengetahuan turun-temurun, tetapi juga tidak meminta orang percaya begitu saja.

“Siapa membayar riset pada tahap awal?” tanya saya.

Dr. Wu menatap Liang sebelum menjawab. “Tergantung proyeknya. Ada riset oleh perusahaan, lembaga penelitian, dan kerja sama dengan pemerintah. Risiko pada tahap awal besar. Karena itu fasilitas bersama dan peneliti yang tersedia di sekitar kawasan membantu perusahaan yang belum mampu membangun semuanya sendiri.”

Liang membuka peta yang dibawanya sejak kemarin. Ia menunjukkan letak jalan, fasilitas produksi, dan bagian kawasan yang masih dapat dikembangkan. Xiaulin segera menarik kursinya lebih dekat.

“Teman saya ingin membangun apa di sini?” tanyanya.

“Bukan meniru pabrik yang tadi kita lihat,” jawab Liang. “Idenya kawasan untuk perusahaan yang membutuhkan pasokan tanaman obat yang jelas asalnya, tempat pengujian, dan fasilitas untuk mengembangkan produk. Tetapi kami masih harus menghitung siapa pemasoknya dan perusahaan mana yang sungguh membutuhkan layanan itu.”

Saya memperhatikan wajah Xiaulin. Kemarin ia sangat bersemangat menceritakan peluang tersebut. Sekarang ia lebih banyak diam, menulis pertanyaan. Saya tahu perubahan itu. Ketika sebuah gagasan mulai menyentuh tanah, bangunan, pekerja, dan uang, kegembiraan sering berganti menjadi rasa tanggung jawab.

Menjelang siang, Mei mengajak kami keluar melalui halaman belakang. Sebuah truk sedang menurunkan kemasan kosong di dekat gudang. Di bawah atap pelindung, pekerja memeriksa jumlahnya sambil mencocokkan daftar di tangan. Tidak jauh dari sana, dua perempuan berbincang sambil menunggu bus karyawan. Angin membawa bau aspal yang mulai panas.

“Apakah penduduk sekitar bekerja di sini?” tanya saya kepada Mei.

“Sebagian,” jawabnya. “Yang memiliki keterampilan khusus datang dari tempat lain. Kami juga melatih pekerja baru.”

Saya memandang bus itu, kemudian jalan yang membentang keluar kawasan. Jika sebuah wilayah ingin tumbuh bersama industrinya, warga setempat harus mempunyai jalan masuk: pelatihan, pekerjaan, usaha pemasok, dan kesempatan membuka layanan bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Saya ingin tahu berapa banyak dari semua itu yang sudah terjadi di Haikou. Satu kunjungan belum cukup untuk menjawabnya.

Saat makan siang, Liang membawa kami ke restoran kecil di luar kawasan. Di depan pintu terdapat akuarium berisi ikan hidup. Pendingin ruangan bekerja keras melawan udara panas yang ikut masuk setiap kali pintu dibuka. Xiaulin memesan beberapa hidangan, lalu membuka buku catatannya di antara mangkuk dan sumpit.

“Bapak tadi bertanya tentang pemasok,” katanya. “Saya pikir kita perlu pergi ke tempat bahan itu berasal.”

Liang mengangkat wajah. “Ke kebun?”

“Ke kebun, ke tempat pengumpulan, ke gudang,” jawab Xiaulin. “Saya ingin melihat berapa lama perjalanan bahan sebelum sampai ke gerbang yang tadi.”

Saya menatapnya. Dahulu, di kafe hotel Hong Kong, ia biasa mengenali lagu yang diinginkan tamu hanya dari beberapa kata. Hari ini ia mencoba mendengar hal yang tidak diucapkan orang-orang di ruang presentasi: siapa yang menanam, siapa yang menyimpan, dan siapa yang menanggung kerugian ketika bahan ditolak.

“Baik,” kata saya kepada Liang. “Setelah makan, kita mulai dari sana.”

Di luar jendela, sebuah truk melintas menuju kawasan industri. Saya tidak tahu apa muatannya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Hainan, saya merasa kunjungan kami baru benar-benar dimulai.

Dari Kebun ke Gerbang Pabrik

Seusai makan siang, Liang menelepon seseorang dari teras restoran. Xiaulin berdiri di sampingnya, memperhatikan lalu lintas sambil menahan buku catatan agar halamannya tidak terangkat oleh angin. Saya menghabiskan teh yang mulai dingin. Dari dapur terdengar piring bertemu piring, disusul suara koki memanggil pelayan.

“Tempat pengumpulan bahan tidak ada dalam jadwal,” kata Liang setelah kembali. “Tetapi kenalan saya bersedia menerima kita. Perjalanan sekitar satu jam.”

“Bagus,” jawab saya.

Mobil bergerak meninggalkan Medicine Valley. Gedung-gedung industri perlahan berganti dengan rumah toko, bengkel, kebun kecil, dan lahan yang dipisahkan oleh parit. Sesekali kami berpapasan dengan sepeda motor yang membawa keranjang besar di belakangnya. Hujan semalam membuat tanah di pinggir jalan tampak gelap. Di antara pepohonan, saya melihat atap rumah-rumah rendah dan pakaian yang dijemur di bawah teritis.

Liang menjelaskan bahwa tempat yang akan kami kunjungi membeli beberapa jenis bahan tanaman dari pemasok setempat. Ia berhati-hati menyebutnya contoh rantai pasok, bukan pemasok bagi pabrik yang baru saja kami lihat.

“Setiap perusahaan punya syarat sendiri,” katanya. “Saya tidak ingin Bapak pulang dengan anggapan semua bahan dari sini masuk ke sana.”

Saya mengangguk. Dalam bisnis, dua tempat yang berdekatan belum tentu terhubung.

Bangunan yang kami datangi berdiri di tepi jalan desa. Halamannya cukup luas untuk dua truk kecil berputar. Di bawah atap seng yang tinggi, karung-karung disusun di atas palet. Sebuah kipas besar berputar lambat, menggerakkan udara yang berbau tanah kering dan daun. Di sisi halaman, seorang pria sedang menyapu sisa batang dari lantai beton.

Pemiliknya, seorang perempuan bernama Lin Hua, menyambut kami dengan tangan yang masih berdebu. Ia meminta maaf karena ruang kantornya panas. Saya justru meminta izin melihat tempat kerjanya lebih dulu.

Lin Hua membawa kami ke meja penerimaan. Sebuah timbangan berdiri di sebelahnya. Ada buku besar, pulpen yang diikat dengan tali, dan beberapa contoh bahan dalam kantong bening. Seorang pekerja mengambil segenggam daun kering dari karung yang baru datang, meremasnya perlahan, lalu memperlihatkannya kepada Lin Hua.

“Dia memeriksa apa?” tanya Xiaulin.

“Kadar keringnya kami perkirakan dulu dari kondisi bahan,” jawab Lin Hua. “Sesudah itu ada pemeriksaan lain sesuai permintaan pembeli. Kalau masih terlalu lembap, kami tidak boleh menumpuknya begitu saja.”

Ia membuka satu karung agar kami bisa melihat isinya. Aroma tanaman yang tajam naik bersama debu halus. Lin Hua mengatakan bahan yang terlambat dikeringkan bisa berubah warna dan berjamur. Pembeli akan menolak, sekalipun petaninya telah merawat tanaman itu berbulan-bulan.

“Siapa menanggung rugi kalau ditolak?” tanya saya.

“Sering kali petani. Kadang kami juga,” jawabnya. “Itu sebabnya kami berusaha memberi tahu mereka cara menangani panen. Tapi saat hujan turun berhari-hari, nasihat saja tidak banyak menolong.”

Kami mengikuti Lin Hua ke bagian belakang. Di sana tersedia ruang beratap untuk memilah bahan, tetapi kapasitasnya terbatas. Seorang ibu duduk di bangku pendek, memisahkan bagian tanaman yang rusak dari yang masih baik. Ia bekerja sambil berbincang dengan perempuan di sebelahnya. Tangan mereka terus bergerak, bahkan ketika menoleh ke arah kami.

Saya berhenti beberapa langkah dari mereka. Di pabrik tadi, saya melihat wadah berlabel dan catatan yang rapi. Di sini, saya melihat awal dari semua catatan itu: orang yang harus mengambil keputusan di tengah hujan, panas, keterbatasan ruang, dan kebutuhan segera membawa uang pulang.

Lin Hua mengajak kami masuk ke kantornya. Pendingin ruangan kecil di dinding mengeluarkan bunyi bergetar. Di atas meja terletak daftar harga dari beberapa pembeli. Xiaulin membukanya setelah mendapat izin, lalu mengerutkan dahi. “Harga yang ini jauh lebih tinggi.”

“Mutu yang diminta juga lebih ketat,” kata Lin Hua. “Mereka ingin asal bahan jelas dan jumlah pasokan teratur. Kalau saya hanya bisa mengirim sekali, mereka akan mencari pemasok lain.”

“Petani tahu perbedaan harganya?”

“Saya jelaskan. Sebagian mau mencoba memenuhi syarat itu. Sebagian tidak bisa menunggu pembayaran atau tidak punya tempat untuk menyimpan hasilnya.”

Xiaulin menutup daftar harga. Untuk beberapa saat ia memandangi halaman di luar jendela, tempat sebuah sepeda motor baru saja masuk membawa dua karung.

“Kalau ada gudang yang lebih baik?” tanyanya.

“Itu membantu,” jawab Lin Hua. “Tapi gudang saja belum menyelesaikan semuanya. Kami perlu kesepakatan tentang mutu, catatan asal barang, dan pembeli yang mengambilnya. Kalau barang hanya disimpan, biaya terus berjalan.”

Saya tersenyum mendengar jawabannya. Dari pagi kami telah melihat pabrik dan laboratorium. Di tempat sederhana ini, Lin Hua mengucapkan persoalan bisnisnya dengan lebih terang: seseorang harus menyambungkan produksi, penyimpanan, pembiayaan, dan pasar. Bila salah satu putus, nilai yang dijanjikan di ujung rantai tidak pernah sampai ke petani.

Sore mulai turun ketika kami meninggalkan bangunan itu. Di halaman, Xiaulin kembali mengenakan kacamatanya untuk membaca catatan. Ia berjalan pelan menuju mobil.

“Bagaimana menurutmu?” tanya saya.

“Teman saya ingin membangun kawasan industri,” katanya. “Saya sekarang ingin bertanya dari siapa dia akan membeli bahan dan bagaimana dia membayarnya.”

“Itu pertanyaan yang baik.”

Xiaulin menatap saya. “Mungkin dia belum punya jawabannya.”

“Kalau begitu, besok kita dengarkan.”

Dalam perjalanan pulang, hujan turun lagi. Air memukul kaca mobil begitu rapat hingga rumah dan kebun di luar tampak seperti bayangan yang bergerak. Liang menyalakan lampu depan. Kami melewati seorang pengendara motor yang menepi untuk menutup muatannya dengan plastik biru. Xiaulin mengikuti orang itu dengan pandangan sampai kami berbelok.

“Di hotel dulu,” katanya lirih, “saya tahu lagu saya berhasil kalau tamu meminta saya menyanyi lagi. Di sini saya belum tahu ukuran berhasilnya apa.”

Saya memikirkan pekerja di pabrik, Lin Hua, dua perempuan yang memilah bahan, dan pengendara motor di tengah hujan.

“Besok tanyakan kepada temanmu,” kata saya. “Setelah kawasannya jadi, apa yang berubah bagi mereka?”

Xiaulin menulis kalimat itu di buku catatannya. Lalu ia menutup buku dan memandang jalan. Kami belum tahu jawaban temannya. Hujan masih panjang, dan Haikou masih jauh beberapa puluh kilometer di depan.

Tanah untuk Sebuah Gagasan

Pagi berikutnya, hujan telah berhenti. Dari jendela kamar hotel, saya melihat jalanan Haikou mengering sedikit demi sedikit. Petugas kebersihan menyapu daun yang menempel pada trotoar. Di seberang jalan, sebuah kedai baru membuka pintu; uap dari kukusan di depannya naik ke udara yang masih kelabu.

Xiaulin datang ke meja sarapan membawa dua lembar kertas. Di salah satunya ia menggambar alur dari petani, tempat pengumpulan, gudang, sampai pabrik. Di lembar lain ia menulis pertanyaan untuk temannya. Semalam rupanya ia sulit tidur.

“Banyak sekali,” kata saya setelah membacanya.

“Dia yang membuat saya mengajak Bapak ke sini. Saya harus tahu apa yang sebenarnya dia tawarkan.”

Tidak lama kemudian Liang tiba bersama temannya, seorang pria bernama Guo Jian. Guo lebih muda dari perkiraan saya. Ia mengenakan kemeja yang lengannya digulung sampai siku dan membawa tabung berisi gambar rancangan. Setelah berkenalan, ia langsung mengajak kami melihat lahan yang ingin dikembangkannya.

Di mobil, Guo berbicara dengan penuh semangat. Ia menyebut gedung penelitian, fasilitas pengolahan, gudang, ruang pamer, dan kantor pemasaran. Xiaulin mendengarkan sambil memangku kedua lembar kertasnya. Setiap kali Guo berhenti mengambil napas, ia mencoba menyela, tetapi pria itu sudah lebih dulu menjelaskan bagian berikutnya.

Kami tiba di sebuah lahan terbuka di pinggir kawasan yang masih berkembang. Jalan menuju ke sana telah diperkeras, tetapi di beberapa bagian roda mobil harus menghindari genangan. Di kejauhan tampak bangunan industri; lebih dekat kepada kami ada semak, pohon muda, dan tanah merah yang mengering tidak merata setelah hujan.

Guo membuka gambar rancangannya di atas kap mobil. Angin segera mengangkat salah satu sudutnya. Liang menahannya dengan tangan.

“Bangunan utama di sini,” kata Guo, menunjuk sebuah persegi panjang. “Di belakangnya laboratorium. Gudang di dekat jalan agar truk mudah masuk. Kalau berhasil, perusahaan-perusahaan kecil bisa menyewa ruang produksi.”

Saya memperhatikan gambar itu. Letak gedung dan jalannya jelas. Nama calon penyewa belum ada.

“Sudah ada perusahaan yang berminat?” tanya saya.

“Ada yang ingin berbicara setelah fasilitasnya siap.”

“Berapa yang sudah menyatakan kebutuhan mereka secara tertulis?”

Guo diam sesaat. “Belum ada.”

Xiaulin menunduk melihat daftar pertanyaannya. Lalu ia bertanya tentang Lin Hua dan pemasok seperti dia. Apakah mereka telah diajak bicara? Di mana petani akan mengeringkan hasil panen? Bagaimana bahan diterima dan dicatat? Siapa membayar pemeriksaan mutu sebelum pabrik bersedia membeli?

Guo menjawab satu per satu. Beberapa telah ia pikirkan. Untuk beberapa yang lain, ia mengaku belum memiliki rancangan terperinci. Semangatnya tidak hilang, tetapi ia mulai berbicara lebih lambat. Gambar di atas kap mobil tak lagi terlihat seperti jawaban lengkap. Ia menjadi tempat kami menunjukkan pekerjaan yang belum masuk ke dalamnya.

Saya berjalan beberapa langkah menjauhi mereka. Dari sana saya melihat sebuah bus karyawan melewati jalan utama. Di belakang lahan, rumah-rumah berdiri terpisah oleh kebun kecil. Seorang pria keluar dari salah satunya, membawa ember menuju keran di halaman. Saya bertanya kepada Liang siapa yang tinggal di sekitar sini.

“Sebagian sudah lama,” jawabnya. “Kalau proyek berkembang, Guo harus bicara dengan mereka juga.”

Guo menyusul kami dan mendengar kalimat itu. Ia memandang rumah-rumah tersebut. “Saya mengira pekerjaan paling sulit adalah mencari investor,” katanya.

“Itu memang sulit,” jawab saya. “Tetapi investor akan bertanya siapa yang memakai fasilitasmu dan bagaimana usaha mereka menghasilkan uang.”

Ia mengangguk, lalu menunjuk rumah di belakang lahan. “Dan mereka?”

“Mereka akan bertanya apa yang terjadi pada jalan, air, pekerjaan, dan kehidupan mereka. Mereka berhak mendapat jawaban sebelum kamu mulai membangun.”

Kami kembali ke kap mobil. Guo menggulung gambar rancangannya, tetapi Xiaulin meminta ia membukanya sekali lagi. Ia meletakkan kertas buatannya di samping gambar itu: alur sederhana yang ditulis tangan, penuh tanda tanya.

“Kalau kita mulai dari perusahaan yang sudah punya pesanan,” katanya, “kita bisa tahu bahan apa yang mereka perlukan. Baru kita cari pemasok, lihat cara pengumpulannya, lalu tentukan fasilitas yang perlu dibangun. Mungkin ukurannya tidak sebesar gambar ini pada tahap pertama.”

Guo menatap kedua kertas itu cukup lama. Saya melihat rasa kecewa melintas di wajahnya. Ia datang untuk menunjukkan sebuah kawasan; kami justru mengajaknya memperkecil rencana pertama.

“Kalau saya mulai kecil,” katanya, “bagaimana saya meyakinkan orang bahwa ini bisa menjadi kawasan industri?”

“Dengan membuat tahap pertama bekerja,” jawab Xiaulin sebelum saya sempat bicara.

Guo menoleh kepadanya. Xiaulin tampak terkejut oleh jawabannya sendiri, tetapi ia melanjutkan. Ia menyebut satu tempat pemeriksaan dan pencatatan bahan, ruang penyimpanan yang sesuai, serta kerja sama dengan fasilitas pengolahan yang sudah ada. Menurutnya, calon pelanggan dapat menguji layanan itu sebelum Guo membangun lebih banyak gedung. Lin Hua dan pemasok lain pun dapat menunjukkan apakah mereka mampu memasok dengan mutu dan jumlah yang diminta.

Liang mengusulkan pertemuan dengan beberapa perusahaan di Medicine Valley. Guo mengeluarkan pena dan menulis nama-nama yang disebut Liang di belakang gambar rancangannya. Percakapan mereka beralih dari luas lahan ke jenis bahan, biaya pengujian, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengirim barang. Saya membiarkan mereka berbicara. Kemarin Xiaulin datang sebagai orang yang ingin mempertemukan saya dengan peluang investasi. Hari ini ia berdebat tentang cara memulai usaha. Ia masih belajar, demikian pula Guo. Saya pun datang ke Hainan untuk belajar. Namun di lahan basah itu, di antara jalan baru dan rumah-rumah lama, kami akhirnya membicarakan orang yang akan memakai kawasan tersebut.

Sebelum pergi, Guo menggulung gambar itu dengan hati-hati dan memasukkannya kembali ke tabung. “Bolehkah saya mengirim rancangan tahap pertama kepada Anda setelah bertemu calon pelanggan?” tanyanya.

“Kirimi Xiaulin,” jawab saya. “Dia akan lebih teliti membacanya.”

Xiaulin melirik saya, lalu tertawa. Guo pun tersenyum. Mereka berjabat tangan di samping mobil, dengan sepatu yang sama-sama terkena lumpur.

Dalam perjalanan kembali ke kota, Xiaulin tidak membuka buku catatannya. Ia menatap keluar jendela. Ketika bus karyawan yang tadi kami lihat kembali muncul di depan, ia berkata, “Saya senang kita datang.”

“Saya juga.”

“Tapi saya sudah telanjur membuatnya mengubah rencana.”

“Dia belum mengubahnya,” kata saya. “Dia baru mulai mendengar pertanyaan yang harus dijawab.”

Xiaulin mengangguk. Mobil terus melaju melewati rumah-rumah dan bengkel kecil menuju Haikou. Siang itu, saya belum tahu apakah Guo akan berhasil membangun kawasannya. Saya hanya tahu ia pulang membawa lebih banyak pekerjaan daripada saat datang—dan sebuah alasan yang lebih kuat untuk mengerjakannya.

Peta yang Dimulai dari Desa

Keesokan paginya Liang meminta kami datang ke sebuah ruang pertemuan kecil di pinggir kampus. Mobil berhenti di jalan yang dinaungi pohon-pohon besar. Setelah hujan beberapa hari terakhir, tanah di sekitar batangnya masih basah. Mahasiswa melintas dengan tas di punggung; dua orang berjalan sambil membawa gulungan gambar yang hampir menyentuh aspal.

Bangunan tempat kami bertemu tidak besar. Di lantai dasar ada papan pengumuman kegiatan mahasiswa dan sebuah dispenser air yang dikelilingi gelas kertas. Kami naik ke lantai dua melalui tangga yang jendelanya terbuka. Udara pagi masuk bersama bunyi kendaraan dari jalan.

Liang telah menunggu di depan pintu. “Saya membawa teman,” katanya. “Saya bilang kepada Guo dia konsultan bisnis. Sebenarnya dia dosen yang bekerja bersama tim pengabdian masyarakat kampus.”

Di dalam ruangan, seorang perempuan berdiri di depan peta besar yang ditempel dengan selotip pada dinding. Namanya Profesor Yan. Usianya mungkin mendekati lima puluh. Ia mengenakan kemeja linen sederhana, dan bagian bawah celananya sedikit terkena cipratan lumpur. Di atas meja ada buku catatan, beberapa foto gudang, serta kantong-kantong kecil berisi contoh hasil panen.

“Saya baru pulang dari desa kemarin sore,” katanya setelah kami berkenalan. “Liang bilang Anda ingin mengetahui bagaimana kawasan industri mendapat pasokan.”

“Saya ingin tahu bagaimana orang yang menanam ikut tumbuh bersama industrinya,” jawab saya.

Yan mempersilakan kami duduk. Xiaulin langsung memilih kursi paling dekat dengan peta. “Kalau begitu,” kata Yan, “kita harus mulai dari sini.”

Ia menunjuk beberapa desa yang letaknya berjauhan. Pada peta, jalan yang menghubungkannya tampak tipis dan mudah diikuti. Saya masih ingat perjalanan ke tempat Lin Hua: genangan di tepi jalan, sepeda motor dengan dua karung di belakang, dan orang yang berusaha melindungi muatannya dari hujan. Jarak yang sederhana di atas kertas bisa menghabiskan sebagian besar hari kerja seseorang.

Yan mengambil satu kantong contoh dan menuangkan isinya ke nampan. Potongan tanaman kering jatuh dengan suara ringan.

“Petani di satu desa bisa menghasilkan bahan yang baik. Tapi pabrik perlu jumlah, mutu, dan waktu pengiriman yang dapat diperkirakan. Ketiga hal itu sulit dijanjikan oleh seorang petani sendirian.”

Ia menggambar lingkaran di tengah kelompok desa. “Di sini kami mengusulkan pusat agregator. Petani membawa hasilnya ke tempat yang dekat dengan wilayah produksi. Bahan ditimbang, dicatat asalnya, dipilah, lalu ditangani sesuai kebutuhannya. Sebagian perlu segera dikeringkan. Sebagian memerlukan penyimpanan dengan kondisi tertentu. Setelah jumlah dan mutunya jelas, barulah pengiriman ke kawasan industri dijadwalkan.”

“Siapa membeli barangnya?” tanya Xiaulin.

“Bisa agregator, koperasi, atau perusahaan yang bekerja sama dengan mereka. Bentuknya harus sesuai dengan barang dan para pelakunya.” Yan menatapnya. “Yang penting, petani tahu sejak awal bagaimana mutu dinilai, kapan kepemilikan barang berpindah, dan kapan mereka dibayar.”

Saya teringat daftar harga di meja Lin Hua. Selisih harga di sana tampak menjanjikan, tetapi petani tidak bisa mengejarnya hanya dengan bekerja lebih keras. Mereka perlu tempat mengeringkan hasil, pemeriksaan yang dapat dipercaya, dan kemampuan menunggu pembeli tanpa kehilangan uang untuk kebutuhan rumah.

“Kalau panen disimpan sambil menunggu harga?” tanya saya.

“Harus ada catatan barang yang benar-benar ada di gudang, siapa pemiliknya, dan bagaimana kondisinya,” jawab Yan. “Catatan itu bisa membantu transaksi dan pembiayaan. Tetapi seseorang tetap harus memeriksa gudang dan bertanggung jawab atas barangnya. Kertas tidak akan menyelamatkan panen yang rusak.”

Ia mengucapkannya tanpa nada menggurui. Seorang anggota timnya, mahasiswa bernama Sun, membuka beberapa foto. Ada gambar lantai pengeringan, pekerja menimbang karung, dan sebuah ruangan dengan rak-rak sederhana. Sun menjelaskan bahwa mereka telah mencoba cara pencatatan yang mudah dipakai petugas setempat. Setelah beberapa minggu, mereka mengubah formulirnya karena kolom yang tampak penting di kampus ternyata menyulitkan orang yang harus mengisi sambil menerima puluhan pengiriman.

Xiaulin tertawa kecil. “Kalian memperbaiki formulir setelah mendengar keluhan petugas?”

“Keluhannya benar,” kata Sun. “Kalau pencatatan membuat antrean terlalu panjang, orang akan mencari jalan pintas.”

Yan lalu beralih ke sisi lain peta. Di sana ia telah menandai calon kawasan industri dan sebuah area yang lebih luas di sekitarnya. “Pusat agregator saja tidak cukup. Perusahaan perlu fasilitas pengolahan, pengujian, jalan, tenaga terampil, dan tempat tinggal bagi pekerja. Kalau semua terpisah terlalu jauh, biaya berpindah dari satu pihak ke pihak lain. Di atas kertas harga bahan terlihat murah. Setelah dihitung waktu dan kehilangan selama perjalanan, ternyata tidak.”

Liang bersandar di kursinya. “Jadi ini gagasan membangun kota baru?”

“Bisa berkembang menjadi pusat ekonomi baru,” jawab Yan. “Tetapi jangan mulai dengan menggambar kota yang penuh gedung. Mulai dengan menghitung siapa yang berproduksi, siapa yang membeli, berapa orang yang bekerja, dan bagaimana mereka hidup.”

Ia menunjuk sebidang kosong pada peta. “Pekerja yang datang setiap hari butuh tempat tinggal yang layak. Anak mereka perlu sekolah. Mereka perlu layanan kesehatan, pasar, dan angkutan yang masuk akal. Jika kita mengundang industri tanpa memikirkan itu, permukiman akan tumbuh sendiri di tempat yang mungkin kekurangan air atau terlalu jauh dari pekerjaan.”

Saya memperhatikan caranya berbicara tentang hunian. Yan tidak menyebutnya pelengkap proyek. Ia memperlakukannya sebagai bagian dari perhitungan produksi: orang yang tidur cukup, dapat merawat keluarganya, dan tidak menghabiskan upah untuk perjalanan jauh lebih mungkin bertahan dalam pekerjaannya.

“Bagaimana dengan desa-desa di peta?” tanya saya. “Kalau orang pindah ke kawasan baru, siapa yang mengurus lahannya?”

Yan meletakkan penanya. “Itu harus dibicarakan dengan warga, desa demi desa. Tidak semua orang perlu pindah. Sebagian tetap bertani dan mendapat akses lebih baik ke pasar. Sebagian mungkin ingin bekerja di pengolahan dan tinggal dekat pabrik. Anak muda yang punya keterampilan bisa kembali membuka jasa, bengkel, atau usaha pengemasan. Tujuannya memberi pilihan yang lebih baik kepada mereka.”

Ruangan hening sesaat. Dari luar terdengar suara mahasiswa tertawa di koridor, kemudian menjauh menuruni tangga.

Xiaulin membuka catatannya. “Bagaimana Ibu memastikan semuanya terukur sejak awal?”

Yan mengambil selembar kertas baru dan membuat beberapa baris. Berapa luas lahan yang benar-benar ditanami. Berapa hasil panen menurut musim. Berapa yang rusak sebelum dijual. Berapa biaya mengumpulkan dan mengeringkannya. Berapa kebutuhan bahan dari pembeli yang sudah ada. Berapa upah pekerjaan baru yang dapat diciptakan.

“Lalu kami kembali mengukurnya setelah fasilitas bekerja,” katanya. “Kalau kehilangan panen tidak turun dan pendapatan petani tidak membaik, kami perlu tahu penyebabnya. Mungkin alatnya salah, mungkin pembelinya tidak cukup, mungkin aturan pembayarannya membuat orang enggan ikut.”

Saya memandang lembar itu. Tidak ada angka besar yang dirancang untuk membuat tamu terkesan. Yan malah menyisakan ruang kosong di sebelah setiap pertanyaan. “Kenapa belum diisi?” tanya saya.

“Karena tim kami belum selesai mengumpulkan datanya. Saya bisa memberi perkiraan sekarang, tetapi nanti Anda mungkin membangun sesuatu berdasarkan perkiraan saya.” Liang tersenyum ke arah saya. Ia tahu jawaban itu akan saya hargai.

Menjelang siang, Yan membawa kami melihat pekerjaan timnya di ruangan sebelah. Di dinding tergantung peta lain, lebih kecil dan penuh coretan. Sun sedang berbicara melalui telepon dengan seorang petugas lapangan tentang jalan yang sulit dilewati setelah hujan. Seorang mahasiswa perempuan menghitung ulang biaya pengiriman dengan kalkulator. Di meja paling ujung, ada daftar pertanyaan untuk warga yang hendak mereka temui pekan depan.

Xiaulin berhenti di depan daftar itu. Ia membaca cukup lama, lalu bertanya kepada Yan, “Kalau kami membawa Guo ke sini, apakah Ibu bersedia menunjukkan bagian yang belum pasti?”

“Justru itu yang perlu dia lihat,” jawab Yan.

Saat kami kembali ke koridor, matahari sudah tinggi. Halaman kampus tampak lebih terang; genangan kecil di dekat pohon mulai surut. Liang mengajak kami makan siang, tetapi saya meminta waktu beberapa menit. Dari ujung lorong, saya dapat melihat Yan kembali ke ruangannya. Ia tidak berdiri di depan peta lagi. Ia duduk di samping Sun, memeriksa catatan panggilan dari desa.

Kemarin Guo menunjukkan kepada kami lahan untuk sebuah kawasan industri. Pagi ini Yan menunjukkan orang-orang dan pekerjaan yang harus terhubung agar kawasan itu hidup. Saya ingin mempertemukan mereka. Sebelum itu, saya ingin melihat desa yang sedang dipelajari timnya.

Saya menyusul Xiaulin dan Liang di tangga. “Yan turun ke lapangan lagi kapan?” tanya saya.

“Lusa,” jawab Liang.

“Sampaikan, kalau dia mengizinkan, saya ingin ikut.”

Xiaulin menoleh sambil tersenyum. Ia sudah membuka buku catatannya, siap menambahkan satu perjalanan lagi.

Wenny dan Dua Rantai Pasok

Saya tiba di Hainan sebelum Wenny dan menginap di kamar deluxe hotel yang saya pilih sendiri. Lobi hotel luas dan sejuk, dengan lantai batu pucat yang memantulkan cahaya lampu gantung. Dari sofa dekat jendela saya bisa melihat tamu datang membawa koper, petugas menggeser troli, dan manajer berganti ekspresi setiap kali ada keluhan di meja resepsionis. Selama tiga hari saya keluar masuk lobi seperti tamu biasa. Saya menyapa pegawai, membayar kopi, dan memperhatikan cara mereka bekerja ketika merasa tidak sedang diawasi pemiliknya. Tidak seorang pun tahu bahwa saya Mr. B.

Pada hari ketiga, Wenny menyusul. Saya menunggunya dekat pintu kaca yang sesekali terbuka membawa udara lembap dari jalan. Begitu ia masuk, manajer hotel menghampiri bersama dua pegawai. Salah seorang mengambil kopernya, yang lain mempersilakan ia berjalan menuju meja resepsionis.

“Selamat datang, Madam B.”

Saya menahan senyum. George rmenempatkan Wenny di penthouse. Nama dan kebutuhannya sudah diketahui petugas sebelum ia mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, saya berdiri beberapa langkah di belakang, meraba kunci kamar deluxe di saku celana. Tidak ada yang menoleh kepada saya selain petugas yang bertanya sopan apakah saya membutuhkan bantuan.

Wenny mendekat setelah menerima kartu kamar. “Kamu yang mengatur ini?”

“George CEO Ale Capital di London yang mengatur kamar”

“Tiga hari kamu di sini, dan mereka tidak tahu siapa kamu?”

“Saya tamu yang bayar kamar. Itu saja yang perlu mereka tahu.”

Di dalam lift, suara lobi lenyap ketika pintu baja menutup. Tinggal dengung mesin dan angka lantai yang menyala satu per satu. “Hotel ini bagian dari jaringan Peter,” kata saya. “Holdingnya mengelola 490 hotel dengan lebih dari 50.000 kamar di berbagai negara. Ale Capital memiliki delapan persen saham di holding itu.”

Wenny menatap saya melalui pantulan di dinding lift. “Kenapa kamu membawaku ke sini?”

“Saya akan mengalihkan saham itu ke unit real estat Yuan. Kamu perlu pijakan di Hainan. Lewat hotel yang sudah beroperasi, Yuan bisa mengenal pekerja, pemasok, dan para pemangku kepentingan di sini. Reputasi dibangun dari cara kita mengelola pekerjaan setiap hari.”

“Lalu setelah itu?”

“Kamu punya dasar untuk mengajak mereka membangun kawasan industri yang terhubung dengan hunian.”

Wenny tidak langsung menjawab. Saya tahu ia sedang membayangkan bukan hanya hotel itu, melainkan jalan, tanah, orang, dan modal yang belum tersedia. Rencana semacam itu tampak mudah bila diucapkan dalam satu tarikan napas. Pelaksanaannya dapat memakan tahun-tahun hidup seseorang.

Lift berhenti di lantai kamar saya. Ketika pintunya terbuka, saya melangkah keluar. Wenny masih harus naik jauh ke penthouse. “Selamat malam, Madam B,” kata saya. Ia tertawa ketika pintu lift menutup kembali. Di lorong yang sunyi dan beraroma kayu poles, saya berjalan menuju kamar deluxe.  Di balik jendela kamar, lampu-lampu kota mulai menyala. Xiaulin baru kembali dari kampus dengan peta Profesor Yan di tangan. Malam itu saya mengajaknya turun ke teras restoran untuk mendengar rencana Wenny.

“Wenny ingin bicara bisnis,” kata saya kepada Xiaulin.

“Justru itu saya ingin mendengar.” Ia mengangkat peta Profesor Yan seolah itu tiket masuknya.

Teras restoran menghadap laut. Angin membawa bau garam dan suara samar mesin kapal, tetapi tidak sepenuhnya mengusir panas yang disimpan lantai batu sejak siang. Dari luar pagar, lampu-lampu kapal tampak kecil dan hampir tidak bergerak. Di dekat pintu kaca, seorang pelayan merapikan kursi yang baru ditinggalkan tamu makan malam. Gelas-gelas beradu pelan ketika meja dibersihkan.

Wenny duduk membelakangi kaca restoran. Di depannya ada secangkir teh yang tinggal separuh dan sebuah map yang tepinya telah melengkung karena terlalu sering dibuka. Penthouse itu belum sempat ia nikmati; ia sudah turun membawa pekerjaannya. Ketika melihat kami, ia berdiri. Ia menyalami Xiaulin lebih dulu. “Kamu yang membawa B ke Hainan?”

“Awalnya begitu,” jawab Xiaulin. “Sekarang B yang ingin masuk ke desa.”

Wenny menoleh kepada saya dengan alis terangkat. Saya menarik kursi dan memintanya bercerita lebih dulu. Ia mengeluarkan selembar diagram. Di bagian kiri tertulis pati, disusul glukosa, sorbitol, dan isosorbide. Dari bagian tengah, beberapa garis menuju produk yang berbeda. “B, saya sedang merencanakan pabrik isosorbide di Hainan,” katanya. “Tapi isosorbide hanya pintunya.”

Saya mengenal nada suara itu. Wenny terdengar tenang justru ketika ia sedang menimbang sesuatu yang besar. Setiap kata diucapkannya perlahan, seolah ia menguji apakah sebuah pabrik masih masuk akal sesudah gambar di atas kertas berubah menjadi tagihan listrik, gaji pekerja, dan jadwal pengiriman. Ia menunjuk salah satu cabang diagram. “Dari isosorbide, kita bisa mengembangkan dimethyl isosorbide untuk bahan formulasi kosmetik dan farmasi. Cabang lain menuju bahan antara untuk polimer berbasis hayati: material, pelapis, resin, dan aplikasi yang mungkin tumbuh beberapa tahun lagi.”

Jarinya berpindah ke cabang yang dimulai dari sorbitol. “Lalu ada sorbitan ester dan polysorbate sebagai emulsifier. Ini cabang proses yang berbeda, bukan isosorbide yang tinggal diubah namanya. Kalau fasilitas dan pasokannya dirancang bersama, beberapa kebutuhan industrinya bisa saling mendukung.”

Xiaulin mendekatkan diagram itu ke lampu. “Bahan bakunya dari singkong?”

“Pati singkong bisa menjadi salah satu sumber glukosa,” jawab Wenny. “Tapi saya belum akan memilih pemasok hanya karena tanamannya tersedia. Saya perlu tahu harga pati, mutunya, volume yang bisa dikirim teratur, biaya proses, dan siapa yang sudah bersedia membeli produk akhirnya.”

Saya tersenyum. Pagi tadi Profesor Yan memakai kata-kata yang hampir sama. Xiaulin tidak ikut tersenyum. Ia masih memandangi garis dari pati menuju glukosa, mencoba mempertemukan diagram itu dengan karung-karung bahan yang dilihatnya di gudang Lin Hua.

“Kenapa Hainan?” tanya saya.

“Akses ke kawasan industri dan tenaga yang sudah terbiasa bekerja dengan standar farmasi. Ada peluang bertemu calon pelanggan di sini. Tetapi keputusan lokasi belum selesai. Saya masih harus membandingkan biaya bahan baku yang masuk, energi, air, pengolahan limbah, dan biaya mengirim produk keluar pulau.”

Wenny berhenti sejenak dan memutar cangkir tehnya. Di dasar cangkir, daun teh yang tertinggal bergerak mengikuti putaran itu. “Saya ingin berada dekat pelanggan, B. Namun kalau ongkos membawa bahan ke pulau menghabiskan seluruh keuntungannya, kedekatan itu tidak cukup.”

Di meja sebelah, sebuah keluarga bangkit sambil menenangkan anak yang mengantuk. Pelayan mengantar mereka ke pintu. Saya menunggu sampai suasana kembali tenang. “Kamu pernah bilang ingin menguasai pasokan bahan antara,” kata saya.

Wenny mengangguk. “Perusahaan yang memproduksi barang jadi bergantung pada spesifikasi dan ketepatan pengiriman bahan antaranya. Kalau kita bisa memasok secara konsisten, pelanggan akan sulit mengganti pemasok begitu saja.”

“Lalu kalimatmu tentang menentukan siapa yang hidup dan berhenti produksi?”

Ia tertawa pendek. “Itu cara saya mengingatkan tim betapa pentingnya bahan antara.”

“Kalimat itu juga alasan pelanggan akan takut bergantung padamu.”

Wenny meletakkan cangkirnya lebih pelan daripada tadi. Sesaat ia melihat ke arah laut, bukan kepada saya. Ia menerima teguran itu tanpa membela diri; saya tahu kalimat tentang menguasai pasokan lahir dari keyakinannya, bukan sekadar kesombongan.

“Benar,” katanya. “Mereka perlu lebih dari satu pemasok untuk mengelola risiko. Kalau saya ingin kontrak panjang, saya harus membuat mereka percaya pada mutu dan ketepatan pasokan saya, bukan pada ancaman bahwa pabrik mereka akan berhenti.”

Xiaulin memandang kami bergantian, lalu menggeser peta dari kampus ke tengah meja. “Ini yang kami lihat hari ini,” katanya.

Wenny menelusuri tanda desa, pusat pengumpulan, dan calon kawasan industri pada peta itu dengan ujung pena. Ada garis pensil yang mulai pudar, lingkaran yang ditambahkan Xiaulin di mobil, dan tanda tanya kecil di samping lokasi gudang. Xiaulin menjelaskan pertemuan dengan Profesor Yan, kunjungan ke tempat Lin Hua, serta pertanyaan yang belum dapat dijawab Guo. Wenny mendengarkan sampai selesai. Ia tidak memotong sekali pun.

“Peta yang baik,” katanya akhirnya. “Tapi jangan campur dua rantai pasok hanya karena keduanya berasal dari tanaman.”

Saya meminta ia menjelaskan.

“Pati untuk sorbitol dan isosorbide punya kebutuhan volume, harga, dan proses tersendiri. Tanaman herbal untuk bahan obat punya persoalan identitas tanaman, cara budidaya, pengeringan, dan pengujian yang berbeda. Keduanya bisa memakai layanan kawasan yang sama—jalan, gudang, tenaga terlatih, mungkin laboratorium tertentu—tetapi aturan penerimaan barangnya tidak sama.”

“Itu sebabnya saya ingin kamu membuat rencana agregator herbal,” kata saya. “Terpisah dari perhitungan pabrikmu. Saya ingin tahu apakah petani bisa memasok dengan mutu yang diminta, dan apakah ada pembeli yang benar-benar membutuhkan hasilnya.”

Wenny menarik buku kecil dari map. “Mulai dari pembeli?”

“Mulai dari pembeli dan desa,” jawab saya. “Yan sudah bekerja dengan beberapa desa. Bicaralah dengannya. Temui Lin Hua juga. Lihat apa yang rusak sebelum barang sampai ke pabrik, siapa yang menanggung kerugian, dan berapa biaya memperbaikinya.”

“Lalu gudangnya?”

“Rancang setelah kamu tahu barangnya. Ada yang perlu dikeringkan, ada yang perlu dipisahkan, ada yang mungkin tidak layak disimpan lama. Catatan stok harus menunjukkan barang milik siapa dan bagaimana kondisinya. Jangan menjual gagasan pembiayaan dengan resi gudang sebelum barang di gudangnya sendiri bisa dipercaya.”

Wenny menulis cepat hingga ujung pena sesekali merobek serat kertas. Sesekali ia mengangkat wajah untuk meminta saya mengulangi nama orang yang perlu ditemuinya. Ia baru beberapa jam tiba di Hainan, tetapi pertanyaan tentang siapa yang akan dibayar lebih dulu telah mengusir lelah perjalanannya. Xiaulin menawarkan diri mengantarnya ke kampus.

“Saya juga ingin ikut ke desa lagi,” kata Xiaulin.

“Kalau begitu kalian berdua yang berangkat,” jawab saya.

Xiaulin mengambil peta dari meja. Ia masuk sebentar ke restoran untuk meminta map yang cukup besar agar kertas itu tidak terlipat. Tinggal saya dan Wenny di teras. Angin mengangkat sudut diagram di depan kami, tetapi Wenny membiarkannya. Sejak datang tadi, beberapa kali ia memandang Xiaulin lebih lama daripada yang diperlukan untuk mendengar penjelasannya.

“Ada apa, Wen?”

Wenny menatap pintu kaca yang baru dilewati Xiaulin. “Tadinya saya merasa terganggu mendengar kamu datang ke Hainan bersamanya.”

Saya diam. Dari dalam restoran terdengar tawa sebuah meja yang hendak pulang; di teras, antara kami, bunyi sendok yang menyentuh cangkir terasa terlalu jelas. Wenny adalah mitra saya di Yuan Holding. Kami telah melewati cukup banyak keputusan sulit bersama sehingga saya tahu ia tidak akan mengucapkan sesuatu seperti itu hanya untuk menggoda.

“Kamu datang karena dia bercerita tentang peluang industri,” lanjutnya. “Lalu kalian tinggal di hotel yang sama. Saya sempat berpikir perjalanan ini punya alasan lain.”

“Jadi kamu datang untuk memeriksa saya?”

“Saya datang untuk membahas pabrik.” Ia menghela napas. “Tapi saya juga mengecek. Saya tahu kamar kalian terpisah.”

Saya meletakkan cangkir di meja. “Wen, kamu bisa bertanya kepada saya. Urusan kamar Xiaulin adalah urusannya sendiri.”

Wenny menunduk sebentar. Jarinya merapikan sudut map yang sebenarnya sudah rapi. “Kamu benar. Saya keliru. Maafkan saya”

Dari balik kaca, kami melihat Xiaulin berbicara dengan pelayan. Ia merentangkan kedua tangan untuk menunjukkan ukuran peta, lalu tertawa ketika pelayan mengangkat sebuah map yang jauh lebih besar dari yang ia perlukan.

“Setelah melihat kalian bekerja hari ini,” kata Wenny, “saya semakin yakin siapa kamu, B. Tidak mudah membuatmu jatuh cinta, walaupun dengan perempuan secantik Xiaulin.”

Saya mengikuti arah pandangnya. Xiaulin sedang memasukkan peta ke dalam map dengan sangat hati-hati. “Dia mengajak saya datang karena melihat peluang,” kata saya. “Hari ini dia berani menunjukkan kepada Guo apa yang belum ada dalam rencananya. Saya ingin melihat seberapa jauh dia bisa mengembangkan itu.”

“Aku melihatnya juga,” kata Wenny. “Pertanyaannya tentang pembayaran petani tadi lebih tajam daripada banyak presentasi yang pernah kita terima.”

Ia merapikan diagram di meja. Saya tahu perasaan Wenny terhadap kehadiran saya bersama Xiaulin belum tentu selesai dengan percakapan singkat itu. Orang bisa mengakui kesalahan lebih cepat daripada mengusir rasa takutnya. Namun ia telah mengatakannya terus terang, dan saya menghargai keberaniannya untuk menerima ketika saya menegurnya.

Pintu kaca terbuka. Xiaulin kembali dengan map besar di bawah lengan. “Kalian membicarakan saya?” tanyanya.

“Ya,” jawab Wenny. “Saya bilang besok kamu harus ikut saya menemui Yan.”

“Bagus.” Xiaulin duduk dan membuka buku catatannya. “Saya sudah punya pertanyaan baru. Kalau agregator membeli dari petani, berapa lama dia bisa menunggu pembayaran dari pabrik?”

Wenny langsung meraih pena. Mereka berdua mulai menghitung waktu pengiriman, pemeriksaan mutu, dan pembayaran di atas kertas kosong. Saya mendengarkan. Pertanyaan Xiaulin membawa kami kembali ke alasan perjalanan ini, sebuah kawasan hanya dapat bekerja jika orang yang paling awal memasoknya sanggup bertahan sampai uang dari pembeli tiba.

Setelah perhitungan itu, Wenny menunjuk lagi diagram miliknya. “B, kalau rencana pabrik berjalan, saya ingin ada perusahaan di sekitar kita yang membuat produk lanjutan. Saya tidak ingin seluruh bahan yang kita produksi hanya berangkat dalam drum ke tempat lain.”

“Cari tahu siapa yang punya kemampuan membuatnya,” kata saya. “Mungkin perusahaan yang sudah ada. Mungkin tim peneliti. Beri mereka alasan bisnis untuk datang.”

Di atas meja terletak dua rancangan diagram bahan antara milik Wenny dan peta desa milik Profesor Yan. Di antara keduanya masih ada ruang kosong. Ruang itu berisi harga yang belum dihitung, kontrak yang belum dibuat, petani yang belum kami temui, dan pembeli yang belum menyatakan kebutuhan mereka.

“Banyak pekerjaan,” kata Wenny.

“Ya.”

“Besok kita mulai dari mana?”

Xiaulin menjawab sebelum saya sempat membuka mulut. “Dari orang yang menimbang karung di gudang.”

Wenny tertawa. Saya ikut tertawa, lalu memandang lampu kapal di kejauhan. Beberapa hari lalu saya datang ke Hainan karena cerita Xiaulin tentang sebuah peluang. Malam itu kami bertiga mulai melihat orang-orang, barang, dan keputusan yang diperlukan untuk mewujudkannya. Di atas meja, peta desa dan diagram pabrik bersebelahan. Penthouse, kamar deluxe, dan segala sebutan yang dipakai orang di lobi hotel terasa jauh. Yang tinggal di hadapan kami adalah satu pertanyaan sederhana: ketika nilai baru lahir dari tanah, siapa saja yang akan ikut hidup darinya?

Kembali ke Hainan

Tahun 2019 saya kembali ke Hainan bersama Wenny. Ini kunjungan pertama saya sejak datang dengan Xiaulin pada 2013. Dari jendela mobil yang meninggalkan bandara Haikou, saya melihat pohon-pohon palem, jalan yang masih basah oleh hujan pagi, dan truk-truk yang bergerak ke arah kawasan industri. Saya mencoba mengenali persimpangan yang pernah kami lewati enam tahun lalu, tetapi kota telah tumbuh dan ingatan saya tidak lagi cukup untuk menjadi penunjuk jalan.

Wenny duduk di samping saya dengan sebuah map di pangkuannya. Saya sudah pensiun dari Yuan dan SIDC. Ia tidak membawa saya ke Hainan untuk menyetujui investasi atau menghadiri rapat. Ia hanya mengatakan, “B, kali ini saya ingin kamu melihatnya sendiri.”

Hubungan Yuan dengan Hainan bermula sebelum pabrik berdiri. Pada 2014, Ale Capital mengalihkan kepemilikan sahamnya pada sebuah hotel bintang lima di pulau itu kepada unit bisnis real estat Yuan. Hotel tersebut memberi Yuan aset yang beroperasi, tim setempat, dan kesempatan mengenal pemerintah daerah, penyedia jasa, serta pelaku usaha. Ketika Yuan kemudian mengajak para pihak membicarakan kawasan industri dan hunian, mereka sudah dapat melihat bagaimana perusahaan itu mengelola sebuah usaha di Hainan.

“Orang lebih mudah duduk membahas rencana besar setelah melihat kita menyelesaikan pekerjaan kecil setiap hari,” kata Wenny, sambil memandang jalan di depan. “ Saya baru sadar, semua sudah kamu rencanakan dengan matang sebelum perintahkan saya melaksanakan visi kamu. “

Pada 2015, anak usaha Yuan menyelesaikan pembangunan pabrik isosorbide. Wenny mengirim foto dari lokasi, lalu laporan tentang uji operasi dan upaya mendapatkan pelanggan. Saya mengikuti perkembangannya dari jauh. Pabrik itu memberi alasan baru bagi perusahaan lain untuk mempertimbangkan kawasan di sekitarnya.

Anak usaha Yuan di bidang real estat kemudian bergabung dalam konsorsium untuk membangun kawasan industri terpadu, lengkap dengan hunian dan hubungan ke pusat-pusat agregator pertanian. Tahap pembangunannya selesai pada 2019; pengisian kawasan dan layanan bagi penghuninya masih terus dikembangkan.

Mobil berbelok memasuki jalan kawasan. Bangunan produksi berdiri di belakang pagar yang ditumbuhi tanaman muda. Di sisi lain terlihat gudang, kantor, dan kendaraan pengangkut barang yang menunggu pemeriksaan di gerbang. Sebuah bus menurunkan karyawan di dekat halte beratap. Mereka berjalan berkelompok sambil berbicara, sebagian masih memegang sarapan yang dibungkus kertas.

“Di mana pabrikmu?” tanya saya.

Wenny menunjuk bangunan di ujung jalan. “Kita ke sana dulu.”

Di ruang penerima tamu pabrik, kami diminta mengenakan perlengkapan pengunjung. Seorang manajer produksi menyambut Wenny dengan sejumlah lembar catatan di tangan. Mereka langsung membicarakan jadwal pengiriman dan hasil pemeriksaan mutu. Saya berdiri agak jauh, memperhatikan cara Wenny mendengar: ia tidak menyela sampai manajer itu selesai menjelaskan masalahnya.

Dari koridor berkaca, saya melihat bagian fasilitas produksi. Peralatan baja tersusun rapi; seorang pekerja memeriksa angka pada panel sebelum menuliskannya di lembar kerja. Di ruangan lain, sampel disiapkan untuk pengujian. Pabrik yang selesai dibangun empat tahun lalu itu tidak lagi tampak seperti foto peresmian. Ada tanda pemakaian pada lantai dan pegangan pintu. Orang-orang telah datang bekerja di sini setiap hari, menghadapi gangguan kecil yang tidak pernah muncul dalam gambar rancangan.

“Masih ingat diagrammu di teras hotel?” tanya saya kepada Wenny.

“Yang kamu bilang terlalu banyak cabangnya?”

“Saya bilang kamu harus menghitung bahan baku dan pembelinya.”

“Dan kamu benar.” Ia tersenyum. “Membangun pabrik ternyata bagian yang paling mudah difoto.”

Setelah keluar dari fasilitas itu, kami melanjutkan perjalanan melewati bagian lain kawasan. Ada bangunan yang telah ditempati perusahaan, ada pula ruang yang baru disiapkan untuk calon pengguna. Pada papan petunjuk, saya melihat arah menuju fasilitas bersama, area logistik, dan hunian.

“Dulu, waktu unit real estat Yuan menerima saham hotel dari Ale Capital, saya kira mereka akan sibuk mengurus kamar dan ruang pertemuan,” kata saya.

“Mereka memang mengurusnya,” jawab Wenny. “Mereka belajar mempertahankan pekerja, menangani pemasok, dan mendengar keluhan tamu. Waktu mengundang mitra masuk ke konsorsium, mereka bisa menunjukkan pekerjaan yang sudah dijalankan di pulau ini. Reputasi itu membantu, meski setiap anggota tetap meminta perhitungan kawasan yang masuk akal.”

Anak usaha real estat Yuan dan anggota konsorsium lainnya menyediakan tempat bagi industri agro serta usaha yang ingin mengolah hasil riset menjadi produk. Pertumbuhannya mengikuti kebutuhan perusahaan yang benar-benar masuk.

Kami berhenti di dekat pusat logistik. Sejumlah truk kecil datang dari arah luar kawasan. Di tempat penerimaan, petugas menimbang muatan, memeriksa dokumen, lalu mengarahkan kendaraan ke titik bongkar. Saya teringat kunjungan bersama Xiaulin ke gudang Lin Hua pada 2013: timbangan di samping buku besar, karung di atas palet, dan kekhawatiran bahwa hujan dapat menurunkan mutu panen sebelum pembeli melihatnya.

“Bagaimana pusat agregatornya?” tanya saya.

“Beberapa sudah terhubung dengan pembeli di kawasan,” jawab Wenny. “Tapi hasilnya tidak sama di setiap tempat. Yang satu sudah baik dalam mencatat asal dan mutu barang. Yang lain masih berjuang mengurangi kerusakan setelah panen.”

“Lin Hua masih bekerja?”

“Masih. Kita bisa menemuinya besok kalau kamu mau.”

Saya mengangguk. Saya ingin tahu apakah pekerjaan perempuan itu menjadi lebih mudah sejak terakhir kami bertemu, bukan hanya apakah gudangnya tampak lebih bagus.

Menjelang sore, Wenny membawa saya ke bagian hunian. Deretan bangunan telah ditempati. Di halaman, seorang anak berlari mengejar bola sementara ibunya memanggil dari bawah tangga. Beberapa pekerja pulang dengan seragam yang sudah dilonggarkan. Di seberang jalan, sebuah toko kecil menjual minuman dingin dan keperluan sehari-hari.

“Kawasan ini masih berkembang,” kata Wenny. “Jumlah rumah harus mengikuti pekerjaan yang tersedia. Kami juga masih membicarakan layanan yang diperlukan keluarga di sini.”

Saya melihat seorang pria turun dari bus, membeli sebotol air, lalu berjalan menuju bangunan hunian sambil menelepon. Perjalanan dari pabrik ke rumahnya hanya beberapa menit. Saya membayangkan waktu yang bisa ia pakai untuk makan bersama keluarganya malam itu.

Kami duduk di bangku dekat halaman. Cahaya matahari melembut di antara bangunan. Wenny menyerahkan map yang dibawanya sejak bandara. Di dalamnya ada peta kawasan tahun 2013, penuh garis pensil dan catatan tangan, disandingkan dengan peta tahun 2019. “Guo menyimpannya,” kata Wenny. “Dia ingin kamu melihat keduanya.”

Saya mengenali tanda tanya buatan Xiaulin pada peta lama. Ia menulisnya ketika Guo menunjukkan gambar kawasan industri di atas kap mobil dan angin terus mengangkat ujung kertas. Di samping rancangan gudang, Xiaulin mencatat pertanyaan yang ia ulangi selama perjalanan: Kapan petani dibayar?

“Xiaulin pasti senang melihat tempat ini,” kata saya.

Wenny memandang catatan itu dan tersenyum. “Tahun 2013 kamu juga menugaskan saya mengirim Xiaulin melanjutkan pendidikan. Dari pascasarjana sampai S3. Dia sudah menyelesaikan doktoralnya, B. Sekarang George menempatkannya di London sebagai bagian dari tim shadow Ale Capital.”

Saya menoleh kepadanya. Di Hainan dulu, Xiaulin masih membawa buku catatan kecil ke mana-mana. Ia berani bertanya, lalu mencoret jawabannya sendiri jika menemukan sesuatu yang berbeda di lapangan. Saya membayangkan dia di London, duduk bersama George dan tim, membawa kebiasaan yang sama ke meja keputusan yang jauh lebih besar.

“Sekarang dia jadi anak kamu, tuh,” kata saya.

Wenny tertawa pelan. “Xiaulin dan Mia—dua perempuan yang kamu tugaskan kepada saya untuk dididik. Keduanya sudah S3. Mereka sekarang menjadi bagian dari tim inti Ale Capital.”

“Dan masih mau dibantah?”

“Terutama kalau kamu yang membantah mereka.”

Kami tertawa. Lalu Wenny menyentuh sudut peta yang memuat tulisan tangan Xiaulin. “Dulu dia tidak malu mengaku belum tahu,” katanya. “Saya harap gelar itu tidak menghilangkan kebiasaannya bertanya.”

“Kalau hilang, kamu pasti orang pertama yang menegurnya.”

“Pasti.”

Di halaman, anak-anak masih bermain bola. Saya menatap kembali peta lama itu. Waktu telah mengubah lahan yang digambar Guo, pekerjaan Wenny, dan hidup Xiaulin. Namun pertanyaannya tentang pembayaran petani tetap tertulis di sana. Saya ingin tahu jawabannya sekarang.

“B,” kata Wenny, “menurutmu bagaimana kawasan ini?”

Saya memandang jalan yang dilewati truk, hunian yang mulai ramai, dan bangunan produksi di kejauhan. Pabrik isosorbide telah selesai pada 2015. Empat tahun kemudian, kawasan terpadu mencapai tahap pembangunan yang bisa kami kunjungi hari ini. Saya ingin kembali esok pagi untuk melihat pusat agregator dan mendengar sendiri apa yang berubah bagi pemasoknya.

“Saya senang kamu mengajak saya datang,” kata saya. “Besok kita mulai dari gudang Lin Hua.”

Wenny mengangguk. Ia tampaknya telah menduga jawaban itu. Malam harinya, di kamar hotel, Wenny terlelap di tempat tidur. Saya membuka buku catatan dan menulis satu kata di halaman baru: Indonesia. Saya membayangkan pusat produksi pertanian yang terhubung dengan pengolahan, riset, pasar, dan hunian. Sebuah tempat yang memberi petani pilihan untuk menjual hasil dengan mutu yang diakui, serta memberi anak muda pekerjaan tanpa memutus hubungan dengan desanya.

Saya memandang peta Hainan sekali lagi sebelum menutup buku. Saya sudah pensiun dari Yuan dan SIDC. Namun gagasan tentang kawasan agroindustri di Indonesia terus mengikuti saya, bahkan setelah lampu kamar saya padamkan.

Kesimpulan

Saya menutup buku catatan, tetapi pikiran saya tetap berada di antara kebun, pabrik, laboratorium, gudang, dan rumah-rumah yang kami lewati hari itu. Tanah bernilai bukan semata karena dapat dijual atau dibangun. Tuhan menitipkannya kepada manusia agar menghasilkan kehidupan dan kemakmuran.

Petani merawat apa yang tumbuh di atasnya. Ilmuwan menemukan cara meningkatkan mutu dan manfaatnya. Industriawan membangun pengolahan dan membuka pasar. Pekerja membuat seluruh rencana itu berjalan setiap hari. Mereka saling membutuhkan. Jika hasilnya hanya dinikmati oleh satu pihak, berarti amanah atas tanah itu belum ditunaikan.

Di halaman terakhir saya menulis, Tugas pemerintah adalah membawa visi yang menyatukan mereka—menyediakan jalan, pendidikan, aturan yang adil, dan kesempatan berusaha—agar kemakmuran dari tanah bagi semua…


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Dari tanah menjadi harapan cerah..”

  1. Lanjutan cerita ini Dhi pahami sebagai tafsir kata ‘Jembatan’ pada cerita dibawah.

    Hal yang membuat saya menangis karena Uda menulis ‘Indonesia’

    Aku jadi ingat Mama, beliau sering berkata dengan sungguh-sungguh….Governance.

    Semua alasan dan Cita yang Dhi ceritakan hanya dibantah dengan satu kata, Jujur.

    Ya, sesuatu yang sulit ada di negeri kita tercinta, apatah lagi bermimpi membangun facility seperti pada uraian tema tulisan ini. Kami sebagai orang Sunda mengenal ‘Tritangtu’

    Sebuah konsep yang mengajarkan tentang harmonisasi Manusia dengan Alam dan yang Maha Pencipta, terma kasih Uda……setidaknya Dhi yakin ada cara bagaimana Teknologi bisa begitu indah membangun cada hidup manusia, Hainan. Hatur Nuhun dan Salam Hormat

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca