Siapa penguasa dunia sebenarnya?

Mia sedang business trip ke Jakarta sebagai bagian rangkaian tugasnya dari kantornya di New York. Saya bertemu Mia di kafe hotel tempat dia menginap.

“Kamu pernah mendapat pelatihan di Praha tentang social engineering,” kata saya. “Apa definisinya secara akademis?”

“Social engineering adalah upaya terencana untuk memengaruhi perilaku manusia atau kelompok dengan memanfaatkan struktur sosial, kepercayaan, emosi, dan bias psikologis,” jawab Mia. “Istilahnya dikaitkan dengan industrialis Belanda J.C. van Marken melalui esai Sociale Ingenieurs pada 1894, kemudian dipopulerkan di Amerika oleh W.H. Tolman melalui buku Social Engineering pada 1909. Dalam keamanan informasi, pengertiannya dipopulerkan Kevin Mitnick sebagai manipulasi psikologis untuk memperoleh informasi atau akses.”

Saya menyimak.

“Kami dilatih memahami cara merampok rumah orang tanpa mendobrak pintu atau masuk secara diam-diam,” lanjut Mia. “Pelakunya datang melalui pintu depan dan dipersilakan masuk oleh pemilik rumah. Bahkan ketika isi rumah dijarah, pemiliknya tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka baru sadar setelah semuanya habis. Namun saat itu sudah terlambat.”

Mia terdiam sebentar.

“Kami juga mempelajari cara manusia dimanipulasi melalui pemberian, ketakutan, dan ekspektasi. Pola seperti itu dapat ditemukan dalam sistem sosialisme, kapitalisme, populisme, bahkan agama ketika ajarannya disalahgunakan. Tujuannya sama: menjadikan seseorang budak dari persepsi yang ditanamkan kepadanya sehingga mudah diarahkan dan dimanfaatkan.”

Ia melanjutkan, “Kami mempelajari simbol dan retorika yang dapat memengaruhi pikiran manusia. Termasuk bagaimana lembaga survei dapat disalahgunakan sebagai alat manipulasi yang seolah-olah akademis, atau bagaimana akademisi diarahkan untuk berbicara demi mendukung tesis yang telah disiapkan.”

Saya tetap diam, membiarkannya meneruskan penjelasan.

“Dari pemahaman itu, kami belajar mengenali para bandit di sekitar kami. Mereka dapat mengenakan seragam pemerintah, menduduki kursi CEO, tampil sebagai tokoh agama, akademisi, influencer, atau politisi. Penampilan dan jabatan tidak mengubah cara kerja mereka.”

Mia menatap saya.

“Dengan memahami pola tersebut, kami dapat menghadapi mereka ketika merancang transaksi M&A atau menyusun struktur hedge fund. Kami harus mampu melindungi transaksi dari kepentingan tersembunyi, tanpa ikut menjadi bandit. Jika perlu, kami menyingkirkan pengaruh mereka melalui tata kelola, transparansi, dan struktur transaksi yang tidak memberi ruang bagi manipulasi.”

Mia kembali terdiam. Tatapannya berubah serius.

“Ada satu pertanyaan besar yang belum terjawab,” katanya. “Pelatihan kami di Praha dipimpin oleh seorang mantan agen Mossad. Hampir semua elite financial global menjadikan tempat itu sebagai pelatihan team intinya. Sampai sekarang, saya dan anggota tim lainnya masih bertanya-tanya: siapa Bapak sebenarnya? Mengapa Bapak begitu memahami cara membentuk dan melatih Team Shadow?”

Saya hanya tersenyum kepada Mia.

“ Apa yang kamu pahami tentang Market–Authority Nexus “ kata saya kemudian.

“ Susan Strange, terutama dalam States and Markets dan kemudian The Retreat of the State. Menurut Strange, politik dan ekonomi tidak dapat dipisahkan, negara membentuk pasar, tetapi pasar juga membatasi pilihan negara.”

“ Konkritnya?

“ Negara membuat aturan permainan, tetapi pasar menentukan apakah permainan tersebut dipercaya, dibiayai, atau ditinggalkan.” Jawab Mia. “ Konsep ini menjelaskan bahwa kekuasaan bergerak seperti bandul antara otoritas publik dan pasar.”

“ Pasar itu Mia, adalah mereka yang bekerja keras lewat riset sains, meritokrasi, transfaransi. Mereka tidak punya kekuatan politik yang bisa memerintahkan orang banyak untuk patuh. Mereka adalah kelas menengah dan atas yang punya talenta, kompetensi dan integritas. Jumlahnya engga banyak. Mungkin hanya segelintir saja. Beda dengan mayoritas penduduk planet bumi yang low class yang mudah dipengaruhi lewat social engineering narasi politik kekuasaan, psikologi bias“ Kata saya.

Saya diam sebentar.

“ Bayangkan, kalau pelaku pasar terutama investor macro bursa, yang bukan hanya mengelola trading, tetapi juga mengelola portfolio asset yang tersebar pada beragam bisnis, punya mindset sama dengan elite politik kekuasaan, dunia sudah lama hancur. Tetapi hukum kausalitas dan hukum alam bekerja dengan apik. Ketika ada yang jahat, akan ada yang baik. Ketika ada yang merusak, ada yang memperbaiki. Begitulah duni ini. Alam mencari caranya sendiri untuk terjadinya keseimbangan.” Lanjut saya.

Mia tidak langsung menanggapi. Ia memandang cangkir tehnya, lalu mengangkat wajah.

“Tetapi pasar tidak selalu dipenuhi orang baik, B,” katanya. “Di dalamnya juga ada keserakahan, manipulasi harga, informasi orang dalam, kartel, dan orang-orang yang memperoleh keuntungan dari kehancuran pihak lain.”

“Tentu.”

“Lalu mengapa Bapak menempatkan pasar seolah-olah menjadi kekuatan moral yang menyeimbangkan politik?”

“Saya tidak mengatakan pasar selalu bermoral,” jawab saya. “Saya mengatakan pasar yang sehat mempunyai mekanisme koreksi. Orang boleh berbohong dalam presentasi, tetapi arus kas akhirnya membuka kebenaran. Perusahaan boleh memperbesar valuasi, tetapi kalau tidak memiliki produktivitas dan laba, modal akan pergi.”

“Namun pasar juga dapat mempertahankan ilusi dalam waktu lama.”

“Benar. Karena itu pasar membutuhkan transparansi, penegakan hukum, kompetisi, dan kebebasan informasi. Tanpa semua itu, pasar bukan lagi mekanisme penemuan harga. Ia berubah menjadi kasino yang dikendalikan orang dalam.”

Mia mengangguk perlahan.

“Berarti Market–Authority Nexus bukan pertarungan antara pasar yang baik dan negara yang buruk?”

“Bukan. Itu hubungan dua kekuatan yang saling membutuhkan sekaligus saling mengawasi. Negara tanpa pasar akan kehilangan disiplin. Pasar tanpa negara akan kehilangan batas moral dan hukum.”

Saya mengambil cangkir kopi.

“Politikus memperoleh legitimasi dari suara rakyat. Pelaku pasar memperoleh legitimasi dari risiko yang mereka tanggung. Kalau keputusan mereka salah, modal mereka hilang.”

“Tidak selalu,” sahut Mia. “Ketika institusi keuangan terlalu besar untuk gagal, kerugiannya dapat dipindahkan kepada negara.”

Saya tersenyum. “Itulah saat hubungan tersebut rusak. Keuntungan diprivatisasi, tetapi kerugian disosialisasikan. Pelaku pasar memperoleh kekuasaan tanpa tanggung jawab.”

“Seperti politisi yang menggunakan uang negara untuk membeli loyalitas, tetapi membebankan utangnya kepada generasi berikutnya.”

“Tepat. Keduanya memakai sumber daya orang lain untuk mempertahankan kekuasaan.”

Mia memandang hujan yang mengalir pada kaca.

“Sekarang lembaga keuangan nonbank menguasai lebih dari separuh aset keuangan dunia,” katanya. “Dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer aset, private equity, private credit, dan hedge fund. Mereka tidak dipilih rakyat, tetapi keputusan mereka dapat menentukan hidup jutaan orang.”

“Mereka tidak membuat undang-undang,” jawab saya, “tetapi mereka menentukan siapa yang memperoleh modal, teknologi apa yang berkembang, industri mana yang mati, dan negara mana yang harus membayar bunga lebih mahal.”

“Berarti kekuasaan tidak lagi sepenuhnya berada di negara.”

“Kekuasaan formal masih berada pada negara. Namun kekuasaan struktural semakin tersebar. Pemerintah dapat memutuskan menerbitkan obligasi, tetapi pasar menentukan yield-nya. Pemerintah dapat merencanakan industri, tetapi pemilik modal menentukan apakah proyek itu layak dibiayai.”

“Lalu siapa yang mengawasi pemilik modal?”

“Regulator, pemegang saham, investor, hukum, dan reputasi. Namun yang paling penting adalah kompetisi. Jangan biarkan satu kelompok menguasai modal, informasi, teknologi, dan narasi sekaligus.”

Mia menatap saya lekat-lekat. “Apakah itu alasan Bapak membentuk Team Shadow?”

Saya tidak segera menjawab.

“Team Shadow tidak dibentuk untuk menggantikan direksi atau mengambil kekuasaan,” kata saya kemudian. “Kalian dibentuk untuk melihat hubungan yang tidak terlihat dalam struktur formal—siapa yang menguasai modal, siapa yang membentuk persepsi, siapa yang memengaruhi regulator, dan siapa yang diam-diam memperoleh keuntungan dari sebuah kebijakan.”

“Jadi kami mengawasi hubungan antara pasar dan kekuasaan?”

“Kalian memastikan Ale Capital tidak menjadi bagian dari masalah yang sedang kita kritik. Modal memberi kita pengaruh, tetapi pengaruh tanpa integritas akan mengubah kita menjadi oligarki.”

“Bagaimana memastikan itu tidak terjadi?”

“Dengan membatasi kekuasaan kita sendiri. Pisahkan analisis dari keputusan. Pisahkan pemilik modal dari pengelola industri. Pastikan setiap risiko mempunyai penanggung jawab. Jangan gunakan informasi untuk menjebak orang. Jangan membeli dukungan politik. Dan jangan pernah membuat keuntungan yang hanya dapat bertahan karena negara menanggung kerugiannya.”

Mia terdiam.

“Jadi keseimbangan itu tidak terjadi dengan sendirinya?”

Saya menggeleng. “Alam mencari keseimbangan, tetapi manusia tetap harus membangun institusi untuk menjaganya. Kalau orang baik hanya percaya bahwa kebaikan akan menang dengan sendirinya, bandit akan lebih dahulu menyusun aturannya.”

“Karena itu kami harus mengetahui cara kerja bandit.”

“Ya. Namun bukan untuk meniru mereka.”

Saya menatap hujan yang mulai mereda di luar kaca.

“Pasar yang sehat bukan kumpulan orang suci. Ia adalah sistem yang membuat kebohongan mahal, kegagalan terlihat, dan kekuasaan dapat dikoreksi. Negara yang sehat juga bukan negara yang mempunyai kekuasaan tanpa batas, melainkan negara yang cukup kuat untuk menegakkan hukum dan cukup rendah hati untuk menerima koreksi.”

Mia tersenyum tipis.

“Jadi bandul itu harus terus bergerak?”

“Harus. Kalau kekuasaan sepenuhnya jatuh kepada negara, kita menghadapi otoritarianisme. Kalau seluruhnya jatuh kepada pasar, kita menghadapi oligarki. Peradaban bertahan di antara keduanya.”

Saya menghabiskan kopi yang mulai dingin.

“Itulah Market–Authority Nexus, Mia. Bukan tentang siapa yang akhirnya menang, melainkan bagaimana memastikan tidak ada satu pihak yang cukup kuat untuk menentukan masa depan semua orang sendirian.”

***

Saya mengajak Mia makan bubur ayam di kawasan Mangga Besar. Ia mengemudikan sendiri kendaraan yang dipinjamkan Yuan selama berada di Jakarta. Setiap datang ke kota ini, ia selalu menolak disediakan sopir.

Sepertinya, salah satu hal yang disukainya dari Indonesia adalah kebebasan mengemudikan kendaraan sendiri. Sesuatu yang jarang ia lakukan ketika berada di New York atau kota-kota besar Eropa. Di Jakarta, kemacetan yang bagi banyak orang terasa melelahkan justru memberinya ruang untuk memperhatikan kehidupan di jalan—pedagang kaki lima, pengemudi ojek, bus kota, dan gedung-gedung baru yang tumbuh berdampingan dengan permukiman lama.

Mobil berhenti di depan kedai bubur yang ramai. Kami memilih meja di sudut, tidak jauh dari gerobak tempat uap panas mengepul dari panci besar. Suara sendok beradu dengan mangkuk bercampur dengan deru kendaraan dari jalan raya.

“Sampai hari ini, tidak ada yang mengetahui secara pasti seluruh alasan Trump membawa Amerika menyerang Iran,” kata saya setelah pelayan meletakkan dua mangkuk bubur di atas meja. “Alasan resminya berkaitan dengan program nuklir, keamanan Israel, dan ancaman Iran terhadap kepentingan Amerika. Namun alasan resmi tidak selalu menjelaskan seluruh kepentingan struktural di balik sebuah perang.”

Mia menambahkan kecap asin ke dalam mangkuknya. “Bapak melihatnya sebagai bagian dari perebutan tatanan dunia?”

“Salah satunya. Amerika terlalu lama mempunyai kekuasaan besar dalam sistem moneter internasional. Dolar bukan hanya mata uang. Ia terhubung dengan perdagangan, cadangan devisa, obligasi, perbankan koresponden, sistem pembayaran, perusahaan asuransi, lembaga kliring, dan sanksi.”

“Karena itu Amerika dapat menggunakan sistem keuangan sebagai senjata.”

“Ya. Selama transaksi dunia bergantung pada dolar dan jaringan keuangan yang berada dalam jangkauan hukum Amerika, Washington mempunyai kemampuan mengawasi, membatasi, bahkan memutus akses sebuah negara terhadap modal global.”

Mia mengaduk buburnya perlahan. “Namun kekuasaan moneter Amerika tidak lagi sepenuhnya sejalan dengan peta produksi dunia,” katanya.

“Tepat. Amerika masih menguasai mata uang, teknologi tinggi, dan jaringan keuangan. Namun pusat produksi, energi, bahan baku, serta pertumbuhan konsumsi semakin bergerak ke kawasan Trans-Asia.”

“China sebagai pusat manufaktur, Rusia sebagai kekuatan energi dan komoditas, India sebagai pasar serta basis teknologi, sedangkan Iran menguasai posisi strategis di jalur energi.”

Saya mengangguk.

“Bayangkan apabila Iran, China, Rusia, dan India mampu membangun kerja sama yang benar-benar terintegrasi. Mereka memiliki populasi besar, sumber daya energi, kapasitas industri, teknologi, pangan, pasar, serta jalur darat yang dapat menghubungkan Asia Timur sampai Teluk Persia.”

“Tetapi mereka belum menjadi satu blok,” kata Mia. “India tidak ingin berada di bawah China. Rusia mempunyai kepentingannya sendiri. Iran membutuhkan China dan Rusia, tetapi tetap menjaga nasionalismenya. Mereka bekerja sama karena tekanan dan kepentingan, bukan karena mempunyai visi politik yang sepenuhnya sama.”

“Itulah sebabnya saya mengatakan ‘apabila’. Kita tidak boleh menganggap setiap kerja sama sebagai aliansi permanen.”

Saya mengambil satu sendok bubur. “Namun Washington juga tidak menunggu sampai integrasi itu sempurna. Dalam geopolitik, ancaman sering dinilai dari potensi masa depan, bukan hanya kekuatan hari ini.”

“Jadi konflik regional dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan struktur lama?”

“Dapat dibaca demikian, tetapi jangan disederhanakan menjadi satu konspirasi,” jawab saya. “Perang mempunyai banyak sebab: keamanan, ideologi, politik domestik, kepentingan sekutu, industri pertahanan, jalur energi, dan kredibilitas kekuasaan. Semuanya bertumpuk.”

“Seperti perang Rusia–Ukraina?”

“Ya. Secara resmi itu perang mengenai wilayah, kedaulatan, keamanan, dan perluasan aliansi. Namun di belakangnya juga terdapat persoalan energi, industri pertahanan, jalur perdagangan, teknologi, serta arsitektur keamanan Eropa.”

Mia menatap saya. “Dan proses itu justru mempercepat multipolaritas.”

“Karena setiap penggunaan kekuasaan secara berlebihan menciptakan insentif bagi pihak lain untuk membangun alternatif. Ketika dolar digunakan sebagai instrumen sanksi, negara lain mulai mencari mekanisme pembayaran di luar dolar. Ketika cadangan devisa dapat dibekukan, bank sentral mulai menambah emas. Ketika jalur laut dianggap tidak aman, negara membangun koridor darat. Ketika teknologi dapat dibatasi, mereka membangun riset dan rantai pasok sendiri.”

“Namun membangun alternatif juga mahal.”

“Sangat mahal. Sistem dolar bertahan bukan hanya karena kekuasaan Amerika, tetapi karena likuiditasnya, kedalaman pasar obligasinya, kepastian hukumnya, dan besarnya jaringan transaksi. Menggantikannya tidak cukup dengan pidato politik atau kesepakatan menggunakan mata uang lokal.”

“Harus ada pasar keuangan yang dalam, mata uang yang dapat dikonversi, hukum yang dipercaya, dan aset aman dalam jumlah besar,” kata Mia.

“Karena itu dunia tidak akan meninggalkan dolar secara mendadak. Yang terjadi adalah diversifikasi bertahap. Bukan kematian dolar, melainkan berkurangnya ketergantungan mutlak kepadanya.”

Suara kendaraan terdengar semakin jarang. Pemilik kedai mulai menyusun mangkuk bersih di atas rak.

“Masalah terbesar dari transisi menuju dunia multipolar bukan hanya persaingan kekuasaan,” lanjut saya. “Masalahnya adalah konflik tersebut dibiayai dengan utang.”

“Karena pemerintah tidak ingin langsung menaikkan pajak untuk membayar perang,” kata Mia.

“Benar. Pajak membuat biaya perang segera terlihat oleh rakyat. Utang menunda rasa sakitnya. Pemerintah menerbitkan obligasi, bank sentral menjaga likuiditas, dan beban sesungguhnya dipindahkan ke masa depan.”

“Melalui bunga, inflasi, dan pajak generasi berikutnya.”

“Juga melalui berkurangnya anggaran pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur sipil. Setiap rudal yang dibeli dengan utang tetap harus dibayar, meskipun perang telah selesai.”

Mia meletakkan sendoknya.

“Artinya politik mengambil keputusan, pasar menilai risikonya, tetapi seluruh dunia yang membayar preminya.”

Saya mengangguk.

“Premi itu muncul dalam berbagai bentuk: harga minyak yang lebih tinggi, biaya angkutan, premi asuransi, kebutuhan lindung nilai, yield obligasi, inflasi, dan suku bunga. Bahkan negara yang tidak terlibat perang ikut membayar melalui impor energi dan melemahnya mata uang.”

“Jadi pasar tidak menentukan perang, tetapi menghitung harga perang.”

“Pasar menghitung harga yang sering disembunyikan politik. Politikus berbicara tentang kemenangan, keamanan, dan kehormatan. Pasar bertanya berapa barel minyak yang hilang, berapa kapal yang harus mengubah rute, berapa utang baru diterbitkan, dan siapa yang akhirnya membayar.”

Mia menatap kedai sederhana di sekitar kami. “Dan orang-orang yang sedang makan di tempat seperti ini mungkin tidak pernah mengetahui mengapa harga pangan dan ongkos transportasi mereka naik.”

“Itulah ketidakadilan geopolitik. Keputusan dibuat oleh segelintir elite, dibiayai melalui pasar global, tetapi tagihannya sampai ke meja makan rakyat biasa.”

“Apakah multipolaritas akan membuat dunia lebih adil?”

“Tidak otomatis. Dunia dengan banyak pusat kekuasaan dapat menghasilkan keseimbangan, tetapi juga dapat menciptakan lebih banyak titik konflik. Multipolaritas hanya memberi lebih banyak pilihan. Keadilannya bergantung pada bagaimana pilihan itu digunakan.”

“Lalu apa yang seharusnya dilakukan negara berkembang?”

“Jangan menjadi pengikut emosional salah satu blok. Bangun teknologi, industri, pangan, energi, sistem pembayaran, dan pasar modal sendiri. Berhubunganlah dengan semua pihak, tetapi jangan menyerahkan masa depan kepada siapa pun.”

Mia mengangguk pelan. “Karena dalam dunia multipolar, netralitas tanpa kekuatan hanya berarti menjadi objek perebutan.”

“Benar. Netralitas baru mempunyai nilai apabila didukung kemampuan produksi, modal, teknologi, dan daya tawar.”

Saya memandang bubur yang mulai dingin. “Amerika dapat mempertahankan dolar dengan kekuatan politik. China dapat memperluas pengaruhnya melalui produksi dan perdagangan. Rusia menggunakan energi dan militer. India mengandalkan pasar dan demografinya. Iran menggunakan geografi serta jaringan regionalnya.”

“Sedangkan pasar?”

“Pasar tidak mempunyai bendera. Ia bergerak menuju tempat yang menawarkan keamanan, keuntungan, likuiditas, dan masa depan.”

Saya meletakkan sendok.

“Politik dapat memulai perang. Tetapi pasar akan mencatat utangnya, menghitung risikonya, dan mengirimkan tagihan kepada dunia.”

“Karena itu, para elite keuangan global hanya tersenyum menyaksikan ulah pemerintah,” kata Mia. “Namun, secara diam-diam, melalui orang-orang yang berada di sekitar pusat kekuasaan, mereka juga dapat memengaruhi arah bandul politik—kebijakan mana yang dipilih, mengapa defisit dibiarkan melebar, dan mengapa kebohongan politik harus dibungkus dengan populisme.”

Ia berhenti sebentar.

“Perang menciptakan utang. Defisit melahirkan obligasi. Ketidakpastian meningkatkan yield, biaya lindung nilai, dan premi risiko. Semuanya harus dibayar mahal. Pada akhirnya, pemilik modal justru semakin kuat tanpa perlu tampil sebagai penguasa. Kekuasaan mereka tidak terlihat, tetapi terasa dalam setiap keputusan pemerintah.”

Saya tersenyum.

“Kamu mulai keracunan teori konspirasi.”

Mia menatap saya. “Apa yang salah dari kesimpulan saya?”

“Kesalahanmu adalah membayangkan elite keuangan global sebagai satu kelompok yang duduk dalam ruangan tertutup, lalu bersama-sama menentukan kapan perang dimulai dan pemerintahan mana yang harus dijatuhkan.”

“Bukankah mereka mempunyai pengaruh?”

“Pengaruh, tentu. Kendali mutlak, belum tentu. Dana pensiun, perusahaan asuransi, bank investasi, hedge fund, industri pertahanan, perusahaan energi, dan manajer aset mempunyai kepentingan yang berbeda. Mereka dapat bersekutu dalam satu isu, tetapi saling berlawanan dalam isu lain.”

“Lalu bagaimana pengaruh itu bekerja?”

“Tidak selalu melalui perintah rahasia. Ia bekerja melalui pendanaan kampanye, kelompok lobi, jaringan penasihat, lembaga riset, media, kontrak pemerintah, dan pergerakan modal. Namun yang paling kuat justru bukan konspirasi, melainkan kesamaan insentif.”

Saya mengambil satu sendok bubur.

“Ketika perang memperbesar belanja pertahanan, industri senjata memperoleh kontrak. Ketika defisit meningkat, pasar obligasi memperoleh lebih banyak instrumen untuk diperdagangkan. Ketika volatilitas naik, kebutuhan terhadap asuransi, derivatif, dan lindung nilai ikut meningkat. Mereka tidak harus berkumpul dan menyusun rencana bersama. Struktur ekonomi sudah mengarahkan mereka menuju keuntungan yang sama.”

“Jadi kekuasaannya tetap tidak terlihat.”

“Ya, tetapi istilah akademisnya adalah structural power, bukan pemerintahan rahasia dunia. Mereka berkuasa karena negara membutuhkan modal, likuiditas, teknologi, dan kepercayaan pasar. Bukan karena semua kepala negara menerima perintah dari orang yang sama.”

Mia tersenyum tipis. “Perbedaannya hanya pada cara menjelaskannya.”

“Perbedaannya besar,” jawab saya. “Teori konspirasi mencari satu dalang untuk menjelaskan semua peristiwa. Analisis struktural memeriksa aktor, kepentingan, mekanisme, dan bukti. Kalau tidak dapat dibuktikan, kita menyebutnya dugaan—bukan fakta.”

Saya menatap Mia.

“Jangan sampai pelatihan social engineering membuatmu mudah melihat manipulasi di mana-mana. Kecurigaan memang melindungi kita dari bandit. Tetapi kecurigaan tanpa disiplin data dapat mengubah kita menjadi penyebar ilusi.”

Mia mengangguk perlahan. “Jadi tugas kita bukan mencari siapa yang diam-diam menguasai dunia?”

“Bukan. Tugas kita mengetahui siapa memperoleh manfaat, siapa menanggung biaya, melalui mekanisme apa kekuasaan bekerja, dan apakah semuanya dapat dibuktikan.”

Saya tersenyum. “Bandit nyata tidak perlu diciptakan melalui teori konspirasi. Ikuti saja aliran uangnya.”

Kami kembali ke Hotel. Dalam perjalan Mia berkata “ Pak, seru Mia.” Saya, Xiaulin dan Victor adalah team shadow gelombang pertama yang bapak rekrut. Kami senior dari sekian team shadow yang ada sekarang. “

Mia terdiam beberapa saat sambil tetap memusatkan perhatian pada jalan. Kedua tangannya memegang kemudi, sedangkan cahaya lampu kendaraan bergerak melintasi wajahnya.

“Saya mempunyai teman yang bekerja di sebuah lembaga keuangan papan atas dengan AUM puluhan triliun dolar,” katanya. “Dia mengatakan bahwa Mr. B mengenal baik Trump, Biden, Putin, dan Xi.”

Saya menoleh kepadanya, tetapi tidak berkata apa-apa.

“Dia juga memperlihatkan sebuah foto hasil jepretan paparazi,” lanjut Mia. “Foto itu diambil di Jenewa sebelum Trump terpilih. Bapak terlihat sedang berbicara dengan Biden dan sejumlah elite konglomerasi keuangan global. Memang tidak jelas wajah bapak”

“Katamu wajahku tidak terlihat jelas.”

“Memang tidak. Bapak membelakangi kamera. Namun dari gesturnya, saya yakin itu Bapak. Terutama dari punggung yang lebar dan rambut pendek.”

Saya tertawa kecil.

“Sekali lagi, kamu sudah keracunan teori konspirasi. Kamu menghubungkan potongan-potongan informasi untuk membenarkan kesimpulan yang telah lebih dahulu kamu percayai.”

“Tetapi saya mengenali Bapak.”

“Anggaplah orang dalam foto itu benar aku. Apa yang dibuktikan foto tersebut?”

“Bahwa Bapak berada dalam pertemuan yang sama dengan mereka.”

“Hanya itu. Berada di ruangan yang sama tidak membuktikan kedekatan pribadi. Berbicara dengan seseorang tidak berarti mempunyai pengaruh terhadap keputusannya. Sebuah foto merekam pertemuan selama beberapa detik, tetapi pikiranmu menciptakan cerita sebelum dan sesudahnya.”

Mia melirik sebentar ke arah saya saat lampur merah “Teman saya bukan orang sembarangan.”

“Jabatan tinggi dan AUM besar tidak membuat seseorang kebal terhadap prasangka. Bahkan orang cerdas sering lebih pandai menyusun argumentasi untuk membenarkan keyakinannya sendiri.”

“Jadi Bapak menyangkal mengenal mereka?”

“Saya sedang mengajarkanmu membedakan fakta dari interpretasi. Fakta: ada sebuah foto. Interpretasi: orang yang membelakangi kamera adalah aku. Spekulasi berikutnya: aku mengenal semua pemimpin itu. Lalu kesimpulan terjauhnya: aku ikut menggerakkan politik global.”

Saya tersenyum.

“Kamu melompati empat tingkat pembuktian, lalu menganggapnya sebagai satu kebenaran.”

Mia kembali memusatkan perhatian pada jalan.

“Itu namanya confirmation bias,” lanjut saya. “Ketika seseorang sudah mempercayai sebuah kesimpulan, setiap potongan informasi akan diperlakukan sebagai pembenaran. Informasi yang berlawanan diabaikan.”

“Namun Bapak belum menjawab pertanyaan saya.”

“Tidak semua pertanyaan harus dijawab hanya karena dibangun dari rasa ingin tahu.”

“Jawaban seperti itu justru membuat saya semakin curiga.”

Saya tertawa pelan.

“Itulah masalah teori konspirasi. Bantahan dianggap sebagai bukti bahwa sesuatu sedang disembunyikan. Diam dianggap pengakuan. Apa pun jawaban saya, kamu tetap menang.”

Mia tersenyum tipis tanpa menoleh. “Setidaknya Bapak tidak mengatakan bahwa orang dalam foto itu bukan Bapak.”

Saya memandang lampu-lampu Jakarta di luar jendela. “Fokuslah menyetir, Mia. Jangan sampai karena sibuk mencari orang yang mengendalikan dunia, kamu kehilangan kendali atas kendaraanmu sendiri.”

“ Bagaimana dengan pertemuan rutin BBC di Rotterdam, Hotel NV. Itu pertemuan melarang media massa meliput. Diadakan dengan diam diam. Hampir semua founder asset Management raksasa dunia hadir. Bapak salah satu anggota BBC. “ tanya Mia lagi.

“ Ada apa dengan kamu? Tanya saya mengerutkan kening.

“Bapak latih saya di Praha, dan itu udah standar saya melakukan due diligent segala hal termasuk boss dan ayah angkat saya sendiri.” Kata Mia tersenyum.

“ Kami orang sibuk yang tak mungkin bisa bertemu tatap muka kapan saja. Kadang perlu bertemu sekali untuk menjaga silahturahmi.  Tidak ada politik, itu hanya pertemuan santai. “

“ Dan tidak ada wanita. Hanya pertemuan para pria. Anti kesetaraan gender tuh BBC.” Kata mia nyeletuk.

Saya tertawa kecil.

“Itu bukan aturan. Hanya kebetulan sejarah.”

“Kalau sebuah kebetulan terus berulang selama bertahun-tahun, dalam analisis statistik namanya sudah berubah menjadi pola.”

Saya menoleh kepadanya.

“ Saya hanya ingin mengetahui apa yang dibicarakan para pria ketika mereka merasa dunia cukup aman karena tidak ada perempuan di dalam ruangan.”

“Biasanya soal kesehatan, anak-anak, dan keluhan tentang umur, istri yang bawel”

“Lalu di sela-selanya membicarakan yield obligasi, harga energi, perang, dan siapa yang akan memimpin negara.”

“Kalau kamu sudah mempunyai jawabannya sendiri, mengapa masih bertanya?”

“Untuk menguji apakah jawaban Bapak konsisten dengan data.”

Mia tersenyum kecil, seolah-olah diam saya baru saja menambah satu catatan lagi ke dalam berkas due diligence-nya.

“Hampir semua anggota BBC menjalani kehidupan sehari-hari dengan humble dan jauh dari popularitas. Bahkan ada yang punya rumah seharga tidak lebih USD 500,000. Engga seperti keluarga old money yang punya Yach mewah, jet pribadi, istana besar dan mewah.” katanya. “Hidup mereka terlihat datar. Tidak ada skandal percintaan, kebanyakan family man, dan entah mengapa mereka tidak suka memakai pakaian atau aksesori bermerek terkenal. Padahal portofolio mereka justru mencakup korporasi yang memproduksi barang-barang mewah itu.”

“Menurutmu aneh?”

“Sedikit. Mereka memiliki perusahaan yang menjual simbol status kepada dunia, tetapi mereka sendiri seperti tidak membutuhkannya.”

“Karena barang bermerek dibuat untuk menjual identitas kepada konsumen,” jawab saya. “Orang yang telah yakin dengan identitasnya sendiri tidak selalu membutuhkan logo untuk menjelaskan siapa dirinya.”

“Jadi kemewahan hanya untuk orang yang belum merasa kaya?”

“Bukan begitu. Menikmati barang bagus tidak salah. Namun ada perbedaan antara membeli kualitas dan membeli pengakuan..”

Mia mengangguk pelan.

“Sampai mati orangtidak akan pernah dapatkan data  asset personal mereka. Seakan-akan semakin besar kekuasaan mereka, semakin kecil jejak yang ingin mereka tinggalkan.”

“Popularitas itu godaan terbesar dari kekuasaan. Makanya mereka hindari.”

Mia tersenyum. “Jawaban seperti itu membuat BBC terdengar semakin misterius.”Mia mengangguk.” Salah satu ciri khas mereka adalah kaya akan literasi filsafat. Kaya literasi spiritual.”

“Tidak ada yang misterius. Mereka hanya memahami bahwa kekayaan paling mahal adalah kebebasan menjalani hidup tanpa harus menjelaskan diri kepada orang banyak.”

Mobil memasuki halaman hotel menjelang tengah malam. Hujan telah berhenti, tetapi aspal masih memantulkan cahaya gedung dan lampu kendaraan. Jakarta tampak seperti layar pasar setelah perdagangan usai—lebih tenang, meskipun di balik ketenangan itu miliaran keputusan masih bergerak tanpa suara.

Mia menghentikan mobil di bawah kanopi. Namun ia tidak segera mematikan mesin. “Jadi, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin sedikit jejak yang seharusnya ia tinggalkan?” tanyanya.

“Bukan semakin sedikit,” jawab saya. “Semakin sedikit jejak tentang dirinya, tetapi semakin besar manfaat yang ditinggalkan bagi orang lain.”

Mia menatap lurus ke depan. “Bukankah itu bertentangan? Kekuasaan memerlukan pengaruh, sedangkan pengaruh perlu terlihat.”

“Tidak selalu. Mata uang tidak perlu berbicara untuk menggerakkan dunia. Yield tidak berpidato, tetapi dapat menjatuhkan pemerintahan. Teknologi tidak ikut pemilu, tetapi menentukan negara mana yang akan memimpin masa depan.”

Saya membuka sabuk pengaman, tetapi tetap duduk. “Masalahnya bukan apakah seseorang terlihat atau tidak. Pertanyaannya adalah, untuk apa pengaruh itu digunakan?”

“Untuk memperoleh keuntungan?”

“Keuntungan diperlukan agar modal tetap hidup. Namun kalau keuntungan menjadi satu-satunya tujuan, modal akan berubah menjadi predator. Ia akan membeli politik, membajak ilmu pengetahuan, menciptakan ketergantungan, lalu memindahkan kerugian kepada masyarakat.”

Mia menoleh kepada saya. “Dan kalau modal digunakan untuk memperbaiki keadaan?”

“Ia menjadi jembatan. Menghubungkan sains dengan industri, tabungan dengan lapangan kerja, serta gagasan dengan masa depan.”

Beberapa petugas hotel berdiri di balik pintu kaca. Mereka tidak mengetahui apa yang baru saja kami bicarakan—tentang perang, dolar, kekuasaan struktural, dan orang-orang yang namanya jarang muncul di media, tetapi keputusannya dapat mengubah arah modal dunia.

Mia mematikan mesin. Suara pendingin udara berhenti, menyisakan kesunyian yang terasa ganjil.

“Apakah itu alasan Bapak membentuk Team Shadow?” tanyanya. “Agar mempunyai kekuasaan tanpa terlihat?”

Saya menggeleng.

“Team Shadow dibentuk agar kekuasaan yang tidak terlihat tetap dapat diawasi. Kalian bukan pasukan rahasia untuk mengendalikan dunia. Kalian adalah lapisan terakhir yang mengingatkan kami ketika keuntungan mulai membutakan akal sehat.”

“Termasuk mengawasi Bapak?”

“Terutama aku.”

Mia tersenyum tipis. “Itu sebabnya Bapak tidak pernah menjawab siapa Bapak sebenarnya?”

“Seseorang tidak ditentukan oleh siapa yang dikenalnya, berapa besar aset yang dikelolanya, atau di ruangan mana ia pernah duduk. Ia ditentukan oleh keputusan yang diambilnya ketika tidak ada seorang pun melihat.”

Saya membuka pintu mobil. Udara malam yang lembap segera masuk. Sebelum turun, saya memandang Mia sekali lagi. “Jangan terlalu mudah percaya pada orang yang mengaku akan menyelamatkan dunia. Perhatikan struktur transaksi yang mereka bangun. Lihat siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang memikul risiko, dan siapa yang kelak menerima tagihannya.”

“Follow the money?” tanyanya.

“Bukan hanya uang. Ikuti juga utangnya, teknologinya, informasinya, dan ketakutan yang mereka ciptakan. Di situlah kekuasaan modern menyembunyikan dirinya.”

Saya turun dari mobil dan berjalan menuju pintu hotel. Mia masih duduk beberapa saat di belakang kemudi. Di kaca depan, peta kota dari layar navigasi memantulkan jaringan jalan yang saling terhubung seperti aliran modal global. Tidak ada satu jalan yang sepenuhnya menguasai kota. Tidak ada satu negara yang selamanya menguasai dunia. Tidak ada pasar yang selalu benar, sebagaimana tidak ada pemerintah yang selalu bijaksana. Keseimbangan hanya bertahan selama setiap kekuasaan mempunyai batas, setiap keputusan dapat diperiksa, dan setiap kebohongan akhirnya harus membayar harganya.

Malam itu Mia mungkin belum menemukan jawaban tentang siapa saya sebenarnya. Namun saya tahu, pertanyaan itu tidak lagi terlalu penting baginya. Sebab tugas seorang anggota Team Shadow bukan memburu legenda atau menciptakan konspirasi. Tugasnya lebih sederhana sekaligus lebih berat,  menjaga agar modal tidak kehilangan nurani, pasar tidak berubah menjadi oligarki, dan negara tidak menggunakan rakyat sebagai jaminan bagi ambisinya.

Di dunia yang digerakkan oleh kekuasaan tak kasatmata, integritas sering tidak mempunyai wajah, tidak memiliki panggung, dan tidak mendapat tepuk tangan. Namun justru karena tidak terlihat, ia harus terus dijaga. Sebab peradaban tidak selalu diselamatkan oleh orang-orang yang namanya dicatat sejarah. Kadang-kadang, ia diselamatkan oleh mereka yang mempunyai kesempatan menguasai dunia—tetapi memilih membatasi kekuasaannya sendiri.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Siapa penguasa dunia sebenarnya?”

  1. Lucu membayangkan tingkah Ka Mia :D…….Mungkin bisa dijawab ‘Doremon’ wkwkwkwk…..tokoh jenaka yang menguasai dunia anak-anak 90an.

    Tapi Dhi suka kalimat ini : Modal ketika memperbaiki keadaan akan menjadi jembatan yang menghubungkan sains dengan industri, tabungan dengan lapangan kerja, serta gagasan dengan masa depan.

    Di era ‘Structural Power’ sebenarnya dunia bisa lebih indah jika tatakelola berbagai sektor ini dilakukan dengan baik, rendah hati, dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

    Tapiiii…iya, Uda…….Dunia ini sudah pasti diakhiri. Terimakasih sudah menunjukan banyak nilai dari kenyataan yang dialam nyatanya manusia begitu keji satu sama lain.

    Ajari kami senyum melihat kenyataan ini, walau sangat berat. Salam Hormat

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca