Neraca kehidupan…

Empat Lembar Seratus Dolar

Saya duduk
santai di teras sebuah minimarket, menunggu Lina datang menjemput. Matahari
sudah turun, tetapi panas Jakarta masih tertinggal pada aspal dan dinding
bangunan. Kendaraan datang dan pergi. Orang-orang keluar membawa kantong
belanja, kopi kemasan, atau sebungkus rokok untuk menemani perjalanan pulang.

Saya mengambil
rokok dari saku. Ketika hendak menyalakannya, saya baru sadar tidak ada asbak
di atas meja. Saya mengedarkan pandangan, tetapi tidak menemukannya. Rokok itu
akhirnya saya selipkan kembali ke dalam bungkus.

Seorang anak
muda yang duduk di meja sebelah rupanya memperhatikan gerak-gerik saya. Ia
berdiri, mengambil sebuah asbak dari dekat pintu, lalu meletakkannya di meja
saya. “Pak, ini
asbaknya,” katanya ramah.

Saya
menatapnya. Usianya mungkin belum tiga puluh tahun. Kemejanya sederhana, celana
hitamnya sedikit kusut. Sebuah helm tergeletak di samping kursinya.

“Kamu merokok?”
tanya saya.

“Iya, Pak.”

“Tarik saja
kursimu ke sini. Kita satu meja. Merokok bareng.”

Dia tersenyum,
lalu menarik kursinya. Kami menyalakan rokok hampir bersamaan.

Saya menyukai
anak muda itu. Bukan karena dia membawakan asbak, melainkan karena dia masih
sempat memperhatikan orang lain. Sikap kecil seperti itu semakin jarang
ditemukan di kota besar. Orang-orang hidup berdekatan, tetapi sibuk di dalam
dunianya sendiri. Wajah mereka menunduk ke layar, sementara manusia di
sebelahnya seolah tidak ada.

Belum habis
sebatang rokok, anak muda itu tiba-tiba berdiri. Pandangannya tertuju ke
halaman parkir. Seorang
perempuan baru turun dari sepeda motor yang dikendarai seorang pria. Anak muda
itu berjalan cepat menghampiri mereka. Saya tidak bisa mendengar percakapannya
karena jaraknya agak jauh dan suara kendaraan menenggelamkan kata-kata mereka.
Namun, dari gerak tubuhnya, saya tahu sesuatu sedang terjadi.

Perempuan itu
beberapa kali menunjuk ke arahnya. Anak muda tersebut berusaha menjelaskan
sesuatu. Pria yang mengendarai motor hanya berdiri di samping, tampak salah
tingkah. Percakapan itu
berlangsung singkat. Perempuan tersebut kemudian memakai helm, naik kembali ke
sepeda motor, lalu pergi bersama pria yang mengantarnya.

Anak muda itu
berdiri terpaku. Matanya mengikuti motor tersebut hingga hilang di tikungan.
Setelah itu, ia kembali ke meja dengan langkah lambat. Wajahnya pucat, seperti
orang yang baru tersengat listrik.

“Kamu baik-baik
saja?” tanya saya.

Ia duduk,
mengambil rokok, tetapi tangannya gemetar ketika hendak menyalakannya. Setelah
beberapa kali mencoba, akhirnya api menyentuh ujung rokok.

“Saya memang
sengaja duduk di sini untuk memergoki pacar saya,” katanya.

Saya diam,
memberinya ruang untuk melanjutkan.

“Teman saya
bilang, setiap pulang kantor dari Sudirman, dia selalu diantar seorang pria ke
stasiun. Saya tidak percaya. Makanya saya menunggu di sini.” Ia menarik napas
panjang. “Tadi saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia mengaku. Saya
bilang saya mau memaafkan, tetapi sepertinya dia yang tidak mau melanjutkan
hubungan kami.”

“Sabar saja,”
kata saya. “Kamu masih muda. Masa depanmu masih panjang. Jangan merasa hidup
berakhir hanya karena seseorang memilih pergi. Dulu, ketika seusiamu, saya juga
pernah mengalami hal yang sama.”

Ia menggeleng
perlahan. “Mungkin yang
salah saya, Pak. Kami sudah dua tahun pacaran. Dia berkali-kali mengajak
menikah, tetapi saya selalu bilang belum siap.”

“Kenapa belum
siap?”

“Saya hanya
bekerja sebagai admin online di perusahaan marketing. Gaji bersih sekitar enam
juta rupiah sebulan. Untuk hidup sendiri saja rasanya tidak cukup. Bagaimana
saya bisa menghidupi istri?”

“Enam juta
masih di atas upah minimum. Kenapa tidak cukup?”

Ia menatap
saya. Mungkin ia merasa pertanyaan itu terlalu mudah bagi orang tua yang tidak
lagi menjalani kehidupan seperti dirinya.

“Hitung saja,
Pak. Uang kos satu setengah juta. Makan dan minum satu setengah juta. Kuota dua
ratus ribu. Cicilan handphone lima ratus ribu. Angsuran motor enam ratus ribu.
Pinjaman online satu juta setiap bulan. Belum bensin, laundry, kebutuhan
mendadak, dan kadang kirim uang untuk ibu.”

Saya
menghitungnya dalam kepala. Sebenarnya masih ada sedikit sisa. Masih tersedia
ruang untuk berhemat. Jika menikah dengan perempuan yang juga bekerja, beberapa
pengeluaran bahkan bisa dikelola bersama. Namun saya mengurungkan niat untuk
mengatakannya.

Nasihat
keuangan sering terdengar sangat mudah dari mulut orang yang perutnya kenyang.
Padahal, bagi orang yang hidup dari gaji ke gaji, satu ban bocor, satu anggota
keluarga sakit, atau satu undangan pernikahan bisa merusak anggaran sebulan.

“Pinjaman
online itu untuk apa?” tanya saya.

Ia tersenyum
pahit. “Awalnya hanya
dua juta untuk memperbaiki motor. Setelah itu saya pinjam lagi untuk menutup
cicilan sebelumnya. Lama-lama terus bertambah.”

“Berapa seluruh
utangmu?”

Ia tampak ragu.
Mungkin malu, mungkin takut saya akan menghakiminya.

“Enam juta
rupiah, Pak.”

“Semua pinjaman
online?”

“Iya.”

“Jadi kamu
berutang untuk membayar utang?”

Ia mengangguk.

“Itu bukan lagi
pinjaman,” kata saya. “Itu perangkap.”

Di hadapan saya
duduk wajah sebuah generasi. Pada 2023,
jumlah pemuda Indonesia mencapai sekitar 44 juta jiwa. Jutaan di antaranya
bahkan tidak sedang bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.
Puluhan juta pekerja masih menerima penghasilan di bawah lima juta rupiah
sebulan. Jika digunakan ukuran Bank Dunia untuk negara berpendapatan menengah
atas, sebagian besar masyarakat Indonesia belum berada pada tingkat ekonomi
yang benar-benar aman. Mereka mungkin tidak tercatat miskin menurut ukuran
resmi nasional, tetapi satu penyakit, kehilangan pekerjaan, atau kenaikan harga
sudah cukup untuk menjatuhkan mereka.

Anak muda di
hadapan saya memang masih memiliki pekerjaan. Namun, bekerja tidak selalu
berarti mempunyai masa depan. Kadang seseorang bekerja hanya untuk membayar
masa lalu: cicilan barang yang telah dibeli, bunga pinjaman yang terus
bertambah, dan gaya hidup yang telanjur dianggap sebagai kebutuhan.

Saya teringat
pada diri saya sendiri. Tahun 1983,
ketika pertama kali bekerja sebagai salesman, gaji saya seratus lima puluh ribu
rupiah sebulan. Harga emas ketika itu sekitar tujuh ribu lima ratus rupiah per
gram. Artinya, gaji saya setara dengan kira-kira dua puluh gram emas. Jika
dihitung dengan harga emas, nilainya kurang
lebih empat puluh juta rupiah pada masa sekarang.

Dengan
pendapatan itu, saya masih bisa membiayai kehidupan sehari-hari, menabung, dan
merencanakan masa depan. Tahun 1985 saya tidak lagi menjadi salesman. Tabungan
yang terkumpul menjadi modal untuk memulai usaha formal. Saya bukan
lebih hebat daripada anak muda di hadapan saya. Saya hanya lahir pada zaman
yang berbeda.

Generasi saya—generasi
babyboomers—menghadapi
banyak keterbatasan, tetapi persaingan belum sekeras sekarang. Lulusan SMA
masih relatif mudah mencari pekerjaan di kota. Jumlah sarjana belum banyak.
Mereka yang berhasil masuk universitas umumnya tidak terlalu sulit mendapatkan
pekerjaan bergengsi di instansi pemerintah, BUMN, atau perusahaan asing.

Pada masa itu,
menjadi pegawai dianggap sebagai lambang keberhasilan. Wirausaha justru sering
dipandang sebagai pilihan orang yang gagal memperoleh pekerjaan tetap. Karena
saya hanya tamatan SMA dan memilih berdagang, tidak aneh jika urusan jodoh pun
akhirnya diatur oleh orang tua. Kota pada masa itu masih menyediakan tangga. Orang miskin bisa menaikinya setapak demi
setapak. Pendapatan memungkinkan seseorang hidup, menabung, lalu mengumpulkan
modal. Sekarang tangga
itu semakin licin.

Anak-anak muda
tumbuh di tengah harga tempat tinggal yang mahal, pekerjaan yang tidak selalu
pasti, dan upah yang tertinggal dari kenaikan biaya hidup. Mereka juga dikepung
ekosistem yang memperoleh keuntungan dari ketidaksabaran dan kesulitan mereka.

Ketika tidak
mempunyai uang, aplikasi menawarkan pinjaman. Ketika belum
mampu membeli, paylater membujuk mereka membawa pulang barang hari ini dan memikirkan
pembayarannya bulan depan. Ketika merasa
hidupnya biasa saja, media sosial memperlihatkan orang lain sedang makan di
restoran mahal, memakai telepon terbaru, berlibur ke luar negeri, atau menikah
dengan pesta mewah. Keinginan
kemudian menyamar menjadi kebutuhan. Utang menyamar menjadi daya beli. Cicilan
menyamar menjadi kemampuan.

Generasi saya
dahulu miskin informasi, namun giat membaca buku. Tetapi generasi ini justru tenggelam di dalamnya.
Setiap hari mereka melihat kehidupan orang lain, lalu diam-diam merasa gagal
karena hidupnya tidak seindah layar telepon.

Saya mematikan
rokok di asbak yang tadi dibawakannya. “Kamu tahu
kesalahanmu yang sebenarnya?” tanya saya.

“Karena tidak
berani menikah?”

“Bukan. Kamu
mengira harus kaya lebih dahulu untuk mempunyai masa depan. Padahal, yang kamu
perlukan bukan langsung menjadi kaya. Kamu hanya perlu berhenti menjalani hidup
tanpa arah.”

Ia menunduk.

Saya merogoh
tas kecil yang selalu saya bawa. Dari dalamnya saya mengeluarkan empat lembar
uang pecahan seratus dolar Amerika. Saya merapikannya di atas meja, kemudian
mendorongnya perlahan ke hadapannya. Ia memandangi
uang itu, lalu menatap saya dengan wajah bingung.

“Ini empat
ratus dolar,” kata saya. “Kalau ditukar, cukup untuk melunasi utangmu.”

Ia tidak segera
menyentuhnya. “Bapak serius?”

“Ambillah.”

Tangannya
bergerak ragu, tetapi berhenti sebelum menyentuh uang itu. “Saya harus
mengembalikannya berapa setiap bulan?”

“Tidak perlu.”

Ia menatap saya
lama, seperti sedang berusaha mencari maksud tersembunyi di balik pemberian
tersebut. “Pak, kita
bahkan baru berkenalan.”

“Benar. Kamu
juga tidak mengenal saya ketika membawakan asbak tadi. Namun kamu tetap
melakukannya karena melihat saya membutuhkannya.”

“Itu hanya
asbak, Pak.”

“Pertolongan
tidak dinilai dari besar atau kecilnya benda. Nilainya terletak pada kepekaan
melihat kesulitan orang lain.”

Saya mendorong
empat lembar uang itu lebih dekat kepadanya. “Ambillah.
Besok tukarkan di tempat resmi. Lunasi seluruh utangmu. Jangan gunakan satu
rupiah pun untuk membeli telepon baru, nongkrong, atau mengejar perempuan yang
telah meninggalkanmu.”

Ia mengambil
uang itu dengan tangan gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. “Saya tidak
tahu harus berkata apa.”

“Tidak perlu
berkata apa-apa. Tetapi dengarkan saya baik-baik. Uang ini hanya bisa melunasi
utangmu hari ini. Uang ini tidak bisa mengubah kebiasaan yang membuatmu
berutang. Kalau cara hidupmu tetap sama, beberapa bulan lagi kamu akan kembali
ke tempat yang sama—bahkan mungkin dengan utang yang lebih besar.”

Ia mengangguk
perlahan.

“Setelah
utangmu lunas, tutup semua akun pinjaman dan hapus aplikasinya. Mulailah hidup
dengan cara baru. Catat setiap pengeluaran. Bedakan kebutuhan dari keinginan.
Setelah menerima gaji, sisihkan uang lebih dahulu sebelum membelanjakannya.
Jangan menabung dari uang yang kebetulan tersisa, karena bagi orang yang hidup
tanpa rencana, uang tidak pernah tersisa.”

Air matanya
jatuh. Ia buru-buru mengusapnya. “Saya malu,
Pak.”

“Rasa malu
tidak akan mengubah hidupmu kalau hanya membuatmu menunduk. Jadikan rasa malu
itu keberanian untuk memperbaiki diri.”

Saya menunjuk
telepon genggam di tangannya. “Telepon itu
masih bisa dipakai. Jangan menggantinya hanya karena muncul model baru. Motormu
masih bisa berjalan. Rawat sampai lunas. Berhentilah membeli sesuatu agar orang
lain mengira hidupmu berhasil. Orang yang melihat unggahanmu di media sosial
tidak akan datang ketika cicilanmu jatuh tempo.”

Ia tersenyum
tipis di antara air matanya. “Lalu apa yang
harus saya lakukan, Pak?”

“Jangan
selamanya puas menjadi admin online. Pelajari data penjualan, iklan digital,
perilaku pelanggan, dan sistem perdagangan elektronik. Sisihkan satu jam setiap
malam untuk meningkatkan kemampuanmu. Jangan selamanya dibayar karena mampu
memasukkan angka. Suatu hari kamu harus dibayar karena mampu memahami arti di
balik angka.”

“Kalau saya
gagal lagi?”

“Kamu mungkin
akan gagal. Memulai hidup baru bukan berarti tidak pernah jatuh. Artinya,
ketika jatuh, kamu tidak lagi menggunakan cara lama yang pernah
menghancurkanmu.”

Ia menggenggam
empat lembar uang itu dengan hati-hati. “Kalau soal
pacar saya?”

“Jangan
mengejarnya. Jangan pula membencinya. Mungkin dia salah. Mungkin juga dia sudah
terlalu lama menunggu kepastian. Kita tidak harus memenangkan setiap perpisahan
dengan menentukan siapa yang paling bersalah.”

Saya menepuk
bahunya. “Kadang Tuhan
membiarkan seseorang pergi agar kita berhenti menggantungkan masa depan kepada
orang lain. Kehilangan ini mungkin bukan akhir hidupmu. Bisa jadi inilah hari
ketika hidupmu benar-benar dimulai.”

Ia menunduk
memandangi uang di tangannya. “Bagaimana saya
membalas kebaikan Bapak?”

“Kamu tidak
berutang apa pun kepada saya. Saya melakukan ini bukan agar kamu mengingat nama
saya. Ini urusan saya dengan Tuhan.”

Saya berhenti
sejenak, lalu menatap matanya. “Tetapi suatu
hari, ketika hidupmu sudah lebih baik dan kamu bertemu seseorang yang sedang
terperangkap seperti dirimu hari ini, bantulah dia. Tidak harus dengan uang.
Bisa dengan pekerjaan, pengetahuan, atau sekadar keberanian. Dengan begitu,
pertolongan yang kamu terima hari ini tidak berhenti pada dirimu.”

Dari kejauhan
saya melihat mobil Lina memasuki halaman parkir. Saya berdiri dan merapikan
baju. Anak muda itu
ikut berdiri. “Pak, boleh
saya menyimpan nomor Bapak?”

Saya tersenyum
dan menggeleng. “Tidak perlu.
Kalau saya memberikan nomor, mungkin setiap kali menghadapi masalah kamu akan
mencari saya. Padahal, mulai hari ini, yang harus kamu temukan bukan penolong
baru, melainkan kekuatan di dalam dirimu sendiri.”

Sebelum
berjalan menuju mobil, saya menepuk bahunya sekali lagi. “Utangmu enam
juta rupiah. Empat lembar itu mungkin dapat menyelesaikannya dalam sehari.
Tetapi membangun kehidupan baru memerlukan waktu bertahun-tahun. Jangan
sia-siakan kesempatan kedua.”

Ia mengangguk.
Wajahnya tidak lagi sepucat ketika kembali ke meja tadi.

Saya masuk ke
mobil. Dari balik kaca, saya melihatnya masih berdiri sambil memegang empat
lembar uang pecahan seratus dolar itu. Di atas meja, asbak yang tadi
dibawakannya masih berisi abu dan dua puntung rokok.

Saya tidak tahu
apakah kelak ia akan berhasil. Uang hanya dapat membuka pintu keluar; uang
tidak dapat memaksanya berjalan. Saya bisa melunasi utangnya, tetapi tidak
mungkin melunasi ketidaksabaran, kebiasaan konsumtif, atau keinginannya untuk
terlihat berhasil di hadapan orang lain. Semua itu harus ia selesaikan sendiri.

Persoalan
generasinya juga tidak akan selesai hanya dengan nasihat agar rajin bekerja,
pandai bersyukur, dan hidup hemat. Negara harus menyediakan pekerjaan
produktif, pendidikan yang relevan, perumahan yang terjangkau, serta sistem
keuangan yang melindungi masyarakat dari rente.

Jika jutaan
orang kelas menengah hanya bekerja untuk membayar cicilan, perekonomian tidak
benar-benar sedang bertumbuh. Ia hanya sedang memindahkan pendapatan masa depan
ke tangan pemilik modal hari ini.

Dalam kehidupan
pribadi, keadaan itu disebut jebakan utang. Dalam skala
nasional, gejalanya dapat berubah menjadi middle-income trap. Produktivitas tertahan, pendapatan
tidak meningkat secara berarti, sedangkan konsumsi dan utang terus bertambah. Jumlah penduduk meningkat, lapangan kerja produktif tidak tumbuh sebanding, dan
sumber penerimaan negara tidak berkembang cukup cepat. Negara kemudian menutup
defisit dengan utang baru, seperti seseorang menggunakan pinjaman baru untuk
membayar pinjaman lama.

Jika tidak ada
perubahan mendasar, masyarakat dan negara bisa sama-sama terperangkap dalam
skema utang. Masyarakat kehilangan masa depan karena pendapatannya telah habis
sebelum diterima. Negara kehilangan ruang kebijakan karena sebagian
penerimaannya harus digunakan untuk membayar bunga dan kewajiban masa lalu.

Namun, saya
tidak ingin memandang generasi muda dengan pesimisme. Mereka bukan generasi
yang lemah. Mereka hanya tumbuh di medan perjuangan yang berbeda. Generasi saya
berjuang melawan kelangkaan. Mereka berjuang melawan godaan yang tidak pernah
berhenti. Kami dahulu
harus mencari informasi. Mereka sekarang harus belajar menyaringnya. Kami menabung
untuk membeli barang. Mereka harus melawan sistem yang membujuk agar membeli
sebelum mampu. Kami hidup
dalam kemiskinan yang terlihat. Mereka sering hidup dalam kemiskinan yang
disembunyikan di balik pakaian bagus, telepon mahal, foto liburan, dan cicilan
yang tidak diketahui siapa pun.

Setiap generasi
mempunyai peperangannya sendiri. Karena itu, orang tua tidak seharusnya berdiri
di tepi zaman sambil mencela anak muda yang sedang tenggelam. Jika kita pernah
berhasil menyeberang, ulurkanlah tangan. Bukan untuk menggendong mereka sampai tujuan,
melainkan untuk menunjukkan di mana batu pijakan berada. Begitulah
seharusnya pertolongan diberikan. Bukan untuk membebaskan seseorang dari
perjuangan, melainkan memberinya kesempatan untuk berjuang sekali lagi dengan
cara yang benar.

Kadang perubahan
hidup tidak dimulai dari ruang rapat, pidato politik, atau seminar ekonomi.
Kadang ia bermula di teras minimarket—dari sebuah asbak, dua batang rokok,
empat lembar uang seratus dolar, dan pesan sederhana dari seorang asing: “Utangmu bisa
dilunasi hari ini. Tetapi mulai besok, hiduplah dengan cara yang baru.”

Musuh yang Membosankan

Mobil bergerak
meninggalkan halaman minimarket. Dari kaca samping, saya masih sempat melihat
anak muda itu berdiri di teras, menggenggam empat lembar uang pecahan seratus
dolar yang saya berikan. Wajahnya perlahan menghilang di antara cahaya toko dan
kendaraan yang berlalu-lalang.

Lina memandang
saya sebentar, kemudian kembali memusatkan perhatian ke jalan. “Bapak kenal
anak muda itu?”

“Baru kenal.”

“Lalu Bapak
memberinya uang?”

“Dia punya
utang enam juta rupiah.”

“Kalau semua
orang yang punya utang Bapak kasih uang, Yuan Holding bisa bangkrut.”

Saya tertawa
kecil. “Kalau Yuan
Holding bangkrut hanya karena empat ratus dolar, berarti dari awal perusahaan
itu tidak layak berdiri.”

Lina
menggeleng. Ia sudah terbiasa dengan cara saya memperlakukan uang. Saya bisa
sangat keras terhadap proposal investasi bernilai ratusan juta dolar, tetapi
kadang memberikan uang kepada orang yang baru saya kenal tanpa meminta jamina apa pun. Bagi saya,
keduanya tidak bertentangan. Uang perusahaan adalah amanah yang harus
dipertanggungjawabkan kepada pemegang saham. Uang pribadi adalah urusan saya
dengan Tuhan. Namun Lina tahu percuma memperpanjang perdebatan. Ia menaikkan
kaca jendela, kemudian mempercepat kendaraan memasuki arus lalu lintas.

Malam mulai
turun. Gedung-gedung di sepanjang jalan menyala satu per satu. Cahaya papan
iklan memantul pada kaca depan. Di layar kecil dekat kemudi, grafik pasar
bergerak merah.

“Lihat, Pak,”
kata Lina. “Rupiah melemah, IHSG turun, sementara yield SBN naik. Negeri ini
sedang dimainkan.”

“Dimainkan
siapa?”

“Ya mereka.”

“Mereka siapa?”

“Pemodal
global. Hedge fund. Jaringan bank besar. Soros, Rothschild, atau siapa pun yang
mengendalikan arus uang dunia. Mereka bisa menjatuhkan mata uang, obligasi,
kemudian saham. Krisis tidak selalu terjadi secara alamiah.”

Saya menoleh
kepadanya. Lina adalah
direktur utama salah satu anak usaha Yuan Holding di Indonesia. Ia cerdas,
disiplin, dan memahami cara mengelola perusahaan. Ia bisa membaca laporan laba
rugi, mengendalikan biaya, membangun jaringan distribusi, serta memastikan
target tercapai. Namun, kecerdasan operasional tidak selalu sama dengan
pemahaman terhadap pasar keuangan.

Saya tidak
langsung membantahnya.

“Kalau asing
menguasai pasar kita,” kata saya, “berapa persen SBN rupiah yang bisa
diperdagangkan menurutmu mereka pegang?”

“Mungkin separuh.”

“Kenapa kamu
berpikir separuh?”

“Karena setiap
kali asing keluar, pasar kita langsung berantakan.”

Saya
menggeleng. “Pada masa
sebelum pandemi, kepemilikan asing memang pernah mendekati empat puluh persen.
Sekarang jauh lebih kecil.”

“Berapa?”

Saya mengambil
telepon, membuka data yang sebelumnya dikirim tim pasar Ale Capital, kemudian
memperlihatkan ringkasannya kepada Lina. “Berdasarkan
komposisi pada awal Agustus 2026, kepemilikan investor nonresiden hanya sekitar
dua belas sampai tiga belas persen dari SBN rupiah yang dapat diperdagangkan.
Bukan separuh.”

Lina menatap
saya sekilas. “Serius?”

“Sekitar
delapan puluh tujuh persen lebih dipegang oleh pihak domestik. Bank Indonesia
menguasai kurang lebih seperempat pasar. Perbankan sekitar enam belas persen.
Perusahaan asuransi dan dana pensiun sekitar delapan belas persen. Reksa dana
sekitar empat persen. Selebihnya dipegang institusi domestik lain, korporasi,
pemerintah daerah, lembaga, dan investor individu. Angkanya bergerak setiap
hari, tetapi strukturnya kurang lebih seperti itu.”

“Berarti BI
pemegang paling besar?”

“BI dan
kelompok investor domestik lain secara keseluruhan jauh lebih dominan daripada
asing.”

“Lalu kenapa
setiap kali asing keluar, rupiah dan obligasi langsung terguncang?”

“Karena harga
tidak ditentukan hanya oleh siapa yang memiliki stok paling banyak. Harga
marginal ditentukan oleh siapa yang sedang membeli atau menjual hari ini.”

Lina
mengerutkan dahi. “Jelaskan.”

“Bayangkan ada
seratus rumah di sebuah kompleks. Sembilan puluh rumah tidak dijual. Hanya dua
rumah yang sedang ditawarkan. Harga transaksi kedua rumah itulah yang menjadi
acuan nilai seluruh kompleks. Pasar obligasi juga begitu. Investor domestik
mungkin memegang sebagian besar SBN dan tidak menjualnya. Namun ketika investor
asing melepas beberapa puluh triliun dalam waktu singkat, sementara pembeli
meminta diskon, harga obligasi turun dan yield naik. Harga terakhir itu
kemudian menjadi referensi bagi semua pemegang.”

“Jadi asing
tetap berbahaya.”

“Bukan begitu
cara membacanya. Mereka berpengaruh, tetapi tidak mahakuasa.”

Saya menunjuk
layar telepon. “Rupiah hari
ini berada di sekitar Rp17.653 per dolar menurut JISDOR Bank Indonesia. Ketika
dolar menguat, yield Treasury Amerika naik, atau risiko global membesar, dana
portofolio akan mencari tempat yang dianggap lebih aman. Untuk menahan uang itu
di Indonesia, pasar meminta kompensasi lebih tinggi. Karena itu yield SBN
naik.”

“Bukankah itu
serangan?”

“Belum tentu.
Kadang itu hanya repricing.”

“Apa bedanya?”

“Serangan
mempunyai niat menjatuhkan. Repricing adalah perubahan harga karena risiko
dinilai berubah. Hasilnya bisa sama-sama menyakitkan, tetapi penyebabnya
berbeda. Kalau salah mendiagnosis penyebab, obatnya juga akan salah.”

Lina terdiam.
Kendaraan melambat karena lampu lalu lintas berubah merah.

“George Soros
pernah menjatuhkan pound sterling,” katanya. “Itu fakta.”

“Benar. Tahun
1992, Soros menjadi simbol kekuatan spekulasi setelah mengambil posisi besar
melawan pound. Ia membaca bahwa Inggris mempertahankan nilai tukar yang tidak
sesuai dengan kondisi fundamental dan batas sistem moneter Eropa ketika itu.”

“Nah, berarti
teori saya benar.”

Saya tertawa. “Mengetahui
bahwa hiu bisa menggigit tidak berarti setiap orang yang tenggelam dibunuh
hiu.”

Lina melirik
saya.

“Soros tidak
menciptakan seluruh kelemahan Inggris. Ia melihat ketidakkonsistenan kebijakan,
kemudian bertaruh bahwa pemerintah tidak sanggup mempertahankannya. Spekulan
bisa mempercepat krisis. Ia bisa memperbesar tekanan. Tetapi biasanya dia masuk
melalui pintu yang memang sudah retak.”

Lampu berubah
hijau. Mobil kembali bergerak.

“Pasar bukan
kumpulan malaikat,” saya melanjutkan. “Ada manipulasi, insider trading, rumor,
front-running, spoofing, dan berbagai permainan lain. Hedge fund juga bisa menyerang
posisi yang lemah secara berkelompok. Tetapi mereka tidak bisa menjatuhkan
negara yang neracanya sehat, cadangan devisanya kuat, produktivitasnya tumbuh,
kebijakannya dipercaya, dan kebutuhan pembiayaannya terkendali hanya dengan
beberapa transaksi.”

“Cadangan
devisa kita masih besar.”

“Benar. Pada
akhir Agustus 2026 sekitar 146,5 miliar dolar. Itu bantalan penting. Tetapi
cadangan devisa bukan uang yang boleh dibakar tanpa batas hanya untuk
mempertahankan angka kurs yang disukai pemerintah.”

“BI bisa
intervensi.”

“Bisa. BI dapat
masuk ke pasar spot, DNDF, NDF luar negeri, membeli SBN di pasar sekunder, atau
mengatur instrumen moneternya. Tetapi setiap intervensi mempunyai biaya dan
konsekuensi. Kalau BI membeli terlalu banyak SBN, likuiditas bertambah. Kalau
likuiditas tidak diserap kembali, tekanan terhadap inflasi dan kurs bisa
meningkat. Kalau suku bunga dinaikkan untuk menjaga rupiah, biaya kredit dalam
negeri ikut naik. Tidak ada tombol yang bisa ditekan tanpa menggerakkan bagian
lain.”

Lina mengetukkan
jarinya pada kemudi. “Bukankah
kepemilikan domestik membuat kita lebih aman?”

“Lebih tahan
terhadap pembalikan modal asing, iya. Tetapi tidak otomatis tanpa risiko.”

“Kenapa?”

“Karena pemilik
uang domestik juga punya kepentingan. Bank harus menjaga likuiditas dan
menyalurkan kredit. Asuransi harus mencocokkan aset dengan kewajibannya. Dana
pensiun harus membayar pensiunan. Manajer investasi harus memenuhi penarikan
dana nasabah. Mereka tidak mempunyai kewajiban membeli SBN pada harga berapa
pun hanya karena pemerintah membutuhkannya.”

“Bukankah SBN
aman?”

“Aman dari
gagal bayar nominal dalam mata uang sendiri tidak sama dengan aman dari
kerugian pasar. Kalau kamu membeli obligasi bertenor sepuluh tahun dengan kupon
tetap, lalu yield pasar naik, harga obligasimu turun. Kalau harus menjual
sebelum jatuh tempo, kamu bisa rugi.”

Saya berhenti
sejenak.

“Selain itu,
ada opportunity cost. Kalau bank terlalu banyak membeli SBN, dana yang tersedia
untuk kredit produktif bisa berkurang. Pemerintah memang memperoleh pembiayaan,
tetapi perusahaan swasta bisa menghadapi bunga lebih mahal. Itu disebut crowding out.”

“Jadi asing
salah, domestik juga bisa salah, BI pun terbatas. Lalu siapa yang seharusnya
membeli SBN?”

“Pertanyaan
yang benar bukan siapa yang harus dipaksa membeli. Pertanyaannya: pada yield
berapa risiko itu layak dibeli secara sukarela?”

Lina kehilangan
senyumnya.

“Kalau asing
hanya memegang sekitar dua belas atau tiga belas persen, tetapi yield tetap
naik,” kata saya, “pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang sedang menyerang
Indonesia.”

“Lalu apa?”

“Mengapa
pemilik uang di Indonesia sendiri meminta bunga semakin mahal untuk membiayai
pemerintahnya?”

Kabinnya
mendadak terasa sunyi. Hanya suara pendingin udara dan gesekan ban dengan aspal
yang terdengar.

“Karena mereka
serakah?” tanya Lina.

“Bisa saja. Tetapi
keserakahan bukan variabel yang cukup untuk membuat analisis. Investor meminta
yield lebih tinggi karena beberapa alasan: perkiraan inflasi, arah suku bunga
BI, tekanan rupiah, pasokan SBN baru, kebutuhan refinancing, likuiditas
perbankan, risiko fiskal, dan ketidakpastian kebijakan.”

“Refinancing
maksudnya membayar utang lama dengan utang baru?”

“Sebagian besar
negara melakukan itu. Ketika SBN jatuh tempo, pemerintah tidak selalu membayar
seluruhnya dari penerimaan pajak. Pemerintah menerbitkan surat utang baru untuk
menggantikan yang jatuh tempo. Itu normal selama pasar percaya, biaya bunga
terkendali, dan utang menghasilkan kapasitas ekonomi baru.”

“Kapan menjadi
tidak normal?”

“Ketika utang
baru semakin banyak digunakan untuk menutup belanja rutin, membayar bunga, atau
membiayai proyek yang tidak meningkatkan produktivitas. Ketika jatuh tempo
menumpuk dan investor meminta yield lebih tinggi. Ketika penerimaan negara tidak tumbuh secepat kewajiban. Ketika pasar mulai bertanya bukan apakah
pemerintah mau membayar, tetapi dengan harga ekonomi berapa pemerintah bisa
terus membayar.”

“Bukankah rasio
utang pemerintah kita masih sekitar empat puluh persen terhadap PDB?”

“Rasio itu
penting, tetapi tidak menceritakan semuanya. Negara dengan rasio utang lebih
tinggi bisa membayar bunga rendah karena basis pajaknya luas, mata uangnya
dipercaya, dan pasar keuangannya dalam. Sebaliknya, negara dengan rasio utang
lebih rendah bisa membayar bunga mahal karena penerimaan pajaknya lemah dan
investornya meminta premi risiko besar.”

Saya membuksa file 
telepon lagi.

“Yang harus
dilihat bukan satu angka, tetapi seluruh struktur: rasio pembayaran bunga
terhadap penerimaan, porsi utang valuta asing, profil jatuh tempo, kepemilikan
investor, kedalaman pasar, kebutuhan penerbitan baru, dan produktivitas dari
belanja yang dibiayai utang.”

“Bagaimana
dengan CDS?”

“CDS adalah
harga asuransi terhadap risiko gagal bayar. Ketika premi CDS naik, pasar sedang
meminta harga lebih mahal untuk menanggung risiko Indonesia. Itu tidak berarti negara
pasti gagal bayar. Namun itu menunjukkan persepsi risiko sedang meningkat.”

“Persepsi bisa
dimanipulasi.”

“Bisa. Tetapi
pemerintah tidak dapat mengendalikan kepercayaan hanya dengan konferensi pers.
Kepercayaan bukan slogan. Ia adalah hasil akumulasi dari konsistensi kebijakan,
kualitas data, disiplin anggaran, kepastian hukum, dan cara negara
memperlakukan investor.”

Lina menarik
napas panjang. “Tetapi asing
tetap bisa membuat kekacauan.”

“Bisa.”

“Nah.”

“Tetapi teori
konspirasi mempunyai satu kelemahan.”

“Apa?”

“Dia membuat
kita nyaman.”

“Kenapa teori
tentang serangan asing membuat kita nyaman?”

“Karena semua
kesalahan akhirnya menjadi milik orang lain.”

Lina terdiam.

“Kalau rupiah
jatuh karena Soros, kita tidak perlu bertanya tentang produktivitas. Kalau
yield naik karena Rothschild, kita tidak perlu membicarakan kredibilitas
fiskal. Kalau IHSG turun karena asing, kita tidak perlu memeriksa kualitas laba
perusahaan, transparansi pemegang saham, atau tipisnya free float. Kalau modal keluar karena konspirasi
global, pemerintah tidak perlu bertanya mengapa modal itu memilih pergi.”

“Jadi menurut
Bapak pasar selalu benar?”

“Tidak.”

Saya
menggeleng. “Pasar bisa
rakus, panik, manipulatif, dan irasional. Harga pasar tidak selalu mencerminkan
nilai sebenarnya. Kadang harga bergerak terlalu jauh hanya karena algoritma,
leverage, margin call, dan ketakutan. Tetapi pasar mempunyai satu kebiasaan
buruk.”

“Apa?”

“Dia meminta
dibayar lebih mahal ketika kepercayaan berkurang.”

Lina memandang
lurus ke depan. Barisan lampu kendaraan membentang seperti sungai merah.

“Pemerintah
bisa menyuruh bank-bank BUMN membeli SBN,” katanya.

“Bisa. Dana
pensiun dan asuransi juga dapat didorong menambah kepemilikannya. BI bisa
menyerap sebagian pasokan. Secara teknis, pasar dapat ditahan.”

“Berarti
masalah selesai.”

“Tidak. Risiko
hanya berpindah tempat.”

“Ke mana?”

“Ke neraca
bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, atau bank sentral. Kalau institusi
domestik dipaksa membeli pada yield yang tidak sesuai dengan risiko,
kerugiannya tidak hilang. Ia hanya disembunyikan dari layar pasar dan
dipindahkan ke dalam laporan keuangan.”

“Bukankah BI
bisa menciptakan rupiah?”

“Bisa. Tetapi
BI tidak bisa menciptakan kepercayaan dengan mesin pencetak uang. Rupiah dapat
diciptakan. Dolar tidak. Produktivitas tidak. Cadangan devisa tidak.
Kepercayaan juga tidak.”

Saya teringat
anak muda di minimarket tadi. Ia menggunakan pinjaman baru untuk menutup
pinjaman lama. Dalam skala kecil, semua orang mudah melihat bahwa cara itu
berbahaya. Namun ketika dilakukan dalam skala negara, istilahnya berubah
menjadi refinancing, operasi pasar, stabilisasi, atau koordinasi
fiskal-moneter. Istilah yang rumit kadang membuat persoalan sederhana terlihat
terhormat.

“Anak muda tadi
mempunyai penghasilan enam juta dan utang enam juta,” kata saya. “Masalahnya
belum besar. Tetapi kalau setiap bulan dia meminjam untuk menutup cicilan,
suatu hari seluruh pendapatannya habis hanya untuk membayar masa lalu.”

“Apa
hubungannya dengan SBN?”

“Negara juga
bisa mengalami hal serupa. Selama utang digunakan untuk membangun jalan yang
produktif, pelabuhan, pendidikan, teknologi, industri, atau kapasitas ekonomi
baru, utang menciptakan pendapatan masa depan. Tetapi jika utang hanya menjaga
konsumsi politik hari ini, generasi berikutnya menerima tagihan tanpa mewarisi
mesin untuk membayarnya.”

Lina menurunkan
kecepatan mobil. “Jadi
sebenarnya siapa musuh kita?”

Saya tidak
segera menjawab.

Lina bukan
anggota Team Shadow Ale Capital yang terlatih membaca korelasi pasar,
menghitung durasi obligasi, memantau pergerakan CDS, atau menguji ketahanan
neraca dalam berbagai skenario. Ia seorang operator bisnis. Tugasnya
menciptakan laba berdasarkan visi holding dan prosedur yang telah disusun.

Namun justru
karena itu, saya harus menjelaskannya dengan bahasa sederhana. “Kamu memang
direktur utama anak usaha Yuan Holding,” kata saya. “Kamu memahami manajemen
dan tahu cara menghasilkan keuntungan dari bisnis riil. Tetapi dalam dunia keuangan, kamu masih melihat permukaan. Itu bukan penghinaan. Setiap orang
mempunyai batas kompetensi.”

Lina tidak
menjawab.

“Musuh ekonomi
sebuah negara bukan selalu Soros, Rothschild, atau hedge fund di London dan New
York. Kadang musuh terbesarnya jauh lebih dekat dan jauh lebih membosankan.”

“Apa?”

“Defisit yang
terus dibiayai tanpa memperbesar produktivitas. Penerimaan negara yang tidak
tumbuh sebanding dengan belanja. Utang jatuh tempo yang harus diganti dengan
utang baru. Institusi yang kehilangan kredibilitas. Hukum yang bisa
dinegosiasikan. Kebijakan yang berubah mengikuti kepentingan politik. Dan
pemerintah yang selalu membutuhkan orang asing sebagai kambing hitam.”

Lina memegang
kemudi lebih erat. “Dunia sekarang
memang penuh konspirasi, Pak.”

“Konspirasi
selalu ada. Tetapi menjadikan konspirasi sebagai penjelasan untuk segala hal
adalah kemewahan orang yang tidak mau berpikir.”

“Keras sekali.”

“Karena
kenyataan memang keras.”

“Kenyataan
apa?”

“Tagihan.”

Saya menoleh ke
luar jendela. Gedung-gedung tinggi berdiri terang, seolah kota itu tidak
mempunyai masalah. Padahal di balik cahaya tersebut ada jutaan orang yang
bekerja untuk membayar cicilan, perusahaan yang bertahan dengan utang, bank
yang menjaga likuiditas, dan negara yang setiap tahun harus kembali ke pasar
untuk membiayai anggarannya.

“Tidak ada
makan siang gratis,” kata saya. “Setiap keputusan mempunyai biaya. Kalau
pemerintah ingin belanja lebih besar tanpa menambah pajak, ia harus berutang. Kalau
BI menahan yield dengan membeli SBN, likuiditas harus dikelola. Kalau suku
bunga dinaikkan untuk menjaga rupiah, dunia usaha membayar kredit lebih mahal.
Kalau kurs dibiarkan melemah, biaya impor dan utang valuta asing meningkat.
Kita hanya bisa memilih biaya mana yang sanggup ditanggung—bukan menghapus
biaya itu.”

“Lalu apa yang
harus dilakukan Indonesia?”

“Membangun
alasan agar uang tidak ingin pergi.”

“Caranya?”

“Naikkan
produktivitas. Perkuat industri yang menghasilkan devisa. Perluas basis pajak tanpa
mematikan usaha. Belanjakan utang untuk proyek yang menciptakan arus kas atau
kapasitas ekonomi. Jaga independensi lembaga. Pastikan data dapat dipercaya.
Hentikan proyek yang hanya hidup karena kebanggaan politik. Dan jangan meminta
pasar percaya kepada pidato ketika angka-angkanya mengatakan sebaliknya.”

“Sesederhana
itu?”

“Kalimatnya
sederhana. Pelaksanaannya membutuhkan keberanian politik.”

Kami kembali
terdiam.

Mobil memasuki
kawasan Sudirman. Cahaya gedung memantul pada permukaan jalan. Di layar dekat
kemudi, rupiah masih melemah, indeks saham tetap merah, dan yield obligasi
bergerak naik.

“Pak,” kata
Lina setelah beberapa saat, “jadi pasar bukan musuh?”

“Pasar bukan
teman dan bukan musuh. Pasar adalah cermin.”

“Cermin juga
bisa menipu.”

“Benar. Kadang
permukaannya retak. Kadang cahaya membuat bayangan terlihat lebih buruk. Tetapi
memecahkan cermin tidak akan memperbaiki wajah yang dipantulkannya.”

Lina tersenyum
tipis. “Sekarang saya
mengerti mengapa Bapak memberi uang kepada anak muda tadi.”

“Apa
hubungannya?”

“Bapak melunasi
utangnya, tetapi menyuruh dia mengubah cara hidup. BI dan investor domestik
mungkin bisa menahan pasar. Tetapi kalau negara tidak mengubah cara hidupnya,
masalah itu akan kembali.”

Saya
menatapnya, lalu tersenyum. “Ternyata kamu
tidak terlalu awam.”

Mobil terus
bergerak menembus malam Jakarta. Di belakang
kami, seorang anak muda mungkin sedang menghitung jalan keluar dari utangnya.
Di hadapan kami, sebuah negara sedang menghadapi persoalan yang sama—bagaimana
berhenti membayar masa lalu dengan mengorbankan masa depan. Bedanya, anak
muda itu sudah mengakui kesalahannya. Saya tidak tahu
apakah negara mempunyai keberanian yang sama.

Sebab pada
akhirnya, setiap kesalahan mempunyai tanggal jatuh tempo. Kita boleh
menyalahkan asing, pasar, spekulan, bankir, atau keadaan dunia. Kita boleh
mengganti istilah, menunda pengakuan, dan memindahkan risiko dari satu neraca
ke neraca lain. Namun tagihan
tetap akan datang. Dan kesalahan
terbesar bukan ketika suatu bangsa berutang. Kesalahan
terbesar adalah ketika ia menggunakan utang untuk menunda kenyataan—lalu
menyebut orang yang membawa tagihan sebagai musuh.

Harga yang Tidak Tercatat

Kami tiba di kantor perwakilan Yuan
Holding di Jakarta hampir pukul sembilan malam. Gedung itu masih terang, tetapi
sebagian besar karyawan sudah pulang. Hanya beberapa ruangan di lantai atas
yang lampunya menyala.

Dewi menunggu kami di depan ruang
rapat. Ia kepala kantor perwakilan Yuan di Jakarta. Usianya mendekati empat
puluh tahun. Penampilannya selalu rapi, bicaranya terukur, dan hampir tidak
pernah membawa persoalan pribadi ke dalam pekerjaan.

“Maaf menunggu, Pak,” katanya.

“Kami yang datang terlambat.”

Dewi mengangguk kepada Lina. Mereka
kemudian berjalan di depan saya menuju ruang rapat. Di atas meja telah tersedia beberapa
map, sebuah layar menampilkan laporan operasional, dan tiga cangkir kopi yang
masih mengepulkan uap. Kami membahas kinerja anak usaha, penyesuaian anggaran,
risiko pelemahan rupiah terhadap bahan baku impor, serta rencana ekspansi
distribusi ke beberapa kota.

Dewi menjelaskan semuanya tanpa membuka
catatan. Ia menguasai angka, mengetahui kelemahan setiap unit, dan bisa
menjawab pertanyaan Lina dengan cepat. Tidak ada yang ganjil sampai rapat
berakhir.

Lina pamit lebih dahulu untuk
menelepon timnya. Tinggallah saya dan Dewi di dalam ruangan.

Saya menutup map. “Ada lagi?”

Dewi tidak segera menjawab.
Tangannya merapikan kertas-kertas yang sebenarnya sudah rapi.

“Ada persoalan kantor?” tanya saya.

“Bukan, Pak.”

“Lalu?”

Ia menunduk. Beberapa saat kemudian,
terdengar tarikan napasnya.

“Perceraian saya sudah diputus
pengadilan minggu lalu.”

Saya terdiam.

Saya pernah mendengar rumah
tangganya bermasalah, tetapi tidak pernah menanyakannya. Bagi saya, persoalan
pribadi karyawan bukan wilayah yang boleh dimasuki hanya karena jabatan memberi
kita kekuasaan untuk bertanya.

“Saya ikut prihatin.”

Dewi tersenyum tipis. “Tidak perlu, Pak. Mungkin ini
memang jalan terbaik.”

Kalimat itu terdengar seperti
keputusan yang sudah diterima. Namun matanya mengatakan sesuatu yang berbeda. “Kalau memang jalan terbaik, mengapa
kamu terlihat seperti orang yang masih menunggu seseorang menghentikanmu?”

Pertahanan di wajahnya runtuh. Ia
memalingkan muka ke arah jendela. Di luar sana, cahaya Jakarta menyebar seperti
bintang-bintang yang jatuh ke bumi. “Dia tidak pernah ada untuk saya,”
katanya. “Sejak bisnisnya berkembang, hidupnya hanya kantor, pabrik, pelanggan,
dan perjalanan. Pulang larut malam. Kadang dua atau tiga hari tidak pulang
karena berada di luar kota. Kalau saya menelepon, jawabannya selalu sama:
sedang rapat.”

“Apakah dia berselingkuh?”

“Saya tidak tahu.”

“Apakah dia melakukan kekerasan?”

“Tidak.”

“Apakah dia tidak menafkahi
keluarga?”

Dewi menggeleng. “Semua kebutuhan rumah dipenuhi.
Bahkan berlebihan. Rumah, kendaraan, sekolah anak, kartu kredit, liburan. Dia
tidak pernah membatasi uang.”

“Lalu apa yang hilang?”

“Dia.”

Satu kata itu meluncur pelan, tetapi
terasa lebih berat daripada seluruh laporan keuangan yang baru saja kami bahas. “Rumah kami penuh barang, Pak,
tetapi kosong. Dia merasa tugasnya selesai setelah mengirim uang. Setiap kali
saya ingin bicara, dia lelah. Kalau saya mengeluh, dia berkata semua yang
dilakukannya untuk keluarga.”

“Apakah itu tidak benar?”

“Mungkin benar bagi dia.”

“Dan tidak benar bagi kamu?”

“Kalau memang semuanya untuk
keluarga, mengapa keluarga justru tidak pernah mendapat dirinya?”

Saya bersandar di kursi. Ada masa ketika saya berpikir bahwa
menjadi lelaki sebenarnya sederhana: bekerjalah, jangan meminta, bayar seluruh
kebutuhan rumah, lindungi keluarga, dan jangan membuat istri serta anak-anak
khawatir tentang hari esok.

Setelah usia bertambah, saya sadar
menjadi lelaki tidak sesederhana itu. Masyarakat jarang bertanya bagaimana
perasaan seorang lelaki. Mereka lebih dahulu bertanya apa yang sanggup ia deliver.

Ketika seorang lelaki menikah, uang
tidak lagi sepenuhnya menjadi uang. Ia berubah menjadi biaya sekolah, listrik,
makanan, rumah, kendaraan, dokter, liburan, dan rasa aman. Karena itulah saya
bisa memahami mengapa seorang lelaki yang gagal secara ekonomi perlahan
kehilangan kepercayaan dirinya—bahkan kadang kehilangan penghormatan di
rumahnya sendiri.

Bukan karena semua perempuan
materialistis. Bukan pula karena nilai seorang lelaki dapat dihitung dari saldo
rekeningnya. Namun perkawinan membawa tanggung jawab konkret. Cinta mungkin
abstrak, tetapi beras, sekolah, dan rumah sakit tidak pernah abstrak. Semuanya
mempunyai tagihan. Masalahnya, untuk memperoleh uang
itu seorang lelaki harus membayar dengan sesuatu yang juga mahal: waktu.

Di situlah ironi dimulai. Pagi-pagi ia meninggalkan rumah
karena merasa bertanggung jawab kepada keluarganya. Di luar rumah, pikirannya
dipenuhi pekerjaan yang harus diselesaikan dan bagaimana memastikan penghasilan
tetap datang. Telepon berdering. Rapat. Persoalan karyawan. Tagihan. Nasabah.
Bank. Pemasok. Pajak. Risiko. Besok pagi semuanya dimulai lagi.

Kadang keluarga baru muncul secara
utuh di dalam pikirannya setelah seluruh urusan itu selesai. Sayangnya, ketika
saat itu tiba, tubuhnya sudah lelah. Ia pulang membawa uang, tetapi tidak lagi membawa energi untuk berbicara. Istrinya menunggu cerita. Ia ingin
tidur. Istrinya ingin ditemani. Pikirannya
masih menyelesaikan persoalan kantor. Lalu suatu malam istrinya berkata,
“Papa sekarang tidak punya waktu untuk keluarga.” Kalimat itu terasa aneh baginya,
sebab justru karena keluarga itulah sebagian besar waktunya habis di luar
rumah.

Namun istrinya juga tidak sepenuhnya
salah. Cinta tidak selalu bisa dikirim
melalui transfer bank. Rumah yang bagus tidak bisa memeluk. Mobil tidak dapat
mendengarkan cerita. Perhiasan tidak bisa bertanya, “Hari ini kamu lelah?” ATM
yang selalu penuh juga tidak pernah bisa menggantikan seseorang yang duduk di
sebelah kita ketika kita sedang takut.

“Apakah kamu pernah mengatakan semua
ini kepada suamimu?” tanya saya.

“Sering.”

“Bagaimana kamu mengatakannya?”

Dewi menatap saya, tidak memahami
maksud pertanyaan itu. “Saya bilang dia egois. Saya bilang
dia lebih mencintai bisnis daripada keluarga. Saya bilang uang telah
mengubahnya.”

“Lalu apa jawabannya?”

“Dia marah. Katanya saya tidak tahu
betapa berat usahanya menjaga perusahaan tetap hidup.”

“Mungkin dia mendengar keluhanmu
sebagai tuduhan.”

“Tetapi saya hanya mengatakan apa
yang saya rasakan.”

“Benar. Namun perasaan yang
disampaikan dalam bentuk hukuman sering tidak terdengar sebagai permintaan
untuk dicintai.”

Dewi terdiam.

“Kamu sebenarnya ingin mengatakan,
‘Aku kesepian. Aku takut kehilanganmu. Aku membutuhkanmu.’ Tetapi yang keluar
justru, ‘Kamu egois. Kamu tidak peduli. Kamu lebih mencintai bisnis.’”

Matanya kembali berkaca-kaca. “Apakah itu membuat saya salah?”

“Tidak. Kamu hanya terluka. Orang
yang terluka jarang mempunyai kemewahan untuk memilih kata-kata paling
bijaksana.”

“Lalu dia?”

“Mungkin dia juga terluka.”

Dewi menggeleng. “Dia punya segalanya, Pak.”

“Belum tentu.”

Saya mengambil cangkir kopi yang
sudah dingin. “Seorang lelaki bisa mempunyai
perusahaan, uang, kendaraan, dan penghormatan dari banyak orang, tetapi tetap
hidup dalam ketakutan. Ia takut bisnisnya gagal. Takut tidak bisa membayar
gaji. Takut mengecewakan keluarga. Takut suatu hari anak dan istrinya
mengetahui bahwa dirinya tidak sekuat yang mereka bayangkan.”

“Dia tidak pernah mengatakan itu.”

“Karena banyak lelaki dididik untuk
menyelesaikan masalah, bukan membicarakan ketakutannya. Ketika tidak tahu cara
mengatakan ‘Aku takut gagal’, ia memilih bekerja lebih lama. Ketika tidak tahu
cara meminta dukungan, ia pulang semakin larut. Ia mengira kehadirannya dapat
digantikan oleh nafkah.”

“Bukankah itu tetap kesalahannya?”

“Tentu. Memahami alasan seseorang
bukan berarti membenarkan semua tindakannya.”

Saya menatap Dewi. “Tanggung jawab ekonomi tidak boleh
dijadikan alasan untuk mengabaikan keluarga. Namun kesepian juga tidak seharusnya
membuat kita menghapus seluruh pengorbanan seseorang. Dalam perkawinan, masalah
jarang lahir karena hanya satu orang berhenti mencintai. Kadang dua orang masih
saling mencintai, tetapi menggunakan bahasa yang tidak lagi dipahami satu sama
lain.”

Dewi mengusap sudut matanya. “Saya hanya ingin dia pulang lebih cepat.”

“Apakah kamu tahu mengapa dia tidak
bisa?”

“Karena bisnis.”

“Itu jawaban permukaan. Apakah
bisnisnya benar-benar membutuhkan dirinya setiap malam? Apakah ia tidak percaya
kepada bawahannya? Apakah perusahaan sedang kesulitan? Apakah ada utang yang
tidak kamu ketahui? Atau mungkin kantor telah menjadi tempat pelarian karena
setiap kali pulang ia merasa hanya akan disalahkan?”

Dewi tidak menjawab.

“Dalam bisnis, kamu tidak pernah
mengambil keputusan tanpa membaca seluruh laporan,” kata saya. “Mengapa dalam
perkawinan kamu berani mengambil keputusan terbesar hanya berdasarkan laporan
dari rasa sakitmu sendiri?”

Wajahnya berubah. “Jadi saya seharusnya tidak
bercerai?”

“Saya tidak mengatakan itu. Saya
juga tidak berhak menentukan apakah kamu harus bertahan atau berpisah. Saya
hanya meminta kamu memastikan bahwa keputusanmu lahir dari kejernihan, bukan
dari kelelahan.”

“Putusannya sudah keluar.”

“Putusan pengadilan mengakhiri
ikatan hukum. Ia belum tentu menyelesaikan apa yang tertinggal di dalam hati.”

Dewi menatap ke luar jendela. “Dia datang ke rumah dua malam
lalu,” katanya pelan.

“Untuk apa?”

“Bertemu anak-anak.”

“Dia bicara denganmu?”

“Hanya sebentar. Dia bertanya apakah
saya bahagia sekarang.”

“Kamu jawab apa?”

“Saya bilang itu bukan urusannya
lagi.”

“Padahal?”

Dewi menggigit bibir. “Saya tidak tahu.”

Saya mengangguk. Kalimat itu lebih
jujur daripada seluruh penjelasannya sejak tadi. “Kadang kita mengira perceraian akan
menghentikan rasa sakit,” kata saya. “Padahal perceraian hanya menghentikan
bentuk hubungan. Kenangan, penyesalan, kemarahan, dan pertanyaan yang belum
terjawab tetap tinggal.”

“Kalau Bapak berada di posisi saya,
apa yang Bapak lakukan?”

“Saya akan mengajaknya bicara sekali
lagi. Bukan untuk langsung kembali, bukan pula untuk mengulang pertengkaran.
Saya akan mendengarkan sesuatu yang mungkin selama perkawinan tidak pernah
benar-benar saya dengarkan.”

“Apa?”

“Versi hidup dari sudut pandangnya.”

Dewi menatap saya.

“Jangan tanyakan mengapa dia tidak
mencintaimu. Pertanyaan seperti itu sudah mengandung vonis. Tanyakan apa yang
selama ini ia takutkan. Tanyakan mengapa ia merasa harus terus bekerja. Tanyakan apakah bisnisnya memang sedang baik-baik saja. Kemudian ceritakan
kesepianmu tanpa mengubahnya menjadi terdakwa.”

“Kalau jawabannya tetap
menyakitkan?”

“Setidaknya kamu berpisah setelah
mengetahui kebenaran, bukan setelah memenangkan dugaan.”

Dewi terdiam cukup lama. Jam dinding
terdengar lebih jelas dalam ruangan yang sepi. “Menjadi istri pengusaha memang
sulit, ya, Pak?”

“Menjadi suami dari perempuan yang
mempunyai karier juga tidak selalu mudah.”

Ia tersenyum samar.

“Kamu kepala kantor perwakilan Yuan
di Jakarta,” saya melanjutkan. “Pekerjaanmu juga menyita waktu. Berapa kali
kamu pulang ketika anak-anak sudah tidur?”

Dewi tidak menjawab.

“Berapa kali suamimu ingin bicara,
tetapi kamu masih memeriksa laporan?”

“Saya tidak pernah menghitungnya.”

“Itulah persoalannya. Kita mencatat
kesalahan orang lain dengan sangat teliti, tetapi jarang membuat pembukuan atas
kesalahan sendiri.”

Air mata Dewi kembali jatuh. Kali
ini ia tidak segera mengusapnya.

“Saya pikir saya korban
satu-satunya.”

“Dalam perkawinan yang rusak, sering
kali semua orang merasa menjadi korban. Suami merasa pengorbanannya tidak
dihargai. Istri merasa cintanya diabaikan. Anak-anak tidak memahami mengapa dua
orang yang sama-sama mencintai mereka tidak lagi bisa hidup dalam rumah yang sama.”

“Apakah cinta saja cukup?”

“Tidak.” Saya menggeleng. “Cinta membutuhkan kemampuan.
Kemampuan mendengar, menjelaskan, meminta maaf, mengelola uang, membagi waktu,
menahan ego, dan mengakui ketakutan. Banyak perkawinan tidak hancur karena
tidak ada cinta. Ia hancur karena cinta tidak pernah dipelajari sebagai
keterampilan.”

Pintu ruangan terbuka. Lina muncul,
tetapi berhenti ketika melihat mata Dewi yang basah. “Maaf,” katanya. “Saya tunggu di
luar.”

Dewi mengangguk. Setelah pintu
tertutup kembali, ia menghela napas. “Saya akan menghubunginya.”

“Tidak perlu malam ini kalau hatimu
masih penuh. Tenangkan dirimu lebih dahulu.”

“Lalu saya harus mengatakan apa?”

“Katakan saja, ‘Aku tidak
menghubungimu untuk menyalahkan atau meminta kita kembali. Aku hanya ingin
mendengar apa yang dahulu gagal kita katakan.’”

“Kalau dia menolak?”

“Itu haknya. Niat baik tidak selalu
memperoleh jawaban yang kita inginkan. Namun kamu telah membersihkan bagianmu.”

Dewi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Wajahnya masih menyimpan kesedihan, tetapi tidak lagi sekeras ketika percakapan dimulai.

Saya berdiri dan mengambil tas.

“Pak,” katanya sebelum saya
melangkah.

Saya menoleh.

“Mengapa mencari uang selalu
mengambil begitu banyak hal dari kehidupan?”

“Karena uang tidak pernah datang
sendirian. Ia meminta waktu, tenaga, keberanian, bahkan kadang kesehatan.
Masalahnya bukan berapa banyak yang kita peroleh. Masalahnya apakah yang kita
korbankan untuk mendapatkannya masih sebanding.”

“Bagaimana kita tahu?”

“Lihat siapa yang tetap duduk
bersama kita ketika pekerjaan selesai dan jabatan sudah tidak ada.”

Saya berjalan menuju pintu, kemudian
berhenti. “Dewi.”

“Ya, Pak?”

“Kesuksesan tidak hanya mempunyai
laporan laba rugi. Ia juga mempunyai harga yang tidak tercatat. Kalau
perusahaan tumbuh, tetapi rumah tangga runtuh, kesehatan rusak, dan anak-anak
merasa asing kepada orang tuanya, jangan terlalu cepat menyebutnya keuntungan.”

Saya meninggalkan ruangan. Lina
menunggu di koridor. “Sudah selesai?” tanyanya.

“Belum.”

Lina melihat ke arah pintu ruang
rapat. “Masih ada masalah?”

“Masalah rumah tangga tidak pernah
selesai dalam satu rapat.”

Kami berjalan menuju lift. Sebelum
pintunya menutup, saya melihat Dewi masih duduk sendirian. Telepon berada di
tangannya. Ia membuka sebuah nama, menatapnya lama, tetapi belum menekan tombol
panggil.

Saya tidak tahu apakah percakapan
itu kelak akan menyatukan mereka kembali. Mungkin tidak. Tidak semua yang retak
harus dipaksa utuh. Ada hubungan yang memang harus berakhir agar dua orang
berhenti saling melukai.

Namun perpisahan pun seharusnya
dilakukan dengan kesadaran, bukan hanya kemarahan. Sebab tujuan terakhir dari
sebuah percakapan tidak selalu untuk kembali bersama. Kadang hanya agar dua
manusia akhirnya saling memahami sebelum berjalan ke arah yang berbeda.

Di dalam lift, saya teringat
pembicaraan dengan Lina selama perjalanan tadi. Negara berutang kepada masa
depan demi membayar kebutuhan hari ini. Lelaki menukar waktunya demi memberi
keluarganya rasa aman. Keduanya sering melakukan kesalahan yang sama: mengira
sesuatu yang hilang nanti masih bisa dibeli kembali. Padahal tidak semua tagihan dapat
dibayar dengan uang.

Ada anak yang sudah tumbuh sebelum
ayahnya sempat mengenalnya. Ada istri yang sudah terlalu lama kesepian sebelum suaminya sadar bahwa rumah membutuhkan kehadiran, bukan hanya penghasilan. Ada
suami yang menua dalam perjuangan sebelum keluarganya memahami ketakutan yang
tidak pernah sanggup ia ceritakan.

Uang yang hilang masih bisa dicari. Perusahaan yang jatuh kadang masih
dapat dibangun kembali. Namun waktu hanya datang sekali.
Setelah berlalu, ia tidak meninggalkan utang yang dapat dilunasi. Ia hanya
meninggalkan penyesalan.

Malam itu saya kembali menyadari
bahwa tugas seorang lelaki bukan hanya memastikan keluarganya tidak khawatir
tentang hari esok. Ia juga harus hadir agar keluarganya tidak merasa sendirian hari ini. Sebab nafkah membuat sebuah rumah
dapat berdiri. Namun hanya kehadiran yang
membuatnya layak disebut rumah.

Neraca Kehidupan

Ketika pintu lift terbuka di lantai dasar, saya dan Lina berjalan menuju lobi tanpa banyak bicara. Malam telah membawa kami melewati tiga bentuk persoalan yang tampaknya berbeda, tetapi sesungguhnya lahir dari kesalahan yang sama.

Anak muda di minimarket berutang karena ingin menikmati hari ini dengan penghasilan masa depan. Negara menerbitkan utang karena kebutuhan hari ini sering lebih besar daripada kemampuan yang tersedia. Suami Dewi menukar hampir seluruh waktunya demi membangun rasa aman yang kelak ingin dinikmati keluarganya.

Ketiganya sama-sama meminjam dari masa depan. Yang satu meminjam uang. Yang lain meminjam kepercayaan. Seorang suami meminjam waktu yang seharusnya menjadi milik istri dan anak-anaknya. Semua merasa akan mampu mengembalikannya kelak, ketika gaji naik, ekonomi membaik, perusahaan berhasil, atau kesibukan telah berkurang.

Namun masa depan bukan pemberi pinjaman yang selalu sabar. Ia datang membawa jatuh tempo. Utang anak muda itu masih dapat dilunasi dengan empat lembar uang seratus dolar. Utang negara masih dapat dikelola melalui pajak, pertumbuhan, disiplin anggaran, dan peningkatan produktivitas. Namun utang kepada keluarga tidak selalu mempunyai instrumen untuk membayarnya kembali. Masa kecil seorang anak tidak dapat diterbitkan ulang. Kesepian seorang istri tidak dapat dihapus dengan rumah yang lebih besar. Kelelahan seorang suami juga tidak sembuh hanya karena semua tagihan telah dibayar.

Di situlah manusia sering keliru membaca keberhasilan. Kita pandai menyusun neraca perusahaan, tetapi jarang memeriksa neraca kehidupan. Kita menghitung aset, laba, dan pertumbuhan, tetapi tidak mencatat kesehatan yang berkurang, percakapan yang tertunda, anak yang semakin jauh, atau pasangan yang terlalu lama menunggu. Padahal hidup pun memiliki aset dan kewajiban.

Uang adalah aset, tetapi cara memperolehnya dapat melahirkan kewajiban. Jabatan adalah aset, tetapi kesombongan yang menyertainya bisa menjadi utang. Kesibukan dapat menghasilkan kekayaan, tetapi juga dapat menciptakan kemiskinan di dalam rumah. Bahkan cinta, jika tidak dirawat dengan waktu dan keberanian untuk berbicara, perlahan berubah menjadi piutang yang tidak pernah tertagih.

Saya tidak menyesali uang yang saya berikan kepada anak muda itu. Empat lembar dolar tersebut mungkin tidak mengubah seluruh hidupnya, tetapi memberinya kesempatan untuk memulai kembali. Saya juga tidak tahu apakah penjelasan saya kepada Lina akan mengubah cara ia memandang ekonomi. Barangkali besok ia kembali menyalahkan asing ketika pasar jatuh. Saya pun tidak tahu apakah Dewi akhirnya menelepon mantan suaminya atau memilih menyimpan seluruh pertanyaannya.

Kita memang tidak selalu dapat menentukan hasil dari pertolongan. Kita hanya dapat memastikan bahwa kehadiran kita tidak menambah beban orang lain. Itulah pembelajaran malam itu. Menolong bukan berarti mengambil alih hidup seseorang. Menolong adalah membuka pintu, menunjukkan akibat dari pilihan, lalu membiarkannya berjalan dengan tanggung jawabnya sendiri. Mencintai juga bukan sekadar menyediakan semua kebutuhan. Mencintai adalah hadir cukup dekat agar orang yang kita sayangi tidak harus menderita sendirian.

Begitu pula dengan sebuah bangsa. Kedaulatan tidak lahir dari pidato yang menyalahkan dunia, melainkan dari keberanian memperbaiki kelemahan sendiri. Bangsa yang dewasa tidak sibuk mencari siapa yang harus dipersalahkan setiap kali tagihan datang. Ia memeriksa neracanya, mengakui kesalahannya, lalu mengubah cara hidupnya.

Sebelum memasuki mobil, saya menoleh ke gedung tempat Dewi masih berada. Di salah satu lantai, sebuah jendela tetap menyala. Mungkin ia sedang menelepon mantan suaminya. Mungkin juga hanya sedang mengumpulkan keberanian.

Saya tersenyum dan masuk ke kendaraan. Hidup tidak menuntut kita selalu berhasil. Hidup hanya meminta kita cukup jujur untuk mengakui kesalahan, cukup rendah hati untuk belajar, dan cukup berani untuk memulai kembali. Sebab tidak semua orang memperoleh kesempatan kedua. Namun ketika kesempatan itu datang—dalam bentuk empat lembar uang, sebuah percakapan di dalam mobil, atau telepon yang belum sempat dilakukan—jangan biarkan ia berlalu hanya karena kita terlalu bangga untuk berubah.

Pada akhirnya, kekayaan sejati bukanlah hidup tanpa tagihan. Kekayaan sejati adalah kemampuan membayar setiap tanggung jawab tanpa kehilangan diri sendiri, tanpa mengorbankan masa depan, dan tanpa membuat orang-orang yang kita cintai merasa hidup sendirian.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca