Kesadaran untuk pulang..

Jalan Pulang

Pertanyaan tentang pulang bermula ketika Dirman menemui Mbah Wiryo, guru spiritualnya, di sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Rumah itu berdiri di belakang kebun bambu, jauh dari suara kendaraan. Tidak ada papan nama, ruang khusus untuk menerima murid, ataupun rak penuh kitab yang dipamerkan kepada tamu. Hanya ada tikar pandan, teko tanah liat, dan jendela kayu yang menghadap ke pohon mangga tua.

Dirman biasa datang apabila pikirannya terlalu bising. Sore itu, Mbah Wiryo sedang menyapu daun-daun kering di halaman.

“Kamu kelihatan letih,” katanya tanpa menghentikan gerakan sapu.

“Pekerjaan sedang banyak, Mbah.”

“Kalau hanya badanmu yang lelah, tidur semalam akan menyembuhkannya. Tetapi wajahmu seperti orang yang sudah lama tidur dan tidak pernah benar-benar terbangun.”

Dirman tersenyum hambar. Ia mengambil sapu lidi lain dan membantu membersihkan halaman. Setelah selesai, mereka duduk di beranda. Mbah Wiryo menuangkan teh pahit ke dalam dua cangkir kecil. “Apa yang sedang kamu cari di kota?” tanyanya.

“Penghidupan.”

“Sudah kamu dapatkan?”

“Cukup. Saya punya pekerjaan, mobil, dan rumah kecil.”

“Lalu mengapa masih gelisah?”

Dirman tidak segera menjawab. Dari kejauhan terdengar azan magrib, terpecah oleh suara kereta yang melintas.

“Saya juga tidak tahu, Mbah. Setiap bulan saya menerima gaji. Cicilan rumah berkurang. Tabungan bertambah. Tetapi hidup saya seperti hanya memindahkan angka dari satu kolom ke kolom lain.”

Mbah Wiryo tersenyum. “Manusia sering mengira hidupnya menjadi besar ketika miliknya bertambah. Padahal, belum tentu dirinya ikut bertumbuh.”

“Apa salah mengejar keberhasilan?”

“Tidak. Uang, rumah, dan kedudukan bukan dosa. Semuanya diperlukan untuk menjaga kehidupan. Tetapi alat akan menjadi penjara apabila kita lupa untuk apa ia dikumpulkan.”

Dirman memandangi teh di dalam cangkirnya. “Lalu apa yang seharusnya dicari manusia?”

“Kesadaran.”

“Kesadaran tentang apa?”

“Bahwa hidup ini terbatas. Karena terbatas, setiap waktu yang kita gunakan sebenarnya adalah bagian dari diri kita yang tidak pernah bisa dikembalikan.”

Mbah Wiryo mengambil sehelai daun mangga yang jatuh ke lantai beranda. “Daun ini tidak bertanya berapa lama namanya akan dikenang. Ia tumbuh, memberi teduh, mengolah cahaya, kemudian jatuh dan menjadi humus. Hidupnya bermakna bukan karena ia abadi, melainkan karena keberadaannya menyempurnakan kehidupan yang lain.”

Dirman terdiam.

“Apakah manusia juga harus hidup untuk orang lain?”

“Bukan berarti kamu harus mengorbankan dirimu sampai tidak memiliki apa-apa. Hidup yang bermakna bukan hidup yang sengaja mencari penderitaan. Maknanya tumbuh ketika kemampuan, waktu, dan pengetahuanmu terhubung dengan sesuatu yang lebih luas daripada kepentinganmu sendiri.”

Mbah Wiryo menatapnya lekat-lekat. “Jika kamu pandai menjual, jangan hanya bertanya berapa komisi yang kamu peroleh. Tanyakan pula apa yang dapat kamu hubungkan. Jika kamu punya uang, jangan hanya bertanya apa yang bisa kamu beli. Tanyakan apa yang dapat kamu tumbuhkan. Jika kamu punya keberanian, jangan hanya menggunakannya untuk mengalahkan orang lain. Pakailah untuk memulai sesuatu yang belum berani dilakukan siapa pun.”

“Tetapi saya hanya lulusan SMA.”

“Pohon tidak pernah bertanya apakah orang yang menanamnya sarjana.”

Dirman tersenyum kecil.

Mbah Wiryo melanjutkan, “Pendidikan memberi manusia alat untuk berpikir. Tetapi kesadaran menentukan untuk apa pikiran itu digunakan. Banyak orang berpendidikan tinggi yang hidupnya hanya berputar di sekitar dirinya. Sebaliknya, ada orang sederhana yang keberadaannya menjadi jalan hidup bagi banyak orang.”

“Bagaimana kita tahu bahwa hidup kita sudah bermakna?”

“Kita tidak akan pernah benar-benar tahu. Makna bukan penghargaan yang diumumkan orang banyak. Ia hadir ketika sesuatu menjadi lebih baik karena kita pernah ada di sana—meskipun nama kita kemudian dilupakan.”

Malam turun perlahan. Lampu kecil di beranda dinyalakan. Serangga berputar-putar di sekeliling cahayanya.

Sebelum Dirman pulang, Mbah Wiryo berkata, “Jangan tergesa-gesa mengubah hidup hanya karena percakapan malam ini. Pulanglah. Dengarkan kegelisahanmu. Kalau ia hilang setelah kamu beristirahat, mungkin kamu hanya lelah. Tetapi kalau ia tetap tinggal, mungkin jiwamu sedang menunjukkan jalan.”

Selama beberapa hari berikutnya, kalimat itu terus mengikuti Dirman. Ia mendengarnya ketika mengemudi di tengah kemacetan. Ia mengingatnya ketika menawarkan barang kepada toko yang sudah penuh persediaan. Ia memikirkannya saat menghitung bonus penjualan di meja makan rumahnya yang sepi.

Lima tahun tinggal di kota membuat Dirman mengenal banyak jalan, tetapi tidak satu pun memberinya alasan untuk menetap.

Sebagai salesman produk industri, ia hampir setiap hari mengendarai mobil bak terbuka dari satu pabrik ke pabrik lain. Ia terbiasa menghadapi manajer pembelian yang cerewet, membaca kebutuhan pelanggan, menghitung margin, dan menjelaskan manfaat teknis barang yang ditawarkannya.

Pendapatannya cukup. Dengan ijazah SMA, ia telah memiliki mobil bekas dan rumah BTN kecil di pinggir kota. Hanya istri yang belum ada. Namun, sejak berbicara dengan Mbah Wiryo, semua yang dimilikinya terasa seperti jawaban atas pertanyaan yang tidak lagi ingin ia tanyakan.

Pada malam hari, ia membuka buku catatan dan menuliskan tiga kalimat: Apa yang sudah tumbuh karena aku pernah hidup? Siapa yang menjadi lebih kuat karena keberadaanku? Jika aku pergi besok, selain cicilan dan barang-barang, apa yang kutinggalkan? Tidak ada satu pun yang dapat ia jawab dengan jujur.

Pikirannya kemudian kembali kepada Karangjati, desa tempat ia dilahirkan. Ia teringat ibunya yang tinggal sendirian, kebun-kebun singkong di tanah kapur, dan anak-anak muda yang pergi karena desa tidak menyediakan masa depan. Untuk pertama kalinya, ia bertanya bukan tentang apa yang dapat diberikan kota kepadanya, melainkan apa yang dapat ia berikan kepada tempat asalnya.

Berhari-hari ia menimbang keputusan itu. Ia menghitung tabungan, nilai rumah, harga mobil, dan biaya hidup apabila usahanya kelak gagal. Ia tidak ingin pulang hanya dengan semangat. Niat baik tanpa perhitungan, menurutnya, dapat berubah menjadi beban bagi orang yang hendak ditolong. Setelah hampir sebulan, ia mengajukan pengunduran diri.

Harun, teman sekantornya, menganggapnya sedang kehilangan akal. “Mengapa harus pulang kampung?” tanyanya di sebuah warung kopi dekat terminal. “Kamu sudah lumayan berhasil. Punya rumah, punya kendaraan. Apa pulang mau mencari istri, atau bosan hidup di kota?”

Dirman mengaduk kopinya. Di luar, bus-bus mengembuskan asap hitam. Klakson bersahutan, seolah setiap orang sedang berlomba tiba lebih dahulu di tempat yang tidak benar-benar mereka rindukan. “Bukan soal uang,” katanya. “Di kota aku bekerja keras agar bisa makan dan minum. Di desa pun aku akan bekerja untuk hal yang sama.”

“Lantas apa bedanya?”

“Di kota, hasil kerja saya berhenti pada diri saya sendiri. Saya menjual lebih banyak supaya mendapat komisi lebih besar. Setelah itu saya membeli lebih banyak, lalu kembali bekerja untuk membayar apa yang sudah saya beli.”

“Itu namanya kehidupan.”

“Itu penghidupan,” jawab Dirman. “Belum tentu kehidupan.”

Harun mengernyit.

Dirman memandang kendaraan yang berjejal di jalan. “Dengan pendidikan terbatas, aku mungkin tidak akan pernah menjadi siapa-siapa di kota. Tetapi setidaknya sekali dalam hidup, aku ingin melakukan sesuatu yang membuat keberadaanku berguna bagi orang lain.”

Harun tertawa kecil. “Makna hidup tidak bisa membayar cicilan.”

“Benar. Karena itu rumah dan mobil akan kujual.”

Kali ini Harun berhenti tertawa. “Kamu serius?”

Dirman mengangguk. “Saya tidak membenci kota. Kota sudah mengajari saya berdagang, memahami pasar, dan menghadapi berbagai watak manusia. Tetapi mungkin semua itu bukan tujuan akhir. Mungkin kota hanya sekolah yang mempersiapkan saya untuk pulang.”

Beberapa minggu kemudian, Dirman kembali ke Karangjati membawa dua koper pakaian, buku-buku pemasaran, tabungan hasil penjualan rumah dan mobil, serta sebuah gagasan yang belum sepenuhnya berbentuk. Ibunya menyambut di beranda rumah kayu dengan mata berkaca-kaca. Perempuan tua itu tidak banyak bertanya. Ia hanya memegang kedua tangan anaknya, seolah ingin memastikan bahwa kepulangan itu bukan mimpi.

Tiga kakak Dirman telah lama tinggal di kota. Mereka hanya pulang menjelang Lebaran. Bagi ibunya, kepulangan Dirman bukan kegagalan, melainkan jawaban atas doa yang tidak pernah diucapkan keras-keras. Namun, bagi sebagian penduduk Karangjati, Dirman tetaplah seorang salesman yang kalah bersaing di kota. Mereka belum tahu bahwa kadang-kadang seseorang harus meninggalkan tempat yang menganggapnya berhasil agar dapat menemukan tempat yang benar-benar membutuhkannya.

Singkong yang Selalu Murah

Desa Karangjati berada di perbukitan kapur yang hanya tampak hijau beberapa bulan setelah musim hujan. Tanahnya keras, lapisan humusnya tipis, dan air sumur baru ditemukan setelah orang menggali belasan meter. Padi hanya dapat ditanam di beberapa petak sawah dekat sungai. Di lahan yang lebih tinggi, penduduk mengandalkan jagung dan singkong. Kedua tanaman itu tidak menjanjikan kekayaan, tetapi cukup tangguh menghadapi tanah miskin unsur hara dan kemarau yang panjang.

Hampir setiap keluarga memiliki kebun singkong. Namun, ketika musim panen tiba, truk-truk tengkulak datang membawa timbangan sendiri dan harga yang sudah ditentukan dari kota. Petani tidak memiliki banyak pilihan. Singkong segar tidak tahan disimpan lama. Setelah dicabut, mutunya cepat menurun. Jika tidak segera dijual atau diolah, umbinya mulai berubah warna, membusuk, dan kadar pati yang dapat diperoleh ikut berkurang. Karena itu, semakin banyak petani panen bersamaan, semakin mudah tengkulak menekan harga.

“Tanah milik kita, bibit kita beli sendiri, pupuk kita tanggung, dan kita yang bekerja hampir setahun,” keluh Pak Samin, salah seorang petani. “Tetapi orang yang datang satu hari membawa timbangan justru menentukan berapa nilai kerja kita.”

Dirman mendengar keluhan serupa hampir setiap hari. Ia tidak langsung menawarkan jalan keluar. Selama dua bulan pertama, ia berkeliling dari kebun ke kebun, mencatat luas lahan, umur tanaman, hasil rata-rata setiap hektare, biaya angkut, harga di tingkat petani, serta potongan yang dikenakan tengkulak. Kebiasaan mencatat itu berasal dari pekerjaannya di kota.

Dirman bukan salesman barang kebutuhan rumah tangga biasa. Selama lima tahun, ia beberapa kali berpindah perusahaan dan menjual produk industri yang berbeda-beda. Ia pernah menawarkan bahan perekat untuk pabrik karton, peralatan pencuci untuk industri makanan, pompa air, mesin pengering, hingga bahan tambahan untuk produk kemasan. Setiap berpindah produk, ia harus mempelajari semuanya dari awal. Ia membaca lembar spesifikasi, menghafal kapasitas mesin, memahami konsumsi listrik, mempelajari karakter bahan baku, dan mendengarkan keluhan operator pabrik. Ia tahu bahwa pelanggan industri tidak dapat diyakinkan hanya dengan keramahan.

Seorang manajer produksi akan bertanya tentang kapasitas per jam. Bagian keuangan akan menghitung biaya per unit. Teknisi akan bertanya tentang suhu kerja, perawatan, dan ketersediaan suku cadang. Pemilik perusahaan hanya ingin mengetahui kapan modalnya kembali. Karena itulah Dirman terbiasa menguasai product knowledge sebelum menawarkan sesuatu.

“Kalau kita tidak memahami barang yang kita jual,” pernah dikatakan atasannya, “kita bukan salesman. Kita hanya orang yang membawa brosur.”

Dirman membawa kebiasaan itu pulang ke Karangjati. Bedanya, kali ini ia tidak sedang berusaha menjual produk perusahaan kepada orang lain. Ia sedang mencari produk yang dapat dibuat oleh desanya sendiri. Ia mengumpulkan contoh singkong dari beberapa kebun, memarutnya, lalu mengendapkan air perasannya dalam ember.

Keesokan harinya, di dasar ember terbentuk lapisan putih. “Itulah pati,” katanya kepada ibunya. “Selama ini kita menjualnya bersama tanah, kulit, dan air dengan harga umbi mentah.”

Pada minggu berikutnya, Dirman pergi ke kota kabupaten. Ia mengunjungi pabrik karton, distributor kemasan makanan, rumah makan, toko bibit tanaman, dan pasar induk buah. Ia tidak menawarkan barang karena Karangjati belum mempunyai produk. Ia hanya bertanya. Berapa banyak piring dan mangkuk sekali pakai yang mereka gunakan? Produk seperti apa yang paling dibutuhkan? Berapa harga yang bersedia mereka bayar? Apakah mereka mau mencoba kemasan dari bahan tumbuhan? Seberapa penting ketahanan terhadap minyak dan air?

Jawabannya tidak selalu menggembirakan. Produk berbasis pati lebih mahal daripada plastik tipis. Pati juga mudah menyerap kelembapan. Piring yang hanya terbuat dari pati dapat menjadi rapuh ketika terlalu kering dan lembek jika terlalu lama terkena air.

Namun, Dirman menemukan peluang. Beberapa rumah makan dan usaha katering mulai mencari piring serta mangkuk yang lebih ramah lingkungan. Pedagang buah membutuhkan tatakan. Pembibitan membutuhkan pot semai yang dapat ditanam langsung bersama bibitnya. Pabrik keramik membutuhkan pelindung barang di dalam kardus. Karangjati tidak harus menggantikan semua jenis plastik. Mereka hanya perlu membuat produk yang tepat untuk kegunaan yang tepat.

Dirman lalu meminta Kepala Desa Sastro mengundang perangkat desa, ketua kelompok tani, tokoh agama, pemuda, dan beberapa perempuan pengelola rumah tangga ke balai desa. Pertemuan dilaksanakan setelah salat Isya. Hujan baru saja turun. Udara membawa bau tanah basah, sementara air masih menetes dari ujung genting balai desa. Bangku-bangku kayu disusun menghadap sebuah meja panjang.

Di atas meja itu, Dirman meletakkan beberapa umbi singkong, sebungkus pati, piring plastik, karton bekas, dan sebuah mangkuk berwarna kecokelatan yang dibelinya dari kota. Orang-orang memandang benda-benda itu dengan rasa ingin tahu.

Kepala Desa Sastro membuka pertemuan. “Kalian sudah tahu Dirman pulang dari kota. Dia mengatakan punya gagasan untuk singkong kita. Saya sendiri belum tahu apakah gagasan itu bisa dijalankan. Karena itu, malam ini kita dengarkan bersama-sama.”

Dirman berdiri. Ia tidak langsung menjelaskan teknologi. Ia mengangkat satu umbi singkong yang masih berlumur tanah. “Menurut Bapak dan Ibu, siapa yang menentukan harga singkong ini?”

“Tengkulak,” jawab seseorang.

“Pasar,” sahut yang lain.

“Benar. Mengapa kita tidak ikut menentukan?”

“Karena kita butuh uang,” kata Pak Samin. “Kalau tidak dijual hari itu, singkong bisa rusak.”

Dirman mengangguk. “Itulah persoalan kita. Bukan karena petani malas. Bukan pula karena tanah ini tidak menghasilkan apa-apa. Kita miskin karena menjual barang pada saat posisi tawar kita paling lemah.”

Ia mengambil sebungkus pati dan meletakkannya di samping singkong. “Di dalam umbi ini ada pati. Pati dapat digunakan untuk makanan, perekat, kertas, tekstil, bahkan bahan dasar kemasan. Tetapi kita tidak menjual pati. Kita menjual umbi segar yang sebagian besar beratnya berasal dari air.”

Kemudian ia mengangkat mangkuk kecokelatan. “Benda ini dibuat dari bahan tumbuhan. Pati berfungsi sebagai pengikat, sedangkan serat tanaman memberi bentuk dan kekuatan. Dalam jangka panjang, dengan formulasi dan proses yang benar, singkong kita dapat menjadi bagian dari piring, mangkuk, tatakan buah, pot bibit, dan pelindung barang.”

Beberapa orang saling berpandangan.

“Memangnya kita bisa membuat itu?” tanya Kepala Dusun.

“Kita belum bisa,” jawab Dirman.

Jawaban itu mengundang suara gaduh kecil.

“Kalau belum bisa, untuk apa kita berkumpul?” celetuk seseorang.

“Karena belum bisa berbeda dengan tidak mungkin.”

Dirman membuka beberapa gambar mesin sederhana yang dibawanya. Ada bak pencuci, mesin parut, saringan, bak pengendapan, pengering, mesin pencampur, dan alat pres panas.

“Kita tidak akan langsung membuat barang jadi atau membangun pabrik besar. Tahap pertama adalah memisahkan pati dan serat dari singkong. Umbi dicuci, dikupas, lalu diparut menjadi bubur. Bubur dicampur air dan disaring; patinya diendapkan, sedangkan seratnya dibersihkan untuk diuji sebagai bahan penguat.”

Ia menunjuk gambar berikutnya. “Pati kemudian dicampur dengan serat dari ampas singkong, batang jagung yang dihaluskan, atau kertas bersih yang sudah dijadikan bubur. Campuran diberi air, dipanaskan, lalu dimasukkan ke cetakan. Tekanan dan panas akan mengurangi kadar air sekaligus membentuknya menjadi piring atau mangkuk.”

“Apakah bisa dipakai untuk makanan berkuah?” tanya seorang perempuan pemilik warung.

“Produk awal kita belum tentu mampu,” jawab Dirman. “Pati mudah menyerap air. Kita harus melakukan percobaan untuk mendapatkan komposisi, ketebalan, suhu pengepresan, dan waktu pengeringan yang tepat. Karena itu, kita mulai dari piring makanan kering, tatakan buah, atau pot bibit. Jangan menjanjikan sesuatu yang belum bisa kita buktikan.”

“Katanya bisa didaur ulang?” tanya Ketua Pemuda.

“Limbah bersih dari proses produksi dapat dihancurkan, dibasahi, dan dicampurkan kembali dalam jumlah tertentu sebagai bahan produksi. Tetapi produk yang sudah terkena sisa makanan tidak tepat dicampur kembali karena persoalan kebersihan.”

Dirman mengangkat piring plastik yang ada di meja. “Keunggulan produk kita bukan karena dapat didaur ulang seperti logam. Keunggulannya karena sebagian besar berasal dari bahan terbarukan dan dapat dirancang agar lebih mudah terurai dalam kondisi pengomposan yang sesuai. Tetapi kita tidak boleh sembarangan menyebutnya ramah lingkungan sebelum menguji bahan tambahan yang digunakan dan cara produk itu terurai.”

Sikap hati-hati Dirman membuat ruangan kembali tenang. Ia tidak datang menjual mimpi. Ia menjelaskan peluang sekaligus batasnya.

“Berapa modalnya?” tanya Bendahara Desa.

Dirman menunjukkan perhitungan awal. Mesin parut dapat dibuat oleh bengkel di kecamatan. Bak pengendapan bisa dibangun dari pasangan bata berlapis keramik. Pengering tenaga surya dapat digunakan pada tahap awal, meskipun kelak dibutuhkan pengering mekanis agar kadar air lebih konsisten. Mesin pres panas menjadi investasi terbesar. “Saya akan memakai sebagian uang hasil penjualan rumah dan kendaraan sebagai modal awal,” kata Dirman.

Orang-orang menatapnya.

Kepala Desa Sastro menyandarkan tubuh ke kursi. “Mengapa kamu berani menghabiskan hasil kerjamu di kota untuk usaha yang belum tentu berhasil?”

Dirman diam sejenak sebelum menjawab.

“Karena saya tidak pulang untuk menjadi orang paling kaya di Karangjati.”

“Lalu untuk apa?”

“Saya pulang karena desa ini tidak kekurangan orang rajin. Desa ini kekurangan cara untuk mengubah kerja keras menjadi nilai tambah.”

Ia berjalan ke depan meja dan kembali mengangkat umbi singkong. “Selama kita menjual ini sendirian, kita akan selalu lemah. Seorang petani hanya punya beberapa ton singkong dan harus segera menjualnya. Tengkulak dapat memilih dari puluhan desa. Tetapi jika kita berhimpun, menentukan standar mutu, mengatur waktu panen, dan mengolah hasil bersama, kita tidak lagi menjual karena terdesak.”

Dirman memandang satu demi satu wajah di hadapannya. “Saya tidak menjanjikan semua orang akan langsung kaya. Beberapa percobaan pasti gagal. Ada piring yang retak, ada mangkuk yang lembek, mungkin ada pesanan yang dikembalikan. Namun kegagalan produksi masih dapat diperbaiki. Yang sulit diperbaiki adalah keyakinan bahwa kita memang ditakdirkan menjual murah selamanya.”

Tidak ada yang menyela.

“Di kota saya belajar satu hal,” lanjutnya. “Nilai sebuah produk tidak ditentukan hanya oleh bahan bakunya. Nilai lahir dari pengetahuan, mutu, ketepatan waktu, desain, dan kepercayaan pembeli. Singkong kita tidak murah karena tidak berguna. Singkong kita murah karena selama ini kita berhenti mengolahnya terlalu awal.”

Pak Samin mengangkat tangan. “Kalau usaha ini milikmu, nanti kami hanya berpindah dari bergantung kepada tengkulak menjadi bergantung kepadamu.”

Dirman tersenyum. Ia justru menunggu pertanyaan itu. “Karena itu pabrik ini tidak boleh menjadi milik saya.”

“Milik siapa?”

“Milik petani.”

Dirman mengusulkan pembentukan koperasi. Setiap anggota menyetor simpanan pokok dalam jumlah yang terjangkau. Mereka yang tidak mempunyai uang dapat mencicil dari hasil penjualan singkong. Desa dapat menyertakan penggunaan bangunan kosong sebagai bagian modal, sedangkan uang Dirman dicatat sebagai pinjaman pendiri, bukan alasan untuk menguasai koperasi.

Petani tetap dibayar ketika menyerahkan singkong. Jika koperasi memperoleh laba setelah membayar biaya bahan baku, upah pekerja, listrik, perawatan mesin, cicilan, dan dana cadangan, sisanya dibagikan menurut aturan koperasi—bukan menurut kedekatan dengan kepala desa.

“Harga singkong harus diumumkan terbuka,” kata Dirman. “Timbangannya diperiksa bersama. Pengurus tidak boleh menentukan harga diam-diam. Pembelian harus berdasarkan berat dan mutu. Laporan keuangan dibacakan kepada anggota.”

“Siapa yang akan mengurusnya?” tanya seorang tokoh masyarakat.

“Kita pilih orang yang mampu. Bukan hanya orang yang dituakan.”

Kalimat itu membuat beberapa aparat desa saling memandang, tetapi Kepala Desa Sastro justru tersenyum.

“Kalau kita ingin mengubah nasib,” katanya, “kita juga harus berani mengubah kebiasaan.”

Menjelang tengah malam, hujan kembali turun. Suaranya menghantam atap seng dan membuat orang-orang harus berbicara lebih keras.

Malam itu mereka belum memiliki mesin, pembeli, ataupun pekerja terlatih. Mereka hanya memiliki singkong, tenaga, sedikit modal, dan keberanian yang baru tumbuh. Namun sebelum pertemuan dibubarkan, tiga puluh tujuh petani membubuhkan tanda tangan atau cap jempol pada daftar calon anggota. Mereka sepakat menamai perkumpulan itu Koperasi Tani Karangjati Lestari.

Ketika semua orang pulang, Kepala Desa Sastro menemukan Dirman masih berdiri di depan meja, memandangi umbi singkong yang belum dibereskan. “Kamu berhasil meyakinkan mereka,” katanya.

Dirman menggeleng.

“Saya hanya membuat mereka melihat bahwa yang selama ini dianggap murah sebenarnya belum selesai dikerjakan.”

Di luar balai desa, air hujan mengalir membawa tanah merah ke selokan. Di kejauhan, kebun-kebun singkong tenggelam dalam kegelapan. Untuk pertama kalinya, penduduk Karangjati tidak lagi memandang tanaman itu semata-mata sebagai makanan orang miskin. Mereka mulai melihatnya sebagai bahan baku, sebagai pengetahuan, dan sebagai kemungkinan untuk menentukan masa depan dengan tangan mereka sendiri.

Koperasi yang Lahir dari Keraguan

Dirman berkenalan dengan Hayati ketika perempuan itu datang ke balai desa membawa buku catatan hasil rapat yang telah disalin ulang dengan tulisan tangan rapi.

“Ini daftar tiga puluh tujuh calon anggota koperasi,” kata Hayati. “Saya pisahkan antara pemilik lahan, penggarap, dan petani yang selama ini menyewa kebun.”

Dirman menerima buku itu. Di setiap nama tercantum luas lahan, perkiraan usia tanaman, waktu panen, dan nomor rumah. “Siapa yang menyuruhmu membuat ini?”

“Tidak ada.”

“Lalu mengapa kamu kerjakan?”

Hayati mengangkat bahu. “Daftar yang dibuat malam itu sulit dibaca. Beberapa nama ditulis dua kali. Ada juga cap jempol tanpa alamat. Kalau dijadikan dasar pembentukan koperasi, nanti kita sendiri yang bingung menentukan siapa anggotanya.”

Dirman menatap perempuan itu lebih lama. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya tidak banyak dihiasi bedak. Ia mengenakan blus sederhana dan rambutnya diikat ke belakang. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang sejak tadi memegang ujung bajunya.

“Namamu Hayati?”

Perempuan itu mengangguk.

“Saya pernah mendengar namamu. Kamu tinggal di kota bersama suamimu.”

“Dulu.”

Hayati tidak menjelaskan lebih jauh. Namun, di desa, kehidupan seseorang jarang menjadi rahasia untuk waktu yang lama. Hayati pernah kuliah di sebuah sekolah tinggi ekonomi di kota kabupaten. Ia hanya bertahan tiga semester. Ketika berusia dua puluh tahun, ia memilih menikah dengan lelaki yang dianggapnya akan membawanya kepada kehidupan yang lebih baik. Ia mengikuti suaminya ke kota dan berhenti kuliah. Setelah melahirkan seorang anak, perkawinan itu mulai retak. Suaminya sering pulang larut, kehilangan pekerjaan, lalu menyalahkan Hayati atas setiap kesulitan mereka. Pertengkaran berubah menjadi penghinaan. Penghinaan kemudian berubah menjadi kekerasan.

Setelah tujuh tahun bertahan, Hayati pulang ke Karangjati bersama anaknya. Ia membawa dua koper pakaian, ijazah SMA, transkrip kuliah yang tidak selesai, dan pengalaman tiga tahun bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah pabrik genteng. Di pabrik itu Hayati pernah mengurus pencatatan bahan baku tanah liat, upah borongan, biaya bahan bakar tungku, faktur penjualan, persediaan barang jadi, serta tagihan pelanggan. Ia bukan akuntan, tetapi memahami bahwa usaha dapat mati bukan hanya karena tidak mempunyai pembeli. Usaha juga bisa mati karena tidak tahu ke mana uangnya pergi.

“Siapa yang mengajarimu menyusun data seperti ini?” tanya Dirman.

“Saya pernah bekerja di bagian pembukuan pabrik genteng.”

“Bisa membuat laporan kas?”

“Bisa.”

“Persediaan?”

“Bisa, asalkan barang masuk dan keluar dicatat.”

“Perhitungan biaya produksi?”

Hayati berpikir sejenak. “Tergantung proses produksinya. Kalau saya tahu bahan baku, tenaga kerja, energi, penyusutan mesin, dan jumlah produk yang dihasilkan, seharusnya bisa dihitung.”

Dirman menutup buku itu.

“Koperasi membutuhkan sekretaris. Kamu bersedia?”

Hayati terkejut. “Saya bukan petani.”

“Koperasi tidak hanya memerlukan orang yang bisa menanam singkong. Kita membutuhkan orang yang mampu menjaga dokumen dan membuat angka berbicara jujur.”

“Orang desa mungkin tidak setuju.”

“Karena kamu perempuan?”

“Karena saya janda.”

Dirman memahami maksudnya. Di Karangjati, perceraian seorang lelaki sering dianggap sebagai kegagalan rumah tangga. Namun perceraian seorang perempuan dapat berubah menjadi identitas yang melekat ke mana pun ia pergi.

“Kita akan bicarakan dalam rapat anggota,” kata Dirman. “Kalau mereka menolak karena kemampuanmu tidak cukup, saya bisa menerima. Tetapi kalau mereka menolak hanya karena statusmu, berarti koperasi ini sudah berlaku tidak adil sebelum memiliki satu rupiah pun.”

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke desa, Hayati tersenyum tanpa terlihat sedang meminta maaf atas hidupnya.

Rapat yang Tidak Pernah Sederhana

Mendirikan koperasi ternyata jauh lebih sulit daripada membangkitkan semangat dalam satu malam. Pada rapat kedua, jumlah orang yang hadir lebih banyak, tetapi dukungan justru mulai terpecah. Sebagian petani bersedia bergabung asalkan tidak diminta menyetor uang. Sebagian lagi ingin koperasi langsung membeli singkong mereka dengan harga tinggi, padahal koperasi belum memiliki modal kerja. Ada yang menganggap seluruh mesin seharusnya dibeli menggunakan dana desa. Ada pula yang meminta jabatan pengurus karena merasa keluarganya paling berpengaruh di Karangjati.

“Kalau ini koperasi milik petani, mengapa masih harus ada simpanan pokok?” tanya Pak Samin.

“Justru karena milik anggota, setiap anggota harus memiliki bagian tanggung jawab,” jawab Dirman. “Jumlahnya tidak perlu besar. Yang penting bukan nilainya, tetapi kesediaan kita ikut menanggung risiko.”

“Kalau usahanya rugi?”

“Kita kehilangan sebagian modal. Karena itu semua rencana harus diperiksa bersama.”

“Kalau untung?”

“Setelah biaya dan kewajiban dibayar, sisanya menjadi sisa hasil usaha. Pembagiannya disepakati dalam aturan koperasi berdasarkan partisipasi anggota, bukan dibagi sama rata tanpa melihat siapa yang aktif memasok atau bertransaksi.”

Seorang tokoh dusun mengangkat tangan. “Saya mengusulkan anak saya menjadi bendahara. Dia pernah bekerja di toko bangunan.”

“Silakan diusulkan,” kata Dirman. “Tetapi harus dipilih oleh anggota.”

“Mengapa harus repot memilih? Kita semua sudah tahu keluarganya.”

Hayati, yang duduk di sisi meja sambil mencatat, menundukkan wajah. Dirman melihat jemarinya berhenti bergerak.

“Karena koperasi bukan warisan keluarga,” jawab Dirman. “Jabatan pengurus bukan hadiah bagi orang yang paling dikenal. Itu amanah untuk menjaga uang orang banyak.”

Suasana berubah tegang.

Pada rapat berikutnya, persoalan lain muncul. Pemilik lahan ingin hak suara lebih besar karena memasok singkong lebih banyak. Petani penggarap menolak karena mereka yang melakukan sebagian besar pekerjaan. Beberapa orang mengusulkan agar jumlah suara ditentukan berdasarkan besarnya modal.

Dirman berdiri di depan papan tulis. “Kalau suara ditentukan oleh luas tanah atau banyaknya uang, koperasi ini lambat laun akan dikuasai beberapa orang,” katanya. “Koperasi bukan perseroan yang kekuasaannya mengikuti jumlah saham. Setiap anggota memiliki satu suara. Besarnya transaksi diperhitungkan ketika membagi hasil usaha, tetapi keputusan bersama tidak boleh dibeli oleh orang yang paling kaya.”

Pak Samin memandangnya curiga. “Uangmu paling besar dalam usaha ini. Apakah suaramu juga hanya satu?”

“Ya.”

“Kalau begitu, kamu bisa kehilangan kendali atas uangmu sendiri.”

“Itulah sebabnya uang saya tidak boleh dianggap sebagai alasan untuk mengendalikan koperasi.”

Dirman menawarkan sebagian dananya sebagai pinjaman pendiri dengan perjanjian tertulis, jadwal pengembalian, serta bunga rendah yang disetujui anggota. Sebagian lain ia masukkan sebagai simpanan sesuai ketentuan yang berlaku bagi anggota lain. Ia tidak ingin kebaikannya berubah menjadi utang budi yang kelak memberinya kekuasaan tanpa batas.

Setelah empat kali rapat, mereka akhirnya menyepakati struktur awal. Pak Samin dipilih sebagai pengawas bersama dua tokoh masyarakat, sedangkan Kepala Desa Sastro tetap menjadi fasilitator tanpa masuk ke dalam pengelolaan. Dirman dipercaya menjadi ketua pengurus sekaligus menjalankan fungsi manajer untuk sementara, karena koperasi belum mampu menggaji tenaga profesional.

Hayati dipilih sebagai sekretaris. Keputusan itu tidak diterima semua orang dengan mudah. “Apa tidak ada perempuan lain?” bisik seseorang cukup keras untuk terdengar. “Mengapa harus janda?”

Hayati menunduk. Namun sebelum Dirman menjawab, Pak Samin yang biasanya paling keras mengkritik justru angkat bicara. “Kita sedang mencari orang untuk menulis laporan, bukan mencari menantu,” katanya. “Kalau ada yang lebih mampu, silakan maju.”

Tidak seorang pun maju.

Seorang pemuda bernama Rojali dipilih sebagai bendahara. Sebelum keputusan ditetapkan, Hayati meminta agar tugas mereka ditulis dengan jelas. “Sekretaris menyimpan dokumen dan mencatat keputusan,” katanya. “Bendahara mengelola penerimaan dan pengeluaran. Ketua tidak boleh mengambil uang sendiri lalu meminta kami mencatatnya belakangan.”

Orang-orang memandang Dirman. “Saya setuju,” katanya.

“Setiap pengeluaran di atas batas tertentu harus mendapat persetujuan pengurus,” lanjut Hayati. “Uang tunai tidak boleh terlalu banyak disimpan di rumah bendahara. Persediaan singkong, pati basah, pati kering, dan produk antara harus dicatat terpisah.”

“Kita bahkan belum punya barang,” kata Rojali.

“Karena itu aturannya dibuat sekarang,” jawab Hayati. “Kalau menunggu barang dan uang datang, kita akan terlalu sibuk untuk belajar tertib.”

Dirman tersenyum. Ia semakin yakin bahwa koperasi telah memilih orang yang tepat.

Dari Kesepakatan Menjadi Badan Hukum

Nama Koperasi Tani Karangjati Lestari telah disepakati, tetapi nama saja belum memberikan legitimasi. Hayati menyusun berita acara rapat pendirian. Ia mencatat identitas para pendiri, susunan pengurus dan pengawas, jenis usaha, sumber modal awal, serta hasil keputusan mengenai simpanan anggota. Mereka kemudian membahas anggaran dasar pasal demi pasal. Perdebatan berlangsung hingga beberapa malam.

Apa tujuan koperasi? Siapa yang dapat menjadi anggota? Bagaimana seseorang berhenti atau diberhentikan? Bagaimana pengurus dipilih? Siapa yang berhak menandatangani kontrak? Bagaimana sisa hasil usaha dibagikan? Apa yang terjadi apabila koperasi merugi atau dibubarkan?

Sebagian anggota menganggap pembahasan itu terlalu rumit. “Kita hanya mau mengolah singkong,” keluh seorang petani. “Mengapa harus membicarakan pembubaran sebelum berdiri?”

“Karena aturan tidak dibuat hanya ketika semua orang masih saling percaya,” jawab Hayati. “Aturan diperlukan ketika suatu hari kepentingan kita mulai berbeda.”

Dirman menambahkan, “Hari ini kita semua duduk sebagai tetangga. Besok, ketika uang mulai masuk, kita akan duduk sebagai orang yang mempunyai hak dan kepentingan. Niat baik harus dilindungi dengan tata kelola yang baik.”

Setelah rancangan selesai, Dirman, Hayati, dan beberapa perwakilan anggota pergi ke kota kabupaten menemui notaris. Mereka berangkat sebelum matahari terbit menggunakan mobil sewaan. Sebagian petani mengenakan kemeja terbaik yang biasanya hanya dipakai pada hari raya.

Notaris membaca berita acara dan memeriksa dokumen mereka. Beberapa bagian harus diperbaiki. Nama koperasi perlu diperiksa ketersediaannya. Alamat kedudukan harus dipastikan. Kegiatan usaha harus dirumuskan lebih jelas. Identitas pendiri tidak boleh berbeda antara kartu tanda penduduk dan daftar hadir.

Mereka pulang membawa map penuh catatan.

“Jadi belum selesai?” tanya Pak Samin kecewa.

“Belum,” jawab Hayati. “Salah satu nama pendiri berbeda satu huruf. Ada alamat yang belum lengkap. Kita juga harus memperjelas apakah koperasi hanya membeli hasil panen atau ikut mengolah dan memasarkannya.”

“Cuma salah satu huruf saja dipersoalkan?”

“Kalau menyangkut dokumen hukum, satu huruf dapat berarti orang yang berbeda.”

Selama dua minggu berikutnya, Hayati mendatangi rumah anggota satu per satu. Ia memeriksa identitas, memperbaiki daftar hadir, meminta tanda tangan, dan menjelaskan kembali isi anggaran dasar kepada mereka yang belum memahami.

Setelah dokumen lengkap, akta pendirian ditandatangani di hadapan notaris. Permohonan pengesahan badan hukum kemudian diajukan melalui sistem administrasi badan hukum. Sesudah pengesahan diperoleh, koperasi mengurus identitas perpajakan, rekening atas nama koperasi, serta perizinan dasar untuk menjalankan kegiatan usahanya.

Dirman melarang penggunaan rekening pribadinya untuk menerima pembayaran pembeli. “Lebih cepat kalau pembeli mentransfer ke rekeningmu,” kata Rojali.

“Lebih cepat bukan berarti lebih benar,” jawab Dirman. “Sekali uang koperasi bercampur dengan uang pribadi, kita akan sulit membuktikan mana milik anggota dan mana milik pengurus.”

Ketika akta dan surat pengesahan akhirnya dibawa ke balai desa, para anggota bertepuk tangan. Namun Dirman tidak ikut larut terlalu lama dalam kegembiraan. “Sekarang kita baru sah berdiri,” katanya. “Belum berarti kita mempunyai usaha.”

Mencari Pasar Sebelum Membeli Mesin

Beberapa anggota mendesak agar mesin segera dibeli. Mereka telah melihat katalog mesin parut, pengering, dan pencetak wadah yang dibawa Dirman. Bagi mereka, bunyi mesin akan menjadi bukti bahwa koperasi benar-benar bekerja. Dirman menolak. “Kita belum tahu siapa yang akan membeli produk kita.”

“Kalau barangnya belum ada, bagaimana orang mau membeli?” tanya Rojali.

“Kita bisa membuat sampel melalui mitra. Jangan menghabiskan modal untuk mesin sebelum spesifikasi produknya disetujui pasar.”

Pengalamannya sebagai salesman industri mengajarkan bahwa mesin dapat berubah menjadi besi tua apabila produk yang dihasilkan tidak mempunyai pembeli. Banyak pengusaha terlalu bersemangat membangun pabrik, lalu baru mencari pasar setelah cicilan mulai jatuh tempo. Dirman tidak ingin Karangjati mengulangi kesalahan itu.

Ia pergi ke kota selama berminggu-minggu. Ia mendatangi pabrik kemasan telur, distributor buah, perusahaan pengolahan pati, produsen kemasan ramah lingkungan, serta pergudangan yang memerlukan pelindung barang. Penolakan datang berkali-kali. Satu pabrik menolak karena volume singkong Karangjati dianggap terlalu kecil. Perusahaan lain meminta kadar pati yang konsisten, sedangkan koperasi belum memiliki laboratorium. Produsen bioplastik mengatakan mereka tidak membeli umbi, melainkan pati kering dengan batas kadar air dan kontaminasi tertentu.

Seorang manajer pembelian bahkan tertawa ketika Dirman menjelaskan bahwa ia mewakili koperasi desa. “Kalian mau langsung membuat bioplastik?”

“Belum,” jawab Dirman.

“Lalu apa yang kalian jual?”

“Bahan antara yang sesuai dengan kebutuhan mesin Anda.” Jawaban itu membuat manajer tersebut berhenti tertawa.

Dirman tidak memaksa koperasi langsung menghasilkan piring, mangkuk, atau lembaran bioplastik jadi. Teknologi pembentukan produk akhir membutuhkan cetakan presisi, pengendalian panas, formulasi, pengujian migrasi untuk kontak pangan, dan standar mutu yang belum dikuasai desa. Ia memilih memasuki rantai produksi dari tahapan yang lebih realistis.

Untuk produsen baki telur dan tatakan buah, koperasi menawarkan pati sebagai bahan pengikat serta serat bersih dari ampas singkong dan batang jagung yang telah dicacah. Untuk perusahaan bioplastik, koperasi menawarkan pati kering dengan spesifikasi kadar air, kebersihan, ukuran partikel, dan viskositas yang disepakati. Nilai tambahnya memang belum sebesar produk akhir. Namun jauh lebih tinggi daripada menjual umbi mentah.

Setelah hampir dua bulan, sebuah perusahaan kemasan bernama Surya Molded Fiber bersedia bekerja sama. Perusahaan itu memproduksi baki telur, tatakan buah, dan pelindung kemasan dari bubur kertas serta serat tanaman. Mereka tidak langsung memberikan pesanan besar. Mereka meminta sampel pati dan serat untuk diuji. Batch pertama ditolak karena warna patinya terlalu kusam. Batch kedua mengandung terlalu banyak serat kasar. Batch ketiga memiliki kadar air yang tidak seragam. Dirman membawa hasil evaluasi pulang. Bersama para petani, ia memperbaiki proses pencucian, mengganti kain saring, menambah bak pengendapan, dan membuat ruang pengeringan tertutup agar pati tidak terkena debu.

Hayati mencatat setiap percobaan: berat singkong masuk, jumlah pati basah, hasil pati kering, penggunaan air, jam kerja, biaya listrik, serta bahan yang ditolak.

“Untuk apa yang gagal juga dicatat?” tanya seorang pekerja.

“Karena kegagalan yang tidak dicatat akan diulangi,” jawab Hayati.

Pada pengujian keempat, sampel mereka diterima. Surya Molded Fiber bersedia membeli pati dan serat dalam jumlah tertentu setiap bulan. Perusahaan itu juga setuju memberikan spesifikasi teknis dan membantu melatih pekerja koperasi mengendalikan mutu bahan.

Beberapa minggu kemudian, Dirman memperoleh mitra kedua: perusahaan peracik material bioplastik yang membutuhkan pati singkong sebagai salah satu bahan baku. Perusahaan itu akan melakukan proses lanjutan—mencampur pati dengan plasticizer dan polimer biodegradable lain, lalu mengolahnya menggunakan ekstruder menjadi pelet bioplastik. Koperasi belum mampu melakukan tahap tersebut. Namun mereka kini memahami ke mana produk mereka bergerak setelah meninggalkan desa.

“Kita masih menjual bahan antara,” kata Pak Samin.

“Benar,” jawab Dirman. “Tetapi sekarang kita menjual pati sesuai spesifikasi industri, bukan umbi yang dihargai sesuka tengkulak. Setelah mutu dan modal kita kuat, kita bisa masuk ke tahap berikutnya.”

Dirman menandatangani kontrak pasokan atas nama koperasi, bukan atas nama pribadi. Harga, standar mutu, volume minimum, jadwal pengiriman, cara pemeriksaan barang, serta batas waktu pembayaran dicantumkan dengan jelas. Hanya setelah ada pembeli dan kontrak itulah koperasi membeli peralatan produksi.

Panen yang Berubah Makna

Bekas kandang sapi milik desa diubah menjadi tempat pengolahan. Atapnya diperbaiki. Lantainya dibuat miring menuju saluran air agar mudah dibersihkan. Area penerimaan singkong dipisahkan dari ruang pengeringan pati. Umbi dicuci, dikupas, dan diparut. Bubur singkong disaring untuk memisahkan serat. Cairan putih ditampung agar patinya mengendap. Endapan kemudian dikurangi kadar airnya, dikeringkan, digiling, dan diayak. Setiap karung diberi kode produksi.

Hayati membuat kartu persediaan untuk mengetahui dari kelompok tani mana singkong berasal, kapan diproses, berapa hasil patinya, dan kepada pembeli mana produk dikirim. Ia juga membuat tiga buku yang tidak boleh dicampur: buku pembelian singkong, buku biaya pengolahan, dan buku penjualan produk.

Pada bulan-bulan pertama, masalah datang hampir setiap hari. Pompa air rusak. Pati berubah warna karena singkong terlambat diproses. Hujan membuat pengeringan lambat. Beberapa anggota mencoba mencampurkan umbi busuk ke dalam hasil panen. Ada pekerja yang mengambil serat tanpa mencatat karena menganggapnya limbah.

Dirman tidak langsung menghukum. Ia menjelaskan bahwa koperasi tidak dapat membayar harga tinggi jika anggota mengirim bahan baku buruk. “Koperasi bukan tempat kita saling memaklumi kesalahan,” katanya dalam rapat. “Koperasi adalah tempat kita membangun disiplin agar hasil kerja bersama dipercaya pasar.”

Hayati membuat standar penerimaan sederhana. Singkong dipisahkan menurut kesegaran dan kebersihannya. Umbi yang terlalu lama disimpan atau membusuk ditolak. Timbangan ditempatkan di tempat terbuka agar pemasok dapat melihat hasilnya. Secara perlahan, mutu membaik.

Truk pertama yang membawa pati dan serat dari Karangjati berangkat pada suatu pagi yang cerah. Hampir seluruh anggota koperasi berdiri di pinggir jalan. Mereka melambaikan tangan seolah sedang melepas anak pergi merantau. Hayati berdiri di depan kantor kecil koperasi sambil memegang surat jalan. “Jumlah karungnya sudah cocok?” tanya Dirman.

“Delapan puluh karung pati dan dua puluh bal serat. Semua kode produksi sudah dicatat.”

“Fakturnya?”

“Sudah dikirim.”

“Kalau begitu, sekarang kita menunggu apakah pembeli akan menerima mutunya.”

Kegembiraan hari itu belum sepenuhnya menghapus kecemasan. Namun tiga hari kemudian, Surya Molded Fiber mengirimkan kabar bahwa barang diterima tanpa potongan mutu. Untuk pertama kalinya, hasil kebun Karangjati masuk ke kota bukan sebagai singkong mentah, melainkan sebagai bahan industri dengan nama koperasi tercetak pada setiap karung.

Tahun Pertama Kemakmuran

Setahun kemudian, halaman koperasi tidak pernah benar-benar sepi. Sebelum matahari terbit, gerobak dan sepeda motor pengangkut singkong mulai berdatangan. Para pekerja menurunkan umbi, membersihkan tanah yang melekat, lalu membawanya ke tempat penimbangan. Pasokan dari Karangjati tidak lagi mencukupi. Koperasi mulai membeli singkong dari tiga desa tetangga.

Dirman menetapkan harga sedikit lebih tinggi daripada tengkulak karena koperasi memperoleh margin tambahan dari pengolahan pati dan serat. Tengkulak mencoba melawan dengan menaikkan harga sesaat. Namun petani telah belajar bahwa harga tinggi selama dua minggu tidak selalu lebih baik daripada kepastian pembelian sepanjang tahun.

Anggota koperasi mendapatkan dua manfaat. Mereka menerima pembayaran ketika menjual singkong, lalu memperoleh bagian dari sisa hasil usaha sesuai ketentuan dan partisipasi mereka setelah tahun buku ditutup. Pada rapat anggota tahunan pertama, balai desa dipenuhi orang. Hayati berdiri di depan papan tulis membacakan laporan keuangan.

Ia menjelaskan jumlah singkong yang dibeli, rendemen pati, nilai penjualan, biaya tenaga kerja, listrik, transportasi, perawatan mesin, cicilan pinjaman, dana cadangan, dan sisa hasil usaha. Beberapa petani tidak memahami semua istilah itu. Namun mereka memahami ketika Hayati mengatakan bahwa koperasi tidak mempunyai tunggakan kepada pemasok dan seluruh penjualan telah masuk ke rekening koperasi.

Pak Samin menerima bagian hasil usahanya dalam sebuah amplop cokelat. Ia menghitung uang itu dua kali, kemudian tertawa. “Selama hidup, baru kali ini singkong yang sudah saya jual kembali membawa uang pulang.”

Istrinya menggunakan hasil tersebut untuk mengganti atap rumah yang bocor. Petani lain membeli sepeda untuk anaknya pergi ke sekolah. Ada yang melunasi utang pupuk. Ada pula yang menyimpan uangnya sebagai tambahan modal koperasi.

Malam setelah pembagian hasil usaha, halaman balai desa berubah menjadi tempat perayaan. Perempuan-perempuan membawa nasi, sayur lodeh, ikan asin, dan singkong kukus. Anak-anak berlarian di antara meja. Musik dari pengeras suara tua terdengar pecah, tetapi tidak seorang pun mempersoalkannya. Orang-orang yang dahulu selalu menunduk ketika tengkulak menyebut harga, kini membicarakan kualitas bibit, jadwal panen, kadar pati, dan rencana menambah mesin pengering. Mereka bukan sekadar merasa memperoleh uang lebih banyak. Mereka mulai merasa memiliki masa depan.

Berita tentang perubahan Karangjati sampai ke kota. Surat kabar lokal menulis tentang desa miskin yang mengolah singkong menjadi bahan kemasan. Pejabat kabupaten datang melihat tempat produksi. Beberapa perguruan tinggi menawarkan pendampingan untuk memperbaiki proses pengeringan dan mengembangkan produk akhir.

Namun perubahan paling nyata tidak datang bersama wartawan atau pejabat. Ia datang melalui bus-bus sore yang berhenti di mulut desa. Satu per satu anak muda Karangjati pulang dari kota. Ada yang pernah menjadi operator mesin, sopir, teknisi bengkel, pekerja gudang, tenaga pemasaran, dan buruh pabrik makanan. Mereka datang bukan karena kota telah kehilangan daya tarik, melainkan karena desa akhirnya memberi ruang bagi kemampuan mereka.

Seorang pemuda yang pernah bekerja di bengkel memperbaiki mesin parut. Mantan operator pabrik membantu menyusun jadwal perawatan. Anak muda yang pernah bekerja di gudang menata sistem penyimpanan. Seorang lulusan sekolah kejuruan mulai membuat gambar cetakan piring dan mangkuk yang kelak ingin diproduksi sendiri oleh koperasi.

Pada suatu sore, Dirman dan Hayati berdiri di depan tempat pengolahan. Truk dari desa tetangga sedang mengantre untuk ditimbang. Suara mesin bercampur dengan tawa para pekerja yang baru menyelesaikan giliran kerja. “Dulu orang pergi karena di sini tidak ada pekerjaan,” kata Hayati. “Sekarang mereka pulang membawa pengetahuan dari kota.”

Dirman mengangguk. “Desa tidak harus menolak kota,” katanya. “Kita hanya perlu memastikan bahwa orang yang pergi belajar mempunyai alasan untuk kembali.”

Hayati memandang papan nama koperasi yang tergantung di atas pintu. Catnya masih baru, tetapi salah satu sudutnya mulai kusam terkena hujan. “Apakah ini sudah seperti yang kamu bayangkan?”

“Belum.”

“Masih kurang?”

“Selama koperasi ini hanya bisa berjalan karena saya ada di sini, berarti kita belum berhasil.”

Hayati menoleh kepadanya. “Lalu kapan kita disebut berhasil?”

“Ketika pengurus dapat berganti, manajer dapat diganti, dan orang-orang tetap bekerja berdasarkan sistem. Lembaga yang sehat tidak bergantung pada siapa yang paling dipuji.”

Hayati tersenyum. “Kalau begitu, tugas kita masih panjang.”

Matahari turun di balik perbukitan kapur. Cahayanya menyentuh hamparan kebun singkong, atap-atap rumah, dan debu yang beterbangan di halaman koperasi.

Karangjati belum menjadi desa kaya. Namun petaninya tidak lagi sepenuhnya menyerahkan nasib kepada tengkulak. Mereka telah belajar bahwa nilai tambah tidak hanya lahir dari mesin. Nilai tambah tumbuh dari pengetahuan, kedisiplinan, pasar yang dipastikan, pembukuan yang jujur, dan keberanian untuk bekerja sebagai satu lembaga.

Singkong mereka masih tumbuh di tanah yang sama. Yang berubah adalah cara mereka memandangnya. Dan tanpa disadari Dirman, di tengah pertumbuhan koperasi itu, kedekatannya dengan Hayati mulai diperhatikan orang-orang—bukan sebagai kerja sama antara dua manusia yang saling menghormati kemampuan masing-masing, melainkan sebagai cerita lain yang perlahan dibentuk oleh prasangka.

Ketika Moral Menjadi Senjata

Empat tahun berlalu. Koperasi Tani Karangjati Lestari kini memiliki dua bangunan produksi, ruang pengeringan tertutup, gudang, dan laboratorium sederhana. Setelah lama memasok pati serta serat, koperasi mulai membuat sendiri tatakan telur, pelindung buah, pot semai, dan piring untuk makanan kering. Nilai tambah itu memperkuat penghasilan petani dan membuat semakin banyak anak muda memilih tinggal atau pulang ke Karangjati. Orang-orang menyebut perubahan itu sebagai keberhasilan Dirman.

Dirman selalu membantah. “Kalau hanya saya yang bekerja, koperasi ini tidak akan bertahan satu bulan,” katanya. “Yang mengubah desa adalah petani yang mau menjaga mutu, pekerja yang mau disiplin, dan anggota yang bersedia belajar mengelola milik bersama.”

Namun manusia menyukai satu nama untuk mewakili pekerjaan banyak orang. Lebih mudah membangun cerita tentang seorang pahlawan daripada memahami bagaimana sebuah sistem bekerja.

Karena itulah, ketika masa pemilihan kepala desa tiba, nama Dirman mempunyai nilai politik yang jauh lebih mahal daripada yang disadarinya.

Dukungan yang Diperebutkan

Kepala Desa Sastro telah menjabat selama satu periode. Usianya mendekati enam puluh tahun, bicaranya tidak pandai memukau orang, dan penampilannya sederhana. Namun ia berjasa menyediakan bekas kandang sapi sebagai tempat produksi pertama koperasi dan tidak pernah mencampuri pengelolaan uang anggotanya. Kedekatannya dengan Dirman diketahui seluruh desa.

Lawan terkuat Sastro adalah Haji Marzuki, seorang juragan hasil bumi sekaligus tokoh agama. Ia memiliki beberapa truk, penggilingan jagung, toko pupuk, serta puluhan hektare kebun yang dikelola para penggarap. Setiap Jumat, Haji Marzuki duduk di barisan paling depan masjid. Ia sering menjadi penyumbang terbesar dalam pembangunan rumah ibadah, perayaan hari besar agama, dan santunan anak yatim. Di sampingnya selalu ada Ustaz Hamdan, guru agama yang ceramahnya disukai banyak orang. Suaranya tenang, pilihan katanya halus, dan ia pandai membuat persoalan politik terdengar seperti perjuangan membela iman.

Suatu sore, Haji Marzuki datang ke kantor koperasi bersama Ustaz Hamdan dan beberapa tokoh dusun. Hayati menyuguhkan teh, kemudian kembali ke ruang administrasi. “Kami datang bukan untuk urusan jual beli,” kata Haji Marzuki.

Dirman menutup laporan produksi yang sedang dibacanya. “Lalu untuk urusan apa?”

“Pemilihan kepala desa.”

“Saya tidak mengurus politik.”

Haji Marzuki tertawa. “Kamu boleh berkata begitu, tetapi orang mengikuti ucapanmu. Kalau kamu berdiri di panggung kami satu kali saja, sebagian besar anggota koperasi akan tahu siapa yang harus dipilih.”

“Saya tidak bisa melakukannya.”

“Mengapa?”

“Koperasi terdiri dari orang yang berbeda pilihan. Kalau saya menggunakan jabatan untuk mengarahkan suara mereka, berarti saya memperlakukan anggota sebagai milik saya.”

Ustaz Hamdan tersenyum tipis. “Kami tidak meminta kamu memaksa siapa pun. Hanya menyampaikan bahwa pemimpin yang baik harus mempunyai pegangan agama.”

“Semua orang boleh menilai calon berdasarkan keyakinannya,” jawab Dirman. “Tetapi koperasi tidak dibangun untuk menjadi kendaraan calon kepala desa.”

Haji Marzuki menyandarkan punggungnya. “Jangan lupa, para petani itu dahulu bekerja kepada para pedagang. Sekarang mereka mengikuti kamu.”

“Mereka tidak mengikuti saya. Mereka menjadi anggota lembaga yang mereka miliki sendiri.”

“Jangan terlalu rendah hati, Dirman. Kerendahan hati yang berlebihan juga bisa menjadi kesombongan.”

Dirman mengenali cara bicara seorang pedagang yang sedang mengubah penolakan menjadi rasa bersalah. “Saya tetap tidak bisa berkampanye.”

Ustaz Hamdan memandangnya lekat-lekat. “Kalau kamu tidak mendukung perubahan, orang akan menganggapmu mendukung petahana.”

“Itu penilaian mereka.”

“Pak Sastro memang dekat denganmu.”

“Dia dekat dengan koperasi karena membantu sejak awal. Kedekatan itu tidak memberi saya hak menentukan pilihan anggota.”

Pertemuan berakhir tanpa kesepakatan. Sebelum pergi, Haji Marzuki berdiri di depan pintu. “Dalam politik, tidak memilih pihak juga merupakan pilihan, Man.”

Dirman menjawab tenang, “Kalau begitu, saya memilih agar koperasi tidak menjadi milik politik.”

Bahasa Darah dan Iman

Sejak hari itu, suasana Karangjati berubah. Pemilihan kepala desa tidak lagi dibicarakan sebagai persaingan program. Ia berubah menjadi pertarungan identitas. Tim Haji Marzuki mendatangi rumah-rumah dengan membawa bahasa yang mudah diterima orang. Mereka tidak menjelaskan rencana anggaran desa atau cara memperbaiki irigasi. Mereka berbicara tentang asal-usul, agama, dan harga diri kelompok.

“Desa ini harus dipimpin putra asli yang memahami adat dan iman masyarakat.”

Padahal kedua calon sama-sama lahir di Karangjati.

“Jangan biarkan desa dikuasai kelompok yang merasa paling berjasa karena mempunyai koperasi.”

Padahal koperasi dimiliki ratusan anggota.

“Pilih pemimpin yang berani membela umat, bukan orang yang hanya pandai menghitung keuntungan.”

Padahal sebagian besar kemakmuran desa lahir dari keberanian petani menghitung biaya dan nilai tambah.

Dalam pengajian, nama calon tidak pernah disebut secara langsung. Namun kalimat-kalimat Ustaz Hamdan selalu menemukan sasaran. “Ada orang yang merasa telah membawa kemakmuran, lalu menganggap urusan dunia lebih penting daripada tuntunan agama.”

Di tempat lain ia berkata, “Kita harus berhati-hati terhadap pemimpin yang tampak bersih di depan umum, tetapi menyimpan kehidupan pribadi yang tidak kita ketahui.”

Kalimat itu tidak menuduh siapa pun. Justru karena tidak menyebut nama, setiap pendengar bebas mengisinya dengan nama orang yang sedang ingin mereka curigai.

Sementara itu, tim petahana tidak tinggal diam. Mereka menyebarkan cerita bahwa Haji Marzuki ingin menjadi kepala desa agar dapat menguasai pembelian singkong. Mereka mengingatkan bahwa sebelum koperasi berdiri, truk-truk milik Marzuki ikut membeli hasil panen dengan harga rendah. Dirman semakin menjaga jarak dari kedua pihak. Ia melarang pemasangan gambar calon di kantor, kendaraan, gudang, dan tempat produksi koperasi.

“Anggota boleh berkampanye sebagai warga,” katanya dalam rapat pengurus. “Tetapi tidak boleh menggunakan uang, fasilitas, atau nama koperasi.”

Keputusan itu justru memperkuat kecurigaan. Bagi tim Haji Marzuki, netralitas Dirman adalah cara tersembunyi membantu Sastro. Mereka beranggapan petahana tidak perlu berkampanye karena keberhasilan koperasi sudah menjadi kampanyenya. Dalam politik yang dikuasai prasangka, sikap netral sering dianggap lebih berbahaya daripada perlawanan terbuka. Orang yang melawan dapat diserang. Orang yang diam harus lebih dahulu diberi identitas agar mudah dijadikan musuh.

Nama Hayati

Rumor pertama muncul di warung dekat pasar. Seseorang mengaku sering melihat Dirman dan Hayati berada di kantor koperasi setelah pekerja lain pulang. Orang lain mengatakan Dirman terlalu membela Hayati ketika dahulu beberapa anggota menolak perempuan itu menjadi sekretaris.

Cerita berkembang setiap kali berpindah mulut. Dari bekerja hingga sore berubah menjadi sering berduaan pada malam hari. Dari perjalanan menemui notaris berubah menjadi menginap bersama di kota. Dari hubungan profesional berubah menjadi hubungan rahasia yang disebut telah berlangsung sejak koperasi didirikan. Tidak ada seorang pun yang bertanya mengapa Rojali dan petugas gudang juga sering bekerja sampai malam. Mereka tidak cocok dengan cerita yang sedang dibangun.

Hayati adalah janda. Dirman belum menikah. Bagi para pembuat rumor, dua keadaan itu sudah cukup dianggap sebagai bukti.

“Pantas Dirman tidak pernah mencari istri.”

“Pantas Hayati cepat sekali mendapat jabatan.”

“Katanya koperasi dikelola secara profesional. Ternyata ada hubungan khusus.”

Rumor itu kemudian dibungkus dengan bahasa moral. Orang tidak lagi membicarakan pembukuan koperasi, harga singkong, atau laporan hasil usaha. Mereka mulai mempertanyakan apakah kemakmuran yang dipimpin seseorang tanpa kesucian pribadi dapat membawa berkah.

Pada sebuah pengajian, Ustaz Hamdan berkata, “Keberhasilan ekonomi tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap kemaksiatan. Desa yang kaya tetapi kehilangan kehormatan sebenarnya sedang menuju kebinasaan.”

Sekali lagi, ia tidak menyebut nama. Namun keesokan harinya, orang-orang telah mengetahui siapa yang dimaksud. Dirman pertama kali mendengar rumor itu dari Pak Samin. Mereka berdiri di gudang ketika para pekerja sedang menurunkan karung pati.

“Ada cerita buruk tentangmu dan Hayati,” kata Pak Samin.

“Cerita apa?”

Pak Samin tampak tidak nyaman. “Katanya kalian mempunyai hubungan.”

“Kami bekerja bersama.”

“Bukan hubungan kerja yang mereka maksud.”

Dirman terdiam. Ia merasa marah, tetapi kemarahannya masih dapat dikendalikan karena ia tahu cerita itu tidak benar. “Hayati tahu soal rumor ini?”

“Sepertinya tahu. Sudah beberapa hari dia tidak masuk kantor.”

Dirman segera menelepon Hayati. Tidak ada jawaban.

Ia mengirim pesan, tetapi tidak dibalas. Ketika mendatangi rumahnya, pintu tertutup. Ibu Hayati hanya berkata bahwa anaknya sedang tidak sehat dan tidak ingin menemui siapa pun.

Keesokan harinya, surat pengunduran diri Hayati sebagai sekretaris koperasi tiba melalui seorang kerabat. Isinya hanya beberapa baris, Saya mengundurkan diri karena alasan pribadi. Seluruh dokumen dan laporan keuangan telah saya serahkan kepada bendahara. Saya memohon agar keputusan ini diterima.

Tidak ada penjelasan mengenai rumor. Tidak ada pembelaan terhadap Dirman.

Sikap itu membuat kabar semakin liar.

“Kalau tidak terjadi apa-apa, mengapa Hayati mengundurkan diri?”

“Kalau mereka tidak bersalah, mengapa tidak muncul bersama dan membantah?”

Dirman kembali mencoba menemuinya. Hayati tetap menghindar.

Semakin lama perempuan itu bersembunyi, semakin mudah orang menganggap diamnya sebagai pengakuan.

Pengadilan di Balai Desa

Tiga minggu menjelang pemilihan, sejumlah tokoh masyarakat meminta diadakan pertemuan terbuka. Alasannya untuk menjaga ketenteraman dan kehormatan desa.Balai desa penuh malam itu. Orang-orang berdiri sampai ke teras. Di antara mereka terdapat para pendukung kedua calon, anggota koperasi, tokoh agama, dan para pemuda yang datang bukan untuk mencari kebenaran, melainkan menyaksikan pertunjukan.

Dirman duduk sendirian di depan. Hayati belum terlihat. Kepala Desa Sastro membuka pertemuan dengan suara berat. “Saya meminta semua pihak menahan diri. Kita berkumpul untuk menjernihkan persoalan, bukan menghukum siapa pun.”

Seorang pendukung Haji Marzuki berdiri. “Bagaimana bisa jernih kalau orang yang dituduh selalu berlindung di balik koperasi?”

“Siapa yang berlindung?” tanya Dirman.

“Kamu.”

“Saya datang malam ini.”

“Karena sudah terdesak.”

Suara dari belakang menyahut, “Panggil Hayati!”

Nama itu diteriakkan berulang-ulang. Beberapa menit kemudian, Hayati muncul dari pintu samping bersama ibunya. Wajahnya pucat. Ia berjalan tanpa memandang Dirman, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Dirman memperhatikannya. Ada sesuatu yang berbeda pada perempuan itu. Tubuhnya lebih kurus, bibirnya kering, dan kedua tangannya terus saling menggenggam.

Ustaz Hamdan maju mendekati meja. “Kita tidak ingin membuka aib,” katanya. “Namun kalau dosa pribadi telah mengganggu ketenteraman masyarakat, kita wajib menyelesaikannya.”

Nada suaranya lembut, tetapi setiap kata mendorong ruangan menuju kesimpulan yang telah disiapkan. Ia berpaling kepada Hayati. “Benarkah kamu mempunyai hubungan terlarang dengan Dirman?”

Hayati tidak menjawab.

“Tidak ada yang akan menyakitimu,” kata Ustaz Hamdan. “Katakan yang sebenarnya. Mengakui dosa adalah awal pertobatan.”

Dirman menunggu Hayati mengangkat wajah dan membantah. Perempuan itu mengetahui bahwa mereka tidak pernah mempunyai hubungan di luar pekerjaan. Mereka memang beberapa kali pulang terlambat, bepergian ke kota, dan duduk berdua membahas laporan. Namun pintu kantor selalu terbuka. Orang lain selalu dapat masuk. Tidak pernah ada sentuhan atau ucapan yang melampaui batas.

Hayati akhirnya mengangkat kepala. Matanya tidak memandang Dirman, melainkan tertuju pada lantai di depannya. “Benar,” katanya.

Satu kata itu membuat ruangan bergemuruh. Dirman tidak segera memahami apa yang baru didengarnya.

“Benar apa?” tanyanya.

Hayati menutup mata. “Saya mempunyai hubungan dengan Pak Dirman.”

Teriakan pecah dari berbagai sudut. Ada yang mengucapkan istigfar. Ada yang memaki. Ada pula yang meminta Dirman segera dicopot dari koperasi. Dirman tetap duduk. Ia menatap Hayati, menunggu perempuan itu memberi tanda bahwa ia sedang dipaksa atau telah salah berbicara.

Hayati tidak pernah melihat ke arahnya. “Kapan?” tanya Dirman.

Hayati diam.

“Di mana?”

Tidak ada jawaban.

“Berapa kali?”

Ustaz Hamdan mengangkat tangan. “Jangan menekan perempuan yang sedang mengakui kesalahannya.”

“Saya tidak menekan dia. Saya ingin mengetahui peristiwa yang katanya saya lakukan.”

“Kamu sedang mempermalukannya.”

“Nama saya sedang dihancurkan di ruangan ini.”

Haji Marzuki berdiri di tengah kerumunan. “Cukup! Orang yang melakukan perbuatan seperti ini tidak pantas memimpin lembaga milik masyarakat.”

“Saya tidak pernah melakukannya,” kata Dirman.

“Hayati sudah mengaku.”

Dirman kembali menatap perempuan itu. “Hayati, lihat saya.”

Hayati tidak bergerak.

“Lihat saya dan katakan bahwa semua itu benar.”

Perlahan-lahan Hayati mengangkat wajah. Matanya dipenuhi air mata, tetapi tatapannya hanya singgah sesaat. “Benar,” katanya kembali. Lalu ia menunduk.

Pada saat itulah Dirman memahami bahwa tidak ada pembelaan yang akan didengar malam itu. Orang banyak tidak lagi mencari bukti. Mereka telah memperoleh pengakuan. Moralitas telah memberikan kemarahan mereka sebuah nama, sedangkan politik telah memberikan kemarahan itu tujuan.

Harga Sebuah Fitnah

Rapat pengurus koperasi diadakan keesokan harinya. Sebagian anggota meminta Dirman diberhentikan. Sebagian lain membelanya karena selama empat tahun ia tidak pernah mengambil keuntungan pribadi. Namun pembelaan mengenai kejujuran keuangan dianggap tidak relevan terhadap tuduhan moral.

“Laporan keuangan bersih tidak menghapus perzinahan,” kata salah seorang tokoh agama.

“Pengakuan tanpa waktu, tempat, dan bukti juga tidak cukup menghukum orang,” bantah Pak Samin.

Namun suara yang menuntut hukuman jauh lebih keras. Dirman dapat saja melawan. Ia mempunyai catatan perjalanan, jadwal kerja, dan orang-orang yang sering berada di kantor bersama mereka. Ia dapat meminta pemeriksaan lebih jauh. Ia juga dapat membawa tuduhan itu ke ranah hukum. Tetapi Hayati sendiri telah mengaku. Itulah bagian yang tidak dapat dipahami Dirman.

Apakah Hayati menginginkan jabatan manajer koperasi? Apakah Haji Marzuki menjanjikan kedudukan jika menang? Apakah Hayati takut kehilangan pekerjaan? Atau ada sesuatu yang lebih besar daripada ambisi yang membuatnya bersedia menghancurkan orang yang pernah mempercayainya? Dirman tidak menemukan jawaban. Hayati terus menghindarinya.

Dalam rapat terakhirnya, Dirman meletakkan seluruh laporan, kunci kantor, dan daftar kontrak di atas meja. “Saya mengundurkan diri dari jabatan ketua dan pelaksana manajer,” katanya.

Pak Samin memukul meja. “Mengapa kamu menyerah? Kalau kamu tidak bersalah, lawan mereka.”

“Saya bisa melawan tuduhan. Tetapi saya tidak bisa memaksa orang mempercayai saya.”

“Setidaknya pertahankan koperasi.”

Dirman memandang para anggota yang memenuhi ruangan. “Koperasi ini bukan milik saya. Kalau lembaga ini runtuh hanya karena saya pergi, berarti selama empat tahun saya gagal membangun sistem.”

Beberapa hari kemudian, tulisan muncul di tembok dekat rumahnya: PENGKHIANAT MORAL, PERGI DARI KARANGJATI.

Malam berikutnya, batu dilemparkan ke atap. Ibunya terbangun sambil menangis. Sekelompok pemuda berkumpul di ujung jalan dan meneriakkan agar Dirman meninggalkan desa sebelum hari pemilihan.

Mereka tidak membawa surat keputusan. Tidak ada hukum resmi yang mengusirnya. Namun ancaman kadang-kadang lebih berkuasa daripada dokumen. Dirman memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. Ia tidak membawa meja, lemari, atau benda-benda yang dibelinya setelah koperasi berhasil. Rumah dan isinya ia tinggalkan untuk ibunya.

Sebelum subuh, Pak Samin datang dengan sepeda motor. “Saya antar sampai terminal.”

Dirman mengangguk.

Ketika kendaraan melewati kantor koperasi, lampu ruang produksi sudah menyala. Para pekerja mulai mencuci singkong. Mesin parut terdengar dari kejauhan. Truk-truk dari desa tetangga mengantre di depan timbangan. Usaha yang dibangunnya tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Dirman menoleh untuk terakhir kali. Ia tidak marah karena koperasi dapat hidup tanpa dirinya. Justru itulah yang selama ini ia inginkan. Namun ia tidak pernah membayangkan harus meninggalkannya sebagai seorang tertuduh.

Di tikungan terakhir, ia melihat seseorang berdiri di balik pohon dekat jalan. Perempuan itu mengenakan kerudung gelap dan menggendong anaknya. Dirman mengenali Hayati. Untuk sesaat ia mengira perempuan itu akan mendekat, menghentikan sepeda motor, dan mengatakan alasan di balik pengakuannya.Namun ketika pandangan mereka hampir bertemu, Hayati mundur dan bersembunyi di balik pohon. Dirman tidak meminta Pak Samin berhenti.

Pagi itu ia meninggalkan Karangjati dengan satu pertanyaan yang lebih menyakitkan daripada pengusiran: mengapa seseorang yang selama bertahun-tahun menjaga kejujuran koperasi justru bersedia mengucapkan kebohongan paling besar?

Di belakangnya, suara azan terdengar dari masjid. Di antara seruannya tentang kebesaran Tuhan, orang-orang sedang merayakan keberhasilan menjadikan moral sebagai senjata politik.

Mereka belum mengetahui bahwa kebohongan yang mereka percayai bukan lahir dari hubungan antara Dirman dan Hayati. Kebohongan itu lahir dari ketakutan—dan dari seorang lelaki yang bersembunyi di balik kehormatan agama.

Ketika Nama Tidak Lagi Dimiliki

Menjelang siang, bus yang membawa Dirman tiba di terminal kota.

Udara panas bercampur bau solar, aspal, dan gorengan dari warung-warung di sepanjang peron. Para penumpang turun sambil membawa kardus, karung, serta tas pakaian. Sopir angkutan berebut menawarkan tujuan. Dirman berdiri di tengah keramaian dengan satu tas di tangan.

Beberapa tahun sebelumnya, ia meninggalkan kota itu dengan tabungan, rencana, dan keyakinan bahwa hidupnya akan menemukan arti di desa. Kini ia kembali tanpa rumah, tanpa kendaraan, dan tanpa kehormatan yang dahulu dibangun perlahan-lahan. Namun kehilangan yang paling berat bukanlah jabatan atau harta. Ia kehilangan kemampuan memahami orang yang pernah dipercayainya.

Dari terminal, Dirman naik angkutan menuju pinggiran kota. Setelah berjalan melewati kebun bambu, ia tiba di rumah Mbah Wiryo menjelang asar. Guru spiritualnya sedang duduk di beranda, membersihkan biji-biji jagung dari tongkolnya. Tidak ada keterkejutan di wajah lelaki tua itu ketika melihat Dirman berdiri di depan pagar.

“Kamu pulang,” katanya.

Dirman meletakkan tasnya. “Saya terusir, Mbah.”

Mbah Wiryo menggeser bakul jagung dan mempersilakannya duduk. Ia tidak segera bertanya. Ia membuatkan teh, meletakkan sepiring singkong rebus di antara mereka, lalu menunggu sampai Dirman siap berbicara.

Dirman menceritakan semuanya. Tentang koperasi yang berkembang, petani yang mulai makmur, pemilihan kepala desa, permintaan dukungan politik yang ditolaknya, rumor hubungannya dengan Hayati, pengakuan perempuan itu, hingga batu yang dilemparkan ke atap rumah ibunya.

“Saya tidak mengerti,” katanya. “Saya pulang dengan niat baik. Saya menghabiskan tabungan, waktu, dan tenaga untuk desa. Saya tidak mengambil uang koperasi. Saya juga tidak pernah menyentuh Hayati. Mengapa akhirnya saya justru difitnah dan diusir?”

Mbah Wiryo memandang halaman. Daun-daun bambu bergerak ditiup angin sore. “Apakah menurutmu niat baik adalah perjanjian bahwa hidup harus selalu membalasmu dengan kebaikan?”

Dirman terdiam.

“Tidak,” jawabnya kemudian. “Tetapi setidaknya bukan seperti ini.”

“Kebaikan bukan transaksi, Man. Kamu tidak menyetor amal lalu menagih keselamatan sebagai imbalannya.”

“Saya tidak menagih imbalan.”

“Tetapi kamu bertanya mengapa kebaikanmu dibalas keburukan.”

Dirman menunduk. Kalimat itu terasa keras, tetapi ia tidak dapat menyangkalnya.

Mbah Wiryo mengambil satu biji jagung, lalu meletakkannya di telapak tangan. “Ketika kamu pulang empat tahun lalu, apa yang kamu cari?”

“Saya ingin hidup saya berguna.”

“Lalu desa menjadi lebih baik?”

“Untuk sementara.”

“Petani pernah menikmati harga yang lebih layak?”

“Ya.”

“Anak-anak muda pernah pulang dan memperoleh pekerjaan?”

“Ya.”

“Kalau begitu, niat baikmu tidak gagal. Yang terjadi setelahnya tidak menghapus manfaat yang pernah lahir.”

“Tapi nama saya hancur.”

“Barangkali justru di situlah ujian yang sebenarnya dimulai.”

Dirman mengangkat wajah.

Mbah Wiryo melanjutkan, “Ketika orang mencaci kita, kita mudah merasa sedang diuji. Padahal pujian sering menjadi ujian yang lebih berbahaya. Cacian melukai harga diri, tetapi pujian dapat membuat manusia tidak lagi menyadari bahwa ia sedang menyembah dirinya sendiri.”

“Saya tidak pernah meminta dipuji.”

“Kesombongan tidak selalu datang karena diminta. Kadang ia tumbuh perlahan dari tatapan orang. Mula-mula kita senang karena pekerjaan dihargai. Kemudian kita mulai percaya bahwa semua keberhasilan terjadi karena kita. Setelah itu, kita merasa lembaga tidak akan hidup tanpa kehadiran kita. Pada tahap terakhir, kita menganggap diri sebagai penyelamat.”

Dirman mengingat bagaimana orang-orang selalu menyebut kemakmuran Karangjati sebagai keberhasilannya. Ia memang membantah, tetapi diam-diam ia menikmati rasa hormat itu. “Apakah fitnah ini hukuman karena saya sombong?” tanyanya.

“Saya tidak tahu rahasia Tuhan. Jangan mudah menafsirkan setiap penderitaan sebagai hukuman. Itu juga bentuk kesombongan—seolah kita mengetahui seluruh maksud-Nya.”

Mbah Wiryo menuangkan teh ke dalam cangkir Dirman. “Tetapi bisa jadi, kehilangan nama adalah cara Tuhan menyelamatkanmu dari ketergantungan kepada nama. Bisa jadi Dia sedang mengajarimu bahwa amal tidak menjadi suci hanya karena dipuji masyarakat.”

“Jadi, saya harus menerima fitnah begitu saja?”

“Ikhlas bukan berarti mengatakan kebohongan sebagai kebenaran. Kamu tetap berhak membela diri dan menunjukkan bukti. Keadilan harus diperjuangkan. Tetapi setelah melakukan yang mampu kamu lakukan, jangan biarkan kebencian mengambil alih hidupmu.”

Mbah Wiryo menatapnya lekat-lekat. “Jika kamu berbuat baik supaya manusia mengenangmu, maka manusia pula yang dapat menghancurkan seluruh upahmu hanya dengan melupakan atau mencacimu. Tetapi jika kamu melakukannya karena Allah, penilaian manusia tidak pernah menjadi perhitungan terakhir.”

Dirman mengembuskan napas panjang. “Saya kehilangan semuanya.”

“Tidak. Kamu kehilangan apa yang dapat diambil manusia: jabatan, kehormatan, dan tempat tinggal. Pengetahuanmu masih ada. Kemampuanmu membangun kepercayaan masih ada. Kesempatan berbuat baik juga masih ada.”

“Bagaimana dengan Hayati?”

“Apa kamu membencinya?”

“Saya tidak tahu. Saya lebih banyak bingung daripada marah.”

“Jangan buru-buru menghukumnya di dalam pikiranmu sebelum mengetahui apa yang membuatnya berbohong. Manusia kadang melakukan kejahatan karena ambisi. Namun ada pula yang berbohong karena ketakutan, tekanan, atau sedang melindungi sesuatu yang belum kita ketahui.”

“Dia menghancurkan nama saya.”

“Benar. Ikhlas tidak mengubah kesalahan menjadi benar. Ikhlas hanya menjaga agar kesalahan orang lain tidak ikut merusak jiwamu.”

Matahari mulai turun. Bayang-bayang bambu memanjang di halaman.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Beristirahatlah. Jangan mengambil keputusan ketika hatimu masih ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.”

“Dan setelah itu?”

Mbah Wiryo tersenyum. “Kerjakan apa yang masih bisa kamu kerjakan. Selama niatmu baik dan caramu benar, cukuplah Allah sebagai pemberi balasan. Manusia boleh mencatat namamu sebagai pahlawan hari ini dan penjahat esok pagi. Catatan Tuhan tidak berubah hanya karena hasil pemilihan kepala desa.”

Dua Bulan Tanpa Nama

Dirman tinggal di rumah Mbah Wiryo selama dua minggu. Setelah itu ia menyewa kamar kecil di belakang bengkel dekat terminal. Hari-harinya berjalan lambat. Ia tidak mempunyai pekerjaan tetap. Sesekali ia membantu pemilik bengkel mencatat persediaan suku cadang dan mencari pelanggan. Upahnya cukup untuk makan dan membayar sewa kamar.

Beberapa kenalan lama menawarinya kembali menjadi salesman. Dirman belum menerima. Bukan karena pekerjaan itu terlalu rendah, melainkan karena ia belum tahu apakah ingin mengulangi kehidupan yang pernah ditinggalkannya.

Ia juga tidak menghubungi pengurus koperasi. Hanya Pak Samin yang sesekali menelepon. Dari lelaki itu, Dirman mengetahui bahwa Haji Marzuki memenangkan pemilihan kepala desa. Kemenangan tersebut dirayakan dengan arak-arakan keliling kampung. Para pendukungnya menyebut hasil itu sebagai kemenangan moral dan kemenangan umat.

Beberapa minggu setelah pelantikan, susunan pengelola koperasi diubah. Orang-orang yang dekat dengan kepala desa mendapat posisi penting. Manajer baru diangkat tanpa melalui seleksi. Pembelian bahan baku mulai dicampuri aparat desa. Koperasi diminta mendukung program pemerintah desa yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingan anggotanya. Dirman hanya mendengarkan. Ia ingin memperingatkan mereka, tetapi sadar bahwa setiap ucapannya akan dianggap sebagai kemarahan orang yang kehilangan jabatan.

Dua bulan setelah meninggalkan Karangjati, Dirman menerima telepon dari Budi Santoso, pemilik Surya Molded Fiber—pabrik yang selama bertahun-tahun menjadi mitra koperasi.

“Kamu ada di kota?” tanya Budi.

“Ada.”

“Datanglah ke pabrik. Saya perlu bicara.”

Keesokan paginya, Dirman menuju kawasan industri di pinggir kota. Bau kertas basah dan uap panas menyambutnya ketika memasuki pabrik. Dari ruang produksi terdengar suara pulper yang menghancurkan kertas bekas menjadi bubur serat.

Budi menunggunya di ruang rapat. Di atas meja terbentang peta Thailand dan beberapa dokumen studi kelayakan. “Saya sudah mendengar kabar dari Karangjati,” katanya. “Saya tidak ingin mencampuri urusan politik desamu. Tetapi selama empat tahun bekerja sama, saya tahu bagaimana kamu mengelola pasokan.”

“Sekarang saya tidak lagi di koperasi.”

“Justru itu sebabnya saya memanggilmu.”

Budi menggeser peta ke hadapan Dirman. Sebuah lingkaran merah dibuat di wilayah Nakhon Ratchasima, Thailand timur laut—salah satu kawasan penting penghasil singkong. “Kami akan mengembangkan proyek pengolahan singkong di Thailand. Mitra lokal menyediakan lahan, akses bahan baku, dan sebagian modal. Kami membawa pasar, teknologi pengolahan serat, dan formulasi kemasan.”

Dirman membaca ringkasan proyek itu. Pabrik direncanakan menghasilkan pati dengan spesifikasi industri, serat olahan untuk molded packaging, serta bahan campuran bagi produsen resin biodegradable. Pada tahap berikutnya, perusahaan akan memproduksi baki buah, kemasan telur, pelindung barang elektronik, dan peralatan makan sekali pakai untuk penggunaan tertentu.

“Kalian sudah punya orang produksi,” kata Dirman.

“Kami punya insinyur mesin dan ahli material. Yang belum kami punya adalah orang yang mampu membangun ekosistem petaninya.”

Budi berdiri dan menunjuk peta. “Pabrik tidak hidup hanya karena mesinnya bagus. Kami membutuhkan pasokan singkong yang cukup, segar, dan konsisten. Itu berarti jadwal tanam, varietas, pola panen, pusat pengumpulan, pengangkutan, insentif mutu, dan hubungan yang adil dengan petani harus dibangun sejak awal.”

“Di Thailand sudah banyak industri tapioka.”

“Benar. Karena itu kita tidak dapat datang hanya sebagai pembeli baru. Kita harus memberikan alasan agar petani mau menjadi bagian dari sistem kita.”

Budi duduk kembali. “Saya ingin kamu menjadi mitra, bukan sekadar pegawai.”

Dirman menatapnya. “Saya tidak punya modal besar.”

“Keahlianmu adalah bagian dari modal.”

Budi menawarkan kepemilikan minoritas yang diperoleh bertahap berdasarkan pencapaian proyek. Dirman akan menerima gaji sebagai pimpinan pengembangan rantai pasok. Di luar gaji, ia memperoleh hak atas sebagian saham apabila berhasil membangun jaringan petani, mencapai volume pasokan, dan menjaga mutu sesuai target.

“Kenapa saya?” tanya Dirman.

“Karena kamu memahami bahwa membeli singkong bukan sekadar transaksi. Karangjati berhasil karena petani mendapat harga, kepastian pasar, dan bagian dari nilai tambah. Kami membutuhkan sistem semacam itu.”

“Karangjati akhirnya mengusir saya.”

“Desamu mengusirmu karena politik. Bukan karena model usahamu gagal.”

Dirman kembali memandangi peta.

Tiga hari kemudian, ia menemui Mbah Wiryo. “Saya mendapat tawaran pergi ke Thailand.”

“Apakah kamu menerimanya karena ingin melupakan desa?”

“Tidak.”

“Karena ingin membuktikan bahwa mereka salah mengusirmu?”

Dirman berpikir lama. “Mungkin masih ada sedikit perasaan itu.”

“Kalau begitu, bersihkan niatmu selama perjalanan. Jangan menunggu hati menjadi sempurna sebelum melangkah. Kadang hati justru dibersihkan melalui pekerjaan.”

Dirman akhirnya menerima tawaran tersebut.

Tanah Baru

Nakhon Ratchasima menyambut Dirman dengan hamparan lahan yang jauh lebih luas daripada Karangjati. Pada musim kering, udara membawa debu merah dari jalan-jalan perkebunan. Truk bermuatan singkong bergerak menuju pabrik pati. Di sepanjang wilayah itu, Dirman melihat bahwa singkong bukan lagi sekadar tanaman desa, melainkan bagian dari jaringan industri—pati makanan, pemanis, pakan, bahan kimia, etanol, kertas, dan material berbasis hayati.

Namun masalah petaninya tidak sepenuhnya berbeda. Harga berfluktuasi. Mutu umbi tidak seragam. Jarak kebun ke tempat pengolahan memengaruhi kesegaran. Pabrik menginginkan kadar pati tinggi, sedangkan petani sering dibayar hanya berdasarkan berat. Dirman memulai pekerjaannya bukan dari ruang rapat, melainkan dari kebun. Dengan bantuan penerjemah, ia menemui kelompok-kelompok petani. Ia mempelajari kalender tanam, varietas yang digunakan, biaya pencabutan, cara pengangkutan, serta hubungan mereka dengan pedagang pengumpul.

Ia menolak gagasan membeli seluruh bahan baku melalui satu perantara besar. “Kalau satu pedagang menguasai pasokan, pabrik kita mungkin lebih mudah bekerja,” katanya dalam rapat. “Tetapi risikonya terkonsentrasi. Ketika hubungan dengan pedagang itu terganggu, seluruh produksi berhenti. Selain itu, kita tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi petani.”

Dirman membentuk beberapa pusat pengumpulan dekat wilayah kebun. Umbi ditimbang secara terbuka, lalu diuji secara sampling untuk memperkirakan kadar pati. Petani yang mengirim singkong segar dengan mutu lebih tinggi memperoleh premi. Mereka tidak dipaksa menjual seluruh panen kepada perusahaan, tetapi ditawari kontrak yang memberikan kepastian volume dan formula harga.

Ia juga mengatur agar panen tidak menumpuk pada waktu yang sama. Pabrik membutuhkan pasokan stabil, sedangkan petani membutuhkan kepastian bahwa hasil mereka akan diterima. “Sebuah pabrik dapat membeli mesin dalam enam bulan,” katanya kepada tim Thailand. “Tetapi kepercayaan petani mungkin membutuhkan beberapa musim panen.”

Pada tahun pertama, pabrik hanya memproduksi pati industri dan serat antara. Pada tahun kedua, lini molded fiber mulai beroperasi. Campuran bubur serat dimasukkan ke cetakan vakum untuk membentuk baki basah, kemudian dipres panas agar lebih padat, kering, dan stabil. Untuk lini bioplastik, pati dikondisikan pada kadar air tertentu sebelum dicampur dengan bahan pelentur serta polimer biodegradable lain. Campuran dilelehkan dan dihomogenkan dalam ekstruder, kemudian dipotong menjadi pelet untuk diproses lebih lanjut menjadi produk kemasan.

Dirman tidak mengaku sebagai ahli kimia polimer. Ia menyerahkan formulasi kepada insinyur material. Tugasnya memastikan bahan baku datang dengan mutu konsisten dan hubungan antara petani, pusat pengumpulan, serta pabrik tidak terputus.

Tiga tahun berlalu. Proyek itu berkembang. Petani mitra bertambah. Pabrik mulai memasok baki buah kepada perusahaan eksportir dan pelindung kemasan kepada produsen barang elektronik. Dirman memiliki rumah kecil di dekat kompleks pabrik, tetapi kehidupannya tetap sederhana.

Tidak banyak orang di Thailand mengetahui kisahnya. Di sana ia bukan tokoh desa, bukan pendiri koperasi, dan bukan orang yang pernah diusir karena tuduhan moral. Ia hanya dikenal sebagai Pak Dirman—orang Indonesia yang lebih sering berada di kebun daripada di kantor. Anehnya, justru ketika namanya tidak berarti apa-apa, ia merasa bekerja dengan lebih tenang.

Kabar dari Karangjati

Pada suatu malam di awal musim hujan, telepon Dirman berdering.

Pak Samin menelepon dari Indonesia. Suaranya terdengar tua dan berat. “Koperasi kita hancur, Man.”

Dirman berdiri dari kursinya. Dari jendela rumah terlihat hujan mengguyur halaman pabrik. “Hancur bagaimana?”

“Sudah berhenti produksi. Rekeningnya hampir kosong. Gaji pekerja tiga bulan belum dibayar. Utang kepada petani menumpuk.”

Dirman memejamkan mata. “Apa yang terjadi?”

Sesudah pengurus lama diganti, koperasi mulai kehilangan disiplin. Singkong dibeli dari pemasok pilihan penguasa desa meskipun mutunya rendah. Mesin tidak dirawat karena dana pemeliharaan dipakai untuk kebutuhan lain. Produk yang ditolak pembeli dicatat sebagai penjualan agar laporan terlihat baik.

Sebagian uang koperasi dipinjamkan kepada orang-orang dekat kepala desa tanpa keputusan anggota. Pembelian kendaraan dilakukan dengan harga yang diduga dinaikkan. Dana kas digunakan untuk membiayai kegiatan politik dan acara seremonial.

Kontrak dengan Surya Molded Fiber akhirnya dihentikan karena koperasi berulang kali gagal memenuhi standar mutu dan jadwal pengiriman.

“Bagaimana dengan Hayati?” tanya Dirman.

Pak Samin terdiam beberapa detik. “Dia sempat kembali menjadi manajer setelah Haji Marzuki menang.”

Dugaan yang dahulu pernah melintas di pikiran Dirman mendadak hidup kembali. “Lalu?”

“Dia menghilang.”

“Menghilang ke mana?”

“Tidak ada yang tahu. Sejumlah uang koperasi ditransfer dan ditarik beberapa hari sebelum dia pergi. Dokumen pembayaran juga banyak yang hilang. Polisi menetapkan dia sebagai buronan. Namanya masuk daftar pencarian orang.”

Dirman memegang tepi meja. Ia tidak tahu apakah harus marah atau merasa semakin bingung. Jika Hayati memang menginginkan jabatan manajer, berarti fitnah dahulu mungkin merupakan bagian dari ambisinya. Namun ia juga mengenal ketelitian perempuan itu. Hayati pernah menolak uang koperasi masuk ke rekening pribadi. Ia pernah berjalan dari rumah ke rumah hanya untuk memperbaiki satu huruf dalam dokumen anggota. Mungkinkah orang berubah sejauh itu?

“Atau sejak awal saya memang tidak pernah mengenalnya,” gumam Dirman.

“Apa?” tanya Pak Samin.

“Tidak apa-apa. Bagaimana dengan kepala desa?”

“Haji Marzuki ditangkap.”

Pemeriksaan terhadap penggunaan dana desa menemukan proyek fiktif, harga pengadaan yang dinaikkan, dan aliran uang kepada beberapa orang dekatnya. Uang pembangunan jalan, perbaikan saluran air, dan bantuan ekonomi desa digunakan untuk kepentingan politik serta pribadi. Lelaki yang dahulu memenangkan pemilihan dengan pidato tentang moral akhirnya dipenjara karena korupsi.

“Ustaz Hamdan?” tanya Dirman.

“Masih di desa. Katanya dia tidak tahu urusan uang.”

Tentu saja, pikir Dirman. Orang yang menyulut api sering berdiri paling jauh ketika rumah mulai terbakar.

“Petani bagaimana?”

“Mereka kembali menjual singkong kepada tengkulak. Harganya jatuh. Banyak anak muda pergi lagi ke kota.”

Setelah percakapan berakhir, Dirman tetap berdiri di depan jendela. Tiga tahun lalu, ia meninggalkan Karangjati sambil menghibur diri bahwa koperasi dapat bertahan tanpa dirinya. Secara organisasi, keyakinannya benar. Sebuah lembaga memang tidak boleh bergantung pada satu orang.

Namun ia kini memahami sesuatu yang dahulu luput: lembaga tidak cukup hanya mempunyai prosedur. Ia juga memerlukan masyarakat yang bersedia menjaganya. Anggaran dasar tidak dapat menghentikan keserakahan jika anggota diam. Sistem pengawasan tidak berguna apabila pengawas tunduk kepada kekuasaan. Laporan keuangan tidak berarti apabila kebohongan diterima sebagai harga untuk tetap dekat dengan penguasa.

Pabrik bukan penyebab kemakmuran Karangjati. Yang membawa kemakmuran adalah kepercayaan, pengetahuan, disiplin, dan kesediaan bekerja bersama. Ketika semua itu dirusak, mesin-mesin mahal hanya menjadi besi yang berkarat.

Dirman mengambil telepon. Ia ingin segera membeli tiket pulang, tetapi teringat pesan Mbah Wiryo agar tidak mengambil keputusan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Ia duduk dan menenangkan diri.

Di luar, hujan Thailand jatuh di atas atap pabrik. Air mengalir melewati halaman, membawa debu merah menuju parit. Bau tanah basah mengingatkannya pada Karangjati—pada kebun singkong, balai desa, ibunya, dan Hayati yang pernah berdiri di balik pohon ketika ia diusir. Dirman belum tahu apakah perempuan itu pelaku, korban, atau keduanya sekaligus.

Namun untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa kehancuran koperasi mungkin bukan akhir dari kisah mereka. Di balik uang yang hilang, dokumen yang lenyap, dan kebohongan yang belum terjawab, tersimpan sesuatu yang lebih gelap daripada ambisi memperoleh jabatan. Sesuatu yang selama ini dilindungi oleh ketakutan dan kesalehan palsu.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca