Melawan feodalisme

Sundari di Kebun Nila

Yogyakarta, penghujung 1810

Pada tahun itu, kekuasaan tidak selalu datang dalam bentuk serdadu atau meriam. Kadang-kadang ia datang sebagai surat berstempel, daftar utang, izin berdagang, hak memungut pajak, atau perintah penyerahan hasil bumi yang dibacakan di pendapa desa.

Negeri Belanda sedang berada di bawah pengaruh Prancis. Di Jawa, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memperkuat pertahanan menghadapi kemungkinan serangan Inggris. Jalan-jalan diperbaiki, benteng diperkuat, serdadu direkrut, dan kebutuhan perang meningkat. Setiap keputusan dari Batavia menjalar sampai ke desa-desa dalam bentuk kerja wajib, tambahan pungutan, serta permintaan beras, kayu, kuda, dan tenaga manusia.

Akan tetapi, bagi petani di pedalaman Yogyakarta, siapa yang sedang berkuasa di Eropa tidak banyak mengubah kehidupan mereka. Nama raja dapat berganti, bendera dapat berubah, tetapi orang kecil tetap bangun sebelum fajar untuk mengerjakan tanah yang hasilnya lebih dahulu dihitung oleh orang lain.

Wilayah Kesultanan Yogyakarta belum sepenuhnya berada di bawah pemerintahan langsung kolonial. Sultan masih bertakhta, para pangeran masih memiliki tanah lungguh, dan para bangsawan tetap menjalankan kekuasaan melalui pejabat-pejabat di bawahnya. Namun, di balik tata upacara keraton yang tampak kukuh, pengaruh pemerintah kolonial terus merambat. Batavia membutuhkan hasil bumi. Para pejabat Eropa menekan keraton. Keraton menekan bupati dan pemegang tanah lungguh. Para pemegang lungguh menekan bekel desa. Bekel kemudian mendatangi petani. Begitulah kekuasaan bergerak: semakin jauh dari istana, suaranya semakin kasar.

Di sebelah barat Kota Yogyakarta terbentang tanah lungguh milik keluarga Raden Tumenggung Wiradipura. Wilayah itu terdiri atas beberapa desa, sawah, kebun nila, rumpun tebu, serta pekarangan yang dihuni para penggarap. Secara adat tanah tersebut diberikan sebagai sumber penghasilan bagi pejabat keraton. Namun, dalam praktiknya, seluruh penduduk yang tinggal di atasnya ikut dianggap sebagai bagian dari hasil tanah.

Sebagian keluarga menanam padi untuk kebutuhan sendiri. Sebagian lainnya diwajibkan menyediakan beberapa hari kerja untuk kebun milik pemegang lungguh. Pada musim tertentu, mereka harus menyerahkan beras, kayu bakar, ayam, atau hasil palawija melalui bekel. Besarnya kewajiban tidak selalu tertulis. Yang tercatat hanyalah jumlah yang harus sampai ke gudang. Selisih antara apa yang diambil dari petani dan apa yang diserahkan ke atas menjadi ruang keuntungan bagi orang-orang di tengah.

Tanaman nila mulai meluas karena zat warnanya laku di pasar internasional. Daunnya difermentasi dan diolah menjadi pasta biru, lalu dikeringkan dalam bentuk kepingan. Dari desa, nila dibawa menggunakan gerobak menuju pasar dan gudang. Setelah itu komoditas tersebut dikirim ke Semarang, melewati tangan pedagang perantara sebelum dimuat ke kapal.

Para petani tidak pernah mengetahui berapa harga nila ketika dijual di pelabuhan. Mereka hanya mengetahui nilai yang ditentukan bekel atau mandor. Harga pasar berada di dunia lain—dunia timbangan besar, surat kredit, gudang berpintu besi, dan percakapan dalam bahasa yang tidak mereka pahami.

Di kota, perdagangan tampak ramai. Pasar Beringharjo telah dipenuhi pedagang sejak matahari belum terbit. Perempuan desa menjajakan beras, sayuran, minyak kelapa, gula, tembakau, dan kain tenun. Pedagang dari pesisir membawa garam dan ikan kering.

Orang-orang Tionghoa memperdagangkan kain, perkakas besi, candu, gula, serta kebutuhan rumah tangga. Pedagang Arab dan Melayu bergerak dalam jaringan kain, rempah, kitab, dan barang-barang dari pelabuhan utara. Orang Jawa menguasai perdagangan kecil, tetapi untuk perdagangan antardaerah dan ekspor, mereka sering bergantung pada pemilik modal, pemegang izin, atau orang yang memiliki hubungan dengan pejabat kolonial.

Persoalannya bukan terletak pada asal-usul etnis para pedagang. Kekuasaan kolonial sengaja membagi fungsi ekonomi berdasarkan golongan dan memberikan hak istimewa kepada kelompok-kelompok tertentu yang dianggap berguna.

Sebagian pedagang Tionghoa memperoleh kedudukan sebagai penyewa pajak, pengelola gerbang cukai, pemberi kredit, atau pembeli utama hasil bumi. Mereka diberi akses karena memiliki modal, jaringan, kemampuan pembukuan, dan hubungan dagang dengan kota-kota pelabuhan. Sebagai imbalannya, mereka membantu penguasa mengumpulkan pendapatan dari masyarakat.

Namun, keuntungan terbesar tidak otomatis dinikmati seluruh orang Tionghoa. Pedagang kecil Tionghoa juga dapat berutang kepada saudagar yang lebih besar. Demikian pula, tidak semua bangsawan Jawa hidup mewah. Hanya mereka yang dekat dengan pusat kekuasaan dan memiliki tanah luas yang memperoleh bagian besar.

Kolonialisme tidak sekadar membagi masyarakat menurut bangsa. Ia membangun susunan kepentingan: pejabat Eropa berada di atas, bangsawan lokal diberi kehormatan dan hak atas tanah, pedagang perantara diberi izin dan monopoli, sedangkan petani menjadi sumber tenaga serta hasil bumi. Dengan cara itu, penguasa kolonial tidak perlu memerintah setiap desa secara langsung. Mereka cukup menguasai orang-orang yang menguasai desa.

Pagi itu kabut masih menggantung di atas kebun nila ketika Sarjono datang dengan menunggang kuda cokelat. Jalan tanah yang dilaluinya dipenuhi bekas roda gerobak. Di sebelah kanan, dua orang lelaki memikul kepingan nila kering menuju gudang. Di sebelah kiri, perempuan-perempuan berjalan ke pasar dengan bakul di atas kepala.

Sarjono adalah putra tunggal Raden Tumenggung Wiradipura. Usianya dua puluh empat tahun. Tubuhnya tinggi dan wajahnya tenang, dengan sorot mata yang lebih sering memperhatikan daripada memerintah. Berbeda dari kebanyakan anak bangsawan seusianya, ia dapat membaca tulisan Jawa, Melayu, dan bahasa Belanda. Ayahnya pernah mengirimnya belajar kepada seorang guru di kota agar kelak dapat berhubungan dengan pejabat kolonial dan pedagang asing. Wiradipura tidak menyekolahkan putranya untuk membuatnya menjadi pemikir. Ia hanya ingin Sarjono mampu membaca kontrak sebelum menandatanganinya.

Namun, pendidikan sering melahirkan akibat yang tidak direncanakan. Dari buku-buku dan surat kabar lama yang diperolehnya melalui seorang juru tulis Belanda, Sarjono mengenal gagasan tentang hak alamiah, kebebasan individu, dan persamaan manusia. Ia membaca bahwa di Eropa orang mulai mempertanyakan kekuasaan raja dan hak istimewa berdasarkan kelahiran. Setelah selesai membaca, ia selalu memandang pendapa rumahnya dengan perasaan aneh. Di sana, orang-orang bersujud kepada ayahnya hanya karena keluarga mereka dilahirkan lebih rendah dalam susunan masyarakat. Sarjono tidak tahu bagaimana sebuah gagasan dapat diterapkan di Jawa. Ia hanya mulai merasa terganggu melihat ketakutan disebut tata krama dan ketundukan disebut kesetiaan.

Di bawah pohon asam dekat kebun, ia menghentikan kudanya. Para pekerja sedang memetik daun nila. Kaki mereka tenggelam dalam tanah basah. Daun-daun dikumpulkan ke dalam tenggok, kemudian dibawa ke tempat pengolahan. Di sana terdapat beberapa bak besar dari batu bata. Daun nila direndam hingga membusuk dan menghasilkan cairan berbau tajam. Cairan itu kemudian dipindahkan ke bak lain, diaduk, diendapkan, lalu dikeringkan. Bau fermentasi mengambang sampai ke jalan.

Seorang mandor berjalan di antara para pekerja sambil membawa rotan. Namanya Wiraguna. Dahulu ia juga seorang penggarap, tetapi sejak dipercaya mengawasi kebun, caranya berbicara berubah. Ia tidak lagi menyebut para pekerja sebagai tetangga, melainkan tenaga.

“Hari ini setiap orang harus memenuhi dua tenggok sebelum matahari tepat di atas kepala,” katanya. “Pesanan bandar dari kota harus berangkat lusa.”

Seorang lelaki tua mengangkat tangan. “Tanamannya belum semuanya cukup umur, Bekel.”

“Kalau belum cukup, petik dari petak sebelah.”

“Itu bagian yang kami tanam untuk memenuhi kebutuhan desa.”

Wiraguna mengangkat rotannya.

“Kebutuhan bandar harus didahulukan. Kalau pengiriman terlambat, pembayaran dipotong. Kalau pembayaran dipotong, siapa yang akan menanggungnya?”

Tidak ada yang menjawab.

Mereka tahu jawabannya: para pekerja.

Bandar yang dimaksud adalah Lim Keng Hwat, seorang pedagang Tionghoa di Yogyakarta yang memiliki hubungan dengan rumah dagang di Semarang. Ia memegang hak pembelian pertama atas nila dari beberapa tanah lungguh. Untuk mendapatkan hak itu, ia membayar uang muka kepada para bangsawan dan menyediakan kredit ketika keraton atau pemilik tanah membutuhkan uang tunai.

Wiradipura menerima pembayaran di awal musim. Dengan uang itu ia membayar kewajiban kepada keraton, memperbaiki pendapa, membeli dua ekor kuda, serta mempertahankan sejumlah abdi. Sebagai gantinya, hasil nila harus dijual kepada Lim dengan harga yang telah disepakati sebelum panen.

Lim kemudian menjualnya kepada eksportir dengan harga lebih tinggi. Jika panen baik, Lim memperoleh keuntungan besar dan Wiradipura tetap menerima bagiannya. Jika panen buruk, kerugian tidak dibagi secara setara. Beban kerja petani ditambah, upah dikurangi, atau utang mereka dicatat untuk musim berikutnya. Monopoli menciptakan kepastian bagi mereka yang berada di atas dan ketidakpastian bagi mereka yang bekerja di bawah.

Namun, Lim sendiri bukan penguasa yang sepenuhnya merdeka. Ia harus membayar berbagai izin, hadiah, dan pungutan kepada pejabat. Rumah dagang Eropa dapat membatalkan harga sesuka hati. Pemerintah kolonial dapat mencabut haknya jika menemukan pedagang lain yang berani membayar lebih mahal. Ia memperoleh keuntungan dari sistem, tetapi sekaligus terperangkap di dalamnya. Demikianlah kolonialisme bekerja. Ia mengubah keserakahan pribadi menjadi mata rantai. Setiap orang menekan orang di bawahnya karena takut ditekan oleh orang di atasnya.

Di ujung barisan tanaman, Sarjono melihat seorang perempuan muda berusaha mengangkat tenggok yang terlalu penuh. Tubuhnya ramping. Kain luriknya telah basah oleh embun dan keringat. Rambutnya disanggul sederhana, ditahan tusuk kayu. Tenggok itu miring. Daun-daun nila tumpah ke tanah.

Wiraguna menoleh. “Kamu selalu memperlambat pekerjaan, Sundari!”

Gadis itu segera berlutut dan memunguti daun-daun yang berserakan.

“Maaf, Bekel.”

“Daun yang kotor akan mengurangi timbangannya.”

“Saya akan membersihkannya.”

“Dengan apa? Waktu kita?”

Rotan di tangan Wiraguna bergerak. Sebelum sempat mengenai punggung Sundari, Sarjono turun dari kudanya. “Cukup.”

Wiraguna membeku. Rotannya segera diturunkan. “Ndara Sarjono,” katanya sambil membungkuk. “Saya hanya menjaga agar pesanan keluarga Raden Tumenggung terpenuhi.”

“Menjaga pesanan tidak berarti kamu boleh memukul orang.”

“Kalau mereka tidak ditekan, pekerjaan tidak akan selesai.”

Sarjono memandang para pekerja yang menunduk di antara tanaman. “Apakah upah mereka bertambah jika pesanan selesai lebih cepat?”

Wiraguna tampak bingung. “Tidak, Ndara.”

“Lalu mengapa hanya mereka yang menanggung akibat kalau terlambat?”

“Itu sudah menjadi aturan.”

“Aturan siapa?”

Wiraguna tidak mampu menjawab. Aturan itu seolah tidak dibuat oleh siapa pun. Ia turun dari pejabat kepada bangsawan, dari bangsawan kepada bekel, lalu dari bekel kepada pekerja. Ketika sampai di bawah, perintah telah kehilangan nama pembuatnya dan berubah menjadi nasib.

Sarjono berjongkok membantu Sundari mengumpulkan daun-daun yang jatuh.

Sundari tersentak. “Jangan, Den.”

“Mengapa?”

“Tangan Raden nanti kotor.”

Sarjono melihat lumpur kebiruan melekat pada telapak tangannya. “Tanah tidak tahu tangan bangsawan atau tangan buruh.”

Sundari tidak tersenyum. Ia justru melihat sekeliling dengan ketakutan. Para pekerja lain telah menghentikan gerakan, sementara Wiraguna memperhatikan mereka dengan wajah tegang.

“Tanah memang tidak tahu,” kata Sundari pelan. “Tetapi manusia tahu.”

Sarjono menatapnya.

Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Sundari dengan jelas. Kulitnya kecokelatan karena matahari. Matanya bening, tetapi tidak menyimpan kepolosan. Ada kewaspadaan orang yang sejak kecil belajar bahwa perhatian orang berkuasa dapat menjadi awal keberuntungan sekaligus bencana.

“Siapa namamu?”

“Sundari, Den.”

“Anak siapa?”

Gadis itu ragu sebelum menjawab, “Anak Karto.”

“Karto yang bekerja di tempat pengolahan?”

Sundari mengangguk.

“Rumahmu di desa sebelah selatan?”

Sundari menunduk semakin dalam.

Sarjono baru menyadari bahwa setiap pertanyaannya membuat gadis itu lebih takut. “Apakah aku membuatmu tidak nyaman?”

Sundari tidak menjawab.

“Katakan saja. Aku tidak akan marah.”

Sundari perlahan mengangkat wajah. “Orang kecil tidak tahu pertanyaan mana yang boleh dijawab dengan jujur, Den.”

“Mengapa?”

“Karena kejujuran hanya aman bagi orang yang memiliki kedudukan.”

Jawaban itu menghentikan Sarjono lebih kuat daripada larangan ayahnya atau pelajaran gurunya. Di dalam satu kalimat, Sundari memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam buku-buku Eropa: persamaan bukan sekadar hak untuk berbicara, melainkan keadaan ketika seseorang tidak perlu takut dihukum karena ucapannya.

Sarjono berdiri. “Mulai hari ini tidak seorang pun boleh memukul pekerja di kebun ini.”

Wiraguna membungkuk. “Baik, Ndara.”

Namun, setelah Sarjono menaiki kudanya dan pergi, mandor itu mendekati Sundari. “Kamu dengar sendiri,” katanya lirih. “Mulai sekarang aku tidak boleh memukulmu.”

Sundari tetap menunduk.

Wiraguna mendekatkan wajahnya. “Tetapi aku masih dapat mengurangi upah bapakmu.”

Begitulah perubahan sering terjadi di dalam masyarakat feodal. Perintah baik turun dari atas, tetapi kekuasaan di bawah menemukan cara lain untuk mempertahankan ketakutan.

Karto mengetahui pertemuan itu sebelum matahari tenggelam. Rumahnya berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia. Di belakangnya terdapat pekarangan sempit yang ditanami singkong, cabai, dan pisang. Keluarga itu tidak memiliki tanah sawah sendiri. Hak tinggal mereka bergantung pada pekerjaan Karto di kebun milik keluarga Wiradipura.

Malam itu lampu minyak menyala redup. Sumi, ibu Sundari, sedang memilah beras yang bercampur batu kecil. Karto duduk di dekat pintu dengan wajah pucat.

“Kamu berbicara dengan Ndara Sarjono?” tanyanya.

“Saya hanya menjawab pertanyaannya.”

“Mengapa kamu biarkan dia membantu memunguti daun?”

“Apakah saya harus merebutnya dari tangannya?”

“Kamu seharusnya menjauh.”

“Kalau saya pergi, saya dianggap tidak sopan kepada bangsawan.”

Karto memukul pahanya sendiri. “Itulah sebabnya kita tidak boleh menarik perhatian mereka. Kalau orang besar melihat kita, tidak ada tindakan yang benar.”

Sumi mendekati anaknya. “Apakah Ndara menyentuhmu?”

“Tidak.”

“Apakah ia mengatakan sesuatu yang tidak pantas?”

“Tidak, Bu.”

“Lalu mengapa ia mendekatimu?”

Sundari menggeleng. “Saya tidak tahu.”

Karto berdiri dan berjalan mondar-mandir. Bayangannya bergerak di dinding gedek. “Besok kamu tidak usah bekerja di petak depan. Pindah ke tempat pengeringan.”

“Mandor tidak akan mengizinkan.”

“Aku akan bicara kepadanya.”

“Kalau saya dipindahkan, semua orang justru akan tahu.”

Karto berhenti. Anak perempuannya benar. Dalam lingkungan sekecil itu, usaha menyembunyikan sesuatu justru dapat menjadi pengakuan.

Sundari memandang ayahnya. “Bapak takut kepada Raden Sarjono?”

“Bukan kepadanya. Aku takut kepada ayahnya.”

“Raden Tumenggung?”

“Keluarga mereka menguasai kebun, rumah, dan pekerjaan kita. Bandar di kota hanya mau membeli hasil melalui mereka. Bekel mendapatkan kedudukan karena mereka. Kalau Raden Tumenggung mengira kamu menggoda putranya, kita dapat diusir.”

“Saya tidak menggoda siapa pun.”

“Bagi orang besar, kebenaran tidak selalu penting. Mereka hanya perlu merasa terhina.”

Sumi menarik napas panjang. “Barangkali Ndara Sarjono hanya ingin berbuat baik.”

Karto menatap istrinya. “Perhatian seorang bangsawan kepada anak kuli tidak pernah dianggap sekadar kebaikan. Kalau ia bosan, ia dapat pergi. Tetapi nama buruk akan tinggal bersama Sundari.”

“Raden Sarjono tidak seperti itu,” kata Sundari.

Karto mendekatinya. “Kamu baru berbicara dengannya satu kali.”

“Tetapi dia melarang mandor memukul pekerja.”

“Dan setelah dia pergi, apakah hidup kita berubah?”

Sundari teringat ancaman Wiraguna. Ia tidak menjawab.

Karto memegang kedua bahu anaknya. “Dengarkan Bapak. Orang Belanda memberi hak kepada bangsawan agar dapat menguasai petani. Bangsawan memberi hak kepada bandar agar hasil bumi dapat dijual. Bandar memberi utang kepada bangsawan agar kebun terus berjalan. Semua orang di atas saling membutuhkan.”

“Lalu kita?”

“Kitalah yang membayar hubungan mereka.”

“Kalau begitu, mengapa Bapak tetap membela aturan mereka?”

“Aku tidak membelanya. Aku sedang berusaha membuat kita tetap hidup.”

Sundari memandang wajah ayahnya. Untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa kepatuhan Karto bukan lahir dari keyakinan bahwa susunan itu adil. Ayahnya menunduk karena seorang miskin tidak memiliki cukup ruang untuk berdiri tegak tanpa membahayakan seluruh keluarganya.

Di luar rumah terdengar langkah kuda melewati jalan desa. Sundari mengintip melalui celah dinding. Di bawah cahaya bulan, ia mengenali Sarjono bergerak perlahan menuju rumah besar di utara.

Karto segera menariknya menjauh. “Jangan melihat.”

“Saya hanya melihat jalan.”

“Tidak ada jalan bagi kita ke arah sana.”

Sundari kembali duduk. Namun, kata-kata ayahnya terus terngiang. Di negeri itu, jalan memang terbentang dari desa menuju pendapa, dari pendapa menuju keraton, dan dari keraton menuju kantor kolonial. Gerobak, kuda, pejabat, pedagang, pajak, dan hasil bumi bergerak melewatinya setiap hari. Tetapi tidak semua orang diperbolehkan menempuh jalan yang sama.

Sarjono dilahirkan di bagian jalan yang menuju kekuasaan. Sundari dilahirkan di bagian yang hanya membawa tenaga dan hasil bumi ke atas. Perjumpaan mereka tampak sederhana—seorang pemuda membantu seorang gadis memunguti daun nila.

Namun, dalam masyarakat yang menentukan derajat manusia sejak kelahiran, menundukkan tubuh untuk membantu orang yang dianggap lebih rendah dapat menjadi awal sebuah pemberontakan.

Kesetiaan yang Dibeli

Yogyakarta, pertengahan 1811.

Di tanah Jawa, seorang rakyat kecil belajar mengenali kekuasaan bahkan sebelum ia mampu membaca namanya sendiri. Ia mengenal kekuasaan dari cara berjalan menepi ketika rombongan bangsawan lewat. Dari kewajiban melepas caping dan menundukkan kepala. Dari pilihan kata yang harus direndahkan ketika berbicara kepada priyayi. Dari lutut yang menyentuh tanah lebih dahulu sebelum mulut diperbolehkan menyampaikan keluhan.

Anak-anak petani diajari bahwa bangsawan memiliki darah yang berbeda. Para bangsawan disebut memiliki wahyu, keturunan, dan tata krama yang membuat kedudukan mereka lebih dekat kepada pusat dunia. Sementara itu, rakyat kebanyakan diperingatkan agar mengetahui tempatnya. Kepercayaan itu tidak dijaga melalui senjata saja. Ia dipelihara melalui bahasa, pakaian, upacara, gelar, dan rasa takut.

Di pendapa, bangsawan duduk lebih tinggi. Abdi dan petani duduk bersila di lantai. Ketika berbicara, orang kecil menggunakan bahasa halus untuk meninggikan lawan bicara sekaligus merendahkan dirinya sendiri. Kesalahan seorang rakyat dapat disebut pembangkangan. Kesalahan seorang bangsawan disebut kekhilafan. Sarjono tumbuh di tengah susunan tersebut.

Sejak kecil ia terbiasa melihat orang berjongkok saat melintas di hadapan ayahnya. Ketika rombongan keluarga mereka melewati pasar, pedagang kecil berhenti menawarkan dagangan. Sebagian menunduk, sebagian menyembunyikan barang terbaik agar tidak diminta dengan harga murah atas nama penghormatan.

Dahulu Sarjono mengira semua itu merupakan adat kesopanan. Setelah mengenal Sundari, ia mulai melihat bahwa di balik kesopanan terdapat ancaman yang tidak perlu diucapkan. Orang kecil membungkuk bukan selalu karena menghormati. Sering kali mereka membungkuk karena orang yang lewat memiliki kuasa atas tanah, pekerjaan, utang, dan keselamatan keluarganya.

Pagi itu Sarjono mengikuti ayahnya menuju pendapa kawedanan. Beberapa kepala desa telah menunggu untuk menyerahkan laporan hasil panen dan daftar kewajiban penduduk. Raden Tumenggung Wiradipura duduk di kursi kayu berukir. Di sebelahnya terdapat meja rendah yang dipenuhi lembaran catatan. Seorang juru tulis bernama Atmareja duduk bersila sambil memegang pena dan wadah tinta. Para kepala desa tidak duduk sejajar. Mereka berada di lantai, beberapa langkah di bawah Wiradipura.

“Desa Karangjati diwajibkan menyerahkan empat puluh pikul beras,” kata Atmareja.

Seorang kepala desa tua mengangkat kedua tangannya dalam sembah. “Ampun, Kanjeng. Panen kami rusak karena wereng. Kami hanya mampu menyediakan dua puluh enam pikul.”

Wiradipura tidak segera menjawab. Ia mengambil cangkir teh, meniup permukaannya, lalu memandang Sarjono seakan percakapan itu terlalu biasa untuk diperhatikan.

Atmareja membuka catatan lain. “Tahun lalu desa itu juga meminta pengurangan.”

“Tahun lalu sawah kami kebanjiran,” jawab kepala desa.

“Setiap tahun selalu ada alasan.”

“Kami tidak berani berdusta, Kanjeng.”

Atmareja tersenyum tipis. “Kalau tidak berani berdusta, berarti kamu tidak mampu mengurus desamu.”

Kepala desa itu menunduk lebih dalam.

Wiradipura akhirnya berbicara. “Pemerintah di Batavia meminta tambahan persediaan. Jalan dan benteng sedang dibangun. Inggris dapat menyerang setiap saat. Apakah rakyatmu ingin Jawa jatuh ke tangan musuh?”

Kepala desa tampak bingung. Ia tidak mengetahui hubungan antara sawahnya yang terserang wereng dan peperangan bangsa Eropa. “Tidak, Kanjeng.”

“Kalau begitu, kewajiban tetap empat puluh pikul.”

“Tetapi dari mana kami harus mendapat sisanya?”

Wiradipura menoleh kepada Atmareja.

“Bandar Lim dapat memberikan pinjaman beras. Bayar setelah panen berikutnya.”

Kepala desa kembali menyembah. “Berapa bunganya?”

Atmareja menjawab tanpa melihatnya. “Itu urusanmu dengan bandar.”

Sarjono mengetahui bagaimana pinjaman semacam itu bekerja. Lim Keng Hwat akan menyediakan empat belas pikul beras dengan harga yang dihitung lebih tinggi daripada harga pasar. Utang tersebut harus dibayar dengan padi, nila, atau tenaga kerja pada musim berikutnya. Jika panen mendatang kembali gagal, utang akan bertambah. Pada akhirnya, keluarga petani dapat kehilangan ternak, pekarangan, atau hak menggarap tanah. Namun, dalam laporan yang dikirimkan kepada pejabat kolonial, Desa Karangjati tetap tercatat telah memenuhi kewajiban. Tidak ada kolom untuk mencatat berapa keluarga yang harus mengurangi jatah makan atau berutang agar angka itu terlihat sempurna.

Setelah para kepala desa pergi, Sarjono menemukan dua kantong uang di bawah meja ayahnya. “Dari mana uang ini?” tanyanya.

Atmareja menoleh. “Pemberian para kepala desa.”

“Mereka baru saja mengatakan panennya gagal.”

“Beras desa boleh gagal, tetapi rasa hormat tidak boleh.”

Sarjono memandang ayahnya. “Mereka harus memberi uang agar laporan mereka diterima?”

Wiradipura mengerutkan dahi. “Itu bukan suap. Itu pisungsung.”

“Apa bedanya?”

“Suap diberikan untuk membeli keputusan. Pisungsung diberikan untuk menghormati orang yang memikul tanggung jawab.”

“Kalau mereka tidak memberikannya?”

Atmareja tersenyum. “Berarti mereka tidak memahami tata krama.”

“Dan permohonan mereka akan ditolak?”

“Orang yang tidak memahami tata krama biasanya juga tidak layak dipercaya.”

Sarjono mengambil salah satu kantong. Isinya uang perak, beberapa keping kecil, serta gelang tipis yang mungkin berasal dari simpanan seorang perempuan desa. “Ini tetap penyuapan, apa pun nama yang kita berikan.”

Wiradipura meletakkan cangkirnya. “Jangan menilai adat Jawa dengan gagasan yang kamu baca dari buku-buku Belanda.”

“Saya tidak sedang menggunakan pikiran Belanda. Saya memakai akal saya sendiri.”

“Kamu kira mengurus wilayah ini tidak membutuhkan biaya? Aku harus membayar juru tulis, penjaga, utusan, serta pemberian kepada pejabat yang lebih tinggi. Keraton menuntut bagiannya. Pemerintah kolonial meminta hasil bumi. Kalau aku menolak pemberian dari bawah, dengan apa aku memenuhi permintaan dari atas?”

“Jadi setiap orang mengambil dari bawah karena harus memberi kepada atasannya?”

“Itulah cara pemerintahan berjalan.”

“Bukan pemerintahan. Itu rantai pemerasan.”

Atmareja segera menunduk. Tidak seorang pun biasanya berani berbicara demikian kepada Wiradipura.

Ayah Sarjono bangkit perlahan. “Kamu terlalu mudah mengucapkan kata-kata besar karena belum pernah bertanggung jawab atas apa pun. Kalau aku menolak permintaan pemerintah kolonial, mereka akan menganggap keraton tidak setia. Kalau aku tidak membayar kewajiban kepada keraton, tanah lungguh kita dapat diberikan kepada orang lain.”

“Berarti kita memeras rakyat agar tetap memperoleh hak memeras mereka.”

Tamparan Wiradipura mendarat di wajah Sarjono. Pendapa mendadak sunyi. “Jaga mulutmu,” katanya. “Kamu berbicara seolah keluarga ini musuh rakyat.”

Sarjono menyentuh sudut bibirnya. Tidak ada darah, hanya rasa panas.

“Mungkin Ayah tidak membenci mereka. Tetapi orang tidak perlu membenci untuk menindas. Ia hanya perlu merasa berhak.”

Korupsi di daerah tidak berdiri di luar pemerintahan kolonial. Ia menjadi bagian dari cara pemerintahan itu bekerja. Pejabat Eropa mengetahui bahwa sebagian bangsawan mengambil lebih banyak hasil daripada jumlah yang harus diserahkan. Mereka mengetahui pungutan desa sering kali tidak memiliki dasar yang jelas. Mereka juga mengetahui kepala-kepala daerah menggunakan tenaga rakyat untuk memperbaiki rumah, mengerjakan kebun pribadi, mengangkut barang, serta melayani pesta keluarga.

Kadang-kadang seorang pejabat kolonial menulis teguran. Kadang seorang bangsawan yang terlalu rakus dicopot agar pemerintah dapat menunjukkan bahwa ketertiban tetap dijaga. Namun, selama setoran sampai ke gudang, jalan tetap aman, dan rakyat tidak memberontak, sebagian besar penyimpangan dibiarkan. Bagi pemerintah kolonial, bangsawan yang korup tetapi patuh sering dianggap lebih berguna daripada pejabat jujur yang berani menolak perintah.

Melalui para bangsawan, penguasa asing tidak perlu memahami setiap desa. Mereka tidak perlu mengetahui bahasa, adat, hubungan keluarga, atau batas-batas sawah. Para bupati, tumenggung, bekel, dan kepala desa telah memiliki jaringan untuk mengendalikan penduduk. Sebagai imbalannya, mereka diberi gelar, tanah lungguh, hak memungut berbagai kewajiban, perlindungan politik, serta kesempatan mengambil bagian dari kekayaan yang mengalir ke atas.

Kesetiaan tidak selalu dibeli dengan uang. Kadang-kadang ia dibeli dengan hak untuk berlaku sewenang-wenang kepada orang yang lebih lemah. Sementara para bangsawan sibuk menjaga kehormatan, pemerintah kolonial menguasai pelabuhan, cukai, perdagangan antardaerah, dan jalur ekspor. Kayu jati keluar dari hutan. Kopi, gula, nila, beras, serta hasil bumi lainnya bergerak menuju gudang pesisir. Kapal-kapal membawa komoditas itu ke pasar yang tidak pernah dilihat petani.

Rakyat diperdebatkan sebagai tenaga. Tanah dihitung sebagai sumber pendapatan. Kerajaan dinilai berdasarkan kesetiaannya. Bahkan kebudayaan diperlakukan sebagai alat untuk mengetahui cara paling mudah memerintah masyarakat. Kolonialisme tidak harus menghancurkan feodalisme. Selama berguna, ia justru memeliharanya.

Beberapa hari kemudian, Sarjono pergi ke pasar bersama Atmareja. Ayahnya menyuruh mereka memeriksa pembayaran dari bandar. Di depan rumah toko milik Lim Keng Hwat, beberapa gerobak menunggu untuk ditimbang. Karung beras, gula kelapa, tembakau, dan kepingan nila ditumpuk di bawah atap panjang. Para pekerja memikul barang sambil diteriaki juru timbang.

Lim menyambut Sarjono dengan membungkuk. “Ndara Sarjono. Kehadiran Anda menghormati rumah dagang saya.”

“Berapa harga nila sekarang?”

“Bergantung mutu dan kadar warnanya.”

“Berapa harga yang dibayarkan kepada kebun kami?”

Lim menyebutkan angka. “Dan berapa harga jualnya di Semarang?”

Lim tersenyum. “Itu pertanyaan berbeda.”

“Mengapa berbeda?”

“Karena perjalanan dari kebun ke pelabuhan bukan perjalanan tanpa biaya. Saya membayar gerobak, gudang, penjaga, cukai, pemberian kepada pejabat, serta risiko kerusakan. Saya juga memberi uang muka kepada ayah Anda.”

“Apakah semua pemberian kepada pejabat dicatat?”

Senyum Lim menghilang.

Atmareja segera menyela. “Ndara Sarjono masih belajar tentang perdagangan.”

Lim memandang Sarjono beberapa saat. “Semua orang membayar agar barang dapat bergerak,” katanya. “Orang kecil membayar bekel. Bekel membayar bangsawan. Bangsawan memberi kepada pejabat keraton. Saya membayar mereka semua, ditambah orang-orang pemerintah kolonial. Jangan menganggap saya menciptakan permainan ini hanya karena saya berhasil bertahan di dalamnya.”

“Anda memperoleh monopoli pembelian.”

“Saya membeli hak itu.”

“Dari siapa?”

“Dari orang yang memiliki wewenang menjualnya.”

“Apakah petani pernah diminta persetujuan?”

Lim tertawa pendek.

“Kalau persetujuan petani diperlukan untuk setiap perdagangan, tidak ada satu pun kapal yang akan meninggalkan Semarang.”

“Berarti keuntungan Anda dibangun di atas ketidakberdayaan mereka.”

“Dan kedudukan Anda dibangun di atas apa, Ndara?”

Sarjono terdiam.

Lim melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Anda dapat mengkritik saya karena saya pedagang Tionghoa. Orang-orang sering melakukannya ketika harga naik atau panen gagal. Tetapi keluarga saya tidak memberi Anda tanah lungguh. Saya tidak mengajari rakyat bersujud di hadapan ayah Anda. Pemerintah menggunakan orang seperti saya untuk mengumpulkan uang, lalu membiarkan kebencian rakyat diarahkan kepada kami.”

“Saya tidak menyalahkan asal-usul Anda.”

“Bagus. Sebab kolonialisme menyukai perselisihan antargolongan. Selama orang Jawa membenci orang Tionghoa, pedagang kecil membenci petani, dan rakyat takut kepada bangsawan, tidak ada yang sempat melihat kapal siapa yang membawa kekayaan itu keluar dari Jawa.”

Sarjono memandang kesibukan di halaman gudang. Untuk pertama kalinya ia melihat perdagangan bukan sekadar pertukaran barang, melainkan susunan kekuasaan. Lim memang memperoleh keuntungan. Namun, hak monopoli yang dimilikinya tidak lahir dari keunggulan suatu etnis. Ia merupakan hasil persekutuan antara modal dan kekuasaan. Jika Lim menolak, pemerintah akan memilih pedagang lain. Jika Wiradipura menolak, keraton dapat memberikan tanah lungguh kepada bangsawan lain. Setiap orang dapat diganti, tetapi sistemnya tetap hidup.

Di desa, feodalisme bekerja lebih dalam daripada pungutan. Ia masuk ke dalam cara manusia memandang dirinya sendiri. Ketika seorang anak petani menunjukkan kecerdasan, keluarganya tidak segera berpikir untuk menyekolahkannya. Mereka justru khawatir ia akan melupakan kedudukannya. Pendidikan yang tersedia biasanya terbatas bagi anak bangsawan, keluarga pejabat, kalangan keagamaan tertentu, atau orang yang dibutuhkan sebagai juru tulis.

Pemerintah kolonial tidak memerlukan terlalu banyak rakyat terdidik. Mereka hanya membutuhkan sejumlah kecil orang pandai untuk menjadi penerjemah, pencatat pajak, mantri, atau pegawai rendahan. Orang pintar dari kalangan rakyat diberi sedikit kedudukan agar merasa berbeda dari masyarakat asalnya, tetapi tidak cukup kekuasaan untuk menantang sistem. Dengan demikian, kepatuhan memiliki tangga.

Rakyat kecil dibuat percaya bahwa bangsawan merupakan perantara nasib mereka. Priyayi terdidik dibuat bangga karena diperbolehkan duduk dekat pejabat Eropa. Bangsawan tinggi dibiarkan menikmati penghormatan selama menyerahkan hasil bumi dan menjaga ketertiban. Sementara itu, penguasa kolonial berdiri di luar pertentangan itu, seolah hanya mengatur sebuah masyarakat yang memang sejak awal tidak setara.

Suatu sore Sarjono menemui Sundari di tepi saluran air. Para pekerja baru selesai memetik nila. Langit merah menggantung di belakang pohon kelapa. Sarjono membawa sebuah buku tipis berbahasa Melayu. “Bisakah kamu membaca?” tanyanya.

Sundari menggeleng.

“Apakah kamu ingin belajar?”

Sundari menatap buku itu, lalu memandang Sarjono. “Untuk apa?”

“Agar kamu dapat mengetahui dunia di luar kebun ini.”

“Apakah setelah bisa membaca saya tidak perlu bekerja di sini?”

“Tidak segera.”

“Apakah Bapak tidak akan dipecat?”

“Tidak.”

“Apakah utang keluarga kami akan hilang?”

Sarjono terdiam.

Sundari tersenyum kecil. “Berarti membaca hanya membuat saya mengetahui bahwa dunia ini lebih luas, sementara saya tetap tidak dapat pergi ke mana-mana.”

“Pengetahuan dapat mengubah keadaan.”

“Bagi orang seperti Raden, mungkin.”

“Pengetahuan milik semua orang.”

“Kalau begitu, mengapa sekolah hanya tersedia bagi anak bangsawan?”

Pertanyaan itu membuat Sarjono menutup bukunya. “Aku ingin mengajarimu.”

“Diam-diam?”

“Kalau perlu.”

“Kalau belajar harus dilakukan diam-diam, berarti pengetahuan belum menjadi milik semua orang.”

Sarjono duduk di tepi saluran. Air mengalir membawa serpihan daun. “Kamu selalu berhasil membuat keyakinanku terdengar naif.”

“Saya tidak bermaksud merendahkan Raden.”

“Berhentilah memanggilku Raden ketika kita hanya berdua.”

Sundari segera melihat sekeliling. “Saya tidak berani.”

“Mengapa? Namaku Sarjono.”

“Nama Raden boleh saya ucapkan dalam hati. Tetapi kalau orang mendengarnya dari mulut saya, mereka akan menganggap saya lupa diri.”

“Bukankah kita sama-sama manusia?”

Sundari menatapnya lama. “Di hadapan Tuhan, mungkin. Di hadapan mandor, ayah Raden, keraton, dan pemerintah Belanda, kita tidak sama.”

Sarjono membuka buku itu kembali. “Justru karena itu kamu harus belajar.”

“Dan justru karena itu Raden harus mengerti: masalah kami bukan tidak memiliki pikiran. Kami tidak memiliki perlindungan ketika menggunakan pikiran itu.”

Perkataan Sundari menetap dalam diri Sarjono. Ia mulai memahami bahwa feodalisme tidak membuat rakyat bodoh. Feodalisme membuat kecerdasan menjadi berbahaya bagi orang yang tidak mempunyai kedudukan. Orang kecil mengetahui banyak hal, tetapi belajar menyembunyikannya. Mereka melihat korupsi, memahami ketidakadilan, dan mampu menilai kebohongan para pejabat. Namun, pengetahuan tanpa perlindungan hanya dapat disampaikan melalui bisikan.

Sementara itu, orang terpelajar dari kalangan bangsawan tidak selalu dibungkam. Mereka dijinakkan dengan jabatan. Mereka diberi meja, gelar, pakaian, serta tempat duduk lebih tinggi. Perlahan-lahan mereka belajar menggunakan kecerdasan untuk membenarkan kekuasaan yang memberi mereka kehormatan.

Ketika kabar mengenai armada Inggris semakin sering terdengar, ketegangan menjalar dari Batavia sampai Yogyakarta. Daendels telah digantikan oleh Jan Willem Janssens. Pemerintah memperkirakan serangan besar akan segera datang. Di pendapa keraton, sebagian bangsawan ingin mempertahankan hubungan dengan pemerintah Belanda-Prancis. Sebagian lainnya diam-diam berharap Inggris akan menang. Utusan-utusan bergerak membawa surat rahasia. Janji tentang kedudukan dan hak wilayah dipertukarkan sebelum satu pun meriam ditembakkan.

Sarjono membaca selebaran tentang Inggris dari seorang pedagang yang baru tiba dari Semarang. Di sana disebutkan bahwa orang Inggris menentang monopoli yang berlebihan, menghendaki perdagangan lebih bebas, dan membawa tata pemerintahan yang dipengaruhi gagasan liberal.

Ia membawa tulisan itu kepada ayahnya. “Kalau Inggris menang, mungkin mereka akan menghapus penyerahan wajib,” katanya.

Wiradipura tidak mengangkat wajah dari catatannya. “Setiap penguasa baru datang dengan janji membebaskan rakyat dari penguasa lama.”

“Mereka menentang feodalisme.”

“Kamu terlalu mudah percaya kepada kata-kata.”

“Kalau kekuasaan bangsawan dibatasi, petani dapat berhubungan langsung dengan pemerintah. Tidak ada lagi pungutan sesuka hati.”

Wiradipura menutup buku catatannya. “Dan pemerintah asing itu akan memungut lebih sedikit?”

“Setidaknya jumlahnya dapat ditetapkan berdasarkan hukum.”

“Siapa yang membuat hukumnya?”

Sarjono diam.

“Inggris,” jawab ayahnya sendiri. “Mereka akan menyebut tanah ini milik pemerintah, lalu meminta petani membayar sewa. Mereka mungkin menyingkirkan kita bukan untuk membebaskan rakyat, tetapi agar seluruh hasil masuk langsung ke kas mereka.”

“Namun, sistem sekarang tetap tidak dapat dipertahankan.”

“Aku tidak mengatakan sistem ini adil.”

“Lalu mengapa Ayah membelanya?”

“Karena ketika kekuasaan asing dan keraton berhadapan, keluarga kita hidup di antara keduanya. Kalau keraton runtuh, kita kehilangan kedudukan. Kalau pemerintah kolonial marah, kita kehilangan perlindungan.”

“Lalu siapa yang melindungi rakyat?”

Wiradipura tidak menjawab.

Dari halaman terdengar suara beberapa orang desa mengangkat peti berisi nila untuk dikirim ke kota. Seorang mandor menyuruh mereka bergerak lebih cepat.

Sarjono memandang ayahnya. “Pemerintah kolonial membeli kesetiaan bangsawan dengan membiarkan mereka mengambil dari rakyat. Setelah itu bangsawan menyebut kepatuhan sebagai adat dan penindasan sebagai kewajiban. Ayah mengetahui semua ini.”

“Mengetahui bukan berarti mampu mengubahnya.”

“Orang yang memperoleh keuntungan dari ketidakadilan selalu mengatakan perubahan mustahil.”

Wiradipura menatap putranya tajam. “Dan anak muda yang belum pernah kehilangan apa pun selalu menganggap keberanian tidak memiliki harga.”

“Saya bersedia membayar harganya.”

“Kamu mungkin bersedia. Tetapi ketika kamu melawan, belum tentu kamu yang pertama kali dihukum.”

Sarjono teringat Sundari dan keluarganya.

Wiradipura melanjutkan, “Kamu mencintai anak kuli itu, bukan?”

Sarjono tidak menjawab.

“Kamu ingin menghancurkan dinding antara dirimu dan dia. Tetapi ingat, orang yang tinggal di rumah batu dapat menikmati suara tembok runtuh. Orang yang tinggal di bawahnya akan tertimpa lebih dahulu.”

Untuk pertama kalinya, Sarjono tidak dapat membantah ayahnya.

Pada malam yang sama, dari arah utara datang kabar bahwa kapal-kapal Inggris telah terlihat di perairan Jawa.

Sarjono berdiri di halaman, memandang langit yang gelap. Ia berharap kekuasaan baru akan membuka jalan bagi masyarakat yang lebih adil. Ia membayangkan monopoli dihapus, kerja paksa dihentikan, sekolah dibuka, dan manusia tidak lagi ditentukan oleh keturunannya.

Namun, di rumah-rumah bangsawan, orang sedang menghitung kedudukan yang mungkin diperoleh dari penguasa baru. Di gudang-gudang, para pedagang menghitung hak monopoli yang mungkin dapat dipertahankan. Di kantor kolonial, para pejabat menghitung pajak dan hasil bumi yang dapat diambil. Hanya rakyat kecil yang tidak ikut menghitung. Sebab merekalah yang akan dijadikan angka.

Meriam dan Janji Kebebasan

Yogyakarta, Juni 1812

Setelah Belanda-Prancis menyerah kepada Inggris pada 1811, Yogyakarta tidak segera menjadi tenang. Pergantian kekuasaan di Batavia justru membuat hubungan di antara para bangsawan semakin rumit. Setiap orang sedang menebak masa depan.

Para pangeran bertanya siapa yang akan diakui Inggris sebagai penguasa. Para pejabat keraton berusaha mengetahui keluarga mana yang akan naik dan siapa yang akan disingkirkan. Para pedagang menghitung apakah hak monopoli mereka akan diperpanjang. Para bupati menunggu apakah kewajiban lama tetap berlaku. Sementara rakyat desa hanya mendengar nama-nama penguasa baru tanpa mengetahui beban apa yang akan dibawa bersama mereka.

Di pasar, beredar kabar bahwa orang Inggris akan menghapus kerja wajib dan penyerahan hasil bumi. Di serambi masjid, orang membicarakan kemungkinan perang. Di rumah-rumah bangsawan, pintu ditutup lebih awal karena setiap percakapan dapat dilaporkan sebagai tanda ketidaksetiaan. Bendera telah berganti, tetapi belum ada yang tahu apakah kekuasaan benar-benar berubah atau hanya mengenakan pakaian baru.

Sultan Hamengkubuwono II, yang telah lama berselisih dengan Daendels, berharap kekalahan Belanda-Prancis akan memulihkan kewibawaan keraton. Ia menganggap pemerintahan baru semestinya memperlakukannya sebagai sekutu, bukan sebagai bawahan.

Akan tetapi, Raffles datang dengan pemahaman berbeda. Bagi pemerintah Inggris, kemenangan militernya atas Belanda-Prancis berarti Inggris mewarisi hak-hak politik yang sebelumnya diklaim pemerintah kolonial. Raffles tidak bersedia melihat Yogyakarta sebagai kerajaan yang sepenuhnya bebas. Ia menuntut agar hubungan antara keraton dan pemerintah Inggris diatur berdasarkan kepentingan kekuasaan baru.

Di sinilah pertentangan bermula. Hamengkubuwono II ingin mengembalikan kedudukannya dan menegakkan kedaulatan keraton. Raffles ingin memastikan bahwa tidak ada kerajaan Jawa yang cukup kuat untuk menolak perintah Inggris. Di dalam keraton sendiri terdapat persaingan antara Sultan Sepuh, putra mahkota, para pangeran, serta kelompok-kelompok yang berharap pergantian kekuasaan akan mengubah nasib mereka.

Diplomasi berubah menjadi permainan yang dipenuhi kecurigaan. Surat dikirim dengan bahasa penuh penghormatan, tetapi di baliknya terdapat ancaman. Utusan datang membawa hadiah, tetapi sekaligus menghitung jumlah prajurit dan letak pertahanan. Setiap pihak berbicara tentang persahabatan sambil mempersiapkan kemungkinan pengkhianatan.

Sarjono mengikuti keadaan itu dari rumahnya. Ia tidak pernah menjadi penerjemah Inggris. Ia tidak memberikan peta, menunjukkan jalan, ataupun membantu pasukan asing. Sebaliknya, sejak perdebatan dengan ayahnya, ia sengaja menjauh dari orang-orang Inggris.

Ia masih percaya kepada gagasan liberal tentang kebebasan perdagangan, kepastian pajak, dan penghapusan kewajiban feodal. Namun, ia mulai memahami bahwa gagasan yang baik dapat dibawa oleh tangan yang menginginkan kekuasaan.

“Apakah perang akan terjadi?” tanya Sundari ketika mereka bertemu di kebun.

Sarjono memandang ke arah kota. Dari kejauhan, atap-atap keraton hanya tampak sebagai garis hitam di bawah langit senja.

“Mungkin.”

“Siapa melawan siapa?”

“Keraton melawan Inggris.”

“Keraton membela rakyat?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi Sarjono tidak dapat segera menjawab. “Keraton sedang mempertahankan kekuasaannya,” katanya akhirnya.

“Lalu Inggris?”

“Inggris ingin keraton tunduk.”

“Jadi, keduanya memperebutkan siapa yang berhak memerintah kita?”

Sarjono mengangguk pelan.

“Kalau begitu, mengapa rakyat harus mati?”

Sarjono tidak mempunyai jawaban. Dalam semua surat politik yang pernah dibacanya, rakyat selalu disebut sebagai alasan. Namun, mereka hampir tidak pernah hadir ketika keputusan dibuat.

Pada pertengahan Juni, ketegangan mencapai puncaknya. Raffles menilai Sultan Hamengkubuwono II tidak dapat dipercaya dan dapat mengancam kedudukan Inggris di Jawa. Inggris juga mencurigai adanya komunikasi politik antara Yogyakarta dan Surakarta. Dalam suasana ketika kekuasaan kolonial Inggris masih baru, sikap keras Sultan dianggap berbahaya: apabila satu kerajaan berani menolak, kerajaan serta penguasa daerah lain mungkin mengikuti.

Perselisihan itu bukan hanya soal tata krama diplomatik. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar—siapa yang memiliki kekuasaan terakhir atas Jawa. Raffles menghendaki perjanjian yang menempatkan Yogyakarta di bawah pengaruh Inggris. Sultan menolak diperlakukan sebagai pejabat bawahan. Inggris kemudian mendukung kelompok dalam keraton yang bersedia bekerja sama, termasuk putra mahkota dan Pangeran Natakusuma.

Bagi Raffles, perpecahan internal keraton merupakan kesempatan. Ia tidak perlu menghadapi Yogyakarta sebagai satu kekuatan utuh. Cukup mendukung mereka yang menginginkan takhta atau wilayah, kemudian menjanjikan kedudukan setelah Sultan Sepuh disingkirkan. Bagi sebagian bangsawan, bekerja sama dengan Inggris dianggap jalan menyelamatkan diri. Bagi yang lain, itu pengkhianatan. Namun, garis antara kesetiaan dan ambisi semakin sulit dibedakan.

Pada 17 Juni 1812, pasukan Inggris mulai mendekati Yogyakarta. Serdadu Eropa, pasukan Sepoy dari India, artileri, serta pasukan pendukung bergerak menuju benteng keraton. Kolonel Rollo Gillespie memimpin operasi militer, sedangkan Raffles berada di Yogyakarta untuk mengendalikan keputusan politiknya.

Jalan-jalan dipenuhi prajurit. Gerobak membawa mesiu, peluru, perbekalan, dan tangga untuk memanjat dinding. Kuda-kuda berlari di antara debu. Di kejauhan terdengar genderang militer yang bunyinya asing bagi penduduk.

Keraton pun bersiap. Pintu-pintu diperkuat. Meriam ditempatkan pada titik pertahanan. Para prajurit mengambil tombak, senapan, dan senjata pusaka. Di dalam tembok, keluarga bangsawan memindahkan barang berharga. Para abdi membawa peti, kain, naskah, dan perlengkapan upacara ke tempat yang dianggap aman.

Di luar benteng, penduduk menutup rumah. Pasar yang biasanya ramai mendadak lengang. Para pedagang menyembunyikan barang dagangan. Perempuan membawa anak-anak menjauh dari jalan utama. Orang-orang desa yang kebetulan berada di kota berusaha pulang sebelum pintu-pintu ditutup. Tidak ada yang mengetahui kapan tembakan pertama akan dilepaskan.

Di rumah Wiradipura, sejumlah kerabat berkumpul di pendapa. Sebagian ingin bergabung mempertahankan keraton. Sebagian lainnya menyarankan agar keluarga tidak terlibat sampai diketahui siapa yang akan menang.

“Kalau kita diam, kita akan dianggap pengecut,” kata salah seorang paman Sarjono.

“Kalau kita melawan dan Inggris menang, seluruh tanah lungguh dapat diambil,” jawab yang lain.

“Keraton telah memberi keluarga kita kedudukan.”

“Tetapi Inggris sekarang menguasai Jawa.”

“Jadi, kesetiaan harus mengikuti siapa yang memiliki meriam?”

Perdebatan berlangsung panas. Sarjono duduk di dekat tiang sambil mendengarkan. Ia melihat bagaimana kehormatan, ketakutan, dan kepentingan bercampur dalam setiap pendapat.

Wiradipura kemudian menoleh kepadanya. “Kamu diam saja.”

“Apa yang harus saya katakan?”

“Bukankah kamu mengagumi gagasan Inggris?”

“Saya mengagumi gagasan tentang kebebasan. Bukan meriam mereka.”

“Sekarang kamu melihat bahwa keduanya datang bersama-sama.”

“Saya juga melihat para bangsawan baru berbicara tentang kedaulatan setelah kedudukannya terancam.”

Beberapa orang memandang Sarjono dengan marah. Seorang pamannya berdiri. “Kamu menghina keluarga sendiri?”

“Saya bertanya, selama ini, ketika petani dipaksa menyerahkan hasilnya, di mana pembicaraan tentang kedaulatan? Ketika orang seperti Karto harus bersujud agar tidak kehilangan pekerjaan, siapa yang membela kehormatan Jawa?”

“Ini bukan waktunya membicarakan anak kuli.”

“Justru karena orang selalu berkata belum waktunya, maka waktu itu tidak pernah datang.”

Wiradipura memukul lantai dengan tongkatnya. “Cukup!”

Pendapa menjadi sunyi. “Kita sedang membicarakan keselamatan keraton,” lanjutnya.

Sarjono menatap ayahnya.

“Keraton bukan hanya tembok, takhta, dan pusaka, Ayah. Kalau rakyat terus dianggap tidak mempunyai suara, apa yang sebenarnya sedang kita selamatkan?”

Wiradipura tidak menjawab. Ia kemudian memerintahkan beberapa abdi untuk membantu pertahanan, tetapi melarang Sarjono ikut.

“Kamu tetap di rumah.”

“Karena Ayah menganggap saya berpihak kepada Inggris?”

“Karena aku tidak ingin kehilangan anakku dalam perang yang bahkan para pemimpinnya tidak sepenuhnya memahami untuk siapa mereka berperang.”

Menjelang fajar 20 Juni 1812, suara meriam pertama mengguncang Yogyakarta. Burung-burung beterbangan dari pepohonan. Jendela rumah bergetar. Dari kejauhan tampak asap hitam naik di sekitar benteng.

Pasukan Inggris menyerang dari beberapa arah. Jumlah mereka tidak sebesar pasukan keraton, tetapi mereka memiliki disiplin, koordinasi, serta persenjataan yang lebih teratur. Serdadu Sepoy bergerak mendekati tembok dalam kelompok-kelompok kecil, dilindungi tembakan artileri. Tangga ditempelkan pada dinding. Pintu pertahanan dihantam.

Prajurit keraton membalas dengan meriam dan senapan. Tombak disiapkan di balik pintu. Teriakan perintah bercampur dengan bunyi tembakan, denting senjata, ringkik kuda, dan jeritan orang yang terluka. Di beberapa bagian, pertahanan berlangsung sengit. Namun, keraton telah dilemahkan oleh perpecahan dari dalam. Tidak semua bangsawan berdiri di pihak Sultan Sepuh. Ada yang menunggu, ada yang bersembunyi, dan ada yang telah menjalin hubungan dengan Inggris.

Sarjono berada di desa ketika serangan terjadi. Bersama Karto dan beberapa lelaki lain, ia membantu membawa perempuan, anak-anak, dan orang tua ke tempat yang lebih jauh dari jalan menuju kota. Ia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam benteng. Setiap dentuman hanya memberinya gambaran bahwa sesuatu yang lebih besar daripada pergantian penguasa sedang berlangsung. Sundari membantu ibunya membagikan air.

Ketika suara ledakan terdengar lebih dekat, seorang anak menangis dan memeluk kaki Sundari. “Apakah Inggris akan datang ke sini?” tanyanya.

Sundari berjongkok. “Tidak. Kita tetap bersama.”

Namun, ia sendiri tidak yakin.

Menjelang siang, kabar mulai beredar, pertahanan keraton telah ditembus. Pasukan Inggris memasuki kompleks istana. Para prajurit keraton tercerai-berai. Sebagian terbunuh, sebagian menyerah, dan sebagian melarikan diri. Bangsal-bangsal dimasuki. Gudang serta ruang penyimpanan dibuka.

Kemenangan kemudian berubah menjadi penjarahan. Uang, perhiasan, senjata, kain, benda upacara, dan berbagai barang berharga diambil sebagai rampasan perang. Naskah-naskah keraton yang menyimpan silsilah, kesusastraan, pengetahuan, serta sejarah Jawa dibawa keluar. Bagi tentara pemenang, benda-benda itu merupakan harta. Bagi keraton, itu adalah bagian dari ingatan sebuah peradaban.

Sarjono memasuki kota sehari kemudian. Jalan dipenuhi pecahan kayu dan bekas roda meriam. Beberapa rumah rusak. Bau asap serta mesiu masih tertinggal di udara. Orang-orang berjalan tanpa banyak bicara, seolah suara keras dapat memanggil kembali pertempuran.

Di sekitar keraton, ia melihat abdi duduk menangis. Seorang lelaki tua memunguti lembaran naskah yang tercecer dan terkena lumpur.

Sarjono membantunya. “Apa ini?” tanyanya.

“Serat lama,” jawab lelaki itu. “Saya tidak tahu dari ruangan mana.”

Beberapa aksara telah luntur terkena air. Lelaki tua itu mengusap lembaran tersebut dengan ujung kainnya. “Mereka tidak hanya mengambil emas,” katanya. “Mereka mengambil ingatan kita.”

Sarjono memandang gerbang keraton yang telah ditaklukkan. Dahulu ia berharap Inggris akan membuka pintu menuju kebebasan. Kini ia melihat bahwa penguasa yang berbicara tentang hak individu tidak merasa perlu menghormati hak sebuah bangsa atas istana dan pengetahuannya sendiri.

Setelah kemenangan Inggris, Hamengkubuwono II diturunkan dari takhta dan kemudian dibuang. Putra mahkota diangkat menjadi Hamengkubuwono III. Pangeran Natakusuma, yang membantu pihak Inggris, memperoleh kedudukan tersendiri sebagai Paku Alam I beserta wilayah dan kekuatan politik baru.

Keraton juga harus menerima berbagai ketentuan yang semakin membatasi kekuasaannya. Sebagian wilayah dan sumber pendapatan dilepaskan. Kekuatan militer diperkecil. Pemerintah Inggris mempertegas kedudukannya sebagai pihak yang dapat menentukan siapa yang boleh memerintah. Serangan itu mengirimkan pesan kepada seluruh kerajaan di Jawa: Inggris mungkin datang dengan bahasa diplomasi, tetapi meriam tetap menjadi dasar terakhir kekuasaannya.

Para bangsawan Yogyakarta kehilangan keyakinan bahwa keraton tidak dapat disentuh. Di Surakarta, para pejabat mengikuti perkembangan dengan cemas. Sebagian memilih semakin berhati-hati terhadap Inggris. Sebagian lainnya justru berusaha mendekat agar tidak menjadi sasaran berikutnya. Raffles memenangkan pertempuran bukan hanya atas sebuah benteng, melainkan atas imajinasi politik Jawa. Setelah Juni 1812, para penguasa lokal mengetahui bahwa istana yang dianggap pusat dunia pun dapat direbut dalam satu pagi.

Beberapa bulan setelah penyerbuan, pemerintahan Inggris mulai memperluas perubahan administrasi dan ekonomi. Penyerahan wajib dan monopoli tertentu yang dianggap merugikan perdagangan mulai dikurangi. Gerbang-gerbang cukai serta pungutan perjalanan ditata ulang. Pemerintah Inggris mendorong perdagangan yang lebih terbuka agar petani dan pedagang dapat menjual hasil kepada pembeli yang menawarkan harga lebih baik.

Kemudian diperkenalkan gagasan sewa tanah. Dalam teori Raffles, pemerintah dianggap sebagai pemilik tertinggi tanah, sedangkan penggarap membayar pajak atau sewa berdasarkan luas dan mutu tanah yang dikerjakannya. Besarnya kewajiban seharusnya dicatat lebih jelas, tidak lagi berubah hanya karena kehendak bangsawan atau bekel.

Sistem itu dikatakan akan menghapus penyerahan paksa dan mengurangi perantaraan feodal. Petani diharapkan dapat menikmati hasil kerja setelah membayar kewajiban yang telah ditetapkan.

Bagi orang seperti Sarjono, perubahan tersebut terdengar seperti awal dari sesuatu yang sejak lama dibayangkannya. Namun, pelaksanaan tidak semudah pengumumannya. Pemerintah Inggris tidak memiliki cukup petugas untuk mengukur seluruh tanah dan menghitung produktivitas setiap sawah. Banyak desa belum menggunakan uang secara luas. Batas kepemilikan tanah tidak selalu tertulis karena hak menggarap dibentuk oleh adat, keluarga, dan hubungan dengan desa. Akibatnya, pemerintah tetap menggunakan bekel dan kepala desa sebagai perantara.

Monopoli lama berkurang, tetapi tidak seluruhnya hilang. Perdagangan menjadi lebih terbuka, tetapi orang yang memiliki modal, gudang, gerobak, dan hubungan dengan pejabat tetap lebih mudah memperoleh keuntungan. Petani memperoleh pilihan pembeli, tetapi ketika membutuhkan uang sebelum panen, mereka masih bergantung kepada pemberi kredit. Kebijakan baru membuka pintu, tetapi tidak membuat semua orang berdiri pada jarak yang sama dari pintu itu.

Perubahan terasa di kebun keluarga Wiradipura. Kontrak pembelian tunggal dengan bandar Lim Keng Hwat ditinjau kembali. Pemerintah Inggris menghendaki agar beberapa hasil bumi dapat diperdagangkan lebih bebas. Wiradipura tidak lagi mudah menetapkan pungutan tambahan tanpa mencatat dasar dan jumlahnya.

Atmareja mengeluh karena setiap penerimaan harus dimasukkan ke dalam daftar. “Dahulu orang cukup mengetahui kewajibannya,” katanya.

Sarjono duduk di hadapannya sambil memeriksa catatan. “Dahulu orang hanya mengetahui jumlah yang diminta. Mereka tidak pernah tahu berapa yang sampai kepada keraton dan berapa yang berhenti di rumah pejabat.”

“Aturan baru membuat semuanya lambat.”

“Bagi orang yang terbiasa mengambil tanpa ditanya, pencatatan memang terasa mengganggu.”

Atmareja menatapnya tidak senang.

Dengan persetujuan yang diperoleh setelah pertengkaran panjang dengan ayahnya, Sarjono mengubah pengelolaan kebun nila. Para pekerja tidak lagi dibayar hanya berdasarkan jumlah hari, tetapi juga berdasarkan hasil yang mereka kumpulkan. Harga penjualan diumumkan di depan para pekerja. Upah dicatat oleh dua orang, bukan hanya mandor. Potongan harus disertai alasan.

Ia juga membuka penjualan kepada lebih dari satu pembeli. Lim Keng Hwat tidak menentang sepenuhnya. “Kalau harga saya lebih baik, Anda tetap akan menjual kepada saya,” katanya.

“Itulah perdagangan yang seharusnya.”

Lim tersenyum. “Sekarang Anda berbicara seperti orang Inggris.”

“Saya berbicara tentang persaingan.”

“Orang Inggris juga berbicara tentang persaingan setelah meriam mereka memenangkan pasar.”

Sarjono terdiam.

Lim melanjutkan, “Saya tidak menolak perdagangan terbuka. Tetapi jangan mengira tidak ada kekuasaan di dalam pasar bebas. Orang yang memiliki kapal dapat menunggu harga naik. Petani yang anaknya harus makan besok tidak dapat menunggu.”

Sarjono mengangguk. Ia mulai memahami bahwa menghapus monopoli tidak otomatis menghapus ketimpangan. Kebebasan menjual hanya berarti bagi orang yang memiliki waktu, informasi, dan pilihan.

Meski demikian, perubahan kecil mulai terasa. Karto tidak lagi diwajibkan bekerja di kebun pribadi Wiradipura tanpa upah. Sundari menerima pembayaran atas hasil petikannya. Untuk pertama kalinya, keluarga itu dapat menyimpan sebagian kecil uang tanpa segera menyerahkannya untuk melunasi pungutan yang tidak jelas.

Sarjono menggunakan salah satu bangunan kosong dekat gudang sebagai tempat belajar pada malam hari. Ia meminta seorang juru tulis tua mengajarkan huruf Jawa dan hitungan sederhana kepada anak-anak pekerja.

Pada malam pertama hanya lima anak yang datang. Sundari berdiri di luar pintu. “Mengapa tidak masuk?” tanya Sarjono.

“Saya sudah terlalu tua untuk duduk bersama anak-anak.”

“Kamu belum dua puluh tahun.”

“Di keluarga kuli, perempuan seusia saya dianggap cukup tua untuk menikah.”

“Kalau begitu, duduklah di belakang.”

Sundari tetap ragu.

“Apakah ayahmu melarang?”

“Bapak takut Raden Tumenggung menganggap saya tidak lagi patuh.”

Sarjono mengulurkan papan tulis kecil. “Sekarang ada aturan bahwa pekerja berhak mengetahui catatan upah dan kewajibannya. Bagaimana kamu dapat memeriksanya kalau tidak bisa membaca dan menghitung?”

Sundari menerima papan itu.

“Jadi, Raden mengajari saya membaca agar saya dapat mencurigai catatan keluarga Raden sendiri?”

Sarjono tersenyum. “Terutama untuk itu.”

Sundari akhirnya masuk.

Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Mereka tidak lagi hanya bertemu sebagai putra pemilik tanah dan anak pekerja. Mereka duduk berhadapan sebagai dua orang yang sedang membaca dunia yang sama. Sarjono mengajarkan huruf. Sundari mengajarinya melihat akibat suatu kebijakan dari bawah. Ketika Sarjono menjelaskan bahwa perdagangan bebas memberi kesempatan kepada semua orang, Sundari bertanya siapa yang dapat membeli gerobak. Ketika ia menjelaskan bahwa pajak sekarang lebih jelas, Sundari bertanya siapa yang menentukan mutu tanah. Ketika ia mengatakan kerja wajib akan dihapus, Sundari menunjukkan bahwa mandor masih dapat mengancam pekerja dengan pemecatan.

Setiap pertanyaan Sundari memaksa Sarjono membedakan antara aturan yang tertulis dan kehidupan yang sungguh-sungguh berubah. Kedekatan itu tidak lagi dapat disembunyikan.

Suatu malam Wiradipura melihat Sundari keluar dari tempat belajar bersama Sarjono. Ia menunggu putranya di pendapa. “Kamu memakai kebijakan Inggris untuk mempermalukan keluarga,” katanya.

“Saya mengajari pekerja membaca.”

“Kamu mengajari mereka mempertanyakan orang yang memberi mereka makan.”

“Mereka makan dari hasil kerja sendiri.”

“Tanah itu milik keluarga kita.”

“Menurut aturan Inggris, tanah dianggap berada di bawah pemerintah dan penggarap membayar sewa. Kalau Ayah menerima aturan itu ketika menguntungkan kita, mengapa Ayah tetap berbicara seolah para pekerja adalah milik keluarga?”

Wiradipura bangkit. “Jangan gunakan hukum penjajah untuk mengajariku adat Jawa.”

“Kalau adat hanya dapat bertahan dengan membuat orang lain bodoh, adat itu tidak pantas dipertahankan.”

“Ini bukan tentang sekolah. Ini tentang Sundari.”

Sarjono tidak menyangkalnya. “Saya mencintainya.”

Wiradipura menatap putranya seolah baru saja mendengar pengakuan kejahatan. “Kamu boleh memberinya uang. Kalau perlu, carikan rumah untuk keluarganya. Tetapi jangan bicara tentang perkawinan.”

“Mengapa?”

“Karena kamu putra seorang tumenggung.”

“Dan dia anak manusia.”

“Dia anak kuli.”

“Pekerjaan ayahnya bukan ukuran nilai dirinya.”

“Orang tidak akan melihatnya begitu. Keraton akan menganggap keluarga kita kehilangan martabat. Kerabatmu tidak akan mengakui anak-anakmu. Tidak ada bangsawan yang bersedia membangun hubungan dengan rumah ini.”

“Berarti kehormatan keluarga dibangun dengan mengorbankan hidup saya dan Sundari.”

“Kehormatan tidak diciptakan untuk membahagiakan satu orang. Ia menjaga kedudukan satu keturunan.”

Sarjono memandang ayahnya. “Itulah sebabnya feodalisme bertahan. Orang hidup dikorbankan untuk menjaga nama orang yang sudah mati.”

Wiradipura mengangkat tangan, tetapi kali ini tidak menamparnya.

“Kamu mengira Inggris telah membebaskanmu dari keluarga?”

“Tidak. Tetapi aturan baru membuktikan bahwa susunan lama dapat berubah.”

Wiradipura tertawa pahit.

“Kamu belajar sedikit tentang kebebasan, lalu mengira dunia telah menjadi baru. Raffles menyerang keraton untuk menentukan siapa yang boleh menjadi sultan. Setelah itu ia menulis bahwa manusia memiliki kebebasan. Tidakkah kamu melihat pertentangannya?”

“Saya melihatnya.”

“Lalu mengapa kamu masih memercayai kebijakannya?”

“Karena gagasan yang benar tidak otomatis menjadi salah hanya karena orang yang membawanya munafik.”

“Dan kekuasaan tidak otomatis menjadi adil hanya karena menggunakan gagasan yang benar.”

Mereka saling menatap.

Untuk pertama kalinya, perdebatan mereka tidak lagi memperhadapkan seorang ayah feodal dengan anak liberal. Keduanya telah melihat bagian yang berbeda dari kenyataan. Sarjono melihat bahwa perubahan hukum dapat membuka ruang bagi orang kecil. Wiradipura melihat bahwa perubahan itu datang dari pemerintah yang telah merendahkan keraton dengan kekuatan senjata. Yang satu terlalu percaya kepada kemungkinan kemajuan. Yang lain terlalu takut kehilangan dunia lama.

Penolakan tidak hanya datang dari Wiradipura. Sumi takut hubungan itu akan membuat Sundari dijadikan sasaran kebencian keluarga bangsawan. Karto bahkan berhenti mengizinkan anaknya mengikuti pelajaran malam.

“Raden Sarjono dapat menentang keluarganya karena ia tetap seorang bangsawan,” katanya. “Kalau akhirnya mereka berdamai, ia akan diterima kembali. Tetapi kamu? Sekali dianggap lancang, tidak ada tempat untuk pulang.”

“Sarjono ingin menikahi saya.”

Karto menunduk. Ia tidak lagi terkejut mendengar putrinya menyebut nama Sarjono tanpa gelar.

“Keinginan seorang pemuda tidak selalu lebih kuat daripada keluarganya.”

“Kalau saya menolaknya hanya karena takut, bukankah saya membiarkan keluarga mereka menentukan hidup saya?”

“Aku ingin melindungimu.”

“Saya tahu. Tetapi perlindungan yang mengambil hak saya untuk memilih hanya menjadi kurungan yang dibuat dari rasa sayang.” Karto memandang putrinya lama. Ia tidak marah. Di wajahnya terlihat kesedihan seorang ayah yang mengetahui bahwa anaknya benar, tetapi juga mengetahui betapa mahal harga dari kebenaran itu.

“Aku tidak takut kamu mencintainya,” katanya. “Aku takut dunia tidak mengizinkan cinta itu hidup.”

Sundari duduk di sampingnya.

“Dunia yang mana, Pak? Dunia keraton yang baru saja dihancurkan Inggris? Dunia Belanda yang telah kalah? Atau dunia Inggris yang mengatakan semua orang bebas tetapi menentukan sultan dengan meriam?”

Karto tidak menjawab.

“Semua kekuasaan itu dapat berubah,” lanjut Sundari. “Mengapa hanya nasib orang kecil yang dianggap tidak boleh berubah?”

Pada suatu sore menjelang musim hujan, Sarjono menunggu Sundari di bawah pohon asam tempat mereka pertama kali bertemu. Kebun nila tampak berbeda. Rotan tidak lagi tergantung di pinggang mandor. Di depan gudang dipasang papan yang mencatat berat hasil dan nilai pembayaran. Para pekerja masih miskin, tetapi untuk pertama kalinya mereka dapat melihat angka yang sebelumnya hanya diketahui pemilik kebun dan bandar.

Sundari datang membawa buku tipis. “Apa itu?” tanya Sarjono.

“Catatan upah pekerja.”

“Kamu dapat membacanya?”

“Sedikit.”

“Apakah hitungannya benar?”

“Ada selisih.”

“Berapa?”

“Dua puluh keping untuk seluruh pekerja minggu ini.”

Sarjono tersenyum. “Kita akan tanyakan kepada Atmareja.”

“Kita?”

“Kamu yang menemukannya.”

Wajah Sundari berubah tegang. “Kalau saya yang bicara, ia akan marah.”

“Kalau kamu tidak bicara, ia akan menganggap orang kecil tetap tidak mampu memeriksa pekerjaannya.”

Sundari memandang buku itu, lalu memandang Sarjono. “Apakah Raden akan berdiri di samping saya?”

“Ya.”

“Jangan berdiri di depan saya.”

Sarjono memahami maksudnya. Sundari tidak ingin diselamatkan. Ia hanya ingin tidak ditinggalkan ketika menggunakan suaranya sendiri.

Mereka berjalan menuju gudang dalam jarak sejajar. Para pekerja berhenti dan memandang. Atmareja berdiri di ambang pintu dengan wajah tidak percaya. Dari pendapa kejauhan, Wiradipura mengawasi mereka. Belum ada hukum yang menyatakan seorang bangsawan boleh menikahi anak kuli tanpa kehilangan kedudukannya. Belum ada aturan yang dapat menghapus penghinaan dari pikiran manusia. Namun, perubahan ekonomi dan administrasi telah menciptakan celah kecil dalam tembok lama. Melalui celah itulah Sarjono dan Sundari berjalan.

Sarjono belum tahu apakah kebijakan Raffles akan sungguh-sungguh membebaskan rakyat atau hanya menciptakan cara baru bagi Inggris untuk memperoleh pendapatan. Ia juga belum tahu bahwa kelak sistem sewa tanah akan menghadapi kekacauan, salah penilaian, kekurangan pegawai, dan beban pajak yang tetap berat. Namun, untuk sementara, monopoli keluarga bangsawan melemah. Pungutan mulai ditulis. Orang kecil mulai mengenal angka yang digunakan untuk menentukan hidupnya. Pendidikan tidak lagi sepenuhnya berada di balik pendapa.

Bagi pemerintah Inggris, semua itu merupakan reformasi administrasi. Bagi Sarjono dan Sundari, itu merupakan kemungkinan untuk mencintai tanpa sepenuhnya bergantung pada belas kasihan seorang bangsawan. Tetapi mereka belum menyadari satu hal, kekuasaan yang membuka pintu dapat menutupnya kembali ketika kepentingannya berubah. Dan kebebasan yang lahir dari keputusan penjajah akan selalu rapuh selama rakyat belum memiliki kekuatan untuk menjaganya sendiri.

Perempuan yang Memilih Nasib

Yogyakarta, 1814–1816

Kemampuan membaca tidak segera mengubah kehidupan Sundari. Setiap pagi ia masih berjalan menuju kebun nila dengan kain lurik sederhana dan tenggok di pinggang. Tangannya tetap berbau daun yang difermentasi. Kakinya tetap mengenal lumpur lebih baik daripada lantai pendapa.

Namun, sesuatu di dalam dirinya telah berubah. Dahulu, angka-angka dalam buku kebun terlihat seperti pagar yang sengaja dibangun agar pekerja tidak mengetahui ke mana hasil keringat mereka pergi. Setelah belajar berhitung, Sundari dapat mengikuti perjalanan setiap pikul nila: dari berat daun yang dipetik, susutnya setelah direndam, endapan yang dikeringkan, sampai harga yang dibayarkan bandar.

Ia mulai mengetahui bahwa kemiskinan tidak selalu terjadi karena hasil panen sedikit. Kemiskinan sering diciptakan melalui timbangan yang dibuat lebih ringan, harga yang ditulis lebih rendah, bunga utang yang terus bertambah, dan potongan upah yang tidak dapat diperiksa orang yang tidak bisa membaca. Pengetahuan tidak langsung membuat Sundari bebas. Tetapi kini ia mengetahui ketika dirinya sedang ditipu.

Pada suatu sore ia menemukan selisih dalam catatan pengiriman kebun kepada rumah dagang Lim Keng Hwat. Menurut buku milik Atmareja, hasil nila yang dikirim berjumlah tiga puluh dua pikul. Namun, surat penerimaan dari gudang Lim hanya mencatat dua puluh sembilan pikul.

“Tiga pikul hilang,” kata Sundari kepada Sarjono.

“Mungkin salah tulis.”

“Kalau kesalahan selalu merugikan pekerja, itu bukan salah tulis.”

Sarjono memeriksa kedua catatan tersebut. Sundari benar.

Mereka membawa persoalan itu kepada Atmareja. Juru tulis keluarga Wiradipura membantah. Ia menuduh pekerja melakukan kesalahan saat menimbang. Ketika Sarjono meminta penimbangan ulang, Atmareja mengatakan sebagian barang telah dikirim ke Semarang.

Sundari tidak menyerah.

“Surat jalan mencatat enam belas keranjang,” katanya. “Kalau setiap keranjang rata-rata berisi dua pikul, jumlahnya tetap tiga puluh dua.”

Atmareja memandangnya dengan tidak percaya. “Sejak kapan anak kuli memeriksa catatan pejabat?”

“Sejak pejabat menggunakan catatan untuk mengambil upah kuli.”

Perkataan itu membuat wajah Atmareja memerah. Namun, sebelum ia sempat mengusir Sundari, terdengar suara orang bertepuk tangan pelan dari pintu gudang.

Lim Keng Hwat berdiri di sana bersama putranya, Lim Kian Bwee.

“Perempuan ini benar,” kata Lim.

Di belakangnya, Kian Bwee membawa sebuah buku besar berbahasa Melayu dan Hokkien. Usianya sekitar dua puluh tujuh tahun. Tubuhnya tidak tinggi, tetapi gerakannya tenang. Berbeda dari ayahnya yang gemar berbicara, ia lebih banyak memperhatikan.

“Barang yang diterima di gudang kami memang tiga puluh dua pikul,” katanya. “Tiga pikul dimasukkan ke catatan lain sebagai pembayaran utang lama.”

“Utang siapa?” tanya Sundari.

Kian Bwee membuka buku besar. “Atmareja.”

Semua mata beralih kepada juru tulis itu. Atmareja telah menggunakan sebagian hasil kebun untuk melunasi utang pribadinya kepada rumah dagang Lim, lalu memasukkan kekurangannya sebagai penyusutan hasil pekerja.

Lim memandang Wiradipura yang baru tiba di gudang. “Biasanya urusan seperti ini diselesaikan di antara para lelaki,” katanya. “Ternyata perempuan muda itu melihat apa yang dilewatkan mereka.”

Wiradipura tidak menyukai nada tersebut. Akan tetapi, ia tidak dapat membantah bukti yang tertulis dalam buku. Atmareja diberhentikan dari pengelolaan kebun. Sebagian hartanya disita untuk mengganti kerugian. Untuk pertama kalinya, para pekerja menerima kembali upah yang sebelumnya tidak mereka ketahui telah dipotong.

Peristiwa itu membuat nama Sundari mulai dibicarakan. Sebagian orang memujinya. Sebagian menganggapnya lancang. Para pekerja senang karena upah mereka kembali, tetapi beberapa di antara mereka juga merasa tidak nyaman melihat seorang perempuan muda duduk memeriksa angka bersama para lelaki. Feodalisme dapat menerima kecerdasan selama kecerdasan itu tetap menunduk. Ketika pengetahuan membuat seseorang berani bertanya, orang-orang mulai menyebutnya tidak tahu diri.

Lim Keng Hwat beberapa kali datang ke kebun setelah kejadian itu. Alasannya selalu perdagangan, tetapi perhatiannya lebih sering tertuju kepada Sundari. Ia melihat perempuan itu bukan hanya dapat membaca dan berhitung. Sundari memahami hubungan antara hasil kebun, kebutuhan pekerja, dan waktu penjualan. Ia mengetahui keluarga mana yang terpaksa menjual lebih awal karena berutang. Ia juga dapat membedakan penurunan produksi akibat cuaca dengan kekurangan yang disebabkan kecurangan mandor.

Suatu hari Lim memberinya soal sederhana. “Kalau seorang petani menjual sekarang dengan harga dua belas, tetapi dapat menjual dua bulan lagi dengan harga lima belas, pilihan mana yang lebih baik?”

“Menunggu,” jawab salah seorang juru tulis.

Sundari justru bertanya, “Apakah keluarganya mempunyai beras untuk dua bulan?”

Lim tersenyum.

“Anggap saja tidak.”

“Kalau begitu, harga lima belas tidak berarti. Orang lapar tidak bisa membeli waktu.”

“Bagaimana agar ia tidak perlu menjual sekarang?”

“Beri pinjaman.”

“Dengan bunga?”

“Boleh, asal bunganya tidak menghabiskan selisih harga. Kalau semua keuntungan diambil pemberi pinjaman, petani itu hanya menunda kemiskinannya.”

Lim menoleh kepada Kian Bwee. “Sudah kubilang, bukan?”

Kian Bwee tidak menjawab. Namun, untuk pertama kalinya Sundari melihat lelaki itu tersenyum.

Beberapa minggu kemudian, Lim Keng Hwat datang ke rumah Karto. Kedatangannya menimbulkan kegaduhan kecil. Tetangga-tetangga mengintip dari balik dinding bambu. Belum pernah seorang saudagar besar memasuki rumah kuli kebun tanpa ditemani penagih utang. Lim datang bersama istrinya, Tan Giok Lan, Kian Bwee, dan seorang perantara perempuan. Mereka membawa teh, kain, gula, serta beberapa bungkusan makanan.

Karto menyambut mereka dengan gugup. “Kalau soal utang, Tuan Lim, beri saya waktu sampai panen berikutnya.”

“Saya tidak datang menagih utang.”

“Lalu?”

Lim memandang Sundari yang duduk di samping ibunya. “Saya datang melamar anakmu untuk putra saya.”

Karto membeku. Sumi menutup mulut dengan tangan. Bahkan Sundari tidak dapat segera memahami kata-kata itu. Lim berbicara seolah sedang menyampaikan tawaran dagang yang telah dipertimbangkan dengan matang.

“Kian Bwee mengurus pembukuan dan pembelian hasil bumi. Ia membutuhkan istri yang dapat memahami pekerjaan, bukan hanya mengurus rumah. Sundari cepat belajar, berani, dan tidak mudah ditipu.”

Karto menatap Kian Bwee. “Apakah Tuan Muda sendiri menghendakinya?”

Kian Bwee menjawab dalam bahasa Melayu yang teratur. “Saya tidak akan datang kalau tidak bersedia.”

Sundari menatapnya.

“Bersedia bukan berarti menghendaki,” katanya.

Ruangan menjadi sunyi.

Sumi menyentuh lengan anaknya, tetapi Lim justru tertawa kecil.

“Itulah alasan saya menyukainya. Ia mendengar perbedaan yang dilewatkan orang lain.”

Kian Bwee tidak tersinggung.

“Saya belum dapat mengatakan mencintaimu,” katanya kepada Sundari. “Kita belum cukup saling mengenal. Tetapi saya menghargai pikiranmu. Kalau kamu menerima, saya tidak akan melarangmu membaca atau bekerja dalam pembukuan rumah dagang.”

“Kalau saya menolak?”

“Tidak akan ada akibat bagi pekerjaan ayahmu.”

Sundari memandang Lim untuk memastikan.

Saudagar itu mengangguk. “Lamaran bukan penagihan.”

Tidak ada jawaban yang diminta hari itu. Lim meninggalkan waktu tujuh hari. Namun, sebelum pergi, Giok Lan mendekati Sundari. “Pikirkan dengan hati-hati,” katanya. “Menjadi menantu kami tidak akan membuat semua orang menerimamu. Di kalangan kami, sebagian orang akan mengatakan Kian Bwee seharusnya menikahi perempuan dari keluarga pedagang. Di kalanganmu, sebagian orang akan berkata kamu meninggalkan asal-usulmu. Perempuan yang menyeberangi batas selalu dianggap berkhianat oleh kedua sisi.”

“Mengapa Nyonya tetap datang melamar saya?”

Giok Lan memandang putranya yang sedang berbicara dengan Karto. “Karena rumah dagang dapat diwariskan melalui darah. Tetapi hanya dapat dipertahankan oleh akal.”

Malam itu Sundari tidak tidur. Hujan jatuh di atas atap rumbia. Air merembes melalui salah satu sudut, menetes ke dalam tempayan. Di sampingnya, Sumi bernapas teratur, sedangkan Karto beberapa kali membalikkan tubuh. Di atas tikar, Sundari meletakkan dua benda, buku pertama yang diberikan Sarjono dan sepotong kain yang dibawa keluarga Lim. Buku itu mengingatkannya kepada dunia yang pernah dibukakan Sarjono. Kain itu mengingatkannya kepada dunia lain yang kini menawarkan tempat nyata baginya.

Ia mencintai Sarjono. Tidak ada gunanya menyangkal. Namun, cinta Sarjono datang bersama perlawanan yang belum tentu dapat dimenangkannya. Jika menikah dengannya, Sundari akan masuk ke rumah yang memandang dirinya sebagai noda. Ia mungkin dipanggil istri, tetapi tetap diperlakukan sebagai anak kuli yang beruntung memperoleh belas kasihan seorang bangsawan.

Anak-anaknya kelak mungkin dipertanyakan kedudukannya. Setiap kesalahan akan dikaitkan dengan darah ibunya. Setiap keberhasilan dianggap berasal dari keluarga ayahnya. Sundari dapat mengenakan kain mahal dan tinggal di rumah besar, tetapi asal-usulnya akan terus digunakan untuk membuatnya merasa berutang.

Keluarga Lim juga tidak menawarkan kesetaraan sempurna. Lamaran itu jelas memiliki perhitungan. Lim melihat kecerdasan Sundari sebagai sesuatu yang berguna bagi rumah dagangnya. Kian Bwee tidak datang membawa puisi atau sumpah cinta. Ia datang membawa kemungkinan kerja sama.

Sundari menyadari bahwa dirinya sedang dipertimbangkan sebagai bagian dari suatu kesepakatan. Anehnya, justru itu membuat tawaran tersebut terasa lebih jujur. Keluarga Lim tidak mengatakan bahwa darah mereka lebih suci. Mereka tidak menjanjikan cinta yang dapat mengalahkan seluruh dunia. Mereka berkata terus terang bahwa mereka membutuhkan kecerdasannya dan bersedia memberikan tempat agar ia dapat menggunakannya.

Bagi Sundari, pernikahan itu bukan jalan menuju kebahagiaan yang pasti. Ia merupakan kesepakatan dengan masa depan—terutama dengan dirinya sendiri—untuk mengubah nasib.

Dahulu, ia mungkin memilih hanya berdasarkan rasa takut atau cinta. Pengetahuan telah mengajarinya menghitung akibat. Menjadi cerdas bukan berarti kehilangan perasaan. Menjadi cerdas berarti tidak membiarkan perasaan menutup mata terhadap harga yang harus dibayar.

Pada hari keempat, Sundari meminta bertemu Sarjono. Mereka bertemu di bawah pohon asam, tempat Sarjono dahulu membantunya memunguti daun nila. Musim hujan membuat tanah lembap. Daun-daun kecil menempel pada sandal mereka.

“Ada yang ingin saya katakan,” ujar Sundari.

Sarjono segera merasakan sesuatu yang berbeda. Sundari tidak memanggilnya Raden, tetapi juga tidak memandangnya seperti biasanya.

“Tuan Lim melamar saya untuk Kian Bwee.”

Sarjono terdiam cukup lama.

“Kamu menolaknya?”

“Belum.”

“Belum?”

“Saya sedang mempertimbangkannya.”

“Pertimbangan apa yang diperlukan? Kamu tidak mencintainya.”

“Saya juga tidak membencinya.”

“Itu bukan alasan untuk menikah.”

“Bagi bangsawan, mungkin.”

Sarjono memandangnya tajam. “Apa maksudmu?”

“Raden dapat menikah karena cinta. Setelah itu keluarga tetap memberi rumah, tanah, dan nama. Saya tidak mempunyai kemewahan itu.”

“Aku akan menjagamu.”

“Selamanya?”

“Ya.”

“Kalau keluarga Raden mengambil hak atas tanah? Kalau mereka menolak mengakui anak-anak kita? Kalau Raden kehilangan kedudukan? Kalau suatu hari Raden meninggal lebih dahulu, siapa yang akan menjaga saya?”

“Aku akan memastikan itu tidak terjadi.”

Sundari tersenyum sedih. “Raden masih berbicara seperti seseorang yang percaya dunia tunduk kepada kehendaknya.”

“Aku bersedia meninggalkan keluarga.”

“Sekarang Raden mengatakan begitu. Tetapi orang tidak hanya hidup dari keberanian satu malam.”

“Aku mencintaimu.”

“Saya tahu.”

“Dan kamu mencintaiku.”

Sundari menunduk. “Ya.”

“Lalu mengapa?”

Sundari mengangkat wajah. Matanya basah, tetapi suaranya tidak gemetar. “Karena cinta kita tidak menghapus kenyataan. Kalau saya menikah dengan Raden, saya akan menghabiskan hidup membuktikan bahwa anak kuli pantas duduk di rumah bangsawan. Setiap hari saya akan diukur berdasarkan aturan keluarga Raden.”

“Aku tidak akan membiarkan mereka menghinamu.”

“Raden tidak dapat berdiri di setiap pintu, mendengar setiap bisikan, dan menjawab setiap tatapan.”

“Kamu memilih kekayaan Lim?”

“Saya memilih tempat yang membutuhkan kemampuan saya.”

“Mereka sedang membeli kecerdasanmu.”

“Setidaknya mereka mengakui saya memilikinya.”

Sarjono seperti kehilangan kata-kata.

Sundari melanjutkan, “Keluarga Raden melihat saya sebagai beban yang harus diterima demi cinta anaknya. Keluarga Lim melihat saya sebagai bagian dari masa depan mereka. Keduanya mungkin sama-sama memiliki kepentingan. Tetapi hanya satu yang memberi saya peran.”

“Jadi, pernikahan bagimu hanya perhitungan?”

“Semua pernikahan memiliki perhitungan. Keluarga bangsawan menikahkan anak untuk menjaga darah, tanah, dan hubungan politik. Pedagang menikahkan anak untuk memperkuat usaha. Orang miskin menikah sambil menghitung apakah mereka sanggup memberi makan anak. Hanya orang yang hidupnya telah aman dapat berpura-pura bahwa cinta tidak memerlukan perhitungan.”

Sarjono berjalan beberapa langkah menjauh. “Aku mengajarimu membaca. Sekarang pengetahuan itu membuatmu meninggalkanku.”

“Raden tidak mengajari saya agar saya selalu setuju dengan Raden.”

“Aku mengajarimu agar kamu bebas.”

“Kalau saya harus memilih Raden untuk membuktikan bahwa saya bebas, itu bukan kebebasan.”

Kalimat itu membuat Sarjono berhenti.

Sundari mendekatinya. “Jangan jadikan kebaikan Raden sebagai utang yang harus saya bayar dengan hidup saya.”

Sarjono berbalik. Ada kemarahan dalam wajahnya, tetapi lebih banyak luka. “Apakah selama ini kamu menganggap cintaku sebagai utang?”

“Tidak. Tetapi sekarang Raden menggunakannya untuk menuntut jawaban yang Raden inginkan.”

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

“Saya juga tidak ingin kehilangan Raden.”

“Kalau begitu, pilih aku.”

Sundari menggeleng perlahan. “Raden meminta saya memilih hati Raden. Tidak seorang pun bertanya apa yang akan terjadi pada hidup saya setelah pilihan itu.”

“Aku menawarkan hidup bersamaku.”

“Di bawah nama Raden, di rumah keluarga Raden, dan bergantung pada perlindungan Raden. Saya mungkin menjadi istri seorang bangsawan, tetapi saya akan tetap disebut anak kuli setiap kali mereka ingin merendahkan saya.”

“Nama keluarga Lim juga bukan milikmu.”

“Benar. Tetapi mereka menawarkan saya pekerjaan dalam rumah dagang, hak membaca pembukuan, serta kemungkinan membangun sesuatu. Saya tidak datang hanya sebagai perempuan yang dicintai putranya.”

“Apa yang ditawarkan Kian Bwee selain uang?”

“Kejujuran. Ia tidak mengaku mencintai saya. Ia mengatakan membutuhkan kecerdasan saya dan bersedia menghargainya.”

“Kamu percaya kepadanya?”

“Saya percaya kepada hal-hal yang dapat saya periksa.”

Sarjono tertawa getir. “Sekarang seluruh hidup harus masuk ke dalam pembukuan?”

“Tidak. Tetapi saya telah terlalu lama melihat orang miskin diminta percaya kepada janji orang besar.”

Angin menggugurkan beberapa daun asam. Di kejauhan terdengar suara pekerja menutup pintu gudang. Sarjono menatap perempuan yang dicintainya. Dulu ia melihat Sundari sebagai seseorang yang harus dibebaskan dari feodalisme. Kini perempuan itu berdiri di hadapannya, menggunakan kebebasan untuk membuat pilihan yang menyakitinya. Saat itulah Sarjono memahami ujian sesungguhnya dari gagasan kesetaraan: menerima bahwa orang yang kita bebaskan dari tekanan juga bebas menolak kita.

“Apa jawabanmu kepada keluarga Lim?” tanyanya.

“Saya akan menerima.”

“Karena akal sehat?”

“Karena hidup tidak cukup panjang untuk menunggu dunia menjadi adil.”

Sarjono menahan napas. “Apakah kamu akan bahagia?”

“Saya tidak tahu.”

“Lalu mengapa begitu yakin?”

“Saya tidak memilih kebahagiaan yang pasti. Saya memilih kemungkinan mengubah nasib dengan kemampuan saya sendiri.”

Sarjono memandang tangannya. Tangan itu dahulu memunguti daun nila bersama Sundari. Ia pernah mengira tindakan kecil tersebut telah menyamakan mereka.

Ternyata ia masih berharap Sundari membalasnya dengan memilih hidup di sisinya. “Maafkan aku,” katanya.

“Untuk apa?”

“Karena aku mencintaimu, tetapi masih berpikir bahwa cintaku harus menjadi jawaban bagi hidupmu.”

Sundari menangis tanpa suara. Sarjono mendekat, tetapi tidak memeluknya. Untuk pertama kalinya ia membiarkan Sundari menentukan jarak di antara mereka.

“Berjanjilah satu hal,” katanya.

“Apa?”

“Jangan berhenti membaca.”

Sundari mengusap air matanya. “Raden juga jangan berhenti mempertanyakan keluarga Raden.”

Mereka berpisah di bawah pohon asam tanpa saling membenci. Justru karena masih saling mencintai, keduanya memahami bahwa perpisahan itu bukan kemenangan siapa pun. Cinta mereka kalah bukan hanya oleh perbedaan etnis atau kedudukan. Ia dikalahkan oleh kenyataan bahwa keberanian Sarjono belum cukup menjadi jaminan hidup bagi Sundari.

***

Sebelum menerima lamaran, Sundari meminta berbicara langsung dengan Kian Bwee. Pertemuan berlangsung di rumah Lim, disaksikan Giok Lan dan Sumi. Sundari duduk dengan punggung tegak meskipun jantungnya berdegup keras. “Saya mempunyai syarat,” katanya.

Lim yang duduk di ujung meja mengangkat alis. Belum pernah anak kuli mengajukan syarat dalam lamaran yang dianggap akan mengangkat derajatnya.

Kian Bwee justru berkata, “Sebutkan.”

“Utang orang tua saya kepada rumah dagang tidak boleh dianggap sebagai mas kawin.”

“Disetujui.”

“Mereka harus tetap memiliki tempat tinggal meskipun bapak saya tidak lagi bekerja di kebun.”

“Disetujui.”

“Saya ingin tetap belajar membaca pembukuan, termasuk angka-angka perdagangan dari Semarang.”

“Disetujui.”

“Saya bukan selir.”

Kian Bwee menatapnya lurus. “Kamu akan menjadi istri saya.”

“Dan kalau saya menemukan kecurangan dalam rumah dagang?”

“Kamu harus mengatakannya.”

“Walaupun dilakukan keluarga sendiri?”

Kian Bwee menoleh kepada ayahnya.

Lim tertawa pendek. “Terutama kalau dilakukan keluarga sendiri. Uang yang dicuri kerabat tetap hilang dari buku yang sama.”

Sundari menerima lamaran itu. Pernikahan mereka tidak berlangsung di keraton dan tidak dihadiri bangsawan tinggi. Upacara dilaksanakan dengan percampuran kebiasaan keluarga Lim dan tata cara keluarga Sundari. Doa-doa dibacakan dalam bahasa yang berbeda. Makanan dari dapur Tionghoa diletakkan berdampingan dengan nasi gurih, ingkung, dan jajanan pasar.

Sebagian orang Jawa berbisik bahwa Sundari telah menjual dirinya kepada keluarga pedagang. Sebagian kerabat Lim mengatakan Kian Bwee merendahkan nama keluarga dengan menikahi anak kuli. Sundari mendengar semuanya. Namun, untuk pertama kalinya, perkataan orang lain tidak menentukan tempat tinggal, pekerjaan, atau makan keluarganya.

Di rumah dagang Lim, ia mulai dari pekerjaan sederhana: memeriksa berat barang, mencocokkan surat jalan, dan mencatat utang para pemasok. Kemudian ia belajar menghitung biaya angkut, penyusutan, bunga, serta perbedaan harga antara Yogyakarta dan Semarang. Ia tidak hanya menemukan cara pedagang memperoleh keuntungan. Ia juga mengetahui di mana keuntungan berubah menjadi pemerasan.

Atas usulnya, rumah dagang Lim menyediakan pinjaman kecil kepada petani dengan pembayaran setelah panen dan bunga yang ditetapkan sejak awal. Lim menyetujuinya bukan karena tiba-tiba menjadi dermawan, melainkan karena Sundari dapat membuktikan bahwa petani yang tidak terus-menerus terjerat utang akan menjadi pemasok yang lebih kuat dan setia. Pengetahuan membuat Sundari memahami bahwa moralitas dan keuntungan tidak selalu harus menjadi musuh. Namun, tanpa aturan dan pengawasan, keuntungan hampir selalu tergoda memakan orang yang paling lemah.

Pernikahannya dengan Kian Bwee juga tumbuh perlahan. Tidak ada gairah yang meledak seperti ketika ia bersama Sarjono. Namun, Kian Bwee mendengarkan ketika ia berbicara. Ia tidak malu memperkenalkan Sundari sebagai istrinya kepada para pedagang. Ketika Sundari keliru menghitung, ia menunjukkan letak kesalahannya tanpa mengingatkan asal-usulnya. Cinta tidak datang lebih dahulu. Ia tumbuh dari penghormatan yang diulang setiap hari. Sundari akhirnya memahami bahwa hati dapat mengikuti akal ketika akal memilih tempat yang memungkinkan harga diri tetap hidup.

Yogyakarta, 1816

Inggris akhirnya meninggalkan Jawa. Keputusan itu bukan karena pasukannya dikalahkan oleh kerajaan-kerajaan Jawa. Melalui Konvensi London 1814, Inggris telah menyetujui pengembalian sebagian besar wilayah jajahan Belanda yang direbut selama Perang Napoleon. Pelaksanaannya tertunda oleh keadaan politik di Eropa, tetapi pada 1816 kekuasaan Belanda resmi dipulihkan.

Raffles telah digantikan oleh John Fendall sebelum penyerahan berlangsung. Pejabat-pejabat Belanda kembali memasuki kantor pemerintahan. Lambang kekuasaan berubah. Surat-surat baru diterbitkan. Orang-orang yang dahulu berbicara bahasa Inggris kembali menggunakan bahasa Belanda.

Para bangsawan segera menyesuaikan diri. Keluarga yang pernah menjaga jarak dari Inggris menampilkan dirinya sebagai pihak yang setia kepada susunan lama. Mereka menyambut kembalinya Belanda dengan upacara, hadiah, dan pernyataan kesetiaan.

Wiradipura termasuk orang yang memperoleh kembali tempat terhormat di lingkungan keraton. Ia tidak pernah terlibat langsung dalam penyerbuan Inggris. Sarjono pun dikenal sebagai pemuda yang menolak membantu tentara asing. Sikap itu kini menjadi modal politik. Tanah lungguh keluarga mereka dipastikan kembali. Hubungan dengan pejabat keraton dipulihkan. Wiradipura bahkan memperoleh tugas mengawasi beberapa desa yang sebelumnya ditata ulang pada masa Inggris.

Kembalinya Belanda membuktikan sesuatu yang dahulu dikatakan Lim Keng Hwat: penguasa kolonial dapat berganti, tetapi mereka tetap membutuhkan bangsawan lokal untuk menguasai desa. Pemerintah Belanda tidak membuang seluruh perubahan Inggris. Beberapa unsur administrasi dan sistem pajak tetap dipelajari atau diteruskan.

Namun, hubungan lama dengan bupati serta bangsawan kembali diperkuat karena pemerintahan kolonial memerlukan perantara yang memahami rakyat sekaligus mampu menjamin ketertiban. Bagi Wiradipura, itu merupakan pemulihan kehormatan. Bagi Sarjono, itu memperlihatkan bagaimana feodalisme selalu dapat menemukan penguasa asing yang membutuhkan jasanya.

Suatu sore ia menyertai ayahnya menuju rumah seorang pejabat keraton. Rombongan mereka melewati pasar. Orang-orang menepi dan menunduk seperti dahulu.

Di depan sebuah gudang besar, Sarjono melihat papan nama baru milik keluarga Lim. Gerobak keluar masuk membawa nila, gula, beras, dan kain. Para juru tulis duduk di belakang meja panjang.

Di antara mereka terdapat Sundari.

Ia mengenakan kebaya sederhana dengan kain yang lebih baik daripada pakaian lamanya. Rambutnya tersusun rapi. Di hadapannya terbuka buku besar. Seorang petani berdiri di seberang meja, dan Sundari sedang menjelaskan jumlah utang serta harga hasil panen kepadanya. Ia tidak hanya membacakan angka. Ia memastikan petani itu memahaminya sebelum membubuhkan cap jempol.

Sundari telah menjadi menantu keluarga Lim, tetapi bukan sekadar istri anak saudagar. Ia telah memperoleh tempat dalam usaha keluarga dan mulai mengubah cara rumah dagang berhubungan dengan pemasoknya.

Pandangan mereka bertemu. Sundari berhenti berbicara sesaat. Sarjono juga menghentikan langkah. Wiradipura mengikuti arah pandang putranya. “Itu perempuan yang dahulu ingin kamu nikahi.”

“Namanya Sundari.”

“Sekarang ia sudah menjadi bagian keluarga pedagang.”

“Sekarang ia menjadi dirinya sendiri.”

Wiradipura memandang gudang itu. “Kalau ia menikah denganmu, kedudukannya tentu lebih tinggi.”

Sarjono tersenyum getir. “Lebih tinggi menurut siapa?”

“Menurut masyarakat.”

“Masyarakat yang sama menganggapnya tidak pantas menjadi istri saya.”

Wiradipura tidak menjawab.

Sarjono melihat Sundari kembali menjelaskan isi buku kepada petani. Kian Bwee datang membawa beberapa lembar surat dari Semarang, lalu meletakkannya di hadapan istrinya. Mereka membicarakan sesuatu dengan tenang. Tidak ada sikap seorang tuan kepada perempuan yang diselamatkannya. Tidak ada pula rasa rendah diri seorang anak kuli di hadapan keluarga kaya. Yang terlihat adalah dua orang yang sedang bekerja.

Sarjono akhirnya memahami pilihan Sundari. Jika menikah dengannya, Sundari mungkin memperoleh gelar dan rumah yang lebih besar. Namun, seluruh keberadaannya akan selalu dikaitkan dengan kemurahan hati Sarjono. Di rumah Lim, ia memang memasuki sebuah kesepakatan, tetapi memiliki kesempatan membuktikan nilai dirinya melalui pengetahuan. Ia tidak menjadi bebas karena menikahi orang kaya. Ia menjadi lebih bebas karena mampu menilai pilihan, mengajukan syarat, dan menerima akibat keputusannya sendiri.

Kereta Wiradipura kembali bergerak. Sarjono berjalan mengikutinya. Di belakang mereka, aktivitas pasar terus berlangsung. Pemerintah Inggris telah pergi. Belanda kembali berkuasa. Bangsawan memperoleh kedudukannya lagi. Pedagang menyesuaikan pembukuan dengan peraturan baru. Petani tetap membawa hasil bumi ke gudang. Sejarah seolah berputar kembali ke tempat semula.

Namun, tidak sepenuhnya. Di dalam salah satu gudang itu, seorang perempuan yang dahulu tidak dapat membaca kini memeriksa angka yang menentukan harga hasil kerja petani. Perubahannya tidak cukup besar untuk meruntuhkan kolonialisme atau feodalisme. Tetapi bagi Sundari, pengetahuan telah mengubah dirinya dari orang yang hanya dihitung menjadi orang yang ikut menghitung.

Kolonialisme dapat mengganti hukum. Keraton dapat memulihkan gelar. Saudagar dapat membeli hak dagang. Namun, ketika orang kecil mulai membaca dunia dan berani menilai pilihannya sendiri, kekuasaan tidak lagi sepenuhnya menentukan nasibnya.

Sarjono menentang feodalisme melalui gagasan. Sundari melawannya dengan keputusan hidup. Sarjono ingin mengubah dunia agar mereka dapat bersama. Sundari tidak bersedia menunggu dunia berubah untuk mulai menyelamatkan dirinya. Dan barangkali itulah pelajaran yang paling sulit diterima seorang terpelajar: pengetahuan bukan hanya membuat manusia memahami kebebasan. Pengetahuan memberi keberanian kepada orang lain untuk memilih jalan yang mungkin tidak melibatkan dirinya.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca