
Idealisme di Dalam Ruang Kekuasaan
Rahmadi adalah insinyur lulusan salah satu perguruan tinggi negeri terbaik. Ia masuk kementerian tidak lama setelah Reformasi, ketika bau gas air mata dari halaman Gedung DPR masih terasa hidup dalam ingatannya. Pada Mei 1998, ia berada di antara ribuan mahasiswa yang menduduki gedung parlemen. Ia tidur beralaskan koran di bawah kubah, berteriak menuntut perubahan, dan percaya bahwa runtuhnya satu kekuasaan akan melahirkan Indonesia yang lebih adil. Malam itu, di tangga Gedung DPR, ia pernah berkata kepada kawan-kawannya, “Kalau suatu hari kita masuk ke dalam kekuasaan, jangan sampai kita berubah menjadi orang-orang yang hari ini kita lawan.” Mereka mengangkat tangan dan berjanji.
Dua puluh tahun kemudian, sebagian dari mereka benar-benar masuk ke dalam kekuasaan. Ada yang menjadi anggota DPR, pengurus partai, kepala daerah, komisaris BUMN, konsultan politik, dan pengusaha yang hidup dari proyek pemerintah. Rahmadi memilih menjadi birokrat. Kariernya menanjak perlahan. Pengetahuannya tentang teknik, pembiayaan proyek, dan tata kelola infrastruktur membuatnya dipercaya menduduki jabatan penting.
Ia ditempatkan pada unit kementerian yang bertugas mengevaluasi proyek kerja sama pemerintah dan badan usaha, terutama proyek infrastruktur. Jabatan itu bukan jabatan teknis semata. Ia berada di persimpangan antara kebutuhan publik, kepentingan investor, keputusan politik, dan uang dalam jumlah yang sangat besar.
Sebuah catatan kecil darinya dapat mengubah kelayakan proyek. Sebuah paraf dapat membuka jalan bagi konsesi puluhan tahun. Sebuah rekomendasi dapat membuat bank percaya bahwa proyek swasta memiliki dukungan negara. Semua orang mengetahui bahwa jabatan Rahmadi diperoleh bukan hanya karena kemampuan. Kawan-kawan lamanya yang kini berada di parlemen ikut memberikan dukungan.
Suatu malam, Rahmadi bertemu Harun, teman seperjuangannya pada 1998, di sebuah restoran di kawasan Senayan. Harun kini anggota DPR dan salah satu pengurus partai berkuasa. Ia datang dengan mobil mewah, ditemani sopir dan seorang ajudan.
“Lihat dirimu,” kata Harun sambil menepuk bahu Rahmadi. “Dulu tidur di tangga DPR, sekarang menentukan proyek triliunan.”
Rahmadi tertawa kecil. “Saya hanya mengevaluasi. Keputusan tetap kolektif.”
“Di negeri ini tidak ada keputusan yang benar-benar kolektif.” Harun menuangkan minuman ke gelasnya. “Ada orang yang mengusulkan, ada yang menandatangani, dan ada yang memastikan semua orang setuju.”
“Apa bedanya?”
“Orang terakhir itulah yang paling mahal.”
Rahmadi menatapnya.
Harun tertawa. “Jangan memasang wajah aktivis. Kita bukan mahasiswa lagi.”
“Tetapi alasan kita masuk ke sini seharusnya masih sama.”
“Alasan berubah mengikuti umur.”
“Nilai tidak seharusnya berubah.”
Harun menyandarkan tubuhnya. “Itu kalimat yang bagus untuk pidato reuni.”
Rahmadi tidak ikut tertawa. Beberapa kawan lama kemudian bergabung. Percakapan berpindah dari politik ke proyek, dari proyek ke pemilu, lalu dari pemilu kepada kebutuhan dana partai. Mereka berbicara terbuka, seolah-olah tidak ada lagi sesuatu yang perlu disembunyikan.
“Tidak seorang pun di antara kami mengambil uang langsung dari kas negara,” kata Harun. “Kami bukan pencuri yang masuk ke kantor bendahara.”
“Lalu dari mana semua kemewahan itu?” tanya Rahmadi.
“Jabatan membuka pintu. Pengusaha datang membawa peluang. Kami menghubungkan mereka dengan kekuasaan.”
“Dengan imbalan.”
“Tentu. Apa salahnya? Mereka memperoleh proyek, pekerja memperoleh pekerjaan, pemerintah mendapat infrastruktur, partai memperoleh dana. Semua bergerak.”
“Rente tetaplah rente.”
“Jangan terlalu polos, Rahmadi. Politik memerlukan biaya. Kampanye memerlukan uang. Menjaga konstituen memerlukan uang. Bahkan untuk memperjuangkan kebijakan yang baik, kami memerlukan uang.”
“Kalau kebijakan dibiayai pengusaha, kebijakan itu akhirnya mengabdi kepada siapa?”
Harun terdiam sesaat.
“Kamu masih memandang dunia sebagai pertarungan antara orang baik dan orang jahat,” katanya kemudian. “Padahal dunia hanya dipenuhi orang yang punya akses dan orang yang tidak punya akses.”
“Itulah yang dulu hendak kita ubah.”
“Kita sudah mengubahnya. Dulu hanya keluarga penguasa yang punya akses. Sekarang lebih banyak orang.”
“Termasuk kalian.”
“Termasuk kita,” koreksi Harun.
“Saya tidak merasa menjadi bagian dari itu.”
Harun menatap jas Rahmadi, jam tangannya, lalu telepon mahal yang terletak di atas meja. “Belum,” katanya pendek. Jawaban itu mengganggu Rahmadi sampai berhari-hari.
Sejak kariernya meningkat, kehidupan ekonominya memang mulai berubah. Ia pindah dari rumah sederhana ke kawasan yang lebih baik. Undangan datang dari hotel berbintang, kedutaan, asosiasi pengusaha, serta berbagai forum investasi. Lingkungan pergaulannya berubah. Nama-nama besar yang dahulu hanya dibacanya di surat kabar kini memanggilnya dengan nama kecil.
Tetapi Rahmadi masih berusaha menjaga diri. Di rumah, istrinya, Salma, selalu mengingatkan sebelum ia berangkat bekerja. “Ayah boleh pulang larut,” kata Salma, “tetapi jangan pulang membawa sesuatu yang membuat Allah tidak berkenan masuk ke rumah kita.”
Salma hanya tamatan madrasah. Ia tidak memahami istilah konsesi, financial close, jaminan pemerintah, ataupun pembagian risiko proyek. Namun ia memahami sesuatu yang sering dilupakan orang-orang berpendidikan tinggi: tidak semua yang dapat dilakukan layak dilakukan.
Sebelum meninggal, ibu Rahmadi juga pernah berpesan, “Jabatan membuat orang berdiri lebih tinggi. Tetapi semakin tinggi seseorang berdiri, semakin banyak orang yang dapat melihat ketika ia jatuh.”
Rahmadi menyimpan nasihat itu. Akan tetapi, godaan jarang datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang dalam bentuk pertemanan, penghormatan, meja makan yang mewah, dan alasan-alasan yang terdengar masuk akal. Dan suatu hari, godaan itu datang dalam rupa seorang perempuan bernama Mira.
Karena Perempuan
Rahmadi bertemu kembali dengan Mira dalam sebuah forum investasi infrastruktur. Mereka pernah kuliah di kampus yang sama, meskipun berbeda angkatan dan jurusan. Mira berasal dari keluarga berada. Ayahnya memiliki perusahaan konstruksi dan beberapa bidang tanah di pusat kota. Setelah menyelesaikan pendidikan bisnis di luar negeri, Mira mengembangkan perusahaan keluarganya menjadi grup investasi.
Pada usia empat puluh lima tahun, kecantikannya belum banyak berubah. Rambutnya tertata rapi, pakaiannya sederhana tetapi mahal, dan caranya berbicara membuat lawan bicara merasa sebagai orang terpenting di dalam ruangan.
“Rahmadi?” sapanya.
Rahmadi menoleh. “Mira?”
“Ternyata benar kamu. Saya membaca namamu di daftar pembicara.”
Mereka tertawa mengenang kampus, dosen-dosen lama, dan beberapa teman yang tidak lagi pernah mereka jumpai.
Sejak pertemuan itu, Mira sering menghubunginya. Mula-mula hanya untuk berdiskusi mengenai kebijakan. Kemudian mereka bertemu minum kopi. Pertemuan yang awalnya berlangsung sebulan sekali menjadi dua minggu sekali, lalu hampir setiap minggu.
Mira memilih tempat-tempat berkelas. Ia selalu membayar tagihan sebelum Rahmadi sempat memintanya. “Biarkan saya,” katanya suatu kali.
“Saya bisa membayar makan saya sendiri.”
“Saya tahu. Tetapi saya yang mengajak.”
Hubungan mereka selama setahun tampak seperti persahabatan biasa. Tidak ada sentuhan yang melampaui batas. Tidak ada kata cinta. Namun ada jenis perselingkuhan yang dimulai jauh sebelum tubuh saling mendekat: ketika seseorang mulai memberikan ruang terdalam di hatinya kepada orang yang bukan pasangannya. Mira menjadi tempat Rahmadi bercerita. Ia mendengar tanpa memotong, memuji kecerdasannya, dan mengerti istilah-istilah yang tidak dipahami Salma.
“Kamu seharusnya berada pada posisi yang lebih tinggi,” kata Mira suatu malam.
Rahmadi tersenyum. “Jabatan saya sekarang sudah cukup.”
“Bukan soal jabatan. Orang dengan kapasitas seperti kamu seharusnya mempunyai kehidupan yang setara dengan tanggung jawabnya.”
“Apa maksudmu?”
Mira memandang jam tua yang dikenakan Rahmadi. “Kamu mengevaluasi proyek puluhan triliun, tetapi masih menghitung harga makanan sebelum memesannya.”
“Salahkah hidup sesuai kemampuan?”
“Tidak. Tetapi jangan menjadikan kekurangan sebagai kebajikan.”
Kalimat itu menancap dalam pikiran Rahmadi. Di rumah, Salma tetap menyambutnya dengan pakaian sederhana. Ia tidak pandai berhias. Dalam jamuan resmi, Salma sering merasa canggung dan memilih diam. Ia tidak tertarik berbicara tentang investasi atau politik. Dahulu kesederhanaan itu menenangkan Rahmadi. Kini, tanpa disadarinya, ia mulai memandangnya sebagai keterbatasan.
Mira mengetahui perubahan itu.
“Salma perempuan baik,” kata Rahmadi suatu sore.
“Tentu. Saya tidak pernah mengatakan dia tidak baik.”
“Namun kadang-kadang saya merasa kami hidup di dunia yang berbeda.”
Mira mengaduk kopinya. “Tidak semua orang yang baik dapat menemani kita bertumbuh.”
Rahmadi terdiam.
“Sebagian orang cocok menemani kita ketika memulai hidup,” lanjut Mira. “Tetapi ketika kehidupan berubah, kita memerlukan orang yang mengerti dunia baru kita.”
“Dia istri saya.”
“Saya tidak meminta kamu meninggalkannya.”
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
Mira menatapnya cukup lama. “Saya hanya tidak ingin kamu merasa bersalah karena bahagia ketika bersama saya.”
Sejak itu batas moral mulai bergeser. Bukan runtuh sekaligus, melainkan mundur sedikit demi sedikit. Mira juga perlahan mengubah cara Rahmadi memandang kekuasaan.
Suatu malam mereka membicarakan kemiskinan dan proyek infrastruktur. Rahmadi mengatakan bahwa tarif harus dihitung dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat. Mira tersenyum sinis. “Kamu terlalu memikirkan orang miskin.”
“Mereka yang paling merasakan kebijakan pemerintah.”
“Dan apakah mereka memikirkanmu?”
“Itu bukan ukurannya.”
“Rahmadi, dengarkan saya. Dunia tidak membagikan kesejahteraan berdasarkan niat baik. Orang miskin tetap miskin karena lemah, tidak terdidik, dan tidak mampu mengambil peluang.”
“Mereka tidak selalu memilih lahir dalam keadaan miskin.”
“Kita juga tidak memilih dilahirkan ke dunia. Tetapi setelah dewasa, kita bertanggung jawab menyelamatkan diri sendiri.”
“Negara tetap berkewajiban menciptakan keadilan.”
“Negara hanyalah kumpulan orang yang sedang memegang kekuasaan. Jangan mengorbankan hidupmu untuk sebuah istilah.”
Rahmadi menatapnya.
Mira mendekatkan tubuhnya ke meja. “Selamatkan dirimu agar tidak jatuh ke lembah kemiskinan,” katanya. “Jangan ulangi kehidupan orang tuamu. Jangan nanti setelah pensiun kamu sakit dan harus mengemis bantuan kepada orang-orang yang hari ini kamu bantu menjadi kaya.”
“Lalu hukum?”
“Hukum?” Mira tertawa kecil. “Hukum bekerja keras terhadap orang yang tidak punya uang. Terhadap orang yang punya kekuasaan, hukum lebih suka berunding.”
“Itu pandangan berbahaya.”
“Itu kenyataan. Tidak ada aparat yang tidak mempunyai harga. Kalaupun tidak bisa dibeli dengan uang, mereka dapat dibeli dengan jabatan, promosi, perlindungan, atau rasa takut.”
“Kalau semua orang berpikir seperti itu, negara akan hancur.”
“Negara tidak akan hancur hanya karena kita mengambil bagian. Sistemnya sudah ada sebelum kita lahir.”
Mira lalu menyentuh punggung tangan Rahmadi. “Kamu tidak sedang menciptakan permainan ini,” bisiknya. “Kamu hanya berhenti menjadi orang bodoh yang selalu kalah di dalamnya.”
Pada saat itulah oportunisme memperoleh kemenangan pertamanya—bukan ketika Rahmadi menerima uang, melainkan ketika ia mulai percaya bahwa dosa yang dilakukan banyak orang tidak lagi sepenuhnya merupakan dosa.
Harga Sebuah Konsesi
Setahun setelah perkenalan mereka, Mira membawa kabar yang mengubah arah hubungan mereka. Perusahaannya mengikuti tender pembangunan jalan melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha. Ketika mereka bertemu di sebuah restoran hotel, Mira datang membawa proposal, model keuangan, dan ringkasan pembiayaan.
Rahmadi baru membaca halaman pertama ketika nalurinya menyuruh berhenti. Ia menutup dokumen itu dan mendorongnya kembali ke hadapan Mira. “Saya anggota tim evaluasi,” katanya.
“Saya tahu.”
“Kalau begitu kamu seharusnya tidak membicarakan proyek ini dengan saya di luar forum resmi.”
“Saya tidak sedang meminta bocoran.”
“Kamu membawa model keuangan.”
“Saya hanya meminta pendapat teman.”
“Dalam proyek ini saya bukan temanmu.”
Mira tersenyum. “Baik. Anggap saja saya meminta pendapat seorang ahli.”
Proyek tersebut memang bukan proyek APBN dalam pengertian konvensional. Badan usaha pemenang akan membiayai pembangunan, mengoperasikan infrastruktur, lalu memperoleh pendapatan sesuai struktur kontrak. Namun proyek itu memerlukan legitimasi negara. Pemerintah harus menetapkan tarif awal, formula penyesuaian, masa konsesi, standar pelayanan, pembebasan tanah, serta pembagian risiko.
Perusahaan Mira juga meminta dukungan sebagian biaya konstruksi melalui Viability Gap Fund. Dukungan itu dapat dibenarkan apabila proyek layak secara ekonomi dan dibutuhkan masyarakat, tetapi belum cukup layak secara finansial tanpa kontribusi pemerintah.
Masalahnya, Mira meminta dukungan yang terlalu besar. “IRR yang kamu ajukan terlalu tinggi,” kata Rahmadi. “Kamu juga meminta konsesi diperpanjang sepuluh tahun.”
“Risiko proyeknya besar.”
“Sebagian risiko tanah ditanggung pemerintah. Ada penyesuaian tarif. Kalian juga meminta VGF.”
“Bank memerlukan kepastian.”
“Bank memerlukan proyek yang sehat, bukan keuntungan berlebihan.”
Mira menatapnya sambil tersenyum. “Kamu berbicara seolah-olah peserta lain datang untuk beramal.”
“Setidaknya kami harus memilih penawaran terbaik bagi negara.”
“Yang terbaik menurut dokumen atau yang paling kuat bertahan sampai keputusan?”
Rahmadi tahu maksudnya. Di dalam tim evaluasi, semua orang telah membaca peta kekuatan. Peserta tender bukan hanya bertarung melalui proposal teknis dan finansial. Mereka membawa jaringan kontraktor, bank, partai politik, dan orang-orang yang mempunyai akses kepada pengambil keputusan. Ketua tim lelang pernah berkata kepadanya, “Jangan hanya membaca angka. Cari tahu siapa yang berdiri di belakang angkanya.”
Rahmadi semula mengira itu nasihat untuk memeriksa kemampuan pemegang saham. Belakangan ia mengetahui bahwa artinya jauh berbeda.
Suatu malam Mira bertanya, “Siapa pesaing terkuat kami?”
“Saya tidak dapat menjawab.”
“Secara teknis?”
“Mira.”
“Baiklah. Tidak perlu nama. Apakah proposal mereka lebih baik?”
Rahmadi diam.
“Berapa IRR yang mereka tawarkan?”
“Itu informasi rahasia.”
Mira menyandarkan tubuhnya. “Setelah semua yang kita lalui, kamu masih menganggap saya orang luar?”
“Dalam tender ini, ya.”
“Apakah mereka juga memperlakukan aturan sebersih itu?”
Rahmadi tidak menjawab.
Mira melanjutkan, “Saya mendengar peserta dari konsorsium Utara sudah mendekati ketua tim. Jumlahnya besar.”
“Dari siapa kamu tahu?”
“Dunia usaha memiliki telinga.”
“Kalau tahu ada penyuapan, laporkan.”
“Kepada siapa? Orang yang akan menerima bagian?” Mira meraih tangan Rahmadi. “Saya tidak meminta kamu mengubah nilai teknis. Proposal kami kuat. Kamu sendiri mengakuinya. Saya hanya meminta kesempatan agar proposal yang baik tidak dikalahkan oleh amplop yang lebih besar.”
Itulah kalimat yang menghancurkan pertahanan terakhir Rahmadi. Suap tidak lagi digambarkan sebagai alat untuk memenangkan perusahaan yang buruk, melainkan sebagai biaya untuk melindungi perusahaan yang dianggap layak.
Rahmadi akhirnya membuka mulut. “Konsorsium Utara menawarkan konsesi lebih pendek,” katanya lirih. “IRR mereka di bawah usulanmu. Dukungan VGF yang diminta juga lebih kecil.”
“Berapa selisihnya?”
Rahmadi menyebutkan angka. “Siapa yang mendukung mereka?”
“Seorang ketua partai dan dua anggota komisi.”
“Berapa komitmen mereka kepada tim?”
Rahmadi kembali diam. Mira menggenggam tangannya lebih erat. “Kalau saya tidak tahu peta pertarungan, ribuan jam kerja tim saya akan sia-sia.”
Rahmadi akhirnya menyebutkan jumlah yang didengarnya.
Sejak malam itu, keterlibatannya semakin jauh. Ia mempertemukan Mira dengan Harun dan beberapa kawan lama yang telah menjadi elite partai. Ia juga mengenalkan Mira kepada Amir, seorang kontraktor yang bersedia menyediakan dana awal. Amir melihat proyek tersebut sebagai pintu masuk. Jika perusahaan Mira menang, perusahaannya berharap memperoleh paket pekerjaan konstruksi.
Mereka bertemu di ruang privat sebuah restoran. “Saya dapat membantu pre-financing,” kata Amir. “Tetapi harus ada kepastian bahwa kami masuk sebagai kontraktor utama.”
“Berapa yang bisa disiapkan?” tanya Mira.
Amir menyebutkan angka.
“Cukup?” Mira menoleh kepada Rahmadi.
Rahmadi merasa seharusnya ia berdiri dan pergi. Namun ia justru menjawab, “Untuk tim evaluasi mungkin cukup. Untuk dukungan politik, belum.”
“Siapa saja?” tanya Amir.
Rahmadi menyebutkan beberapa posisi tanpa nama. Amir mencatatnya. “Ketua tim harus mendapat paling besar. Kalau ketua aman, anggota biasanya mengikuti.”
“Dan jika audit?” tanya Rahmadi.
Amir tersenyum. “Tidak ada dana yang langsung terhubung dengan perusahaan peserta. Kami keluarkan sebagai uang muka persiapan pekerjaan. Nanti dicatat sebagai biaya mobilisasi jika proyek menang.”
“Kalau proyek kalah?”
“Kita tidak akan kalah,” jawab Mira.
Rahmadi menatap perempuan itu. Untuk pertama kalinya ia tidak lagi melihat teman yang memujanya, melainkan seorang pengusaha yang sedang memakai cinta sebagai jalan menuju kekuasaan. Namun ia sudah terlalu jauh untuk mengakui bahwa dirinya sedang diperalat. Kadang-kadang manusia memilih terus berjalan ke arah yang salah karena kembali akan memaksanya mengakui bahwa seluruh perjalanannya adalah kesalahan.
Tangisan dari Bilik Sebelah
Amir menepati janjinya. Sebuah alamat spa mewah tiba melalui pesan singkat. Di lounge, seorang pesuruh menghampiri Rahmadi, meletakkan kunci loker di atas meja, lalu pergi tanpa berjabat tangan dan tanpa menyebut nama. Di balik pintu bernomor itu, sebuah tas golf berisi bundelan dolar telah menunggu. Amir tidak menampakkan diri. Tidak ada kuitansi, tidak ada percakapan yang dapat direkam—hanya sebuah kunci kecil yang menghubungkan Rahmadi dengan uang lebih banyak daripada yang pernah disentuhnya sepanjang hidup.
Setelah mengambil tas itu, Rahmadi memasukkannya ke bagasi mobil. Rencananya sederhana. Ia akan menemui Mira di sebuah hotel. Mereka sudah memesan kamar. Dari kamar itu mereka akan turun melalui lift menuju basement, kemudian memindahkan tas golf ke kendaraan Mira. Mira yang akan mengatur pembagian uang kepada anggota tim dan penghubung politik.
Rahmadi tiba lebih dahulu. Sambil menunggu Mira menyelesaikan proses check-in, ia duduk di kafe hotel. Kopinya mulai dingin ketika ia merasa perlu pergi ke toilet. Di dalam toilet, ia mendengar seseorang berbicara melalui telepon dari salah satu bilik. Suaranya pelan, tetapi ruangan yang sepi membuat setiap kata terdengar jelas.
“Maaf, Ma,” kata lelaki itu dengan suara terisak. “Andi tidak bisa berutang lagi. Utang Andi di kantor sudah banyak.”
Hening sejenak.
“Jangan pikirkan biayanya. Mama harus berobat.”
Lelaki itu menarik napas. Tangisnya pecah, tetapi segera ditahannya. “Sabar sebentar. Besok Andi jual motor. Tidak apa-apa Andi naik bus. Yang penting Mama bisa dibawa ke rumah sakit sampai sembuh.”
Rahmadi berdiri membeku di depan wastafel. Lelaki itu masih berbicara, berusaha terdengar kuat agar ibunya tidak semakin khawatir.
“Motor bisa dibeli lagi, Ma. Mama cuma satu.”
Kalimat itu menghantam sesuatu yang telah lama terkubur dalam diri Rahmadi. Di cermin, wajahnya perlahan berubah menjadi wajah seorang anak kampung yang dahulu belajar di bawah lampu minyak. Ia teringat ibunya menjual gelang satu-satunya agar ia dapat membayar uang kuliah. Ia teringat ayahnya mengayuh sepeda puluhan kilometer, membawa hasil kebun ke pasar agar anaknya dapat menjadi insinyur. Orang tuanya tidak pernah membicarakan pengorbanan itu sebagai utang. Mereka hanya mengatakan bahwa ilmu harus membuat anaknya berguna bagi orang banyak.
Dalam keheningan toilet hotel, Rahmadi seperti mendengar suara ibunya. “Bunda tidak berniat melahirkan seorang koruptor.”
Rahmadi memejamkan mata.
“Bunda dan ayahmu menyekolahkanmu sampai tinggi bukan agar kamu pandai mengambil hak orang lain. Kami tidak menjual gelang, tanah, dan tenaga supaya kelak kamu mengetahui cara menyembunyikan pencurian di balik kontrak.”
Napas Rahmadi menjadi berat.
“Ilmu itu pengabdian, Nak. Kalau ilmu hanya membuatmu pandai mencari pembenaran, orang yang tidak sekolah lebih mulia daripada dirimu.”
Tangannya mencengkeram tepi wastafel. Dalam pikirannya, ibunya berdiri mengenakan mukena lusuh. Wajahnya tua, tetapi matanya jernih. “Kalau kau sayang kepada Bunda, jagalah akhlakmu. Jangan buat hidup kami sia-sia karena uang yang tidak akan kau bawa ke dalam kubur.”
Pintu bilik terbuka. Seorang lelaki muda keluar dengan mata merah. Seragam hotel yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia bekerja di sana. Ia terkejut melihat Rahmadi, lalu lekas menunduk karena malu.
“Maaf, Pak.”
Rahmadi menatapnya. “Ibumu sakit?”
Lelaki itu mengangguk. “Harus cuci darah, Pak.”
“Motormu akan dijual?”
“Iya. Hanya itu yang saya punya.”
Rahmadi ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya tercekat.
Di basement hotel, di dalam bagasi mobilnya, terdapat uang yang cukup untuk membiayai pengobatan ratusan ibu seperti ibu Andi. Namun uang itu akan digunakan untuk membeli keputusan, memperpanjang konsesi, dan menaikkan keuntungan perusahaan. Pada akhirnya biaya tersebut akan dimasukkan ke dalam investasi proyek dan dikembalikan melalui tarif yang harus dibayar masyarakat. Mungkin kelak Andi juga melewati jalan itu. Mungkin dari gajinya yang kecil, ia harus membayar tarif yang lebih mahal karena suap yang malam ini sedang dibawa Rahmadi. Tiba-tiba hubungan antara korupsi dan penderitaan tidak lagi berupa teori. Ia berdiri di hadapannya dalam rupa seorang anak yang rela menjual motor demi membawa ibunya berobat.
Rahmadi mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan menyerahkannya.
Andi mundur. “Jangan, Pak.”
“Untuk ibumu.”
“Saya tidak mengenal Bapak.”
“Tidak semua pertolongan memerlukan perkenalan.”
Andi tetap menolak. “Maaf, Pak. Mama mengajarkan saya tidak menerima uang yang tidak jelas.”
Jawaban itu membuat Rahmadi merasa tubuhnya kehilangan kekuatan. Seorang pegawai hotel bergaji kecil menolak uang dari orang asing karena pesan ibunya. Sementara dirinya, seorang pejabat berpendidikan tinggi, membawa satu tas uang yang asal-usul dan tujuannya telah ia ketahui sebagai kejahatan. Siapakah yang sesungguhnya terpelajar? Rahmadi memasukkan kembali uangnya ke dompet.
“Andi,” katanya lirih, “jangan jual baktimu kepada ibumu. Jual saja motormu kalau memang harus. Suatu hari Tuhan dapat menggantinya. Tetapi jangan pernah menjual dirimu.”
Andi mengangguk, meskipun tidak memahami mengapa orang asing di hadapannya berkata dengan mata berkaca-kaca.
Setelah lelaki itu pergi, Rahmadi menatap dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi memikirkan cara menyelamatkan karier, jabatan, atau masa depannya. Hanya satu pertanyaan yang tersisa: jika ibunya masih hidup, apakah perempuan itu masih akan mengenalinya sebagai anak?
Rahmadi tidak kembali ke meja. Ia berjalan menembus lobi, turun ke basement, lalu meninggalkan hotel tanpa menemui Mira. Tas golf itu tetap berada di dalam bagasi. Sepanjang perjalanan, teleponnya bergetar berkali-kali. Ia tidak menjawab. Ia belum tahu bagaimana menghadapi orang-orang yang telah menunggu uang tersebut, tetapi untuk malam itu ia hanya ingin menjauh dari kamar hotel tempat satu keputusan akan mengubah seluruh hidupnya.
Nasihat dari Seorang Mentor
Rahmadi mengemudikan mobil tanpa tujuan, menyusuri jalan-jalan kota yang mulai lengang. Tas golf berisi uang masih berada di dalam bagasi. Pesan dari Mira terus masuk, tetapi tidak satu pun sanggup dibacanya sampai selesai. Ia ingin berhenti, tetapi keputusan yang benar tidak selalu segera mendatangkan ketenangan. Kadang-kadang keputusan itu justru membuka ketakutan baru: kehilangan jabatan, dijauhi kawan, dipermalukan, bahkan dikriminalisasi oleh orang-orang yang merasa terancam.
Di tengah kegundahan itu, Rahmadi teringat kepada seseorang. Namanya Ale. Pria berusia diatas lima puluh tahun itu pernah menjadi mentornya dalam sebuah program kepemimpinan. Ale tidak memiliki jabatan resmi di pemerintahan. Ia lebih banyak dikenal di kalangan terbatas sebagai pengusaha dan penasihat keuangan yang memahami cara modal bergerak melintasi batas negara.
Penampilannya selalu bersahaja. Ia tidak pernah menggunakan pengetahuan untuk membuat orang lain merasa kecil. Namun di balik kesederhanaannya, Rahmadi melihat kekayaan batin yang sulit dijelaskan. Ale memahami uang tanpa menyembahnya. Ia mengenal kekuasaan, tetapi tidak merasa perlu berdiri di dekatnya.
Rahmadi mengirimkan pesan singkat. Pak Ale, apakah Bapak punya waktu untuk bertemu?
Jawaban datang beberapa menit kemudian. Datanglah. Kita minum kopi.
Mereka bertemu di sebuah kedai kecil, jauh dari kawasan perkantoran. Ale datang mengenakan kemeja batik dan celana gelap. Tidak ada jam tangan di pergelangan tangannya. Ia duduk menghadap jendela dengan secangkir kopi yang belum disentuh. Rahmadi menyalaminya, lalu mengambil tempat di hadapannya.
“Wajahmu seperti orang yang baru keluar dari ruang pengadilan,” kata Ale.
“Barangkali saya sedang mengadili diri sendiri.”
“Duduklah.”
Tanpa banyak pengantar, Rahmadi menceritakan semuanya. Tentang pertemuannya kembali dengan Mira, kedekatan mereka, kebocoran informasi tender, uang dari Amir, keterlibatan elite politik, hingga tas golf yang diambilnya dari locker sebuah spa. Ia juga menceritakan suara tangis Andi di toilet hotel.
Ale tidak menyela. Ia hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengangguk, tetapi tidak menunjukkan keterkejutan ataupun kemarahan. Sikapnya membuat Rahmadi semakin berani membuka bagian-bagian paling gelap dari dirinya.
“Saya hampir menyerahkan uang itu kepada Mira,” kata Rahmadi.
“Kalau saya tidak mendengar percakapan Andi dengan ibunya, mungkin semuanya sudah terlambat.”
“Hampir terlambat bukan berarti terlambat,” jawab Ale.
“Tetapi niat saya sudah rusak, Pak.”
“Karena itu kamu harus bertobat. Bukan hanya menyesal.”
“Apa bedanya?”
“Penyesalan hanya membuat manusia menangisi masa lalu. Pertobatan mengubah arah hidupnya.”
Rahmadi menunduk. “Uang itu akan saya kembalikan.”
“Pastikan pengembaliannya dapat dibuktikan. Jangan bertemu sendirian. Jangan meninggalkan ruang bagi mereka untuk menuduh kamu mengambil sebagian atau memeras mereka.”
“Saya juga akan menolak menandatangani penetapan pemenang.”
“Siapkan alasan teknis dan administratif yang kuat. Jangan menjadikan kemarahan sebagai dasar keputusan. Kamu sedang melindungi kepentingan publik, maka lakukan melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan.”
Rahmadi mengangguk.
Beberapa saat mereka terdiam. Kemudian Rahmadi membuka pembicaraan tentang proyek yang sedang dievaluasinya. “Menurut Bapak, apakah privatisasi layanan publik melalui PPP memang salah?”
Ale menggeleng. “Tidak. Yang salah adalah ketika kerja sama itu berubah menjadi mesin rente.”
Ia menyeruput kopinya sebelum melanjutkan.
“Maksud Bapak?”
“Privatisasi layanan publik pada dasarnya adalah sebuah business model,” kata Pak Ale. “Jalan tol, kereta cepat, dan pembangkit listrik boleh dibangun serta dikelola swasta. Karena bersinggungan dengan kepentingan umum, negara tetap hadir untuk mengatur tata ruang, keselamatan, lingkungan, mutu pelayanan, persaingan, dan batas waktu konsesi.”
“Bagaimana dengan tarif?” tanya Rahmadi.
“Tarif seharusnya menjadi bagian dari risiko bisnis investor, bukan instrumen negara untuk menjamin keuntungan. Pemerintah tidak boleh terus menaikkan tarif atau memperpanjang konsesi hanya karena proyeksi keuntungan investor tidak tercapai.”
Pak Ale mengambil selembar kertas dan menggambar sebuah jalan yang menghubungkan dua kawasan. “Jalan tol dibangun untuk menghubungkan pusat pertumbuhan baru dengan kota lain. Dalam model pengembangan kawasan, pendapatan tarif bukan satu-satunya sumber keuntungan. Nilai terbesarnya justru dapat berasal dari kenaikan harga tanah.”
“Bagaimana prosesnya?”
“Pengembang menguasai lahan ketika harganya masih murah. Setelah jalan dibangun, waktu tempuh berkurang. Kawasan industri, perumahan, pergudangan, dan pusat perdagangan mulai tumbuh. Harga tanah meningkat. Jalan tol menjadi infrastruktur yang menciptakan nilai bagi seluruh kawasan.”
“Prinsip yang sama berlaku untuk kereta cepat?”
“Ya. Kereta cepat bukan sekadar bisnis menjual tiket. Keuntungannya dapat berasal dari pengembangan kawasan stasiun: apartemen, hotel, perkantoran, pusat komersial, dan kota baru. Kalau proyek hanya mengandalkan penjualan tiket untuk membayar investasi yang sangat besar, kelayakannya mudah rapuh.”
“Berarti investor harus mempunyai akses terhadap pengembangan lahan.”
“Setidaknya harus ada mekanisme yang sah untuk menangkap sebagian nilai ekonomi yang diciptakan infrastruktur, misalnya melalui pengembangan kawasan, hak pembangunan di sekitar stasiun, atau land value capture. Kalau tidak, investor menanggung biaya pembangunan, sedangkan kenaikan nilai tanah dinikmati pihak lain.”
Pak Ale kemudian menjelaskan tentang pembangkit listrik swasta “Independent power producer juga seharusnya dipahami dalam kerangka serupa. Pengembang kawasan industri, kota baru, atau pusat data dapat membangun pembangkit untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Negara tidak harus membiayai semuanya.”
“Namun tetap ada kepentingan publik.”
“Karena itu pemerintah mengatur perizinan, keselamatan, lingkungan, jaringan, serta kewajiban pelayanan. Akan tetapi, risiko permintaan dan keputusan investasinya tetap menjadi tanggung jawab pengusaha.”
“Lalu apa fungsi konsesi?”
“Konsesi memberi hak kepada swasta untuk mengelola dan mengambil manfaat ekonomi dalam jangka waktu tertentu. Setelah waktunya berakhir, hak pengelolaan atau asetnya kembali kepada negara sesuai kontrak. Negara hadir untuk menjaga kepentingan publik, bukan untuk membuat setiap proyek swasta pasti untung.”
“Bagaimana dengan VGF dan PMN?”
“VGF dapat digunakan secara terbatas untuk proyek yang manfaat ekonominya besar, tetapi belum layak secara finansial. PMN juga dapat dibenarkan untuk penugasan tertentu. Namun keduanya tidak boleh menjadi cara menutup biaya yang dibesarkan, kesalahan proyeksi, atau keuntungan yang terlalu tinggi.”
Pak Ale menatap Rahmadi. “Kalau investor sudah memperoleh keuntungan dari kenaikan harga tanah dan perkembangan kawasan, jangan seluruh biaya infrastruktur kembali dibebankan kepada masyarakat melalui tarif tinggi, VGF, PMN, dan perpanjangan konsesi. Itu berarti keuntungan diprivatisasi, sedangkan risiko dipindahkan kepada negara.”
Rahmadi mengangguk. Selama ini ia terbiasa mendengar istilah blended finance, risk sharing, dan financial innovation. Di tangan orang-orang tertentu, istilah itu terdengar seperti ilmu yang tidak boleh dipertanyakan. Ale mengembalikannya kepada persoalan paling sederhana: siapa yang memperoleh keuntungan dan siapa yang menanggung risiko.
“Pak,” kata Rahmadi kemudian, “mengapa saya akhirnya memilih berubah pikiran ? Padahal selama setahun saya terus mencari pembenaran.”
Ale tersenyum. “Itu karena doa istrimu.”
Rahmadi mengangkat kepala.
“Percayalah,” lanjut Ale. “Selain ibu yang melahirkan kita, ada doa seorang perempuan yang memperoleh tempat istimewa dalam hidup seorang laki-laki, doa istrinya. Sejak Tuhan menakdirkan dia menjadi pasanganmu, dia mempunyai hak untuk memohon perlindungan bagi suaminya.”
“Salma tidak tahu apa yang saya lakukan.”
“Doa tidak selalu memerlukan pengetahuan tentang bahaya. Bisa jadi setiap malam ia hanya berkata, ‘Tuhan, jagalah suamiku.’ Lalu Tuhan menjagamu melalui suara seorang anak yang menangis untuk ibunya.”
Mata Rahmadi mulai berkaca-kaca.
“Kamu sibuk mencari perempuan yang memahami pikiranmu,” kata Ale. “Sampai lupa bahwa di rumah ada perempuan yang setiap hari menjaga jiwamu.”
Rahmadi menunduk.
“Berbuat baik kepada orang lain itu mulia. Tetapi setelah ibumu, jangan meremehkan kebaikan kepada istrimu. Nafkah terbaik adalah yang diberikan dengan kasih dan cara yang halal. Kesabaran paling nyata adalah kesabaran terhadap orang yang hidup bersama kita setiap hari. Dan kehormatan seorang suami terlihat dari caranya memperlakukan perempuan yang mempercayakan hidup kepadanya.”
Ale menatapnya tajam.
“Jangan terlihat baik kepada seluruh dunia, tetapi membuat istrimu menangis sendirian di rumah. Camkan itu.”
Air mata Rahmadi jatuh. Ia teringat Salma yang selalu menunggu kepulangannya, menghangatkan makanan, dan tidak pernah bertanya mengapa suaminya semakin sering pulang larut. Perempuan sederhana itu tidak memiliki bahasa untuk membahas kekuasaan. Namun mungkin setiap malam doanya berperang melawan dunia yang sedang menarik suaminya semakin jauh.
Setelah emosinya mereda, Rahmadi mengalihkan pembicaraan. Ia teringat kondisi sejumlah perusahaan konstruksi milik negara. “Kalau konsepnya seperti itu, mengapa banyak BUMN Karya justru merugi setelah mendapatkan konsesi infrastruktur?”
“Karena mereka masih berpikir sebagai kontraktor, bukan investor konsesi.”
“Maksud Bapak?”
“Mereka mengejar nilai kontrak, volume pekerjaan, dan laba konstruksi. Semakin besar biaya proyek, semakin besar pendapatan yang dapat dibukukan. Padahal ketika perusahaan yang sama menjadi pemilik konsesi, kepentingannya seharusnya berlawanan: proyek harus dibangun dengan biaya serendah dan seefisien mungkin.”
“Jadi ada konflik kepentingan di dalam kelompok perusahaan sendiri?”
“Tepat. BUMN Karya mendirikan badan usaha proyek, kemudian badan usaha itu berutang kepada bank untuk membayar pekerjaan yang dikerjakan perusahaan konstruksi dalam kelompok yang sama. Pada satu entitas muncul pendapatan konstruksi. Namun pada entitas konsesi muncul utang, bunga, biaya operasi, dan risiko permintaan.”
“Kalau dikonsolidasikan?”
“Sebagian transaksi internal harus dieliminasi. Secara ekonomi, grup memperoleh kas dari utang dan tetap mempunyai kewajiban kepada bank. Laba pada perusahaan kontraktor belum tentu berarti kelompok usahanya menghasilkan kas secara sehat.”
“Laba dicatat sekarang, sedangkan bebannya datang kemudian.”
“Benar. Arus kas konsesi terbentuk perlahan selama puluhan tahun, sedangkan cicilan dan bunga mulai berjalan sejak pembangunan. Jika pinjamannya berjangka lebih pendek dan mahal, terjadi ketidaksesuaian antara kewajiban dan kemampuan aset menghasilkan uang.”
“Mengapa mereka tidak mengembangkan kawasan di sekitar jalan?”
“Itulah kelemahannya. Mereka membangun jalan yang menaikkan harga tanah, tetapi sering tidak menguasai lahan ataupun hak pengembangan di sepanjang koridor. Nilai yang mereka ciptakan justru ditangkap pengembang lain. BUMN Karya menanggung utang, sementara pemilik tanah menikmati capital gain.”
“Karena tidak mendapat keuntungan dari kawasan, mereka bergantung pada tarif.”
“Ya. Ketika jumlah kendaraan berada di bawah proyeksi, pendapatan tidak cukup menutup operasi, bunga, dan pokok pinjaman. Pilihannya kemudian terbatas: menjual aset, merestrukturisasi utang, meminta dukungan modal, atau memperpanjang masa konsesi.”
“Jadi sebenarnya mereka hanya membangun proyek, bukan mengelola ekosistem bisnis.”
“Betul. Mereka mungkin ahli membangun jalan dan jembatan. Namun investasi konsesi memerlukan kemampuan lain: membaca pertumbuhan wilayah, menangkap kenaikan nilai lahan, mengelola arus kas jangka panjang, serta mengendalikan utang.”
Rahmadi menatap Pak Ale. “Apakah risiko bisnisnya kemudian berpindah kepada bank?”
“Risiko tidak sepenuhnya berpindah. BUMN Karya tetap menanggung kerugian ekuitas, bunga, penurunan nilai aset, dan ancaman gagal bayar. Namun bank menjadi pihak yang menanggung risiko kredit ketika arus kas proyek tidak mampu melunasi pinjaman.”
“Mengapa bank tetap bersedia membiayai?”
“Bank tidak hanya menilai proyek. Mereka juga melihat nama besar BUMN dan berasumsi pemerintah tidak akan membiarkannya gagal. Jika banknya juga milik negara, masalahnya berputar di dalam rumah yang sama.”
“Bagaimana maksudnya?”
“BUMN Karya meminjam kepada bank BUMN untuk membangun proyek yang diberi label strategis. Ketika pendapatan proyek tidak mencukupi, utang direstrukturisasi, jatuh tempo diperpanjang, bunga ditangguhkan, atau aset dijual. Masalah itu terlihat seperti gangguan likuiditas, meskipun secara ekonomi proyeknya mungkin memang tidak sanggup melunasi utang.”
“Kalau tetap tidak tertolong?”
“BUMN Karya dapat meminta PMN, sementara bank harus membentuk pencadangan atau memperkuat modal. Risiko yang semula disebut risiko korporasi akhirnya kembali kepada negara.”
Rahmadi menarik napas panjang. “Jadi keuntungan konstruksi dicatat di depan. Kerugian konsesi muncul belakangan, ketika para pengambil keputusan mungkin sudah pindah jabatan.”
Pak Ale mengangguk. “Pembangunan infrastrukturnya tidak salah. Yang bermasalah adalah model bisnis, struktur pembiayaan, konflik kepentingan, serta tata kelolanya.”
Ia melipat kertas di hadapannya. “Kalau perusahaan hanya memahami cara membangun, tetapi tidak memahami cara menangkap nilai ekonomi setelah konstruksi selesai, ia bukan sedang berinvestasi. Ia hanya membangun dengan uang bank, membukukan pendapatan konstruksi, kemudian mewariskan risiko jangka panjang kepada kreditur.”
“Dan karena krediturnya sering bank milik negara, kegagalannya dapat menjadi beban publik.”
“Tepat.”
Pak Ale lalu mengakhiri penjelasannya. “Kalau model bisnisnya sehat, investor akan datang karena melihat peluang. Kalau model bisnisnya buruk, pemberian status strategis, VGF, PMN, kenaikan tarif, dan perpanjangan konsesi hanya akan membuat kegagalannya semakin mahal.”
“Jadi negara cukup menjadi regulator?”
“Negara harus menjadi regulator yang kuat: menjaga keselamatan, lingkungan, persaingan, mutu pelayanan, hak masyarakat, serta batas konsesi. Negara tidak boleh berubah menjadi penjamin laba pengusaha.”
Pak Ale menatap Rahmadi dengan tenang. “Ketika pemerintah terlalu sibuk menyelamatkan keuntungan investor, ia akan kehabisan uang untuk memenuhi hak rakyat yang sudah membayar pajak.”
Rahmadi mengangguk. “Bagaimana dengan pembiayaan non-APBN melalui lembaga seperti Danantara?”
“Bisa dilakukan dan secara konsep dapat bermanfaat,” jawab Ale. “Namun pembiayaan non-APBN tetap membutuhkan sistem pemerintahan yang bersih, hukum yang dapat dipercaya, tata kelola yang transparan, serta proyek yang menghasilkan arus kas.”
“Bukankah investor dapat diyakinkan melalui dukungan pemerintah?”
“Investor itu orang yang punya uang, Rahmadi. Mereka tidak bodoh dan tidak mudah dipengaruhi buzzer. Mereka membaca kontrak, risiko politik, laporan keuangan, hak kreditur, dan kualitas penegakan hukum. Kalau sistemnya buruk, mengapa mereka harus mengeluarkan uang?”
“Jadi sebelum menawarkan skema non-APBN—”
“Perbaiki dahulu hukumnya. Pastikan peradilannya dapat dipercaya. Buka laporan keuangan dan struktur transaksi. Setelah itu investor akan datang tanpa harus diteriaki setiap hari bahwa negara kita menarik.”
“Bagaimana kalau saham BUMN dijadikan agunan untuk menerbitkan surat utang?”
“Itu mungkin secara struktur korporasi, tetapi tidak sesederhana mengumpulkan saham lalu menggadaikannya,” kata Ale. “Harus jelas siapa pemilik hukumnya, apakah saham itu boleh diagunkan, bagaimana hak negara dilindungi, serta siapa yang menanggung risiko kalau surat utangnya gagal bayar.”
“Tetapi selama ini SBN juga sering dikaitkan dengan aset negara dan BUMN.”
Ale menggeleng.
“Jangan keliru. SBN pada umumnya bukan surat utang yang dijamin secara khusus oleh saham BUMN tertentu. Pembayarannya merupakan kewajiban negara yang ditopang oleh kapasitas fiskal dan kepercayaan terhadap Republik. Karena itu persoalannya bukan sekadar ‘aset yang digadaikan dua kali’.”
“Lalu apa risikonya?”
“Kalau aset BUMN diagunkan secara agresif, pasar dapat menilai negara sedang memindahkan risiko fiskal ke kendaraan lain. Secara hukum mungkin disebut utang korporasi, tetapi secara ekonomi investor tetap bertanya: kalau gagal, apakah pemerintah akan membiarkannya jatuh? Kalau jawabannya tidak, kewajiban kontinjennya tetap kembali kepada negara.”
Rahmadi menghela napas. Penjelasan itu lugas dan tidak memerlukan semboyan. “Jadi neraca boleh dipindahkan, tetapi risiko tidak selalu ikut menghilang.”
“Tepat. Mengganti nama pembiayaan tidak mengubah siapa yang akhirnya harus membayar.”
Mereka terdiam cukup lama.
Rahmadi memandang lalu lintas di luar jendela. Setelah mendengarkan semua penjelasan itu, pekerjaannya terasa semakin berat. Ia membayangkan tekanan dari atasannya, ancaman kawan-kawan politik, dan tatapan orang-orang yang akan menyebutnya munafik.
“Saya ingin mengundurkan diri saja, Pak Ale.”
Ale tersenyum, tetapi tidak segera menjawab. “Kalau semua orang yang masih mempunyai hati meninggalkan pemerintahan, kepada siapa negara akan diserahkan?”
“Saya sudah melakukan kesalahan.”
“Justru karena hampir jatuh, kamu sekarang mengetahui letak jurangnya.”
“Saya mungkin tidak akan dipercaya lagi.”
“Kredibilitas tidak lahir karena manusia tidak pernah salah. Ia lahir ketika seseorang berani menghentikan kesalahannya, memperbaiki akibatnya, dan menerima hukuman tanpa menjual orang lain untuk menyelamatkan diri.”
Ale lalu berdiri. Ia menepuk bahu Rahmadi. “Negara masih membutuhkan orang seperti kamu, Di. Jangan menyerah hanya karena orang-orang buruk lebih pandai membuat keributan.”
Rahmadi menyalaminya, kemudian membungkuk dan mencium punggung tangan pria itu. Ale segera menarik tangannya. “Jangan hormati saya terlalu tinggi. Hormatilah nasihat yang benar, siapa pun yang menyampaikannya.”
Sebelum berpisah, Ale berkata, “Pulanglah kepada istrimu. Ceritakan sejauh yang mampu kamu pertanggungjawabkan. Jangan meminta dia segera melupakan lukanya. Tugasmu bukan menuntut maaf, tetapi menjadi orang yang pantas dimaafkan.”
Jalan Pulang
Sepulang dari pertemuan dengan Ale, Rahmadi duduk sendirian di ruang kerjanya. Matahari telah turun, tetapi ia belum menyalakan lampu. Tas golf itu kini tersimpan di lemari besi kantor pengacaranya, disegel dan disaksikan dua orang. Nasihat Ale membuatnya memahami bahwa keberanian tanpa kehati-hatian hanya akan memberinya kesempatan kepada orang lain untuk memutarbalikkan kebenaran.
Dalam temaram ruangan, wajah Andi kembali hadir. Anak muda itu rela kehilangan satu-satunya kendaraan agar ibunya dapat terus berobat. Ia bekerja, berutang, dan masih berusaha menjaga martabat. Kemiskinannya bukan dosa. Kelemahannya bukan takdir yang pantas dihukum. Orang seperti Andi berada di bawah karena terlalu sering hasil kerja orang kecil dipakai untuk membiayai kemewahan mereka yang mempunyai akses.
Rahmadi akhirnya memahami kekeliruan paling berbahaya yang ditanamkan Mira, menyalahkan korban agar pelaku tidak lagi merasa berdosa. Jika orang miskin dianggap miskin karena kebodohan mereka sendiri, orang kaya tidak perlu memikirkan keadilan. Jika hukum dianggap dapat dibeli, pelanggaran berubah menjadi transaksi. Jika korupsi dianggap bagian dari sistem, setiap orang dapat mengaku tidak bertanggung jawab.
Padahal sistem tidak mempunyai tangan untuk menerima uang. Manusialah yang mengulurkan tangan. Sistem tidak mempunyai mulut untuk berbohong. Manusialah yang menyusun pembenaran. Sistem tidak mempunyai hati untuk bertobat. Hanya manusia yang masih memiliki pilihan untuk berhenti.
Rahmadi membuka percakapan dengan Mira di teleponnya. Jemarinya sempat tertahan di atas layar. Setelah menarik napas panjang, ia mengetik: Mira, saya tidak dapat melanjutkan ini. Carilah jalanmu sendiri. Saya tidak akan menyerahkan uang itu. Saya juga tidak akan menandatangani penetapan pemenang sebelum seluruh evaluasi dilakukan secara benar.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Kamu di mana?
Rahmadi tidak menjawab.
Teleponnya berdering. Nama Mira memenuhi layar. Ia membiarkannya sampai berhenti. Mira menelepon lagi. Kali ini Rahmadi menjawab. “Apa maksud pesanmu?” suara Mira terdengar tegang.
“Persis seperti yang kamu baca.”
“Jangan bermain-main. Orang-orang sudah menunggu.”
“Saya tidak lagi ikut.”
“Uang Amir ada padamu.”
“Besok saya kembalikan.”
“Kamu tidak bisa keluar begitu saja.”
“Saya baru menyadari bahwa saya masih bisa.”
“Kita sudah terlalu jauh, Rahmadi.”
“Selama belum mati, tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk pulang.”
Suara Mira melemah. “Kamu takut?”
“Ya.”
“Takut ditangkap?”
“Takut ibu saya benar-benar sia-sia melahirkan saya.”
Hening.
“Jangan membawa ibumu ke dalam urusan bisnis,” kata Mira.
“Justru karena saya mengeluarkannya dari hidup saya, saya sampai berada di sini.”
“Bagaimana dengan kita?”
Rahmadi menutup mata. Pertanyaan itu masih melukai hatinya.
“Kita tidak pernah benar-benar ada, Mira.”
“Saya mencintaimu.”
“Mungkin. Tetapi cinta tidak seharusnya membuat seseorang semakin jauh dari dirinya sendiri.”
“Kamu pikir istrimu dapat memahami duniamu?”
“Dia mungkin tidak memahami kontrak PPP. Tetapi dia memahami batas antara halal dan haram. Dan ternyata pengetahuan itu lebih saya butuhkan daripada semua yang kamu ajarkan.”
Suara Mira berubah dingin. “Kalau kamu menolak, kariermu selesai. Teman-temanmu tidak akan melindungimu.”
“Saya tahu.”
“Kamu akan kembali menjadi pegawai kecil.”
“Mungkin memang itu harga yang harus saya bayar untuk menjadi manusia lagi.”
Rahmadi memutuskan sambungan telepon.
Keesokan paginya, melalui pengacara dan disertai dokumentasi penyerahan, uang itu dikembalikan kepada Amir tanpa satu dolar pun berkurang. Rahmadi tahu pengembalian uang tidak menghapus kesalahannya. Namun setidaknya, sejak saat itu ia berhenti menambah kesalahan baru.
Dalam rapat penetapan pemenang, Rahmadi menolak membubuhkan tanda tangan. Ia menulis catatan resmi bahwa permintaan VGF, tingkat keuntungan, dan masa konsesi perlu dievaluasi ulang. Ia juga meminta pemeriksaan terhadap benturan kepentingan serta komunikasi tidak resmi antara peserta dan anggota tim.
Ruangan mendadak sunyi.
Ketua tim menatapnya tajam. “Kamu memahami akibat dari catatan ini?”
“Saya memahami.”
“Keputusan sudah disepakati.”
“Saya tidak pernah menyepakatinya.”
“Jangan merasa paling suci.”
“Saya tidak suci. Justru karena saya hampir ikut kotor, saya tahu betapa mudahnya kita menyebut lumpur sebagai jalan.”
***
Beberapa minggu kemudian Rahmadi dicopot dari posisinya. Tidak ada surat yang menyatakan bahwa ia dihukum karena menolak intervensi. Bahasa birokrasi selalu lebih sopan daripada kekejamannya. Surat itu menyebut rotasi, penyegaran organisasi, dan kebutuhan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Ia dikirim menjadi pengajar di pusat pendidikan kementerian. Tidak ada lagi pengusaha yang mengundangnya makan malam. Telepon dari kawan-kawan politik berhenti. Harun hanya mengirim satu pesan: Kamu menyia-nyiakan kesempatan yang kami berikan.
Rahmadi membalas: Mungkin kalian memberi saya jabatan. Tetapi ibu saya yang memberi alasan mengapa saya tidak boleh menjualnya.
Malam pertama setelah pemindahan itu, Rahmadi pulang lebih awal. Salma sedang duduk di ruang tengah sambil membaca Al-Qur’an. Ia mengenakan mukena putih yang telah berkali-kali dijahit pada bagian tepinya. Tidak ada riasan di wajahnya. Tidak ada perhiasan mahal di tangannya.
Rahmadi berdiri lama di ambang pintu. Dahulu ia menganggap kesederhanaan perempuan itu sebagai beban bagi kemajuan kariernya. Ia malu karena Salma tidak pandai berbicara di antara istri-istri pejabat. Ia membandingkannya dengan Mira yang cantik, berkelas, dan memahami dunia kekuasaan. Kini ia melihat sesuatu yang selama ini hilang dari matanya.
Pada wajah Salma terdapat ketenangan yang dahulu hidup pada wajah ibunya. Pada tangannya yang mulai kasar terdapat pengabdian yang tidak pernah meminta imbalan. Dalam kesederhanaannya tersimpan benteng yang selama ini menjaga rumah mereka agar tidak ikut hanyut oleh ambisi Rahmadi.
Salma menutup Al-Qur’an. “Ayah sudah pulang?”
Rahmadi mengangguk.
“Kenapa wajah Ayah sedih?”
Rahmadi berlutut di hadapan istrinya. Ia merebahkan kepala di pangkuan Salma, seperti seorang anak yang akhirnya pulang setelah tersesat terlalu jauh. “Ayah kehilangan jabatan,” katanya lirih.
Salma mengusap rambut suaminya. “Karena apa?”
“Karena ayah menolak melakukan sesuatu yang salah.” Rahmadi menarik napas panjang. “Tetapi sebelum menolaknya, Ayah hampir melakukannya.”
Tangan Salma terhenti sejenak. Ia menunduk, memandang lelaki yang selama ini menjadi imam bagi dirinya dan anak-anak mereka.
“Ayah, ketika Salma meminta Ayah tidak membawa uang haram ke rumah, Salma tahu itu bukan permintaan yang mudah. Ayah seorang suami, seorang ayah, dan merasa bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi Ayah punya jabatan sebagai pegawai negeri. Cobaan tentu datang dari segala arah.”
Salma kembali membelai rambutnya. “Namun, dalam setiap detak jantung, Salma selalu berdoa kepada Allah agar hati Ayah dikuatkan menghadapi segala godaan di luar rumah. Kepada anak-anak, Salma terus mengingatkan bahwa ayah mereka bukan orang kaya. Jabatan yang ayah mereka miliki bukan sumber kemewahan, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat.”
Rahmadi diam. Air matanya mulai membasahi kain mukena Salma.
“Karena itu, anak-anak tidak pernah meminta hidup seperti orang kaya,” lanjut Salma. “Mereka tahu diri. Mereka hanya ingin ayahnya pulang sebagai lelaki yang tetap mereka hormati. Setiap hari mereka berdoa agar Ayah selalu dijaga Allah.”
Suara Salma bergetar, tetapi tangannya tetap lembut. “Salma tidak keberatan hidup bersahaja di dunia, asalkan Ayah tetap istiqamah. Ayah adalah imam Salma. Salma ingin Ayah menuntun keluarga kita, bukan hanya menjalani hidup di dunia, tetapi juga menuju surga Allah.”
Rahmadi menggeleng pelan. Tangisnya semakin pecah. “Jabatan masih dapat dicari,” kata Salma. “Rezeki dapat dimohonkan kepada Allah. Namun, kalau Ayah kehilangan diri sendiri, Salma dan anak-anak harus mencari suami dan ayah ke mana?”
Rahmadi menggenggam ujung mukena istrinya.
“Anak-anak sangat bangga kepada ayahnya,” lanjut Salma. “Mereka tumbuh menjadi anak yang saleh dan pintar karena percaya bahwa ayah mereka orang baik. Apa jadinya hati mereka jika suatu hari mengetahui bahwa lelaki yang selama ini mereka banggakan ternyata seorang koruptor?”
“Maafkan ayah , Salma,” ucap Rahmadi terbata-bata.
Salma mengusap air mata di pipi suaminya. “Mengapa harus meminta maaf kepada Salma? Salma hanya makmum, Yah. Apa pun yang Ayah lakukan di luar rumah adalah urusan Ayah dengan Allah. Salma dan anak-anak mungkin ikut menanggung akibatnya, tetapi dosanya tetap harus Ayah pertanggungjawabkan sendiri. Jadi, kepada Allah-lah Ayah meminta ampun.”
Rahmadi perlahan mengangkat wajah. Salma tersenyum kepadanya—senyum yang teduh dan ikhlas, sama seperti senyum yang dilihatnya pada malam pertama mereka dahulu. Tidak ada kemarahan ataupun penghukuman di sana. Hanya cinta seorang istri yang bersyukur karena suaminya kehilangan jabatan, tetapi tidak kehilangan jalan pulang.
Malam itu mereka salat bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rahmadi tidak memohon kenaikan jabatan, kekayaan, atau perlindungan dari musuh. Ia hanya memohon agar Tuhan mengembalikan hatinya dan memberinya kekuatan untuk menanggung akibat dari pilihannya.
Di pusat pendidikan kementerian, Rahmadi kemudian mengajar para pegawai muda tentang evaluasi proyek dan tata kelola infrastruktur. Ruang kerjanya lebih kecil. Tidak ada pengusaha yang menunggu di luar pintu. Tidak ada lagi jamuan di hotel berbintang. Namun ia merasa lebih bebas.
Pada hari pertama mengajar, Rahmadi berdiri di depan kelas dan menulis sebuah kalimat di papan: Tidak semua proyek yang tidak memakai APBN terbebas dari beban rakyat.
Ia berbalik menghadap para peserta. “Kalian akan belajar menghitung biaya investasi, tingkat pengembalian, risiko, tarif, VGF, dan masa konsesi,” katanya. “Tetapi sebelum mempelajari semua itu, ingatlah bahwa di balik setiap angka ada manusia. Ada buruh yang menjual motor untuk mengobati ibunya. Ada petani yang kehilangan tanah. Ada keluarga yang harus membayar tarif selama puluhan tahun.”
Para peserta terdiam.
“Keahlian dapat membuat kalian penting. Jabatan dapat membuat kalian berkuasa. Tetapi hanya akhlak yang membuat ilmu dan kekuasaan itu berguna.”
Di luar kelas, matahari pagi menembus jendela. Rahmadi tidak lagi duduk di ruang tempat proyek triliunan diputuskan. Namanya tidak lagi sering disebut oleh elite politik. Penghasilannya kembali sederhana. Namun setiap sore ia pulang kepada Salma tanpa perlu takut pada suara pintu rumahnya sendiri.
Akhirnya ia memahami bahwa doa seorang ibu tidak selalu membawa anaknya menuju keberhasilan yang gemerlap. Kadang-kadang doa itu justru merobohkan jabatan, memutus hubungan, dan menutup jalan menuju kekayaan—agar anaknya tidak terus berjalan menuju kehancuran.
***
Sebulan kemudian, sebuah surat tiba di meja kerjanya. Kementerian menugaskannya mengikuti program pendidikan tata kelola infrastruktur di luar negeri. Rahmadi membaca surat itu berulang kali. Ia tidak tahu siapa yang mengusulkan namanya. Ketika ditanya, Ale hanya menjawab melalui pesan singkat: Jangan selalu mencari tangan manusia di balik pertolongan. Ada jalan yang dibuka Tuhan tanpa perlu kita ketahui siapa yang mengetuk pintunya.
Rahmadi kehilangan kursinya di ruang kekuasaan, tetapi memperoleh kembali keberanian untuk mengabdi. Barulah ia mengerti bahwa doa seorang ibu dan seorang istri tidak selalu mengantar manusia menuju kemenangan yang gemerlap. Kadang-kadang doa itu menjatuhkannya dari tempat yang tinggi, agar ia tidak terperosok lebih dalam.
Melalui kehilangan itulah Rahmadi akhirnya pulang—bukan hanya kepada Salma dan rumahnya, melainkan kepada dirinya sendiri, kepada ilmu yang dahulu dibiayai pengorbanan orang tuanya, dan kepada Tuhan yang masih memberinya kesempatan sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Tinggalkan komentar