
Senja di Natour Garuda
Yogyakarta, 1984.
Senja telah turun ketika aku tiba di Natour Hotel Garuda. Cahaya terakhir menyusup melalui pintu kaca lobi dan jatuh di lantai marmer yang mengilap. Di sudut ruangan, serombongan wisatawan Jepang duduk rapi di antara koper-koper besar. Mereka berbicara lirih sambil menunggu petugas perjalanan menyelesaikan urusan check-in.
Aku berdiri sejenak dengan tas kecil di tangan. Inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di Yogyakarta. Usia baru dua puluh satu tahun dan pekerjaanku belum lebih dari seorang penjual bahan baku karet sintetis yang berusaha terlihat meyakinkan di hadapan calon pembeli. Seorang teman berjanji memperkenalkanku kepada pengusaha yang hendak mendirikan pabrik ban sepeda. Kalau rencana itu jadi, aku mungkin mendapat pesanan tetap. Bagi perusahaan tempatku bekerja, nilainya tidak besar. Bagiku, itulah pintu menuju masa depan.
Namun petang itu pikiranku tidak sedang berada di pabrik, karet, ataupun penjualan. Aku duduk sendirian di lounge. Di balik jendela, Malioboro perlahan menyala. Becak, sepeda, dan kendaraan bermotor mengalir dalam irama yang belum kukenal. Aku seharusnya merasa bersemangat. Kota baru, calon pelanggan baru, dan mungkin sebuah peluang baru.
Namun yang datang justru wajah Florence. Seminggu sebelumnya, ia menolak cintaku dengan tegas. Bahkan tertawa, seolah pengakuanku adalah lelucon yang terlalu polos untuk dianggap serius. Lebih dari setahun kami bersahabat. Aku mengira kedekatan itu sedang berjalan menuju cinta. Ternyata aku hanya berjalan sendirian menuju kesimpulan yang kubuat sendiri.
Sebelum Florence, ada Risa. Kami juga bersahabat. Ketika akhirnya aku berani mengatakan cinta, ia pergi. Sejak itu aku mulai percaya bahwa sebagian laki-laki memang dilahirkan untuk dicintai, sedangkan sebagian lainnya hanya cukup baik untuk dijadikan tempat bercerita. Aku termasuk kelompok kedua.
Tubuhku kurus, kulitku hitam, dan wajahku tidak mempunyai sesuatu yang dapat membuat perempuan menoleh dua kali. Aku berasal dari kampung dan hanya tamat SMA. Di hadapan perempuan-perempuan cantik dan terdidik, aku selalu merasa seperti kalimat salah eja di halaman buku yang mewah.
Ucapan ayah kembali terngiang. “Kamu sebaiknya menikah dengan keponakan Papa. Sudah, fokus saja pada pekerjaan. Jangan berpikir macam-macam.”
Aku tidak menjawab ketika itu. Bukan karena setuju, melainkan karena tidak mempunyai alasan kuat untuk menolak. Kalau tidak ada perempuan yang kupilih bersedia menikah denganku, mungkin perjodohan adalah cara keluarga menyelamatkan seorang anak lelaki dari kesepiannya sendiri.
Lamunanku pecah oleh suara perempuan. “Anda petugas kantor pusat dari Jakarta, ya?”
Aku mendongak.
Seorang perempuan Jawa berdiri di hadapanku. Rambutnya dikepang dua. Hidungnya mancung, matanya bulat dan hidup. Ia mengenakan blus sederhana serta rok panjang berwarna gelap. Di tangannya ada map cokelat yang sudah agak kusut.
“Bukan,” jawabku. “Saya tamu hotel ini.”
“Oh.”
Mata bulatnya berputar mengelilingi lobi, mencari seseorang. Tanpa meminta izin, ia duduk di kursi sebelahku. “Sebaiknya saya tunggu saja,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku.
Aku diam. Kursi di lobi memang milik siapa saja. Beberapa menit kemudian ia menoleh. “Saya pemandu wisata. Kemarin kantor perjalanan memberi kabar bahwa mereka membutuhkan saya untuk mengantar tamu dari Jepang.”
Aku melirik rombongan di sudut lobi. “Mbak bekerja di biro perjalanan?”
“Ya, tetapi freelance . Kalau ada tamu, saya dipanggil. Kalau tidak ada, ya tidak dapat uang.”
“Mungkin petugasnya masih mengurus kamar.”
“Mungkin.”
Ia menunggu. Aku ikut menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya kutunggu. Sesekali ia berdiri, bertanya kepada resepsionis, kemudian kembali duduk. Hampir satu jam berlalu. Rombongan Jepang itu akhirnya dibawa menuju lift, tetapi tak seorang pun menghampirinya. Wajahnya berubah. Bukan marah, hanya seperti orang yang baru menyadari bahwa waktunya dianggap tidak berharga.
Ia bangkit, merapikan map, lalu berjalan ke luar. Aku pun berdiri. Sejak tadi aku berniat mencari makan. Orang mengatakan malam di Yogyakarta harus dimulai dari Malioboro dan diakhiri di sebuah tikar lesehan.
Kami berdiri sejajar di depan pintu hotel.
“Anda baru pertama kali ke Yogya, ya?” tanyanya.
“Kok tahu?”
“Dari tadi melihat jalan seperti melihat negeri asing.”
Aku tertawa. “Benar. Saya baru pertama kali.”
Entah dari mana keberanian itu datang. “Mbak bisa menemani saya makan malam?”
Ia menatapku, seakan sedang memastikan apakah pertanyaanku menyimpan maksud lain. “Kenapa harus ditemani?”
“Saya tidak pandai makan sendirian di kota yang tidak saya kenal.”
“Tadi di lounge bisa duduk sendirian.”
“Duduk sendirian mudah. Menikmati sesuatu sendirian lebih sulit.”
Sudut bibirnya terangkat. Ia berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Malam ini saya menjadi pemandu kamu.” Ia tersenyum. Di pipinya muncul lesung kecil yang membuat kegagalan pertemuanku dengan calon pelanggan besok terasa tidak lagi penting.
Kami menyusuri Malioboro. Ia berjalan tanpa tergesa, sesekali menerangkan nama jalan, bangunan tua, dan arah menuju keraton. Kami makan di sebuah lesehan. Aku memperhatikannya berbicara dengan penjual makanan dalam bahasa Jawa halus, sementara aku hanya memahami nada keramahan di antara mereka.
Seusai makan, ia mengajakku naik becak. Kendaraan itu membawa kami melewati lampu-lampu toko, suara radio, aroma arang, dan kerumunan manusia yang seperti tidak pernah benar-benar ingin pulang. Di sebuah bazar murah kami turun. Di sana buku-buku bajakan ditumpuk di atas meja panjang: sastra, sejarah, ekonomi, politik, sampai buku pengobatan.
Aku membeli terlalu banyak buku. Ia memandang tumpukan di tanganku dengan mata membesar.
“Ternyata kamu suka membaca. Padahal kamu hanya tamat SMA,” katanya.
“Ibu yang mendidik saya agar gemar membaca. Beliau selalu menanamkan keyakinan bahwa kemiskinan tidak boleh membuat kami miskin pengetahuan.”
“Ibumu seorang guru?”
“Tidak. Beliau pernah bersekolah di Sekolah Guru, tetapi tidak pernah mengajar di ruang kelas. Rumah tangga kami yang dijadikannya madrasah. Di sanalah kami belajar tentang cinta, kehidupan, dan dunia.”
“Lalu, mengapa kamu tidak kuliah?” tanyanya.
“Papa mendidik saya sebagai laki-laki. Menurutnya, sebelum mengejar gelar sarjana, saya harus terlebih dahulu memahami berapa nilai satu rupiah.”
“Maksudnya?”
“Satu rupiah bukan sekadar angka. Di dalamnya ada waktu, tenaga, kepercayaan, dan tanggung jawab. Papa selalu berkata, hidup tidak ditentukan oleh gelar yang tertulis di belakang nama, tetapi oleh kecerdasan menjalaninya. Dan salah satu ujiannya adalah bagaimana kita memperoleh, menghargai, dan menggunakan uang.”
“Jadi papamu lebih percaya kepada sekolah kehidupan?”
“Ya. Bukan berarti beliau meremehkan perguruan tinggi. Beliau hanya tidak ingin gelar membuat saya merasa terpelajar sebelum mampu berdiri di atas kaki sendiri. Katanya, ilmu dapat memberi kita pengetahuan, tetapi uang menguji watak, bagaimana mendapatkannya tanpa kehilangan kehormatan dan bagaimana menggunakannya tanpa diperbudak olehnya.”
Ia kembali memperhatikan buku-buku pilihanku. “Pantas. Tetapi bacaanmu aneh sekali. Adam Smith, cerita silat, Soedjatmoko, buku pemasaran, sampai sejarah Tiongkok. Apa hubungan semuanya?”
“Belum tahu,” jawabku sambil tersenyum. “Mungkin sekarang mereka terlihat seperti orang asing. Namun suatu hari nanti, mereka akan saling berkenalan di dalam kepala saya.”
Ia tertawa kecil. Lesung pipinya kembali muncul. “Kalau mereka bertengkar?”
“Biarkan saja. Barangkali pengetahuan justru lahir ketika gagasan-gagasan yang berbeda berani duduk di meja yang sama.” Kataku. ” Buku satu-satunya sahabat yang tidak pernah keberatan kalau saya datangi saat kesepian.”
Ia berjalan beberapa langkah sebelum bertanya, “Kamu tidak punya pacar?”
“Tidak.”
“Mengapa?”
“Mungkin tidak ada yang mau.”
Ia menoleh cepat, kemudian tertawa lebih keras. “Kok, lanang bicara begitu? Tidak ada laki-laki yang sama sekali tidak menarik. Pasti ada perempuan yang suka.”
“Mungkin perempuan itu belum lahir.”
“Atau sudah lahir, tetapi kamu terlalu sibuk mengasihani diri sendiri sehingga tidak melihatnya.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
Pukul delapan malam ia mengantarku kembali ke hotel. Di depan pintu lobi, aku menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
Ia terkejut. “Uang apa ini?”
“Honor Mbak sebagai pemandu saya.”
“Sebanyak ini?”
“Setidaknya saya tidak merasa berutang kepada perempuan secantik Mbak yang bersedia menemani saya makan.”
Ia memegang uang itu dengan ragu. Pada masa itu tahun 84 sepuluh ribu rupiah bukan jumlah kecil. Mungkin lebih besar daripada honor yang seharusnya ia terima dari kantor perjalanan.
“Saya benar-benar boleh menerima?”
“Terimalah. Waktu Mbak juga berharga, meskipun orang dari biro perjalanan tadi lupa menghargainya.”
Untuk beberapa detik ia hanya memandangku. Senyumnya hilang, digantikan sorot mata yang lebih lembut. “Sampai kapan di Yogya?”
“Minggu depan.”
“Besok mau saya temani lagi?”
Aku berusaha menyembunyikan rasa senang. “Kalau Mbak tidak keberatan.”
“Jam tujuh malam.”
“Temani saya makan lagi, ya.”
Ia mengangguk, kemudian pergi menyusuri trotoar Malioboro. Aku berdiri di depan hotel sampai kepangnya lenyap di antara manusia. Malam itu aku belum tahu namanya akan tinggal lebih lama dalam ingatanku daripada nama calon pembeli yang membuatku datang ke Yogyakarta. Barangkali hidup memang sering bekerja seperti itu. Kita menempuh perjalanan untuk mencari sebuah peluang, lalu pulang membawa kehilangan yang belum terjadi.
Buku, Manusia.
Keesokan malam ia datang tepat pukul tujuh. Demikian pula malam berikutnya, dan malam-malam sesudahnya. Pada siang hari aku mengurus rencana pabrik ban sepeda yang semakin lama semakin tidak jelas. Calon pemiliknya banyak bicara tentang kapasitas produksi, tetapi tidak mampu menunjukkan modal, lokasi, atau calon pembeli. Aku mulai mengerti bahwa proyek itu lebih dekat kepada angan-angan daripada rencana usaha.
Namun setiap malam, kegagalan bisnis itu seperti dibayar oleh kedatangannya. Namanya tidak perlu kusebutkan di sini. Ada nama yang terlalu lama disimpan dalam kesunyian sehingga mengucapkannya kembali terasa seperti membuka pintu kamar yang telah dikunci puluhan tahun.
Ia sarjana PTN. Usianya beberapa tahun di atasku dan bekerja serabutan sebagai guru pengganti, penerjemah, serta pemandu wisata. Ia membaca lebih luas daripada kebanyakan orang yang pernah kutemui. Kami dapat memulai percakapan dari harga karet, beralih kepada kolonialisme, lalu berakhir pada puisi Chairil Anwar.
Ia tidak memperlakukanku sebagai anak kampung yang hanya tamat sekolah menengah. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Bagi orang yang sepanjang hidup sering diremehkan, didengarkan adalah bentuk penghormatan yang hampir menyerupai cinta.
Suatu sore kami duduk di bawah pohon di kawasan Gembira Loka. Di depan kandang, seekor orang utan bersandar pada batu, memandang pengunjung dengan wajah bosan. Aku tidak tahu apakah ia sedang mengamati kami atau justru mengasihani manusia yang membayar tiket untuk melihat makhluk lain kehilangan kebebasannya.
Perempuan itu membuka percakapan. “Kalau kamu diminta memilih, ekonomi harus diatur negara atau diserahkan kepada pasar?”
“Pertanyaannya salah.”
“Mengapa?”
“Seolah-olah negara dan pasar dua makhluk yang hidup terpisah. Pasar memerlukan hukum, mata uang, kontrak, dan rasa aman yang disediakan negara. Negara memerlukan pasar untuk mengetahui kebutuhan, harga, dan apakah sumber daya dipakai secara efisien.”
Ia tersenyum. “Kamu sudah seperti dosen.”
“Dosen yang tidak pernah kuliah.”
“Justru itu yang aneh dari kamu.”
“Soemitro Djojohadikusumo juga tidak memilih salah satunya secara mutlak,” lanjutku. “Ia ingin negara memberi arah kepada pembangunan, tetapi swasta dan pasar tetap bekerja. Indonesia baru merdeka tidak punya cukup modal, teknologi, pengusaha, dan tenaga ahli. Kalau semuanya diserahkan kepada pasar, struktur kolonial akan bertahan. Kita tetap menjual bahan mentah dan membeli barang jadi.”
“Maka negara harus mendorong industrialisasi.”
“Ya. Investasi menciptakan produksi, produksi menciptakan pekerjaan dan pendapatan, lalu pendapatan memperluas pasar. Tetapi pertanian, industri, pendidikan, infrastruktur, dan pembiayaan harus tumbuh saling menopang. Itulah pembangunan yang seimbang.”
Ia mencabut sehelai rumput. “Tetapi manusia dalam kerangka itu berada di mana?”
“Sebagai tenaga kerja dan penerima hasil pembangunan.”
“Nah, itu masalahnya.”
Aku menatapnya.
“Soemitro hebat membaca modal, investasi, produksi, dan pasar,” katanya. “Tetapi manusia tidak hanya tenaga kerja. Petani bukan angka yang dapat dipindahkan dari sawah ke pabrik. Ia membawa adat, keluarga, agama, rasa takut, harga diri, dan ingatan tentang tanahnya.”
“Soemitro tidak sepenuhnya mengabaikan manusia. Ia juga membahas pendidikan, tenaga kerja, kemiskinan, kependudukan, dan pemerataan.”
“Saya tahu. Tetapi manusia masih terutama dibaca sebagai sumber daya yang harus dibuat produktif. Bukan sebagai jiwa yang harus memahami dan memilih perubahan.”
Orang utan di depan kami menggaruk kepalanya. Aku tersenyum membayangkan ia sedang mengikuti perdebatan.
“Karena itu kamu lebih menyukai Soedjatmoko?” tanyaku.
Wajahnya langsung hidup. Ia bercerita dengan luapan kekaguman. Menurutnya, Soedjatmoko adalah seorang humanis yang pikirannya melompat jauh melampaui zamannya. Pembangunan, dalam pandangan Soedjatmoko, bukan hanya perubahan struktur produksi, melainkan proses belajar sosial. Manusia harus menjadi subjek sekaligus tujuan pembangunan. Pendidikan bukan pabrik pencetak tenaga kerja, melainkan jalan membebaskan manusia dari rasa tidak berdaya, ketergantungan, dan ketakutan menggunakan pikirannya sendiri.
Kutipannya berhamburan seperti rangkaian gerbong kereta—menderu, sambung-menyambung, nyaris tidak memberiku kesempatan menyela. “Jadi pembangunan bukan membuat manusia bekerja untuk mesin pertumbuhan,” katanya. “Mesin pertumbuhanlah yang harus bekerja untuk memanusiakan manusia.”
“Kalau hanya bicara manusia dan kebudayaan tanpa produksi, kita tetap miskin.”
“Benar. Tetapi produksi tanpa kemanusiaan hanya membuat kemiskinan lebih rapi secara statistik.”
Aku tertawa. “Kamu berbahaya.”
“Mengapa?”
“Kamu bisa membuat ekonom kehilangan keyakinan kepada grafiknya.”
“Grafik perlu. Tetapi grafik tidak pernah menangis.”
Kalimat itu membuatku diam.
Pada malam lain kami duduk di sebuah warung kopi kecil. Hujan baru reda dan bau tanah basah masuk bersama angin. “Pernah membaca Free to Choose karya Milton dan Rose Friedman?” tanyaku.
Matanya membesar. “Wah, hebat kamu. Bacaannya berat. Saya tahu buku itu, tetapi belum pernah membacanya. Coba jelaskan apa yang kamu pahami.”
“Friedman percaya kebebasan memilih dan persaingan lebih mampu mengatur kehidupan ekonomi daripada birokrasi. Kekuasaan yang terkumpul di tangan negara mudah berubah menjadi paksaan. Pasar menyebarkan kekuasaan karena orang bebas memilih barang, pekerjaan, dan cara memakai pendapatannya.”
“Kamu setuju?”
“Sebagian. Harga adalah bahasa yang sangat efisien. Ia memberi tahu kelangkaan tanpa menteri harus mengetuk setiap pintu. Tetapi kebebasan memilih hanya bermakna kalau manusia sungguh mempunyai pilihan. Orang lapar tidak memilih pekerjaan dengan bebas. Ia menerima apa saja agar bisa makan.”
“Berarti pasar dapat bebas, sementara manusianya tidak.”
“Ya.”
Aku mengaduk kopi. “Albert Hirschman mengkritik cara berpikir ekonomi yang terlalu sederhana dalam esainya Against Parsimony. Ekonomi sering menggambarkan manusia sebagai individu terpisah yang rasional dan hanya mengejar kepentingan diri. Padahal manusia juga digerakkan cinta, kewajiban, loyalitas, moralitas, dan semangat kewargaan.”
“Apa bahayanya kalau semuanya diserahkan kepada kepentingan diri?”
“Kapitalisme bergantung pada kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kontrak. Tetapi apabila sistem terus meyakinkan orang bahwa mengejar kepentingan diri sudah cukup, ia dapat menggerogoti moralitas yang justru menopang pasar itu sendiri.”
Ia mencondongkan tubuh. “Jadi pasar hidup dari modal moral yang tidak dapat diproduksi oleh pasar?”
“Kurang lebih begitu.”
“Itu sejalan dengan Adam Smith.”
Aku mengangguk. “Orang mengenal Smith hanya melalui The Wealth of Nations dan kalimat tentang kepentingan diri. Mereka lupa bahwa sebelumnya ia menulis The Theory of Moral Sentiments. Kehidupan bersama tidak dibangun hanya oleh laba. Smith berbicara tentang simpati, perikemanusiaan, keadilan, kemurahan hati, dan kemampuan manusia menilai dirinya melalui mata orang lain.”
“Jadi bapak kapitalisme sendiri tidak pernah membayangkan manusia sebagai mesin pencari untung.”
“Benar. Kepentingan diri dapat menggerakkan pertukaran, tetapi keadilan menjaga agar masyarakat tidak runtuh. Pasar membutuhkan manusia yang bebas, tetapi kebebasan tanpa pengendalian moral hanya mengubah kerakusan menjadi hak.”
Ia menatapku lama. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang berubah. Sebelum aku sempat bertanya, ia mendekat dan mencium bibirku. Singkat sekali. Terjadi begitu saja. Aku membeku. Ia menarik wajahnya lalu memandang ke luar warung, seakan ciuman tadi hanyalah tanda baca yang tidak sengaja ditempatkan di akhir kalimat.
“Kenapa?” tanyaku gugup.
“Tidak kenapa-kenapa.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aneh sekali nasibku. Perempuan yang kukenal sering lebih dahulu menciumku. Mungkin pengetahuan punya magnit tersendiri bagi wanita dewasa yang terpelajar.
Hari-hari kami di Yogyakarta dipenuhi perjalanan dan percakapan. Kami membahas Keynes di sebuah bangku dekat keraton. “Keynes tidak percaya masa depan dapat dihitung sepenuhnya,” kataku. “Investasi bukan sekadar hasil kalkulasi matematika. Pengusaha mengambil keputusan dalam ketidakpastian. Ada rasa percaya, keberanian, ketakutan, dan animal spirits.”
“Maka ketika semua orang takut, pasar tidak selalu mampu menyembuhkan dirinya sendiri.”
“Ya. Orang menahan uang, perusahaan menunda investasi, pekerja kehilangan penghasilan, permintaan jatuh, dan ketakutan membenarkan dirinya sendiri. Negara perlu hadir memutus lingkaran itu.”
“Tetapi negara juga dapat salah.”
“Tentu. Keynes bukan alasan agar pemerintah membelanjakan uang tanpa disiplin. Sumber daya tetap terbatas. Utang harus menciptakan kemampuan membayar kembali. Kebijakan publik harus menahan krisis dan memperluas kapasitas manusia, bukan membeli tepuk tangan.”
“Jadi Adam Smith mengajarkan pentingnya kebebasan dan moralitas. Keynes mengajarkan ketidakpastian dan peran negara. Soemitro mengajarkan perubahan struktur produksi. Soedjatmoko mengingatkan bahwa tujuan akhirnya adalah manusia.”
“Esensi semuanya sama,” jawabku. “Ekonomi adalah disiplin mengelola sumber daya yang terbatas agar manusia dapat hidup lebih bermartabat.”
Ia tersenyum. “Bukan sekadar membuat PDB naik?”
“PDB dapat naik ketika hutan habis ditebang, orang sakit membayar rumah sakit, dan kota macet membakar lebih banyak bensin. Angka pertumbuhan tidak otomatis menjelaskan apakah manusia menjadi lebih merdeka.”
“Kamu benar-benar tidak pernah kuliah?”
“Tidak.”
“Lalu dari mana semua ini?”
“Dari rasa takut menjadi bodoh selamanya.”
Ia menggenggam tanganku. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa kekuranganku tidak sedang diadili.
dan Cinta yang Tidak Dimiliki
Malam terakhir tiba terlalu cepat. Aku telah membujuknya pulang setelah makan malam, tetapi ia memilih naik ke kamarku. Tidak ada rayuan besar. Ia hanya melepas sepatunya, berbaring di sampingku, lalu menarik selimut sampai ke dada.
Kami masih muda. Tubuh kami mendengar detak yang sama dan untuk sesaat seperti berlari menuju puncak sebuah bukit. Namun ketika aku mendekapnya, ia meletakkan telapak tangan di dadaku. Bukan menolak, hanya mengingatkan bahwa cinta juga mempunyai batas yang harus dihormati.
“Aku mencintaimu,” bisikku.
Ia diam cukup lama. Kemudian menggeleng sambil tersenyum tipis. “Madame Mao tidak mencintai Mao. Ia hanya mencintai Tiongkok, bukan?”
Kalimat itu ganjil, tetapi aku memahami maksudnya. Ia sedang mendirikan Tembok Besar di antara perasaanku dan hidupnya. Aku tidak merobohkannya. Aku hanya mendekapnya sampai pagi. Tidak terjadi apa-apa selain dua manusia yang saling menghangatkan kesepian. Aroma rambut dan tubuhnya melekat dalam ingatanku lebih lama daripada sentuhan mana pun.
Keesokan petang ia mengantarku ke Stasiun Tugu. Mendung menggantung rendah. Peluit kereta sesekali terdengar dari kejauhan.
Di peron, ia memelukku erat. Tatapan matanya menggetarkan ulu hati. Matanya nanar, nyaris berair. “Aku telah jatuh cinta,” bisikku.
“Kamu terlalu muda untuk jatuh cinta kepadaku.”
“Cinta tidak pernah bertanya umur.”
“Tetapi hidup bertanya.”
Ia menyentuh pipiku. “Masa depanmu masih panjang. Kamu salah satu pria paling hebat yang pernah saya kenal. Bukan karena apa yang kamu miliki, tetapi karena kamu memperlakukan saya dengan sempurna sebagai perempuan. Kamu membayar waktu saya saat orang lain menganggapnya tidak berharga. Kamu mendengar pikiran saya dan tidak pernah merasa terancam olehnya.”
“Ikut aku.”
Ia menggeleng. “Ada pertemuan yang menjadi indah justru karena tidak dipaksa menjadi milik.”
Kereta bergerak perlahan. Dari jendela, kulihat ia berdiri di peron sambil memeluk map cokelatnya. Aku terus menatap sampai tubuhnya mengecil, lalu hilang ditelan tikungan.
Sejarah kami dimulai dan berakhir pada tempat yang sama: sebuah kota yang mengajariku bahwa dicintai tidak selalu berarti memiliki. Selepas Yogyakarta aku kembali mengejar impian masa muda. Rencana pabrik ban sepeda gagal, sehingga tidak ada alasan bisnis untuk kembali. Ia tidak pernah mengirim surat. Aku pun tidak tahu alamat yang pasti untuk mencarinya.
Bulan berganti tahun. Tahun menjadi puluhan. Hidup membawaku melintasi pabrik, pelabuhan, ruang rapat, krisis, dan pusat-pusat keuangan dunia. Namun tidak sepotong kabar pun datang darinya. Perempuan itu lenyap dengan sempurna. Hanya gagasannya yang tetap tinggal, grafik tidak pernah menangis.
Pasar yang Tidak Mengenal Tanah Air
Singapura, 2019
Tiga puluh tiga tahun setelah pertemuan kami di Yogyakarta, aku menghadiri sebuah seminar internasional tentang masa depan sistem keuangan Asia. Ruang pertemuan hotel itu dipenuhi bankir, pengelola dana, pejabat bank sentral, akademisi, dan konsultan. Mereka berasal dari berbagai negara, tetapi berbicara dalam bahasa yang sama: imbal hasil, likuiditas, risiko, arus modal, dan kredibilitas.
Aku memilih duduk di barisan belakang. Pada layar besar, seorang pembicara menjelaskan perjalanan pasar keuangan Indonesia: dari perekonomian yang sangat bergantung pada kredit perbankan menuju sistem pembiayaan yang semakin bertumpu pada surat berharga.
Penerbitan Surat Utang Negara dan berbagai instrumen SBN telah mempertemukan kebutuhan fiskal pemerintah dengan dana investor. Di sisi moneter, Bank Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan SBI. Sejak 2016, BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi suku bunga kebijakan, sementara repo dan instrumen lainnya digunakan untuk memperkuat transmisi moneter.
Pasar tidak lagi sekadar tempat perusahaan menjual barang. Ia telah menjelma menjadi kekuasaan yang setiap hari memberi harga kepada negara.
Ketika anggaran defisit, pemerintah menerbitkan surat utang. Ketika surat itu diperdagangkan, harganya bergerak mengikuti inflasi, nilai tukar, kondisi fiskal, kebijakan bank sentral, dan ketakutan investor. Nasionalisme dapat diteriakkan dalam pidato, tetapi kupon tetap harus dibayar sesuai kontrak.
“Pasar memaksa negara menjadi disiplin,” kata pembicara itu menutup pemaparannya.
Aku tersenyum. Kalimat itu benar, tetapi tidak lengkap. Pasar dapat menghukum kebijakan yang buruk. Namun pasar tidak selalu mampu membedakan negara yang sedang menanam investasi bagi generasi mendatang dari negara yang hanya mengejar tepuk tangan hari ini. Pasar memiliki ingatan pendek karena portofolio dapat dipindahkan hanya dengan beberapa sentuhan jari.
Pada sesi tanya jawab, seorang perempuan berdiri beberapa baris di depanku. Rambutnya telah memutih sebagian dan dipotong sebahu. Ia mengenakan blazer berwarna gelap. Dari belakang, wajahnya belum terlihat jelas.
“Anda mengatakan pasar menciptakan disiplin,” katanya dalam bahasa Inggris yang tenang. “Namun disiplin untuk siapa? Apakah negara harus selalu tunduk kepada horizon investor yang dapat pergi besok pagi? Bagaimana dengan pendidikan, kesehatan, dan transformasi sosial yang hasilnya baru terlihat setelah satu generasi?”
Ruangan mendadak hening.
Pembicara menjawab bahwa pasar akan tetap menyediakan pembiayaan selama kebijakan pemerintah kredibel.
Aku mengangkat tangan.
“Negara kesejahteraan bukanlah musuh pasar,” kataku setelah mikrofon diberikan. “Dalam tradisi Keynes dan kemudian Beveridge, jaminan sosial, kesehatan, serta pendidikan justru menjaga kemampuan manusia untuk berpartisipasi dalam ekonomi. Welfare state dapat memperkuat permintaan, mobilitas sosial, dan stabilitas politik—semuanya diperlukan agar pasar bertahan.”
Aku berhenti sejenak, menatap layar di depan.
“Namun ada syaratnya. Pertumbuhan pendapatan dan produktivitas harus cukup kuat untuk membiayai kewajiban sosial itu. Jika kesejahteraan dipisahkan dari kemampuan produksi dan hanya dijadikan alat membeli dukungan politik, ia berubah dari investasi sosial menjadi populisme fiskal.”
Perempuan itu menoleh kepadaku. “Masalahnya,” katanya, “di negara berkembang batas antara kesejahteraan yang menciptakan pertumbuhan inklusif dan populisme yang menghabiskan masa depan sering kali sangat tipis.”
Mata kami bertemu.
Aku mengenali mata bulat itu sebelum mengenali wajahnya. Waktu telah meninggalkan garis-garis halus di sekelilingnya, tetapi tidak mengubah cara matanya menyala ketika menemukan gagasan yang ingin diperdebatkan. Aku tersenyum. Ia terdiam sesaat, kemudian membalas senyumku.
Seusai seminar, aku menunggunya di dekat pintu keluar. Ia berjalan sambil mendekap map berisi bahan seminar. Ketika melihatku, langkahnya terhenti. Kami saling memandang seperti dua orang yang tiba-tiba menemukan bagian hidup yang selama ini dianggap telah hilang.
“Kamu,” katanya lirih.
“Ya.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada tangis. Usia mengajarkan bahwa perasaan yang paling dalam sering tidak mempunyai gerakan yang sesuai.
“Teman saya tadi berbisik,” katanya. “Katanya panitia mendapatkan sponsor berkat rekomendasi kamu. Hanya dengan satu surel, sebuah perusahaan multinasional bersedia membiayai seminar ini.”
Ia menatapku sambil tersenyum.
“Ternyata penjual karet sintetis itu sekarang sudah menjadi orang berpengaruh.”
“Saya tetap penjual,” jawabku. “Hanya barang yang saya jual sudah berbeda.”
Kami duduk di kafe hotel. Di balik dinding kaca, Singapura berdiri sebagai kota yang hampir seluruh keberadaannya dibangun dari disiplin: pelabuhan, hukum, pendidikan, keuangan, dan kepercayaan. Negara itu tidak memiliki banyak sumber daya alam, tetapi mampu membuat dunia menitipkan uang kepadanya.
“Kamu sekarang mengerjakan apa?” tanyaku.
“Masih membaca buku. Mengajar, meneliti, menulis buku dan mengganggu orang-orang yang terlalu percaya kepada model ekonomi.”
“Berarti tidak banyak berubah.”
“Kamu?”
“Masih menjual sesuatu. Kadang risiko, kadang kepercayaan.”
Ia tertawa kecil. Lesung pipinya masih ada.
“Kepercayaan ternyata dapat diperdagangkan?”
“Seluruh sistem keuangan berdiri di atasnya. SBN pada dasarnya adalah janji negara bahwa penerimaan masa depan cukup untuk membayar bunga dan pokok utang. Uang adalah kepercayaan yang diberi angka.”
“Dan ketika kepercayaan itu hilang?”
“Imbal hasil naik, kurs tertekan, dan modal keluar. Negara mendadak sadar bahwa kedaulatan politik tidak selalu berarti kebebasan finansial.”
Ia memandang gedung-gedung di luar jendela. “Dulu kita berbicara tentang Soemitro. Ia khawatir Indonesia merdeka secara politik, tetapi struktur ekonominya masih kolonial. Kini perusahaan Belanda tidak lagi menguasai perdagangan seperti dahulu. Namun apakah kita sudah benar-benar bebas?”
“Belum tentu. Kolonialisme lama datang bersama kapal dan tentara. Kekuasaan pasar datang melalui harga. Ia tidak perlu menduduki ibu kota; cukup membuat biaya modal terlalu mahal.”
Ia menoleh cepat. “Kamu terdengar seperti orang yang membenci pasar.”
“Tidak. Pasar diperlukan. Surat utang menciptakan transparansi harga dan memaksa pemerintah menjelaskan risiko kebijakannya. Tanpa pasar, disiplin dapat digantikan oleh hubungan gelap antara penguasa, bank, dan pemilik modal. Namun pasar juga tidak mempunyai tanah air. Ia hanya mencari perpaduan terbaik antara keuntungan, likuiditas, dan risiko.”
“Kalau begitu, romantisme nasionalisme tidak cukup.”
“Tidak pernah cukup. Kita boleh berteriak tentang kedaulatan. Namun jika defisit bergantung pada pembeli obligasi, teknologi bergantung pada impor, industri bergantung pada mesin asing, dan nilai tukar bergantung pada arus modal jangka pendek, pidato tidak mengubah struktur ketergantungan.”
Ia mengaduk tehnya perlahan. “Tetapi menyerahkan semuanya kepada pasar juga berarti menyerahkan kedaulatan.”
“Benar. Negara harus menggunakan pasar, bukan hidup untuk menyenangkan pasar. Utang seharusnya mengubah sumber daya menjadi pengetahuan dan produktivitas. Jika digunakan untuk pendidikan, riset, infrastruktur produktif, dan industri yang memperluas basis pajak, pasar menjadi jembatan. Jika digunakan untuk membiayai konsumsi politik, pasar berubah menjadi jerat.”
“Keynes akan mengatakan negara harus bertindak ketika permintaan swasta melemah.”
“Ya. Namun gagasan Keynes bukan cek kosong bagi pemerintah. Defisit pada masa sulit memerlukan ruang fiskal yang dibangun melalui kehati-hatian pada masa baik. Kalau setiap masa dianggap darurat, utang tidak lagi menjadi alat stabilisasi. Ia menjadi kebiasaan.”
“Dan Friedman?” tanyanya.
“Ia akan mengingatkan bahwa kegagalan bukan hanya milik pasar. Pemerintah juga digerakkan oleh kepentingan dan birokrasi tidak selalu bekerja demi kebajikan. Karena itu kekuasaan harus dibatasi, aturan harus jelas, dan pilihan individu harus dihormati.”
“Adam Smith?”
“Ia akan bertanya apakah pasar masih ditopang oleh keadilan dan simpati, atau sudah berubah menjadi mesin yang menganggap keserakahan sebagai satu-satunya kebajikan. Orang sering hanya mengingat The Wealth of Nations dan melupakan The Theory of Moral Sentiments.”
“Hirschman?”
“Ia akan mengingatkan bahwa kapitalisme dapat menghabiskan cadangan moralnya sendiri. Sistem keuangan hidup dari kepercayaan, tetapi insentif jangka pendek dapat mendorong manusia mengkhianati kepercayaan yang menopangnya.”
“Soemitro?”
“Ia mungkin melihat kedalaman pasar keuangan sebagai sumber modal pembangunan. Namun ia juga akan bertanya: apakah dana itu masuk ke sektor produksi, melahirkan industri dan tenaga ahli, atau hanya berputar dari satu aset ke aset lain? Bagi Soemitro, modal seharusnya mengubah struktur ekonomi, bukan sekadar menaikkan harga surat berharga.”
“Dan Soedjatmoko?”
Aku menatapnya. “Kamu yang menjawab.”
Ia tersenyum, seperti malam di Malioboro ketika kutipan-kutipan dari buku berhamburan dari bibirnya. “Soedjatmoko akan bertanya apa yang terjadi pada manusia ketika segala sesuatu diberi harga. Apakah pendidikan masih membebaskan pikiran, atau hanya mencetak pekerja sesuai kebutuhan modal? Apakah desa diberi kemampuan menentukan masa depannya, atau hanya dijadikan lokasi proyek? Apakah teknologi memperluas kebebasan, atau justru membuat manusia semakin tidak berdaya?”
“Grafik tidak pernah menangis,” kataku.
Tangannya berhenti mengaduk teh. “Kamu masih mengingatnya?”
“Ada kalimat yang hidup lebih lama daripada orang yang mengucapkannya.” Kataku dengan menerawang “Namun kini kita semakin sadar bahwa grafik pun dapat dikorupsi. Bukan hanya uang yang dicuri, melainkan juga data, cara menghitung, dan makna di balik angka.”
Ia meletakkan sendok perlahan. “Angka tidak berbohong,” katanya, “tetapi manusia dapat memilih angka mana yang ingin diperlihatkan dan mana yang sengaja disembunyikan.”
Aku mengangguk. “Pertumbuhan diumumkan, tetapi ketimpangan disamarkan. Investasi dibanggakan, tetapi kerusakan lingkungan tidak dihitung. Utang disebut pembiayaan, sementara beban generasi berikutnya diletakkan di luar grafik. Pengangguran tampak menurun karena definisinya diubah, bukan karena pekerjaan yang layak benar-benar bertambahm begitu juga dengan angka kemiskinan.”
“Lalu untuk apa ilmu ekonomi?” tanyanya.
“Keynes, Rostow, Adam Smith, Friedman, Soemitro, Soedjamoko, mungkin akan mengutuk cara kita memperlakukan ekonomi seolah-olah ia hanya permainan angka. Bukan karena teori mereka selalu benar, melainkan karena setiap teori menjadi destruktif ketika berada di tangan manusia yang miskin etika.”
Aku menatapnya. “Ekonomi menggunakan matematika, tetapi ia bukan ilmu tentang angka. Ia adalah ilmu tentang manusia. Karena itu, ketika moralitas disingkirkan, grafik tidak lagi menjadi alat untuk membaca kenyataan. Ia berubah menjadi tirai untuk menyembunyikan penderitaan.”
Ia terdiam.
“Grafik memang tidak pernah menangis,” lanjutku. “Namun di balik setiap angka yang dimanipulasi, selalu ada manusia yang menanggung akibatnya—kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, bahkan kehilangan harapan. Mereka itulah air mata yang tidak pernah terlihat di layar.”
Ia menunduk. Untuk sesaat kami kembali menjadi dua manusia muda di Yogyakarta: seorang pemandu lepas yang waktunya jarang dihargai dan seorang penjual karet yang mengira dirinya tidak pantas dicintai.
“Jadi,” katanya kemudian, “apa yang sesungguhnya terjadi ketika sistem keuangan semakin berbasis pasar?”
“Harga uang menjadi semakin terbuka, tetapi negara juga semakin cepat merasakan perubahan psikologi investor. Arus masuk dapat memperkuat rupiah dan menambah likuiditas. Namun modal berjangka pendek dapat keluar secepat ia datang. Pasar memberi oksigen, tetapi negara yang terlalu bergantung kepadanya akan panik setiap kali investor menutup tabung.”
“Lalu apa yang membuat sebuah negara benar-benar berdaulat?”
“Kemampuan menghasilkan pengetahuan, pangan, energi, teknologi, dan penerimaan pajak yang cukup. Juga masyarakat yang saling percaya serta institusi yang tidak mudah dibeli. Cadangan devisa penting, tetapi modal sosial adalah cadangan yang tidak tercatat dalam neraca bank sentral.”
Ia menatapku lama.
“Kamu akhirnya sampai kepada manusia.”
“Perjalanan di pasar justru membuatku memahami manusia. Harga obligasi bergerak karena takut dan berharap. Bank memberi kredit karena percaya. Perusahaan berinvestasi karena yakin masih ada hari esok. Rakyat membayar pajak karena percaya negara tidak mencuri masa depan mereka.”
Pelayan datang membawa tagihan. Tanganku lebih dahulu meraihnya. Ia tersenyum. “Kali ini kamu hendak membayar saya sepuluh ribu rupiah lagi?”
“Tidak. Nilai waktu Mbak sekarang sudah terlalu mahal.”
“Dulu kamu membayar saya karena tidak ingin berutang kepada seorang perempuan.”
“Ternyata utang itu tidak pernah lunas.” Kataku.
“Utang apa?”
“Mbak membuat seorang anak muda percaya bahwa wajah bukan satu-satunya alasan manusia layak dicintai.”
Lesung pipinya muncul. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis. “Saya tidak pernah menganggap kamu buruk rupa,” katanya. “Hidungmu mancung. Kulitmu memang hitam dan tubuhmu kurus tapi tidak kerempeng, kekar. Perutmu bahkan six-pack. Tubuh kamu terlihat sangat terawat.” Ia tersenyum kecil. “Hanya wanita bodoh yang tidak tertarik kepadamu.”
Aku terdiam. Pujian itu datang tiga puluh tiga tahun terlambat, tetapi tetap membuat dadaku bergetar. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya kuajukan pertanyaan yang selama ini tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku.
“Mengapa Mbak menolak cintaku?”
Ia menunduk, memandangi cangkir di hadapannya seolah jawaban itu mengendap di dasar kopi. “Ketika itu saya sedang menunggu kepastian beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Saya datang ke hotel karena membutuhkan tambahan uang sebelum berangkat.” Ia berhenti sejenak. “Lalu kamu muncul—terlalu muda, terlalu jujur, dan membuat saya membayangkan kehidupan lain.”
“Mengapa Mbak tidak pernah mengatakannya?”
“Karena kalau saya mengatakannya, kamu pasti akan meminta saya memilih.”
Ia menarik napas panjang. Tatapannya beralih ke jendela. “Saat itu saya masih muda. Saya mempunyai cita-cita untuk belajar di Amerika atau Eropa. Sementara dalam dirimu, saya melihat seorang anak muda yang sedang berjuang menggapai masa depan melalui kerja keras dan ketidakpastian. Kalau saya meminta kamu tinggal, mungkin kamu akan mengorbankan masa depanmu. Kalau kamu meminta saya tinggal, mungkin saya akan menyalahkanmu sepanjang hidup.”
Ia kembali menatapku. “Cinta yang dewasa tidak selalu menuntut untuk memiliki. Kadang-kadang ia justru memberi ruang agar dua orang dapat mengikuti jalan hidupnya masing-masing—menuju hari ini dan hari esok, meskipun jalan itu membuat mereka saling menjauh.”
Aku tidak tahu apakah penolakannya dahulu merupakan pengorbanan, ketakutan, atau sekadar cara paling indah untuk membenarkan perpisahan. Namun setelah menunggu lebih dari tiga dasawarsa, aku tidak lagi membutuhkan jawaban yang sempurna. Barangkali waktu memang tidak selalu membawa kita kembali untuk mengulang sesuatu yang pernah gagal. Kadang-kadang ia hanya mempertemukan kita sekali lagi agar luka lama memperoleh nama—dan hati akhirnya mengerti bahwa tidak semua cinta yang kehilangan kebersamaan berarti telah kehilangan makna.
“Apakah Mbak bahagia?” tanyaku.
Ia memandang ke luar jendela. “Hidup bukan laporan laba rugi. Tidak setiap tahun harus mencatat keuntungan agar sebuah perjalanan layak dijalani.”
Jawaban itu cukup.
Kami meninggalkan kafe dan berjalan menuju lobi. Di depan pintu, ia berhenti.
“Besok saya pulang,” katanya.
“Mau menemani saya makan malam sekali lagi?”
Ia tertawa. “Kamu masih tidak bisa makan sendirian?”
“Duduk sendirian itu mudah. Menikmati sesuatu sendirian jauh lebih sulit.”
Ia mengangguk. “Besok, pukul tujuh.”
Kemudian ia berjalan pergi.
Aku berdiri memandang punggungnya, seperti dahulu di depan Natour Garuda. Bedanya, kali ini aku tidak lagi merasa ditinggalkan. Usia telah mengajarkanku bahwa manusia tidak harus memiliki segala sesuatu yang dicintainya. Ada orang yang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengubah cara kita memandang diri sendiri dan kehidupan.
Pasar mengajarkan harga. Negara mengajarkan aturan. Buku mengajarkan gagasan. Namun hanya perjumpaan dengan manusia lain yang mengajarkan nilai. Pada akhirnya, ekonomi selalu kembali kepada persoalan yang paling sederhana sekaligus paling manusiawi: bagaimana mengelola sumber daya yang terbatas agar kehidupan yang singkat tetap menyediakan tempat bagi martabat, kebebasan, dan cinta.

Tinggalkan komentar