Tuhan, ampuni aku dan lindungi putriku..

Orang-Orang tersisih

Jakarta, 1982

“Mas, aku numpang tidur di tempatmu malam ini, ya?”

Setiap kali Atik mengucapkan kalimat itu, aku tahu dua hal sedang terjadi dalam hidupnya: malam itu tidak ada lelaki yang memesan waktunya, dan ia tidak berani pulang ke kamar kontrakan karena pemilik rumah sedang menunggu uang sewa.

Atik bertubuh mungil. Wajahnya sebenarnya cantik, terutama ketika ia tersenyum. Namun kemiskinan seperti kabut yang perlahan menutupi cahaya di wajahnya. Rambutnya selalu diikat seadanya. Pakaiannya sederhana dan aroma bedak murah bercampur keringat sering melekat di tubuhnya setelah berjalan jauh menyusuri malam.

Kami bersahabat bukan karena mempunyai banyak kesamaan, melainkan karena merasa senasib. Kami sama-sama datang ke Jakarta membawa harapan, lalu terdampar di tempat yang keliru. Barangkali bukan kotanya yang salah. Kami saja yang belum menemukan pintu masuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Aku bekerja sebagai kuli di gudang sebuah perusahaan ekspedisi. Setiap hari aku mengangkat karung, peti, dan kardus dari truk ke dalam gudang, lalu memindahkannya kembali ketika barang harus dikirim. Upahnya kecil, tetapi cukup untuk makan seadanya.

Aku beruntung karena pemilik gudang berhati baik. Ia mengizinkanku mendirikan sebuah kamar kecil di halaman belakang gudang sehingga aku tidak perlu memikirkan biaya tempat tinggal. Sebenarnya, itu bukan kamar yang pantas disebut tempat tinggal. Salah satu dindingnya menempel pada tembok pagar gudang, sementara pintunya menghadap ke pintu belakang bangunan utama. Tembok pagar itu hanya setinggi satu setengah meter sehingga mudah dilompati orang. Mungkin itulah alasan sebenarnya pemilik gudang mengizinkanku tinggal di sana. Selain memberiku tempat berteduh, ia sekaligus mendapatkan seseorang yang menjaga gudang pada malam hari.

Aku tidak keberatan. Di Jakarta, pertolongan jarang datang tanpa kepentingan. Selama kepentingan itu tidak merendahkan, aku menganggapnya sebagai pertukaran yang wajar.

Isi kamar itu sangat sederhana. Hanya ada tempat tidur kayu yang dibuat tinggi, hampir delapan puluh sentimeter dari lantai. Di bawahnya terdapat ruang kosong yang cukup luas. Pada salah satu dinding terpasang lemari kecil berisi pakaian, buku, dan catatan pelajaran. Buku-buku itulah benda paling berharga yang kumiliki.

Setelah bekerja seharian, aku biasanya membersihkan diri, makan, lalu duduk menghadap meja kecil. Di bawah cahaya lampu yang redup, aku mempelajari pembukuan: jurnal, buku besar, neraca saldo, hingga laporan laba-rugi. Aku sedang mempersiapkan diri untuk memperoleh sertifikat Penata Buku.

Dengan ijazah SLTA dan tubuh yang setiap hari dipakai mengangkat barang, sertifikat itu adalah satu-satunya tangga yang dapat kulihat. Aku tidak tahu seberapa tinggi tangga itu akan membawaku. Namun aku percaya, nasib tidak akan berubah hanya dengan doa. Nasib memerlukan jalan, dan jalan membutuhkan pengetahuan.

Karena itu, aku hampir selalu belajar sampai menjelang dini hari. Pada jam-jam itulah biasanya terdengar suara langkah kaki di luar tembok. Pelan. Tergesa-gesa. Kadang diselingi tawa yang ditahan. Aku sudah hafal suara mereka. Aku segera mengambil sebilah kayu panjang, lalu menyandarkannya ke tembok agar Atik dan teman-temannya lebih mudah memanjat. Satu demi satu kepala mereka muncul di atas pagar. Setelah memastikan halaman gudang sepi, mereka melompat turun.

“Pelan-pelan,” bisikku. “Kalau penjaga depan mendengar, habis kita.”

Atik biasanya turun lebih dahulu. Setelah itu menyusul perempuan-perempuan lain yang kukenal hanya dari nama panggilan. Ada Minah, Yanti, Iis, dan kadang seorang perempuan yang dipanggil Cempluk. Nama mereka mungkin bukan nama sebenarnya. Di jalanan, nama asli terlalu berharga untuk diberikan kepada sembarang orang.

Mereka masuk ke kamarku, lalu berbaring di bawah tempat tidur. Tempat tidur yang tinggi itu akhirnya menjadi seperti atap bagi mereka. Kadang jumlahnya dua orang, kadang tiga, dan pernah sampai lima orang. Tubuh mereka berdesakan di ruangan sempit, beralaskan tikar tipis dan beberapa lembar kardus bekas pembungkus barang. Aku tetap duduk di depan meja dan melanjutkan pelajaran.

Atik pernah bertanya, “Mas, apa tidak terganggu kalau kami tidur di sini?”

Aku menggeleng. “Suara kalian tidak lebih berisik daripada suara truk.”

Mereka tertawa kecil.

Namun sebagaimana kebiasaan banyak perempuan sebelum tidur, mereka tidak pernah benar-benar langsung terlelap. Mereka berbicara dengan suara berbisik, takut mengganggu konsentrasiku. Kadang mereka membicarakan lelaki yang datang dengan pakaian bagus tetapi menawar harga mereka seolah membeli barang rongsokan. Kadang mereka membicarakan anak yang dititipkan di kampung, ibu yang sakit, atau utang kontrakan yang terus bertambah.

Cerita mereka sering kali menyedihkan. Anehnya, beberapa saat kemudian mereka akan tertawa bersama. Mereka mentertawakan kemalangan dengan kepolosan yang sulit kupahami. Mungkin tertawa adalah satu-satunya cara agar penderitaan tidak terasa terlalu berkuasa. Orang miskin tidak selalu memiliki uang untuk membeli hiburan, tetapi mereka masih memiliki kemampuan menertawakan nasib sendiri.

Suatu malam, Minah bercerita bahwa mereka baru saja digaruk petugas. “Lalu bagaimana kalian bisa keluar?” tanyaku tanpa menoleh dari buku.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian terdengar tawa kecil. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa orang yang terlalu malu untuk menangis.

“Diselesaikan secara kekeluargaan,” jawab Minah.

Aku berhenti menulis.

Aku tahu apa arti kalimat itu. Mereka dibebaskan setelah beberapa petugas memaksa mereka melayani nafsu secara bergantian. Orang-orang yang seharusnya menegakkan ketertiban justru mengambil keuntungan dari ketidakberdayaan mereka.

“Sudahlah,” kata Atik pelan. “Yang penting kami tidak dibawa ke kantor.”

Lalu mereka kembali tertawa.

Aku memandang deretan angka dalam buku. Di sana, setiap transaksi mempunyai pasangan. Uang masuk dicatat sebagai debit atau kredit. Tidak ada angka yang boleh hilang. Semuanya harus seimbang agar pembukuan dianggap benar. Namun kehidupan tidak bekerja seperti akuntansi. Ada orang yang mengambil tanpa pernah mencatat utang moralnya. Ada perempuan yang kehilangan harga diri tanpa mendapatkan keadilan. Ada petugas yang menyalahgunakan kekuasaan, lalu pulang ke rumah seolah tidak pernah melakukan apa-apa. Neraca kehidupan mereka tetap tampak seimbang karena penderitaan orang miskin tidak pernah dimasukkan ke dalam pembukuan negara.

“Mas,” panggil Atik dari bawah tempat tidur.

“Ya?”

“Kalau nanti sudah menjadi penata buku, Mas masih mau kenal dengan kami?”

Aku terdiam sejenak.

“Mengapa tidak?”

“Orang yang sudah berhasil biasanya malu punya teman seperti kami.”

Aku menutup buku, lalu menunduk melihat mereka. Lima perempuan terbaring berhimpitan di bawah tempat tidurku. Wajah-wajah mereka terlihat letih. Bedak telah luntur, rambut berantakan, dan kaki mereka kotor oleh debu jalanan.

“Aku belum menjadi siapa-siapa, Tik.”

“Tapi nanti pasti jadi orang.”

Aku tersenyum tipis. “Kalau suatu hari aku malu mengakui kalian sebagai teman, berarti aku bukan menjadi orang. Aku hanya berubah menjadi orang lain.”

Atik menatapku beberapa saat, kemudian membalikkan tubuh. Tak lama kemudian napas mereka terdengar teratur.

Aku kembali membuka buku.

Menjelang subuh, satu demi satu mereka bangun. Mereka merapikan pakaian, membersihkan wajah, lalu keluar sebelum gudang dibuka. Dengan bantuan kayu yang sama, mereka memanjat tembok dan menghilang ke jalanan yang masih gelap. Tidak pernah kutanyakan ke mana mereka pergi.

Mungkin kembali ke sudut jalan tempat mereka menunggu lelaki. Mungkin mencari warung untuk berutang sarapan. Mungkin berjalan tanpa tujuan sambil menunggu malam berikutnya datang.

Setelah mereka pergi, aku menyimpan kembali kayu itu, menyapu lantai, lalu bersiap mengangkat barang di gudang. Nanti malam aku akan belajar lagi. Dan jika menjelang dini hari terdengar langkah kaki di balik tembok, aku akan kembali menyandarkan kayu ke pagar.

Pada tahun 1982 itu, aku belum dapat menolong mereka keluar dari kemiskinan. Aku bahkan belum mampu menolong diriku sendiri. Satu-satunya yang dapat kuberikan hanyalah ruang kosong di bawah tempat tidur—tempat mereka bersembunyi sejenak dari kerasnya dunia.

Namun dari perempuan-perempuan itulah aku mulai memahami satu hal, kemiskinan bukan sekadar keadaan ketika seseorang tidak mempunyai uang. Kemiskinan adalah keadaan ketika manusia kehilangan pilihan, lalu tubuh, kehormatan, dan masa depannya dapat dirampas oleh siapa saja yang mempunyai sedikit kekuasaan.

Malam-malam itu aku belajar pembukuan dari buku. Tetapi dari Atik dan teman-temannya, aku belajar menghitung harga yang harus dibayar manusia ketika negara membiarkan kemiskinan tumbuh tanpa keadilan.

Luka di Balik Tembok

Suatu malam, ketika aku sedang menyalin angka-angka dari buku jurnal ke buku besar, terdengar teriakan dari balik pagar. “Mas, bantu kami!” Aku terkejut. Pensil terlepas dari tangan. Suara itu berbeda dari biasanya. Tidak ada tawa yang ditahan atau bisikan agar penjaga gudang tidak mendengar. Yang terdengar hanya kepanikan.

Aku segera berlari keluar kamar, menyandarkan kayu ke tembok, lalu memanjat pagar. Di gang sempit sebelah gudang, kulihat Atik dipapah oleh dua orang temannya. Tubuhnya lemas. Kepalanya tertunduk, rambutnya berantakan menutupi wajah. Darah mengalir dari keningnya.

“Kopral bangsat itu menggebuki Atik,” kata Minah dengan napas tersengal. Aku tahu siapa yang mereka maksud dengan Kopral. Orang-orang di daerah itu memanggilnya demikian, entah karena pangkatnya memang kopral atau karena ia senang dipanggil dengan sebutan yang menunjukkan kekuasaan. Hampir setiap malam ia berkeliling bersama beberapa anak buahnya, mengawasi jalanan seolah-olah wilayah itu merupakan kerajaan kecil miliknya.

Ia tidak memungut uang secara langsung dari para perempuan. Ia memerintah para preman yang menjadi jago di setiap sudut jalan. Para preman itulah yang menarik setoran dari Atik dan teman-temannya, kemudian membagikan sebagian kepada Kopral agar bisnis malam tetap berjalan tanpa gangguan.

Kekuasaan mengalir dari atas ke bawah. Uang mengalir dari bawah ke atas. Di bagian paling bawah selalu ada perempuan-perempuan seperti Atik—orang-orang yang tubuhnya dijual, penghasilannya diperas, tetapi keberadaannya tetap dianggap sebagai penyakit masyarakat. “Ironis,” pikirku. Lelaki mendapatkan kuasa, sementara perempuan menanggung semua biayanya.

“Bantu angkat dia,” kataku.

Kami memapah Atik menuju tembok. Dengan susah payah, kami menaikkannya melewati pagar. Aku lebih dahulu melompat ke halaman gudang, kemudian menerima tubuhnya dari atas. Ketika lenganku menyentuh punggungnya, Atik mengerang.

“Mengapa sampai begini?” tanyaku. “Apa yang terjadi?” Atik tidak menjawab. Bibirnya bergetar, seolah setiap tarikan napas menimbulkan rasa sakit.

“Kami juga tidak tahu,” jawab Minah. “Tiba-tiba Kopral menyeret Atik ke tengah jalan. Dia menendang dan memukulnya dengan sepatu bot.”

“Tidak ada yang menolong?”

Minah tertawa hambar. “Siapa yang berani, Mas?”

Kalimat itu membuatku terdiam. Di tempat seperti itu, keberanian bukan hanya soal kemauan. Keberanian juga mempunyai harga. Orang miskin sering kali mengetahui ketidakadilan di depan matanya, tetapi tidak memiliki kemewahan untuk melawannya. Kami membawa Atik masuk ke kamar. Kurebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku. Keningnya robek. Kedua tangannya lebam, sementara pada lengannya terlihat bekas injakan sepatu.

Aku mengambil kain bersih dan air hangat. Karena tidak memiliki obat, kutaburkan sedikit bubuk kopi pada bagian luka yang menganga—cara darurat yang saat itu sering dilakukan orang-orang miskin ketika tidak mampu pergi ke dokter. Aku tidak tahu apakah cara itu benar. Aku hanya ingin darahnya berhenti mengalir. Atik menggigit bibir ketika lukanya dibersihkan. Teman-temannya mengusap tubuh dan wajahnya dengan kain yang telah dibasahi air hangat. Tidak ada seorang pun yang banyak bicara. Di ruang sekecil itu, rasa takut terasa lebih sesak daripada tubuh-tubuh kami.

Beberapa saat kemudian, Atik tertidur. Malam itu, ia tidur di atas tempat tidurku. Kami duduk di lantai, bersandar pada dinding. Sebagian memeluk lutut, sebagian lagi jongkok sambil memijat kaki yang pegal. Tidak ada yang benar-benar dapat tidur. Setiap suara dari luar membuat kami saling memandang. Barangkali kami takut Kopral datang menyusul. Barangkali kami takut pemilik gudang mengetahui ada banyak orang di dalam kamarku. Atau mungkin kami hanya takut pada kehidupan yang tidak menyediakan tempat aman bagi orang-orang seperti kami.

“Sulit sekali hidup seperti kami,” kata Minah akhirnya. Suaranya nyaris seperti bisikan. “Setiap hari kami diperas preman. Setelah itu Kopral meminta bagian. Penghasilan kami tidak seberapa. Mengapa mereka tega? Apa salah kami? Apa mereka tidak punya rasa kasihan?”

Aku tidak segera menjawab. Aku memandang Atik yang terbaring dengan wajah pucat. Dalam tidur pun dahinya berkerut menahan nyeri.

“Bukankah lebih baik kalian berhenti bekerja seperti ini?” kataku. “Pulang saja ke kampung. Di sini sudah tidak aman.”

“Pulang?”

Mereka saling berpandangan. Seolah kata itu bukan menawarkan jalan keluar, melainkan membuka kembali luka lama. “Kami mau mengerjakan apa di kampung?” jawab Yanti. “Hidup di sana lebih sulit, Mas.”

“Keluarga kami cuma buruh tani,” sambung Minah. “Sawah sendiri tidak punya. Kalau musim tanam selesai, tidak ada pekerjaan. Apalagi kami janda. Pulang juga hanya menambah beban keluarga.”

“Orang kampung akan bertanya dari mana kami pulang dan apa pekerjaan kami di Jakarta,” kata yang lain. “Belum tentu mereka mau menerima.”

Minah menggeleng pelan. “Jangan bicara tentang kampung, Mas. Bagi orang lain, kampung mungkin tempat pulang. Bagi kami, kampung adalah tempat yang pernah memaksa kami pergi.”

Aku menundukkan kepala. Selama ini aku mengira pulang selalu merupakan pilihan. Malam itu aku baru memahami bahwa tidak semua orang memiliki rumah yang bersedia menerimanya kembali.

“Tapi sampai kapan kalian akan terus seperti ini?” tanyaku. “Apa yang kalian dapat setelah sekian lama bekerja?”

Minah tersenyum getir. “Kami masih hidup sampai hari ini.”

“Itu saja?”

“Mau apa lagi?”

Ia menyandarkan kepala pada dinding. “Aku tidak pernah memikirkan sampai kapan. Kalau terlalu banyak berpikir, mungkin aku sudah gila. Jalani saja satu hari, lalu besok kalau masih bangun, jalani lagi.”

Jawabannya terdengar sederhana. Namun justru karena kesederhanaan itulah aku merasa sedih. Kami sama-sama miskin, tetapi masih ada perbedaan di antara kami. Aku mempunyai buku dan sebuah rencana. Aku percaya sertifikat Penata Buku dapat mengubah hidupku. Mereka bahkan tidak mempunyai kemewahan untuk merencanakan hari esok. Aku hidup dalam kesulitan, tetapi masih memiliki harapan. Mereka hidup hanya agar tetap hidup.

Menjelang fajar, suara azan terdengar dari surau di ujung jalan. Suaranya melayang di antara atap rumah, gudang, warung, dan gang-gang sempit yang belum terbangun dari malam. Aku mengambil air, lalu berwudu. Setelah itu kubentangkan alas tipis di sudut kamar dan menunaikan salat Subuh. Ketika selesai berdoa, kulihat Atik telah membuka mata. Ia menatapku dari atas tempat tidur.

“Mas,” panggilnya lirih.

“Ya, Tik. Bagaimana keadaanmu?”

“Tidak apa-apa. Cuma masih perih.”

Ia mencoba tersenyum. “Terima kasih, ya, Mas.”

Atik perlahan berusaha duduk. Ketika ia hendak berdiri, tubuhnya limbung. Aku segera menahan bahunya. “Mau ke mana? Kamu belum kuat.”

Ia tidak langsung menjawab. Matanya bergerak ke arah pintu, kemudian kepada teman-temannya yang tertidur di lantai.

“Sebentar lagi orang gudang datang,” katanya. “Kalau ketahuan, nanti Mas dimarahi.”

“Tidak usah dipikirkan.”

“Tapi ini tempat tinggal Mas. Kalau Mas diusir, nanti tidur di mana?”

Aku hendak membantah, tetapi urung. Atik benar. Kebaikan pemilik gudang mempunyai batas. Ia mengizinkanku tinggal di sana untuk menjaga gudang, bukan untuk menampung perempuan-perempuan jalanan. Atik membangunkan teman-temannya. “Ayo, sudah pagi.”

Mereka bangun dengan mata sembap. Setelah merapikan pakaian dan rambut, satu demi satu keluar dari kamar. Aku membantu Atik berjalan hingga ke pagar. Tubuhnya masih lemah, tetapi ia memaksa memanjat. Setelah semua berhasil melewati tembok, aku ikut keluar melalui pintu samping gudang. Mereka tidak langsung pergi. Mereka duduk di sebuah warung kopi tepat di seberang gudang. Warung itu baru saja dibuka. Tungkunya mulai menyala, dan aroma kopi bercampur asap kayu memenuhi udara pagi.

Atik duduk di bangku paling ujung. Wajahnya lebam. Luka pada keningnya tertutup kain tipis. Meskipun demikian, ia meminta sebuah sisir dari temannya, lalu perlahan merapikan rambut. Aku berdiri di depan gudang dan memandang mereka dari seberang jalan. Beberapa menit kemudian, sebuah truk ekspedisi datang. Sopirnya membunyikan klakson. Pekerja gudang mulai berdatangan, dan pintu besar di belakangku segera dibuka. Hari kerjaku dimulai.

Sementara di seberang jalan, malam mereka rupanya belum benar-benar selesai. Sebelum masuk ke gudang, Atik sempat menoleh ke arahku. Ia tersenyum dan melambaikan tangan, seakan luka di wajahnya hanyalah kejadian kecil yang akan segera berlalu.

Aku membalas lambaian itu. Saat itu aku mulai mengerti bahwa kekerasan tidak selalu terjadi karena pelakunya sedang marah. Kadang kekerasan dilakukan hanya untuk mengingatkan siapa yang berkuasa dan siapa yang tidak berhak melawan. Atik dipukul bukan karena ia melakukan kesalahan besar. Ia dipukul agar semua perempuan di jalan itu tetap takut.

Pada tahun 1982, hukum terasa jauh dari gang sempit tempat kami hidup. Yang dekat hanyalah Kopral, preman, dan uang setoran. Negara memang ada, tetapi hadir bukan sebagai pelindung. Ia datang dalam bentuk sepatu bot yang menendang tubuh perempuan miskin. Aku mengepalkan tangan. Aku belum mempunyai keberanian untuk melawan Kopral. Bahkan untuk melindungi Atik pun aku tidak mampu. Aku hanya dapat membersihkan lukanya, memberinya tempat tidur, lalu melihatnya kembali ke jalan.

Kemiskinan ternyata bukan hanya membuat manusia kelaparan. Kemiskinan juga membuat seseorang dipukuli tanpa dapat mengadu, diperas tanpa dapat menolak, dan dipaksa menerima penghinaan sebagai harga untuk tetap hidup.

Doa Nabi Yunus

Seminggu kemudian, Atik sudah terlihat lebih baik. Luka di keningnya mulai mengering dan lebam pada tangannya perlahan memudar. Ia kembali bekerja, seakan-akan pemukulan malam itu hanyalah salah satu peristiwa buruk yang harus dilupakan agar hidup dapat diteruskan. Selepas pukul tujuh malam, ia kembali berdiri di depan sebuah losmen murah. Dengan pakaian yang sama dan senyum yang sudah dilatih, ia menawarkan dirinya kepada lelaki-lelaki yang datang dan pergi.

Aku selalu melewati tempat itu sepulang makan dari warung. Biasanya Atik akan melambaikan tangan atau menggodaku. “Mas, jangan belajar terus. Nanti cepat tua.”

Aku hanya tersenyum, lalu melanjutkan langkah menuju gudang. Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda. Wajah Atik terlihat sangat pucat. Gincu tebal pada bibirnya dan bedak yang menutupi pipinya tidak mampu menyembunyikan kelelahan. Ia masih berusaha tersenyum, tetapi sorot matanya tampak kosong. “Kamu sakit, Tik?” tanyaku.

“Tidak. Aku sehat, kok.”

“Wajahmu pucat.”

“Namanya juga belum dapat tamu. Kalau sudah dapat uang, nanti merah lagi.”

Ia mencoba tertawa. Aku ikut tersenyum, meskipun kekhawatiranku tidak hilang. “Kalau sakit, jangan dipaksakan.”

“Aku tidak apa-apa, Mas.”

Aku baru hendak melangkah pergi ketika tubuhnya mendadak terhuyung. Keringat membasahi wajah dan lehernya. Aku segera meraih bahunya sebelum ia jatuh ke jalan. “Atik!”

Tubuhnya terasa panas. Sangat panas. Ia tidak menjawab. Kepalanya terkulai di lenganku. Teman-temannya berdatangan. Mereka memanggil namanya, menepuk pipinya, dan mencoba memberinya minum. Namun Atik tetap tidak sadarkan diri.

“Kita harus membawanya ke rumah sakit,” kataku.

Mereka saling berpandangan. “Pakai apa?”

“Bajai.”

“Uangnya?”

Aku mengeluarkan seluruh uang yang ada di saku. Uang itu seharusnya kupakai untuk makan beberapa hari dan membayar biaya ujian Penata Buku. Namun saat itu tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan. “Urusan uang nanti. Bantu aku mengangkatnya.”

Kami menghentikan sebuah bajai. Aku duduk sambil menopang tubuh Atik, sementara Minah duduk berdesakan di sampingku. Sepanjang perjalanan, suara mesin bajai meraung memecah malam. Kepala Atik bersandar di dadaku. Napasnya pendek dan tubuhnya beberapa kali menggigil. Aku terus memanggil namanya, tetapi ia tidak pernah membuka mata.

Sesampainya di rumah sakit umum, kami membawa Atik ke ruang gawat darurat. Akan tetapi, petugas tidak segera menanganinya. Kami diminta mengisi formulir lebih dahulu.

“Siapa keluarganya?” tanya petugas.

Aku dan Minah saling memandang. Tidak ada seorang pun di antara kami yang mengetahui alamat keluarga Atik. Kami hanya tahu ia berasal dari sebuah desa di Jawa, dari keluarga buruh tani yang tidak mempunyai tanah sendiri.

“Siapa yang bertanggung jawab?” petugas itu kembali bertanya.

“Saya,” jawabku.

“Hubungannya?”

Aku terdiam beberapa detik. “Keluarga.” Kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

Aku menyerahkan KTP dan mengisi formulir. Sebagian data mengenai Atik kutulis berdasarkan apa yang kuketahui. Selebihnya kutulis seadanya. Tidak semuanya benar, tetapi malam itu kebenaran administratif terasa kurang penting dibandingkan nyawa seorang manusia.

Setelah menunggu cukup lama, Atik akhirnya diperiksa. Dokter memanggilku ke sebuah ruangan. Wajahnya tampak serius.

“Pasien menderita sifilis berat,” katanya. “Orang biasa menyebutnya penyakit raja singa. Dari kondisinya, penyakit ini sudah lama diderita dan pengobatannya tidak pernah selesai.”

Aku terkejut. Selama ini Atik tidak pernah bercerita tentang penyakitnya. Mungkin ia sendiri tidak memahami keadaannya. Atau mungkin ia sudah tahu, tetapi memilih diam karena tidak mempunyai uang untuk berobat.

“Apakah dia bisa sembuh, Dok?”

“Kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk sementara, pasien harus dirawat inap.”

Aku keluar dari ruangan dokter dan menyampaikan kabar itu kepada teman-temannya. Seketika mereka terdiam.

“Berapa biayanya?” tanya Minah.

Aku tidak mampu menjawab. Kami semua hidup dari hari ke hari. Tidak seorang pun memiliki tabungan. Uang yang terkumpul malam itu bahkan tidak cukup untuk membayar beberapa hari perawatan. Petugas rumah sakit kemudian menyerahkan selembar formulir kepadaku. “Kalau tidak mampu membayar, isi formulir bantuan sosial ini,” katanya.

Aku segera mengisinya.

“Setelah itu, Anda harus membawa surat keterangan dari RT, RW, lurah, camat, sampai pemerintah kota. Untuk sementara pasien dapat dirawat di sini. Tetapi paling lambat lusa, semua surat pendukung harus sudah diserahkan. Jelas?”

Aku hanya mengangguk. Padahal aku tidak tahu harus mulai dari mana. Atik tidak tinggal di alamat yang tetap. Aku pun hanya menumpang di gudang. Bagaimana aku meminta surat dari RT dan RW? Kepada lurah mana aku harus datang? Siapa yang bersedia mengakui seorang pelacur jalanan sebagai warga yang layak memperoleh bantuan? Namun setidaknya malam itu Atik berada di rumah sakit, di bawah pengawasan dokter. Aku menghibur diri dengan pikiran itu. Kami meninggalkannya menjelang pagi.

Hari pertama berlalu. Aku mencoba mencari tahu cara mengurus surat-surat tersebut, tetapi setiap orang memberikan jawaban berbeda. Ada yang memintaku membawa kartu keluarga Atik. Ada yang meminta surat pengantar dari daerah asal. Ada pula yang mengatakan urusan semacam itu tidak mungkin selesai dalam dua hari.

Hari kedua, aku tidak datang ke rumah sakit. Hari ketiga pun demikian. Semakin lama aku menunda, semakin besar rasa takutku untuk kembali. Aku khawatir petugas menagih surat-surat yang telah kujanjikan. Aku takut diminta membayar biaya yang tidak mungkin kupenuhi. Teman-teman Atik juga tidak berani menjenguk. Mereka takut diperiksa, ditangkap, atau ditanyai tentang pekerjaan mereka.

Seminggu berlalu. Kemudian sebulan. Perlahan-lahan, nama Atik semakin jarang disebut. Teman-temannya kembali berdiri di depan losmen setiap malam. Mereka harus melanjutkan hidup. Di jalanan, orang yang terlalu lama mengingat kesedihan akan kehilangan tenaga untuk mencari makan. Namun aku tidak dapat melupakan Atik. Setiap kali terdengar langkah kaki di balik pagar, aku berharap suaranya memanggil dari luar.

“Mas, aku numpang tidur, ya?”

Tetapi suara itu tidak pernah terdengar. Pikiranku terus dipenuhi pertanyaan. Apakah ia sudah sembuh? Jika sudah, mengapa ia tidak kembali? Apakah ia pulang ke kampung? Atau dipindahkan ke panti sosial? Ada pertanyaan lain yang paling kutakuti, tetapi tidak berani kusebutkan dalam hati. Akhirnya aku tidak tahan lagi. Pada suatu siang, setelah meminta izin tidak bekerja beberapa jam, aku pergi ke rumah sakit. Aku membawa beberapa buah jeruk dan sebungkus roti yang kubeli dengan sisa uang di saku.

Ketika tiba di ruang tempat Atik dahulu dirawat, ranjangnya sudah ditempati pasien lain. “Pasien bernama Atik sudah dipindahkan,” kata seorang petugas.

“Ke mana?”

“Ruang perawatan belakang. Bangsal F.”

Aku bergegas menyusuri lorong rumah sakit. Semakin jauh aku berjalan, keadaan bangunan semakin muram. Cat pada dinding terlihat kusam. Udara terasa pengap dan bau obat bercampur dengan aroma tubuh manusia yang lama terbaring. Di Bangsal F terdapat lebih dari dua puluh pasien. Ranjang-ranjang besi berjajar rapat, hanya dipisahkan meja kecil. Sebagian pasien ditemani keluarga. Sebagian lainnya terbaring sendirian. Di sudut ruangan dekat jendela, kulihat sebuah nama tertulis pada papan kecil. Atik. Nomor 19.

Aku menghampiri ranjang itu. Atik sedang tidur. Tubuhnya jauh lebih kurus daripada terakhir kali kulihat. Pipinya cekung, bibirnya pucat, dan tulang pada lehernya terlihat menonjol. Selimut tipis menutupi tubuh yang hampir tidak lagi berbentuk.

“Atik,” panggilku pelan.

Matanya perlahan terbuka. Ia memandangku cukup lama, seakan berusaha memastikan bahwa aku bukan bagian dari mimpi atau demam yang datang dan pergi.

“Tik, ini aku.”

Aku menggenggam tangannya. Begitu ringan dan lembut. Seolah-olah yang kusentuh bukan lagi tangan, melainkan kulit tipis yang membungkus tulang.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Mas…”

Suaranya tertahan. Bibirnya bergetar, lalu air mata mengalir di kedua pipinya. “Setiap jam aku menunggu,” katanya terbata-bata. “Setiap hari… setiap minggu… aku selalu berharap Mas datang menjengukku.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku kangen, Mas.”

“Maafkan aku, Tik.”

Hanya itu yang mampu kuucapkan. Tidak ada alasan yang cukup baik untuk membenarkan ketidakhadiranku. Ketakutanku kepada petugas dan tagihan rumah sakit terasa sangat kecil dibandingkan kesepiannya selama sebulan.

Aku mengusap keningnya. Atik tersenyum. Ketika hendak meletakkan bungkusan roti di meja, aku melihat sesuatu seperti butiran nasi di tepi ranjang. Aku mengambilnya dengan ujung jari.

Benda itu bergerak. Aku tersentak. Itu bukan nasi, melainkan belatung. Aku melihat beberapa ekor lainnya merayap dari bawah tubuh Atik. Dengan hati-hati kuselipkan tangan ke bawah punggungnya. Telapak tanganku menyentuh cairan hangat dan lengket. Atik meringis kesakitan. Ketika kutarik kembali tangan, beberapa belatung menempel pada jariku.

Aku berlari keluar mencari perawat. “Suster! Tolong keluarga saya!” Tanpa sadar, aku kembali menyebut Atik sebagai keluarga. Seorang perawat menoleh dengan wajah bingung. “Pasien yang mana?”

“Nomor sembilan belas, Bangsal F.”

Ia membuka buku catatan di atas meja. “Anda keluarganya?”

“Ya.”

“Mengapa baru sekarang datang?”

Aku menunduk. “Saya… tidak bisa datang. Tapi tolong lihat keadaannya.”

Perawat itu mengikuti langkahku menuju ranjang Atik. “Lihat, Suster. Di punggungnya banyak belatung. Mengapa dibiarkan seperti ini?”

Suaraku meninggi. Beberapa orang di bangsal menoleh. Perawat membalikkan tubuh Atik. Di punggungnya terdapat luka lebar yang lembap. Belatung memenuhi sebagian luka itu. Perawat segera mengambil peralatan, membersihkannya dengan cairan, lalu mengganti alas ranjang. Atik meringis menahan sakit. Namun tidak ada teriakan. Bahkan di tengah rasa perih itu, ia masih sempat menoleh dan tersenyum kepadaku, seolah justru hendak menenangkan diriku.

“Dia lumpuh,” kata perawat setelah selesai membersihkan lukanya. “Tubuhnya tidak dapat digerakkan sendiri. Karena terlalu lama dalam posisi yang sama, kulit punggungnya mengalami luka tekan. Lukanya lembap dan tidak terawat dengan baik.”

“Mengapa bisa lumpuh?”

“Sebaiknya Anda ikut saya menemui dokter. Kami sudah lama menunggu keluarganya datang.”

Dokter mempersilakanku duduk. “Anda keluarga pasien?”

Aku ragu sebelum menjawab. “Bukan, Dok. Saya temannya.”

“Di mana keluarganya?”

“Saya tidak tahu.”

Dokter mengembuskan napas panjang, kemudian membuka berkas di atas meja. “Penyakitnya sudah sangat berat. Infeksinya telah menyerang sistem saraf dan merusak fungsi pada bagian tulang belakang. Itu yang menyebabkan kedua kakinya tidak dapat digerakkan.”

“Apakah dia masih bisa disembuhkan?”

“Pengobatan dapat dilakukan. Infeksinya mungkin dapat dikendalikan, tetapi pemulihan fungsi tubuhnya belum tentu sempurna. Perawatannya panjang dan biayanya besar.”

Aku terdiam.

“Sementara tidak ada keluarga yang menjamin,” lanjut dokter. “Rumah sakit hanya dapat memberikan penanganan terbatas. Besok atau lusa, kemungkinan pasien akan dipindahkan ke panti sosial. Itu kebijakan rumah sakit untuk pasien yang tidak mempunyai penanggung jawab.”

Aku keluar dari ruangan dokter dengan langkah berat. Kata-kata seperti biaya, jaminan, kebijakan, dan penanggung jawab berputar-putar di kepalaku. Semua kata itu terdengar masuk akal dalam administrasi. Namun di atas ranjang nomor sembilan belas, seorang manusia sedang membusuk perlahan karena tidak mempunyai keluarga dan uang.

Aku kembali menghampiri Atik. Ia tersenyum melihatku, seolah-olah kehadiranku sudah cukup untuk membuat hari itu terasa lebih baik. Aku duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangannya. “Berdoalah, Tik,” kataku. “Mintalah kepada Tuhan. Hanya itu yang dapat kita lakukan sekarang.”

Air mataku jatuh. Aku merasa gagal melindungi sahabatku. Aku pernah berjanji tidak akan malu mengakui mereka ketika hidupku berubah. Namun sebelum hidupku berubah pun, aku telah membiarkan Atik sendirian selama sebulan. Entah sejak kapan perempuan itu menjadi bagian dari diriku. Mungkin sejak malam pertama ia tidur di bawah ranjangku. Mungkin sejak ia bertanya apakah aku masih akan mengenalnya setelah berhasil. Atau mungkin manusia memang tidak memerlukan hubungan darah untuk merasa kehilangan.

Atik memandang langit-langit. “Apakah Tuhan masih mau mendengar doa pelacur seperti aku?”

Aku mempererat genggaman tanganku. “Tentu.”

“Tapi dosaku banyak, Mas.”

“Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Siapa pun berhak datang kepada-Nya. Tidak ada manusia yang terlalu kotor untuk memohon ampun.”

Atik menoleh kepadaku.

“Bertobatlah, Tik. Mintalah ampun kepada Allah.”

Ia mengangguk pelan. Air mata kembali mengalir di pipinya. Kuusap air mata itu, tetapi Atik justru tersenyum. “Aku sudah bertobat, Mas.”

“Kapan?”

“Aku tidak ingat. Mungkin ketika aku tidak sadar selama tiga hari.”

Ia menarik napas perlahan. “Dalam tidur itu, aku bermimpi berada di tempat yang sangat indah. Ada seorang kiai menggandeng tanganku dan menuntunku membaca doa. Aku melihat Mas juga ada di sana. Mas tersenyum kepadaku. Aku merasa bahagia sekali.”

Aku terdiam mendengarkan.

“Ketika terbangun, dokter bilang aku tidak sadar selama tiga hari. Padahal rasanya aku hanya tidur seperti biasa.”

Wajahnya terlihat damai.

“Sejak saat itu aku berusaha salat. Tubuhku memang tidak dapat bergerak, jadi aku melakukannya dengan isyarat mata dan dalam hati. Untung sejak kecil orangtuaku mengajariku agama. Aku masih ingat bacaan salat. Aku juga terus berzikir.”

“Apa yang kamu baca?”

Atik tersenyum.

“Aku tidak meminta apa-apa kepada Tuhan. Aku hanya mengikuti doa yang diajarkan kiai dalam mimpi itu.”

“Doa apa?”

Dengan suara lemah, ia melafalkannya perlahan. “Lā ilāha illā anta, subḥānaka, innī kuntu minazh-zhālimīn.”

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

“Itu saja yang kuulang setiap hari,” katanya. “Setiap kali jantungku berdetak, aku membacanya. Lama-lama rasa sakit itu seperti menjauh.”

Ia berhenti sejenak untuk menarik napas. “Aku justru bersyukur dengan penyakit ini, Mas. Kalau aku tidak sakit, mungkin aku masih berdiri di depan losmen. Mungkin aku tidak pernah ingat kepada Allah. Penyakit ini membuatku berhenti dan melihat semua yang pernah kulakukan.”

“Jangan terlalu menyalahkan dirimu, Tik.”

“Tapi dosaku tidak terhitung.”

“Kamu melakukan banyak hal karena tidak memiliki pilihan.”

Atik menggeleng pelan. “Mungkin benar. Tapi aku tetap ingin meminta ampun. Aku tidak meminta sembuh. Aku hanya ingin tobatku diterima. Kalau aku harus kembali kepada Allah, aku ingin pulang dengan penyesalan.”

Matanya menatapku dalam-dalam. “Mungkinkah Allah masih mau menerimaku?”

“Allah Maha Pengampun, Tik. Kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya. Setiap saat Allah menunggu hamba-Nya kembali. Sebesar apa pun dosa manusia, ampunan Allah jauh lebih besar.”

“Benarkah?”

“Benar.”

“Termasuk untuk perempuan seperti aku?”

“Termasuk untuk kita semua.”

Atik mengangguk. “Ya, Mas.” Ia menutup mata. Bibirnya bergerak perlahan, mengulang doa Nabi Yunus dalam diam. Aku tetap duduk sambil menggenggam tangannya.

Hari itu, di bangsal paling belakang sebuah rumah sakit umum, aku menyaksikan sesuatu yang tidak pernah kutemukan dalam buku pelajaran. Tubuh Atik telah dirusak oleh penyakit, dipukul oleh kekuasaan, dan ditelantarkan oleh kemiskinan. Namun di tengah kehancuran itu, jiwanya justru menemukan jalan pulang. Aku datang dengan maksud menghiburnya. Namun pada akhirnya, Atiklah yang mengajariku tentang harapan. Ia tidak lagi memohon agar penyakitnya diangkat. Ia hanya berharap Allah menerima kepulangannya.

Barangkali itulah bentuk kepasrahan yang paling tinggi: bukan menyerah kepada penderitaan, melainkan percaya bahwa setelah semua pintu manusia tertutup, pintu Tuhan masih terbuka. Dan untuk pertama kalinya aku memahami bahwa seseorang dapat dianggap hina oleh seluruh dunia, tetapi tetap mulia di hadapan Allah.

Sahabatku di Dunia

Keesokan paginya, aku sudah berada di rumah sakit ketika petugas bersiap memindahkan Atik ke panti sosial. Ia dibaringkan di atas tandu, lalu tubuhnya diikat dengan sabuk agar tidak terguncang selama perjalanan. Selimut rumah sakit menutupi tubuhnya hingga ke dada. Wajahnya tampak semakin pucat di bawah cahaya pagi.

Aku berjalan mengikuti tandu sampai ke halaman rumah sakit. Ketika pintu ambulans dibuka, aku meminta izin untuk ikut mendampinginya. “Bapak keluarganya?” tanya petugas.

Aku mengangguk. “Ya.”

Kali ini aku tidak merasa sedang berbohong. Aku duduk di samping Atik selama perjalanan. Suara sirene tidak dinyalakan. Ambulans bergerak seperti kendaraan biasa, terjebak di antara bus kota, bajai, sepeda motor, dan orang-orang yang menyeberang tanpa memedulikan arus jalan. Atik memejamkan mata. Bibirnya terus bergerak perlahan. Aku tahu ia sedang berzikir. Tangannya berada di atas selimut. Aku menggenggamnya setiap kali ambulans melewati jalan berlubang. Sesekali matanya terbuka, memandangku sebentar, lalu terpejam kembali. Wajahnya terlihat tenang. Seolah-olah perjalanan itu bukan menuju panti sosial, melainkan menuju suatu tempat yang sudah lama dikenalnya.

Setibanya di panti, petugas membawa tandunya ke dalam bangunan tua bercat putih. Halamannya cukup luas, ditumbuhi beberapa pohon besar. Di salah satu sudut, terlihat beberapa penghuni duduk diam di bawah sinar matahari. Ada yang berbicara sendiri. Ada pula yang hanya menatap gerbang seperti sedang menunggu seseorang datang menjemput.

Atik ditempatkan di sebuah kamar dengan beberapa ranjang. Kondisinya lebih bersih daripada bangsal belakang rumah sakit. Dua orang perempuan yang bekerja sebagai sukarelawan segera memeriksa tubuhnya, mengganti pakaiannya, dan merapikan tempat tidur.

Sebelum aku pulang, Atik memanggilku. “Mas…”

Aku mendekat. “Ya, Tik?”

“Kalau ada waktu, ingat-ingat aku, ya.”

Aku tersenyum, meskipun dadaku terasa sesak. “Tentu aku akan mengingatmu.”

“Hanya Mas sahabatku di dunia ini.”

“Jangan berkata begitu. Kamu juga punya teman-teman yang lain.”

“Mereka teman seperjalanan,” katanya pelan. “Mas berbeda.”

Aku tidak tahu apa yang membuatku berbeda. Aku hanya pernah menyediakan ruang di bawah tempat tidur, membersihkan lukanya, lalu membawanya ke rumah sakit. Semuanya terasa terlalu kecil untuk disebut sebagai kebaikan.

“Kamu sahabatku juga, Tik. Aku tidak mungkin melupakanmu. Tapi…”

“Tapi apa, Mas?”

“Mulai minggu depan aku harus pindah kerja. Aku tidak lagi bekerja di gudang.”

Mata Atik terlihat lebih cerah. “Mas sudah lulus?”

“Ujian Penata Buku belum selesai. Aku mendapat pekerjaan lain.”

“Di kantor?”

“Aku diterima sebagai Salesman.”

“Salesman?”

Aku mengangguk. “Ya. Belum benar-benar pekerjaan kantor. Aku akan lebih banyak berjalan menawarkan barang. Tapi setidaknya aku tidak lagi menjadi kuli gudang.”

Atik tersenyum lebar. “Alhamdulillah. Terkabul juga cita-cita Mas.”

“Jalannya masih panjang.”

“Tidak apa-apa. Yang penting Mas sudah menemukan pintunya.”

Kalimat itu membuatku terdiam. Atik masih mengingat pembicaraan kami tentang kehidupan yang lebih baik. Bahkan ketika tubuhnya sendiri tidak dapat bergerak, ia tetap bergembira melihatku melangkah.

“Aku akan berusaha menjengukmu di sini.”

“Kalau Mas sibuk, tidak usah datang.”

“Aku tidak akan terlalu sibuk untukmu.”

“Pekerjaan baru harus dijaga, Mas. Jangan sampai kehilangan pekerjaan hanya karena menjengukku.”

Ia menarik napas, kemudian berkata dengan suara semakin pelan.

“Kalau tidak sempat datang, cukup doakan aku.”

Aku menggenggam tangannya. “Baik. Tapi aku akan tetap datang.”

Atik mengangguk. Tatapannya mengatakan bahwa ia ingin mempercayai janjiku, meskipun kehidupan telah berkali-kali mengajarinya agar tidak terlalu berharap kepada manusia.

Pekerjaan baruku ternyata tidak mudah. Setiap pagi aku harus berpakaian rapi, membawa tas berisi contoh produk, kemudian mendatangi toko demi toko. Sebagian pemilik toko menolak sebelum aku selesai berbicara. Ada yang membiarkanku menunggu berjam-jam, lalu mengatakan tidak membutuhkan barang yang kutawarkan. Ada pula yang meremehkanku karena caraku berbicara masih kaku.

Namun aku tidak menyerah. Menjadi salesman mengajarkanku menghadapi penolakan. Sebagai kuli gudang, kekuatanku dinilai dari seberapa berat barang yang mampu kuangkat. Sebagai salesman, aku harus belajar membaca wajah manusia, menjaga kepercayaan, dan meyakinkan orang lain tanpa memaksanya.

Pada malam hari aku tetap belajar. Aku belum melupakan sertifikat Penata Buku. Pekerjaan baru bukan akhir dari cita-cita, melainkan langkah pertama untuk keluar dari kehidupan lama.  Hari-hari berlalu cepat. Tanpa kusadari, tiga bulan telah lewat sejak aku mengantar Atik ke panti. Aku malu mengingat janjiku.

Pada suatu hari libur, aku membeli buah dan beberapa makanan kecil, lalu pergi menemuinya. Atik sedang berbaring dekat jendela. Ketika melihatku masuk, wajahnya seketika berubah cerah. Ia tersenyum seperti seorang anak yang menemukan sesuatu yang telah lama ditunggunya. “Mas datang juga.”

“Maaf baru sekarang.”

“Tidak apa-apa. Aku tahu Mas sibuk.”

Aku duduk di samping tempat tidurnya. Tubuh Atik jauh lebih kurus daripada terakhir kali kulihat. Tulang pipinya menonjol. Lengannya tidak lebih besar daripada pergelangan tanganku. Ketika ia bernapas, dadanya bergerak pendek dan terdengar suara halus dari tenggorokannya. Namun matanya tetap hidup. Ia memperhatikanku dari kepala hingga ujung kaki. Pagi itu aku mengenakan kemeja lengan panjang, celana bahan, dan sepatu yang kubeli dari hasil gaji pertama.

Atik tertawa kecil. “Aku senang melihat Mas sekarang.”

“Mengapa?”

“Sudah rapi. Mukanya juga terlihat bersih. Memang lain kalau sudah menjadi orang kantoran.”

“Aku bukan orang kantoran. Aku salesman jalanan.”

“Setidaknya sekarang Mas membawa tas, bukan memanggul karung.”

Aku ikut tertawa.Aku bercerita tentang pekerjaan baruku—tentang toko-toko yang kudatangi, penolakan yang kuterima, dan kegembiraanku ketika berhasil mendapat pesanan pertama. Atik mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah-olah kisah tentang seorang salesman pemula merupakan cerita paling menarik di dunia.

“Jangan takut ditolak,” katanya. “Orang yang berdiri di depan losmen juga sering ditolak.”

Aku terdiam, kemudian kami tertawa bersama. Bahkan dalam keadaannya seperti itu, Atik masih mampu menertawakan masa lalunya tanpa kepahitan. “Kalau ada yang menolak, datangi yang lain,” lanjutnya. “Dulu aku juga begitu.”

“Nasehatmu benar. Hanya bidang kita yang berbeda.”

“Nasib kita juga sedang berbeda,” katanya sambil tersenyum.

Aku tidak sanggup menanggapi kalimat itu. Atik kemudian menceritakan kehidupannya di panti. Para sukarelawan merawatnya dengan baik. Lukanya dibersihkan secara teratur dan tubuhnya dibalik agar punggungnya tidak kembali melepuh. Mereka mengajarinya mengenali huruf, membaca kalimat sederhana, dan menulis namanya sendiri.

“Lihat, Mas.” Ia meminta sebuah buku tulis dari meja kecil di samping ranjang. Pada salah satu halamannya terdapat tulisan yang tidak rapi: ATIK Beberapa huruf tampak gemetar dan tidak sejajar. Namun Atik memperlihatkannya dengan bangga. “Aku menulisnya sendiri.”

Aku menatap tulisan itu lama sekali. “Bagus sekali.”

“Dulu aku hanya bisa menulis nama dengan meniru. Sekarang aku sudah tahu hurufnya satu-satu.”

Ia membuka halaman lain. Di sana terdapat beberapa kata sederhana: ibu, rumah, Allah, dan ampun. “Aku ingin bisa membaca Al-Qur’an,” katanya. “Tapi kata relawan, aku harus mulai dari huruf-huruf dasar.”

“Kamu pasti bisa.”

Atik tersenyum. Ia tidak mempunyai kaki yang dapat berjalan, tetapi masih ingin belajar membaca. Ia tidak tahu berapa lama lagi hidupnya, tetapi tetap menanam sesuatu untuk masa depan. Di hadapannya, segala keluhanku tentang pekerjaan terasa memalukan. Kami berbicara cukup lama. Sebelum pulang, aku mengusap kepalanya. “Aku akan datang lagi.”

“Tidak usah berjanji, Mas.”

“Mengapa?”

“Kalau berjanji, nanti Mas merasa bersalah kalau tidak sempat datang.”

Ia memandangku dengan tenang. “Datanglah kalau Allah memberi waktu. Kalau tidak, kita masih bisa saling mendoakan.”

Aku mengangguk. Ketika aku berdiri, Atik memanggilku sekali lagi. “Mas.”

“Ya?”

“Terima kasih sudah tidak malu menjadi sahabatku.”

Aku menahan napas. “Seharusnya aku yang berterima kasih, Tik.”

“Atas apa?”

“Atas semuanya.”

Ia tampak tidak mengerti. Aku pun tidak berusaha menjelaskan. Ada utang yang tidak dapat diterangkan dengan kata-kata dan tidak mungkin dibayar dengan uang.

Sebelum meninggalkan panti, aku mampir ke kantor pengelola. Kuserahkan sedikit uang dari hasil pekerjaanku sebagai santunan. Jumlahnya tidak banyak, tetapi hanya itu yang mampu kuberikan.

Petugas menerima uang tersebut, lalu memintaku duduk.

“Anda temannya Atik?” tanyanya.

“Ya.”

“Dia sering bercerita tentang Anda.”

“Apa yang diceritakannya?”

“Katanya, Anda satu-satunya orang yang pernah memberinya tempat berlindung tanpa meminta imbalan.”

Aku menunduk. Kamar sempit di belakang gudang itu kembali terbayang. Ruang di bawah tempat tidur yang dahulu kuanggap tidak berarti ternyata menjadi kenangan tentang perlindungan bagi Atik.

“Bagaimana keadaan kesehatannya?” tanyaku.

Wajah petugas itu berubah serius. “Keadaannya semakin memburuk. Infeksinya sudah menimbulkan banyak komplikasi. Paru-parunya juga mulai terganggu.”

“Apakah masih bisa diobati?”

“Kami terus merawatnya dan berusaha mengurangi rasa sakit. Tetapi secara medis, kondisinya sudah sangat berat.”

Aku terdiam.

“Maksud Ibu?”

Petugas itu menatapku dengan hati-hati. “Barangkali tinggal menunggu waktu.”

Aku menahan air mata. Beberapa menit sebelumnya, Atik masih tertawa mendengar ceritaku tentang pekerjaan. Ia memperlihatkan tulisan namanya dengan bangga dan berkata ingin belajar membaca Al-Qur’an. Tidak sedikit pun ia memperlihatkan ketakutan menghadapi kematian.

“Ketabahannya luar biasa,” kata petugas itu. “Dia hampir tidak pernah mengeluh. Ketika rasa sakit datang, dia hanya berzikir. Kadang justru dia yang menghibur penghuni lain.”

Aku memandang keluar jendela kantor. Dari tempat itu, sebagian bangsal Atik terlihat di balik pepohonan.

“Dia selalu bercerita tentang Anda,” lanjut petugas.

“Apa katanya?”

“Dia bilang, selama hidupnya banyak lelaki datang kepadanya karena menginginkan tubuhnya. Tetapi hanya satu lelaki yang datang untuk mengingatkan bahwa dirinya masih manusia.”

Aku tidak sanggup lagi menahan air mata. Aku berpamitan, lalu berjalan meninggalkan kantor panti. Ketika melewati jendela kamar Atik, kulihat ia masih terbaring sambil memegang buku tulisnya. Matanya tertuju pada tulisan yang baru dipelajarinya. Aku ingin kembali masuk dan memeluknya. Aku ingin mengatakan bahwa ia tidak sendirian. Namun kakiku terus melangkah menuju gerbang, seakan takut jika berbalik, aku tidak akan sanggup meninggalkannya.

Hari itu aku memahami bahwa persahabatan tidak diukur dari berapa lama manusia hidup berdampingan. Persahabatan diukur dari siapa yang tetap memandang kita sebagai manusia ketika seluruh dunia hanya melihat masa lalu, pekerjaan, dan dosa-dosa kita. Atik memang menganggapku satu-satunya sahabatnya di dunia. Namun sesungguhnya, dialah yang menjadi sahabat pertama yang mengajarkanku arti kemanusiaan.

Surat yang Tidak Selesai

Jakarta, 1983. Setahun setelah meninggalkan gudang, kehidupanku mulai berubah. Aku diterima kerja sebagai salesman PMA. Pekerjaanku sebagai salesman membawaku ke banyak kota. Aku belajar menawarkan barang, membuat perhitungan harga, membaca watak pembeli, dan menjaga kepercayaan. Aku masih belum menjadi orang berhasil, tetapi setidaknya kini aku mempunyai penghasilan lebih baik dan mengenakan pakaian yang lebih layak.

Perusahaan bahkan mengirimku dalam sebuah perjalanan bisnis ke luar negeri. Itu pertama kalinya aku menaiki pesawat dan meninggalkan Indonesia. Di sepanjang perjalanan, aku melihat gedung-gedung tinggi, jalan yang teratur, serta toko-toko besar yang menjual barang dalam jumlah yang tidak pernah kubayangkan.

Namun di tengah semua hal baru itu, aku beberapa kali teringat kepada Atik. Aku teringat tubuh kecilnya di atas ranjang panti. Aku teringat buku tulis yang selalu diletakkannya di dekat bantal. Terutama tulisan namanya yang tidak lurus, tetapi dibuat dengan penuh kebanggaan. ATIK.

Sepulang dari perjalanan itu, aku menyisihkan uang yang kudapat. Aku berniat membawa Atik kepada dokter yang lebih baik. Kalau perlu, aku akan memindahkannya ke rumah sakit swasta dan menanggung biaya pemeriksaannya. Aku tahu uangku mungkin belum cukup. Namun kali ini aku merasa mempunyai sesuatu yang dapat diusahakan. Setidaknya aku tidak lagi datang hanya dengan buah, roti, dan janji.

Aku tiba di panti menjelang siang. Aku berjalan menuju bangsal sambil membawa tas berisi makanan, pakaian, dan sebuah buku untuk belajar membaca. Dalam perjalanan, aku membayangkan wajah Atik ketika melihatku. Ia mungkin akan kembali menggoda.

“Mas sekarang semakin rapi. Benar-benar sudah menjadi orang kantoran.” Namun ketika sampai di depan bangsal, aku tidak melihat namanya pada ranjang dekat jendela. Tempat tidurnya telah kosong. Seprai putih terpasang rapi, tanpa buku tulis dan barang-barang pribadi. Seorang perempuan tua terbaring di ranjang sebelahnya, sementara penghuni lain tidak mengenaliku.

Aku menghampiri seorang petugas. “Maaf, Bu. Atik dipindahkan ke mana?”

Petugas itu menatapku beberapa saat. “Anda Mas yang sering diceritakan Atik?”

“Ya. Saya temannya.”

Wajahnya segera berubah. Ia memintaku menunggu, lalu memanggil petugas lain yang dahulu pernah berbicara denganku.

Perempuan itu menghampiriku dengan langkah pelan. “Mas baru pulang dari luar negeri?”

Aku mengangguk. “Saya ingin membawa Atik berobat. Saya ingin mencarikan dokter yang lebih baik.”

Petugas itu terdiam. Matanya menatap tas di tanganku, kemudian kembali menatap wajahku. “Atik sudah tidak ada, Mas.”

Aku tidak segera memahami maksud kalimat itu. “Dipindahkan ke panti lain?”

Perempuan itu menggeleng. “Atik sudah meninggal dunia.”

Suara di sekelilingku seakan menghilang. Aku masih berdiri, tetapi lantai seperti bergerak di bawah kakiku. “Kapan?”

“Beberapa minggu yang lalu.”

Aku meletakkan tas, lalu duduk di bangku dekat dinding. Seluruh tenaga seperti keluar dari tubuhku. Terlambat. Sekali lagi aku datang terlambat. Aku mempunyai uang untuk membawanya kepada dokter, tetapi tidak mempunyai waktu untuk mengalahkan takdir. Selama perjalanan bisnis, aku merasa sedang bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Namun ternyata, pada saat yang sama, Atik sedang berjalan menuju akhir kehidupannya.

“Bagaimana saat terakhirnya?” tanyaku setelah mampu menguasai suara.

Petugas itu duduk di sampingku. “Dia sangat tenang. Kami semua menyaksikannya. Beberapa hari terakhir, tubuhnya memang semakin lemah. Napasnya berat dan dia sudah sulit berbicara. Tetapi bibirnya tidak pernah berhenti berzikir.”

Aku menunduk.

“Menjelang ajal, matanya terbuka. Dia memandang ke arah jendela, lalu tersenyum. Setelah itu dia menyebut nama Allah perlahan. Matanya terpejam, napasnya berhenti. Tidak ada rintihan. Tidak ada ketakutan.”

Petugas itu mengusap air matanya. “Seperti orang yang sudah tahu siapa yang datang menjemputnya.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dalam pikiranku, aku melihat Atik sedang berdiri di depan losmen dengan gincu tebal dan senyum yang dipaksakan. Lalu kulihat ia terbaring di rumah sakit, menahan sakit ketika luka di punggungnya dibersihkan. Setelah itu wajahnya muncul lagi ketika ia melafalkan doa Nabi Yunus. Lā ilāha illā anta, subḥānaka, innī kuntu minazh-zhālimīn.

Tuhan telah menjemputnya sebelum aku sempat memenuhi janji.

Aku tidak tahu berapa lama duduk di sana. Kemudian petugas panti berdiri dan masuk ke kantornya. Tak lama kemudian ia kembali membawa sebuah amplop kusam. “Ada surat untuk Anda,” katanya.

Aku mengangkat kepala. “Surat?”

“Atik menitipkannya kepada kami sebulan sebelum meninggal. Dia berpesan, kalau ajalnya tiba, surat ini harus diberikan kepada Mas.”

Tanganku gemetar ketika menerima amplop itu. Di bagian depannya tertulis satu kata dengan huruf yang tidak beraturan: MAS

Atik menulisnya sendiri. Aku mengenali bentuk hurufnya. Huruf-huruf itu sama seperti tulisan pada buku yang pernah diperlihatkannya kepadaku. Barangkali untuk menulis satu kata saja ia membutuhkan waktu lama, dengan tangan yang lemah dan tubuh yang tidak dapat digerakkan.

Aku memeluk amplop itu di dada. “Di mana Atik dimakamkan?” Petugas menyebutkan sebuah tempat pemakaman umum di pinggir kota. Pemakamannya dilakukan secara sederhana. Tidak ada keluarga yang datang. Hanya beberapa petugas, sukarelawan, dan penghuni panti yang mengantarnya ke liang lahat.

“Atas nama siapa dia dimakamkan?” tanyaku.

“Atik.”

“Atik siapa?”

Petugas menggeleng. “Kami tidak tahu nama lengkapnya.”

Bahkan ketika meninggalkan dunia, Atik tidak memiliki nama keluarga yang dapat dicatat. Ia datang sebagai perempuan tanpa dokumen, lalu pergi hanya dengan sebuah nama kecil yang ditulis di atas papan makam.

Aku membaca surat itu dalam perjalanan pulang. Kendaraan yang kutumpangi bergerak pelan menembus jalanan Jakarta. Orang-orang berlalu-lalang di luar jendela. Pedagang kaki lima menawarkan dagangan. Anak-anak berlari di tepi jalan. Kota terus hidup seperti biasa, seolah kematian seorang perempuan bernama Atik tidak mengubah apa-apa.

Kubuka amplop itu dengan hati-hati. Tulisan Atik tidak rapi. Sebagian huruf besar bercampur dengan huruf kecil. Beberapa kata tampaknya dituliskan oleh sukarelawan berdasarkan ucapannya, tetapi pada bagian-bagian tertentu aku mengenali tulisan tangannya sendiri.

Aku mulai membaca.

Mas,

Terima kasih karena selama ini Mas mencurahkan perhatian kepada Atik. Kasih sayang Mas membuat Atik tidak pernah merasa sendirian di bumi Allah ini.

Mas tidak pernah bertanya tentang masa lalu Atik. Sekarang Atik mengerti, begitulah cara Mas memperlakukan Atik. Mas terlalu baik dan terlalu bijaksana menjaga perasaan Atik.

Aku berhenti membaca. Air mata mengaburkan tulisan di hadapanku. Aku mengusap mata, lalu melanjutkan.

Sebenarnya, sebelum mengenal Mas, Kopral itu adalah kekasih Atik. Dia yang menghamili Atik, tetapi tidak pernah mau bertanggung jawab. Setelah anak Atik lahir, dia pula yang memaksa Atik bekerja sebagai pelacur. Setiap hari Atik harus menyetor uang kepadanya. Kalau uangnya kurang, dia akan memukul Atik. Malam ketika teman-teman membawa Atik ke kamar Mas, Kopral memukul Atik karena setoran hari itu tidak cukup.

Tanganku mengepal. Kini aku mengerti mengapa Kopral menyeret Atik ke tengah jalan. Bukan sekadar untuk menunjukkan kekuasaan. Ia merasa memiliki Atik. Ia telah merampas tubuh, penghasilan, dan masa depannya, lalu menyebut kekerasan itu sebagai hak. Selama ini kami menganggap Atik memilih pekerjaan tersebut karena kemiskinan. Ternyata pilihan itu bahkan tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Aku melanjutkan membaca.

Kalau Mas mempunyai waktu, datanglah ke kampung Atik. Di sana ada seorang anak perempuan berusia empat tahun. Dia tinggal bersama orang tua Atik yang sangat miskin. Anak itu tidak tahu pekerjaan ibunya. Katakan kepadanya bahwa ibunya pergi ke Jakarta untuk bekerja. Atik tidak tahu bagaimana nasibnya setelah Atik tidak ada…

Surat itu berhenti pada kalimat tersebut. Tidak ada salam penutup. Tidak ada tanda tangan. Hanya sebuah garis pendek yang turun ke bawah, seolah tangan yang memegang pensil mendadak kehilangan tenaga. Aku membalik kertas itu. Bagian belakangnya kosong.

Kubaca kembali kalimat terakhir. Atik tidak tahu bagaimana nasibnya setelah Atik tidak ada…

Aku terhenyak.

Atik menghadapi kematiannya dengan tenang. Ia tidak takut meninggalkan dunia. Ia hanya takut meninggalkan anaknya di dunia yang sama—dunia yang pernah memaksanya menjual tubuh, membiarkannya dipukuli, dan menelantarkannya ketika sakit.

Kendaraan terus bergerak, tetapi pikiranku tertinggal pada seorang anak perempuan berusia empat tahun di sebuah kampung yang belum pernah kukunjungi. Anak itu mungkin sedang bermain di halaman rumah, menunggu ibunya pulang membawa baju baru atau sekadar sekantong makanan dari Jakarta. Ia belum tahu bahwa ibunya tidak akan pernah pulang.

Aku kembali ke panti pada sore hari. Petugas yang memberikan surat itu tampak terkejut melihatku datang lagi. “Maaf, Bu. Apakah Ibu tahu alamat keluarganya?”

Petugas membuka sebuah lemari, lalu mengambil secarik kertas dari dalam berkas. “Ini alamatnya,” katanya. “Kami baru mendapatkannya dari Atik sehari sebelum meninggal. Selama ini dia tidak pernah bersedia memberitahukan kampung asalnya.”

“Mengapa?”

“Mungkin dia malu. Mungkin juga takut keluarganya mengetahui keadaannya.”

Aku menerima kertas itu. Tertulis nama sebuah desa, kecamatan, dan kabupaten yang cukup jauh dari Jakarta. Pada bagian bawah terdapat nama ibu Atik.

“Apakah keluarganya sudah diberi kabar?”

Petugas menggeleng.

“Kami mengirim surat, tetapi tidak tahu apakah sudah sampai. Tidak ada nomor telepon yang dapat dihubungi.”

Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke dompet. Dalam perjalanan pulang, kalimat terakhir Atik terus terngiang di kepalaku. Atik tidak tahu bagaimana nasibnya setelah Atik tidak ada.

Dahulu ia pernah bertanya apakah aku masih akan mengenalnya setelah menjadi orang. Aku berjanji tidak akan melupakannya. Kini Atik sudah tidak ada, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih berat daripada kenangan: seorang anak yang tidak mengetahui mengapa ibunya tak kunjung pulang.

Malam itu aku membuka kembali buku pelajaran Penata Buku. Di hadapanku terdapat angka-angka yang harus dibuat seimbang. Setiap kewajiban harus mempunyai pasangan. Setiap utang harus dicatat sampai lunas. Namun surat Atik membuatku memahami bahwa ada utang yang tidak pernah masuk ke dalam neraca.

Aku berutang kepada seorang perempuan yang pernah mengajariku tentang penderitaan, pertobatan, dan harga diri. Utang itu tidak dapat kubayar kepada Atik karena ia telah pergi. Barangkali aku harus membayarnya kepada anak yang ditinggalkannya.

Aku mengambil kalender dan melihat jadwal pekerjaanku. Lalu kutandai sebuah tanggal pada minggu berikutnya. Aku akan pergi ke kampung Atik. Bukan sebagai orang yang hendak menggantikan ibunya. Bukan pula sebagai lelaki yang merasa mampu mengubah seluruh nasibnya. Aku hanya ingin memastikan bahwa anak perempuan itu tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa ibunya telah melupakannya. Sebab aku tahu kebenaran yang tidak diketahui anak itu: Atik tidak pernah melupakannya. Bahkan ketika ajal sudah berada di dekat ranjangnya, yang paling ia cemaskan bukanlah kematian, melainkan nasib anak perempuan yang akan tetap hidup setelah dirinya tiada.

Anak yang Ditinggalkan

Lebak, 1985, Dua tahun telah berlalu sejak pertama kali aku mendatangi kampung Atik pada 1983. Sejak pertemuan itu, setiap bulan aku mengirimkan uang untuk membantu biaya hidup dan sekolah Fatimah. Jumlahnya tidak besar, tetapi cukup untuk membeli beras, pakaian, dan buku pelajaran. Sesekali aku datang mengunjunginya. Namun pekerjaan yang semakin padat membuat kunjunganku tidak sesering yang kuinginkan.

Sebulan setelah menerima kabar bahwa nenek Fatimah meninggal dunia, aku kembali pergi ke Lebak. Perjalanan dari Jakarta memerlukan waktu berjam-jam. Setelah turun dari kendaraan umum, aku masih harus menumpang ojek, lalu berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang membelah persawahan dan kebun. Hujan beberapa hari sebelumnya membuat jalan licin. Tanah merah melekat pada sepatu dan ujung celanaku.

Desa itu hampir tidak berubah sejak kunjungan pertamaku. Rumah-rumah berdinding bilik berdiri berjauhan. Sebagian atapnya terbuat dari rumbia yang mulai menghitam dimakan usia. Anak-anak berlari tanpa alas kaki, sementara beberapa perempuan membawa kayu bakar di punggung. Listrik belum menjangkau seluruh rumah. Air bersih diperoleh dari sumur atau mata air yang letaknya cukup jauh.

Kemiskinan di sana berbeda dengan kemiskinan Jakarta. Di Jakarta, orang miskin masih dapat melihat gedung tinggi, mobil bagus, dan restoran mewah. Mereka hidup berdampingan dengan kekayaan yang tidak dapat disentuh. Di kampung itu, kemiskinan tidak memiliki pembanding. Ia hadir sebagai keadaan yang dianggap biasa, diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya seperti nama keluarga.

Rumah keluarga Atik berada di ujung desa. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, sebagian telah berlubang. Tiang kayunya miring dan lantai tanahnya lembap. Di bagian belakang terdapat tungku sederhana dan beberapa peralatan dapur yang menghitam oleh asap.

Seorang pria tua duduk di bangku bambu di depan rumah. Tubuhnya kurus. Tulang bahunya menonjol di balik kemeja lusuh. Beberapa kali ia batuk keras sambil menutup mulut dengan kain.

Di dekatnya berdiri seorang anak perempuan berusia  6 tahun. Fatimah. Tubuhnya kecil, hampir sama mungilnya dengan Atik. Rambutnya dipotong pendek dan disisir rapi. Ia mengenakan gaun sederhana yang warnanya telah pudar. Kedua kakinya tanpa alas.

Namun wajah itu tidak asing bagiku. Aku melihat mata Atik pada wajah anak itu.

“Neneknya sudah meninggal,” kata pria tua tersebut setelah mempersilakanku duduk.

Ia adalah ayah Atik, sekaligus kakek Fatimah. Dahulu ia bekerja sebagai buruh tani. Kini usianya dan penyakit membuatnya tidak lagi sanggup bekerja sepanjang hari. “Kapan meninggalnya?”

“Sebulan yang lalu. Demam beberapa hari. Setelah itu tidak tertolong.”

Ia menunduk, lalu batuk cukup lama.

“Sejak tahun lalu saya kena TBC,” lanjutnya. “Kadang masih bisa membantu orang di kebun. Tapi lebih sering tidak kuat.”

Setelah mengatakan itu, ia memandang Fatimah. Tidak ada permintaan yang diucapkan. Namun aku memahami arti tatapan tersebut. Ia sedang memikirkan masa depan cucunya. Ia tahu tenaganya semakin berkurang dan mungkin tidak memiliki banyak waktu.

Selama ini, nenek Fatimahlah yang merawat anak itu. Perempuan tua tersebut menjadi ibu bagi cucunya sejak Atik pergi ke Jakarta. Kini satu-satunya orang yang benar-benar merawat Fatimah telah tiada.

“Ayah Fatimah di mana?” tanyaku, meskipun aku sudah mengetahui jawabannya.

Pria tua itu menggeleng. “Tidak pernah datang. Kami juga tidak tahu orangnya.”

Aku teringat surat Atik. Kopral itulah ayah Fatimah—lelaki yang menghamili Atik, memaksanya menjadi pelacur, kemudian hidup dari uang yang diperolehnya dengan menjual tubuh. Barangkali Fatimah lebih baik tidak mengetahui siapa ayahnya.

“Fatimah masih sekolah?”

Pria tua itu menggeleng. Ia  kembali menatap cucunya. “Selama saya masih bernapas, saya akan menjaganya. Tapi saya tidak tahu sampai kapan.”

Fatimah berdiri diam. Mungkin ia tidak memahami seluruh pembicaraan kami. Namun anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan biasanya belajar membaca kecemasan orang dewasa jauh sebelum mereka mampu memahami kata-kata. Aku memandang rumah itu. Tidak banyak bahan makanan di dapur. Di sudut ruangan hanya terdapat sedikit beras dalam kaleng. Dengan keadaan kakeknya yang sakit, uang yang kukirim setiap bulan pasti tidak cukup untuk menjamin pendidikan dan keselamatannya.

Aku menarik napas. “Biarlah Fatimah ikut saya ke Jakarta.”

Pria tua itu menatapku.

“Saya akan menempatkannya di panti asuhan putri. Di sana dia bisa tinggal dan bersekolah. Semua biayanya akan saya tanggung.”

Ia tidak segera menjawab. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata yang keluar. Selama 2 tahun terakhir, ia mengenalku sebagai orang yang mengirim uang untuk Fatimah. Ia tahu aku pernah menjadi sahabat ibunya. Ia juga tahu bahwa tanpa bantuan itu, kehidupan mereka akan jauh lebih sulit.

Namun menyerahkan cucu satu-satunya bukan perkara mudah. “Saya tidak akan memutus hubungan Fatimah dengan Kakek,” kataku. “Kalau libur dan keadaan memungkinkan, saya akan membawanya pulang. Saya juga akan tetap membantu biaya pengobatan Kakek.”

Pria tua itu tersenyum tipis. Senyum orang yang ingin mengucapkan terima kasih, tetapi pada saat bersamaan merasa sedang kehilangan sesuatu. “Bukan saya tidak percaya kepada kamu Nak ,” katanya. “Saya hanya…”

Kalimatnya terhenti oleh batuk. “Saya hanya akan sendirian kalau Fatimah pergi.”

Aku terdiam.

Saat itu aku menyadari bahwa keputusan yang baik bagi masa depan Fatimah belum tentu tidak melukai orang yang menyayanginya. Pria tua itu memang tidak berdaya menolak permintaanku, tetapi aku tidak ingin kemiskinannya menjadi alasan untuk merampas cucunya.

“Kakek tidak harus menjawab sekarang,” kataku. “Pikirkan dahulu. Saya bisa menunggu.”

Ia menggeleng. “Tidak ada yang perlu dipikirkan. Di sini dia tidak punya masa depan. Kalau tetap bersama saya, mungkin nasipnya akan sama dengan ibunya. Saya juga tidak tahu apakah besok masih bisa bangun.”

Ia memanggil cucunya. “Fatimah, kemari.”

Fatimah berjalan mendekat. Kakeknya mengelus rambut anak itu dengan tangan yang kurus dan gemetar. “Kamu ikut Om ke Jakarta, ya.”

Fatimah menatapku, lalu kembali melihat kakeknya. “Kakek ikut?”

Pria tua itu tersenyum. “Kakek tetap di sini.”

“Aku mau tinggal sama Kakek.”

“Kamu harus sekolah. Di Jakarta ada tempat yang baik. Banyak teman. Nanti kamu bisa belajar mengaji.”

“Aku tidak mau.”

Fatimah memeluk tubuh kakeknya. Pria tua itu menahan tangis. Matanya memerah, tetapi ia tetap mengusap punggung cucunya.

“Dengarkan Kakek. Ikut Om, ya. Kamu akan ditempatkan di panti. Selama di sana, kamu harus baik-baik. Jangan nakal. Rajin belajar dan mengaji.”

“Kapan aku pulang?”

“Nanti kalau sudah libur.”

“Benar?”

“Benar.”

Aku memalingkan wajah. Perpisahan itu mengingatkanku kepada Atik. Barangkali dahulu ia juga meninggalkan rumah dengan janji akan kembali. Namun Jakarta mengubah perjalanan mencari nafkah menjadi jalan tanpa kepulangan. Kali ini aku berjanji dalam hati: Fatimah harus tetap mempunyai jalan pulang.

Barang-barang Fatimah hanya cukup dimasukkan ke dalam sebuah tas kain. Beberapa helai pakaian, buku sekolah, sisir, dan sebuah foto lama ibunya. Aku baru mengetahui foto itu ketika Fatimah mengeluarkannya dari bawah tikar. Foto hitam-putih tersebut sudah kusam. Atik terlihat masih sangat muda. Ia berdiri di halaman rumah dengan rambut dikepang dan senyum yang belum mengenal kekerasan Jakarta.

“Ini Ibu,” kata Fatimah.

Aku mengangguk. “Kamu masih ingat wajahnya?”

Fatimah menggeleng. “Kata Nenek, Ibu bekerja jauh.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Om kenal Ibu?”

“Kenal.”

“Ibu orang baik?”

Aku menahan napas. “Ibumu orang yang sangat baik.”

“Mengapa Ibu tidak pulang?”

Aku berjongkok agar wajah kami sejajar. “Ibumu sudah meninggal. Tapi sebelum meninggal, dia terus memikirkanmu.”

Fatimah memandangku lama. Ia tidak menangis. Mungkin pada usia itu, kematian masih terlalu besar untuk dipahami. Atau mungkin selama ini sosok ibu baginya memang hanya hidup dalam cerita nenek dan selembar foto.

“Ibu titip kamu kepada Om,” kataku.

Itu bukan sepenuhnya benar. Atik tidak pernah secara langsung menyerahkan anaknya kepadaku. Ia hanya menuliskan kecemasannya dalam surat yang tidak selesai. Namun bagiku, kalimat terakhir itu adalah sebuah amanah.

Kami meninggalkan desa menjelang siang. Kakek Fatimah berdiri di depan rumah sambil bertumpu pada tongkat. Beberapa kali ia melambaikan tangan. Fatimah terus menoleh ke belakang sampai rumah bilik itu menghilang di balik pepohonan. Sepanjang perjalanan, ia memeluk tas kain dan foto ibunya. Ia tidak banyak bicara. Sesekali aku membelikannya makanan, tetapi hanya sedikit yang disentuh.

Ketika kendaraan mulai mendekati Jakarta, Fatimah tertidur dengan kepala bersandar pada lenganku. Aku memandang wajahnya. Untuk pertama kalinya aku merasakan beratnya sebuah amanah yang tidak tertulis dalam kontrak apa pun. Tidak ada hukum yang mewajibkanku mengurus Fatimah. Tidak ada hubungan darah di antara kami. Namun justru karena tidak ada kewajiban itulah, hati nurani menjadi satu-satunya dasar tindakanku.

Panti asuhan putri yang kupilih dikelola sebuah yayasan keagamaan. Bangunannya sederhana, tetapi bersih. Di halaman depan, beberapa anak perempuan bermain lompat tali. Dari musala kecil di bagian belakang terdengar suara anak-anak membaca Al-Qur’an.

Aku menemui pengurus panti, seorang perempuan setengah baya yang dipanggil Ibu Asuh. “Ibunya sudah meninggal,” jelasku. “Ayahnya tidak diketahui keberadaannya. Nenek yang selama ini merawatnya juga baru meninggal. Kakeknya sakit-sakitan dan hidup sangat miskin.”

“Hubungan Bapak dengan anak ini?”

Aku menatap Fatimah. “Saya sahabat ibunya.”

Pengurus itu terlihat sedikit heran. “Saya akan menanggung seluruh biaya hidup dan sekolahnya,” lanjutku. “Saya juga akan memberikan donasi rutin kepada panti. Tolong pastikan dia dapat belajar dengan baik.”

Wajah pengurus itu berubah ramah. “Insyaallah kami akan merawatnya seperti anak-anak lain.”

“Saya tidak ingin dia diperlakukan berbeda karena saya membantu biaya panti.”

“Tentu tidak.”

“Dan saya ingin menerima laporan sekolahnya. Kalau dia sakit atau mengalami masalah, segera hubungi saya.”

Pengurus itu mengangguk. Setelah urusan administrasi selesai, seorang ibu asuh membawa Fatimah menuju kamar. Namun baru beberapa langkah, anak itu berhenti dan menoleh kepadaku.

“Om tidak tinggal di sini?”

“Tidak. Om harus pulang.”

Wajahnya seketika berubah. Ia berlari memeluk pinggangku dan menangis. “Aku mau ikut Om.”

Aku berjongkok, lalu memeluknya. Tubuh kecilnya gemetar. “Untuk sementara kamu tinggal di sini.”

“Aku tidak kenal siapa-siapa.”

“Nanti kamu akan punya banyak teman.”

“Aku takut.”

Aku mengusap rambutnya. “Tidak perlu takut. Om akan selalu ada untukmu.”

“Benar?”

“Benar.”

“Om akan datang?”

“Om akan datang menjenguk. Kalau kamu libur, nanti kita mengunjungi Kakek.”

Ia masih terisak.

“Jaga dirimu baik-baik di sini. Jangan nakal. Patuhi Ibu Asuh, rajin sekolah, dan rajin mengaji.”

Fatimah mengangguk pelan.

Aku melepaskan pelukannya, lalu menyerahkannya kepada ibu asuh. Tangannya tetap terulur ke arahku ketika dibawa masuk. Aku memaksakan senyum dan melambaikan tangan. Namun setelah melewati gerbang panti, langkahku terhenti. Tangis Fatimah masih terdengar dari dalam. Aku ingin kembali dan membawanya pulang. Tetapi pulang ke mana? Aku sendiri tinggal berpindah-pindah mengikuti pekerjaan. Aku belum mempunyai rumah yang layak, apalagi keluarga yang dapat merawat seorang anak perempuan.

Karena itu, untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku meninggalkan seorang anak manusia di sebuah lembaga sosial sambil meyakinkan diri bahwa di sana ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Perbedaannya, kali ini aku tidak boleh menghilang. Atik pernah menungguku setiap jam, setiap hari, dan setiap minggu di rumah sakit. Aku datang terlambat dan tidak pernah dapat mengembalikan waktu yang hilang. Kesalahan itu tidak boleh kuulangi kepada Fatimah.

Di hadapan gerbang panti, aku membuat janji kepada diriku sendiri. Aku mungkin tidak dapat menggantikan ibu yang telah direnggut darinya. Aku juga tidak dapat menghapus asal-usulnya. Namun selama aku masih hidup, Fatimah tidak boleh merasa bahwa dirinya tidak mempunyai siapa-siapa. Sebab anak tidak pernah mewarisi dosa orangtuanya. Yang seharusnya diwariskan kepada Fatimah bukanlah penghinaan yang pernah diterima Atik, melainkan harapan yang tidak sempat diselesaikan ibunya.

Jalan yang Membawa Fatimah Pergi

Pada 1987, kehidupanku kembali berubah. Aku dipercaya menjadi rekanan Pertamina untuk menangani jasa ekspedisi. Usahaku belum besar, tetapi tanggung jawabnya jauh berbeda dibandingkan ketika aku masih menjadi kuli gudang. Dahulu aku mengangkat barang milik orang lain dengan kedua tanganku. Kini aku mengatur agar barang-barang itu sampai ke tujuan dengan aman dan tepat waktu. Aku mulai memahami bahwa bisnis ekspedisi bukan hanya soal kendaraan dan gudang. Ia terutama soal kepercayaan. Sekali barang terlambat, rusak, atau hilang, nama baik yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam sehari.

Dalam pekerjaan itulah aku berkenalan dengan Tom, seorang warga Amerika Serikat yang bekerja sebagai konsultan Pertamina. Tubuhnya tinggi, rambutnya mulai menipis, dan wajahnya selalu kemerahan jika terlalu lama berada di bawah matahari Jakarta. Pada awalnya, hubungan kami hanya sebatas pekerjaan. Tom sering meminta data pengiriman, jadwal kendaraan, dan penjelasan mengenai jalur distribusi. Ia sangat teliti. Setiap angka yang menurutku tidak penting selalu ditanyakannya kembali.

“Bisnis tidak bermasalah karena orang tidak mempunyai data,” katanya suatu hari. “Masalah muncul karena orang mempunyai data, tetapi memilih mengabaikannya.”

Aku menyukai cara berpikirnya. Tom pun tampaknya menghargai keterusteranganku. Jika ada keterlambatan, aku tidak mencari alasan. Jika ada kesalahan, aku mengakuinya dan segera mencari jalan keluar. Lama-kelamaan kami menjadi sahabat. Tom dapat berbicara bahasa Indonesia cukup baik. Ia sudah beberapa tahun bekerja di Indonesia dan memahami kebiasaan masyarakat. Sesekali kami makan di warung sederhana. Ia menyukai nasi goreng, meskipun selalu meminta cabainya dikurangi. Setiap kali berkeringat karena kepedasan, ia menuduhku sengaja memesan makanan terlalu pedas untuk mengujinya.

Pada suatu akhir pekan, aku mengajaknya ke panti asuhan putri. Saat itu aku hendak menyerahkan uang bulanan untuk biaya Fatimah dan donasi kepada yayasan. “Siapa Fatimah?” tanyanya.

“Anak sahabat saya.”

“Di mana ibunya?”

“Sudah meninggal.”

Aku tidak menceritakan semuanya di perjalanan. Kisah Atik terlalu panjang untuk disampaikan sambil lalu. Ketika kami tiba, Fatimah berlari menyambutku.

“Om!”

Ia sudah terlihat lebih sehat dibandingkan ketika pertama kali datang dari kampung. Rambutnya panjang dan dikepang dua. Pakaiannya bersih, tubuhnya mulai berisi, dan wajahnya tampak lebih cerah. Ia masih pemalu di hadapan orang asing, tetapi tidak lagi selalu menundukkan kepala.

“Ini Om Tom,” kataku.

Fatimah menyalami Tom. “Selamat siang, Om.”

Tom tersenyum dan mencoba menjawab dalam bahasa Indonesia.

“Selamat siang, Fatimah. Apa kabar?”

“Baik.”

“Kamu kelas berapa?”

Fatimah menjawab dengan suara pelan. Setelah itu ia berdiri di sampingku, sesekali memperhatikan Tom dengan rasa ingin tahu.

Kami menghabiskan waktu bersama anak-anak panti. Tom membawa cokelat dan beberapa buku bergambar. Mula-mula anak-anak menjaga jarak, tetapi tak lama kemudian mereka mengerumuninya. Bahasa bukan lagi masalah ketika cokelat dibagikan.

Fatimah memperlihatkan buku pelajaran dan hasil ulangannya kepadaku. Nilainya cukup baik, terutama untuk pelajaran berhitung. Ia juga sudah lancar membaca Al-Qur’an.

“Om harus lihat ini,” katanya sambil menunjukkan sebuah gambar rumah. Pada gambar itu terdapat sebuah rumah dengan pohon besar, matahari, dan tiga orang berdiri di halaman.

“Siapa ini?” tanyaku.

“Ini Kakek.”

“Yang ini?”

“Imah.”

Aku menunjuk sosok ketiga yang digambar lebih tinggi.

“Kalau ini?”

“Om.”

Aku terdiam beberapa saat. “Om tinggal bersama Imah?”

“Di gambar boleh.”

Aku tersenyum, lalu mengusap kepalanya. Tom memperhatikan kami tanpa berkata apa-apa.

Dalam perjalanan pulang, Tom bertanya tentang Fatimah. Aku kemudian menceritakan kisah Atik sejak pertama kali kami bertemu di belakang gudang. Kuceritakan tentang pemukulan, rumah sakit, panti sosial, surat yang tidak selesai, serta perjalanan ke Lebak untuk menemui anak yang ditinggalkannya.

Tom lebih banyak diam. “Kamu bukan keluarganya?” tanyanya setelah aku selesai bercerita.

“Bukan.”

“Tetapi kamu membiayainya selama ini?”

“Itu amanah ibunya.”

“Apakah ibunya secara langsung meminta kamu merawatnya?”

“Tidak. Dia hanya mengkhawatirkan nasib anaknya setelah meninggal.”

Tom menatap jalan di depan kami. “Kadang amanah paling berat memang tidak pernah diucapkan sebagai permintaan,” katanya.

Sejak hari itu, Tom beberapa kali ikut mengunjungiku ke panti. Ia mulai mengenal Fatimah. Kadang ia datang bersama istrinya, Margaret, yang sesekali mengunjungi Jakarta. Margaret berbeda dengan Tom. Ia lebih pendiam, tetapi sangat lembut kepada anak-anak. Pada kunjungan pertama, ia membantu Fatimah mengepang rambut. Pada kunjungan berikutnya, ia membawakan buku cerita dan sebuah boneka kain.

Aku melihat sesuatu yang berbeda pada tatapan suami-istri itu. Mereka tidak memandang Fatimah dengan rasa kasihan. Mereka memandangnya dengan kerinduan. Baru kemudian aku mengetahui bahwa Tom dan Margaret telah menikah lebih dari lima tahun, tetapi tidak dikaruniai anak.

Dua tahun setelah perkenalan kami, menjelang kepulangannya ke Amerika Serikat pada 1989, Tom mengajakku berbicara dengan serius. Fatimah saat itu berusia sepuluh tahun. Kami duduk di teras panti. Margaret berada di dalam bersama Fatimah.

“Saya ingin bertanya sesuatu,” kata Tom.

“Apa?”

“Apakah mungkin Fatimah kami adopsi?”

Aku menatapnya. Tom melanjutkan sebelum aku sempat menjawab. “Saya dan Margaret sudah membicarakannya cukup lama. Kami tidak mengambil keputusan ini karena kasihan. Kami benar-benar ingin Fatimah menjadi anak kami.”

Margaret keluar dari ruangan dan duduk di samping suaminya. “Kami sudah menikah lebih dari lima tahun,” kata Tom. “Kami tidak mempunyai anak. Margaret sangat menyayangi Fatimah. Saya juga.”

Margaret menggenggam tangan suaminya, lalu mengangguk kepadaku. Matanya penuh harap. “Kami akan merawatnya,” katanya dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. “Kami akan menyekolahkannya. Kami ingin memberinya rumah dan keluarga.”

Aku tidak segera menjawab.

Sebagian dari diriku bersukacita. Inilah kesempatan yang dahulu tidak pernah dimiliki Atik. Fatimah akan tumbuh di dalam sebuah keluarga, memperoleh pendidikan yang baik, dan hidup jauh dari kemiskinan yang mengurung ibu serta kakek-neneknya.

Proses awal pengasuhan dan administrasi diurus melalui panti, yayasan, serta pihak-pihak yang berwenang. Berbagai dokumen harus diperiksa, termasuk keadaan keluarga Fatimah di kampung dan kelayakan Tom serta Margaret sebagai calon orangtua. Kakek Fatimah juga memberikan persetujuannya. Sekitar sebulan kemudian, persetujuan awal diperoleh. Proses hukum berikutnya tetap berjalan, tetapi Tom dan Margaret sudah diizinkan membawa Fatimah sebagai bagian dari proses pengasuhan menuju adopsi.

Hari keberangkatan tiba. Aku mengantar mereka ke bandara. Fatimah mengenakan gaun berwarna biru muda dan sepatu baru. Rambutnya dikepang oleh Margaret. Di tangannya terdapat boneka kain yang dahulu diberikan ibu angkatnya itu. Tom mengurus bagasi dan dokumen. Margaret berdiri tidak jauh dari kami, memberikan waktu agar aku dapat berbicara dengan Fatimah. Ketika pengumuman keberangkatan terdengar, Fatimah mendadak memelukku erat.

Tubuhnya gemetar. “Imah takut, Om,” katanya terbata-bata.

Aku berjongkok dan memeluknya. “Tidak perlu takut, Sayang. Kamu akan baik-baik saja.”

“Amerika jauh?”

“Memang jauh.”

“Lebih jauh dari kampung Kakek?”

Aku tersenyum getir. “Jauh sekali.”

Fatimah semakin erat memeluk leherku. “Kalau Imah pergi, Om tidak bertemu Imah lagi?”

“Tentu kita akan bertemu.”

“Kapan?”

Aku menatap wajahnya. “Nanti setelah Imah menjadi sarjana.”

“Tapi masih lama.”

“Karena itu kamu harus rajin belajar supaya waktunya terasa cepat.”

Air mata mengalir di pipinya. “Om tidak ikut?”

“Om harus bekerja di sini.”

“Imah mau tinggal sama Om.”

Kalimat itu menghantam bagian terdalam dalam diriku. Sejenak aku ingin membatalkan semuanya. Aku ingin membawa Fatimah keluar dari bandara dan mengatakan bahwa ia tidak perlu pergi ke mana pun. Namun aku tahu rasa sayang tidak selalu berarti mempertahankan seseorang agar tetap berada di dekat kita. Kadang cinta justru menuntut keberanian untuk melepaskan, terutama ketika jalan yang jauh menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Aku mengusap air matanya. “Dengarkan Om. Om Tom dan Tante Margaret sangat menyayangimu. Mereka akan merawatmu dan menyekolahkanmu sampai menjadi sarjana.”

“Benar?”

“Benar.”

“Om akan ingat Imah?”

“Setiap hari.”

“Om janji?”

“Aku berjanji.”

Tom dan Margaret mendekat. Margaret merangkul Fatimah dengan lembut. “Kami akan menjaga Fatimah,” katanya kepadaku.

Tom mengangguk. “Seperti anak kami sendiri.”

“Bukan seperti,” kataku. “Mulai sekarang dia memang anak kalian.”

Tom memelukku. Setelah itu ia menggandeng tangan Fatimah menuju pemeriksaan keberangkatan. Beberapa kali anak itu menoleh dan melambaikan tangan. Aku tetap berdiri sambil membalas lambaiannya sampai tubuh kecilnya menghilang di balik pintu. Aku tidak tahu mengapa setiap orang yang kusayangi selalu pergi melalui sebuah pintu yang tidak dapat kuikuti. Atik pergi melalui pintu kematian. Fatimah pergi melalui pintu keberangkatan internasional. Perbedaannya, kepergian Fatimah membawa harapan untuk kembali.

Setelah mereka tiba di Amerika, aku sering berkomunikasi dengan Tom melalui faksimile. Hampir setiap bulan ia mengirimkan kabar mengenai perkembangan Fatimah. Suatu hari, lembar faks keluar dari mesin di kantorku. Fatimah anak yang cerdas. Hanya dalam empat bulan, kemampuan bahasa Inggrisnya berkembang sangat cepat. Sekarang dia sudah berani berbicara dengan tetangga dan menonton acara televisi tanpa selalu meminta penjelasan.

Aku tersenyum membaca kabar itu. Kemampuan Tom berbahasa Indonesia sangat membantu. Ketika Fatimah tidak memahami suatu kata, Tom dapat menjelaskannya dalam bahasa yang dikenalnya. Margaret juga sabar mengajarinya membaca dan berbicara setiap malam. Pada tahun kedua di Amerika, setelah kemampuan bahasanya dinilai cukup, Fatimah mulai mengikuti sekolah formal di Delaware. Tom mengirimkan salinan foto hari pertamanya. Dalam foto itu, Fatimah berdiri di depan sebuah bangunan sekolah. Ia mengenakan mantel, membawa tas di punggung, dan tersenyum ke arah kamera. Di kiri dan kanannya berdiri Tom dan Margaret. Mereka tampak seperti sebuah keluarga. Aku meletakkan foto itu di dalam lemari bersama surat terakhir Atik.

Untuk pertama kalinya, aku merasa telah menunaikan sebagian amanah yang ditinggalkannya. Anak yang dahulu berdiri tanpa alas kaki di depan rumah bilik di Lebak kini bersekolah di Amerika Serikat. Namun aku tahu perjalanan Fatimah masih panjang. Ia boleh memiliki rumah baru, orangtua baru, bahasa baru, dan kewarganegaraan baru. Tetapi suatu hari kelak, ia tetap perlu memahami dari mana dirinya berasal. Ketika hari itu tiba, aku ingin mengatakan kepadanya bahwa ibunya tidak pernah membuangnya.

Atik hanya kalah oleh kemiskinan dan kekuasaan. Namun sampai napas terakhir, ia tetap mencintai anaknya. Dan mungkin melalui kehidupan Fatimah, doa seorang ibu yang meninggal tanpa nama lengkap itu sedang dijawab Tuhan—perlahan-lahan, melalui tangan orang-orang asing yang dipertemukan oleh kasih sayang.

Amanah yang Telah Sampai

Hong Kong–New York, 2010. Paska Krismon tahun 2003 aku hijrah bisnis ke China. Dua tahun sejak kepergian Fatimah bersama Tom ke AS, kami praktis disconnect. Aku pernah kirim surat ke alamat Tom, tetapi tidak ada balasan. Namun doaku selalu untuk Fatimah.

Pada 2010, aku kembali bertemu dengan Tom di Hong Kong. Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak pertemuan kami dahulu. Banyak hal telah berubah. Tom kini berusia lima puluh lima tahun, sedangkan usiaku empat puluh tujuh tahun. Dalam pertemuan itu, Tom menceritakan perjalanan hidup mereka. Dua tahun setelah kembali ke Amerika Serikat, ia menerima pekerjaan di Swiss. Fatimah turut dibawanya ke sana. Namun pada 1998, Fatimah diterima di Harvard Law School. Untuk pertama kalinya, Tom harus hidup berjauhan dengan anak angkat yang telah dianggapnya sebagai darah daging sendiri.

Pada 2001, Fatimah menyelesaikan pendidikannya di Harvard Law School. Dua tahun kemudian, ia diterima bekerja di American Express Bank di New York. Sementara itu, pada 2004, Tom pindah ke Hong Kong untuk melanjutkan kariernya sebagai bankir investasi. Jarak memisahkan mereka, tetapi tidak pernah mengurangi hubungan antara ayah dan anak yang dibangun bukan oleh darah, melainkan oleh kasih sayang.

Aku berencana membuka bisnis Asset Management di New York. Karena sumber modal global masih banyak berkumpul di sana. Holding ku di Hong Kong dengan basis operasi di ASIA membutuhkan akses langsung ke investor Amerika. Setelah Tom mempelajari recanaku, Tom setuju  “Kamu membawa pengalaman dan jaringan bisnis Asia. Saya mengurus regulasi, pembentukan tim, dan akses investor. Kita mulai kecil, tetapi dengan disiplin yang benar.” Kata Tom.

Beberapa waktu kemudian, urusan pembentukan perusahaan membawaku ke New York. Sebelum aku berangkat dari Hong Kong, Tom telah lebih dulu ada di New York.  “ Fatimah akan menjmeputmu di Bandara. “ Kata Tom via telp.

“Jangan merepotkan dia..”

“Terlambat. Dia bersikeras menjemputmu.”

Dalam perjalanan menuju New York, aku tidak dapat tidur nyenyak. Berkali-kali aku membayangkan pertemuan itu. Lebih dari dua puluh tahun telah berlalu sejak kami berpisah di bandara. Dahulu aku berjongkok untuk menyeka air matanya. Kini aku tidak tahu seperti apa wajahnya, bagaimana caranya berbicara, atau apakah kami masih dapat merasakan kedekatan yang sama. Waktu mampu mengubah bahasa, kebiasaan, dan cara manusia melihat dunia. Namun aku berharap waktu tidak menghapus ingatan.

Pesawat mendarat di Bandar Udara John F. Kennedy menjelang sore. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, aku berjalan menuju ruang kedatangan. Puluhan orang berdiri di balik pembatas. Sebagian membawa papan nama. Sebagian melambaikan tangan kepada keluarga yang baru keluar.

Aku berjalan perlahan sambil memperhatikan wajah-wajah di hadapanku. Lalu kulihat seorang perempuan berdiri tidak jauh dari pintu keluar. Usianya sekitar tiga puluh satu tahun. Tingginya kurang lebih 164 sentimeter. Tubuhnya tergolong mungil dibandingkan kebanyakan perempuan Amerika, tetapi sikapnya tegak dan penuh percaya diri. Ia mengenakan mantel gelap dengan pakaian kerja yang sederhana. Rambutnya jatuh rapi hingga bahu.

Sebelum aku dapat memastikan, perempuan itu telah melihatku. Matanya membesar. Ia menjatuhkan tas kecil yang dipegangnya, lalu berlari menerobos orang-orang yang menunggu.

“Om!”

Aku berhenti.

Ia memelukku dengan sangat erat. “I miss you so much, my dear uncle.”

Aku tidak segera menjawab. Tenggorokanku tercekat. Kedua tanganku gemetar ketika membalas pelukannya.

“Fatimah…”

“Yes, Uncle. It’s me.”

Ia melepaskan pelukan, lalu memegang kedua lenganku. Matanya meneliti wajahku seakan ingin memastikan bahwa lelaki di hadapannya benar-benar orang yang pernah mengantarnya ke bandara puluhan tahun lalu.

“You still look the same,” katanya.

Aku tertawa sambil mengusap air mata.

“No. I am an old man now.”

“You are still my uncle.”

Ia kembali memelukku. “Aku tidak lupa wajah Om,” katanya dalam bahasa Indonesia. Pengucapannya masih sangat baik, hanya terdengar sedikit aksen Amerika. “Tidak mungkin aku lupa.”

Aku menatapnya lama. Wajah Fatimah sangat mirip dengan Atik. Bentuk mata, garis hidung, dan senyumnya mengembalikan ingatanku kepada perempuan mungil yang dahulu berdiri di depan losmen dengan gincu tebal. Namun pada wajah Fatimah tidak ada lagi ketakutan yang dahulu selalu bersembunyi di mata ibunya. Kecerdasan terpancar dari caranya memandang. Kepercayaan diri terlihat dari cara ia berdiri dan berbicara. Kemiskinan tidak lagi mengaburkan cahaya wajahnya.

Atik dan Fatimah mempunyai wajah yang hampir sama. Namun dunia memperlakukan mereka dengan cara yang sama sekali berbeda. “Why are you looking at me like that?” tanyanya.

“Kamu sangat mirip dengan ibumu.”

Senyumnya perlahan menghilang, berganti tatapan lembut. “Tom told me about her. But he said you know her story better than anyone.”

Aku mengangguk. “Nanti akan kuceritakan semuanya.”

“Was she a good person?”

Pertanyaan itu sama seperti yang pernah ditanyakannya ketika masih kecil. Aku menggenggam tangannya. “Ibumu perempuan yang sangat baik. Dunia saja yang tidak berlaku baik kepadanya.”

Fatimah menunduk. Air mata menggenang di matanya. “Did she love me?”

“Lebih daripada hidupnya sendiri.”

Kami berdiri beberapa saat di tengah kesibukan bandara. Orang-orang berjalan melewati kami, koper-koper ditarik, dan pengumuman penerbangan terus terdengar. Namun bagiku, waktu seperti berhenti. Aku teringat kalimat terakhir dalam surat Atik: Atik tidak tahu bagaimana nasibnya setelah Atik tidak ada…

Kini jawabannya berdiri di hadapanku. Anak perempuan itu tidak lagi hidup di rumah bilik dengan lantai tanah. Ia tidak dipaksa meninggalkan sekolah. Ia tidak mewarisi ketidakberdayaan ibunya. Ia tumbuh dalam keluarga yang menyayanginya, memperoleh pendidikan terbaik, dan menjadi perempuan yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri.

Dalam perjalanan meninggalkan bandara, Fatimah duduk di sampingku. Ia bercerita tentang Tom dan Margaret, masa sekolahnya di Delaware dan Swiss,  tahun-tahunnya di Harvard, serta pekerjaannya di New York. Cara bicaranya cepat dan penuh semangat. Sesekali ia beralih ke bahasa Inggris ketika tidak menemukan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, lalu meminta maaf sambil tertawa.

Aku lebih banyak mendengarkan. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada menyaksikan seseorang tumbuh jauh melampaui nasib yang pernah disiapkan oleh kemiskinan.

“Uncle,” katanya ketika kendaraan memasuki jalan menuju Manhattan.

“Ya?”

“Dulu Om bilang kita akan bertemu lagi setelah Imah menjadi sarjana.”

“Kamu masih ingat?”

“I remember everything.”

Ia tersenyum. “Now I am a lawyer. ”

Aku belai kepalanya ” I’m proud of you… so very proud” kataku dengan airmata berlinang.

Aku memandang gedung-gedung Manhattan yang mulai terlihat di kejauhan. Di balik cahaya kota itu, bayangan kamar kecil di belakang gudang kembali hadir dalam pikiranku. Aku melihat Atik dan teman-temannya tidur berdesakan di bawah ranjang, sementara aku belajar tentang angka dan pembukuan. Pada masa itu, kami semua terdampar di tempat yang salah. Namun Fatimah telah sampai di tempat yang bahkan tidak pernah berani dibayangkan oleh ibunya.

Melihatnya, aku merasa amanah Atik telah kutunaikan. Bukan karena aku yang membuat Fatimah berhasil. Tom dan Margaret memberinya keluarga. Para guru memberinya ilmu. Fatimah sendiri bekerja keras membuka setiap pintu kehidupannya. Aku hanya menjaga agar harapan Atik tidak terputus sebelum menemukan orang-orang yang tepat.

Dalam hati, aku berkata kepada sahabatku yang telah lama pergi:

Tik, anakmu baik-baik saja. Ia tumbuh menjadi perempuan yang cantik, cerdas, dan berani. Ia tidak lagi hidup di bawah ketakutan. Tidak ada Kopral yang memukulnya. Tidak ada kemiskinan yang merampas pilihannya. Ia dapat berdiri di atas kakinya sendiri dan menentukan masa depannya. Beristirahatlah dengan tenang. Amanahmu telah sampai.

Semoga Atik damai di alam baka.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca