
Sore itu kafe di bilangan Sudirman tidak terlalu ramai. Saya memilih meja di area merokok sambil membaca berita melalui telepon genggam. Sesekali pandangan saya beralih ke jalan di luar. Jakarta bergerak seperti biasa—tergesa-gesa, penuh suara, tetapi sering tidak mengetahui ke mana sebenarnya ia sedang menuju.
Seorang anak muda menghampiri meja saya. Namanya Burhan, seorang mahasiswa yang selama ini mengenal saya melalui tulisan-tulisan di blog. Beberapa kali ia meninggalkan komentar dan mengirim pertanyaan tentang bisnis, sains, serta ekonomi. Hari itu merupakan pertemuan pertama kami.
“Maaf, Pak,” katanya sambil tersenyum. “Saya Burhan. Boleh saya duduk?”
Saya mempersilahkannya. Setelah percakapan pembuka, ia langsung mengutarakan kegelisahannya. “Menurut Bapak, bisnis apa yang pasarnya besar?” tanyanya. “Saya bercita-cita menjadi pengusaha, tetapi bingung harus mulai dari mana.”
Saya tidak segera menjawab. Saya mengambil cangkir kopi, lalu menunjuk dinding kaca besar di hadapan kami. “Lihat kaca itu.”
Ia mengikuti arah telunjuk saya. “Ada apa dengan kaca itu?”
“Tanpa soda ash, sebagian besar kaca komersial seperti itu akan sulit dibuat secara ekonomis dengan kualitas yang dibutuhkan industri.”
“Soda ash?” Ia mengerutkan kening. “Apa itu?”
“Itulah masalah pertama kamu.”
“Maksud Bapak?”
“Kamu ingin mencari pasar besar, tetapi belum terbiasa memperhatikan benda-benda yang setiap hari berada di sekelilingmu. Kita lebih mengenal merek kopi, telepon genggam, mobil, dan pakaian daripada bahan dasar yang memungkinkan semua industri itu bekerja,” kata saya sambil tersenyum. “Ini soda ash, nama kimianya natrium karbonat.”
“Apa kegunaannya?”
“Penggunaan terbesarnya adalah industri kaca—kaca bangunan, botol, wadah, kaca otomotif, dan kaca khusus untuk panel surya. Soda ash juga dipakai dalam deterjen, bahan kimia, sodium silicate, pulp dan kertas, pengolahan air, metalurgi, serta berbagai proses industri lainnya.”
“Termasuk keramik?”
“Dalam beberapa formulasi badan keramik dan glasir, soda ash dapat dipakai sebagai sumber natrium atau pengatur sifat proses. Tetapi jangan mengatakan semua keramik pasti membutuhkannya. Dalam industri, ketepatan kalimat sama pentingnya dengan ketepatan angka.”
Ia tersenyum agak malu. “Jadi pasar soda ash sangat luas?”
“Luas, tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa pasar luas otomatis berarti bisnis yang mudah.”
Saya meletakkan telepon di atas meja. “Pernah membaca Madilog?”
“Tan Malaka?”
Saya mengangguk.
“Pernah mendengar, tetapi belum selesai membacanya.”
“Kalau ingin menjadi pengusaha, selesaikan. Bukan karena Tan Malaka mengajarkan cara berdagang, tetapi karena ia mengajarkan cara membaca kenyataan.”
Saya kembali menunjuk dinding kaca. “Dalam dimensi Madilog, kita mulai dari materialisme. Kita tidak memulai dari angan-angan tentang laba, melainkan dari benda yang benar-benar ada: kaca, deterjen, garam, batu kapur, energi, pabrik, pelabuhan, dan permintaan industri.”
Saya menulis kata pertama pada selembar tisu: MATERIALISME—APA BENDA DAN KEBUTUHAN NYATANYA?
“Soda ash sintetis dapat dibuat melalui proses Solvay,” lanjut saya. “Bahan utamanya larutan garam pekat atau brine dan batu kapur. Amonia membantu reaksi, tetapi sebagian besar dipulihkan dan digunakan kembali di dalam siklus proses. Jadi jangan menyederhanakannya menjadi sekadar mencampur air laut, batu kapur, dan amonia.”
“Bukankah air laut mengandung garam?”
“Benar, tetapi air laut biasa terlalu encer dan mengandung berbagai pengotor. Industri membutuhkan brine dengan konsentrasi dan kemurnian tertentu. Di situlah ilmu bekerja: pemurnian, karbonasi, presipitasi, filtrasi, kalsinasi, pemulihan amonia, pengendalian energi, serta pengelolaan produk samping.”
“Kelihatannya sederhana,” katanya.
“Semua persamaan kimia terlihat sederhana setelah ilmuwan menghabiskan puluhan tahun menemukan cara menjalankannya secara aman dan ekonomis.”
Ia tertawa. “Garam dan batu kapur murah, lalu berubah menjadi barang bernilai lebih tinggi.”
“Itulah hilirisasi yang sesungguhnya. Nilai tambah tidak muncul karena pidato atau perubahan nama kelembagaan. Nilai tambah lahir ketika ilmu pengetahuan, teknologi, energi, modal, dan manajemen mengubah bahan sederhana menjadi produk yang dibutuhkan pasar.”
Saya kemudian menulis kata kedua: DIALEKTIKA—PERUBAHAN APA YANG TERJADI DAN KONTRADIKSI APA YANG MUNCUL?
“Dalam dialektika, garam tidak kita lihat hanya sebagai garam. Melalui proses fisika dan kimia, sifat serta nilai ekonominya berubah. Namun setiap perubahan menciptakan persoalan baru.”
“Misalnya?”
“Proses sintetis membutuhkan panas dan energi dalam jumlah besar. Jika energinya mahal, biaya produksi naik. Jika berasal dari bahan bakar berkarbon tinggi, emisinya besar. Prosesnya juga menghasilkan kalsium klorida dan residu yang harus dikelola. Jadi bahan baku murah belum tentu menghasilkan produk murah.”
“Dialektika juga terlihat dalam struktur industri Indonesia,” lanjut saya. “Kita mempunyai garis pantai panjang, sumber garam, batu kapur, pasar kaca, deterjen, dan industri kimia. Namun sampai 2025 Indonesia masih mengimpor sekitar satu juta ton soda ash per tahun.”
Ia tampak terkejut. “Masih seratus persen impor?”
“Secara historis, kebutuhan komersial kita memang praktis dipenuhi impor. Tetapi kalimat itu harus diberi keterangan waktu. Pabrik soda ash pertama sedang dibangun di Bontang dan ditargetkan mulai beroperasi komersial pada akhir 2027. Kapasitas awalnya sekitar tiga ratus ribu ton per tahun. Jadi beberapa tahun lagi kita tidak boleh lagi mengatakan Indonesia seratus persen impor.”
“Berarti peluangnya mulai tertutup?”
“Tidak. Hadirnya pabrik justru dapat membuka ekosistem baru. Tetapi bentuk peluangnya berubah. Itulah dialektika, keadaan hari ini tidak boleh dianggap tetap.”
Ia memperhatikan tulisan di atas tisu. “Berapa harga soda ash sekarang?”
“Pada Juni 2026, salah satu rujukan harga menempatkan pasar Indonesia sekitar USD245 per ton. Dengan kurs sekitar Rp18.000 per dolar, nilainya kurang lebih Rp4,4 juta per ton. Setelah memperhitungkan mutu, kemasan, pelabuhan, penyimpanan, distribusi, serta persyaratan kontrak, harga yang diterima pembeli dapat berbeda.”
“Jadi sekitar lima juta rupiah per ton masih masuk akal?”
“Sebagai pembulatan harga domestik tertentu, mungkin. Tetapi dalam proposal bisnis, jangan menulis ‘sekitar lima juta’ tanpa menjelaskan apakah itu harga FOB, CIF, di pelabuhan, atau sampai gudang pembeli.”
Saya menambahkan kata ketiga: LOGIKA—APAKAH KESIMPULANNYA DIDUKUNG BUKTI?
“Kamu melihat Indonesia mengimpor satu juta ton dan harga sekitar USD245 per ton. Lalu kamu menyimpulkan nilai pasarnya kira-kira USD245 juta per tahun. Secara aritmetika benar,” kata saya.
“Bukankah itu berarti peluangnya besar?”
“Belum tentu. Kamu masih harus bertanya, berapa investasi pabriknya, siapa pemasok teknologi, berapa biaya energi, bagaimana kualitas garam, di mana batu kapurnya, bagaimana mengelola produk samping, siapa pembeli tetapnya, dan bagaimana menghadapi produsen berbasis trona yang mempunyai biaya serta jejak karbon lebih rendah.”
Ia terdiam. “Jadi data pasar belum cukup.”
“Data pasar hanyalah pintu masuk. Peluang bisnis baru ada apabila kamu mempunyai keunggulan dalam struktur biaya, teknologi, lokasi, kontrak, atau jaringan distribusi.”
“Permintaan global soda ash memang besar,” lanjut saya. “Namun angka yang lebih dapat dipertanggungjawabkan untuk 2025 berada di kisaran akhir enam puluhan juta ton, bukan hampir seratus juta ton. Jangan membesarkan angka hanya untuk membuat proposal terlihat menarik. Investor yang serius akan memeriksa sumbernya.”
“Kalau begitu, saya tidak mungkin membangun pabrik soda ash. Modalnya terlalu besar.”
“Siapa yang mengatakan kamu harus membangun pabrik utama?”
Ia memandang saya. “Bukankah kita sedang membicarakan bisnis soda ash?”
“Kamu masih berpikir bahwa memasuki sebuah industri berarti harus memiliki pabrik terbesar di tengah ekosistemnya. Itu cara berpikir yang membuat banyak orang tidak pernah memulai.”
Saya menulis beberapa kemungkinan usaha: pemurnian dan pengelolaan brine; pengangkutan serta pengolahan batu kapur; pergudangan dan distribusi bahan kimia; laboratorium pengujian mutu; jasa pemeliharaan peralatan; pengelolaan produk samping; produksi sodium silicate; pengumpulan dan daur ulang kaca; perangkat efisiensi energi; sistem pengolahan air dan limbah; pemasok kemasan serta jasa logistik khusus.
“Pabrik soda ash hanyalah pusat dari sebuah ekosistem,” kata saya. “Di sekelilingnya terdapat puluhan bisnis yang lebih kecil, lebih khusus, dan mungkin lebih cocok dengan kemampuan kamu.”
Matanya mulai berbinar.
“Jadi saya harus mencari bagian rantai nilai yang belum efisien?”
“Tepat. Jangan mengejar produk akhirnya. Petakan seluruh rantai nilainya. Dan di dalam setiap masalah yang dapat kamu selesaikan secara lebih murah, lebih cepat, lebih aman, atau lebih bersih, terdapat peluang bisnis.”
Burhan memandang dinding kaca, kemudian melihat cangkir kopi di tangannya. Benda-benda yang beberapa menit sebelumnya tampak biasa kini seolah mempunyai sejarah berbeda. Di balik kaca terdapat tambang batu kapur, kolam garam, tungku, reaktor, kapal, gudang, laboratorium, pembiayaan, dan ribuan pekerja.
“Ternyata kunci sukses itu sains dan kekayaan literasi,” katanya. “Bukan hanya perut diganjal makan bergizi, sementara otak dijejali TikTok dan YouTube.”
Saya tersenyum. “TikTok dan YouTube juga bukan musuh. Keduanya hanya alat. Masalahnya muncul ketika algoritma menentukan seluruh pengetahuanmu, sementara kamu kehilangan kesabaran membaca buku, memeriksa data, dan memahami proses.”
“Jadi tubuh membutuhkan gizi dan akal membutuhkan literasi?”
“Benar. Tetapi keduanya masih belum cukup.”
“Apa lagi?”
“Karakter. Kamu harus jujur kepada data, berani mengakui bahwa asumsi awalmu salah, dan disiplin membedakan fakta dari harapan.”
Saya menunjuk tiga kata yang telah ditulis di atas tisu. “Itulah Madilog, bertolak dari kenyataan, membaca perubahan dan pertentangannya, lalu menguji kesimpulan dengan bukti.”
Ia mengangguk perlahan. “Sekarang saya mengerti mengapa Bapak tidak langsung menjawab bisnis apa yang pasarnya besar.”
“Sebab pertanyaanmu sejak awal kurang tepat.”
“Apa pertanyaan yang seharusnya?”
Saya meneguk kopi yang mulai dingin. “Bukan ‘pasar apa yang paling besar’, melainkan ‘masalah nyata apa yang cukup saya pahami dan sanggup saya selesaikan lebih baik daripada orang lain’.”
Burhan melihat kembali rangkaian rantai nilai di atas tisu. Ia mengambil gambar tulisan tersebut dengan telepon genggamnya.
Ia bertanya, “Jadi peluang itu tidak perlu dikejar?”
“Peluang dibaca,” jawab saya. “Dan untuk membacanya, kamu memerlukan sains, data, keberanian, serta akal yang merdeka dari keinginan untuk cepat kaya.”
“Saya paham, Pak,” kata Burhan. “Saya juga mulai mengerti dari tulisan-tulisan Bapak mengapa sebuah bisnis dapat bertahan puluhan tahun, bahkan berkembang sampai ke Tiongkok. Rupanya cara berpikirnya berakar pada Madilog.”
“Madilog bukan resep untuk cepat kaya,” jawab saya. “Ia hanya melatih kita agar tidak membangun keputusan di atas khayalan. Dalam bisnis, kejernihan seperti itu sering lebih berharga daripada keberanian yang tidak terukur.”
Madilog dan Ekonomi
Beberapa waktu kemudian, Burhan menghubungi saya. Ia telah membaca Madilog dan ingin melanjutkan percakapan kami. Saya menyanggupinya. Kami bertemu di sebuah kedai kopi yang menghadap jalan besar Jakarta. Menjelang sore, langit berwarna kelabu. Kendaraan bergerak lambat seperti barisan panjang manusia yang pulang dari pekerjaan tanpa pernah benar-benar tahu apakah penghasilan bulan itu cukup untuk membawa keluarga mereka sampai ke bulan berikutnya.
Burhan sudah duduk di sudut ruangan ketika saya datang. Di atas meja terdapat dua cangkir kopi, beberapa buku kuliah, dan sebuah buku tua dengan sampul yang mulai terkelupas. Saya mengenalinya bahkan sebelum membaca judulnya: Madilog.
Berbeda dari pertemuan pertama, kali ini ia tidak datang hanya untuk mencari jawaban tentang bisnis yang menguntungkan. Catatan kecil memenuhi pinggir halaman bukunya. Ia tampak seperti mahasiswa yang baru menemukan bahwa ilmu bukan sekadar bahan ujian, melainkan cara untuk mempertanyakan dunia.
“Saya sedang belajar menjadi tidak mudah percaya,” katanya setelah kami berjabat tangan.
Saya menarik kursi di hadapannya. “Itu awal yang baik, asalkan keraguanmu juga diarahkan kepada pendapatmu sendiri.”
Burhan tertawa kecil. “Selama kuliah, saya terbiasa mencari jawaban yang paling aman untuk mendapat nilai. Setelah membaca Madilog, saya justru merasa harus belajar mengajukan pertanyaan yang benar.”
Ia menepuk pelan sampul Madilog. “Itulah sebabnya saya membaca Tan Malaka.”
“Untuk bekal menjadi pengusaha?”
“Untuk belajar merdeka berpikir,” jawabnya.
Kami tertawa. Pelayan datang membawa air mineral dan menambahkan kopi ke dalam cangkir saya. Dari kaca kedai terlihat seorang pengemudi ojek daring berteduh di bawah pohon. Ia masih mengenakan jas hujan meskipun hujan belum turun.
Burhan membuka halaman yang telah diberi tanda. “Menurut Bapak, apa yang paling penting dari Madilog?”
Saya tidak segera menjawab. Madilog—Materialisme, Dialektika, Logika—bukan buku ringan yang dapat diselesaikan dengan beberapa kutipan. Tan Malaka menulisnya ketika bangsa ini masih berada di bawah kolonialisme. Namun penjajahan yang ia lawan bukan hanya penjajahan atas tanah. Ia juga melawan penjajahan atas cara berpikir, kecenderungan menjelaskan kenyataan dengan takhayul, slogan, dan kepercayaan tanpa pembuktian.
“Keberanian untuk tunduk kepada kenyataan,” jawab saya akhirnya. “Bukan memaksa kenyataan tunduk kepada keinginan kita. Kerangka yang kita pakai untuk membaca soda ash itu juga dapat dipakai untuk membaca ekonomi, mulai dari fakta material, ikuti perubahan dan pertentangannya, lalu uji hubungan sebab-akibatnya.”
Burhan tersenyum. “Kalau begitu, kebijakan ekonomi kita seharusnya dibaca dengan Madilog.”
“Memang seharusnya begitu.”
Ia menutup buku tersebut, lalu bersandar. “Coba Bapak gunakan Madilog untuk menjelaskan itu secara sederhana.”
Saya memandang ke luar kaca. Seorang perempuan menjajakan tisu kepada pengendara yang berhenti di lampu merah. Di belakangnya berdiri gedung bank dengan layar digital besar yang menawarkan kredit hanya dalam beberapa sentuhan.
” Ada 4 aspek harus jadi prinsip. ” Saya mulai menjelaskan satu persatu secara sederhana.
Pertama. Belanja negara tidak boleh tumbuh tanpa ditopang pendapatan. Secara jangka menengah, pertumbuhan belanja APBN seharusnya lebih rendah daripada pertumbuhan pendapatan negara, atau setidaknya tidak terus-menerus melampaui pertumbuhan ekonomi nominal.

Jika berlangsung terus, semakin besar bagian penerimaan negara yang digunakan untuk membayar bunga dan pokok utang. Ruang untuk pendidikan, kesehatan, riset, dan pembangunan infrastruktur produktif menjadi semakin sempit.
Namun Madilog tidak melihat aturan ini secara kaku. Ketika terjadi krisis, perang, pandemi, atau kebutuhan pembangunan produktif, belanja negara boleh tumbuh lebih cepat daripada pendapatan. Syaratnya, pengeluaran tersebut harus menciptakan kapasitas ekonomi baru.

Masalahnya bukan semata-mata defisit, melainkan untuk apa defisit digunakan. Utang untuk membangun kemampuan produksi berbeda secara material dari utang untuk membiayai pemborosan, rente, atau proyek yang tidak menghasilkan arus ekonomi. Kebijakan fiskal menentukan fondasi ekonomi, untuk apa pajak dipungut, ke mana belanja diarahkan, industri apa yang dibangun, dan kelompok masyarakat mana yang memperoleh manfaat pembangunan.

Sementara itu, kebijakan moneter menjaga keseimbangan, inflasi, suku bunga, likuiditas, stabilitas perbankan, dan nilai tukar. Moneter dapat menyediakan likuiditas, tetapi tidak dapat sendirian menciptakan industri. Menurunkan suku bunga belum tentu meningkatkan produksi apabila dunia usaha tidak mempunyai kepastian hukum, teknologi, pasar, atau daya beli.

Tanpa fondasi fiskal yang sehat, moneter dipaksa terus-menerus menjadi pemadam kebakaran. Bank sentral harus menahan inflasi, menjaga kurs, dan menopang pasar keuangan akibat masalah yang sebenarnya berasal dari defisit struktural, ketergantungan impor, rendahnya produktivitas, atau buruknya kualitas belanja negara. Karena itu, fiskal seharusnya membangun rumah ekonomi, sedangkan moneter menjaga agar rumah tersebut tetap seimbang. Moneter tidak dapat terus menyangga bangunan yang fondasinya rapuh.
Kedua. Pertumbuhan ekonomi harus menjadi pertumbuhan bagi semua. Dalam pendekatan materialisme, pertumbuhan tidak cukup dibuktikan hanya dengan kenaikan PDB. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang menikmati pertumbuhan itu? Ekonomi dapat tumbuh sementara kekayaan hanya terkonsentrasi pada segelintir orang. Harga saham dan properti dapat meningkat, tetapi upah riil stagnan. Investasi dapat bertambah, tetapi lapangan kerja berkualitas justru menyusut.
Karena itu, pertumbuhan harus diuji melalui kenyataan material. Apakah pendapatan riil rakyat meningkat? Apakah kesempatan kerja bertambah? Apakah pendidikan dan kesehatan semakin terjangkau? Apakah UMKM naik kelas? Apakah ketimpangan kekayaan berkurang? Apakah anak dari keluarga miskin memiliki mobilitas sosial? Pertumbuhan yang hanya memperbesar kekayaan kelompok atas akan melahirkan kontradiksi:

Pertumbuhan bagi semua bukan sekadar tuntutan moral. Ia merupakan syarat keberlanjutan ekonomi. Ketika pendapatan tersebar lebih luas, konsumsi menjadi kuat, tabungan meningkat, basis pajak meluas, dan ekonomi tidak terlalu bergantung pada utang serta spekulasi aset.
Ketiga. Sumber daya alam harus diubah menjadi pengetahuan. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui akan habis ketika dieksploitasi. Namun nilainya dapat diperpanjang apabila hasilnya diubah menjadi pengetahuan, teknologi, industri, dan kualitas manusia.

Negara yang hanya mengekspor bahan mentah sebenarnya sedang menukar kekayaan yang terbatas dengan pendapatan sesaat. Setelah tambang habis atau hutan rusak, yang tertinggal dapat berupa lubang, limbah, konflik tanah, dan masyarakat yang tetap miskin. Sebaliknya, pendapatan SDA harus ditransformasikan menjadi aset yang tidak ikut habis berupa pendidikan dan riset; teknologi pengolahan; industri hilir; infrastruktur; dana antargenerasi; modal bagi usaha produktif; kemampuan nasional menghasilkan produk bernilai tambah.
Dalam kerangka Madilog, kekayaan sejati bukanlah apa yang berada di bawah tanah. Kekayaan sejati adalah pengetahuan manusia untuk mengolahnya. Minyak, gas, nikel, batu bara, dan kelapa sawit hanya menjadi kemakmuran apabila dikuasai melalui sains, teknologi, organisasi, serta tata kelola yang transparan. SDA yang habis harus meninggalkan manusia yang lebih cerdas dan industri yang lebih kuat. Jika tidak, eksploitasi hanya memindahkan kekayaan alam kepada pemilik modal dan rente politik.
Keempat. Uang bukan segala-galanya, tetapi tanpa uang banyak hal tidak dapat diwujudkan. Uang bukan tujuan hidup. Ia tidak otomatis melahirkan cinta, kehormatan, pengetahuan, atau kebahagiaan. Namun dalam kehidupan material, hampir semua kebutuhan membutuhkan uang: makanan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan modal usaha. Karena itu, uang memiliki dua wajah. Secara material, uang adalah alat untuk menggerakkan sumber daya. Secara sosial, uang adalah kepercayaan. Secara moral, nilainya ditentukan oleh cara memperoleh dan menggunakannya.

Tanpa uang, gagasan sulit diwujudkan. Tetapi tanpa pengetahuan dan moralitas, uang hanya memperbesar kesalahan. Oleh karena itu, negara tidak cukup mencetak atau meminjam uang. Negara harus memastikan bahwa uang mengalir menuju kegiatan produktif, bukan hanya berputar dalam spekulasi aset, rente, dan konsumsi elite.

Negara tidak menjadi kuat hanya karena APBN-nya besar, cadangan mineralnya melimpah, atau uang beredar semakin banyak. Negara menjadi kuat apabila anggaran diubah menjadi kemampuan produksi, sumber daya alam diubah menjadi pengetahuan, dan pertumbuhan diubah menjadi kesejahteraan bersama.
Saya tatap Burhan. ” Itulah cara bermadilog dalam ekonomi yaitu berpijak pada kenyataan material, memahami pertentangan yang terjadi, dan menggunakan logika untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar bermuara pada kehidupan rakyat—bukan sekadar memperindah statistik atau memperkaya segelintir elite.
Burhan tersenyum. Kami kemudian berjalan menembus hujan, meninggalkan dua cangkir kopi dan selembar tisu penuh angka di atas meja. Di luar, kota menyala oleh lampu-lampu bank, pusat perbelanjaan, dan gedung pemerintahan. Uang berputar di antara semuanya, tetapi tidak pernah mengalir dengan kecepatan yang sama kepada setiap manusia.
Mungkinkah Burhan akan memahami inti Madilog, bahwa bangsa tidak menjadi merdeka hanya karena mampu mencetak uang dan menyusun anggaran. Bangsa menjadi merdeka ketika kebijakan dibuat berdasarkan kenyataan, diuji melalui pertentangan akibatnya, dan dipertanggungjawabkan dengan logika—agar uang negara tidak berhenti sebagai angka, tetapi berubah menjadi martabat bagi rakyatnya.
Gubernur BI mengundurkan diri.
Empat bulan berlalu sejak pertemuan terakhir saya dengan Burhan. Musim telah berganti, tetapi Jakarta tetap mempunyai cara sendiri menyamarkan perubahan. Gedung-gedung masih berdiri di tempat yang sama. Kendaraan masih memenuhi jalan. Kedai kopi tempat kami dahulu membicarakan Tan Malaka masih ramai oleh orang-orang yang menatap layar telepon sambil mengeluhkan keadaan negara.
Namun sore itu Burhan tidak membawa Madilog. Ia datang dengan selembar koran yang dilipat di bawah lengannya. Begitu duduk, ia meletakkan koran itu di atas meja dan menunjuk sebuah berita pada halaman depan. “Mengapa sampai Gubernur Bank Indonesia mengundurkan diri?” tanyanya. “Padahal masa jabatannya masih sekitar dua tahun lagi.”
Saya membaca sekilas judul berita itu. Bank Indonesia telah mengumumkan bahwa Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela karena alasan pribadi. Deputi Gubernur Senior kemudian ditetapkan sebagai pejabat sementara.
Saya melipat kembali koran tersebut. “Saya tidak mau berspekulasi mengenai alasan dia mundur.”
Burhan menatap saya. “Bapak tidak curiga?”
“Curiga bukan data. Dugaan bukan kesimpulan. Kalau kita membicarakan Madilog, kita tidak boleh meninggalkannya ketika berhadapan dengan berita politik.”
“Jadi kita menerima begitu saja alasan pribadi itu?”
“Kita terima sebagai keterangan resmi. Selebihnya, kita katakan belum tahu. Mengisi ruang kosong dengan imajinasi mungkin menarik untuk percakapan warung kopi, tetapi tidak berguna untuk memahami keadaan negara.”
Burhan bersandar. Ia tampak kurang puas, tetapi tidak membantah.
“Saya lebih tertarik membahas kerumitan keadaan moneter yang ditinggalkannya,” lanjut saya. “Bank sentral harus menghadapi tekanan global, sementara kebijakan fiskal tidak mampu ber-Madilog. Politik kekuasaan terlalu dominan. Keinginan mendahului kemampuan, slogan mendahului angka, dan anggaran diperlakukan sebagai alat mempertahankan dukungan.”
Pelayan datang membawa kopi. Burhan menunggu sampai pelayan menjauh sebelum kembali berbicara.
“Maksudmu gubernur bank sentral mana pun akan menghadapi masalah yang sama?”
“Ya. Kita terlalu suka mempersonalisasi masalah struktural, seolah-olah semua selesai jika orangnya diganti. Padahal siapa pun yang duduk di kursi Gubernur Bank Indonesia harus menghadapi persamaan yang sama: rupiah melemah, arus modal mudah berubah, transaksi berjalan defisit, kebutuhan pembiayaan APBN meningkat, sementara kedalaman sistem keuangan domestik masih rendah.”
Saya mengambil pulpen, tetapi tidak menemukan tisu kosong seperti pada pertemuan sebelumnya. Burhan mendorong bagian belakang koran ke arah saya.
“Bukankah koordinasi fiskal dan moneter dapat menyelesaikannya?”
“Koordinasi diperlukan. Tetapi koordinasi tidak boleh berarti bank sentral menyerahkan independensinya untuk membiayai keinginan politik.”
“Di mana batasnya?”
“Ketika kebijakan moneter tidak lagi dibuat berdasarkan stabilitas harga, nilai tukar, dan sistem keuangan, melainkan berdasarkan kebutuhan pemerintah mendapatkan pembiayaan murah, kita memasuki risiko dominasi fiskal.”
Burhan terdiam.

Saya melanjutkan, “Dominasi fiskal bukan hanya ketika bank sentral mencetak uang untuk pemerintah. Ia juga dapat muncul secara halus berupa tekanan agar bunga diturunkan meskipun rupiah rapuh, dorongan menyerap surat utang, perubahan aturan demi memperbesar ruang pembiayaan, atau penggunaan cadangan institusi publik untuk menopang program yang secara fiskal tidak layak.”
“Jadi, menurut Bapak, fiskal kehilangan Madilog ketika keputusan dimulai dari keinginan politik, bukan kemampuan material?”
“Tepat.”
” BI mengundurkan diri bukan karena gagal menjaga kurs kuat?
“ Undang-undang tidak menugaskan Bank Indonesia membuat rupiah terus menguat terhadap dolar. Mandat BI adalah mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Stabilitas nilai rupiah mencakup kestabilan harga barang dan jasa serta kestabilan nilai tukarnya.
Jadi, stabil bukan berarti kurs harus selalu menguat. Rupiah dapat melemah atau menguat mengikuti perubahan fundamental ekonomi. Yang harus dicegah adalah pergerakan terlalu cepat, kepanikan pasar, kekeringan likuiditas, dan penyimpangan yang terlalu jauh dari fundamental.”
Dalam kerangka Madilog, kurs tidak boleh dibaca sebagai angka yang berdiri sendiri. Nilai tukar merupakan harga rupiah terhadap mata uang lain. Karena itu, ia dibentuk oleh permintaan dan penawaran valuta asing yang bersumber dari kegiatan ekonomi nyata.

Pasar akan membaca: defisit dan kualitas belanja APBN; penerimaan pajak; kebutuhan pembiayaan utang; beban bunga dan utang jatuh tempo; inflasi; neraca perdagangan dan transaksi berjalan; posisi investasi internasional; cadangan devisa; pertumbuhan kredit dan produktivitas; selisih suku bunga dengan negara lain; risiko global dan kekuatan dolar AS.
Karena itu, penguatan kurs bukan semata-mata hasil kerja Bank Indonesia. Jika penerimaan negara menguat, defisit terkendali, utang dipakai secara produktif, ekspor bernilai tambah meningkat, dan kepercayaan pasar membaik, permintaan terhadap rupiah akan tumbuh secara alamiah.

BI dapat menahan gejolak untuk sementara, tetapi tidak dapat mengubah kelemahan fiskal menjadi kekuatan fundamental secara permanen.
Fiskal dan moneter bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya berhubungan secara dialektis. Fiskal bekerja langsung pada sisi material ekonomi: pajak, belanja, subsidi, infrastruktur, pendidikan, teknologi, dan pembiayaan utang. Moneter menjaga keseimbangannya melalui suku bunga, likuiditas, pengendalian inflasi, stabilitas sistem keuangan, dan stabilisasi nilai tukar.

Namun hubungan itu tidak boleh dibalik. Bank sentral bukan pabrik yang memproduksi kurs kuat. BI juga tidak dapat secara permanen menetapkan nilai rupiah yang bertentangan dengan keadaan ekonomi. Jika pemerintah menjalankan fiskal ekspansif yang tidak produktif, kebutuhan utang meningkat. Imbal hasil SBN harus dijaga menarik, likuiditas harus tersedia, dan kurs harus dilindungi dari tekanan. Akhirnya, kebijakan moneter ikut menanggung konsekuensi keputusan fiskal. Di sinilah risiko dominasi fiskal muncul:

Bank sentral menghadapi dilema. Bila suku bunga dinaikkan, rupiah dan arus modal mungkin lebih terjaga, tetapi biaya utang pemerintah serta kredit sektor riil meningkat. Jika suku bunga ditahan terlalu rendah, biaya fiskal lebih ringan, tetapi rupiah dan inflasi dapat menghadapi tekanan.
Cara paling jernih membaca pergerakan kurs adalah memisahkannya menjadi tiga lapisan.

Lapisan pertama: fundamental. Fundamental menentukan arah dan kisaran keseimbangan kurs dalam jangka menengah dan panjang.
Lapisan kedua: reaksi pasar. Pasar tidak selalu bergerak persis sesuai fundamental. Pelaku pasar dapat bereaksi berlebihan karena kepanikan, spekulasi, kebutuhan likuiditas, perubahan suku bunga global, perang, atau perpindahan modal secara serentak.
Lapisan ketiga: intervensi BI. Ketika pergerakan pasar menjadi tidak teratur, terlalu cepat, atau menjauh dari fundamental, BI melakukan stabilisasi. Instrumennya mencakup intervensi NDF di pasar luar negeri, transaksi spot dan DNDF di dalam negeri, operasi moneter rupiah dan valas, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Intervensi tersebut tidak dimaksudkan untuk menciptakan kurs kuat secara artifisial. Tujuannya menjaga mekanisme pasar tetap bekerja secara tertib dan memastikan rupiah bergerak sejalan dengan fundamental.
” Pernyataan bahwa rupiah menguat semata-mata karena keberhasilan BI harus diperiksa secara logis. Penguatan yang berkelanjutan biasanya merupakan hasil perbaikan fundamental: fiskal yang kredibel, inflasi terkendali, neraca pembayaran membaik, produktivitas meningkat, serta kepercayaan pasar yang lebih kuat. Peran BI hanya menjaga agar proses pembentukan harga rupiah tidak dirusak oleh kepanikan, spekulasi berlebihan, dan kekeringan likuiditas. ” Burhan menyimpulkan.

” Karena itu, jangan membalik hubungan sebab-akibat. BI dapat meredam gelombang, tetapi tidak menciptakan kedalaman laut. Jika fundamental fiskal rapuh, cadangan devisa dan suku bunga hanya dapat membeli waktu. Kurs yang benar-benar kuat tidak lahir dari intervensi setiap hari, melainkan dari negara yang produktif, penerimaan yang kuat, utang yang terkendali, dan kepercayaan yang terpelihara.” kata saya tersenyum. “Kamu mulai harus siap berpikir sebagai pengusaha.”
Di luar kedai, layar besar pada gedung seberang menampilkan berita tentang pergantian kepemimpinan Bank Indonesia. Foto gubernur lama berganti dengan wajah pejabat sementara. Orang-orang di trotoar tidak banyak memperhatikannya. Mereka lebih sibuk menghindari hujan dan mencari kendaraan untuk pulang.
“Kasihan juga siapa pun yang menggantikannya,” kata Burhan.
“Mengapa?”
“Dia harus menjaga rupiah dengan cadangan devisa yang terbatas, menjaga pertumbuhan dengan bunga yang tidak bisa terlalu rendah, dan menjaga bank tetap sehat ketika pemerintah membutuhkan semakin banyak pembiayaan.”
Saya mengangguk. “Lebih berat lagi, dia harus bekerja di tengah politik yang menganggap setiap batas ekonomi sebagai bentuk ketidakloyalan.”
Burhan menatap saya. “Apakah Bapak sedang mengatakan pengunduran diri itu berkaitan dengan tekanan politik?”
“Saya sudah bilang, saya tidak mau berspekulasi.”
“Namun Bapak juga mengatakan politik kekuasaan terlalu dominan.”
“Itu penilaian terhadap sistem, bukan tuduhan mengenai alasan seseorang mundur. Madilog mengajarkan kita membedakan fakta, analisis, dan dugaan. Ketiganya tidak boleh dicampur hanya karena kita ingin sebuah cerita terdengar meyakinkan.”
Hujan mulai turun. Burhan melipat koran yang telah penuh oleh angka dan diagram, lalu memasukkannya ke dalam tas. Empat bulan sebelumnya kami berbicara tentang uang yang tidak cukup dalam membiayai produksi. Kini kami berbicara tentang negara yang harus membayar semakin banyak kewajiban dengan kolam uang domestik yang masih dangkal.
Sebelum meninggalkan kedai, Burhan berhenti di depan pintu. “Sekarang saya mengerti,” katanya. “Masalah moneter bukan hanya berapa banyak uang beredar.”
“Lalu?”
“Masalahnya adalah apakah negara masih mampu membedakan uang dari kekayaan, utang dari pendapatan, dan kekuasaan dari kemampuan.”
Saya tersenyum.
“Itulah Madilog.”
Kami berjalan keluar. Di atas kota, hujan jatuh tanpa memilih atap rumah orang kaya atau orang miskin. Namun akibat kebijakan tidak pernah terbagi seadil hujan. Orang kaya dapat memindahkan uangnya ke dolar, emas, atau luar negeri. Orang miskin menghadapi pelemahan rupiah melalui harga beras, ongkos kendaraan, cicilan, dan berkurangnya lapangan kerja.
Negara dapat menyebut defisit sebagai terkendali. Bank sentral dapat menyebut neraca pembayaran tetap terjaga. Pasar dapat menyebut rupiah sedang mencari keseimbangan baru. Semua istilah itu mungkin benar menurut ukuran masing-masing. Namun Madilog memaksa kami mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana: di balik setiap istilah, kenyataan material siapa yang sedang dikorbankan?
Sebab krisis tidak selalu dimulai ketika cadangan devisa habis atau bank-bank berhenti beroperasi. Krisis sering dimulai jauh sebelumnya—ketika kekuasaan tidak lagi bersedia diuji oleh data, ketika anggaran kehilangan hubungan dengan produktivitas, dan ketika logika dianggap sebagai hambatan bagi kehendak politik.
Hidup Berakal, Mati Beriman
Presiden pernah mengatakan bahwa ilmu ekonomi itu tidak sulit. Dalam batas tertentu, pernyataan tersebut benar. Bahkan sesungguhnya tidak ada ilmu di dunia ini yang tidak bisa dipelajari. Kesulitan terbesar justru muncul ketika manusia tidak lagi bebas menggunakan akalnya. Pengetahuan dapat dipelajari, tetapi kejernihan berpikir memerlukan keberanian. Sebelum berhadapan dengan angka dan kenyataan, manusia sering kali telah dikalahkan oleh perasaan subjektif.
Karena itu, tidak semua orang terpelajar otomatis menjadi orang yang berakal. Gelar akademis dapat membuktikan bahwa seseorang pernah menjalani pendidikan, tetapi tidak menjamin bahwa ia bersedia menerima kenyataan yang bertentangan dengan keinginannya. Seseorang dapat menguasai teori ekonomi, tetapi tetap menolak data ketika data tersebut mengganggu kepentingan politiknya. Ia dapat berbicara tentang pertumbuhan, tetapi tidak mau bertanya siapa yang menikmati pertumbuhan itu. Ia dapat membanggakan besarnya anggaran, tetapi menghindari pertanyaan tentang produktivitas, sumber pembiayaan, dan beban yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di sinilah Madilog memperoleh relevansinya. Tan Malaka tidak menulis Madilog hanya sebagai kumpulan teori mengenai materialisme, dialektika, dan logika. Ia sedang menawarkan disiplin berpikir kepada sebuah bangsa yang terlalu lama hidup di bawah kekuasaan kolonial, feodalisme, takhayul, serta kepatuhan kepada otoritas.
Dalam Bab VII, Tan Malaka menulis, “Madilog ialah cara berpikir… buat mencari akibat, yang berdiri atas bukti yang cukup banyaknya.” Kalimat tersebut mengandung prinsip yang sederhana sekaligus berat bahwa sebuah kesimpulan harus berdiri di atas bukti. Ia tidak boleh dibangun hanya dari prasangka, keinginan, rasa takut, atau perintah penguasa.
Percakapan kami tentang soda ash, kredit, M2, neraca pembayaran, dan APBN menunjukkan cara kerja disiplin itu. Kenyataan material harus diperiksa terlebih dahulu; perubahan dan pertentangan akibat kebijakan harus diikuti; lalu hubungan sebab-akibatnya diuji. Dengan cara itu, target politik tidak dibiarkan memaksa angka untuk membenarkannya, dan keberhasilan tidak diukur hanya dari uang yang telah dibelanjakan.
Tan Malaka menghendaki pikiran yang tidak mudah ditundukkan oleh slogan. Dalam Bab I Madilog, ia menekankan perlunya memakai “pikiran yang jernih, hati berani dan jujur.” Tiga hal itu tidak dapat dipisahkan. Pikiran tanpa keberanian akan tunduk kepada kekuasaan. Keberanian tanpa kejujuran berubah menjadi fanatisme. Kejujuran tanpa kejernihan dapat tersesat oleh niat baik yang tidak memahami akibat.
Akal yang Dikalahkan Perasaan
Perasaan bukanlah musuh manusia. Tanpa perasaan, ilmu akan kehilangan kemanusiaan. Namun perasaan tidak boleh mengambil alih pekerjaan akal. Masalah muncul ketika rasa cinta kepada pemimpin membuat seseorang menolak fakta; ketika kebanggaan terhadap kelompok membuat kritik dianggap sebagai pengkhianatan; atau ketika ketakutan kehilangan jabatan membuat seorang terpelajar membenarkan keputusan yang diketahuinya keliru.
Pada saat itulah pengetahuan berhenti menjadi cahaya. Ia berubah menjadi alat pembenaran. Orang seperti itu mungkin tetap pandai berbicara. Ia dapat menyusun presentasi, mengutip teori, dan memenuhi pidatonya dengan istilah akademis. Namun akalnya tidak lagi bekerja mencari kebenaran. Akalnya hanya bekerja mencari alasan untuk membela kesimpulan yang telah ditetapkan oleh perasaan dan kepentingannya. Ia gagal ber-Madilog.
Kegagalan ber-Madilog bukan sekadar kesalahan intelektual. Dalam kebijakan publik, kesalahan berpikir mempunyai korban nyata. Angka yang dimanipulasi dapat berubah menjadi kemiskinan. Proyek yang dibangun tanpa perhitungan dapat menjadi utang. Kredit yang diarahkan kepada spekulasi dapat menciptakan gelembung. Defisit yang tidak meningkatkan produktivitas dapat menjadi pajak bagi anak-anak yang bahkan belum lahir. Kekeliruan seorang individu mungkin hanya merugikan dirinya. Namun kekeliruan orang berkuasa dapat mengubah nasib jutaan manusia.
Madilog sebagai Obor
Tan Malaka pada dasarnya mengajak bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berakal. Bukan bangsa yang kehilangan iman, tradisi, atau rasa kemanusiaannya, melainkan bangsa yang berani memeriksa kenyataan sebelum mengambil keputusan.
Madilog dapat diibaratkan sebagai obor di tengah kegelapan. Obor tidak memindahkan kita secara otomatis menuju tujuan. Ia menerangi jalan agar kita mengetahui di mana sedang berdiri, ke mana harus melangkah, dan jurang mana yang harus dihindari.
Namun obor itu tetap harus dipegang oleh manusia yang jujur. Pengetahuan tidak akan menyelamatkan bangsa apabila digunakan untuk melayani kekuasaan. Data tidak akan menghasilkan kebijakan yang benar apabila kesimpulannya sudah ditentukan sebelum penelitian dimulai. Pendidikan tidak akan mencerdaskan kehidupan bangsa apabila hanya melahirkan manusia yang pandai menyesuaikan diri dengan kehendak penguasa.
Akal dan Iman
Dalam Islam, akal bukan lawan dari iman. Akal merupakan amanah yang memungkinkan manusia membaca tanda-tanda Tuhan, membedakan yang benar dari yang semu, dan mempertimbangkan akibat dari perbuatannya.
Iman tanpa penggunaan akal mudah berubah menjadi kepatuhan buta. Sebaliknya, akal tanpa tujuan moral dapat berubah menjadi alat keserakahan. Ilmu dapat menciptakan obat, tetapi juga senjata. Ilmu ekonomi dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan, tetapi dapat pula dipakai untuk menyusun rente yang menguntungkan segelintir orang.
Karena itu, akal dan iman harus berjalan bersama. Akal menerangi jalan; iman menentukan tujuan. Akal bertanya apakah kebijakan itu masuk akal; iman bertanya apakah kebijakan itu adil. Akal menghitung manfaat dan biaya; iman mengingatkan bahwa di balik setiap angka terdapat manusia.
Apabila bangsa Indonesia mampu ber-Madilog, pengetahuan tidak akan berhenti pada kemampuan menghafal teori. Ia akan membentuk manusia yang berani memeriksa fakta, menerima kritik, mengakui kesalahan, dan mengubah keputusan ketika kenyataan membuktikan bahwa jalan yang ditempuh keliru.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar melahirkan manusia pandai. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang merdeka dari ketakutan, fanatisme, dan kepentingan sempit—manusia yang menggunakan pengetahuannya untuk menjaga kehidupan dan martabat sesamanya. Dengan cara itulah pengetahuan memperoleh makna tertingginya: mencerdaskan manusia untuk hidup berakal dan menuntunnya pulang dalam keadaan beriman.

Tinggalkan komentar