Sang Penguasa gagal paham…

Anggaran untuk Kekuasaan

Lapangan utama San Aurelio dipenuhi ribuan orang. Di atas panggung, Presiden Alejandro Robles berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan anak-anak sekolah sedang menyantap makan siang. Kamera televisi menyorot wajah para ibu, pekerja miskin, dan murid-murid yang mengangkat kotak makanan bergambar lambang negara.

“Tidak boleh ada satu pun anak Santa Esperanza belajar dalam keadaan lapar!” seru Robles.

Tepuk tangan meledak.

Program itu dinamakan Mesa para el Pueblo—Meja Makan untuk Rakyat. Secara resmi, program tersebut bertujuan memperbaiki gizi anak, menekan kemiskinan, dan memperluas perlindungan sosial. Namun bagi Robles, program itu memiliki nilai politik yang lebih besar. Ia tahu rakyat miskin mungkin tidak mengingat rasio utang, pertumbuhan produktivitas, atau angka investasi. Tetapi mereka akan mengingat siapa yang mengirim makanan ke sekolah, siapa yang membangun dapur umum, dan wajah siapa yang terpampang pada kendaraan distribusi.

Karena itu, program tersebut dirancang bukan hanya sebagai kebijakan sosial, melainkan juga sebagai jaringan kekuasaan. Pengadaan bahan pangan diberikan kepada perusahaan yang dekat dengan elite partai. Pembangunan dapur umum dikerjakan oleh kontraktor yang berafiliasi dengan koalisi pemerintah. Distribusi di daerah dipercayakan kepada organisasi sosial dan koperasi yang baru dibentuk menjelang pemilu. Polisi dan militer kemudian dilibatkan sebagai satuan tugas.

Secara resmi, mereka bertugas menjaga gudang, mengawal distribusi, dan mencegah kebocoran. Namun kehadiran aparat membuat program itu menjangkau desa, sekolah, pasar, dan rumah-rumah rakyat miskin dengan disiplin politik yang sulit ditandingi partai oposisi. Setiap bantuan membawa lambang pemerintah. Setiap pembagian makanan didahului pidato pejabat. Setiap kepala daerah mengetahui bahwa keberhasilan program akan dinilai langsung oleh istana. Robles percaya dengan cara itu, APBN dapat diubah menjadi mesin elektoral. Ia tidak hanya sedang memberi makan rakyat. Ia sedang membangun ingatan politik.

Malam setelah peluncuran program, sebuah pertemuan tertutup berlangsung di ruang privat Salón Bolívar, Club República, sebuah klub tua di kawasan diplomatik San Aurelio. Dinding ruangan dilapisi kayu gelap. Lukisan para mantan presiden tergantung di antara rak-rak buku. Dari jendela lantai dua terlihat gedung parlemen dan kubah bank sentral di kejauhan.

Tiga orang duduk mengelilingi meja bundar. Dr. Mateo Salazar, ekonom senior dan mantan anggota dewan gubernur bank sentral.

Lucía Valdés, bendahara Partai Kesatuan Nasional. Dan Esteban Rojas, ketua Komisi Anggaran Parlemen serta tokoh penting dalam koalisi Robles. Di atas meja terbuka dokumen anggaran negara.

Mateo menunjuk satu angka. “Dengan seluruh program baru ini, defisit fiskal akan melewati enam persen dari produk domestik bruto.”

Lucía bersandar. “Presiden sudah mengetahui angkanya.”

“Mengetahui angka tidak sama dengan memahami mekanismenya,” jawab Mateo.

Esteban memandangnya. “Jelaskan dengan bahasa yang sederhana.”

Mateo mengambil selembar kertas. “Negara memperoleh pendapatan terutama dari pajak. Bila belanja lebih besar daripada pendapatan, selisihnya disebut defisit.”

Ia menulis: Pendapatan < Belanja = Defisit

“Kekurangan itu harus ditutup dengan utang.”

Lucía mengangguk. “Utang tidak selalu buruk.”

“Benar,” kata Mateo. “Utang dapat menjadi produktif bila dipakai untuk membangun pelabuhan, pembangkit, irigasi, industri, atau infrastruktur yang meningkatkan kapasitas ekonomi.”

Ia menunjuk anggaran program makan gratis. “Masalahnya, belanja ini bersifat berulang. Makanan harus disediakan setiap hari. Gaji petugas, sewa gudang, kendaraan, dan biaya distribusi harus dibayar terus-menerus.”

“Rakyat tetap harus makan,” kata Lucía.

“Tidak ada yang menyangkal itu. Tetapi program permanen membutuhkan sumber pendapatan permanen.”

Mateo membuka halaman berikutnya. “Tambahan belanja program mencapai empat puluh miliar peso. Tambahan penerimaan pajak hanya delapan miliar. Sisanya dibiayai melalui utang.”

“Kalau ekonomi tumbuh, pajak akan meningkat,” kata Esteban.

“Pertumbuhan ekonomi kita hanya sekitar 5 persen. Sementara bunga utang baru mendekati 8 persen.” Mateo menggambar sebuah ember. “Bayangkan penerimaan pajak adalah air yang masuk ke ember. Bunga utang adalah lubang di dasarnya. Semakin besar utang, semakin besar pula air yang keluar sebelum dapat digunakan untuk pendidikan, kesehatan, atau investasi.”

Lucía memandangi gambar itu. “Kita masih dapat menerbitkan obligasi.”

“Bisa. Tetapi semakin besar defisit, semakin tinggi risiko yang dilihat investor. Mereka akan meminta bunga lebih tinggi.”

“Bank sentral dapat membeli obligasi pemerintah.”

Mateo menatapnya. “Itulah awal dari dominasi fiskal.”

Esteban mengerutkan kening. “Apa maksudnya?”

“Dominasi fiskal terjadi ketika bank sentral tidak lagi bebas menjalankan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dan nilai tukar. Kebijakannya mulai ditentukan oleh kebutuhan pemerintah membiayai utang.”

Mateo melanjutkan. “Seharusnya bank sentral menaikkan suku bunga ketika inflasi dan tekanan kurs meningkat. Tetapi bila utang pemerintah terlalu besar, kenaikan bunga akan membuat beban APBN melonjak.”

“Jadi bank sentral menjadi ragu menaikkan bunga,” kata Esteban.

“Atau menaikkannya terlalu lambat. Atau justru membeli obligasi pemerintah untuk menjaga biaya utang tetap rendah.”

“Apa akibatnya?”

“Uang beredar bertambah, inflasi naik, kurs melemah, dan investor keluar. Ketika kurs melemah, biaya impor energi, pangan, dan obat-obatan meningkat. Pemerintah lalu menambah subsidi. Defisit kembali membesar.”

Mateo menggambar sebuah lingkaran: Defisit Utang Tekanan pada Bank Sentral Inflasi dan Pelemahan Kurs Subsidi Membesar Defisit Baru.

“Ini bukan masalah satu tahun,” katanya. “Ini lingkaran yang semakin sulit diputus.”

Lucía menutup salah satu dokumen. “Secara politik, program ini tidak mungkin dihentikan.”

“Karena rakyat membutuhkannya?”

“Bukan hanya itu.”

Lucía menatap mereka satu per satu. “Pengurus partai memperoleh peran dalam distribusi. Kepala daerah mendapat proyek. Polisi dan militer menerima anggaran baru. Kalau program dipangkas, pemerintah kehilangan lebih dari sekadar popularitas.”

Mateo tersenyum getir. “Berarti program sosial ini telah berubah menjadi infrastruktur kekuasaan.”

Esteban menyela. “Politik memang membutuhkan biaya.”

“Dan ekonomi selalu mengirim tagihan,” jawab Mateo. Ia lalu menjelaskan masalah berikutnya. “Ketika pemerintah terlalu banyak meminjam dari pasar domestik, bank akan lebih memilih membeli obligasi negara daripada menyalurkan kredit kepada industri.”

“Karena obligasi negara lebih aman,” kata Esteban.

“Benar. Akibatnya, kredit bagi perusahaan menjadi lebih mahal dan lebih sulit. Investasi swasta tertunda. Pabrik tidak berekspansi. Lapangan kerja baru tidak tercipta.”

Mateo menatap Lucía. “Negara memberi makanan hari ini, tetapi pada saat yang sama dapat melemahkan kemampuan rakyat memperoleh pekerjaan untuk membeli makanannya sendiri pada masa depan.”

Lucía terdiam. “Jadi program ini harus dihentikan?” tanyanya.

“Tidak. Program sosial tetap diperlukan. Tetapi penerimanya harus tepat sasaran, pengadaannya transparan, dan pembiayaannya berkelanjutan.”

“Apa yang harus dipangkas?”

“Kontrak politik, biaya distribusi yang berlebihan, duplikasi penerima, serta keterlibatan aparat yang tidak berhubungan langsung dengan pelayanan sosial.”

Esteban tertawa pendek. “Kamu meminta presiden membongkar mesin yang akan memenangkan pemilu untuknya.”

Mateo menutup dokumen. “Saya meminta presiden membedakan antara kebijakan sosial dan pembelian loyalitas.”

Di luar jendela, hujan mulai turun. Lucía berdiri dan memandang gedung parlemen. “Presiden percaya kalau ia kalah, seluruh program rakyat akan dihentikan.”

Mateo mengambil mantelnya. “Semua penguasa selalu percaya negara akan berakhir bila mereka tidak lagi berkuasa.” Ia berjalan menuju pintu. “Padahal bahaya sebenarnya dimulai ketika penguasa merasa kepentingan negara dan kelangsungan kekuasaannya adalah hal yang sama.”

Mateo meninggalkan ruangan. Di berbagai sudut kota, truk-truk program makan gratis terus bergerak. Rakyat melihat makanan. Partai melihat suara. Para kroni melihat kontrak. Aparat melihat anggaran. Namun hampir tidak ada yang melihat utang yang bertambah di balik setiap piring. Alejandro Robles percaya APBN dapat mempertahankannya di istana. Ia belum menyadari bahwa sejak malam itu, anggaran negara telah mulai kehilangan kemampuannya membiayai negara.

Negara yang Kehabisan Ruang

Dua bulan kemudian, suasana Istana República berubah. Program Mesa para el Pueblo masih berjalan. Truk distribusi masih bergerak. Foto Presiden Alejandro Robles masih terpampang di sekolah dan dapur umum. Namun di balik seluruh kegiatan itu, tekanan ekonomi berkembang lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Pagi itu, Dr. Adrián Velasco, Menteri Koordinator Perekonomian Republik Santa Esperanza, memasuki ruang kerja presiden dengan membawa map merah. Velasco dikenal sebagai ekonom teknokrat. Ia tidak memiliki basis massa, tidak pandai berpidato, dan tidak memiliki jaringan partai yang kuat. Namun ia memahami neraca negara dengan ketelitian yang membuat banyak politisi merasa tidak nyaman.

Robles sedang menandatangani daftar perluasan program makan gratis. “Ada apa, Adrián?” tanyanya tanpa mengangkat wajah.

“Kita harus membicarakan posisi fiskal dan likuiditas.”

“Bukankah itu sudah dibahas dengan parlemen?”

“Keadaannya memburuk jauh lebih cepat.”

Robles meletakkan pena.

Velasco membuka laporannya. “Sebanyak lima puluh empat persen penerimaan pajak tahun ini akan habis untuk membayar bunga dan utang yang jatuh tempo.”

Robles memandang angka tersebut. “Berarti masih ada empat puluh enam persen.”

“Empat puluh enam persen itu harus membiayai gaji pegawai, kesehatan, pendidikan, subsidi energi, pertahanan, transfer daerah, dan seluruh program sosial.”

Velasco berhenti.

“Secara teknis, ruang fiskal kita hampir habis.” Lanjutnya kemudian.

Ruang fiskal adalah kemampuan pemerintah membiayai kebijakan baru tanpa menaikkan utang secara berlebihan atau mengorbankan kewajiban pokok. Ketika lebih dari separuh penerimaan pajak telah terikat untuk membayar utang, pemerintah tidak lagi bebas menentukan prioritas.

“Kita dapat menerbitkan obligasi baru,” kata Robles.

“Pasar meminta bunga semakin tinggi.”

“Bank sentral sudah menaikkan suku bunga. Tiga kali dalam dua bulan. Seharusnya itu menahan arus modal keluar.”

“Tidak lagi.”

Velasco menggeser sebuah grafik ke arah presiden. “Investor tidak hanya membandingkan bunga. Mereka juga mengukur risiko gagal bayar, pelemahan kurs, dan kemampuan negara memperoleh devisa.”

Grafik menunjukkan kepemilikan asing atas obligasi pemerintah terus menurun. “Mereka menjual surat utang kita, menukar peso menjadi dolar, lalu memindahkan dananya keluar negeri.”

“Berapa cadangan devisa kita?” tanya Robles.

“Angka brutonya masih terlihat aman.”

“Apa maksudmu dengan bruto?”

“Sebagian besar tambahan devisa tidak lagi berasal dari hasil ekspor. Ia berasal dari pinjaman jangka pendek, swap, repo aset bank sentral, dan penempatan sementara bank komersial.”

Velasco mengambil gelas di atas meja. “Bayangkan ini cadangan devisa.”

Ia menuangkan air hingga hampir penuh. “Dari luar terlihat penuh.” Kemudian ia menuangkan kembali sebagian air ke dalam botol. “Tetapi bagian ini adalah utang yang harus segera dikembalikan. Jadi kemampuan riil kita untuk membayar impor dan menahan kurs jauh lebih kecil daripada angka yang diumumkan.”

Robles mengerutkan kening. “Ekspor tetap berjalan.”

“Benar. Tetapi eksportir menahan devisa di luar negeri karena khawatir peso terus melemah. Sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, pangan, obat-obatan, dan pembayaran utang terus bertambah.”

“Kita naikkan bunga lagi.”

Velasco menggeleng. “Kalau bunga dinaikkan lagi, biaya utang pemerintah ikut naik. Kredit bank menjadi lebih mahal. Perusahaan menunda investasi. Ekonomi melambat. Penerimaan pajak turun.”

“Kalau tidak dinaikkan?”

“Modal keluar lebih cepat, kurs melemah, dan inflasi impor naik.”

Robles bangkit dari kursinya. “Jadi menurutmu kita telah kehilangan pilihan?”

“Kita masih memiliki pilihan. Tetapi pilihan itu bersifat fiskal, bukan lagi semata-mata moneter.”

“Apa maksudmu?”

“Kita harus mengurangi defisit.”

“Dengan menaikkan pajak?”

“Sebagian. Tetapi dalam jangka pendek, kita juga harus melakukan efisiensi terhadap belanja populis.”

Wajah Robles mengeras. “Program mana?”

“Perluasan Mesa para el Pueblo harus dihentikan sementara. Penerimanya dibatasi kepada kelompok miskin dan wilayah dengan tingkat kekurangan gizi tinggi. Kontrak pengadaan harus ditender ulang. Biaya satuan tugas serta distribusi politik harus dipangkas.”

“Kamu ingin mengurangi makanan rakyat miskin?”

“Saya ingin menyelamatkan program itu sebelum negara tidak lagi mampu membiayainya.”

Robles berjalan ke arah jendela. “Kalian para ekonom selalu melihat rakyat sebagai beban anggaran.”

“Tidak. Kami melihat bahwa program sosial yang tidak memiliki sumber pembiayaan akan runtuh bersama nilai mata uang.”

Robles menoleh. “APBN adalah instrumen distribusi keadilan. Selama puluhan tahun, kekayaan hanya beredar di tangan pemilik modal. Negara harus merebut kembali kekayaan itu dan mengembalikannya kepada rakyat.”

“Melalui sistem pajak yang kuat dan belanja yang tepat sasaran,” jawab Velasco. “Bukan dengan terus menambah utang jangka pendek.”

“Kamu terlalu percaya kepada pasar.”

“Saya percaya kepada neraca.”

“Pasar tidak pernah memberi makan orang miskin.”

“Tetapi inflasi dapat mengambil makanan dari meja mereka.”

Ruangan menjadi sunyi. Robles mulai berbicara seperti sedang berdiri di atas panggung. “Rakyat Santa Esperanza telah lama ditinggalkan. Kami datang membawa makanan, perlindungan, dan martabat. Itu bukan populisme. Itu sosialisme yang manusiawi.”

Velasco menjawab dengan hati-hati. “Sosialisme yang dibiayai utang akan berhenti ketika kreditur tidak lagi bersedia memberi pinjaman.”

“Negara tidak boleh tunduk kepada kreditur.”

“Negara juga tidak dapat menolak aritmetika.”

Robles memukul meja dengan ujung jarinya. “Keadilan sosial tidak dapat diukur dengan rasio fiskal.”

“Memang tidak. Tetapi keberlanjutannya dapat diukur.”

Velasco membuka halaman lain. “Bila tidak ada koreksi, dalam enam bulan pemerintah harus memilih antara membayar utang, membiayai impor energi, atau mempertahankan seluruh program sosial.”

“Kita dapat meminta bank sentral membeli lebih banyak obligasi.”

“Itulah dominasi fiskal yang diperingatkan para ekonom sejak awal.”

Robles menatapnya tajam. “Kalau bank sentral tidak membantu pemerintah, untuk siapa mereka bekerja?”

Velasco terdiam sesaat. “Bank sentral bekerja untuk menjaga nilai uang seluruh rakyat. Bila ia dipaksa menutup defisit, yang membayar bukan hanya pemerintah.”

“Siapa?”

“Setiap orang yang memegang peso. Nilai tabungan mereka turun. Harga barang naik. Upah riil menyusut.”

Robles menyilangkan tangan. “Pengorbanan dibutuhkan untuk perubahan.”

“Masalahnya, pengorbanan itu tidak dibagi secara adil. Elite dapat memindahkan aset ke luar negeri. Rakyat miskin tidak memiliki perlindungan ketika harga pangan naik.”

Presiden berjalan perlahan mengelilingi meja. “Karena itu negara harus semakin kuat.”

Kalimat tersebut membuat Velasco menatapnya lebih lama. Ia tiba-tiba memahami arah pikiran Robles. Setiap kegagalan program akan dijadikan alasan untuk memperbesar kontrol negara. Kelangkaan akan dijawab dengan pengaturan distribusi. Pelemahan kurs akan dijawab dengan pembatasan devisa. Kritik akan dianggap sabotase. Protes akan disebut ancaman terhadap keadilan sosial.

Ketika seluruh kebutuhan rakyat bergantung kepada anggaran, pemerintah dapat menentukan siapa yang menerima dan siapa yang dikeluarkan. Ketika partai menguasai penyaluran bantuan, perlindungan sosial berubah menjadi hubungan patronase. Ketika polisi dan militer menjadi bagian dari program, negara kesejahteraan dapat berubah menjadi negara pengawasan.

Velasco menutup mapnya. Ia sadar masalahnya bukan lagi kekurangan data. Robles memahami risiko ekonomi, tetapi menolak solusi yang dapat mengurangi pengaruh politiknya.

“Siapkan skenario pembiayaan baru,” kata Robles. “Program sosial tidak boleh dikurangi.”

“Pasar meminta bunga lebih tinggi.”

“Cari pinjaman bilateral.”

“Tenornya pendek.”

“Gunakan swap bank sentral.”

“Itu hanya menambah cadangan semu.”

“Terbitkan obligasi dalam mata uang asing.”

“Itu memperbesar risiko kurs.”

Robles menatapnya dingin. “Tugasmu mencari cara, bukan menjelaskan mengapa sesuatu tidak dapat dilakukan.”

Velasco berdiri. Ia datang membawa solusi ekonomi. Namun ia meninggalkan ruangan dengan kesadaran politik. Sosialisme yang diucapkan Robles bukan lagi sekadar gagasan tentang pemerataan. Ia telah menjadi bahasa moral untuk membenarkan konsentrasi kekuasaan.

Di lorong istana, Velasco melihat konvoi truk Mesa para el Pueblo keluar dari gerbang. Polisi mengawal di depan. Kendaraan militer mengikuti di belakang. Bendera partai berkibar di sisi kendaraan.

Di atas setiap truk tertulis: NEGARA HADIR UNTUK RAKYAT. Velasco memandangnya sampai konvoi itu menghilang. Ia tahu negara memang sedang hadir. Namun bukan hanya untuk memberi makan. Negara juga sedang membangun ketergantungan, mengikat kesetiaan, dan memperluas kekuasaan sampai ke meja makan rakyat. Dan ketika seluruh kebijakan moneter mulai dipaksa melayani kebutuhan politik anggaran, krisis tidak lagi hanya menjadi kemungkinan. Ia telah menjadi arah perjalanan.

Perang di Dalam Negara

Pengunduran diri Adrián Velasco terjadi tanpa upacara. Tidak ada konferensi pers panjang. Tidak ada tuduhan terbuka. Ia hanya mengirimkan surat kepada Presiden Alejandro Robles pada suatu pagi, lalu meninggalkan Istana República sebelum makan siang. Dalam surat itu, Velasco menulis bahwa ia tidak lagi memiliki ruang untuk menjalankan kebijakan ekonomi yang bertanggung jawab. Ia menolak menjadi sekadar pemberi legitimasi teknis bagi keputusan politik yang telah ditentukan sebelumnya.

Robles membaca surat itu tanpa menunjukkan emosi. “Dia terlalu takut kepada pasar,” katanya kepada para pembantunya. Namun jauh di dalam dirinya, Robles tahu Velasco bukan pengecut. Justru karena memahami arah krisis, lelaki itu memilih pergi sebelum seluruh kebijakan runtuh dan namanya ikut terkubur di dalamnya.

Posisi Menteri Perekonomian dan Keuangan kemudian diberikan kepada Dr. Tomás Arriaga. Arriaga dikenal sebagai akademisi yang pandai menyusun model ekonometrika. Ia mampu mengubah keadaan negara menjadi grafik, koefisien, dan proyeksi. Dalam presentasinya, masa depan selalu tampak dapat dikendalikan selama asumsi dimasukkan dengan benar. Ia memahami persamaan. Namun tidak selalu memahami manusia. Ia dapat menghitung hubungan antara belanja pemerintah dan pertumbuhan, tetapi tidak cukup memahami bagaimana kekuasaan mengubah perilaku birokrasi. Ia mampu membuat simulasi inflasi, tetapi tidak memiliki landasan filosofis kuat untuk membedakan antara negara yang melindungi rakyat dan negara yang membeli kesetiaan rakyat.

Bagi Arriaga, angka adalah kebenaran. Bagi Robles, angka adalah alat. Keduanya segera menemukan kecocokan. Dalam rapat kabinet pertamanya, Arriaga menampilkan proyeksi bahwa tambahan belanja sosial masih dapat mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. “Efek penggandanya tetap positif,” katanya sambil menunjuk layar.

“Berapa besar?” tanya Robles.

“Dalam skenario moderat, setiap satu peso belanja pemerintah dapat menambah satu koma dua peso terhadap output nasional.”

Robles tersenyum. Ia menyukai angka itu. Tidak seorang pun bertanya apakah tambahan produksi benar-benar berasal dari industri domestik atau justru dari barang impor. Tidak ada pula yang membahas bahwa belanja yang dibiayai utang dapat menghasilkan pertumbuhan semu apabila bunga, kurs, dan kebocoran anggaran diabaikan. Arriaga memberi Robles sesuatu yang tidak pernah diberikan Velasco. Pembenaran.

Beberapa minggu setelah pergantian menteri, Direktur Badan Intelijen Nasional, Jenderal Rafael Ordoñez, datang membawa laporan rahasia. Pertemuan berlangsung larut malam di ruang bawah tanah Istana República. Ruangan itu tidak memiliki jendela. Dindingnya dilapisi panel kedap suara. Hanya ada sebuah meja panjang, dua lampu baca, dan layar yang menampilkan jaringan perusahaan serta aliran dana lintas negara.

Ordoñez meletakkan sebuah map hitam di hadapan presiden. “Ini mengenai jaringan Gabriel Mendoza.” Nama mantan presiden itu membuat Robles mengangkat wajah. Gabriel Mendoza telah memerintah Santa Esperanza 10 tahun. Di balik pemerintahan resminya, ia membangun jaringan ekonomi bayangan yang melibatkan kontraktor negara, perusahaan tambang ilegal, perjudian, penyelundupan, dan perlindungan aparat. Setelah kehilangan kekuasaan, sebagian besar uang jaringan itu telah dipindahkan ke luar negeri melalui perusahaan cangkang, rekening nominee, dan aset yang disamarkan atas nama pihak ketiga.

Robles telah lama mengincar uang tersebut. Ia pernah melobi sejumlah pejabat di Washington dan Eropa agar aset-aset itu tidak sepenuhnya diperlakukan sebagai hasil kejahatan yang harus dibekukan. Ia menawarkan skema agar dana tersebut dikembalikan ke Santa Esperanza dan ditempatkan dalam kendaraan investasi milik negara. Untuk menampungnya, pemerintah telah menyiapkan sebuah badan bernama Esperanza Strategic Holding, superholding BUMN yang berada langsung di bawah presiden.

Secara resmi, lembaga itu dibentuk untuk mengonsolidasikan aset negara, mempercepat investasi, dan membiayai pembangunan. Dalam pikiran Robles, lembaga tersebut dapat menjadi jalan untuk membawa pulang uang oligarki lama, lalu menggunakannya membiayai program populis tanpa harus tercatat sebagai beban langsung APBN. Ia membayangkan uang gelap masa lalu dapat diputihkan melalui mandat negara.

Namun laporan Ordoñez berkata lain. “Jaringan anti-pencucian uang internasional telah mengeluarkan perintah pembekuan,” katanya.

“Semua rekening?”

“Sebagian besar rekening utama. Termasuk aset perusahaan cangkang di Karibia, Eropa, dan Asia.”

“Dasar hukumnya?”

“Beneficial ownership berhasil dilacak. Mereka menghubungkannya dengan pengadaan negara, pertambangan ilegal, dan transaksi yang melibatkan pejabat pemerintahan Mendoza.”

Robles menahan amarah. “Bukankah kita sudah menjelaskan bahwa dana itu akan dipakai untuk kepentingan rakyat?”

Ordoñez tidak segera menjawab. “Bagi mereka, asal-usul uang lebih penting daripada tujuan penggunaannya.”

Robles bangkit dari kursinya. “Mereka lebih memilih uang itu membeku di luar negeri daripada kembali untuk memberi makan rakyat Santa Esperanza?”

“Bagi lembaga internasional, persoalannya bukan siapa yang akan menggunakannya sekarang. Persoalannya adalah apakah negara sedang memulihkan aset atau mengambil alih hasil kejahatan untuk kepentingan politik baru.”

Kalimat itu membuat Robles menatapnya tajam. Namun ia tidak membantah. Ia tahu lobi telah gagal. Ia tidak akan memperoleh kendali atas uang Mendoza yang berada di luar negeri. Superholding yang telah dipersiapkannya kehilangan salah satu sumber modal terbesarnya.

Tetapi Ordoñez belum selesai. “Masih ada aset lain,” katanya.

Robles kembali duduk. “Apa?”

“Uang tunai di dalam negeri.”

Ordoñez menampilkan beberapa foto pada layar. Gudang tertutup. Rumah aman. Ruang bawah tanah. Brankas industri. “Jaringan Mendoza menyimpan sebagian dana di luar sistem perbankan. Uang tunai, emas, valuta asing, dan dokumen kepemilikan aset.”

“Siapa yang menguasainya?”

“Jaringan campuran. Polisi, jaksa, dan perwira militer. Mereka dahulu menjadi pelindung sekaligus pengelola distribusi uang.”

“Berapa nilainya?”

“Kita belum tahu pasti. Tetapi cukup besar untuk membiayai operasi politik selama bertahun-tahun.”

Robles terdiam.

Kegagalan di luar negeri tiba-tiba membuka kemungkinan baru di dalam negeri. Uang yang tidak masuk ke bank tidak dapat dibekukan oleh sistem internasional. Tidak ada laporan transaksi. Tidak ada jejak elektronik. Namun uang semacam itu memiliki kelemahan. Ia harus dijaga oleh manusia. Dan manusia dapat dipecah.

Sejak malam itu, Robles mulai merancang sebuah operasi. Ia tidak memerintahkan penangkapan massal. Itu terlalu kasar dan berisiko menyatukan seluruh jaringan melawannya. Sebaliknya, ia mendorong konflik di antara aparat penegak hukum.

Sebuah laporan lama mengenai kekayaan seorang kepala polisi dibocorkan kepada media. Beberapa hari kemudian, rekaman percakapan seorang jaksa dengan pengusaha tambang muncul di televisi. Tidak lama berselang, audit internal militer menemukan gudang senjata yang terhubung dengan jaringan penyelundupan. Setiap institusi mulai saling mencurigai. Polisi menuduh kejaksaan melindungi koruptor. Kejaksaan membuka perkara terhadap sejumlah perwira polisi. Militer membocorkan dokumen yang menunjukkan aparat sipil pernah menerima uang perlindungan.

Robles tampil di hadapan publik sebagai pemimpin yang prihatin. “Tidak boleh ada lembaga yang kebal hukum,” katanya dalam pidato nasional. “Negara akan membersihkan dirinya sendiri.”

Rakyat bertepuk tangan. Media menyebutnya perang besar melawan korupsi. Namun di balik layar, setiap skandal memiliki tujuan lain. Tim intelijen mencari tahu siapa yang panik. Siapa yang memindahkan uang. Siapa yang membuka brankas. Siapa yang mencoba menukar dolar tunai. Dan siapa yang meminta perlindungan kepada istana. Dari setiap perkara, Robles memperoleh peta baru. Nama. Lokasi. Hubungan. Besaran aset.

Ia tidak hanya ingin menghancurkan jaringan lama. Ia ingin mengambil alih pusat gravitasinya. Mendoza membangun kekuasaan melalui kesetiaan personal dan uang gelap yang disebar di antara aparat. Robles membangun dengan cara berbeda. Ia menciptakan ketakutan, lalu menawarkan perlindungan. Ia mengadu satu institusi dengan institusi lain, kemudian berdiri di tengah sebagai satu-satunya orang yang dapat menghentikan perang. Itulah keunggulannya atas Mendoza. Mendoza memahami patronase. Robles memahami operasi intelijen.

Namun pasar membaca keadaan itu dengan cara berbeda. Bagi rakyat, skandal demi skandal terlihat sebagai bukti bahwa pemerintah sedang membersihkan negara. Bagi investor, konflik terbuka antar-aparat menunjukkan bahwa Robles tidak mampu mengendalikan institusi. Nilai obligasi kembali jatuh. Premi risiko meningkat. Perusahaan asing menunda investasi. Sejumlah bank internasional memperketat transaksi dengan Santa Esperanza karena khawatir terseret perkara pencucian uang. Laporan lembaga pemeringkat menyebutkan tiga risiko utama: ketidakpastian hukum, konflik antarlembaga, dan lemahnya independensi institusi.

Tomás Arriaga mencoba menenangkan presiden. “Pasar bereaksi berlebihan,” katanya dalam rapat kabinet. “Model kami menunjukkan tekanan ini bersifat sementara.”

“Berapa lama sementara?” tanya seorang menteri.

“Dua sampai tiga kuartal.”

“Atas dasar apa?”

“Berdasarkan pola historis volatilitas politik.” Arriaga menjelaskan dengan kurva dan koefisien. Tetapi ia tidak mampu memasukkan satu variabel penting ke dalam modelnya, hilangnya kepercayaan.

Kepercayaan tidak selalu bergerak secara linear. Ia dapat bertahan lama, lalu runtuh sekaligus. Dan ketika institusi saling menyerang, pasar tidak hanya menghitung siapa yang bersalah. Pasar bertanya apakah kontrak masih berlaku, apakah aset aman, dan apakah keputusan hukum dapat berubah sesuai arah politik.

Di Istana República, Robles justru merasa semakin kuat. Setiap kepala lembaga datang kepadanya. Kepala polisi meminta perlindungan. Jaksa Agung meminta dukungan politik. Panglima militer meminta jaminan agar penyidikan tidak menyentuh kesatuannya. Mereka datang membawa informasi dan menawarkan kesetiaan. Robles menerima semuanya. Ia membiarkan institusi tetap lemah agar setiap pemimpinnya bergantung kepadanya.

Ia tidak membangun sistem yang dapat mencegah ekonomi bayangan terulang. Ia membangun ketergantungan agar seluruh pintu ekonomi bayangan bermuara di istana. Secara politik, strategi itu efektif. Secara kelembagaan, ia menghancurkan negara. Robles tidak ingin polisi yang profesional. Ia ingin polisi yang membutuhkan restunya. Ia tidak ingin kejaksaan yang independen. Ia ingin kejaksaan yang menunggu arahannya. Ia tidak ingin militer yang tunduk kepada konstitusi. Ia ingin perwira yang takut rahasianya dibuka.

Dalam teori politik, keadaan seperti itu disebut personalisasi kekuasaan, institusi tetap ada secara formal, tetapi keputusan nyatanya bergantung kepada satu orang. Negara masih memiliki hukum. Namun hukum bekerja sesuai keseimbangan kekuasaan. Negara masih memiliki pengadilan. Namun perkara dapat dibuka atau ditutup berdasarkan kebutuhan politik. Negara masih memiliki BUMN. Namun asetnya mulai dikonsolidasikan dalam superholding yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Robles menyebutnya efisiensi. Para pendukungnya menyebutnya keberanian. Namun perlahan, sebuah ekonomi bayangan baru mulai lahir. Bukan lagi ekonomi bayangan yang berdiri di luar negara. Melainkan ekonomi bayangan yang menggunakan negara sebagai selubungnya.

Suatu malam, Jenderal Ordoñez kembali menemui Robles. “Kita menemukan tiga brankas,” katanya.

“Berapa?”

“Belum dihitung seluruhnya. Uang tunai, emas, dan beberapa dokumen aset.”

“Siapa yang menguasai?”

“Jaringan gabungan polisi dan kejaksaan.”

Robles tersenyum tipis. “Amankan.”

“Melalui proses hukum?”

Robles menatapnya. “Melalui proses yang bisa kita kendalikan.”

Ordoñez mengangguk. Ia memahami maksud itu. Tidak seluruh aset akan masuk dalam berita acara. Tidak seluruh uang akan diumumkan kepada publik. Sebagian akan dimasukkan ke superholding. Sebagian akan digunakan membiayai operasi politik. Sebagian lagi akan menjadi jaminan kesetiaan bagi mereka yang kini bekerja untuk presiden.

Robles berdiri di depan jendela ruang bawah tanah. Di atas sana, kota San Aurelio masih menyala. Truk makanan masih berkeliling. Polisi masih mengawal. Televisi masih menyiarkan pidato perang melawan korupsi. Ia telah gagal menguasai uang gelap Mendoza di luar negeri. Namun di dalam negeri, ia mulai menguasai sumber daya yang lebih penting. Ketakutan. Ketergantungan. Dan rahasia. Mendoza dahulu membangun shadow state di belakang negara.

Robles memilih cara yang lebih berbahaya. Ia membawa bayangan itu masuk ke dalam negara, lalu menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sumber cahaya. Sejak saat itu, Santa Esperanza tidak lagi bergerak menuju reformasi. Negara itu sedang berganti pemilik.

Harga dari Ketidakpercayaan

Operasi intelijen yang dirancang Alejandro Robles ternyata tidak berjalan semulus yang ia bayangkan. Beberapa brankas memang ditemukan. Sejumlah uang tunai, emas, dan dokumen kepemilikan berhasil diamankan. Beberapa pejabat polisi dan jaksa mulai datang ke istana untuk meminta perlindungan.

Namun jaringan lama tidak runtuh. Gabriel Mendoza masih hidup di dalam negara. Ia tidak lagi duduk di istana, tetapi pengaruhnya tetap mengalir melalui polisi, militer, birokrasi, partai politik, pengusaha, dan berbagai perusahaan perantara. Selama 10 tahun berkuasa, Mendoza tidak hanya membangun jaringan kekayaan. Ia membangun hubungan saling bergantung. Setiap orang menyimpan rahasia orang lain. Setiap pejabat mengetahui bagian gelap atasannya. Setiap pengusaha memegang bukti transaksi dengan aparat. Itu bukan agenda biasa. Dia ingin melanjutkan dinasti kekuasaan. Periode mendatang. Robles end. Putranya yang juga wakil presiden akan mengambil posisi sebagai Presiden. Dengan dukungan jaringan shadow ekonomi yang Mendoza kuasai tidak sulit melanjutkan kekuasaan lewat putranya.

Karena itu, ketika Robles mencoba menguasai jaringan tersebut, perlawanan tidak datang dalam bentuk kudeta terbuka. Perlawanan hadir melalui aturan, informasi, transaksi, dan hilangnya kepercayaan. Robles terlambat memahami bahwa dirinya dan keluarganya dahulu juga tumbuh di dalam lingkaran oligarki Mendoza. Mereka pernah menikmati akses. Mereka pernah mendapat perlindungan. Mereka pernah menjadi bagian dari kompromi politik yang sama. Kini, ketika Robles berbicara tentang pemberantasan oligarki, jaringan lama melihatnya bukan sebagai pembaru, melainkan sebagai bekas anggota yang ingin mengambil alih seluruh warisan.

Di luar negeri, serangan berlangsung lebih halus. Sejumlah pengusaha yang menjadi proksi Mendoza mulai menghubungi bank, investor, konsultan risiko, dan lembaga pemeringkat. Mereka tidak perlu menuduh Robles secara langsung. Mereka cukup menyebarkan keraguan. Apakah kontrak lama masih dihormati? Apakah aset investor aman? Apakah superholding BUMN akan mengambil alih perusahaan swasta? Apakah pembatasan devisa akan diberlakukan? Apakah perusahaan asing akan dipaksa bermitra dengan kroni pemerintah? Apakah proses hukum digunakan untuk merampas aset lawan politik? Pertanyaan-pertanyaan itu bergerak dari satu ruang rapat ke ruang rapat lain. Dari bank di New York ke perusahaan asuransi di London. Dari firma hukum di Singapura ke manajer investasi di Frankfurt.

Tidak ada satu pun yang secara langsung menjatuhkan Robles. Namun bersama-sama, mereka membentuk sesuatu yang lebih berbahaya: distrust. Ketidakpercayaan tidak selalu tampak dalam demonstrasi atau pidato. Ia muncul dalam bentuk premi risiko yang naik, kredit yang dipersingkat, permintaan jaminan tambahan, penundaan investasi, dan penolakan halus terhadap proyek baru.

Robles kemudian menyadari bahwa beberapa kebijakan yang ia tandatangani ternyata disusun oleh birokrat dan penasihat yang masih terhubung dengan jaringan Mendoza. Aturan mengenai kepemilikan asing dibuat terlalu agresif. Ketentuan devisa berubah tanpa masa transisi. Kewenangan superholding diperluas tanpa kejelasan pengawasan. Beberapa kontrak lama dibuka kembali dengan alasan kepentingan nasional.

Ketika protes investor muncul, Robles mengubah aturan tersebut. Namun perubahan itu justru menciptakan persoalan baru. Hari ini satu kebijakan diberlakukan. Bulan berikutnya dibatalkan. Kemudian diterbitkan aturan pengganti. Tidak lama sesudahnya, aturan itu kembali direvisi. Robles merasa sedang memperbaiki kesalahan. Pasar melihatnya sebagai bukti bahwa pemerintah tidak memiliki arah.

Pada suatu pagi, Tomás Arriaga datang membawa laporan ekonomi terbaru. Ia menyalakan layar di ruang kabinet. Grafik pertama menunjukkan indeks manufaktur. “PMI kembali berada di bawah lima puluh,” katanya.

Robles menatap layar. “Artinya?”

“Aktivitas industri mengalami kontraksi. Pesanan baru turun. Produksi melemah. Perusahaan mengurangi pembelian bahan baku. Sebagian pabrik mulai memangkas jam kerja. Grafik berikutnya memperlihatkan penurunan daya beli. Inflasi pangan tetap tinggi. Upah riil menyusut. Penjualan ritel melemah. Kredit konsumsi mulai bermasalah. “Daya beli masyarakat turun,” kata Arriaga.

“Program sosial kita masih berjalan.”

“Berjalan, tetapi nilainya tergerus oleh inflasi.”

Arriaga kemudian membuka data ketenagakerjaan. “Gelombang PHK mulai terlihat di sektor tekstil, otomotif, bahan kimia, dan industri makanan.”

“Mengapa?”

“Kurs melemah. Bahan baku impor menjadi mahal. Kredit mahal. Permintaan domestik turun. Dan ketidakpastian aturan membuat perusahaan menunda investasi.”

Robles memandangnya dengan tidak sabar. “Bukankah kita sudah menaikkan tarif impor untuk melindungi industri dalam negeri?”

“Sebagian industri kita masih bergantung pada mesin, komponen, bahan kimia, dan bahan baku impor. Ketika kurs jatuh, biaya produksi mereka naik.”

Arriaga menunjuk laporan lain. “Utang luar negeri bertambah karena pemerintah dan perusahaan mencari dolar untuk menutup kebutuhan pembiayaan.”

“Cadangan devisa masih cukup.”

“Angkanya meningkat.”

“Kalau begitu, apa masalahnya?”

“Peningkatan itu berasal dari utang baru, bukan surplus ekspor.”

Ruangan mendadak sunyi. Santa Esperanza mengalami defisit hampir di seluruh lini. Anggaran negara defisit. Neraca transaksi berjalan defisit. Perdagangan nonkomoditas defisit. BUMN strategis mengalami kerugian. Sektor swasta mengalami kekurangan likuiditas. Devisa masuk bukan karena negara menghasilkan lebih banyak barang dan jasa untuk dijual ke dunia, tetapi karena negara kembali meminjam. Secara statistik, cadangan devisa bertambah. Secara ekonomi, ketergantungan bertambah.

Lembaga pemeringkat internasional tetap mempertahankan peringkat utang Santa Esperanza pada tingkat BBB. Robles menggunakan keputusan itu sebagai bahan pidato. “Dunia masih percaya kepada kita,” katanya di hadapan media. Namun para ekonom di bank sentral membaca laporan lengkapnya. Peringkat itu dipertahankan dengan prospek negatif. Lembaga pemeringkat menilai pemerintah masih mampu membayar dalam jangka pendek, tetapi menghadapi risiko besar dari defisit fiskal, ketidakpastian kebijakan, dan lemahnya institusi.

Peringkat BBB bukan hadiah. Ia adalah garis terakhir sebelum negara masuk kategori spekulatif. Para kreditur juga memiliki kepentingan agar rating tidak segera jatuh. Penurunan tajam dapat memicu penjualan paksa obligasi, kejatuhan harga aset, dan meningkatkan risiko gagal bayar. Dengan kata lain, peringkat dipertahankan bukan karena keadaan negara sehat. Peringkat itu dipertahankan agar krisis tidak meledak terlalu cepat. Harga yang harus dibayar adalah premi lebih tinggi. Untuk setiap obligasi baru, pemerintah harus menawarkan bunga lebih besar. Untuk setiap pinjaman, kreditur meminta jaminan tambahan. Untuk setiap proyek, investor menuntut tingkat pengembalian yang lebih tinggi.

Ketidakpercayaan akhirnya menjadi biaya nyata. Ia masuk ke dalam bunga utang. Masuk ke tarif listrik. Masuk ke harga pangan. Masuk ke cicilan perusahaan. Dan pada akhirnya dibayar oleh rakyat.

Robles mulai kehilangan narasi. Selama ini ia selalu tampil sebagai pemimpin yang mengetahui arah. Ia mampu menjelaskan program sosial dengan bahasa moral. Ia mampu menggambarkan setiap kritik sebagai keberpihakan kepada elite. Namun kini kenyataan berdiri di hadapannya. Pabrik tutup. Pengangguran naik. Harga pangan meningkat. Peso terus melemah. Investor pergi. Utang bertambah. Tidak ada pidato yang mampu membuat angka-angka itu menghilang.

Karena itu, Robles mulai membangun musuh bersama. Dalam pidato nasional, ia berdiri di depan bendera Santa Esperanza dengan wajah tegang. “Negara kita sedang diserang oleh oligarki lama,” katanya. “Mereka merampok kekayaan rakyat selama puluhan tahun. Kini, ketika pemerintah berusaha membagikan keadilan, mereka memindahkan modal, menutup pabrik, dan menciptakan kepanikan.”

Rakyat miskin mendengarkan. Para pekerja yang kehilangan pekerjaan mendengarkan. Pegawai negeri yang takut gajinya terlambat mendengarkan. Robles memberi mereka jawaban yang mudah. Kesulitan bukan akibat defisit. Bukan akibat utang. Bukan akibat ketidakpastian aturan. Semua terjadi karena oligarki sedang melakukan sabotase. Ia memerintahkan audit terhadap perusahaan besar. Ia mengancam mencabut izin pengusaha yang mengurangi tenaga kerja. Ia menuduh eksportir menahan devisa. Ia menyerukan nasionalisme ekonomi. Semakin buruk keadaan, semakin keras pidatonya.

Dalam sebuah rapat tertutup, Jenderal Rafael Ordoñez memperingatkannya. “Pidato itu memperkuat dukungan rakyat, tetapi membuat pengusaha semakin takut.”

“Kalau mereka takut, mereka akan patuh.”

“Atau mereka pergi.”

“Biarkan.”

“Kalau modal pergi, lapangan kerja ikut pergi.”

Robles menatapnya dingin. “Negara bisa mengambil alih.”

“Dengan uang apa?”

Pertanyaan itu membuat ruangan hening. Robles tidak menjawab. Superholding yang ia bangun belum memiliki modal cukup. Aset Mendoza di luar negeri telah dibekukan. Uang tunai di dalam negeri tidak sebanyak perkiraan. APBN kehilangan ruang. Cadangan devisa bergantung pada utang. Namun Robles tidak dapat mengakui semua itu. Ia telah membangun citranya sebagai pemimpin yang lebih kuat daripada Mendoza. Mengakui kegagalan berarti membuka pintu bagi seluruh lawannya.

Pada malam hari, Robles berdiri sendirian di balkon istana. Di bawah sana, San Aurelio terlihat suram. Beberapa kawasan industri gelap lebih awal. Truk-truk program makan gratis masih bergerak, tetapi jumlahnya mulai berkurang karena pemasok belum menerima pembayaran. Robles memandang kota itu dengan perasaan marah. Ia menyalahkan Mendoza. Menyalahkan pengusaha. Menyalahkan investor asing. Menyalahkan bank. Menyalahkan birokrat. Ia tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri.

Padahal Robles dan Mendoza hanya berbeda dalam metode. Mendoza membangun oligarki melalui uang gelap dan perlindungan aparat. Robles membangun ketergantungan melalui anggaran, operasi intelijen, dan kelemahan institusi. Mendoza membiarkan jaringan berada di belakang negara. Robles ingin seluruh jaringan tunduk kepada negara yang berpusat pada dirinya. Keduanya sama-sama tidak mempercayai institusi yang independen. Keduanya sama-sama membutuhkan hukum yang dapat diarahkan. Keduanya sama-sama menganggap kekuasaan sebagai alat untuk mengatur distribusi kekayaan dan perlindungan.

Robles berkata kepada rakyat bahwa ia sedang menghancurkan rezim lama. Namun tanpa ia sadari, ia sedang membangun rezim yang sama buruknya dengan wajah yang berbeda. Ia menciptakan musuh bersama agar rakyat tidak sempat bertanya: Siapa sebenarnya yang membuat negara kehilangan kepercayaan? Siapa yang mengubah kebijakan menjadi alat kekuasaan? Siapa yang membuat institusi lemah agar seluruh keputusan bergantung kepada satu orang?

Di kejauhan, sirene polisi terdengar melintas. Robles tetap berdiri di balkon. Ia masih memiliki istana. Masih memiliki aparat. Masih memiliki partai. Masih memiliki mikrofon. Namun perlahan ia kehilangan sesuatu yang tidak dapat direbut kembali dengan operasi intelijen. Kepercayaan. Dan ketika sebuah negara kehilangan kepercayaan, setiap kebijakan menjadi lebih mahal, setiap utang menjadi lebih berat, dan setiap pidato terdengar semakin kosong. Santa Esperanza belum bangkrut. Tetapi ia telah mulai kehilangan alasan bagi dunia untuk percaya bahwa negara itu dapat diselamatkan.

Negara Tidak Dibangun oleh Slogan

Tidak ada ideologi yang dengan sendirinya menjamin kemakmuran. Kapitalisme dapat melahirkan inovasi, tetapi juga oligarki. Sosialisme dapat menjanjikan pemerataan, tetapi juga menciptakan ketergantungan dan kekuasaan yang terlalu terpusat. Nasionalisme dapat membangun solidaritas, tetapi dapat pula digunakan untuk menutupi kegagalan pemerintah. Yang menentukan bukan nama ideologinya, melainkan disiplin ekonomi, kualitas kelembagaan, dan moralitas kekuasaan.

Disiplin ekonomi harus menjadi panglima. Bukan dalam arti seluruh kehidupan diserahkan kepada angka, melainkan setiap kebijakan harus tunduk kepada kenyataan: kemampuan fiskal, produktivitas, arus kas, daya saing, dan keberlanjutan utang. Dari disiplin itulah lahir politik yang mencerahkan. Politik yang berani mengoreksi dirinya sendiri. Politik yang tidak memelihara kemiskinan untuk memperoleh suara, tetapi membangun emansipasi agar rakyat mampu belajar, bekerja, berproduksi, dan menentukan masa depannya secara mandiri.

Negara harus menghormati rakyat sebagai manusia yang memiliki kemampuan, bukan sekadar penerima bantuan. Keadilan sosial tidak berarti semua orang dibuat bergantung kepada pemerintah. Keadilan sosial berarti setiap orang memperoleh kesempatan yang wajar untuk berkembang dengan martabat dan rasa hormat.

Santa Esperanza tidak runtuh dalam satu malam. Negara itu telah berdiri selama puluhan tahun. Sistem yang pernah cukup solid membuatnya mudah memperoleh pinjaman, menarik modal, dan menciptakan pertumbuhan. Namun pertumbuhan yang tidak diawasi melahirkan kelemahannya sendiri. Utang yang mudah diperoleh menciptakan moral hazard. Kekuasaan yang tidak transparan melahirkan rente. Birokrasi yang tidak berbasis meritokrasi mengangkat orang-orang yang loyal, tetapi tidak kompeten. Hukum yang dapat dinegosiasikan menghancurkan kredibilitas.

Masalah seperti itu seharusnya tidak dijawab dengan mengganti seluruh orientasi negara atau menyerahkan semua kekuasaan kepada seorang pemimpin. Kelemahan sistem harus diperbaiki dengan memperkuat kelembagaan. Pengawasan harus berjalan berjenjang dan melekat. Anggaran harus dapat ditelusuri. Konflik kepentingan harus dibuka. Pejabat harus dinilai berdasarkan kemampuan dan integritas. Orang yang bersalah harus dihukum, siapa pun pelindungnya. Sebaliknya, orang yang bekerja dengan benar harus dilindungi dari tekanan politik.

Negara harus hadir bukan untuk menentukan siapa yang boleh menjadi kaya, melainkan untuk memastikan kekayaan diperoleh melalui persaingan yang sehat. Negara harus mencegah monopoli, membuka akses terhadap pendidikan dan modal, serta menjamin agar sumber daya tidak hanya dikuasai kelompok yang dekat dengan kekuasaan.

Pengalaman reformasi Tiongkok memperlihatkan bahwa pengawasan pemerintahan dibangun melalui proses panjang. Lembaga disiplin partai, pengawasan administrasi, pemeriksaan berjenjang, teknologi informasi, dan sistem pemerintahan elektronik dikembangkan secara bertahap. Hukuman berat dapat menciptakan efek gentar. Namun rasa takut saja tidak cukup membangun pemerintahan yang bersih. Tanpa prosedur, audit, transparansi data, pembagian kewenangan, serta kepastian penegakan aturan, pemberantasan korupsi mudah berubah menjadi alat untuk menyingkirkan lawan.

Kekuatan sejati bukan terletak pada kerasnya hukuman, melainkan pada kecilnya ruang untuk melakukan penyimpangan. Sistem yang baik tidak bergantung kepada kesucian pemimpinnya. Ia menganggap setiap manusia dapat tergoda oleh uang dan kekuasaan. Karena itu, kewenangan harus dibatasi, keputusan harus dapat diperiksa, dan setiap transaksi meninggalkan jejak yang bisa diaudit.

Tidak ada penguasa yang dapat mengubah negara secara instan. Perubahan membutuhkan waktu, kesinambungan, dan disiplin yang tinggi. Ia sering bergerak lambat karena harus memperbaiki manusia, prosedur, budaya kerja, serta hubungan antara kekuasaan dan masyarakat.

Pemimpin yang menjanjikan perubahan seketika biasanya tergoda memotong proses kelembagaan. Ia memusatkan kewenangan dengan alasan keadaan darurat, melemahkan pengawasan demi kecepatan, dan menyingkirkan kritik atas nama persatuan. Hasilnya mungkin tampak mengesankan dalam waktu singkat. Namun negara menjadi rapuh karena seluruh sistem bergantung kepada satu orang.

Perubahan yang bertahan lama memerlukan penghargaan kepada sains. Kebijakan harus dibangun dari data, diuji melalui metode yang terbuka, dan diperbaiki ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Negara juga harus menghormati akademisi, bukan hanya ketika pendapat mereka membenarkan pemerintah. Ilmu pengetahuan kehilangan makna apabila hanya digunakan untuk memberi legitimasi kepada keputusan yang telah dibuat secara politik.

Akademisi bukan penghias seminar. Ekonom bukan pembuat angka untuk menyenangkan presiden. Birokrat bukan pelayan partai. Aparat hukum bukan senjata untuk menghancurkan lawan. Mereka adalah bagian dari mekanisme negara agar kekuasaan tidak kehilangan akal sehat.

Alejandro Robles gagal memahami hal itu. Ia mengira kelembagaan yang lemah akan membuat dirinya semakin kuat. Ia membiarkan polisi, jaksa, militer, partai, dan BUMN saling bergantung kepadanya. Ia ingin menjadi pusat gravitasi seluruh kekuasaan. Untuk beberapa waktu, strategi itu memang membuatnya terlihat berkuasa. Namun negara membayar harga yang mahal. Aturan kehilangan kepastian. Investor kehilangan kepercayaan. Aparat kehilangan profesionalisme. Rakyat kehilangan pekerjaan. Dan APBN kehilangan kemampuan untuk melindungi mereka yang paling membutuhkan. Pada akhirnya, negara tidak hancur karena kekurangan ideologi. Negara hancur ketika kekuasaan berhenti belajar, ekonomi kehilangan disiplin, dan hukum kehilangan keberanian untuk berdiri di atas semua kepentingan.

Kemakmuran tidak lahir dari pidato. Ia lahir dari proses yang Panjang. Pemerintahan yang dapat dipercaya, persaingan yang adil, ilmu pengetahuan yang dihormati, serta rakyat yang diberi ruang untuk tumbuh secara mandiri. Kekuasaan yang baik tidak membuat seluruh rakyat bergantung kepadanya. Kekuasaan yang baik membangun sistem agar rakyat mampu berdiri tanpa harus memohon kepadanya.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca