
Cinta di Balik Jendela
Tamat SMP, Rahman melanjutkan sekolah ke sebuah SMA di Padang. Itu permintaan pamannya, seorang saudagar besar yang ingin Rahman tinggal bersamanya. Dalam tradisi Minangkabau, ketika seorang anak lelaki mulai beranjak remaja, mamak memiliki tanggung jawab ikut mendidik kemenakannya. Ayah tetap menjadi kepala keluarga, tetapi mamak dari pihak ibu memiliki tempat penting dalam pembentukan watak, pendidikan, dan masa depan anak-anak saudara perempuannya.
Paman Rahman hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Marni. Ketika Rahman baru masuk SMA, Marni masih duduk di kelas satu SMP. Usia mereka terpaut beberapa tahun. Meski tinggal dalam satu rumah, hubungan mereka tidak pernah dekat. Marni tumbuh sebagai gadis pendiam, tahu adat, dan sangat menjaga sikap. Sementara Rahman lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, perpustakaan, dan lingkungan pergaulan barunya di kota.
Setiap liburan, Rahman pulang ke rumah orang tuanya di kampung. Ia pertama kali mendengar nama Marni disebut sebagai calon istrinya ketika duduk di kelas tiga SMA. Malam itu hujan turun rapat. Ibunya sedang melipat pakaian di ruang tengah. Ayahnya duduk bersila di atas tikar pandan, mengisap rokok kretek. Asapnya menggantung di bawah cahaya lampu minyak. Rumah kayu itu terasa lebih sempit dari biasanya, seolah-olah dindingnya ikut mendengar percakapan yang akan mengubah hidup seorang anak lelaki.
“Marni anak yang baik,” kata ayahnya tanpa menatap Rahman. “Rajin. Tahu adat. Dia anak mamakmu sendiri. Pulang ka bako itu bukan sesuatu yang asing dalam adat kita.”
Rahman diam.
Ia sudah menduga arah pembicaraan itu. Beberapa hari sebelumnya, ibunya berkali-kali memuji Marni. Setelah tamat SMP, Marni melanjutkan pendidikan ke Diniyyah Puteri Padang Panjang. Ia tinggal di asrama dan hanya pulang ketika liburan. Rahman tahu Marni pandai mengaji. Suaranya merdu ketika melantunkan ayat-ayat suci. Kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam panjang, dan senyumnya lembut. Banyak pemuda diam-diam menyukainya, tetapi Marni tidak pernah memberi harapan kepada siapa pun. Ia tumbuh sebagai gadis yang patuh, menjaga kehormatan, dan menghormati orang tua. Orang-orang membayangkannya kelak menjadi istri yang baik, menantu yang tahu diri, serta ibu yang sabar.
“Mamakmu sudah berbicara kepada kami,” lanjut ayah Rahman. “Kami senang sekali mendengarnya.”
Rahman mengangkat wajah. “Tanpa bertanya kepadaku ?” Nada suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang keras di dalamnya.
Ibunya berhenti melipat kain. “Kami orang tuamu. Ayah Marni itu mamakmu sendiri. Apa ada mamak seperti dia? Sejak kecil dia sangat peduli kepada kau kemenakannya.” Ia memandang Rahman dengan mata penuh harap. “Kami tahu mana yang baik untuk hidupmu.”
Rahman menahan napas. Ia tahu penolakannya akan menyakiti kedua orang tuanya. Terlebih, pamannya telah membiayai sekolah dan menampungnya selama tinggal di Padang. Namun Rahman juga telah menyusun masa depan di dalam pikirannya. Masa depan itu tidak berisi sawah, pasar, atau rumah panggung dengan halaman tanah. Ia ingin kuliah, bekerja di kota besar, mengenal dunia, dan membangun keluarga yang menurutnya lebih maju daripada kehidupan yang selama ini ia kenal.
Bukan karena Marni tidak cantik. Marni cantik dengan caranya sendiri. Cantik seperti bunga yang tumbuh di tepi pematang: sederhana, segar, dan tidak mengenal kesombongan. Namun bagi Rahman, kecantikan tidak cukup untuk membangun sebuah kehidupan. Ia takut kemiskinan tidak hanya diwariskan melalui kekurangan uang, tetapi juga melalui keterbatasan pengetahuan. Ia ingin kelak anak-anaknya lahir dari seorang ibu yang terpelajar, mampu menjadi teman berdiskusi, membuka buku, dan menunjukkan dunia yang lebih luas daripada batas kampung.
“Maaf ayah..aku tidak mau menikah dengan Marni,” katanya akhirnya. Suara hujan seolah mendadak lebih keras.
Ayahnya menoleh tajam. “Apa kurangnya dia?”
“Tidak ada.”
“Lalu?”
Rahman mengepalkan tangan di atas lutut. “Marni sekolah agama.”
Ibunya menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang kejam. “Memangnya sekolah agama bagi perempuan kau anggap rendah?”
Rahman tidak menjawab.
Ibunya meletakkan kain di pangkuannya. “Ingat nak, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari ibulah seorang anak pertama kali mengenal kasih sayang, kebaikan, dan Tuhan.”
Rahman menarik napas. Ia tahu kata-katanya dapat terdengar angkuh. Namun saat itu pikirannya telah dipenuhi gambaran tentang dunia modern yang sedang menunggunya.
“Aku ingin anak-anak saya kelak dididik oleh ibu yang menguasai pengetahuan modern.”
Ayahnya tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan karena kecewa. “Modern seperti apa yang kau maksud?”
Rahman terdiam.
“Apakah memakai gelar tinggi dan pandai menarik perhatian orang banyak berarti modern?” lanjut ayahnya. “Apakah sekolah agama membuat seseorang tidak mampu memahami dunia?”
Rahman menggeleng.
Namun penolakannya telah telanjur melukai harga diri ayahnya. Sebagai seorang sumando dari keluarga sederhana, ayah Rahman merasa tidak tahu harus berkata apa kepada adik iparnya. Selama ini, mamak Rahman telah memperlakukan anaknya dengan penuh tanggung jawab. Ia menanggung biaya sekolah, menyediakan tempat tinggal, dan membuka jalan bagi masa depan Rahman. Kini, setelah semua perhatian itu diberikan, anaknya justru menolak putri satu-satunya.
Bagi Rahman, pernikahan tidak boleh menjadi pembayaran utang budi. Namun bagi ayahnya, perkara itu tidak sesederhana cinta atau pilihan pribadi. Ada kehormatan keluarga, hubungan antarkerabat, dan perasaan seorang mamak yang telah menjaga kemenakannya seperti anak sendiri.
Malam itu, hujan terus turun. Rahman tetap pada pendiriannya. Ayahnya tetap dalam kekecewaan. Sedangkan ibunya duduk di antara keduanya, memandangi kain yang belum selesai dilipat, seolah di sanalah tersimpan nasib keluarga yang mulai terbelah oleh dua cara memandang kehidupan. Rahman tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Ada nama lain yang telah lama tinggal di dalam hatinya. Meilani. Nama itu selalu datang seperti cahaya dari jendela rumah besar di pusat kota.
Rahman mengenal Meilani sejak duduk di bangku SMA. Mereka berada di sekolah yang sama, tetapi hidup di dunia yang berbeda. Rahman datang setiap pagi dengan sepeda tua, seragam yang diwariskan dari sepupunya, dan buku-buku yang sampulnya telah kusam. Meilani turun dari mobil sedan milik ayahnya, membawa tas kulit, dan berbicara tentang universitas di luar negeri seolah dunia memang telah menunggunya.
Meilani lahir dari keluarga Tionghoa kaya dan terpelajar. Ayahnya memiliki toko besar, gudang hasil bumi, dan beberapa rumah di pusat kota. Ibunya aktif dalam perkumpulan sosial dan dikenal keras dalam menjaga pergaulan anak-anaknya. Di rumah mereka terdapat rak-rak buku, piano hitam, lukisan dari luar negeri, serta meja makan panjang yang selalu dipenuhi percakapan tentang pendidikan, bisnis, dan masa depan.
Rahman pertama kali berbicara dengan Meilani di perpustakaan sekolah. Hari itu Meilani kesulitan mencari sebuah buku sejarah. Rahman yang sedang menyusun catatan berdiri dan mengambilkan buku itu dari rak paling atas. “Terima kasih,” katanya. Rahman hanya mengangguk. Namun setelah itu, mereka semakin sering bertemu.
Meilani menyukai cara Rahman berbicara. Ia tidak banyak berkata, tetapi selalu memiliki alasan di balik pendapatnya. Rahman membaca lebih banyak daripada murid lain. Ia mengenal nama-nama pemikir, sejarah negeri jauh, dan mimpi-mimpi besar yang tidak pernah dibicarakan di warung kopi kampungnya.
Sebaliknya, Rahman menyukai kecerdasan Meilani. Gadis itu tidak hanya cantik. Ia mampu berbicara tentang buku, musik, dan dunia luar dengan mata berbinar. Di dekatnya, Rahman merasa masa depan bukan sesuatu yang mustahil.
Cinta tumbuh di antara mereka tanpa pernah diumumkan. Mereka berjalan berjarak saat pulang sekolah agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka bertukar surat melalui buku perpustakaan. Kadang-kadang Meilani menunggu di toko alat tulis milik sahabatnya, lalu Rahman datang dengan alasan membeli pena.
Tidak ada yang mengetahui bahwa di balik ketenangan Meilani, ada seorang gadis yang berani mempertaruhkan perasaannya. Tidak ada pula yang tahu bahwa Rahman, anak kampung yang pendiam itu, telah menyerahkan seluruh mimpinya kepada satu nama. Namun cinta mereka hanya berani hidup di tempat-tempat tersembunyi.
Orang tua Meilani telah menetapkan masa depannya. Setelah lulus sekolah, Meilani akan dikirim ke luar negeri. Ia harus kuliah, mengenal dunia, lalu kembali untuk melanjutkan usaha keluarga. Mereka tidak ingin anak perempuan mereka membuang waktu dengan cinta remaja, terlebih kepada seorang pemuda kampung yang tidak memiliki kekayaan dan nama besar.
Suatu sore, Rahman dan Meilani bertemu di belakang gedung sekolah. Matahari hampir tenggelam. Cahaya merah menyelinap di antara pohon-pohon flamboyan.
“Papa sudah mengurus sekolahku di luar negeri,” kata Meilani.
Rahman terdiam.
“Kapan kamu pergi?”
“Setelah kelulusan.”
Rahman menatap tanah. Ia merasa seperti seseorang yang berdiri di tepi stasiun, mendengar peluit kereta yang akan membawa pergi satu-satunya manusia yang ia cintai.
“Kamu senang?” tanyanya.
Meilani tidak menjawab. Ia justru memandang Rahman dengan mata yang mulai basah. “Aku ingin sekolah,” katanya. “Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu.”
Rahman mengangkat wajah.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap. Di usia yang masih sangat muda, mereka dipaksa memahami bahwa cinta tidak selalu kalah karena kurang tulus. Kadang-kadang cinta kalah karena nama keluarga, jarak, uang, dan keputusan orang tua.
“Aku akan menunggumu,” kata Rahman.
Meilani tersenyum getir. “Kamu yakin?”
Rahman mengangguk.
Ia ingin menggenggam tangan Meilani, tetapi langkah kaki terdengar dari kejauhan. Mereka segera menjauh, kembali menjadi dua murid biasa yang tidak memiliki rahasia.
Sejak hari itu, Meilani semakin dijaga ketat. Ibunya mulai mengetahui kedekatan mereka. Sopir keluarga diperintahkan menunggu di depan gerbang sekolah. Meilani tidak lagi diperbolehkan pergi sendiri. Surat-surat Rahman beberapa kali tidak sampai. Bahkan nama Rahman mulai disebut di rumah Meilani sebagai peringatan.
“Jangan bermain dengan anak kampung,” kata ibunya. “Hidupmu sudah kami persiapkan. Jangan rusak masa depanmu hanya karena perasaan.”
Meilani menangis malam itu. Di kamar luasnya, di antara buku-buku dan koper yang mulai disiapkan, ia memeluk surat terakhir Rahman. Surat itu hanya berisi beberapa kalimat. Aku tidak punya apa-apa untuk membuat keluargamu percaya kepadaku. Tetapi suatu hari nanti, aku akan datang bukan sebagai anak kampung yang mereka hina. Aku akan datang sebagai seseorang yang pantas berdiri di sampingmu. Meilani membaca kalimat itu berulang kali sampai tintanya basah oleh air mata.
Sementara itu, di rumah kayu. Rahman sedang menghadapi kemarahan orang tuanya karena menolak Marni. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia mencintai Meilani. Ayahnya pasti menganggapnya telah kehilangan akal. Ibunya mungkin akan menangis karena anaknya mengejar perempuan dari keluarga yang tidak mungkin menerima mereka. Maka Rahman memilih diam. Diam membuatnya terlihat sombong. Diam membuat Marni dipermalukan tanpa tahu kesalahannya. Dan diam pula yang kelak akan menjadi awal dari banyak luka.
Di rumahnya, Marni duduk seorang diri di dekat jendela ketika ibunya menyampaikan kabar bahwa Rahman menolak perjodohan itu. Marni tidak menangis di depan siapa pun. Ia hanya tersenyum kecil. Namun malamnya, ketika seluruh rumah telah sunyi, Marni larut dalam tahajud setelah itu dia berdoa” Ya Allah, yang nasipku dalam genggamanMu, kirimlah jodoh untuk jadi imamku, untukku belajar arti mencitai dan mengangungkanMu..” Hanya kepada Tuhan sahabat setianya dalam rintihan doa dan puja puji.
Ia telah menyukai Rahman sejak kecil. Dari balik pagar, ia sering melihat Rahman pulang membawa buku. Diam-diam ia bangga kepada pemuda sepupunya itu. Ia membayangkan suatu hari akan memasakkan makanan untuknya, menunggu kepulangannya, dan membesarkan anak-anak dengan segala kesederhanaan yang ia miliki.
Marni tidak tahu bahwa dirinya ditolak bukan karena buruk rupa, bukan karena perangai, dan bukan pula karena apa. Rahman tentu punya alasan menolak. Baginya biarlah waktu nanti yang akan menjawabnya. Dia hanya bisa berserah diri kepada Allah.
Di tempat lain, Rahman duduk di tangga rumah sambil memandang hujan. Ia telah menolak seorang perempuan baik demi cinta yang belum tentu dapat ia miliki. Ia tidak tahu bahwa keputusan malam itu akan mengejar hidupnya bertahun-tahun kemudian. Sebab dalam kehidupan, manusia sering mengira dirinya sedang memilih masa depan. Padahal kadang-kadang, ia hanya sedang memilih luka yang berbeda.
Janji di Ambang Keberangkatan
Kelulusan datang bersama musim kemarau. Langit kampung pucat dan berdebu. Pohon-pohon di tepi jalan berdiri seperti saksi yang kelelahan, sementara anak-anak muda mulai berbicara tentang masa depan dengan cara masing-masing. Ada yang akan bekerja di kota, ada yang melanjutkan usaha orang tua, ada pula yang memilih menikah karena merasa hidup tidak menyediakan banyak pintu.
Rahman mendapat satu pintu yang selama ini ia tunggu. Ia diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Kabar itu disambut dengan kebanggaan yang nyaris tidak dapat disembunyikan oleh ayahnya. Meski sering berselisih, ayah Rahman tetap merasa anak lelakinya telah mengangkat martabat keluarga. Di warung kopi, ia menceritakan kepada siapa saja bahwa Rahman akan kuliah di Jawa. “Anak saya akan jadi orang besar,” katanya.
Ibunya mulai menyiapkan pakaian, memasukkan sarung, kemeja, dan beberapa bungkus makanan kering ke dalam koper tua. Ia bekerja dengan mata yang berkali-kali basah. Bagi seorang ibu kampung, melepas anak pergi jauh bukan hanya perkara jarak. Itu juga perkara ketakutan, takut anaknya berubah, takut anaknya lupa pulang, dan takut pendidikan membuatnya malu kepada rumah tempat ia dibesarkan.
Rahman sendiri merasakan kegembiraan yang berbeda. Bandung baginya bukan sekadar kota tujuan. Bandung adalah jalan keluar. Tempat di mana ia dapat membuktikan bahwa hidup tidak harus tunduk pada garis yang ditarik orang lain. Ia ingin belajar, membangun masa depan, dan kembali sebagai lelaki yang tidak lagi dipandang sebelah mata. Terutama oleh keluarga Meilani.
Namun sebelum berangkat ke Jawa, ia harus bertemu dengan gadis itu. Pertemuan mereka diatur dengan hati-hati. Meilani sudah semakin sulit keluar rumah. Orang tuanya menjaga setiap langkahnya sejak mengetahui kedekatannya dengan Rahman. Tetapi cinta selalu menemukan celah, bahkan di dalam rumah yang pintunya dijaga oleh ketakutan dan kehormatan keluarga.
Mereka bertemu menjelang senja di sebuah taman kecil di belakang gedung bioskop lama. Tempat itu sepi. Bangku-bangku kayunya mulai lapuk, dan daun-daun kering berputar ditiup angin.
Rahman datang lebih dahulu. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit kebesaran. Rambutnya disisir rapi. Di tangannya terdapat sebuah buku tipis yang hendak ia berikan kepada Meilani.
Tak lama kemudian, gadis itu datang. Meilani mengenakan blus biru muda dan rok panjang. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada perhiasan mencolok seperti yang biasa ia pakai ketika bersama keluarganya. Saat itu ia tampak bukan sebagai putri keluarga kaya, melainkan sebagai seorang gadis muda yang takut kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar memahami dirinya.
Mereka berdiri berhadapan tanpa segera berkata-kata. “Aku akan berangkat tiga hari lagi,” kata Rahman.
Meilani mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Kamu juga akan pergi?”
“Beberapa bulan lagi. Papa masih mengurus sekolahku.”
Rahman menatap wajahnya. Ia ingin mengingat setiap detail, sorot matanya, cara bibirnya bergerak, dan helai rambut yang jatuh di dekat pipinya. Ia takut jarak akan mengubah semua itu menjadi bayangan.
“Aku kuliah di Bandung. Kamu sekolah di luar negeri,” katanya. “Mungkin kita tidak akan sering bertemu.”
Meilani menunduk.
“Mungkin kita bahkan tidak tahu kapan bisa bertemu lagi.”
Kalimat itu membuat udara senja terasa lebih dingin. Rahman menyerahkan buku yang dibawanya. Di halaman pertama, ia telah menulis satu kalimat dengan tinta hitam, Aku tidak tahu sejauh apa jalan akan membawa kita, tetapi aku ingin hatiku tetap pulang kepadamu. Meilani membaca tulisan itu. Matanya segera berkaca-kaca. “Kamu akan menungguku?” tanyanya.
Rahman tersenyum kecil. “Aku yang seharusnya bertanya begitu.”
“Aku akan menunggumu,” kata Meilani. “Selama kamu tidak berubah.”
Rahman menggenggam tangannya. Itu pertama kalinya mereka berani bersentuhan begitu lama. Tangan Meilani dingin. Jari-jarinya gemetar, seolah tahu bahwa janji manusia sering lebih rapuh daripada jarak. “Aku tidak akan berubah.”
“Jangan jatuh cinta kepada perempuan lain.”
Rahman tersenyum. “Dan kamu jangan menikah dengan laki-laki pilihan keluargamu.”
Meilani mengangkat wajah. “Aku tidak akan menikah dengan siapa pun selain kamu.”
Mereka lalu berjanji setia, dengan kesungguhan dua anak muda yang percaya cinta dapat mengalahkan segala sesuatu. Mereka belum mengenal kerasnya waktu. Mereka belum tahu bahwa manusia dapat berubah bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena terlalu lama menunggu dalam kesendirian. Bagi Rahman, janji itu bukan permainan.
Ia ingin menjadi lelaki terpelajar, memiliki pekerjaan, dan datang melamar Meilani secara terhormat. Ia ingin berdiri di depan ayah gadis itu tanpa rasa rendah diri. Bukan sebagai pemuda kampung yang datang membawa cinta kosong, melainkan sebagai seorang lelaki yang memiliki masa depan.
Namun setibanya di rumah, masa depan lain telah disiapkan untuknya. Ayah dan ibunya menunggu di ruang tengah. Di atas meja tersedia kopi yang telah dingin. Wajah ayahnya tampak serius, sementara ibunya berkali-kali meremas ujung kerudung.
“Ada yang ingin kami sampaikan sebelum kau berangkat,” kata ayahnya.
Rahman duduk. “Apa?”
Ayahnya menarik napas panjang. “Kami sudah menerima kesepakatan dengan pamanmu.”
Rahman mengerutkan kening. “Kesepakatan apa?”
“Kau sudah ditunangankan dengan Marni.”
Untuk beberapa detik, Rahman seperti tidak memahami kalimat itu. “Apa maksud Ayah ?”
“Tidak perlu pura-pura tidak mengerti. Setelah kau tamat kuliah, kalian menikah.”
Rahman menatap kedua orang tuanya bergantian. “Ayah menunangkan aku tanpa persetujuanku?”
“Kami orang tuamu.”
Rahman diam.
Ayahnya mulai meninggikan suara. “Jangan merasa karena kau akan kuliah di Jawa, kau bisa mengatur semuanya sendiri. Marni perempuan baik. Dia anak pamanmu. Bukan orang lain. .”
Rahman berdiri. Wajahnya menegang, tetapi suaranya tetap terkendali. “Maafkan aku ayah..Aku tidak menerima pertunangan itu.”
Ibunya memandang dengan cemas. “Rahman, jangan bicara begitu. Jaga perasaan ayahmu dihadapan pamanmu. Kami tidak ada uang untuk biaya kamu kuliah di Jawa. Pamanmu semua yang. tanggung .”
“Aku tidak pernah mengikatkan diri dengan siapapun. Dan lagi udah adat, kewajiban paman menjaga kemanakannya.”
“Dalam adat kita, keputusan orang tua adalah keputusan keluarga,” kata ayahnya.
Rahman tertawa hambar. Ia telah membaca sejarah, mengenal pemikiran modern, dan memahami bagaimana manusia selama berabad-abad diperintah oleh tradisi yang tidak memberi ruang kepada kehendak pribadi. Bagi ayahnya, perjodohan adalah cara menjaga kehormatan. Bagi Rahman, itu adalah sisa feodalisme: suatu masa ketika anak diperlakukan seperti milik keluarga dan perkawinan menjadi transaksi antar rumah.
“Maaf ayah..Aku cukup terpelajar untuk mengetahui bahwa perjodohan seperti ini adalah tradisi feodal,” katanya. “Aku bukan tanah yang bisa ayah serahkan karena alasan apapun.”
Ayahnya berdiri dengan wajah merah. “Sekarang kau menyebut orang tuamu feodal?”
“Aku menyebut tradisinya feodal.”
“Tradisi itu yang membesarkanmu!”
“Tidak semua yang diwariskan harus dipertahankan.”
Ucapan itu seperti tamparan. Ibunya mulai menangis. “Jangan bertengkar menjelang keberangkatanmu.”
Namun tidak ada seorang pun yang mundur. Ayah Rahman memandang anaknya seolah sedang melihat orang asing. Pendidikan yang dahulu ia banggakan mendadak terasa seperti kekuatan yang merampas anaknya dari rumah. “Kau belum jadi siapa-siapa,” katanya. “Baru diterima kuliah saja sudah merasa lebih pintar dari semua orang.”
“Maaf ayah, aku tidak merasa lebih pintar. Aku hanya ingin menentukan hidupku sendiri.”
“Dan mempermalukan keluarga?”
“Menolak pernikahan yang tidak saya inginkan bukanlah penghinaan.”
“Bagi keluarga ibunya Marni, itu penghinaan terhadap sukunya. Pamanmu tentu akan tersudut di hadapan keluarga istrinya, karena punya kamanakan tidak beradat.”
Rahman diam sejenak. Ia teringat Marni. Ia tahu gadis itu tidak bersalah. Usianya terpaut 3 tahun lebih muda darinya. Namun menikahi seseorang karena tekanan keluarga, menurutnya, justru akan menjadi kekejaman yang lebih besar.
***
Di rumah pamannya, Rahman melihat Marni sedang mengepak pakaian. Sebuah koper kecil terbuka di atas lantai. Beberapa helai baju telah dilipat rapi. Di sampingnya terletak kitab, mukena, dan buku-buku pelajaran yang akan dibawanya ke Diniyyah Puteri Padang Panjang. Marni akan pergi mondok keesokan harinya.
Rahman berdiri beberapa saat di ambang pintu. Ia melihat gadis itu bekerja dalam diam, seolah tidak pernah ada pembicaraan tentang perjodohan yang telah membuat rumah mereka dipenuhi harapan.
“Mar,” panggilnya.
Marni menoleh, lalu segera menundukkan wajah.
“Boleh Uda bicara sebentar?”
Marni mengangguk kecil.
Rahman mengajaknya duduk di sofa ruang tengah. Marni duduk di ujung kursi, kedua tangannya terlipat di atas pangkuan. Kepalanya tetap tertunduk. Sementara Rahman berkali-kali menarik napas, berusaha menemukan kalimat yang tidak terlalu melukai.
“Mar…” Rahman berhenti.
Marni tetap menunggu.
“Mamak sudah bicara kepada Ayah dan Amak,” katanya akhirnya. “Mereka sudah tunangankan kita.”
Marni tidak bergerak. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Mungkin ia sudah tahu. Mungkin pula sejak kecil ia telah mendengar harapan itu dibicarakan oleh orang-orang tua mereka.
Rahman menatap lantai.
“Maaf, Mar.” Suaranya terdengar lebih pelan. “Uda tidak menerima perjodohan ini.”
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Dari luar terdengar suara pedagang melintas dan bunyi kendaraan di jalan. Namun di antara mereka, tidak ada apa-apa selain diam yang panjang. Marni tetap menunduk. Rahman menunggu kemarahan, tangis, atau setidaknya pertanyaan. Tetapi tidak satu pun datang.
Beberapa saat kemudian, Marni berdiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia berjalan masuk ke kamar. Rahman duduk sendirian di sofa. Dadanya terasa sesak. Ia mulai mengira Marni pergi untuk menangis atau menghindarinya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka kembali. Marni keluar membawa sebuah sweater berwarna gelap. Rajutannya sederhana, tetapi terlihat dibuat dengan teliti. Ia berdiri di hadapan Rahman dan menyerahkannya dengan kedua tangan. “Ini untuk Uda.” kata Marni tetap menunduk.
Rahman memandang sweater itu.
“Marni merajutnya sendiri,” lanjutnya pelan. “Bandung dingin. Mungkin Uda memerlukannya.”
Rahman tidak segera mengambilnya. Ia tidak tahu bagaimana harus memahami kebaikan yang datang sesaat setelah penolakan.
“Mar…”
“Tidak apa-apa, Uda.” Suara Marni tetap tenang, meskipun jemarinya mulai bergetar. “Tidak apa-apa kalau Uda tidak menyukai Marni.” Ia menahan napas sebelum melanjutkan. “Kita tetap bersaudara. Amak Uda adalah Mak tuo kandung Marni sendiri. Apa pun yang terjadi, hubungan keluarga kita tidak akan berubah.” Marni masih menunduk. Setetes air mata jatuh ke punggung tangannya, tetapi cepat-cepat ia usap sebelum Rahman sempat melihat dengan jelas. “Semoga Uda sukses di Bandung,” katanya. “Semoga Uda mendapat semua yang Uda cita-citakan.”
Rahman akhirnya menerima sweater itu. Benda tersebut terasa lebih berat daripada seharusnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kalimat yang cukup pantas. Di hadapannya berdiri seorang gadis yang baru saja ditolak, tetapi masih memikirkan dinginnya kota tujuan orang yang menolaknya.
Rahman berdiri. “Uda pergi dulu.”
Marni mengangguk.
Rahman melangkah menuju pintu sambil membawa sweater itu di dada.
Sebelum keluar, ia mengucapkan salam. “Assalamualaikum.”
Dari belakang terdengar suara Marni menjawab lirih. “Waalaikumsalam.” Suara itu sayup, hampir tenggelam oleh langkah Rahman yang menjauh. Rahman tidak menoleh lagi.Ia tidak melihat Marni berdiri lama di ruang tengah setelah pintu tertutup. Tidak melihat bahunya mulai bergetar. Tidak melihat gadis itu kembali ke kamarnya, memeluk koper yang belum selesai dikemas, lalu menangis tanpa suara agar tidak diketahui siapa pun.
Malam itu, Marni belajar bahwa cinta tidak selalu meminta untuk dimiliki. Kadang-kadang cinta hanya menyisakan doa bagi seseorang yang memilih pergi.
Keesokan paginya, Rahman bersiap berangkat ke Bandung. Koper telah diletakkan di ruang depan. Ibunya berkali-kali memeriksa bekal dan pakaian yang akan dibawa. Ayahnya duduk di kursi dengan wajah keras, tidak banyak berbicara.
Rahman berdiri di hadapannya. “ Maaf Ayah, aku sudah bicara dengan Marni.”
Ayahnya mengangkat wajah.
Rahman melanjutkan dengan suara pelan. “Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak menerima perjodohan itu.”
Tangan ayahnya mengepal. Tiba-tiba ia memukul meja. Suara benturannya keras, membuat cangkir di atas meja bergetar. Namun tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Hanya matanya yang berbicara. Di sana ada amarah, kecewa, dan rasa malu yang ditahan begitu dalam. Ia seperti ingin memarahi Rahman, tetapi tidak tahu lagi kalimat apa yang dapat mengubah pendirian anaknya. Akhirnya ia berdiri, mengambil pecinya, lalu keluar rumah tanpa menoleh. Rahman memandangi punggung ayahnya hingga menghilang di balik pintu.
Ibunya mendekat. Ia memeluk Rahman seperti ketika anak itu masih kecil. Tangannya membelai rambut putra satu-satunya dengan lembut. “Tidak apa-apa kalau kau tidak menyukai Marni, Nak,” katanya.
Rahman menutup mata. Ia tidak menduga ibunya akan mengatakan itu. Kasih ayah sepanjang galah, tapi kasih ibu sepanjang jalan. Kasih ibu mengalahkan segala galanya. “Amak tidak ingin kau menikahi seseorang hanya karena terpaksa.”
Ibunya melepaskan pelukan, lalu memegang kedua bahu Rahman. “Tetapi ingat pesan Amak.”
Rahman menatap wajah ibunya.
“Carilah perempuan yang membuatmu semakin dekat kepada Tuhan. Jangan hanya melihat wajah, pendidikan, harta, atau keluarganya.”
Suara ibunya mulai bergetar. “Berkeluarga itu seperti menyempurnakan separuh agama. Bila rumah tanggamu sakinah, bila kau dan istrimu saling menjaga dalam iman, maka bukan hanya kebahagiaan dunia yang kau dapatkan.”
Ia mengusap pipi Rahman. “Surga yang akan kalian jemput bersama.”
Rahman tidak menjawab. Di dalam kopernya tersimpan sweater buatan Marni. Di dalam hatinya tersimpan nama perempuan lain. Dan di hadapannya terbentang jalan panjang menuju Bandung, menuju pendidikan, menuju cinta yang ia yakini sebagai masa depan. Ia belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, kalimat ibunya akan kembali kepadanya. Bukan sebagai nasihat yang samar. Melainkan sebagai jawaban atas seluruh kesesatan hidupnya.
***
Keesokan paginya, Rahman berangkat menuju Jawa. Di terminal, ibunya memeluknya sambil menangis. Ayahnya berdiri beberapa langkah dari mereka, tetap kaku dalam harga dirinya. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada pembicaraan tentang Marni.
Sebelum naik ke bus, Rahman menoleh ke jalan di seberang terminal. Meilani berdiri di balik sebuah toko yang masih tertutup. Ia datang diam-diam, mengenakan topi lebar agar tidak mudah dikenali. Mereka tidak dapat saling mendekat. Hanya tatapan mereka yang bertemu dari kejauhan. Meilani menempelkan tangan ke dadanya. Rahman mengangguk. Janji mereka tetap ada.
Bus mulai bergerak meninggalkan terminal. Rumah-rumah kecil mundur dari pandangannya. Jalan kampung berubah menjadi garis panjang yang menuju dunia baru. Rahman percaya ia sedang meninggalkan tradisi lama. Ia percaya pendidikan akan membebaskannya. Ia juga percaya cinta mereka akan tetap utuh, meskipun lautan dan benua segera memisahkan.
Namun manusia sering terlalu yakin ketika masih berdiri di awal perjalanan. Ia belum tahu bahwa kebebasan selalu mempunyai harga. Dan sering kali, harga itu dibayar oleh orang yang tidak pernah ikut memilih.
Bandung menerima Rahman dengan udara dingin, jalan-jalan yang ramai, dan dunia yang jauh lebih luas daripada kampungnya. Di kota itu, ia bertemu orang-orang dari berbagai daerah. Ada anak pejabat, anak pedagang, anak petani, anak buruh, dan anak-anak muda yang datang dengan mimpi masing-masing. Mereka berbicara tentang politik, filsafat, ekonomi, sastra, dan masa depan bangsa. Di ruang kuliah, Rahman merasa hidupnya sedang dibuka lembar demi lembar.
Pergaulannya meluas. Ia bergabung dalam kelompok diskusi, aktif dalam kegiatan kampus, dan dikenal sebagai mahasiswa yang keras dalam berpendapat. Ia tidak mudah tunduk kepada pandangan orang lain. Baginya, pendidikan adalah cara manusia melepaskan diri dari ketakutan dan tradisi yang membelenggu.
Namun di antara semua kesibukan itu, ada satu hal yang tidak berubah. Meilani. Rahman tetap setia kepada janji mereka. Pada masa itu, menelepon ke Amerika bukan perkara mudah. Biayanya mahal. Rahman harus menabung dari uang bulanannya, mengurangi makan di luar, dan kadang-kadang berjalan kaki agar dapat menyisihkan ongkos untuk menelepon Meilani. Ia akan datang ke warung telekomunikasi, menunggu sambungan internasional tersambung, lalu berdiri dengan jantung berdebar ketika suara Meilani terdengar dari seberang lautan. “Halo?” Hanya satu kata itu sudah cukup membuat dinginnya Bandung terasa hilang.
“Aku,” jawab Rahman.
Meilani tertawa kecil. “Aku tahu.”
Mereka berbicara terburu-buru karena setiap menit berarti biaya. Tentang kuliah. Tentang cuaca. Tentang makanan. Tentang rasa rindu yang terlalu besar untuk diterjemahkan menjadi kalimat. Kadang-kadang sambungan terputus. Kadang suara Meilani terdengar jauh dan berdesis. Namun bagi Rahman, jarak tidak pernah benar-benar memisahkan mereka. Selama suara itu masih dapat ia dengar, ia percaya janji mereka masih hidup.
Biaya kuliah Rahman di Bandung ditanggung oleh pamannya, seorang saudagar yang cukup berhasil di kampung. Banyak orang menganggap Rahman seharusnya merasa berutang budi. Namun Rahman tidak pernah melihatnya seperti itu. Dalam adat mereka, seorang paman memiliki tanggung jawab terhadap keponakannya. Bila saudara perempuan memiliki anak yang ingin sekolah, keluarga ibu ikut menopang. Kelak ketika Rahman menjadi paman, ia pun harus melakukan hal yang sama kepada anak-anak saudara perempuannya. Begitulah adat berbicara.
Karena itu, Rahman tidak menganggap bantuan tersebut sebagai harga yang harus dibayar dengan menikahi Marni. Pendidikan bukan transaksi. Bantuan keluarga bukan mahar terselubung. Ia menolak menghubungkan uang kuliah dengan pertunangan yang tidak pernah ia setujui.
Sesekali, surat dari kampung datang. Ibunya menanyakan kabarnya. Ayahnya mengingatkan agar ia belajar sungguh-sungguh. Pamannya mengirim uang dan pesan singkat agar ia menjaga sholat. Tentang Marni, hampir tidak pernah dibicarakan. Rahman juga tidak pernah bertanya. Ia merasa pertunangan itu hanyalah keputusan sepihak para orang tua. Selama ia tidak mengakuinya, ikatan itu tidak pernah benar-benar ada. Dalam pikirannya, masa depannya tetap bersama Meilani.
Setahun pertama berlalu dengan cepat. Rahman mulai terbiasa dengan ritme kuliah. Nilainya baik. Para dosen mengenalnya. Ia menjadi salah satu dari sedikit anak kampung yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri dan mampu bertahan di dalamnya. Ia bangga, meski tidak pernah mengatakannya. Bukan bangga karena merasa lebih tinggi daripada orang-orang di kampung, tetapi karena ia tahu tidak semua orang mendapat kesempatan seperti dirinya. Ia ingin membuktikan bahwa asal-usul tidak menentukan batas hidup seseorang.
Lalu tahun kedua datang. Dan sesuatu mulai berubah. Awalnya Meilani hanya terlambat mengangkat telepon. Rahman menganggapnya biasa. Mungkin kuliahnya sibuk. Mungkin ia sedang berada di luar. Mungkin perbedaan waktu membuat mereka sulit bertemu dalam jadwal yang sama. Ia menelepon lagi beberapa hari kemudian. Tidak ada jawaban. Minggu berikutnya, ia mencoba kembali. Tetap tidak diangkat.
Rahman mulai gelisah. Ia mengirim surat ke alamat asrama Meilani. Surat pertama tidak dibalas. Surat kedua juga tidak. Ia menulis dengan lebih panjang pada surat ketiga, menjelaskan kegelisahannya dan meminta satu kabar saja. Tidak perlu banyak. Cukup satu kalimat bahwa Meilani baik-baik saja. Namun tidak ada jawaban. Ia kemudian mengirim surel. Pesannya tidak pernah mendapat balasan. Beberapa waktu kemudian, alamatnya tidak lagi dapat dihubungi. Akunnya diblokir.
Rahman duduk lama di depan komputer kampus. Ia membaca pemberitahuan itu berkali-kali, seolah ada kemungkinan kata-katanya berubah bila ditatap cukup lama. Diblokir. Kata itu sederhana. Namun di dalamnya terdapat pintu yang ditutup dari seberang. Rahman menolak berpikir buruk. Mungkin orang tua Meilani mengetahui hubungan mereka. Mungkin Meilani sedang berada dalam tekanan. Mungkin ia sakit. Mungkin telepon dan surat-suratnya disembunyikan. Ia berusaha menjaga prasangka baik karena cinta yang bertahan dari jarak hanya dapat hidup bila seseorang masih percaya.
Tetapi kegelisahan terus tumbuh. Pada liburan semester, Rahman pulang ke Sumatra. Ia tidak langsung kembali ke kampung. Ia pergi ke Padang, mencari rumah keluarga Meilani. Ia berdiri di depan rumah besar itu dengan pakaian sederhana dan wajah yang lelah oleh perjalanan. Seorang anggota keluarga Meilani menemuinya di teras. “Saya hanya ingin tahu apakah Meilani baik-baik saja,” kata Rahman.
Orang itu menatapnya tanpa keramahan. “Kamu siapa?”
“Rahman. Teman sekolahnya.”
“Teman?”
Rahman menahan diri. “Kami saling mengenal sejak SMA.”
Wajah orang itu berubah dingin. “Meilani baik-baik saja. Kamu tidak perlu mencarinya.”
“Saya sudah lama tidak bisa menghubungi dia.”
“Itu karena dia tidak ingin dihubungi.”
Kalimat itu menghantam Rahman lebih keras daripada yang ia duga. Ia masih berusaha berdiri tegak. “Saya hanya ingin mendengar langsung darinya.”
Orang itu melangkah mendekat. “Jangan ganggu anak kami.”
Rahman terdiam.
“Keluarga kami tidak ingin dia berhubungan denganmu. Mengerti?”
Nada suaranya bukan sekadar penolakan. Ada penghinaan di dalamnya. Seolah Rahman bukan manusia yang datang membawa kecemasan, melainkan gangguan yang harus segera disingkirkan.
Rahman menatap pintu rumah itu. Di balik salah satu jendelanya, mungkin pernah ada Meilani yang menunggu suratnya. Atau mungkin tidak pernah ada lagi apa pun untuk dirinya di sana.
“Saya tidak bermaksud mengganggu,” katanya pelan.
“Kalau begitu, jangan datang lagi.”
Pintu ditutup.
Rahman tetap berdiri beberapa saat. Di jalan depan rumah besar itu, untuk pertama kalinya ia merasa seluruh masa depannya tidak berarti apa-apa. Ia telah menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri. Ia belajar dengan baik. Ia mempunyai mimpi dan kemampuan. Ia bukan pemuda malas yang hidup tanpa tujuan. Namun di hadapan keluarga Meilani, semua itu tidak cukup. Ia tetap hanya anak kampung. Tetap seseorang yang dianggap tidak pantas. Tetap seperti sampah yang datang mengotori halaman rumah mereka. Perasaan itu menyakitkan bukan hanya karena cinta ditolak, tetapi karena harga dirinya diinjak oleh sesuatu yang tidak pernah ia pilih, asal-usul.
Rahman berjalan meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi. Sepanjang perjalanan pulang, ia berusaha menyusun kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal. Mungkin Meilani dipaksa. Mungkin ia sedang sakit. Mungkin surat-suratnya tidak pernah sampai. Mungkin semua itu dilakukan tanpa sepengetahuan Meilani. Namun semakin banyak alasan yang ia ciptakan, semakin dalam kesunyian yang ia rasakan.
Setelah hari itu, hubungan mereka benar-benar terputus. Tidak ada telepon. Tidak ada surat. Tidak ada surel. Tidak ada kabar. Meilani seolah menghilang dari dunia. Rahman kembali ke Bandung dengan hati yang berubah. Ia tetap kuliah. Tetap aktif dalam diskusi. Tetap tertawa bersama teman-temannya. Dari luar, tidak ada yang berbeda. Ia masih menjadi Rahman yang cerdas, keras kepala, dan penuh keyakinan.
Namun setiap malam, ketika kamar kos telah sunyi, kerinduan itu datang. Ia membuka kembali surat-surat lama Meilani. Membaca kalimat-kalimat yang pernah membuatnya percaya kepada masa depan. Ia mengingat pertemuan terakhir mereka di belakang gedung bioskop. Ia mengingat tangan Meilani yang dingin dan janji yang mereka ucapkan menjelang keberangkatan.
“Aku tidak akan menikah dengan siapa pun selain kamu.” Kalimat itu masih hidup dalam ingatannya. Rahman tidak tahu apakah Meilani telah melupakan janji itu. Ia juga tidak tahu apakah gadis itu sedang menangis di tempat jauh atau justru telah memilih kehidupan baru tanpa dirinya. Yang ia tahu, dirinya masih merindukan Meilani. Rindu itu tidak lagi memiliki alamat. Tidak memiliki nomor telepon. Tidak memiliki jalan untuk pulang. Ia hanya tinggal di dada Rahman seperti luka yang tidak berdarah, tetapi menolak sembuh.
Sejak saat itu, Rahman mulai memahami bahwa kehilangan paling menyakitkan bukanlah kematian. Kematian memberikan kepastian. Sedangkan kehilangan tanpa penjelasan membuat seseorang terus menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Meilani bukan perempuan yang dulu.
Rahman lulus sebagai sarjana teknik kimia pada tahun 2012. Berita kelulusannya segera ia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Melalui telepon, ia berjanji akan mengundang mereka datang ke Bandung untuk menghadiri wisuda. Ibunya menangis bahagia. Ayahnya hanya terdiam lama, lalu mengucapkan syukur dengan suara yang berat.
Namun Rahman belum ingin pulang ke kampung. Bukan karena ia membenci tempat kelahirannya. Bukan pula karena ia telah melupakan kedua orang tuanya. Ia hanya merasa belum pantas kembali. Padahal empat tahun di bandung, dia tidak pernah pulang. Baginya, pulang tanpa membawa keberhasilan sama saja dengan kembali sebagai Rahman yang dahulu, anak kampung yang pernah dipandang tidak cukup baik untuk berdiri di samping perempuan dari keluarga kaya dan terpelajar.
Ia ingin pulang dengan kepala tegak. Ia ingin membuktikan bahwa anak yang lahir dari rumah kayu, dibesarkan di antara sawah dan surau, juga dapat berdiri di tengah dunia tanpa merasa lebih rendah daripada siapa pun.
Sambil menunggu jadwal wisuda, Rahman hampir setiap hari pergi ke warung internet. Ia mencari informasi tentang beasiswa, pendidikan lanjutan, dan kesempatan kerja di luar negeri. Empat tahun di Bandung telah mengubah banyak hal dalam dirinya. Cara berpikirnya menjadi lebih tajam. Wawasannya semakin luas. Dunia tidak lagi ia pahami hanya melalui batas sawah, pasar, surau, dan rumah-rumah kayu yang membentuk masa kecilnya. Dunia telah menjadi peta besar yang dipenuhi kemungkinan. Namun semakin luas dunia yang dikenalnya, semakin besar pula kebutuhan di dalam dirinya untuk membuktikan sesuatu.
Ada sebuah luka yang terus mengikutinya. Luka dari pintu rumah keluarga Meilani yang pernah ditutup di hadapan wajahnya. Luka dari sebuah kalimat yang terus menggema di dalam ingatannya, “Jangan ganggu anak kami.” Kalimat itu tidak pernah benar-benar pergi. Setiap kali Rahman lelah belajar, ia mengingatnya. Setiap kali ingin menyerah, ia membayangkan dirinya datang kembali dengan nama, kedudukan, dan martabat yang tidak dapat diremehkan siapa pun. Penghinaan itu telah berubah menjadi cambuk. Dan jauh di dasar hatinya, ia masih menyimpan satu keyakinan: suatu hari nanti, ia akan kembali menemukan Meilani.
Dari sebuah komunitas internet, Rahman memperoleh informasi mengenai lowongan kerja di Swiss. Seleksi awal dilakukan melalui penulisan makalah dengan tema yang telah ditentukan. Peserta yang makalahnya dianggap layak akan dipanggil mengikuti seleksi lanjutan di Hong Kong dengan seluruh biaya perjalanan ditanggung perusahaan.
Kesempatan itu terasa terlalu besar untuk diabaikan. Rahman sadar ribuan orang mungkin mengikuti seleksi. Mereka berasal dari universitas ternama di Eropa, Amerika, dan Asia. Sebagian mungkin memiliki gelar lebih tinggi. Bahasa asing mereka lebih fasih. Pengalaman mereka lebih luas. Sementara dirinya hanyalah sarjana baru dari Indonesia. Namun Rahman tidak membiarkan rasa rendah diri menguasainya. Ia bekerja siang dan malam menyusun makalah tersebut. Ia membaca jurnal, laporan industri, dan berbagai referensi yang sulit ditemukan. Bila uangnya tidak cukup untuk menyewa komputer, ia mencatat bahan secara manual lalu melanjutkannya pada hari berikutnya.
Ia tidak tahu apakah peluangnya besar. Ia hanya tahu bahwa peluang sekecil apa pun harus diperjuangkan dengan kesungguhan terbesar. Kurang dari dua bulan kemudian, sebuah surat elektronik datang. Rahman dipanggil ke Hong Kong. Ia membaca surat itu berkali-kali, takut telah salah memahami kalimat di layar.
Perusahaan yang memanggilnya bukan perusahaan biasa. Mereka merupakan sebuah investment holding yang mengelola portofolio industri kimia dan farmasi di berbagai negara. Kegiatannya mencakup akuisisi perusahaan, restrukturisasi aset, pengembangan teknologi, serta pengelolaan rantai pasok bahan baku farmasi. Dari ribuan pelamar, hanya sepuluh orang yang dipanggil. Dan dari sepuluh itu, hanya dua orang yang akan diterima.
Seleksi berlangsung selama dua hari. Rahman menghadapi ujian analisis, studi kasus, presentasi, dan wawancara. Di sekelilingnya duduk peserta-peserta yang berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar dan membawa pengalaman dari berbagai universitas terkenal. Untuk sesaat, Rahman merasa kecil. Namun ia teringat rumahnya. Ia teringat ibunya. Ia teringat pamannya yang membiayai sekolahnya. Dan ia teringat pintu rumah keluarga Meilani yang pernah ditutup di hadapan wajahnya. Rahman menarik napas. Ia menjawab setiap pertanyaan sebaik mungkin.
Setelah seleksi selesai, ia pulang ke Bandung tanpa membawa kepastian. Hari-hari berikutnya terasa panjang. Ia membuka surat elektronik berkali-kali, tetapi tidak ada kabar. Sampai beberapa minggu kemudian, sebuah surat penerimaan tiba. Rahman diterima. Tangannya gemetar ketika membaca kalimat itu. Ia duduk lama di depan layar komputer, tidak mampu berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya, ia merasa dunia benar-benar membuka pintu baginya. Ia akan ditempatkan di Eropa. Bukan sebagai buruh. Bukan sebagai pegawai rendahan. Ia akan bekerja pada perusahaan yang mengelola modal, teknologi, dan industri lintas negara. Rahman menutup wajah dengan kedua tangan. Dalam diam, ia menangis.
Ibunya menangis ketika menerima kabar itu melalui telepon. Ayahnya terdiam cukup lama. Rahman menunggu ucapan selamat atau pesan mengenai pekerjaannya. Namun lelaki tua itu hanya berkata, “Jangan tinggalkan salat.” Kalimatnya singkat. Namun Rahman tahu, di balik suara yang berat itu ada kebanggaan yang tidak mampu diucapkan ayahnya. Pamannya juga mengirim pesan. “Sejauh apa pun rantau, jangan lupakan kampung.” Rahman membaca pesan itu, tetapi tidak membalas bagian terakhirnya.
Baginya, keberangkatan ke Eropa adalah langkah berikutnya untuk berdiri tegak di hadapan orang-orang kampung. Ia ingin kembali suatu hari nanti sebagai lelaki yang berhasil mengangkat batang terendam—mengangkat martabat keluarganya dari kehidupan yang selama ini dianggap kecil dan tidak berarti. Ia ingin membuktikan bahwa keluarganya juga dapat melahirkan seorang anak yang bekerja di dunia internasional.
Namun jauh di dalam hatinya, ada impian lain yang belum mati. Meilani. Rahman masih membayangkan suatu hari akan menemukan perempuan itu. Ia akan datang bukan sebagai pemuda kampung yang berdiri gugup di depan rumah keluarganya. Ia akan datang sebagai profesional yang bekerja di Eropa. Sebagai lelaki yang pantas duduk di meja makan keluarga mereka. Sebagai seseorang yang tidak lagi dapat direndahkan hanya karena asal-usulnya. Bila ia dapat menyunting Meilani, pikirnya, seluruh perjuangannya akan memperoleh makna. Bukan hanya karena cinta. Melainkan juga karena kemenangan atas penghinaan masa lalu.
Di Eropa, Rahman mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Ia mempelajari industri kimia dan farmasi dengan disiplin. Ia belajar menilai perusahaan bukan hanya berdasarkan aset dan laba, tetapi juga berdasarkan kualitas manusia, teknologi, izin, rantai pasok, serta masa depan pasar. Rahman berkembang dengan cepat. Orang-orang di kantornya mengenalnya sebagai pria tenang yang tidak banyak mengeluh. Ia mampu bekerja berjam-jam tanpa kehilangan ketelitian. Ia tidak mudah terpesona oleh kemewahan yang mengelilinginya. Baginya, setiap tugas adalah kesempatan untuk membangun nama.
Tahun-tahun pertama di Eropa mengubah penampilannya. Pakaiannya berubah. Bahasanya berubah. Cara berjalan dan berbicaranya berubah. Setiap bulan, sebagian gajinya dikirim kepada kedua orang tuanya. Ia ingin mereka tahu bahwa anak yang dahulu mereka lepaskan dengan doa kini mampu membantu kehidupan keluarga.
Namun di balik segala perubahan itu, masih hidup pemuda yang dahulu menunggu surat dari Amerika. Lalu suatu hari, perusahaan menugaskannya menghadiri seminar internasional di New York. Acara tersebut mempertemukan profesional industri, investor, peneliti, dan eksekutif dari berbagai negara. Tema utamanya adalah masa depan industri farmasi dan transformasi rantai pasok global. Rahman berangkat tanpa firasat apa pun. Ia tidak tahu bahwa di kota itu, masa lalu sedang menunggunya.
Seminar berlangsung di sebuah hotel besar di Manhattan. Ruang konferensi dipenuhi manusia dari berbagai bangsa. Mereka mengenakan pakaian rapi, kartu identitas tergantung di dada, dan berbicara dalam berbagai bahasa. Layar-layar besar menampilkan data, grafik, dan proyeksi industri.
Rahman baru saja keluar dari salah satu sesi ketika pandangannya berhenti pada seorang perempuan yang berdiri di dekat meja kopi. Rambutnya dipotong sebahu. Ia mengenakan setelan gelap, sepatu berhak rendah, dan membawa map tipis. Wajahnya lebih dewasa, lebih tenang, dan jauh lebih sulit dibaca. Rahman berhenti melangkah. Dunia di sekelilingnya seperti mendadak kehilangan suara. Nama itu muncul di dalam dadanya sebelum sempat keluar dari bibir. Meilani.
Ia memandang perempuan itu lama, takut telah salah mengenali. Namun ketika perempuan tersebut menoleh, waktu seolah mundur bertahun-tahun. Mata itu masih sama. Hanya cahaya di dalamnya yang telah berubah.
“Meilani?” panggil Rahman. Perempuan itu menatapnya beberapa detik. Kemudian tersenyum. “Rahman?” Senyum itu ramah. Tetapi bukan senyum gadis yang dahulu menunggunya di tempat tersembunyi. Bukan senyum perempuan muda yang pernah berjanji akan setia. Itu adalah senyum seorang profesional yang bertemu sahabat lama.
Rahman berjalan mendekat. Jantungnya berdebar seperti ketika ia masih duduk di bangku SMA. “Aku tidak percaya,” katanya. “Kamu ada di sini.”
“Aku juga tidak menyangka akan bertemu kamu.”
Mereka berjabat tangan. Sebuah gerakan yang sopan. Terlalu sopan. Rahman sempat berharap Meilani akan memeluknya. Atau setidaknya menatapnya dengan kerinduan yang sama. Namun perempuan di hadapannya menjaga jarak dengan begitu alami, seolah masa lalu mereka hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang telah selesai.
“Kamu sekarang tinggal di mana?” tanya Meilani.
“Di Eropa. Aku bekerja di investment holding.”
“Bagus sekali.”
“Kamu?”
“Aku tinggal di New York. Bekerja di bidang konsultasi.”
Percakapan mereka terdengar seperti dua orang yang baru bertemu dalam acara bisnis. Rahman mencoba tersenyum. “Aku pernah mencarimu.”
Meilani tidak segera menjawab.
“Aku menelepon berkali-kali. Aku mengirim surat. Aku juga mengirim email.”
Wajah Meilani berubah sedikit. Hanya sesaat. “Aku tahu.”
Jawaban itu membuat dada Rahman menegang. “Kamu tahu?”
Meilani mengangguk. “Keluargaku sangat menentang hubungan kita. Waktu itu semuanya menjadi sulit.”
“Kenapa kamu tidak pernah menjelaskan?”
Meilani menatap sekeliling, seolah memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka. “Aku masih muda. Aku berada di negara asing. Aku bergantung kepada keluarga. Aku tidak tahu harus berbuat apa.”
Rahman menahan napas. “Aku menunggumu.”
“Aku tahu.”
“Kamu pernah berjanji.”
Meilani tersenyum tipis. Ada kesedihan dalam senyum itu. Namun tidak ada lagi cinta.
“Kita masih anak-anak waktu itu, Rahman.”
Kalimat tersebut terasa lebih dingin daripada musim dingin Eropa. Rahman memandangnya lama. Bagi dirinya, janji itu telah menjadi sumber tenaga untuk bertahan. Ia belajar, bekerja, dan mengejar keberhasilan dengan keyakinan bahwa di ujung perjalanan ada seorang perempuan yang masih menunggunya. Namun bagi Meilani, janji itu rupanya hanya kenangan masa remaja.
“Aku tidak pernah menganggapnya permainan,” kata Rahman.
“Aku juga tidak,” jawab Meilani cepat. “Tetapi hidup berubah.”
Meilani tidak berbicara dengan kejam. Ia tidak bermaksud melukai. Justru ketenangannya membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan. Ia bukan lagi gadis kota kecil yang bersembunyi dari pengawasan orang tua. Ia telah menjadi bagian dari masyarakat kosmopolitan. Ia hidup di antara orang-orang dari berbagai bangsa, menghadiri pertemuan internasional, membangun karier, dan membuat keputusan berdasarkan kenyataan. Cinta masa sekolah mungkin tetap indah dalam ingatannya. Namun tidak cukup untuk menentukan masa depannya. Rahman berusaha mencari sisa kemesraan lama di wajah itu. Tidak ada. Yang tersisa hanya penghormatan seorang sahabat kepada seseorang dari masa lalu.
“Aku senang melihat kamu berhasil,” kata Meilani.
“Hanya itu?”
Meilani terdiam.
“Apa yang kamu harapkan, Rahman?”
Pertanyaan itu membuatnya kehilangan kata-kata. Ia berharap banyak. Ia berharap pertemuan itu menjadi kelanjutan dari kisah yang terputus. Ia berharap Meilani mengatakan bahwa selama ini ia juga menunggu. Ia berharap keberhasilannya di Eropa akhirnya cukup untuk menghapus semua jarak di antara mereka. Namun manusia sering membangun masa depan di atas kenangan yang hanya hidup di dalam dirinya sendiri.
“Aku kira kita bisa memulai lagi,” kata Rahman.
Meilani menghela napas. “Kita tidak lagi menjadi orang yang sama.”
“Aku masih mencintaimu.”
Meilani menatapnya dengan lembut. Namun tatapan itu justru terasa seperti belas kasihan. “Rahman, aku menghargai semua yang pernah ada di antara kita. Tetapi aku tidak bisa kembali ke masa itu.”
“Apakah ada orang lain?”
Meilani tidak langsung menjawab.
“Itu tidak penting.”
Bagi Rahman, justru itulah jawaban.
Mereka kemudian duduk di salah satu sudut ruang konferensi. Mereka berbicara tentang pekerjaan, kampung halaman, dan teman-teman lama. Percakapan mengalir, tetapi terasa kaku. Setiap kalimat berhenti sebelum mencapai tempat yang paling ingin mereka hindari. Masa lalu duduk di antara mereka. Namun masa kini berdiri jauh lebih kuat.
Sebelum berpisah, Meilani menyerahkan kartu namanya. “Kita masih bisa menjadi teman.”
Rahman menerima kartu itu. Benda kecil tersebut terasa seperti tanda bahwa cinta mereka telah diubah menjadi sesuatu yang lebih aman, lebih rasional, dan jauh lebih tidak berarti.
“Ya,” jawab Rahman.
Meilani tersenyum. Lalu ia berjalan pergi, bergabung dengan peserta lain dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan mudah. Ia terlihat percaya diri, bebas, dan sepenuhnya menjadi bagian dari dunia yang dahulu mereka impikan bersama.
Rahman berdiri sendirian.
Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu yang sangat pahit. Ia telah bekerja keras agar pantas berdiri di samping Meilani. Namun selama ia berusaha menjadi seseorang yang baru, Meilani juga telah berubah menjadi orang lain. Pertemuan itu tidak menghidupkan kembali cinta lama. Ia justru menguburkannya dengan cara yang lebih pasti.
Malam itu, dari jendela kamar hotel, Rahman menatap cahaya Manhattan. Kota itu berkilau seperti lautan bintang, tetapi tidak memberinya kehangatan. Di tangannya, kartu nama Meilani masih tergenggam. Ia telah menemukan perempuan yang bertahun-tahun dirindukannya. Namun yang ia temukan bukan Meilani yang pernah berjanji menunggu. Perempuan itu telah menjadi dunia. Sedangkan Rahman, selama ini, hanya hidup di dalam kenangan.
Ia menggenggam kartu nama itu semakin kuat. Lalu perlahan merobeknya dan membuang ke tempat sampah. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa seluruh keberhasilannya tidak mampu membeli kembali waktu. Dan cinta yang telah pergi tidak selalu kembali hanya karena seseorang akhirnya merasa pantas untuk memilikinya.
Di Bern tercerahkan..
Rapat dengan para principal holding dari Hong Kong berlangsung hampir sepanjang hari. Mereka membahas restrukturisasi portofolio kimia dan farmasi di Eropa, rencana akuisisi fasilitas produksi bahan aktif obat, serta kemungkinan mengonsolidasikan beberapa perusahaan yang selama bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas.
Rahman mempresentasikan hasil kajiannya dengan tenang. Ia menjelaskan angka, risiko, dan strategi integrasi seolah-olah seluruh persoalan hidup dapat diselesaikan melalui laporan keuangan. Di ujung meja, Clara memperhatikannya. Clara adalah CEO regional sekaligus atasan langsung Rahman. Perempuan itu dikenal tajam, dingin, dan tidak pernah memberikan pujian tanpa alasan. Seusai rapat, ketika para peserta mulai meninggalkan ruangan, ia memanggil Rahman. “Besok kamu temui B,” katanya.
“B?”
“Dia sedang berada di Bern. Saya sudah mengatur pertemuan.”
Rahman pernah mendengar nama itu. B bukan bagian dari struktur formal perusahaan, tetapi pengaruhnya terasa dalam berbagai keputusan besar. Ia dikenal sebagai penasihat, perancang keuangan, sekaligus orang yang dapat membaca arah bisnis jauh sebelum orang lain melihatnya. Sebagian menyebutnya investor. Sebagian lagi menyebutnya pemecah masalah. Namun tidak ada yang benar-benar mengetahui seberapa luas jaringan dan pengaruhnya.
“Mengapa saya harus menemuinya?”
Clara menutup berkas di hadapannya. “Dia ingin mengenal orang yang akan memegang restrukturisasi portofolio ini.”
“Apakah ada sesuatu yang harus saya persiapkan?”
Clara menggeleng. “Jangan membawa presentasi. Jangan terlalu banyak berbicara tentang angka. Dia sudah membaca seluruh laporanmu.”
Rahman mengerutkan kening. “Lalu apa yang akan kami bicarakan?”
Clara tersenyum tipis. “Itu bergantung pada apa yang dia lihat di dalam dirimu.”
Keesokan harinya, Rahman berangkat ke Bern. Kota itu menyambutnya dengan langit pucat dan udara awal musim gugur yang menggigit lembut. Trem merah melintas teratur di antara jalan-jalan tua. Bangunan dari batu pasir berwarna kelabu keemasan berdiri rapat di sepanjang arkade, sementara dentang menara jam Zytglogge terdengar dari kejauhan.
Pertemuan berlangsung di lounge Hotel Bellevue Palace, tidak jauh dari Bundeshaus dan tepian Sungai Aare. Dari jendela-jendela tinggi, tampak atap-atap tua Bern berwarna merah kecokelatan, kubah hijau gedung parlemen, serta garis Pegunungan Alpen yang samar di balik kabut. Interior lounge itu anggun tanpa berlebihan. Panel kayu tua memenuhi dinding, lampu gantung memancarkan cahaya hangat, dan kursi-kursi berlapis kain hijau gelap menghadap ke jendela.
Di salah satu sudut, B duduk sendirian. Tidak ada pengawal. Tidak ada tumpukan dokumen. Hanya secangkir kopi hitam, sebotol air mineral, dan koran yang terlipat rapi di atas meja.
Rahman mendekat. “Mr. B?”
B mengangkat wajah. “Kamu Rahman? Dari Indonesia?”
“Iya.”
“Duduklah.”
Rahman mengambil tempat di seberangnya. B mengenakan jas gelap tanpa dasi. Sikapnya santai, tetapi tatapannya begitu teliti hingga Rahman merasa seluruh topeng profesional yang selama ini dikenakannya sedang dibuka satu per satu. Pelayan datang. Rahman memesan kopi.
B mulai bertanya tentang pekerjaannya. Tentang perusahaan-perusahaan kimia yang sedang direstrukturisasi, bahan baku farmasi, efisiensi pabrik, dan ketergantungan industri Eropa terhadap pasokan dari Asia. Rahman menjawab dengan rapi. Namun B tampaknya tidak terlalu tertarik pada jawaban-jawaban formal itu.
“Kamu berasal dari mana?” tanyanya kemudian.
“Sumatra Barat.” Rahman menyebut nama kampungnya.
B terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Kita berasal dari kabupaten yang sama, Agam. Hanya kampung kita yang berbeda.”
Percakapan yang semula bermula dari restrukturisasi perusahaan perlahan berubah menjadi pembicaraan tentang hidup. Rahman, yang biasanya tertutup, mulai bercerita. Tentang orang tuanya. Tentang pertunangannya dengan Marni. Tentang penolakannya. Tentang Meilani, gadis yang dicintainya sejak SMA. Ia juga menceritakan pertemuan mereka kembali di New York. Tentang harapan lama yang sempat bangkit. Tentang kenyataan bahwa Meilani kini hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat.
“Saya juga anak kampung, tapi generasi ayah kamu “ lanjut B.
Untuk sesaat Rahman mengira B sedang bercanda. Lelaki di hadapannya berbicara tentang keuangan global, jaringan industri, dan keputusan lintas negara dengan ketenangan seseorang yang telah lama hidup di pusat dunia. Sulit membayangkan bahwa ia lahir dari lingkungan yang tidak jauh berbeda dari tempat Rahman dibesarkan.
“Kampung bukan kutukan,” kata B, seakan membaca pikirannya. “Justru kampung kita adalah sumber keberanian. Dari sanalah anak-anak muda belajar pergi merantau dan berdiri di atas kaki sendiri dibawah binaan pamannya.
B mengangkat cangkir kopinya, lalu melanjutkan dengan suara tenang. “Di mana pun bumi dipijak, kita tidak datang untuk menjadi beban. Kita membawa semangat, pengetahuan, dan kemandirian. Itulah nilai adat yang mengajarkan kita ke mana arah kiblat untuk bersujud dan bagaimana mengikuti irama kehidupan.”
Ia tersenyum tipis. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Rahman terdiam.
B mengaduk kopinya perlahan. “Banyak orang kampung merasa kecil ketika berhadapan dengan kota. Orang kota merasa kecil ketika berhadapan dengan luar negeri. Orang yang hidup di luar negeri pun merasa kecil ketika berhadapan dengan uang dan kekuasaan.”
Ia meletakkan sendok di atas tatakan. “Seharusnya mental seperti itu tidak tumbuh dalam diri anak Minang. Adat mengajarkan bahwa hanya Allah Yang Mahabesar. Selain-Nya kecil. Nilai manusia bukan ditentukan oleh harta, gelar, atau kedudukannya, melainkan oleh manfaat yang dapat diberikannya kepada orang lain, sekecil apapun itu. Kalau ikhlas ia menjadi Mutiara dihadapan Allah.
Rahman menatap meja.
Selama ini ia merasa sedang berjuang melawan penghinaan karena asal-usulnya. Ia belajar keras agar tidak lagi dipandang sebagai anak kampung. Ia membangun karier di Eropa agar suatu hari dapat berdiri tegak di hadapan keluarga Meilani. Ia mengukur harga dirinya dengan pendidikan, pekerjaan, dan pengakuan dunia.
Namun kini ia mulai melihat kesalahan yang selama ini tersembunyi di balik ambisinya. Rasa rendah dirinya bukan lahir dari adat, melainkan dari kegagalannya memahami adat. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah tidak pernah mengajarkan seseorang merendahkan dirinya di hadapan manusia. Adat Minangkabau juga tidak mengajarkan manusia meninggikan diri hanya karena pendidikan, kekayaan, atau jabatan.
Justru ia sendiri yang terjebak dalam mental feodal. Ia pernah merasa statusnya sebagai mahasiswa dan profesional internasional memberinya hak untuk menentukan kelas seseorang. Ia pernah menilai Marni hanya karena perempuan itu tidak kuliah di universitas. Rahman teringat kepada Marni. Perempuan itu tidak pernah membantahnya. Tidak pernah berusaha membela diri. Ia hanya tersenyum dan menundukkan wajah. Mungkin Marni jauh lebih memahami adat daripada dirinya. Sementara Rahman, yang merasa terpelajar, justru telah memunggungi akar yang membesarkannya.
Ia menghela napas panjang. “Mungkin selama ini saya memang bodoh.”
B memandangnya. “Bodoh dalam hal apa?”
“Saya berusaha membuktikan bahwa saya bukan lagi orang kampung.”
“Lalu sekarang?”
Rahman menatap keluar jendela. Sungai Aare berkelok di antara pepohonan yang mulai menguning. “Sekarang saya sadar bahwa seharusnya saya bangga menjadi putra Minang. Selama ini saya tersesat. Saya pergi jauh bukan untuk mengenal diri sendiri, melainkan untuk melarikan diri dari diri saya.”
B tersenyum tipis. “Pulanglah.”
Rahman menatapnya.
“Temui ibumu. Temui pamanmu. Bersujudlah di hadapan mereka. Tidak semua masalah hidup dapat diselesaikan dengan menjadi semakin jauh.”
Kalimat itu membuka sesuatu di dalam diri Rahman.
“Jadi selama ini kamu mengejar keberhasilan agar pantas menikahi Meilani?” tanyanya kemudian.
Rahman tersenyum getir. “Mungkin.”
“Dan ketika kamu sudah berhasil, dia tidak lagi menunggumu.”
Rahman mengangguk. “Saya tidak menyalahkannya. Hidup mengubah kami.”
“Lalu Marni?”
“Dia tidak pernah saya cintai.”
“Apakah kamu mengenalnya?”
Rahman hendak menjawab, tetapi kata-katanya tertahan. Marni adalah sepupunya. Ayah Marni adalah pamannya sendiri, orang yang membiayai pendidikannya selama di Bandung. Ia tahu Marni hanya tamat madrasah. Ia tahu perempuan itu rajin mengaji dan menjaga orang tuanya. Namun ia tidak pernah benar-benar mengenalnya. Ia tidak mengetahui isi pikirannya, ketekunannya belajar, kesabarannya menunggu, ataupun kehidupan yang dijalaninya selama bertahun-tahun.
Rahman menunduk. “Tidak,” katanya akhirnya. “Saya tidak pernah benar-benar mengenalnya.”
B menyandarkan punggung. “Rahman, pernikahan bukan hadiah bagi orang yang telah berhasil. Pernikahan juga bukan tempat pelarian bagi orang yang patah hati.”
Rahman menatapnya.
B melanjutkan dengan suara tenang. “Menikahlah karena Tuhan. Temukan perempuan yang mencintaimu karena Tuhan pula. Dengan begitu, pernikahan akan menjadi ibadah bagi kamu dan istrimu.”
Ia berhenti sejenak.
“Di luar itu, pernikahan mudah berubah menjadi transaksi. Orang menikah karena kecantikan, harta, status, kesepian, atau ambisi. Ketika alasan-alasan itu hilang, yang tersisa hanya penderitaan yang seakan tidak berujung.”
B menatap Rahman lurus-lurus. “Camkan itu.”
Rahman tidak menjawab. Nasihat itu terdengar sederhana. Namun kalimat tersebut memasuki ruang batin yang paling lama ia tutupi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merantau, Rahman tidak lagi berpikir tentang seberapa jauh ia harus pergi. Ia mulai memikirkan jalan untuk pulang.
Pulang
Sepanjang perjalanan kembali, pikirannya dipenuhi wajah-wajah dari masa lalu. Wajah Meilani di belakang gedung bioskop. Wajah ayahnya yang marah ketika ia menolak pertunangan. Wajah ibunya yang menangis saat melepasnya pergi. Dan wajah Marni yang selalu menunduk ketika berpapasan dengannya.
Beberapa hari kemudian, sebuah kabar datang dari kampung. Ayah Rahman telah meninggal. Berita itu sebenarnya datang terlambat. Sang ayah telah dimakamkan beberapa hari sebelumnya. Rahman tidak sempat pulang. Ia tidak sempat memandang wajahnya untuk terakhir kali. Tidak sempat meminta maaf atas kata-kata keras yang pernah mereka pertukarkan. Ia bahkan tidak sempat berdiri di tepi liang kubur.
Kabar itu menghancurkan sesuatu dalam dirinya. Selama ini ia mengira waktu selalu tersedia. Ia percaya suatu hari akan pulang sebagai orang berhasil, membawa kebanggaan, dan membuat ayahnya memahami pilihannya. Namun kematian tidak menunggu keberhasilan siapa pun. Rahman mengajukan cuti. Ia harus pulang ke Padang. Ia harus menemui ibunya yang kini tinggal sendirian.
Perjalanan kembali ke kampung terasa lebih panjang daripada perjalanan mana pun yang pernah ditempuhnya. Dari balik jendela kendaraan, ia melihat sawah, pohon kelapa, rumah-rumah lama, dan jalan kecil yang dahulu dikenalnya. Semua tampak sama. Hanya dirinya yang telah terlalu lama pergi.
Ketika sampai di depan rumah, Rahman berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Rumah itu tampak lebih tua. Cat dindingnya memudar. Halaman yang dulu selalu bersih kini dipenuhi beberapa daun kering. Ia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Rahman mengetuk sekali lagi. Pintu tersibak perlahan. Marni berdiri di sana.
Ia mengenakan baju kurung panjang sederhana dan kerudung berwarna lembut. Wajahnya tampak lebih dewasa. Tidak lagi seperti gadis muda yang dahulu sering dilihat Rahman dari kejauhan.
Marni segera menundukkan pandangan. “Uda Rahman.”
Rahman terdiam.
“Amak di mana?” lanjutnya.
“Di kamar. Amak sedang kurang sehat badan, Da.” jawab Marni. “Sejak mendapat kabar Uda akan datang, beliau jatuh sakit.” Marni menarik napas. “Mungkin karena rindu yang tidak bertepi. Beliau ingin segera bertemu Uda.”
Rahman tidak menunggu lebih lama. Ia berlari masuk menuju kamar ibunya. Ibunya tertidur di tempat tidur. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus daripada yang diingat Rahman. Rambutnya memutih. Wajahnya dipenuhi garis-garis usia dan kesedihan.
“Amak!” Rahman berlutut di samping tempat tidur. “Amak sakit apa?” Ia memeluk tubuh ibunya. Perempuan tua itu perlahan membuka mata. Tatapannya sempat kosong, lalu berubah ketika mengenali wajah anaknya. “Kau Rahman?”
“Iya, Mak. Ini Maman.”
Ibunya mengangkat tangan yang gemetar dan menyentuh pipinya. “Pulang juga kau akhirnya, anakku.”
Rahman tidak mampu menahan air mata. Ia memeluk ibunya erat, seakan ingin mengganti seluruh tahun yang hilang dalam satu pelukan. “Maafkan Maman, Mak.”
Ibunya tidak menjawab. Ia hanya menangis di bahu anaknya. Setelah tangis mereka mereda, sang ibu menunjuk ke arah pintu. “Selama Amak sakit, Marni yang merawat.”
Rahman menoleh. Marni berdiri jauh dari mereka. Tetap menunduk. Tidak ingin mengganggu pertemuan seorang ibu dengan anaknya.
Rahman tiba-tiba teringat sesuatu. “Marni sudah menikah?” tanyanya.
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Marni tidak menjawab. Ibunya menatap Rahman. “Belum.”
Rahman menunggu.
“Sejak ditunangkan dengan kau, tidak ada lagi laki-laki yang berani mendekatinya,” lanjut ibunya. “Orang-orang menganggap dia masih terikat …”
Marni tetap diam.
“Dia sibuk mengajar kursus bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dia juga sempatkan setiap libur menjenguk amak. Ia pula yang membaca surat-suratmu untuk Amak dulu.”
Rahman memandang Marni. Perempuan yang dahulu dianggapnya tidak terpelajar itu ternyata tidak pernah berhenti belajar. Ia bahkan mengajarkan bahasa yang tidak dikuasai banyak orang di kampung. Rahman merasa malu. Bukan malu kepada Marni. Malu kepada dirinya sendiri. Ia pernah menilai perempuan itu hanya dari gelar yang tidak dimilikinya. Ia merasa lebih tinggi karena dapat kuliah, padahal Marni membangun pengetahuan melalui ketekunan yang tidak pernah disaksikan siapa pun.
***
Dari kampungnya, Rahman pergi ke Padang kota untuk menemui pamannya. Sore dia sampai. Rahman berhenti di depan rumah. Untuk sesaat ia ragu. Bukan karena tidak yakin, melainkan karena baru kali itu ia datang tanpa kesombongan, tanpa tuntutan, dan tanpa keinginan membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Ia mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Marni berdiri di sana. “Uda…”
Rahman mengangguk kecil. “Mamak ada?”
“Ayah dan mande belum pulang dari dari toko.
Marni menundukkan wajah.
“Marni ke dapur dulu. Marni buatkan minum untuk Uda.”
“Tidak perlu, Marni.” Rahman tersenyum tipis. “Boleh Uda bicara sebentar?”
Marni tetap berdiri dengan kepala tertunduk. “Duduklah,” kata Rahman lembut. Marni bergerak pelan lalu duduk di sofa dekat jendela. Kedua tangannya terlipat di atas pangkuan. Wajahnya tetap menunduk. Rahman mengambil tempat di hadapannya.
“Sudah berapa lama Marni mengajar kursus bahasa Arab dan bahasa Inggris?”
“Sejak tamat madrasah.”
Rahman terdiam. Selama ini ia menganggap Marni tidak terpelajar hanya karena perempuan itu tidak pernah duduk di universitas. Padahal Marni terus belajar, lalu membagikan pengetahuannya kepada orang lain. Rahman merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
Ia berdiri, lalu berlutut di hadapan Marni. Marni terkejut. “Uda…”
“Maafkan Uda, Mar.” Suara Rahman bergetar. “Selama ini Uda salah menilai Marni. Uda merasa lebih tinggi hanya karena pernah kuliah dan bekerja di luar negeri. Entah Marni mau memaafkan atau tidak, tetapi Uda harus mengatakannya.”
Marni terdiam cukup lama. Airmatanya berlinang, tetapi suaranya tetap tenang. “Uda tidak punya salah kepada Marni.”
Rahman mengangkat wajah.
“Uda jujur tidak menyukai Marni. Marni hormati dan menerima itu dengan lapang dada. Bagaimanapun, uda tetap abang Marni. Itu tidak bisa dipisahkan oleh apapun. Amak uda, tetap Maktuo Marni..”
Ia menarik napas perlahan. “Marni hanya selalu berdoa agar Uda mendapat jodoh yang baik.”
Kalimat itu meluruhkan sisa kebanggaan Rahman. Di hadapannya duduk seorang perempuan sederhana yang dahulu dianggapnya tidak cukup terpelajar, tetapi memiliki keteguhan hati yang tidak pernah ia temukan dalam buku, ruang kuliah, maupun pergaulan internasional.
Rahman menunduk. “Uda datang kemari untuk melamar Marni.”
Marni membeku.
“Apakah mungkin?”
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan panjang. Namun dalam adat yang mereka pahami, diam seorang perempuan tidak selalu berarti menolak. Kadang-kadang diam adalah cara menjaga malu ketika hati sebenarnya telah memberi jawaban.
Dari luar terdengar langkah kaki. Pintu terbuka. Ayah Marni dan ibunya masuk ke dalam rumah. Ketika melihat Rahman duduk bersama putrinya, langkahnya berhenti. Marni segera berdiri dan berlari masuk ke kamar.
Rahman menarik napas panjang. Ia mendekati pamannya yang kemudian duduk di kursi ruang tengah. Rahman berlutut di hadapannya. “Maafkan Rahman, Mamak.”
Pamannya menatapnya tanpa berkata-kata.
“Rahman telah menerima banyak bantuan dari Mamak.”
Pamannya mengangkat tangan. “Kau anak kakak perempuanku. Kau juga tanggung jawabku.”
Rahman menunduk. “Rahman tahu.”
Ruangan mendadak hening.
Pamannya memandang Rahman lama sebelum akhirnya berkata,
“Memang benar, Mamak berharap kau menikah dengan Marni. Bukan karena ingin meminta balas budi.”
Suaranya mulai melemah. “Marni anak Mamak satu-satunya. Ibumu juga hanya punya seorang anak, yaitu kau. Kami sudah tua. Kami berharap kalian kelak dapat saling menjaga.”
Rahman terdiam.
“Tetapi Mamak juga dapat menerima bila kau memilih perempuan lain,” lanjut pamannya. “Mamak akan tetap mendukung. Kebahagiaanmu lebih penting.”
Ia menghela napas.
“Sejak ayahmu meninggal, ibumu menjadi tanggung jawab Mamak. Jadi kau tidak perlu cemas soal kampung. Di mana pun kau ingin menikah dan dengan siapa pun, Mamak tidak akan menghalangi.”
Rahman menahan napas. “Rahman datang untuk melamar Marni.”
Pamannya menatap tajam.
“Mengapa?”
Rahman menjawab perlahan. “Karena Rahman baru sadar, selama ini Rahman mencari perempuan yang dapat membuat Rahman bangga di hadapan dunia.”
Ia menunduk.
“Tetapi Rahman tidak pernah mencari perempuan yang dapat membuat Rahman menjadi lebih baik di hadapan Tuhan.”
Mata pamannya mulai basah.
Rahman melanjutkan, “Rahman tidak tahu apakah Marni masih bersedia menerima. Rahman tidak akan memaksanya. Tetapi bila dia menerima, Rahman ingin menikahinya dengan niat membangun rumah tangga sebagai ibadah.”
Ibu Marni mendengar kalimat terakhir Rahman. Tangannya menutup mulut. Air mata segera mengalir di pipinya. Pamannya menoleh ke arah kamar belakang. “Marni,” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
“Keluar sebentar, Nak,” panggil ibunya.
Pintu kamar terbuka perlahan. Marni keluar dengan langkah kecil. Ia duduk di dekat ibunya, tetap menundukkan wajah. Kedua tangannya gemetar di atas pangkuan.
“Rahman datang melamarmu.” Kata ayahnya.
Air mata jatuh dari wajah Marni tanpa suara.
“Apakah kau menerima?” tanya ayahnya.
Marni mengangkat wajah sedikit, tetapi tidak menatap langsung kepada Rahman. “Ya, Ayah.” Jawabannya pelan. Namun cukup untuk mengubah seluruh suasana rumah. Pamannya menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan. Ibu Marni memeluk putrinya sambil menangis. Tidak ada sorak kegembiraan. Tidak ada pesta malam itu. Hanya beberapa manusia yang akhirnya menyaksikan bagaimana waktu mengubah kesombongan menjadi kerendahan hati, dan penantian menjadi jalan pulang.
Cuti Rahman hanya tujuh hari. Karena itu, pernikahan dilangsungkan secara sederhana di hadapan penghulu, keluarga dekat, dan beberapa tetua kampung. Pesta besar disepakati akan diadakan tahun berikutnya ketika Rahman memperoleh cuti lebih panjang.
Seusai ijab kabul, Rahman duduk berhadapan dengan Marni. Hari pertama, perempuan itu resmi menjadi istrinya. Keesokan harinya, Rahman harus bersiap kembali ke Swiss.
“Marni,” katanya, “apa mungkin Marni pergi sendiri ke Swiss nanti?”
Marni menatapnya.
“Uda akan mengurus dan mengirim dokumen yang diperlukan. Setelah itu Marni bisa mengurus visa dan kelengkapan surat surat untuk izin tinggal di Swiss.”
Marni tersenyum. “Ya, Uda.”
“Yakin?”
“Uda berangkat saja ke Swiss. Utamakan pekerjaan. Jaga kepercayaan induk semang. Itu lebih penting.”
Rahman tersenyum kecil.
“Soal surat-surat, biar Marni urus di Jakarta.”
“Bisa?”
“Insyaallah.” Jawaban itu tenang. Tidak ada keraguan.
***
Sebulan setelah pernikahan, seluruh dokumen selesai. Marni berangkat seorang diri menuju Eropa. Ia mengurus visa, izin tinggal, tiket, dan berbagai dokumen perjalanan di Jakarta tanpa banyak meminta bantuan. Perempuan yang dahulu dianggap Rahman tidak cukup terpelajar itu justru mampu menghadapi birokrasi, perjalanan internasional, dan dunia asing dengan ketenangan yang tidak ia duga.
Ketika pesawat mendarat di Swiss, Marni memandang keluar jendela dengan mata penuh takjub. Pegunungan bersalju tampak di kejauhan. Kota-kota kecil tersusun rapi di antara danau dan lembah. Langit musim dingin menggantung pucat di atas daratan yang sama sekali baru baginya.
Rahman menunggunya di bandara. Ketika melihat Marni berjalan mendorong koper seorang diri, ia tersenyum bangga. “Hebat kau, Mar.”
Marni mengangkat alis. “Hebat kenapa?”
“Berani pergi sendiri. Semua surat juga kau urus sendiri di Jakarta.”
Marni tersenyum. “Marni kan putri Minang, Da.” Katanya seraya memeluk langan Rahman dengan manja. ” This is Switzerland, Uda. It is not a religious state, yet corruption is extremely low. It ranks among the best countries in the world for public administration and good governance.”
“ How do you know that? Tanya Rahman terkejut. Bahasa inggris Marni sangat baik.
“ From the book that I have read.” Jawab Marni terseyum.
” Lupa uda, disamping uda ini bundo kanduang..Di rumah gadang, Uda hanya pasak. Tonggak tetaplah Bundo kanduan. ” Kata Rahman dan dibalas Marni dengan senyum terindah..
Rahman baru sadar bahwa menjadi anak kampung tidak pernah berarti lemah. Didikan adat membuat mereka berani merantau, mampu menyesuaikan diri, dan tidak mudah gentar menghadapi dunia. Mereka mungkin lahir jauh dari pusat kekuasaan. Tetapi mereka tidak dididik untuk merasa kecil.
Rahman meraih koper Marni dan merangkul pundaknya. Dahulu ia pernah membayangkan akan membawa Meilani ke dalam kehidupan yang dibangunnya di Eropa. Ia mengira keberhasilan adalah jalan untuk memenangkan cinta. Kini ia memahami bahwa cinta bukan trofi. Cinta adalah amanah.
Di Bern, kota tempat ia pernah menyadari kebodohannya, Rahman memulai kehidupan baru bersama perempuan yang dahulu ia tolak. Ia telah merantau jauh untuk menemukan harga diri. Namun pada akhirnya, perjalanan itu justru membawanya pulang kepada perempuan yang sejak awal tidak pernah menuntut apa pun darinya—selain ketulusan.
Hikmah..
Laki laki Minang sejak kecil dibesarkan oleh dua arah yang saling melengkapi, kampung sebagai tempat mengenal asal-usul, dan rantau sebagai tempat menguji keberanian. Lelaki Minang diajarkan untuk pergi, bekerja, belajar, dan membangun martabat dengan kemampuannya sendiri. Ia tidak boleh menggantungkan hidup kepada belas kasihan penguasa. Tempat bergantung hanya kepada Tuhan, sedangkan kepada manusia ia harus datang dengan kehormatan, ilmu, dan manfaat.
Perempuan Minang memiliki keteguhan yang tidak kalah besar. Ia sanggup setia menanti suaminya pulang dari rantau, menjaga rumah, keluarga, dan kehormatan selama masa penantian. Namun bila suaminya mengajaknya pergi, ia pun siap berjalan bersama ke mana pun rantau membawa mereka. Kesetiaannya bukan kelemahan. Penantiannya bukan kepasrahan tanpa daya. Ia tetap belajar, bekerja, mengelola kehidupan, dan menjaga dirinya. Ketika tiba waktunya mengikuti suami, ia tidak datang sebagai beban, melainkan sebagai pasangan yang mampu menyesuaikan diri dan ikut membangun kehidupan baru.
Merantau bagi orang Minang bukan berarti meninggalkan identitas. Di mana pun bumi dipijak, adat, agama, dan kehormatan tetap dibawa. Mereka dapat menyesuaikan diri dengan dunia tanpa kehilangan arah kiblat dan tanpa melupakan rumah tempat mereka berasal.
Kesadaran agama menanamkan kesabaran dalam penantian. Ia mengajarkan bahwa tidak semua doa dijawab segera dan tidak semua keterlambatan berarti penolakan. Kesabaran adalah cara menjaga hati, sedangkan keikhlasan adalah keberanian menerima kehendak Tuhan tanpa berhenti berusaha.
Rahman belajar bahwa merantau bukan hanya perjalanan mencari kedudukan, melainkan perjalanan mengenal diri. Marni membuktikan bahwa seorang perempuan dapat menunggu dengan setia, tetapi juga berani melangkah jauh ketika suaminya mengajaknya membangun kehidupan di negeri orang. Pada akhirnya, mereka dipertemukan bukan semata-mata oleh adat, utang budi, atau kehendak keluarga. Mereka dipertemukan ketika keduanya memahami bahwa pernikahan adalah perjalanan bersama.
Lelaki boleh pergi sejauh apa pun untuk mencari kehidupan. Perempuan boleh menunggu dengan kesetiaan yang teguh. Namun ketika waktunya tiba, keduanya harus siap berjalan berdampingan. Sebab pulang tidak selalu berarti kembali ke kampung. Kadang-kadang, pulang adalah menemukan rumah di sisi orang yang berjalan bersama kita menuju Tuhan.

Tinggalkan komentar