
Desember 2013. B akhirnya memilih mundur dari jabatannya sebagai CEO SIDC. Tidak ada pesta perpisahan. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada foto resmi. Hanya sebuah keputusan pendek yang kemudian membuat seluruh gedung terasa seperti kehilangan pusat gravitasinya.
Kasus hukum menimpanya dari tiga yurisdiksi. Di Swiss, ia diperiksa dalam perkara yang dikaitkan dengan dugaan insider trading. Di London, sengketa akuisisi berkembang menjadi perkara yang jauh lebih buruk. Ia dicurigai menggunakan skema transaksi yang kemudian ditafsirkan sebagai bagian dari pencucian uang. Di Hong Kong, ia bersengketa dengan sebuah lembaga keuangan tentang penyimpangan penggunaan pooling fund yang berasal dari struktur mutual fund.
Tiga yurisdiksi. Tiga sistem hukum. Tiga kelompok lawyer. Tiga jenis tuduhan. Dan semuanya datang hampir pada waktu yang sama. Bagi banyak orang, itu bukan lagi perkara hukum. Itu pengepungan. Aku percaya B tidak bersalah. Mungkin ia salah karena terlalu berani. Terlalu cepat mengambil keputusan. Terlalu percaya bahwa semua risiko bisa dipahami kalau datanya lengkap.
Tetapi aku mengenalnya. Ia cukup cerdas untuk memahami batas hukum. Ia tidak bodoh. Ia tahu bahwa dalam dunia keuangan, satu dokumen kecil bisa menghancurkan seluruh struktur. Ia juga tahu bahwa keuntungan sebesar apa pun tidak sebanding dengan kehilangan kebebasan.
Aku mengenal B sejak tahun 2004. Saat itu ia datang ke China hampir tanpa apa-apa. Modalnya hanya sekitar enam puluh ribu dolar Amerika. Ia memulai dari bisnis maklon. Bukan gedung tinggi. Bukan hedge fund. Bukan private equity. Bukan pasar derivatif. Hanya produksi sederhana, jaringan pemasok, negosiasi harga, dan keberanian membaca peluang.
Aku terlibat sejak awal. Karena itu aku tahu prosesnya. Aku melihat bagaimana ia bekerja ketika belum punya nama. Aku tahu bagaimana ia duduk berjam-jam di pabrik. Aku melihat bagaimana ia belajar bahasa bisnis lokal, membangun kepercayaan, menyusun jaringan, gagal, jatuh, lalu mencoba lagi.
Sepuluh tahun. Hanya sepuluh tahun. Dari modal kecil, ia membangun holding. Dari bisnis maklon, ia masuk ke perdagangan, manufaktur, investasi, asset management, lalu ke dunia hedge fund. Ia tumbuh terlalu cepat. Mungkin itu kesalahannya. Orang yang tumbuh terlalu cepat sering masuk ke meja orang lama sebelum sempat memahami siapa yang merasa wilayahnya telah direbut. Bukan hanya bisnis yang ia lawan. Ia telah menyentuh kepentingan. Dan kepentingan tidak pernah melawan dengan sopan.
Aku mengenal B secara pribadi. Ia Muslim yang taat. Dalam keadaan apa pun, ia tidak pernah meninggalkan salat. Di bandara. Di hotel. Di ruang kantor. Di pesawat ketika perjalanan panjang. Kalau waktunya tiba, ia mencari tempat. Kadang aku melihatnya baru keluar dari meeting dengan investor, wajah masih tegang, lalu beberapa menit kemudian ia sudah berdiri menghadap Tuhan.
Ia sering masuk dunia malam. Aku tahu. Aku tidak pernah menutup mata. Itulah dunia bisnis dan komunitasnya. Ia mengenal banyak wanita. Ia masuk bar. Masuk karaoke. Duduk bersama orang kasino. Bicara dengan manusia dari dunia yang tidak selalu bersih. Tetapi ia tidak pernah menjadi pelacur. Aku tahu itu. Ia tidak pernah membeli tubuh hanya karena punya uang. Mitranya punya kasino. Beberapa sahabatnya hidup dari perjudian. Tetapi B tidak pernah berjudi.
Ia pernah berkata kepadaku, “Aku bisa ambil risiko dalam bisnis. Tetapi berjudi itu berbeda. Dalam bisnis, aku bisa menghitung kemungkinan. Dalam judi, aku menyerahkan akal kepada keberuntungan.”
Ia suka minum. Ya. Kadang terlalu banyak. Tetapi tidak pernah menjadi candu. Baginya miras hanya alat sosial. Kadang cara membuka percakapan. Kadang cara membiarkan otaknya berhenti bekerja sebentar. Kadang hanya me time. Aku tidak selalu setuju. Tetapi aku tahu bedanya antara orang yang memakai kebiasaan dan orang yang diperbudak kebiasaan. B tidak diperbudak.
Karena itu aku semakin sulit menerima apa yang terjadi. Aku melihat kerja kerasnya selama hampir sepuluh tahun seperti direnggut sekaligus. Holding yang ia bangun tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Konsorsium lender menempatkan watchdog. Keputusan-keputusan besar mulai diawasi. Akses ke kas dibatasi. Tanda tangannya diperiksa.
Rekening pribadinya diblokir karena UU Pembuktian terbalik. Perusahaan-perusahaan offshore yang terafiliasi dengannya ikut diblokir. Ia tidak lagi bebas memakai apa pun. Aku sedih. Tidak. Aku hancur. Kadang malam-malam aku menangis sendirian. Bukan karena nilai perusahaan. Bukan karena harga saham. Bukan karena risiko bisnis. Aku menangis membayangkan seorang pria yang selama hampir sepuluh tahun membangun semuanya harus keluar seperti orang asing dari rumahnya sendiri.
Yang paling menyedihkan adalah ketika aku menawarkan Yuan. Yuan juga perusahaan yang ia dirikan sendiri, dan aku hanya pelaksananya, sekaligus proxy. Aku punya perusahaan. Aku punya likuiditas. Aku punya akses. Dan secara kepemilikan, B tetap pemegang saham pengendali. Bagiku sederhana. Kalau ia butuh dana untuk perang hukum, aku bisa membantu. Kalau rekening offshorenya diblokir, Yuan bisa menyediakan dana. Kalau lawyer perlu dibayar, kami punya sumber daya. Tetapi ia menolak. Keras.
“Tidak,” katanya.
Aku menatapnya. “Kenapa?”
“Karena ini perang terhadap aku.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu kamu harus menjauh.”
Aku marah. “Yuan juga perusahaanmu.”
“Justru itu. Hanya Yuan yang bisa jadi warisan untuk keluargaku dan kamu..” Kata B pelan. “ Andaikan aku harus dipenjara dan mati karena kasus ini, biarlan semua salah ketelan sendiri. Kalian harus baik baik saja..” Itulah pria, seorang sahabat, seorang suami , ayah, yang menjadikan punggunnya perisai anak panah demi orang yang dia cintai.
Aku menangis. Ia menatapku. “Wenny, dengarkan aku. Perang ini ditujukan kepada aku. Tentu aku sendiri yang harus menghadapinya. Yuan harus menjauh. “ Katanya dan tegas.
Aku terdiam. Entah mengapa aku tidak pernah bisa membantahnya. Aku hanya bisa patuh. Ingin bertanya mengapa selama ini ia selalu merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri. Tetapi aku tahu jawabannya. B memang begitu. Ia bisa memakai jaringan. Ia bisa memakai leverage. Ia bisa memakai uang orang lain untuk membangun bisnis. Tetapi kalau kesalahannya bersifat pribadi, ia selalu merasa harus membayarnya sendiri.
Di depan orang lain, B selalu terlihat keras. Seolah tidak ada masalah yang cukup besar untuk membuatnya berhenti. Tetapi di depanku, aku tahu ia sedang lelah. Sangat lelah. Ia butuh uang. Banyak uang. Untuk membayar lawyer. Untuk mempertahankan perkara di beberapa negara. Untuk menjaga agar perang itu tidak selesai hanya karena satu pihak punya napas lebih panjang. Tetapi kini ia tidak punya sumber daya keuangan. Ia benar-benar sendirian secara keuangan.
Aku sering memikirkan ironi itu. Seorang pria yang mengelola miliaran dolar tidak punya kebebasan memakai uang untuk dirinya sendiri. Orang melihat angka di atas kertas. Mereka tidak melihat bahwa satu putusan pengadilan bisa membuat seseorang kaya di neraca, tetapi miskin dalam kenyataan. Akhirnya B pulang ke Jakarta. Lebih miskin daripada saat pertama datang ke China. Aku melihatnya sebelum ia pergi. Tidak banyak barang yang ia bawa. Tidak ada rombongan. Tidak ada suasana seorang pendiri perusahaan besar. Ia hanya seorang pria yang pulang membawa perkara. Aku menahan tangis.
“B,” kataku.
Ia menoleh. “Kenapa?”
“Aku tidak suka melihat kamu begini.”
Ia tersenyum. “Begini bagaimana?”
“Seperti orang kalah.”
Ia diam. Lalu mendekat. “Wenny.”
Aku menatapnya.
“Orang kalah itu bukan orang yang kehilangan uang.”
Itulah B. Kadang aku membencinya karena terlalu percaya kepada kemungkinan. Kadang aku ingin mengguncang bahunya dan berkata bahwa tidak semua masalah bisa dikalahkan dengan kecerdasan. Tetapi mungkin justru keyakinan seperti itulah yang membawanya sejauh ini. Ia selalu percaya bahwa selama manusia bergerak, kemungkinan belum mati. Ia tidak percaya pada stuck. Menurutnya manusia boleh jatuh. Boleh miskin. Boleh salah. Boleh malu. Tetapi jangan berhenti. Karena keadaan hari ini bukan keputusan terakhir Tuhan.
Aku menahan air mata. “Jangan lupakan aku ”
B menggeleng. “Aku tidak pergi dari kamu Wen.” Ia tersenyum. “Jabatan itu amanah, Wen. Mungkin Tuhan minta aku istirahat. ”
Aku akhirnya menangis. B tidak memelukku. Ia hanya berdiri dekat. Mungkin karena ia tahu kalau memeluk, aku tidak akan membiarkannya pergi.
“Wenny,” katanya pelan.
“Ya?”
“Jaga Yuan.”
Aku mengangguk.
“Jangan biarkan orang memakai kejatuhanku untuk menghancurkan perusahaan.”
Aku terus menangis.
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan ikut perangku.”
Aku menatapnya tajam. Dalan hati aku bekata “Bukan urusan kamu mengatur aku.” Tidak akan kubiarkan priaku dihabisi sendirian tanpa sumber daya. Ia tertawa kecil. Untuk sesaat, aku melihat B yang dulu. Pria yang datang ke China dengan modal kecil. Yang kadang tidur di pabrik. Yang berani bicara besar walau uang tidak banyak. Yang tidak pernah merasa minder di depan pengusaha besar. Yang selalu percaya dunia bisa dibuka asal tahu pintunya. Tetapi hari itu ia pulang hampir tanpa apa-apa. Aku melihatnya berjalan pergi. Satu langkah. Dua langkah. Lalu semakin jauh. Aku ingin memanggil. Tidak jadi. Aku tahu B tidak suka dipanggil ketika sedang pergi. Malam itu aku duduk sendiri. Aku memikirkan sepuluh tahun perjalanan kami.
***
Setelah B pergi ke Jakarta, hari-hariku terasa kosong. Ia seperti benar-benar menghapus dirinya dari hidupku. Nomor teleponku diblokir. Emailku tidak pernah dibalas. Bahkan beberapa jalur komunikasi yang biasa kami gunakan bertahun-tahun ikut terputus. Aku marah. Lalu aku mengerti. B benar-benar ingin tidak ada jejak yang bisa dilacak bahwa aku bagian dari dirinya, dan Yuan bagian dari dirinya. Ia sedang memutus semua kemungkinan orang menyerangku melalui dirinya. Itulah cara B melindungi orang lain. Kasar. Sepihak. Dan sering kali menyakitkan.
Sebulan pertama aku hanya menunggu. Aku datang ke kantor. Mengikuti rapat. Membaca laporan. Menandatangani keputusan. Semua berjalan seperti biasa. Tetapi bagiku, tidak ada yang benar-benar biasa. Aku terbiasa menerima telepon darinya tengah malam. Terbiasa mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba. Terbiasa melihat satu kalimat darinya mengubah arah rapat selama berjam-jam. Sekarang tidak ada apa-apa. Sunyi.
Setelah sebulan, aku bangkit. Aku sadar, aku tidak bisa hanya duduk menunggu B kembali ke Hong Kong. B punya sahabat. B juga punya team shadow yang bertahun-tahun bekerja di belakang layar. Mereka sangat setia kepadanya. George di London. Victor di Moskow. Mereka mengenalku. Dan setelah tahu bahwa dalam banyak urusan aku adalah proxy B, mereka selalu memperlakukanku dengan hormat. Bukan karena jabatanku. Karena posisiku dalam kepercayaan B.
Aku menemui George di London. Kami bicara cukup lama. Aku tidak meminta dia membuka rahasia B. Aku hanya berkata “Awasi dia dari jauh.”
George diam.
“Kalau B meminta sesuatu kepada kalian, segera hubungi aku.”
“Wenny…”
“Jangan tanya soal biaya.”
Ia menatapku. “Di rekening kami juga sangat besar dana. Namun B minta kami menjauhkan Ale capital dari kasus dia .” Kata George. Aku tahu ia sedang menimbang loyalitas. B telah meminta semua orang menjauh dariku. Tetapi aku juga tahu George tidak mungkin benar-benar membiarkan B berjalan sendirian.
Akhirnya ia mengangguk. “Aku akan jaga dia.”
Setelah London, aku terbang ke Moskow. Aku menemui Victor. Pertemuan kami lebih singkat. Victor bukan tipe orang yang banyak bicara. Aku menyampaikan hal yang sama. “Kalau B meminta sesuatu, beri tahu aku.”
Victor menatapku. “Dia tidak akan suka.”
“Aku tahu.”
“Dia bisa marah.”
“Aku juga tahu.”
“Kalau begitu?”
“Aku lebih takut kalau dia tidak punya siapa-siapa.”
Victor diam. Lalu mengangguk.
Aneh rasanya. Kami bertiga seperti tiga anak yang sedang khawatir kepada seorang ayah. Ayah yang sedang berperang. Tetapi tidak ingin anak-anaknya ikut terluka. George. Victor. Dan aku. Kami berdiri di kota berbeda. Dengan fungsi berbeda. Dengan cara berbeda. Tetapi disatukan oleh satu perasaan yang sama, kami tahu B sedang jatuh. Dan kami tahu ia terlalu keras kepala untuk meminta pertolongan. Mungkin itulah bentuk cinta yang paling melelahkan. Mencintai orang yang tidak mau diselamatkan. Tidak ada pengakuan. Tidak ada ucapan. Tidak ada kata-kata besar. Hanya tanggung jawab moral yang terlalu besar untuk diabaikan.
***
Dari George di London, aku mulai menerima informasi. B sedang berhubungan dengan Stanley. Saat mendengar nama itu, aku langsung merasa tidak tenang. Victor memberi penilaian lebih keras. “Stanley pemain uang gelap,” katanya.
“Seberapa buruk?”
“Dia selalu hidup di grey area.”
Aku diam.
“Kalau B terlibat terlalu jauh, berbahaya.”
Aku tahu itu.
Tetapi aku juga tahu mengapa B tetap masuk. Karena baginya, mungkin itu satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang cepat. Ia butuh dana. Bukan untuk hidup mewah. Bukan untuk mempertahankan jabatan. Tetapi untuk membayar lawyer. Untuk bertahan dalam perang hukum. Untuk memastikan lawannya tidak menang hanya karena punya napas lebih panjang.
Informasi terus datang dari George. Semakin banyak aku tahu, semakin takut aku. Ternyata Stanley terhubung dengan transaksi komoditas asal Iran melalui jaringan perbankan di Eropa. Jalur komersialnya bermula dari China. Namun Stanley bukan pemilik kepentingan sebenarnya. Ia hanya mandator. Orang di belakangnya adalah Su. Pengusaha dari China. Nama itu membuatku berhenti cukup lama. Aku mengenal cukup banyak orang dalam lingkaran bisnis China. Dan aku tahu, Su bukan orang yang bisa dianggap biasa.
Aku langsung menghubungi Steven. Steven adalah mitra B di SIDC. Begitu ia mengangkat telepon, aku tidak memberi banyak waktu. “Anda sahabat B dan juga mitranya,” kataku. “Mengapa Anda membiarkan dia masuk ke transaksi berbahaya seperti ini?”
Steven terdiam.
“Wen…”
“Dia sedang tidak punya cukup sumber daya untuk menghadapi risiko sebesar itu.”
Steven belum sempat menjawab. Aku langsung berkata, “Stanley hanya mandator. Pemilik uangnya Su.”
Ada jeda di ujung telepon.
“Wen, kamu yakin?”
“Ya.”
“Su?”
“Aku punya bukti.”
Steven terdengar berubah. “Kalau begitu, atur aku bertemu Su. Aku akan pastikan B langsung deal dengan Su dan mengabaikan Stanley.”
Aku langsung menolak. “Su juga berbahaya. Mengapa Anda tetap membiarkan B masuk ke urusan ini?”
“Wen,” katanya, “aku tidak menawarkan bisnis ini. B sendiri yang minta aku mengatur pertemuan dengan Stanley. Aku bahkan tidak paham detail deal-nya. Bagaimana aku melarang dia?”
Aku terdiam. Kalimat itu menyakitkan karena benar. B tidak suka dilarang. Apalagi ketika sedang terdesak. Semakin orang menahan, semakin ia merasa harus mencari jalan sendiri. Aku akhirnya berkata, “Kalau begitu, atur B bertemu Su.”
Aku menyerahkan file tentang Su. “Dan satu hal.”
“Apa?”
“Jangan pernah cerita bahwa aku terlibat.”
Steven menghela napas. “Dia akan marah kalau tahu.”
“Aku tahu.”
“Kenapa tetap lakukan?”
“Karena orang yang sedang jatuh kadang harus dijaga tanpa diberi tahu.”
***
Seminggu kemudian Steven memberi kabar. B sudah bertemu Su di Beijing. Pertemuan itu berlangsung lama. Setelahnya, B terlihat berbeda. Lebih diam. Lebih gelisah. Ternyata informasi yang diberikan Su jauh lebih besar daripada yang sebelumnya dipahami B. Urusannya bukan lagi sekadar transaksi. Ada geopolitik. Ada sanksi. Ada negara. Ada kepentingan yang terlalu besar untuk disebut bisnis biasa.
Steven berkata kepadaku, “Setelah meeting, B seperti kehilangan arah.”
Aku diam.
“Dia bilang hanya satu orang yang bisa membantunya.”
“Siapa?”
“Ayah angkatnya di DC”
Aku langsung tahu. Scot.
“Tapi dia tidak mau datang,” lanjut Steven.
“Kenapa?”
Steven terdiam sebentar. “Dia malu.”
Aku menutup mata. B malu. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada semua informasi tentang Stanley, Su, atau transaksi berbahaya itu. Aku bisa membayangkan dirinya. Pria yang dulu membangun perusahaan dari hampir tidak ada. Pria yang biasa masuk ke ruang rapat tanpa takut kepada siapa pun. Pria yang selalu menjadi tempat orang lain meminta jalan keluar. Sekarang ia ingin menemui satu-satunya orang yang dianggap sebagai ayah— tetapi malu datang dalam keadaan terpuruk.
Aku duduk lama setelah telepon itu berakhir. Aku membayangkan B sendirian. Mungkin di kamar hotel. Mungkin duduk di tepi ranjang. Mungkin menatap telepon. Mungkin membuka nomor Scot, lalu menutupnya lagi. Mungkin ingin berkata: Aku butuh bantuan. Tetapi tidak sanggup. Itulah harga yang sering dibayar orang kuat. Semua orang terbiasa melihatnya memberi. Maka ketika tiba waktunya meminta, tangannya terasa terlalu berat untuk diulurkan.
Aku menangis. Bukan karena takut B akan kalah. Aku sudah pernah melihatnya jatuh dan bangkit. Aku menangis karena membayangkan ia sedang menanggung semua itu sendirian. Padahal kami ada. George ada. Victor ada. Steven ada. Aku ada. Tetapi B memilih berjalan seperti tidak punya siapa-siapa.
Malam itu aku berdoa lama. Aku tidak meminta Tuhan membuat B menang. Aku hanya meminta satu hal, jangan biarkan dia kehilangan dirinya. Sebab perusahaan bisa dibangun lagi. Uang bisa dicari lagi. Nama bisa dipulihkan. Tetapi kalau seorang manusia kehilangan batas dalam dirinya, tidak semua hal bisa dikembalikan. Dan aku tahu, cepat atau lambat, B harus pergi ke DC. Bukan untuk mencari investor. Bukan untuk mencari struktur. Bukan untuk mencari uang. Tetapi untuk menemui seorang ayah. Seseorang yang cukup mencintainya untuk berkata, cukup.
***
Aku akhirnya mengambil keputusan yang bahkan tidak kuberitahukan kepada siapa pun. Diam-diam aku terbang ke DC. Aku tahu hanya ada satu orang yang mungkin bisa menghentikan B sebelum ia berjalan terlalu jauh. Scot. Elite politik di jantung DC. Aku datang ke kantornya tanpa janji resmi. Di depan ruang kerjanya, kepada staf yang berjaga aku hanya berkata, “Aku istri B.” Aku tidak tahu apakah kalimat itu benar secara hukum. Tetapi dalam hidup, ada hubungan yang tidak bisa dijelaskan oleh dokumen. Aku hanya tahu aku datang bukan sebagai CEO Yuan Holding. Bukan sebagai proxy. Bukan sebagai pemegang kuasa bisnis. Aku datang sebagai perempuan, menemui ayah tempat terakhir priaku bersandar..
Ternyata aku tidak perlu menunggu lama. Belum sampai sepuluh menit, pintu terbuka. Scot keluar. Seorang pria berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Wajahnya tenang. Rambutnya sudah memutih. Tetapi dari caranya menatap, aku langsung mengerti mengapa B begitu menghormatinya. Ia tidak banyak bicara. Hanya memandangku, lalu berkata, “Kamu Wenny?”. Aku mengangguk. Ia mempersilahkanku masuk. ” B, cerita banyak tentang kamu.”
Begitu pintu tertutup, aku mulai bercerita. Tentang perkara hukum. Tentang rekening B yang diblokir. Tentang holding yang diawasi lender. Tentang keputusannya mundur. Tentang kepulangannya ke Jakarta. Tentang Stanley. Tentang Su. Tentang transaksi yang mulai menyentuh wilayah geopolitik dan jaringan uang yang terlalu berbahaya. Aku bicara panjang. Mungkin terlalu panjang. Mungkin terlalu cepat. Mungkin karena selama berbulan-bulan aku menahan semuanya sendiri.
Scot mendengarkan. Tidak menyela. Tidak bertanya. Sampai akhirnya aku melihat matanya berkaca-kaca. Ia menunduk sebentar. Lalu berkata pelan, “B anak baik.” Aku diam. “Dia sangat tahu diri.” Scot menarik napas panjang. “Dia tidak pernah minta tolong kepada siapa pun. Apalagi ketika sedang lemah.”
Aku menatapnya.
“Kalau dia sedang terpuruk, dia tidak datang untuk memohon.” Suara Scot semakin pelan. “Dia hanya menceritakan keadaan.”
Aku tidak bergerak.
“Setelah itu dia membiarkan sahabatnya menilai sendiri.”
Scot menatapku. “Diberi nasihat, dia terima.”
Aku menunduk.
“Diberi bantuan, dia terima.”
Ia diam sebentar.
“Bahkan diacuhkan pun dia tetap terima.”
Aku tidak sanggup menahan air mata. Karena aku tahu itu benar.
Itulah B. Ia tidak pernah memaksa orang untuk tinggal. Tidak pernah memaksa orang untuk menolong. Tidak pernah menuntut kesetiaan. Ia hanya hadir. Bercerita seperlunya. Lalu membiarkan manusia memilih sendiri. Mungkin itu sebabnya orang-orang yang benar-benar mengenalnya justru sulit meninggalkannya.
Scot meminta semua dokumen yang kubawa. Aku menyerahkan file tentang Su. Tentang Stanley. Tentang jaringan perusahaan. Tentang pihak-pihak yang terhubung. Scot membaca perlahan. Semakin lama ia membaca, semakin serius wajahnya. Aku tidak berani bicara. Setelah beberapa waktu, ia menutup dokumen. “Tenanglah,” katanya.
Aku menatapnya.
“Aku akan bantu B.”
Aku hampir menangis lagi.
“Dia tidak tahu aku datang ke sini,” kataku.
Scot tersenyum tipis. “Jangan bilang.”
“Kenapa?”
“Karena dia akan marah.”
Aku tersenyum dalam tangis. “Aku tahu.”
Scot berdiri. “Pulanglah ke Hong Kong.”
Aku masih diam.
“Biarkan aku yang urus.”
Untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, aku merasa bisa bernapas. Bukan karena masalah selesai. Bukan karena aku tahu B akan menang. Tetapi karena akhirnya ada seseorang yang lebih kuat daripada keras kepalanya B. Seseorang yang tidak hanya mengerti transaksi. Tetapi mengerti dirinya.
Aku kembali ke Hong Kong. Aku tidak menghubungi B. Tidak mengirim pesan. Tidak mencoba membuka jalur komunikasi. Aku menunggu.
Seminggu kemudian George menghubungiku dari London.
“Wenny.”
“Ada apa?”
“B sudah dapat partner.”
Aku berdiri. “Siapa?”
George tidak memberi banyak detail. Hanya mengatakan bahwa sebuah lembaga keuangan papan atas bersedia masuk untuk menjalankan struktur kontrak yang berhubungan dengan Su. Aku langsung tahu. Scot sudah bergerak. Namun kemudian George menjelaskan sesuatu yang membuatku kembali tidak tenang. Transaksi itu jauh lebih besar daripada yang selama ini kupahami. Ada penempatan dana berskala besar. Ada aliran hasil perdagangan ekspor Iran. Ada banyak lapisan perusahaan dan yurisdiksi. Ada struktur yang dari luar tampak seperti rangkaian transaksi komersial biasa, tetapi sebenarnya berada di wilayah risiko tinggi.
Aku diam.
“B bagaimana?” tanyaku.
“Tenang.”
“Justru itu yang membuatku takut.”
George tertawa kecil.
Tetapi aku serius.
B selalu paling berbahaya ketika terlalu tenang. Karena itu berarti semua rasa takut sudah dipindahkan ke dalam perhitungan.
Empat bulan kemudian, sekitar pertengahan 2014, George kembali memberi kabar. “Sudah selesai.”
Aku tidak langsung memahami. “Apa?”
“Transaksinya.”
Aku berdiri perlahan. “B berhasil?”
“Ya.”
Aku menutup mata. Untuk beberapa saat aku tidak bicara. B berhasil. Ia memperoleh dana yang cukup. Cukup untuk membayar lawyer. Cukup untuk mempertahankan perkara. Cukup untuk memastikan lawannya tidak menang hanya karena punya uang lebih banyak.
Tetapi George belum selesai. “Su ingin melanjutkan.”
Aku langsung membuka mata. “Dengan nilai lebih besar?”
“Jauh lebih besar.”
Aku diam. “B bagaimana?”
George berhenti sebentar. “Dia menolak.”
Aku tidak menjawab.
“Su menawarkan lagi.”
Aku menahan napas.
“B tetap menolak.”
Aku duduk perlahan. “Dia bilang apa?”
George tertawa kecil. “Hanya satu kalimat.”
“Apa?”
“Cukup.”
Air mataku jatuh. B akhirnya berhenti. Bukan karena peluang habis. Bukan karena jalannya tertutup. Bukan karena ia tidak mampu melanjutkan. Ia berhenti justru ketika pintu terbuka semakin lebar. Bagi B, uang itu sudah cukup untuk membayar lawyer selama perang di pengadilan. Ia tidak membutuhkan lebih banyak. Ia tidak ingin menjadikan jalan darurat sebagai jalan hidup.
Aku menutup telepon dan duduk lama. Untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami apa yang selama ini dikatakan B. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua pintu yang menyelamatkan kita sekali harus dijadikan rumah. Dan tidak semua kemenangan harus diulang. Kadang manusia benar-benar diuji bukan ketika ia tidak punya pilihan. Tetapi ketika peluang ada di depannya, uang tersedia, jalan terbuka, dan ia masih sanggup berkata: cukup.
Aku teringat Scot. Aku teringat perjalananku ke New York. Aku teringat matanya yang berlinang ketika bicara tentang B. Saat itu aku sadar. Scot tidak hanya membantu B mendapatkan jalan keluar. Ia menjaga agar B tidak tersesat setelah jalan itu terbuka. Dan mungkin itulah bentuk pertolongan yang paling besar. Bukan memberi seseorang semua yang ia mau. Tetapi memastikan ia masih tahu kapan harus berhenti.
Aku tidak pernah menceritakan kepada B bahwa aku datang ke New York. Aku tidak pernah mengatakan bahwa akulah yang membawa dokumen Su kepada Scot. Aku tidak pernah memberitahunya bahwa selama berbulan-bulan aku berdiri jauh, mengikuti setiap langkahnya lewat George, Victor, Steven, dan orang-orang yang mencintainya. Tidak perlu.
Pulang
Sejak tahun 2014, B tidak pernah lagi bertemu denganku. Kalaupun datang ke Hong Kong, ia tidak pernah menelepon. Tidak pernah mengirim pesan. Tidak pernah memberi tanda bahwa ia sedang berada di kota yang sama. Pada awalnya aku marah. Lalu aku mengerti. Ia masih menjalankan keputusan lamanya: memutus jejak antara dirinya dan aku. Selama perang hukum belum selesai, ia tidak ingin siapa pun bisa membuktikan bahwa aku masih menjadi bagian dari hidupnya.
Setiap sore aku datang ke Apartement nya. Aku bersihkan apartementnya. Aku tatap lemari pakaiannya. Tidak ada satupun yang dia bawa pulang ke Jakarta. Baju yang selama ini jadi simbol reputasinya. Dia tinggalkan. Aku peluk bajunya. Aku menangis. Aku pernah diusir suami karena debt collector. Dibuang ke jalanan bersama balitaku. Aku tidak menangis. Aku terima karena aku berhutang untuk mengobati ayahku, yang akhirnya meninggal. Aku tetap tegar. Tetapi B, dia sahabatku, orang yang mengangkat martabatku, dan menjagaku selalu, kini sendirian dalam kemiskinan.
Aku percaya B akan kuat. Dia akan memenangkan pertempuran dair orang yang berniat jahat kepadany. Maka aku tidak mencarinya. Aku hanya menunggu. Informasi datang secara rutin dari George dan Victor. Mereka tidak pernah bercerita terlalu banyak. Hanya cukup untuk membuatku tahu bahwa B masih berdiri. Ia mengontrak lawyer-lawyer terbaik untuk menghadapi proses hukum di London, Swiss, dan Hong Kong. Tiga yurisdiksi. Tiga sistem hukum. Tiga perang yang berjalan hampir bersamaan.
Selama itu, B lebih banyak tinggal di rumah. Ia tidak lagi muncul dalam banyak forum bisnis. Tidak lagi berdiri di depan ruang rapat. Tidak lagi datang ke pesta, konferensi, atau pertemuan yang dulu menjadi dunianya. Tetapi aku tahu ia tidak berhenti bekerja. Dari rumah, ia terus memantau keadaan melalui team shadow-nya. Ia membaca laporan. Mengikuti perkembangan hukum. Mempelajari pergerakan lawan. Menyusun kemungkinan. Menunggu waktu.
Empat tahun. Empat tahun hidup seperti seseorang yang berada di luar dunia, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Aku sering membayangkan B duduk sendirian di rumah. Mungkin membaca dokumen sampai larut malam. Mungkin salat lebih lama. Mungkin menatap telepon, tetapi tidak menelepon siapa pun. Mungkin tertawa sendirian ketika membaca berita. Mungkin juga menangis. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu satu hal. B tetap bergerak. Walau tidak terlihat. Dan mungkin itulah bentuk gerak yang paling berat. Bergerak tanpa tepuk tangan. Berjuang tanpa panggung. Mempertahankan keyakinan ketika tidak ada seorang pun yang bisa memastikan kemenangan akan datang.
***
Tahun 2018, aku menerima kabar dari SIDC. B memenangkan seluruh perkaranya. Hong Kong. London. Swiss. Aku membaca pesan itu berkali-kali. Tidak percaya. Lalu menangis. Empat tahun. Akhirnya selesai. B menang. Bukan hanya di pengadilan. Ia menang terhadap waktu. Menang terhadap kelelahan. Menang terhadap godaan untuk menyerah. Menang terhadap dirinya sendiri. Aku ingin meneleponnya. Tidak jadi. Aku tidak tahu apakah nomorku masih diblokir. Aku hanya duduk lama di ruang kerja. Hari itu seluruh Hong Kong seperti terlihat berbeda.
Sore hari pada bulan Desember. Hong Kong sedang dingin. Aku berada di apartemen ketika bel pintu berbunyi. Aku tidak menunggu siapa pun. Aku membuka pintu. Dan B berdiri di sana.
Wajahnya hampir sama seperti dulu. Sedikit lebih tua. Lebih tenang. Tetapi tetap B. Untuk beberapa detik aku hanya berdiri. Tidak percaya. Lalu aku memeluknya. Erat. Sangat erat. Seolah kalau kulepaskan, ia akan kembali menghilang selama empat tahun lagi.
Aku tidak peduli ia suka atau tidak. Aku tidak peduli soal harga diri. Aku tidak peduli soal semua aturan yang selama ini kami jaga. Aku hanya tahu B ada di depanku. Hidup. Berdiri. Kembali.
“B…” hanya itu yang bisa kukatakan. Ia tidak langsung bicara. Tangannya menepuk punggungku perlahan. Akhirnya aku melepas pelukan. Aku menatap wajahnya.
“Kamu jahat,” kataku.
Ia tersenyum kecil. “Aku tahu.”
“Empat tahun.”
“Aku tahu.”
“Kamu bahkan tidak pernah menelepon.”
Ia diam. Aku ingin marah. Tetapi aku terlalu bahagia. Kami masuk. Tidak banyak percakapan awal. Ada hubungan yang setelah terlalu lama terpisah tidak membutuhkan banyak kata. Cukup duduk. Cukup saling melihat. Cukup memastikan orang itu benar-benar ada. Lalu B mulai bicara. “Wen, aku kembali memimpin SIDC.”
Aku mengangguk. “Aku tahu.”
“Aku harus restruktur utangnya.”
Aku menatapnya.
“SIDC masih berada di bawah pengawasan lender dan konsorsium bank. Aku tidak bisa memakai perusahaan itu untuk menyelamatkan dirinya sendiri.”
Ia menunduk.
“Aku perlu jalur pembiayaan di luar neraca biasa.”
Aku tahu ia sedang bicara tentang shadow banking. Bukan untuk menyembunyikan sesuatu. Tetapi karena kanal resmi SIDC masih terikat covenant dan pengawasan ketat. Ia membutuhkan sumber dana lain untuk memperbaiki struktur utang. Lalu ia mengatakan kalimat yang selama ini hampir tidak pernah kudengar darinya. “Aku perlu uang.”
Aku diam. B menunduk. Untuk sesaat aku tidak melihat seorang founder. Tidak melihat seorang hedge fund manager. Tidak melihat pria yang pernah mengelola miliaran dolar. Aku hanya melihat B. Orang yang selama bertahun-tahun terlalu keras kepada dirinya sendiri. Aku berdiri. Masuk ke kamar.Lalu kembali membawa beberapa dokumen. Dokumen perusahaan. Dokumen pribadi. Dokumen kepemilikan saham.
Aku meletakkannya di meja. “Ambil.”
B menatapku. “Apa ini?”
“Kamu bisa mortgage seluruh saham Yuan.”
Ia diam.
“Aku juga punya tabungan pribadi sepuluh juta dolar. Itu gaji dan bonus yang kuterima selama 10 tahun kerja di Yuan”
B tidak bergerak.
“Kalau masih kurang, aku jual apartemen ini.”
Ia menatapku. “Wen…”
Aku menahan napas. “Dulu kamu melarang aku ikut perangmu.” Aku menatap matanya. “Sekarang perangmu sudah selesai.” Aku mendorong dokumen itu ke arahnya. “ Ambil lah, B ”
B menunduk. Lama. Sangat lama. Lalu aku melihat air mata di matanya. Aku hampir tidak pernah melihat B menangis. Bahkan saat terdesak. Bahkan saat kehilangan jabatan. Bahkan saat rekeningnya diblokir. Tetapi sore itu, di apartemenku, ia berlinang air mata. Ia menggeleng. “Tidak perlu.”
Aku tidak mengerti. Ia menutup dokumen itu. Mendorongnya kembali kepadaku. “ Karena aku memenangkan kasus di pengadilan, rekening Ale Capital juga bebas. Kamu lupa itu.”
“B…”
“ Yang membuatku menangis, kamu seperti ibuku. Selalu menjagaku dan melindungiku dengan seluruh jiwamu.” Katanya sambil menunduk. Aku menangis dan memeluknya erat untuk memastikan bahwa dia tidak akan pernah sendirian menghadapi badai tersulit.
Hanya empat bulan setelah kembali memimpin SIDC, B berhasil mendapatkan sovereign wealth fund sebagai investor melalui skema private placement. Dana baru masuk sebagai equity. Bukan utang baru untuk menutup utang lama. Dengan tambahan modal itu, utang kepada bondholder bisa dilunasi. Kewajiban kepada konsorsium bank diselesaikan. Leverage turun. Neraca SIDC kembali sehat. Watchdog lender pergi. B kembali mengendalikan Holding. Saat mendengar kabar itu, aku hanya tersenyum. Itulah B. Ia menyelesaikan masalahnya sendiri.
***
Maret 2019. B kembali membuat keputusan. Ia mengundurkan diri sebagai CEO SIDC. Kali ini bukan karena kalah. Bukan karena hukum. Bukan karena lender. Bukan karena terdesak. Ia mundur setelah semua selesai. Neraca sehat. Utang terkendali. Kepemimpinan baru tersedia. Perusahaan tidak lagi bergantung kepada dirinya. Ia benar-benar pulang ke Jakarta. Bedanya, kali ini ia pulang dalam kemenangan. Bukan lagi sebagai pria yang membawa perkara. Bukan lagi sebagai pendiri yang terusir dari perusahaan sendiri.
Ia pulang karena memilih pulang. Ia ingin menjadi ayah. Suami. Kakek. Ia ingin hidup dalam waktu yang selama bertahun-tahun selalu dikorbankan untuk bisnis. Ingin sarapan tanpa melihat pasar. Ingin mendengar cerita keluarga tanpa sambil membaca terminal. Ingin duduk di rumah tanpa berpikir siapa yang sedang menyerang.
B tetap menjadi mentor korporasi di Yuan Holding. Juga di SIDC. Ia masih memberi nasihat. Masih membaca risiko. Masih diminta bicara ketika keputusan besar harus dibuat. Tetapi ia tidak lagi menjadi pusat segala sesuatu. Dan untuk pertama kalinya, ia tampak menerima itu.
***
Aku sering memikirkan perjalanan kami. Tahun 2004, B datang ke China dengan modal sekitar enam puluh ribu dolar. Tahun 2013, ia pergi hampir tanpa apa-apa. Tahun 2018, ia kembali. Tahun 2019, ia pergi lagi. Namun kali ini bukan karena kalah. Ia pergi karena telah selesai. Mungkin di situlah letak kebesaran yang paling sulit dipahami. B sanggup melepaskan sesuatu justru ketika, pada saat yang sama, seluruh nalurinya tentu ingin menguasainya kembali.
Ia telah berjuang bertahun-tahun. Kehilangan jabatan. Kehilangan akses. Kehilangan kebebasan atas hartanya sendiri. Dituduh, dikepung, ditinggalkan oleh sebagian orang. Lalu ketika semua berhasil direbut kembali—kekuasaan, kendali, kehormatan, dan perusahaan yang ia bangun—ia justru memilih pergi. Tidak semua manusia sanggup melakukan itu. Banyak orang mampu bertahan dalam kekalahan. Tetapi jauh lebih sedikit yang mampu menahan diri dalam kemenangan.
Sebab ketika manusia sudah kembali memiliki apa yang pernah dirampas darinya, keinginan untuk menggenggam biasanya menjadi jauh lebih kuat. Ada hasrat untuk membuktikan. Ada dorongan untuk membalas. Ada keinginan untuk memastikan tidak seorang pun lagi bisa mengambilnya. Tetapi B memilih melepaskan.
Bagiku, itu bukan sekadar keputusan bisnis. Itu sebuah pengorbanan yang sublime. Pengorbanan yang lahir bukan dari kelemahan, melainkan dari kesadaran. Bahwa tidak semua yang bisa kita miliki harus terus kita kuasai. Bahwa tidak semua yang pernah kita perjuangkan harus kita bawa sampai mati. Dan bahwa kemenangan terbesar kadang bukan ketika kita berhasil menggenggam kembali dunia— tetapi ketika kita masih sanggup membuka tangan dan berkata: cukup.
Tanpa keimanan, mungkin hal seperti itu hampir mustahil dilakukan. Karena hanya orang yang percaya kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri yang mampu melepaskan apa yang paling ingin ia pertahankan. Hanya orang yang percaya bahwa hidup tidak berakhir pada jabatan, perusahaan, kekuasaan, dan nama yang sanggup meninggalkan semuanya tanpa merasa kehilangan seluruh dirinya.
B pergi bukan karena dunia tidak lagi berarti. Ia pergi karena akhirnya memahami bahwa ada hal-hal yang jauh lebih berarti. Keluarga. Waktu. Ketenangan. Dan kesempatan menjadi manusia biasa. Mungkin itulah bentuk iman yang paling sunyi. Bukan selalu terlihat dalam doa. Bukan selalu terdengar dalam kata-kata. Kadang iman terlihat ketika seseorang mampu meninggalkan sesuatu yang sangat dicintainya— karena ia percaya bahwa hidup masih memiliki arti, bahkan setelah semua itu dilepaskan.
***
Setelah semua selesai, aku baru memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan sekolah bisnis. Manusia bisa membangun perusahaan dengan modal. Bisa memperbesar usaha dengan leverage. Bisa memenangkan pasar dengan strategi. Bisa bertahan melalui krisis dengan kecerdasan. Tetapi ada saatnya semua itu tidak cukup.
Ada masa ketika yang menyelamatkan manusia bukan uang. Bukan aset. Bukan jabatan. Bukan jaringan. Melainkan orang-orang yang tetap tinggal. George di London. Victor di Moskow. Steven di Makau. Scot di DC. Dan aku. Kami datang dari tempat berbeda. Punya karakter berbeda. Punya dunia masing-masing. Tetapi ketika B jatuh, tidak ada satu pun yang benar-benar pergi. Kami tidak selalu berjalan di sampingnya. Kadang kami hanya mengawasi dari jauh. Kadang memberi peringatan. Kadang membuka pintu. Kadang menutup jalan yang salah. Kadang hanya berdoa. Itulah persahabatan.
Bukan soal seberapa sering kita bertemu. Bukan seberapa banyak foto bersama. Bukan seberapa ramai percakapan. Persahabatan diuji ketika salah satu jatuh dan tidak lagi punya sesuatu untuk ditawarkan. Ketika tidak ada keuntungan. Tidak ada akses. Tidak ada nama besar. Tidak ada panggung. Hanya ada seorang manusia yang sedang lemah. Di situlah kita tahu siapa yang benar-benar sahabat. Loyalitas juga bukan soal selalu membenarkan.
George tidak hanya mendukung B. Ia memberi batas. Steven tidak hanya membuka akses. Ia juga memperingatkan. Victor tidak hanya menjalankan tugas. Ia menjaga agar konflik tidak berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Scot tidak hanya menolong. Ia berani berkata, “Cukup.”
Aku sendiri tidak selalu berada di dekat B. Tetapi aku berusaha memastikan ia tidak benar-benar sendirian. Loyalitas bukan membiarkan orang yang kita cintai berjalan ke jurang hanya karena kita tidak ingin membuatnya marah. Kadang loyalitas adalah keberanian untuk menghentikan. Kadang ia harus dilakukan diam-diam. Kadang tanpa ucapan terima kasih. Kadang bahkan tanpa pernah diketahui.
Dan cinta?
Aku dulu mengira cinta berarti memiliki tempat dalam hidup seseorang.Ternyata tidak selalu. Kadang cinta justru berarti memberi ruang. Menjaga tanpa mengekang. Menolong tanpa mengambil alih. Menunggu tanpa menuntut. Mendoakan tanpa perlu diketahui.
Aku tidak pernah tahu apakah B benar-benar memahami seberapa jauh kami menjaganya. Mungkin tidak. Dan mungkin itu tidak penting. Cinta yang tulus tidak selalu membutuhkan saksi. Ia cukup tahu bahwa orang yang dijaga tetap hidup. Tetap berdiri. Tetap mengenali dirinya sendiri.
Aku belajar bahwa investasi B pada kami, aku, Steven, George, Victor dan Scot adalah investasi spiritual. Bertahun tahun dia menjaga kami dan mengarahkan kami menjadi pribadi yang mandiri. Ia tidak minta kami memujanya dengan menjadikannya dewa. Tidak berharap balasan apapun. Disaat ia jatuh, ia tidak mengajak kami ikut jatuh. Seakan dia berkata, biarlah yang baik untuk kalian, semua salah kutelan sendiri. Mungkin itulah hikmah tentang perjalanan B. Saat jatuh, ia masih punya alasan untuk bangkit dengan prasangka baik.
Loyalitas kami – aku, George, Victor dan Scot- beri bukan membenarkan semua Langkah B. Tetapi menjaganya, mengkoreksinya agar dia terhindar dari kesalahan yang tidak perlu. Dan mungkin itulah bentuk cinta yang paling dewasa. Tidak memiliki. Tidak menguasai. Tidak menuntut balasan. Hanya menjaga. Diam-diam. Setia. Sampai seseorang yang kita sayangi akhirnya menemukan jalan pulang.
Pada akhirnya, kita semua membutuhkan satu tempat. Satu sahabat. Satu cinta. Satu tangan yang tidak menarik kita ke mana-mana— hanya memastikan kita tidak jatuh terlalu dalam. Karena dunia bisa memberi banyak hal. Uang. Kekuasaan. Jabatan. Nama. Tetapi hanya sedikit orang yang mampu memberi sesuatu yang paling mahal, kehadiran saat kita tidak lagi punya apa-apa. Dan kalau dalam hidup kita memiliki satu atau dua orang seperti itu— maka sesungguhnya kita sudah sangat kaya.

Tinggalkan komentar