
Aku masih ingat malam itu. Jakarta sedang basah. Hujan bulan Oktober turun seperti seseorang yang menangis diam-diam: tidak meraung, tetapi cukup membuat seluruh kota tampak letih. Lampu jalan berkilau di aspal, pecah oleh genangan air, dipantulkan lagi oleh kaca-kaca mobil yang lewat dengan wajah tergesa. Aku baru pulang dari urusan yang tak penting untuk dikenang. Di dalam mobil, sopirku mengemudi pelan melewati kawasan Kota. Malam sudah hampir habis bagi orang-orang baik, tetapi baru mulai bagi mereka yang terlempar dari rumah, dari nasib, dari perlindungan.
Di halte dekat BNI itu aku melihatnya.
Seorang perempuan duduk memeluk anak kecil. Tubuhnya basah. Rambutnya menempel di pipi. Kain bajunya kuyup. Anak dalam pelukannya menangis lirih, suara kecil yang tenggelam dalam deras hujan dan deru mesin kota. Perempuan itu tidak berteriak meminta tolong. Tidak melambai. Tidak mengejar siapa pun. Justru karena diamnya itulah aku meminta sopir berhenti.
Aku turun. Hujan segera memukul wajahku. Ketika aku mendekat, ia menunduk seperti orang yang sudah terlalu sering disalahkan bahkan sebelum bicara.
“Ibu mau ke mana?” tanyaku.
Ia menggeleng.
Jawaban itu lebih panjang dari semua kalimat. Orang yang masih punya tujuan biasanya menyebut nama tempat. Tanah Abang. Senen. Bekasi. Pulogadung. Tapi perempuan itu hanya menggeleng. Seakan dunia sudah habis baginya, dan yang tersisa hanya halte, hujan, serta anak kecil yang harus tetap hidup.
“Ini sudah malam,” kataku pelan. “Angkot sudah jarang. Kereta juga sudah tidak ada.”
Ia mengangkat wajah. Matanya bukan mata orang yang hendak menipu. Aku mengenal mata seperti itu. Mata manusia yang tidak lagi memikirkan dirinya, tetapi masih berdoa agar anaknya tidak ikut dikubur oleh nasib.
“Saya pergi dari rumah,” katanya.
Tidak ada drama dalam ucapannya. Justru itu yang membuat dadaku berat.
“Kalau Ibu mau,” kataku, “ikut saya. Ada rumah singgah di Rawamangun. Untuk sementara Ibu dan anak Ibu bisa tinggal di sana.”
Ia memandangku lama. Di zaman seperti itu, seorang perempuan miskin tidak mudah percaya kepada laki-laki bermobil bagus. Terlalu banyak kebaikan palsu di kota ini. Terlalu banyak tangan yang memberi sambil menghitung harga tubuh orang lain. Tapi malam itu hujan terlalu deras, anaknya terlalu kecil, dan mungkin Tuhan sedang menyisakan satu pintu yang tidak boleh ia tolak. Ia mengangguk.
Ketika pintu belakang mobil kubuka, ia menolak halus. Ia memilih duduk di depan, di samping sopir. Aku mengerti. Ada jarak yang perlu dijaga oleh seorang perempuan yang sepanjang hidupnya mungkin terlalu sering dipaksa dekat dengan kehendak orang lain.
Di sepanjang jalan, ia lebih banyak diam.
Aku menelepon Dina, penghuni lama rumah singgah.
“Siapkan kamar,” kataku. “Ada tamu baru. Dia datang dengan putrinya.”
Sesekali kulihat perempuan itu dari pantulan kaca. Ia memeluk anaknya rapat-rapat. Seperti seseorang yang telah kehilangan semua, kecuali satu alasan untuk tidak mati malam itu. Namanya Murni. Ironi yang getir, karena hidup justru memperlakukannya seolah-olah ia tidak pernah berhak menjadi murni. Terdengar lirih suaranya ” Tuhan, hukumlah aku. Tapi tolong jaga anak ini. Dia tidak seharusnya menanggung derita dan dosaku. “
***
Malam itu, di ruang tamu rumah singgah, setelah anaknya dibawa Dina untuk diganti pakaian dan ditidurkan, Murni mulai bercerita. Tidak semua. Tidak dengan air mata yang meledak-ledak. Ia bicara seperti orang yang sedang menghitung luka di tubuhnya sendiri, satu per satu, tanpa lagi terkejut melihat jumlahnya.
Ia lahir tanpa ayah. Ibunya pergi entah ke mana ketika ia masih kecil. Lalu seseorang menjualnya. Sejak itu hidup menjadi lorong panjang yang berbau rokok, bedak murah, alkohol, dan lelaki-lelaki yang membayar untuk lupa bahwa perempuan juga manusia.
Bertahun-tahun kemudian ia menikah. Atau tepatnya, ia mengira telah menemukan lelaki yang akan membawanya keluar dari masa lalu. Lelaki yang dulu berkata sayang, lalu pelan-pelan berubah menjadi tangan yang menampar, suara yang membentak, mulut yang mencaci.
“Dia bilang saya dulu pelacur,” kata Murni.
Aku diam.
Tidak semua kalimat harus dijawab. Ada kalimat yang hanya boleh ditemani hening, sebab jawaban apa pun terasa kurang ajar di hadapan penderitaan yang terlalu dalam.
“Padahal saya cuma ingin hidup baik,” lanjutnya. “Saya kerja. Saya pulang bawa makanan. Saya ingin jadi istri. Jadi ibu.”
Ia menunduk. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan. “Saya tidak dendam sama dia. Saya cuma ingin pergi.”
Kalimat itu membuatku menatapnya lama. Ada manusia yang pergi karena benci. Ada yang pergi karena lelah. Tetapi Murni pergi karena sisa kasih sayang terakhir dalam dirinya tidak boleh ikut mati. Ia tidak lagi menyelamatkan dirinya. Ia menyelamatkan anaknya. Anak itu bernama Sasa.
Malam itu aku melihat Murni bukan sebagai korban, bukan sebagai perempuan masa lalu, bukan sebagai tubuh yang pernah diperdagangkan nasib. Aku melihatnya sebagai ibu. Dan seorang ibu, betapa pun miskinnya, betapa pun kotornya cap yang ditempel dunia pada dirinya, selalu memiliki satu wilayah suci yang tidak boleh diinjak siapa pun: cinta kepada anaknya.
Di rumah singgah, Murni belajar bernapas kembali. Ia tidak banyak bicara. Setiap pagi ia membantu Dina menyapu halaman, mencuci piring, atau menyiapkan sarapan. Setelah beberapa waktu, kami membantunya mendapat pekerjaan di percetakan. Ia bekerja tekun. Pulang dengan wajah lelah, tetapi ada cahaya kecil yang mulai kembali di matanya.
Aku jarang menemuinya. Rumah singgah bukan tempat orang berhutang budi kepadaku. Aku selalu berkata kepada Dina, jangan biarkan mereka merasa sedang diselamatkan oleh manusia. Biarkan mereka merasa Tuhan masih mengizinkan bumi menyediakan tempat berteduh.
Setahun kemudian Murni menikah lagi. Lelaki itu buruh kasar di tempat kerjanya. Bukan orang besar, bukan orang kaya. Tetapi Murni tampak percaya bahwa hidup memberinya kesempatan kedua. Aku tidak hadir di akadnya, namun lewat Dina kukirim sedikit uang sebagai hadiah. Belakangan kudengar uang itu ia belikan mesin jahit. Aku tersenyum ketika mendengarnya.
Perempuan seperti Murni tidak pernah meminta banyak dari hidup. Sebuah rumah kecil. Suami yang tidak memukul. Anak yang bisa sekolah. Mesin jahit di sudut ruangan. Dapur yang mengepul. Itu saja. Tetapi kadang Tuhan menguji orang kecil dengan cara yang lebih berat daripada orang besar. Belum setahun, suaminya meninggal karena kecelakaan motor.
Murni kembali ke rumah singgah. Kali ini ia tidak datang dengan tubuh lebam. Tetapi ada kelelahan yang lebih tua dari usianya. Ia berkata tak sanggup membayar sewa rumah. Dina menerimanya lagi tanpa banyak bertanya. Beberapa bulan kemudian Murni memutuskan pergi ke Batam. Katanya ada pekerjaan. Ia tidak bisa membawa Sasa. Ia berjanji, setelah mapan, ia akan kembali menjemput anaknya.
Aku tidak ada di sana ketika ia pergi. Tapi Dina pernah menceritakannya kepadaku.
Sasa menjerit memanggil ibunya. “Mama… mama… Sasa ikut…”
Murni menangis, tetapi terus melangkah. Aku tidak pernah tahu luka macam apa yang lebih pedih bagi seorang ibu: dipukul suami, dihina masa lalu, atau meninggalkan anak sendiri demi harapan yang belum tentu benar.
Setelah itu Murni hilang. Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar. Seperti banyak perempuan miskin lain di negeri ini, ia masuk ke lorong gelap ekonomi, migrasi, pabrik, calo, kontrakan sempit, dan mungkin nama baru yang tak lagi dikenali orang.
Rumah singgah kemudian tutup. Dina menikah dan pindah ke Kalimantan. Ia membawa Sasa bersamanya. Aku hanya tahu itu belakangan. Hidup menyeret kami ke arah masing-masing. Nomor telepon berganti. Alamat berubah. Orang-orang yang pernah kita selamatkan kadang hilang bukan karena lupa, tetapi karena kemiskinan selalu membuat manusia sulit meninggalkan jejak.
***
Bertahun-tahun kemudian, pada 2014, aku duduk di sebuah kafe di Jakarta Pusat. Aku tidak sedang mencari masa lalu. Justru masa lalu yang datang duduk di meja sebelahku. Seorang pemuda remaja dan seorang perempuan muda sedang berbicara. Dari cara mereka bicara, aku tahu mereka bukan orang berada. Ada kesopanan orang miskin dalam suara mereka selalu menimbang kata, selalu takut merepotkan hidup.
“Mbak ada tabungan untuk kamu masuk PTN,” kata perempuan muda itu.
“Jangan, Mbak,” jawab pemuda itu. “Itu uang Mbak untuk menikah nanti.”
Aku menoleh sedikit.
Perempuan itu memaksa adiknya kuliah. Adiknya menolak karena sadar mereka miskin. Percakapan sederhana, tetapi membuatku teringat banyak hal. Di negeri ini, orang miskin sering kali bukan tidak punya cita-cita. Mereka hanya terlalu cepat belajar menghitung harga mimpi.
Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asalnya?”
“Kalimantan,” jawab si pemuda. “Tapi orang tua asal Jawa.”
Entah mengapa aku menyebut satu nama. “Om punya kenalan di Kalimantan. Perempuan. Namanya Dina.”
Perempuan muda itu menatapku. “Dina Priastuti? Istrinya Pak Drajad?”
Jantungku seperti ditarik masa silam.
“Jadi Om kenal mama saya?” tanyanya.
“Mama kamu?” Aku menatapnya lebih saksama.
Ada sesuatu pada wajahnya. Garis dagu. Tatapan mata. Bukan wajah Murni sepenuhnya, tetapi ada bayangan malam hujan itu di sana. Bayangan bayi kecil yang dulu menggigil dalam pelukan ibunya.
“Kamu Sasa?” tanyaku.
Perempuan muda itu berdiri. Matanya basah. “Om Ale?”
Aku tidak segera menjawab. Ada nama yang bertahun-tahun tidak dipanggil oleh orang dari masa itu. Nama yang tertinggal di rumah singgah, di antara doa Dina, tangis Murni, dan hujan Oktober.
“Mama sering cerita tentang Om,” kata Sasa. “Setiap doa, nama Om selalu disebut.”
Aku meminta ia menelepon Dina saat itu juga. Ketika suara Dina terdengar di seberang, waktu seperti membuka pintu tua.
“Din, kamu sehat?”
Hening sebentar.
“Ini Bang Ale, kan?”
Suaranya pecah. Aku tahu ia menangis.
“Ya, Din.”
“Suaranya enggak pernah lupa, Bang.”
Ada orang-orang yang tidak kita temui bertahun-tahun, tetapi tempat mereka dalam hidup tidak pernah benar-benar kosong. Dina salah satunya. Perempuan yang dulu hanya penghuni rumah singgah, lalu menjadi ibu bagi anak yang bukan darahnya sendiri.
Kami bicara sebentar. Tidak perlu banyak. Di antara orang-orang yang pernah melewati masa sulit bersama, kalimat pendek sering kali cukup untuk memeluk.
Setelah telepon ditutup, aku menatap Sasa. Ia sudah dewasa. Cantik dengan cara yang sederhana. Matanya kuat, tetapi di dalamnya tersimpan lubang yang hanya bisa dipahami oleh anak yang pernah ditinggalkan ibunya tanpa sempat mengerti alasannya.
“Sasa akan terus cari mama,” katanya. “Dalam doa selalu Sasa sebut.”
Aku mengangguk. Kuelus kepalanya seperti dulu mungkin aku ingin menenangkan bayi kecil yang menangis di halte itu. Dalam hati aku berkata, Murni, di mana pun kau berada, anakmu tumbuh baik. Itu mungkin satu-satunya kabar yang ingin didengar seorang ibu dari Tuhan.
Aku tidak tahu apakah Murni masih hidup. Tidak tahu apakah ia sampai di Batam, bekerja di pabrik, menikah lagi, jatuh sakit, atau tertelan kota lain yang lebih kejam. Tetapi aku ingin percaya, ada bagian dari dirinya yang selamat. Sebab manusia seperti Murni tidak benar-benar hilang selama ada anak yang masih menyebut namanya dalam doa.
Di luar kafe, Jakarta tetap bising. Mobil-mobil melintas. Orang-orang mengejar janji. Gedung-gedung tumbuh makin tinggi, seakan ingin menutup langit dari pandangan kaum kecil. Tetapi bagiku, hari itu, Jakarta kembali menjadi halte tua di malam hujan.
Dan aku kembali melihat Murni. Perempuan basah kuyup itu. Perempuan yang menggendong anaknya sambil berdoa agar Tuhan menghukum dirinya saja, jangan anaknya. Perempuan yang pernah dianggap kotor oleh dunia, tetapi justru menyimpan cinta paling bersih yang pernah kulihat. Namanya Murni.
Barangkali ia tidak pernah tahu, hidupnya mengajariku satu hal bahwa kesucian manusia tidak selalu lahir dari masa lalu yang bersih. Kadang ia lahir dari keberanian untuk pergi dari kegelapan, meski hanya dengan uang lima ribu rupiah, satu tas kecil, dan seorang anak yang menggigil dalam pelukan.
***
Chang menghubungiku pagi itu. Suaranya seperti biasa, datar, efisien, tanpa basa-basi. Orang seperti Chang selalu berbicara seolah waktu adalah komoditas yang harus diperdagangkan dengan presisi.
“B, ada CEO perusahaan afiliasi SIDC dari Australia sedang di Jakarta. Saya pikir kamu perlu bertemu dia.”
“Urgent?”
“Tidak terlalu. Tapi strategis.”
Aku tersenyum. Kalau Chang sudah memakai kata strategis, artinya ia sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar daripada angka di spreadsheet. Bisa soal akuisisi, bisa soal konsesi, bisa juga soal manusia. Dalam bisnis, kadang yang paling menentukan bukan dokumen, tetapi siapa yang duduk di seberang meja.
Pertemuan diatur di sebuah café di Jakarta Pusat. Tempat yang cukup tenang untuk bicara bisnis, tetapi cukup ramai untuk menyamarkan percakapan penting sebagai obrolan biasa. Aku datang lebih dulu. Duduk di sudut ruangan, memesan kopi hitam. Dari balik kaca, Jakarta tampak seperti tubuh yang tidak pernah sembuh: terus bergerak, terus bekerja, terus berdarah dalam diam.
Beberapa menit kemudian seorang pria masuk. Langkahnya tegap. Jasnya sederhana, tetapi potongannya mahal. Wajahnya matang oleh pengalaman, tetapi ada sesuatu pada caranya menoleh yang membuat masa lalu tiba-tiba bangkit dari kursi kosong di hadapanku.
Aku berdiri.
“Steven?”
Pria itu berhenti. Matanya membesar sebentar, lalu senyumnya muncul. Senyum yang sama dengan dua belas, tiga belas tahun lalu di Hong Kong, ketika ia masih analis investment banking di Suisse, dan aku sering mengundangnya makan malam setiap kali ia business trip.
“B…”
Kami berpelukan.
Tidak lama, tetapi cukup untuk menutup jarak bertahun-tahun. Aku menatapnya lagi, memastikan bahwa yang berdiri di depanku memang Steven yang dulu suka bicara panjang tentang struktur pembiayaan, risiko negara, mineral economics, dan kebiasaan para banker menyembunyikan kerakusan di balik istilah teknis.
“Jadi kamu CEO perusahaan afiliasi SIDC di Australia?” tanyaku setelah kami duduk.
Steven tertawa kecil. Ada rasa kikuk dalam tawanya. “Ya. Hidup kadang punya humor yang tidak kita pahami ketika sedang berlangsung.”
“Bagaimana ceritanya?”
Ia membuka napkin, merapikan sendok kecil di samping cangkir, seperti seorang analis lama yang tetap membutuhkan keteraturan sebelum menjelaskan sesuatu. “Tahun 2013 SIDC bersama konsorsium mengakuisisi tambang bijih besi di Australia. Perusahaan tempat saya bekerja di Suisse terlibat sebagai investment banker dalam proses itu. Saya cuma staf analis. Tidak penting. Saya membaca semua profile transaksi. Di situ saya tahu, CEO SIDC ternyata kamu.”
Aku menatapnya. “Kamu tahu nomor telepon dan email saya. Kenapa tidak menghubungi?”
Steven menunduk. Senyumnya hilang sebentar. “Saya malu, B.”
“Malu?”
“Saya sadar siapa saya. Saya hanya analis. Kamu sudah menjadi orang besar dalam struktur yang bahkan kami bahas di ruang deal dengan rasa hormat. Saya takut pertemanan kita dulu hanya terlihat seperti saya sedang mencari jalan pintas.”
Aku menghela napas pelan.
Ada jenis jarak yang tidak dibuat oleh kesombongan, tetapi oleh rasa minder. Dan kadang rasa minder lebih kejam daripada kesombongan, karena ia membuat orang baik menjauh tanpa alasan.
“Steven,” kataku, “itu hanya business. Tidak mengubah saya secara personal.”
Ia mengangguk.
“Saya tahu sekarang. Tapi waktu itu saya belum cukup dewasa untuk memahami. Saya hanya bertekad, suatu saat kalau bertemu lagi dengan kamu, saya harus datang dalam posisi yang berbeda. Tahun 2019 SIDC melakukan restrukturisasi, termasuk tambang bijih besi di Australia. SIDC punya hak vote menentukan CEO. Saya melamar. Saya terpilih. Kini inilah saya.”
Aku merangkul bahunya. “Gila kamu. Bertahun-tahun hilang hanya karena gengsi.”
“Bukan gengsi. Malu.”
“Dalam hidup, malu kadang lebih mahal daripada utang.”kataku.
Steven tertawa. Kali ini lebih lepas. Lalu wajahnya berubah serius. Ia mengambil notepad dari tasnya. Business kembali duduk di meja kami, tetapi tidak lagi menjadi tembok. Hanya menjadi topik yang kami bicarakan seperti dulu.
“Saya diminta Chang bertemu kamu untuk membahas rencana akuisisi tambang di Amerika Serikat.”
Ia memperlihatkan profile perusahaan. “Perusahaan ini sudah berdiri lebih dari dua ratus tahun. Bisnis utamanya mineral pasir silika. Mereka punya konsesi di Afrika, Amerika Latin, India, dan Laos. Riset mereka kuat. Mereka menguasai lebih dari seribu lima ratus produk downstream silika, termasuk polysilicon. Logistik mereka juga sangat matang.”
Aku membaca cepat. Tidak banyak yang perlu kutanyakan. Chang pasti sudah menyaringnya. Steven pasti sudah membaca detailnya. Yang tersisa hanya keputusan.
“Bisnis ini penting,” kataku. “SIDC perlu mengamankan bahan baku untuk industri panel surya di Korea, Eropa, dan China. Tugas kamu akuisisi perusahaan itu.”
Steven menatapku. “Siap, B.”
“Berapa lama?”
“Satu tahun.”
“Yakin?”
“Saya tidak akan duduk di depan kamu kalau tidak yakin.”
Aku tersenyum. Steven yang dulu sudah berubah. Di masa lalu ia punya kecerdasan. Sekarang ia punya keberanian.
“Saya dengar,” katanya, “industri polysilicon Yuan di China juga sudah diofftake oleh SIDC. China terlihat sangat rakus terhadap polysilicon.”
“Rakus bukan kata yang salah,” kataku. “Tapi dalam industri strategis, rakus sering hanya nama lain dari visi jangka panjang.”
Steven mengangkat alis.
“Era ke depan adalah era high-tech. Semua electronic device membutuhkan rantai pasok semiconductor grade material. Polysilicon bukan hanya bahan baku panel surya. Ia berada dalam jaringan besar industri elektronik, chip, energi terbarukan, sensor, device, data center. Siapa yang menguasai bahan baku, dia tidak sekadar menjual barang. Dia mengendalikan denyut supply chain global.”
Steven mengangguk pelan. “Indonesia punya silika besar,” katanya. “Tahun 2022 pernah ada rencana pabrik polysilicon di Jawa Tengah. Bahkan sudah peletakan batu pertama oleh presiden. Tapi sampai sekarang tidak berjalan. Mengapa negeri sebesar itu tidak fokus? Nilai tambahnya jauh lebih tinggi daripada sekadar batubara atau nikel.”
Aku diam sebentar.
Kadang pertanyaan orang asing tentang Indonesia terdengar sederhana, tetapi jawabannya selalu melukai. “Karena kita sering jatuh cinta pada tambang, bukan pada ilmu,” kataku akhirnya.
Steven menatapku.
“Kita senang melihat gunung dikeruk, kapal berangkat, devisa masuk, elite tersenyum. Tapi kita kurang sabar membangun laboratorium, mendidik process engineer, menjaga riset dua puluh tahun, membentuk ekosistem kimia, material science, energi, logistik, dan pasar. Polysilicon bukan bisnis orang yang ingin cepat kaya. Ini bisnis orang yang sanggup menanam pikiran sebelum menanam modal.” Kataku.
“Kendala investasinya juga besar,” kata Steven.
“Benar. Skala kecil saja, kapasitas seratus ribu ton per tahun, bisa butuh sekitar USD 1,6 miliar. Teknologinya rumit. Tidak seperti nikel atau aluminium yang bisa dipahami lewat smelter dan listrik murah. Polysilicon butuh kemurnian, proses kimia bertingkat, kontrol energi, disiplin engineering, safety, waste management, dan pasar yang siap menyerap.”
Aku berhenti sebentar.
“Andaikan Indonesia punya industri polysilicon yang matang, Apple, Microsoft, Intel, dan pemain global lain akan melihat Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai basis produksi. Bukan mustahil relokasi dari China sebagian mengalir ke Indonesia. Tapi syaratnya satu: kita harus berhenti menjadi negeri yang bangga pada bahan mentah.”
Steven menyesap kopinya. “Dan itu tidak mudah.”
“Tidak mudah. Tapi lebih tidak mudah lagi kalau sepuluh tahun ke depan kita hanya menonton orang lain mengolah pasir kita menjadi masa depan mereka.”
Kami diam beberapa saat. Di meja sebelah, sepasang anak muda tertawa melihat layar ponsel. Dunia memang selalu aneh. Di satu meja orang bicara supply chain global, di meja lain orang tertawa karena video pendek. Keduanya sama-sama bagian dari zaman.
Steven menyesap kopinya. Matanya bergerak ke luar jendela café. Di seberang jalan, beberapa mahasiswa berjalan berkelompok. Mereka membawa ransel, jaket almamater, dan wajah yang menyimpan lelah sekaligus marah.
“B,” kata Steven pelan, “setiap kali saya datang ke Jakarta, saya selalu merasa negeri ini seperti berdiri di antara dua dunia. Di satu sisi gedung-gedung tumbuh, café penuh, mobil mewah berseliweran. Tapi di sisi lain, saya melihat anak-anak muda dengan wajah cemas. Seperti ada sesuatu yang mereka takutkan dari masa depan.”
Aku mengikuti arah pandangnya. “Karena mereka melihat lebih jernih daripada orang tua,” kataku. “Mahasiswa itu belum terlalu jauh berkompromi dengan hidup. Mereka masih percaya bahwa negeri ini harus punya masa depan. Mereka belajar, membaca, berdiskusi, lalu sadar bahwa ada yang salah dengan cara negara dikelola.”
“Demokrasi?”
Aku tersenyum getir. “Demokrasi kita tidak mati. Tapi dibonsai.”
Steven menatapku. “Dibonsai?”
“Ya. Pohonnya masih hidup. Daunnya masih hijau. Potnya dipajang di ruang tamu kekuasaan. Orang boleh berfoto dengannya, boleh memujinya sebagai simbol kebebasan. Tetapi akarnya dipotong. Cabangnya dibatasi. Tingginya dikendalikan. Ia tidak boleh tumbuh menjadi pohon besar yang menaungi rakyat.”
Steven diam.
“Pemilu ada. Partai ada. Parlemen ada. Media ada. Lembaga hukum ada. Tetapi ruh demokrasi tidak terletak pada nama lembaga. Ruh demokrasi ada pada keberanian rakyat menyatakan kebenaran tanpa takut dibungkam. Dan hari ini, suara kebenaran sering diperlakukan seperti ancaman.”
Di luar, rombongan mahasiswa itu berhenti sebentar di trotoar. Salah seorang dari mereka tertawa kecil, tetapi tawanya pendek. Seperti tawa anak muda yang tahu hidup tidak sedang berpihak kepadanya. “Mereka mungkin lahir dari keluarga miskin,” kataku. “Ayahnya buruh. Ibunya pedagang kecil. Ada yang orang tuanya petani, sopir, guru honorer, pekerja informal. Mereka kuliah bukan untuk gaya hidup. Mereka kuliah karena pendidikan adalah satu-satunya tangga yang mereka percaya bisa mengubah nasib keluarga.”
Steven mengangguk pelan.
“Tapi setelah mereka belajar, mereka justru melihat tangga itu mulai rapuh.”
“Betul,” kataku. “Mereka melihat negeri ini kaya, tetapi rakyatnya susah. Mereka melihat sumber daya alam dikeruk, tetapi sekolah tetap mahal. Mereka melihat pajak dipungut, tetapi pelayanan buruk. Mereka melihat utang bertambah, tetapi lapangan kerja menyempit. Mereka melihat oligarki semakin gemuk, sementara anak muda disuruh sabar, kreatif, dan bersyukur.”
“Dan korupsi?”
“Korupsi sudah terlalu sopan sebagai istilah,” kataku. “Yang terjadi lebih dalam dari sekadar orang mencuri uang negara. Ini kleptokrasi. Sistem yang memungkinkan sumber daya negara digerus oleh jaringan kekuasaan, bisnis, hukum, dan politik. Mereka tidak hanya mengambil uang. Mereka mengambil harapan.”
Steven menunduk. Jari telunjuknya mengetuk pelan sisi cangkir. “Harapan itu yang paling mahal,” katanya.
“Ya. Kalau orang miskin kehilangan uang, dia masih bisa bekerja. Kalau kehilangan pekerjaan, dia masih bisa mencari. Tapi kalau kehilangan harapan, dia berhenti percaya kepada masa depan. Dan bangsa yang anak mudanya berhenti percaya kepada masa depan, sebenarnya sudah mulai runtuh dari dalam.”
Steven kembali melihat ke luar. “Lalu ketika mahasiswa bersuara?”
Aku menghela napas. “Di situlah ironi paling menyedihkan. Mahasiswa turun bukan karena mereka ingin rusuh. Mereka turun karena nurani mereka belum selesai dijinakkan. Mereka bertanya: mengapa kekayaan negeri hanya berputar di lingkaran yang sama? Mengapa hukum tajam kepada rakyat kecil tapi lunak kepada elite? Mengapa pendidikan mahal, pekerjaan sulit, dan masa depan makin sempit?”
“Pertanyaan seperti itu seharusnya dijawab.”
“Seharusnya,” kataku. “Tetapi kekuasaan yang takut kepada kebenaran tidak menjawab dengan argumen. Ia menjawab dengan stigma. Mahasiswa disebut ditunggangi, tidak paham ekonomi, tidak mengerti geopolitik, tidak nasionalis. Padahal sering kali mereka hanya sedang melakukan tugas moral yang gagal dilakukan oleh banyak orang dewasa.”
Steven mengangkat wajahnya. “Gerakan tandingan?”
Aku tersenyum pahit. “Itu bagian paling kotor dari demokrasi yang dibonsai. Ketika suara mahasiswa terlalu murni untuk dibeli, elite menciptakan suara tandingan yang bisa diongkosi. Mereka mengerahkan massa bayaran, influencer, buzzer, organisasi dadakan, spanduk, narasi palsu, dan panggung artifisial. Seolah-olah rakyat melawan mahasiswa. Padahal itu bukan rakyat melawan mahasiswa. Itu elite memakai sebagian rakyat miskin untuk membungkam anak-anak rakyat miskin lainnya.”
Steven terdiam lama. “Tragis.”
“Sangat tragis,” kataku. “Karena di sana rakyat diadu dengan rakyat. Yang lapar disuruh melawan yang gelisah. Yang miskin dibayar untuk menekan yang sedang memperjuangkan masa depan orang miskin juga. Kebenaran dikaburkan oleh keramaian. Nurani ditenggelamkan oleh ongkos mobilisasi.”
Aku berhenti sejenak. Kopiku sudah mulai dingin. “Demokrasi akhirnya menjadi panggung. Yang asli disingkirkan, yang palsu diberi pengeras suara. Mahasiswa yang berteriak karena cinta kepada negeri dianggap mengganggu stabilitas. Sementara mereka yang merampok negara disebut investor, sponsor, tokoh masyarakat, atau mitra strategis pembangunan.”
Steven menarik napas panjang. “Jadi yang dibonsai bukan hanya demokrasi.”
Aku menatapnya. “Yang dibonsai adalah keberanian rakyat untuk bermimpi. Mahasiswa masih punya mimpi bahwa negeri ini bisa berubah. Itu sebabnya mereka berbahaya bagi oligarki. Bukan karena mereka membawa batu. Tapi karena mereka membawa pertanyaan. Dan pertanyaan yang jujur selalu lebih menakutkan daripada kerusuhan.”
“Karena kerusuhan bisa dibubarkan.”
“Tapi pertanyaan bisa diwariskan,” kataku. “Hari ini satu mahasiswa bertanya di jalan. Besok adiknya bertanya di kampus. Lusa anak buruh bertanya di pabrik. Suatu saat rakyat bertanya bersama-sama, negeri ini milik siapa?”
Steven menatapku tajam.
Aku melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Kalau negara sehat, pertanyaan itu dijawab dengan reformasi. Kalau negara sakit, pertanyaan itu dijawab dengan represi dan propaganda. Dan kalau negara sudah dikuasai kleptokrasi, pertanyaan itu dibungkam dengan uang.”
“Lalu apa yang tersisa?”
“Kesadaran,” kataku. “Selama masih ada anak muda yang gelisah melihat ketidakadilan, negeri ini belum sepenuhnya mati. Mereka mungkin kalah di jalan. Mereka mungkin dipukul, difitnah, dibubarkan. Tetapi sejarah sering dimulai dari orang-orang yang dianggap mengganggu ketertiban.”
Steven tersenyum lirih.
“B, kamu masih percaya kepada mahasiswa?”
“Aku percaya kepada kegelisahan yang lahir dari hati yang belum dibeli,” kataku. “Tidak semua mahasiswa suci. Tidak semua gerakan bersih. Tetapi dalam setiap zaman, selalu ada sekelompok anak muda yang berdiri bukan karena mereka sudah tahu semua jawaban, melainkan karena mereka tidak tahan melihat kebohongan terus diperlakukan sebagai kebenaran.”
Di luar, rombongan mahasiswa itu mulai berjalan lagi. Mereka hilang di tikungan jalan, ditelan suara kendaraan dan udara Jakarta yang berat. Aku memandang kepergian mereka lama. “Mereka itu anak-anak masa depan,” kataku. “Dan kalau masa depan sudah turun ke jalan, itu tanda masa kini sedang gagal menjaga amanah.”
Steven hendak menjawab, tetapi matanya berpindah ke arah belakangku.
Aku menoleh.
Seorang perempuan berjalan mendekati meja kami. Langkahnya tenang. Wajahnya matang oleh kehidupan, tetapi senyumnya lembut. Ada sesuatu pada matanya yang membuat napasku tertahan. Seperti pintu lama yang tiba-tiba terbuka dan dari dalamnya keluar hujan bulan Oktober.
“B,” kata Steven, “itu istri saya.”
“Istri kamu?”
Steven mengangguk.
Perempuan itu berhenti di samping meja. Seketika ia menatapku. Matanya membesar. Bibirnya bergetar.
“Om Ale…”
Aku berdiri.
“Sasa?”
Ia mengangguk. Detik berikutnya ia menghambur ke dalam pelukanku. Aku memeluknya erat. Bukan sebagai orang asing. Bukan sebagai istri Steven. Tapi sebagai anak kecil yang dulu pernah masuk ke rumah singgah dalam keadaan basah kuyup, digendong seorang ibu yang bernama Murni.
“Sasa, kamu sehat, sayang?”
Ia mengangguk dalam pelukanku. Aku menatap Steven yang tampak bingung. “Istrimu sudah seperti anak bagi saya,” kataku pelan. “Panjang ceritanya.”
Kami duduk kembali. Sasa menggenggam tanganku. Lama sekali ia diam sebelum akhirnya mulai bercerita. Kepada suaminya sendiri, ternyata ia belum pernah membuka seluruh pintu masa lalu.
Ia bercerita tentang halte. Tentang rumah singgah. Tentang Dina. Tentang Murni yang pergi ke Batam dan tak pernah kembali. Tentang masa kecil di Kalimantan. Tentang rasa kehilangan yang tidak punya alamat. Tentang doa yang selalu menyebut nama seorang ibu yang wajahnya lebih sering hadir sebagai bayangan daripada ingatan.
Steven mendengarkan tanpa bergerak. Matanya basah. Lelaki investment banker itu, CEO tambang di Australia itu, pria yang bicara akuisisi lintas benua dengan penuh percaya diri, kini duduk seperti anak kecil yang baru menemukan kedalaman luka istrinya.
Ketika Sasa selesai bercerita, aku menatap Steven lama. Ia salah tingkah.
“Jaga Sasa, Stev,” kataku. “Jangan pernah kamu kecewakan.”
Steven menunduk. Air matanya jatuh tanpa ia sembunyikan. “Tentu, B. Dia ibu yang hebat untuk dua anak kami.”
Sasa tersenyum. Tetapi di balik senyum itu aku melihat Murni. Aku melihat malam tahun 1995. Seorang perempuan basah kuyup di halte BNI Kota. Aku melihat bayi kecil dalam pelukannya. Aku melihat doa yang mungkin naik ke langit bersama hujan: Tuhan, hukumlah aku, tetapi jangan hukum anakku.
Tuhan ternyata tidak menghukum anak itu. Tuhan membawanya jauh. Dari rumah kontrakan yang penuh bentakan, ke rumah singgah, ke Kalimantan, ke rumah sakit tempat ia menjadi perawat, ke Hong Kong sebagai TKW.
“Bagaimana ceritanya kamu bertemu Steven?” tanyaku.
Sasa tersenyum malu.
“Tahun 2016 aku jadi TKW di Hong Kong. Biasanya hari libur aku pergi ke café bersama teman-teman. Kami bertemu di café di kawasan Central. Steven sering datang sendirian. Awalnya cuma saling sapa. Lalu bicara. Setahun kenalan, dia melamar Sasa. Kami menikah musim panas 2017. Setelah itu Sasa tinggal di Suisse. Tahun 2019 Steven pindah kerja ke Perth.”
Aku memandang mereka berdua. Jalan Tuhan kadang lebih rumit daripada struktur akuisisi. Manusia menyusun rencana dengan proyeksi, term sheet, legal opinion, due diligence, escrow, dan covenant. Tetapi Tuhan menyusun hidup manusia lewat hujan, halte, rumah singgah, kehilangan, pertemuan, dan cinta yang datang terlambat tetapi tidak pernah salah alamat.
Sasa, anak yang dulu terbuang di negeri sendiri, justru menemukan rumah di negeri orang. Dan Murni? Aku tidak tahu. Nama itu tiba-tiba memenuhi ruang di antara kami.
“Mama belum ditemukan?” tanyaku pelan.
Sasa menggeleng.
“Belum, Om. Tapi Sasa tidak pernah berhenti mencari. Setiap kali ke Indonesia, Sasa selalu tanya orang. Pernah cari ke Batam. Tidak ada hasil. Kadang Sasa takut…”
Ia berhenti. “Takut apa?”
“Takut Mama sudah tidak ada.”
Aku menggenggam tangannya. “Kalaupun Murni sudah tidak ada, doa seorang anak tetap sampai kepadanya. Tapi selama belum ada kabar pasti, jangan tutup pintu.”
Sasa menunduk. Air matanya jatuh. “Kadang Sasa marah, Om. Kenapa Mama pergi? Kenapa tidak pernah kembali? Tapi setelah dewasa, Sasa mulai mengerti. Mungkin Mama bukan tidak cinta. Mungkin Mama terlalu miskin untuk bisa pulang.”
Kalimat itu menghantam dadaku. Terlalu miskin untuk bisa pulang. Betapa banyak orang di negeri ini tidak pulang bukan karena lupa, tetapi karena ongkos hidup, rasa malu, kegagalan, dan luka membuat jalan pulang tampak lebih jauh daripada benua.
Steven meraih bahu Sasa. Memeluknya dari samping. Aku melihat mereka. Dua manusia dari dua dunia berbeda. Satu tumbuh dalam jaringan finansial global, satu tumbuh dari lubang kemiskinan yang bahkan tidak punya arsip. Tetapi cinta, bila benar, tidak pernah menanyakan silsilah luka. Ia hanya bertanya: maukah kau tinggal?
Hari mulai sore ketika pertemuan itu selesai.
Steven menutup notepad.
“Soal akuisisi, saya akan kirim working plan minggu depan.”
Aku mengangguk. “Lakukan dengan bersih. Jangan hanya beli konsesi. Beli ilmu, beli logistik, beli riset, beli manusia. SIDC tidak butuh tambang kalau hanya menjadi pemilik lubang. Kita butuh masa depan.”
“Siap, B.”
Sasa memelukku lagi sebelum pergi. “Om, kapan-kapan datang ke Ausi. Anak-anak ingin kenal Om.”
Aku tersenyum. “Insya Allah.” Kataku. ” Gimana dengan Mama Dina kamu? tanyaku.
“Mama Dina sehat. Setiap bulan Sasa kirim uang ke kalimantan. Adik, Bimo kerja di Doha di perusahaan oil and Gas ” Kata Sasa. Dia memang terdidik pandai berterimakasih.
Mereka berjalan keluar café. Steven menggandeng tangan Sasa. Di balik kaca aku melihat mereka menuju mobil. Sasa menoleh sekali lagi, melambaikan tangan kecil seperti anak yang pamit dari rumah. Aku membalas lambaian itu.
Setelah mereka hilang di balik pintu, aku tetap duduk lama. Kopiku sudah dingin. Jakarta di luar mulai tenggelam dalam cahaya senja. Aku memikirkan Murni. Apakah ia tahu anaknya selamat? Apakah ia tahu Sasa tumbuh menjadi perempuan baik, menjadi istri, menjadi ibu dari dua anak? Apakah suatu malam, entah di Batam, Johor, Hong Kong, atau kota lain yang tak pernah kukenal, Murni pernah berhenti di depan sebuah toko, melihat bayangan wajahnya sendiri di kaca, lalu teringat anak kecil yang ia tinggalkan sambil menangis?
Aku ingin percaya, seorang ibu tidak pernah benar-benar melupakan anaknya. Ia mungkin dikalahkan hidup. Dikalahkan kemiskinan. Dikalahkan rasa malu. Dikalahkan lelaki. Dikalahkan nasib. Tetapi di tempat paling dalam, nama anaknya tetap menyala seperti lampu kecil dalam kamar gelap.
Sasa tidak tahu di mana Murni. Aku juga tidak tahu. Tetapi sore itu aku merasa Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu kepadaku, bahwa doa perempuan di halte tahun 1995 tidak jatuh ke aspal bersama hujan. Doa itu berjalan jauh. Menyeberang tahun. Menyeberang pulau. Menyeberang negara. Sampai akhirnya duduk di café yang sama denganku, dalam wujud perempuan dewasa yang memanggilku Om Ale.
Dan aku pun mengerti. Tidak semua yang hilang berarti selesai. Kadang yang hilang hanya sedang dititipkan kepada jalan lain, agar kelak kembali bukan sebagai luka, tetapi sebagai tanda bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan manusia yang sudah tidak punya siapa-siapa.

Tinggalkan komentar