Sell Singapore.?

Usai meeting di Singapura, Ale baru saja keluar dari ruang pertemuan ketika telepon dari David masuk. “Ale, kita ketemuan yuk dengan Amel. Dia ada di Marina Bay. Akhiat juga mau gabung.”

“Oke,” jawab Ale singkat.

Ia menutup telepon, lalu berdiri sebentar di depan kaca besar gedung perkantoran itu. Dari kejauhan, Marina Bay tampak rapi, dingin, dan efisien. Kota kecil itu seperti mesin yang tahu persis bagaimana mengatur waktu, uang, kapal, dan manusia.

Amel bukan orang baru dalam hidupnya. Mereka pertama kali bertemu tahun 1982. Saat itu Ale masih bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan kimia Jepang. Amel masih muda, keras kepala, tetapi punya insting bisnis yang tajam. Ale-lah yang kemudian mengenalkan Amel kepada David dan Akhiat, dua sahabatnya yang berada dalam satu team sales di perusahaan yang sama.

Tetapi hidup selalu punya cara sendiri memisahkan orang. Sejak tahun 1985, Ale dan Amel mulai jarang bertemu. Amel semakin sibuk bekerja di Singapura. Dari sana, ia membangun jaringan dagang, mengenal banker, mengenal shipping line, mengenal trader CPO, batubara, dan pembeli dari berbagai negara. Pelan-pelan, ia mendirikan holding sendiri di Singapura.

Selama itu, Amel tetap menjalin hubungan bisnis dengan David dan Akhiat. Mereka saling membeli, saling memberi informasi pasar, saling menghubungkan buyer dan supplier. Sementara Ale lebih banyak bergerak di luar negeri, membangun jaringan transaksi lintas yurisdiksi yang makin lama makin jauh dari dunia sales sederhana yang dulu pernah mereka jalani bersama.

Waktu kemudian membawa mereka ke arah berbeda. David tumbuh sebagai pengusaha yang kuat di jaringan ritel dan distribusi. Akhiat masuk ke industri manufaktur, terutama tekstil dan produk jadi. Amel membangun holding di Singapura dengan portofolio CPO dan batubara. Ale sendiri masuk ke dunia pembiayaan global, struktur dana, dan transaksi yang sering kali tidak terlihat di permukaan.

Namun pada tahun 2013, Amel datang kembali kepada Ale. Bukan sebagai perempuan yang dulu penuh percaya diri, tetapi sebagai sahabat lama yang sedang berada di tepi jurang. Kondisi finansialnya kritis. Struktur utangnya rumit. Asetnya besar, tetapi cash flow-nya tertekan. Kontrak ekspor terganggu. Bank mulai gelisah. Beberapa partner mulai menjauh. Orang-orang yang dulu datang ketika Amel kuat, perlahan menghilang ketika ia jatuh.

Ale masih ingat malam itu. Amel duduk di hadapannya, di sebuah lounge hotel di Hong Kong. Untuk pertama kalinya, Ale melihat mata Amel tidak setajam biasanya.

“Mel,” kata Ale waktu itu, “kamu tidak bangkrut karena bisnis kamu jelek. Kamu hampir jatuh karena struktur kamu salah.”

Amel menatapnya. “Masih bisa diselamatkan?”

Ale diam sebentar, lalu menjawab, “Bisa. Tapi kamu harus masuk ke sistem saya.”

“Sistem apa?”

“Yuan Holding.”

Sejak itulah Amel bergabung sebagai afiliasi Yuan Holding. Ale menyelamatkan bisnisnya bukan dengan memberi belas kasihan, tetapi dengan merombak struktur business model. Betransformasi, bukan lagi sekedar eksportir SDA tetapi industry. Sejak itu hubungan Ale dan Amel berubah. Mereka bukan lagi hanya sahabat lama. Mereka menjadi mitra bisnis. Ale memahami cara berpikir Amel. Amel memahami gaya Ale yang dingin, hemat bicara, tetapi selalu bergerak lebih cepat daripada krisis.

Karena itu, ketika David menelepon dan mengajak bertemu Amel di Marina Bay, Ale tahu percakapan nanti akan sekadar nostalgia. Beberapa menit kemudian, mobil Ale meluncur menuju Marina Bay. Di sepanjang jalan, gedung-gedung Singapura berdiri rapi seperti neraca keuangan yang seimbang. Tidak ada kabel semrawut. Tidak ada truk parkir sembarangan. Tidak ada pelabuhan yang tampak bingung. Semua bergerak dengan disiplin yang hampir membosankan.

***

Sore itu hujan turun tipis di kawasan Marina Bay. Dari balik kaca private lounge, laut Singapura tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang sedang berguncang di pasar keuangan Asia. Amel duduk di ujung meja. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tenang, tetapi matanya tajam. Di depannya ada tablet berisi grafik harga CPO, batubara, chemical derivatives, dan peta jalur kapal dari Port Klang, Tanjung Pelepas, Singapore, Rotterdam, Dubai, hingga Shanghai.

David datang lebih dulu. Tak lama kemudian Ale menyusul. Mereka sudah saling kenal cukup lama, tetapi setiap kali bertemu Amel, David selalu merasa sedang berbicara dengan perempuan yang tidak pernah membuang kalimat secara percuma.

“Mel,” kata David setelah duduk, “saya dengar holding kamu sudah suspend operasi Indonesia.”

Amel mengangkat wajah.

“Bukan suspend total. Saya sebut wait and see.”

Ale tersenyum kecil. “Istilah halus untuk berhenti bergerak.”

“Dalam bisnis,” jawab Amel, “kadang diam adalah posisi paling mahal.”

David menatap layar di meja. “Karena aturan satu pintu ekspor oleh DSI?”

“Ya. Itu salah satu pemicunya.”

Amel menggeser layar. Muncul struktur holding miliknya di Singapura. Di bawahnya ada beberapa anak usaha: CPO trading, coal assets, agro industry, oleochemical derivatives, specialty fats, nutraceutical extraction, dan coal chemical venture di China.

“Sejak 2014, holding saya di Singapura bergabung sebagai afiliasi Yuan Hong Kong. Awalnya portofolio utama saya CPO dan batubara. Tetapi sejak masuk ke jaringan Yuan, saya tahu satu hal: kalau kita terus hidup dari konsesi Indonesia, kita akan mati pelan-pelan oleh kebijakan Indonesia sendiri.”

David menatapnya.

“Maksudmu?”

“CPO dan batubara di Indonesia itu bukan hanya komoditas. Itu juga politik, izin, rente, regulasi mendadak, dan jaringan kepentingan. Kalau kita tidak naik kelas ke downstream, kita hanya menjadi pemilik kebun dan pemilik lubang tambang yang setiap hari menunggu aturan baru.”

Ale mengangguk. “Jadi kamu mulai diversifikasi.”

“Ya. Agro industry, khususnya downstream CPO. Kami masuk ke produksi tocotrienol-rich fraction, natural vitamin E, carotene concentrate, phytosterol, dan bioactive nutraceutical extract. Itu produk kecil volumenya, tetapi mahal nilainya. Dijual bukan sebagai minyak, tetapi sebagai bahan nutrisi, kosmetik, suplemen, dan farmasi.”

David menyimak serius.

“Lalu yang volumenya besar?”

“Kami juga produksi specialty fats, surfaktan, fatty alcohol, ester khusus, emulsifier, dan bahan kosmetik-farmasi. Produk seperti itu lebih stabil. Tidak sefantastis nutraceutical per kilogram, tetapi pasarnya lebih luas dan kontraknya panjang. Customer-nya industri makanan, personal care, farmasi, detergent, lubricant, dan chemical formulation.”

David  menyela, “Pasokan CPO dari mana?”

“Sebagian besar dari Malaysia. Sebagian dari Indonesia.”

David tertawa kecil. “Orang Indonesia punya kebun di Indonesia, tapi bahan baku lebih banyak dari Malaysia.”

Amel tersenyum.

“Karena bisnis tidak hidup dari nasionalisme. Bisnis hidup dari kepastian. Malaysia lebih rapi untuk beberapa kontrak. Indonesia murah di atas kertas, tapi mahal di risiko.”

Ia lalu membuka grafik lain: Coal Chemical — China JV.

“Untuk batubara, saya masuk ke coal chemical bersama Yuan di China. Bukan sekadar jual batubara. Kami masuk ke turunan kimia, gasifikasi, methanol chain, chemical feedstock. Di China, kalau negara bilang hilirisasi, mereka sediakan kawasan industri, listrik, bank, riset, pelabuhan, dan offtaker. Di Indonesia, kita lebih sering dapat pidato.”

David tertawa, tetapi tertawanya pendek. “Pedas.”

“Fakta memang sering terasa pedas kalau terlalu lama ditutup gula,” kata Amel.

David bertanya, “Kamu biayai semua itu dari mana? Downstream CPO dan coal chemical butuh modal besar.”

Amel melirik  Ale sebagai mitranya  “Struktur fund.”

Ia memperbesar diagram di layar.

“Kami melakukan transfer right ke SPV atas aset konsesi batubara di Indonesia dan HGU kebun sawit di Indonesia. Hak ekonomi masa depan kami sekuritisasi. SPV itu menerbitkan instrumen pembiayaan. Dana masuk ke holding Singapura, lalu dialokasikan ke downstream Malaysia, China, dan beberapa fasilitas formulasi di Eropa.”

David bersandar.

“Jadi aset Indonesia dipakai untuk membiayai diversifikasi keluar dari Indonesia.”

“Benar,” jawab Amel. “Konsesi Indonesia menjadi jembatan, bukan rumah abadi. Tahun 2019, praktis ketergantungan kami pada konsesi coal dan CPO di Indonesia sudah jauh berkurang. Utang lewat SPV sebagian besar sudah dilunasi. Kami tidak lagi tersandera oleh satu yurisdiksi.”

Ale tersenyum tipis yang sedari tadi hanya menyimak.

“Makanya ketika aturan DSI muncul, kamu tidak panik.” Kata David.

“Tidak. Saya hanya berhenti menambah risiko. Kalau ekspor satu pintu membuat cash flow tidak predictable, saya tidak perlu berdebat. Saya cukup suspend kontrak baru di Indonesia. Wait and see.”

David menghela napas. “Pemerintah mungkin melihat itu sebagai pembangkangan.”

“Bukan pembangkangan. Itu manajemen risiko. Pengusaha besar tidak selalu melawan. Mereka cukup mengurangi gerak.”

Lounge hening sebentar. Di luar, kapal-kapal kontainer bergerak pelan di laut. Lampu pelabuhan menyala seperti kota kecil yang tidak pernah tidur.

David menatap pemandangan itu. “Kenapa kamu memilih Singapura sebagai hub? Kenapa tidak Jakarta?”

Amel tertawa kecil. “Karena saya ingin barang saya sampai tepat waktu dan uang saya tidak tersesat di lorong birokrasi.”

Ale tersenyum.

Amel melanjutkan, “Singapura punya sistem logistik paling efisien di kawasan. Ketersediaan mother vessel hampir setiap waktu ada. Rute Asia–Eropa, Asia–Amerika, Timur Tengah, semua terkonsolidasi. Jadwal kapal rapat. Bongkar muat cepat. Customs terintegrasi. Kalau saya ekspor specialty fats ke Eropa atau surfaktan ke Jepang, saya butuh on time delivery. Buyer global tidak mau tahu alasan domestik.”

David mengangguk. “Kalau terlambat, penalty.”

“Lebih dari penalty,” kata Amel. “Reputasi rusak. Dalam industri bahan baku, terutama kosmetik dan farmasi, keterlambatan kecil bisa mengganggu produksi customer. Sekali mereka kehilangan trust, mereka pindah supplier.”

David bertanya, “Dan financial hub?”

“Itu justru lebih penting,” jawab Amel. “Singapura punya kedalaman keuangan. Bank global, hedge fund, private equity, insurance, trade finance, derivative desk, legal firm, escrow agent, trustee, semuanya ada. Kalau saya perlu working capital untuk inventory tiga bulan, hedging USD, kontrak forward, invoice financing, atau refinancing SPV, semua bisa dibicarakan dalam satu kota. Bahkan menurut data, Singapore merupakan kreditur terbesar untuk investasi Indonesia.”

David berkata, “Itu tidak ada di Indonesia.”

“Belum ada,” kata Amel. “Indonesia punya pasar besar, sumber daya besar, manusia banyak. Tetapi tidak didesain sebagai negara modern yang serius masuk globalisasi. Terlalu sibuk dengan bisnis rente. Kita bicara hilirisasi, tetapi pelabuhan belum efisien. Kita bicara ekspor, tetapi dokumen masih menjadi alat kuasa. Kita bicara financial center, tetapi pasar derivatif dangkal. Kita bicara investasi, tetapi aturan berubah seperti cuaca.”

Ale mengangkat gelas kopinya. “Jadi Singapura bukan musuh.”

“Singapura itu jembatan,” jawab Amel. “Kalau Indonesia membenci jembatan hanya karena tidak mampu membangun jalan sendiri, yang rugi Indonesia. Apalagi PMA terbesar saat sekerang adalah Singapore.

***

Tak lama kemudian pintu terbuka. Akhiat masuk dengan gaya khasnya: tergesa, berisik, dan langsung membawa masalah.

“Ale!” katanya sebelum duduk. “Gua mau tanya. Kenapa China bisa jual kaus merek polo seharga satu dolar per potong? Itu lebih murah dari kopi yang kita minum.”

Ale hanya tersenyum.

Akhiat duduk sambil melepas jaket. “Untung enggak mereka? Jangan-jangan dumping.”

“Enggak dumping,” jawab Ale. “Malah bisa untung.”

Akhiat melotot. “Untung dari harga satu dolar?”

“Bisa. Bahkan margin bisa sangat besar kalau dihitung dari harga pokok produksi massal.”

“Gila. Gimana bisa?”

Ale mengambil iPad, lalu mulai mencorat-coret.

“Untuk T-shirt standar, berat kain sekitar 150 gram. Harga kain jersey mass production di China bisa sekitar USD 1,2 sampai USD 1,5 per kilogram. Ambil tengahnya USD 1,4. Jadi 150 gram kali USD 1,4 sama dengan USD 0,21.”

Ia menulis angka itu besar-besar.

“Tambah ongkos kerja, misalnya USD 0,20. Tambah trimming, packing, overhead, listrik, depresiasi mesin, dan logistik domestik. Kalau semua efisien, cost bisa ditekan jauh di bawah USD 1. Kalau jual USD 1, mereka masih bisa untung, apalagi kalau volume jutaan potong.”

Akhiat mengernyit. “Kok murah banget ongkos kerja?”

“Karena yang murah bukan hanya buruh,” jawab Ale. “Yang murah adalah sistem. Semua bahan baku tersedia domestik. Tidak perlu impor kain dari jauh. Listrik industri disubsidi atau dijaga murah di kawasan tertentu. Bunga bank bisa rendah, sekitar beberapa persen per tahun. Kawasan industri dekat pelabuhan. Mesin otomatis. Spreading kain, cutting, printing, folding, packing—banyak sudah robotik atau semiotomatis. Buruh hanya salah satu komponen.”

Akhiat bengong.

Ale menatapnya. “Kenapa lu bengong kayak ayam sakit?”

Akhiat mengusap wajah. “Udah enggak ada masa depan pabrik gua. Mending tutup aja. Enggak mungkin bersaing. Mending gua jadi importir. Walau bea impor tinggi, tetap lebih untung impor daripada punya pabrik.” Katanya.

Amel menatap Akhiat dengan iba yang dingin. “Itu kesadaran yang terlambat, Khiat.”

Akhiat menoleh kepadanya. “Maksud lu?”

“China membangun ekosistem industri selama puluhan tahun. Mereka tidak hanya membangun pabrik. Mereka membangun listrik, logistik, bank, kawasan industri, pelabuhan, supplier bahan baku, mesin, riset, dan pasar ekspor. Indonesia terlalu lama merasa cukup dengan izin, upah murah, dan slogan cinta produk dalam negeri.”

Ale tersenyum getir. “Saya bangun pabrik di China tahun 2006. Waktu itu banyak orang Indonesia masih merasa China cuma tukang tiru. Mereka tidak sadar bahwa yang ditiru China bukan hanya produk, tetapi seluruh sistem industri dunia. Lalu mereka sempurnakan dengan skala.”

Akhiat menunduk. “Jadi pabrik gua kalah bukan karena gua bodoh?”

“Bukan,” kata Ale. “Kamu kalah karena berdiri sendirian melawan negara industri.”

David menyambung, “Itulah bedanya pabrik dan ekosistem. Indonesia punya banyak pabrik, tapi tidak punya ekosistem industri yang utuh.”

Amel menambahkan, “Dan ketika aturan makin tidak pasti, pabrik makin malas bertahan. Yang punya modal jadi importir. Yang tidak punya modal tutup.”

***

Pembicaraan lalu melebar. Dari T-shirt satu dolar, mereka masuk ke rupiah, IHSG, yield SBN, The Fed, tarif AS, dan ketidakpastian kebijakan Indonesia.

David membuka layar berita. “Rupiah masih tertekan. IHSG sempat jatuh. Asing sell off saham Indonesia. Yield SBN naik.”

Ale mengangguk. “Itu satu paket. Kalau investor membaca policy risk naik, mereka keluar dari saham. Kalau rupiah melemah, BI terpaksa jaga kurs. Kalau BI Rate naik, yield SBN ikut naik. Kalau yield SBN naik, cost of fund negara naik. Ujungnya APBN tercekik.”

Amel berkata pelan, “Yang paling berbahaya bukan rupiah lemah. Yang paling berbahaya adalah yield SBN naik terus.”

Akhiat mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena rupiah lemah bisa menyakiti impor dan inflasi. Tapi yield SBN yang naik akan memenggal APBN. Setiap refinancing utang jadi lebih mahal. Setiap penerbitan SBN baru harus memberi kupon lebih tinggi. Bunga utang naik. Ruang belanja sosial, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur menyempit.”

David menambahkan, “Dan pasar global sekarang tidak bersahabat. Mayoritas broker global bahkan mulai memperkirakan tidak ada pelonggaran kebijakan The Fed sepanjang 2026 karena risiko inflasi masih tinggi.”

Ale membuka grafik yield global.

“Dulu orang berharap Fed cut. Sekarang harapan itu menguap. Bahkan beberapa komentar pasar mulai bicara kemungkinan langkah berikutnya bukan cut, tetapi hike kalau inflasi energi memburuk.”

Akhiat menghela napas. “Jadi modal asing makin mahal.”

“Ya,” jawab Ale. “Kalau dolar tetap mahal, investor global tidak perlu masuk emerging market kecuali yield-nya cukup menggoda. Makanya yield SBN naik. Itu bukan hadiah. Itu premi risiko.”

Amel membuka tab lain. “Belum lagi risiko tarif AS. Ada laporan bahwa Amerika menyiapkan atau mengancam tarif tambahan terhadap negara-negara yang dianggap gagal mengawasi rantai pasok terkait forced labor. Indonesia disebut termasuk negara yang berisiko terkena tarif tambahan jika tidak bisa membuktikan penegakan supply chain.”

Akhiat langsung menoleh. “Produk kita kena?”

“Belum tentu semua. Dan itu harus dibaca hati-hati,” jawab Amel. “Tapi ancaman saja sudah cukup membuat buyer global bertanya. Mereka akan minta audit. Mereka akan minta dokumen asal bahan baku. Mereka akan minta bukti tidak ada forced labor. Kalau kita lambat, biaya compliance naik. Produk kita jadi kurang kompetitif.”

David berkata, “Ini yang tidak dipahami banyak pejabat. Di pasar global, reputasi itu bagian dari cost.”

Ale mengangguk.

“Kalau satu negara dianggap berisiko, buyer global tidak selalu menunggu sanksi final. Mereka langsung cari alternatif supplier. Vietnam, India, Bangladesh, Malaysia, Meksiko, atau China. Mereka cari yang lebih aman secara compliance.”

Akhiat tertawa getir. “Jadi pabrik Indonesia kalah dari tiga arah. Kalah biaya dari China. Kalah logistik dari Singapura. Kalah kepastian dari Vietnam. Lalu masih kena risiko tarif.”

Amel menatapnya. “Karena kita terlalu lama membanggakan pasar domestik. Padahal pasar domestik besar tidak cukup kalau produksi tidak efisien. Negara besar bisa tetap menjadi pasar orang lain kalau tidak mampu membangun industri.”

David bertanya kepada Amel, “Jadi keputusanmu suspend Indonesia karena semua faktor ini?”

“Ya. DSI satu pintu hanya pemicu. Masalah dasarnya lebih dalam yaitu ketidakpastian kebijakan, logistik mahal, pasar keuangan dangkal, risiko regulasi, dan kecenderungan negara membangun kontrol tanpa kapasitas eksekusi.”

David  berkata, “Tapi kamu tidak keluar total.”

“Tidak. Saya tidak membenci Indonesia. Saya hanya tidak mau menambah exposure pada risiko yang tidak bisa dihitung.”

Akhiat bertanya, “Kalau nanti aturan membaik?”

“Saya masuk lagi,” jawab Amel. “Bisnis tidak punya dendam. Bisnis hanya punya kalkulasi.”

David tertawa. “Itu kalimat dingin.”

“Pasar memang dingin,” kata Amel. “Yang panas itu pidato politik.”

Malam makin turun. Dari jendela, lampu-lampu Singapura menyala rapi. Kapal-kapal di kejauhan bergerak seperti titik cahaya yang mengikuti jalur tak terlihat.

Ale memandang keluar. “Singapura kecil, tapi bisa menjadi simpul dunia.”

Amel mengangguk. “Karena mereka tahu diri. Mereka tidak punya sawit. Tidak punya batubara. Tidak punya pasar sebesar Indonesia. Tapi mereka membangun trust, hukum, pelabuhan, bank, dan sistem. Mereka tidak menjual tanah. Mereka menjual kepastian.”

David berkata pelan, “Indonesia punya semuanya, kecuali kepastian.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Akhiat menatap gelas kopinya yang sudah dingin. “Jadi apa masa depan kita?”

Ale tersenyum tipis. “Masa depan selalu ada. Tapi bukan untuk orang yang terus menyalahkan orang lain.”

Amel menutup tabletnya. “Indonesia tidak boleh memusuhi Singapura. Tidak boleh iri kepada China. Tidak boleh menyalahkan The Fed setiap kali rupiah melemah. Tidak boleh marah kepada investor setiap kali mereka keluar. Semua itu hanya cermin. Yang harus diperbaiki adalah rumah sendiri.”

David mengangguk pelan. “Pelabuhan, hukum, industri, pembiayaan, riset, dan kepastian.”

“Ya,” kata Amel. “Kalau Indonesia ingin naik kelas, jangan hanya bicara hilirisasi. Bangun ekosistem. Jangan hanya bicara ekspor. Bangun logistik. Jangan hanya bicara investasi. Bangun trust. Jangan hanya bicara nasionalisme. Bangun daya saing.”

Akhiat menghela napas. “Kalau tidak?”

Amel berdiri, merapikan blazer-nya. “Kalau tidak, pengusaha besar akan terus melakukan apa yang saya lakukan: ambil value dari Indonesia, lalu membangun masa depan di tempat yang lebih pasti.”

Ale dan Amel berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. “Negara tidak runtuh karena orang kaya pergi. Negara runtuh ketika orang produktif berhenti percaya bahwa masa depan bisa dibangun di dalam negeri.”

Pintu tertutup pelan. Di luar, Singapura tetap menyala. Teratur. Efisien. Dingin. Seperti mesin yang tidak peduli pada retorika. Di dalam ruangan, Akhiat dan David masih diam. Untuk pertama kalinya mereka mengerti. Bahwa kalah bersaing bukan hanya soal harga. Kalah bersaing adalah akibat panjang dari negara yang terlalu lama sibuk mengatur pintu, tetapi lupa membangun jalan.

***

Indonesia punya semangat untuk tidak lagi terlalu bergantung kepada Singapura. Itu semangat yang baik. Tidak ada yang salah jika Indonesia ingin menjadi pusat logistik, pusat perdagangan, pusat keuangan, dan pusat hilirisasi di kawasan. Sebagai negara besar, dengan pasar besar, sumber daya besar, dan posisi geopolitik strategis, Indonesia memang seharusnya punya ambisi menjadi pemain utama.

Namun ambisi besar tidak cukup dibangun dengan sentimen. Ia harus dibangun dengan institusi. Masalahnya, sering kali keinginan untuk mengurangi ketergantungan kepada Singapura diterjemahkan secara keliru. Seolah-olah cukup dengan membentuk DSI, membuat pintu ekspor satu jalur, lalu memonopoli arus barang, maka Indonesia otomatis naik kelas. Padahal dalam ekonomi modern, hub tidak lahir dari monopoli. Hub lahir dari kepercayaan.

Singapura menjadi hub bukan karena punya sawit, batubara, nikel, atau pasar sebesar Indonesia. Singapura menjadi hub karena dunia percaya kepada sistemnya. Pelabuhannya efisien. Custom-nya cepat. Hukumnya jelas. Regulasinya stabil. Pengadilannya dipercaya. Banknya dalam. Pasar keuangannya likuid. Profesionalnya kompeten. Korupsinya rendah. Meritokrasinya kuat. Karena itu kapal datang, modal datang, perusahaan datang, banker datang, lawyer datang, fund manager datang, dan investor datang.

Indonesia tidak bisa melawan Singapura hanya dengan mengatakan, “semua ekspor harus lewat pintu kita.” Kalau pintu itu lambat, mahal, penuh diskresi, dan menjadi sumber rente baru, maka eksportir tidak akan merasa terbantu. Mereka justru merasa terjebak. Buyer global tidak peduli dengan slogan nasionalisme. Mereka peduli barang datang tepat waktu, dokumen bersih, kontrak dihormati, dan pembayaran lancar. Dalam perdagangan internasional, yang dijual bukan hanya barang. Yang dijual adalah kepastian.

Karena itu, kalau Indonesia ingin mengurangi ketergantungan kepada Singapura, jalannya bukan memusuhi Singapura. Jalannya adalah membuat Indonesia lebih dipercaya. Bukan menutup pintu, tetapi memperbaiki jalan. Bukan menambah izin, tetapi memotong rente. Bukan memonopoli ekspor, tetapi mempercepat logistik. Bukan memaksa pasar tunduk, tetapi membangun sistem yang membuat pasar percaya.

Prasyarat pertama adalah pemberantasan korupsi. Selama korupsi masih dianggap biaya normal dalam bisnis, Indonesia tidak akan pernah menjadi hub. Investor global bisa menerima risiko harga, risiko kurs, bahkan risiko politik tertentu. Tetapi mereka sulit menerima risiko korupsi yang tidak bisa dihitung. Korupsi membuat biaya membengkak, keputusan melambat, kontrak tidak pasti, dan hukum bisa ditawar.

Kalau Indonesia ingin setara Singapura, maka indeks persepsi korupsi Indonesia harus dikejar secara serius. Bukan dengan kampanye, tetapi dengan reformasi nyata. Proses izin harus transparan. Pengadaan harus terbuka. Pejabat harus bisa diaudit. Konflik kepentingan harus dihukum. Dana politik harus jelas. Lembaga hukum harus independen. Tidak boleh ada lagi bisnis yang hanya berjalan karena dekat dengan pejabat, dekat dengan aparat, dekat dengan partai, atau dekat dengan ormas.

Kedua, Indonesia harus membangun meritokrasi. Negara modern tidak bisa dikelola oleh loyalitas buta, kedekatan politik, atau jatah kelompok. Pelabuhan harus dikelola oleh orang yang mengerti logistik. Bank pembangunan harus dikelola oleh orang yang mengerti risiko. Industri hilirisasi harus dipimpin oleh orang yang mengerti teknologi, pasar, dan supply chain. BUMN harus diperlakukan sebagai institusi bisnis strategis, bukan tempat parkir kepentingan.

Tanpa meritokrasi, setiap proyek besar hanya akan menjadi proyek politik. Anggarannya besar, pidatonya besar, seremoni peresmiannya besar, tetapi daya saingnya kecil. Pada akhirnya, negara hanya membangun bangunan, bukan ekosistem.

Ketiga, Indonesia harus membangun ekonomi berbasis R&D. Hilirisasi tidak cukup dengan membangun pabrik. Hilirisasi sejati berarti menguasai teknologi, proses, desain produk, standardisasi, paten, bahan baku, mesin, hingga pasar akhir. Kalau hanya membangun smelter, refinery, atau pabrik pengolahan dengan teknologi asing, Indonesia hanya naik sedikit dari eksportir bahan mentah menjadi buruh proses industri global.

Lihat bagaimana nilai tambah CPO tidak berhenti pada minyak goreng atau biodiesel. Nilai yang lebih tinggi ada pada tocotrienol-rich fraction, natural vitamin E, carotene concentrate, phytosterol, bioactive nutraceutical extract, specialty fats, surfaktan, fatty alcohol, ester khusus, emulsifier, dan bahan kosmetik-farmasi. Itu semua lahir dari riset, laboratorium, standardisasi, sertifikasi, dan hubungan jangka panjang dengan industri global. Bukan dari monopoli ekspor.

Hal yang sama berlaku pada batubara. Kalau Indonesia hanya menjual batubara, kita tetap menjadi negara komoditas. Kalau hanya gasifikasi tanpa menguasai teknologi, kita tetap menjadi pasar teknologi orang lain. Nilai tambah baru lahir jika Indonesia menguasai coal chemical, methanol chain, amonia, urea, carbon material, specialty chemical, dan teknologi rendah emisi. Itu semua membutuhkan R&D, bukan sekadar izin.

Keempat, Indonesia harus membersihkan ekonomi dari rente ormas dan kelompok informal yang memalak setiap kegiatan bisnis. Negara tidak bisa menjadi modern jika setiap proyek harus melewati terlalu banyak penjaga pintu. Ada izin formal, ada izin informal. Ada pajak negara, ada pajak jalanan. Ada biaya logistik, ada biaya keamanan. Ada aturan tertulis, ada tekanan tidak tertulis.

Selama ormas, kelompok politik, aparat lokal, dan jaringan rente ikut mencari bagian dalam setiap kegiatan ekonomi, Indonesia tidak akan pernah menjadi hub. Hub membutuhkan kepastian. Rente menciptakan ketakutan. Hub membutuhkan kecepatan. Rente menciptakan keterlambatan. Hub membutuhkan trust. Rente menghancurkan trust.

Kelima, Indonesia harus memperkuat pasar keuangan domestik. Singapura kuat bukan hanya karena pelabuhannya, tetapi karena sistem keuangannya dalam. Di sana ada bank global, hedge fund, private equity, insurance, trade finance, derivative desk, legal firm, escrow agent, trustee, dan sistem kliring internasional. Semua tersedia dalam satu kota. Pengusaha bisa mencari working capital, hedging USD, kontrak forward, invoice financing, refinancing SPV, sampai escrow lintas negara dengan cepat.

Indonesia belum memiliki kedalaman seperti itu. Pasar derivatif masih terbatas. Hedging belum murah dan mudah. Pasar obligasi korporasi belum cukup dalam. Investor institusi domestik belum cukup kuat. Kepastian hukum kontrak belum setara pusat keuangan global. Karena itu banyak transaksi Indonesia tetap lewat Singapura. Bukan karena orang tidak nasionalis, tetapi karena mereka mencari efisiensi dan kepastian.

Maka kalau Indonesia ingin tidak tergantung Singapura, tugasnya bukan marah kepada Singapura. Tugasnya membangun Jakarta, Batam, Surabaya, Makassar, dan pelabuhan-pelabuhan utama menjadi simpul yang efisien. Tugasnya memperdalam pasar uang. Tugasnya membangun ekosistem trustee, escrow, arbitration, legal certainty, dan hedging. Tugasnya memastikan bahwa investor tidak perlu pergi ke Singapura hanya untuk merasa aman.

Nasionalisme ekonomi yang benar bukan menutup diri dari dunia. Nasionalisme ekonomi yang benar adalah membangun kemampuan domestik agar Indonesia punya posisi tawar lebih tinggi dalam dunia global. Kita boleh belajar dari Singapura tanpa harus merasa rendah diri. Kita boleh bekerja sama dengan Singapura sambil memperbaiki diri. Kita boleh memakai Singapura sebagai jembatan sambil membangun pelabuhan sendiri, pasar keuangan sendiri, dan institusi sendiri.

Yang berbahaya adalah nasionalisme yang berubah menjadi proteksionisme rente. Seolah-olah dengan mengambil alih pintu, negara sudah berdaulat. Padahal kedaulatan ekonomi bukan sekadar menguasai pintu. Kedaulatan ekonomi adalah kemampuan membuat pintu itu dipercaya, cepat, murah, bersih, dan efisien.

Kalau DSI hanya menjadi monopoli baru, maka ia tidak akan membuat Indonesia mandiri. Ia hanya memindahkan rente dari tangan lama ke tangan baru. Kalau ekspor satu pintu membuat dokumen lambat, harga tidak transparan, buyer ragu, dan eksportir kehilangan fleksibilitas kontrak, maka kebijakan itu bukan memperkuat negara. Ia justru memperlemah daya saing.

Indonesia bisa mengalahkan ketergantungan kepada Singapura hanya jika berani membangun institusi yang setara. Korupsi harus ditekan sampai level yang membuat investor percaya. Meritokrasi harus menjadi dasar birokrasi dan BUMN. R&D harus menjadi jantung hilirisasi. Ormas dan jaringan rente harus dikeluarkan dari urusan bisnis. Hukum harus konsisten. Logistik harus cepat. Pasar keuangan harus dalam. Kebijakan harus predictable. Singapura tidak besar karena sumber daya alam.

Singapura besar karena trust. Indonesia punya sumber daya alam, pasar, tenaga kerja, dan posisi geografis. Tetapi semua itu tidak cukup jika trust tidak dibangun. Negara yang kaya sumber daya bisa tetap miskin bila institusinya lemah. Sebaliknya, negara kecil bisa menjadi pusat dunia bila institusinya kuat.

Maka pelajaran pentingnya sederhana, yaitu jangan memusuhi Singapura. Perbaiki Indonesia. Karena musuh terbesar Indonesia bukan Singapura. Musuh terbesar Indonesia adalah korupsi, rente, ketidakpastian, anti-meritokrasi, dan lemahnya R&D. Selama itu tidak diperbaiki, pintu ekspor sebanyak apa pun hanya akan menjadi pintu baru bagi rente. Tetapi jika institusi diperkuat, hukum ditegakkan, riset dibangun, dan bisnis dibebaskan dari pemalakan politik, maka Indonesia tidak perlu memaksa dunia datang. Dunia akan datang dengan sendirinya.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca