
Saya lahir dari keluarga miskin di Kalimantan. Dari kelompok minoritas di negeri ini. Sejak kecil saya sudah terbiasa hidup dengan rasa asing. Asing di tanah sendiri. Asing karena nama keluarga. Asing karena logat. Asing karena wajah. Asing karena miskin.
Saya datang ke Jakarta bukan dengan mimpi besar. Saya hanya ingin bertahan hidup. Tidak ada ijazah tinggi. Tidak ada keluarga kaya. Tidak ada koneksi. Yang saya punya hanya dua tangan, keberanian, dan sedikit kemampuan berdagang.
Di Jakarta saya berdagang di kaki lima. Panas, debu, asap kendaraan, suara klakson, dan wajah orang-orang yang lewat tanpa melihat kami sebagai manusia. Di situlah hidup saya. Di tepi jalan. Di bawah tenda seadanya. Di antara piring, gelas, kantong plastik, dan uang receh.
Bahasa Indonesia saya pun tidak bagus. Cadel. Kadang orang tertawa ketika saya bicara. Ada yang meledek. Ada yang meniru logat saya. Saya hanya diam. Bagi orang miskin seperti saya, tersinggung adalah kemewahan. Kalau saya terlalu sibuk sakit hati, saya tidak bisa makan.
Saya berkenalan dengan Ale bukan di kafe mewah. Bukan di hotel. Bukan di ruang bisnis berpendingin udara. Saya bertemu dengannya di kaki lima. Waktu itu kami masih muda, sekitar dua puluh satu tahun. Pakaian Ale sederhana, tetapi caranya memandang berbeda dari orang lain. Ia tidak melihat saya seperti pedagang kecil yang hanya layak disuruh cepat-cepat. Ia bicara kepada saya seperti bicara kepada manusia.
Belakangan saya tahu dia bekerja di perusahaan PMA. Teman-teman kerjanya orang asing. Ia bisa bahasa Inggris. Ia pintar, gemar membaca, dan pikirannya jauh melampaui usia mudanya. Ia bisa bicara tentang ekonomi, filsafat, agama, politik, dan bisnis dengan cara yang membuat saya sering hanya bisa diam. Namun anehnya, dia tidak pernah risih berteman dengan saya.
Saya, gadis pedagang kaki lima dengan bahasa Indonesia cadel, duduk di hadapannya. Dia tetap mendengar. Kadang ia tertawa. Kadang ia bertanya. Kadang ia membetulkan kata-kata saya dengan lembut. Tidak pernah dengan nada merendahkan.
Dari sanalah perasaan itu tumbuh.
Saya mencintainya.
Tetapi cinta itu sulit saya ungkapkan. Bukan karena saya tidak berani mencintai. Saya hanya merasa Ale terlalu baik untuk saya. Terlalu pintar. Terlalu bersih. Terlalu jauh dari dunia saya yang penuh debu dan rasa takut. Semakin dekat hubungan kami, semakin saya ingin menjauh darinya. Aneh memang. Orang lain mungkin ingin mendekati orang yang dicintainya. Saya justru sering ingin lari. Bukan karena saya tidak sayang. Justru karena saya terlalu sayang. Saya takut suatu hari ia sadar bahwa saya tidak pantas berdiri di sampingnya.
Ale terlalu sempurna untuk gadis miskin seperti saya. Dia bisa membaca buku tebal, sementara saya sering kesulitan memahami kalimat panjang. Dia bisa bicara dengan orang asing, sementara saya gugup bicara dengan pelanggan yang suaranya keras. Dia bekerja di gedung, saya berdagang di jalan. Dia punya masa depan, saya hanya punya hari ini.
Tetapi Ale tidak pernah membuat saya merasa kecil. Justru saya sendiri yang terus mengecilkan diri di hadapannya.
“Ris, kenapa kamu kalau aku datang suka mendadak sibuk?” tanyanya suatu sore.
Saya pura-pura merapikan dagangan.
“Enggak. Saya kerja.”
Dia tertawa kecil. “Kamu menghindar.”
Saya diam.
“Kenapa?”
Saya tidak menjawab. Bagaimana mungkin saya menjelaskan bahwa saya takut terlalu dekat dengannya? Bagaimana mungkin saya berkata bahwa setiap kali dia baik kepada saya, hati saya justru sakit karena saya merasa tidak layak menerima kebaikan itu?
Ale menatap saya lama, dan berkata “Risa, kamu tahu? Orang sering kalah bukan karena orang lain merendahkan dia. Tapi karena dia lebih dulu merendahkan dirinya sendiri.” Saya pura-pura tidak mendengar. Tetapi kalimat itu masuk ke hati saya dan tinggal lama di sana.
Saya mengenal Ale sejak usia dua puluh satu tahun. Saya melihatnya tumbuh dari anak muda yang penuh pertanyaan menjadi pria yang makin jauh berjalan dalam hidup. Dari dulu Ale percaya bahwa hidup harus bisa dijelaskan dengan logika. Baginya, setiap peristiwa punya sebab. Tidak ada akibat tanpa sebab. Tidak ada aksi tanpa reaksi. Dunia, katanya, tunduk pada hukum kausalitas.
Saya sering tertawa mendengarnya. “Le, hidup tidak selalu bisa kamu bedah seperti laporan kantor,” kata saya.
Dia tersenyum. “Justru karena orang malas berpikir, hidup kelihatan seperti misteri.”
Begitulah Ale muda. Cerdas, tetapi gelisah. Ia percaya kepada Tuhan, tetapi terus bertanya tentang jalan menuju Tuhan. Ia belajar syariat dan fikih dengan serius. Ia membaca kitab, mengikuti pengajian, dan berdiskusi sampai larut malam. Tetapi semakin banyak ia belajar, semakin banyak pula pertanyaan yang lahir di kepalanya. Ia tidak membantah agama. Ia tidak meninggalkan iman. Tetapi akalnya tidak bisa diam.
“Mengapa manusia diminta sabar, sementara marah itu alami?” tanyanya kepada saya suatu malam.
Saya hanya menatapnya. Mana saya tahu jawabannya?
“Mengapa kita diminta ikhlas, padahal kecewa tumbuh begitu saja ketika harapan patah? Mengapa hati harus bersih, sementara dunia terus memancing iri, takut, rakus, dan ambisi?”
Saya tidak bisa menjawab. Saya hanya pedagang kaki lima. Saya tidak paham syariat, fikih, apalagi filsafat. Tetapi saya tahu satu hal, bahwa Ale sedang mencari Tuhan dengan kepala yang terlalu ramai.
Kadang saya ingin berkata, “Le, mungkin Tuhan tidak selalu ditemukan dengan berpikir.” Tetapi saya tidak berani. Saya merasa terlalu bodoh untuk menasihatinya.
Hanya dua tahun kebersamaan dengan Ale. Bukan dia yang meninggalkan saya. Jusru saya yang meninggalkannya. Tahun demi tahun berlalu. Tahun 2002 saya bertemu lagi dengan Ale. Saya tahu, Ale masuk dunia bisnis. Ia mengenal orang-orang besar, investor, banker, trader, konglomerat, pejabat, dan orang asing dari berbagai negara. Hidupnya makin jauh dari dunia kaki lima tempat kami pertama bertemu. Tetapi anehnya, saat bertemu saya, ia tetap Ale yang sama.
Dan setelah itu disconnect lagi. Setahun setelah itu Ale sakit SAR. Hanya saya yang dia hubungi. Saya datang dan merawat Ale sampai sembuh. Namun setelah itu disconnect lagi. Lagi lagi bukan karena Ale, tetapi karena saya sengaja menjauh dari hidupnya. Ale sudah berkeluarga, dan punya bisnis yang mapan. Saya hanyalah TKW dan bagian dari masa lalunya. Saya tahu diri.
Tahun 2010 ketika hendak pulang ke tanah air. Karena kontrak saya habis di Hong Kong. Saya sengaja datang ke apartement Ale, untuk pamit. Saya ingin pastikan dia baik baik saja. Tapi malah dia rekrut saya sebagai karyawan dan dia latih saya dengan sungguh sungguh agar saya bisa qualified bekerja. Sampai kini saya bekerja pada bisnis yang dia bangun di China. Saya berusaha merangkai puzzle tentang Ale. Mengapa dia terlalu baik bahkan terkesan naif dihadapan dunia..
***
Pada usia tiga puluhan, Ale mulai belajar tasawuf. Saya ingat masa itu. Ia sering membawa buku. Kadang ia bicara tentang syariat dan hakikat. Kadang tentang nafs, jiwa, ruh, dan hati. Kadang ia diam lama seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak saya dengar.
Awalnya saya kira tasawuf akan membuatnya tenang. Ternyata tidak. Ale justru semakin gelisah.
“Sa, aku seperti masuk ruang kosong,” katanya suatu sore. “Syariat terasa menjauh, tetapi hakikat juga belum kutemukan.”
“Kamu terlalu memaksa mencari jawaban,” kata saya pelan.
Dia menggeleng. “Aku hanya tidak mau beragama tanpa menemukan jalan pulang.”
Saya terdiam. Kalimat itu terlalu berat bagi saya. Tetapi saya tahu, Ale tidak sedang bergaya. Ia sungguh-sungguh gelisah. Lewat surat dari ibunya di kampung, Ibunya menyuruhnya membaca Tasauf Modern karya Hamka. Ia membacanya pelan-pelan. Tidak seperti membaca kontrak bisnis yang ia habiskan cepat, buku itu ia baca lambat. Kadang ia berhenti lama di satu paragraf. Kadang ia menutup buku, lalu menatap jauh. Dari sana ia mulai berubah sedikit. Tidak drastis. Tetapi ada nada yang lebih lembut dalam caranya bicara. Ia mulai memahami bahwa tasawuf bukan jalan meninggalkan syariat, melainkan jalan memberi ruh kepada kepatuhan.
Namun tetap saja, Ale membutuhkan pengalaman. Baginya, konsep belum cukup. Nasihat belum cukup. Ia ingin tahu apakah manusia benar-benar bisa mengalahkan marah, lapar, takut, kecewa, nafsu, dan gengsi.
Pada usia empat puluh tahun, Ale pergi haji. Saya pikir sepulang dari sana ia akan berubah total. Ternyata tidak. Ia pulang dengan wajah lebih teduh, tetapi matanya masih menyimpan pertanyaan.
“Belum selesai, Sa” katanya.
“Apa yang belum selesai?”
“Ruang kosong itu.”
Saya tidak mengerti. Mungkin memang ada ruang dalam diri manusia yang tidak bisa dimasuki orang lain, bahkan oleh sahabat yang sudah mengenalnya puluhan tahun.
le kemudian bercerita tentang tahun 2006. Ia mengikuti program healing selama empat puluh hari di sebuah kompleks kuil Shaolin. Saya terkejut ketika mendengarnya.
“Kamu muslim. Kenapa healing ke Shaolin?” tanya saya.
Ia tertawa pelan. “Aku juga tidak tahu. Tapi rasanya aku harus pergi.”
Begitulah Ale. Sejak muda, ia bukan tipe orang yang mudah mengikuti arus. Ia mandiri dalam berpikir, keras dalam mengambil sikap, dan sering berjalan di luar jalur yang lazim ditempuh orang lain. Banyak keputusan penting dalam hidupnya tidak lahir dari kalkulasi untung rugi, melainkan dari dorongan batin yang sunyi; semacam panggilan yang bahkan ia sendiri tidak selalu mampu menjelaskannya.
Bagi Ale, hidup tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Atau takligh buta. Ada saat ketika akal harus menghitung, tetapi ada pula saat ketika jiwa harus mendengar. Dan ketika suara dari dalam dirinya memanggil, ia jarang menunda. Ia mungkin tidak tahu ke mana jalan itu akan membawanya, tetapi ia percaya bahwa sebagian pintu hanya terbuka bagi orang yang berani melangkah sebelum semuanya bisa dijelaskan.
Selama di sana, ia tidak makan. Hanya minum. Ia tetap salat lima waktu. Para biksu bangun pukul dua pagi untuk meditasi. Ale bangun pada waktu yang sama untuk salat malam. Mereka menjalani disiplin sunyi, sementara Ale berperang dengan tubuhnya sendiri. Ia menceritakan semuanya kepada saya. Dari cara ia bercerita, saya tahu sesuatu telah terjadi.
Hari ketujuh, tubuhnya mulai lemah. Hari kesepuluh, kakinya gemetar. Hari kelima belas, kepalanya kosong. Hari kedua puluh, ia hampir tidak mampu duduk.
“Lapar itu bukan sekadar rasa, Sa,” katanya kepada saya. “Lapar bisa berubah menjadi suara. Ia berteriak dari perut, naik ke dada, lalu mengetuk kepala. Tubuhku seperti memaksa aku menyerah.”
“Lalu kamu menyerah?” tanya saya.
Dia menggeleng.
Malam itu, katanya, ketika ia nyaris menyerah, ia mendengar suara. Tidak ada orang di ruangan. Tidak ada langkah. Tidak ada bayangan. Tetapi suara itu jelas. Aneh pula, suara itu menggunakan bahasa ibunya.
“Kamu sedang dikuasai oleh tubuhmu,” kata suara itu. Ale menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tidak melihat siapa-siapa.
Suara itu melanjutkan, “Kamu mengira lapar itu musuhmu. Padahal lapar hanya gelombang pikiran. Tubuhmu memperdaya jiwamu agar jiwamu menjadi budak raga. Selama jiwamu tunduk kepada tubuh, kamu akan lemah. Lapar, sakit, haus, marah, kecewa, takut, semuanya hanya ilusi yang diperbesar oleh pikiran.”
Saya diam ketika Ale menceritakan bagian itu. Saya tidak tahu harus percaya atau tidak. Sebagai sahabat, saya tahu Ale bukan pembohong. Tetapi sebagai manusia biasa, sulit bagi saya menerima cerita seperti itu begitu saja.
“Kalau semua itu ilusi,” katanya kepada suara itu, “mengapa rasanya begitu nyata?”
Suara itu menjawab, “Karena kamu percaya kepadanya.”
Kalimat itu, kata Ale, mengubah segalanya.
Sejak malam itu, ia tidak lagi melawan lapar. Ia memperhatikannya. Ia melihat lapar datang seperti ombak. Naik, memukul, lalu turun. Datang lagi, memukul lagi, lalu turun lagi. Ternyata yang membuatnya menderita bukan hanya lapar, tetapi ketakutan terhadap lapar.
“Di situ aku sadar, Sa,” katanya. “Banyak penderitaan bukan berasal dari kejadian, tetapi dari pikiran yang memperbesar kejadian itu.”
Hari-hari berikutnya menjadi latihan batin. Setiap tubuhnya mengeluh, ia mengamati. Setiap pikirannya menyuruh menyerah, ia bertanya: siapa yang ingin menyerah? Tubuhku? Pikiranku? Atau diriku yang sejati?
Masuk hari ketiga puluh, ia merasakan perubahan. Tubuhnya masih kurus. Wajahnya cekung. Tetapi ia tidak merasa lemah. Ada ruang jernih di dalam dirinya. Gerakan dunia seperti melambat. Ia bisa melihat kupu-kupu mengepakkan sayap seolah waktu menjadi lunak.
Lalu ia bercerita tentang sumpit dan lalat.
Suatu pagi, seekor lalat terbang di dekat mangkuk minumnya. Dengan gerakan ringan, ia mengangkat sumpit dan menjepit lalat itu di udara.
Saya menatapnya tidak percaya.
“Le, jangan bercanda.”
“Aku tahu kamu tidak akan percaya,” katanya. “Dulu aku pun tidak akan percaya.”
Ia juga bercerita tentang daun kering yang ia lempar ke batang pohon, lalu daun itu menancap. Ia bercerita tentang air yang terasa tajam seperti silet. Tentang indra yang tiba-tiba terbuka. Tentang tubuh yang tidak lagi menjadi penjara. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan semua itu. Mungkin secara ilmiah ada penjelasannya. Mungkin juga tidak. Tetapi saya tahu satu hal, bahwa Ale tidak bercerita untuk pamer. Ia justru semakin diam setelah pengalaman itu.
Makanya sejak saya kerja dengannya, secara personal Ale tidak berubah. Tetapi sikapnya sangat dewasa. Bukan menjadi orang suci. Bukan manusia tanpa marah, tanpa kecewa, tanpa takut. Ale tetap Ale. Kadang keras. Kadang tajam. Kadang sinis terhadap kebodohan. Tetapi ada jarak baru antara dirinya dan emosinya. Ia tidak lagi mudah diperbudak oleh setiap gelombang yang muncul dalam dirinya.
Ketika marah datang, ia melihatnya sebagai tamu. Ketika takut datang, ia tidak langsung tunduk. Ketika uang datang, ia tidak mabuk. Ketika hinaan datang, ia tidak sibuk membela diri. Ketika pujian datang, ia tersenyum karena tahu pujian hanya suara lain dari dunia.
Saya melihat perubahan itu paling jelas tentang Ale di dunia bisnis. Dunia yang penuh angka, kepanikan, ambisi, dan wajah-wajah yang tersenyum sambil menghitung cara menikam. Sebelum pergi ke Shaolin, Ale memang sudah cerdas membaca risiko. Tetapi setelah pulang, ia seperti mampu membaca manusia dari tempat yang lebih sunyi.
Ia melihat orang kaya yang diperbudak kekayaannya. Ia melihat orang pintar yang diperbudak kepintarannya. Ia melihat orang beragama yang diperbudak rasa paling benar. Ia melihat pejabat yang diperbudak kursi. Ia melihat trader yang diperbudak grafik. Ia melihat dirinya sendiri, dan tahu musuh itu tidak pernah benar-benar mati.
Setahun setelah COVID19, di suatu sore, kami duduk berdua. Jakarta sedang berusaha keluar dari negative PMI. Pasar jatuh. Rupiah melemah. Banyak orang panik. Ale justru tenang meminum kopi.
“Le, kamu tidak takut?” tanya saya.
“Takut itu ada,” jawabnya. “Tapi aku tidak harus menjadi budaknya.”
Saya memandangnya lama. “Jadi apa sebenarnya yang kamu dapat dari perjalanan itu?”
Ale diam. Cukup lama. Lalu ia berkata, “Dunia tidak perlu dikalahkan. Yang harus dikalahkan adalah diri sendiri.”
Saya mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
“Orang yang tidak bisa mengalahkan takutnya akan dikalahkan krisis. Orang yang tidak bisa mengalahkan marahnya akan dikalahkan musuh. Orang yang tidak bisa mengalahkan nafsunya akan dikalahkan harta. Orang yang tidak bisa mengalahkan gengsinya akan dikalahkan penampilan. Orang yang tidak bisa mengalahkan pikirannya akan dikurung oleh ilusi.”
Saya diam. Kalimat itu sederhana, tetapi berat.
“Lalu Tuhan?” tanya saya.
Ale menatap langit sore.
“Tuhan tidak jauh, Sa. Yang jauh itu kita. Karena terlalu sibuk menjadi budak dari apa yang kita sebut diri sendiri.”
Saya tidak langsung menjawab.
Sejak mengenal Ale di usia dua puluh satu tahun, saya melihat hidupnya seperti perjalanan panjang dari kepala menuju hati. Ia memulai semuanya dengan logika. Ia menghormati filsafat. Ia belajar syariat. Ia masuk ke tasawuf. Ia pergi haji. Ia berpuasa di Shaolin. Ia kembali ke dunia bisnis. Tetapi semua itu ternyata hanya jalan memutar untuk sampai pada satu kesadaran, bahwa manusia tidak akan menemukan Tuhan selama ia masih diperbudak oleh dirinya sendiri. Dan saya pun pelan-pelan mengerti sesuatu tentang diri saya.
Selama bertahun-tahun saya merasa tidak pantas dicintai oleh Ale. Saya merasa miskin, cadel, kecil, dan tidak setara. Saya pikir yang menghalangi saya adalah dunia. Ternyata yang paling kuat menghalangi saya adalah pikiran saya sendiri. Saya merasa rendah bukan karena Ale merendahkan saya. Saya merasa tidak layak bukan karena Ale menolak saya. Saya menjauh bukan karena Ale terlalu tinggi, tetapi karena saya terlalu lama percaya bahwa kemiskinan membuat saya tidak berharga. Mungkin itulah bentuk lain dari perbudakan diri.
Ale mengalahkan lapar, takut, dan tubuhnya di Shaolin. Saya mengalahkan rasa rendah diri saya di hadapannya. Dan mungkin, setiap manusia punya Shaolin-nya sendiri. Ada yang harus berpuasa untuk mengenal dirinya. Ada yang harus jatuh miskin. Ada yang harus kehilangan cinta. Ada yang harus dihina. Ada yang harus gagal. Ada yang harus ditinggalkan. Ada yang harus berjalan jauh hanya untuk menemukan bahwa musuhnya tidak pernah berada di luar.
Kini, setiap kali dunia berubah dan ketidakpastian datang, saya teringat Ale. Dunia memang tidak pernah tenang. Krisis datang dan pergi. Pasar naik dan jatuh. Kekuasaan berganti tangan. Orang kaya bisa miskin. Orang kuat bisa tumbang. Orang pintar bisa tersesat oleh kepintarannya sendiri. Tetapi orang yang telah belajar mengalahkan dirinya sendiri akan selalu punya tempat untuk pulang. Bukan rumah. Bukan jabatan. Bukan kekayaan. Bukan tepuk tangan manusia. Melainkan ruang sunyi di dalam dirinya, tempat Tuhan tidak pernah benar-benar pergi.
Dan Ale, lelaki yang saya kenal di kaki lima ketika usianya dua puluh satu tahun itu, mengajarkan saya satu hal, bahwa kemenangan terbesar manusia bukan ketika ia menundukkan dunia. Kemenangan terbesar adalah ketika ia tidak lagi diperdaya oleh dirinya sendiri.

Tinggalkan komentar