
Dari pasar ikan kendaraan melaju ke arah jalan Thamrin Jakarta. “ Nanti mampir di Jayakarta sebentar” Kata saya sambil memejam kan mata. Lina yang setir kendaraan tahu tempat yang saya maksud. Ada kiriman teh puer dari Tong di China untuk saya. Namun yang bawa Achim. Kendaraan masuk ke dalam komplek Ruko. Parkir agak jauh dari kantor Achim. Saya turun dari kendaraan. Lina tetap di dalam kendaraan.
Saya mampir beli rokok di outlet. Di pinggir jalan di kawasan ruko itu langkah saya terhenti. Ada keributan kecil. Saya dengar pria sedang marah kepada wanita yang gendong balita. Kata katanya sangat kasar. Sepertinya pria itu suaminya. Marah karena istrinya datang ke kantornya. Wanita itu didorong oleh pria itu. Terjatuh bersama Balitanya. Entah mengapa saya spontan mendekati wanita itu. Menggendong balitanya. Balita itu menangis. Saya dekap ke dada saya. Balita itu berhenti menangis.
Dan wanita itu segera berdiri. Kembali dia mau mendekati pria itu. “Aku hanya butuh uang untuk bayi kita sampai aku bisa kerja. Mas tahu keluargaku miskin. Engga enak aku titipkan anak kita ke ibu kalau engga bantu uang belanja. Engga apa Mas menikah lagi dengan dia.” Wanita itu berkata dengan suara datar. Tetapi dibentak dan dihujat dengan kata tak senonoh. Wanita itu terdiam. Di menoleh ke belakang meliat saya gendong balitanya. Dia ambil balitanya dari saya. Airmatanya berlinang.
Wanita itu pergi dalam kalah tak berdaya. Dia adalah wanita sederhana. Tidak punya banyak mimpi. Hanya berharap membesarkan anak dan suami tempat bersandar. Tetapi itupun terasa naif baginya. Saya membayangkan rakyat Kalimantan, Sumatera. Sulawesi, Maluku dan Papua yang kaya akan SDA. Rakyat nya hanya ingin hidup bersama alam dengan pemerintah tempat bersandar. Tapi sepertinya itu naif dihadapan pemerintah yang merasa superior.
Suami wanita itu tentu punya alasan bersikap begitu. Dan merasa benar. Samahalnya pemerintah tidak pernah merasa salah bila nyatanya SDA lebih menguntungkan asing. Perselingkuhan kaun komprador. Yang jelas di hadapan saya ada drama kehidupan tentang realita. Memang tak ramah. Wanita itu tentu tadinya berharap mahligai rumah tangga, jalannya ke sorga. Tentu dia punya hope.. Namun jalan itu jadi gelap. Oleh kepongahan superior pria yang tak ingin egonya menikah lagi dipertanyakan. Yang lemah dan kuat bersanding. Tatapan nestapa dan miskin empati bertaut.
Rakyat yang tadinya punya hope dalam bingkai NKRI. Akhirnya menatap kosong saat orang Jakarta datang dengan mesin tebang dan keruk. Merambah hutan dan mengupas kulit bumi. Hasilnya di kapalkan ke luar negeri. Pemerintah perlu valas membayar utang luar negeri. Perlu FDI untuk meningkakan economic growth. Sehingga PDB meningkat. Akses negara berhutang semakin bersar. Oligarki semakin kaya raya. Kekayaan 1 orang sama dengan 100 juta orang miskin.
Sementara rakyat harus menerima realita. Kerusakan hutan, pencemaran air dan udara, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Menyebabkan efek permanen yang sulit dipulihkan, bahkan dengan dana besar sekalipun. Yang pasti jika hutan, laut, dan tanah dirusak, potensi ekonomi berkelanjutan, seperti ekowisata, pertanian organik, perikana akan hilang selamanya.
Saya terhenyak. Saya mematung meliat wanita itu berjalan menjauh dari suaminya. Dia dekap Balitanya dengan penuh kasih. Tanpa sedikitpun dendam walau baru saja ayah dari Balita itu merendahkanya dan membuangnya demi wanita lain. Luka itu tidak akan pernah hilang. Terutama bagi balita itu. There is no hope in the future. Mengapa ? Pria itu satu hal. Semua pria dimana saja bisa saja bersikap seperti itu. Tetapi keadaan wanita itu adalah repleksi keadilan kepada yang lemah. Rakyat yang lemah.
Negara yang dibangun bergantung kepada ekonomi ekstraksi tidak akan pernah mensejahterakan rakyat. Dan memiskinkan rakyat dengan jatuhnya upah real akibat kurs yang terdepresiasi dan harga yang terus naik. Negara yang terlalu bergantung pada ekspor sumber daya alam, seperti CPO, minyak, batu bara, emas, jarang menjadi negara maju. Sebaliknya, ketimpangan ekonomi. Korupsi meluas. Mindset elite rusak. Miskin visioner. Produk ekspor tanpa inovasi. Proses trasformasi menuju ekonomi insklusif berbasis sains terabaikan.
Saya kembali ke kendaraan setelah mengambil Teh dari kantor Achim. Ketika kendaraan mau jalan “ jangan jalan dulu.” kata saya.
Saya berpikir keras. “ Apa yang harus saya lakukan. “ kata saya dalam hati.
“Anggap saja ini cobaan wanita itu. Biarkan dia menyelesaikannya. Kamu jalan aja. Doakan dia. “ Terdengar bisikan lain dalam diri saya.
“ Ya tetapi ini terjadi depan kamu. Pasti ada pesan dari Tuhan untuk kamu. Ini engga kebetulan. “ Terdengar suara lain lagi.
Saya termenung.
“ Ya udah. Jalan “ kata saya akhirnya kepada Lina.
Setelah jalan beberapa menit saya liat wanita itu berjalan kaki sambil menggendong balitanya. Saya tak sanggup lihat dia jalan kelelahan. Setelah melewati wanita itu “ Lin, berhentikan kendaraan. “ kata saya dan keluar kendaraan. Saya berlari mendekati wanita itu.
“ Ibu mau kemana? Tanya saya.
“ Mau ke gambir pulang. Naik kereta”
“ Mari saya antar ke gambir ya. “ kata saya dengan tersenyum.
“ Engga usah pak. “ Kata wanita itu dengan berusaha tersenyum.
“ Engga apa apa. Itu kendaraan saya” Kata saya menunjuk kendaraan. Selang beberapa detik. Dia mengangguk. Saya ambil balita dari gendongannya. Dia ikuti saya. Lina buka pintu belakang. Wanita itu duduk di belakang bersama balitanya.
“ Saya yang salah pak. “ terdengar suara wanita itu. “ Maksa suami saya untuk bertanggung jawab dengan anaknya. Dia sudah merasa nyaman dengan wanita lain yang juga teman sekantornya.” Lanjut wanita itu. Saya tersentak. Sikap bersahaja dan tahu diri. Itu artinya pada batas tak tertanggungkan. Dia serahkan urusan semua kepada Tuhan. Dan momohon agar Tuhan mengampuni atas kelemahannya.
“ Udah berapa lama menikah ? tanya saya.
“ Lima tahun. “ Jawabnya dengan suara terisak. Ternyata dia tak sanggup menahan airmata jatuh saat ditanya pernikahannya. “ Saya mau pulang kampung untuk titipkan anak saya di rumah orang tua saya. Setelah itu saya mau jadi TKW di Hong Kong.” Lanjut wanita itu.
Mendekati di Stasiun Gambir. “ Lin, kamu ada uang cash. “ Tanya saya. Lina serahkan uang satu ikat pecahan Rp. 100.000. Saya serahkan uang satu ikat kepada wanita itu setelah sampai di Gambir. Wanita itu terkejut. Dia menangis sambil memeluk balitanya. Dia menggelengkan kepala seakan menolak. Namun saya paksa dia terima. “ Terimakasih pak.”
“ Simpan yang rapi uangnya ya bu. “ kata saya. Dia masukan dibalik bajunya.
Saya lanjut ke Thamrin. Di dalam kendaraan LIna menangis. Duh kenapa semua menangis. Wanita sama saja.
“ Ada apa kamu nangis ! saya mengerutkan kening.
“ Ingat 10 tahun lalu Lina diusir oleh suami. Anak Lina titipkan dengan orang tua. Setelah Lina dapat kerja di GI barulah Lina jemput anak di Medan. Tapi kalau ingat masa selama 3 tahun sebelum kerja di GI…” Lina terdiam. “ Dan walau kini Lina sudah mapan, tapi sulit Lina memaafkan mantan suami.” Sambungnya.
Wanita siap menderita dan membantu suami dalam kemiskinan. Mungkin akan berusaha memaklumi sikap mantiko suami. Tetapi tidak pernah siap ketika suami avoid kepadanya, apalagi lebih mengistimewakan wanita lain “ Ini bukan soal ego tetapi soal dignity. “ kata Lina.
Rakyat bisa menerima dan maklum bila regulasi memungkinkan pemerintah bersenggama dengan kaum komprador. Tetapi tidak akan pernah siap ketika negara avoid dengan kerusakan lingkungan yang memiskinkan dan didera bencana alam akibat ketidak seimbangan ekosistem. Walau pemerintah menebar empati lewat bansos, itu tidak penting lagi. Karena bagi rakyat Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, ini soal dignity…
Reading The Wealth of Nations as an attack against lobbying from special interest groups and cronyism suggests that for Smith the violence and inefficiencies of rent seeking mercantilist policies cause harm and are unjust. For Smith, rent seeking and state capture by special interest groups is not only inefficient, but uses the (actual) “blood and treasure” of fellow citizens to enrich a few merchants under the false pretence of enriching the country. The Wealth of Nations can therefore be read as a moral condemnation of mercantilist policies: unjust policies are also inefficient policies.”― Maria Pia Paganelli, Adam Smith: The Kirkcaldy Papers

Tinggalkan Balasan ke butteryjoyfulac52383576 Batalkan balasan