Makmur berkat R&D

Saya baca cepat  bisnis plan, ecommerce market place. Saya perhatikan stuktur cost nya terutama modal kerja. 40% biaya SDM, 30% biaya sewa jaringan dan gateway. 30% lagi biaya promosi. Semua terasa indah. Semua bisa dijawab dengan narasi akademis. Tentu dengan referensi berbagai start up lainnya yang sudah sukses. Perut saya mules ketika baca business model nya. Di hadapan saya ada anak muda. Yang dianggapnya dunia itu datar.  Dia tidak punya entrepreneurship vision. Tetapi dia sangat terobsesi melihat orang sukses dari binsis start up, terutama yang berbasis IT.

Motivasinya dalam bisnis hanya uang dan kemewahan hidup. Sebenarnya, itu adalah awal kebangkrutan. Mengapa ? Ketika orang mulai terobsesi kepada materi maka saat itu juga dia sedang menuju kebangkrutan spiritual. Biasanya diawali dengan sikap irasional. Emosional lebih dominan. Kemudian berkembang jadi delusional. Mental megalomania. Mungkn saja dia sukses mudah sebagai pengusaha atau pejabat atau professional. Tetapi pada akhirnya dia tidak akan mendapat apa apa. Cerita lama selalu berulang.

“ Saya membayangkan gimana risk management nya. “ Kata saya berusaha mencerahkan anak muda ini. Setidaknya membuka matanya kepada realitas. “ Lebih 50% adalah biaya tetap. Sedikitnya aja meleset target, cepat sekali modal tergerus. Ibarat di dalam roller coaster. Bergerak dengan kecepatan tinggi. Harus percaya saja dengan persepsi. Sedikit saja ada kesalahan, habis. Apalagi value dan market nya tergantung kepada promosi atau bakar uang”  Sambung saya.

“ Tapi pak. “ serunya seakan berupaya tanpa menyerah provokasi saya. “ Semua tahulah. Business start up itu kan exit strateginya IPO. Proses nya memang mahal dan terkesan irasional. “ Sambungnya dengan tersenyum penuh percaya diri. Engga perlu dijelaskan. Saya paham senyuman itu. Setiap putaran kerjanya hanya membangun persepsi book building untuk dapatkan harga saham terbaik saat IPO. Itu bisa ratusan kali value nya. Semua karena tekhnik rekayasa akuntasi berupa goodwill asset, illusion. Setelah itu leverage Marcap untuk menarik sumber daya keuangan lewat pasar uang. Itu bukan kerja tetapi ngerjain orang banyak.

Saya tidak terkejut dengan sikap anak muda ini. Dia sebenarnya sudah bankrupt sebelum benar benar bagnkrut. Yang bahaya orang seperti dia itu sedang berusaha menarik orang lain untuk bangkrut bareng. Umumnya yang sukses dia tarik adalah orang yang punya mental sama denga dia. Delusional.! Tuh contoh investor publik yang jadi korban bisnis ponzy,  investasi bodong dan korban saham gocap.

“ Saya terlalu tua untuk main beginian.” Kata saya tersenyum dan mengembalikan lagi proposalnya. Itu sebagai isyarat saya menolak peroposal bisnisnya. Ira yang mengatur pertemuan dengan anak muda mengerti sikap saya.

“ Ale,  tahu rumput laut ? Tanya Ira.

“ Ya tahu lah. “ Jawab saya cepat.  “ Yuan punya pabrik downstream rumput laut di Hainan. Pabrik itu bagian dari global supply chain industry.” Sambung saya.

“ Bisa engga tampung rumput laut dari Indonesia. Itu sangat membantu nelayan meningkatkan kesejahtaraannya“ Kata Ira, dia menyebutkan lokasi yang banyak rumput lautnya.

“ Saya tahu Indonesia banyak rumput laut. Bahkan terbanyak mungkin di dunia. Maklum kita kan negara kepulauan. Tapi potensi sumber daya laut itu akan mensejahterakan kalau dikelola berbasis sains, baik dari segi budidaya maupun pengolahannya. Itu yang banyak orang Indonesia tidak pahami. Contoh, rumput laut dari Indonesia itu kurang bagus untuk downstream industry. “ Kata saya.

“ Kenapa? Ira mengerutkan kening.

“ Kandungan polisakarida nya rendah, juga gel nya rendah. Tingkat viscositas  dan kejernihan juga kurang. Jadi walau banyak tetapi engga masuk spec untuk produk downstream berskala industri. Kecuali untuk cemilan dan sayuran doang. “

“ Gimana solusinya agar bisa memenuhi spec nya ? tanya Ira.

“ Ya harus ada riset varietas rumput laut. Misal rumput laut jenis eucheuma cottonii, gracilaria, Gigartina dan lain lain, Itu bisa dikembangkan lewat riset bioteknologi. Sehingga bisa ditemukan varietas yang cocok dengan pertumbuhan cepat dan tahan penyakit. China lakukan itu dan sukses. Kemudian mereka budidayakan dengan Modified Long Line Method secara modern, di perairan yang bersih dari pencemaran. Dilengkapi dengan automatic environmental sensor guna mendeteksi suhu, salinitas, pH, arus laut secara real-time. Pemberian pupuk melalui drip system otomatis. “  Kata saya.

“ Duh lagi lagi kuncinya ada pada riset. “ Kata Ira mengerutkan kening. “Sementara negeri kita sepertinya tidak peduli dengan riset. Anggaran riset terhadap PDB, Indonesia kalah dibandingkan dengan Singapore, Thailand, Malaysia. Bahkan terendah dibandingkan 40 negara di dunia. Kita gayanya doang negara modern dan sok gagahan anggota G20, tetapi tolol dan dunguk. “ Sambung Ira dengan nada geram.
Saya senyum aja.

“ Ale, tinggi ya nilai tambah downstream rumput laut? Tanya Ira.

“ Ambil contoh cangkang kapsul aja. 1 Kg harga ekspor USD 60. BIaya produksi dan bahan baku  hanya USD 5  per kg. Nilai tambahnya lebih 10 kali. “ Jawab saya dengan tersenyum. “ Nah, China punya lebih 10 downstream rumput laut. Downstream rumput laut itu sebagai linked product untuk industry pharmasi, F&B, kosmetik, bioplastic, biofilm, pupuk organic dan pakan ternak, pewarna tekstil. “ Kata saya.

“ Gimana tekhnologi pengolahannya? Tanya Ira.

“ Memang downstream dalam skala industry besar, butuh tekhnologi canggih. Tujuannya agar efisien dan kualitas presisi. Seperti mesin ekstraksi polisakarida. Itu sudah menggunakan ultrasonic extractor agar proses ekstraksi tidak merusak struktur zat aktif. Menggunakan mesin microwave assisted extraction agar prosesnya bisa cepat. Semua proses itu ditempatkan dalam ketel  high temperature extraction. “ Kata saya. Ira keliatan antusias mendengar.

“ Kemudian mesin pemurnian dan separator. Itu high tech banget. Bayangin aja memisahkan fraksi berat dan ringan secara cepat, memurnikan air hasil ekstraksi dan menyaring molekul kecil tanpa bahan kimia.  “ lanjut saya.

“ Tuh kan benar. Padahal hanya rumput laut. Tetapi pengolahannya sophisticated. Namun hasilnya setimpal dengan value added yang tinggi.  Pasti nelayan China dan buruhnya merasakan kemakmuran karena nilai tukar tinggi dan upah juga tinggi. “ kata Ira.

Saya senyum aja.

“ Di negeri kita. “ Lanjut Ira. “ Setiap orang berebut ingin jadi pemimpin, dan berharap kaya dari rente SDA. Tanpa mikir jangka Panjang tentang value berbasis riset. “ Kata ira dengan nada geram. “ Benar ya, mungkin karena kita kaya SDA, itu menjadi kutukan. Yang bego engga merasa bego. Makanya engga mau berubah atau takut berubah. Penguasa  engga mau ambil resiko membangun berbasis riset. Maunya cepat aja lewat bansos. Dan uangnya dari utang.” Sambungnya.

“ Ale ini “ Kata Ira melirik kepada anak muda yang dari tadi menyimak pembicaraan kami. “ Dia hanya tamatan SMA, tetapi berpikir dan bertindak atas dasar semangat spiritual. Bukan apa yang didapat tetapi apa yang diberi. Entrepreneurship vision nya kuat banget. Ya, itu karena kekayaan literasi. Kamu harus belajar dari kami orang tua agar lebih hebat dari generasi kami” Lanjut Ira. Anak muda itu mengangguk angguk “ Ya tante” katanya.

Saya maklumi kegusaran Ira. Usia nya sama dengan saya yaitu, diatas 60 tahun. Di era Soeharto, kami punya hope dengan begitu tingginya penghormatan Pak Harto kepada Riset dan Tekhonologi. Kami yakin di masa depan, generasi anak anak kami, Indonesia sudah jadi negara modern berkat sains. Tapi setelah Soeharto jatuh, paradigma membangun dengan visi IPTAK  atau  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Aplikasi, memudar dan akhirnya terabaikan. Beralih kepada follower dan bagger. ! “ Due to the low R&D budget, this nation has no dignity and no respect. “ Kata Ira.

There’s not much value to us attacking Chinese systems. We might take a few computers offline. We might take a factory offline. We might steal secrets from a university research programs, and even something high-tech. But how much more does the United States spend on research and development than China does? -Edward Snowden.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca