
Jakarta, 2025. Hujan baru berhenti ketika aku keluar dari Plaza Senayan bersama Mama. Di bawah kanopi lobi, udara membawa bau aspal basah dan asap kendaraan. Seorang petugas keamanan meniup peluit pendek. Pintu-pintu mobil terbuka, menyambut orang-orang dengan kantong belanja, kemudian menutup kembali. Aku menahan tangan anak bungsuku yang hendak turun dari trotoar. Kakaknya berdiri di dekat Mama, memeluk kotak sepatu yang baru kami beli setelah tiga kali membandingkan harga. Aku berjanji membelikannya sejak bulan lalu. Hari ini, setelah menerima komisi penjualan, barulah janji itu dapat kutepati.
Di layar telepon, permintaan kendaraan belum juga mendapat pengemudi. Aku sempat membuka aplikasi bank. Saldo rekening masih cukup sampai akhir bulan, asalkan tidak ada yang sakit dan tidak ada kebutuhan mendadak dari sekolah.
Sebuah sedan BMW berhenti beberapa langkah dari kami. Lelaki yang turun mula-mula hanya tampak sebagai punggung dalam kemeja kelabu. Kemudian ia berbalik. Aku mengenali garis rahang itu. Ada wajah yang tetap tinggal dalam ingatan, meskipun bertahun-tahun aku berusaha tidak mengingatnya lagi. Wajah yang dahulu kulihat di meja makan, di ambang pintu, di balik asap tipis dekat jendela dapur ketika seluruh rumah sudah sunyi. Bimo.
Ia berhenti sesaat. Pandangannya beralih dariku kepada anak-anak, lalu kepada Mama. “Selamat sore, Ma.”
Ia mendekat, membungkukkan badan, dan menyambut tangan Mama dengan kedua tangannya.
“Mama sehat?”
“Sehat, Bim. Kamu bagaimana?”
Mama memeluknya tanpa sungkan. Bimo membalas pelukan itu dengan hati-hati, seolah masih mengetahui seberapa rapuh bahu perempuan yang dahulu menjadi mertuanya. ” Doian terus Bimo ya Ma” bisiknya.
” Tentu mama doain terus kamu.” kata mama tersenyum seraya menyentuh pipi Bimo dengan kedua telapak tangannya. Dalam Islam tidak ada istilah mantan mertua. Hubungan bersifat mahram mu’abbad.
Kulitnya tetap gelap. Tubuhnya tegap, rambutnya pendek, tinggi 170 Cm dan ada keteduhan pada matanya yang dahulu tidak sempat kupahami. Aku ingat tangan itu: kuku pendek, bekas luka kecil di pangkal ibu jari, telapak yang sering berbau sabun industri dan rokok.
“Win,” sapanya. “Apa kabar?” Tanpa pelukan dan tanpa salaman.
“Baik.” Jawabanku keluar terlalu cepat. Anak bungsuku memeluk pahaku. Bimo menunduk dan tersenyum kecil. Ia menyebut namanya kepada kedua anakku tanpa bertanya siapa ayah mereka. “Sepatu baru?” tanyanya kepada si sulung.
Anakku mengangguk. “Untuk sekolah,” jawabnya sambil menunjukkan kotaknya.
“Semoga nyaman dipakai, ya.”
Kemudian Bimo menoleh kepada Mama. “Mau pulang, Ma?”
“Iya. Dari tadi Winda pesan mobil belum dapat. Mungkin karena habis hujan.”
“Saya antar pakai mobil, ya.”
Belum sempat aku menolak, ia sudah menelepon seseorang. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, sebuah BMW berhenti di depan lobi. Pengemudinya keluar, dan aku mengenali wajah yang sudah lama tidak kulihat.
“Mas Ton?”
“Bu Winda.” Ia tersenyum. “Apa kabar, Bu?”
“Baik. Mas sehat?”
“Alhamdulillah.”
Mas Ton telah bekerja dengan Bimo sejak sebelum kami menikah. Rambutnya kini lebih banyak putihnya, tetapi caranya membuka pintu masih sama: satu tangan pada gagang, tangan lain menjaga bagian atas agar kepala penumpang tidak terbentur.
“Tolong antar Mama sampai rumah, Pak,” kata Bimo. “Pelan-pelan saja. Jalan masih licin.”
“Kamu tidak ikut, Bim?” tanya Mama.
“Saya masih ada pertemuan, Ma.”
Ia membantu Mama masuk, lalu menunggu sampai anak-anak duduk dengan aman. Ketika giliranku, aku berhenti sejenak di dekat pintu. “Terima kasih, Bang.” Sapaan itu terlepas begitu saja. Sudah lama aku tidak mengucapkannya.
Bimo mengangguk. “Hati-hati, Win.”
Mobil bergerak meninggalkan lobi. Dari kaca belakang, kulihat ia masih berdiri sebelum akhirnya berbalik dan masuk melalui pintu kaca. Aku menatapnya sampai tidak terlihat lagi.
“ Bimo sangat santun kepada mama. Waktu mama di opname RS, dia tidak pernah jauh dari mama. Setiap hari dia datang dengan senyum khasnya. Dia juga yang bayar biaya upgrade kamar VIP.” Kata mama seraya memeluk sibungsu.” Papa kamu sering merindukan saat Bimo jadi imam sholat maghrib dan isya di rumah. Suaranya sangat merdu. Bacaanya sangat faseh..” Lanjut mama.
Dalam perjalanan menuju Bintaro, anak bungsuku tertidur di pangkuan Mama. Kakaknya sibuk membuka sedikit tutup kotak sepatu, lalu menutupnya kembali. Aku duduk menghadap jendela. Sisa hujan membuat kota tampak kabur, seperti sebuah ingatan yang belum selesai diseka.
Aku mengenal Bimo ketika hidupku sedang dipenuhi kemarahan kepada Danu. Kami telah berpacaran lebih dari lima tahun dan sempat bertunangan. Namun setelah pertunangan, Papa meminta kami membatasi pertemuan sampai hari pernikahan. Danu merasa aturan itu berlebihan. Ia dibesarkan dalam keluarga pengusaha besar, terbiasa dipercaya dan dituruti. Larangan Papa dianggapnya sebagai penghinaan terhadap kedewasaannya. Perselisihan membesar. Pada akhirnya, pertunangan kami dibatalkan.
Aku tahu Danu manja dan sering ingin memperoleh jalan termudah. Namun bersamanya aku merasa cantik dan diinginkan. Ia pandai memujiku, membawaku ke tempat-tempat menyenangkan, dan membuat masa depan terdengar seperti sesuatu yang sudah disiapkan untuk kami.
Setelah kami berpisah, beberapa lelaki datang mendekat. Ada pula yang dikenalkan orang tuaku. Aku menolak semuanya dengan sopan. Pada usia dua puluh lima tahun, aku masih sibuk bekerja sebagai sekretaris junior di sebuah perusahaan asing di Jalan Sudirman, sambil memelihara keyakinan bahwa suatu hari Danu akan menyadari kekeliruannya. Saat itu aku terlalu percaya pada kecantikanku. Aku menganggap lingkungan pergaulan dan perhatian lelaki berada menentukan nilai seorang perempuan. Tanpa kusadari, cara menilai diri seperti itu juga kupakai untuk menilai orang lain.
Begitu juga kali pertama kenal Bimo. Mobilku mogok ketika hujan deras membuat jalan tergenang. Aku mencoba menyalakan mesin berulang kali sampai seorang lelaki mengetuk kaca dan memberi isyarat agar aku berhenti. “Jangan dipaksa, Mbak. Kita dorong ke tempat yang lebih tinggi.” Bersama seorang petugas parkir, ia mendorong mobilku ke halaman yang agak tinggi. Bajunya basah kuyup, tetapi ia lebih dahulu memeriksa apakah aku dapat keluar tanpa menginjak genangan.
Aku tidak terkesan kepadanya. Wajahnya keras, kulitnya gelap, bahunya lebar. Ia jarang tersenyum. Ketika hujan mulai reda, ia menyalakan rokok, dan aku segera mengambil jarak. Setelah memeriksa serta mengeringkan bagian pengapian yang lembap, ia berhasil membuat mesin kembali menyala. Aku menyerahkan kartu nama sebelum masuk ke mobil. “Besok kirim SMS nomor rekeningmu, ya. Biar saya bayar.” Ia menerima kartu itu sambil mengangguk. Aku pergi tanpa menanyakan apakah pakaiannya sudah cukup kering, bahkan tanpa mengucapkan terima kasih dengan layak.
Malamnya sebuah pesan masuk. Mbak sudah sampai di rumah? Semoga Allah selalu melindungi Mbak. Tidak ada nomor rekening. Tidak ada pembicaraan tentang ongkos. Dua hari kemudian, aku meneleponnya. “Nomor rekeningnya belum dikirim.”
“Tidak usah jadi beban pikiran, Mbak. Saya ikhlas membantu.”
“Tapi saya tidak enak.”
Ia terdiam sebentar.
“Tidak perlu merasa berutang. Saya sudah senang mobilnya bisa jalan dan Mbak sampai dengan selamat.”
Aku menawarkan makan siang sebagai ucapan terima kasih. Ia bersedia. Namun ketika selesai makan, ternyata ia lebih dahulu membayar. Aku kesal sekaligus heran. “Kan saya yang mengundang.”
“Lain kali,” katanya.
Aku tidak tahu apakah ia sengaja membuka kemungkinan pertemuan berikutnya. Yang kuingat, ia tidak meminta apa pun setelah itu. Pertolongan di tengah hujan tidak pernah dipakainya sebagai alasan untuk memperoleh kedekatan denganku.
Dari satu makan siang, kami bertemu lagi. Perlahan aku mulai menikmati kehadirannya, meskipun ia bukan teman berbincang yang pandai meramaikan suasana. Ia lebih banyak mendengarkan. Kadang aku berbicara panjang dan ia hanya mengangguk, tetapi beberapa hari kemudian ia masih mengingat hal kecil yang bahkan sudah kulupakan.
Ia lulusan SMK. Usahanya masih kecil. Pakaiannya sederhana dan beberapa kemejanya tampak serupa. Aku merasa lebih terdidik, lebih tahu cara bergaul, lebih memahami banyak hal. Perasaan unggul itu membuatku leluasa bercerita.
Sampai suatu hari kukatakan bahwa aku pernah menyerahkan diriku kepada Danu. Aku tidak lagi perawan. Aku menunggu perubahan pada wajahnya. Ia hanya meletakkan gelas dan mendengarkan sampai aku selesai. “Setiap orang punya masa lalu, Win,” katanya. “Kamu tidak boleh terperangkap dengan masa lalu. Kamu masih punya hidup yang harus dijalani.”
Aku anggap kata katanya tidak jujur. Mana ada pria tidak butuh wanita perawan. Yang aku tahu dia terperangkap dengan kencantikanku. Dia tidak penting masa laluku. Dia ingin memilikiku sebagai symbol pria sukses dan bangga bila harus membawaku ke tengah pergaulannya.
Makanya ketika Bimo melamarku, bagiku itu hanya trade off atas kekurangannya tidak seperti Danu, yang ganteng dan kaya. Namun bagaimanapun pernikahan itu dapat memberiku status yang lebih mudah dijelaskan. Bila kelak gagal, aku akan menjadi seorang janda, dan tidak seperti sebelumnya status tidak jelas, janda tidak, perawanpun tidak.
Makanya saat aku menerimanya, aku minta syarat. Aku tidak mau disentuhnya sampai aku siap. Dia setuju. Kami menikah tiga bulan setelah ia melamar. Maharnya sebuah cincin emas dua puluh gram. Pesta berlangsung sederhana. Orang tuaku menerima kemampuan Bimo tanpa mempermalukannya, tetapi aku masih sibuk membandingkan semua itu dengan pernikahan yang pernah kubayangkan bersama Danu.
Bimo dibesarkan seorang ibu yang menjanda sejak ia kecil. Dari cerita-ceritanya, aku mengetahui bahwa ia terbiasa membantu pekerjaan apa saja agar rumah tetap mempunyai uang belanja. Setelah dewasa, sebagian penghasilannya terus dikirim kepada ibunya di kampung. Aku menganggap ibu dan usaha selalu menjadi yang utama baginya. Kehadiranku, pikirku, hanya melengkapi hidup seorang lelaki dewasa. Aku tidak pernah sungguh-sungguh bertanya apakah anggapan itu benar.
Pada malam pertama, ketika tubuhku menegang saat ia mendekat, ia segera berhenti. “Tidak apa-apa,” katanya. “Istirahat saja.” Lanjutnya sambil merebahkan dirinya di lantai. Jam 3 pagi aku lihat dia bangun sholat tahajud di kamar dan dilanjutkan sholat subuh. Setelah itu dia sibuk dengan laptopnya. Hari berganti bulan. Kami tidur di kamar terpisah. Ia tidak pernah memaksaku. Namun aku pun tidak memberikan percakapan yang jujur tentang mengapa hatiku terus menjauh.
Aku mengeluhkan kebiasaannya menggunakan handuk berkali-kali sebelum dicuci. Di rumah orang tuaku, handuk bersih selalu tersedia dan aku terbiasa segera menggantinya. Suatu kali ia bercerita bahwa sejak kecil ia hanya mempunyai satu handuk, dipakai sampai setahun atau lebih. Handuk itu dicuci, dijemur, kemudian digunakan kembali sampai seratnya menipis.
“Kalau belum kering?” tanyaku.
“Kadang dipakai yang masih lembap.”
Saat itu aku hanya memikirkan betapa tidak nyamannya hidup seperti itu. Aku belum memahami betapa panjang kebiasaan kekurangan dapat tinggal dalam tubuh seseorang, bahkan setelah ia mempunyai cukup uang untuk membeli pengganti.
Ia juga makan sangat cepat, nyaris tanpa percakapan. Dahulu waktu makan harus disisipkan di antara pekerjaan. Pelanggan tidak menunggu ia kenyang. Mesin tidak berhenti bermasalah hanya karena ia sedang lapar. Tentang pakaian, yang diperhatikannya adalah kain kuat, jahitan yang tidak mudah lepas, dan saku untuk menyimpan pena. Model hampir tidak pernah masuk pertimbangannya.
Pagi-pagi ia sudah berangkat mengurus pesanan dan menemui pelanggan. Sore hari ia menuju pabrik kecilnya, lalu baru pulang menjelang tengah malam. Kadang aku terbangun dan melihat lampu teras masih menyala. Bimo duduk di sana dengan buku catatan di pangkuan dan sebatang rokok di tangan. Ia dapat diam lama sekali, memandangi halaman seolah sedang menunggu jawaban muncul dari kegelapan.
Sekarang aku membayangkan hal-hal yang mungkin dihitungnya malam itu: pembayaran bahan, gaji pekerja, mesin yang harus diperbaiki, pesanan yang jangan sampai terlambat. Bagi seseorang yang berangkat tanpa cadangan harta keluarga, satu kesempatan yang lepas dapat berarti berbulan-bulan kembali mencari jalan. Namun saat itu yang kulihat hanyalah seorang suami yang selalu memilih pekerjaan.
Keluhanku tentang kekurangan Bimo semakin membuatku hilang perasaan terhadapnya. “ Untuk apa kita hidup tanpa cinta. Lebih baik hidup sehari dengan orang yang kita cintai daripada hidup 1000 tahun dengan orang yang tidak kita inginkan.” Kata temanku di kantor saat aku curhat.
Aku tidak lagi membutuhkan kehadirannya di rumah, dan Bimo tidak pernah protes dengan sikap dinginku. Dia sibuk kerja dan hari harinya tetap kerja keras. Tetap menghormatiku sebagai istri. Dia tetap memberi kebebasanku. Tidak melarangku kerja. Bagiku dia tak lebih pecundang dan naif di hadapanku. Lama aku berpikir untuk berpisah.
Setelah dua tahun menikah, aku bertemu Danu lagi. Ia menelepon ke kantor dan meminta waktu. Rumah tangganya telah berakhir. Ia mengatakan masih mengingatku. “Aku tidak bisa melupakan masa lalu kita, Win.”
Aku ingin mempercayainya. Selama lebih dari tiga bulan aku menimbang, tetapi sebenarnya timbanganku sejak awal sudah berat ke satu sisi. Aku mengingat Danu sebagai lelaki pertama yang menyentuhku karena cinta. Bersama Bimo, aku terus menunggu perasaan cinta itu datang tanpa memberi ruang baginya untuk tumbuh.
Akhirnya aku meminta cerai.
“Aku sudah berusaha, Bang,” kataku. “Tapi aku tidak bisa mencintaimu seperti seharusnya.”
Bimo menunduk. Lama ia memandangi kedua tangannya. “Tidak apa-apa, Win.”
Aku menunggu kemarahan dan mengusirku dari rumah. Aku sudah siap. Ternyata tidak malah dia berusaha tersenyum “Mungkin saya terlalu berharap,” lanjutnya. “Saya kira kalau diberi waktu, kamu bisa mencintaiku.”
Ia meminta maaf karena merasa telah membuang waktuku bersamanya. Aku membiarkannya menanggung kalimat itu sendirian, padahal aku tahu ada hal besar yang sejak awal kusembunyikan. Tidak pernah sekalipun ia menggunakan masa laluku untuk menyerang. Tidak pula ia menyebut uang yang telah diberikannya. Kami mengurus perpisahan dengan tenang. Rumah yang dibelinya saat kami menikah diserahkan kepadaku.
Pada hari ia pergi, barang bawaannya tidak banyak. Aku melihatnya dari ruang tengah. Ia sempat berbalik, seolah ada yang ingin dikatakan, lalu hanya mengingatkan agar pintu belakang diperiksa sebelum tidur. Sesudah itu ia keluar. Aku tidak mengejarnya. Pria yang tidak pernah membentakku. Bahkan tidak pernah meninggikan suara dariku. Pria yang terlalu lembut memperkakukan wanita. Itu semua berkat agama yang dia Yakini. Dia tidak jadikan agama untuk menjadikan wanita harus patuh. Dia jadikan agama untuk melembutkan hati.
Pada tahun-tahun awal bersama Danu, aku merasa akhirnya memperoleh kehidupan yang semestinya. Rumah kami besar. Setiap liburan kami bepergian ke luar negeri. Dua anak lahir dan memenuhi hari-hariku. Aku berhenti bekerja karena Danu mengatakan ia dapat mencukupi semuanya
Lima tahun pertama rumah tangga semua terasa indah. Lalu ayahnya tersangkut skandal proyek. Usaha keluarga runtuh, rumah dan sejumlah aset disita. Danu kehilangan penghasilan sekaligus kebanggaan yang selama ini menopang dirinya. Ia menjadi mudah marah. Pertanyaan sederhana tentang belanja dapat berakhir sebagai pertengkaran. Kemudian tangannya mulai melayang ke pipiku. Itu yang tidak pernah dilakukan Bimo. Aku ingin percaya bahwa keadaan sedang membuatnya kehilangan kendali. Aku bertahan dan berusaha membantu, sampai menjual rumah pemberian Bimo untuk modal usahanya. Tiga bulan kemudian modal itu habis.
Aku masih mencoba mempertahankan rumah tangga kami. Namun ketika mengetahui perselingkuhannya dengan pekerja LC, sesuatu di dalam diriku akhirnya berhenti mencari pembenaran. Aku membawa kedua anak pulang ke rumah orang tuaku dan meminta cerai. Anak-anak membutuhkan rumah yang aman. Aku tidak dapat terus menyebut diamku sebagai pengorbanan ketika mereka mulai takut mendengar suara ayahnya meninggi.
Apa yang kulakukan kepada Bimo sudah kubayar dengan kekerasan Danu dan perselingkuhan Danu. Itu harga yang pantas kuterima. Tidak ada yang kebetulan. Hukum kausalitas begitu. Orang baik akan bertemu dengan orang baik. Orang buruk akan bertemu dengan orang buruk.
Kini usiaku tiga puluh delapan tahun. Aku bekerja sebagai tenaga pemasaran properti. Ada bulan ketika komisi cukup untuk bernapas lega, ada bulan ketika Papa masih membantu kebutuhan anak-anak. Aku mulai memahami betapa melelahkannya menunggu penghasilan yang belum pasti. Sering aku terjaga menghitung pengeluaran, lalu teringat lampu teras dan Bimo yang duduk sendirian sambil merokok dengan buku catatan di pangkuannya. Namun tidak pernah membiarkan aku memikirkan soal uang.
“Mas Ton,” panggilku.
“Iya, Bu?”
“Pak Bimo sekarang tinggal di mana?”
“Di BSD.”
Aku mengangguk, menatap jalan beberapa saat sebelum bertanya lagi.
“Sudah menikah?”
“Sudah, Bu. Setahun setelah berpisah dengan Ibu. Dikenalkan ibunya Bapak.”
Di pangkuanku, jemariku saling menggenggam. “Orangnya bagaimana?”
“Baik sekali Bu. Dari kampung yang sama dengan keluarga Bapak.” Kata Mas Ton. “ Pernah anak saya mau masuk kuliah. Ibu sendiri yang beri saya uang. Katanya tidak perlu utang.” Sambung Mas Ton.
Aku nyaris berhenti. Namun pertanyaan lama, kebiasaan lama, masih juga mendesak keluar. “Cantik?”
Mas Ton tersenyum kecil melalui kaca spion. “Ya Bu. Putih banget.”
Aku menunduk. Wanita cantik dan putih tidak jijik dengan pria hitam yang perokok. Aku terasa jatuh kejurang inferior terdalam, yang sebelumnya terbang dengan superioritas tinggi.
“Istrinya lulusan madrasah,” lanjutnya. “Dulu mengajar anak-anak mengaji di kampung.”
“Sudah punya anak?”
“Satu.”
Di sampingku, Mama mengusap rambut cucunya yang tertidur. Ia tidak menyela, tetapi keheningannya membuatku merasa semua pertanyaanku terdengar lebih jelas daripada yang kuinginkan.
“Pabriknya masih di Tangerang?”
“Yang besar sekarang di Vietnam. Itu sejak bapak kenalan dengan boss dari Hong Kong. Di sini masih ada pekerjaan namun sifatnya hanya outsourcing untuk pabrik di Vitnam.”
“Kenapa tidak ditutup saja?”
“Bapak mengatur supaya orang-orang lama tetap bisa bekerja. Katanya dia tidak mau PHK. Karena mereka sudah ikut waktu perusahaan masih susah. “
Aku terenyuh. Betapa mulia hati pria yang kuceraikan itu. Bahkan Mas Ton sendiri sampai kini ia masih berada di belakang kemudi yang sama, bekerja untuk orang yang sama.
Di luar, lampu-lampu mulai menyala. Mobil merayap di antara kendaraan yang pulang ke rumah masing-masing. Aku membayangkan rumah Bimo sekarang. Ada seorang perempuan yang mengenali suara kendaraannya masuk pekarangan dan menyambutnya dengan senyum ikhlas bersama seorang anak yang berlari menyambut, dan meja makan tempat berkah dibagi bersama. Aku mengakui ia sudah menemukan sorganya dalam mahligai rumah tangga. Itu bisa dilihat dari bisnis yang berkembang pesat setelah 7 tahun bercerai denganku.
Ketika mobil sampai di rumah, Mas Ton membantu menurunkan barang. Aku membangunkan anak bungsuku dan menuntun keduanya masuk bersama Mama. Di teras, kubuka telepon. Nomor Bimo kudapatkan dari Mas Ton setelah ia meminta izin kepadanya. Nomornya tidak berubah sejak aku mengenalnya. Aku mengetik beberapa kalimat, menghapusnya, lalu mulai lagi. Bang, terima kasih sudah membantu kami pulang. Salam untuk istri dan anakmu. Semoga kalian selalu sehat.
Aku memandangi pesan itu sebentar sebelum mengirimkannya. Tidak kutambahkan keluhan tentang hidupku. Tidak pula pertanyaan yang menyamarkan keinginan untuk diperhatikan. Beberapa menit kemudian jawabannya datang. Sama-sama, Win. Salam untuk Mama dan anak-anak. Semoga urusanmu dimudahkan. Aku duduk di kursi teras. Dari dalam terdengar suara anakku memanggil neneknya, disusul bunyi kotak sepatu dibuka dan tawa kecil yang menghangatkan rumah.
Dahulu aku mengira ketulusan Bimo lahir karena ia tidak mengerti nilai dirinya. Hari ini aku melihat seorang lelaki yang telah melanjutkan hidup, membangun keluarga, dan tetap dapat berbuat baik ketika bertemu seseorang yang pernah melukainya. Ia mempunyai cukup alasan untuk bersikap dingin. Namun di depan pintu kaca tadi, ia memilih menyapa Mama, memperhatikan anak-anak, dan memastikan kami pulang dengan aman. Aku menyeka mata, lalu menyimpan telepon.
“Sebentar, Sayang,” jawabku ketika anakku memanggil. Aku bangkit dan masuk. Malam itu ada dua anak yang perlu kudengarkan, seorang ibu yang perlu kubantu, dan kehidupan yang masih memberiku kesempatan untuk belajar tulus—tanpa menunggu sesuatu kembali kepadaku.
***
Kini aku mulai memahami betapa panjang jalan yang telah ditempuh Bimo sebelum sampai di depan pintu hatiku. Ia tumbuh tanpa ayah, dibesarkan seorang ibu di kampung yang harus membagi penghasilan kecil antara makanan, biaya sekolah, dan kebutuhan yang terus datang. Untuk mengantarkannya sampai tamat SMK, berapa banyak keinginan ibunya yang harus ditunda? Berapa kali perempuan itu mengatakan dirinya belum lapar agar anaknya dapat makan lebih dahulu?
Bimo berangkat tanpa warisan, tanpa hubungan dengan orang berkuasa, tanpa sanak keluarga yang dapat membukakan jalan. Ia belajar mencari kesempatan di tengah kehidupan yang tidak banyak memberinya kelonggaran. Terlambat mengambil keputusan dapat berarti kehilangan pesanan. Berhenti bekerja dapat berarti kehilangan income sumber pemenuhan tanggung jawab
Barangkali dari sanalah ia terbiasa memendam kecemasan. Ia berpikir lama, bekerja sampai larut, lalu duduk ditemani rokok ketika tidak tahu kepada siapa harus bercerita. Rokok tidak menyelesaikan persoalannya. Namun mungkin hanya pada jeda-jeda pendek itulah ia merasa boleh berhenti menjadi orang yang selalu harus sanggup.
Selama menjadi istrinya, aku menerima tiga puluh juta rupiah setiap bulan seolah uang itu memang sudah semestinya tersedia. Aku tidak pernah bertanya apakah pelanggannya membayar tepat waktu, apakah mesinnya sedang bermasalah, atau berapa malam tidurnya terganggu sebelum dapat menyerahkan uang itu kepadaku.
Ia membelikan rumah agar aku nyaman. Aku menempatinya tanpa berusaha membuatnya merasa diterima. Aku berhak meminta ruang tamu bebas asap rokok. Aku pun boleh menginginkan kebersihan. Namun aku menyampaikan semuanya dengan kejengkelan, seakan kebiasaannya membuktikan bahwa dirinya lebih rendah dariku.
Aku mencela handuk yang dipakainya berkali-kali tanpa bertanya bagaimana dahulu ia hidup hanya dengan satu handuk. Bahkan aku melarangnya menggunakan kamar mandiku. Sekarang kalimat itu kembali terdengar di kepalaku: kamar mandiku. Di rumah yang dibelinya untuk kami, aku masih membagi tempat seolah ia orang asing yang menumpang lewat.
Aku menangis.
Dahulu aku mengira semua yang diberikannya karena berharap akan bisa meniduriku. Ternyata ia hanya berharap diterima sebagai teman hidup, didengarkan ketika lelah, dan mempunyai seseorang yang dapat dipercaya untuk mengetahui ketakutannya. Dia sadar sex soal privasi, aku berhak menolak, sebagaimana nafkah tidak dapat membeli kasih sayang. To have sex seharusnya lahir dari kerelaan bersama karena cinta.
Dia tidak menikah karena berharap aku jadi Chef, cleaning service di rumah atau karena sex. Kalau karena itu semua dia bisa dapat dari professional dengan mudah. Dia punya uang. Tetapi kepercayaan tidak dapat dipesan, dan perasaan mempunyai tempat pulang tidak dapat diperoleh hanya dengan uang.
Tidak ada manusia yang sempurna. Aku teringat keyakinannya bahwa menikah merupakan ibadah, jalan untuk menyempurnakan separuh agama. Bimo hanya ingin melaksanakan misi agama yang dia yakini. Karena itu dia tidak mengeluh dengan sikapku yang tidak adil terhadapnya. Baginya itu semua antara dia dan Tuhan. Untuk menguji kesabaran. Namun dia berusaha belajar ikhlas dari kehadiranku. Kalau sampai akhirnya aku minta cerai, itu juga kehendak Tuhan yang mencintainya dan jalan baginya bertemu dengan wanita sholeha untuk menuntunnya ke sorga.
Semua sudah terjadi. Yang masih dapat kulakukan adalah berhenti membenarkan diriku sendiri. Belajar mendengarkan sebelum menghakimi. Belajar berterima kasih tanpa menunggu kehilangan. Ini akan menjadi sesal yang tak berujung dan juga jalan taubah yang Panjang bagiku.

Tinggalkan Balasan