Aku tidak tamat SMA…

Aku mengenal Bang Ale pada tahun 1983, di sebuah rumah kos di kawasan Cempaka Putih. Pacarku, Bang Robert, tinggal di tempat kos yang sama dengannya. Aku tahu Bang Ale tidak kuliah seperti Bang Robert. Namun, setiap kali aku datang menemui Bang Robert, aku hampir selalu melihatnya sedang membaca buku di teras paviliun sambil merokok.

Menurut Bang Robert, Ale anak rantau dari Sumatera yang bekerja sebagai salesman lepas. Ia hanya tamat SMA, tetapi mampu berbahasa Inggris. Buku-buku yang dipinjamnya dari Perpustakaan Idayu di Jalan Kwini, Kramat, Jakarta Pusat, kebanyakan berbahasa Inggris.

Kalau kusapa, Bang Ale mengangguk ramah.

“Amel, sekarang kelas berapa?”

“Kelas tiga, Bang.”

“Rajin belajar, ya, supaya lulus dan bisa kuliah,” katanya.

Bang Ale bukan tipe pria penggoda. Wajahnya terkesan keras dan ia jarang tersenyum. Kulitnya gelap, sangat kontras dengan kulitku sebagai perempuan keturunan Tionghoa. Entah mengapa, aku menduga ia belum mempunyai pacar di kota besar ini.

Pernah aku bertanya tentang seorang perempuan yang tinggal sekamar dengannya. Perempuan itu biasanya datang malam dan pergi pagi. “Itu teman. Dia juga anak rantau. Namanya Risa. Dia menumpang sementara, sampai punya cukup uang untuk menyewa kamar kos sendiri,” jawabnya.

Suatu hari aku datang untuk menemui Bang Robert. Kali ini aku membawa tas besar. Namun, sesampainya di sana, aku mendapat kabar bahwa ia sudah pindah dua hari sebelumnya. Rasanya aku terhempas ke dasar jurang. Sehari sebelumnya, aku telah mengabarkan kepadanya bahwa aku hamil. Ia memintaku datang ke tempat kos. Tetapi ketika aku datang, ia sudah pergi.

Tubuhku mendadak lemas. Aku terjatuh dan kehilangan kesadaran. Ketika sadar, aku sudah berada di kamar kos Bang Ale. Ia tersenyum lembut ketika melihatku membuka mata. Aku lalu menceritakan semua yang menimpaku. Ayahku meninggal ketika aku berusia sepuluh tahun. Dua tahun kemudian, ibuku pergi entah ke mana. Sejak itu aku dibesarkan oleh pamanku. Namun, setelah mengetahui aku hamil, Paman mengusirku dari rumah. Bang Ale terenyuh mendengar ceritaku. Ia menawarkan agar aku tinggal sementara di kamar kosnya. Sejak saat itu, aku berhenti sekolah.

***

Di kamar sempit itu tinggal tiga orang: aku, Bang Ale, dan Risa. Bang Ale meminta kami tidur di ranjang, sementara ia tidur di lantai. Kami bersikeras bertukar tempat, tetapi ia menjawab singkat.

“Kalian pakai ranjang. Biar saya di lantai. Jangan bantah,” katanya tegas.

Kami menurut. Menurut Risa, selama tinggal di sana, Bang Ale tidak pernah menggoda atau menyentuhnya. Begitu pula perlakuannya kepadaku. Dalam keadaan yang serba tidak pasti, sikapnya membuatku merasa aman. Belum sampai seminggu tinggal di kamar Bang Ale, aku ditawari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah kos itu. Pemilik kos menyetujuinya dan memberiku kamar sendiri.

Bang Ale menyarankan agar aku melanjutkan pendidikan melalui sekolah malam. Ia membayar uang pendaftaran dan menyediakan ongkos perjalanan ke tempat belajar. Ternyata bukan hanya aku. Kak Risa juga didorongnya untuk melanjutkan sekolah. Kami akhirnya berada dalam satu kelas.

Ada perkataannya yang tak pernah kulupakan. “Kalian perempuan yang hidup dalam kemiskinan dan tidak punya keluarga yang dapat melindungi kalian. Tetapi kalian punya Tuhan. Tuhan membekali kalian dengan akal untuk bertahan dan mencari jalan. Akal itu harus diasah dengan pengetahuan. Belajarlah dengan rajin. Tuntutlah ilmu. Gunakan bekal yang Tuhan berikan untuk menemukan mata air bagi kehidupan kalian.”

Namun, aku pernah bolos sekolah malam. Aku memilih berjualan teh botol di Senen. Kupikir, dengan berdagang, aku dapat membiayai sekolah sendiri dan tidak terus membebani Bang Ale.

Ketika mengetahuinya, ia menatapku tajam. “Mel, kamu tahu mengapa Robert merasa bisa meninggalkanmu begitu saja? Karena dia melihat kamu miskin, lemah, dan tidak punya keluarga yang akan membelamu. Dia memperlakukanmu seperti orang yang tidak berharga. Itu kesalahan dia. Tetapi kamu harus belajar melindungi dirimu.”

Aku menunduk.

“Dalam diri manusia bisa tumbuh sifat pemangsa. Ada orang yang mencari kelemahan orang lain untuk dimanfaatkan. Kalau kamu membiarkan dirimu kehilangan kesempatan belajar, kamu akan lebih sulit mengenali orang seperti itu dan membela dirimu sendiri.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Saya membantu kamu sekolah karena berniat baik. Saya tidak sedang mencari kesempatan untuk menggoda kamu atau meminta balasan. Kalau kamu tidak mau menerima bantuan ini, saya tidak bisa memaksa. Itu hak kamu.”

Dadaku sesak. Aku ingin menjelaskan bahwa aku berdagang karena tidak enak terus menerima bantuannya. Namun, saat itu aku juga menyadari bahwa keinginanku untuk mandiri justru membuatku meninggalkan sekolah. Sejak hari itu, aku kembali belajar dengan tekun. Aku masuk sekolah malam lagi, menyelesaikan tugas, dan berusaha mengejar pelajaran yang tertinggal.

Setahun kemudian, aku lulus. Ketika kuberitahukan kabar itu, Bang Ale tersenyum. Ia memberiku sebuah kamus dan buku pelajaran bahasa Inggris.

“Setahun dari sekarang, kamu harus sudah bisa berbahasa Inggris,” katanya. “Dengan bahasa itu, kamu dapat membaca lebih banyak buku dan terus belajar secara mandiri. Kamu juga bisa berkomunikasi dengan orang dari berbagai tempat. Akan lebih banyak jalan yang bisa kamu pilih.”

Aku menerima kedua buku itu dengan hati penuh.

“Syukuri keberhasilan hari ini, Mel. Tetapi jangan berhenti di sini. Terus belajar.”

Aku memandangi kamus di tanganku. Setelah ijazah, ternyata masih ada pelajaran lain yang harus dimulai. Kali ini aku tidak merasa gentar seperti dahulu. Aku ingin tahu seberapa jauh aku dapat melangkah.

**

Sulit bagiku melupakan Bang Ale. Kenangan yang paling dalam justru berasal dari hari ketika ia menggendongku keluar dari gang.

Aku mengalami keguguran. Tubuhku lemas, dan darah terus mengalir. Bang Ale membawaku ke dalam bajaj untuk segera menuju rumah sakit bersalin. Dalam perjalanan, darahku membasahi celananya. Ia tetap menopang tubuhku, berusaha menenangkan aku di tengah deru mesin dan guncangan kendaraan.

Ada perkataannya yang tidak pernah kulupakan. Setelah pulih, kutuliskan dalam buku harianku. “Mel, kamu harus kuat. Ikhlaskan yang sudah terjadi. Jangan pelihara kebencian kepada siapa pun, termasuk Robert. Apa yang kamu alami sekarang, bukan antara kamu dengan Robert tetapi antara kamu dnegan Tuhan. Sekarang pikirkan dirimu dan kesembuhanmu. Hadapi ini bersama Tuhan. Dalam kesedihan pun, kamu bisa belajar tentang sabar dan ikhlas.”

Saat itu aku belum sanggup memahami semuanya. Aku hanya mendengar suaranya dan berusaha tetap sadar. Namun, kata-kata itu tinggal dalam diriku, lama setelah darah dibersihkan dan tubuhku mulai pulih.

Bang Ale tahu betapa tertekannya aku selama hari-hari sebelumnya. Aku terus memikirkan Robert, menyesali keputusanku, dan menyalahkan diri sendiri. Aku tidak tahu pasti apa yang menyebabkan keguguran itu. Yang kutahu, tubuh dan pikiranku telah sangat letih. Dalam keadaan seperti itulah ia hadir. Bagiku, pertolongannya terasa seperti kasih Tuhan yang sampai melalui tangan seorang manusia.

Ia menanggung biaya rumah sakit tanpa mengungkitnya. Ia tidak menambah kesedihanku dengan celaan. Ketika aku mulai pulih, ia mengajakku memikirkan hidup yang masih harus kujalani: kembali belajar, menyelesaikan sekolah, dan perlahan membangun kemampuan untuk berdiri sendiri.

Aku tidak langsung kuat. Ada malam ketika aku masih menangis dan menyesali semuanya. Tetapi sejak hari itu, aku tahu ada seseorang yang tidak meninggalkanku saat aku paling lemah. Itulah yang membuatnya menjadi Abang dalam hidupku. Aku anak tunggal, dan Tuhan mengirim kakak lewat deritaku. Untuk menjagaku.

**

Setelah tamat SMA, aku bekerja di sebuah toko buku di Senen dan pindah ke tempat kos lain. Sebelum aku pergi, Bang Ale menyampaikan pesan yang terus kubawa dalam hidupku.

“Mel, yang harus kita jaga dalam hidup ini adalah kehormatan dan martabat. Jangan biarkan dirimu menjadi keset kaki orang. Jalani hidup dengan jujur. Tetapi untuk tetap jujur, kamu harus berani mengalahkan keinginanmu sendiri.”

Aku mendengarkan tanpa menyela.

“Berani berkata tidak kepada diri sendiri, sekalipun jalan yang ditawarkan terlihat mudah dan murah. Jangan mengambil keuntungan yang mengharuskan kamu mengorbankan harga diri. Dengan pegangan itu, kamu akan lebih kuat menghadapi dunia yang tidak selalu ramah.”

Ia menatapku tajam, seperti ingin memastikan aku sungguh memahami perkataannya.

“Dan ingat, saya tidak mungkin terus menjaga kamu. Mulai sekarang, kamu harus menanamkan pegangan itu dalam dirimu sendiri. Jangan menggantungkan seluruh hidupmu kepada manusia. Bersandarlah kepada Tuhan, lalu kerjakan bagianmu sebaik mungkin. Jangan berhenti belajar, terutama bahasa Inggris. Saya akan terus mendoakan kamu.”

Aku mengangguk. Ada rasa sedih mendengar bahwa ia tidak akan selalu berada di dekatku. Selama ini, kehadirannya membuatku merasa aman. Kini aku harus belajar membawa rasa aman itu ke dalam diriku sendiri. Itu tahun 1985, terakhir kali aku bertemu Bang Ale sebelum kami lama kehilangan kabar.

Empat bulan setelah bekerja di toko buku, aku diterima sebagai caddy di lapangan golf Rawamangun. Kemampuan bahasa Inggrisku sangat membantu ketika melayani pemain asing. Aku masih harus belajar banyak, tetapi sudah berani menjawab pertanyaan dan memulai percakapan. Setiap kali dapat memahami ucapan mereka, aku teringat kamus pemberian Bang Ale dan malam-malam ketika aku bersusah payah menerjemahkan buku.

Dari pekerjaan itulah aku berkenalan dengan seorang asing yang menaruh perhatian pada kisah hidupku. Setelah mengetahui kemampuan bahasa Inggris dan kesungguhanku bekerja, ia menawarkan kesempatan menjadi staf di sebuah perusahaan agen ekspor-impor di Singapura.

Aku mendengarkan tawaran itu dengan hati berdebar. Ada harapan, tetapi juga ketakutan menghadapi tempat yang belum kukenal. Kali ini aku ingin memahami pekerjaan yang ditawarkan sebelum memutuskan. Pesan Bang Ale kembali terngiang: bersandar kepada Tuhan, bekerja dengan jujur, dan terus belajar.

Dengan bekal itulah aku mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.

**

Aku harus menyesuaikan diri di negeri orang. Semua orang berkompetisi, dan aku tidak ingin tertinggal hanya karena bekal pendidikanku terbatas. Di sela pekerjaan, aku mengikuti kursus akuntansi, perdagangan internasional, keuangan, dan investasi.

Hari-hariku diisi dengan bekerja dan belajar. Setiap minggu, setidaknya aku menamatkan satu buku. Aku jarang ikut pesta atau duduk berlama-lama di kafe bersama teman kantor. Hampir tidak ada pria yang mendekatiku. Mungkin karena aku terlalu sibuk, atau karena sikapku lebih menunjukkan keinginan untuk belajar daripada mencari perhatian.

Tanpa terasa, sepuluh tahun berlalu. Aku telah menempati posisi direktur. Namun, jabatan itu tidak membuatku bersedia menerima segala perlakuan atasanku. Ia terus menggodaku dan memperlakukanku seolah aku dapat disuruh menuruti semua keinginannya.

Aku tahu bagaimana aku sampai pada posisi itu. Bertahun-tahun aku bekerja keras, belajar selepas jam kantor, dan memikul tanggung jawab yang semakin besar. Jabatan itu kuperoleh melalui pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Aku merasa telah memberikan jauh lebih banyak kepada perusahaan daripada yang kuterima.

Ketika perlakuannya semakin melewati batas, aku teringat pesan Bang Ale: jangan jadikan dirimu keset kaki orang. Aku mulai berani berkata tidak. Aku menyampaikan batas yang tidak boleh dilanggarnya. Penolakanku membuatnya marah, dan akhirnya ia memecatku. Aku menerima keputusan itu tanpa memohon agar dipertahankan. Ada kecemasan tentang penghasilan dan pekerjaan berikutnya, tetapi aku tidak ingin membeli rasa aman dengan menyerahkan martabatku.

Barulah aku memahami betapa beratnya menjalankan nasihat yang dahulu terdengar sederhana. Kehormatan harus diperjuangkan, dan kadang kita harus menanggung kehilangan untuk menjaganya. Bang Ale pernah mengatakan bahwa hidup tidak selalu ramah. Hari itu aku mengerti.

Dua bulan kemudian, aku mendapat tawaran dari sebuah perusahaan investasi private equity. Kali ini aku diajak bergabung sebagai associate partner. Aku mengelola perusahaan sendiri, dengan perusahaan investasi tersebut sebagai pemegang saham dan penyedia modal.

Selama dua tahun, hasil pekerjaanku memuaskan para mitra. Kepercayaan mereka bertambah. Pada 1999, aku mendapat alokasi dana untuk mengambil bagian dalam proses lelang aset melalui BPPN. Aku diberi mandat untuk menentukan portofolio investasi dalam lingkup yang telah kami sepakati. Aku datang ke Jakarta bersama tim yang kubentuk sendiri.

Di sebuah executive lounge hotel, tanpa sengaja aku bertemu kembali dengan Bang Ale. Sesaat aku hanya berdiri memandanginya. Wajah itu lebih matang daripada yang kuingat, tetapi aku masih mengenali tatapannya. Ketika ia menoleh dan menyebut namaku, aku segera mendekat lalu memeluknya.

Ia tersenyum dan membiarkanku memeluknya lama.

“Mel, sehat?” tanyanya.

Aku menangis di bahunya.

“Sehat, Bang.”

Begitu banyak yang ingin kuceritakan, tetapi untuk beberapa saat aku tidak mampu mengatakan apa-apa lagi. Di hadapannya, aku kembali menjadi Amel yang dahulu datang membawa tas besar, kehilangan tempat tinggal, dan tidak tahu harus mencari pertolongan ke mana.

Setelah aku lebih tenang, kami duduk dan berbicara. Bang Ale menceritakan hidupnya sejak kami berpisah bertahun-tahun lalu. Ia telah menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya dan terjun ke dunia bisnis. Jatuh bangun telah dilewatinya. Ia bercerita dengan ringan, sesekali tersenyum ketika mengingat kesulitan yang pernah dihadapi.

Aku mendengarkan dengan perasaan hangat. Dahulu aku mengenalnya sebagai orang yang memberi nasihat. Kini aku memahami bahwa ia sendiri telah menjalani hidup yang keras dan terus belajar dari setiap pengalaman.

Aku pun menceritakan perjalananku: pekerjaan di toko buku, lapangan golf Rawamangun, keberangkatan ke Singapura, kursus-kursus malam, hingga pekerjaan yang membawaku kembali ke Jakarta. Ia mendengarkan dengan saksama.

Ketika aku selesai, ia menyampaikan nasihat yang kemudian terus kuingat. “Mel, ketika masuk ke dunia bisnis, kamu harus siap menghadapi manusia yang bisa bertindak seperti pemangsa. Ada orang yang mencari kesempatan untuk menguasai, ada pula yang akhirnya dikuasai karena tidak memahami apa yang sedang mereka hadapi.”

Aku menatapnya.

“Jangan terlalu polos melihat kemudahan dan tawaran yang bagus. Periksa kepentingan di baliknya. Pahami risikonya. Dalam kemitraan, pastikan kedudukan kalian setara. Jangan merendahkan orang lain, tetapi jangan pula membiarkan dirimu direndahkan.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan ketika kamu sudah punya kekuatan, belajarlah memimpin. Jangan gunakan keberhasilanmu untuk melakukan ketidakadilan yang dahulu kamu alami. Berani melawannya, termasuk kalau ketidakadilan itu dilakukan oleh orangmu sendiri.”

Kemudian ia mengatakan kalimat yang kutulis kembali malam harinya: “Gunakan akal sebagai panglima dan hati nurani sebagai hakim agung.” Aku mengangguk. Di Singapura, aku telah belajar membaca laporan, menghitung risiko, dan menilai peluang. Di hadapan Bang Ale, aku diingatkan untuk tetap memeriksa diriku sendiri: apa yang sedang kuperjuangkan, bagaimana aku memperolehnya, dan siapa yang menanggung akibat dari keputusanku.

***

Pada 2010, aku telah memiliki investment holding bersama mitra dari Jepang dan Amerika Serikat. Portofolio kami mencakup perkebunan sawit, pertambangan, industri dan manufaktur, serta perdagangan komoditas.

Namun, setelah kejatuhan Lehman Brothers, bisnis kami mengalami tekanan luar biasa. Selama bertahun-tahun, aku mengembangkan usaha dengan leverage yang besar. Ketika pembiayaan sulit diperpanjang dan arus kas melemah, utang yang dahulu mempercepat pertumbuhan mulai mengancam kelangsungan perusahaan.

Di tengah keadaan itu, sebuah grup di Singapura yang berafiliasi dengan perusahaan di Indonesia berusaha mengambil alih kendali holding kami. Aku panik. Berbulan-bulan aku menghadapi tekanan dari kreditur, calon investor, dan mitraku sendiri.

Kedua mitraku dari Jepang dan Amerika Serikat meminta agar kami melepas seluruh saham kepada investor. Sebagai CEO, aku menolak. Aku masih percaya perusahaan dapat diselamatkan, meskipun saat itu aku belum menemukan caranya.

Melalui seorang investment banker di Singapura, aku diperkenalkan kepada perusahaan private equity di Hong Kong. CEO-nya seorang perempuan bernama Wenny. Kami bertemu di kantornya. Ia mendengarkan penjelasanku, memeriksa keadaan perusahaan, dan mengajukan pertanyaan yang membuatku harus mengakui betapa rapuhnya struktur pembiayaan kami.

Malam harinya, ia mengundangku makan di sebuah restoran. “Bos saya ingin bertemu,” katanya.

Aku datang membawa kecemasan yang belum reda. Namun, ketika memasuki restoran, aku melihat Bang Ale. Tanpa memedulikan orang-orang di sekitar, aku memeluknya dan menangis. Di tengah tekanan yang membuatku sulit mempercayai siapa pun, pertemuan itu membuatku merasa tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.

Bang Ale tidak banyak bicara. Selama tiga bulan berikutnya, ia mengawal proses penyelesaian utang dan penataan pembiayaan melalui Yuan Holding. Solusinya menggunakan skema convertible note, instrumen utang yang dapat dikonversi menjadi saham sesuai ketentuan yang disepakati.

Proses itu panjang dan melelahkan. Ada dokumen yang harus diperiksa, kewajiban yang harus dipastikan, dan keputusan yang tidak selalu menyenangkan. Kehadiran Bang Ale tidak menghapus persoalan perusahaan. Ia membantu kami menghadapinya satu per satu.

Setelah seluruh proses selesai, ia berkata kepadaku. “Kamu harus belajar dari kegagalan ini, Mel. Kamu terlalu percaya kepada likuiditas murah yang ditawarkan pasar. Kamu mengembangkan usaha dengan utang, tetapi kemampuan menghasilkan dan mengelola arus kas tidak tumbuh seimbang.”

Aku mendengarkan tanpa menyela.

“Ketika perusahaan bergantung pada pembiayaan yang harus terus diperpanjang, kamu sedang mempertaruhkan hidupnya pada kesediaan orang lain memberi uang. Begitu mereka berhenti, seluruh organisasi bisa tercekik.”

Ia menatapku.

“Tumbuhlah dengan akal sehat. Jangan biarkan ambisi menentukan besarnya utang. Ketika peluang datang seperti air bah, pengusaha mudah merasa harus mengambil semuanya. Padahal kemampuan perusahaan tetap ada batasnya.”

Aku menunduk, mengingat keputusan-keputusan yang dahulu kubanggakan sebagai keberanian.

“Utang bisa membantu,” lanjutnya. “Tetapi kalau dipakai untuk memuaskan ambisi tanpa disiplin arus kas, ia melemahkan daya tahan organisasi. Prinsip itu berlaku bagi perusahaan, juga negara.”

Aku mulai memahami bahwa menyelamatkan perusahaan tidak cukup dengan memperoleh pembiayaan baru. Aku harus mengubah cara berpikir yang telah membawa kami ke keadaan itu.

Melalui skema convertible note tersebut, holding kami masuk dalam hubungan pembiayaan yang lebih erat dengan Yuan. Aku merasa berada di bawah naungan Bang Ale, meskipun hubungan itu dijalankan melalui organisasi dan perjanjian bisnis. Di sana ada tata kelola yang harus kuikuti, keputusan yang harus dapat dipertanggungjawabkan, dan pelajaran yang tidak selalu mudah diterima.

Pada 2013, ketika gejolak terkait tapering meningkatkan tekanan pendanaan, persoalan kami kembali mencapai titik penentuan. Melalui penyelesaian pembiayaan dan perubahan kepemilikan, Bang Ale mengambil alih kendali holding kami melalui Yuan. Aku dan kedua mitraku dari Jepang serta Amerika Serikat secara bersama-sama hanya mempertahankan 10 persen saham dalam bentuk saham Seri A.

Sejak itu, holding yang kubangun menjadi salah satu unit usaha di bawah Yuan Holding. Berat bagiku menerima perubahan tersebut. Aku masih mengingat saat-saat mendirikannya, memilih orang-orang pertama, dan menandatangani transaksi yang membuatku merasa telah jauh melangkah. Kini aku harus menerima bahwa perusahaan dapat terus hidup dengan kendali yang tidak lagi berada di tanganku.

Namun, aku juga tahu mengapa keadaan itu terjadi. Aku telah mengambil risiko yang terlalu besar dan terlambat mengakui batas kemampuan kami. Bang Ale kembali menolongku. Kali ini pertolongannya datang bersama konsekuensi yang harus kutanggung sebagai pengusaha. Aku kehilangan sebagian besar kepemilikan, tetapi masih mempunyai kesempatan untuk bekerja, memperbaiki kesalahan, dan belajar.

Aku mulai menilai keberhasilan dengan lebih hati-hati. Setiap kali melihat peluang baru, aku bertanya kepada diriku sendiri: apakah perusahaan sungguh mampu menjalaninya, dan apakah aku masih akan menginginkannya jika utang murah tidak tersedia?

Pada suatu kesempatan, Bang Ale mengajakku ke Shanghai. Di sanalah aku bertemu kembali dengan Kak Risa. Dahulu kami pernah berbagi satu ranjang di kamar sempit Bang Ale, sementara ia tidur di lantai. Kini usia telah meninggalkan jejak pada wajah kami. Aku dan Kak Risa sama-sama tidak pernah menikah.

Kak Risa telah menjadi CEO sebuah subholding di bawah SIDC. Bang Ale merupakan salah satu pendirinya, meskipun mayoritas saham perusahaan itu dikuasai pihak Tiongkok. Ia bercerita bahwa pada 2010, setelah kontrak kerjanya sebagai tenaga kerja wanita berakhir, ia bertemu kembali dengan Bang Ale di Hong Kong. Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan SIDC. Dari sana, ia terus belajar dan memikul tanggung jawab hingga dipercaya memimpin sebuah subholding.

Aku mendengarkannya sambil mengingat masa ketika kami berangkat ke sekolah malam. Dahulu kami membawa buku dengan tubuh letih setelah bekerja. Kami belum tahu ke mana pelajaran itu akan membawa hidup kami.

Bang Ale tidak pernah mendikte pekerjaan yang harus kami pilih atau ke mana kami harus pergi. Namun, soal belajar, ia keras. Ia tidak membiarkan kami terus menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti.

Setelah kami mampu berdiri sendiri, ia tidak mencari-cari kami atau menuntut agar kami tetap berada di dekatnya. Ia membiarkan kami menjalani kehidupan masing-masing, sementara ia menjalani kehidupannya sendiri.

Kini kami berkumpul kembali. Kami datang membawa pengalaman, pekerjaan, dan keputusan-keputusan yang harus kami tanggung sendiri. Namun, di hadapannya, aku dan Kak Risa tetap merasa sebagai adik. Kami masih perlu belajar. Ada pula saat-saat ketika kami membutuhkan seorang abang: seseorang yang dapat kami temui ketika hidup terasa berat, yang berani menegur saat kami keliru, dan yang membuat kami merasa mempunyai keluarga.

Di Shanghai itu, aku memandang Kak Risa, lalu Bang Ale. Aku teringat kamar sempit tempat kami dahulu tidur bertiga. Banyak hal telah berubah sejak malam-malam itu, tetapi rasa aman yang pernah kami temukan di sana masih dapat kurasakan ketika duduk bersama mereka.

***

Semakin jauh aku menjalani hidup, semakin kusadari bahwa aku tidak selalu memahami suatu peristiwa ketika sedang mengalaminya. Saat terluka, perhatianku tertuju pada rasa sakit. Saat gagal, aku menghitung apa yang hilang. Setelah waktu berlalu dan hati mulai tenang, barulah aku dapat bertanya: apa yang belum kupahami, dan apa dalam diriku yang perlu kuperbaiki?

Dari Bang Ale, aku belajar memberi ruang bagi pertanyaan itu. Ia mengajariku bersabar agar kegelisahan tidak mendahului pertimbangan. Kesabaran memang tidak selalu segera mengubah keadaan, tetapi perlahan mengubah caraku menghadapinya. Aku belajar menjadi kapten atas diriku sendiri, menjaga arah ketika gelombang kehidupan berada di luar kuasaku. Di tengah ketidakpastian, iman memberiku keberanian untuk melangkah. Takwa mengingatkanku untuk menjaga niat dan tindakan, terutama ketika ketakutan atau keinginan membuat jalan yang keliru tampak menguntungkan.

Aku juga merasakan kasih Tuhan melalui orang-orang yang ikhlas. Mereka hadir ketika aku tidak mempunyai apa-apa dan hampir kehilangan harapan. Ada yang memberi tempat untuk beristirahat, ada yang mengulurkan tangan, ada yang menyediakan kesempatan untuk belajar. Mungkin bagi mereka pertolongan itu sederhana. Bagiku, kebaikan tersebut menjadi bagian dari kekuatan untuk melanjutkan hidup.

Ingatan itu menjagaku agar tetap rendah hati. Aku malu jika sampai menghardik orang miskin atau melukai hati anak yatim. Aku pernah mengenal kesepian orang yang tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Bahkan dalam langkahku di tengah orang banyak, aku ingin menjaga diri dari kesombongan. Aku tidak mengetahui beban yang sedang dibawa setiap orang. Yang kutahu, kehidupanku sendiri tumbuh bersama kebaikan yang pernah kuterima.

Dalam bisnis, aku berusaha membawa kesabaran yang sama. Aku belajar peka melihat peluang, lalu tekun menilainya melalui ilmu, bukti, dan pertimbangan yang dapat diuji. Aku perlu memeriksa ambisiku sendiri: apakah keputusan ini sungguh dapat dipertanggungjawabkan, atau aku hanya ingin segera merasa berhasil? Pertanyaan itu membantuku menjaga agar keinginan untuk maju tidak mengabaikan hak dan kepentingan orang lain.

Dengan pegangan tersebut, aku berani bermitra dengan siapa pun, tetap terbuka sekaligus berhati-hati. Aku tidak perlu merasa lebih tinggi untuk dihormati, dan tidak perlu merendahkan diri untuk diterima. Setiap orang membawa kemampuan serta keterbatasannya. Kami dapat bekerja sebagai mitra sejajar apabila sama-sama menghormati kesepakatan dan bersedia memikul tanggung jawab.

Perjalanan hidup juga mengajariku memahami bentuk-bentuk pertolongan. Ada bantuan yang diberikan dengan tulus karena Tuhan, tanpa mengharapkan balasan. Ada pula bantuan yang hadir melalui pertimbangan bisnis, dengan kewajiban dan konsekuensi yang harus kupahami. Aku ingin menyambut ketulusan dengan rasa syukur dan menjalani hubungan bisnis dengan akal sehat. Kedekatan tidak membebaskanku dari tanggung jawab, sebagaimana sebuah perjanjian tidak menghapus kewajiban untuk berlaku adil.

Kini aku lebih berhati-hati menyikapi keberhasilan maupun kegagalan. Ketika berhasil, aku perlu mengingat orang-orang yang membantu dan keadaan yang memungkinkan usahaku berkembang. Ketika gagal, aku perlu mengakui kesalahan tanpa menjadikan penyesalan sebagai tempat tinggal. Keduanya memberiku kesempatan untuk mengenali diri, selama aku masih bersedia mendengar dan belajar.

Itulah didikan Bang Ale yang terus kubawa. Ia memberiku semangat, dan aku harus membuka buku. Ia membantu ketika aku kesulitan, dan aku harus memperbaiki keputusan. Ia mengingatkanku untuk bersandar kepada Tuhan, sementara aku tetap menjalankan bagianku dengan sungguh-sungguh. Perlahan aku memahami bahwa menerima pertolongan juga berarti menghargai kesempatan dengan usaha yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, banyak hal terjadi di luar kehendakku, tetapi aku tetap mempunyai tanggung jawab atas cara menyikapinya. Aku belum selalu sabar. Aku masih dapat keliru membaca keadaan dan terlalu cepat mengikuti keinginan sendiri. Karena itu, semakin bertambah usia, semakin aku merasa perlu belajar.

Aku ingin menjalani hari-hari yang tersisa dengan hati yang lebih tenang, akal yang lebih jernih, dan niat yang terus kujaga. Jika hikmah belum terlihat hari ini, aku ingin cukup sabar untuk tidak segera berputus asa. Barangkali ada pemahaman yang baru dapat kuterima setelah aku bersedia mendengarkan, memperbaiki diri, dan memberi waktu kepada kehidupan.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Before:

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca