
Rumah di Bogor
Bogor, Februari 2026.
Hujan baru berhenti ketika aku menemukan rumah itu. Nomornya ditulis pada sepotong kayu di samping pagar. Cat putihnya tampak bersih dalam cahaya pagi. Di selokan, sehelai daun nangka berputar di dekat batu, berusaha mengikuti air tetapi berkali-kali tersangkut. Aku berdiri cukup lama untuk melihatnya lepas. Rumah itu kecil, luasnya mungkin tidak lebih dari tujuh puluh meter persegi, tetapi pekarangannya lapang. Dua kursi rotan di teras, sandal menghadap pintu, dan pot-pot yang seragam. Tanaman tersusun rapi di sepanjang jalan setapak. Tidak ada daun membusuk yang dibiarkan menumpuk. Rumah itu dirawat oleh seseorang yang terbiasa mengerjakan sendiri apa yang perlu dibereskan.
Perempuan itu keluar membawa gayung. Ia menyiram tanaman di bawah atap yang tidak terkena hujan. Gerakannya lambat, seperti orang yang sudah mengetahui berapa banyak air diperlukan setiap akar. Kerudung kelabunya terselip ke dalam kerah baju. Pada tangan yang memegang gayung terlihat urat-urat menonjol.
Aku mengenal tangan itu sebelum mengenal wajahnya. Tiga puluh tahun sebelumnya, tangan itulah yang memungut surat kiriman ibuku dari lantai kantor pos. Tangan itu pernah menyentuh dahiku ketika demam. Pernah membungkus nasi dalam daun pisang. Pernah melepas genggamanku agar aku tidak terlambat masuk ruang ujian. Kini tangan itu sedang merawat sesuatu yang tumbuh tanpa aku.
Aku mengangkat tangan ke pagar, kemudian menurunkannya. Usiaku lima puluh tiga tahun. Aku pernah berbicara di depan ratusan orang, menandatangani keputusan yang mengubah hidup banyak keluarga, dan mengucapkan kata tanggung jawab dengan suara yang tidak bergetar. Tetapi di depan pagar kecil itu, aku tidak sanggup mengucapkan salam.
“Sumi…”
Nama itu hanya bergerak di dalam mulutku.
Perempuan itu belum menoleh.
***
Surat yang Jatuh
Bandung, Januari–Juni 1996.
Bandung pada pagi hari masih menyimpan dingin dalam tembok. Di kamar kosku di Gang Sederhana, dekat jalan yang dilalui angkot menuju kampus, air keran membuat buku-buku jari terasa ngilu. Dinding lembap meninggalkan bekas kehitaman di belakang lemari. Jika tetangga menggoreng bawang, aromanya masuk melalui lubang angin dan membuat perutku lebih cepat lapar.
Aku mahasiswa yang terlambat. Usiaku dua puluh tahun. Sesudah SMA, aku bekerja sekitar setahun di toko onderdil milik paman sambil membantu ayah ketika usahanya nyaris tutup. Kuliah baru kumulai setelah ibu berkata bahwa menunda hidup tidak boleh menjadi kebiasaan. Aku memilih teknik sipil. Kini aku memasuki tahap akhir perkuliahan, masih bergantung pada kiriman orang tua, dan berusaha menutupi rasa malu dengan mengatakan bahwa aku sedang mempersiapkan masa depan.
Aku bertemu Sumi di kantor pos dekat Alun-Alun. Pagi itu lantainya baru dipel. Bau cairan pembersih bercampur kertas lembap dan lem perangko. Orang-orang mengantre membawa wesel, paket yang dibungkus karung, dan surat beralamat tulisan tangan. Di luar, seorang penjual koran menepuk-nepukkan tumpukan berita pada telapak tangannya.
Surat ibuku jatuh ketika aku mencari tanda pengenal. “Mas, ini.”
Perempuan itu mengulurkannya dengan dua tangan. Usianya kira-kira dua puluh empat. Pada ujung lengan seragam kerjanya ada bercak air. Ia berdiri sedikit menyamping agar orang-orang tidak menginjak bagian lantai yang belum kering.
“Terima kasih.”
Ia mengangguk, lalu kembali pada pelnya.
Pertemuan kedua terjadi seminggu kemudian. Aku menerima kiriman uang yang lebih kecil daripada biasanya. Surat ibu menjelaskan bahwa ayah sedang sulit. Aku membaca surat itu sambil duduk di undakan samping gedung.
“Sakit, Mas?”
Sumi berdiri membawa ember.
“Tidak.”
“Dari tadi lihat kertas terus. Mukanya pucat,” katanya.
“Kepalaku pusing,” kataku.
Ia meletakkan kotak bekalnya di sebelahku. “Sudah makan? Coba makan sedikit dulu.”
Di dalamnya ada nasi, telur dadar tipis, dan tumis labu siam. Ia bilang sudah makan. Aku percaya, sampai kemudian mengetahui bahwa siang itu ia hanya membawa satu kotak bekal.
Sejak itu aku akrab dengannya. Namanya Sumiati. Ia dibesarkan di pesantren setelah ibunya meninggal; ayahnya lebih dahulu tidak ada. Ia tamat madrasah, kemudian menerima pekerjaan membersihkan kantor melalui kenalan pengurus pesantren. Kamar sewanya berada di gang yang lebih sempit daripada gang kosku.
Suatu sore aku mengantarnya pulang. Hujan turun ketika kami melewati toko kain yang sedang menutup pintu besinya. Kami berteduh di bawah kanopi. Ujung sepatunya basah.
“Kamu tidak ingin sekolah lagi?” tanyaku.
“Ingin.”
“Kenapa tidak?”
Ia melihat air yang jatuh dari kanopi.
“Kalau aku sekolah, yang bayar kamar siapa?”
Aku tidak mempunyai jawaban. Selama ini, untukku, keinginan berarti rencana yang belum terlaksana. Untuk Sumi, keinginan kadang hanya boleh hidup sampai sebelum uang sewa jatuh tempo.
Azan asar terdengar dari arah masjid. Ia mengeluarkan kantong plastik dari tas, membungkus sepatunya yang basah agar tidak mengotori lantai tempat salat.
“Abang mau ikut?”
Aku ikut.
Selesai salat, ia menunggu di halaman. Wajahnya tidak berubah menjadi lebih suci. Ia tetap perempuan yang memikirkan uang kamar dan sepatu basah. Namun aku merasakan sesuatu yang asing: ada orang yang sanggup membawa kesulitannya kepada Tuhan tanpa terlebih dahulu berpura-pura tidak kesulitan.
Nama yang Disembunyikan
Bandung, Juli 1996.
Aku melamarnya di warung soto yang mejanya ditutup plastik berbunga. Seorang anak pemilik warung sedang mengerjakan perkalian di dekat termos. Di luar, angkot mengetuk-ngetukkan klakson. Sumi belum menyentuh minumannya ketika aku berkata bahwa aku ingin menikah dengannya.
“Aku belum punya apa-apa, Sumi.”
“Aku juga tidak meminta apa-apa.”
Kalimat itu membuatku lega. Terlalu lega. “Tapi orang tuaku belum boleh tahu.”
Ia mengangkat muka. “Kenapa?”
“Mereka ingin aku selesai kuliah dulu. Kalau tahu, mungkin kiriman dihentikan.”
Aku menyampaikan kemungkinan itu seperti kenyataan yang sudah dipastikan. Sebenarnya aku belum pernah bertanya kepada mereka. Aku takut terhadap penolakan, dan menaruh ketakutanku di atas meja sebagai sesuatu yang harus ditanggung berdua.
Sumi merapikan ujung kerudungnya. “Sampai kapan?”
“Sampai aku lulus.”
Ia berpikir lama. “Kalau begitu selesaikan kuliahmu. Aku tidak perlu diketahui orang.”
Aku memegang tangannya. Tidak terpikir olehku bahwa seseorang bisa menyetujui sebuah luka karena berharap luka itu akan segera sembuh.
Kami menikah sederhana, dengan wali yang berwenang, dua saksi, dan orang-orang yang membantu Sumi sejak kecil. Mahar kami sebuah cincin ringan yang kubeli setelah menjual radio.
Sesudah akad, Bu Nyai memeluk Sumi. Perempuan tua itu berbau minyak kayu putih. “Sekarang kalian saling menjaga,” katanya.
Aku mengangguk seraya menggenggam erat jemari Sumi.
Sumi menangis tanpa suara.
Ketika kutanya sebabnya, ia menjawab, “Sekarang aku punya keluarga. ”
Sumi menandahkan tangannnya, Ia berdoa terdengar suaranya lirih. ” Ya Rabb ku, jadikan suamiku menjadi imamku untuk menjemput sorgaMu. Beri aku kekuatan ketika lemah sebagai istri. Beri aku kesabaran ketika beban tak tertanggungkan. Amin. ”
Kami makan nasi kuning di ruang depan. Seekor kucing menunggu di bawah bangku. Tidak ada fotografer. Salah seorang saksi mengambil gambar dengan kamera kecil; berminggu-minggu kemudian Sumi menerima satu cetakan dan menyimpannya dalam amplop.
Pada foto itu aku tersenyum lebar. Sumi menunduk, cincin di jarinya terlalu longgar. Aku tidak tahu foto tersebut kelak menjadi bukti bahwa pada suatu hari aku pernah berjanji dengan sadar.
Rantang Biru
Bandung, Agustus 1996–Mei 1997.
Kami tidak pernah benar-benar mempunyai rumah bersama. Pemilik kosku hanya menerima mahasiswa lelaki. Sumi tinggal di kamar sewanya. Aku datang pada malam-malam tertentu, lalu berangkat sebelum orang-orang di gang selesai menyapu halaman. Kami menyebut keadaan itu sementara. Kata itu menjadi lemari tempat kami menyimpan segala yang belum berani dibicarakan.
Di kamar Sumi ada kasur tipis, kompor minyak, dan gantungan pakaian dari kawat. Jika hujan deras, ia menggeser baskom ke bawah bagian atap yang bocor. Kami pernah tertawa karena bunyi tetesan membuat percakapan seperti diiringi ketukan jam.
“Nanti kalau punya rumah,” kataku, “kamar kita tidak bocor.”
“Kalau bocor juga, dibetulkan,” jawabnya. Ia tidak membutuhkan gambaran besar. Baginya rumah adalah tempat kerusakan boleh dibicarakan, lalu diperbaiki bersama.
Setiap Selasa dan Jumat ia membawa rantang biru ke kosku. Sayurnya berganti, tetapi nasi selalu dipadatkan agar cukup. Ia mengambil kemeja kotorku dengan alasan sekalian mencuci. Pada kerah yang sudah bersih masih tercium sabun batangan.
Suatu pagi ia menemukan uang di saku celanaku. “Ini jangan hilang.”
“Simpan saja.”
Ia menggeleng.
“Uang buku.”
Kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar uang miliknya. “Kalau kurang buat jilid tugas, pakai ini dulu.”
Aku menerima. Aku bahkan berkata akan menggantinya setelah bekerja. Tidak pernah kucatat jumlahnya. Orang sering mencatat utang kepada bank dengan teliti, lalu membiarkan utang kepada orang yang mencintainya menghilang dari ingatan.
Sumi suka bertanya tentang kuliah. Suatu malam, ia melihat gambar jembatan pada buku yang kubawa. “Bagaimana Abang tahu jembatannya tidak akan roboh?”
“Bebannya dihitung. Bahannya juga harus sesuai. Kita tidak boleh hanya melihat bentuknya.”
Ia mengangguk sambil memotong tempe. “Berarti yang tidak kelihatan justru penting, ya?”
Aku menjelaskan tentang fondasi dan tanah yang menahan bangunan. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Bertahun-tahun kemudian, ketika aku lebih sibuk mempertahankan penampilan hidupku, pertanyaan itu kembali: seberapa banyak yang sudah kubangun di atas sesuatu yang sebenarnya tidak sanggup menahannya?
Pada bulan puasa, kami makan sahur di kamarnya. Lampu redup. Dari gang terdengar orang memukul ember. Sumi membelah satu telur rebus menjadi dua, lalu memberiku bagian yang sedikit lebih besar.
“Doa kamu apa?” tanyaku seusai subuh.
“Supaya Abang selesai kuliah. Punya karir dan aku tidak jadi beban abang.”
“Tidak minta rumah?”
“Aku berdoa kalau suamiku tidak punya reseki mengajaku ke Makkah .” Ia tersenyum. “Moga anakku yang akan membawaku ke Makkah”
Aku mencium keningnya. Terlalu rendah hati sikapnya. Dia tidak mau membebaniku dengan permintaan yang sehingga aku merasa berhutang.
Kemudian waktu berjalan dan aku mulai terlambat datang. Kadang aku tidak datang sama sekali. Sumi tidak memarahiku. Karena itulah aku berhenti merasa perlu menjelaskan. Aku menyangka ketenteraman berarti tidak ada yang menagih. Aku belum mengerti bahwa orang yang diam juga mempunyai hati yang bisa letih.
Kursi pada Hari Wisuda
Bandung, Juli 1997.
Sumi menyetrika bajuku pada malam sebelum wisuda. Arang dalam setrika dipinjam dari tetangga karena listrik di kamarnya mati. Ia menaruh alas kain di atas papan dan memeriksa bagian kerah dengan ujung jari.
“Besok kamu datang?” tanyaku.
Ia tidak segera menjawab. “Bapak dan Ibumu datang, kan?”
“Ya.”
“Aku di sini saja. Nanti ceritakan.”
Aku membiarkannya memilih tidak hadir tanpa mengatakan bahwa pilihan itu telah kubentuk untuknya.
Pagi wisuda, ibu memelukku dengan wajah basah. Ayah berdiri di samping seorang perempuan bernama Ratih dan kedua orang tuanya. Ratih mengenakan kebaya warna gading. Aku pernah bertemu dengannya ketika pulang, tetapi tidak mengetahui mengapa ia datang membawa bunga.
Sesudah acara, kami makan di restoran yang jendelanya menghadap jalan menanjak. Ayah memintaku duduk di sebelahnya. “Selama ini Pak Hendra membantu kita,” katanya pelan.
Sebagian kiriman kuliahku ternyata datang dari ayah Ratih. Usaha ayahku telah jatuh lebih jauh daripada yang diceritakan ibu. Bantuan itu berlangsung dengan harapan yang tidak pernah disampaikan kepadaku, tetapi sudah dianggap dimengerti oleh orang-orang dewasa di meja tersebut.
“Ratih juga cocok dengan kamu. Nanti pekerjaan bisa dibantu.”
Aku melihat tanganku sendiri. Pada hari itu cincin pernikahanku berada dalam laci kos.
“Kalau aku tidak mau?”
Ayah menatap gelasnya. “Kamu pikir kami tidak malu meminta bantuan?”
Ia tidak memaksaku dengan suara tinggi. Ia menggunakan kelelahan. Keletihan orang tua kadang lebih sulit dilawan daripada kemarahan mereka. Aku bisa mengatakan bahwa aku sudah menikah. Aku bisa berdiri, mengajak mereka ke kamar sewa Sumi, lalu menanggung akibatnya. Aku tidak melakukan keduanya.
Ratih sedang membantu ibu mengambilkan makanan. Aku melihat kesempatan bekerja, rumah yang layak, dan ayah yang dapat kembali mengangkat kepala. Semua itu nyata. Begitu pula Sumi. Tetapi aku memperlakukan kenyataan yang satu sebagai masa depan, dan kenyataan yang lain sebagai sesuatu yang bisa ditinggalkan tanpa biaya.
Malamnya Sumi menyiapkan teh. “Ibumu sehat?”
“Sehat.”
“Senang sekali pasti.”
“Ya.”
Ia tersenyum. Di atas meja ada telur balado untuk merayakan kelulusanku. Aku ingin berbicara. Tetapi setiap kalimat yang benar akan memaksaku menjadi orang yang bertanggung jawab pada malam itu juga. Maka aku makan.
Orang yang Tidak Berpamitan
Bandung dan kota asal, Agustus–Desember 1997.
Aku berangkat dengan tas cokelat dan janji akan kembali. “Setelah urusan pekerjaan selesai,” kataku. Sumi mengangguk. Ia memasukkan dua bungkus nasi ke dalam tas. Di terminal, asap bus membuat matanya berair. Aku memilih percaya bahwa hanya asap yang membuatnya begitu.
Pada minggu pertama aku menelepon melalui wartel. Minggu kedua, aku mengirim surat pendek. Sesudah itu aku menunda. Ada urusan lamaran kerja, berkas, pertemuan keluarga. Setiap penundaan terasa kecil ketika dilakukan. Dilihat dari ujung kehidupan, penundaan-penundaan itu membentuk sebuah kepergian.
Aku menikah dengan Ratih pada Desember. Aku tidak memberitahunya tentang Sumi. Aku tidak menyelesaikan perkawinan pertama. Kebohongan itu bukan lubang kecil pada awal hidup kami; kebohongan itu fondasinya. Kelak, ketika aku menuntut kejujuran dari Ratih, ada bagian diriku yang telah lama mengetahui betapa buruknya tempat aku berdiri.
Pada malam sebelum pesta, aku berwudu. Aku berdoa supaya jalan hidupku dimudahkan. Nama Sumi datang ke dalam pikiran. Aku mengusirnya dengan alasan bahwa Tuhan mengetahui kesulitanku. Aku memohon pengertian dari Tuhan untuk sesuatu yang bahkan tidak berani kujelaskan kepada manusia yang kurugikan.
Di Bandung, Sumi masih menaruh dua gelas di atas meja. Bagian itu tidak kulihat. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menceritakannya, aku menyadari bahwa masa lalu tidak berhenti pada batas ingatanku. Ada kehidupan yang terus berlangsung ketika aku sengaja memalingkan wajah.
Harga Sebuah Pilihan
1998–2016.
Rumah kami mempunyai pagar tinggi dan ruang tamu yang jarang dipakai untuk duduk santai. Pada dinding tergantung foto pernikahan. Aku berdiri tegak dengan jas hitam. Ratih tersenyum sesuai arahan fotografer. Di bawah foto itu orang-orang datang membawa berkas, ucapan selamat, dan harapan yang dibungkus percakapan sopan.
Karierku bergerak perlahan, kemudian cepat. Aku mengerti cara mengingat nama, membaca kehendak atasan, dan mengatakan sesuatu yang terdengar tegas tanpa membuat siapa pun tersinggung. Bantuan keluarga Ratih membuka jalan menuju pekerjaan di bidang pembangunan daerah. Pendidikan teknik sipil memberiku bekal untuk memahami proyek dan persoalan infrastruktur. Setelah masuk, aku bekerja keras untuk tetap berada di dalamnya. Aku tidak sepenuhnya malas atau bodoh. Kenyataan itu justru membuatku lebih mudah memaafkan diriku sendiri.
Ratih pun tidak selalu dingin. Ia pernah tidur di kursi rumah sakit ketika aku menjalani operasi usus buntu. Ia hafal obat alergiku. Tetapi perkawinan kami dipenuhi hal-hal yang tidak sanggup kami bicarakan. Dalam acara keluarga, ia membetulkan cara dudukku. Jika aku menolak pertemuan tertentu, ia mengingatkan siapa yang mula-mula membantu kami.
“Bapak hanya ingin kamu berhasil.”
“Aku juga bekerja.”
“Tidak ada yang bilang kamu tidak bekerja.”
Percakapan selesai, tetapi luka tinggal.
Kami membesarkan dua anak yaitu Dimas, yang lahir pada 1998, dan Nara, yang lahir dua tahun kemudian. Aku menemani Dimas belajar sepeda sampai lututnya berdarah. Nara sering tertidur di dadaku, jari kecilnya memegang kancing baju. Untuk mereka, aku tidak sedang berperan. Aku mencintai keduanya dengan kegembiraan yang tidak memerlukan saksi.
Sesekali, setelah anak-anak tidur, aku teringat rantang biru. Aku teringat ketika menemukan kemeja dengan kerah yang tidak bersih, atau ketika demam dan mendengar Ratih meminta pembantu mengantarkan sup. Kenangan itu tampak lembut, padahal di dalamnya masih ada keegoisan: aku mengingat apa yang diberikan Sumi kepadaku, belum memikirkan apa yang kuambil darinya. Aku tidak mencari. Aku takut kehidupan yang telah kususun harus dibongkar. Aku menyebut ketakutan itu menjaga keluarga.
Tahun berganti. Telepon genggam menggantikan wartel. Pesan bisa sampai dalam beberapa detik. Tidak ada lagi kesulitan teknis yang cukup besar untuk membenarkan diamku, tetapi aku menemukan alasan lain. Pada setiap hari raya, aku mengucapkan maaf kepada puluhan orang. Satu nama tetap tidak kuhubungi.
Kertas dari Laboratorium
2017–2019
Penyakit itu mula-mula datang sebagai kelelahan yang kuanggap biasa. Kakiku membengkak. Makanan kehilangan rasa. Pada malam hari aku sulit tidur, sementara pagi menuntutku tetap mengenakan kemeja rapi dan berbicara seolah tubuhku tidak sedang menyimpan persoalan. Ratih yang lebih dahulu melihat perubahan itu.
“Sepatumu sempit lagi?”
“Mungkin terlalu lama duduk.”
Ia berjongkok, menekan bagian atas kakiku dengan ujung jari. Bekas tekanannya tidak segera hilang.
“Besok periksa.”
“Ada rapat.”
Ratih mengangkat wajah. “Rapatnya bisa menunggu. Kakimu tidak.”
Aku akhirnya datang ke rumah sakit. Pemeriksaan disusul pemeriksaan lain, sampai suatu hari dokter mengatakan bahwa kondisi ginjalku sudah sangat buruk. Sejak itu, hidupku mulai diukur melalui hasil laboratorium, jadwal pengobatan, dan kemungkinan transplantasi. Jabatan tetap menungguku di kantor. Tubuhku tidak lagi sanggup menyesuaikan diri dengan segala yang kutuntut darinya.
Pada 2019, ketika pilihan transplantasi dibicarakan, Dimas dan Nara ikut menemani. Keduanya sudah dewasa. Mereka duduk di sebelahku, mendengarkan dokter menjelaskan pemeriksaan calon donor, termasuk kemungkinan memeriksa keluarga dekat. Hubungan darah dapat menjadi pertimbangan, tetapi kecocokan dan keselamatan donor tetap harus dinilai.
“Periksa ginjalku dulu, Dok,” kata Dimas.
Aku menoleh. “Jangan buru-buru.”
“Aku tidak buru-buru, Pa. Aku mau diperiksa.”
Nara menggenggam lenganku.
“Aku juga.”
“Kamu masih muda.”
“Makanya diperiksa dulu. Kalau tidak bisa, dokter yang bilang.”
Aku melihat mereka bergantian. Dimas sudah lebih tinggi dariku. Nara masih mempunyai kebiasaan menekan ibu jarinya pada lenganku ketika sedang cemas.
“Papa tidak ingin kalian sakit karena Papa.”
“Kami juga tidak ingin Papa terus sakit,” kata Nara.
Ratih duduk diam di seberang meja. Saat itu aku mengira ia hanya sedang menahan tangis.
Pemeriksaan berlangsung bertahap. Dalam prosesnya, muncul pertanyaan tentang hubungan biologis kami. Dokter menjelaskan bahwa pemeriksaan kecocokan donor tidak dapat begitu saja dipakai untuk memastikan hubungan ayah dan anak. Pemeriksaan DNA tersendiri kemudian dilakukan dengan persetujuan kami. Aku menyetujuinya tanpa prasangka. Aku menyangka kami hanya sedang mencari jalan agar aku sembuh.
Dokter memintaku datang ke ruang konsultasinya. Di atas meja ada map tertutup. Dari luar terdengar roda tempat tidur melewati koridor. Aku masih sempat melihat jam dan menghitung apakah bisa menghadiri pertemuan setelah urusan rumah sakit selesai.
“Pak, ada hasil yang perlu kita bicarakan dengan tenang.”
“Mereka tidak cocok?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Ini mengenai pemeriksaan DNA yang kita lakukan.”
Aku menarik kursi lebih dekat.
Dokter membuka map, menjelaskan hasilnya dengan hati-hati, lalu mengatakan bahwa pemeriksaan tersebut menunjukkan aku bukan ayah biologis Dimas dan Nara.
Aku memandang bibirnya, menunggu ia melanjutkan dengan kalimat yang akan mengubah arti ucapannya.
“Dimas?”
“Ya, Pak.”
“Nara juga?”
Ia mengangguk.
Aku menunduk pada kertas yang diarahkan kepadaku. Ada istilah-istilah yang tidak mampu kubaca. Aku mengenali nama kedua anakku. Itu saja sudah terlalu banyak.
“Bisa salah?”
Dokter menjelaskan bagaimana hasil itu diperoleh dan dinilai. Aku mendengarkan, tetapi pikiranku berhenti pada satu pertanyaan.
“Dua-duanya, Dok?”
Suaraku terdengar begitu kecil. Dokter memberiku waktu.
“Di luar mereka menunggu,” kataku akhirnya.
“Bapak ingin ditemani dulu?”
Aku menggeleng. “Aku belum tahu harus mengatakan apa.”
Ia menutup map perlahan.
“Perawatan Bapak tetap kita lanjutkan. Tim akan membicarakan pilihan donor lain yang memenuhi persyaratan. Urusan keluarga ini tidak harus Bapak putuskan hari ini.”
Aku mengangguk, meskipun tidak merasa mampu memutuskan apa pun. Ketika keluar, Nara segera berdiri. “Bagaimana, Pa?”
Aku melihat tangannya yang terulur untuk mengambil map.
“Nanti kita bicarakan di rumah.”
“Papa pucat.”
“Sedikit lelah.”
Ia menggandengku menuju lift. Aku membiarkannya. Di sepanjang koridor, aku menahan diri agar tidak menangis di dekat anak yang baru saja menawarkan bagian tubuhnya untukku.
Malam itu aku mengajak Ratih berbicara ketika Dimas dan Nara sudah masuk ke kamar masing-masing. Amplop hasil pemeriksaan kuletakkan di meja. Ratih melihatnya, kemudian memandangku.
“Kamu tahu apa isinya?”
Ia tidak menjawab.
“Ratih.”
“Aku takut.”
Aku merasakan tanganku mulai dingin.
“Sejak kapan?”
Ratih menutup mulutnya dengan tangan.
“Sejak kapan kamu takut aku mengetahui?”
Air matanya jatuh sebelum ia menyebut sebuah nama. Lelaki yang pernah menjadi kekasihnya sebelum kami menikah.
“Hubungan itu belum selesai waktu kamu menikah denganku?”
“Aku mengira sudah. Karena dia sudah dapat perawanku. Dan tidak pernah berani berkomitmen, makanya ayahku minta hubunganku diputus dengan pria itu.”
“Tapi dia datang lagi?”
Ratih mengangguk.
“Waktu kamu sudah menjadi istriku?”
“Ya.”
Aku menyandarkan punggung pada kursi. Jadi tidak ada kekeliruan waktu yang dapat kupakai untuk memahami kelahiran Dimas dengan cara yang lebih ringan. Ratih sudah menjadi istriku. Aku sudah pulang ke rumah yang sama setiap hari.
“Dia pernah meninggalkanmu,” kataku. “Aku tahu kamu menangis pada malam pertama, karena dia. Mengapa kamu menerimanya lagi?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tahu dia datang. Kamu tahu membukakan pintu. Jangan bilang tidak tahu.”
Ratih menunduk semakin dalam.
“Aku memang tidak punya jawaban yang bisa membuat perbuatanku benar.”
Lelaki itu datang membawa penyesalan dan kata-kata yang dahulu ingin didengar Ratih. Ia mengatakan masih mencintainya. Menjelaskan keadaan yang membuat mereka berpisah. Ratih mempercayainya, meskipun sudah ada kehidupan lain yang harus dijaganya.
Dari hubungan itulah Dimas lahir. Aku teringat hari kelahirannya. Tanganku gemetar ketika pertama kali menggendong. Aku beberapa kali memanggil perawat karena takut posisi kepalanya salah. Ratih memperhatikanku dari tempat tidur, wajahnya letih dan tersenyum.
“Waktu melihatku menggendong Dimas, apa yang kamu rasakan?”
“Takut.”
“Hanya takut?”
“Bersalah.”
Aku mengusap wajah.
“Aku memilih namanya, Ratih.”
“Aku ingat.”
“Aku menelepon orang tuaku. Aku bilang anak kami lahir. Mereka menangis senang.”
Ia mengangguk sambil menangis.
“Kamu mendengar semuanya?”
“Ya.”
Kami diam. Dari kamar Nara terdengar sesuatu jatuh, lalu bunyi laci ditutup. Aku menunggu sampai rumah kembali sunyi.
“Lalu Nara?”
Ratih tidak mengangkat wajah.
“Dua tahun setelah Dimas,” kataku. “Setelah kamu melihatku menjadi papanya setiap hari?”
“Aku tahu.”
“Setelah dia belajar memanggilku?”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tetap bertemu lelaki itu?”
Ratih mengangguk.
Aku berdiri, berjalan ke jendela, lalu kembali tanpa mengetahui apa yang hendak kulakukan.
“Jangan terus mengatakan kamu tahu. Aku sedang mencoba mengerti bagaimana kamu bisa tahu, lalu tetap melakukannya.”
Tangisnya terdengar tertahan. “Aku tidak bisa memberimu alasan yang pantas. Aku hanya bisa mengakuinya.”
Aku ingin marah lebih keras. Tetapi tubuhku lemah. Napasku mulai pendek, dan aku membenci kenyataan bahwa bahkan untuk menghadapi kabar ini aku harus memperhitungkan kesehatanku.
Ratih bergerak hendak mengambil air. “Jangan dulu,” kataku.
Ia berhenti. Aku belum sanggup menerima perhatian dari tangan yang selama ini menyimpan begitu banyak hal dariku.
“Di mana dia sekarang?” tanyaku.
“Sudah lama pergi. Pindah ke kota lain. Dia menikah dengan perempuan lain.”
“Dia tahu tentang anak-anak?”
Ratih mengangguk.
Aku menatapnya lama.
“Dan dia pergi?”
“Ya.”
Aku melihat foto keluarga di dinding. Dimas dan Nara berdiri di depan kami. Keduanya sedang tertawa karena fotografer mengatakan sesuatu. Aku tidak ingat perkataannya. Aku hanya ingat merasa bahagia pada hari itu.
“Sejak itu aku tidak bertemu dengannya lagi,” kata Ratih. “Tidak ada orang lain.”
“Aku harus percaya?”
Ia menggeleng perlahan. “Aku tidak bisa menyuruhmu percaya.”
Ratih mengatakan bahwa sesudah lelaki itu pergi, ia mulai melihat kehidupan yang hampir dihancurkannya. Ia melihatku membesarkan anak-anak, pulang dari pekerjaan, bangun ketika salah seorang dari mereka sakit. Ia mencoba memperbaiki semuanya tanpa mengakui apa yang telah terjadi.
“Jadi selama ini kamu merawatku karena merasa bersalah?”
Ia lama tidak menjawab.
“Awalnya, ya.”
Aku memejamkan mata.
“Dan setelah bertahun-tahun?”
“Aku mencintaimu.”
Aku ingin mempercayainya. Keinginan itu sendiri membuatku marah.
“Sejak kapan?”
“Aku tidak tahu tepatnya. Mungkin ketika mulai mengerti siapa yang selalu ada. Tetapi aku tetap tidak berani memberitahumu.”
“Kamu takut kehilangan?”
“Ya.”
“Lalu kamu membiarkanku hidup tanpa tahu.”
Ratih menangis lagi.
“Aku terlambat membedakan lelaki yang kucintai dengan lelaki yang mencintaiku.”
Kalimat itu tidak membuatku memaafkan. Aku masih merasa dipermainkan di dalam rumahku sendiri. Tetapi kata terlambat tinggal lebih lama dalam pikiranku daripada yang kuinginkan. Aku teringat Bandung. Perempuan muda yang mencuci bajuku, membawakan makanan, dan berdoa agar kuliahku selesai. Perempuan yang bersedia disembunyikan karena mempercayai janji bahwa keadaan itu hanya sementara. Aku juga takut kehilangan. Aku juga memilih menjaga kehidupanku dengan membiarkan orang lain tidak mengetahui kebenaran.
Malam itu aku pindah ke kamar lain. Tubuhku masih sakit. Di balik pintu, aku mendengar Nara bertanya kepada mamanya apakah Papa sudah minum obat. Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Beberapa hari kemudian, setelah hasil pemeriksaan DNS diberitahukan kepada mereka, Nara berdiri di pintu kamarku. Matanya bengkak.
“Boleh masuk, Pa?”
Aku mengangguk. Ia duduk di ujung tempat tidur, menyisakan jarak yang dahulu tidak pernah ada.
“Papa marah sama aku?”
“Tidak.”
“Tapi Papa tidak banyak bicara lagi.”
Aku memandangnya. Anak yang dahulu tertidur di dadaku kini takut bahwa sesuatu yang tidak dipilihnya akan membuatku berhenti menyayanginya.
“Papa sedang sakit hati. Tapi bukan karena kamu.”
Nara menunduk, meremas ujung bajunya.
“Aku masih boleh memanggil Papa?”
Aku mengulurkan tangan. Ia mendekat perlahan. “Kamu tidak perlu meminta izin untuk itu.”
Ia menangis ketika kurangkul. “Aku tidak tahu, Pa.”
“Papa tahu. Kamu tidak salah. Kamu akan tetap jadi putri kesayangan papa.” Aku mengatakannya karena ia masih gemetar. Kemudian aku memanggil Dimas. Ia berdiri di dekat pintu, matanya merah, berusaha terlihat lebih tenang daripada adiknya.
“Kalian tetap anak Papa. Hasil DNA itu hanya menjelaskan satu hal, dari mana darah mereka berasal. Tetapi darah ternyata tidak mampu menjelaskan dua puluh tahun kehidupan. “Kataku.
Mereka berdua menangis.
“ Papa masih ingat malam ketika Dimas demam tinggi dan Papa menggendong mu sampai pagi. Papa ingat hari pertama Dimas masuk sekolah, ketika tangannya tidak mau melepaskan tangan Papa di depan gerbang. Papa ingat sepeda pertama kalian , luka di lutut, nilai sekolah kalian yang buruk, kemarahan Papa, permintaan maaf papa, ulang tahun kalian, sampai hari ketika untuk pertama kali kalian memanggil papa dan meminta nasihat sebagai seorang lelaki dewasa.” Kataku berlinang air mata.
“ Laboratorium tidak pernah hadir dalam semua peristiwa itu.” Lanjutku. “ DNA dapat mengatakan bahwa secara biologis kalian bukan anak Papa. Tetapi ilmu pengetahuan tidak dapat menghapus waktu yang telah kita jalani bersama. Cinta seorang ayah tidak tersimpan di dalam kromosom. Ia tumbuh melalui kebersamaan yang panjang. Dipupuk oleh kecemasan, pengorbanan, pertengkaran, kegembiraan, dan ribuan kejadian kecil yang setelah puluhan tahun berubah menjadi ikatan. Darah menentukan asal. Waktu menentukan hubungan. Dan keadaan mengujinya.”
Dimas menatapku dan memeluku. Nara juga. Mereka bersama memelukku.
Pencarian donor berlanjut. Aku akhirnya memperoleh donor yang memenuhi persyaratan. Operasi berhasil. Pemulihan berlangsung perlahan, disertai obat-obatan dan pemeriksaan rutin. Orang-orang datang mengucapkan syukur atas keberhasilan operasiku. Aku tersenyum dan menerima doa mereka.
Setelah tubuhku berangsur pulih, aku akhirnya mengambil keputusan untuk menceraikan Ratih. Kami berpisah baik-baik. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, tetapi kami tidak ingin menghabiskan sisa hidup dengan saling menghukum. Tidak ada pertengkaran besar. Kami berbicara perlahan, menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan, lalu menerima bahwa perkawinan kami telah sampai pada akhirnya.
Ratih menolak pembagian harta bersama.
“Aku merasa tidak pantas menerimanya setelah semua kebohonganku,” katanya.
Aku tidak menganggap penolakannya sebagai pembayaran atas luka yang ditinggalkannya. Tidak ada harta yang dapat mengganti tahun-tahun itu. Namun, aku juga tidak ingin perpisahan kami menjadi tempat untuk terus menagih kesalahan.
Dimas melanjutkan usaha bengkel milik kakeknya. Ia memang tidak terlalu berminat pada dunia kuliah. Di bengkel, ia menemukan pekerjaan yang disukainya dan perlahan belajar mengelola usaha dengan tangannya sendiri. Nara sudah menikah dengan seorang pegawai pemerintah daerah. Setelah kami berpisah, Ratih tinggal bersamanya.
Dimas dan Nara tetap berkomunikasi denganku. Mereka masih menelepon, menanyakan kesehatanku, bercerita tentang pekerjaan dan rumah tangga, serta memanggilku Papa. Setiap mendengar panggilan itu, aku merasa ada bagian hidupku yang masih mereka jaga. Perkawinanku dengan Ratih telah berakhir, tetapi tahun-tahun ketika aku membesarkan mereka tetap menjadi kehidupan yang kami miliki bersama.
Alamat yang Hilang
Bandung, Januari 2022.
Aku kembali dua puluh tahun lebih setelah pergi. Bandung masih mempunyai hujan yang kukenal, tetapi hampir semua tempat telah berubah. Gang kosku lebih sesak. Rumah lama menjadi bangunan bertingkat dengan pagar rapat. Warung soto telah digantikan gerai telepon. Orang-orang melihat layar sambil menunggu kendaraan datang.
Di kantor pos, aku berdiri terlalu lama sebelum mendekati petugas. “Dulu ada pegawai kebersihan. Namanya Sumiati.”
Petugas itu belum lahir ketika aku pertama kali bertemu Sumi. Ia memanggil seorang lelaki yang lebih tua. Lelaki itu berpikir, lalu mengatakan mungkin ada orang yang masih ingat. Pencarian diteruskan melalui telepon, kenalan, dan mantan pegawai.
Seorang perempuan pensiunan mengenal namanya. “Sumi yang kecil itu?”
“Ya.”
“Anaknya perempuan, kalau tidak salah.”
Aku merasakan punggungku dingin. “Anak?”
“Aku sudah lupa. Lama sekali. Dia berhenti, katanya mau kerja ke luar negeri.”
Tidak ada alamat baru. Orang yang pernah menyewakan kamar sudah meninggal. Pesantren yang kutahu hanya dari cerita Sumi tidak berhasil kutemukan dengan keterangan yang kuingat.
Aku mendatangi gang tempat ia dahulu tinggal. Seorang anak bermain di dekat selokan. Ibunya memanggil agar ia memakai sandal. Di tempat pintu kamar Sumi pernah berdiri, kini ada tembok tanpa jendela. Aku menyentuh tembok itu seperti orang yang berharap batu dapat mengingat.
Di mobil, aku menulis namanya pada halaman kosong buku catatan. Di bawahnya kutulis semua yang berhasil kuketahui. Hanya beberapa baris. Ada orang yang pernah memberiku hampir seluruh hidupnya. Aku bahkan tidak menyimpan informasi yang cukup untuk mencarinya.
Perempuan di Hainan
Hainan, Maret 2025.
Lima tahun setelah pencarian yang gagal itu, aku berangkat bersama delegasi untuk mempelajari kawasan yang menggabungkan pertanian, industri pengolahan, hunian, dan pariwisata. Di Hainan, udara hangat menempel pada kulit ketika kami keluar dari bandara. Pohon-pohon palem bergerak ditiup angin. Sepanjang perjalanan menuju hotel, gedung-gedung baru bergantian dengan kanal, kebun, dan rumah-rumah rendah dengan pakaian terjemur di balkon.
Perempuan yang mendampingi rombongan memperkenalkan diri sebagai Aurel. Ia berbicara dalam bahasa Indonesia, lalu beralih ke Mandarin ketika memastikan jadwal dengan pengemudi. Setelah itu, ia menjelaskan persoalan teknis kepada seorang rekan perusahaan dalam bahasa Inggris. Semuanya dilakukan dengan wajar, tanpa kesan ingin memamerkan kecakapannya.
Pada kunjungan pabrik, salah seorang anggota delegasi berkali-kali memotong penjelasannya. Aurel menunggu, lalu kembali menjawab pertanyaan yang belum selesai. Ia tidak mudah tersinggung. Namun, ketika rombongan meminta jadwal diperpanjang tanpa memperhitungkan para pekerja yang sudah menunggu, ia berkata dengan tenang, “Kita perlu meminta persetujuan mereka dulu.” Aku menyukai ketegasan itu.
Malam ketiga, kami makan di teras restoran yang menghadap laut. Lampu-lampu kapal tampak jauh. Angin membawa bau garam. Di sebelah meja kami, seorang pelayan merapikan kursi sambil menahan taplak yang terangkat angin.
“Orang tua kamu pasti bangga,” kataku.
Aurel meletakkan sendok. “Bunda, tentu.”
“Ayah?”
Ia tersenyum tipis. “Aku tidak tahu siapa ayahku.”
Aku menyesal telah bertanya, lalu mengatakan bahwa ia tidak perlu bercerita jika merasa tidak nyaman. “Tidak apa-apa. Aku sudah biasa.”
Ia mengatakannya tanpa berusaha memperlihatkan kepahitan. Justru ketenangannya membuatku gelisah. Ibunya hanya tamat madrasah. Pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor pos Bandung. Ketika Aurel masih balita, ia dititipkan kepada tetangga yang berempati pada keadaan ibunya. Pada usia tiga belas tahun, Aurel tinggal di pondok pesantren, sementara ibunya berangkat ke Hong Kong untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga.
Suara laut mendadak terasa terlalu keras.
“Kamu lahir tahun berapa?”
“Sembilan puluh delapan.”
Aku menghitung dalam diam, berusaha menjaga wajahku tetap tenang.
“Nama bundamu?”
“Sumiati.”
Angin menggeser serbet di pangkuanku. Aku membiarkannya jatuh.
“Bapak kenal?”
“Namanya… mengingatkanku pada seseorang.”
Aku memilih jawaban yang menyembunyikan apa yang baru saja mulai kupahami. Bahkan setelah begitu banyak kehilangan, keberanianku masih datang terlambat.
Aku menatap Aurel. Seorang insinyur muda yang duduk di hadapanku, berbicara dengan kecakapan dan keyakinan yang dahulu ingin kumiliki. Di wajahnya, perlahan aku mengenali sesuatu yang selama ini luput dari hidupku.
Dalam hati aku berbisik, Maafkan aku, Sum. Mungkinkah ketika aku pergi, kamu sedang mengandung anakku? Jika benar, kini dia sudah menjadi insinyur. Kecerdasannya melampauiku. Dia menempuh jalan yang dahulu kupilih, tetapi kamulah yang menjaganya, membesarkannya, dan mengantarkannya sampai sejauh ini.
Aku belum mempunyai kepastian. Namun, untuk pertama kalinya, aku takut kepada jawaban yang mungkin sejak lama menungguku.
Seseorang yang Dibangun
Hainan, Maret 2025.
Pada hari-hari berikutnya, aku memperhatikan Aurel dengan rasa bersalah yang berusaha menyamar sebagai keramahan. Ia memeriksa tagihan sebelum membayar. Ia menolak mobil tambahan jika semua orang masih dapat duduk dengan nyaman. Ia membawa botol minum sendiri dan selalu menelepon ibunya setelah pekerjaan selesai.
Di sebuah kawasan pertanian, kami berdiri di tepi rumah kaca. Sepatu kami membawa lumpur. Aurel menerangkan hubungan antara petani, pengolahan, gudang, dan pasar. “Kalau petani hanya disuruh menambah produksi tanpa kepastian pembeli, risiko tetap di mereka,” katanya. Aku teringat perempuan memotong tempe sambil bertanya apakah salah mengatur jika orang tidak kebagian makan.
Kadang aku mencuri lirik kepada Aurel. Hidungnya itu miripku. Auranya sangat mirip denganku. Selain itu lebih mirip ibunya. Hanya dia lebih tinggi dari Sumi. Mungkinkah ini anakku, dari Sumi. Apakah saat aku tinggalkan Sumi sedang hamil? Oh Tuhan..
“Ibumu pernah menikah lagi?” tanyaku.
Aurel menatapku. Untuk pertama kalinya, ada jarak dalam pandangannya. “Tidak. Bunda hanya sibuk mengurus dan membesarkanku.”
Aku mengangguk, malu karena bahkan dalam penyesalanku aku masih ingin menjadi pusat riwayat Sumi.
Pada hari terakhir aku meminta izin mengunjungi ibunya jika kelak berada di Bogor. “Bapak ingin bertemu untuk apa?”
“Bapak terkesan dengan kehebatan bunda kamu. Single parent hebat yang bisa membesarkan anak sendirian dan akhirnya jadi insinyur hebat” kataku.
Aurel menulis alamat diatas kertas dan menyerahkannya kepadaku. Aku catat ulang alamat itu di iphone ku. Termasuk nomor hape Sumi.
Hampir Setahun
Jakarta, April 2025–Februari 2026.
Alamat itu berada di dompetku sebelas bulan. Ujung kertasnya menipis. Setiap kali membayar, aku melihat bagian kecil tulisan Bogor. Aku pernah menyiapkan mobil, lalu membatalkan perjalanan karena rapat. Rapat itu bisa diwakilkan. Aku tahu. Aku takut Sumi marah. Aku lebih takut ia tenang. Kemarahan akan memberiku peran, orang bersalah yang dimaki, kemudian mungkin dimaafkan. Ketenangan dapat menunjukkan bahwa hidupnya sudah lengkap tanpa perlu menyelesaikan urusan denganku.
Pada malam-malam tertentu aku bermimpi kembali ke kamarnya. Rantang terbuka, nasi masih hangat. Ketika aku duduk, kursiku tidak ada. Aku mulai menulis surat. Surat pertama penuh alasan. Surat kedua penuh kalimat tentang penderitaanku. Surat ketiga lebih pendek. Aku meninggalkanmu. Aku tahu bahwa aku menikah denganmu. Aku memilih diam agar tidak perlu menanggung akibat pilihanku. Tidak ada yang dapat mengubah itu menjadi sesuatu yang baik. Surat itu tidak langsung kukirim.
Suatu malam Nara datang ke rumah. Aku menceritakan Sumi, kemudian Aurel. Ia mendengarkan tanpa menyentuh makanan.
“Jadi sebelum Mama, Papa sudah punya istri?”
“Ya.”
“Dia tahu tentang Mama?”
“Tidak waktu itu.”
Nara menunduk.
“Waktu Papa sakit karena dibohongi, kami semua ikut sakit,” katanya. “Perempuan itu pasti juga begitu. Tapi siapa yang menemani dia?”
Aku tidak menjawab.
Sebelum pulang, Nara berkata, “Datangilah Bu Sumi, Pa. Dia bagian dari masa lalu Papa. Apalagi Papa sudah menduda beberapa tahun.”
Aku menatapnya.
“Papa tidak tahu apakah dia masih mau menerima kedatangan Papa.”
“Kalau tidak ditanyakan, Papa tidak akan tahu.”
Pada subuh berikutnya, aku duduk lama sesudah salat. Untuk pertama kalinya, aku tidak meminta agar pintu dibukakan. Aku berdoa agar sanggup menerima jika pintu itu tetap tertutup.
Sesudah hari mulai terang, aku mengambil telepon. Nomor Sumi sudah tersimpan sejak pertemuanku dengan Aurel di Hainan. Beberapa kali jariku mendekati tombol panggil, lalu berhenti.
Akhirnya aku menelepon. Baru satu kali berdering, panggilan itu diterima. “Halo, assalamualaikum.”
Aku memejamkan mata. Suara itu masih kukenal. Cara ia mengucapkan salam membuatku teringat kamar sewanya di Bandung, ketika ia menyambutku tanpa pernah bertanya mengapa aku datang terlambat.
“Waalaikumsalam.”
Aku berhenti, mencoba menelan sesuatu yang terasa menyumbat tenggorokan. “Sum… ini aku. Bang Herman.”
Di seberang terdengar tarikan napas. Beberapa detik berlalu tanpa kata.
“Abang…”
Suaranya bergetar. Aku menggenggam telepon lebih erat.
“Ada apa, Bang?”
“Boleh aku datang ke rumahmu? Aku mendapat alamat dari Aurel waktu bertemu dengannya di Hainan.”
Sumi diam sebentar. Dalam jeda itu, aku menyiapkan diri untuk mendengar penolakan.
“Boleh, Bang.”
Aku menunduk. Jawaban itu begitu sederhana, tetapi aku tidak segera mampu membalasnya.
“Kapan Abang mau datang?”
“Sabtu pagi, kalau kamu tidak ada keperluan.”
“Datanglah. Aku ada di rumah.”
“Terima kasih, Sum.”
“Iya, Bang.”
Sesudah panggilan berakhir, aku masih memegang telepon di dekat telinga. Aku ingin mendengar suaranya sekali lagi, tetapi menahan diri. Ia telah mengizinkanku datang. Selebihnya belum boleh kuanggap sebagai sesuatu yang dijanjikan.
Pintu
Bogor, Februari 2026.
Perempuan yang menyiram tanaman itu menoleh ketika aku akhirnya mengucapkan salam. Ia meletakkan gayung di dekat pot, lalu mendekati pagar. Matanya mengamati wajahku cukup lama. Di kejauhan terdengar pedagang menawarkan sarapan. Seekor burung melompat pada kabel listrik, menjatuhkan sisa air hujan.
“Sumi…”
Bibirnya bergerak, tetapi mula-mula tidak ada suara.
“Abang…”
Ia membuka pagar dengan tangan gemetar. Sesudah itu, kedua telapak tangannya menutup wajah. Aku berdiri di hadapannya, tidak tahu apakah boleh mendekat. Namun ketika bahunya mulai terguncang, aku mengulurkan tangan. Sumi tidak menjauh. Ia membiarkan aku memeluknya. Tubuhnya telah menua. Usianya sudah melewati lima puluh. Bahunya terasa lebih kecil dalam pelukanku, dan ada helai rambut putih di dekat pelipis yang tidak seluruhnya tertutup kerudung.
Aku teringat perempuan muda yang pernah berdiri di terminal, memasukkan bekal ke dalam tasku. Dahulu aku memeluknya dengan janji akan kembali. Kini aku tidak berani mengucapkan janji apa pun.
“Maafkan aku, Sum.”
Suaraku nyaris tidak keluar. Sumi menangis tanpa menjawab. Tangannya sempat menggenggam bagian belakang bajuku, lalu perlahan terlepas. Aku ingin mempertahankan pelukan itu. Tetapi ketika ia mundur, aku membiarkannya. Ia mengusap pipi dengan ujung kerudung, menarik napas beberapa kali, lalu melihat ke arah rumah. “Masuklah. Duduk dulu.”
Di ruang tamu ada rak buku, foto Aurel memakai toga, dan kalender dengan beberapa tanggal yang ditandai tulisan kecil. Dua kursi diberi bantalan yang warna cerah. Pada sudut lemari terlihat sebuah album tua. Aku tidak berani bertanya apakah foto pernikahan kami berada di dalamnya.
Sumi masuk ke dapur. Aku mendengar gelas diletakkan, keran dibuka, lalu ditutup. Ia memerlukan waktu agak lama sebelum kembali membawa dua gelas air.
Ketika duduk, matanya masih merah. “Abang sehat?”
Aku mengangguk.
“Kamu?”
“Alhamdulillah..”
Ia mencoba tersenyum. Percakapan sederhana itu membuat dadaku sesak. Setelah puluhan tahun, kami masih dapat saling menanyakan kesehatan, sementara kehilangan di antara kami belum tahu bagaimana harus disebutkan.
“Maafkan aku, Sum.”
Sumi meletakkan gelasnya.
“Dulu aku berbohong kepadamu. Aku bilang pulang untuk mengurus pekerjaan. Sebenarnya aku pulang untuk menikah dengan perempuan pilihan orang tuaku.”
Aku berhenti. Sumi menunduk, merapikan ujung kerudung yang sebenarnya sudah rapi.
“Namanya Ratih. Setelah dua puluh tiga tahun menikah, kami bercerai. “
Suaraku terasa berat. Aku telah menjalani semua tahun itu, sedangkan Sumi baru mendengar pengakuannya pagi ini.
“Aku baru mengetahui sesuatu setelah dua puluh tiga tahun perkawinan kami,” lanjutku. “Kedua anak itu bukan anak biologisku. Pemeriksaan DNA membuktikannya. Ratih kemudian mengaku bahwa mereka anak dari hubungannya dengan mantan kekasihnya.”
Sumi mengangkat wajah. Ia tidak mengatakan apa-apa.
Aku terdiam sejenak, mendengarkan napasku sendiri.
“ Sekarang Ratih tinggal bersama anak perempuannya yang sudah menikah. Anak sulung yang kubesarkan tinggal bersama kakeknya, melanjutkan usaha bengkel.”
Aku diam sejenak menghela napas.
“Sejak itu aku semakin sering mengingatmu. Aku merasa bersalah. Kadang aku menyebutnya karma, seolah apa yang terjadi kepadaku adalah balasan karena telah meninggalkanmu.”
Aku menatapnya, lalu menunduk lagi.
“Tapi aku tidak tahu maksud Tuhan, Sum. Yang aku tahu, aku pernah menyakitimu. Penderitaanku sekarang tidak menghapus apa yang dahulu kulakukan.”
Tanganku gemetar di dekat gelas.
“Aku datang untuk meminta maaf. Bukan karena sekarang aku sendiri, lalu merasa berhak kembali kepadamu. Kalau masih ada sesuatu yang dapat kuperbaiki, aku ingin melakukannya. Tapi kamu yang berhak mengatakan apakah kehadiranku masih bisa diterima.”
Sumi menarik napas panjang.
“Aku sempat merasa bodoh karena percaya Abang mencintaiku,” kata Sumi kemudian.
Aku memandangnya.
“Waktu Abang tidak pulang, aku masih membela Abang dalam hati. Mungkin belum dapat pekerjaan. Mungkin tidak punya uang untuk kembali. Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa Abang ceritakan.”
Ia merapikan ujung kerudungnya.
“ Belakangan aku dengar nama abang disebut dalam berita koran.”
“Kapan?”
“Sudah lama. Aurel masih kecil.”
“Apa yang kamu lihat?”
“Foto Abang. Ada berita tentang jabatanmu.”
Aku menunduk.
“Aku baca beberapa kali. Nama lengkapnya sama. Wajahnya juga. Cuma Abang kelihatan lebih rapi.”
“Kenapa tidak menghubungi?” Pertanyaan itu keluar, dan segera aku membencinya.
Sumi menatapku. “Aku bisa saja telp di alamat kantor abang. Tetapi aku urungkan. Tidak ada lagi yang penting untuk bertanya.”
“ Mengapa?
“ Aku tahu diri, Bang. Siapalah aku? Hanya perempuan yang sekolahnya tidak tinggi, yang pernah mencintai pria hebat.”
“Jangan mengatakan begitu, Sum.”
“Dulu memang begitu caraku melihat kita.”
Ia mengucapkannya pelan, tanpa kemarahan. “Aku takut kalau datang, Abang malu. Takut ada orang bertanya siapa aku, lalu Abang tidak tahu harus menjawab apa.”
Aku teringat wisuda. Kursi-kursi untuk keluargaku. Sumi yang memilih tinggal di kamar karena aku tidak pernah memberinya tempat untuk hadir.
“Dari awal aku sudah belajar tidak terlihat,” lanjutnya. “Aku pikir, kalau aku cukup sabar, nanti akan ada waktunya Abang mengakuiku.”
Aku tidak dapat menjawab.
“Ketika melihat berita itu, aku mengerti bahwa hidup Abang sudah berjalan. Aku tidak tahu apakah masih ada tempat untukku.”
“Seharusnya aku yang mencarimu.”
“Ya.”
Jawabannya singkat. Aku membiarkannya tinggal di antara kami. “Tidak ada alasan yang membenarkan apa yang kulakukan,” kataku. “Aku tahu kita menikah. Aku tahu kamu menunggu. Tapi aku memilih diam supaya tidak harus menghadapi akibatnya.”
Sumi memegang gelas dengan kedua tangan.
“Dulu aku ingin sekali mendengar penjelasan,” katanya. “Aku menyusun pertanyaan setiap malam. Kalau Abang pulang, aku akan tanya ini, akan tanya itu.”
“Sekarang kamu boleh menanyakan semuanya.”
Ia menggeleng perlahan. “Ada pertanyaan yang sudah terlalu lama. Jawabannya tidak bisa lagi menolong perempuan yang dahulu menunggu.”
Mataku terasa panas.
Di luar, seorang anak memanggil temannya. Kehidupan di gang itu terus berjalan, sementara aku duduk menghadapi sesuatu yang puluhan tahun sengaja tidak kuselesaikan.
Sumi mengusap sisa air mata di bawah matanya. “Aku juga perlu mengatakan sesuatu, Bang. Tadi aku menangis bukan berarti aku ingin mengulang hidup kita.”
Aku menatapnya.
“Aku terkejut melihatmu. Ada banyak yang tiba-tiba kuingat. Kamar lama, terminal, surat yang kembali. Aku kira aku sudah bisa menceritakannya tanpa menangis.”
Ia menarik napas. “Ternyata melihat wajahmu berbeda.”
Ia menoleh ke arah foto Aurel. Wajah putrinya tersenyum dalam bingkai, mengenakan toga dengan kedua tangan memegang ijazah. Aku mengikuti pandangannya. Rumah kecil ini penuh tanda kehidupan yang tidak pernah kubantu membangun. Buku-buku, jadwal pengajian, pot tanaman, foto kelulusan. Sumi telah menemukan jalan untuk terus hidup, sementara aku baru datang membawa penyesalan.
“Aku dulu merasa tidak cukup baik untuk Abang,” katanya. “Lama sekali baru aku mengerti bahwa ditinggalkan tidak berarti aku tidak berharga. Setidaknya aku sangat berharga bagi anakku.”
Aku menutup wajah sebentar.
“Kamunya yang baik, Sum. Aku yang tidak bertanggung jawab.”
Ia tidak membantah. Tidak pula segera menghiburku. Ketika aku menurunkan tangan, Sumi mendorong gelas sedikit lebih dekat.
“Minumlah dulu.”
Aku meraihnya dengan kedua tangan. Di depan pagar tadi, ia telah membiarkan aku memeluknya. Di dalam rumah ini, ia memberiku tempat duduk dan air minum. Namun aku mulai mengerti bahwa semua itu belum memberiku hak untuk kembali menempati hidupnya.
Aku minum perlahan. Sumi duduk di hadapanku. Di rak, foto Aurel menangkap cahaya dari jendela. Ada satu pertanyaan yang sejak Hainan tidak sanggup kuucapkan.
“Sum… Aurel anak kita?”
Ia menatap foto itu, lalu kembali memandangku. “Ya, Bang.”
Gelas berhenti di tanganku. Semua dugaan yang selama ini kusimpan berubah menjadi sesuatu yang tidak dapat kutawar lagi.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
Sumi menarik napas. “Aku pernah mencoba memberitahumu.”
Aku meletakkan gelas dan mendengarkan.
“Aku tahu hamil setelah sebulan Abang pergi,” kata Sumi. “ Aku menulis surat ke alamat abang. Tetapi surat itu kembali karena alamat tidak dikenal. Aku coba telp nomor yang abang berikan. Tetapi telp juga tidak dikenal. “ Lanjut Sumi berlinang airmata. Ia mengatakannya sambil merapikan ujung taplak yang terlipat. Aku tahu, dahulu aku memberinya alamat dan nomor telp yang tidak lengkap, lalu membiarkannya percaya bahwa surat akan sampai, telp akan diangkat. Kini aku mendengar sendiri akibat kebohongan itu.
“ Aku datangi tetangga tempat abang ngekos di Bandung. Tidak banyak yang mengetahui siapa abang. Tidak ada yang tahu kalau abang sudah menikah.” Lanjut Sumi.
Hening.
“ Aku lama memandang surat nikah kita di KAU. Aku berkata kepada Tuhan, apa dosaku mencintai seorang pria yang berharap ia akan menjadi imamku. Mengapa dia perlakukan aku seperti ini. Padahal aku tidak berharap harta dan jabatan.” Kata Sumi berlinang airmata.
“ Lebih setahun, bahkan setelah Aurel lahir, aku masih berharap abang akan datang. Makanya aku tidak memilih pidah setelah melahirkan Aurel. Tetapi abang tidak pernah datang. Saat itu barulah aku sadar bahwa aku korban dari kebohongan abang. Cinta palsu. Makanya aku lebih focus mengembalikan semua urusan kepada Allah. Agar aku kuat dalam kesabaran.”
Aku menunduk.
“ Ketika Aurel cukup besar untuk bertanya tentang ayahnya, aku mengatakan bahwa ayahnya pergi dan belum kembali. Ayah akan datang kalau dia jadi anak yang baik dan besar jadi insinyur. Karena ayahnya seorang insinyur”
Aku diam dan berlinang airmata.
“ Baru 12 tahun kemudian sejak abang pergi atau tahun 2010, aku menggugat perceraian di pengadilan agama. Bukan karena aku ingin menikah lagi atau berharap ada yang melamarku.”
“Jadi kenapa?”
“Karena begitu aturan agama. Apabila lewat 3 bulan tidak ada nafkah lahir batin, maka aku berhak menggugat cerai. “ Ia berhenti menarik napas. Kemudian melanjutkan” Setelah dapat surat cerai, aku menangis..pria yang kuharap jadi imamku, menua bersama, ternyata aku gugat cerai.”
“Tapi setelah itu aku bisa memikirkan langkah berikutnya. Aku berangkat ke Hong Kong jadi TKW. Aurel berusia tiga belas tahun. Ia tinggal di lingkungan pesantren, Malam sebelum keberangkatan, Aurel tidur sambil memegang ujung bajuku. “Bunda, jangan pergi.” Aku memeluknya. Aku tidak mengatakan bahwa perpisahan itu akan mudah. Tidak menjanjikan akan pulang setiap kali dia rindu. Aku hanya berjanji akan telp dia sedikitnya dua kali seminggu.”
Aku membayangkan suasana hati Sumi saat itu. Dia harus pergi . untuk membiayai kehidupan anaknya, sambil meninggalkan anak yang ingin dijaganya.
“Waktu Aurel masih SLTA, setiap libur kerja aku menghabiskan waktu meneleponnya lewat video. Aku menunggu hari itu sejak awal pekan. Kadang baru melihat wajahnya di layar saja, lelahku sudah terasa berkurang.
Dari percakapan kami, aku merasa dia tumbuh dewasa lebih cepat daripada usianya. Jarang meminta sesuatu. Kalau kutanya uangnya masih cukup, dia selalu bilang cukup. Tapi aku tetap khawatir. Jangan-jangan dia sedang menahan kebutuhan karena tahu betapa keras aku bekerja untuk membiayainya.
Makanya aku tidak terlalu terkejut ketika dia diterima di ITB. Aku tahu bagaimana dia belajar. Yang membuatku menangis justru ketika dia bilang, ‘Bunda, aku diterima.’ Aku ingin memeluknya, tetapi yang bisa kusentuh hanya layar telepon.”
Sumi berhenti sebentar, lalu mengusap sudut matanya.
“Waktu kuliah, dia mulai belajar bahasa Mandarin. Setiap kami menelepon lewat video, dia mencoba berbicara denganku. Aku sering tidak mengerti. Kalau ucapannya lebih lancar daripada jawabanku, dia tertawa. Lalu kami sama-sama tertawa. Untuk beberapa saat, rasanya dia dekat sekali.
Sumi terdiam menyeka airmatanya dengan kerudungnya.
“Tapi saat wisudanya, aku tidak bisa pulang.”
Suaranya mengecil.
“Aku melihat dia memakai toga lewat layar. Dia tersenyum, menunjukkan ijazahnya. Aku ikut tersenyum. Aku bilang Bunda bangga. Setelah telepon ditutup, aku menangis lama di kamar. Di luar kamar itu ada anak-anak orang lain yang setiap hari kurawat. Anakku sendiri sedang merayakan hari pentingnya, dan aku tidak ada di sana.
“Rupanya Aurel tahu. Dia menelepon lagi.”
Sumi menunduk.
“Katanya, ‘Bunda jangan sedih. Bunda memang tidak duduk di tempat wisuda, tapi aku sampai di sini karena Bunda. Aku malah semakin menangis mendengarnya.”
Ia menarik napas perlahan.
“Sekitar setahun dia belum mendapat pekerjaan. Dia tetap belajar dan mengirim lamaran. Setelah akhirnya diterima bekerja, dia datang ke Hong Kong menemuiku saat hari libur. Kami bertemu di Causeway bay. Dia mengenakan blazer. Rambutnya rapi. Aku melihatnya mendekat dan sempat tidak tahu harus mengatakan apa. Anak yang dahulu kulepaskan jari-jarinya dari bajuku sebelum berangkat kini berdiri di hadapanku sebagai perempuan dewasa. Tak terasa hampir 10 tahun kami tidak bertemu.
Teman-temanku ada di sana. Aku masih memakai pakaian sederhana. Tanganku hendak kurapikan dulu, tetapi Aurel sudah memelukku. Dia tidak ragu. Tidak mengecilkan suara ketika memanggilku Bunda. Dia memelukku erat di depan mereka semua.
“‘Bunda, sekarang aku bisa datang,’ katanya memeluk erat. “Aku memegang punggungnya lama sekali. Kali itu, aku tidak perlu menunggu layar menyala untuk melihat anakku.”
Sumi tersenyum dengan mata basah.
“Lalu dia bilang, ‘Bunda, berhentilah bekerja. Aku tertawa kecil. Kukira dia hanya sedang terharu karena kami akhirnya bertemu. Bunda masih kuat, kataku. Tapi Aurel tidak melepaskan pelukannya. Aku tahu Bunda kuat, katanya. Tapi Bunda tidak harus terus bekerja sampai tidak kuat lagi.’”
Sumi meremas ujung kerudung.
“Dia memegang kedua tanganku, melihat jari-jariku satu per satu. Aku sempat ingin menariknya. Kulitnya kasar, ada bekas luka kecil yang sudah lama sembuh. Sebentar lagi kontrak Bunda selesai, kan?’tanyanya. Setelah itu pulang, ya, Bun. Aku sudah bekerja. Kita atur pelan-pelan. Bunda tidak perlu memperpanjang kontrak
Aku bertanya apakah dia yakin. Biaya hidup tidak sedikit. Aku tidak ingin dia merasa harus menanggung semuanya hanya karena kasihan kepadaku. Dia perlihatkan slip gajinya. Aku menangis.
Air mata Sumi jatuh. Ia mengusapnya sebelum melanjutkan.
“Delapan bulan kemudian, kontrakku habis. Aku pulang. Waktu berkemas, aku masih menghitung uang. Masih berpikir apakah sebaiknya bekerja satu kontrak lagi. Sudah terlalu lama aku hidup dengan cara begitu. Rasanya aneh mengetahui bahwa aku boleh berhenti. Aurel mengantarku pulang ke tanah air. Dia udah ambil KPR untuk tempat tinggalku di Bogor. Rumahnya terlalu indah dan besar untukku. Tapi Aurel mengatakan, beri dia kesempatan membahagiakan dan menjagaku.” Kata sumi.
Hening .
“ Selama ini aku membersihkan rumah orang lain. Aku hafal tempat mereka menyimpan piring, melipat pakaian, dan meletakkan kunci. Hari itu, di tanganku ada kunci rumahku sendiri. “
Aku tidak bisa lagi menahan airmata jatuh.
“ Ternyata inilah buah sabar dan sholat, Bang.. Setiap malam aku berdoa kepada Allah. Ya Tuhanku, aku tidak pernah berkhianat kepada saumiku, dan tidak membencinya saat dia pergi sebelum anakku lahir. Tetapi putriku tidak harus menanggung derita, jaga dia ya Tuhanku. Terangkan hatinya terhadap pengetahuan, cerahkan hatinya terhadap kebenaran. Jauhkan dia dari maksiat.”
“Maafkan aku Sum ” Kataku lirih.
“Aku sudah lama memaafkan Abang. Bahkan nama abang selalu kusebut dalam doa. Aku ingin hidup tenang tanpa dendam dan tampa kebencian” Ia mengatakannya dengan lembut.
Aku menunduk.
“Aku dibesarkan dengan keyakinan bahwa hidup ini harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan,” lanjutnya. “Dulu aku mengira bentuk hidup yang baik hanya satu, yaitu punya suami, membesarkan anak bersama, lalu menua dalam satu rumah. Ternyata hidupku tidak begitu.”
Ia memandang foto Aurel di rak. “Aku sedih. Tapi aku tetap diberi hari-hari lain. Ada anak yang tumbuh. Ada orang yang menolong. Ada pekerjaan. Lama-lama aku belajar menerima bahwa kebaikan Tuhan juga datang dalam kehidupan yang tidak kurencanakan.”
Aku tidak mempunyai jawaban.
Sumi mengambil gelasku yang belum tersentuh. “Tehnya sudah dingin. Mau kubuatkan lagi?”
Pertanyaan itu membuatku hampir menangis. Ia tidak sedang mengundangku kembali ke dalam hidupnya. Ia hanya melihat seorang tamu yang belum minum, lalu menawarkan teh hangat. Dan aku akhirnya mengerti betapa sering dahulu aku salah membaca kebaikannya sebagai sesuatu yang boleh kumiliki.
Tanggung Jawab yang Terlambat
Anak yang Tidak Memilih
Bogor, April 2026.
Aku diminta datang ke Bogor oleh Sumi pada sore hari. Hujan turun sejak siang. Air menetes dari ujung daun di halaman. Aurel duduk di ruang tamu. Rambutnya diikat. Wajahnya tampak lebih muda daripada perempuan yang mendampingi kami di Hainan. Mungkin saat itu dia mengenakan blazer. Dia seperti ABG. Kecantikannya Sumi diwariskan utuh padanya.
Pertemuan itu berlangsung kikuk. Aurel tidak terkejut ketika pertama bertemuku. Dia sudah lebih dulu tahu aku saat di Hainan. Tidak ada pelukan. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, berharap menemukan kehangatan yang belum pernah kami bangun.
Putriku, darah dagingku, duduk di hadapanku dengan jarak yang tidak dapat dipendekkan hanya oleh pengakuan bahwa aku ayahnya. Aku tidak tahu apa yang dirasakannya. Namun, aku tidak berhak mengharapkan kerinduan dari seseorang yang tumbuh tanpa kehadiranku.
“ Aku hanya semalam di Bogor. Besok pagi aku harus ke Malaka meninjau proyek. “ Kata Aurel “ Mama minta aku mampir ke Bogor. Katanya ada yang mau ketemu aku. “
“Bagaimana Aurel bisa diterima di perusahaan multinasional itu?” tanyaku.
“Awalnya aku mendapat informasi dari internet. Sebuah konsultan internasional membuka rekrutmen untuk bekerja di holding investasi. Pelamar tidak hanya diminta melampirkan CV, tetapi juga menulis esai akademis tentang kawasan industri berwawasan ESG. Aku mengirim lamaran lengkap dengan esai berjudul Land for Humans.”
Aurel berhenti sebentar, lalu melanjutkan. “Sebulan kemudian, aku mendapat panggilan tes di Singapura. Tiket dan akomodasi ditanggung perusahaan. Aku lolos bersama sembilan belas calon lainnya. Sebulan setelah itu, kami mengikuti tes lanjutan di Hong Kong. Dari dua puluh orang, hanya lima yang lolos. Kemudian kami mengikuti pelatihan di Shenzhen. Pada akhir pelatihan, hanya dua orang yang diterima, termasuk aku.”
Ia menjelaskannya dengan lancar dan datar. Tidak ada kesan bahwa ia sedang mengharapkan kebanggaanku.
“Berapa gaji Aurel sebulan?” tanyaku.
Aurel terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku mulai bekerja pada 2019. Gaji awalnya US$3.000 per bulan, bersih. Sekarang US$6.000 per bulan.”
“Bang,” sela Sumi, “setiap tahun Aurel menawarkan aku pergi umrah. Katanya, kalau Bunda ingin pergi bersama teman-teman pengajian, pergi saja. Dia akan mengirim uang. Tapi bagiku, sudah cukup bisa menunaikan haji sekali. Itu pun bersama dia, tahun lalu.”
Aku mengangguk. Air mataku mulai menggenang. Aku teringat ucapan Sumi dahulu. “Aku menikah dengan harapan suatu hari suamiku mengajakku ke Baitullah. Kalau belum ada rezeki, mudah-mudahan kelak anakku yang mengajakku ke Makkah.”
“Kenapa Aurel memilih jurusan teknik sipil?” tanyaku, berusaha tersenyum.
“Bunda bilang ayahku seorang insinyur. Katanya, dalam diriku mengalir darah seorang insinyur,” jawab Aurel datar. “Tapi memang sejak SD aku suka menggambar dan matematika.”
“Sekarang Aurel sudah tahu bahwa Bapak adalah ayahmu.”
“Ya. Aku tahu dari Bunda.” Nada suaranya tetap datar.
Secara biologis, aku memang ayahnya. Sperma yang membuahinya telah menyumbangkan materi genetik, tetapi tidak membawa ingatan tentang diriku atau kepercayaan kepadaku. Hubungan genetik tidak menyediakan pengalaman ditenangkan ketika takut, dirawat ketika sakit, atau didengarkan ketika membutuhkan pertolongan.
Ikatan emosional berkembang melalui pengalaman tersebut. Otak anak belajar mengenali orang yang hadir dan merespons kebutuhannya secara berulang. Suara, wajah, sentuhan, dan tindakan pengasuh perlahan menjadi bagian dari pengenalannya terhadap rasa aman. Pada ayah, keterlibatan dalam pengasuhan juga berkaitan dengan penyesuaian jaringan otak yang mengolah emosi dan memahami kebutuhan anak. Kedekatan dibangun melalui interaksi yang nyata. Seorang ayah dapat mulai menyayangi anak sejak masa kehamilan. Tetapi perasaan itu tidak otomatis menjadi hubungan timbal balik hanya karena keduanya memiliki pertalian darah.
Aku telah mewariskan sebagian diriku dalam tubuhnya, tetapi tidak pernah hadir untuk mengenal dirinya. Kini aku datang membawa penyesalan, sementara ia belum mempunyai kenangan tentangku sebagai seseorang yang dapat diandalkan. Aku ingin mendekapnya, tetapi baginya mungkin aku masih seorang lelaki yang baru dikenal—seseorang yang disebut ayah oleh hasil pemeriksaan, belum oleh pengalaman hidupnya.
Hal-hal yang Tidak Bisa Dibeli
Bogor, Mei 2026.
Aku mulai belajar meminta izin. Sebelum datang, aku mengabari Sumi. Jika ia mempunyai pengajian, menerima kunjungan teman, atau hanya ingin beristirahat, aku menerima. Kadang pesanku baru dibalas keesokan hari. Aku tidak lagi bertanya mengapa. Dahulu, aku menganggap waktunya selalu tersedia untukku. Kini aku belajar bahwa ia mempunyai kehidupan yang tidak perlu menyesuaikan diri dengan kedatanganku.
Pada suatu kunjungan, talang rumahnya tersumbat. Air hujan meluap dan meninggalkan garis kecokelatan pada dinding teras. Aku menawarkan untuk memanggil tukang, tetapi Sumi mengatakan bahwa tetangganya sudah menghubungi orang langganan.
Aku membantu memindahkan pot agar tangga dapat dipasang, lalu menyapu daun-daun yang jatuh. Tanah basah menempel pada sandal. Beberapa kali aku harus berhenti untuk meluruskan punggung.
Sumi tertawa melihat caraku memegang sapu. “Pejabat juga bisa capek begitu?”
“Sudah lama tidak menyapu.”
“Kelihatan.”
Aku ikut tertawa.
Di dekat pagar, bunga melati yang baru disiram mengeluarkan aroma tipis. Dari rumah sebelah terdengar seorang ibu memanggil anaknya pulang. Sumi mengambil dua gelas teh, lalu meletakkannya di meja teras. Tawa kami tidak menghapus tahun-tahun yang hilang. Namun, untuk beberapa saat, kami dapat duduk tanpa merasa harus melindungi diri dari percakapan.
“Dimas juga sudah mendengar ceritaku,” kataku.
Sumi menatapku. “Tentang kita?”
Aku mengangguk.
“Tentang perkawinan kita. Tentang bagaimana aku pergi dan tidak kembali. Nara sudah mendengarnya sebelum aku datang ke sini pertama kali.”
“Bagaimana mereka menerimanya?”
Aku memegang gelas, merasakan hangatnya pada telapak tangan.
“Mula-mula mereka diam. Aku berharap mereka bisa mengerti, tapi aku juga takut mereka merasa selama ini tidak mengenal papanya sendiri.”
Ketika kuceritakan kepadanya, Dimas mendengarkan sampai aku selesai. Setelah itu, ia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam lama. “Papa punya masa lalu. Mungkin Papa mengira menutup masa lalu itu adalah pengorbanan untuk Mama. Tapi Mama sendiri ternyata tidak bisa meninggalkan masa lalunya. Dari hubungan itulah kami lahir.”
Ia berhenti, lalu memandangku. “Kami tidak ingin mengadili Papa. Kami tahu Papa membesarkan kami dengan sungguh-sungguh. Tapi perempuan yang Papa tinggalkan juga tidak salah. Jangan sampai karena kami bisa memahami Papa, Papa menganggap apa yang terjadi kepadanya sudah selesai. Dan bagaimanapun Aurel lebih berhak atas warisan semua harta Papa, bukan kami. Bahkan papa tidak berhak menjadi wali kami saat menikah nanti. Kami tahu diri pah.”
“Mereka masih memanggilku Papa,” kataku kepada Sumi. “Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada mereka.”
“Dengan tetap menjadi papa mereka,” jawabnya. “Anak-anak itu tidak perlu membayar kesalahan orang dewasa.”
Aku mengangguk.
Angin menggerakkan ujung kerudungnya. Ia merapikannya, lalu memandang halaman yang masih berantakan oleh daun.
“Nasib Abang sedikit seperti negeri ini,” katanya perlahan. “Terlalu sering memilih jalan yang kelihatan mudah, lalu bergantung pada orang yang menyediakan jalan itu. Makanya negeri kita terjebak hutang. Apapun sikap tetap salah. Karena orang terjebak dengan hutang tidak pernah lagi bisa bersikap dengan benar.
Aku mengangkat wajah.
“Waktu itu Abang takut kehilangan biaya kuliah, pekerjaan, dan penerimaan keluarga. Aku mengerti ketakutan itu. Tapi Abang tidak mau mengambil risiko untuk berdiri di atas pilihan sendiri.”
Aku hendak mengatakan bahwa keadaan waktu itu sulit. Kalimat tersebut sudah begitu sering kupakai sampai hampir menjadi bagian dari napasku.
Namun Sumi belum selesai. “Mungkin bagi Abang, akulah orang yang paling mudah ditinggalkan. Karena lemah. Tidak punya ayah dan ibu. Tidak punya keluarga yang akan datang menuntut. Tidak punya uang untuk mencari.”
Aku menunduk.
Aku tidak tahu apakah dahulu aku pernah memikirkannya dengan kata-kata seterang itu. Tetapi tindakanku telah memperlakukan Sumi demikian.
“Maafkan aku, Sum.”
“Aku tahu Abang menyesal.”
Ia tidak segera menambahkan apa pun. Dari dalam rumah terdengar bunyi jam dinding.
“Risiko hidup bersamaku waktu itu memang besar. Aku maklum bang ” lanjutnya. “Mungkin kita akan kekurangan. Mungkin kita bertengkar karena uang. Aku tahu diri dan tidak berharap perjalanan yang selalu indah. Tapi setidaknya kita akan tahu apa yang sedang kita perjuangkan, hidup mandiri, dengan kesulitan yang kita hadapi bersama. Dari sana kita tahu arti mencintai dan paham arti berkorban ”
Aku memandang tangannya yang terletak di pangkuan. “Dulu aku kira cinta berarti bisa hidup bersama.” Kataku.
“Bisa hidup bersama itu anugerah,” katanya. “Tapi cinta juga terlihat ketika kita harus melepaskan sesuatu yang sangat kita butuhkan.”
“Seperti kamu melepaskan aku?”
“Ya.. Awalnya memang sulit tapi berlalunya waktu, aku disibukan dengan hidup survival membesarkan Aurel. Lambat laun aku bisa sepenuhnya ikhlas..”
Ia tersenyum kecil. “Di pesantren, aku diajari mencintai manusia karena Tuhan. Tapi baru setelah hidup susah aku mulai mengerti betapa beratnya memahami itu. Kita ingin orang yang kita cintai memenuhi semua harapan kita. Padahal dia juga manusia. Bisa takut, bisa berubah, bisa menyakiti dan bisa pergi melupakan kita.”
Angin berhenti sebentar. Halaman menjadi sunyi.
“Betapa mulia hatimu, Sum.”
“Agama mendidikku sejak kecil. Hanya sabar dan sholat penolongku. Mungkin itu yang dirasakan oleh rakyat kecil yang tidak berdaya dihadapan penguasa yang zolim.”
Kami duduk lama tanpa berbicara.
Di ujung gang, suara kendaraan mulai berkurang. Cahaya sore jatuh miring pada kursi kosong di sebelah Sumi. Aku memperhatikan ruangan rumah yang apik dan asri. Sumi memang wanita pembersih dan suka kebersihan. Makanya dulu dia jadi cleaning service kelihatan memang berkerja dengan passion tinggi.
“Aku tinggal serumah dengan Ratih selama bertahun-tahun,” kataku akhirnya. “Tapi sering merasa kami berada di ruang yang berbeda.”
Sumi mendengarkan.
“Ratih membutuhkan perkawinan kami untuk menjaga reputasi keluarganya. Aku membutuhkan perkawinan itu untuk menjaga kedudukanku. Lama-lama kami lebih sibuk menjaga apa yang dilihat orang daripada membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami.”
Aku berhenti.
“Setidaknya begitu yang sekarang bisa kulihat. Mungkin Ratih mempunyai cerita lain tentang diriku.”
Sumi mengangguk kecil.
“ Aku tidak lagi yakin siapa yang pernah benar-benar bahagia dengan pilihan hidup itu. Aku hanya tahu bahwa kami sama-sama terlalu lama membiarkan orang lain melihat rumah yang rapi, sementara di dalamnya ada percakapan yang tidak pernah kami selesaikan.”
Ia memindahkan gelas yang hampir tersenggol sikuku. “Abang belajar dari kesalahan. Aku belajar dari kesabaran. Mudah-mudahan keduanya membawa kita menjadi orang yang lebih baik ketika kembali kepada Tuhan.”
Aku menatap halaman. “Aku ingin lebih sering datang,” kataku.
Sumi menatapku cukup lama. “Sebaiknya Abang tidak perlu datang lagi.”
Aku terdiam. Tanganku masih memegang gelas yang sudah kosong.
“Berjalanlah di jalan Tuhan,” lanjutnya pelan. “Kita tidak tahu seluruh hikmah di balik hidup ini. Mengapa Dimas dan Nara dibesarkan oleh seseorang yang bukan ayah kandungnya. Mengapa Aurel justru tumbuh tanpa kehadiran ayah kandungnya.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi Abang tahu pilihan yang pernah Abang ambil. Tuhan juga tahu apa yang ada di dalam hati Abang. Itu semua hanya antara abang dan Tuhan. Aku tidak berhak mengadili hidup abang”
“Sum, aku hanya ingin—”
“Mulai sekarang dekatlah kepada Tuhan. Mulailah dari sholat tepat waktu, dan kalau mungkin luangkan waktu sholat malam. Allah akan membuka jalan. Tetapi tentu tidak bisa instant. Tobat butuh waktu dan proses yang juga tidak mudah. Sampai akhirnya hanya satu yang abang tuju, yaitu cinta Tuhan.” Suara Sumi tidak meninggi.
Aku menunduk.
“Dan untukku,” katanya, “biarkan kehidupan yang sudah kubangun tetap tenang.”
Dari ujung gang terdengar azan magrib. Sumi berdiri, lalu mengambil gelas dari tanganku. Aku ingin memintanya mempertimbangkan kembali untuk kami bersatu. Namun kali ini aku menahan diri. Ia sudah terlalu lama menanggung akibat keinginanku.
“Baik, Sum,” kataku akhirnya.
Di depan pagar, aku menoleh. Sumi masih berdiri di teras, tetapi aku tidak mencari tanda agar diizinkan kembali. Dalam hati aku berbisik, Tuhan, bimbing aku menanggung penyesalan ini tanpa kembali membebankannya kepada orang yang pernah kulukai.

Tinggalkan komentar